Anda di halaman 1dari 15

TUGAS

PRINSIP-PRINSIP DEGRADASI LINGKUNGAN



Nama : Gregorio Antonny Bani
NIM : 1311030007
Kelas A. Program Studi Ilmu Lingkungan

1. Hutan Hujan Tropik
Hutan hujan tropik adalah hutan yang memiliki keanekaragaman tumbuhan yang
sangat tinggi, atau hutan dengan pohon-pohon yang tinggi, iklim yang lembab dan curah
hujan yang tinggi (Zaenuddin, 2008).
Tumbuhan penyusun dari hutan hujan ini dapat berganti daun-daunya setiap tahunnya
secara individual. Namun demikian, tidak terdapat perubahan musiman yang teratur dan
tidak juga berpengaruh terhadap seluruh vegetasi yang ada. Sepanjang tahun terjadi
pembungaan dan pembentukkan buah, meskipun ada kecenderungan setiap tumbuhannya
memiliki musim pembuahan pada waktu-waktu tertentu dan tidak sama untuk masing-
masing jenis tumbuhan. Proses demikian disebut dengan gejala cauliflory (berbunga dan
berbuah pada batang atau dahan-dahan yang telah tua dan tidak berdaun lagi). Proses dan
siklus yang demikian itu merupakan gejala yang sangat umum dalam wilayah hutan hujan
tropis (Ardiananda, 2008).
Hutan hujan tropik terbentuk di wilayah-wilayah beriklim tropis, dengan curah hujan
tahunan minimum berkisar antara 1,750 - 2,000 millimeter. Sedangkan rata-rata temperatur
bulanan berada di atas 18 C (64 F) di sepanjang tahun. Hutan basah ini tumbuh di dataran
rendah hingga ketinggian sekitar 1.200 m dpl., di atas tanah-tanah yang subur atau relatif
subur, kering (tidak tergenang air dalam waktu lama), dan tidak memiliki musim kemarau
yang nyata (jumlah bulan kering < 2). Hutan hujan tropik merupakan vegetasi yang paling
kaya, baik dalam arti jumlah jenis makhluk hidup yang membentuknya, maupun dalam
tingginya nilai sumberdaya lahan (tanah, air dan cahaya matahari) yang dimilikinya. Hutan
dataran rendah ini didominasi oleh pepohonan besar yang membentuk tajuk berlapis-lapis
(layering), sekurang-kurangnya tinggi tajuk teratas rata-rata adalah 45 m (paling tinggi
dibandingkan rata-rata hutan lainnya), rapat dan hijau sepanjang tahun. Ada tiga lapisan
tajuk atas di hutan ini:
Lapisan pohon-pohon yang lebih tinggi, muncul di sana-sini dan menonjol di atas atap
tajuk (kanopi hutan) sehingga dikenal sebagai sembulan (emergent). Sembulan ini
bisa sendiri-sendiri atau kadang-kadang menggerombol, namun tak banyak. Pohon-
pohon tertinggi ini bisa memiliki batang bebas cabang lebih dari 30 m, dan dengan
lingkar batang hingga 4,5 m.
Lapisan kanopi hutan rata-rata, yang tingginya antara 24 - 36 m.
Lapisan tajuk bawah, yang tidak selalu menyambung. Lapisan ini tersusun oleh pohon-
pohon muda, pohon-pohon yang tertekan pertumbuhannya, atau jenis-jenis pohon yang
tahan naungan.

