Anda di halaman 1dari 17

FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK

UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH JAKARTA






KATA PENGANTAR
Puji syukur Saya penjatkan kehadirat Allah SWT, yang atas rahmat-Nya
sehingga Saya dapat menyelesaikan penyusunan makalah yang berjudul
Persiapan Partai Politik Menghadap Pemilu2014, Tinjuang Secara Yuridis
(Hukum). Penulisan makalah ini merupakan salah satu tugas yang
diberikan dalam mata kuliah Sistem Hukum Indonesia di Universitas
Muhammadiyah Jakarta.

Dalam Penulisan makalah ini Saya merasa masih banyak kekurangan baik
pada teknis penulisan maupun materi, mengingat akan kemampuan yang
Saya miliki. Untuk itu, kritik dan saran dari semua pihak sangat Saya
harapkan demi penyempurnaan pembuatan makalah ini.

Dalam penulisan makalah ini penulis menyampaikan ucapan terima kasih
yang sebesar-besarnya kepada pihak-pihak yang membantu dalam
menyelesaikan makalah ini, khususnya kepada Dosen Saya yang telah
memberikan tugas dan petunjuk kepada Saya, sehingga Saya dapat
menyelesaikan tugas ini.

Jakarta, 09 Janauri 2014

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR
BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
BAB II PEMBAHASAN
Tinjauan Umum Tentang Dewan Perwakilan Daerah Republik Indonesia (
DPD RI)
Keanggotaan DPD
Fungsi, Tugas dan Wewenang DPD
Tinjauan Politis
Daftar Pemilih tidak akurat
Tinjauan yuridis
BAB III
REFERENSI











BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang

Sebagaimana diamanatkan Undang-Undang Dasar Negara Republik
Indonesia Tahun 1945, wilayah kesatuan Republik Indonesia dibagi atas
daerah provinsi dan daerah provinsi dibagi lagi atas daerah kabupaten dan
kota, yang masing-masing sebagai daerah otonomi. Sebagai daerah otonomi,
daerah provinsi, kabupaten/kota memiliki pemerintahan daerah yang
melaksanakan, fungsi-fungsi pemerintahan daerah, yakni Pemerintahan
Daerah dan DPRD. Kepala Daerah adalah Kepala Pemerintahan Daerah
baik didaerah provinsi, maupun kabupaten/kota yang merupakan lembaga
eksekutif di daerah, sedangkan DPRD, merupakan lembaga legislatif di
daerah baik di provinsi, maupun kabupaten/kota. Kedua-duanya dinyatakan
sebagai unsur penyelenggaraan pemerintahan di daerah (Pasal 40 UU No.
32/2004) .

Sejalan dengan semangat desentralisasi, sejak tahun 2005 Pemilu Kepala
Daerah dilaksanakan secara langsung (Pemilukada/Pilkada). Semangat
dilaksanakannya pilkada adalah koreksi terhadap system demokrasi tidak
langsung (perwakilan) di era sebelumnya, dimana kepala daerah dan wakil
kepala daerah dipilih oleh DPRD, menjadi demokrasi yang berakar
langsung pada pilihan rakyat (pemilih). Melalui pilkada, masyarakat sebagai
pemilih berhak untuk memberikan suaranya secara langsung sesuai dengan
kehendak hati nuraninya, tanpa perantara, dalam memilih kepala daerah.

Dalam rangka penyelenggaraan pemerintahan daerah diterapkan prinsip
demokrasi. Sesuai dengan pasal 18 ayat 4 UUD 1945, kepala daerah dipilih
secara demokratis. Dalam UU NO.32 Tahun 2004, tentang Pemerintahan
Daerah, diatur mengenai pemilihan kepala daerah dan wakil kepala daerah
yang dipilih secara langsung oleh rakyat, yang diajukan oleh partai politik
atau gabungan parpol. Sedangkan didalam perubahan UU No.32 Tahun
2004, yakni UU No.12 Tahun 2008, Pasal 59 ayat 1b, calon kepala daerah
dapat juga diajukan dari calon perseorangan yang didukung oleh sejumlah
orang. Secara ideal tujuan dari dilakukannya pilkada adalah untuk
mempercepat konsolidasi demokrasi di Republik ini. Selain itu juga untuk
mempercepat terjadinya good governance karena rakyat bisa terlibat
langsung dalam proses pembuatan kebijakan. Hal ini merupakan salah satu
bukti dari telah berjalannya program desentralisasi. Daerah telah memiliki
otonomi untuk mengatur dirinya sendiri , bahkan otonomi ini telah sampai
pada taraf otonomi individu .

