Anda di halaman 1dari 12

PERPAJAKAN

Oleh:
Kelompok 4
Timothius Tandio 1215351039
Dewa Gede Yudha Dananjaya 1215351026
I Made Arya Putra Bharata 1215351018
I Putu Eka Adiputra 1215351037



FAKULTAS EKONOMI
UNIVERSITAS UDAYANA
2012/2013
ii

DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL .................................................................................. Error! Bookmark not defined.
DAFTAR ISI ................................................................................................................................................. ii
A. Penafsiran Dalam Hukum Pajak ........................................................................................................... 1
A.1 Definisi Penafsiran ........................................................................................................................ 1
A.2 Penafsiran Bahasa (gramatikal) .................................................................................................... 2
A.3 Penafsiran Sistematis .................................................................................................................... 4
A.4 Penafsiran menurut Historis ........................................................................................................ 5
A.5 Penafsiran Sosiologis .................................................................................................................... 5
A.6 Penafsiran Autentik ..................................................................................................................... 6
A.7 Penafsiran Komparatif ................................................................................................................ 6
A.8 Penafsiran Analogis ...................................................................................................................... 6
A.9 Penafsiran A Contrario.................................................................................................................. 6
B. Macam-macam Ketetapan Pajak ........................................................................................................... 7
B.1 Surat Tagihan Pajak (STP) ............................................................................................................ 7
B.2 Surat Ketetapan Pajak Kurang Bayar (SKPKB) ........................................................................... 8
B.3 Surat Ketetapan Pajak Kurang Bayar Tambahan (SKPKBT) ....................................................... 8
B.4 Surat Ketetapan Pajak Lebih Bayar (SKPLB) .............................................................................. 9
B.5 Surat Ketetapan Pajak Nihil (SKPN) ............................................................................................ 9
B.6 Surat Pemberitahuan Pajak Terutang (SPPT) ............................................................................... 9
C. Daluwarsa Penetapan .......................................................................................................................... 10
1

A. Penafsiran Dalam Hukum Pajak
A.1 Definisi Penafsiran
Interpretasi atau penafsiran merupakan salah satu metode penemuan hukum yang
memberi penjelasan yang tidak jelas mengenai teks undang-undang agar ruang lingkup kaedah
dapat ditetapkan sehubungan dengan peristiwa tertentu.
Aliran Legisme terikat sekali pada undang-undang. Aliran Freie rechtslehre bebas/terikat
pada undang-undang sedangkan aliran Rechtsvinding merupakan aliran diantara kedua aliran
sebelumnya. Atau dengan perkatan lain aliran Rechtsvinding tetap berpegang pada undang-
undang, tetapi tidak seketat aliran Legisme dan tidak sebebas aliran Freie Rechtslehre.
Indonesia menggunakan aliran Rechtsvinding berarti hakim memutuskan perkara
berpegang pada undang-undang dan hukum lainnya yang berlaku di dalam masyarakat
secara gebonden vrijheid (kebebasan yang terikat) dan vrije gebondenheid (ketertarikan yang
bebas). Tindakan hakim tersebut dilindungi pasal 20 AB (yang menyatakan bahwa hakim harus
mengadili berdasarkan undang-undang). dan pasal 22 AB (mengatakan hakim tidak boleh
menolak mengadili perkara yang diajukan kepadanya dengan alasan undang-undangnya tidak
lengkap). Jika hakim menolak mengadili perkara dapat dituntut.
Apabila undang-undangnya tidak ada (kekosongan hukum) hakim dapat mencipatkan
hukum dengan cara konstruksi hukum (analogi), penghalisan hukum (rechtsverfijning dan
argumentum a contracio.
Penafsiran atau interpretasi hukum ialah mencari dan menetapkan pengertian atas dalil-
lalil yang tercantum dalam undang-undang sesuai dengan cara yang dikehendaki serta yang
dimaksud oleh pemebuat undang-undang.