Kanopi hutan banyak mendukung kehidupan lainnya, semisal berbagai jenis epifit
(termasuk anggrek), bromeliad, lumut, serta lumut kerak, yang hidup melekat di cabang dan
rerantingan. Tajuk atas ini demikian padat dan rapat, membawa konsekuensi bagi kehidupan
di lapis bawahnya. Tetumbuhan di lapis bawah umumnya terbatas keberadaannya oleh
sebab kurangnya cahaya matahari yang bisa mencapai lantai hutan, sehingga orang dan
hewan cukup leluasa berjalan di dasar hutan.
Ada dua lapisan tajuk lagi di aras lantai hutan, yakni lapisan semak dan lapisan
vegetasi penutup tanah. Lantai hutan sangat kurang cahaya, sehingga hanya jenis-jenis
tumbuhan yang toleran terhadap naungan yang bertahan hidup di sini; di samping jenis-jenis
pemanjat (liana) yang melilit batang atau mengait cabang untuk mencapai atap tajuk. Akan
tetapi kehidupan yang tidak begitu memerlukan cahaya, seperti halnya aneka kapang dan
organisme pengurai (dekomposer) lainnya tumbuh berlimpah ruah. Dedaunan, buah-buahan,
ranting, dan bahkan batang kayu yang rebah, segera menjadi busuk diuraikan oleh aneka
organisme tadi.
Pada saat-saat tertentu ketika tajuk tersibak atau terbuka karena sesuatu sebab
(pohon yang tumbang, misalnya), lantai hutan yang kini kaya sinar matahari segera diinvasi
oleh berbagai jenis terna, semak dan anakan pohon; membentuk sejenis rimba yang rapat.
Dedaunan di kanopi membuat lapisan dasar dari hutan hujan umumnya gelap dan lembab.
Bagaimanapun, terlepas dari bayang-bayang konstanya, permukaan tanah dari hutan hujan
adalah bagian yang penting dari ekosistem hutan.
Lantai hutan adalah dimana terjadinya pembusukan (decomposation). Dekomposasi
atau pembusukan adalah proses ketika makhluk-makhluk pembusuk seperti jamur dan mikro
organism mengurai tumbuhan dan hewan yang mati dan mendaur ulang material-material
serta nutrisi-nutrisi yang berguna. Banyak dari hewan-hewan terbesar hutan hujan
ditemukan di lantai hutan. Beberapa dari ini termasuk gajah, tapir, dan macan kumbang.
Ciri-ciri umum hutan hujan tropis dapat disebutkan sebagai berikut :
Lokasi. Hutan hujan berada di daerah tropis.
Curah hujan. Hutan hujan memperoleh curah hujan sebesar paling tidak 80 inch setiap
tahunnya.
Kanopi. Hutan hujan memiliki kanopi, yaitu lapisan-lapisan cabang pohon beserta
daunnya yang terbentuk oleh rapatnya pohon-pohon hutan hujan.
Keanekaragaman biota. Hutan hujan memiliki tingkat keragaman biota yang tinggi
(biodiversity). Biodiversity adalah sebutan untuk seluruh benda hidup seperti tumbuhan,
hewan, dan jamur yang ditemukan di suatu ekosistem. Para peneliti percaya bahwa
sekitar separuh dari tumbuhan dan hewan yang ditemukan di muka bumi hidup di hutan
hujan.
Hubungan simbiotik antar spesies. Spesies di hutan hujan seringkali bekerja
bersama. Hubungan simbiotik adalah hubungan dimana dua spesies berbeda
saling menguntungkan dengan saling membantu. Contohnya, beberapa
tumbuhan membuat struktur tempat tinggal kecil dan gula untuk semut.
Sebagai balasannya, semut menjaga tumbuhan dari serangga-serangga lain
yang mungkin ingin memakan daun dari tumbuhan tersebut
Iklim. Iklim selalu basah. Curah hujan tinggi dan merata, tanah kering sampai lembab
dan bermacam-macam jenis tanah. Mayoritas hidup tumbuhan berkayu (perpohonan.
liana). Tumbuhan berbatang kurus (tidak banyak cabang. kulit tipis). Terdapat di
pedalaman. pada tanah rendah sampai berbukit (1000 m dpl) sampai pada dataran tinggi
(s/d 4000 m dpl). Dapat dibedakan menjadi 3 zone menurut ketinggiannya : Hutan
Hujan Bawah (2 - 1000 m dpl). Hutan Hujan Tengah (1000 - 3000 m dpl), Hutan Hujan
Atas (3000 - 4000 m dpl). Terdapat terutama di Sumatera. Kalimantan, Sulawesi,
Maluku dan Irian.