Selain semangat tersebut, sejumlah argumentasi dan asumsi yang
memperkuat pentingnya pilkada adalah: Pertama, dengan Pilkada
dimungkinkan untuk mendapatkan kepala daerah yang memiliki kualitas
dan akuntabilitas. Kedua, Pilkada perlu dilakukan untuk menciptakan
stabilitas politik dan efektivitas pemerintahan di tingkat lokal. Ketiga,
dengan Pilkada terbuka kemungkinan untuk meningkatkan kualitas
kepemimpinan nasional karena makin terbuka peluang bagi munculnya
pemimpin-pemimpin nasional yang berasal dari bawah dan/atau daerah.

Sejak diberlakukannya UU No.32 Tahun 2004, mengenai Pilkada yang
dipilih langsung oleh rakyat, telah banyak menimbulkan persoalan,
diantaranya waktu yang sangat panjang, sehingga sangat menguras tenaga
dan pikiran, belum lagi biaya yang begitu besar , baik dari segi politik (issue
perpecahan internal parpol, issue tentang money politik, issue kecurangan
dalam bentuk penggelembungan suara yang melibatkan instansi resmi) ,
social (issue tentang disintegrasi social walaupun sementara, black
campaign dll.) maupun financial. Hal ini kita lihat pada waktu pemilihan
kepala daerah di sejumlah daerah seperti di Sulawesi Selatan dan Jawa
Timur. Di Sulsel, pemilihan gubernur langsung diselenggarakan sebanyak
dua putaran karena ketidakpuasan salah satu calon atas hasil penghitungan
suara akhir.

Masalah pemenangan Pilkada mengandung latar belakang
multidimensional. Ada yang bermotif harga diri pribadi (adu popularitas);
Ada pula yang bermotif mengejar kekuasaan dan kehormatan; Terkait juga
kehormatan Parpol pengusung; Harga diri Ketua Partai Daerah yang sering
memaksakan diri untuk maju. Di samping tentu saja ada yang mempunyai
niat luhur untuk memajukan daerah, sebagai putra daerah. Dalam kerangka
motif kekuasaan bisa difahami, karena politics is the struggle over
allocation of values in society.(Politik merupakan perjuangan untuk
memperoleh alokasi kekuasan di dalam masyarakat). Pemenangan
perjuangan politik seperti pemilu legislative atau pilkada eksekutif sangat
penting untuk mendominasi fungsi-fungsi legislasi, pengawasan budget dan
kebijakan dalam proses pemerintahan (the process of government) . Dalam
kerangka ini cara-cara lobbying, pressure, threat, batgaining and
compromise seringkali terkandung di dalamnya. Namun dalam Undang-
undang tentang Partai Poltik UU No. 2/2008, yang telah dirubah dengan
UU No.2 Tahun 2011, selalu dimunculkan persoalan budaya dan etika
politik. Masalah lainnya sistem perekrutan calon KDH (Bupati, Wali kota,
Gubernur) bersifat transaksional, dan hanya orang-orang yang mempunyai
modal financial besar, serta popularitas tinggi, yang dilirik oleh partai
politik, serta beban biaya yang sangat besar untuk memenangkan
pilkada/pemilukada, akibatnya tidak dapat dielakan maraknya korupsi di
daerah, untuk mengembalikan modal politik sang calon,serta banyak Perda-
Perda yang bermasalah,dan memberatkan masyarakat dan iklim investasi.

