Anda di halaman 1dari 8

Identitas Pasien

Nama : Nn. N
Jenis Kelamin : Perempuan
Usia : 7

th
Alamat : Mlati Sleman, Yogyakarta
KLINIS
Asma serangan sedang
PEMERIKSAAN PENUNJANG
oto Polos !hora" AP dan #ateral $ie%, posisi supine, inspirasi dan kondisi &ukup
' AP (ie%
' #ateral
Keterangan Expertize
' !ampak perselu)ungan semiopak inhomogen di peri&ardial dan perihiler )ilateral
terutama )agian de"tra.
' Pada *oto lateral tampak pem)esaran lim*onodi
' !ampak kedua sudut &ostophreni&us lan&ip
' !ampak kedua dia*ragma lan&ip
' !ampak kon*igurasi &or normal
' +etrosternal spa&e dan retro&ardial spa&e ter)uka
' Sistema tulang yang ter$isualisasi intak
Kesan
' ,ron&hopneumonia )ilateral dengan lim*adenopathy hillus
' Kon*igurasi &or normal
TEORI
Asma pada Anak
-e*inisi
Asma adalah suatu penyakit in*lamasi kronik dari saluran perna*asan yang meli)atkan
)anyak sel terutama sel mast, eosino*il dan lim*osit !. .ada indi$idu yang rentan,
in*lamasi ini menim)ulkan keadaan )erulang dari mengi /wheezing), sesak na*as
/breathlessness), dada terasa tertekan /chest tightness) dan )atuk /cough) khususnya
pada malam dan atau pagi hari, dimana ge0ala ini sering dihu)ungkan dengan luasnya
in*lamasi yang )er$ariasi dan sering mem)aik se&ara spontan atau dengan
pengo)atan, proses in*lamasi ini 0uga menye)a)kan ter0adinya peningkatan respon
saluran perna*asan terhadap )er)agai rangsangan
1tiologi
Asma merupakan gangguan kompleks yang meli)atkan *aktor autonom, imunologis,
in*eksi, endokrin dan psikologis dalam )er)agai tingkat pada )er)agai indi$idu.
Akti$itas )ronkokontriktor neural diperantarai oleh )agian kolinergik sistem sara*
otonom. U0ung sensoris $agus pada epitel 0alan na*as, dise)ut reseptor )atuk atau
iritan, tergantung pada lokasinya, men&etuskan re*leks arkus &a)ang a*erens, yang
pada u0ung e*erens merangsang kontraksi otot polos )ronkus. Neurotransmisi peptida
intestinal $asoakti* /P2(3 memulai relaksasi otot polos )ronkus. Neurotramnisi
peptida $asoakti* merupakan suatu neuropeptida dominan yang dili)atkan pada
ter)ukanya 0alan na*as. aktor imunologi penderita asma ekstrinsik atau alergi, ter0adi
setelah pemaparan terhadap *aktor lingkungan. ,entuk asma inilah yang paling sering
ditemukan pada usia 4 tahun pertama dan pada orang de%asa /asma yang tim)ul
lam)at3, dise)ut intrinsik. aktor endokrin menye)a)kan asma le)ih )uruk dalam
hu)ungannya dengan kehamilan dan mentruasi atau pada saat %anita menopause, dan
asma mem)aik pada )e)erapa anak saat pu)ertas. aktor psikologis emosi dapat
memi&u ge0ala'ge0ala pada )e)erapa anak dan de%asa yang )erpenyakit asma, tetapi
emosional atau si*atsi*at perilaku yang di0umpai pada anak asma le)ih sering dari
pada anak dengan penyakit kronis lainnya.