Tumbuhan utama penyusun hutan hujan tropis yang basah (lembab), biasanya terdiri
atas tujuh kelompok utama, yaitu :
Pohon-pohon.
Pohon-pohon ini merupakan komponen struktural utama, kadang-kadang untuk mudahnya
dinamakan atap atau tajuk (canopy). Kanopi ini terdiri dari tiga tingkatan dan masing-
masing tingkatan ditandai dengan jenis pohon yang berbeda. Tingkatan A merupakan
tingakatan tumbuhan yang menjulang tinggi, dengan ketinggian lebih dari 30 m. Pohon-
pohonnya dicirikan dengan jarak antar pohon yang agak berjauhan dan jarang merupakan
suatu lapisan kanopi yang bersambung. Tingkatan B merupakan tumbuhan dengan
ketinggian antara 15 - 30 m. Kanopi pada tingkatan ini merupakan tajuk-tajuk pohon yang
bersifat kontinu (bersambung) dan membentuk sebuah massa yang dapat disebut sebagai
sebuah atap (kanopi). Sedangkan tingkatan C merupakan tumbuhan dengan ketinggian
antara 5 - 15 m. Tingkatan ini dicirikan dengan bentuk pohon yang kecil dan langsing, serta
memiliki tajuk yang sempit meruncing. Tingkatan-tingkatan kanopi hutan hujan tropis
sebenarnya sukar sekali dtentukan secara pasti. Hal ini disebabkan oleh ketinggian pohon
yang tidak seragam seperti telah disebutkan dalam pembagian tingkatan di atas. Pengamatan
tingkatan kanopi di atas hanyalah bersifat kausal saja.
Terna
Pada bagian hutan yang kanopinya tidak begitu rapat, memungkinkan sinar matahari dapat
tembus hingga ke lantai hutan. Pada bagian ini banyak tumbuh dan berkembang vegetasi
tanah yang berwarna hijau yang tidak bergantung pada bantuan dari luar. Tumbuhan yang
demikian hidup adalah iklim yang lembab dan cenderung bersifat terna seperti paku-pakuan
dan paku lumut (Selagenella spp) dengan bagian dindingnya sebagian besar terdiri dari
tumbuhan berkayu. Terna dapat membentuk lapisan tersendiri, yaitu lapisan semak-semak
(D), terdiri dari tumbuhan berkayu agak tinggi. Lapisan kedua yaitu semai-semai pohon (E)
yang dapat mencapai ketinggian 2 m.
Lapisan semak-semak sering mencakup beberapa terna besar seperti Scitamineae (pisang,
jahe, dll.) yang tingginya dapat melebihi 5 m. Meskipun kondisi iklim mikronya panas dan
lembab, namun perkembangan terna dalam wilayah hutan hujan tropis kurang baik. Hal ini
disebabkan kurangnya pencahayaan matahari untuk membantu proses fotosintesisnya.
Persebaran terna yang baik terdapat pada wilayah terbuka dengan air yang cukup melimpah
atau pada tebing-tebing terjal, dimana sinar matahari leluasa mencapai lantai hutan.
Tumbuhan Pemanjat
Tumbuhan ini bergantung dan menunjang pada tumbuhan utama dan memberikan hiasan
utama pada hutan hujan tropis. Tumbuhan pemanjat ini lebih dikenal dengan sebutan Liana.
Tumbuhan ini dapat tumbuh baik, besar dan banyak, sehingga mampu memberikan salah
satu sifat yang paling mengesankan dari hutan hujan tropis. Tumbuhan ini dapat berbentuk
tipis seperti kawat atau berbentuk besar sebesar paha orang dewasa. Tumbuhan ini seperti
menghilang di dalam kerimbunan dedaunan atau bergantungan dalam bentuk simpul-simpul
tali raksasa. Sering pula tumbuhan ini tumbuh di percabangan pohon-pohon besar. Beberapa
diantaranya dapat mencapai panjang sampai 200 m.
Epifita
Tumbuhan ini tumbuh melekat pada batang, cabang atau pada daun-daun pohon, semak, dan
liana. Tumbuhan ini hidup diakibatkan oleh kebutuhan akan cahaya matahari yang cukup
tinggi. Beberapa dari tipe ini hidup di atas tanah pada pohon- pohon yang telah mati.
Tumbuhan ini pada umumnya tidak menimbulkan pengaruh buruk terhadap inang yang
menunjangnya. Tumbuhan ini pun hanya memainkan peran yang kurang berarti dalam
ekonomi hutan. Namun demikian, epfita memainkan peranan penting dalam ekosistem
sebagai habitat bagi hewan. Epifit pun memainkan peranan penting dan sangat menarik
untuk menunjukkan adaptasi struktural terhadap habitatnya. Jumlah jenisnya lebih beraneka
ragam, biasanya melibatkan kekayaan jenis-jenis tumbuhan spora, baik dari golongan yang
rendah maupun paku-pakuan dan tumbuhan berbunga termasuk diantaranya semak-semak.
Kehadiran epifit dalam ukuran yang luas lagi digunakan untuk membedakan antara hutan
hujan tropis dengan komunitas hutan di daerah iklim sedang.
Pencekik Pohon
Tumbuhan pencekik memulai kehidupannya sebagai epifita, tetapi kemudian akar-akarnya
menancap ke tanah dan tidak menggantung lagi pada inangnya. Tumbuhan ini sering
membunuh pohon yang semula membantu menjadi inangnya. Tumbuhan pencekik yang
paling banyak dikenal dan melimpah jumlahnya, baik dari segi jenis ataupun populasinya,
adalah Fircus spp. Yang memainkan peranan penting baik dalam ekonomi maupun
fisiognomi hutan hujan tropis. Biji-biji dari tumbuhan pencekik ini berkecambah diantara
dahan-dahan pohon besar yang tinggi atau semak yang merupakan inangnya. Pada stadium
ini tumbuhan pencekik masih berupa epifit, namun akar-akarnya bercabang-cabang dan