2

A.2 Penafsiran Bahasa (gramatikal)
Penafsiran undang-undang menurut arti bahasa bertitik tolak pada arti perkataan-
perkataan dalam hubungan satu sama lain dalam kalimat-kalimat yang dipakai dalam Undang-
undang. Selanjutnya, bahasa yang digunakan dalam menafsirkan Undang-undang itu berarti
mencoba menangkap arti teks menurut bunyi kata-katanya.
a. Aspek Gramatikal
Satu bahasa terdiri atas bentuk (form) dan makna (meaning), maka hubungan antar
bagian wacana dapat dibedakan menjadi dua jenis, yaitu hubungan bentuk yang
disebut kohesi (cohesion) dan hubungan makna atau hubungan semantik yang disebut
koherensi (coherence). Lebih lanjut lagi, menurut Halliday dan Hasan membagi
kohesi menjadi dua jenis yaitu kohesi gramatikal (grammatical cohesion) dan
kohesi leksikal (lexical cohesion). Struktur lahir wacana atau segi bentuk disebut
aspek gramatikal wacana, struktur batin wacana atau segi makna disebut aspek
leksikal wacana.
Aspek gramatikal wacana meliputi:
(1) pengacuan (reference)
(2) penyulihan (substitution)
(3) pelesapan (ellipsis)
(4) perangkaian (conjunction)

3

Berikut akan dijelaskan lebih lanjut mengenai empat aspek gramatikal tersebut :
a. Pengacuan (referensi)
Pengacuan atau referensi adalah salah atau jenis kohesi gramatikal yang berupa satuan lingual
tertentu yang mengacu pada satuan lingual lain (atau suatu acuan) yang mendahului atau
mengikutinya. Terdapat dua jenis pengacuan yaitu pengacuan endofora dan pengacuan
eksofora.
Pengacuan endofora apabila acuannya berada dalam teks wacana itu, dan dikatakan pengacuan
eksofora apabila acuannya di luar teks wacana. Pengacuan endofora dibagi menjadi dua jenis yaitu
- pengacuan anaforis
- pengacuan kataforis.
- Pengacuan anaforis
adalah salah satu kohesi gramatikal yang berupa satuan lingual tertentu yang mengacu
pada satuan lingual lain yang mendahuluinya, atau mengacu anteseden di sebelah kiri,
atau mengacu pada unsur yang telah disebut terdahulu.
- Pengacuan kataforis
merupakan salah satu kohesi gramatikal yang berupa satuan lingual tertentu
yang mengacu pada satuan lingual lain yang mengikutinya, atau mengacu anteseden
di sebelah kanan, atau mengacu pada unsur yang akan disebut kemudian. Satuan lingual
tertentu yang mengacu pada satuan lingual lain dapat berupa persona (kata ganti orang),
demonstratif (kata ganti penunjuk), dan komparatif (satuan lingual yang berfungsi
membandingkan antara unsur yang satu dengan yang unsur yang lain.

b. Penyulihan (substitusi)
Penyulihan atau substitusi ialah salah satu jenis kohesi gramatikal yang berupa penggantian
satuan lingual tertentu (yang telah disebut) dengan satuan lingual lain dalam wacana untuk
memperoleh unsur pembeda.
Dilihat dari segi satuan lingualnya, substitusi dapat dibedakan menjadi substitusi nominal (kata
benda), verbal, frasal, dan klausal.

c. Pelesapan (elipsis)
Pelesapan atau elipsis adalah salah satu jenis kohesi gramatikal yang berupa penghilangan
atau pelesapan satuan lingual tertentu yang telah disebutkan sebelumnya. Unsur atau satuan
lingual yang dilesapkan dapat berupa kata, frasa, klausa, atau kalimat.


