Anda di halaman 1dari 24

PENGUKURAN KINERJA PENYELENGGARA

OTONOMI DAERAH MELALUI INDIKATOR DERAJAT


PELAYANAN PUBLIK
Penurunan Angka Kematian Ibu




DISUSUN OLEH :

NAMA : SILVIA KUMALASARI
NIM : 8111412028




UNIVERSITAS NEGERI SEMARANG
SEMARANG
2014


ii

KATA PENGANTAR


Puji dan syukur penulis panjatkan kepada Allah SWT yang telah memberikan karunia
dan rahmat-Nya serta kesehatan dan kesempatan sehingga penulis dapat menyelesaikan makalah
sebagai salah satu syarat dalam mengikuti ujian akhir semester Hukum Otonomi daerah
mengenai Pengukuran Kinerja Penyelenggara Otonomi Daerah.
Seiring dengan selesainya penulisan makalah yang berjudul Penurunan Angka
Kematian Ibu di Puskesmas Karangmalang ini, penulis mengucapkan terima kasih kepada
semua pihak yang telah memberikan kontribusinya terhadap penulisan makalah ini.
Kritik dan saran yang membangun sangat diharapkan demi tercapainya hasil yang lebih
baik dan membawa manfaat bagi semua.
Akhir kata semoga makalah ini dapat bermanfaat serta dapat dijadikan pertimbangan dan
sumber informasi bagi pihak yang membutuhkan.



Semarang, Juni 2014


Penulis










iii

DAFTAR ISI
HALAMAN JUDUL --------------------------------------------------------------------------- i
KATA PENGANTAR ------------------------------------------------------------------------- ii
DAFTAR ISI ------------------------------------------------------------------------------------ iii
BAB I. PENDAHULUAN --------------------------------------------------------------------- 1
1. Latar Belakang ------------------------------------------------------------------------------- 1
2. Rumusan Masalah---------------------------------------------------------------------------- 4
3. Tujuan Penulisan ----------------------------------------------------------------------------- 4
BAB II. TINJAUAN PUSTAKA ----------------------------------------------------------- 5
1. Angka Kematian Ibu (AKI) ---------------------------------------------------------------- 5
2. Gambaran Umum Daerah Penelitian ------------------------------------------------------ 5
3. Profil Puskesmas Karang malang ---------------------------------------------------------- 7
BAB III. PEMBAHASAN -------------------------------------------------------------------- 9
1. Rasio Penurunan AKI di Puskesmas Karang Malang ---------------------------------- 9
2. Upaya Pemerintah Kota Semarang untuk menangani masalah AKI ----------------- 9
3. Pencapaian Target MDGs Mengenai AKI di Jawa Tengah ---------------------------- 17
BAB 1V. PENUTUP --------------------------------------------------------------------------- 19
1. Kesimpulan ----------------------------------------------------------------------------------- 19
2. Saran ------------------------------------------------------------------------------------------- 20
DAFTAR PUSTAKA -------------------------------------------------------------------------- 21

1

BAB I
PENDAHULUAN

1. Latar Belakang
Otonomi daerah adalah salah satu gagasan besar untuk mewujudkan kesejahteraan rakyat
melalui cara-cara yang demokratis. Pada dasarnya desentralisasi dan otonomi daerah mempunyai
makna yang besar bagi kepentingan masyarakat daerah untuk menjadi pengambil manfaat dari
setiap pengaturan dan pelayanan pemerintahan. Dengan lahirnya UU No.32 tahun 2004 tentang
pemerintah daerah menandai dianutnya paradigma baru dalam penyelenggaraan pemerintah
daerah yang mengutamakan pelaksanaan asas desentralisasi.
Berdasarkan Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang pemerintahan daerah
menggariskan bahwa maksud dan tujuan pemberian otonomidaerah adalah memacu
kesejahteraan, pemerataan pembangunan dan hasil-hasilnya serta meningkatkan kesejahteraan
rakyat, menggalakkan prakarsa dan peran serta aktif masyarakat dalam penyelenggaraan otonomi
daerah secara luas, nyata dan bertanggungjawab serta memperkuat persatuan dan kesatuan
bangsa, peningkatan pelayanan publik dan daya saing daerah.
Desentralisasi adalah bentuk dari susunan organisasi Negara yang terdiri dari atas satuan-
satuan pemerintah dan satuan-satuan pemerintahan yang lebih rendah yang dibentuk baik
berdasarkan territorial atau fungsional pemerintahan tertentu. Kesatuan pemerintahan yang lebih
rendah tersebut melaksanakan sebagian dari urusan pemerintahan Negara. Dalam pelaksanaan
urusan rumah tangga daerah dikenal sistem rumah tangga formal, material dan nyata. Sistem
rumah tangga formal memberikan keleluasaan yang seluas-luasnya kepada daerah untuk
mengatur dan mengurus pemerintahan dan menjadikan urusan tersebut sebagai urusan rumah
tangga darah. Sistem rumah tangga material adalah pembagian wewenang, tugas dan
tanggungjawab yang dirinci antara pemerintah pusat dengan pemerintah daerah. Sistem rumah
tangga nyata,mengandung ciri sistem rumah tangga formal dan material. Namun demikian sistem
rumah tangga yang memiliki ciri khas yang membedakan antara sistem rumah tangga formal dan
material sehingga diharapakan dapat mengatasi kesulitan dalam penerpan sistem rumah tangga
formal dan material.

