Anda di halaman 1dari 91

PRAKTIKUM I

I. Judul : Identifikasi Cacing Ascaris lumbricoides



II. Tujuan :
1. Membedakan 4 jenis telur Ascaris lumbricoides
2. Membedakan morfologi cacing dewasa Ascaris lumbricoides jantan &
betina.

III. Landasan Teori :

Ascaris lumbricoides
a. Hospes dan habitat
Habitat Ascaris lumbricoides adalah pada usus halus manusia, manusia merupakan
tuan rumah definitive dan tidak membutuhkan tuan rumah perantara. Cacing ini merupakan
Soil Transmitted Helminths yaitu cacing yang perkembangan embrionya pada tanah.
b. Morfologi cacing dewasa dan telur.

Gambar cacing dewasa Ascaris
Sumber : http://belajarterusbiologi.blogspot.com/2011/03/nemathelminthes.html
diunduh pada ( 10 juni 2014 )
Nematoda usus terbesar, berwarna putih kekuning-kuningan sampai merah muda,
badan panjang silindris, kedua ujung lancip, lapisan luar dilapisi oleh kutikula yang
melintang, Mulutnya mempunyai 3 bibir (1 dorsal dan 2 lateral ventral), bibir dorsal memiliki
papil peraba, dibagian dalam memiliki gigi kitin yang kecil, cacing jantan memiliki ukuran
lebih kecil dan lebih pendek dibanding cacing betina (15-30 cm x 3-5 mm), bagian posterior
cacing jantan melengkung kearah ventral dan cacing betina berukuran 22-35 cm x 3-6 mm.
Ukuran telur tergantung kesuburan (makanan) dalam usus hospes, telur keluar
bersama tinja dalam keadaan belum matang ada 3 bentuk telur yang mungkin ditemukan
dalam tinja, yaitu:
1. Telur yang dibuahi, berbentuk bulat atau oval, dinding telur terdiri dari 3 lapis, telur
ini akan terapung di dalam larutan garam jenuh.
2. Telur yang dekortikasi, berbentuk bulat atau oval, dinding telur hanya terdiri dari 2
lapis, telur ini akan terapung di dalam larutan garam jenuh.
3. Telur yang tidak dibuahi, berbentuk oval, dinding tipis, tenggelam dalam larutan
garam jenuh
Terdapat satu jenis telur yang bersifat infektif dan ditemukan di dalam tanah, yaitu
telur berembrio. Dalam lingkungan yang sesuai telur yang dibuahi bisa menjadi telur
berembrio di dalam tanah dalam jangka waktu 3 minggu, telur berembrio merupakan
bentuk infektif yang mampu bertahan sampai 1 tahun di dalam tanah.

http://guhnugraha.blogspot.com/2012/07/parasitologi-nematoda-usus-ascaris.html
diunduh pada ( 10 juni 2014)
Keterangan :
a. Telur dekortasi
b. Telur dibuahi



c. Daur hidup
Siklus hidup Hidup dimulai ketika telur berembrio yang bersifat infektif temakan oleh
manusia, lalu menetas di bagian atas usus halus dan mengeluarkan larva rabditiform. Larva
akan menembus dinding usus halus menuju pembuluh darah atau saluran limfa, kemudian
masuk ke jantung, mengikuti aliran darah masuk ke paru-paru, alveolus, bronkeolus, bronkus,
trakea. Dari trakea larva menuju faring menimbulkan rangsangan batuk, sehingga penderita
sering batuk-batuk karena rangsangan larva ini, lalu larva akan akan tertelan masuk ke
kerongkongan menuju usus halus. Di usus halus larva berubah menjadi dewasa, diusus halus
inilah habitat cacing dewasa. Cacing ini mendapatkan makanan dari isi usus yang sedang
dicernakan. Cacing betina mempunyai kemampuan untuk mengeluarkan 26 juta butir telur,
dengan pengeluaran rata-rata 200 juta butir telur per hari. Telur-telur ini akan terbawa
bersama feses hospes keluar tubuh. Telur yang terbawa bersama fases ini dalam kondisi
belum matang, bila keadaan lingkungan di dalam tanah menguntungkan maka dalam waktu 3
minggu didalam telur terbentuk larva yang infektif. Cacing betina yang bertelur ditemukan
dalam waktu 2 bulan setelah infeksi, dan hidup selama 12 sampai 18 bulan.









Gambar siklus hidup cacing Ascaris
http://3acommunityners.blogspot.com/2011/11/makalah-ascariasis.html
diunduh pada ( 10 juni 2014 )
d. Gejala klinis
Gejala klinis akan ditunjukkan pada stadium larva maupun dewasa. Pada stadium
larva, dapat menyebabkan gejala ringan di hati dan di paru-paru akan menyebabkan sindrom
Loeffler.Sindrom Loeffler merupakan kumpulan tanda-tanda seperti demam, sesak
napas, eosinofilia, dan pada foto Roentgenthoraks terlihat infiltrat yang akan hilang selama 3
minggu. Pada stadium dewasa, di usus cacing akan menyebabkan gejala khas saluran cerna
seperti tidak nafsu makan, muntah-muntah, diare, konstipasi, dan mual. Bila cacing masuk ke
saluran empedu makan dapat menyebabkan kolik atau ikterus. Bila cacing dewasa kemudian
masuk menembus peritoneum badan atau abdomen maka dapat menyebabkan akut abdomen.
e. Diagnosis
Cara menegakkan diagnosis penyakit adalah dengan pemeriksaan tinja secara
langsung. Adanya telur memastikan diagnosis Askariasis. Diagnosis juga dapat dibuat bila
cacing dewasa keluar sendiri baik melalui hidung, mulut, maupun tinja.

f. Pengobatan
Pengobatan dapat dilakukan secara perorangan atau masal pada masyarakat. Untuk
perorangan dapat diberikan piperasin dosis tunggal untuk dewasa 3-4gram, anak 25mg/kgBB;
pirantel pamoat dosis tunggal 10mg/kgBB; mebenzadol 2100mg/hr selama 3hr atau 500mg
dosis tunggal; albenzadol dosis tunggal 400mg.

g. Epidemiologi dan Pencegahan
Indonesia memiliki prevalensi Askariasis tinggi, terutama pada anak. Frekuensinya
antara 60-90 %. Kurangnya pemakaian jamban keluarga menimbulkan pencemaran tanah di
sekitar halaman rumah, di bawah pohon, tempat mencuci, dan pembuangan sampah. Tanah
liat dengan kelembaban tinggi dan suhu berkisar antara 25-30C merupakan keadaan yang
baik untuk berkembangnya telur Ascaris lumbricoides menjadi bentuk infektif.
Anjuran mencuci tangan sebelum makan, menggunting kuku secara teratur, dan
pemakaian jamban keluarga serta pemeliharaan kesehatan pribadi dan lingkungan merupakan
tindakan pencegahan askariasis.




IV. ALAT DAN BAHAN
Alat
1. Mikroskop cahaya
2. Petri disk
3. Pinset
Bahan
1. Preparat awetan berbagai telur cacing Ascaris lumbricoides
2. Cacing dewasa Ascaris lumbricoides jantan dan betina

V. CARA KERJA















Preparat awetan berbagai telur cacing Ascaris
lumbricoides diamati dibawah mikroskop
dengan pembesaran 40 x 10.
Morfologi cacing dewasa Ascaris
lumbricoides diamati dan dibedakan antara
cacing jantan dan betina kemudian Hasil
pengamatan digambar dan diberi
keterangan.

VI. HASIL PENGAMATAN
Gambar Telur Cacing Ascaris lumbricoides
Telur dibuahi Telur dekortikasi








Perbesaran 40 x 10

Keterangan:









Perbesaran 40 x 10

Keterangan:



Telur tidak dibuahi Telur berembrio









Perbesaran 40 x 10

Keterangan:











Perbesaran 40 x 10

Keterangan:
Gambar Cacing Ascaris lumbricoides Dewasa
Jantan Betina










Perbesaran 40 x 10

Keterangan:











Perbesaran 40 x 10

Keterangan:














VII. Bahan diskusi
1. Mengapa cacing dewasa dan larva cacing parasit dapat bertahan terhadap enzim
pencernaan hospes?
Jawab:
Karena cacing dewasa memiliki kulit luar yang dilindungi oleh lapisan kutikula
sehingga mampu melindungi cacing dari enzim-enzim pencernaan.
2. Sebutkan 3 lapisan telur yang dibuahi pada telur Ascaris lumbricoides!
Jawab:
1. Lapisan luar : lapisan albuminoid dengan permukaan tidak rata (bergerigi),
berwarna kecoklatan, dari bahan albuminoid yang bersifat impermiabel.
2. Lapisan tengah : dari bahan hyalin bersifat impermiabel (lapisan ini yang memberi
bentuk telur) atau lapisan kitin yang terdiri atas polisakarida.
3. Lapisan dalam : membran vitellin yang terdiri atas sterol sebagai pelapis sel
telurnya.

3. Apa bedanya telur dekortikasi dan telur kortikasi pada telur Ascaris lumbricoides?
Jawab:
Telur dekortikasi merupakan telur yang dibuahi akan tetapi kehilangan 1 lapisan luar
yaitu lapisan albuminoid, sedangkan telur kortikasi aalah telur yang tidak kehilangan
albuminoid.
4. Mengapa terdapat telur yang tidak dibuahi pada telur Ascaris lumbricoides?
Jawab:
Terdapat telur yang tidak dibuahi karena dihasilkan oleh cacing betina yang infertile
(tidakl subur/ mandul) atau terlalu cepat dikeluarkan oleh cacing betina yang fertile.
5. Mengapa Ascaris lumbricoides digolongkan pada soil transnmitted helmint ?
Jawab:
Karena cacing ini merupakan nematoda usus yang penularannya melalui tanah.






VIII. Kesimpulan
Dari hasil pengamatan dapat ditemukan 4 jenis telur cacing Ascaris lumbricoides, dan
dapat dibedakan sebagai berikut:
Jenis telur Albuminoid Hyaline Vitellin Embrio
Dibuahi -
Tidak dibuahi - -
Dekortikasi -
- -
-
Berembrio



Pada cacing Ascaris lumbricoides jantan bagian posterior melengkung kearah ventral
dan ukurannya lebih kecil daripada cacing Ascaris lumbricoides betina. Pada cacing
Ascaris lumbricoides betina, ditemukan cincin atau gelang kopulasi pada 1/3 bagian
anterior.

IX. Pembahasan
Dalam praktikum ini tidak ditemukan telur yang dekortikasi karena telur ini hanya dapat
ditemukan ditanah, telur dekortikasi kehilangan albuminoid akibat dari pengaruh lingkungan.










Daftar Pustaka
Supriatin, Yati. (2008). Diktat dan Petunjuk Praktikum Parasitologi Medik (Helmintologi,
Protozologi, Entomologi). Bandung : AAK Bakti Asih ( 10 Juni 2014 )
Natadisastra, Djaenudin., Agoes, Ridad (ed). (2009). Parasitologi Kedokteran (di tinjau dari
organ tubuh yang diserang). Jakarta : EGC ( 10 Juni 2014 )
Prianto, Juni L.A. dkk. (1994). Atlas Parasitologi Kedokteran. Jakarta : Gramedia Pustaka
Utama ( 10 Juni 2014 )

















PRAKTIKUM II

I. Judul Praktikum : Identifikasi Cacing Trichuris trichiura.
II. Tujuan :
1. Mengamati ciri khas morfologi telur cacing Trichuris
trichiura
2. Mengamati dan membedakan morfologi cacing dewasa
Trichuris trichiura jantan dan betina.

III. Dasar Teori
Cacing Trichuris trichiura merupakan cacing parasit penyebab penyakit Trikuriasis
pada manusia, tetapi cacing ini pernah ditemukan pada mamalia lain seperti : kera, babi,
kambing, anjing, kucing, tikus dan mencit.
a. Morfologi cacing dewasa Trichuris trichiura, yaitu :
Bentuk menyerupai cambuk, 3/5 anterior tubuh halus seperti benang dan pada
ujungnya terdapat kepala, bagian ini akan menancapkan dirinya pada mukosa usus. 2/5
bagian pasteriornya lebih tebal, berisi usus dan perangkat alat kelamin, cacing jantan
panjangnya 30-45 mm, bagian pasteriornya melengkung kedepan/ventral sehingga
membentuk satu lingkaran penuh, cacing betina panjangnya 30-50 mm, ujung posterior
membulat tumpul.





Gambar cacing Trichuris trichiura
Sumber: http://www.biolib.cz/en/image/id17331/ ( 10 juni 2014 )
Ukuran telur 50 X 25 m, bentuknya seperti tempayan pada kedua kutubnya terdapat
overculum yang jernih dan menonjol.