BAB II PEMBAHASAN
Tinjauan Umum Tentang Dewan Perwakilan Daerah Republik Indonesia (
DPD RI)
Sejalan dengan tuntutan demokrasi guna memenuhi rasa keadilan
masyarakat di daerah, memperluas serta meningkatkan semangat dan
kapasitas partisipasi daerah dalam kehidupan nasional serta memperkuat
Negara Kesatuan Republik Indonesia, maka dalam rangka pembaharuan
konstitusi, MPR membentuk sebuah lembaga perwakilan baru, yaitu Dewan
Perwakilan Daerah ( DPD). Pembentukan DPD dilakukan melalui
perubahan ketiga Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun
1945 pada bulan November 2001.
a. Keanggotaan DPD
Berdasarkan Pasal 22 C ayat (1) : Anggota Dewan Perwakilan Daerah
dari setiap provinsi melalui pemilihan umum, maka keanggotaan DPD
untuk pertama kalinya dipilih pada Pemilihan Umum Tahun 2004, yaitu
berjumlah 128 orang yang terdiri atas 4 orang dari tiap provinsi pada
sebanyak 32 provinsi. Hal ini ditegaskan pada Pasal 22 C ayat (2) :
Anggota Dewan Perwakilan Daerah dari setiap provinsi jumlahnya sama
dan jumlah seluruh anggota Dewan Perwakilan Daerah itu tidak lebih dari
sepertiga jumlah anggota Dewan Perwakilan Rakyat. Anggota DPD
merupakan orang-orang independen yang bukan berasal dari partai politik
tetapi berasal dari berbagai latar belakang misalnya pengacara, pengusaha,
tokoh masyarakat dan sebagainya.
b. Fungsi, Tugas dan Wewenang DPD
Sesuai dengan konstitusi, Dewan Perwakilan Daerah (DPD) memiliki
fungsi, tugas dan wewenang sebagai berikut :
Pasal 22 D UUD 1945, berbunyi :
1)Dewan Perwakilan Daerah dapat mengajukan kepada Dewan Perwakilan
Rakyat rancangan undang-undang yang berkaitan dengan otonomi daerah,
hubungan pusat dan daerah, pembentukan dan pemekaran serta
penggabungan daerah, pengelolaan sumber daya alam dan sumberdaya
ekonomi lainnya, serta yang berkaitan dengan perimbangan keuangan pusat
dan daerah.
2)Dewan Perwakilan Daerah ikut membahas rancangan undang-undang
yang berkaitan dengan otonomi daerah, hubungan pusat dan daerah,
pembentukan dan pemekaran serta penggabungan daerah, pengelolaan
sumber daya alam dan sumber daya ekonomi lainnya, serta memberikan
perimbangan keuangan pusat dan daerah, serta memberikan pertimbangan
kepada Dewan Perwakilan Rakyat atas rancangan undang-undang anggaran
pendapatan dan belanja negara dan rancangan undang-undang yang
berkaitan dengan pajak, pendidikan dan agama.
3)Dewan Perwakilan Daerah dapat melakukan pengawasan atas pelaksanaan
undang-undang mengenai: otonomi daerah, pembentukan, pemekaran dan
penggabungan daerah, hubungan pusat dan daerah, pengelolaan sumber
daya alam dan sumber daya ekonomi lainnya, pelaksanaan anggaran
pendapatan dan belanja negara, pajak, pendidikan dan agama serta
menyampaikan hasil pengawasannya itu kepada Dewan Perwakilan Rakyat
sebagai bahan pertimbangan untuk ditindaklanjuti.

Pengaturan lebih lanjut tugas dan wewenang DPD yaitu Pasal 42 s.d Pasal
47 UU No. 22 Tahun 2003 tentang Susunan Kedudukan MPR, DPR, DPD
dan DPRD, dengan rincian sebagai berikut :
1) DPD dapat mengajukan kepada DPR rancangan undang-unadang yang
berkaitan dengan otonomi daerah, hubungan pusat dan daerah, pembentukan
dan pemekaran dan penggabungan daerah, pengelolaan sumber daya alam
dan sumber daya ekonomi lainnya serta yang berkaitan dengan perimbangan
keuangan pusat dan daerah. ( Pasal 42 ayat (1) )
2)DPD ikut membahas rancangan undang-undang yang berkaitan dengan
otonomi daerah, hubungan pusat dan daerah, pembentukan, pemekaran dan
penggabungan daerah, pengelolaan sumber daya alam dan sumber daya
ekonomi lainnya serta yang berkaitan dengan keuangan perimbangan
keuangan pusat dan daerah, yang diajukan baik oleh DPR maupun oleh
pemerintah. (Pasal 43 ayat (1) )
3)DPD memberikan pertimbangan kepada DPR atas rancangan undang-
undang APBN dan rancangan undang-undang yang berkaitan dengan pajak,
pendidikan dan agama. (Pasal 44 ayat (1) )
4)DPD memberikan pertimbangan kepada DPR dalam pemilihan anggota
Badan Pemerikasa Keuangan. (Pasal 45 ayat (1) )
5)DPD dapt melakukan pengawasan atas pelaksanaan undang-undang
mengenai otonomi daerah, pembentukan, pemekaran dan penggabungan
daerah, hubungan pusat dan daerah, pengelolaan sumber daya alam, dan
sumber daya ekonomi lainnya, pelaksanaan APBN, pajak, pendidikan dan
agama (Pasal 46 ayat (1) )
6)DPD menerima hasil pemeriksaan keuangan dari Badan Pemeriksa
Keuangan untuk dijadikan bahan membuat pertimbangan bagi DPR tentang
Rancangan undang-undang yang berkaitan dengan APBN. ( Pasal 47 ayat
(1) )