2

Penerapan asas desentralisasi dalam penyelenggaraan pemerintahan di Indonesia adalah
melalui pembentukan-pembentukan daerah daerah otonom. Dalam implementasi kebijakan
desentralisasi selalu terjadi adanya persebaran urusan pemerintahan kepada daerah otonom
sebagai badan hukum publik. Urusan pemerintahan yang didistribusikan hanyalah merupakan
urusan pemerintahan yang menjadi kompetensi pemerintah dan tidak mencakup urusan yang
menjadi kompetensi lembaga Negara yang membidangi legislatif dan yudikatif atau lembaga
lainnya yang mengawasi keuangan Negara.
Berdasarkan Undang-Undang No 32 tahun 2004 tentang pemerintahan daerah pembagian
urusan pemerintahan diatur dalam empat model urusan pemerintahan yaitu :
1. Urusan absolute yang secara mutlak menjadi urusan pemerintah pusat (pasal 10ayat (3)
2. Urusan bersama yaitu urusan yang dapat dilakukan bersama-sama antar pemrintah pusat,
provinsi dan kabupaten/kota.
3. Urusan wajib pemerintah daerah, diatur dalam pasal 13, 14 Undang-Undang 32 tahun
2004.
4. Urusan pilihan pemerintah daerah meliputi urursan pemerintah secara nyata ada dan
berpotensi untuk meningkatkan kesejahteraan masyrakat sesuai dengan kondisi dan
potensi unggulan daerah pasal 13 dan 14 UU No 32 tahun 2004.
Urusan absolut sebagaimana diatur dalam pasal 10 Undang-Undang No 32 tahun 2004
didasarkan pada pemikiran bahwa selalu terdapat berbagai urusan pemerintahan yang
sepenuhnya/tetap menjadi kewenanngan pemerintah pusat yaitu:
1. Politik luar negeri
2. Pertahanan
3. Keamanan
4. Moneter
5. Yustisi
6. Agama
Kewenangan pemerintah pusat seperti yang tercantum dalam pasal 10 UU No 32 tahun 2004
masih ada kewenangan yang bersifat concurrent artinya urusan pemerintahan yang
penanganannya dalam bagian atau bidang tertentu dapat dilaksanakan bersam-sama antar
pemrerintah pusat dengan pemerintah daerah. Setiap urusan yang bersifat concurrent senantiasa

3

ada bagian urusan yang menjadi kewenangan pemerintah, ada yang diserahkan kepada provinsi
dan ada bagian yang diserahkan kepada kabupaten/kota yaitu ada 31 urusan yang
diselenggarakan pemerintah daerah, dalam penulisan makalah ini penulis hanya akan membahas
pengukuran kinerja penyelenggaraan otonomi daerah dalam hal kebutuhan dasar kesehatan
tentang penurunan angka kematian ibu dan anak.
Setiap tiga menit, di manapun di Indonesia, satu anak balita meninggal dunia. Selain itu,
setiap jam, satu perempuan meninggal dunia ketika melahirkan atau karena sebab-sebab yang
berhubungan dengan kehamilan. Rasio kematian ibu, yang diperkirakan sekitar 228 per 100.000
kelahiran hidup, tetap tinggi di atas 200 selama dekade terakhir, meskipun telah dilakukan
upaya-upaya untuk meningkatkan pelayanan kesehatan ibu.
Indonesia, sebagai salah satu negara dari 189 negara anggota PBB yang turut
menandatangani kesepakatan Milenium Development Goals (MDGs) yang dicanangkan PBB di
awal era perubahan abad 20 ke abad 21, didalam implementasi komitmennya, dilaksanakan
dengan penciptaan program pembangunan yang tercantum pada Rencana Pembangunan Jangka
Menengah (RPJM), sebagai satu paket pembangunan yang terukur guna memenuhi hasil
kesepakatan yang akan dicapai pada kurun waktu tahun 2000 hingga akhir tahun 2015.
Dibidang kesehatan tujuan yang hendak dicapai dalam MDGs salah satunya adalah
sebagai berikut:
1. Meningkatkan Kesehatan Ibu
a) Angka Kematian Ibu (AKI)
b) Proporsi Pertolongan Persalinan oleh Tenaga Kesehatan Terlatih
c) Angka Pemakaian Kontrasepsi
Komitmen tersebut dituangkan Indonesia dalam arah pembangunan jangka panjang kesehatan
Indonesia tahun 2005-2025, yakni : meningkatkan derajat kesehatan masyarakat melalui
peningkatan akses terhadap pelayanan kesehatan yang mencakup, meningkatnya Umur Harapan
Hidup (UHH) dari 69 tahun pada tahun 2005 menjadi 73,7 tahun pada tahun 2025, menurunnya
Angka Kematian Bayi (AKB) dari 32,3 per 1.000 kelahiran hidup pada tahun 2005 menjadi 15,5
per 1.000 kelahiran hidup pada tahun 2025, dan menurunnya AKI dari 262 per 100.000 kelahiran
hidup pada tahun 2005 menjadi 74 per 100.000 kelahiran hidup pada tahun 2025.
Pemerintah Indonesia melalui daerah otonomnya telah banyak melakukan kebijakan dan
berbagai upaya untuk menurunkan angka kematian ibu (AKI), antara lain dengan kegiatan

4

Gerakan Sayang Ibu (GSI), Strategi Menyelamatkan Persalinan Sehat (Making Pregnant Safer)
dan penggunaan buku KIA. Puskesmas salah satu kesatuan organisasi kesehatan fungsional
tingkat pertama yang merupakan pusat pengembangan kesehatan masyarakat. Puskesmas adalah
pelaksana teknis Dinas Kesehatan, bertangung jawab terhadap upaya penyelenggaraan kesehatan
perorangan dan upaya kesehatan masyarakat.

2. Rumusan Masalah
1. Bagaimana rasio penurunan angka kematian ibu dan anak di Puskesmas Karangmalang
Kelurahan Polaman, Kecamatan Mijen, Kota Semarang, Provinsi Jawa Tengah ?
2. Upaya apa saja yang dilakukan pemerintah Kota Semarang untuk menangani masalah
penurunan angka kematian ibu dan anak di Kelurahan Polaman?
3. Apakah angka penurunan kematian ibu dan anak di kota Semarang telah mencapai target
Mdgs ?

