Anda di halaman 1dari 19

1

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Hak merupakan unsur normatif yang melekat pada diri setiap manusia
yang dalam penerapannya berada pada ruang lingkup hak persamaan dan hak
kebebasan yang terkait dengan interaksinya antara individu atau dengan
instansi.Hak juga merupakan sesuatu yang harus diperoleh.Masalah HAM adalah
sesuatu hal yang sering kali dibicarakan dan dibahas terutama dalam era reformasi
ini.HAM lebih dijunjung tinggi dan lebih diperhatikan dalam era reformasi dari
pada era sebelum reformasi. Perlu diingat bahwa dalam hal pemenuhan hak, kita
hidup tidak sendiri dan kita hidup bersosialisasi dengan orang lain. Jangan sampai
kita melakukan pelanggaran HAM terhadap orang lain dalam usaha perolehan
atau pemenuhan HAM pada diri kita sendiri. Dalam hal ini penulis merasa tertarik
untuk membuat makalah tentang HAM.Maka dengan ini penulis mengambil judul
Hak Asasi Manusia.
Secara teoritis Hak Asasi Manusia adalah hak yang melekat pada diri
manusia yang bersifat kodrati dan fundamental sebagai suatu anugerah Allah yang
harus dihormati, dijaga, dan dilindungi.hakikat Hak Asasi Manusia sendiri adalah
merupakan upaya menjaga keselamatan eksistensi manusia secara utuh melalui
aksi keseimbangan antara kepentingan perseorangan dengan kepentingan umum.
Begitu juga upaya menghormati, melindungi, dan menjunjung tinggi Hak Asasi
Manusia menjadi kewajiban dan tangung jawab bersama antara individu,
pemeritah (Aparatur Pemerintahan baik Sipil maupun Militer), dan negara.
Berdasarkan beberapa rumusan hak asasi manusia di atas, dapat ditarik
kesimpulan tentang beberapa sisi pokok hakikat hak asasi manusia, yaitu :
a. HAM tidak perlu diberikan, dibeli ataupun di warisi, HAM adalah
bagian dari manusia secara otomatis.
b. HAM berlaku untuk semua orang tanpa memandang jenis kelamin, ras,
agama, etnis, pandangan politik atau asal usul sosial, dan bangsa.
2

c. HAM tidak bisa dilanggar, tidak seorangpun mempunyai hak untuk
membatasi atau melanggar hak orang lain. Orang tetap mempunyai HAM
walaupun sebuah negara membuat hukum yang tidak melindungi atau melanggar
HAM.

B. Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang tersebut, rumusan masalah yang akan dibahas
sebagai berikut:
a. Apa pengertian Hak Asasi Manusia dan Rule of Law ?
b. Bagaimana Hak Asasi Manusia dan lembaga penegakannya di Indonesia ?
c. Bagaimanakah kasus kasus tentang pelanggaran HAM berikut ini :
1. Kasus kekerasan anak yang dialami iqbal syahputra
2. Kasus pembunuhan Munir
3. Kasus Sumiati

C. Tujuan Penulisan
Adapun tujuan penulisan sebagai berikut :
a. Untuk mengetahui pengertian Hak Asasi Manusia dan Rule of Law
b. Untuk mengetahui Hak Asasi Manusia dan lembaga penegaknya di
Indonesia
c. Untuk mengetahui kasus - kasus pelanggaran apa sajakah yang sering
terjadi terkait dengan Hak Asasi Manusia maupun Rule of Law di
Indonesia