Pato*isiologi
Pati*isiologi asma ter)agi kedalam ketiga *ase. Pertama, mun&ulnya asma ditandai
adanya peningkatan respon dinding )ronkial. Kedua, reaksi asma *ase ini, )erupa
)ronkokonstriksi, dimana ter0adi rangsangan antigen terhadap dinding )ronkial5
ter0adinya proses degranulasi sel mest yang melepaskan histamin, kemotaktik,
proteolik serta heparin5 dan )ronkokonstriksi otot polos. Ketiga, reaksi asma *ase
lan0ut, )erupa in*lamasi )ronkial dimana ter0adi sel'sel in*lamasi meli)atkan
neutro*il, eosino*il5 pelepasan sitokin, )ahan')ahan $asoakti* dan asam arakhidonat5
in*lamasi sel'sel epitelial dan endotelial5 pelepasan interleukin 6 /2#'63 dan 2#'7,
tumor necrotic factor /!N3, 2nter*erongamma
a. Peran sentral in*lamasi pada pato*isiologi asma
Pelepasan histamin dan leukotrien se&ara langsung dapat menim)ulkan
)ronkospasme, pelepasan sitokin oleh sel mast, sel !, *i)ro)last, sel endotelial dan
epitelial, mengakti*asi neutro*il, eosino*il dan makro*ag, sehingga menim)ulkan
alergi in*lamasi kronik yang dikarakteristikkan se)agai asma. Sitokin 0uga dapat
memodulasi respon otot polos, permea)ilitas $askuler, merangsang neuron dan
sekresi mukus dimana keadaan ini dapat mempengaruhi peru)ahan struktur paru.
). 8angguan *ungsi paru te)agi kedalam dua mani*estasi, yaitu respon saluran
perna*asan dan ter0adinya keter)atasan saluran perna*asan ditandai adanya dengan
)ronkokontriksi akut, pem)engkakan dinding saluran na*as, pem)entukan sum)atan
mukus kronik serta ter0adi peru)ahan )entuk dinding saluran na*as /airway wall
remodeling).4 Keadaan kronik adalah merupakan asma yang terulang, dikarenakan
ter0adinya peningkatan sekresi dan o)struksi )ronkus yang terus menerus. Adanya
keter)atasan )erna*as /respiration insufficiency) dan kesukaran )erna*as
/respiratory distress), pada akhirnya akan )erlan0ut men0adi keadaan kronik yang
ter0adi dari adanya pem)engkakan )ron&hial dan tidak adekuatnya pertukaran gas.
Klasi*ikasi
Pemeriksaan yang dilakukan
Untuk penegakan diagnosis asma didasarkan anamnesis, pemeriksaan *isik, dan
pemeriksaan tam)ahan se)agai )erikut:
' Pemeriksaan anamnesis keluhan episodik )atuk kronik )erulang, mengi,
sesak,na*as, kesulitan )erna*as,
' aktor pen&etus /inciter) dapat )erupa iritan /de)u3, pendinginan saluran na*as,
alergen dan emosi, sedangkan perangsang /inducer3 )erupa kimia, in*eksi dan
alergen.
' Pemeriksaan *isik sesak na*as /dyspnea3, mengi, na*as &uping hidung pada saat
inspirasi /anak3, )i&ara terputus putus, agitasi, hiperin*lasi toraks, le)ih suka
posisi duduk. !anda'tanda lain sianosis, ngantuk, susah )i&ara, takikardia dan
hiperin*lasi torak,
' Pemeriksaan u0i *ungsi paru se)elum dan sesudah pem)erian metakolin atau
)ronkodilator se)elum dan sesudah olahraga dapat mem)antu menegakkan
diagnosis asma3.