Tinjauan Politis

1) Perkuatan sistem NKRI.
Sebagaimana yang diatur dalam UUD Negara Rl Tahun 1945 bahwa
Indonesia menganut bentuk Negara Kesatuan. Sistem ini bertujuan untuk
menghindari daerah otonom menjadi negara dalam negara, sehingga dengan
jumlah daerah otonom yang banyak dan luasnya wilayah NKRI, maka untuk
mengatasi rentang kendali pemerintahan diperlukan gubernur yang
mempunyai ikatan yang kuat dengan pemerintah. Ikatan yang kuat antara
pemerintah dengan gubernur akan dapat terwujud jika pemerintah
mempunyai peran menentukan terpilihnya gubernur. Untuk itu bagi
tegaknya NKRI pemilihan gubernur melalui perwakilan dan juga adanya
peran pemerintah dalam menentukan terpilihnya gubernur akan memililki
nilai yang lebih baik dibandingkan jika dipilih langsung.
2) Penataan posisi gubernur dan sumber legitimasi.
Pemilihan gubernur secara langsung oleh rakyat sama dengan pemilihan
bupati/walikota telah memposisikan gubernur setara dengan bupati/
walikota sebagai kepala daerah. Pandangan ini juga tercermin pada
perangkat daerah yang besar yang membantu gubernur setara atau bahkan
lebih besar dengan perangkat daerah yang membantu bupati/walikota,
padahal kewenangan gubernur sebagai kepala daerah sudah sangat minim.
Seiring dengan minimnya kewenangan gubernur sebagai kepala daerah dan
tugas berat sebagai wakil pemerintah, maka sumber legitimasi gubernur
akan lebih sesuai jika tidak langsung dari rakyat.

1. Daftar Pemilih tidak akurat.

Permasalahan daftar pemilih yang tidak akurat dalam Pilkada, sering
dijadikan oleh para pasangan calon yang kalah untuk melakukan gugatan.

Berdasar Pasal 47 UU No. 22 Tahun 2007 tentang Penyelenggara Pemilu
menyebutkan bahwa PPS mempunyai tugas dan wewenang antara lain
mengangkat petugas pemutakhiran data pemilih dan membantu KPU, KPU
Provinsi, KPU Kabupaten/Kota, PPK melakukan pemutakhiran data
pemilih, daftar pemilih sementara, daftar pemilih hasil perbaikan, dan daftar
pemilih tetap. Melalui pengaturan ini jika dalam pemutakhiran data pemilih,
melibatkan RT/RW sebagai petugas pemutakhiran, maka permasalahan data
pemilih yang tidak akurat akan dapat diminimalisir, karena RT/RW adalah
lembaga yang paling mengetahui penduduknya.
2. Proses pencalonan yang bermasalah
Permasalahan dalam pencalonan yang selama ini terjadi disebabkan oleh 2
(dua) hal yaitu konflik internal partai politik/gabungan partai politik dan
keberpihakan para anggota KPUD dalam menentukan pasangan calon yang
akan mengikuti Pilkada.