BAB II
3

LANDASAN TEORI

1. Pengertian HAM

Ham adalah alamiah yang melekat dalam diri setiap manusia sejak ia
lahirkan di dunia. Hak alamiah adalah hak yang sesuai dengan kodrat manusia
sebagai insan merdeka yang berakal budi dan berperikemanusiaan.Oleh karena itu
tidak ada seorang punyang diperkenankan merampas hak tersebut dari tangan
pemiliknya, dan tidak ada kekuasaan apapun yang memiliki keabsahan untuk
memperksanya. Hal ini tidak berarti bahwa HAM bersifat mutlak tanpa
pembatasan, karena batas HAM seseorang adalah HAM yang melekat pada orang
lain. Bila HAM dicabut dari tangan pemiliknya, manusia akan kehilangan
eksistensinya sebagai manusia.
HAM bukan hanya merupakan hak-hak dasar yang dimiliki oleh setiap
manusia sejak dilahirkan ke dunia, tetapi jugamerupakan strandar normative yang
bersifat universasl bagi perlindungan hak-hak dasaritudalam lingkup pergaulan
nasional dan global. Esensi HAM itu dapat dibaca dalam mukaddimah Universal
Declaration of Human Rights yang menyebutkan bahwa pengakuan atas
martabat yang luhur dan hak-hak yang sama dan tidak dapat dicabut dari semua
anggota keluarga manusia merupakan dasar kemerdekaan, keadilan, dan
kedamaian dunia. Menurut Weissbrodt dan Vasak, HAM bukan hanyamenjadi
ideology local atau nasional,tetapi telah menjadi ideology universal (Davidson,
1994 : 145).
Pengertian Rule of Law dipandang melalui 2 sudut yaitu secara formal dan
secara hakiki/materil.Secara formal rule of law diartikan sebagai kekuasaan umum
yang terorganisasi, hal ini berarti setiap Negara mempunyai aparat hokum. Secara
materil,rule of law menyangkut ukuran hukum yaitu : baik dan buruk.
2. Dasar HAM
Di Indonesia,Hak Asasi Manusia mendapat tempat dan diatur di dalam:
a. UUD 1945
b. TAP MPR No XVII/MPR/1998 tentang HAM
4

c. UU No.39/1999 tentang HAM
d. UU No. 8/1999 tentang Perlindungan Konsumen
e. UU No. 26/2000 tentang Pengadilan Hak Asasi Manusia
f. UU No. 9/1998 tentang Kemerdekaan Menyampaikan Pendapat di muka
Umum.
g. Konvensi Internasional Anti-Apartheid dalam Olahraga diratifikasi dengan
keputusan Presiden No. 48/1993 tanggal 26 Mei 1993
h. Konvensi tentang Hak-Hak Anak tahun 1989 diratifikasi dengan keputusan
Presiden No. 36/1990 tanggal 25 Agustus 1990.
i. Konvensi tentang penghapusan Segala Bentuk Diskriminasi Terhadap
Perempuan tahun1979 diratifikasi dengan UU No. 7/1984 tanggal 24 Juli 1984
j. Konvensi Menentang Penyiksaan dan Perlakuan atau Hukuman yang Kejam,
Tidak Manusiawi dan merendahkan Martabat Manusia lainnya tahun 1984.
k. Konvensi Internasional tentang Penghapusan Segala Bentuk Diskriminasi
Rasial diratifikasi dengan UU No. 29 tanggal 25 Mei 1999.

3. Lembaga penegak HAM
Hak asasi manusia merupakan hak yang harus dilindungi, baik oleh
individu, masyarakat maupun oleh Negara. Hal ini dikarenakan Hak Asasi
Manusia merupakan hak paling asasi yang dimiliki oleh manusia sebagai
anugerah yang diberikan oleh Tuhan. Oleh sebab itu, HAM harus dijaga,
dihormati dan ditegakkan dalam kehidupan bermasyarakat dan bernegara. Tidak
seorangpun berhak untuk melanggar hak asasi yang dimiliki oleh manusia dengan
alasan apapun.
Untuk merealisasikan penegakan HAM di Indonesia, telah dibentuk suatu
komisi mengenai hak asasi manusia. Dasar hukum bagi penegakan HAM di
Indonesia sudah sangat jelas, baik melalui UUD, ketetapan MPR maupun
perundang-undangan, baik yang sudah disahkan, maupun ratifikasi dari konvensi
hak asasi manusia yang ada di dunia Internasional.

4. Komisi Nasional HAM
5

Komnas HAM adalah lembaga mandiri yang kedudukannya setingkat
dengan lembaga Negara lainnya yang berfungsi untuk melaksanakan pengkajian,
penelitian, penyuluhan, pemantauan dan mediasi hak asasi manusia.
Tujuan Komnas HAM antara lain :
1. Mengembangkan kondisi yang kondusif bagi pelaksanaan hak asasi
manusia sesuai dengan pancasila, UUD 1945 dan piagam PBB serta
Deklarasi Universal Hak Asasi Manusia;
2. Meningkatkan perlindungan dan penegakan hak asasi manusia guna
berkembangnya pribadi manusia Indonesia seutuhnya dan kemampuannya
berpartisipasi dalam berbagai bidang kehidupan
Wewenang Komnas HAM
Wewenang dalam bidang pengkajian penelitian
1. Pengkajian dan penelitian berbagai instrumen internasional hak asasi
manusia dengan tujuan memberikan saran-saran mengenai kemungkinan
aksesibilitas atau ratifikasi
2. Pengkajian dan penelitian berbagai peraturan perundang-undangan untuk
memberikan rekomendasi mengenai pembentukan, perubahan, dan
pencabutan peraturan perundang-undangan yang berkaitan dengan hak
asasi manusia
3. Penerbitan hasil pengkajian dan penelitian
4. Studi perpustakaan, studi lapangan, dan studi banding di negara lain
mengenai hak asasi manusia
5. Pembahasan berbagai masalah yang berkaitan dengan perlindungan,
penegakan, dan pemajuan hak asasi manusia
6. Kerja sama pengkajian dan penelitian dengan organisasi, lembaga atau
pihak lainnya, baik tingkat nasional, reginal, maupun internasianal dalam
bidang hak asasi manusia