Gambar telur cacing Trichuris trichiura
Sumber: http://www.gefor.4t.com/parasitologia/trichuris.html ( 10 juni 2014 )
Telur dilapisi 2 buah dinding, sebelah dalam jernih sedangkan sebelah luar berwarna
kecoklatan, telur akan terapung dalam larutan garam jenuh. Jumlah telur yang dihasilkan oleh
cacing betina diperkirakan antara 3000-10000 butir telur per hari. Telur akan terbawa
bersama feses keluar tubuh hospes, telur yang keluar ini belum matang, pematangan sel telur
terjadi diluar tubuh hospes yaitu pada lingkungan tanah yang sesuai sekitar 3-4 minggu
barulah telur berisi embrio/larva pertama yang infektif. Infeksi terrjadi secara langsung tidak
memerlukan hospes perantara.
b. Siklus Hidup

Sumber : http://ariawanputu2.blogspot.com/2013/10/trichuris-trichiura-mantap.html
diunduh ( 10 juni 2014 )
Siklus hidup dimulai jika telur infektif tertelan manusia/mamalia, larva menetas di
usus halus menetap sampai dewasa dalam waktu 3-10 hari, setelah dewasa cacing turun ke
daerah coecum menempel dan mengambil makanan dengan cara menancapkan bagian
anterior yang seperti cambuk pada mukosa usus. Masa pertumbuhan mulai dari telur yang
tertelan sampai menjadi cacing dewasa yang menghasilkan telur diperlukan waktu sekitar 30-
90 hari.

c. Patologi dan gejala klinis
Cacing Trichuris trichiura pada manusia terutama hidup didaerah sekum dan kolon
asendens. Pada infeksi berat terutama pada anak-anak cacing trichuris trichiura ini tersebar
diseluruh kolon dan rectum yang kadang-kadang terlihat terlihat dimukosa rectum yang
mengalami prolapsus akibat dari mengejannya penderita pada waktu melakukan defekasi.
Cacing trichuris trichiura ini memasukan kepalanya dalam mukosa usus hingga dapat
menjadi trauma yang menimbulkan iritasi dan dapat mengakibatkan peradangan dimukosa
usus, selain itu akibatnya dapat menimbulkan perdarahan. Selain itu juga cacing ini
menghisap darah dari hospes sehingga dapat mengakibatkan anemia. Untuk penderita
terutama pada anak-anak dengan infeksi trichuris trichiura yang berat dan menahun
menunjukan gejala-gejala diare yang dapat diselinggi dengan sindrom disentri, anemia, nyeri
ulu hati, berat badan menurun dan kadang- Kadang rektum menonjol melewati anus
(prolapsus rektum), terutama pada anak-anak atau wanita dalam masa persalinan, selain itu
juga dapat menyebabkan peradangan usus buntu (apendisitis). Pada tahun 1976, bagian
parasitologi FKUI telah melaporkan 10 anak dengan trikuriasis berat, semuanya menderita
diare yang menahun selama 2-3 tahun. Infeksi Trichuris trichiura sering di sertai denagan
infeksi cacing lainnya atau protozoa.
Pasien yang mendapat infeksi kronis Trichuris trichiura menunjukkan tanda-tanda klinis
seperti :
a. Anemia
b. Tinja bercampur darah
c. Sakit perut
d. Kekurangan berat badan
e. Prolaps rectal yang berisi cacing pada mucosa


d. Epidemiologi Trichuris trichiura
Untuk penyebaran infeksi ini yang paling penting merupakan kontaminasi tanah
dengan tinja. Telur cacing Trichuris trichiura ini tumbuh didaerh tanah liat, tempat yang
lembab dan teduh dengan suhu rata-rata 30C. pada daerah yang banyak menggunakan tinja
sebagai pupuk merupakan jalur infeksi yang tepat. Frekuensi infeksi cacing ini di Indonesia
sangat tinggi. Diberbagai daerah pedesaan di Indonesia frekuensi infeksinya hingga mencapai
30-90%. Didaerah sangat endemik infeksi dapat dicegah dengan cara pengobatan pada
penderita trikuriasis. Pencegahan dapat dengan cara pembuatan jamban yang baik dan
diberikan pengetahuan tentang sanitasi dan terutama kebersihan perorangan terutama pada
anak-anak, dengan mencuci tangan sebelum makan, mencuci dengan baik sayuran yang
dikonsumsi tanpa pemasakan terutama daerah yang menggunakan tinja sebagai pupuk.
Infeksi pada manusia sering terjadi tapi intensitasnya rendah. Didaerah tropis tercatat
80 % penduduk positif, sedangkan diseluruh dunia tercatat 500 juta yang terkena infeksi
(menurut Brown & Belding, 1958). Infeksi banyak terdapat didaerah curah hujan tinggi,
iklim sub tropis dan pada tempat yang banyak populasi tanah (Koes Irianto, 2013).
Anak-anak lebih mudah terserang daripada orang dewasa. Infeksi berat terhadap
anak-anak yang suka bermain tanah dan mereka mendapat kontaminasi dari pekarangan yang
kotor. Infeksi terjadi karena menelan telur yang infektif melalui tangan, makanan, atau
minuman yang telah terkontaminasi, langsung melalui debu, hewan rumah atau barang
mainan (Koes Irianto, 2013).

e. Diagnosis
Diagnosa ditegakkan dengan ditemukannya telur pada tinja (feces). Pada infeksi
ringan, metode pemeriksaan tinja dapat dilakukan dengan metode konsentrasi. Penghitungan
jumlah telur dapat mendeterminasi intensitas infeksi dan dapat mengetahui hasil pengobatan.
Perhitungan jumlah telur dapat menggunakan metode Stoll (Koes Irianto, 2013).

f. Pengobatan
1. Diltiasiamin jodida, diberikan dengan dosis 10-15 mg/kgBB per hari selama 3-5
hari.
2. Stibazium yodida. Diberikan dengan dosis 10 mg/kgBB per hari, 2 x sehari, selama
3 hari dan bila diperlukan dapat diberikan dalam waktu yang lebih lama. Efek
samping obat ini adalah rasa mual, nyeri pada perut, dan warna tinja menjadi
merah.
g. Pencegahan
Cara pencegahan penyakit trichuriasis tidak beda jauh dengan pencegahan penyakit
ascariasis caranya seperti berikut :
1. Mencuci tangan sebelum dan sesudah makan,
2. Mencuci sayuran yang di makan mentah,
3. Memasak sayuran di dalam air mendidih.
4. Menggunakan jamban ketika buang air besar,
5. Tidak menyiram jalanan dengan air got


IV. Alat dan Bahan
Alat
1. Mikroskop cahaya atau mikroskop listrik
2. Atlas parasitologi medik
Bahan
1. Preparat awetan berbagai telur cacing Trichuris trichiura.
2. Preparat cacing dewasa Trichuris trichiura jantan dan cacing dewasa Trichuris
trichiura betina.

V. Cara Kerja
Pengamatan telur Trichuris trichiura :












Alat dan bahan yang akan digunakan
disediakan terlebih dahulu, Preparat awetan
telur cacing Trichuris trichiura diletakan di
meja preperat mikroskop
Kemudian diamati di bawah mikroskop dengan
pembesaran (40X10). Hasil pengamatan
digambar pada kolom serta dilengkapi dengan
keterangan gambaryang memperlihatkan ciri
khas.

VI. Hasil Pengamatan
Gambar
Cacing Tricuris trichiura betina Cacing Tricuris trichiura jantan










Perbesaran 40 x 10

Keterangan:
1. Anterior
2. Posterior










Perbesaran 40 x 10

Keterangan:
1. Anterior
2. Posterior

Gambar Telur Tricuris trichiura







Perbesaran 40 x 10

Keterangan:
1. Overculum
2. Hyaline

VII. Bahan Diskusi
1. Apa yang dimaksud dengan propalsus rektum serta jelaskan mengapa itu sering
terjadi pada pasien penderita trikuriasis !
Jawab:
Turunnya rektum melalui usus sehingga lapisan rektum terlihat seperti jari berwarna
merah dan gelap.
2. Jelaskan cirri khas dari cacing jantan & betina Trichuris trichiura!
Jawab:
- Cacing jantan ukurannya lebih kecil daripada betina, bagian posteriornya
melengkung ke depan sehingga membentuk satu lingkaran penuh dan terdapan
satu spikulum serta kloaka.
- Cacing betina ukurannya lebih besar daripada jantan, ujung posterior membentuk
bulat tumpul.
3. Sebutkan bahan pemeriksaan yang digunakan untuk mendiagnosa penyakit trikuriasis
serta jelaskan bagaimana cara mendiagnosanya!
Jawab:
Bahan pemeriksaanya adalah feses hospes. Cara mendiagnosanya yaitu jika
ditemukan telur Trichuris trichiura dalam feses berarti hospes mendertita tricuriasis.
4. Mengapa penyakit trikuriasis sering terinfeksi gabungan bersama penyakit ascariasis?
Jawab:
Siklus hidup yang sama, sehingga dalam feses pasti ditemukan telur Ascaris
lumbricoides dan Trichuris trichiura. Sehingga sering terinfeksi bersamaan.
5. Jelaskan minimal 3 manfaat memahami siklus hidup cacing parasit!
a. Mengetahui bentuk telur cacing
b. Mengetahui sistem peredaran cacing pada tubuh
c. Dapat mencegah perkembangbiakan telur tersebut

VIII. Kesimpulan
Dari hasil pengamatan yang telah kami lakukan, pada preparat telur cacing Trichuris
trichiura dapat disimpulkan bahwa :
Bentuknya seperti tempayan .
Pada kedua ujungnya terdapat overculum yang jernih dan menonjol
Terdapat dua lapisan yaitu lapisan hyalin dan lapisan sterol
Pada pengamatan preparat cacing Trichuris trichiura dewasa dapat dibedakan antara
cacing Trichuris trichiura jantan dan cacing Trichuris trichiura betina, adalah sebagi
berikut:
Perbedaan Trichuris trichiura jantan Trichuris trichiura betina
Posterior
Melengkung kedepan sehingga
membentuk satu lingkaran
penuh
Membulat tumpul
Ukuran
Lebih kecil dengan panjang
30-45 mm
Lebih besar dengan panjang
30-50 mm

IX. Pembahasan
Pada hasil pengamatan telur dan cacing Trichuris trichiura ditemukan telur dan morfologi
cacing yang cukup jelas sehingga memudahkan pengamatan.
















Daftar Pustaka
Gandahusada, prof.dr. Srisari, dkk. (1998). Parasirologi kedokteran Edisi ketiga. Jakarta:
FKUI. ( 10 juni 2014 )
Prianto L.A., Juni, dkk. (2008). Atlas Parasitologi Kedokteran. Jakarta : PT Gramedia
Pustaka Utama. ( 10 juni 2014 )
Samidjo, Jangkung Onggawaluyo. (2002). Parasitologi Medik Helmintologi. Jakarta :
EGC. ( 10 juni 2014 )
Supriatin, S.Pd, Yati. (2008). Diktat dan petunjuk Praktikum Parasitologi Medik
(Helminthologi, protozoologi, entomologi). Bandung : AAK Bakti Asih. ( 10 juni
2014 )
















PRAKTIKUM III

I. Judul Praktikum : Identifikasi Cacing Tambang
II. Tujuan :
1. Mengamati ciri khas morfologi telur cacing tambang.
2. Membedakan morfologi cacing dewasa Ancylostoma duodenale
dan Necator americanus jantan dan betina.
III. Dasar Teori
A. Klasifikasi cacing tambang
Phylum : Nemathelminthes
Kelas : Nematoda
Sub kelas : Secernantea
Ordo : Strongylida
Famili : Ancylostomatidae
Genus : Ancylostoma dan Necator
Spesies : Ancylostoma duodenale (Afrika)
Necator americanus (Amerika)

a. Habitat dan hospes
Habitat, dalam usus halus terutama di daerah jeujeunum, sedangkan pada infeksi berat
dapat tersebar sampai ke colon dan deudeunum. Manusia merupakan hospes definiif tempat
cacing ini tidak membutuhkan tuan rumah perantara.

b. Morfologi cacing dewasa Ancylostoma duodenale dan Necator americanus
Cacing dewasa yang masih hidup berwarna putih sampai kemerah-merahan morfologi
satu sama lain kedua cacing ini hampir mirip. Perbedaannya antara lain yaitu Necator
americanus menyerupai hurup S dan Ancylostoma duodenale menyerupai hurup C
ta
Bentuk dewasa cacing tambang
Sumber http://plpnemweb.ucdavis.edu/nemalex/taxadata/aduodenale.html
Diunduh pada ( 5 juni 2014 )

Keterangan :
a. Gambar cacing dewasa Ancylostoma duodenale
b. Gambar cacing dewasa Necator americanus
Bagian yang dapat dipakai untuk mengidentifikasi kedua cacinng tambang diatas
antara lain bagian anterior, terdapat bursa kapsul sedangkan pada cacing jantan terdapat busa
kopulasi berfungsi memegang cacing betina pada waktu kopulasi. Necator americanus
memiliki bursa kapsul yang sempit, memiliki sepasang benda pemotong cacing jantan
berukuran 7-9 mm x 0,3 mm, memiliki bursa kopulasi bulat dengan dorsal rays dua cabang.
Didapat dua spikula yang letaknya berdempetan serta ujungnya berkait. Cacing betina
panjangnya 9-11 mm x 0,4 mm, pada ujung posterior tidak didapatkan spina kaudal, vulva
terletak pada bagian anterior kira-kira pada pertengahan tubuh. Ancylostoma duodenale
memiliki bursa kapsul lebih besar daripada Necator americanus memiliki 2 pasang gigi
ventral cacing jantan berukuran 11mm-0,5 mm, bursa kopulasi melebar dan cacing betina
berukuran 10-13 mm x 0,6 mm.
Telur berbentuk oval, tidak berwarna, berukuran 40 x 90m. Dinding luar dibatasi oleh
lapisan vitteline yang halus, diantara ovum dan dinding telur terdapat ruangan yang jelas dan
bening. Telur yang baru keluar bersama tinja mempunyai ovum yang mengalami segmentasi
2,4,8 sel.