4

A.3 Penafsiran Sistematis
Penafsiran sistematis adalah penafsiran beberapa pasal yang mempunyai huruf dan bunyi
yang diharapkan dapat menjelaskan mengenai hal yang konkrit. Kalimat-kalimat yang
terpampang dalam rentetan kata-kata tersebut tersusun secara sistimatis dan apik. Selain itu,
pasal-pasal yang terdapat dalam sebuah Undang-undang memiliki hubungan antara yang satu
dengan yang lainnya atau menjelaskan antara pasal yang satu dengan yang lainnya. Menurut
Sudikno Mertokusumo, bahwa terjadinya suatu undang-undang selalu berkaitan
dan berhubungan dengan peraturan perundang-undangan yang lain, dan tidak ada undang-
undang yang berdiri sendiri lepas sama sekali dari keseluruhan perundang-undangan.
Sejalan dengan pendapat Sudikno Mertokusumo dimaksud, Chainur Arrasyid
mengungkapkan bahwa inti dari penafsiran sistematis terhadap undang-undang, yaitu setiap
undang-undang tidak terlepas antara satu dengan lainnya, selalu ada hubungannya antara yang
satu dengan yang lainnya sehingga seluruh perundang-undangan itu merupakan kesatuan
tertutup, yang rapi dan teratur).
Penafsiran menilik susunan yang berhubungan dengan bunyi pasal-pasal lainnya baik
dalam UU itu maupun dengan UU yang lainnya misalnya ketentuan paling menguntungkan
dalam rumusan ayat 2 dari Pasal 1 KUHP apabila dihubungkan dengan rumusan ayat 1 pasal 1
KUHP yang merumuskan suatu perbuatan dapat dipidana keculai bedasarkan kekuatan
ketentuan peundang-undangan pidana yang telah ada, pengetiannya adalah suatu ketentuan
tentang tidak dapat dipidanya perbuatan.
Artinya semula perbuatan tetentu dipidana, kemudian menurut ketentuan yang baru
menjadi tidak dapat dipidana. Misalnya sebulan yang lalu A melakukan perbuatan pidana yang
dapat dihukum, kemudian hari ini muncul UU yang mengatur perbuatan poidana tesebut tidak
dapat dihukum. Dengan demikian yang dibelakukan adalah UU pidana bau yang
menguntungkan.

5

A.4 Penafsiran menurut Historis
Penafsiran historis atau sejarah adalah meneliti sejarah dari undang-undang yang bersangkutan,
dengan demikian hakim mengetahui maksud pembuatannya. Penafsiran historis dibedakan menjadi
penafsiran menurut sejarah undang-undang (wet historische interpretatie) dan penafsiran menurut sejarah
hukum (rechts historische interpretatie).
Misalnya dokumen rapat para pembuat undang-undang, dokumen rapat pembahasan antar
pemerintah dengan DPR, dan dokumen rapat pembahasan antar pemerintah dengan DPR, dan dokumen
surat-surat lainnya yang dibuat secara resmi baik oleh pemerintah maupun pemerintah dengan DPR.
Dengan menggunakan penafsiran historis dapat diketahui maksud dari pembuat undang-undang atas isi
dari suatu undang-undang.
Penafsiran undang-undang menurut sejarah, maka substansinya adalah menelusuri secara
saksama dan cermat terhadap latar belakang terbentuk atau lahirnya sebuah Undang-undang. Penafsiran
menurut sejarah terbagi atas 2 (dua), yaitu:
(a) Penafsiran menurut sejarah undang-undang;
(b) Penafsiran menurut sejarah hukum.

Selain itu, sejarah Undang-undang hendak dicari maksud ketentuan undang-undang seperti yang
dilihat oleh pembentuk Undang-undang pada waktu pembentukannya.) Pikiran yang mendasari metode
interpretasi Undang-undang adalah kehendak pembentuk undang-undang yang tercantum dalam konteks
Undang-undang atau yang lazim disebut penafsiran subyektif.)
A.5 Penafsiran Sosiologis
Penafsiran sosiologis adalah penafsiran yang disesuaikan dengan keadaan sosial dalam
masyarakat agar penerapan hukum sesuai dengan tujuannya yaitu kepastian hukum berdasarkan asas
keadilan masarakat. Atau Penafsiran sosiologis adalah penafsiran yang berintikan mencari maksud atau
tujuan pembuat undang-undang di dalam masyarakat. Menurut Chainur Arrasyid bahwa suatu peraturan
perundang-undang telah ditetapkan pada waktu pola kehidupan dan aliran-aliran yang berlainan dengan
paham yang ada dalam masyarakat sekarang ini, maka harus dilakukan penafsiran sosiologis. Misalnya di
Indonesia masih banyak peraturan yang berlaku yang berasal dari zaman Kolonial Belanda, maka untuk
menjalankan peraturan itu, hakim dapat menyesuaikan dengan keadaan masyarakat Indonesia pada saat
sekarang.21) Sejalan dengan pemikiran penafsiran sosiologis, Achmad Ali memberi contoh mengenai
Pasal 362 KUHPidana, yang berbunyi: Barang siapa mengambil sesuatu barang, yang seluruhnya atau
sebagian milik orang lain, dengan maksud untuk dimilikinya secara melawan hukum, diancam karena
pencurian, dengan pidana penjara paling lama 5 tahun. Pada saat pasal ini dibuat, para pembuat
undang-undang belum berpikir akan munculnya penggunaan listrik dalam kehidupan manusia.Dengan
demikian, ketika terjadi penyadapan dan penggunaan tenaga listrik, timbul persoalan, apakah listrik
termasuk barang seperti yang dimaksud oleh Pasal 362 KUH Pidana?. Kalau termasuk, berarti
penyadapannya termasuk dalam kualifikasi sebagai pencuri.
6