Wewenang dalam bidang penyuluhan
6

1. Penyebarluasan wawasan mengenai hak asasi manusia kepada masyarakat
Indonesia
2. Upaya peningkatan kesadaran masyarakat tentang hak asasi manusia
melalui lembaga pendidikan formal dan non formal serta berbagai
kalangan lainnya
3. Kerja sama dengan organisasi, lembaga atau pihak lainnya, baik tingkat
nasional, reginal, maupun internasianal dalam bidang hak asasi manusia
4. Wewenang dalam pemantauan
5. Pengamat pelaksanaan hak asasi manusia dan penyuluhan laporan hasil
pengamatan tersebut
6. Penyelidikan dan pemeriksaan terhadap peristiwa yang timbul dalam
masyarakat yang berdasarkan sifat atau lingkupnya patut diduga terdapat
pelanggaran hak asasi manusia; pemanggilan kepada pihak pengadu atau
korban maupun pihak yang diadukan untuk dimintai dan
didengarkanketerangannya
7. Pemanggilan saksi untuk dimintai keterangan dan didengar kesaksiannya,
dan kepada saksi pengadu diminta menyerahkan bukti yang diperlukan
8. Peninjauan di tempat kejadian dan tempat lainnya yang dianggap perlu
9. Pemanggilan kepada pihak terkait untuk memberikan keterangan secara
tertulis atau menyerahkan dokumen yang diperlukan sesuai dengan
aslinya dengan persetujuan ketua pengadilan
10. Pemerikasaan setempat terhadap rumah, pekarangan, bangunan dan
tempat tempat lainnya yang diduduki atau dimiliki pihak tertentu dengan
persetujauan ketu pengadilan
11. Pemberian pendapat berdasarkan persetujua ketua pengadilan terhadap
perkara tertentu yang sedang dalam proses peradilan apabila dalam
perkara tersebut terdapat pelanggaran hak asasi manusia dalam masalah
publik dan pemeriksaan oleh pengadilan yang kemudian pendapat komnas
HAM tersebut wajib diberitahukan oleh hakim kepada para pihak
Wewenang dalam bidang mediasi
1. Perdamaian kedua belah pihak
7

2. Penyelesaian perkara melalui cara konsultasi, negosiasi, mediasi,
konsilisasi, dan penilaian ahli
3. Pemberian saran kepada para pihak untuk menyelesaikan sengketa
melalui pengadilan
4. Penyampaian rekomendasi atas suatu kasus pelanggaran hak asasi
manusia kepada pemerintah untuk ditinjak lanjuti penyelesaiannya
5. Penyampaian rekomendasi atas suatu kasus pelanggaran hak asasi
manusia kepada Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia untuk
ditinjak lanjuti






















8

BAB III
PEMBAHASAN

Hak asasi manusia adalah hak-hak dasar yang dimiliki manusia, sesuai
dengan kodratnya.Menurut ketetapan MPR Nomor XVII/MPR/1988 bahwa hak
asasi manusia adalah hak dasar yang melekat pada diri manusia secara kodrati,
universal, dan abadi sebagai anugerah Tuhan Yang Maha Esa.
Secara formal rule of law diartikan sebagai kekuasaan umum yang
terorganisasi, hal ini berarti setiap Negara mempunyai aparat hukum. Secara
materil,rule of law menyangkut ukuran hukum yaitu : baik dan buruk.

