Anda di halaman 1dari 14

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA

NOMOR 31 TAHUN 2006

TENTANG

SISTEM PELATIHAN KERJA NASIONAL


DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA


PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

Menimbang : bahwa untuk melaksanakan ketentuan Pasal 20 ayat (2)
Undang-Undang Nomor 13 Tahun 2003 tentang
Ketenagakerjaan, perlu menetapkan Peraturan Pemerintah
tentang Sistem Pelatihan Kerja Nasional;

Menimbang : 1. Pasal 5 ayat (2) Undang-Undang Dasar Negara Republik
Indonesia Tahun 1945;

2. Undang-Undang Nomor 13 Tahun 2003 tentang
Ketenagakerjaan (Lembaran Negara Republik Indonesia
Tahun 2003 Nomor 39, Tambahan Lembaran Negara
Republik Indonesia Nomor 4279);

3. Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang
Pemerintahan Daerah (Lembaran Negara Republik
Indonesia Tahun 2004 Nomor 125, Tambahan Lembaran
Negara Republik Indonesia Nomor 4437);

4. Peraturan Pemerintah Nomor 23 Tahun 2004 tentang
Badan Nasional Sertifikasi Profesi (Lembaran Negara
Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 78, Tambahan
Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4408);

MEMUTUSKAN :

Menetapkan : PERATURAN PEMERINTAH TENTANG SISTEM PELATIHAN
KERJA NASIONAL.











BAB I

KETENTUAN UMUM

Pasal 1

Dalam Peraturan Pemerintah ini yang dimaksud dengan :

1. Pelatihan kerja adalah keseluruhan kegiatan untuk
memberi, memperoleh, meningkatkan, serta
mengembangkan kompetensi kerja, produktivitas,
disiplin, sikap dan etos kerja pada tingkat keterampilan
dan keahlian tertentu sesuai dengan jenjang dan
kualifikasi jabatan atau pekerjaan.

2. Sistem Pelatihan Kerja Nasional yang selanjutnya
disingkat Sislatkernas, adalah keterkaitan dan
keterpaduan berbagai komponen pelatihan kerja untuk
mencapai tujuan pelatihan kerja nasional.

3. Lembaga pelatihan kerja adalah instansi pemerintah,
badan hukum atau perorangan yang memenuhi
persyaratan untuk menyelenggarakan pelatihan kerja.

4. Kompetensi kerja adalah kemampuan kerja setiap
individu yang mencakup aspek pengetahuan,
keterampilan, dan sikap kerja yang sesuai dengan
standar yang ditetapkan.

5. Standar Kompetensi Kerja Nasional Indonesia yang
selanjutnya disingkat SKKNI, adalah rumusan
kemampuan kerja yang mencakup aspek pengetahuan,
keterampilan dan/atau keahlian serta sikap kerja yang
relevan dengan pelaksanaan tugas dan syarat jabatan
yang ditetapkan sesuai dengan ketentuan peraturan
perundang-undangan yang berlaku.

6. Sertifikasi kompetensi kerja adalah proses pemberian
sertifikat kompetensi yang dilakukan secara sistematis
dan obyektif melalui uji kompetensi sesuai Standar
Kompetensi Kerja Nasional Indonesia, Standar
Internasional dan/atau Standar Khusus.

7. Sertifikat kompetensi kerja adalah bukti tertulis yang
diterbitkan oleh lembaga sertifikasi profesi terakreditasi
yang menerangkan bahwa seseorang telah menguasai
kompetensi kerja tertentu sesuai dengan SKKNI.

8. Kerangka Kualifikasi Nasional Indonesia yang selanjutnya
disingkat KKNI, adalah kerangka penjenjangan
kualifikasi kompetensi yang dapat menyandingkan,
menyetarakan dan mengintegrasikan antara bidang
pendidikan dan bidang pelatihan kerja serta pengalaman
kerja dalam rangka pemberian pengakuan kompetensi
kerja sesuai dengan struktur pekerjaan di berbagai
sektor.



9. Pelatihan berbasis kompetensi kerja adalah pelatihan
kerja yang menitikberatkan pada penguasaan
kemampuan kerja yang mencakup pengetahuan,
keterampilan, dan sikap sesuai dengan standar yang
ditetapkan dan persyaratan di tempat kerja.

10. Akreditasi adalah proses pemberian pengakuan formal
yang menyatakan bahwa suatu lembaga telah memenuhi
persyaratan untuk melakukan kegiatan pelatihan kerja.

