Anda di halaman 1dari 13

BAB II

KASUS
A. IDENTITAS
Nama : Tn. AB
Umur : 72 tahun
Alamat : Babakan Nagrok Kab. Cianjur
Pekerjaan : Pensiunan PN
Suku : Sunda
Agama : Islam
Status : Menikah
Masuk RS : 18 Februari 2014
No RM : Ruang Manggis kelas 2
B. ANAMNESIS
Keluhan Utama
Sesak napas sejak 1 bulan SMRS

Riwayat Penyakit Sekarang
1 bulan sebelum masuk rumah sakit pasien mengeluh sesak napas. Sesak napas
dirasakan hilang timbul, sesak semakin lama semakin memberat terutama saat
melakukan aktifitas. Saat tidur pasien juga merasa sesak pasien merasa sesak sedikit
berkurang saat tidur menghadap ke arah kiri.
Pasien juga mengeluh batuk, batuk tidak berdahak, darah (-), nyeri dda (-). Mual (-),
muntah (-), nyeri kepala (-), BAB (-) 3 hari, BAK (+) Normal.
Riwayat Penyakit Dahulu
Riwayat pengobatan TB paru (+), bulan ke-5
Riwayat darah tinggi disangkal
Riwayat gula darah disangkal
Riwayat sakit maag disangkal
Riwayat asma disangkal

Riwayat Penyakit keluarga


Riw. Penyakit DM disangkal
Riw.Penyakit Jantung dan Hipertensi disangkal
Riw. Asma Disangkal

Riwayat psikososial
Pasien tinggal bersama istri dan anak tertuanya. Kegiatan sehari-hari makan teratur,
tidak merokok lagi. Sudah berhenti 3 tahun yang lalu. Pasien tidak mengkonsumsi
alkohol.

Riwayat Pengobatan
Sudah berobat ke dokter dan diberi obat, os lupa nama obatnya. Ada perubahan
sementara kemudian muncul lagi keluhannya.
Riwayat Alergi
Alergi Makanan (-) dan Alergi Obat (-) disangkal

C. PEMERIKSAAN FISIK
KU : Sakit sedang
Kesadaran : Compos mentis
Tekanan darah : 130/90 mmHg
Nadi : 100x/menit
Pernapasan : 26 x/menit
Suhu : 36
0
C

Status generalis
Kepala : Normocephal
Mata : Konjungtiva anemi -/-
Sclera ikterik -/-
Reflex pupil +/+ , pupil bulat, isokor
Hidung :Deviasi septum nasi -/-
Secret -/-
Epistaksis -/-
Pernapasan cuping hidung (-)


Mulut : Sianosis (-)
Bibir kering (-)
Stomatitis (-)
Lidah kotor (-)
Telinga : normotia
Tidak ada serumen yang keluar, otitis (-)

Leher : Pembesaran KGB (-)
Pembesaran kelenjar tiroid (-)
Leher nyeri tekan (-)
JVP tidak meningkat
Thorax : Normochest, jaringan parut (-)
Pulmo : Inspeksi asimetris, dinding dada kanan lebih cembung
Palpasi vocal fremitus tidak sama kedua lapang paru
Perkusi sonor pada kedua lapang paru, batas paru
hepar setinggi ICS VI dextra
Auskultasi ronkhi -/-, vesicular +/+, wheezing -/-,
Cor : Inspeksi ictus cordis tidak terlihat
Palpasi ictus cordis tidak teraba
Perkusi batas jantung kanan pada ICS II linea
parasternalis dextra
batas jantung kiri atas pada ICS II linea
parasternalis sinistra
batas kiri bawah pada ICS V llinea midclavicularis
sinistra
Auskultasi BJ I dan II normal, reguler
gallop (-), murmur (-)
Abdomen Inspeksi datar , jaringan parut (-)
Auskultasi bising usus normal
Palpasi Nyeri tekan (+),
o Hepar tidak teraba , nyeri tekan (-)
o Lien tidak teraba, nyeri tekan (-)


Perkusi Timpani
Ekstremitas : akral hangat, edema -/- , CRT < 2 detik

D. PEMERIKSAAN PENUNJANG
Laboratorium
Lab tanggal 19/02/14
Hb 13.6
Ht 41.2
Eritrosit 4.36
Leukosit 7.2
Trombosit 324
MCV 94.6
MCH 31.2
MCHC 33.0
RDW-SD 49.6
PDW 16.1

Lab tanggal 11/02/14
Differential
LYM 7.3
MXD 8.1
NEU 83.7
EOS 0.5
BAS 0.4


Pemeriksaan Radiologi


Kesan : Efusi p;eura massif dextra
Cor sulit dinilai
Struktur tulang intact



Pemeriksaan Cairan pleura
Dilakukan Thorakosentesis pada tanggal 19/02-2014
Cairan Pleura sebanyak 2200 cc
Dengan waran cairan pleura merah kehitaman
Pada pemeriksaan bakteriologi ditemukan kista emoeba (+)