HAM di Indonesia
Sejak kemerdekaan tahun 1945 sampai sekarang di Indonesia telah
berlaku tiga undang-undang dalam 4 periode, yaitu :
a. Periode 18 Agustus 1945 sampai 27 Desember 1949, berlaku UUD
1945,
b. Periode 27 Desember 1949 sampai 17 Agustus 1950, berlaku
Konstitusi Republik Indonesia Serikat.
c. Periode 17 Agustus 1950 sampai 5 Juli 1959, berlaku UUDS 1950.
d. Periode 5 Juli 1959 sampai sekarang, berlaku kembali UUD 1945.
Pencantuman pasal-pasal tentang Hak-hak Asasi Manusia dalam tiga UUD
tersebut berbeda satu sama lain. Dalam UUD 1945 butir-butir Hak Asasi
Manusia hanya tercantum beberapa saja. Sementara Konstitusi RIS 1949
dan UUDS 1950 hampir bula-bulat mencantumkan isi Deklarasi HAM
dari PBB. Hal demikian ini karna memang situasinya sangat dekat dengan
Deklarasi HAM PBB yang masih aktual. Di samping itu terdapat pula
harapan masyarakat dunia agar deklarasi HAM PBB dimasukkan ke dalam
Undang-Undang Dasar atau perundangan lainnya di negara-negara
anggota PBB, agar secara yuridis formal HAM dapat berlaku di negara
masing-masing.
9

Ketika UUD 1945 berlaku kembali sejak 5 Juli 1959, secara
yuridis formal, hak-hak asasi manusia tidak lagi lengkap seperti Deklarasi
HAM PBB, karena yang terdapat di dalam UUD 1945 hanya berisi
beberapa pasal saja, khususnya pasal 27, 28, 29, 30 dan 31. Pada awal
Orde baru saja tujuan Pemerintah adalah melaksanakan hak asasi manusia
yang tercantum dalam UUD 1945 serta berupaya melengkapinya. Tugas
untuk melengkapi HAM ini ditanda tangani oleh sebuahh panitia MPRS
yang kemudian menyusun Rancangan Piagam Hak-hak Asasi Manusia
serta hak-hak dan Kewajiban warganegara yang dibahas dalam sidang
MPRS tahun 1968. Dalam pembahasan ini sidang MPRS menemui jalan
buntu, sehingga akhirnya dihentikan. Begitu pila setelah MPR terbentuk
hasil pemilihan umum 1971 persoalan HAM tidak lagi diagendakan,
bahkan dipeti-eskan sampai tumbangnya Orde Baru di tahun 1998 yang
berganti dengan era Reformasi. Pada awal Reformasi itu pula
diselenggarakan sidang istimewa MPR tahun 1998 yang salah satu
ketetapannya berisi Piagam HAM.
Untuk merealisasikan penegakan HAM di Indonesia, telah
dibentuk suatu komisi mengenai hak asasi manusia. Dasar hukum bagi
penegakan HAM di Indonesia sudah sangat jelas, baik melalui UUD,
ketetapan MPR maupun perundang-undangan, baik yang sudah disahkan,
maupun ratifikasi dari konvensi hak asasi manusia yang ada di dunia
Internasional.

1. Kasus pelanggaran HAM
1. Kasus I
a. Judul : Kekerasan Anak yang Dialami Iqbal Syahputra
Seorang bayi berusia di bawah lima tahun (balita) saat ini tengah dirawat
intensif di RSUD Koja, Jakarta Utara karena mengalami beberapa luka
mengenaskan ditubuhnya. Seperti terdapat luka bakar seperti habis disetrika,
bekas sundutan rokok, tangan kanan patah dan buah zakar kelaminnya luka.
Diduga balita bernama Iqbal Syahputra (berusia 3,5 tahun) itu dianiaya orang
10

tuanya. Polisi yang mendapatkan laporan penganiayaan balita itu langsung
menahan Dadang, 33, warga Kabupaten Karawang ,Jawa Barat, yang juga ayah
kandung korban.
Kasus ini adalah kasus terbaru di bulan ini, dan menurut kami kasus ini
kasus yang paling mengundang simpati banyak orang tentang bagaimana
perlakuan manusia terhadap sesamanya terutama anak-anak.Banyak Undang-
undang yang melindungi hak anak.Dalam Undang-Undang RI Nomor 11 tahun
2012 tentang Sistem Peradilan Pidana Anak mengungkapkan bahwa anak
merupakan amanah dan karunia Tuhan Yang Maha Esa yang memiliki harkat dan
martabat sebagai manusia seutuhnya.Namun dalam kenyataannya banyak kasus
yang melibatkan orang dewasa dalam menganiaya anak.
Komisi Perlindungan Anak Indonesia menurut kami sudah baik,sebab
KPAI sangat simpati dengan Iqbal Syahputra sehingga KPAI menjenguk Iqbal di
rumah sakit.Tak hanya kasus ini,KPAI dalam kasus lainya juga mendapat nilai di
hati masyarakat. Kasus ini diharapkan menjadi pelajaran terhadap bagi semua
khususnya para orang tua untuk selalu merawat dan melindungi hak anak
sebagaimana mestinya.
b. Identifikasi Masalah
1. Dalam Undang-undang Nomor 3 Tahun 1997 tentang Pengadilan Anak
menimbang bahwa bahwa anak adalah bagian dari generasi muda sebagai
salah satu sumber daya manusia yang merupakan potensi dan peneruscita-
cita perjuangan bangsa, yang memiliki peranan strategis dan mempunyai
ciri dan sifat khusus, memerlukan pembinaan dan perlindungan dalam
rangka menjamin pertumbuhan dan perkembangan fisik, mental, dan sosial
secara utuh, serasi, selaras, dan seimbang.Namun dalam kenyataannya
masih banyak kasus penganiayaan terhadap anak.
2. Bahwa Indonesia sebagai Negara Pihak dalam konvensi Hak-Hak Anak
(Convention on the right of the Child) yang mengatur prinsip perlindung
11