Asma sulit didiagnosis pada anak di )a%ah umur 6 tahun. Untuk anak yang sudah
)esar /97 tahun3 pemeriksaan *ungsi paru se)aiknya dilakukan. U0i *ungsi paru yang
sederhana dengan peak flow meter atau yang le)ih lengkap dengan spirometer, u0i
yang lain dapat melalui pro$okasi )ronkus dengan histamin, metakolin, latihan
/exercise3, udara kering dan dingin, atau dengan Na:l hipertonis. Penggunaan peak
flow meter merupakan hal penting dan perlu diupayakan, karena selain mendukung
diagnosis, 0uga mengetahui ke)erhasilan tata laksana asma, selain itu dapat 0uga
Tabe !" Kasi#ikasi $era%at Pen&akit Asma pada Anak' Parameter kinis( keb)t)*an +bat( dan #aa par) Asma
epis+dik %arang Asma epis+dik sering Asma persisten rekuensi serangan ; < "= )ulan 9
< "= )ulan
#ama serangan ; < minggu 9 < minggu
2ntensitas serangan ,iasanya ,iasanya
ringan sedang
-i antara serangan !anpa ge0ala Sering ada ge0ala
!idur dan akti$itas !idak terganggu Sering terganggu
Pemeriksaan *isik Normal Mungkin
terganggu
.)at pengendali !idak perlu Perlu, steroid
/anti in*lamasi3
U0i *aal paru P1=1(< 9>?@ P1=1(< 7?'>?@
/di luar serangan3
(aria)ilitas *aal paru (aria)ilitas 9<A@ (aria)ilitas 96?@ Sering
Bampir sepan0a'ng tahun, hampir tidak ada remisi
,iasanya )erat
8e0ala siang dan malam
menggunakan lem)ar &atatan harian se)agai alternati*
!erapi
!atalaksana asma anak di)agi men0adi )e)erapa hal yaitu tatalaksana komunikasi,
in*ormasi, dan edukasi /K213 pada penderita dan keluarganya, penghindaran terhadap
*aktor pen&etus, dan medikamentosa. !atalaksana tentang penghindaran terhadap
pen&etus memegang peran yang &ukup. Serangan asma akan tim)ul apa)ila ada suatu
*aktor pen&etus yang menye)a)kan ter0adinya rangsangan terhadap saluran
respiratorik yang )eraki)at ter0adi )ronkokonstriksi, edema mukosa, dan hipersekresi.
Penghindaran terhadap pen&etus diharapkan dapat mengurangi rangsangan terhadap
saluran respiratorik
!atalaksana medikamentosa di)agi dalam dua kelompok )esar yaitu tatalaksana saat
serangan dan tatalaksana 0angka pan0ang. Pada saat serangan pem)erian C'4 agonis
pada a%al serangan dapat mengurangi ge0ala dengan &epat. ,ila diperlukan dapat
di)erikan kortikosteroid sistemik pada serangan sedang dan )erat
,r+n-*+pne)m+nia
-e*inisi
,ronkopneumonia adalah )ronkolius terminal yang tersum)at oleh eksudat, kemudian
men0adi )agian yang terkonsolidasi atau mem)entuk ga)ungan di dekat lo)ules,
dise)ut 0uga pneumonia lo)aris atau )isa 0uga peradangan yang ter0adi pada 0aringan
paru melalui &ara penye)aran langsung melalui saluran perna*asan atau melalui
hematogen sampai ke )ronkus. Jadi, kesimpulannya, )ronkopneumonia adalah 0enis
in*eksi paru yang dise)a)kan oleh agen in*eksius seperti )akteri, $irus, 0amur dan
)enda asing yang mengenai daerah )ronkus dan sekitar al$eoli
1tiologi
Se&ara umum indi$idu yang terserang )ron&hopneumonia diaki)atkan oleh adanya
penurunan mekanisme pertahanan tu)uh terhadap $irulensi organisme pathogen.
.rang yang normal dan sehat mempunyai mekanisme pertahanan tu)uh terhadap
organ perna*asan yang terdiri atas re*lek glottis dan )atuk, adanya lapisan mu&us,
gerakan silia yang menggerakan kuman keluar dari organ, dan sekresi humoral
setempat. !im)ulnya )ron&hopneumonia dise)a)kan oleh $irus, )akteri, 0amur,
protoDoa, mikro)akteri, mikoplasma, dan riketsia. antara lain: ,akteri : Strepto&o&&us,
Staphylo&o&us,B. 2n*luenDa, Kle)siella5 (irus : #egionella pneumonia5 Jamur :
Aspergillus spesies, :andida al)i&ans5 Aspirasi makanan, sekresi oro*ariengal atau isi
lam)ung kedalam paru5 dan ter0adi karena kongesti paru yang lama.