Gambat telur cacing tambang
Sumber http://plpnemweb.ucdavis.edu/nemalex/taxadata/aduodenale.html
Diunduh pada ( 5 juni 2014 )

c. Siklus hidup
Cacing ini bermukim di dalam usus halus dimana mereka melekatkan diri pada
lapisan usus dengan mulut bebentuk sangkutan. Mereka menusuk pembuluh darah dengan
giginya yang tajam dan menghisap darah. Cacing betina menghasilkan telur-telur dalam
jumlah yang besar. Telur-telur itu dikeluarkan manusia melalui tinja dan menetas diluasr
tubuhnya. Telur-telur itu menetas dan mengeluarkan janin di dalam tanah yang hangat dan
lembab. Apabila kaki yang tidak beralas menyentuh tanah lembab yang mengandung cacing-
cacing muda yang halus itu, cacing itu dengan cepat menembusi kulit kaki dan memasuki
pembuluh darah, dan darah membawa mereka ke dalam paru-paru. Dari paru-paru cacing-
cacing tambang yang masih muda itu memasuki saluran pernafasan dan terus ke dalam
kerongkongan sehingga tertelan. Dengan cara ini mereka akhirnya memasuki usus halus
dimana mereka mencapai kedewasaan. Kalau jumlah cacing itu kurang dari seratus, maka
belum terlihat gejala. Tetapi kalau jumlahnya lebih dari lima ratus, maka lebih dari empat
ribu ekor cacing terdapat dalam tubuh seorang.''

Gambar siklus hidup cacing tambang
Sumber : https://amelliaavianty.wordpress.com/2012/08/25 ( 5 juni 2014 )

d. Patologi klinis

1. Stadium Larva
Bila banyak filariform sekaligus menembus kulit, maka terjadi perubahan kulit yang
disebut ground itch, dan kelainan pada paru biasanya ringan.
2. Stadium Dewasa
Gejala tergantung pada:
a. Spesies dan jumlah cacing
b. Keadaan gizi penderita
Gejala klinik yang timbul bervariasi bergantung pada beratnya infeksi, gejala yang sering
muncul adalah lemah, lesu, pucat, sesak bila bekerja berat, tidak enak perut, perut buncit,
anemia, dan malnutrisi.Tiap cacing Necator americanus menyebabkan kehilangan darah
sebanyak 0,005 0,1 cc sehari, sedangkan A. duodenale 0,08 0,34 cc. biasanya terjadi
anemia hipokrom mikrositer. Disamping itu juga terdapat eosinofilia. Anemia karena
Ancylostoma duodenale dan Necator americanus biasanya berat. Hemoglobin biasanya
dibawah 10 (sepuluh) gram per 100 (seratus) cc darah jumlah erythrocyte dibawah 1.000.000
(satu juta)/mm3. Jenis anemianya adalah anemia hypochromic microcyic.Bukti adanya toksin
yang menyebabkan anemia belum ada biasanya tidak menyebabkan kematian, tetapi daya
tahan berkurang dan prestasi kerja menurun.
e. Diagnosis
Jika timbul gejala, maka pada pemeriksaan tinja penderita akan ditemukan cacing
tambang. Jika dalam beberapa jam tinja dibiarkan dahulu, maka telur akan mengeram dan
menetas larva.
f. Pencegahan dan pengobatan
Pencegahan dapat dilakukan dengan cara Sanitasi lingkungan, diantaranya:
1. Cuci tangan sebelum makan
Cuci tangan, pekerjaan ini adalah Awal yang terpokok jika anda ingin tetap sehat.
Dimanapun dan kapanpun selalau ada bakteri atau mikroorganisme yang siap masuk
melawan tubuh kita 70 % perantara yang tepat adalah dari tangan, untuk itu cuci tangan
adalah salah satu tindakan preventif yang sangat tepat.
2. Hindari pemakaian feces manusia sebagai pupuk pada sayuran
Jika sayuran yang dimakan tidak bersih maka larva cacing akan ikut termakan karena
sayuran dipupuk menggunakan feces manusia yang telah terinfeksi.
3. Jika anda Ibu, awasi dan jaga anak anda main di Tanah
Dari sifat hidupnya, cacing tambang hidup pada tanah, sangat cepat menular melalui
kulit, melewati epidermis kulit teratas hingga terakhir, anak anak tentulah sangat
mudah untuk dijadikan media untuk hidup si cacing tambang. Untuk itu perlu awasi
anak anda saat bermain di tanah atau di halaman rumah yang memungkinkan adanya
cacing tambang. Jika terlanjur memanjakan anak anda, lakukan kegiatan prefentif yaitu
bersihkan seluruh badan anak dari tanah sehabis main.
4. Hindari berjalan keluar rumah tanpa memakai alas kaki
Kebiasaan tidak memakai alas kaki merupakan faktor resiko yang kuat untuk terjadinya
infeksi cacing tambang.

Dan pengobatan penyakit cacing tambang dapat dilakukan dengan berbagai macam
anthelmintik, antara lain befenium hidroksinaftoat, tetraldoretilen, pirantel pamoat dan
mebendazol. Bila cacing tambang telah dikeluarkan, perdarahan akan berhenti, tetapi
pengobatan dengan preparat besi (sulfas ferrosus) per os dalam jangka waktu panjang
dibutuhkan untuk memulihkan kekurangan zat besinya. Di samping itu keadaan gizi
diperbaiki dengan diet protein tinggi.

IV. ALAT DAN BAHAN
Alat
1. Mikroskop cahaya atau mikroskop listrik
2. Alat parasitologi medik
Bahan
1. Preparat awetan telur cacing tambang
2. Preparat cacing tambang dewasa jantan dan betina

V. LANGKAH KERJA









Amati preparat telur cacing tambang dibawah
mikroskop dengan pembesara lemah terlebih
dahulu ( 10x10 ) lalu dengan pembesaran 10x40 !
Ambil morfologi cacing tambang dewasa, berdasarkan
cacing jantan dan betina !Gambar hasil pengamatan pada
kolom yang telah disediakan serta lengkapi dengan
keterangan gambar yang memperlihatkan ciri khas !

VI. HASIL PENGAMATAN
GAMBAR
Bucal capsule Cacing Ancylostoma
duodenale
Bucal capsule Cacing Necator americanus
GAMBAR
Telur Cancing Tambang
















GAMBAR
Bursa Kopulatrik Cacing Ancylostoma
duodenale
Bursa Kopulatrik Cacing Necator
americanus


VII. BAHAN DISKUSI
1. 2 bagian tubuh cacing tambang dewasa yang digunakan sebagai alat identifikasi
spesies :
a. Bucale capsule Ancylostoma duodenale : 2 pasang gigi ventral runcing, 1
pasang gigi dorsal, 2 bursa kapulatrik.
b. Necator americanus : lempeng pemotong sempit berbentuk agak bulat.
c. Ancylostoma duodenale : lebih sempit memiliki 2 spikula.
2. 2 cara upaya pencegahan penyakit yang disababkan oleh infeksi cacing tambang :
a. Penggunakan jamban yang bersih sangat penting, karena feses yang ada di
tanah akan menjadi sumber parasit.
b. Menggunakan alas kaki jika keluar rumah untuk memperkecil resiko larva
masuk kedalam tubuh.
3. Siklus hidup cacing tambang :
a. Stadium diagnostik cacing tambang larva rabditiform
b. Habitat cacing tambang dewasa dirongga usus halus
c. Stadium infektif dari cacing tambang larva filariform
4. A. Perbedaan morfologi cacing tambang dewasa jantan dan betina serta fungsi dari
organ Bursa kopulatrik :
a. Betina :
Ukuran lebih besar
Alat kelamin berpasangan
Bursa kopulatrik lebih sempit
b. Jantan :
Ukuran lebih kecil
Alat kelamin tunggal
Bursa kopulatrik lebih lebar
c. Fungsi Bursa kopulatrik untuk memegang cacing betina pada saat berkopulasi.
B. Ground ich adalah gangguan yang disebabkan oleh larva, bila larva filariform
menembus kulit akan membentuk moculopopula dan eritem yang terbatas, sering ada
rasa gatal yang hebat maka terjadi perubahan kulit.
5. Siklus hidup cacing Ascaris lumbricoides dan cacing tambang :
Cacing Ascaris lumbricoides : telurnya belum membelah saat dikeluarkan oleh hospes
(pematangan telur berlangsung ditanah).
Cacing tambang : telurnya keluar dari hospes terbawa feses dan menetas menjadi
larva rabditiform di tanah.
VIII. KESIMPULAN
Cacing Ancylostoma duodenale bentuknya menyerupai huruf c memmiliki bursal
kapsul dengan 2 gigi ventral runcing dan 3 pasang gigi dorsal, rundimeter vulea pada
cacing betina terlrtak anterior dan posterior pada tubuh cacing.
Cacing Necator americanus menyerupai huruf s dan berukuran lebih kecil di bansing
cacing Ancylostoma duodenale bursal kapsul sempit bursa kopulasi lebar panjang
berbentuk agak bulat.
IX. PEMBAHASAN
Kami menemukan cacing jantan pada preparat yang di amati dengan mikroskop
langsung dengan perbesaran 40x meskipun gambarnya kurang jelas termasuk bagian-
bagiannya.
Daftar pustaka
http://plpnemweb.ucdavis.edu/nemalex/taxadata/aduodenale.html ( 5 juni 2014 )
https:/amelliaavianty.wordpress.com/2012/08/25 ( 5 juni 2014 )
AGOES r., Oehadian h., Natadisastra D. 1999. Bunga rampai Entomologi Medik, edisi ke-2.
FK unpad :Bagian Parasitologi ( 5 Juni 2014 )


























PRAKTIKUM V

I. Judul : Pemeriksaan tlur cacing dengan berbagai metode
II. Tujuan :
1. Mengindentifikasi telur cacing nematoda usus tipe penyebaran
soiltransmitted helmint dan non soiltrasmitted helmint..

III. Dasar teori

a. Definisi
Sebelum melakukan pemeriksaan terlebih dahuli harus di ketahui habitat dari parasit
caciing atau bahan pemeriksaan yang akan di periksa. Disini akan di uraikan peeriksaan yang
penting dari bahan pemeriksaan tinja dan darah, pemeriksaan larva cacing, pemeriksaan
cacing dewasa, penyimpanan, pengawetan telur dan cacing dewasa dalam tinja, preparat
permanen, pembuatan larutan serta pemeriksaan darah tepi untuk cacing mikrofilia.
Pemeriksaan telur cacing dari tinja. Dapat dilakukan untuk mendapat hasil kuantitatif dan
kualitatif (disebut sebagai cara kuantitatif dan cara kualitatif).
KUALITATIF. Dapat dilakukan dengan beberapa cara tergantung pada keperluannya, yaitu
pemeriksaan natif (direct slide), pemeriksaan dengan metoda apung (Flotation Methode),
modifikasi metode Metrhiolat Iodine Formaldehyde (MIF), metode selotif (Cellotape
methode), metode konsentrasi, teknik sediaan tebal (cellopane covered think smear technic/
teknik kato) dan Metode Sedimentasi Formol Ether (Ritchie).
KUANTITATIF. Dikenal 2 metode pemeriksaan, yaitu Metode Stoll dan Metode Kato Katz.
Pemeriksaan larva. Dilakukan dengan dua cara, yaitu metode pembiakan larva menurut
Baermann dan modifikasi Harada-Mori. Preparat permanen. Tergantung yang diperiksa
adakah trematoda, cestoidea, nematoda atau telur, memiliki cara yang berbeda.