11. Pemerintah Pusat yang selanjutnya disebut Pemerintah,
adalah Presiden Republik Indonesia yang memegang
kekuasaan pemerintahan negara Republik Indonesia
sebagaimana dimaksud dalam Undang Undang Dasar
Negara Republik Indonesia Tahun 1945.

12. Pemerintah Daerah adalah Gubernur, Bupati, atau
Walikota, dan perangkat daerah sebagai unsur
penyelenggara pemerintahan daerah.

13. Badan Nasional Sertifikasi Profesi yang selanjutnya
disingkat BNSP, adalah lembaga independen yang
bertugas melaksanakan sertifikasi kompetensi yang
dibentuk dengan Peraturan Pemerintah.

14. Menteri adalah Menteri yang menyelenggarakan urusan
pemerintahan di bidang ketenagakerjaan.


BAB II

T U J U A N

Pasal 2

Sislatkernas bertujuan untuk :

a. mewujudkan pelatihan kerja nasional yang efektif dan
efisien dalam rngka meningkatkan kualitas tenaga kerja;
b. memberikan arah dan pedoman dalam penyelenggaraan,
pembinaan, dan pengendalian pelatihan kerja;
c. mengoptimalkan pendayagunaan dan pemberdayaan
seluruh sumber daya pelatihan kerja.


BAB III

PRINSIP DASAR PELATIHAN KERJA

Pasal 3

Prinsip dasar pelatihan kerja adalah :

a. berorientasi pada kebutuhan pasar kerja dan
pengembangan SDM;
b. berbasis pada kompetensi kerja;


c. tanggung jawab bersama antara dunia usaha,
pemerintah, dan masyarakat;
d. bagian dari pengembangan profesionalisme sepanjang
hayat; dan
e. diselenggarakan secara berkeadilan dan tidak
diskriminatif.


BAB IV

PROGRAM PELATIHAN KERJA

Bagian Kesatu

Umum

Pasal 4

(1) Program pelatihan kerja disusun berdasarkan SKKNI,
Standar Internasional dan/atau Standar Khusus.

(2) Program pelatihan kerja sebagaimana dimaksud pada
ayat (1) dapat disusun secara berjenjang atau tidak
berjenjang.

(3) Program pelatihan kerja yang disusun secara berjenjang
mengacu pada jenjang KKNI.

(4) Program pelatihan kerja yang tidak berjenjang disusun
berdasarkan unit kompetensi atau kelompok unit
kompetensi.


Bagian Kedua

K K N I

Pasal 5

(1) Dalam rangka mengembangkan kualitas tenaga kerja
ditetapkan KKNI yang disusun berdasarkan jenjang
kualifikasi kompetensi kerja dari yang terendah sampai
yang tertinggi.

(2) KKNI sebagaimana dimaksud pada ayat (1) terdiri dari 9
(sembilan) jenjang yang dimulai dengan kualifikasi
sertifikat 1 (satu) sampai dengan sertifikat 9 (sembilan).

(3) KKNI sebagaimana dimaksud pada ayat (1) ditetapkan
dengan Peraturan Presiden.

Pasal 6

(1) KKNI sebagaimana dimaksud dalam Pasal 5 ayat (2)
menjadi acuan dalam penetapan kualifikasi tenaga kerja.

(2) Dalam hal sektor dan/atau profesi tertentu tidak
memiliki atau tidak memerlukan seluruh jenjang pada
KKNI, dapat memilih kualifikasi tertentu.



(3) Kualifikasi tertentu sebagaimana dimaksud pada ayat (2)
harus menggunakan KKNI.


Bagian Ketiga

SKKNI

Pasal 7

(1) SKKNI disusun berdasarkan kebutuhan lapangan usaha
yang sekurang-kurangnya memuat kompetensi teknis,
pengetahuan, dan sikap kerja.

(2) SKKNI dikelompokkan ke dalam jenjang kualifikasi
dengan mengacu pada KKNI dan/atau jenjang jabatan.

(3) Pengelompokan SKKNI ke dalam jenjang kualifikasi
sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dilakukan
berdasarkan tingkat kesulitan pelaksanaan pekerjaan,
sifat pekerjaan, dan tanggung jawab pekerjaan.