Secara yuridis pengaturan mengenai pencalonan Kepala Daerah dan Wakil
Kepala Daerah diatur dalam pasal 59 sampai dengan pasal 64 Undang-
Undang Nomor 32 Tahun 2004. Dari beberapa pasal tersebut memberikan
kewenangan yang sangat besar kepada KPUD dalam menerima pendaftaran,
meneliti keabsahan persyaratan pencalonan dan menetapkan pasangan
calon, yang walaupun ada ruang bagi partai politik atau pasangan calon
untuk memperbaiki kekurangan dalam persyaratan adminitrasi, namun
dalam praktek beberapa kali terjadi pada saat penetapan pasangan calon
yang dirugikan.

Pasal 59 ayat (5) huruf a Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004
menyatakan bahwa partai politik atau gabungan partai politik pada saat
mendaftarkan pasangan calon, wajib menyerahkan surat pencalonan
yang ditandatangani oleh pimpinan partai politik atau pimpinan partai
politik yang bergabung. Dalam tahapan ini kadang terjadi permasalahan di
internal partai politik, ketika calon yang diajukan oleh pimpinan partai
politik setempat berbeda dengan calon yang direkomendasikan oleh DPP
partai politik. Dalam permasalahan ini karena pimpinan partai politik
setempat tidak melaksanakan rekomendasi DPP partai politik,kemudian
diberhentikan sebagai pimpinan partai politik di wilayahnya dan menunjuk
pelaksana tugas pimpinan partai politik sesuai wilayahnya yang kemudian
juga meneruskan rekomendasi calon Kepala Daerah dan Wakil Kepala
Daerah namun ditolak KPUD dengan alasan partai politik tersebut melalui
pimpinan wilayahnya yang lama telah mengajukan pasangan calon. Pasal 61
ayat (4) Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 menyatakan bahwa
penetapan dan pengumuman pasangan calon oleh KPUD bersifat final dan
mengikat. Dalam hal KPUD tidak netral, ketentuan ini kadang
disalahgunakan untuk menggugurkan pasangan calon tertentu tanpa
dapat melakukan pembelaan, karena tidak ada ruang bagi pasangan calon
yang dirugikan untuk melakukan pengujian atas tindakan KPUD yang tidak
netral melalui pengadilan.

Untuk mengatasi kekurangan ini, ke depan perlu pasangan calon perlu diberi
ruang untuk mengajukan keberatan ke pengadilan, jika dalam proses
pencalonan dirugikan KPUD.

3.Pemasalahan pada Masa kampanye.
Pengaturan mengenai kampanye secara yuridis diatur dalam pasal 75 sampai
dengan pasal 85 Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 yaitu meliputi
pengaturan mengenai teknis kampanye, waktu pelaksanaan, pelaksana
kampanye, jadwal kampanye, bentuk dan media kampanye, dan larangan-
larangan selama pelaksanaan kampanye. Kandidat dan tim kampanyenya
cenderung mencari celah pelanggaran yang menguntungkan dirinya.

Pasal 75 ayat (2) berbunyi dimaksud pada ayat (1) dilakukan selama 14
(empat belas) hari dan berakhir 3 (tiga) hari sebelum hari pemungutan
suara", dengan terbatasnya waktu untuk kampanye maka sering terjadi curi
start kampanye dan kampanye diluar waktu yang telah ditetapkan.

Kampanye yang diharapkan dapat mendorong dan memperkuat pengenalan
pemilih terhadap calon kepala daerah agar pemilih mendapatkan informasi
yang lengkap tentang semua calon, menjadi tidak tercapai. Untuk itu ke
depan perlu pengaturan masa kampanye yang cukup dan peningkatan
kualitas kampanye agar dapat mendidik pemilih untuk menilai para calon
dari segi program.

4.Manipulasi penghitungan suara dan rekapitulasi hasil penghitungan suara.

Manipulasi perhitungan suara dan rekapitulasi hasil penghitungan suara
dapat terjadi di setiap tingkatan, yaitu di KPPS, PPK, KPU Kabupaten, dan
KPU Provinsi.
Permasalahan penghitungan suara dan rekapitulasi hasil penghitungan suara
akan manipulasi, disebabkan oleh banyaknya TPS yang tersebar dalam
wilayah yang luas. Dengan banyaknya TPS yang tersebar luas membuat
para pasangan calon sulit mengontrolnya karena memerlukan saksi yang
banyak dan biaya besar. Di lain pihak para penyelenggara Pilkada di
beberapa daerah tidak netral, berhubung sistem seleksi anggota KPUD tidak
belum memadai.