IV. ALAT DAN BAHAN
ALAT :
1. Kaca benda
2. Kaca penutup
3. Pipet pasteur
4. tabung reaksi
5. tabung sentrifuse
6.sentrifuse
7. corong kaca
8.gelas kimia 100 ml
9. gelas kimia 250 ml
10. mikroskop
11. lidi
12. Ose
Bahan :
1. Feses positif telur cacing
2. usap anus positif Enterobiasis
3. NaCl fisiologi
4. Larutan eosin 2%
5. lugol
6. kertas saring
7. aquadest

V. Cara kerja
a. metode selotif







Dtisiapkan selotif dengan lebar 2 cm, tempelkan
selotif pada anus sambil ditekan kearah dalam agar
telur cacing dapat terbawa
Tempelkan selotiff pada kaca benda, periksa dibawah
mikroskop.
GAMBAR













VI. Bahan diskusi
1. Jelaskan keunggulan dan kekurangan metode pemeriksaan teur cacing dengan
menggunakan
a. teknik natif
b. teknik konsentrasi








PRAKTIKUM IV

IV. Judul : Identifikasi Cacing Kremi (Enterobius vermicularis)
V. Tujuan :
2. Mengamati ciri khas morfologi telur Enterobius vermicularis.
3. Membedakan morfologi cacing dewasa Enterobius vermicularis
jantan dan betina

VI. Dasar teori

a. Klasifikasi
Philum : Nemathelmintes
Kelas : Nematoda
Sub kelas : Plasmidia
Ordo : Rhabditia
Famili : Oxyuroidea
Genus : Enterobius
Spesies : Enterobius vermicularis

b. Morfologi
Cacing kremi yang dalam bahasa ilmiah biasa disebut dengan Enterobius vermicularis
adalah cacing yang dapat masuk ke tubuh melalui mulut, makanan, udara, dan tanah yang
akan bersarang di usus besar. Pada waktu malam hari biasanya cacing betina meletakkan
telurnya didaerah anus. Cacing betina memproduksi telur sebanyak 11.000 butir setiap
harinya selama 2-3 minggu, sesudah itu cacing betina akan mati. Telur bentuk asimetrik ini
tidak berwarna, mempunyai dinding yang tembus sinar dan berisi larva yang hidup. Ukuran
telur Enterobius vermicularis lebih kurang 30 mikron kali 50-60 mikron. Telur ini
mempunyai kulit yang terdiri dari dua lapisan luar yang berupa albuminous translucent,
chemical protection. Telur cacing Enterobius vermicularis jarang ditemukan dalam feses,
hanya 5% yang positif pada orang-orang yang terinfeksi penyakit ini. (Soejoto dan Soebari,
1996).

Telur Cacing Enterobius vermicularis
Sumber http://www.gefor.4t.com/parasitologia/enterobius.html ( 10 mei 2014 )
Cacing kremi ini bentuknya bulat halus seperti benang dengan warna keputihan
Cacing kremi betina berukuran 8-13 mm x 0,44 mm dengan ekor panjang dan runcing
sedangkan cacing kremi jantan berukuran 2-5 mm dengan ekor melingkar (Bayangkan saja
seperti parutan kelapa). Cacing ini biasa hidup didalam usus dan paling sering ditemukan
pada pangkal usus bagian bawah (anus).

Bentuk cacing dewasa Enterobius vermicularis
Sumber http://www.gefor.4t.com/parasitologia/enterobius.html ( 10 mei 2014 )

c. Siklus hidup
Cacing Enterobius vermicularis menyebabkan infeksi cacing kremi yang disebut juga
enterobiasis atau oksiuriasis. Infeksi biasanya terjadi melalui 2 tahap. Pertama, telur cacing
pindah dari daerah sekitar anus penderita ke pakaian, seprei atau mainan. Kemudian melalui
jari-jari tangan, telur cacing pindah ke mulut anak yang lainnya dan akhirnya tertelan. Telur
cacing juga dapat terhirup dari udara kemudian tertelan. Setelah telur cacing tertelan, lalu
larvanya menetas di dalam usus kecil dan tumbuh menjadi cacing dewasa di dalam usus besar
(proses pematangan ini memakan waktu 2-6 minggu). Cacing dewasa betina bergerak ke
daerah di sekitar anus (biasanya pada malam hari) untuk menyimpan telurnya di dalam
lipatan kulit anus penderita. Telur tersimpan dalam suatu bahan yang lengket. Bahan ini dan
gerakan dari cacing betina inilah yang menyebabkan gatal-gatal. Telur dapat bertahan hidup
di luar tubuh manusia selama 3 minggu pada suhu ruangan yang normal. Tetapi telur bisa
menetas lebih cepat dan cacing muda dapat masuk kembali ke dalam rektum dan usus bagian
bawah.


Siklus hidup Enterobius vermicularis
Sumber http://ariawanputu2.blogspot.com/2013/10/enterobius-mantap.html ( 10
mei 2014 )

g. Gejala
Gejalanya berupa:
1. Rasa gatal hebat di sekitar anus
2. Rewel (karena rasa gatal dan tidurnya pada malam hari terganggu)
3. Kurang tidur (biasanya karena rasa gatal yang timbul pada malam hari ketika cacing
betina dewasa bergerak ke daerah anus dan menyimpan telurnya di sana)
4. Nafsu makan berkurang, berat badan menurun (jarang terjadi, tetapi bisa terjadi pada
infeksi yang berat)
5. Rasa gatal atau iritasi vagina (pada anak perempuan, jika cacing dewasa masuk ke
dalam vagina)
6. Kulit di sekitar anus menjadi lecet, kasar, atau terjadi infeksi (akibat penggarukan).
7. Komplikasi[sunting | sunting sumber]
8. Salpingitis (peradangan saluran indung telur)
9. Vaginitis (peradangan vagina)
10. Infeksi ulang.

h. Diagnosis
Cacing kremi dapat dilihat dengan mata telanjang pada anus penderita, terutama
dalam waktu 1-2 jam setelah anak tertidur pada malam hari. Cacing kremi berwarna putih
dan setipis rambut, mereka aktif bergerak. Telur maupun cacingnya bisa didapat dengan cara
menempelkan selotip di lipatan kulit di sekitar anus, pada pagi hari sebelum anak terbangun.
Kemudian selotip tersebut ditempelkan pada kaca objek dan diperiksa dengan mikroskop.
i. Pengobatan dan pencegahan
Infeksi cacing kremi dapat disembuhkan melalui pemberian dosis tunggal obat anti-
parasit mebendazole, albendazole atau pirantel pamoat. Seluruh anggota keluarga dalam satu
rumah harus meminum obat tersebut karena infeksi ulang bisa menyebar dari satu orang
kepada yang lainnya.Untuk mengurangi rasa gatal, bisa dioleskan krim atau salep anti gatal
ke daerah sekitar anus sebanyak 2-3 kali/hari. Meskipun telah diobati, sering terjadi infeksi
ulang karena telur yang masih hidup terus dibuang ke dalam tinja selama seminggu setelah
pengobatan. Pakaian, seprei dan mainan anak sebaiknya sering dicuci untuk memusnahkan
telur cacing yang tersisa.Langkah-langkah umum yang dapat dilakukan untuk mengendalikan
infeksi cacing kremi adalah:
1. Mencuci tangan sebelum makan dan setelah buang air besar
2. Memotong kuku dan menjaga kebersihan kuku
3. Mencuci seprei minimal 2 kali/minggu
4. Mencuci jamban setiap hari
5. Menghindari penggarukan daerah anus karena bisa mencemari jari-jari tangan
dan setiap benda yang dipegang/disentuhnya
6. Menjauhkan tangan dan jari tangan dari hidung dan mulut.


VII. ALAT DAN BAHAN
Alat
3. Mikroskop cahaya atau mikroskop listrik
4. Alat parasitologi medik
Bahan
3. Preparat awetan telur cacing Enterobius vermicularis
4. Preparat cacing dewasa Enterobius vermicularis jantan dan betina

VIII. LANGKAH KERJA














Amati preparat telur cacing Enterobius vermicularis dibawah
mikroskop dengan pembesara lemah terlebih dahulu ( 10x10 ) lalu
dengan pembesaran 10x40 !
Ambil morfologi cacing Enterobius vermicularis dewasa, bedakan
cacing jantan dan betina !
Gambar hasil pengamatan pada kolom yang telah disediakan
serta lengkapi dengan keterangan gambar yang
memperlihatkan ciri khas !


HASIL PENGAMATAN
GAMBAR
Bagian Posterior Cacing Enterobius
vermicularis dewasa jantan
Bagian Posterior Cacing Enterobius
vermicularis dewasa betina
GAMBAR
Bagian Anterior Cacing Enterobius vermicularis dewasa( jantan dan betina)














Telur Cacing Enterobius vermicularis

BAHAN DISKUSI
1. a. Bagian tubuh cacing Enterobius vermicularis dewasa yang digunakan sebagai alat
identifikasi spesies : Alae dan Bulbus esofagus.
b. Bagian tubuh cacing Enterobius vermicularis dewasa yang digunakan untuk
membedakan cacing jantan dan betina adalah posterior jantan melingkar dan
posterior betina lurus , bertelur.
2. Berdasarkan pengetahuan tentang siklus hidup cacing tambang
a. Stadium infektif & stadium diagnostik cacing Enterobius vermicularis adalah
telur berembrio.
b. Habitat cacing Enterobius vermicularis dewasa yaitu pada usus.
c. Strategi cacing kremi dalam upaya melestarikan spesiesnya agar tidak punah
dengan cara:
Bertelurnya pada saat malam hari
Bersembunyi dilipatan perianal yang suhunya lembab.



3.
Pembanding E.vermicularis Nematoda usus lain
Stadium infektif Telur berembrio Telur berembrio
Tempat
pematangan
stadium infektif
Daerah perianal Tanah yang sesuai
Tipe penyebaran
(berdasarkan
media tempat
pematangan
stadium infektif)
Autoinfeksi, Retograft,
Verrintalasi
Telur matang yang berisi
larva yang masuk ke
dalam pencernaan
Bahan
pemeriksaan
Daerah perianal usus Feses
Metode
pemeriksaan
Anal swab, selotif Natif

4. Syarat yang harus dilakukan analis sebelum melakukan pengambilan sampel pada
pasien dugaan enterobiasis degan metode selotif :
a. Pasien rewel pada malam hari, karena bertelur malam hari dan berimigrasi
pada malam hari sehingga menggaruk didaerah perianal
b. Pasien menderita adanya gangguan pada lambung
c. Pengambilan sampel pada pagi hari sebelum anak buang air besar dan
mencuci pantat (cebok) dengan cara menempelkan selotif pada bagian anus.
5. Penyebaran enterobiasis
a. Penularan dari tangan ke mulut sesudah menggaruk daerah perianal
(autoinfeksi) atau tangan dapat mrnyebar telur kepada orang lain maupun
kepada diri sendiri karena memegang benda-benda maupun pakaian yang
terkontaminasi.
b. Debu merupakan sumber infeksi karena mudah diterbangkan oleh angin
sehingga telur melalui debu dapat tertelan
c. Retrofeksi melalui anus : larva dari telur yang menetas di sekitar anus kembali
masuk ke usus.
6. Feses dinilai kurang efektif dalam mendiagnosa enterobiasis karena telur tersembunyi
dalam lipatan perianal sehingga jarang didapat didalam tinja.
KESIMPULAN
Dari praktikum yang telah dilakukan, dapat dilihat morfologi telur yang didalamnya
terdapat embrio, cacing dewasa jantan dan betina adanya alae dan pada yang jantan dan
betina adanya bulbus esofagus dari cacing Enterobius vermicularis. Posterior jantan
melingkar dan yang betina lurus (tumpul).

PEMBAHASAN
Berdasarkan hasil pengamatan di dalam telur Enterobius vermicularis selalu terdapat
larva hal ini disebabkan karena perkembangan telur atau pematangan telur Enterobius
vermicularis hanya 4-6 jam (cepat).













Daftar pustaka
http://ariawanputu2.blogspot.com/2013/10/enterobius-mantap.html ( 10 mei 2014 )
http://www.gefor.4t.com/parasitologia/enterobius.html ( 10 mei 2014 )




















PRAKTIKUM VII
I. Judul : Trematoda Hati dan Trematoda Darah
II. Tujuan :
1 Mengidenifikasi cacing Trematoda hati dalam berbagai stadium
2 Mengidentifikasi cacing Trematoda darah dalam berbagai stadium
3 Mengidentifikasi morfologi cacing dewasa ketiga macam cacing
kelas Treatoda darah.

III. Dasar Teori :

A. Trematoda hati
Fasciola Hepatica
a. Klasifikasi
Kingdom : Animalia
Phylum : Platyhelminthes
Klas : Trematoda
Ordo : Echinostomida
Genus : Fasciola
Spesies : Fasciola Hepatica
Hospes definitif : Manusia, Kambing dan Sapi.
Hospes Perantara : Keong Air (Lymnea), Tanaman Air.
Nama Penyakit : Fasioliasis.

b. Morfologi telur dan cacing dewasa
Telur cacing berbentuk bulat lonjong dengan dinding tipis yang mengandung massa
moruler yang dibentuk dari sel yang mengelilingi zigot. Telur cacing mempunyai overculum
pada salah satu ujung telur, warna kekuningan dan mempunyai ukuran 130-150 x 80um.