3. Tujuan

1. Mengetahui rasio angka kematian ibu di Kelurahan Polaman, Kecamatan Mijen, Kota
Semarang.
2. Mengetahui upaya-upaya yang dilakukan pemerintah kota Semarang untuk mengatasi
masalah penurunan angka kematian ibu.
3. Menganalisis apakah penyelenggaraan otonomi daerah melalui indikator pelayanan
publik akan kebutuhan dasar kesehatan di Kota Semarang khususnya masalah penurunan
angka kematian ibu telah mencapai target MDGs.

5

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

1. Angka Kematian Ibu
Kematian ibu adalah kematian dari setiap wanita waktu hamil, persalinan, dan dalam 90
hari sesudah berakhirnya kehamilan oleh sebab apapun, tanpa memeperhitungkan tuanya
kehamilan dan tindakan yang dilakukan untuk mengakhiri kehamilan (WHO).
Angka Kematian Ibu (AKI) adalah banyaknya kematian perempuan pada saat hamil atau
selama 42 hari sejak terminasi kehamilan tanpa memandang lama dan tempat persalinan, yang
disebabkan karena kehamilannya atau pengelolaannya, dan bukan karena sebab-sebab lain, per
100.000 kelahiran hidup.
Kematian ibu adalah kematian perempuan pada saat hamil atau kematian dalam kurun
waktu 42 hari sejak terminasi kehamilan tanpa memandang lamanya kehamilan atau tempat
persalinan, yakni kematian yang disebabkan karena kehamilannya atau pengelolaannya, tetapi
bukan karena sebab-sebab lain seperti kecelakaan, terjatuh dll (Budi, Utomo. 1985).

2. Gambaran Umum Daerah Penelitian: Kelurahan Polaman
a. Tabel data umum Desa Polaman
a. Identitas 1) Desa
2) Kecamatan
3) Kota
4) Propinsi
Polaman
Mijen
Semarang
Jawa Tengah
b. Data Geografi

1) Luas wilayah
2) Batas-batas desa
Utara
Selatan
Barat
Timur


Kelurahan Purwosari
Kelurahan Karangmalang
Kelurahan Bubakan
Kelurahan Cepoko
c. Data Demografi

1) Jumlah Penduduk
2) Jumlah KK
1.433.000 jiwa
520

6

3) Jumlah RW
4) Jumlah RT

3
18

b. Data tabel khusus Desa Polaman
a. Data Sumber Daya

1) Sarana Pendidikan
a. Jumlah TK
b. Jumlah SD/MI
c. Jumlah SLTP/MTs
d. Jumlah SMU/MA/SMK
2) Sarana Ibadah
a) Jumlah Masjid
b) Jumlah Mushola

1
2
2
2

4
5
b. Status Pekerjaan

1) Bekerja
2) Tidak Bekerja

489 jiwa
79 jiwa
c. Tingkat Pendidikan
Penduduk

1) Tidak tamat SD
2) Tamat SD -SMP
4) Tamat SMU
5) Perguruan Tinggi

65 jiwa
266 jiwa
172 jiwa
17 jiwa
d. Agama 1) Islam
2) Kristen
3) Katolik
4) Hindu
5) Budha
1.433.000 jiwa
-
-
-
-
e. Potensi Prasarana
Kesehatan

1) Puskesmas
2) Poliklinik
3) Apotik
4) Posyandu

1
-
1
1

7

3. Profil Puskesmas Karang Malang
Berdasarkan Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor.
28/MENKES/SK/II/2004 puskesmas adalah unit pelaksana teknis dinas kesehatan
kabupaten/kota yang bertanggung jawab menyelenggarakan pembangunan kesehatan di suatu
wilayah kerja. Pembangunan kesehatan merupakan bagian integral dari pembangunan nasional
yang bertujuan untuk meningkatkan kesadaran, kemauan, dan kemampuan hidup sehat bagi
setiap orang agar terwujud derajat kesehatan yang optimal dengan menyelenggarakan upaya
kesehatan wajib dan pengembangan.
Selain peraturan diatas, ada juga peraturan daerah lainnya yang mengatur tentang
puskesmas dan wilayah kerja administratifnya. Surat Keputusan Walikota Palembang tahun 2001
yang mengatur wilayah kerja masing-masing.
Puskesmas Karang Malang terletak di Kecamatan Mijen tepatnya di kelurahan Karang
Malang. Puskesmas ini terletak di Jalan R.M Soebagiono Tjondro Koesomo Semarang.
Masyarakat yang ingin berobat dapat menjangkaunya dengan berjalan kaki, angkutan umum,
becak maupun menggunakan kendaraan bermotor.
Visi, Misi, dan Motto :
a) Visi : Menjadikan Puskesmas Karang Malang sebagai pusat pelayanan kesehatan yang
menyeluruh, terjangkau, dan proporsional serta mengutamakan kepuasan pelanggan
dengan melibatkan peran aktif masyarakat.
b) Misi : 1. Mengerahkan pembangunan kecamatan yang berwawasan kesehatan.
2. Mendorong kemandirian masyarakat dan keluarga untuk hidup sehat.
3. Memelihara dan meningkatkan pelayanan kesehatan yang bermutu, merata, dan
terjangkau.
4. Memelihara dan meningkatkan kesehatan individu, keluarga, dan masyarakat
beserta lingkungannya.
c) Motto : Serasi (Senyum, ramah, sigap) Pasien yang dating langsung dilayani dengan
sigap tanpa harus menunggu lama disertai dengan senyum dari sikap yang ramah.



