Anda di halaman 1dari 37

1

DAFTAR ISI

Bab 1 Pendahuluan
1.1 Latar Belakang 2
1.2 Maksud, Tujuan, Sasaran 4
1.3 Ruang Lingkup Perencanaan 4
1.4 Sistematika Penulisan 5
Bab 2 Tinjauan Pustaka &
Gambaran Umum
2.1 RTRW Kabupaten Pasuruan 2009 2029 7
2.2 Gambaran Umum Wilayah 13

Bab 3 Metodologi Perencanaan
3.1 Konsep Pengembangan Desa-Kota 19
3.2 Metode Pendekatan 24
3.3 Metode Pengumpulan Data dan Analisa 25
3.4 Metode Perumusan Rencana 28
Bab 4Rencana Kerja
4.1 Tahapan Pelaksanaan Pekerjaan 29
4.2 Rencana Kerja 31

Bab 5 Struktur Organisasi
5.1 Organisasi Pelaksana Pekerjaan 32
5.2 Komposisi Tenaga Ahli 32
2

BAB 1
PENDAHULUAN
1.1 LATAR BELAKANG
Proses pertumbuhan dan suatu wilayah dipengaruhi oleh faktor faktor
yang berasal dari dalam (internal factors) ataupun dari luar (exsternal factors).
Kedua faktor tersebut saling terkait satu sama lain dan membentuk suatu sistem
yang secara langsung atau tidak langsung akan mempengaruhi perkembangan
suatu wilayah. Dalam kondisi ideal, pengaruh faktor-faktor internal dan eksternal
secara positif dapat bergerak menuju kecenderungan ke arah yang lebih baik.
Tetapi kenyataannya yang terjadi justru seringkali mengarah pada penurunan
efisiensi dan efektivitas struktur ruang dan bentuk kota dalam mendukung
kegiatan hidup masyarakatnya. Hal tersebut akan berdampak pada penurunan
keserasian struktur dan bentuk tata lingkungan wilayah, serta penurunan kualitas
lingkungan.
Kabupaten Pasuruan merupakan salah satu wilayah di provinsi Jawa
Timur yang dapat dikatakan memiliki keunggulan hampir di semua sektor
ekonomi mulai dari pertanian hingga industri. Sektor sektor tersebut telah
menjadi penopang dalam pengembangan ekonomi di kawasan ini. Akan tetapi,
pengembangan wilayah Pasuruan masih mengalami kesenjangan. Kesenjangan ini
bisa dilihat dari sisi geografis, di mana wilayah bagian barat cukup maju
perekonomiannya dibandingkan dengan wilayah timur Pasuruan (RPJPD Kab.
Pasuruan 2005-2025). Pusat pusat industri, perdagangan dan jasa sektor
sektor lain masih berpusat di bagian bvarat wilayah ini. Wilayah barat Pasuruan
dirasakan lebih banyak memberikan kontribusi dan Pendapatan Asli Daerah (PAD)
kepada Pemerintah (Yayasan Inovasi Pemerintah Daerah, 2008). Hal ini tidaklah
mengherankan menginga kondisi antara kedua wilayah sangatlah jauh berbeda.
Wilayah barat merupakan suatu daerah dengan kondisi alam yang sangat
mendukung adanya pembangunan di berbagai sektor. Selain lokasinya yang
strategis karena terletak di jalur utama perlintasan regional yang
menghubungkan dua kota di Jawa Timur yaitu Surabaya dan Malang, wilayah ini
juga memiliki sumber daya alam potensial untuk dikembangkan sebagai pusat
pariwisata, pertanian, dan sektor lainnya. Dengan kata lain, faktor faktor seperti
infrastruktur, aksesibilitas dan sumber daya alam kesemuanya itu telah tersedia
di wilayah ini. Hal inilah menjadi daya tarik utama bagi pihak pihak yang ingin
menanamkan modal di daerah tersebut.
Namun, kondisi ini sangatlah kontras dengan apa yang ditemui di wilayah
timur Pasuruan. Pasalnya, hingga saat ini pembangunan di wilayah Pasuruan
bagian timur jauh lebih tertinggal daripada bagian barat (Subkhi, 2011). Kawasan
ini masih belum berkembang sesuai dengan yang direncanakan. Pembangunan
L
a
t
a
r

B
e
l
a
k
a
n
g

3

daerah yang dilakukan selama ini tidak pernah dirasakan sehingga kehidupan
warga menjadi terhambat di dalam menjalankan aktivitas ekonominya. Secara
garis besar, sektor sektor yang menjadi basis perekonomiannya. Kawasan ini
masih belum berkembang sesuai dengan yang direncanakan. Pembangunan
daerah yang dilakukan selama ini tidak pernah dirasakan sehingga kehidupan
warga menjadi terhambat di dalam menjalankan aktivitas ekonominya. Secara
garis besar, sektor sektor yang menjadi basis perekonomian Kabupaten
Pasuruan masih belum mampu berkembang dan memberikan nilai tambah yang
signifikan dalam rangka pengembangan wilayah ini (Yudianto, 2011). Pola
pembangunan yang masih berat sebelah antara wilayah barat dan timur
menyebabkan ketimpangan yang jauh sehingga menjadikan masyarakat di
wilayah Pasuruan timur menjadi semakin terbelakang dalam proses
pembangunan.
Jika dilihat dari sudut pandang kesejahteraan masyarakat teutama pada
dimensi ekonomi,maka secara umum Kabupaten Pasuruan termasuk wilayah
dengan daya beli masyarakat yang tergolong lebih rendah bila dibandingkan
dengan Kota Pasuruan. Hal ini memperlihatkan bahwa kemampuan masyarakat
Kabupaten Pasuruan dalam mengkonsumsi barang/jasa masih cenderung rendah
meskipun banyak terdapat industri dan memiliki potensi yang besar di industri
dan pertanian, namun ternyata faktor pembaginya yaitu penduduk ternyata
masih memiliki kemampuan daya beli yang relatif rendah.
Indeks Paritas Daya Beli Kabupaten dan Kota Pasuruan tahun 2008 2010
Wilayah Tahun
2008 2009 2010
Kabupaten Pasuruan 61,60 62,67 64,13
Kota Pasuruan 65,61 66,49 66,96
Sumber: BPS Kab. Pasuruan, 2010
Indikator kesejahteraan masyarakat lain yang dapat dijadikan tolok ukur
tidak berkembangnya sebagian kawasan di Kabupaten Pasuruan adalah segi
sumber daya manusia (SDM). Salah satu alat ukur yang daoat dipakai untuk
melihat perkembangan kualitas SDM yang mampu membawa suatu kondisi
keberhasilan pembangunan adalah Indeks Pembangunan Manusia (IPM). Ada tiga
dimensi pokok pembangunan yang digunakan untuk melihat pembangunan
manusia yaitu dimensi kesehatan, pendidikan, serta ekonomi. Jika dibandingkan
dengan angka IPM di wilayah Kota Pasuruan, angka IPM Kabupaten Pasuruan
jauh lebih rendah.
Indeks Pembangunan Manusia (IPM) tahun 2008 2010
Wilayah Tahun
2008 2009 2010
Kabupaten Pasuruan 66,02 66,84 67,57
Kota Pasuruan 72,60 73,01 73,35
Sumber: BPS Kab. Pasuruan, 2010
Mencermati kompleksitas permasalahan pembangunan yang terjadi di
wilayah (timur) Kabupaten pasuruan tersebut, diperlukan suatu Rencana
Pengembangan Desa-Kota di Kabupaten Pasuruan agar tidak terjadi kesenjangan
dengan wilayah Kota Pasuruan.
L
a
t
a
r

B
e
l
a
k
a
n
g



4



1.2 MAKSUD, TUJUAN, SASARAN PENYUSUNAN
1.2.1 Maksud Penyusunan Laporan
Maksud dari penyusunan laporan pendahuluan ini adalah terwujudnya
dokumen Rencana Pengembangan Wilayah Desa Kota Kab. Pasuruan.
1.2.2 Tujuan Penyusunan Laporan
Adapun tujuan dari penyusunan laporan ini adalah sebagai berikut:
1. Mengetahui dan menjelaskan gambaran umum wilayah Kabupaten
Pasuruan.
2. Mengidentifikasi potensi dan permasalahan sektor dan komoditas
unggulan Kabupaten Pasuruan.
3. Merumuskan konsep pengembangan wilayah Desa Kota melalui potensi
unggulan di Kabupaten Pasuruan yang mampu meningkatkan
kesejahteraan yang optimal dan berkelanjutan;
1.2.3 Sasaran Penyusunan Laporan
Berdasarkan tujuan dari Adapun sasaran dari penyusunan Laporan
Pendahuluan ini adalah sebagai berikut:
1. Mengidentifikasi potensi dan masalah yang terdapat di wilayah Kabupaten
Pasuruan;
2. Merumuskan konsep pengembangan wilayah Desa Kota Kabupaten
Pasuruan yang berbasiskan sektor unggulan
3. Merumuskan serta menyusun arahan pengembangan wilayah Desa Kota
Kabupaten Pasuruan yang berbasiskan sektor unggulan.
4. Menyusun kebijakan, strategi dan indikasi program pembangunan wilayah
Desa Kota yang berbasiskan sektor unggulan di Kabupaten Pasuruan.
1.3 Ruang Lingkup Penyusunan
1.3.1 Ruang Lingkup Wilayah
Lingkup wilayah penyususnan perencanaan pengembangan wilayah Desa Kota
mencangkup seluruh wilayah Kabupaten Pasuruan. Secara geografis wilayah
Kabupaten Pasuruan terletak antara 112,30 s/d 113,30 Bujur Timur, dan antara
7,30 s/d 8,30 Lintang Selatan. Luas wilayah Kabupaten Pasuruan adalah
149.311,44 ha dengan rincian Luas Kabupaten Pasuruan seluas 147.501,50 Ha
dan Kota Pasuruan seluas 1.909,94 Ha bentang wilayah berupa daerah
pegunungan, perbukitan, dataran rendah, dan pantai dengan batas wilayah
sebagai berikut.
Sebelah Utara : Berbatasan dengan Selat Madura dan Kabupaten Sidoarjo
Sebelah Selatan : Berbatasan dengan Kabupaten Malang dan Lumajang
Sebelah Timur : Berbatasan dengan Kabupaten Probolinggo
Sebelah Barat : Berbatasan dengan Kabupaten Mojokerto
M
a
k
s
u
d
,

T
u
j
u
a
n
,

S
a
s
a
r
a
n

P
e
n
y
u
s
u
n
a
n

5

Wilayah perencanaan dari kegiatan Penyusunan Rencana Pengembangan
Wilayah Desa Kota Kabupaten Pasuruan adalah meliputi 24 Kecamatan
Kabupaten Pasuruan yang ada yaitu:

Kec. Pandaan Kec. Rembang Kec. Lekok
Kec. Purwosari Kec. Purwodadi Kec. Rejoso
Kec. Lumbang Kec. Wonorejo Kec. Pasrepan
Kec. Kraton Kec. Kejayan Kec. Puspo
Kec. Bangil Kec. Pohjentrek Kec. Tosari
Kec. Beji Kec. Gondang Wetan Kec. Tutur
Kec. Gempol Kec. Grati Kec. Sukorejo
Kec. Prigen Kec. Nguling Kec. Winongan