hukum terhadap anak mempunyai kewajiban untuk memberikan
pelindungan khusus terhadap anak yang berhadapan dengan hokum.
3. Pemerintah Indonesia dalam menangani kasus ini sudah baik.Namun
dalam fakta pemerintah Indonesia kurang peka terhadap penganiayaan
terhadap anak-anak lainnya yang belum tersentuh dengan hokum.
Jumlah kasus tahun 2013 sejumlah 1600-an kasus kekerasan anak
meningkat 60 %.
c. Strategi penyelesaian
a. KPAI harus lebih tegas dalam penindakan kekerasan terhadap anak.
b. Sosialisasi dan seminar terhadap orang tua bahwa anak adalah titipan
dari Tuhan sehingga harus di jaga dan di rawat.
c. Pemerintah harus segera menuntaskan masalah anak jalanan agar
tidak ada korban lagi seperti iqbal.

2. Kasus II
a. Judul Kasus : Pembunuhan Munir
Komisi Nasional Hak Asasi Manusia melakukan pemantauan khusus atas
pengungkapan kasus pembunuhan aktivis HAM, Munir, terutama
pascaditetapkannya Muchdi Purwopranjono sebagai tersangka.
Ada dua alasan mengapa kami memantau secara khusus. Pertama,
pengungkapan kasus ini menjadi ukuran penting bagi penegakan dan
perlindungan HAM di Indonesia. Jika kasus ini dapat diungkap hingga tuntas,
akan memberi pandangan positif atas penegakan HAM di Indonesia, hal tersebut
diungkapkan Wakil Ketua Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (Komnas HAM)
Ridha Saleh, Sabtu (21/6).
Alasan kedua, pemantauan dilakukan untuk mengantisipasi politisasi dalam
pengungkapan kasus Munir. Politisasi ini dikhawatirkan terjadi karena Pemilihan
Umum 2009 kurang dari setahun lagi. Koordinator Komisi untuk Orang Hilang
dan Korban Tindak Kekerasan Usman Hamid berharap pemantauan tidak hanya
dilakukan Komnas HAM, tetapi juga komisi lain, seperti Komisi Kepolisian
Nasional, Komisi Kejaksaan, dan Komisi Yudisial. Bahkan, DPR juga perlu
12

kembali mengaktifkan tim kasus Munir untuk memantau jalannya penyidikan dan
persidangan.
Sementara itu, mantan Sekretaris Jenderal Komnas HAM Asmara Nababan
menyatakan belum melihat upaya politisasi dalam pengungkapan kasus Munir,
terutama setelah Muchdi dinyatakan sebagai tersangka.
Dia juga mengharapkan langkah ini bukan hanya make up atau upaya
pengalihan isu belaka, tetapi didasarkan pada niat sungguh-sungguh untuk
mengusut tuntas kasus Munir.
b. Identifikasi Masalah
1. Setidak-tidaknya masyarakat telah dapat mengambil kesimpulan bahwa
dalam kasus kematian Munir terdapat unsur kesengajaan.
2. Bukti-bukti dan hal-hal yang menjadi referensi analisis penyelidikan sulit
untuk dilacak. Akibatnya, untuk mengidentifikasi motif kasus
memerlukan analisis dan desteksi yang cukup sulit.
3. Faktor interen dan eksteren yang menjadi kendala penanganan kasus
Munir dan menjadi misteri terhadap publik.
4. Perwujudan demokrasi dan penegakan HAM di Indonesia masih belum
terlaksana dengan sempurna.
5. Walaupun secara struktural undang-undang dan konstitusi telah menjamin
penegakan keduanya, namun secara aplikatif banyak pihak yang tidak
menginginkan hal itu terjadi. Mereka yang menjadi penghalang dari
penegakan HAM tidak hanya berasal dari golongan wong cilik, namun
juga berasal dari golongan atas yang tentunya memiliki eksistensi dan
otoritas tinggi dalam negara.
6. Konstitusi hukum dan aparat penegak hukum belum menjamin dalam
pengungkapan suatu kasus pelanggaran hukum. Lebih-lebih jika kasus itu
melibatkan orang-orang atasan dan orang-orang hukum itu sendiri.
7. Kejahatan memiliki metodologi aksi yang profesional dan menyamai
metodologi pengungkapan kasus kejahatan itu sendiri. Pelaku kejahatan
tidak hanya berasal dari orang-orang bodoh, namun juga berasal dari
orang-orang yang memiliki pengetahuan dan pendidikan tinggi.
13