DAFTAR MASALAH :
Dyspne e.c efusi pleura massif dextra e.c TB paru
ASSESSMENT
S : Tn. AB, 72 tahun, keluhan sesak dirasakan 1 bulan SMRS, hilang timbul memberat saat
beraktifitas dan tidur terlentang , sesak berkurang saat tidur dengan posisi miring ke kiri.
Batuk (+), tidak produktif, darah(-), nyeri dada (-)
O : TD: 150/100 mmHg, RR : 26x/m, pada
Thorax pulmo I:asimetris, kanan cembung daripada kiri, pergerakan cepat
P: VP sama kedua lapang paru
P: redup pada bagian kanan bawah dada
A: Ves +/melemah, Rh-/-, Wh-/-.
hasil pemeriksaan radiologi Efusi pleura masif dextra
TATALAKSANA
Tatalaksana penyebab
Amoeba: Antibiotik metronidazol 3x1
Analgetik ketorolac 3x1
Torakosentesis 220 cc
Chest tube
Pleurodesis
TINJAUAN PUSTAKA
EFUSI PLEURA
Definisi


Adalah suatu keadaan patofisiologis penimbunan cairan didalam rongga pleura akibat
transudasi atau eksudasi yang berlebihan dari permukaan pleura.
Etiologi
Transudat Eksudat
CHF (90 % of cases)
Cirrosis with ascites
Nephrotic syndrome
Peritoneal dialysis
Myxedema
Atelectasia acute
Constrictive pericarditis
Superior vena cava obstruction
Pulmonary embolism

Pneumonia (pneumonic effusion)
Cancer
Pulmonary emblism
Bacterial infection
Tuberculosis
Connective tissue disease
Viral infection
Fungal infection
Rickettsial infection
Parasitic infection
Asbestos
Meigs Syndrome
Pancreatitis disease
Uremia
Hronic atelectasis
Trapped lung
Chylothorax
Sarcoidosis
Drug reaction
Post myocardial injury syndrome
Patofisiologi
Meningkatnya tekanan hidrostatik penurunan tekanan onkotik dari pleura (transudat)
Peningkatan produksi cairan akibatkan abnormalitas permebilitas kapiler (eksudat)
Penurunan bersihan sistem lymphatic di rongga pleura (eksudat)
Infeksi rongga pleura (empyema)
Perdarahan rongga pleura (hemothorax)
Parapneumonic cairan eksudat yang berhubungan dengan bakteri pneumonia

Diagnosis


Anamnesis
Sesak nafas jika efusi luas
Rasa berat pada dada
Batuk pada umumnya non produktif dan ringan, terutama apabila disertai dengan
proses tuberkulosis di parunya, Batuk berdarah pada karsinoma bronchus atau
metastasis
Demam subfebris pada TBC, dernarn menggigil pada empiema
Pemeriksaan Fisik
Redup pada perkusi dada
Suara napas menghilang atau melemah pada auskultasi
Atelektasis suara napas bronkial
Masif efusi pleura dengan peningkatan tekanan intrapleura dapat menyebabkan
pergeseran trakea dan bulging dinding dada
Pleural friction rub menunjukan adanya infark atau pleuritis
Laboratorium

Gambaran Radiologi
Ro. Thorax
Foto dada juga dapat menerangkan asal mula terjadinya efusi pleura yakni bila terdapat
jantung yang membesar, adanya masa tumor, adanya lesi tulang yang destruktif pada
keganasan, dan adanya densitas parenkim yang lebih keras pada pneumonia atau abses paru.


USG Dada
USG bisa membantu menentukan lokasi dari pengumpulan cairan. Jumlahnya sedikit dalam
rongga pleusa. Pemeriksaan ini sangat membantu sebagai penuntun waktu melakukan
aspirasi cairan dalam rongga pleura.
CT Scan Dada
CT scan dada dapat menunjukkan adanya perbedaan densitas cairan dengan jaringan
sekitarnya sehingga sangat memudahkan dalam menentukan adanya efusi pleura. Selain itu
juga bisa menunjukkan adanya pneumonia, abses paru atau tumor. Hanya saja pemeriksaan
ini tidak banyak dilakukan karena biayanya masih mahal