(4) Rancangan SKKNI dibakukan melalui forum konvensi
antar asosiasi profesi, pakar dan praktisi untuk sektor,
sub sektor dan bidang tertentu dan ditetapkan dengan
Peraturan Menteri.

Pasal 8

SKKNI sebagaimana dimaksud dalam Pasal 7 ayat (3) menjadi
acuan dalam penyusunan program pelatihan kerja dan
penyusunan materi uji kompetensi.


BAB V

PENYELENGGARAAN

Pasal 9

(1) Pelatihan kerja diselenggarakan dengan metode pelatihan
kerja yang relevan, efektif, dan efisien dalam rangka
mencapai standar kompetensi kerja.

(2) Metode pelatihan kerja sebagaimana dimaksud pada
ayat (1) dapat berupa pelatihan di tempat kerja dan/atau
pelatihan di lembaga pelatihan kerja.

(3) Matode pelatihan di tempat kerja sebagaimana dimaksud
pada ayat (2) dapat diselenggarakan dengan pemagangan.

(4) Ketentuan lebih lanjut mengenai pemagangan
sebagaimana dimaksud pada ayat (3) diatur dengan
Peraturan Menteri.




Pasal 10

(1) Penyelenggaraan pelatihan kerja harus didukung dengan
sarana dan prasarana yang memenuhi persyaratan
untuk menjamin tercapainya standar kompetensi kerja.

(2) Ketentuan lebih lanjut mengenai sarana dan prasarana
yang memenuhi persyaratan sebagaimana dimaksud
pada ayat (1) diatur dengan Peraturan Menteri.

Pasal 11

(1) Penyelenggaraan pelatihan kerja harus didukung dengan
tenaga kepelatihan yang memenuhi persyaratan
kualifikasi kompetensi sesuai dengan bidang tugasnya.

(2) Kualifikasi kompetensi tenaga kepelatihan sebagaimana
dimaksud pada ayat (1) mencakup kompetensi teknis,
pengetahuan, dan sikap kerja.

(3) Ketentuan lebih lanjut mengenai persyaratan kualifikasi
kompetensi tenaga kepelatihan sebagaimana dimaksud
pada ayat (1) dan ayat (2) diatur dengan Peraturan
Menteri.

Pasal 12

(1) Pelatihan kerja diselenggarakan oleh lembaga pelatihan
kerja pemerintah yang telah memiliki tanda daftar atau
lembaga pelatihan kerja swasta yang telah memiliki izin
dari instansi yang bertanggungjawab di bidang
ketenagakerjaan Kabupaten/Kota.

(2) Lembaga pelatihan kerja sebagaimana dimaksud pada
ayat (1) dapat memperoleh akreditasi dari lembaga
akreditasi pelatihan kerja setelah melalui proses
akreditasi.

(3) Ketentuan lebih lanjut mengenai tata cara pendaftaran
lembaga pelatihan kerja pemerintah, perizinan lembaga
pelatihan kerja swasta dan akreditasi lembaga pelatihan
kerja sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2)
diatur dengan Peraturan Menteri.


BAB VI

PESERTA PELATIHAN KERJA

Pasal 13

(1) Setiap tenaga kerja mempunyai kesempatan untuk
mengikuti pelatihan sesuai dengan bakat, minat, dan
kemampuannya.



(2) Untuk dapat mengikuti pelatihan kerja, peserta wajib
memenuhi persyaratan sesuai dengan jenis dan tingkat
program yang akan diikuti.

(3) Peserta pelatihan kerja yang memiliki keterbatasan fisik
dan/atau mental tertentu dapat diberikan pelayanan
khusus sesuai dengan keterbatasannya.


BAB VII

SERTIFIKASI

Pasal 14

(1) Peserta pelatihan yang telah menyelesaikan program
pelatihan berhak mendapatkan sertifikat pelatihan
dan/atau sertifikat kompetensi kerja.

(2) Sertifikat pelatihan kerja diberikan oleh lembaga
pelatihan kerja kepada peserta pelatihan yang dinyatakan
lulus sesuai dengan program pelatihan kerja yang diikuti.

(3) Sertifikat kompetensi kerja diberikan oleh BNSP kepada
lulusan pelatihan dan/atau tenaga kerja berpengalaman
setelah lulus uji kompetensi.

(4) BNSP dapat memberikan lisensi kepada lembaga
sertifikasi profesi yang memenuhi persyaratan akreditasi
untuk melaksanakan sertifikasi kompetensi kerja
sebagaimana dimaksud pada ayat (3).