A.6 Penafsiran Autentik
Penafsiran otentik atau penafsian secara resmi yaitu penafsiran yang dilakukan oleh pembuat
undang-undang itu sendiri, tidak boleh oleh siapapun, hakim juga tidak boleh menafsirkan, penafsiran
autentik adalah penafsiran yang dilukakan oleh pembuat undang-undang. Dalam hal pembuat undang-
undang telah menjelaskan secara rinci beberapa pengertian atau istilah yang terdapat dalam suatu undang-
undang. Hal ini dapat dilihat dalam Bab 9 buku 1 KUHPidana disebutkan bahwa, pembuat undang-
undang telah memberikan penjelasan secara resmi atau autentik dari pengertian beberapa sebutan dalam
KUH Pidana, misalnya Pasal 97 KUHP: yang disebut hari adalah waktu selama dua puluh empat jam,
yang disebut bulan adalah waktu selama tiga puluh hari.

A.7 Penafsiran Komparatif
Penafsiran komparatif adalah penafsiran untuk membandingkan penjelasan berdasarkan
perbandingan hukum. Membandingkan hukum dimaksud, untuk mencari kejelasan mengenai ketentuan
suatu undang-undang terutama bagi hukum yang timbul dari perjanjian internasional, karena dengan
pelaksanaan yang seragam direalisir kesatuan hukum yang melahirkan perjanjian internasional sebagai
hukum obyektif atau kaidah hukum untuk beberapa Negara.
A.8 Penafsiran Analogis
Penafsiran analogis ialah penafsiran pada suatu hukum denganmemberi ibarat (kiyas) pada kata-
kata tersebut sesuai dengan asas hukumnya, sehingga suatu peristiwa yang sebenarnya tidak dapat
dimasukkan, kemudian dianggap sesuai dengan bunyi peraturan tersebut.
A.9 Penafsiran A Contrario
Penafsiran a contrario ialah suatu cara penafsiran undang-undangyang didasarkan pada lawan
dari ketentuan tersebut. Contoh Pasal 34 BW yang menyatakan bahwa seorang perempuan tidak
diperkenankan menikah lagi sebelum lewat 300 hari setelahperkawinannya terdahulu diputuskan.
Bagaimana hanya dengan laki-laki ? Tidak berlaku karena kata lakilaki tidak disebutkan.

7

B. Macam-macam Ketetapan Pajak
Berbagai produk hukum yang dapat diterbitkan oleh Direktorat Jenderal Pajak dalam hal ini
Kantor Pelayanan Pajak atau Kantor Pelayanan Pajak Bumi dan Bangunan (KPP/KPPBB) untuk
mengetahui adanya kewajiban atau hak Wajib Pajak (WP) adalah berupa surat ketetapan pajak terdiri atas
6 (enam) macam, yaitu :
a. Surat Tagihan Pajak (STP)
b. Surat Ketetapan Pajak Kurang Bayar (SKPKB)
c. Surat Ketetapan Pajak Kurang Bayar Tambahan (SKPKBT)
d. Surat Ketetapan Pajak Lebih Bayar (SKPLB)
e. Surat Ketetapan Pajak Nihil (SKPN)
f. Surat Pemberitahuan Pajak Terutang (SPPT)
Penjelasan masing-masing surat ketetapan pajak tersebut di atas seperti di bawah ini:

B.1 Surat Tagihan Pajak (STP)
Surat Tagihan Pajak adalah surat yang diterbitkan untuk melakukan tagihan pajak dan atau sanksi
administrasi berupa bunga dan atau denda. Surat Tagihan Pajak diatur dalam Undang-undang Nomor 16
Tahun 2000 KUP. Surat tagihan Pajak diterbitkan dalam hal-hal sebagai berikut:
1. Apabila Pajak Penghasilan dalam tahun berjalan tidak atau kurang dibayar
2. Apabila dari hasil penelitian Surat Pemberitahuan terdapat kekurangan pembayaran
pajak sebagai akibat salah tulis dan atau salah hitung
3. Apabila Wajib Pajak dikenakan sanksi administrasi berupa denda dan atau bunga
4. Apabila pengusaha yang dikenakan pajak berdasarkan undang-undang PPn dan
perubahannya tidak melaporkan kegiatan usahanya untuk dikukuhkan sebagai
pengusaha kena pajak (PKP).
5. Apabila pengusaha yang tidak dikukuhkan sebagai pengusaha kena pajak tetapi
membuat faktur pajak.
6. Pengusaha yang telah dikukuhkan sebagai pengusaha kena pajak tidak membuat atau
membuat faktur pajak, tetapi tidak tepat waktu atau tidak mengisi selengkapnya faktur
pajak.
Penerbitan surat tagihan pajak ditambrah dengan sanksi administrasi berupa bunga sebesar 2% seblan
untuk paling lama 24 bulan dihitung sejak saat terutangnya pajak atau bagian tahun atau tahun pajak
sampai dengan diterbitkannya surat tagihan pajak.
8


B.2 Surat Ketetapan Pajak Kurang Bayar (SKPKB)
SKPKB adalah surat ketetapan pajak yang diterbitkan untuk menentukan besarnya jumlah pokok
pajak, jumlah kredit pajak, jumlah kekurangan pembayaran pokok pajak, besarnya sanksi admnistrasi, dan
jumlah pajak yang msih harus dibayar. SKPKB diatur dalam pasal 13 undang-undang KUP yang dapat
diterbitkan dalam jangka waktu 10 tahun sesudah saat tertangnya pajak, berakhirnya masa pajak, bagian
tahun pajak atau tahun pajak dalam hal-hal sebagai berikut :
1. Apabila berdasarkan hasil pemeriksaan atau keterangan lain pajak yang terutang tidak
atau kurang dibayar.
2. Apabila surat pemberitahuan tidak disampaikan dalam jangka waktu yang telah
ditetapkan dan telah ditegur secara tertulis, tidak disampaikan juga seperti ditentukan
dalam surat teguran.
3. Apabila berdasarkan hasil pemeriksaan atas PPn dan PPnBM ternyata tidak
seharusnya dikompensasikan selisih lebih pajak atau tidak seharusnya dikenakan tarif
0%.
4. Apabila wajib pajak tidak melakukan kewajiban pembukuan dan tidak memenuhi
permintaan dalam pemeriksaan pajak, sehingga tidak dapat diketahui besarnya pajak
yang terutang.
Penerbitan SKPKB akan diikuti dengan sanksi administrasi yang bisa berupa denda maupun
kenaikan. Sanksi administrasi berupa denda sebesar 2% ebulan akan dikenakan apabila berdasarkan hasil
pemeriksaan diketahui bahwa wajibpajak tidak atau kurang membayar besarnya pajak yang terutang.

B.3 Surat Ketetapan Pajak Kurang Bayar Tambahan (SKPKBT)
SKPKBT adalah Surat Ketetapan Pajak yang diterbitkan untuk menentukan tambahan atas jumlah
pajak yang telah ditetapkan dalam SKPKBT. SKPKBT diatur dalam pasal 13 undang-undang KUP yang
diterbitkan untuk menampung beberapa kemungkinan yang terjadi seperti :
1. Adanya SKPKBT yang telah ditetapkan ternyata lebih rendah dripada perhitungan yang
sebenarnya.
2. Adanya proses pengembalian pajak yang telah ditetapkan dalam SKPLB yang
seharusnya tidak dilakukan.
3. Adanya pajak terutang dalam surat ketetapan pajak nihil (SKPN) yang ditetapkan
ternyata lebih rendah.
Penerbitan SKPKBT dilakukan apabila ditemukan data baru (novum) dan atau data yang semula
belum terungkap yang dapat menyebabkan penambahan pajak yang terutang.
9