Untuk lebih jelasnya wilayah administrasi Kabupaten dan Kotas Pasuruan
dapat dilihat pada Peta Administrasi Kabupaten Pasuruan
1.3.2 Ruang Lingkup Materi
Ruang lingkup pembahasan dalam penyusunan laporan ini meliputi aspek-
aspek yang terkait dengan pengemabngan wilayah Desa Kota yaitu aspek
penataan ruang, ekonomi, sosial dan kependudukan, lingkungan hidup,
transportasi, infrastruktur, dan pemberdayaan masyarakat, serta aspek lain yang
dipandang penting dalam pengembangan wilayah Kabupaten Pasuruan
Lingkup materi penyusunan perencanaan dan pengembangan wilayah
yaitu:
a. Tujuan pengembangan wilayah
- Rencana pengembangan wilayah Desa - Kota
- Rencana peningkatan akses kewilayahan
- Rencana tindak (Indikasi Program)
b. Data / informasi yang perlu disajikan tentang tujuan pengembangan
- Gambaran umum wilayah Desa Kota Kabupaten Pasuruan
- Potensi dan prospek pengembangan wilayah Desa Kota
1.3.3 Ruang Lingkup Kegiatan
Lingkup kegiatan dalam penyusunan rencana program pengembangan
wilayah sebagai berikut:
a. Kegiatan persiapan
b. Kegiatan penyusunan laporan pendahuluan
c. Kegiatan survey dan pengumpulan data
d. Kegiatan penyusunan pengolahan data dan analisa
e. Kegiatan perumusan rancangan rencana
f. Kegiatan diskusi dan seminar
g. Kegiatan penyusunan rencana
1.4 SISTEMATIKA PENULISAN
Pembahasan pada Laporan Pendahuluan ini disusun berdasarkan tatanan
sebagai berikut:
M
a
k
s
u
d
,

T
u
j
u
a
n
,

S
a
s
a
r
a
n

P
e
n
y
u
s
u
n
a
n

6

BAB I PENDAHULUAN
Bab ini memuat latar belakang perlunya penyusunan laporan pendahuluan
sebagai awal dari tahap pelaporan dalam kerangka penyusunan Rencana
Tata Ruang Wilayah, tujuan dan sasaran, ruang lingkup, kerangka berpikir
serta sistematika penulisan.
BAB II TINJAUAN KEBIJAKAN DAN GAMBARAN UMUM WILAYAH STUDI
Bab ini berisi tentang tinjauan kebijakan serta teori yang berkaitan dengan
wilayah perencanaan yaitu Kab./Kota Pasuruan dan gambaran umum
wilayah studi
BAB III BAB III METODOLOGI PERENCANAAN
Bab ini memuat tahapan persiapan penyusunan laporan, serta rencana kerja
yang teridiri dari tahapan survei dan penelitian, pengolahan data dan
analisis, penyusunan rencana, dan jadwal pelaksanaan pekerjaan
BAB IV BAB IV RENCANA KERJA
Bab ini berisi tahapan pelaksanaan dan rencana kerja
BAB V BAB V STRUKTUR ORGANISASI
Bab ini memuat organisasi pelaksana pekerjaaan dan komposisi tenaga ahli

















M
a
k
s
u
d
,

T
u
j
u
a
n
,

S
a
s
a
r
a
n

P
e
n
y
u
s
u
n
a
n

7

BAB 2
TINJAUAN KEBIJAKAN DAN
GAMBARAN UMUM WILAYAH STUDI

2.1 RTRW KABUPATEN PASURUAN 2009-2029
2.1.1 Rencana Struktur Ruang Wilayah Kabupaten Pasuruan
2.1.1.1 Rencana Sistem Pusat Pelayanan
A. Arahan Pengembangan Sistem Perkotaan
Kabupaten Pasuruan saat ini memiliki rencana sistem perkotaan di Wilayah
Kabupaten Pasuruan sebagai berikut:
1. Pusat Kegiatan Lokal (PKL) berada di Perkotaan Bangil.
2. Pusat Kegiatan Lokal promosi (PKLp) berada di Perkotaan Pandaan,
Purwosari, Gondangwetan, Pasrepan, dan Grati.
3. Pusat Pelayanan Kawasan (PPK) berada di Perkotaan Purwosari,
Gondangwetan, Pasrepan, Grati, Prigen, Gempol, Kraton, Beji, Sukorejo,
Rembang, Pohjentrek, Lekok, Nguling, Winongan, Rejoso, Wonorejo,
Kejayan, Purwodadi, Tutur, Puspo, Tosari dan Lumbang.
Sampai saat ini pusat kegiatan yang ada dan akan dikembangkan di
Kabupaten Pasuruan adalah memiliki skala pelayanan Kabupaten (diusulkan
sebagai Ibukota kabupaten) atau sebagai Pusat Kegiatan Lokal (PKL) adalah
Perkotaan Bangil, sedangkan pusat kegiatan yang ada dan akan dikembangkan di
Wilayah Kabupaten Pasuruan adan memeiliki skala pelayanan beberapa
Kecamatan atau sebagai Pusat Kegiatan Lokal promosi (PKLp) adalah Perkotaan
Pandaan; Purwosari, Gondangwetan, Pasrepan, dan Grati; Perkotaan ini sekaligus
sebagai pusat pengembangan wilayah di Kabupaten Pasuruan. Adapun fungsi dan
perannya adalah sebagai pusat pelayanan umum bagi kecamatan-kecamatan
yang menjadi wilayah pengaruhnya dan ebagai pusat perdagangan dan jasa
maupun koleksi dan distribusi hasil-hasil bumi dari kecamatan-kecamatan yang
menjadi wilayah pengaruhnya.
Selanjutnya Pusat Pelayanan Kawasan (PPK) adalah kawasan perkotaan yang
berfungsi untuk melayani kegiatan skala kecamatan atau ibukota Kecamatan atau
beberapa desa/kelurahan yakni seluruh ibukota kecamatan yang tidak termasuk
dalam PKL yang memiliki fungsi dari masing-masing ibukota kecamatan tersebut
antara lain pusat pelayanan umum, dan pemerintahan bagi desa-desa yang
berada di wilayah administrasinya dan pusat perdagangan dan jasa bagi desa-
desa yang berada di wilayah administrasinya.


T
i
n
j
a
u
a
n

K
e
b
i
j
a
k
a
n

D
a
n

G
a
m
b
a
r
a
n

U
m
u
m

W
i
l
a
y
a
h

S
t
u
d
i

8

B. Arahan Pengembangan Sistem Perdesaan
Arahan pengembangan sistem perdesaan dapat dilihat dari sistem
pemusatan perdesaan yang berkaitan dengan kawasan perkotaan, sistem pusat
permukiman pedesaan membentuk pusat pelayanan desa secara hirarki
diantaranya sebagai berikut:
1. Pusat pelayanan antar desa (PPL).
2. Pusat pelayanan setiap desa (PPd).
3. Pusat pelayanan pada setiap dusun atau kelompok permukiman (PPds).
Distribusi permukiman perdesaan di Kabupaten Pasuruan menunjukkan
keberagaman yang tinggi, yakni ada yang terpusat, terpencar, maupun
berdekatan dengan Kota Pasuruan. Pola ruang seperti ini menjadikan pusat
kegiatan perdesaan juga memiliki skala bermacam-macam, dan secara umum
dapat digambarkan sebagai berikut:
a. Setiap dusun memiliki pusat dusun;
b. Setiap desa memiliki satu pusat kegiatan yang berfungsi sebagai pusat
desa;
c. Pusat Pelayanan Lingkungan (PPL) adalah pusat permukiman yang
berfungsi untuk melayani kegiatan skala antar desa; serta
d. Pusat Pelayanan Kawasan (PPK) adalah kawasan perkotaan yang berfungsi
untuk melayani kegiatan skala kecamatan atau beberapa desa.
Secara diagramatis, sistem perdesaan tersebut dapat digambarkan sebagai
berikut.

Gambar 2. 1 Sistem Perdesaan
Sumber: RTRW Kabupaten Pasuruan Tahun 2009-2029
C. Rencana Sistem Perwilayahan
Setiap kawasan perkotaan akan memiliki jangkauan pelayanan tertentu
sesuai dengan kegiatan perkotaan masing-masing. Penentuan kegiatan pelayanan
perkotaan ini dibuat sesuai dengan pusat kegiatan perkotaan masing-masing dan
T
i
n
j
a
u
a
n

K
e
b
i
j
a
k
a
n

D
a
n

G
a
m
b
a
r
a
n

U
m
u
m

W
i
l
a
y
a
h

S
t
u
d
i

9

fungsi yang harus diemban bagi setiap wilayah pendukung masing-masing.
Berdasarkan pertimbangan tersebut, Kabupaten Pasuruan dibagi menjadi 6 pusat
kegiatan perkotaan, yaitu:
1. Wilayah Pengembangan (WP) Bangil
2. Wilayah Pengembangan (WP) Pandaan, terdiri dari Kecamatan Pandaan,
Sukorejo, Gempol dan Prigen dengan pusat pengembangan di Pandaan,
kegiatan utamanya adalah pariwisata, industri, perdagangan dan jasa serta
pendidikan, dan memiliki kegiatan penunjang adalah pertanian, perikanan,
pertambangan, peternakan dan kehutanan
3. Wilayah Pengembangan (WP) Purwosari
4. Wilayah Pengembangan (WP) Gondangwetan
5. Wilayah Pengembangan (WP) Pasrepan
6. Wilayah Pengembangan (WP) Grati
D. Hierarki (Besaran) Kawasan Perkotaan
Adapun hirarki perkotaan di Kabupaten Pasuruan adalah:
1. Perkotaan Menengah adalah Perkotaan Bangil: Pusat kegiatan
perdagangan dan jasa; pusat kegiatan industri; dan Pusat kegiatan
pendidikan.
2. Perkotaan Kecil, adalah Perkotaan Pandaan dan Gempol dengan fungsi
utama:
Pendukung kegiatan perdagangan dan jasa untuk menunjang fungsi utama
dan pendukung pusat kegiatan lokal promosi (PKLp); dan
Pendukung kegiatan pelayanan kota skala regional seperti pariwisata,
industri, perdagangan dan jasa serta pendidikan.
Sedangkan fungsi pendukung Perkotaan Pandaan dan Gempol ini adalah:
Fungsi pusat pelayanan lokal (PPL) yang secara fungsional merupakan satu
kesatuan dengan pusat kegiatan Lokal promosi (PKLp), yaitu pariwisata,
industri, perdagangan dan jasa serta pendidikan; dan
Fungsi pendukungnya pertanian, pertambangan, peternakan, perikanan
serta kehutanan.
3. Perkotaan Sangat Kecil meliputi Perkotaan Prigen, Purwosari, Pasrepan,
Purwodadi, Tutur, Puspo, Tosari, Lumbang, Kejayan, Wonorejo, Sukorejo,
Beji, Rembang, Pohjentrek, Gondang Wetan, Rejoso, Winongan, Lekok,
Nguling, Kraton dan Grati. Perkotaan ini diutamakan untuk kegiatan
perdagangan dan jasa dengan fungsi utama sebagai pengembangan
kegiatan industri, pertanian, peternakan, dan perikanan dan fungsi
pendukung perdagangan dan jasa dan perkebunan.
2.1.2Rencana Pola Ruang Wilayah Kebupaten Pasuruan
2.1.2.1 Rencana Kawasan Lindung
Rencana Kawasan Lindung yang ada di Wilayah Kabupaten Pasuruan
meliputi:
a. Kawasan yang memberikan perlindungan terhadap kawasan bawahannya,
terdiri dari kawasan hutan lindung dan kawasan resapan air;
T
i
n
j
a
u
a
n