8

Letak geografis dan wilayah kerja :
Letak geografis a) RT / RW
b) Kelurahan
c) Kecamatan
d) Jumlah Penduduk :
Laki-laki
Perempuan

01 / I
Mijen
Karang Malang
9.503(keadaan s/d Pebruari 09)

4.765 orang
4.738 orang
Data demografi a) Jumlah Penduduk Miskin
b) Jumlah peserta Jamkesmas
c) Jumlah peserta Jamkesmaskot
3315 jiwa
3.315 jiwa
-
Wilayah kerja a) Sebelah utara
b) Sebelah Timur
c) Sebelah Selatan
d) Sebelah Barat

Wilayah kerja Pukesmas Mijen
Wilayah kerja Puskesmas
Gunung Pati
Wilayah kerja Puskesmas Boja
Wilayah kerja Puskesmas Boja
Jumlah wilayah
kerja
a) Kelurahan

b) RW
c) RT
4 ( Kelurahan Karang malang,
Polaman, Purwosari, Bubakan)
14
52
Sumber daya
(tenaga ahli)
a) Dokter Umum
b) Dokter Gigi
c) SKM
d) Perawat
e) Perawat Gigi
f) Bidan
g) Sanitarian
h) Nutrision / Gizi
i) Analis kesehatan
j) Apoteker
k) Asisten Apoteker
l) Rekam Medik
m) Staf
n) Pekerja Kes
o) Tata Usaha
p) lainnya
3
1
0
5
1
5
1
2
1
0
1
0
2
0
0
2 (jaga malam, juru masak)

9

BAB III
PEMBAHASAN

1. Rasio Penurunan Angka Kematian Ibu di Puskesmas Karangmalang Kelurahan
Polaman
Hasil penelitian yang dilakukan penulis melalui wawancara di Puskesmas karang Malang
yang mencakup wilayah kerja Kelurahan Karang malang, Polaman, Purwosari, dan Bubakan.
Selama sepuluh tahun terakhir dari tahun 2004 sampai dengan 2014 di puskesmas Karang
Malang belum pernah terjadi kasus kematian ibu hamil saat melahirkan di wilayah kerjanya.
Yang ada kasus kematian bayi yang terjadi di kelurahan Polaman sebanyak satu kasus.
Berdasarkan hasil penelitian tersebut dapat disimpulkan bahwa program penurunan angka
kematian ibu di Puskesmas Karang Malang dapat dikatakan telah berhasil karena selama sepuluh
tahun terakhir ini tidak ditemukan kasus kematian ibu yang ada 1 kasus kematian bayi pada saat
dilahirkan.

2. Upaya Pemerintah Kota Semarang untuk Menangani Masalah Penurunan Angka
Kematian Ibu Melalui Pelayanan di Puskesmas Karang Malang
Puskesmas Karang Malang memberikan pelayanan kepada masyarakat di Kelurahan
Karang malang, Polaman, Purwosari, Bubakan dan masyarakat diperbatasan sekitarnya melalui
enam program pokok Puskemas beserta 2 Program Spesifik yang ditentukan berdasarkan
banyaknya permasalahan kesehatan masyarakat setempat serta tuntutan dan kebutuhan
masyarakat.
Enam program pokok Puskesmas tersebut antara lain:
1. Promosi Kesehatan
Meliputi penyebarluasan informasi kepada masyarakat wilayah binaan Puskesmas Karang
Malang. Kegiatan tersebut adalah :
Penyuluhan langsung
Penyebaran leaflet-leaflet
Pemasangan spanduk

10

2. Upaya Pencegahan dan Pemberantasan Penyakit Menular :
Kegiatan imunisasi
Pelacakan dan pengobatan DBD, TBC, Kusta, Diare dan ISPA
3. Pelayanan Kesehatan :
Pengobatan umum
Pengobatan gigi
Rujukan PKPS dan ASKES
Emergency
Laboratorium
4. Kesehatan Ibu dan Anak serta KB :
Ibu hamil, nifas, dan KB
Pemeriksaan tumbuh kembang anak
Pelayanan kesehatan anak sehat sakit
Konseling kesehatan ibu menyusui (buteki)
WUS
5. Kesehatan Lingkungan:
Pengawasan kesehatan TTU, rumah makan, industri sederhana
Pengawasan dan pembinaan rumah yang memenuhi standar kesehatan
Konseling kesehatan lingkungan
6. Gizi :
Pemberian vitamin A dosis tinggi dan SF
Pemberian makanan tambahan
Konseling gizi
Pengawasan dampak kekurangan gizi

Seluruh program kegiatan tersebut di dalam gedung dan difasilitasi dengan adanya ruang
dan peralatan yang memadai, program kerja, sumber daya manusia yang selalu ditingkatkan
kemampuannya dan protap-protap sebagai standar pelayanannya. Fasilitas yang disediakan di
Puskesmas Karang Malang adalah sebagai berikut:
1. Pelayanan Kesehatan Ibu dan Anak

11

a) Ibu hamil,
b) Ibu yang telah bersalin,
c) Ibu menyusui
2. Pelayanan Pengobatan
a) Emergensi
b) Pengobatan umum
c) Pengobatan gigi
d) Rujukan
3. Pelayanan Laboratorium
a) Pemeriksaan urine rutin
b) Pemeriksaan darah rutin
c) Tes kehamilan
d) Tes BTA untuk pasien suspek Tuberkulosis
4. Klinik Sehat Gilingan Mas
a) Pelayanan Gizi
a) Pemberian Vit. A dan garam beryodium
b) Konsultasi balita BGM dan Obesitas
c) Konsultasi bayi / balita sakit
d) Konsultasi gizi rujukan dari BP Umum/KIA
5. Pelayanan Imunisasi
a) BCG
b) Polio
c) DPT
d) Hepatitis
e) Campak
f) TT calon pengantin
g) Anti Tetanus Serum
6. Pelayanan Sanitasi
a) Memberikan konsultasi/penyuluhan penyakit akibat faktor lingkungan
b) Memberikan konsultasi tentang rumah sehat, jamban, dll
7. Lain-lain