8. Kasus Munir ini setara dengan kasus Martin Luther King di Amerika,
khususnya soal gagasan dan upayanya membela hak asasi manusia dan
demokrasi. Kematian Munir merupakan upaya penguasa menghilangkan
lawan-lawan politiknya.

Dari hasil autopsi tim forensik Belanda menyimpulkan bahwa Munir
meninggal karena diracun. Di dalam tubuh almarhum terdapat racun arsenik
dalam batas tidak wajar yang diduga menjadi sebab kematiannya.Meninggalnya
Munir tidak hanya berangkat dari kasus-kasus pelanggaran HAM yang selama ini
telah terungkap oleh perjuangannya, namun juga berkaitan dengan kasus-kasus
HAM yang masih belum terungkap namun menjadi agenda serta target perjuangan
almarhum untuk diungkapkan.Sejauh ini tidak terungkapnya kasus Munir
menunjukkan ketidakseriusan aparat dalam menangani kasus tersebut. Hal itu
telah disampaikannya oleh istri almarhum Munir, Suciwati tentang
ketidakseriusan aparat untuk menuntaskan kasus suaminya.Terdapat konflik moral
interen dalam aparat penegak hukum yang seharusnya itu tidak terjadi. Hal itu
terbukti dari kontroversi pendapat mengenai kepemilikan senjata api Pollycarpus,
pilot pesawat Garuda yang ditumpangi Munir pada saat menjelang kematiannya.
Satu hal yang yang kini menjadi fokus penyidikan kasus kematian Munir,
yaitu masa aktif racun arsenik yang menjadi sebab kematian Munir.Yang jelas,
pelaku aksi kejahatan terhadap Munir boleh dikatakan profesional.Dengan
keahliannya, polisi sulit untuk memastikan kapan racun itu mulai bereaksi dan
kapan masuk ke dalam tubuh Munir.Secara defacto, pelaku adalah orang yang
memiliki pengetahuan tinggi dalam mengaplikasikan aksinya.Munir dibunuh atas
kehendak rezim yang merupakan warisan rezim lama (Orde Baru).Selain untuk
meniadakan Munir dari muka bumi (Indonesia) juga untuk menciptakan ketakutan
massal.Tim Pencari Fakta kasus Munir harus mengembalikan data temuan mereka
secara jujur.Komnas HAM melakukan analisis hukum atas kasus tersebut,
termasuk menganalisa jalannya persidangan dan pertimbangan hakim atas kasus
itu.Dalam melakukan analisis hukum kasus Munir, Komnas HAM membentuk
tim yang terdiri dari pakar hukum, anggota Polri dan jaksa.Tim penyidik Polri
14

yang menangani kasus kematian aktifis HAM, Munir membutuhkan dukungan
politik dari Presiden Susilo Bambang Yudhoyono untuk mengatasi hambatan-
hambatan yang dialami TPF selama bertugas.

c. Strategi penyelesaian
1. Tim Pencari Fakta kasus Munir harus mengembalikan data temuan
mereka secara jujur.
2. Komnas HAM melakukan analisis hukum atas kasus tersebut, termasuk
menganalisa jalannya persidangan dan pertimbangan hakim atas kasus itu.
3. Dalam melakukan analisis hukum kasus Munir, Komnas HAM
membentuk tim yang terdiri dari pakar hukum, anggota Polri dan jaksa.
4. Tim penyidik Polri yang menangani kasus kematian aktifis HAM, Munir
membutuhkan dukungan politik dari Presiden Susilo Bambang
Yudhoyono untuk mengatasi hambatan-hambatan yang dialami TPF
selama bertugas.