Se)a) lain dari pneumonia adalah aki)at *lora normal yang ter0adi pada pasien yang
daya tahannya terganggu, atau ter0adi aspirasi *lora normal yang terdapat dalam mulut
dank arena adanya pneumo&ystis &rania, My&oplasma.
Pato*isiologi
,ron&hopneumonia selalu didahului oleh in*eksi saluran na*as )agian atas yang
dise)a)kan oleh )akteri staphylo&o&&us, Baemophilus in*luenDa atau karena aspirasi
makanan dan minuman. -ari saluran perna*asan dengan gam)aran se)agai )erikut:
' 2n*eksi saluran na*as )agian )a%ah menye)a)kan tiga hal, yaitu dilatasi
pem)uluh darah al$eoli, peningkatan suhu, dan edema antara kapiler dan al$eoli
' 1kspansi kuman melaui pem)uluh darah kemudian masuk kedalam saluran
pen&ernaan dam mengin*eksinya mengaki)atkan ter0adinya peningkatan *lora
normal dalam usus, peristalti& meningkat aki)at usus mengalami mala)sor)si
dan kemudian ter0adilah diare yang )eresiko terhadap gangguan keseim)angan
&airan dan elektrolit
,ila pertahanan tu)uh tidak kuat maka mikroorganisme dapat melalui 0alan na*as
sampai ke al$eoli yang menye)a)kan radang pada dinding al$eoli dan 0aringan
sekitarnya. Setelah itu mikroorganisme ti)a di al$eoli mem)entuk suatu proses
peradangan yang meliputi empat stadium, yaitu :
' Stadium 2 = Biperemia /E F <4 0am pertama=kongesti3
Pada stadium 2, dise)ut hyperemia karena menga&u pada respon peradangan
permulaan yang )erlangsung pada daerah )aru yang terin*eksi. Bal ini ditandai
dengan peningkatan aliran darah dan permea)ilitas kapiler di tempat in*eksi.
Biperemia ini ter0adi aki)at pelepasan mediator'mediator peradangan dari sel'
sel mast setelah pengakti*an sel imun dan &edera 0aringan. Mediator'mediator
terse)ut men&akup histamin dan prostaglandin. -egranulasi sel mast 0uga
mengakti*kan 0alur komplemen. Komplemen )eker0a sama dengan histamin dan
prostaglandin untuk melemaskan otot polos $askuler paru dan peningkatan
permea)ilitas kapiler paru. Bal ini mengaki)atkan perpindahan eksudat plasma
ke dalam ruang interstisium sehingga ter0adi pem)engkakan dan edema antar
kapiler dan al$eolus. Penim)unan &airan di antara kapiler dan al$eolus
meningkatkan 0arak yang harus ditempuh oleh oksigen dan kar)ondioksida
maka perpindahan gas ini dalam darah paling )erpengaruh dan sering
mengaki)atkan penurunan saturasi oksigen hemoglo)in.
' Stadium 22=Bepatisasi Merah /E> 0am )erikutnya3
Pada stadium 22, dise)ut hepatisasi merah karena ter0adi se%aktu al$eolus terisi
oleh sel darah merah, eksudat dan *i)rin yang dihasilkan oleh pen0amu /host3
se)agai )agian dari reaksi peradangan. #o)us yang terkena men0adi padat oleh
karena adanya penumpukan leukosit, eritrosit dan &airan sehingga %arna paru
men0adi merah dan pada pera)aan seperti hepar, pada stadium ini udara al$eoli
tidak ada atau sangat minimal sehingga anak akan )ertam)ah sesak, stadium ini
)erlangsung sangat singkat, yaitu selama E> 0am.
' Stadium 222=Bepatisasi Kela)u /6 F > hari3
Pada stadium 222=hepatisasi kela)u yang ter0adi se%aktu sel'sel darah putih
mengkolonisasi daerah paru yang terin*eksi. Pada saat ini endapan *i)rin
terakumulasi di seluruh daerah yang &edera dan ter0adi *agositosis sisa'sisa sel.