K
e
b
i
j
a
k
a
n

D
a
n

G
a
m
b
a
r
a
n

U
m
u
m

W
i
l
a
y
a
h

S
t
u
d
i

10

b. Kawasan perlindungan setempat, terdiri dari Sempadan pantai, Sempadan
sungai, Kawasan sekitar danau atau waduk; dan Ruang Terbuka Hijau
(RTH);
c. Kawasan suaka alam, pelestarian alam, dan cagar budaya, terdiri dari
kawasan suaka alam, kawasan cagar alam, kawasan pantai berhutan bakau,
taman nasional, taman hutan raya, taman wisata alam; dan kawasan cagar
budaya dan ilmu pengetahuan;
d. Kawasan rawan bencana alam, terdiri dari kawasan rawan tanah longsor;
dan kawasan rawan banjir;
e. Kawasan lindung geologi, terdiri dari kawasan rawan bencana alam geologi
dan kawasan yang memberikan perlindungan terhadap air tanah. Kawasan
rawan bencana alam geologi sendiri , terdiri dari kawasan rawan letusan
gunung berapi, kawasan rawan gempa bumi, kawasan rawan gerakan
tanah, serta kawasan yang terletak di zona patahan aktif, sedangkan
Kawasan yang memberikan perlindungan terhadap air tanah, terdiri dari
kawasan imbuhan air tanah, dan sempadan mata air;
f. Kawasan lindung lainnya.
2.1.2.2 Rencana Pola Ruang Kawasan Budidaya
Rencana kawasan budidaya meliputi kawasan hutan produksi, kawasan
pertanian, kawasan perkebunan, kawasan perikanan, kawasan peternakan,
kawasan pertambangan, kawasan peruntukan industri, kawasan dan objek
pariwisata, kawasan permukiman, dan kawasan pesisir.
A. Kawasan Pertanian
Upaya penanganan/pengelolaan kawasan pertanian di Kabupaten Pasurun
dilakukan dengan cara:
Mendorong pembentukan sentra-sentra kawasan pertanian khusus dengan
pendekatan spasial yang kesemuanya harus tercakup dalam suatu kawasan
yang sinergi dan selaras mendukung pertanian yaitu Kawasan Agropolitan.
Penetapan kriteria teknis dan pola penataan lahan serta pengelolaan
kawasan pada masing-masing Kawasan Pertanian akan ditetapkan dan
dikoordinasikan oleh masing-masing Kepala Dinas terkait yang tugas dan
tanggungjawabnya berkaitan dengan Bidang Pertanian.
Rencana Kawasan Pertanian lahan basah (sawah).
Rencana Kawasan Pertanian Lahan Kering.
B. Kawasan Perkebunan
Rencana kawasan perkebunan yang ada seluas 6500 Ha di Kabupaten
Pasuruan, meliputi:
Kawasan perkebunan yang dikelola oleh PTP XII Randuagung yang tersebar
di 2 (dua) kecamatan yaitu Kecamatan Pasrepan dan Kecamatan Kejayan.
Kawasan perkebunan milik masyarakat yang tersebar di seluruh
kecamatan.
C. Kawasan Perikanan
Kawasan perikanan merupakan kawasan yang diperuntukkan bagi
perikanan. Rencana pengembangan kawasan perikanan dibagi dalam dua
T
i
n
j
a
u
a
n

K
e
b
i
j
a
k
a
n

D
a
n

G
a
m
b
a
r
a
n

U
m
u
m

W
i
l
a
y
a
h

S
t
u
d
i

11

kelompok yakni kelompok perikanan darat yang dikembangkan di kolam, sungai,
tambak, karamba, danau dan sawah (mina padi) dan kelompok perikanan laut.
Kawasan peruntukan perikanan ditetapkan dengan kriteria:
Wilayah yang dapat dimanfaatkan untuk kegiatan penangkapan, budi daya,
dan industri pengolahan hasil perikanan; dan/atau
Tidak mengganggu kelestarian lingkungan hidup.
Dari adanya potensi dari berbagai kecamatan yang ada di Kabupaten
Pasuruan tersebut maka di dapat arahan pengembangan perikanan laut adalah,
sebagai berikut:
Pengembangan TPI di Skilot di Kecamatan Lekok dan Nguling; dan
Pengolahan hasil ikan di Kecamatan Lekok dan Nguling.
Pengembangan jenis komoditi udang galah di Kecamatan Pandaan, bawal
tawar di Kecamatan Gempol, dan lele di Kecamatan Beji.
D. Kawasan Peternakan
Kawasan peternakan merupakan kawasan yang diperuntukkan bagi
peternakan dan atau padang penggembalaan ternak untuk berbagai jenis hewan
ternak. Rencana pengembangan kawasan peternakan yang ada di Kabupaten
Pasuruan dkembangkan menyebar di hampir semua kecamatan yang ada di
kabupaten Pasuruan, mengingat potensi yang adapun menyebar di hampir
disetiap kecamatan. Kawasan peternakan diklasifikasikan menjadi dua yaitu
ternak besar dan ternak kecil. Yang dimaksud dengan ternak besar adalah ternak
sapi potong dan ternak sapi perah. Sedangkan ternak kecil disini memiliki jenis
ternak ayam buras pedaging, ayam buras petelur, itik, kambing/domba, babi,
kuda dan kerbau.
E. Kawasan Pertambangan
Kawasan pertambangan termasuk kelompok pertambangan mineral yang
meliputi pertambangan bahan galian diantaranya golongan galian strategis,
golongan bahan galian vital dan golongan bahan galian yang tidak termasuk
kedua golongan di atas. Pada dasarnya penambangan adalah proses
pemanfaatan sumber daya alam untuk memenuhi kebutuhan hidup manusia.
Semakin besar eksploitasi sumber daya alam akan semakin besar pula gangguan
terhadap keseimbangan lingkungan dengan demikian kemungkinan terjadinya
degradasi semakin besar pula, metoda penambangan akan mempengaruhi besar
kecilnya perubahan terhadap bentang alam. Kawasan pertambangan yang ada di
Kabupaten Pasuruan termasuk dalam kelompok mineral dan batubara dengan
jenis pertambangan bahan galian/tambang yang meliputi batu kapur, pasir
kuarsa, pasir batu, kalsit, trass, kaolin, bentodit, marmer, zeolit, toseki, feldspar,
piropilit dan fospat.
F. Kawasan Peruntukan Industri
Kawasan peruntukkan industri meliputi kawasan industri, lokasi
peruntukan industri serta kawasan industri tertentu untuk UMKM dan industri
rumah tangga. Sektor industri merupakan salah satu pendukung utama
pembangunan ekonomi Kabupaten Pasuruan, hal ini terlihat dari kontribusi
terhadap PDRB cukup besar terutama dari sektor pengolahan. Didukung dengan
T
i
n
j
a
u
a
n

K
e
b
i
j
a
k
a
n

D
a
n

G
a
m
b
a
r
a
n

U
m
u
m

W
i
l
a
y
a
h

S
t
u
d
i

12

posisi yang strategis maka Kabupaten Pasuruan mempunyai prospek yang besar
untuk berkembang sebagai wilayah industri, hal ini ditandai dengan
berkembangnya industri besar di Kecamatan Beji, Gempol, Pandaan, Rembang,
Purwosari dan Kecamatan Sukorejo. Adapun luasan rencana kawasan industri
yang ada di Kabupaten Pasuruan seluas 6200 Ha dengan prosentase 4,21 %.
Berdasarkan kondisi tersebut maka arah pengembangan kegiatan industi di
Kabupaten pasuruan, adalah sebagai berikut:
Mendorong perkembangan Kawasan Industri Pasuruan Industrial Estate
Rembang (PIER);
Pengembangan industri, menyatu dengan Kawasan Industri/cluster
peruntukan industri yang telah ada, untuk arah pengembangannya adalah
kegiatan industi agro (industri hasil pertanian) serta pengembangan
industri kecil yang mempunyai kaitan dengan berbagai industri.
G. Kawasan dan Obyek Pariwisata
Kawasan dan obyek pariwisata meliputi:
Wisata alam pegunungan. Kawasan pariwisata alam pegunungan, adalah
pariwisata alam pegunungan Bromo di Kecamatan Tutur, Kecamatan
Tosari, Kecamatan Puspo, dan Kecamatan Lumbang dan pariwisata alam
pegunungan Welirang di Kecamatan Prigen dan Purwosari.
Wisata alam pantai. Kawasan dan obyek pariwisata alam, terletak di pesisir
utara Kabupaten Pasuruan yaitu di Kecamatan Nguling.
Wisata budaya. Obyek pariwisata budaya adalah pariwisata budaya Candi
Jawi di Kecamatan Prigen; Candi Makutoromo di Kecamatan Purwosari;
Candi Sepilar di Kecamatan Purwodadi; Candi Watu Tetek Belahan di
Kecamatan Gempol; Candi Gunung Gangsir di Kecamatan Beji; Pertapaan
Indrakila di Kecamatan Prigen; Pertapaan Abiyoso di Kecamatan Purwosari;
Makam Segoropuro di Kecamatan Rejoso; serta Makam Mbah Semendi di
Kecamatan Winongan.
Wisata minat khusus: Finna Golf dan Country Club di Kecamatan Pandaan,
Taman Dayu di Kecamatan Prigen, Taman Candra Wilwatikta di Kecamatan
Pandaan, serta Taman Safari Indonesia II di Kecamatan Prigen dan
Sukorejo.
H. Kawasan Permukiman
Kawasan permukiman meliputi:
Kawasan Permukiman Perkotaan
Permukiman di sekitar kawasan industri. Permukiman ini
pengembangannya diarahkan di sekitar Kecamatan Rembang, Kecamatan
Kraton, Kecamatan Beji, Kecamatan Bangil, Kecamatan Gempol dan
Kecamatan Kejayan.
Permukiman di sekitar kawasan Pantai. Permukiman ini diarahkan di
sekitar Kecamatan Grati, Kecamatan Lekok, Kecamatan Kraton dan
Kecamatan Bangil.
Kawasan Permukiman Perdesaan.
T
i
n
j
a
u
a
n

K
e
b
i
j
a
k
a
n

D
a
n

G
a
m
b
a
r
a
n

U
m
u
m

W
i
l
a
y
a
h

S
t
u
d
i

13

Kawasan perdesaan merupakan daerah tempat tinggal sebagian besar
masyarakat Kabupaten Pasuruan yang kehidupan pokoknya bersumber pada pola
pertanian. Permukiman ini pengembangannya diarahkan di seluruh kecamatan di
Kabupaten Pasuruan.
I. Rencana Pengembangan Kawasan Pesisir
Luas perairan utara Kabupaten Pasuruan atas dasar garis lurus pantai
sepanjang 30,23 km dan dari pantai berjarak 4 mil atau kira-kira 7,2 km, maka
luasnya 217,65 km2. Arahan rencana pengembangan kawasan pesisir di
Kabupaten Pasuruan, yaitu:
Optimalisasi pemanfaatan lahan tambak dikembangkan di Kecamatan Beji,
Kecamatan Kraton, Kecamatan Rembang, Kecamatan Lekok, Kecamatan
Rejoso, Kecamatan Grati, dan Kecamatan Nguling;
Pengembangan wisata bahari pada kawasan potensial, tetapi
pemanfaatannya perlu menjaga kelestarian hutan bakau yang ada;
Pengembangan kegiatan penelitian dan ilmu pengetahuan;
Memelihara hutan bakau yang bermanfaat untuk kelangsungan ekosistem
pesisir; serta
Pengembangan lahan untuk bangunan TPI (Tempat Pelelangan Ikan) yang
terdapat di Kecamatan Lekok dan Kecamatan Nguling dibatasi sesuai
dengan pelayanan.