3. Kasus III
a. Judul Kasus : Kasus Sumiati
Kasus penganiayaan Sumiati, TKW asal Huu Kabupaten Dompu oleh
majikannya di Arab Saudi harus menjadi titik balik evaluasi kebijakan pemerintah
pusat terhadap pola pengiriman TKI ke luar negeri.Terkait kasus Sumiati,
Presiden harus mengancam pemerintah Saudi Arabia agar mau menandatangani
MoU perlindungan TKI serta menegakkan hukum bagi pelaku penganiayaan.
Kebijakan penghentian pengiriman TKI sementara ke Arab Saudi tidak
boleh menjadi aksi lokal, namun tindakan ini harus diambil alih
Negara.Pemerintah pusat harus membuat strategi dan tawar menawar yang lebih
jelas dengan Negara tujuan agar keselamatan dan pemenuhan hak-hak TKI bisa
terjamin. ungkap Wakil Ketua komisi III DPR RI H Fahri Hamzah kepada
Global FM Lombok.
15

Menurut anggota DPR RI Dapil NTB ini, jika presiden mengancam
pemerintah Saudi terkait dengan penghentian pengiriman TKI ke negaranya, maka
Saudi akan mengalami guncangan dalam hal ketenagakerjaan. Mereka akan
sangat rugi, karena sector peata laksana rumah tangga dan sejumlah sector
lainnya tidak lagi bisa terpenuhi dengan baik. Presiden harus melakukan
pertemuan secara lansung dengan Raja Saudi terkait penyelesaian kasus ini tampa
harus diwakili oleh Menteri Luar Negeri, Menakertrans atau BPTKI. Pasalnya
Fahri menilai, diplomasi Menteri masih lemah dalam hal kerjasama antar Negara.
Komisi Hak Asasi Manusia (HAM) Arab Saudi berjanji mengusut kasus
penganiayaan terhadap pembantu rumah tangga asal Indonesia, Sumiati Salan
Mustapa yang sejak 8 November dirawat di Rumah Sakit Madinah.
Seperti dilaporkan Arabnews.com, presiden komisi tersebut, Bandar Al-Iban,
telah menugaskan seorang pengacara, Sultan bin Zahim, mewakili Sumiati untuk
mendapatkan hak publik maupun privatnya.
Sumber di komisi tersebut mengemukakan, Zahim akan terus mewakili
Sumiati meski jika korban memutuskan tidak menuntut hak privatnya terkait
perdagangan manusia dan hukum Syariah. Al-Iban juga menugaskan satu tim ahli
dari komisi tersebut untuk menindaklanjuti kasus tersebut termasuk mengunjungi
korban dan menyusun laporan lengkap mengenai kasus itu.
Komisi HAM Saudi telah meminta laporan medis Sumiati dan minta Komisi
Penuntutan dan Penyelidikan di Madinah untuk terus menyampaikan
perkembangan terbaru dari kasus tersebut.Al-Iban juga menegaskan bahwa
hukum tidak membeda-bedakan pendatang dan warga Saudi.
Menurut laporan rumah sakit, beberapa bagian kulit kepala Sumiati terkelupas
dan banyak luka yang sudah lama seperti di kulit dan bibir. Selain itu, satu jari
tengah tangan Sumiati retak dan ada luka benda tajam di dekat matanya.
Sponsor Sumiati telah ditangkap namun polisi Madinah mengemukakan ada
tiga anggota keluarga yang diduga terkait penyiksaan. Penyelidikan terus
dilakukan.


16

b. Identifikasi masalah
1. Kurangnya perlindungan HAM untuk warga negara yang berada di luar
negeri yang berprofesi sebagai TKI.
2. Pemerintah Indonesia mengakui selama ini terlambat mengidentifikasi
kasus-kasus yang merundung tenaga kerja Indonesia (TKI).
3. Dari negara seperti Saudi Arabia dilaporkan adanya semacam
ketertutupan, sehingga kita tidak mudah mendapatkan informasi yang
segera.
4. Permsalahan TKI yang sudah sekian lama terjadi tidak cukup menjadi
pelajaran bagi bangsa ini untuk membangun sistem ketenagakerjaan
Indonesia yang lebih bermartabat.
5. Peran negara pengirim untuk melindungi tenaga kerjanya di luar negeri
dibatasi oleh prinsip kedaulatan yang diatur oleh hukum internasional.