5.Penyelenggara Pemilu yang tidak adil dan netral

a. KPU dan KPU Provinsi
Keberpihakan KPU atau KPU Provinsi kepada salah satu pasangan calon
dilakukan kepada KPU Provinsi atau KPU Kabupaten dengan
memberhentikan atau membekukan para anggota KPU Provinsi atau KPU
Kabupaten. Padahal pengambil-alihan baru dapat dilakukan jika
KPU dibawahnya tidak dapat melaksanakan tahapan Pilkada.
b. KPU Provinsi atau Kabupaten/Kota
Keberpihakan KPU Provinsi atau KPU Kabupaten/Kota kepada salah satu
pasangan calon dilakukan pada tahapan proses pencalonan, penghitungan
dan rekapitulasi hasil penghitungan suara.
c. Panwaslu.
Keberpihakan Panwaslu kepada salah satu pasangan calon dilakukan
khususnya pada tahapan setelah hasil penghitungan suara, dengan menjadi
promoter bagi pasangan yang kalah.

Akibatnya pelaksanaan Pilkada menjadi ruwet, terjadi ketegangan di
tingkat grass root dan bahkan kadang sampai menimbulkan kerusuhan.
Hal terjadi karena kurangnya pemahaman para anggota KPU, KPUD, dan
Panwaslu dalam melaksanaan ketentuan peraturan perundang-undangan,
serta sistem seleksi para anggota KPU, KPUD, Panwaslu belum
mengetengahkan adanya kebutuhan anggota KPU, KPUD, Panwaslu yang
obyektif, netral, mempunyai integritas tinggi, tidak mudah mengeluarkan
statement, dan memiliki pemahaman yang baik terhadap ketentuan
peraturan perundang-undang Pemilu.

6. Putusan MA atau MK yang menimbulkan kontroversi di masyarakat.
Sengketa Pilkada diatur dalam pasal pasal 106 Undang-Undang Nomor 32
Tahun 2004 yang pada intinya menyatakan bahwa sengketa hasil
penghitungan suara dapat diajukan oleh pasangan calon kepada pengadilan
tinggi untuk pilkda bupati/walikota dan kepada MA untuk pilkda Gubernur.
Putusan yang dikeluarkan pengadilan tinggi/Mahkamah Agung bersifat
final. Setelah dikeluarkan Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2008
kewenangan penyelesaian sengketa pilkada beralih dari Mahkamah Agung
ke Mahkamah Konstitusi.