12

a) Posyandu Balita di 17 Posyandu,
b) Posyandu Lansia di 17 Posyandu
c) UKS/UKGS di 10 SD/MI
d) UKGMD di 17 Posyandu
e) Serta melakukan kunjungan rumah pasien bagi pasien-pasien yang membutuhkan.
Program kerja tentang kesehatan ibu dan anak merupakan salah satu dari upaya
pelayanan wajib dari suatu pusat kesehatan masyarakat atau yang kerap disebut puskesmas.
Beberapa upaya wajib yang dilakukan adalah
1. Upaya promosi kesehatan
2. Upaya kesehatan lingkungan
3. Upaya perbaikan gizi
4. Upaya pencegahan & pemberantasan penyakit menular
5. Upaya kesehatan ibu, anak & KB
6. Upaya pengobatan dasar
Pemantauan Wilayah Setempat Kesehatan Ibu dan Anak (PWS KIA), PWS KIA adalah
alat manajemen untuk melakukan pemantauan program KIA disuatu wilayah kerja secara terus
menerus, agar dapat dilakukan tindak lanjut yang cepat dan tepat. Program KIA yang dimaksud
meliputi pelayanan ibu hamil, ibu bersalin, ibu nifas, ibu dengan komplikasi kebidanan, keluarga
berencana, bayi baru lahir dengan komplikasi, bayi, dan balita.
Dengan manajemen PWS KIA diharapkan cakupan pelayanan dapat menjangkau seluruh
sasaran di suatu wilayah kerja sehingga kasus dengan risiko komplikasi kebidanan dapat
ditemukan sedini mungkin untuk dapat memperoleh penanganan yang memadai.
Upaya terobosan yang paling mutakhir adalah program Jampersal (Jaminan Persalinan)
yang digulirkan sejak 2011. Program Jampersal ini diperuntukan bagi seluruh ibu hamil, bersalin
dan nifas serta bayi baru lahir yang belum memiliki jaminan kesehatan atau asuransi kesehatan.
Keberhasilan Jampersal tidak hanya ditentukan oleh ketersediaan pelayanan kesehatan namun
juga kemudahan masyarakat menjangkau pelayanan kesehatan disamping pola pencarian
pertolongan kesehatan dari masyarakat, sehingga dukungan dari lintas sektor dalam hal
kemudahan transportasi serta pemberdayaan masyarakat menjadi sangat penting.
Melalui program ini, pada tahun 2012 Pemerintah menjamin pembiayaan persalinan
sekitar 2,5 juta ibu hamil agar mereka mendapatkan layanan persalinan oleh tenaga kesehatan

13

dan bayi yang dilahirkan sampai dengan masa neonatal di fasilitas kesehatan. Program yang
punya slogan Ibu Selamat, Bayi Lahir Sehat ini diharapkan memberikan kontribusi besar dalam
upaya percepatan penurunan angka kematian ibu dan bayi baru lahir.
Upaya penanggulangan AKI saat ini :
1. Dibentuknya AMP di Puskesmas
Audit Maternal Perinatal (AMP) menurut Departemen Kesehatan adalah suatu kegiatan
untuk menelusuri kembali sebab kesakitan dan kematian ibu dan perinatal dengan tujuan
mencegah kesakitan dan kematian yang akan datang. AMP merupakan suatu investigasi
kualitatif mendalam mengenai penyebab dan situasi di seputar kematian maternal dan
perinatal/neonatal baik yang ditangani di fasilitas kesehatan termasuk bidan di desa atau bidan
praktek swasta secara mandiri, maupun di rumah.
Dari kegiatan ini dapat ditentukan:
1. Sebab dan faktor-faktor terkait dalam kesakitan / kematian ibu dan perinatal
2. Tempat dan alasan berbagi sistem dan program gagal dalam mencegah kematian
3. Jenis intervensi yang dibutuhkan
Dasar terjadinya kematian dan kesakitan maternal dan perinatal/neonatal seharusnya
dapat diungkap tanpa harus membuka identitas pihak yang terkait kepada asesor. Adapun umpan
balik untuk kepentingan pembelajaran, pembinaan, dan perbaikan tetap dapat diberikan kepada
pihak yang bersangkutan karena identitas pihak yang terkait diketahui oleh Koordinator AMP
Kabupaten/Kota.
Kasus kematian/kesakitan maternal dan perinatal/neonatal dilaporkan oleh
pasien/masyarakat, petugas pemberi pelayanan, dan institusi pemberi layanan ke Puskesmas
setempat. Untuk kematian yang terjadi di masyarakat, Bidan Koordinator/Bidan Puskesmas yang
ditunjuk akan melakukan otopsi verbal dengan menggunakan formulir yang tersedia. Untuk
kematian yang terjadi di Puskesmas atau fasilitas kesehatan lainnya (RB, BPS, Bidan di desa),
Bidan Koordinator/Bidan Puskesmas yang ditunjuk akan melengkapi formulir kematian di
fasilitas dan otopsi verbalnya.

Kasus kematian di RS baik pemerintah maupun swasta dilaporkan ke Dinas Kesehatan
setempat dalam waktu 3 hari. Formulir yang sudah dilengkapi dikirimkan ke Sekretariat AMP

14

Kabupaten/Kota setempat. Sekretariat mendata, meneliti kelengkapan data, dan melaporkannya
ke Koordinator. Data yang belum lengkap harus dikembalikan ke Puskesmas pengirim untuk
dilengkapi. Data yang terkumpul dan sudah lengkap dibuat anonim. Sekretariat kemudian
berkoordinasi dengan Koordinator untuk mengagendakan pertemuan pengkaji dan menyiapkan
segala sesuatu yang berhubungan dengan pertemuan tersebut.