2.2 GAMBARAN UMUM
2.2.1 KONDISI FISIK DAN ADMINISTRASI
2.2.1.1Letak Geografis dan Batas Wilayah
Kabupaten dan Kota Pasuruan secara geografis terletak antara 112,30
s/d 113,30 Bujur Timur, dan antara 7,30 s/d 8,30 Lintang Selatan. Luas total
wilayah Kabupaten Pasuruan seluas 1.474,02 Km2 dengan bentang wilayah
berupa daerah pegunungan, perbukitan, dataran rendah, dan pantai dengan
batas wilayah sebagai berikut.
Sebelah Utara : Berbatasan dengan Selat Madura, Kabupaten Sidoarjo, dan
Kota Pasuruan
Sebelah Selatan : Berbatasan dengan Kabupaten Malang dan Lumajang
Sebelah Timur : Berbatasan dengan Kabupaten Probolinggo
Sebelah Barat : Berbatasan dengan Kabupaten Mojokerto
Secara administratif, Kabupaten Pasuruan dibagi menjadi 24 kecamatan, 341
desa, dan 24 kelurahan.
2.2.1.2 Geomorfologi dan Geologi
Kota Pasuruan
Dengan luas wilayah 1.474,02 km
2
morfologi Kabupaten Pasuruan terdiri dari lima
bagian yaitu : kerucut gunung api, pegunungan, perbukitan, dataran pasir, dan
dataran rendah sebagai berikut :
T
i
n
j
a
u
a
n

K
e
b
i
j
a
k
a
n

D
a
n

G
a
m
b
a
r
a
n

U
m
u
m

W
i
l
a
y
a
h

S
t
u
d
i

14

1. Kerucut gunung api di sebelah barat dan tenggara, dengan ciri bentuk
strato dan kerucut gunung api, berketinggian antara 2000 3350 m dpl.
Puncaknya antara lain : Gunung Welirang, Arjuna, Ringgit dan Bromo.
2. Pegunungan, ada di bagian barat dan barat laut, bercirikan strato dengan
ketinggian 600 2000 m dpl. Puncaknya antara lain adalah Gunung
Penanggungan. Daerah ini sebagian besar masih tertutup semak dan hutan
tropik dengan batuan piroklastika dan epiklastika.
3. Perbukitan, bercirikan gelombang deretan bukit, pegunungan, atau
pematang, berketinggian 25-600 m dpl. Puncak utamanya adalah Gunung
Baung, Gunung Tinggi, Gunung Pule dengan aliran sungai yang menonjol
adalah Sungai Welang. Daerah ini sebagian merupakan lahan pertanian
dan perkebunan, membentang dari wilayah Kecamatan Tosari dan
Kecamatan Puspo sampai ke arah barat yaitu Kecamatan Tutur, Purwodadi
dan Prigen.
4. Dataran pasir, terletak di dasar kawah Tengger berbentuk tapal kuda,
mengelilingi Gunung Bromo dengan ketinggian 200 2100 m dpl.
5. Dataran rendah, membentang di daerah bagian utara dan sekitar pantai
utara. Dengan ketinggian 0 25 m dpl memiliki endapan alluvium,
membentang dari timur yaitu wilayah Kecamatan Nguling, ke arah barat
yaitu Kecamatan Lekok, Rejoso, Kraton, dan Bangil. Sebagian besar
merupakan lahan pertanian, pertambakan, dan perkebunan. Sungai
utamanya adalah Sungai Rejoso.
Jenis geologi di Kabupaten Pasuruan dapat dikelompokkan dalam tiga
kelompok besar yaitu : batuan permukaan, batuan sedimen, dan batuan gunung
api.
2.2.1.3 Curah Hujan
Curah hujan Kabupaten banyak dipengaruhi oleh angin muson yang bertiup
dari Australia dan Asia. Angin muson timur merupakan angin kering, sedangkan
angin yang bertiup dari arah barat relatif agak basah. Dari Bulan November
hingga Mei, angin bertiup dari arah Utara Barat Laut dengan membawa banyak
uap air yang menyebabkan musim penghujan dimana-mana. Sedangkan dari
bulan Juni hingga Oktober, angin bertiup dari Selatan Tenggara Kering dengan
membawa sedikit uap air yang menyebabkan musim kemarau dimana-mana.
Berdasarkan intensitas curah hujan Kabupaten dan sekitarnya, maka intensitas
curah hujan dapat dikelompokkan menjadi empat zona curah sebagai berikut :
1. Zona curah hujan antara 2.000 2.500 mm/tahun, zona hujan ini dijumpai
di daerah sekitar Kecamatan Pasrepan, serta daerah sekitar Kolusari dan
selatan Purwosari.
2. Zona curah hujan antara 1.750 2.000 mm/tahun, zona hujan ini tersebar
di bagian barat, yaitu daerah sekitar Kecamatan Purwosari dan Beji.
3. Zona curah hujan antara 1.500 1.750 mm/tahun, zona hujan ini tersebar
di daerah bergelombang hingga perbukitan, antara lain disekitar
Kecamatan Bangil, Rembang, Wonorejo, Kejayan, dan Lumbang.
T
i
n
j
a
u
a
n

K
e
b
i
j
a
k
a
n

D
a
n

G
a
m
b
a
r
a
n

U
m
u
m

W
i
l
a
y
a
h

S
t
u
d
i

15

4. Zona curah hujan antara 1.500 mm/tahun, zona hujan ini tersebar di
daerah dataran sepanjang pantai sekitar Kraton, Lekok, Grati, dan Nguling
2.2.1.4 Topografi
Kondisi topografi merupakan salah satu kondisi fisik yang dapat
mengetahui potensi dan kendala fisik perkembangan suatu kawasan/wilayah.
Kondisi topografi erat kaitannya dengan ketinggian dan kemiringan lereng lahan.
Secara umum, dapat dideskripsikan bahwa wilayah Kabupaten terhampar
mulai dari daerah pantai (ketinggian 0 m dpl) di bagian utara sampai pegunungan
(ketinggian >2000 m dpl) di bagian selatan, dengan morfologi bentang alam yang
juga bervariasi mulai dari kemiringan lereng relatif datar/sedikit bergelombang
(kelerengan 0-8%) sampai kelerengan sangat curam (> 45%).
Kemiringan Lahan di wilayah Kabupaten beragam mulai dari kelerengan 0
sampai diatas 45%. Secara morfologi bentang alam dapat didiskrpsikan bahwa
daerah yang memiliki kelerengan relatif datar/sedikit bergelombang (0-8%)
adalah seluas 852,58 km2 atau sekitar 57,8 %, berombak (8-15%) seluas 310,57
km2 atau sekitar 21,4 %, berbukit (15-25%) seluas 220,57km2 atau sekitar 15 %,
curam (25 - 45%) seluas 68,65 km2 atau sekitar 4,7 %, dan sangat curam (> 45%)
seluas 17,48 km2 atau sekitar 1,2 %.
2.2.1.5 Hidrografis
Di wilayah Kabupaten Pasuruan mengalir delapan sungai besar yang
bermuara di Selat Madura, yaitu :
1. Sungai Lawean : bermuara di Desa Penunggul
Kecamatan Nguling
2. Sungai Rejoso : bermuara di wilayah Kec. Rejoso
3. Sungai Gembong : bermuara di wilayah Kota Pasuruan
4. Sungai Welang : bermuara di Desa Pulokerto Kec.
Kraton
5. Sungai Masangan : bermuara di Desa Raci Kec. Bangil
6. Sungai Kedung Larangan : bermuara di Desa Kalianyar Kec.
Bangil
7. Sungai Kambeng : bermuara di Desa Carat, Kec.
Gempol
8. Sungai Raci : bermuara di Desa Raci Kec. Bangil
Dari delapan sungai utama yang bersifat parennial tersebut, Sungai
Welang merupakan sungai yang mempunyai catchment area terbesar yaitu 518
km2, dengan panjang 36 km dan lebar 35 m, tetapi debit alirannya lebih rendah
dari Sungai Rejoso. Panjang Sungai Rejoso relatif pendek sehingga waktu
konsentrasinya pendek, tetapi debit aliran besar dan cepat sampai ke hilir. Hal ini
terlihat dari banjir yang sering terjadi di muara Sungai Rejoso dari pada di muara
Sungai Welang.

T
i
n
j
a
u
a
n

K
e
b
i
j
a
k
a
n

D
a
n

G
a
m
b
a
r
a
n

U
m
u
m

W
i
l
a
y
a
h

S
t
u
d
i

T
i
n
j
a
u
a
n

K
e
b
i
j
a
k
a
n

D
a
n

G
a
m
b
a
r
a
n

U
m
u
m

W
i
l
a
y
a
h

S
t
u
d
i

16

2.2.1.6 Hidrogeologi
Ditinjau dari kondisi hidrogeologi, Kabupaten Pasuruan mempunyai
potensi air cukup besar berupa air permukaan dan air tanah. Selain potensi
sungai, terdapat danau dan sejumlah mata air. Danau Ranu Grati dengan volume
efektif sebesar 5.013 m3 dan volume maksimum 5.217 m3, mampu
mengeluarkan debit maksimum 463 liter/detik. Selain itu terdapat 471 sumber
mata air yang tersebar di 24 kecamatan dengan debit air antara 1 sampai dengan
5.650 liter/detik. Di Kecamatan Winongan terdapat dua sumber air, yaitu sumber
air Umbulan dan Banyu Biru. Sumber air Umbulan merupakan sumber air
terbesar dengan debit maksimum 5.650 liter/detik, sedangkan sumber air Banyu
Biru dengan debit maksimum 225 liter/detik. Demikian juga di lereng perbukitan
banyak terdapat sumur bor tertekan (artesis) dan tak tertekan dengan debit
sekitar 5 -10 liter/detik.
2.2.2 KEPENDUDUKAN
Jumlah penduduk Kabupaten Pasuruan tahun 2012 sesuai dengan data
dari BPS Kabupaten Pasuruan sebanyak 1.531.025 jiwa, terdiri dari laki-laki
sebanyak 758.617 jiwa dan perempuan sebanyak 772.408 jiwa. Pada Kabupaten
Pasuruan, Kecamatan dengan jumlah penduduk terbesar adalah Kecamatan
Gempol adalah 125.628 jiwa, sedangkan kecamatan dengan jumlah penduduk
terkecil adalah Kecamatan Tosari yaitu 18.273 jiwa.
Perbandingan antara jumlah penduduk laki-laki terhadap jumlah
penduduk perempuan dikalikan seratus (Sex Ratio), menunjukkan angka sebesar
98,21%. Penduduk di Kabupaten Pasuruan tahun 2012 sebanyak 1.531.025 jiwa,
mayoritas memeluk agama Islam yaitu sebesar 95%. Penduduk beragama Kristen
Katolik 0,18%, beragama Kristen Protestan 0,36%, beragama Hindu 1,10%,
beragama Buda 0,02%, dan Lain-lain kepercayaan sebesar 3,34%.

2.2.3 PEREKONOMIAN DAERAH
2.3.1 Produk Domestik Regional Bruto
Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) adalah total nilai produksi barang
dan jasa yang diproduksi di wilayah (regional) tertentu dalam waktu tertentu
(satu tahun). Berdasarkan Kabupaten Pasuruan dalam angka, Jumlah PDRB per
kapita Kabupaten Pasuruan tahun 2012 sebesar Rp. 20.022.123,- .

2.2.4 PENGGUNAAN LAHAN
Penggunaan lahan di Kabupaten digunakan sebagai permukiman,
pertanian, pekarangan, industri dan lahan perkebunan. Pada Kabupaten Pasuruan
, penggunaan lahan lebih kearah pertanian, permukiman, industri, dan lahan
perkebunan sedangkan untuk Kota Pasuruan penggunaan lahan lebih kearah
kawasan perumahan dan permukiman serta perdagangan dan jasa