c. Analisis Kasus
1. Saat ini terdata 3.271.548 TKI berkarya di berbagai negara. Sebanyak
4.385 di antaranya atau sekitar 0,1 persen mengalami permasalahan.
Apakah kekerasan, pelecehan seksual, dan pelanggaran administrasi.
2. Beberapa bagian kulit kepala Sumiati terkelupas dan banyak luka yang
sudah lama seperti di kulit dan bibir. Selain itu, satu jari tengah tangan
Sumiati retak dan ada luka benda tajam di dekat matanya.
3. Duta Besar Arab Saudi di Indonesia H.E. Ustad Abdurrahman Al-
Khayyath mengaku sangat kecewa dan menyesali terjadinya kekerasan
dan penyiksaan terhadap Sumiati, TKW asal Bima, yang dilakukan oleh
seorang warga negara Arab Saudi.
4. Anggota DPR Budi Suprianto mengeluhkan pemerintah tidak memiliki
penyelesaian komprehensif atas kasus penyiksaan terhadap TKI. Ia
menyatakan perlindungan terhadap TKI masih rendah.
5. Kondisi TKI sangat mengenaskan, kasus Sumiati di Arab Saudi
membuktikan rendahnya perlindungan terhadap TKI.
17

6. Rentannya perlindungan TKI membuktikan kegagalan Badan Nasional
Penempatan dan Perlindungan tenaga kerja Indonesia.
d. Strategi Penyelesaian
1. Pemerintah merumuskan rencana pembekalan telepon seluler bagi setiap
tenaga kerja.
2. Pemerintah harus memberikan penyelesaian komprehensif untuk
memberikan perlindungan kepada Tenaga Kerja Indonesia (TKI).
Presiden harus turun tangan untuk memberikan perlindungan melalui
hubungan kenegaraan.
3. Terkait hukuman, jika memang nanti pelakunya benar-benar terbukti
bersalah dan melanggar hukum Arab Saudi, maka bisa jadi akan
diberikan hukum qishas, penjara, denda dengan jumlah uang yang
sangat banyak atau bisa saja hukuman dalam bentuk lain sesuai
keputusan majelis hakim.
4. Harusnya presiden sendiri yang turun tangan secara kenegaraan. Bagi
sanak keluarga penyiksaan ini sangat meresahkan mereka.Yang kami
pahami adalah ada permasalahan lintas negara.Dan Kepala Negara harus
menuntaskan keresahan sebagaian TKI.
5. Pemerintah mengutus tim untuk segera terbang ke Arab Saudi menuntut
hak Sumiati.
6. Stop pengiriman TKI ke Arab Saudi.








BAB IV
PENUTUP
18


A. Kesimpulan
Hak Asasi Manusia (HAM) adalah hak yang dimiliki oleh setiap
umat manusia sejak terlahir di dunia.Hak tersebut menyatu dalam diri
seseorang tanpa mengenal bangsa, warna kulit, agama, afiliasi politik dan
lain-lainnya. Semua orang terlahir dengan hak yang sama tanpa
pengecualian. HAM telah menjadi standar norma internasional untuk
melindungi setiap manusia dari setiap tindakan; baik secara politik, hukum
dan sosial yang melanggar hak seseorang. Acuan utama dalam HAM
adalah Deklarasi Hak Asasi Manusia.
Rule of law sangat diperlukan untuk Negara seperti Indonesia
karena akan mewujudkan keadilan. Tetapi harus mengacu pada orang yang
ada di dalamnya yaitu orang-orang yang jujur tidak memihak dan hanya
memikirkan keadilan tidak terkotori hal yang buruk. Ada tidaknya rule of
law pada suatu negara ditentukan oleh kenyataan, apakah rakyat
menikmati keadilan, dalam arti perlakuan adil, baik sesame warga Negara
maupun pemerintah.
Dari kasus kasus yang telah di bahas di atas, Negara Indonesia
masih rentan terhadap pelanggaran HAM karena kurang tegasnya penegak
hukum dan aparat negara dalam menangani kasus kasus mengenai HAM
, antara lain : Pemukulan, penganiayaan, pencemaran nama baik,
menghalangi orang untuk mengekspresikan pendapatnya, pembunuhan,
pemerkosaan, penipuan, perbudakan, pelecehan seksual, dll.
B. Saran
Sebagai warga negara kita haruslah menjunjung tinggi hukum dan kaidah-
kaidahnya agar terselenggara keamanan, ketentraman, dan kenyamanan.
Pelajari Undang-Undang 1945 beserta nilai-nilainya dan jalankan apa yang
jadi tuntutanya agar tercipta kehidupan yang stabil. Dalam suatu
penegakan hukum disuatu Negara maka seluruh aspek kehidupan harus
dapat merasakannya dan diharapkan semua aspek tersebut mentaati hukum
dan menghormati hak asasi dirinya dan orang lain, maka akan terjadilah
19

pemerintahan dan kehidupan Negara yang harmonis, selaras dengan
keadaan dan sesuai dengan apa yang diharapkan yaitu kemakmuran
bangsa.