B.4 Surat Ketetapan Pajak Lebih Bayar (SKPLB)
SKPLB adalah Surat Ketetapan Pajak yang diterbitkan untuk menentukan jumlah kelebihan
pembayaran pajak karena jumlah kredit pajak lebih besar daripada pajak yang terutang atau tidak
seharusnya terutang. SKPLB diatur dalm Pasal 17 Undang-undang KUP yang telah diterbitkan untuk hal-
hal sbb:
1. Untuk Pajak Penghasilan (PPh), jumlah kredit pajak lebih besar dari jumlah pajak yang
terutang, atau telah dilakukan pembeyaran pajak yang seharusnya tidak terutang.
2. Untuk Pajak Pertambahan Nilai (PPN), Jumlah kredit pajak lebih besar dari jumlah pajak
yang terutang, atau telah dilakukan pembayaran pajak yang seharusnya tidak terutang.
3. Untuk Pajak Penjualan atas Barang Mewah (PPnBM), jumlah pajak yang dibayar lebih besar
dari jumlah pajak yang terutang atau telah dilakukan pembayaran pajak yang tidak
seharusnya terutang.
SKPLB akan diterbitkan jika ada permohonan tertulis dari wajib pajak.

B.5 Surat Ketetapan Pajak Nihil (SKPN)
SKPN adalah surat ketetapan pajak yang diterbitkan untuk menentukan jumlah pokok pajak sama
besarnya dengan jumlah kredit pajak atau pajak tidak terutang dan tidak ada kredit pajak. SKPN diatur
dalam Pasal 17A Undang-undang KUP dalam hal sbb:
1. Untuk PPh, jumlah kredit pajak sama dengan pajak yang terutang atau pajak yang tidak
terutang dan tidak ada kredit pajak.
2. Untuk PPn, jumlah kredit pajak sama dengan jumlah pajak yang terutang atau pajak tidak
terutang dan tidak ada kredit pajak.
3. Untuk PPnBM, jumlah pajak yang dibayar sama dengan jumlah pajak yang terutang atau
pajak tidak terutang dan tidak ada pembayaran pajak.

B.6 Surat Pemberitahuan Pajak Terutang (SPPT)
SPPT adalah surat yang diterbitkan oleh DJP untuk memberitahukan besarnya pajak yang terutang
kepada Wajib Pajak. SPPT diatur dalam Pasal 10 ayat 1 Undang-undang Nomor 12 Tahun 1994 tentang
Pajak Bumi dan Bangunan (PBB). SPPT merupakan dokumen yang berisi besarnya utang atas pajak bumi
dan Bangunan yang harus dilunasi oleh Wajib Pajak pada waktu yang telah ditentukan. SPPT diterbitkan
berdasarkan Surat Pemberitahuan Objek Pajak (SPOP) ang trlah disampaikan oleh Wajib Pajak atau
berdasarkan data Objek Pajak yang telah ada di Kantor Pelayanan PBB.
10

C. Daluwarsa Penetapan
Daluwarsa penetapan merupakan suatu batasan waktu yang ditentukan undang- undang
untuk dapat menerbitkan surat ketetapan pajak atas utang pajak WP, yang tujuannya tidak lain
agar WP memperoleh kepastian hukum atas utang pajaknya.
Yang dimaksud dengan daluwarsa penetapan adalah jangka waktu 5 (lima) tahun setelah
saat terutangnya pajak atau berakhirnya Masa Pajak, bagian Tahun Pajak, atau Tahun Pajak,
sebagaimana dimaksud dalam Pasal 13 ayat (1) UU KUP. Dengan ketentuan ini, misalnya Tuan
Ali menyampaikan pembetulan SPT Tahunan PPh tahun 2011 di mana hasil pembetulannya
menyatakan lebih bayar, maka pembetulan dapat dilakukan sampai dengan 31 Desember 2014.