T
i
n
j
a
u
a
n

K
e
b
i
j
a
k
a
n

D
a
n

G
a
m
b
a
r
a
n

U
m
u
m

W
i
l
a
y
a
h

S
t
u
d
i

17

2.2.5 FASILITAS
Fasilitas perkotaan menjadi salah satu faktor penunjang pengembangan
maupun peningkatan perekonomian wilayah. Ketersediaan fasilitas menjadi salah
satu nilai penting dalam suatu kota atau wilayah. Fasilitas itu diantaranya fasilitas
pendidikan, kesehatan, peribadatan, dan pemerintahan.
2.2.5.1 Fasilitas Pendidikan
Baik Kabupaten dan Kota Pasuruan telah terdapat fasilitas pendidikan yang terdiri
dari Kelompok Bermain, TK, SD, SMP, SMA, Mts, dan Ma yang tersebar di
beberapa wilayah Kabupaten Pasuruan.
2.2.5.2 Fasilitas Kesehatan
Fasilitas kesehatan pada Kabupaten terdiri dari Rumah sakit, Rumah Bersalin,
Puskesmas, Posyandu, Klinik, Praktek Dokter, Apotek, Dokter Umum, Dokter
Spesialis, Dokter Gigi, Bidan, dan Laboraturium Medis .
2.2.5.3 Fasilitas Peribadatan
Fasilitas Peribadatan pada Kabupaten Pasuruan terdiri dari beberapa tempat
peribadatan dari setiap agama diantaranya masjid, langgar, mushola, gereja,
pura, dan vihara. Yang tersebar di setiap kecamatan, kelurahan, maupun desa di
Kabupaten Pasuruan
2.2.6 JARINGAN TRANSPORTASI
Kabupaten terletak di wilayah yang sangat strategis dalam jalur
transportasi utama yang menghubungkan jalur Surabaya
Jember/Banyuwangi/Bali, Surabaya Malang dan Malang -
Jember/Banyuwangi/Bali. Untuk mendukung kelancaran transportasi di
Kabupaten Pasuruan terdapat lima terminal angkutan darat, yaitu satu terminal
bus antar kota dan empat terminal MPU yang menghubungkan antar kecamatan.
Selain itu terdapat satu stasiun kerata api yang menghubungkan jalur Surabaya
Malang/Blitar, dan Surabaya Jember/Banyuwangi. Ruas jalan digolongkan
menjadi Jalan Nasional sepanjang 97.940 km, Jalan Propinsi sepanjang 88.050 km,
Jalan Kabupaten sepanjang 2.003,10 km, dan Jalan Desa sepanjang 581,64 km
dengan rincian 2286.7 Km kondisi jalan baik dan 316.04 Km kondisi jalan yang
kurang baik.
2.2.7 UTILITAS
Kebutuhan jaringan utilitas dalam menunjang kegiatan di wilayah baik
kabupaten maupun perkotaan sangatlah penting. Kabupaten memiliki beberapa
jaringan utilitas berupa jaringan air bersih, listrik, telepon, pengelolaan sampah,
dan drainase. Jaringan utilitas ini melayani kebutuhan domestik(rumah tangga),
fasilitas umum, dan pedagangan jasa. Berikut merupakan jaringan utilitas yang
terdapat di Kabupaten dan Kota Pasuruan.
2.2.7.1 Jaringan Air Bersih
Kebutuhan air bersih di wilayah Kabupaten Pasuruan dapat terpenuhi oleh
PDAM. Jangkauan pelayanan PDAM menggunakan pipa-pipa distribusi yang
tersebar di beberapa wilayah seperti bagian wilayah Kota Pasuruan dan beberapa
di wilayah Kabupaten Pasuruan. Selain menggunakan jaringan PDAM, beberapa
T
i
n
j
a
u
a
n

K
e
b
i
j
a
k
a
n

D
a
n

G
a
m
b
a
r
a
n

U
m
u
m

W
i
l
a
y
a
h

S
t
u
d
i

18

masyarakat di wilayah kaki gunung masih menggunkan mata air yang bersumber
dari gunung pandaan maupun prigen. Secara umum kebutuhan air bersih sudah
mencukupi kebutuhan masyarakat Kabupaten Pasuruan dan Kota pasuruan.
2.2.7.2 Jaringan Listrik
Wilayah Kabupaten menggunakan listrik yang bersumber dari PLN. Distribusi
jaringan listrik sudah cukup merata dan menjangkau seluruh wilayah baik wilayah
Kota Pasuruan maupun Kabupaten Pasuruan. Jaringan yang terdapat di
Kabupaten Pasuruan terdapat SUTR( Saluran Udara Tegangan Rendah) merata di
permukiman. SUTM (Saluran Udara Tegangan Menengah) , SUTT (Saluran Udara
Tegangan Tinggi) , dan SUTET (Saluran Tegangan Extra Tinggi).
2.2.7.3 Jaringan Telepon
Kebutuhan jaringan telepon di wilayah Kabupaten Pasuruan sudah cukup
mencukupi kebutuhan jaringan telekomunikasi di wilayah tersebut. Kebutuhan
masyrakat akan telekomunikasi hanya sebatas kebutuhan selular dan tingkat
pelayanan cukup tersebar merata meskipun tidak semua rumah atau bangunan
memiliki sambungan telepon kabel.




T
i
n
j
a
u
a
n

K
e
b
i
j
a
k
a
n

D
a
n

G
a
m
b
a
r
a
n

U
m
u
m

W
i
l
a
y
a
h

S
t
u
d
i

19

BAB 3
METODOLOGI PERENCANAAN
3.1 KONSEP PENGEMBANGAN DESA-KOTA
3.1.1 Pola Keruangan Desa dan Kota
Desa merupakan suatu lokasi di pedesaan dengan kondisi lahan sangat
heterogen dan topografi yang beraneka ragam. Pola tata ruangnya sangatlah
tergantung pada topografi yang ada. Pola tata ruang merupakan pemanfaatan
ruang atau lahan di desa untuk keperluan tertentu sehngga tidak terjadi tumpang
tndih dan berguna bagi kelangsungan hidup penduduknya.
Pemanfaatan lahan di desa dibedakan atas dua fungsi, yaitu:
1. Fungsi sosial, adalah untuk perkampungan desa
2. Fungsi ekonomi, adalah untuk aktivitas ekonomi seperti sawah,
perkebunan, pertanian dan peternakan.
Pola persebaran dan pemukiman desa menurut R. Bintarto (1977) adalah
sebagai berikut
1. Pola radial
2. Pola tersebar
3. Pola memanjang sepanjang pantai
4. Pola memanjang sepanjang sungai
5. Pola memanjang sepanjang jalan
6. Pola memanjang sejajar dengan jala kereta api
Menurut Bintarto (1977), kota adalah suatu sistem jaringan kehidupan
manusia yang ditandai dengan adanya kepadatan penduduk yang tinggi, strata
sosial dan ekonomi yang heterogen, dan materialistis. Kota (city) adalah bentang
budaya yang ditimblkan oleh unsur-unsur alami dan non alami dengan gejala
pemusatan penduduk yang cukup padat dan besar dengan corak kehidupan yang
bersifat heterogen dan materialistis dengan daerah belakangnya (hinterland).
Pengertian kota yang lain dapat diartikan sebagai suatu daerah yang
memiliki gejala pemusatan penduduk yang merupakan suatu perwujudan
geografis yang ditimbulkan oleh unsur-unsur fisiografis sosial, ekonomi, kultur,
yang terdapat di daerah tersebut dengan adanya pengaruh timbal balik dengan
daerah-daerah lainnya. Kota merupakan suatu sistem jaringan kehidupan
manusia yang ditandai dengan kepadatan penduduk dan diwarnai dengan strata
sosia, ekonomi yang heterogen dan berorientasi pada materialistik.
Terdapat beberapa macam pola persebaran kota, diantaranya adalah:
1. Pola Sentralisasi
Pola sentralisasi adalah pola persebaran kegiatan kota yang cenderung
berkumpul atau berkelompok pada satu daerah atau wilayah umum.
2. Pola Desentralisasi
Adalah pola persebaran kegiatan kota yang cenderung menjauhi titik pusat
kota atau inti kota sehingga dapat membentuk suatu inti/nukleus baru.
M
e
t
o
d
o
l
o
g
i

P
e
r
e
n
c
a
n
a
a
n

20

3. Pola Nukleasi
Adalah pola persebaran kegiatan kota yang mirip dengan pola penyebaran
sentralisasi namun dengan skala ukuran yang lebih kecil, dimana inti
kegiatan perkotaan berada di daerah utama
4. Pola Segresi
Adalah pola persebaran yang saling terpisah-pisah satu sama lain menurut
pembagian sosial, budaya, ekonomi dan lain sebagainya. Dan jika kita
umpamakan dengan papan permainan dart atau papan target anak panah,
maka pusat kota berada pada pusat papan, dan begitu seterusnya garis-
garis lingkaran yang mengelilinya berurutan adalah wilayah sub urban,
kemudian diikuti dengan daerah urban dan yang terakhir adalah daerah
rural.
Kota dapat ditimbulkan karena unsur fisiografis, artinya karena setlement
yang dipilih manusia pada mulanya selalu memperhatikan topografi daerah,
tanah dan iklim serta kesuburan tanahnya. Pengertian kota dapat ditinjau dari
unsur morfologinya. Kenampakan kota secara morfologi adalah kenampakan-
kenampakan tertentu yang mempunyai ciri khas fisikal sebuah kota. Untuk
melihat di mana batas-batas kota yang dimaksud, dapat dilihat dengan foto-foto
udara sampai batas-batas tertentu dapat dipergunakan untuk mendeteksi
kenampakan fisikal suatu kota.
Berikut merupakan delapan interpretasi yang dapat digunakan untuk
mencari batas-batas kota secara morfologi, yaitu :
- Pola (pattern)
- Struktur (structure)
- Bentuk (shape)
- Site
- Ukuran (size)
- Rona (rone)
- Bayangan (shadow)
- Tekstur (texture)
Struktur penduduk kota dilihat dari segi ekonomi dapat dilihat dari
berbagai jenis mata pencaharian penduduk kota. Jenis mata pencaharian
penduduk kota yang ada yaitu diluar bidang pertanian seperti perdagangan,
kepegawaian jasa dan industri. Interaksi kota dalam bidang ekonomi terlihat
dengan adanya lapangan perdagangan, transportasi, dan komunikasi. Tingkat
harga barang relatif sama, sehingga masing-masing kota dapat tukar menukar
berbagai barang kebutuhan yang diperlukan. Sedangkan kegiatan produksi,
kegiatan konsumsi dan kegiatan perdagangan di kota juga lebih teratur. Misalnya
terdapat pasar-pasar, bank-bank, stasiun dan ;ain-lain yang banyak dapat
memasukkan uang bagi kota yang dapat dipergunakan untukpembiayaan
pemeliharaan kota.
Kota sebagai ciri sosial dapat diuraikan sebagai berikut:
- Pelapisan sosial kota. Perbedaan tingkat pndidikan dan status sosial dapat
menimbulkan suatu keadaan yang heterogen. Heterogenitas tersebut
berlanjut dan menimbulkan persaingan, ditambah dengan semakin
bertambahnya jumlah penduduk kota. Dengan adanya sekolah-sekolah
M
e
t
o
d
o
l
o
g
i

P
e
r
e
n
c
a
n
a
a
n

21

dengan beraneka ragam terjadilah pelbagai spesialisasi di bidang
keterampilan maupun bidang jenis mata pencaharian.
- Individualisme. Perbedaan status sosial dapat menumbuhkan sifat
individualisme dikarenakan sifat gotong royong yang sudah semakin
menurun. Dalam hal ini pergaulan dengan tatap muka secara langsung dan
dalam ukuran waktu yang lama sudah mulai jarang terjadi, karena
komunikasi lewat teleponsudah menjadi alat penghubung yang bukan lagi
sebuah kemewahan.
- Toleransi sosial. Kesibukan masing-masing warga kota yang cukup tinggi
dapat mengurangi perhatian kepada sesamanya. Apabila ini berlebihan
maka mereka akan mempunyai sifat tak acuh atau kurang mempunyai
toleransi sosial
- Jara sosial. Kepadatan penduduk di kota-kota memang pada umumnya
dapat dikatakan cukup tinggi. Jadi secara fisik di jalan, di pasar, di toko, di
bioskop dan tempat lain warga kota berdekatan tetapi dari segi sosial
berjauhan, karena perbedaan kenutuhan dan kepentingan.
- Penilaian sosial. Perbedaan status, perbedaan kepentingan dan situasi
kondsi kehidupan kota mempunyai pengaruh terhadap sistem penilaian
yang berbeda mengenai gejala-gejala yang timbul di kota.
Kota meruakan tempat utama di sebuah daerah yang mengadopsi
canggihnya teknologi. Teknologi sangat berperan dalam setiap aktivitas
masyarakat di sebuah perkotaan. Hampir semua aktivitas terdapat peran
teknologi di dalamnya. Komunikasi dan transportasi yang merupakan kegiatan
vital sudah sangat dimudahkan oleh teknologi. Handphone, pengiriman email
melalui internet, menjangkau daerah yang jauh (luar daerah) dapat dijangkau
dengan cepat menggunakan pesawat.
3.1.2 Rural-Urban Lingkages
Desa dan kota mempunyai peran yang sama-sama penting dalam
pengembangan suatu wilayah. Jika peran desa dan kota tersebut dapat berjalan
dengan baik, hubungan keterkaitan antara desa dan kota dapat tercapai. Fungsi
kota lebih dititik beratkan sebagai pusat kegiatan non pertanian dan pusat
administrasi, bukan sebagai pusat pertumbuhan, sementara itu kecamatan
(district) justru yang memiliki fungsi sebagai unit pengembangan.
Keterkaitan desa-kota meluas di berbagai level, baik antara desa dan kota
itu sendiri, maupun antara kota kecil dengan kota besar, antar desa, dan antar
kota yang merentang di dalam satu negara maupun antar negara. Keterkaitan
antara desa-kota antara lain terlihat dari realitas bahwa penduduk desa menjadi
konsumen barang dan jasa pelayanan perkotaan sementara masyarakat kota juga
menjadi konsumen jasa dan barang hasil produksi perdesaan. Terlepas dari
banyaknya kritikan atas pola keterkaitan yang terbangun, interaksi antara desa-
kota bersifat saling menguntungkan dalam suatu iklim simbiosis mutualisme (Lo
& Salih, 1978).
Lebih lanjut , Lo & Salih mengelaborasi bahwa masyarakat desa cenderung
memproduksi dan menjual hasil pertaniannya secara mandiri ke wilayah-wilayah
sekitarnya yang relatif berdekatan. Mereka juga dapat menjualnya kepada para
pedagang yang kemudian menjualnya secara langsung atau dengan sedikit
pengolahan ke berbagai pasar, baik pasar lokal maupun pasar yang jauh.
M
e
t
o
d
o
l
o
g
i