2. PONED
Pelayanan Obstetri Neonatal Emergensi Dasar (PONED) adalah pelayanan untuk
menanggulangi kasus kegawatdaruratan obstetri dan neonatal yang terjadi pada ibu hamil, ibu
bersalin maupun ibu dalam masa nifas dengan komplikasi obstetri yang mengancam jiwa ibu
maupun janinnya. PONED merupakan upaya pemerintah dalam menanggulangi Angka Kematian
Ibu (AKI) dan Angka Kematian Bayi (AKB) di Indonesia yang masih tinggi dibandingkan di
Negara-negara Asean lainnya.
Pelayanan obstetri dan neonatal regional merupakan upaya penyediaan pelayanan bagi ibu
dan bayi baru lahir secara terpadu dalam bentuk Pelayanan Obstetri Neonatal Emergensi
Komprehensif (PONEK) di Rumah Sakit dan Pelayanan Obstetri Neonatal Emergency
Dasar (PONED) di tingkat Puskesmas.
Puskesmas PONED adalah puskesmas yang memiliki fasilitas dan kemampuan
memberikan pelayanan untuk menanggulangi kasus kegawatdaruratan obstetri dan neonatal
selama 24 jam. Sebuah Puskesmas PONED harus memenuhi standar yang meliputi standar
administrasi dan manajemen, fasilitas bangunan atau ruangan, peralatan dan obat-obatan, tenaga
kesehatan dan fasilitas penunjang lain. Puskesmas PONED juga harus mampu memberikan
pelayanan yang meliputi penanganan preeklampsi, eklampsi, perdarahan, sepsis, sepsis
neonatorum, asfiksia, kejang, ikterus, hipoglikemia, hipotermi, tetanus neonatorum, trauma lahir,
Berat Badan Lahir Rendah (BBLR), sindroma gangguan pernapasan dan kelainan kongenital.
Alur pelayanan puskesmas PONED, setiap kasus emergensi yang datang di setiap
puskesmas mampu PONED harus langsung ditangani, setelah itu baru melakukan pengurusan
mengikuti Prosedur Tetap (PROTAP).




15

Pelayanan yang Diberikan Puskesmas PONED :
Puskesmas PONED harus memiliki tenaga kesehatan yang telah dilatih PONED yaitu TIM
PONED (Dokter dan 2 Paramedis). Pelayanan yang dapat diberikan puskesmas PONED yaitu
pelayanan dalam menangani kegawatdaruratan ibu dan bayi meliputi kemampuan untuk
menangani dan merujuk:
1. Hipertensi dalam kehamilan (preeklampsia, eklampsia)
2. Tindakan pertolongan Distosia Bahu dan Ekstraksi Vakum pada Pertolongan Persalinan
3. Perdarahan post partum
4. infeksi nifas
5. BBLR dan Hipotermi, Hipoglekimia, Ikterus, Hiperbilirubinemia, masalah pemberian
minum pada bayi
6. Asfiksia pada bayi
7. Gangguan nafas pada bayi
8. Kejang pada bayi baru lahir
9. Infeksi neonatal
10. Persiapan umum sebelum tindakan kedaruratan Obstetri Neonatal antara lain
Kewaspadaan Universal Standar.
3. GSI
Gerakan Sayang Ibu (GSI) merupakan upaya untuk meningkatkan pemberdayaan
perempuan dan mempercepat penurunan angka kematian ibu dan bayi yang masih tinggi dan
merupakan gerakan masyarakat bekerja sama dengan pemerintah. Dengan demikian, yang
dimaksud dengan GSI adalah suatu gerakan yang dilaksanakan oleh masyarakat bekerja sama
dengan pemerintah untuk meningkatkan perbaikan kualitas hidup perempuan (sebagai sumber
daya manusia) melalui berbagai kegiatan yang mempunyai dampak terhadap upaya penurunan
angka kematian ibu karena hamil, melahirkan, dan nifas, serta kematian bayi.
GSI yang kegiatannya ditunjang oleh Tim Pokja dan Tim Satgas GSI diarahkan agar mampu
mendorong masyarakat untuk berperan aktif dan mengembangkan potensinya dengan melahirkan
ide-ide kreatif dalam melaksanakan GSI di daerahnya. Kegiatan-kegiatanya antara lain:

16

1. Melaksanakan pendataan ibu hamil, memberikan kode-kode terten tu untuk memberi
tanda bagi ibu hamil beresiko tinggi (tanda biru), untuk yang normal diberi tanda kuning.
Ini pertama kali dikembangkan di Sumatera Selatan, lalu dikembangkan di daerah lain.
2. Melaksanakan kegiatan KIE (Komunikasi, Informasi, Edukasi), melalui pengajian dan
penyuluhan bagi calon pengantin, bisa juga dikembangkan dalam bentuk nyanyian,
tarian, operet, puisi sayang ibu. Hendaknya juga didukung oleh para Petugas Lapangan
Keluarga Berencana (PLKB), Petugas Depag, Dinas Kesehatan dan sebagainya.
3. Menyediakan Pondok Sayang Ibu. Ide ini pertama kali dicetuskan di Lampung.
4. Menggalang Dana Bersalin (Arlin) dari masyarakat sebagai bentuk kepedulian.
5. Menggalang sumbangan donor darah untuk membantu persalinan.
6. Menyediakan Ambulans Desa, bisa berupa becak, mobil roda empat milik warga yang
dipinjamkan.
4. Perencanaan persalinan dan pencegahan komplikasi (P4K)
Pemerintah telah melakukan upaya penurunan jumlah kematian ibu dan bayi dengan
meningkatkan cakupan maupun kualitas pelayanan. Peningkatan kemampuan tenaga kesehatan
pada Puskesmas Rawat Inap dengan PONED di wujudkan untuk menanggulangi permasalahan
dan kondisi kematian ibu dengan penyebab langsung. Sedangkan Program Perencanaan
Persalinan dan Pencegahan Komplikasi (P4K) diharapkan mampu menyelesaikan masalah atau
kondisi tidak langsung yang menyebabkan ibu dan bayi meninggal.
Kementerian Kesehatan RI telah meluncurkan Program Perencanaan Persalinan dan
Pencegahan Komplikasi (P4K) dengan stiker yang telah terbukti mampu meningkatkan secara
signifikan cakupan pertolongan persalinan oleh tenaga kesehatan dan Buku KIA sebagai
informasi dan pencatatan keluarga yang mampu meningkatkan pengetahuan tentang kesehatan
ibu, bayi, dan balita. Dengan tercatatnya ibu hamil secara tepat dan akurat serta dipantau secara
intensif oleh tenaga kesehatan dan kader di wilayah tersebut, maka setiap kehamilan sampai
persalinan dan nifas diharapkan dapat berjalan dengan aman dan selamat.
Manfaat dari P4K adalah meningkatkan cakupan dan kualitas pelayanan kesehatan ibu
hamil, ibu bersalin. Ibu nifas dan bayi baru lahir melalui peningkatan peran aktif keluarga dan
masyarakat dalam merencanakan persalinan yang aman dan persiapan menghadapi komplikasi