Pada stadium ini eritrosit di al$eoli mulai di rea)sor)si, lo)us masih tetap padat
karena )erisi *i)rin dan leukosit, %arna merah men0adi pu&at kela)u dan kapiler
darah tidak lagi mengalami kongesti.
' Stadium 2(=+esolusi /7 F << hari3
Pada stadium 2(=resolusi yang ter0adi se%aktu respon imun dan peradangan
mereda, sisa'sisa sel *i)rin dan eksudat lisis dan dia)sorpsi oleh makro*ag
sehingga 0aringan kem)ali ke strukturnya semula.
Klasi*ikasi
,ron&hopneumonia )iasanya didahului oleh in*eksi traktusrespiratoris )agian atas
selama )e)erapa hari suhu tu)uh naik sangat mendadak sampai 6G'E? dera0at &el&ius
dan kadang disertai ke0ang karena demam yang tinggi. Anak sangat gelisah, dispenia
perna*asan &epat dan dangkal disertai perna*asan &uping hidung serta sianosis sekitar
hidung dan mulut, kadang 0uga disertai muntah dan diare. ,atuk )iasanya tidak
ditemukan pada permulaan penyakit tapi setelah )e)erapa hari mula'mula kering
kemudian men0adi produkti*. Pada stadium permulaan sukar di)uat diagnosis dengan
pemeriksaan *isik tetapi dengan adanya na*s dangkal dan &epat, perna*asan &uping
hidung dan sianosis sekitar hidung dan mulut dapat diduga adanya pneumonia. Basil
pemeriksaan *isik tergantung luas daerah auskultasi yang terkena, pada perkusi sering
tidak ditemukan kelainan dan pada auskultasi mungkin hanya terdengar ron&hi )asah
nyaring halus dan sedang
Pemeriksaan isik
Pada pemeriksaan *isik didapatkan, inspeksi : perlu diperhatikan adanya tahipnue,
dispnue, sianosis sekitar hidung dan mulut, pernapasan &uping hidung, distensi
a)domen, retraksi sela iga, )atuk semula nonprodukti* men0adi produkti*, serta nyeri
dada pada %aktu menarik napas. Palpasi : suara redup pada sisi yang sakit, hati
mungkin mem)esar, *remitus ra)a mungkin meningkat pada sisi yang sakit, dan nadi
mungkin mengalami peningkatan /tachicardia3. Perkusi : suara redup pada sisi yang
sakit. Auskultasi, auskultasi sederhana dapat dilakukan dengan &ara mendekatkan
telinga ke hidung=mulut )ayi. Pada anak yang )ronkopneumonia akan terdengar
stridor.
Pada )ronkopneumonia, hasil pemeriksaan *isik tergantung pada luasnya daerah yang
terkena. Pada perkusi toraks sering tidak di0umpai adanya kelainan. Pada auskultasi
mungkin hanya terdengar ronki )asah gelem)ung halus sampai sedang. ,ila sarang
)ronkopneumonia men0adi satu /kon*luens3 mungkin pada perkusi terdengar suara
yang meredup dan suara perna*asan pada auskultasi terdengar mengeras.
Pemeriksaan penun0ang
' :,: : !erutama untuk melihat apakah ada peningkatan H,:
' ,lood !est : Melihat penye)a)nya karena (iral, ,a&terial,atau ungi
' I'+ay : Merupakan 8old Standart
' :! : #e)ih detail
' Kultur sputum: Men&ari kausa in*eksi
!reatment : et &ausa
' (iral : sel* limited /<'4minggu3= anti$iral ADi&lo$ir = 8an&i&lo$ir
' ,a&terial : Anti)ioti& :ipro*lo"a&in
' -emam : Para&etamol, 2)upro*en
' ,atuk : 88, Alpara
Bome :are : 2stirahat, )anyak minum dan menggunakan masker.