menujam ke bawah melalui batang- batang inangnya hingga mencapai tanah. Kemudian
batang-batang pohon itu tertutup dan terjalin oleh akar-akar tumbuhan pencekik dengan
sangat kuat. Setelah beberapa waktu tertentu inang pohon pun akan mati dan membusuk
meninggalkan pencekiknya. Sementara itu tajuk tumbuhan pencekik menjadi besar dan
lebat.
Saprofita
Tipe tumbuhan ini mendapatkan zat haranya dari bahan organik yang telah mati bersama-
sama dengan parasit-parasit. Tumbuhan ini merupakan komponen heterotrof yang tidak
berwarna hijau di hutan hujan tropis. Jenis tumbuhan ini terdiri atas cendawan atau jamur
(fungi) dan bakteri. Tumbuhan ini dapat membantu terjadinya penguraian organik, terutama
yang hidup di dekat permukaan lantai hutan. Namun beberapa jenis anggrek tertentu, suku
Burmanniaceae dan Gentianaceae, jenis-jenis Triuridaceae dan Balanophoraceae yang
sedikit mengandung klorofil dapat hidup dengan cara saprofit yang sama. Tumbuhan ini
banyak ditemukan pada lantai hutan yang memiliki rontokkan daun-daun yang cukup tebal
dan terjadi pembusukkan yang nyata. Tumpukan dedaunan tersebut dapat dijumpai pada
rongga-rongga atau sudut-sudut diantara akar-akar banir pohon-pohon.
Parasit
Jenis tumbuhan ini biasanya mengambil unsur hara dari pohon inangnya untuk
kelangsungan hidupnya. Tumbuhan ini hidupnya hanya untuk merugikan tumbuhan
inangnya. Tumbuhan ini dapat berupa cendawan dan bakteria yang digolongkan dalam 2
sinusia penting. Pertama adalah parasit akar yang tumbuh di atas tanah dan yang kedua
adalah setengah parasit (hemiparasit) yang tumbuh seperti epifita di atas pohon. Parasit akar
jumlahnya sangat sedikit dan tidak seberapa penting artinya, namun bila dikaji secara
mendalam akan sangat menarik sekali. Hemiparasit yang bersifat seperti epifit jenisnya
sangat banyak sekali dan jumlahnyanya pun melimpah ruah serta banyak dijumpai di
seluruh hutan hujan tropis. Kebanyakan hemiparasit adalah dari suku benalu
(Loranthaceae).
Komponen penyusun hutan hujan selain tumbuhan:
Hewan
Hutan hujan menyediakan makanan untuk hewan, sehingga hutan hujan tropis di jadikan
rumah bagi berbagai jenis hewan di antarnya mamalia, reptile, burung, amphibi, serangga
dan ikan yang hidup di perairan hutan hujan tropis. Perairan hutan hujan tropis termasuk
sungai, anak sungai, danau dan rawa-rawa adalah rumah bagi mayoritas spesies ikan air
tawar. Lembah sungai Amazon sendiri memiliki 3000 spesies yang diketahui dan
kemungkinan spesies yang tidak teridentifikasi dalam jumlah yang sama. Banyak ikan tropis
yang dipelihara di akuarium air tawar berasal dari hutan hujan. Ikan seperti Angelfish, Neon
Tetras, Discus, dan lele pemakan ganggang berasal dari hutan hujan tropis di Amerika
Selatan, sedangkan Danios, Gurameh, Siamese Fighting Fish (atau Betta), dan Clown Loach
berasal dari Asia. Kebanyakan dari hewan yang ditemukan di hutan hujan adalah serangga.
Sekitar seperempat dari seluruh spesies hewan yang telah diberi nama dan dideskripsikan
oleh ilmuwan adalah kumbang. Hampir 500.000 jenis kumbang diketahui ada. Karena
pohon-pohon yang terdapat di hutan tropis rata-rata tinggi dan permukaan tanahnya relatif
sering tergenang oleh air, maka hewan yang banyak hidup di daerah hutan basah ini adalah
hewan-hewan pemanjat sejenis primata, seperti; gorilla, monyet, simpanse, siamang dan
primata lainnya.
Manusia Hutan Hujan
Hutan hujan tropis merupakan rumah bagi manusia pedalaman yang bergantung pada sekitar
mereka untuk makanan, tempat berlindung, dan obat-obatan. Saat ini hanya sedikit manusia
hutan yang hidup dengan cara tradisional; kebanyakan telah digantikan dengan para penetap
dari luar atau telah dipaksa oleh pemerintah untuk menyerahkan gaya hidup mereka. Dari
sisa-sisa manusia hutan yang ada, Amazon memiliki jumlah populasi yang terbesar, walau
orang-orang tersebut juga telah dipengaruhi oleh dunia modern. Sementara mereka masih
menggunakan hutan sebagai tempat untuk berburu dan mengumpulkan makanan,
kebanyakan Ameridian, panggilan yang biasa ditujukan pada mereka, menanam hasil bumi
(seperti pisang, manioc, dan beras), menggunakan barang-barang dari Barat (seperti panci,
penggorengan dan perkakas metal) dan melakukan kunjungan reguler ke kota-kota untuk
membawa makanan dan barang ke pasar. Walau begitu, manusia-manusia hutan ini dapat
mengajarkan banyak tentang hutan hujan pada kita. Pengetahuan mereka tentang tanaman-
tanaman obat yang digunakan untuk merawat orang sakit tidak ada tandingannya dan
mereka memiliki pemahaman yang luar biasa mengenai ekologi dari hutan hujan Amazon.
Di Afrika terdapat penghuni hutan asli yang kadang dikenal dengan nama pygmies. Ukuran
tertinggi dari orang-orang ini, juga dikenal sebagai Mbuti, jarang yang tingginya lebih dari 5
kaki. Ukuran mereka yang kecil membuat mereka dapat bergerak di dalam hutan dengan
lebih efisien bila dibandingkan dengan orang yang lebih tinggi.