17

dan tanda bahaya kebidanan dan bayi baru lahir bagi ibu sehingga melahirkan bayi yang sehat.
Dengan sasaran semua ibu hamil yang ada di wilayah tersebut.




3. Pencapaian Target MDGs Mengenai Angka Penurunan Kematian Ibu di Provinsi Jawa
Tengah
Target Millenium Development Goals (MDGs) 2015, yakni menurunkan angka kematian
ibu (AKI) menjadi 102 per 100.000 kelahiran hidup, dan angka kematian bayi (AKB) menjadi 23
per 100.000 kelahiran hidup. Berbagai upaya memang telah dilakukan untuk menurunkan
kematian ibu, bayi baru lahir, bayi dan balita. Antara lain melalui penempatan bidan di desa,
pemberdayaan keluarga dan masyarakat dengan menggunakan Buku Kesehatan Ibu dan Anak
(Buku KIA) dan Program Perencanaan Persalinan dan Pencegahan Komplikasi (P4K), serta
penyediaan fasilitas kesehatan Pelayanan Obstetri Neonatal Emergensi Dasar (PONED) di
Puskesmas perawatan dan Pelayanan Obstetri Neonatal Emergensi Komprehensif (PONEK) di
rumah sakit.
Jumlah kasus kematian ibu melahirkan dan bayi baru lahir (usia 0-28 hari) di Jawa
Tengah masih tergolong tinggi. Data Dinas Kesehatan Jawa Tengah menyebutkan, selama tahun
2013, angka kematian ibu melahirkan di Jawa Tengah adalah 668 kasus (118,62 per 100 ribu
kelahiran). Jumlah ini meningkat dibandingkan tahun 2012 yaitu 116,34 per 100 ribu kelahiran.
Sedangkan angka kematian bayi baru lahir pada 2013 mencapai 5.865 kasus. Tahun 2014

18

(hingga Februari) jumlah kematian ibu melahirkan mencapai 96, sedangkan kasus kematian bayi
baru lahir mencapai 482.
Diantara kabupaten/kota di Jawa Tengah dengan kasus kematian ibu melahirkan tinggi
pada tahun 2013 adalah Brebes (61), Kabupaten Tegal (42) dan Banyumas (35), Cilacap (34),
Kota Semarang, Pati dan Kabupaten Pekalongan (29). Hal ini berarti pemerintah provinsi Jawa
Tengah untuk target Millenium Development Goals (MDGs) 2015, yakni menurunkan angka
kematian ibu (AKI) menjadi 102 per 100.000 kelahiran hidup, telah tercapai karena pada tahun
2014 hingga bulan Februari jumlah kematian Ibu baru mencapai 96 di seluruh wilayah Jawa
Tengah.
Pada tahun 2012 Kementerian Kesehatan RI meluncurkan program EMAS (Expanding
Maternal and Neonatal Survival, bekerja sama dengan USAID dengan kurun waktu 2012 2016,
yang diluncurkan 26 Januari 2012 sebagai salah satu bentuk kerjasama Pemerintah Indonesia
dengan USAID dalam rangka percepatan penurunan kematian ibu dan bayi baru lahir di 6
provinsi terpilih yaitu Sumatera Utara, Sulawesi Selatan, Jawa Barat, Banten, Jawa Tengah dan
Jawa Timur yang menyumbangkan kurang lebih 50 persen dari kematian ibu dan bayi di
Indonesia. Dalam program ini Kementerian Kesehatan RI bekerjasama dengan JHPIEGO, serta
mitra-mitra lainnya seperti Save the Children, Research Triangle Internasional, Muhammadiyah
dan Rumah Sakit Budi Kemuliaan.
Upaya yang akan dilaksanakan adalah dengan peningkatan kualitas pelayanan emergensi
obstetri dan neonatal dengan cara memastikan intervensi medis prioritas yang mempunyai
dampak besar pada penurunan kematian dan tata kelola klinis (clinical governance) diterapkan di
RS dan Puskesmas. Upaya lain dalam program EMAS ini dengan memperkuat sistem rujukan
yang efisien dan efektif mulai dari fasilitas pelayanan kesehatan dasar di Puskesmas sampai ke
RS rujukan di tingkat kabupaten/kota. Masyarakat pun dilibatkan dalam menjamin akuntabilitas
dan kualitas fasilitas kesehatan ini. Untuk itu, program ini juga akan mengembangkan
mekanisme umpan balik dari masyarakat ke pemerintah daerah menggunakan teknologi
informasi seperti media sosial dan SMS gateway, dan memperkuat forum masyarakat agar dapat
menuntut pelayanan yang lebih efektif dan efisien melalui maklumat pelayanan (service charter)
dan Citizen Report Card.