(5) Dalam hal lembaga sertifikasi profesi tertentu belum
terbentuk maka pelaksanaan sertifikasi kompetensi kerja
sebagaimana dimaksud pada ayat (3) dilakukan oleh
BNSP.

(6) Pelaksanaan sertifikasi kompetensi kerja sebagaimana
dimaksud pada ayat (4) dan ayat (5) harus mengacu pada
pedoman sertifikasi kompetensi kerja yang ditetapkan
oleh BNSP.


BAB VIII

SISTEM INFORMASI

Pasal 15

(1) Menteri mengembangkan sistem informasi pelatihan
kerja nasional untuk mendukung pelaksanaan
Sislatkernas.





(2) Sistem informasi pelatihan kerja nasional sebagaimana
dimaksud pada ayat (1) meliputi sekurang-kurangnya
memuat data dan informasi tentang :

a. SKKNI dan KKNI;
b. program pelatihan kerja;
c. penyelenggaraan pelatihan kerja;
d. tenaga kepelatihan; dan
e. sertifikasi.

(3) Informasi sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dihimpun
dari semua pihak yang terkait dengan pelatihan kerja
baik instansi pemerintah, pemerintah daerah maupun
swasta, serta informasi dari lembaga di luar negeri.
Pasal 16

Kegiatan sistem informasi pelatihan kerja nasional
sebagaimana dimaksud dalam Pasal 15 meliputi
pengumpulan, pengolahan, penyajian, dan penyebarluasan
data dan informasi.

Pasal 17

Sistem informasi pelatihan kerja nasional harus menjangkau
sasaran yang luas, murah, dan mudah diperoleh masyarakat.


BAB IX

PENDANAAN

Pasal 18

(1) Pendanaan sistem pelatihan kerja baik yang menyangkut
pembinaan maupun penyelenggaraan dilaksanakan
berdasarkan prinsip efektif, efisien, akuntabilitas,
transparansi, dan berkelanjutan.

(2) Pendanaan sistem pelatihan kerja sebagaimana
dimaksud pada ayat (1) bersumber dari Anggaran
Pendapatan dan Belanja Negara, Anggaran Pendapatan
dan Belanja Daerah dan/atau penerimaan lain yang sah
sesuai dengan peraturan perundang-undangan.

(3) Ketentuan lebih lanjut mengenai pelaksanaan pendanaan
sistem pelatihan kerja diatur dengan Peraturan Menteri.


BAB X

PEMBINAAN

Pasal 19

(1) Pembinaan Sislatkernas diarahkan untuk meningkatkan
relevansi, kualitas, dan efisiensi pelatihan kerja serta
standardisasi sertifikasi kompetensi kerja.



(2) Pembinaan Sislatkernas sebagaimana dimaksud pada
ayat (1) terdiri dari pembinaan umum dan pembinaan
teknis.

(3) Pembinaan umum terhadap Sislatkernas dilakukan oleh
instansi pemerintah yang bertanggungjawab di bidang
ketenagakerjaan.

(4) Pembinaan teknis terhadap pelaksanaan Sislatkernas di
masing-masing sektor dilakukan oleh instansi
pemerintah yang membidangi sektor yang bersangkutan.

(5) Pembinaan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan
ayat (2) dilakukan melalui perencanaan, bimbingan,
konsultasi, fasilitasi, koordinasi dan pengendalian.


BAB XI

KOORDINASI

Pasal 20

(1) Koordinasi pelatihan kerja dilakukan oleh lembaga
koordinasi pelatihan kerja nasional yang dibentuk
dengan Peraturan Presiden.

(2) Koordinasi pelatihan kerja sebagaimana dimaksud pada
ayat (1) antara lain meliputi koordinasi dalam
perencanaan, penyelenggaraan, pemberdayaan, dan
pendanaan pelatihan kerja.


BAB XII

PELAKSANAAN SISLATKERNAS
DI DAERAH

Pasal 21

(1) Pemerintah daerah bertanggungjawab terhadap
pelaksanaan Sislatkernas di daerahnya sesuai dengan
tugas dan wewenang penyelenggaraan otonomi daerah di
bidang ketenagakerjaan.

(2) Pelaksanaan Sislatkernas di daerah sebagaimana
dimaksud pada ayat (1) berlandaskan pada pedoman
penyelenggaraan Sislatkernas yang ditetapkan dalam
Peraturan Menteri.