Telur Fasciola Hepatica
Sumber : http://mariaa-cacing-trematoda-hati.blogspot.com
Diunduh pada ( 10 juni 2014 )


Gambar cacing dewasa Fasciola hepatica
Sumber http://mariaa-cacing-trematoda-hati.blogspot.com
Diunduh pada ( 10 juni 2014 )
Fasciola hepatica atau disebut juga cacing hati merupakan anggoa dari trematoda
(Platyhelminthes), cacing hati mempunyai ukuran panjang 2,5 3cm dan lebar 1 1,5 cm,
Pada bagian depan terdapat mulut meruncing yang dikelilingi oleh alat pengisap, dan ada
sebuah alat pengisap yang terdapat disebelah ventral sedikit dibelakang mulut, juga terdapat
alat kelamin. Bagian tubuhnya ditutupi oleh sisik kecil dari kutikula sebagai pelindung
tubuhnya dan membantu saat bergerak. Sistem reproduksinya ovivar, bentuknya menyerupai
daun berukuran 20-30mm x 8- 13mm.Mempunyai tonjolan konus (Cephalis Cone) pada
bagian anteriornya. Memiliki batil isap mulut dan batil isap perut.Uterus pendek berkelok
kelok.Testis bercabang banyak, letaknya dipertengahan berjumlah 2 buah.




c. Siklus Hidup
Gambar siklus hidup Fasciola hepatica
(sumber http://www.dpt.cdc.gov/dpdx )
diunduh pada ( 10 juni 2014)
Cacing ini tidak mempunyai anus dan alat ekskresinya berupa sel, cacing ini bersifat
hemaprodit, berkembang biak dengan cara pembuahan sendiri atau silang , jumlah telur yang
dihasilkan sekitar 500.000 butir. Hati seekor domba akan mengandung 200 ekor cacing atau
lebih. Karena jumlah telurnya sangat banyak, maka akan keluar dari tubuh ternak melalui
saluran empedu atau usus bercampur kotoran. Jika ternak tersebut mengeluarkan kotoran,
maka telurnya juga akan keluar, jika berada ditempat yang basah, maka akan menjadi larva
mirasidium, larva tersebut akan berenang, apabila bertemu dengan siput, didalam tubuh siput
lymnea auricularis maka akan menempel pada mantel siput. Didalam tubuh siput, mirasidium
sudah tidak berguna lagi dan berubah menjadi sprokista. Sprokista akan menghasilkan larva
lain secara partenogenesis disebut redia yang juga mengalami patogenesis membentuk
serkaria. Setelah terbentuk serkaria, maka akan meninggalkan tubuh siput dan akan berenang
sehingga menempel pada rumput sekitar kolam sawa. Apabila keadaan lingkungan tidak
baik, misalnya kering maka kulitnya akan menebal dan akan berubah menjadi metaserkaria,
maka sista akan menetes di usus ternak dan akan menerobos ke dalam hati ternak dan
berkembang menjadi cacing muda.





d. Patologi dan gejala klinis
Terjadi sejak larva masuk kesaluran empedu sampai menjadi dewasa. Parasit ini dapat
menyebabkan iritasi pada saluran empedu dan penebalan dinding saluran. Selain itu terdapat
perubahan jaringan hati berupa radang sel hati. Pada keadaan lebih lanjut dapat timbul sirosis
hati disertai asites dan edema. Luasnya organ yang mengalami kerusakan bergantung pada
jumlah cacing yang terdapat disaluran empedu dan lamanya infeksi gejala dari penyakit
fasiolasis biasanya pada stadium ringan tidak ditemukan gejala. Stadium progresif ditandai
dengan menurunnya nafsu makan, perut terasa penuh, diare dan pembesaran hati. Pada
stadium lanjut didapatkan sindrom hipertensi portal yang terdiri dari perbesaran hati, ikterus,
asites, dan serosis hipatis
e. Pengobatan dan Pencegahan
Pengobatan yang dapat diberikan antara lain :
- Heksakloretan
- Heksaklorofan
- Rafoxamide
- Niklofolan
f. Cara-cara pencegahan :
- Tidak memakan sayuran mentah.
- Pemberantasan penyakit fasioliasis pada hewan ternak.
- Kandang harus dijaga tetap bersih, dan kandan sebaiknya tidak dekat dengan
kolam atau selokan.
- Siput-siput disekitar kandang dimusnahkan untuk memutus siklus hidup fasciola
hepatica.

Clonorchis sinensis
a. Klasifikasi
Kingdom : Animalia
Phylum : Platyhelminthes
Klas : Trematoda
Ordo : Opisthorchiida
Genus : Clonorchis
Spesies : Clonorchis sinensis

b. Morfologi telur dan cacing dewasa
Telur berbentuk oval seperti overculum besar, bagian posteriornya menebal dan
biasanya ada tonjolan kecil. Telur berisi mirasidium, ukuran telur 25-35 x 12- 19 mikron,
warna telur kuning

Gambar telur Clonorchis sinensis
Sumber : http://maksumprocedure.blogspot.com
Diunduh pada ( 10 juni 2014 )

Cacing pipih yang berbetuk daun, bagian posteriornya membulat pada intregumennya
tidak ditemukan duri. Ukuran cacing dewasa 10-25 x 3-5mm. Batil isap kepala lebih besar
daripada batil isap perut, Testis berlobulus dalam tersusun membentuk tandem dan terletak
dibagian posterior tubuh. Ovarium terletak dibagian anterior testis pada bagian tengah tubuh.
Filtelaria membentuk folikel folikel lembut dan terletak di lateral tubuh.
Gambar cacing dewasa Clonorchis sinensis
Sumber : http://maksumprocedure.blogspot.com
Diunduh pada ( 10 juni 2014 )
c. Siklus Hidup


Siklus hidup Clonorchis sinensis
Sumber http://www.dpd.cdc.gov/dpdx
Diunduh pada ( 10 juni 2014 )

Telur akan menetas dan mengeluarkan mirasidium bila termakan hospes perantara I keong
air akan berturut-turut berkembang menjadi sporokista redia I, redia II, dan serkaria, serkaria
keluar dari keong air dan mencari hospes perantara II (famili cyprinidae). Serkaria menembus
hospes perantara dua dan ,melepaskan ekornya. Dalam tubuh hospes perantara II serkaria
membentuk kista yang disebut metaserkaria (bentuk infektif). Dalam duodenum metaser
karia pecah kemudian mengeluarkan larva dan kemudian masuk ke saluran empedu, Setelah
satu bulan didalam saluran empedu, larva berkembang menjadi dewasa.

d. Patologi dan Gejala Klinis
Perubahan patologi terutama pada sel epitel saluran empedu. Pengaruhnya terutama
bergantung pada jumlah cacing dan lamanya menginfeksi, untung jumlah cacing yang
,menginfeksi biasanya sedikit. Pada daerah endemik jumlah cacing yang pernah ditemukan
sekitar 20-200ekor cacing. Infeksi kronis pada saluran empedu menyebabkan terjadinya
penebalan epitel empedu sehingga dapat menyumbat saluran empedu. Pembentukan kantong
kantong pada saluran empedu dalam hati dan jaringan parnenkim hati dapat merusak
sekitarnya. Ada infiltrasi telur cacing yang kemudian dikelilingi jaringan ikat menyebabkan
penurunan fungsi hati. Cacing ini menyebabkan iritasi pada saluran empedu dan penebalan
dinding saluran dan perubahan jaringan hati yang berupa radang sel hati. Gejala dibagi
menjadi tiga stadium.
1. Stadium ringan tidak ada gejala .
2. Stadium progresif ditandai dengan menurunnya nafsu makan, diare, edema, dan
pembesaran hati.
3. Stadium lanjut didapatkan sindrom hipertensi portal terdiri dari pembesaran hati,
edema, dan kadang-kadang menimbulkan keganasan dalam hati, dapat
menyebabklan kematian.

e. Diagnosis & Epidemiologi
Diagnosis ditegakan dengan menemukan telur yang berbentuk khas dalam tinja.
Penyebaran penyakit dapat terjadi melalui ikan yang terinfeksi dan tidak diolah sampai
matang. Kebiasaan mebuang feses dikolam juga menjadi salah satu penyebab menyebarnya
infeksi cacing ini.

B. Trematoda Darah
Trematoda darah merupakan cacing kelas trematoda yang memiliki banyak perbedaan
dengan trematoda lainnya. Pada manusia ditemukan 3 spesies penting : Schistosoma
japanicum , schistosoma mansoni, dan schistosoma haematobium. Selain spesies yang
ditemukan pada manusia, masih banyak spesies yang hidup pada binatang dan kadang-
kadang dapat menghinggapi pada manusia. Hospes definitifnya adalah manusia. Berbagai
macam binatang dapat berperan sebagai hospes reservoir. Pada manusia, cacing ini
menyebabkan penyakit skitosomiasis bilharziasis.
Secara umum trematoda darah memiliki ciri :
1. Alat kelamin betina dan jantan terpisah.
2. Cacing jantan memiliki alat kopulasi yang disebut kanalis ginekoforus.
3. Telur berduri, letak duri dijadikan alat identifikasi spesies.
4. Cacing betina memiliki ovarium, letak ovarium menjadi alat identifikasi spesies.




Schistosoma japonicum, Schistosoma mansoni dan Schistosoma haematobium
a. klasifikasi
Kingdom : Animalia
Phylum : Platyhelminthes
Klas : Trematoda
Ordo : Strigeidida
Genus : Schistosoma
Spesies :Schistosoma japonicum
Schistosoma mansoni
Schistosoma haematobium


b. Penyebaran geografi



gambar penyebaran geografi
sumber : http://maksumprocedure.blogspot.com ( 10 mei 2014 )
c. Hospes dan habitat
Schistosoma
japonicum
Schistosoma
mansoni
Schistosoma
haematobium
Hospes
definitif
Manusia, anjing,
kucing, tikus, dan
binatang ternak
Manusia, kera,
rodensia.
Manusia, kera,
chimpanze.
Hospes
perantara
Siput air tawar
spesies oncomelania
nosophora,
oncomelania
hupensis.
Siput air tawar genus
Biomphalaria,
Australorbis,
terutama B.glabrata
Siput air tawar genus
Bulinus dan
Planorbarius.
Habitat Vena mesentarika
superior

Vena mesentarika
interior
Vena mesentarika
interior, pleksus
vesicalis.


d. Morfologi telur dan cacing dewasa

Telur cacing trematoda darah
Sumber : http://yudhiestar.blogspot.com/2009/10/schistosomiasis-dan-anaplasmosis.html
Diunduh pada ( 10 mei 2014 )


Telur tidak beroverkulum ,telur berhialin
1. Telur schistosoma japonicum memiki duri kecil di lateral
2. Telur Schistosoma mansoni memiliki duri lateral.
3. Telur schistosoma haematobium memiliki duri terminal.
Morfologi cacing dewasa Schistosoma japonicum

Sumber : http://yudhiestar.blogspot.com/2009/10/schistosomiasis-dan-anaplasmosis.html
Diunduh pada ( 10 mei 2014 )
a. Betina panjangnya 26 mm, Ovarium dibelakang pada, Pertengahan tubuh, uterus, Berisi
50-100 butir telur
b. Jantan panjang 12-20 mm, Integumen ditutupi duri-duri, Sangat halus dan mempunyai 6-
8 testis.
Morfologi cacing dewasa Schistosoma mansoni

Sumber : http://yudhiestar.blogspot.com/2009/10/schistosomiasis-dan-anaplasmosis.html
Diunduh pada ( 10 mei 2014 )
Ukurannya lebih kecil dari Schistosoma haematobium
a. Betina panjang 7-17 mm Letak ovarium dianterior pertengahan tubuh Uterus berisi 1-
4 butir.
b. Cacing jantan panjang 7-12 mm, Tuberkulasi lebih jelas, duri-duri lebih kasar,
memiliki testis 6-9 buah.

Morfologi cacing dewasa Schistosoma haematobium


Sumber : http://yudhiestar.blogspot.com/2009/10/schistosomiasis-dan-anaplasmosis.html
Diunduh pada ( 10 mei 2014 )

a. Jantan panjang 1,3 cm memiliki 3-4 buah testis, memiliki kanalis Ginekoporus dan
memiliki 2 batil Isap.
b. Betina panjang 2 cm, langsing, Batil isap kecil, ovarium terletak Di posterior dari
pertengahan , Tubuh, uterus panjang berisi 20-30 telur.

e. Siklus hidup
Orang yang terinfeksi buang air kecil atau buang air besar di air. Air kencing atau
kotoran mengandung telur cacing. Telur cacing menetas dan cacing pindah ke keong, cacing
muda pindah dari keong ke manusia. Dengan demikian, orang yang mencuci atau berenang di
air di mana orang yang terinfeksi pernah buang air kecil atau buang air besar, maka ia akan
terinfeksi.Cacing atau serkaria ( bentuk infektif dari cacing Schistosoma ) menginfeksi
dengan cara menembus kulit pada waktu manusia masuk kedalam air yang mengandung
serkaria. Waktiu yang diperlkan untuk infeksi adalah 5-10 menit. Setelah serkaria menembus
kulit, larva ini kemudian masuk ke dalam kapiler darah, mengalir dengan aliran darah masuk
ke jantung kanan, lalu paru0paru dan kembali ke jantung kiri, kemudian masuk ke sitem
peredaran darah besar, ke cabang-cabang vena portae dan menjadi dewasa dihati.
Setelah dewasa cacing ini kembali ke vena portae dan vena usus atau vena kandung
kemih dan kemudian betina bertelur setelah berkopulasi. Cacing betina meletakan telur
dipembuluh darah. Telur dapat menembus keluar dari pembuluh darah, bermigrasi di jaringan
dan akhirnya masuk ke lumen usus atau kandung kemih untuk kemudian ditemukan di dalam
tinja atau urin. Telur menetas di dalam air dan larva yang keluar disebut mirasidium.
Mirasidium ini kemudian masuk ke tubuh keong air dan berkembang menjadi serkaria.