P
e
r
e
n
c
a
n
a
a
n

22

Sebaliknya, petani di wilayah pedesaan juga membutuhkan barang dan jasa yang
tidak bisa dihasilkannya sendiri, seperti sabun, minyak, atau pada tingkatan
perkembangan yang lebih tinggi, kendaraan bermotor, pelayanan perbankan atau
pinjaman keuangan. Dengan demikian, pola interaksi antara desa-kota serta
dasar interaksi (kebutuhan) yang melandasinya selalu bersifat dinamis, bergerak
dari waktu ke waktu sesuai tingkatan kemajuan suatu masyarakat. Keterkaitan
tersebut digambarkan oleh Mike Douglass (1998) sebagaimana yang terdapat
pada pada tabel 2.2 dibawah.

Tabel 3.1 Keterkaitan dan Interdependensi Desa-Kota
Fungsi Kota Interdependensi Fungsi Desa
Pusat transportasi & perdagangan
pertanian
Produksi & produktivitas pertanian.
Pelayanan pendukung pertanian (semakin
kompleks dan bernilai tinggi):
- Input produksi
- Jasa pemeliharaan/perbaikan
- Kredit produksi
- Informasi tentang metode produksi
(inovasi)
Intensifikasi pertanian dipengaruhi
oleh:
Infrastruktur desa
Insentif produksi
Pendidikan dan kapasitas untuk
menerima inovasi
Pasar konsumen non-pertanian (semakin
kompleks):
Produksi pertanian olahan
Pelayanan privat
Pelayanan publik (kesehatan, pendidikan,
dan administrasi)
Peningkatan pendapatan pedesaan
akan menambah permintaan (daya
beli dan pilihan konsumen):
Untuk barang2 non-pertanian
Jasa/pelayanan
Industri berbasis pertanian
(mempertahankan/mengembalikan bagian
terbesar nilai tambah di suatu daerah)
Produksi pertanian dan diversifikasi
pertanian
Pekerja non-pertanian (meningkat
bersamaan dengan meningkatnya tingkat
kesejahteraan dan pendidikan di desa)
Melibatkan semua fungsi di atas
Sumber: Tarigan,2009
Klasifikasi antara wilayah desa dan kota sangat penting dilakukan untuk
menentukan jenis intervensi apa yang akan diberikan. Kedua wilayah tersebut
memiliki interdependensi yang tinggi dalam rantai keterkaitan permintaan dan
penawaran. Di samping pertimbangan ekonomi seperti sudah diuraikan di atas,
keterkaitan antara kedua wilayah tersebut juga penting untuk mengatasi masalah
urbanisasi yang memiliki implikasi politik. Karenanya, keterkaitan desa kota tidak
sekedar membawa implikasi ekonomi tetapi juga dampak politik.
Untuk mempermudah pemetaan keterkaitan desa-kota yang sangat
kompleks, terdapat beberapa jenis keterkaitan sebagai basis analisis kuantitatif
dan kualitatif. Keterkaitan fisik seperti jaringan jalan, irigasi, atau jaringan
transportasi dan komunikasi lainnya berkaitan dengan hubungan ekonomi
(konsumsi dan pelayanan). Rondinelli (1985) dan Kammeier & Neubauer (1985)
menjelaskan tipe keterkaitan tersebut sebagaimana yang terdapat pada tabel 2.3



23

Tabel 3.2 Keterkaitan Utama Desa-Kota & Fasilitas Terkait di Pusat Kota
Tipe Keterkaitan Elemen
Fasilitas
Umum Kota
Fasilitas Khusus untuk Pertanian,
manufaktur, dan Pengolahan Pertanian
Keterkaitan Fisik Jalan
Angkutan kereta api
Penerbangan
Irigasi
Ekologis
interdependensi
Keterkaitan intra dan
inter sistem
Stasiun kereta,
terminal bis,
pelabuhan, bandara
Akses desa terhadap jalan menuju
dan dari kota
Akses menuju keterkaitan
transportasi utama (udara, laut,
darat)
Keterkaitan Ekonomi Pola pasar
Aliran bahan
mentah dan barang
antara
Keterkaitan
produksi
Pola konsumsi dan
belanja
Aliran modal dan
pendapatan
Aliran komoditas
sektoral dan
interregional
Keterkaitan silang
Pasar barang konsumsi
dan pertanian, toko
retail
Fasilitas penyediaan
input (kulakan,
penyimpanan)
Pasar produksi pertanian
Koperasi pertanian
Agen penjualan, agen eksport-impor
Fasilitas penyediaan input pertanian
Fasilitas pembelian dan perawatan
peralatan pertanian
Outlet kredit untuk usaha pertanian
dan usaha kecil lainnya
Keterkaitan Mobilitas Penduduk Pola migrasi
Perjalanan ke
tempat kerja
Fasilitas transportasi
penumpang

-
Keterkaitan Teknologi Interdependensi
Teknologi
Sistem irigasi
Sistem Telkom
Tempat perawatan dan
perbaikan
Pasar produksi pertanian
Koperasi pertanian
Agen penjualan, agen eksport-impor
Fasilitas penyediaan input pertanian
Fasilitas pembelian dan perawatan
peralatan pertanian
Outlet kredit untuk usaha pertanian
dan usaha kecil lainnya
Suplai energi dan fasilitas khusus
untuk pengolahan dan manufaktur
pertanian
Fasilitas sekolah khusus dan pelatihan
pertanian.

Keterkaitan Interaksi Sosial Pola kunjungan
Pola Kekera-batan
Ritus, ritual,
aktivitas agama
Interaksi kelompok
sosial
Fasilitas komunitas
Gereja, mesjid, dsb
Fasilitas olahraga
Bioskop
Restoran, klub
Tidak ada fasilitas kecuali untuk
memenuhi permintaan desa yang
meningkat
Keterkaitan Penyediaan
pelayanan
Aliran dan jaringan
energi
Jaringan kredit dan
finansial
Keterkaitan
pendidikan, pelatihan
dan ekstensi
Sistem pelayanan
kesehatan
Pola pelayanan
profesional, komersial,
dan teknis.
Fasilitas suplai energi
(listrik, depot BBM)
Fasilitas keuangan,
investasi dan
perbankan
Sekolah
Rumah sakit, klinik
Fasilitas telkom dan
pos
Media massa
Fasilitas akomodasi
Suplai energi dan fasilitas khusus
untuk pengolahan dan manufaktur
pertanian
Fasilitas sekolah khusus dan
pelatihan pertanian.
Keterkaitan Politik,
Administratif, dan
Organisasional
Keterkaitan struktural
Aliran anggaran
pemerintah
Otoritas dan agen-agen
sub-nasional
(administrasi,
Kantor cabang kementerian pertanian,
Kehutanan, Kesehatan, Perindustrian.
24

Tipe Keterkaitan Elemen
Fasilitas
Umum Kota
Fasilitas Khusus untuk Pertanian,
manufaktur, dan Pengolahan Pertanian
Interdependensi
organisasi
Pola otoritas-
persetujuan-supervisi
Pola transaksi antar
jurisdiksi
Rantai keputusan
politik informal
pemeliharaan,
perencanaan,
implementasi)
Kamar Dagang
Serikat Buruh
Peradilan
Polisi
Sumber: Tarigan,2009
Klasifikasi tipe keterkaitan di atas didasarkan pada pendekatan Urban
Functions in Rural Development (UFRD). Keterkaitan tersebut terkadang bersifat
satu arah seperti keterkaitan ekonomi atau fisik, tetapi bisa juga bersifat kausal
seperti keterkaitan transportasi dengan jasa transportasi, produksi, dan fasilitas
penyampaian jasa. Tipe keterkaitan juga berkaitan dengan tingkat kemajuan
suatu masyarakat. Pada saat daerah yang relatif terbelakang masih
mengandalkan keterkaitan konsumsi dan jasa tradisional, wilayah yang sudah
maju lebih terfokus pada keterkaitan produksi dengan keterkaitan ke depan
(forward lingkage) dan ke belakang (backward lingkage) yang kompleks.
Sementara itu, keterkaitan finansial akan melanda semua wilayah bersamaan
meningkatnya proses desentralisasi (otonomi).
Bersamaan dengan dinamika pembangunan, keterkaitan desa-kota
mengalami perubahan substansi dan bentuk. Sehingga selalu terdapat berbagai
variasi keterkaitan. Hal itu sangat bergantung pada faktor pembangunan sosial,
ekonomi, dan politik di wilayah bersangkutan. Untuk itu, keterkaitan perlu
diperlakukan sesuai kondisi suatu wilayah tanpa perlu menerapkan generalisasi.
Keterkaitan desa-kota perlu dipahami dalam suatu rentang wilayah yang relatif
tanpa batas. Semuanya harus diperhatikan dan diperlakukan sebagai satu
kesatuan. Kecenderungan lama akan pengkotak-kotakan analisis perlu segera
ditinggalkan.
3.2 METODE PENDEKATAN
Dalam perumusan metode pendekatan (nama dokumen) terdapat
beberapa pertimbangan (fakta dan asumsi) yang perlu diperhatikan, yaitu:
a. Sesuai dengan ketentuan perangkat perencanaan tata ruang, baik dalam
bentuk RTRW, RUTRK, maupun RDTRK
b. Mengukuti aturan dan dasar penyusunan yang sudah ditetapkan dalam
peraturan dan perundag-undangan.
c. Dapat dipergunakan sebagai bahan dalam proses perizinan
Penyusunan (nama dokumen) merupakan suatu proses yang saling
berhubungan dan membentuk suatu elemen perencanaan dari taha awal hingga
tahap akhir yang berbentuk konsep rencana. Rangkaian sistem dalam elemen
tersebut disusun secara struktural dan sistematis hingga membentuk suatu
dokumen yang rapi dan sistematis dengan kerangka kerja dan pola piker yang
terarah. Selanjutnya akan tampak kedudukan, fungsi, peranan, dan keterkaitan
antar elemen dalam seluruh rangkaian proses kerja.
M
e
t
o
d
o
l
o
g
i