Produktivitas merupakan parameter ekologi yang sangat penting. Produktivitas
ekosistem adalah suatu indeks yang mengintegrasikan pengaruh kumulatif dari banyak
proses dan interaksi yang berlangsung simultan di dalam ekosistem. Jika produktivitas pada
suatu ekosistem hanya berubah sedikit dalam jangka waktu yang lama maka hal ini
menandakan kondisi lingkungan yang stabil, tetapi jika terjadi perubahan yang dramatis,
maka menunjukkan telah terjadi perubahan lingkungan yang nyata atau terjadi perubahan
yang penting dalam interaksi di antara organisme-organisme yang menyusun ekosistem.
Produktivitas khususnya di wilayah tropis dipengaruhi oleh beberapa faktor, antara
lain adalah:
Suhu dan cahaya matahari
Wilayah hutan hujan tropis menerima lebih banyak sinar matahari tahunan yang tersedia
bagi fotosintesis dibanding dengan wilayah iklim sedang. Hal ini disebabkan oleh 3 faktor :
(1) Kemiringan poros bumi menyebabkan wilayah tropika menerima lebih banyak sinar
matahari dibanding pada atmosfer luarnya dibanding dengan wilayah iklim sedang. (2)
Lewatnya sinar matahari pada atmosfer yang lebih tipis (karena sudut yang lebih tegak lurus
di daerah tropika), mengurangi jumlah sinaran yang diserap oleh atmosfer. Di wilayah hutan
hujan tropis, 56% sampai dengan 59 % sinar matahari pada batas atmosfer dapat sampai di
permukaan tanah. (3) Masa tumbuh, yang terbatas oleh keadaan suhu adalah lebih panjang
di daerah hutan hujan tropis (kecuali di tempat-tempat yang sangat tinggi)
Suhu yang tinggi dan konstan hampir sepanjang tahun dapat bermakna musim tumbuh bagi
tumbuh-tumbuhan akan berlangsung lama, yang pada gilirannya akan meningkatkan
produktivitas tumbuhan.
Curah Hujan
Di daerah hutan hujan tropis jumlah curah hujan per tahun berkisar antara 1600 sampai
dengan 4000 mm dengan sebaran bulan basah 9,5 - 12 bulan basah. Kondisi ini menjadikan
wilayah ini memiliki curah hujan yang merata hampir sepanjang tahun yang akan sangat
mendukung produktivitas. Walaupun memberi dampak positif bagi produktivitas vegetasi
menurut Resosoedarmo et al., (1986) curah hujan yang tinggi akan menyebabkan tanah-
tanah yang tidak tertutupi oleh vegetasi rentan sekali terhadap pencucian yang akan
mengurangi kesuburan tanah dengan cepat. Barbour et al, (1987) mengatakan bahwa
sebagai salah satu faktor siklus hara dalam sistem, pencucian adalah penyebab utama
hilangnya hara dari suatu ekosistem. Hara yang mudah sekali tercuci terutama adalah Ca
dan K.
Interaksi Antara Suhu dan Curah Hujan
Interaksi antara suhu yang tinggi dan curah hujan yang banyak yang berlangsung sepanjang
tahun menghasilkan kondisi kelembapan yang sangat ideal bagi vegetasi hutan hujan tropis
untuk meningkatkan produktivitas. Warsito (1999) menjelaskan bahwa kelembapan
atmosfer merupakan fungsi dari lamanya hari hujan, terdapatnya air yang tergenang, dan
suhu. Sumber utama air dalam atmosfer adalah hasil dari penguapan dari sungai, air laut,
dan genangan air tanah lainnya serta transpirasi dari tumbuhan. Menurut Jordan (1995)
tingginya kelembapan pada gilirannya akan meningkatkan laju aktivitas mikroorganisme.
Selain itu, proses lain yang sangat dipengaruhi oleh proses ini adalah pelapukan tanah yang
berlangsung cepat. Pelapukan terjadi ketika hidrogen dalam larutan tanah bereaksi dengan
mineral-mineral dalam tanah atau lapisan batuan, yang mengakibatkan terlepas unsur-unsur
hara . Hara-hara ini ada yang dapat dengan segera diserap oleh tumbuhan
Produktivitas Serasah
Produktivitas serasah di hutan hujan tropis adalah juga yang tertinggi di banding dengan
wilayah-wilayah lain sebagaimana yang terlihat pada Table 2. Oleh karena produktivitas
serasah yang tinggi maka akan memberikan keuntungan bagi vegetasi untuk meningkatkan
produktivitas karena tersedianya sumber hara yang banyak.
Tanah.
Tanah adalah faktor di daerah tropis yang tidak mendukung tingginya
produktivitas yang tinggi. Tanah di hutan hujan tropis adalah tanah yang berumur
sangat tua, kecuali tanah vulkanik. Periode Pleistocene tidak berpengaruh sama
sekali pada tanah disini, dan kemungkinan besar tanah disini berasal dari periode Tertiary.
Herbivora
Herbivora adalah faktor biotik yang mempengaruhi produktivitas vegetasi.
Sekitar 10 % dari produktivitas vegetasi darat dunia dikonsumsi oleh herbivora
biofag. Persentase ini bervariasi menurut tipe ekosistem darat (Barbour at al.,
1987). Oleh karena produktivitas yang tinggi, maka dapat di antisipasi adanya
potensi yang tinggi untuk terjadi serangan insekta. Namun, sedikit bukti yang ada sekurang-
kurangnya di hutan yang tumbuh secara alami, adanya serangan insekta
pada areal berskala luas. Banyak pohon mengembangkan alat
pelindung terhadap herbivora melalui produksi bahan kimia tertentu yang jika
dikonsumsi oleh herbivora memberi efek yang kurang baik bagi herbivora.