Gambar siklus hidup cacing darah
Sumber http://www.dpd.cdc.gov/dpdx
Diunduh pada ( 10 juni 2014 )


f. Patologi klinik
Penyakit ini melihatkan 3 stadium
1. Stadium inkubasi
2. Stadium deposisi dan ekstrusi telur
3. Stadium poliferasi jaringan serta perbaikan .

g. Diagnosis
Penemuan telur cacing dalam tinja dan jaringan biopsi, misalnya biopsi hati rektum
dengan metode konsentrasi. Penemuan telur cacing dalam urine atau dalam biopsi mukosa
kandung kemih.
h. Pengobatan
1. Bisa diberikan obat praziquantel 20 mg/kg BB
2. Oksamniquin
3. Nitrioquinolin
4. Kalium antimonium tartiat 500 mglarutan 0,3% setiap hari dalam tempo 50 hari.

i. Pencegahan dan pengendalian
1. Memberi penyuluhan kepada masyarakat di daerah endemis tentang cara-cara
penularan dan cara pemberantasan penyakit ini.
2. Buang air besar dan buang air kecil dijamban yang saniter agar telur cacing tidak
mencapai badan-badan air tawar yang mengandung keong sebagai inang perantara.
3. Memperbaiki cara-cara irigasi dan pertanian; mengurangi habitat keong dengan
membersihkan badan-badan air dari vegetasi atau dengan mengeringkan dan
mengalirkan air.
4. Gunakan sepatu bot karet saat bekerja di perairan





IV. ALAT DAN BAHAN

ALAT
1. Mikroskop
2. Alat parasitologi medik
BAHAN
preparat
1. Cacing dewasa, telur Fasiola hepatica
2. Schistosoma japonicum( cacing dewasa jantan dan betina, telur )
3. Schistosoma mansoni ( cacing dewasa jantan dan betina, telur )
4. Schistosoma haematobium( cacing dewasa jantan dan betina, telur )

V. CARA KERJA













Amati awetan preparat telur dan
cacing dewasa trematoda hati dan
darah
Hasil pengamatan digambar
VI. Hasil pengamatan

GAMBAR

Cacing dewasa fasiola hepatica Telur fasiola hepatica


























GAMBAR

Cacing dewasa Clonorchis sinensis Telur Clonorchis sinensis











GAMBAR

Redia dan serkaria trematoda hati











GAMBAR

Schistosoma japonicumjantan

Schistosoma japonicumbetina


























GAMBAR

Schistosoma mansoni jantan

Schistosoma mansoni betina





























GAMBAR

Schistosoma haematobiumjantan Schistosoma haematobium betina


























GAMBAR

Telur
Schistosoma haematobium

Telur
Schistosoma mansoni

Telur
Schistosoma japonicum





















GAMBAR
Serkaria trematoda hati










VII. Bahan diskusi
1. Jelaskan persamaan dan perbedaan siklus hidup C.sinensis dan Fasiola hepatika !
Persamaannya kedua telur cacing ini sama-sama diletakan pada saluran empedu,
memiliki 2 hospes perantara.
Perbedaannya C.sinensis telur ini menetas jika ditelan perantara 1 ( siput air tawar )

2. Jelaskan perbandingan ( persamaan dan perbedaan) morfologi cacing dewasa dan telur
C.sinensis dan Fasiola hepatika !
Persamaan mempunyai batil isap kepala dan perut, memiliki dua sekum bercabang
uterus berisi telur-telur.
Perbedaanya panjang cacing C.sinensis 1,6 cm dan Fasiola hepatika 2,5 cm
C.sinensis ovarium dan reseptakulum seminalis besar, vitelaria sepertiga tengah kiri
dan kiri badan sedang. Fasiola hepatika ovarium bercabang dan vitelaria bercabang
sampai posterior.

3. Jelaskan 3 perbedaan ciri morfologi telur dan cacing dewasa trematoda hati dan
trematoda darah !
Pada cacing darah alat kelamin cacing jantan dan betina terpisah, telur tidak
beroverkulum memiliki duri yang letaknya berbeda dan telur akan segera menetes jika
kontak dengan air
.
4. Bandingkan ( persamaan dan perbedaan ) siklus hidup ketiga trematoda darah
S.japonicum, S.mansoni, S haematobium
Habitat S.japonicum pada vena mesentarika superior S.mansoni pada mesentarika
inferior dan S haematobium pada vena pleksus urinalis.
Persamaannya ketiga caing ini membutuhkan 2 hospes perantara.

5. Apa fungsi dari canalis ginekoporus
Untuk berkopulasi
6. Sebutkan bahan pemeriksaan yang digunakan untuk mendiagnosis penyakit
S.japonicum = feses
S.mansoni = feses
S haematobium = urine
VIII. Kesimpulan
Trematoda hati dan trematoda darah memiliki persamaan dan perbedaan dalam
morfologi, siklus hidup dan cara mendiagnosa. Persamaanya adalah diagnosisnya dengan
menemukan telur didalam tinja kecuali Schistosoma haematobium sedangkan perbedaannya
adalah Memiliki alat kelamin terpisah, hanya membutuhkan 1 hspes perantara, telur tidak
beroperkulum, telur menetas saat kontak dengan air, cercaria ekornya bercabang, pada fase
sporokista terjadi 2 perubahan sporokista 1 dan sporokista 2 .
IX. Pembahasan
Pada praktikum trematoda hati dan darah banyak ditemukan masalah diantaranya :
1. Kurang lengkapnya preparat awetan, sehingga sulit untuk membedakan morfologi
telur dan cacing dewasa karena tidak tersedianya preparat awetan .
2. Banyak preparat awetan yang sudah rusak, sehingga mempengaruhi pengamatan
mikroskopis.



Daftar pustaka
AGOES r., Oehadian h., Natadisastra D. 1999. Bunga rampai Entomologi Medik, edisi ke-2.
FK unpad :Bagian Parasitologi ( 10 mei 2014 )
http://yudhiestar.blogspot.com/2009/10/schistosomiasis-dan-anaplasmosis.html ( 10 mei
2014 )
http://www.dpd.cdc.gov/dpdx ( 10 mei 2014 )
http://maksumprocedure.blogspot.com ( 10 mei 2014 )
















PRAKTIKUM VIII
I. Judul : Identifikasi telur, skoleks, dan proglotid cacing kelas cesstoda
(genus Taenia)
II. Tujuan : 1. Untuk membedakan morfologi progloid cestoda genus Taenia
2. Untuk membedakan morfologi scolex cestoda genus Taenia
3. Untuk Mengidentifikasi genus Taenia

III. Landasan Teori :
A. Definisi cestoda
Cacing dalam kelas cestoda disebut sebagai cacing pita, hal ini karena bentuk tubuh
cacing tersebut yang panjang dan pipih menyerupai pita. Cacing ini tidak mempunyai saluran
pencernaan ataupun pembuluh darah. Tubuhnya memanjang dan terbagi atas segmen-segmen
yang disebut proglotida dan segmen ini bila sudah dewasa akan berisi alat reproduksi jantan
dan betina.
Kelas Cestoda terbagi dalam 2 ordo, yaitu:
1. Ordo pseudophyllidea

Diphyllobothrium latum
Echinococcus granulosus
2. Ordo cyclopyllidea
Hymenolepis nana
Hymenolepis diminuta
Taenia solium
Taenia saginata

B. Ordo cyclopyllidea
Taenia saginata

h. Hospes dan habitat
Manusia sebagai hospes definitif tunggal. Cacing dewasa hidup di bagian atas
jeujenum. Cacing ini dapat bertahan hidup sampai 25 tahun. Hospes perantaranya adalah sapi
dan bintang ternak lain sehingga disebut cacing pita sapi. Dalam tubuh sapi ditemukan larva
yang disebut cysticerus bovis yang terdapat pada otot masseter, paha belakang, kelosa serta
otot lainnya.
i. Morfologi cacing dewasa, telur, dan proglotid.
Cacing dewasa, biasanya memiliki panjang 5 meter, akan tetapi dalam keadaan yang
sangat baik bisa mencapai panjangnya 25 meter. Jumlah proglotid 1000-2000 buah pada satu
saat. Scolexs, memiliki diameter 1,5-2 mm dengan 4 buah batil isap menyerupai mangkuk,
dan tidak memiliki rostelum dan kait. Telur taenia saginata tidak bisa dibedakan dengan telur
taenia solium. Telur ini memiliki embriofor yang bergaris radier, dengan ukuran 30-40x 20-
30 m, mengelilingi embrio heksakan. Bagian tubuh cacing ini tersusun dari proglotid.

Gambar cacing dewasa Taenia
http://smart-pustaka.blogspot.com/2011/06/cacing-pita.html
diunduh pada ( 2 juni 2014 )


http://Analismuslim.blogspot.com/2012/02 taeniasis-dan proglotid-cacaing-pita.html
diunduh pada ( 10 juni 2014)
keterangan :
a. gambar telur Taenia saginata
b. proglotid Taenia saginata

j. Daur hidup Taenia saginata.
Proglotida yang berisi penuh telur melepaskan diri dari tubuh cacing dan keluar
melalui feses atau dapat keluar sendiri dari anus. Setiap segmen terlihat seperti cacing
tersendiri dan dapat merayap secara aktif. Bilamana segmen mulai mengering maka bagian
dinding ventral robek dan telur keluar dari lubang robekan tersebut. Pada saat itu telur
berembrio dan infektif dapat menginfeksi hospes intermedier dan bila tidak telur dapat
bertahan berminggu-minggu. Hospes intermedier paling utama adalah sapi, tetapi dapat pula
pada kambing dan domba.
Bila telur termakan oleh sapi kemudian menetas dalam duodenum, yang dipengaruhi
oleh asam lambung dan sekresi intestinum. Hexacant yang keluar dari telur langsung
berpenetrasi kedalam mukosa dan masuk kedalam venula intestinum, terbawa oleh aliran
darah keseluruh tubuh. Cacing muda tersebut biasanya meninggalkan kapiler masuk diantara
sel muyskulus dan masuk dalam serabut otot (muscle fiber) dan berparasit di lokasi tersebut,
kemudian menjadi cysticercus dalam waktu 2 bulan. Metacercaria ini berwarna putih seperti
mutiara dengan ukuran diameter 10 mm yang berisi satu skolek invaginatif. Penyakit yang
disebabkan oleh cacing ini pada sapi disebut Cysticercisis bovis.Orang memakan daging sapi
yang terinfeksi oleh cacing ini akan tertular bilamana daging sapi tersebut dimasak kurang
matang/masih mentah. Cysticercus terdigesti oleh cairan empedu dan cacing mulai tumbuh
dalam waktu 2012 minggu dan menjadi dewasa membentuk proglotida yang berisi telur.

k. Gejala klinik
Taeniasis saginata umumnya tanpa gejala berarti, kadang-kadang mengeluh gangguan
usus atau gejala obstruksi intestinal akut. Proglotid dapat menyumbat appendix menimbulkan
appendisitis, diare, berat badan menurun. Sering kali penderita datang karena proglotid
bergerak sendiri menuju anus.
l. Diagnosis
Dengan menemukan telur cacing ini didalam tinja. Sedangkan menemukan proglotid
hidup yang keluar dari anus secara aktif dapat dipakai untuk menegakan diagnosis setelah
terlebih dahulu diidentifikasi di bawah mikroskop.
m. Pengobatan dan pencegahan.
Sejumlah obat telah digunakan untuk pengobatan cacing ini, tetapi obat yang sekarang
banyak dipakai adalah Niklosamide.pencegahan yang dapat dilakukan, diantaranya :
1. Menghilangkan sumber infeksi dengan mengobati penderita
2. Mencegah kontaminasi tanah dan rumput dengan tinja manusia.
3. Memeriksa daging sapi, ada tidaknya cysticercus.
4. Memasak daging sampai sempurna.

Taenia solium
a. Hospes dan habitat
Manusia bertindak sebagai hospes definitif tunggal. Cacing dewasa tinggal diatas
jeujeum dan dapat hidup sampai 25 tahun. Hospes perantara babi, babi hutan, dan beruang,
anjing dan kucing. Dalam hospes perantara ini ditemukan dalam bentuk larva yang disebut
cysticerus cellulosae yang jernih dan berukuran 10x5 mm. Larva ini biasanya ada dalam otot
lidah, masseter, diafragma dan jantung.

b. Morfologi telur, cacing dewasa, dan proglotid
Morfologi telur taenia solium dan saginata tidak bisa dibedakan. Cacing dewasa
panjangnya antara 2-4 meter, kadang-kadang dapat mencapai 7 meter. Cacing ini memakan
isi usus. Scolex berbentuk globuler berdiameter 1 mm dengan 4 batil isap berbentuk cawan.
Scolex ini memiliki rostelum dilengkapi kait-kait.

Gambar moffologi scolex cacing Taenia
http://esu.edu/~milewski/intro-biol-two/lab/taenia_scolex.html
diunduh pada (10 juni 2014)
Proglotid jumlahnya kurang dari 1000, pada proglotid imature ukurannya lebarnya
lebih panjang dari panjangnya. Pada proglotid mature lebarnya hampir sama dengan
panjangnya, pous genitalis terletak disebelah lateral. Sedangkan pada proglodid gravid uterus
bercabang 7-13, ovarium terletak sepertiga di poterior proglotid, berlobus 3 masing-masing 2
lobus simetris kanan-kiri.

http://med126.com/edu/200712/178823.html (10 juni 2014)

c. Siklus hidup taenia solium
Daur hidupnya mirip dengan taenia saginata, tetapi hospes intermedieternya berbeda
dimana taenia saginata. Pada sapi dan taenia solium pada babi. Proglotid yang penuh telur
keluar melalui feses, kemudian telur infektif keluar dimakan oleh babi. Telur menetas dalam
tubuh babi dan telur dan membentuk Cysticercus celluloses, didalam daging (otot) atau organ
lainnya. Orang akan mudah terinfeksi bila memakan daging babi yang kurang masak.
Cysticercus berkembang menjadi cacing cacing muda yang langsung menempel pada dinding
intestinum dan tumbuh menjadi dewasa dalam waktu 5-12 minggu. Dimana cacing ini dapat
bertahan hidup sampai 25 tahun.