Pendekatan Diagnosis





Differential Diagnosis












Tatalaksana
1. Obati penyakit yang mendasarinya
a. Hemotoraks
Jika darah memasuki rongga pleura hempotoraks biasanya dikeluarkan
melalui sebuah selang. Melalui selang tersebut bisa juga dimasukkan obat
untuk membantu memecahkan bekuan darah (misalnya streptokinase dan
streptodornase). Jika perdarahan terus berlanjut atau jika darah tidak dapat
dikeluarkan melalui selang, maka perlu dilakukan tindakan pembedahan
b. Kilotoraks
Pengobatan untuk kilotoraks dilakukan untuk memperbaiki kerusakan
saluran getah bening. Bisa dilakukan pembedahan atau pemberian obat
antikanker untuk tumor yang menyumbat aliran getah bening.
c. Empiema
Pada empiema diberikan antibiotik dan dilakukan pengeluaran nanah.
Jika nanahnya sangat kental atau telah terkumpul di dalam bagian fibrosa,
maka pengaliran nanah lebih sulit dilakukan dan sebagian dari tulang rusuk
harus diangkat sehingga bisa dipasang selang yang lebih besar. Kadang perlu
dilakukan pembedahan untuk memotong lapisan terluar dari pleura
(dekortikasi).
d. Pleuritis TB.
Pengobatan dengan obat-obat antituberkulosis (Rimfapisin, INH,
Pirazinamid/Etambutol/Streptomisin) memakan waktu 6-12 bulan. Dosis dan
cara pemberian obat seperti pada pengobatan tuberkulosis paru. Pengobatan
ini menyebabkan cairan efusi dapat diserap kembalai, tapi untuk
menghilangkan eksudat ini dengan cepat dapat dilakukan torakosentesis.
Umumnya cairan diresolusi dengan sempurna, tapi kadang-kdang dapat
diberikan kortikosteroid secara sistematik (Prednison 1 mg/kgBB selama 2
minggu, kemudian dosis diturunkan).
(2)

2. Torakosentesis
keluarkan cairan seperlunya hingga sesak - berkurang (lega); jangan lebih 1-
1,5 liter pada setiap kali aspirasi. Zangelbaum dan Pare menganjurkan jangan lebih
1.500 ml dengan waktu antara 20-30 menit. Torakosentesis ulang dapat dilakukan
pada hari berikutnya. Torakosentesis untuk tujuan diagnosis setiap waktu dapat


dikerjakan, sedangkan untuk tujuan terapeutik pada efusi pleura tuberkulosis
dilakukan atas beberapa indikasi.
a. Adanya keluhan subjektif yang berat misalnya nyeri dada, perasaan tertekan
pada dada.
b. Cairan sudah mencapai sela iga ke-2 atau lebih, sehingga akan mendorong dan
menekan jantung dan alat mediastinum lainnya, yang dapat menyebabkan
kematian secara tiba-tiba.
c. Suhu badan dan keluhan subjektif masih ada, walaupun sudah melewati masa
3 minggu. Dalam hal seperti ini biasanya cairan sudah berubah menjadi
pyotoraks.
d. Penyerapan cairan yang terlambat dan waktu sudah mendekati 6 minggu,
namun cairan masih tetap banyak.
3. Chest tube
jika efusi yang akan dikeluarkan jumlahnya banyak, lebih baik dipasang
selang dada (chest tube), sehingga cairan dapat dialirkan dengan lambat tapi
sempurna. Tidaklah bijaksana mengeluarkan lebih dari 500 ml cairan sekaligus.
Selang dapat diklem selama beberapa jam sebelum 500 ml lainnya dikeluarkan.
Drainase yang terlalu cepat akan menyebabkan distres pada pasien dan di samping itu
dapat timbul edema paru. 2
4. Pleurodesis
Pleurodesis dimaksudkan untuk menutup rongga pleura sehingga akan
mencegah penumpukan cairan pluera kembali. Hal ini dipertimbangkan untuk efusi
pleura yang rekuren seperti pada efusi karena keganasan Sebelum dilakukan
pleurodeSis cairan dikeluarkan terlebih dahulu melalui selang dada dan paru dalam
keadaan mengembang
Pleurodesis dilakukan dengan memakai bahan sklerosis yang dimasukkan ke dalam rongga
pleura. Efektifitas dari bahan ini tergantung pada kemampuan untuk menimbulkan fibrosis
dan obliterasi kapiler pleura. Bahan-bahan yang dapat dipergunakan untuk keperluan
pleurodesis ini yaitu : Bleomisin, Adriamisin, Siklofosfamid, ustard, Thiotepa, 5 Fluro urasil,
perak nitrat, talk, Corynebacterium parvum dan tetrasiklin Tetrasiklin merupakan salah satu
obat yang juga digunakan pada pleurodesis, harga murah dan mudah didapat dimana-mana.
Setelah tidak ada lagi cairan yang keluar masukkanlah tetrasiklin sebanyak 500 mg yang
sudah dilarutkan dalam 20-30 ml larutan garam fisiologis ke dalam rongga pleura,


selanjutnya diikuti segera dengan 10 ml larutan garam fisiologis untuk pencucian selang dada
dan 10 ml lidokain 2% untuk mengurangi rasa sakit atau dengan memberikan golongan
narkotik 1,5-1 jam sebelum dilakukan pleurodesis. Kemudian kateter diklem selama 6 jam,
ada juga yang melakukan selama 30 menit dan selama itu posisi penderita diubah-ubah agar
tetrasiklin terdistribusi di seluruh rongga pleura. Bila dalam 24-48 jam cairan tidak keluar
lagi selang dada dicabut






























DAFTAR PUSTAKA

Papadakis, maxine A. 2013. Current Medical Diagnosis & Treatment: McGrawHill.
Longo, Dan L. 2013. Harrison Manual Of Medicine International Edition: 18
th

Edition: McGrawHill