Baik dalam Undang-Undang Nomor 32 Tahuri 2004 maupun Undang-
Undang Nomor 12 Tahun 2008 kewenangan pengadilan untuk mengadili
sengketa Pilkada hanya terbatas pada sengketa hasil yang mempengaruhi
pemenang Pilkada, permasalahannya adalah bagaimana apabila terjadi
sengketa di luar hasil penghitungan suara, selain itu beberapa putusan baik
Mahkamah Agung maupun Mahkamah Konstitusi menimbulkan kontroversi
di masyarakat, akibatnya penyelesaian Pilkada berlarut-larut.
Selama ini tidak hanya sengketa hasil penghitungan suara yang terjadi
dalam Pilkada, seperti permasalahan DPT, permasalahan pencalonan baik
terjadinya permasalahan di internal partai politik maupun pemenuhan
persyaratan Pilkada.
Meskipun Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 maupun Undang-Undang
Nomor 12 Tahun 2008 sudah membatasi kewenangan pengadilan hanya
sebatas sengketa hasil penghitungan suara, namun pengadilan sering
menabrak aturan tersebut.
7. Putusan-putusan MK yang membatalkan UU No. 32 Tahun 2004 dan
UU No. 12 Tahun 2008 terkait dengan Pilkada.
a. Putusan MK No.072-073/PUU-ii/2005 menyatakan Undang-Undang
Nomor 32 Tahun 2004:
Dalam pertlmbangan hukumnya, mahkamah berpendapat bahwa Pilkada
langsung tidak termasuk dalam kategori pemilu sebagaimana dimaksud
pasal 22E UUD Negara RI Tahun 1945 namun Pilkada langsung adalah
pemilu secara materiil untuk mengimplementasikan pasal 18 ayat (4) UUD
Negara RI Tahun 1945 karena itu dalam penyelenggaraannya dapat berbeda
dengan pemilu yang diatur pasal 22E UUD Negara RI Tahun 1945,
misalnya dalam hal regulator, penyelenggara dan badan yang menyelesaikan
perselisihan hasil pilkada meskipun tetap didasarkan asas pemilu yang
berlaku. Pembentuk Undang-Undang No 32 Tahun 2004 telah menetapkan
KPUD sebagai penyelenggara Pilkada yang merupakan wewenang
pembentuk undang-undang yang terpenting adalah harus dijamin
independensinya, terganggunya independensi penyelenggara mengakibatkan
bertentangan dengan kepastian, perlakuan yang sama dan keadilan sesuai
pasal 28D UUD Negara RI Tahun 1945. Mahkamah juga berpendapat
bahwa pembentuk undang-undang dapat dan memang sebaiknya pada masa
yang akan datang menetapkan KPU sebagaimana dimaksud pasal 22E UUD
Negara RI Tahun 1945 sebagai penyelenggara pilkada karena memang
dibentuk untuk itu dan telah membuktikan independensinya dalam pemilu
2004.
b. Putusan MK Nomor No.22/PUU-VII/2009 menyatakan bahwa pasal 58
huruf o Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tidak bertentangan dengan
Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004, namun dalam salah amar
putusannya juga menyatakan bahwa masa jabatan yang dihitung satu
periode adalah masa jabatan yang telah dijalani selama setengah atau lebih
masa jabatan, dengan kata lain dihitung satu kali masa jabatan adalah
apabila seorang kepala daerah telah menduduki jabatannya selama 2,5 tahun
atau lebih.
Penghitungan masa jabatan ini tidak dibatasi apakah karena pilkada
langsung berdasarkan Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 atau pilkada
tidak langsung berdasarkan Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2009, karena
dalam pertimbangan hukumnya majelis hakim berpendapat bahwa
perbedaan sistem pemilihan kepala daerah antara langsung dan tidak
langsung, tidak berarti bahwa sistem Pilkada tidak langsung tidak atau
kurang demokratis apabila dibandingkan dengan sistem langsung demikian
pula sebaliknya. Dari pertimbangan majejelis ini berarti bahwa menurut
majelis, Pilkada langsung maupun pilkada tidak langsung sama-sam
demokratishya sebagaimana dimaksud pasal 18 ayat (4) UUDN 1945.
Bahkan majelis berpendapat setelah pengalaman dalam pilkada langsung
berdasar Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004, sekarang timbul gagasan
baru untuk kembali memberlakukan pilkada tidak langsung, dan hal ini sah-
sah saja.
Perubahan pengertian norma hukum pasal 58 huruf o UU No 32 Tahun
2004 yaitu batasannya adalah 2, 5 (dua setengah) tahun, artinya apabila
Kepala Daerah/Wakil Kepala Daerah menduduki masa jabatannya kurang
dari 2,5 (dua setengah tahun, belum dianggap satu kali masa jabatan
sehingga masih bisa mencalonkan selama 2 (dua) periode sehingga apabila
selama 2 (dua) kali masa pencalonannya selalu terpilih, yang bersangkutan
bisa menduduki jabatannya maksimal 12, 4 (dua belas koma empat) tahun
beberapa hari.