Sumber:
Ardiananda. 2008. Forest Ecology. Gadjah Mada: Jogjakarta.

Patandianan, A. T. 1996. Studi Komposisi dan Struktur Vegetasi Areal HPH PT. Bina
Wana Sejahtera, Propinsi Sulawesi Utara. Tesis. PPS Univ. Gadjah Mada, Jogjakarta.

Zaenuddin. 2008. Pengantar Ekolologi. Penerbit Remadja Karya CV, Bandung

http://ahmad-zaenudin.blogspot.com/2008/03/hutan-hujan-tropis-di-
indonesia-usaha.html
http://geocorida.blogspot.com/2008/01/hutan-hujan-tropis.html


2. Hutan Musim
Ekosistem hutan musim merupakan ekosistem hutan campuran yang berada di daerah
beriklim muson (monsoon), yaitu daerah dengan perbedaan antara musim kering dan basah
yang jelas. Tipe ekosistem hutan musim terdapat pada daerah-daerah yang memiliki tipe
iklim C dan D (tipe iklim menurut klasifikasi Schmidt dan Ferguson) dengan rata-rata curah
hujan 1.000-2.000 mm per tahun dengan rata-rata suhu bulanan sebesar 21-32C.
Penyebaran lokasi ekosistem hutan musim meliputi wilayah negara-negara yang
beriklim musim (monsoon), misalnya di India, Myanmar, Indonesia, Afrika Timur dan
Australia Utara. Di Indonesia, tipe ekosistem hutan musim berada di Jawa (terutama di Jawa
Tengah dan Jawa Timur), di kepulauan Nusa Tenggara, Maluku dan Irian.
Vegetasi yang berada dalam ekosistem hutan musim didominasi oleh spesies-spesies
pohon yang menggugurkan daun di musim kering, sehingga tipe ekosistem musim disebut
juga hutan gugur daun atau deciduous forest. Pada ekosistem hutan ini umumnya hanya
memiliki satu lapisan tajuk atau satu stratum dengan tajuk-tajuk pohon yang tidak saling
tumpang-tindih, sehingga masih banyak sinar matahari yang bisa masuk hutan sampai ke
lantai hutan, apalagi pada saat sedang gugur daun. Hal ini memungkinkan tumbuh dan
berkembangnya berbagai spesies semak dan herba yang menutup lantai hutan secara rapat,
sehingga menyulitkan bagi orang untuk masuk ke dalam hutan.
Pada musim kering, mayoritas pepohonan di hutan musim menggugurkan semua
daunnya, tetapi lamanya daun gugur bergantung kepada persediaan air dalam tanah, dan hal
demikian itu dapat berbeda-beda antar tempat dalam hutan yang sama. Sebagai contoh
untuk tempat-tempat yang ada di pinggir sungai yang selalu ada cukup air, menyebabkan
daun-daun pohon gugur secara bergantian, bahkan di sini tidak setiap spesies pohon
menggugurkan semua daunnya. Pada akhir musim kering, banyak dijumpai pohon yang
mulai berbunga. Transpirasi melalui bunga sangat kecil, sehingga tidak mengganggu
keseimbangan air dalam tubuh tumbuhan. Kemudian setelah masuk musim hujan,
pepohonan mampu memproduksi daun baru, buah dan biji, sepanjang air tanah cepat
tersedia bagi tumbuhan.
Bunga yang dihasilkan oleh pepohonan di hutan musim sering berukuran besar dan
memiliki warna yang terang dan berbeda jika dibandingkan dengan bunga yang dihasilkan
oleh pepohonan di hutan hujan tropis (pohon yang selalu hijau = evergreen). Bunga pohon
di hutan musim umumnya kelihatan pada bagian luar tajuk, sehingga sangat mudah dilihat
oleh binatang atau serangga-serangga penyerbuk.
Spesies pepohonan yang ada pada ekosistem hutan musim antara lain Tectona
grandis, Dalbergia latifolia, Acacia leucophloea, Schleieera oleosa, Eucalyptus alba,
Santalum album, Albizzia chinensis, Timonius cerysus, dll.
Menurut ketinggian tempat dari permukaan laut, hutan musim dibedakan menjadi dua
zona atau wilayah sebagai berikut
Zona 1 dinamakan hutan musim bawah karena terletak pada daerah dengan ketinggian
tempat 0 - 1.000 m dpl.
Spesies-spesies pohon yang merupakan ciri khas tipe ekosistem hutan musim bawah di
daerah Jawa antara lain Tectona grandis, Acacia leucophloea, Aetinophora fragrans,
Albizzia chinensis, Azadirachta indica, dan Caesalpinia digyna. Di kepulauan Nusa
Tenggara dijumpai spesies-spesies pohon yang menjadi ciri khas hutan musim, yaitu
Eucalyptus alba dan Santalum album, sedangkan spesies pohon khas hutan musim di
Maluku dan Irian antara lain Melaleuca leucadendron, Eucalyptus spp., Corypha utan,
Timonius cerycus, dan Banksia dentata.
Zona 2 dinamakan hutan musim tengah dan atas karena terletak pada daerah dengan
ketinggian tempat 1.000 - 4.100 m dpl.
Spesies pohon yang merupakan ciri khas ekosistem hutan musim tengah dan alas adalah
sebagai berikut. Di Jawa Tengah dan Jawa Timur terdapat pohon Casuarina
junghuhniana sebagai spesies pohon dominan dan khas untuk tipe ekosistem hutan
musim tengah dan atas. Hutan musim tengah dan atas di daerah Indonesia Timur
mengandung spesies pohon khas untuk ekosistem tersebut, yaitu Eucalyptus spp.
Adapun spesies pohon khas untuk hutan musim tengah dan alas di daerah Sumatra yaitu
Pinus merkusii.

Sumber:
Soerianegara, I dan Indrawan, A. 1988. Ekologi Hutan Indonesia. Laboratorium Ekologi.
Fakultas Kehutanan. Institut Pertanian Bogor, Bogor.

Kusmana & Istomo, 1995. Ekologi Hutan : Fakultas Kehutanan. Institut Pertanian Bogor,
Bogor.

Indriyanto, 2006. Ekologi Hutan. PT. Bumi Aksara. Jakarta.

Richard & Steven, 1988. Forest Ecosystem : Academic Press. San Diego. California.

Arief, A. 1994, Hutan Hakekat dan Pengaruhnya Terhadap Lingkungan. Yayasan Obor
Indonesia Jakarta.