19

BAB IV
PENUTUP

1. Kesimpulan
Otonomi daerah merupakan salah satu gagasan besar untuk mewujudakan kesejahteraan
rakyat melalui cara-cara yang demokratis. Pada dasarnya desentralisasi dan otonomi daerah
mempunyai makna besar bagi kepentingan masyrakat daerah untuk menjadi pengambail manfaat
dari setiap pengaturan dan pelayanan pemerintahan. Kesehatan merupakan salah satu pelayanan
publik yang dilakukan oleh pemerintah daerah.
Hasil penelitian yang dilakukan penulis melalui wawancara di Puskesmas karang Malang
yang mencakup wilayah kerja Kelurahan Karang malang, Polaman, Purwosari, dan Bubakan.
Selama sepuluh tahun terakhir dari tahun 2004 sampai dengan 2014 di puskesmas Karang
Malang belum pernah terjadi kasus kematian ibu hamil saat melahirkan di wilayah kerjanya.
Yang ada kasus kematian bayi yang terjadi di kelurahan Polaman sebanyak satu kasus.
Berdasarkan hasil penelitian tersebut dapat disimpulkan bahwa program penurunan angka
kematian ibu di Puskesmas Karang Malang dapat dikatakan telah berhasil karena selama sepuluh
tahun terakhir ini tidak ditemukan kasus kematian ibu yang ada 1 kasus kematian bayi pada saat
dilahirkan.
Upaya penanggulangan AKI saat ini oleh pemerintah daerah yaitu : dibentuknya AMP di
Puskesmas, Pelayanan Obstetri Neonatal Emergensi Dasar (PONED), Gerakan Sayang Ibu
(GSI), dan Perencanaan Persalinan dan Pencegahan Komplikasi (P4K).
Namun, secara keseluruhan tingkat kematian ibu di Jwa Tengah masih tergolong tinggi.
Diantara kabupaten/kota di Jawa Tengah dengan kasus kematian ibu melahirkan tinggi pada
tahun 2013 adalah Brebes (61), Kabupaten Tegal (42) dan Banyumas (35), Cilacap (34), Kota
Semarang, Pati dan Kabupaten Pekalongan (29). Hal ini berarti pemerintah provinsi Jawa
Tengah untuk target Millenium Development Goals (MDGs) 2015, yakni menurunkan angka
kematian ibu (AKI) menjadi 102 per 100.000 kelahiran hidup,telah tercapai karena pada tahun
2014 hingga bulan Februari jumlah kematian Ibu baru mencapai 96 di seluruh wilayah Jawa
Tengah.

20

2. Saran
a. Bagi Puskesmas
1. Perlunya wawancara mendalam kepada ibu hamil pada saat pemeriksaan di Puskesmas,
agar dapat terdata bila ada ibu hamil yang mengalami komplikasi dan keluhan.
2. Menunjuk petugas dalam pendataan AKI dan mendeteksi faktoryang dapat
membahayakan keselamatan ibu dan anak saat mengandung hingga melahirkan.
3. Kepala Puskesmas diharapkan melakukan evaluasi bulanan/triwulan terhadap pendataan
AKI dan pendataan faktor resti pada ibu hamil.

b. Bagi Masyarakat
1. Masyarakat diharapkan lebih proaktif dalam membantu pelaksanaan pendataan deteksi
dini terhadap ibu hamil yang mengalami faktor resiko tinggi dan komplikasi dalam
kehamilan.
2. Masyarakat diharapkan dengan cepat melaporkan kasus kematian yang ada di sekitarnya
kepada petugas.

c. Bagi Dinas Kesehatan
1. Memberikan pemahaman mengenai pentingnya kelengkapan data mengenai ibu hamil
yang mengalami komplikasi, keluhan serta terdatanya angka kematian ibu.
2. Peningkatan dukungan pada Puskesmas dalam pengembangan program deteksi faktor
resti dan komplikasi agar tujuan yang diharapkan dapat tercapai secara optimal.
3. Penyuluhan tentang Ibu dan anak saat hamil hingga melahirkan perlu dilakukan
khususnya bagi ibu-ibu yang sedang hanil.








21

DAFTAR PUSTAKA
Depkes RI. 2013. Pedoman Pemantauan Wilayah Setempat Kesehatan Ibu dan Anak (PWS-KIA).
Jakarta: Direktorat Jenderal Bina Kesehatan Masyarakat, Direktorat Kesehatan Keluarga.
Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas), Kementerian Negara Perencanaan
Pembangunan Nasional. Laporan Singkat Pencapaian Millenium Development Goals
Indonesia 2009.
Hilmiati, E. 2011. Program Kesehatan Ibu dan Anak. Semarang. (Diunduh pada tanggal 15
januari 2013 melalui http://eprints.undip.ac.id/33317/1/elty_1.pdf)
Menteri Kesehatan Republik Indonesia. Keputusan Menteri Kesehatan RI Nomor128 Tahun
2004 Tentang Kebijakan Dasar Pusat Kesehatan Masyarakat. Jakarta; 2004
WHO in Indonesia, 2002. The Millennium Development Goals for Health: A review of the
indicators, Jakarta.
Zakaria. Pengembangan Sistem Informasi Audit Maternal dan Perinatal Berbasis Jaringan untuk
Mendukung Pemantauan Kematian Ibu dan Bayi di Dinas Kesehatan Kabupaten Buton.
Semarang. Program Pascasarjana Universitas Diponegoro. 2005.
Tim Penyusun. 2010. Pedoman Pemantauan Wilayah Setempat Kesehatan Ibu Dan Anak.
Jakarta: Kementrian Kesehatan RI.
Undang-undang Nomor 32 Tahun 2004, tentang Pemerintahan Daerah, jo. Undang-undang
Nomor 3 Tahun 2005, tentang Perubahan Atas Undang-undang Nomor 32 Tahun 2004, tentang
Pemerintahan Daerah.