BAB XIII

KETENTUAN PERALIHAN

Pasal 22

(1) Pada saat mulai berlakunya Peraturan Pemerintah ini,
semua peraturan perundang-undangan yang mengatur
tentang pelatihan kerja yang telah ditetapkan oleh
instansi teknis dan/atau lembaga lain dinyatakan tetap
berlaku sepanjang tidak bertentangan atau belum diubah
atau diganti berdasarkan Peraturan Pemerintah ini.

(2) Penyesuaian peraturan tentang pelatihan kerja yang
bertentangan dengan Peraturan Pemerintah ini, wajib
disesuaikan paling lama 1 (satu) tahun sejak Peraturan
Pemerintah ini ditetapkan.


BAB XIV

KETENTUAN PENUTUP

Pasal 23

Pada saat Peraturan Pemerintah ini mulai berlaku, maka
Peraturan Pemerintah Nomor 71 Tahun 1991 tentang Latihan
Kerja dicabut dan dinyatakan tidak berlaku.

Pasal 24

Peraturan Pemerintah ini mulai berlaku pada tanggal
diundangkan.

Agar setiap orang mengetahuinya, memerintahkan
pengundangan Peraturan Pemerintah ini dengan
penempatannya dalam Lembaran Negara Republik Indonesia.

Ditetapkan di Jakarta
pada tanggal 22 September 2006

PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

ttd.

DR. H. SUSILO BAMBANG YUDHOYONO

Diundangkan di Jakarta
Pada tanggal 22 September 2006

MENTERI HUKUM DAN HAK ASASI MANUSIA
REPUBLIK INDONESIA,

ttd.

HAMID AWALUDIN


LEMBARAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA TAHUN 2006 NOMOR 67


PENJELASAN

ATAS

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA

NOMOR 31 TAHUN 2006

TENTANG

SISTEM PELATIHAN KERJA NASIONAL


I. UMUM

Pelatihan kerja merupakan keseluruhan kegiatan untuk memberi,
memperoleh, meningkatkan, serta mengembangkan kompetensi kerja,
produktivitas, disiplin, sikap, dan etos kerja pada tingkat keterampilan
dan keahlian tertentu sesuai dengan jenjang dan kualifikasi jabatan atau
pekerjaan. Oleh karena itu, pelatihan kerja merupakan salah satu jalur
untuk meningkatkan kualitas serta mengembangkan karier tenaga kerja.

Paradikma baru peningkatan kualitas tenaga kerja bertumpu pada tiga
pilar utama, yaitu standar kompetensi kerja, pelatihan berbasis
kompetensi serta sertifikasi kompetensi oleh lembaga yang independen.
Standar kompetensi kerja perlu disusun dan dikembangkan di berbagai
sektor atau bidang profesi, dengan mengacu pada kebutuhan industri
atau perusahaan. Hal ini penting, agar standar kompetensi kerja dapat
diterima di dunia kerja atau pasar kerja, baik secara nasional maupun
internasional.

Standar kompetensi sebagaimana dimaksud di atas akan menjadi acuan
dalam mengembangkan program pelatihan. Untuk keperluan
pengembangan pelatihan berbasis kompetensi seperti ini, perlu ditata dan
dikembangkan keseluruhan unsurnya dalam satu kesatuan sistem
pelatihan berbasis kompetensi. Untuk mengetahui sejauh mana lulusan
pelatihan teleh memenuhi standar kompetensi yang ditetapkan, perlu
dilakukan sertifikasi kompetensi melalui uji kompetensi.

Sertifikasi kompetensi tersebut di atas dilakukan oleh lembaga sertifikasi
kompetensi yang independen. Hal ini penting, agar tidak terjadi konflik
kepentingan antara penyelenggara pelatihan sebagai produsen dan
lembaga sertifikasi sebagai penjamin mutu lulusan.

Ketiga pilar pengembangan kualitas tenaga kerja sebagaimana dimaksud
di atas, perlu disinergikan ke dalam suatu sistem pelatihan kerja nasional
(Sislatkernas).
Sistem Pelatihan Kerja Nasional merupakan panduan arah kebijakan
umum bagi terselenggaranya pelatihan secara terarah, sistematis, dan
sinergis dalam penyelenggaraan pelatihan di berbagai bidang, sektor,
instansi dan penyelenggaraan pelatihan dalam melakukan kegiatannya
sehingga tujuan pelatihan nasional dapat dicapai secara efisien dan
efektif.

