Anda di halaman 1dari 3

Nourdeen Wildeman: Islam Agama

Rasional
Posted by: MUSLIM 26 Februari 2010 in Mualaf Leave a comment
tweet


inShare

Nourdeen Wildeman, 26 tahun, adalah warga
Belanda yang resmi masuk Islam pada 9 Desember 2007. Meskipun baru menjadi mualaf,
ia telah aktif dalam dakwah Islam. Saat ini, ia sedang mempersiapkan peluncuran program
dakwah yang sedang berlangsung dengan tema, Temukan masjid yang menyajikan terbaik
buat Anda.
Program tersebut bertujuan untuk mendata profil masjid-masjid di Belanda. Lewat program
ini, diharapkan setiap Muslim dapat mengetahui segala hal tentang masjid; semua informasi
yang berkenaan dengan setiap masjid.
Program ini menyajikan secara lengkap profil setiap masjid, seperti latar belakang etnisnya,
alamat, kode pos, nomor telepon, alamat e-mail, gambar masjid, bahasa yang digunakan
dalam khotbah Jumat, toko buku, kapasitas muat masjid untuk laki-laki dan perempuan,
ketersediaan kamar mandi dan tempat wudlu baik untuk laki-laki atau perempuan, dan tak
ketinggalan beberapa kondisi umum, seperti bangunan tua, tidak ada parkir, pelajaran khusus,
kelengkapan, dan juga jadwal shalat sesuai dengan lokasi tertentu.
Awal Mengenal Islam
Nourdeen mengaku tidak tahu kapan persisnya ia benar-benar menjadi seorang Muslim.
Perkenalannya dengan Islam dimulai empat atau lima tahun sebelum ia resmi mengucapakan
dua kalimat syahadat. Semua dimulai dari keingintahuannya tentang Islam yang waktu itu
sedang hangat-hangatnya dibicarakan di media Eropa, pasca tragedi 11 September.
Buku pertama yang saya baca tentang Islam sangat akademis dan sangat sulit dipahami.
Karenanya saya memutuskan untuk mencari buku lain agar saya dapat lebih mudah
memahami Islam, dan saya tetap membaca dan lebih banyak lagi, kenang Nourdeen.
Setelah membaca banyak buku, saya menemukan bahwa Islam tidak seperti anggapan saya
selama ini. Justru banyak ajaran Islam yang sesuai dengan apa yang saya percayai secara
natural, tambahnya.
Menurut Nourdeen, Sebagian besar pencitraan media terhadap Islam sepenuhnya salah.
Anggapan media Barat bahwa Islam adalah agama penindas hak perempuan merupakan
kekeliruan besar. Islam juga bukan agama kekerasan dan teroris. Baginya, Islam bukan hanya
agama damai namun juga agama yang menghormati akal.
Saya menemukan Islam sebagai agama yang sangat rasional. Agama yang mendukung ilmu
pengetahuan. Ia mendorong manusia untuk memahami dan menafakkuri segala sesuatu di
sekitarnya. Sebuah agama yang mengajak umatnya untuk berfikir kritis, paparnya.
Sebelum mendalami Islam, saya selalu berpikir bahwa menjadi seorang atheist mungkin
lebih mudah dan enak, saya bisa bebas melakukan apa pun yang saya inginkan, namun hati
kecil saya selalu mengkritik gaya hidup seperti itu, dan akhirnya saya mencapai kesadaran
tentang Tuhan. Inilah kebenaran yang saya rasakan dalam Alquran dan hadis, akunya.
Respons Keluarga dan Lingkungan
Nourdeen lahir dan besar dalam keluarga dengan multikepercayaan, ayahnya seorang atheist,
sementara ibunya penganut agamanya Kristen Protestan. Keputusannya untuk menjadi
mualaf tidak mendapat penentangan yang berarti dari keluarganya.
Keinginan Nourdeen untuk menjadi Muslim memang tidak langsung ia ceritakan kepada
kedua orangtuanya. Nourdeen hanya beruhasa memancing reaksi mereka dengan bertanya