P
e
r
e
n
c
a
n
a
a
n

25

Berikut mekanisme perencanaan proses kerja dalam penyusunan (nama
dokumen).
a. Input : tahap memasukkan data yang dibutuhkan untuk kegiatan proses
analisa.
b. Proses : tahap pengkajian dan analisa terhadap data-data yang teah
didapat. Dalam tahap ini, peru diidentifikasi potensi dan masalah sebagai
pertimbangan dalam perumusan rencana.
c. Output : tahap akhir pekerjaan yang menghasilkan sebuah rencana yang
sesuai dengan tujuan kawasan.
3.3 METODOLOGI PENGUMPULAN DATA DAN ALAT ANALISA
Proses pengumpulan data dalam mendukung kegiatan penyusunan
Rencana Pengembangan Desa-Kota Kab./Kota Pasuruan meliputi kegiatan
pengumpulan data dan informasi dengan menggunakan teknik survei primer
maupun sekunder yang mencakup data-data dan peta dengan skala 1:25.000.
Pengumpulan data tersebut akan disesuaikan dengan alat analisis yang digunakan
sehingga hasil yang didapatkan lebih terfokus pada tujuan perencanaan. Hasil
dari analisis data disajikan dalam bentuk uraian, gambar, bagan, ataupun peta.
Alat analisis dan data yang diperlukan meliputi:
A. Data Karakteristik Ekonomi
Tipe
Keterkaitan
Elemen Analisis Kebutuhan Data
Metode
Pengumpulan
Data
Alat Analisis
Keterkaitan
Ekonomi
Aliran bahan
mentah dan
barang antara
Analisis
keterkaitan
produksi
Jumlah produksi
sektor pertanian
Pola pergerakan
bahan mentah
dan barang
antara
Survei Primer
(Observasi,
wawancara)
Survei Sekunder
Analisis Linkage
System Keterkaitan
produksi
Pola pasar
Aliran modal
dan
pendapatan
Analisis
tingkat modal
dan
pendapatan
Tingkat
Pendapatan
masyarakat
Survei Sekunder Analisis regresi
Aliran
komoditas
sektoral dan
interregional
Analisis
keterkaitan
sektoral
Data Input-Output
Sektor Pertanian
Kabupaten
Pasuruan
Survei Sekunder
Analisis Input-
Output
Keterkaitan
silang






M
e
t
o
d
o
l
o
g
i

P
e
r
e
n
c
a
n
a
a
n

26

B. Data Karakteristik Penduduk
Tipe
Keterkaitan
Elemen Analisis Data Yang
Dibutuhkan
Metode
Pengumpulan
Data
Alat Analisis
Keterkaitan
mobilitas
penduduk
Pola migrasi Proyeksi jumlah
penduduk,
jumlah
penduduk
migrasi
Jumlah
penduduk
yang migrasi
ke Kabupaten
Pasuruan
Jumlah
penduduk
yang migrasi
ke Kabupaten
Pasuruan
Survey primer
(Pengamatan/
observasi
lapangan)

Perhitungan
matematis Perjalanan ke
tempat kerja
Keterkaitan
interaksi sosial
Pola
kunjungan
Pola Kekera-
batan
Ritual,
aktivitas
agama
Interaksi
kelompok
sosial
Analisa perilaku
sosial dan
interaksi sosial
hubungan
sosial antar
warga
kegiatan adat
istiadat
interaksi
antar
kelompok
Content
analysis

C. Data Karakteristik Sarana Prasarana
Tipe
Keterkaitan
Elemen Analisis Data Yang
Dibutuhkan
Metode
Pengumpulan
Data
Alat Analisis
Keterkaitan fisik Irigasi Proyeksi
kebutuhan
fasilitas dan
utilitas
- Data jumlah
dan kondisi
eksisting
utilitas &
fasilitas
- Pedoman
Standar
Pelayanan
Minimal
- Jumlah
penduduk
Survey primer
(Pengamatan/
observasi
lapangan)
Survey
Sekunder
( BPS
Kabupaten
Pasuruan &
Kota Pasuruan,
SPM)
Perhitungan
matematis Keterkaitan
teknologi
Interdependensi
teknologi
Sistem
telekomunikasi
Ketersediaan
penyediaan
pelayanan
Keterkaitan
fasilitas umum

D. Data Karakteristik Transportasi
Tipe
Keterkaitan
Elemen Analisis Data Yang Dibutuhkan Metode
Pengumpulan
Data
Alat Analisis
Keterkaitan
Fisik
Jalan
Angkutan
kereta
api

Level of
Service
Data Kapasitas dan
Volume Jalan
Survey primer
(Pengamatan/
observasi di
lapangan)

Survey
Perhitungan
matematis
Data karakter geometri
jalan
(Rumija, Rumaja, dan
Ruwasja)
27

Tipe
Keterkaitan
Elemen Analisis Data Yang Dibutuhkan Metode
Pengumpulan
Data
Alat Analisis
Data permasalahan
transportasi (hambatan
samping, PKL,
penyempitan jalan)
Sekunder
(DLLAJ
Kabupaten
Pasuruan &
Kota Pasuruan)

Deskriptif
Kualitatif
Data sarana dan
prasarana transportasi
Analisis
deskriptif
kualitatif
Data kelas dan fungsi
jalan
Data arah pergerakan
(Origin and Destination)
Data tempat parkir

E. Data Karakteristik Penggunaan Lahan
Tipe
Keterkaitan
Elemen Analisis Kebutuhan Data
Metode
Pengumpulan
Data
Alat Analisis
Kombinasi antar
tipe keterkaitan
fisik, ekonomi,
penyediaan
pelayanan, dan
interaksi sosial
Elemen fisik,
misalnya jalan
dan kondisi
ekologi
Pola pasar
dan
keterkaitan
produksi
Aktivitas
sosial
masyarakat
Ketersediaan
sarana
wilayah
Analisis
Kesesuaian
lahan
Peta Topografi Survei
Instansional
Observasi
Lapangan
Analisis
Spasial
berbasis SIG
Peta Geologi
Peta Hidrologi
Peta Kemiringan
Lahan
Peta Penggunaan
Lahan Eksisting
Analisis
Kebutuhan
lahan
Peta Penggunaan
Lahan Eksisting
Analisis
Spasial
berbasis SIG
Jumlah Penduduk
Proyeksi
F. Data Statistika Pertanian
TIPE
KETERKAITAN
ELEMEN
ALAT ANALISIS DATA YANG DIBUTUHKAN SUMBER DATA
Keterkaitan
Ekonomi
Keterkaitan
Produksi
Keunggulan
komoditas sektor
pertanian (Analisis
LQ)
1. Sektor Tanaman Bahan
Makanan
Luas Panen,
Produksi, dan
Produktivitas
2. Sektor Tanaman
Perkebunan
Luas Areal dan
Produksi Komoditi
3. Sektor Peternakan
Banyaknya ternak
dan unggas
4. Sektor Perikanan
Luas Areal Budidaya
Perikanan dan
Badan Pusat
Stratistik Kab./Kota
Pasuruan
Aliran
Komoditas
Sektoral dan
interregional
Peranan sektor
pertanian pada
perekonomian
daerah (Analisis
Shift Share)

28

TIPE
KETERKAITAN
ELEMEN
ALAT ANALISIS DATA YANG DIBUTUHKAN SUMBER DATA
Periran
Produksi Perikanan
5. Sektor Kehutanan
Luas Hutan Lindung
Kemudian, dari hasil analis yang telah dilakukan di atas, maka dilakukan
analisis keterkaitan antara desa-kota. Berikut merupakan metode dan teknik
dalam melakukan analisis keterkaitan desa-kota.
Tabel 3.1 Analisis Keterkaitan Desa-Kota
ANALISIS SUMBER DAYA REGIONAL Melakukan analisis terhadap hasil dari analisis
ekonomi dan penggunaan lahan (analisis daya
tampung lahan dan kesesuaian lahan)
ANALISIS SISTEM PERMUKIMAN - Analisis fungsional atas permukiman
- Analisis perubahan demografis (menunjukkan
perubahan atas pentingnya kota)
ANALISIS KETERKAITAN DAN INTERAKSI
SPASIAL
- Studi tentang Pusat Pasar
- Aliran dan Keterkaitan Transportasi
- Studi tentang Interaksi Sosial (migrasi permanen
dan temporer)
- Aksesibilitas pelayanan sosial dan ekonomi.
KERANGKA KERJA INSTITUSIONAL UNTUK
MENGIMPLEMENTASIKAN PROGRAM
PEMBANGUNAN DESA-KOTA
-Kapasitas administrasi
-Kebijakan dan prospek desentralisasi

3.4 METODE PERUMUSAN RENCANA
Perumusan Rencana Pengembangan Desa-Kota Kab./Kota Pasuruan diawali
dengan identifikasi potensi dan masalah pemanfaatan ruang. Identifikasi potensi
dan masalah pemanfaatan ruang. Identifikasi potensi dan masalah pemanfaatan
ruang tidak haya mencakup perhatian pada masa sekarang namun juga potensi
dan masalah yang akan timbul di masa yang akan datang. Identifikasi potensi dan
masalah tersebut membutuhkan komunikasi antara perencana dengan
masyarakat yang akan terpengaruh oleh rencana. Rumusan Rencana
Pengembangan Desa-Kota Kab./Kota Pasuruan mencakup:
Metode Perumusan Rencana Struktur Ruang;
Metode Perumusan Rencana Pola Ruang;
Metode Perumusan Rencana Sistem Transportasi;
Metode Perumusan Rencana Sistem Layanan Prasarana;
Metode Perumusan Rencana Sistem Layanan Sarana; dan
Metode Perumusan Rencana Intensitas Pemanfaatan Ruang






29

BAB 4
RENCANA KERJA
4.1 TAHAPAN PELAKSANAAN PEKERJAAN
4.1.1 Tahap Persiapan
Tahap persiapan merupakan kegiatan berupa pengkajian data atau informasi
berdasarkan literatur serta penentuan deliniasi wilayah perencanaan. Dalam
tahap persiapan, kegiatan yang dilakukan antara lain:
Identifikasi lokasi, gambaran permasalahan serta kebutuhan data
Menyusun metode dan rencana kerja
Tersusunnya rencana pelaksanaan survei
Tersusunnya delineasi awal wilayah perencanaan
4.1.2 Tahap Survei dan Penelitian
Tahap ini bertujuan untuk mengidentifikasi kondisi awal wilayah dan
kecenderungan perkembangan wilayah. Data dan informasi dapat diperoleh
berdasarkan periode waktu. Data dan informasi dapat diperoleh melalui dua
proses, yaitu survei primer dan survei sekunder.
Survei primer yaitu kegiatan yang mengidentifikasi kondisi faktual di
lapangan serta isu, potensi dan permasalahan yang ada. Sedangkan, survei
sekunder merupakan kegiatan pengumpulan data yang diperoleh berdasarkan
instansional dinas-dinas, instansi dan lembaga terkait di wilayah perencanaan.
Kegiatan yang dilakukan pada tahapan ini antara lain:
Memperoleh data dan informasi yang dibutuhkan;
Merumuskan potensi, permasalahan, peluang serta hambatan terkait
pengembangan wilayah perbatasan; dan
Merumuskan kebijakan terkait isu strategis dan potensi wilayah
perencanaan.
4.1.3 Tahap Pengolahan Data dan Analisis
Tahapan analisa merupakan prediksi kebutuhan ruang berdasarkan metode
dan kriteria perencanaan serta hasil kompilasi data yang telah didapatkan
sebelumnya. Berikut ini merupakan aspek-aspek yang perlu dianalisis:
Analisis potensi dan permasalahan di wilayah Kabupaten Pasuruan dan Kota
Pasuruan;
Analisis isu prioritas; dan
Analisa pengembangan wilayah desa-kota
4.1.4 Tahap Perumusan Rencana
Tahap perumusan rencana merupakan tahapan untuk menentukan laporan
rencana, pada tahap ini analisa dan permodelan dilakukan untuk merumuskan
R
e
n
c
a
n
a

K
e
r
j
a

30

konsep-konsep alternatif dalam mengembangkan wilayah perencanaan. Kegiatan
yang dilakukan pada tahap ini adalah:
Mengidentifikasi solusi penanganan permasalahan di wilayah perencanaan;
dan
Merumuskan konsep rencana pengembangan wilayah desa-kota di
Kabupaten dan Kota Pasuruan.