Gambar siklus hidup Taenia
Sumber : (www.cdc.gov/parasites/taeniasis/)
diunduh pada (10 juni 2014 )
d. Gejala klinik
Tidak seperti spesies cacing pita lainnya, T. solium dapat berkembang dalam bentuk
cysticercus pada orang. Infeksi terjadi bila telur berembrio tertelan masuk kedalam lambung
dan usus, kemudian cacing berkembang menjadi cysticercus di dalam otot. Cysticerci sering
ditemukan dalam jaringan subcutaneus, mata, otak, otot, jantung, hati dan paru. Kapsul
fibrosa mengelilingi metacestoda ini, kecuali bila cacing berkembang dalam kantong mata.
Pengaruh cysticercus terhadap tubuh bergantung pada lokasi cysticercus tinggal. Bila
berlokasi di jaringan otot, kulit atau hati, gejala tidak begitu terlihat, kecuali pada infeksi
yang berat. Bila berlokasi di mata dapat menyebabkan kerusakan retina, iris, uvea atau
choroid. Perkembangan cysticercus dalam retina dapat dikelirukan dengan tumor, sehingga
kadang terjadi kesalahan pengobatan dengan mengambil bola mata. Pengambilan cysticercus
dengan operasi biasanya berhasil dilakukan.
Cysticerci jarang ditemukan pada syaraf tulang belakang (spinal cord), tetapi sering
ditemukan pada otak. Terjadinya nekrosis karena tekanan dapat menyebabkan gangguan
sistem saraf yaitu tidak berfungsinya saraf tersebut. Gangguan tersebut ialah: terjadi
kebutaan, paralysis, gangguan keseimbangan, hydrocephalus karena obstruksi atau terjadi
disorientasi. Kemungkinan terjadinya epilepsi dapat terjadi. Penyakit dapat dicurigai sebagai
epilepsi peyebab cysticercosis bila penderita bukan keturunan penderita epilepsi.
Bilamana cysticercus mati dalam jaringan, akan menimbulkan reaksi radang, hal
tersebut dapat mengakibatkan fatal pada hospes, terutama bila cacing berada dalam otak.
Reaksi seluler lain dapat dpat terjadi yaitu dengan adanya kalsifikasi. Bila ini terjadi pada
mata pengobatan dengan operasi akan sulit dilakukan.
e. Diagnosis
Menemukan telur didalam tinja hanya dapat membuat diagnosis pada genus taenia,
karena morfologi telur taenia saginata dan taenia solium sama. Pemeriksaan proglotid dan
scolex berguna untuk mendiagnosis taeniasis solium. Adapun diagnosis cysticerus, yaitu
dengan menemukan cysticerus cellulosae ataupun dengan diagnosis immunologis.

f. Pengobatan dan pencegahan
Obat-obat praziquantel atau niklosamid diberikan dengan dosis sama dengan dosis
pada infeksi oleh D.latum. ternyata obat ini dapat pula digunakan pada cysticercosis,
termasuk cysticercosis otak dengan dosis 25 mg/kg berat badan perhari 3-4 hari.
Untuk mencegah terjadinya taeniasis solium, beberapa hal yang dapat dilakukan
antara lain menghindari memakan daging babi mentah atau kurang matang serta pemeriksaan
daging babi sebelum dijual. Pencegahan infeksi cacing ini lebih utama yaitu mencegah
kontaminasi air minum, makanan dari feses yang tercemar. Sayuran yang biasanya dimakan
mentah harus dicuci berish dan hindarkan terkontaminasi terhadap telur cacing ini.

IV. ALAT DAN BAHAN
ALAT
1. Mikroskop
2. Atlas parasitologi medis

BAHAN
1. Proglotid cestoda genus taenia
2. Scolex cestoda genus Taenia
3. Telur cestoda genus Taenia

V. CARA KERJA














Disiapkan preparat proglotid, scolex dan telur

Mikroskop diambil dan preparat diamati pada
perbesaran 400x.
VI. HASIL PENGAMATAN
GAMBAR

Skolex Taenia solium Skolex Taenia saginata














GAMBAR

Kista Taenia solium( cystiserus selullose) Skolex Taenia saginata( cysticerus bovis)













GAMBAR

Telur genus Taenia

Gambar

Proglotid Taenia solium Proglotid Taenia saginata






















VII. Bahan diskusi
1. Jelaskan perbandingan scolex dan proglotid dari cacing cestoda genus Taenia !
a. Skoleks Taenia saginata mempunyai 4 batil isap tanpa pengait menyerupai
magkuk mempunyai rotelum proglotidnya uterus bercabang 15-30 pasang
tidak memiliki porus uteruinus, sedangkan porus genitalis ditemukan di
pinggir kanan atau kiri berselang-seling tidak teratur.

b. Skoleks Taenia solium memiliki 4 batil isap dengan kait dan rostelumbe
proglotid gravid ini memiliki uterus yang bercabang-cabang 7-13 pada tiap sisi
ovarium terletak sepertiga dari posterior proglotid, mempunyai testis 150-200
folikel yang tersebar di posterior.
2. Sebutkan bentuk infektif dari :
a. Taenia solium : sistiserkus selulose
b. Taenia saginata : sistiserkus bovis
3. Jelaskan untuk membuat awetan proglotid !
proglotid cacing dicuci dahulu dengan NaCl 0,9 %, dengan hati-hati proglotid di pres
di antara 2 gelas objek. Kemudian difixsasi dengan larutan bouin selama beberapa
jam atau semalam tergantung besar kecilnya proglotid. Cuci proglotid tersebut dalam
alkohol 70%, kemudian gelas objek dibagian atas dilepas dan dibiarkan direndam
dalam alkohol. Masukan dalam larutan zat warna borak-Carmin selama 1-2 jam.
Cukup tidak warnanya harus dilihat di bawah mikroskop. Pewarnaaan yang berlebih
dapat dihilangkan dengan memasukan ke dalam larutan HCl 1% dalam alkohol 70%.
Jika organ tubuh udah kelihaan dengan baik, dimasukan kembali ke dalam alkohl
70%,80%,90%, xylol. Kemudian proglotid dilekakan ke atas objek glass yang bersih,
ditetei canada balsem secukupnya, kemudian ditutup dengan cover glass.
4. Jelaskan yang dimaksud dengan :
a. proglotid matur : proglotid dewasa panjang segmennya sama dengan
segmennya yaitu 12 mm
b. proglotid gravid : proglotid matang panjang segmennya 3x lebar segmennya.
c. proglotid imatur : proglotid muda
d. stobila : badan dengan bagian-bagian proglotid
5. Sebutkan bahan pemeriksaan yang digunakan untuk mendiagnosa penyakit taeniasis
setra bagaimana cara mendiagnoisnya !
Bahan pemeriksaannya berupa tinja cara mendiagnosisnya dengan menemukan telur
cacing didalam tinja
6. Apa yang dimaksud dengan hermaprodit ?
Hermaprodit adalah orhganisme yang mempunyai alat kalamin ganda pada satu tubuh
7. Mengapa genus Taenia digolongkan ke dalam caing cestosa phylum plathyhelmintes ?
Karena tubuh cacing genus Taenia berbentuk pipih memanjang sehingga digolongkan
kedalam phylum plathyhelminthes.
VIII. Kesimpulan
Cacing pita merupakan caing dengan morfologi secara mikroskopis menyerupai pita,
termasuk kedalam kelas Cestoda Filum Plathyhelminthes. Habitat cacing dewasa biasanya
menempati saluran usus veterbrata dan larvanya hidup di jaringan vetebrata dan invetebrata.
IX. Pembahasan
Pada praktikum cestoda preparat yang ada tidak memenuhi standar teori yang diberikan.







Daftar pustaka
http://Analismuslim.blogspot.com/2012/02 taeniasis-dan proglotid-cacaing-pita.html ( 10 mei
2014 )
http://med126.com/edu/200712/178823.html (10 mei 2014)
www.cdc.gov/parasites/taeniasis/ (10 mei 2014)
AGOES r., Oehadian h., Natadisastra D. 1999. Bunga rampai Entomologi Medik, edisi ke-2.
FK unpad :Bagian Parasitologi ( 10 mei 2014 )
















PRAKTIKUM IX

I. Judul : Identifikasi telur, skoleks, dan proglotid cacing kelas cesstoda
(genus Hymnolepis )
II. Tujuan : 1. Membedakan morfologi progloid, scolex, telur cestoda genus Hymnolepis
2. Identifikasi morfologi telur dan proglotid Diphyllobothrium latum
3. Identifikasi morfologi telur dan proglotid Echinococcus granulosus

III. Landasan Teori :
A. Genus hymenolepis
Hymenolepis nana

a. Hospes dan habitat
Sebagai tuan rumah definitif selain manusia, juga ditemukan pada tikus, dan mencit.
Cacing ini tidak membutuhkan tuan rumah perantara. Habitatnya pada duapertiga atas ilium
dengan scolex terbenam di dalam mukosa usus.
b. Morfologi cacing dewasa, telur, dan proglotid.
Cacing ini merupakan cacing pita pendek dengan ukuran panjang 25-40 mm dan lebar
0,1-0,5 mm, jumlah proglotid 200 buah. Scolex dengan 4 batil isap seperti mangkok memiliki
rostelum pendek dan reftaktil, berkait kecil, bagian lehernya panjang, kurus.Telurnya
berbentuk oval atau bulat, memiliki dinding berupa dua lapis membran yang melindungi
embrio heksakan di dalamnya. Pada kedua kutubnya terdapat 4-8 filamen halus.

Gambar telur dan scoleks Hymenolepis nana
https://public.health.oregon.gov/pages.hymeno2.aspx
diunduh pada ( 10 mei 2014)
Proglotid matang lebarnya kira-kira 4x panjang dengan porus genitalis unilateral. Pada
proglotid gravid, uterusnya berbentuk kantong yang berisi 80-180 telur.

Gambar proglotid Hymenolepis nana
www.atlas.or.kr/atlas/alphabet_view.php?my_codeName=hymnelopis%20nana
diunduh pada ( 10 mei 2014)
c. Daur hidup Hymenolepis nana
Manusia tertular jika memakan telur cacing ini, di usus halus oncosphere keluar,
menembus vili usus kaitnya hilang dalam 4 hari menjadi larva cysticercoid. Larva ini terdapat
pada tunica propria usus halus. Beberapa hari kemudian larva ini akan kembali ke lumen usus
untuk menjadi dewasa dalam waktu 2 minggu. Dalam 30 hari setelah infeksi dapat ditemukan
telur dalam tinja hospes. Kadang-kadang telur dapat menetas di lumen usus, oncospher
menembus vili dan liingkaran hidupnya akan berulang. Cara infeksi yang demikian disebut
autoinfeksi interna yanng dapat memperberat infeksi sehingga memungkinkan terjadi infeksi
pada individu yang sama.

Gambar siklus hidup Hymnelopis
http://bbobobo.blogspot.com/2011/11/hymenolepis-nana.html
diunduh pada (10 mei 2014)
d. Gejala klinik
Biasanya infeksi cacing ini tidak menimbulkan gejala yang berarti karena tidak
menimbulkan kelainan pada mukosa usus. Pada infeksi berat dapat menimbulkan kelainan
enteritis yang bersifat kataral. Pada anak-anak, infeksi berat dapat menimbulkan asteni akibat
kurang nafsu makan, mual, muntah, sakit perut disertai ataupun tanpa diare.
e. Diagnosis dan pengobatan
Diagnosis ditegakan dengan menemukan telur dalam tinja. Pengobatannya dapat
diberikan niclosamide dengan dosis 2,5 gr, dikunyah, sekali sehari selama 5-7 hari.
f. Pencegahan.
Untuk mengurangi sumber infeksi dengan mengobati penderita. Selain itu, harus
menghindari makanan dan minuman terkontaminasi tinja. Pendidikan kebersihan merupakan
bagian penting dalam pencegahan penyakit ini.