kepada mereka jika ia beralih ke agama lain seperti Islam, mereka menyatakan bahwa itu
adalah pilihan hidupmu, selama tidak mengganggu siapa pun, ia bebas menentukannya.
Meskipun begitu ibu Nourdeen sempat menasihatinya bahwa menjadi Kristen itu lebih
mudah. Nourdeen pun menjawab, saya tidak sedang mencari agama yang paling mudah,
tetapi palaing benar.
Berbeda dengan ibunya, ayahnya justru memberi dukungan penuh kepada keputusannya
tersebut. Saya sangat bahagiaakarena ayah bersedia mendampingi saya di saat saya
mengucapkan dua kalimat syahadat, dan ini terekam oleh kamera video. Ia mendukung saya
karena saya merupakan bagian dari dia, dan Islam akan menjadi bagian dari saya, maka dia
akan menerima saya dengan keislaman saya, papar Nourdeen.
Kebebasan yang diberikan keluarganya ini diakui Nourdeen sebagai anugrah besar. Karena
menurutnya, tak sedikit teman-teman mualaf yang menghadapi masalah yang cukup serius
akibat dari penentangan pihak keluarga.
Kenyataannya, memang banyak dari mualaf yang menghadapi masalah keluarga ketika
mereka menyatakan diri sebagai Muslim. Rata-rata yang mengahadapi problem seperti ini
adalah perempuan, ujarnya.
Saya sangat menghormati perempuan di negara ini yang menjadi mualaf, karena kondisi
yang mereka hadapi lebih sulit, belum lagi problem pakaian yang mereka kenakan. Bahkan
ada yang diusir dari rumah mereka dan keluarga mereka tidak mau menerima mereka lagi.
Karenanya, saya sangat beruntung, alhamdulillah, dengan keluarga saya.
Respons positif pun Nourdeen dapatkan dari atasan kerjanya. Setelah resmi menjadi Muslim,
Nourdeen kemudian mengirim e-mail kepada atasannya untuk memberitahu atasanya tersebut
bahwa ia telah menjadi seorang Muslim.
Namun, alhamdulillah, saya tidak kena damprat. Justru saya mendapat bonus pada akhir
tahun berdasarkan evaluasi kerja saya. Atasan saya mengatakan bahwa di samping saya
memeliki kinerja yang baik, saya juga mampu membuat pilihan yang sulit ketika saya
memilih menjadi seorang Muslim. Dia mengatakan bahwa saya memiliki keberanian untuk
mengambil pilihan yang sulit di samping saya mampu bekerja dengan baik, paparnya.
Mendalami Islam
Setelah resmi masuk Islam, Nourdeen masih terus bersemangat dalam mempelajari Islam. Ia
juga sering berdiskusi dengan umat Islam yang lebih senior, namun kegemarannya melahap
buku-buku Islam justu menjadikannya lebih banyak tahu tentang Islam dibanding mereka.
Saya membaca buku karangan Tariq Ramadan berjudul In the Footsteps of the Prophet
(Jejak-jejak Nabi). Buku ini banyak membantu saya sebagai Muslim Eropa karena ditulis
dengan cara yang cocok bagi orang Barat. Metode Arab dalam penulisan cerita berbeda
dengan metode Barat, tetapi Tariq Ramadan mampu menyampaikan pesannya dengan
menggunakan pendekatan Barat, ujar Nourdeen.
Saat ini, saya juga mempelajari Alquran di Dar al-Ilm di Belanda. Tempat ini menyediakan
kajian Alquran secara menyeluruh dari A hingga Z berdasarkan Tafsir Ibnu Kathir,
imbuhnya.
Menanggapi perkembangan isu keislaman dan perbedaan kultur dan kondisi antara Barat dan
Timur, Nourdeen mengatakan bahwa beberapa fatwa yang dikeluarkan di banyak negara-
negara Muslim tidak dapat dilaksanakan secara keseluruhan di negara-negara Muslim
minoritas. Beberapa modifikasi harus dilakukan agar sesuai dengan kondisi Barat.-
taq[republika.co.id]