31

4.2 RENCANA KERJA
Tabel 4.1 Jadwal Waktu Pelaksanaan

No Kegiatan Utama Kegiatan
Bulan
I II III IV V
1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2
1


Tahap Persiapan a. Kajian teori
b. Deliniasi wilayah
c. Persiapan survei
d. Penyusunan Laporan Pendahuluan
e. Pengumpulan Laporan Pendahuluan
2 Tahap
pengumpulan Data
a. Survey instansional
b. Survey pengamatan lapangan
3 Tahap Pengolahan
Data dan Analisis
Pengolahan data
Analisis data
Penyusunan Laporan Fakta Analisa
Pengumpulan Laporan Fakta Analisa
4 Tahap Perumusan
Rencana
Finalisasi Rencana
Pembuatan Album Peta
Penyusunan Laporan Rencana
Presentasi Laporan Rencana
Pengumpulan Laporan Rencana
32

BAB 5
STRUKTUR ORGANISASI
5.1 ORGANISASI PELAKSANAAN PEKERJAAN
Keberadaan organisasi pelaksana ini dalam kegiatan penyusunan Rencana
Pengembangan Desa-Kota Kab./Kota Pasuruan dimaksudkan agar:
Terjadi kesinambungan pekerjaan antara tenaga ahli dengan koordinator tim
(team leader)
Terjadi suatu kegiatan yang sistematis dan teratur sehingga hasil yang
didapat efektif, efisien dan tepat waktu sesuai dengan tenggat waktu yang
diberikan
Biaya finansial pelaksanaan kegiatan dapat terkoordini dengan baik dan
efektif penggunaannya
Sesuai dengan aturan yang ada dalam Kerangka Acuan Kerja (KAK) maka
dalam pelaksanaan pekerjaan ini dibutuhkan struktur organisasi yang sederhana
namun kompak serta dapat berperan dalam pelaksanaan kerja. Struktur
organisasi pelaksanaan pekerjaan dapat dilihat pada sistematika berikut ini. Pada
prinsipnya pelaksanaan ini dipimpin oleh seorang team leader/ketua tim. Tenaga
ahli yang dibutuhkan antara lain:
A. Ahli tata ruang
B. Ahli transportasi
C. Ahli sarana prasarana
D. Ahli sosial dan kependudukan
E. Ahli ekonomi
F. Ahli statistik petanian
5.2 KOMPOSISI TENAGA AHLI
5.2.1 Identitas Tenaga Ahli
Susunan personil yang kami tugaskan apabila kami ditunjuk dalam
pelaksanaan pekerjaan penyususan Rencana Pengembangan Desa-Kota Kab./Kota
Pasuruan antara lain:
Tabel 5.1 Posisi dan Nama Personil dalam Penyusunan
NO. POSISI NAMA PERSONIL
1. Ahli Tata Ruang Sarita Novie Damayanti
2. Ahli Transportasi Ginanjar Prayogo
3. Ahli Sarana Prasarana Dian Septa Rianti
4. Ahli Sosial dan Kependudukan Gede Yoga Arya
5. Ahli Ekonomi Yasser Basuwendro
6. Ahli Statistik Pertanian Dwi Putri Heritasari
Sumber: Hasil Analisa, 2014

S
t
r
u
k
t
u
r

O
r
g
a
n
i
s
a
s
i

33

5.2.2 Tugas dan Tanggungjawab Tenaga Ahli
Berikut adalah penjelasan tugas pokok masing-masing tenaga ahli yang kami
tugaskan dalam penyusunan Rencana Pengembangan Desa-Kota Kab./Kota
Pasuruan.
A. Ahli Tata Ruang
Adalah seorang mahasiswa peserta mata kuliah Perencanaan Kota dan
Studio Perencanaan Kota pada Program Studi Perencanaan Wilayah dan Kota
Institut Teknologi Sepuluh Nopember.
Memimpin dan mengkoordinir seluruh kegiatan anggota tim kerja dalam
pelaksanaan pekerjaan sampai pekerjaan selesai.
Menyusun skenario perencanaan yang akan dilakukan di dalam wilayah
perencanaan.
Menyusun konsep perencanaan yang akan dilakukan di dalam wilayah
perencanaan.
Menyusun strategi penataan ruang yang akan dilakukan di dalam wilayah
perencanaan.
Menyusun rencana pemanfaatan ruang dan rencana implementasi penataan
ruang di dalam wilayah perencanaan.
Menyusun rencana pola ruang dan struktur ruang.
B. Ahli Statistika Pertanian
Merupakan seorang mahasiswa mata kuliah Perencaan Wilayah dan Studio
Perencanaan Wilayah pada Program Studi Perencanaan Wilayah dan Kota Institut
Teknologi Sepuluh Nopember. Tugas-tugas Ahli Tata Ruang adalah sebagai
berikut::
Menganalisa, mengorganisasikan, menafsirkan, menyimpulkan data berupa
angka terkait hasil pertanian, komoditas pertanian yang dapat membantu
meningkatkan perekonomian wilayah

C. Ahli Transportasi
Merupakan seorang mahasiswa mata kuliah Perencaan Wilayah dan Studio
Perencanaan Wilayah pada Program Studi Perencanaan Wilayah dan Kota Institut
Teknologi Sepuluh Nopember. Tugas-tugas Ahli Transportasi adalah sebagai
berikut:
Mengidentifikasi potensi beserta permasalahan yang berkaitan dengan
transportasi di dalam wilayah perencanaan.
Menyusun rencana sistem transportasi di dalam wilayah perencanaan.
D. Ahli Sarana Prasarana
Merupakan seorang mahasiswa mata kuliah Perencaan Wilayah dan Studio
Perencanaan Wilayah pada Program Studi Perencanaan Wilayah dan Kota Institut
Teknologi Sepuluh Nopember. Tugas-tugas Ahli Prasarana adalah sebagai berikut:
Mengidentifikasi potensi serta permasalahan yang berkaitan dengan air
bersih, sanitasi, drainase, listrik, persampahan, dan pembuangan limbah di
dalam wilayah perencanaan serta ketersediaan sarana.
R
e
n
c
a
n
a

K
e
r
j
a

34

Menyusun rencana sistem penyediaan prasarana dan sarana di dalam
wilayah perencanaan.
E. Ahli Kependudukan
Adalah seorang mahasiswa peserta mata kuliah Perencanaan Kota dan
Studio Perencanaan Kota pada Program Studi Perencanaan Wilayah dan Kota
Institut Teknologi Sepuluh Nopember. Uraian tugas sebagai Ahli Kependudukan
adalah sebagai berikut:
Mengidentifikasi potensi yang berkaitan dengan sosial dan kependudukan di
dalam kawasan perencanaan;
Mengidentifikasi permasalahan yang berkaitan dengan sosial dan
kependudukan di dalam kawasan perencanaan;
Menganalisis aspek sosial dan kependudukan yang berkaitan dengan sosial
dan kependudukan di dalam kawasan perencanaan; dan
Menyusun rencana kependudukan di dalam kawasan perencanaan.










Gambar 5.1 Struktur Organisasi






Team Leader/Ahli Tata
Ruang
Sarita Novie
Ahli Ekonomi
Yasser Basuwendro


Ahli Transportasi
Ginanjar Prayogo


Ahli Statistik
Pertanian
Dwi Putri Heritasari


Ahli Sarana
Prasarana
Dian Septa Rianti


Ahli
Kependudukan
Gede Yoga Arya


R
e
n
c
a
n
a

K
e
r
j
a

35

Tabel 5.2 Desain Survei
ASPEK DATA YANG
DIBUTUHKAN
SUMBER DATA METODE PENGAMBILAN
DATA
ANALISIS DATA YANG
DIGUNAKAN
OUTPUT
EKONOMI
Aliran bahan mentah dan
barang antara
Jumlah produksi sektor
pertanian
Badan Pusat Statistik
Kabupaten Pasuruan
Survei Sekunder
Analisis keterkaitan
produksi
Pola keterkaitan produksi
dan pasar
Keterkaitan produksi
Pola pergerakan bahan
mentah dan barang
antara
Masyarakat
Survei Primer (Observasi,
wawancara)


Pola pasar
Aliran modal dan
pendapatan
Tingkat pendapatan
masyarakat
Badan Pusat Statistik
Kabupaten Pasuruan
Survei Sekunder
Analisis tingkat modal dan
pendapatan
Tingkat kesejahteraan
masyarakat
Tingkat kelayakan
investasi
Aliran komoditas sektoral
dan interregional
Data Input-Output Sektor
Pertanian Kabupaten
Pasuruan
Badan Pusat Statistik
Kabupaten Pasuruan
Survei Sekunder
Analisis keterkaitan
sektoral
Hubungan antar sektor
dalam skala regional
Keterkaitan silang
KEPENDUDUKAN
Pola migrasi Jumlah penduduk yang
migrasi ke Kabupaten
Pasuruan
Jumlah penduduk yang
migrasi ke Kabupaten
Pasuruan
Masyarakat

Survei Primer
Proyeksi jumlah
penduduk, jumlah
penduduk migrasi
Proyeksi jumlah
penduduk migrasi dalam
20 tahun kedepan
Perjalanan ke tempat
kerja
Pola kunjungan
Pola Kekera-batan
Ritual, aktivitas agama
Interaksi kelompok
sosial
hubungan sosial antar
warga
kegiatan adat istiadat
interaksi antar
Analisa perilaku sosial dan
interaksi sosial
Pola perilakus sosial
masyarakat
SARANA PRASARANA
Irigasi - Data jumlah dan kondisi
eksisting utilitas &
fasilitas
- Pedoman Standar
Pelayanan Minimal
Badan Pusat Statistik
Kabupaten Pasuruan
Survei Sekunder
Proyeksi kebutuhan
fasilitas dan utilitas
Proyeksi kebutuhan
fasilitas dan utilitas dalam
20 tahun kedepan
Interdependensi teknologi
Sistem telekomunikasi
Keterkaitan fasilitas
umum
36

Jumlah penduduk
TRANSPORTASI
Jalan
Angkutan kereta api
Data Kapasitas dan
Volume Jalan
Lapangan Survei Primer
Level of Service
Tingkat Pelayanan jalan di
kabupaten Pasuruan
Data karakter geometri
jalan
(Rumija, Rumaja, dan
Ruwasja)
Data permasalahan
transportasi (hambatan
samping, PKL,
penyempitan jalan)
Data sarana dan
prasarana transportasi
DLLAJ Kabupaten
Pasuruan
Survei Sekunder
Deskriptif Kualitatif
Proyeksi Kebutuhan
Transportasi
Data kelas dan fungsi
jalan
Data tempat parkir
Data arah pergerakan
(Origin and Destination)
Proyeksi Pola Pergerakan
PENGGUNAAN LAHAN
Elemen fisik, misalnya
jalan dan kondisi ekologi
Pola pasar dan
keterkaitan produksi
Aktivitas sosial
masyarakat
Peta Topografi
BMKG Jawa Timur Survei Sekunder
Analisis Kesesuaian Lahan
Peta Kesesuaian Lahan
Peta Kemampuan Lahan
Peta Geologi
Peta Hidrologi
Peta Kemiringan Lahan
Peta Penggunaan Lahan
Eksisting
Lapangan Survei Primer
Ketersediaan sarana
wilayah
Peta Penggunaan Lahan
Eksisting
Lapangan Survei Primer
Jumlah Penduduk
Proyeksi
Badan Pusat Statistik
Kabupaten Pasuruan
Survei Sekunder Analisis Kebutuhan lahan
Proyeksi Kebutuhan
Lahan
STATISTIK PERTANIAN
37

Keterkaitan Produksi
Aliran Komoditas Sektoral
dan interregional
Sektor Tanaman Bahan
Makanan
Luas Panen,
Produksi, dan
Produktivitas

Badan Pusat Statistik
Kabupaten Pasuruan
Survei Sekunder
Keunggulan komoditas
sektor pertanian
(Analisis LQ)
Peranan sektor
pertanian pada
perekonomian daerah
(Analisis Shift Share)
Sektor-sektor unggulan di
Kabupaten pasuruan
Klasifikasi daerah
berdasarkan Tipologi
Klassen
Sektor Peternakan
Banyaknya ternak
dan unggas
Sektor Tanaman
Perkebunan
Luas Areal dan Produksi
Komoditi
Sektor Perikanan
Luas Areal
Budidaya
Perikanan dan
Periran
Produksi Perikanan
Sektor Kehutanan
Luas Hutan
Lindung