8. Penyesuaian tata cara pemungutan suara dan penggunaan KTP sebagai
kartu pemilih.
a. Penyesuaian tata cara pemungutan suara.
Berdasar Pasal 88 UU No. 32 Tahun 2004 menyatakan: "pemberian suara
untuk Pilkada dilakukan dengan mencoblos salah satu pasangan calon dalam
surat suara". Sedangkan dalam pelaksanaan Pemilu DPR, DPD, dan DPRD
serta Perhllu Presiden dan Wakil Presiden Tahun 2009 melalui peraturan
KPU pemberian suara dilakukan dengan memberi tanda "centang".
Walaupun cara pemberian suara dalam Pemilu 2009 dengan memberi tanda
centang masih banyak yang salah sehingga suara tidak sah, namun cara
pemberian suara ini telah mulai memasyarakat, sehingga agar tidak
membingungkan masyarakat, maka ketentuan dalam UU No. 32 Tahun
2004 terkait dengan cara pemberian suara perlu diselaraskan dengan Pemilu
DPR, DPD, dan DPRD serta Pemilu Presiden dan Wakil Presiden Tahun
2009.
b.Penyesuaian penggunaan KTP sebagai kartu pemilih.
"Berdasar Pasal 71 UU No. 32 Tahun 2004 menyatakan: "Pemilih yang
telah terdaftar sebagai pemilih diberi tanda bukti pendaftaran untuk
ditukarkan dengan kartu pemilih untuk setiap pemungutan suara".
Sedangkan dalam pelaksanaan Pemilu DPR, DPD, dan DPRD serta Pemilu
Presiden dan Wakil Presiden Tahun 2009 dalam rangka efisiensi KTP
(Kartu Tanda Penduduk) atau Surat Keterangan Kependudukan dapat
dijadikan kartu pemilih. Untuk itu dalam rangka efisiensi pelaksanaan
Pilkada, "ketentuan dalam UU No. 32 Tahun 2004 terkait dengan
penggunaan kartu pemilih dalam pelaksanaan Pilkada perlu disesuaikan
dengan pelaksanaan Pemilu DPR, DPD, dan DPRD serta Pemilu Presiden
dan Wakil Presiden Tahun 2009.

9. Posisi kepala daerah/wakil kepala daerah incumbent dalam Pilkada
Dalam rangka menjaga kesetaraan (fairness) dan menjaga netralitas Pegawai
Negeri Sipil (PNS) dalam Pilkada, kepala daerah/wakil kepala daerah yang
akan mencalonkan diri sebagai kepala daerah dan/atau wakil kepala daerah
harus mengundurkan diri dari jabatannya. Namun melalui Putusan Nomor
17/PUU-VI/2008 tanggal 4 Agustus 2008, Mahkamah Konstitusi telah
membatalkan ketentuan dimaksud karena menimbulkan ketidakpastian
hukum (legal uncertainty, rechtsonzekerheid) atas masa jabatan kepala
daerah yaitu lima tahun [vide Pasal 110 ayat (3) UU 32/2004] dan sekaligus
perlakuan yang tidak sama (unequal treatment) antar-sesama pejabat negara
[vide Pasal 59 ayat (5) huruf i UU 32/2004], sehingga dapat dikatakan
bertentangan dengan Pasal 28D ayat (1) UUD 1945. Akibatnya kepala
daerah/wakil kepala daerah yang akan mencalonkan diri sebagai kepala
daerah dan/atau wakil kepala daerah hanya cuti selama kampanye.
Mengindahkan pertimbangan hukum Mahkamah Konstitusi dalam Putusan
dimaksud ke depan bagi kepala daerah/wakil kepala daerah yang akan
mencalonkan diri sebagai kepala daerah dan/atau wakil kepala daerah harus
diberhentikan sementara sejak pendaftaran sampai dengan dilantiknya
kepala daerah/wakil kepala daerah yang baru.

10. Penggabungan PILKADA (Pilkada serentak).
Penggabungan pelaksanaan Pilkada diperlukan seiain untuk menghemat
biaya Pilkada juga untuk kejenuhan masyarakat pada Pemilu. Ada beberapa
opsi penggabungan Pilkada.
Optimasi Penggabungan.


Tinjauan yuridis
Berdasar:
1) Pasal 1 ayat (2) UUD Negara Rl Th 1945 menyatakan bahwa,
"kedaulatan ada di tangan rakyat dan dilaksanakan menurut Undang-
Undang",
2) Pasal 18 ayat (4) UUD Negara Rl Th 1945 menyatakan bahwa,
"Gubernur, Bupati, dan Walikota masing-masing sebagai kepala pemerintah
daerah provinsi, kabupaten, dan kota dipilih secara demokratis",
3) Pasal 28D ayat (3) UUD Negara Rl Th 1945 menyatakanbahwa, "setiap
warga negera berhak memperoleh kesempatan yg sama dalam
pemerintahan",

Bahwa tidak ada perintah pemilihan gubernur dipilih secara langsung,
sehingga pemilihan gubernur dilakukan melalui system perwakilan tidak
bertentangan dengan konstitusi.

BAB III

REFERENSI
http://fhuk.unand.ac.id
http://www.lemhannas.go.id