3. Savana
Sabana, merupakan padang rumput yang diselingi oleh pepohonan baik besar maupun
kecil (semak). Jenis rumputnya merupakan rumput-rumput yang tinggi. Sabana antara lain
terdapat di Australia, Brasilia, Venezuela, dan Indonesia (di Aceh disebut Blang dan Nusa
tenggara). Sabana biasanya merupakan daerah peralihan antara hutan dan padang rumput.
Smith dan Smith (2000) menyatakan bahwa savana, (Spanyol = cavennna), mula-mula
dipakai untuk menyebutkan daerah padang penggembalaan tropik akan tetapi belakangan ini
savana dipahami juga sebagai hutan dan padang belukar. Ramade (1996) dan Shrivastava
(1997) menyatakan bahwa savana adalah padang rumput tropika sedangkan Humpherys
(1991) menyatakan bahwa savana adalah salah satu bentuk hutan musim meranggas tropika.
Istilah savana pertama kali dipakai orang untuk menamakan suatu bentuk lanskap
yang digunakan sebagai padang penggembalaan secara kontinyu, penutupan tanah yang
rapat dengan atau tanpa kehadiran pohon yang jika ada akan membentuk asosiasi yang
menyebar (Jones et al., 1987). Deshmukh (1992) menyebutkan bahwa savana adalah
ekosistem yang pada strata rendah ditumbuhi oleh tumbuhan herbaceous terutama rumput
C4 dan secara nyata rumput-rumputan ini membentuk asosiasi bersama dengan komponen
pohon dan semak belukar. Menurut Deshmukh, savana secara tradisional digunakan sebagai
kawasan perladangan, padang penggembalaan dan hutan.
McNaughton dan Wolf (1990) dengan menggunakan pendekatan panen biomassa
mengemukakan pendapat bahwa savana adalah komunitas tumbuhan yang bersekala
regional dan merupakan suatu komunitas antara. Struktur ekosistemnya tersusun atas pohon-
pohon yang menyebar dengan kanopi yang terbuka sehingga memungkinkan rumput untuk
tumbuh di lantai komunitas. Jika populasi pohon mendominasi maka savana demikian
disebut sebagai hutan savana. Sebaliknya jika kehadiran pohon tidak signifikan maka savana
demikian adalah savana padang rumput (treeless savana).
Pakar silvikultur, Daniel et al. (1995), mengkategorikan savana sebagai hutan. Penulis
ini memberi penjelasan yang sangat komprehensif tentang bentuk dan proses terjadinya
savana sebagai berikut. Musim kemarau yang panjang dan kering memberikan pengaruh
yang nyata terhadap terbentuknya hutan musim atau hutan monsoon. Ciri hutan ini, antara
lain, hampir semua jenis pohon menggugurkan daun pada musim kemarau, pohonnya tidak
begitu tinggi dan banyak cahaya yang menembus ke lantai. Bila mana curah hujan benar-
benar sangat musiman dengan musim kemarau sangat berangin, dan barangkali faktor-faktor
lain juga berpengaruh (masalah yang sangat kontroversial), maka hutan musim akan
berkembang menjadi savana karena bertambahnya kekeringan.
.Guna memahami fenomena tersebut maka perlu diperkenalkan dua buah istilah dalam
dunia ekologi tanaman, yaitu suksesi vegetasi dan klimaks vegetasi. Peristiwa pergantian
komunitas vegetasi dari suatu aras (stage) ke aras berikutnya yang lebih kompleks. Sebagai
contoh, ketika pada tahun 1883 saat Gunung Krakatau meletus, maka daratan pulau
Krakatau bersih sama sekali dari tumbuhan. Dua tahun setelah letusan maka tumbuhan
pertama adalah ganggang biiru dan hijau di dekat pantai pulau. Lima tahun kemudian,
komunitas tumbuhan paku-pakuan mendominasi. Sepuluh tahun kemudian, komunitas
rumput tumbuh dan membentuk padang rumput. Dua puluh lima tahun setelah meletus,
padang rumput mulai bercampur dengan semak belukar. Pohon Ficus macaranga tumbuh
berpencaran di padang rumput belukar tersebut. Lantas, 40 - 50 tahun kemudian asosiasi
pohon mulai membantuk hutan. Akhirnya, seratus tahun kemudian, pual Krakatau telah
didominasi oleh hutan hujan tropis. Nah, pergantian dari satu status komunitas ke komunitas
lainnya disebut sebagai suksesi. Ketika 100 tahun kemudian, ketika hutan telah
mendominasi P. Krakatau maka kondisi ini disebut sebagai klimaks vegetasi. Apa yang
menentukan klimaks vegetasi.
Ada beberapa hal tetapi yang terpenting adalah curah hujan. Jika curah hujan rata-rata
tahunan suatu daerah tinggi (3000 - 4000 mm/tahun atau lebih besar) maka klimaks vegetasi
akan menuju hutan. Namun demikian, klimaks bisa tertahan. Karena faktor alami dan
antropogenik (perbuatan manusia). Klimaks harusnya hutan tetapi karena pohon-pohon
sering ditebas maka yang terbentuk padang rumput. Dalam keadaan demikian maka klimaks
yang terbentuk disebut sebagai klimaks tertahan (sub-klimaks).
Jones et al., 1987; Ewusie, 1990; Desmukh, 1992 menganggap bahwa savana adalah
klimaks yang sejalan dengan degradasi hujan Sedangkan beberapa pakar lain seperti
Shrivastava (1997) menganggap bahwa savana merupakan klimaks karena faktor biotik,
terutama api dan penggembalaan. Dengan menggunakan teori struktur vegetasi atau disebut
juga spektrum vegetasi, Bourliere dan Hadley (Lal, 1987), mengemukakan pendapat tentang
savana dan proses pembentukannya secara komprehensif. Dinyatakan bahwa struktur savana
selalu ditandai oleh 1) Strata rumput yang jelas dan merata yang diinterupsi pohon dan
semak; 2) Kehadiran api dan hewan perumput; 3) Pola pertumbuhan komponen biotik
ditentukan oleh pergantian di antara musim basah dan musim kering.