Berdasarkan uraian tersebut di atas, maka Peraturan Pemerintah ini
memuat antara lain :
- Tujuan Sislatkernas;
- Prinsip dasar pelatihan kerja;
- Program pelatihan kerja;


- Kerangka Kualifikasi Nasional Indonesia (KKNI);
- Standar Kompetensi Kerja Nasional Indonesia (SKKNI);
- Penyelenggaraan pelatihan kerja;
- Peserta pelatihan kerja;
- Sertifikasi;
- Sistem Informasi, pendanaan, dan pembinaan Sislatkernas;
- Pelaksanaan Sislatkernas di daerah.


II. PASAL DEMI PASAL

Pasal 1
Cukup jelas.

Pasal 2
Cukup jelas.

Pasal 3
Cukup jelas.

Pasal 4
Cukup jelas.

Pasal 5
Ayat (1)
Cukup jelas.

Ayat (2)
Penerapan kualifikasi sertifikat 1 (satu) sampai dengan 9
(sembilan) disesuaikan dengan kebutuhan dan kondisi
masing-masing sektor.

Ayat (3)
Cukup jelas.

Pasal 6
Cukup jelas.

Pasal 7
Cukup jelas.

Pasal 8
Cukup jelas.

Pasal 9
Ayat (1)
Cukup jelas.

Ayat (2)
Cukup jelas.

Ayat (3)
Yang dimaksud dengan ”pelatihan di tempat kerja” adalah
pelatihan yang diselenggarakan dimana peserta pelatihan
dilibatkan secara langsung dalam proses produksi dengan
bimbingan instruktur dan/atau pekerja senior sesuai dengan
program pelatihan yang telah ditetapkan.


Ayat (4)
Yang dimaksud dengan ”pemagangan” adalah bagian dari
sistem pelatihan kerja yang diselenggarakan secara terpadu
antara pelatihan di lembaga pelatihan dengan bekerja secara
langsung di bawah bimbingan dan pengawasan instruktur
atau pekerja/buruh yang lebih berpengalaman, dalam proses
produksi barang dan/atau jasa di perusahaan, dalam rangka
menguasai keterampilan atau keahlian tertentu.

Pasal 10
Cukup jelas.

Pasal 11
Ayat (1)
Yang dimaksud dengan ”tenaga kerja kepelatihan” dalam
pasal ini antara lain instruktur, tenaga perencana,
penganalisis kebutuhan pelatihan, pengembang kurikulum,
pengadministgrasi, pemelihara sarana, pengelola pelatihan,
penyedia, dan pengelola lembaga pelatihan.

Ayat (2)
Cukup jelas.

Ayat (3)
Cukup jelas.

Pasal 12
Cukup jelas.

Pasal 13
Cukup jelas.

Pasal 14
Cukup jelas.

Pasal 15
Cukup jelas.

Pasal 16
Cukup jelas.

Pasal 17
Cukup jelas.

Pasal 18
Ayat (1)
Cukup jelas.

Ayat (2)
Penerimaan lain yang sah sesuai dengan peraturan
perundang-undangan yang berlaku dalam ayat ini termasuk
penerimaan yang bersumber dari masyarakat yang dikelola
langsung oleh lembaga pelatihan swasta.

Ayat (3)
Cukup jelas.



Pasal 19
Ayat (1)
Cukup jelas.

Ayat (2)
Cukup jelas.

Ayat (3)
Yang dimaksud dengan ”pembinaan umum” adalah
pembinaan yang bersifat nasional yang berlaku di semua
sektor dan daerah yang menjamin terlaksananya Sislatkernas
Secara keseluruhan.

Ayat (4)
Yang dimaksud dengan ”pembinaan teknis” adalah
pembinaan yang bersifat sektoral yang menjamin
terlaksananya Sislatkernas di sektor yang bersangkutan.

Ayat (5)
Cukup jelas.

Pasal 20
Lembaga koordinasi pelatihan kerja nasional pada ayat ini sebagai
amanat Pasal 28 Undang-Undang Nomor 13 Tahun 2003 tentang
Ketenagakerjaan.

Pasal 21
Cukup jelas.

Pasal 22
Cukup jelas.

Pasal 23
Cukup jelas.

Pasal 24
Cukup jelas.



TAMBAHAN LEMBARAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA NOMOR 4637