Sumber:
http://sabanageografi.blogspot.com/


4. Padang Rumput
Padang rumput adalah dataran tanpa pohon (kecuali yang berada di dekat sungai atau danau)
yang umumnya ditumbuhi rumput pendek. Padang rumput menjadi istilah di kehutanan yang tidak
asing meski terdapat berbagai macam kata yang berkaitan dengan hutan. Padang rumput sendiri
terletak di daerah yang memiliki musim kering yang panjang dan musim penghujan yang pendek.
Hal ini dapat dilihat di kawasan Indonesia seperti Pulau Sumba, Nusa Tenggara Timur. Biasanya
padang rumput terletak di daerah yang memiliki ketinggian sekitar 900 4000 m dpl.
Padang rumput ini terjadi secara alami disebabkan adanya cuaca yang mempengaruhi
rendahnya curah hujan. Curah hujan yang rendah mengakibatkan tumbuhan kesulitan untuk
menyerap air, sehingga tumbuhan yang dapat bertahan ialah rumput. Seperti diketahui bahwa
rumput dapat hidup dan beradaptasi dalam keadaan tanah yang kering. Oleh karena itu, tumbuhan
rumput lebih banyak tumbuh dibandingkan dengan tumbuhan yang lain. Padang rumput
membentang mulai dari daerah tropis sampai dengan daerah beriklim sedang, seperti Hongaria,
Rusia Selatan, Asia Tengah, Amerika Selatan, Australia.
Padang rumput terdiri atas steppa dan prairi. Steppa merupakan suatu wilayah yang ditumbuhi
rumput-rumputan pendek. Istilah steppa digunakan untuk menyebutkan padang rumput di Eurasia.
Adapun padang rumput tinggi di Amerika Utara dinamakan prairi yang didominasi oleh jenis padang
rumput Indian Grasses. Di Argentina disebut pampa dan di Hongaria disebut puszta.

Ciri-ciri padang rumput
Curah hujan antara 25 - 50 cm/tahun, di beberapa daerah padang rumput curah hujannya dapat
mencapai 100 cm/tahun.
Curah hujan yang relatif rendah turun secara tidak teratur.
Turunnya hujan yang tidak teratur tersebut menyebabkan porositas dan drainase kurang baik
sehingga tumbuh-tumbuhan sukar mengambil air.
Daerah padang rumput yang relatif basah, seperti di Amerika Utara, rumputnya mencapai 3 m,
misalnya: rumput-rumput bluestem dan India Grasses.
Beberapa jenis rumput mempunyai ketinggian hingga 3,5 m
Memiliki pohon yang khas, yaitu akasia
Tanah pada umumnya tidak mampu menyimpan air yang disebabkan oleh rendahnya tingkat
porositas tanah dan sistem penyaluran yang kurang baik sehingga menyebabkan rumput-rumput
tumbuh dengan subur.
Daerah padang rumput terbentang dari daerah tropika sampai ke daerah subtropika

Lingkungan biotik:
Flora: tumbuhan yang mampu beradaptasi dengan daerah dengan porositas dan drainase kurang
baik adalah rumput, meskipun ada pula tumbuhan lain yang hidup selain rumput, tetapi karena
mereka merupakan vegetasi yang dominan maka disebut padang rumput. Nama padang rumput
bermacam-macam seperti stepa di Rusia Selatan, puzta di Hongaria, prairi di Amerika Utara dan
pampa di Argentina.
Fauna: bison dan kuda liar (mustang) di Amerika, gajah dan jerapah di Afrika, domba dan
kanguru diAustralia. Karnivora: singa, srigala, anjing liar, cheetah.

Terbentuknya padang rumput secara alami lebih banyak disebabkan cuaca tepatnya oleh
rendahnya tingkat curah hujan, yakni hanya sekitar 30 mm/ tahun. Curah hujan yang rendah
menyulitkan tumbuhan untuk menyerap air. Akibatnya, hanya jenis tumbuhan rumput yang dapat
bertahan hidup dan beradaptasi dengan lingkungan alam yang kering. Awal terbentuknya ekosistem
ini adalah dari kondisi lingkungan yang mendukung pertumbuhan tanaman/rumput secara luas.
Rumput yang melimpah ini akhirnya menarik hewan-hewan pemakan rumput dan kelompok hewan
ini pun tinggal di sana. Banyaknya hewan herbivora ini lalu menarik hewan pemangsa (karnivora)
untuk ikut datang dan menyerang hewan-hewan pemakan rumput tersebut. Rantai makanan ini terus
berputar sehingga terbentuklah ekosistem padang rumput.
Oleh karena porosita (wilayah terbuka) dan drainase (sistem perairan) yang cenderung tidak
teratur, maka tanaman yang tumbuh di wilayah padang rumput juga terbatas. Tumbuhan yang masuk
ke dalam ekosistem padang rumput ini didominasi rerumputan yang pendek antara lain grama,
buffalo grasees dan masih banyak lagi lainnya.

Sumber:
http://kajianpengetahuan.blogspot.com/2014/02/mengenai-padang-rumput.html