Hymenolepis diminuta
a. Hospes dan habitat
Habitat cacing ini adalah di usus halus. Bertindak sebagai hosfes definitif tikus dan
mencit, tapi ternyata dilaporkan banyak kasus yang terjadi pada manusia. Sebagai hospes
perantara, larva pinjal tikus dan kumbang teoung dewasa.
b. Morfologi telur, cacing dewasa, dan proglotid
Cacing dewasa lebih besar dari H.nana , panjang 10-60 mm, lebar 3-5 mm, memiliki
800-1000 proglotid. Scolex bulat dengan 4 batil isap kecil seperti cawan , memiliki rostelum
tanpa kait. Panjang proglotid 0,8 mm, lebar 2,5 mm. Proglotid gravid berbentuk kantong
berisi telur yamg berkelompok. Telur berukuran 58x86m, pada membran sebelah dalam
dikedua tubuhnya tidak ditemukan filamen.

https://public.health.oregon.gov/pages.hymeno2.aspx
diunduh pada ( 10 mei 2014)

c. Siklus hidup
Di dalam tubuh hospes perantara, embrio keluar dari telurnya berkembang menjadi
cysticercoid. Manusia terinfeksi jika secara kebetulan menelan hospes perantara. Larva keluar
dan menempel pada mukosa usus untuk menjadi dewasa dalam 18-20 hari.
d. Gejala klinik
Umumnya cacing ini tidak menimbukan kelainan sehingga gejala klinik jarang terjadi
jika terjadi berupa kelainan ringan seperti tidak enak di perut atau diare ringan.
e. Diagnosis dan pengobatan.
Ditegakan dengan menemukan telur didalam tinja. Sebagai obat pilihan dapat
diberikan niclosamide, dengan dosis seperti pada infeksi D.latum. dapat pula diberikan
praziquantel ternyata cukup efektif untuk H.diminuta.
f. Pencegahan
Membasmi tikus dan serangga yang dapat berfungsi sebagai tuan rumah perantara.


Diphyllobothrium latum
Disebut juga dengan Difilobatriasis atau Penyakit Cacing Pita adalah salah satu jenis
penyakit cacing yang paling berbahaya. Bentuk cacingnya pipih seperti pita, bisa mencapai
panjang 3 10 meter dan hebatnya walau dipotong-potong, cacing ini masih bisa hidup. Bibit
cacing terutama banyak ditemukan didalam daging babi dan daging sapi.
a. Morfologi telur, cacing dewasa dan proglotid.

Gambar telur Diphyllobothrium latum
http://www.studyblue.com/notes/note/n/slides-e3/deck/8292657
diunduh pada( 10 juni 2014 )

Ditemukan pada usus halus manusia, anjing, kucing, babi, beruang, mamalia pemakan
ikan. Cacing memiliki ukuran 2-12 m warna abu-abu kekuningan dengan bagian tengah
berwarna gelap (berisi uterusdan telur). Testis dan gld. Vitellaria terletak di lateral, ovarium
di tengah berlobus 2. Uterus berbentuk bunga di tengah dan membuka di ventral. Porus uterus
terletak disebelah porus genitalis. Telur keluar terus menerus di tinja dengan ukuran 67-71 x
40-51 .
Cacing dewasa memiliki beribu-ribu proglotid (bagian yang mengandung telur) dan
panjangnya sampai 450-900 cm. Telurnya dikeluarkan dari proglotid di dalam usus dan
dibuang melalui tinja. Telur akan mengeram dalam air tawar dan menghasilkan embrio, yang
akan termakan oleh krustasea (binatang berkulit keras seperti udang, kepiting). Selanjutnya
krustasea dimakan oleh ikan. Manusia terinfeksi bila memakan ikan air tawar terinfeksi yang
mentah atau yang dimasak belum sampai matang.

Gambar skoleks dan proglotid Diphyllobothrium latum
http://crocodilusdaratensis.wordpress.com/2010/10/24/336/
diunduh pada ( 10 juni 2014 )
b. Siklus hidup
Telur berkembang untuk beberapa minggu, coracidium (onchosphere berkait 6
dilengkapi embriophore yang bercilia) berada di air, kemudian dimakan h.i. I
cyclopid/diaptomid (berkembang menjadi procercoid) di haemochole dalam 2-3 minggu
selanjutnya h.i. I dimakan h.i. II ikan (berkembang menjadi plerocercoid) di viscera dan otot.
H.i. II dimakan h.d dan menjadi dewasa dengan periode prepaten 3-4 minggu.




Sklus hidup Diphyllobothrium latum
http://crocodilusdaratensis.wordpress.com/2010/10/24/336/
diunduh pada ( 10 juni 2014 )



c. Gejala klinis
infeksi biasanya tidak menimbulkan gejala, meskipun beberapa penderita mengalami
gangguan usus yang ringan. kadang cacing pita menyebabkan anemia karena pada penderita
awalnya kekurangan vitamin B12.
d. Diagnosa
Diagnosis ditegakkan berdasarkan ditemukannya telur cacing dalam tinja.
e. Pengobatan dan pencegahan
Diberikan niklosamid atau prazikuantel per-oral (melalui mulut) Pencegahannya :
1. Air minum dimasak atau disaring
2. Memasak daging hospes perantara sempurna


Echinococcus granulosus
a. Hospes dan Nama Penyakit
Hospes definitif dari Echinococcus granulosus adalah hewan karnivora terutama
anjing, srigala, dan lain-lain. Sedangkan hospes perantaranya adalah manusia, kambing,
domba, sapi, dan lain-lain. Penyakit yang disebabkan oleh infeksi cestoda ini adalah
echinococcosis atau penyakit hidatidosis (disebabkan larvanya).
b. Penyebaran Geografis
Penyebaran infeksi Echinococcus granulosus tersebar di seluruh dunia terutama di
daerah pedesaan dan pinggiran yang daerah tersebut terdapat banyak anjing yang memakan
daging hewan yang mengandung kista hidatid. Echinococcus granulosus memiliki fokus
endemik di Amerika Selatan yaitu pada peternakan domba dan sapi di Argentina, Uruguay,
Brazil Selatan, dan Chili. Kista Hidatid seringkali menginfeksi anak-anak dan tumbuh terus
tanpa diketahui selama bertahun-tahun.
c. Morfologi

Gambar Echinococcus granulosus
http://www.studyblue.com/notes/note/n/slides-e3/deck/8292657
diuduh pada (10 mei 2014)
Cacing dewasa berukuran kecil panjangnya 3-6 mm terdiri dari skoleks, leher, dan
sebuah strobila yang hanya terdiri dari 3-4 segmen. Perkembangan segmennya yaitu immatur,
matur, dan gravid. Segmen gravidnya merupakan segmen terbesar yang panjangnya 3-4 mm
dan lebarnya 0,6 mm. Skoleksnya terdiri dari 4 alat isap dengan rostelum yang dilengkapi 2
deret kait yang melingkar.
d. Siklus Hidup
Cacing dewasa Echinococcus granulosus (panjangnya 3 6 mm) berada di usus halus
hospes definitif misalnya anjing. Lalu proglotid melepaskan telur yang keluar bersama feses.
Kemudian tertelan oleh hospes intermediat yang sesuai (biri-biri, kambing, babi, sapi, kuda,
onta) setelah itu telur menetas di usus halus dan onkosfer keluar onkosfer menembus dinding
usus dan menuju sistem peredaran ke berbagai organ, terutama hati dan paru-paru. Di hati
dan paru-paru onkosfer berkembang menjadi kista kemudian berkembang secara berangsur-
angsur, menghasilkan protoskoleks dan anak kista yang mengisi kista interior. Hospes
definitif dapat terinfeksi dengan cara memakan daging hospes intermediet yang mengandung
kista hidatid. Setelah tertelan, protoskoleks melakukan evaginasi, menuju ke mukosa usus
dan berkembang menjadi cacing dewasa setelah 32 sampai 80 hari kemudian proglotid
melepaskan telur. Hospes intermediat terinfeksi dengan cara menelan telur kemudian menetas
menghasilkan onkosfer pada usus dan menjadi kista di dalam berbagai organ.


Gambar siklus hiup Echinococcus granulosus
http://triyaniuc.wordpress.com/2013/06/02/echinococus-granulosus-diphyllobothrium-latum/
diunduh pada ( 10 Mei 2014)
d. Gejala Klinik
Echinococcus granulosus menginfeksi selama bertahun-tahun sebelum kista
membesar dan menyebabkan gejala saat tersebar ke organ-organ vital. Bila menginfeksi hati
maka terjadi rasa sakit dan nyeri di bagian abdominal, benjolan di daerah hati, dan obsruksi
saluran empedu. Pada saat kista menginfeksi paru-paru menyebabkan dada sakit dan batuk
hemoptysis. Kista yang menyebar ke seluruh organ dapat menyebabkan demam, urtikaria,
eosinofilia, dan syok anafilaktik. Kista dapat menyebar hingga ke otak, tulang, dan jantung
.
e. Diagnosis
Diagnosis ditegakkan dengan menemukan skoleks yang dikeluarkan dari cairan kista
atau dengan reaksi Casoni suatu tes intrakutan dengan hasil kira-kira 86% dari kasus
memberikan reaksi positif.
f. Pengobatan dan pencegahan
Semua cara tanpa pembedahan biasanya tidak berhasil. Pembedahan hanya berhasil
pada penderita dengan kista unilokuler di tempat yang dapat dioperasi.
Beberapa tindakan pencegahan dilakukan untuk menurunkan insiden infeksi :
1. Semua hewan yang menjadi hospes perantara ketika selesai disembelih harus dibuang
dan dijauhkan dari anjing agar tidak dimakan sehingga tidak berkembang menjadi
cacing dewasa.
2. Ditekankan kesehatan perorangan untuk mencegah tertelannya telur infektif yang
terkontaminsi feses anjing, karena telurnya sangat resisten terhadap desinfektan.
3. Melakukan tindakan kontrol yang ekstensif untuk mengurangi penularan penyakit
hidatid
4. Program pendidikan dan penyuluhan terhadap masyarakat

IV. ALAT DAN BAHAN
ALAT
3. Mikroskop
4. Atlas parasitologi medis

BAHAN
4. Proglotid cestoda genus taenia
5. Scolex cestoda genus Taenia
6. Telur cestoda genus Taenia






V. CARA KERJA













VI. HASIL PENGAMATAN
GAMBAR

Skolex h.nana Skolex h.diminuta





























Amati preparat awetan proglotid, scoleks,
dan telur genus Hymnelopis di bawah
mikroskop dengan perbesaran lemah
dahulu 100x
Kemudian amati dengan perbesaran 400x
Hasil pengamatan pada kolom yang telah
disediakan serta lengkapi dengan
keterangan gambar yang memperlihatkan
ciri khas.
GAMBAR

Proglotid H.nana Proglotid H.diiminuta




















Gambar

Telur H.nana Telur H.diminuta

























GAMBAR

Proglotid D.latum Scoleks D.latum




















Gambar

Skoleks E.granulosus Proglotid E.granulosus






















Gambar

Kista Hydatid E.granulosus

















VII. Bahan diskusi
1. Jelaskan perbedaan siklus antara ordo pseudophylidea dan ordo Cyclophyllidea !
Perbedaannya ordo pseudophylidea manusia bertindak sebagai hospes definitif pada
diphylobotrium latum yang habitatnya di dalam usus halus, sedangkan pada cestoda
binatang manusia bertindak sebagai hospes paratenik dan didalam tubuh manusia
tidak dapat berkembang menjadi lebih matang. Pada ordo Cyclophyllidea manusia
bertindak sebagai hospes definitif dan juga hospes paratenik.

2. Jelaskan gejala klinik dan cara mendiagnosis penyakit :
a. Himenolepis nana
tidak menimbulkan gejala yang berarti karena tidak menimbulkan kelainan
pada mukosa usus. Pada infeksi berat bisa menimbulkan enteritis bersifat
kataral. Cara mendiagnosisnya dengan menemukan telur cacing dalam tinja.
b. Himenolepis diminuta
Tidak menimbulkan kelainan jika terjadi infeksi ringan tidak enak diperut atau
diare ringan diagnosa ditegakan dengan menemukan telur di dalam tinja
c. Difilobotriasia
Tidak sama setiap penderita gangguan di sistem pencernaan diagnosis dapat
ditemukan dengan menemukan telur atau proglotid di feses
3. Sebutkan hospes perantara H.diminuta !
Larva pijal tikus dan kumbang tepung dewasa
4. Jelaskan cara mendiagnosa penyakit Himnelopsiasis serta sebutkan bahan
pemeriksaan yang bisa dipakai untuk mendiagnosa penyakit Himnolepsiasis !
Ditegakan dengan menemukan telur cacing di dalam feses.
5. Jelaskan perbedaan morfologi cacing dewasa genus Hymenolepis dan E.granulosis !
Genus Hymenolepis proglotid bbanak berbentuk trapesium sedangkan E.granulosis
hanya memiliki 3 buah proglotid pada tubuhnya.
VIII. Kesimpulan
Cacing dalam kelas cestoda disebut sebagai cacing pita, hal ini karena bentuk tubuh
cacing tersebut yang panjang dan pipih menyerupai pita. Cacing ini tidak mempunyai saluran
pencernaan ataupun pembuluh darah. Tubuhnya memanjang dan terbagi atas segmen-segmen
yang disebut proglotida dan segmen ini bila sudah dewasa akan berisi alat reproduksi jantan
dan betina.
Kelas Cestoda terbagi dalam 2 ordo, yaitu:
Ang 1. Ordo pseudophyllidea
Diphyllobothrium latum
Echinococcus granulosus
2. Ordo cyclopyllidea
Hymenolepis nana
Hymenolepis diminuta
Taenia solium
Taenia saginata

IX. Pembahasan
Pada saat praktikum banyak preparat yang tidak tersedia, menyebabkan terganggunya proses
praktikum.



Daftar pustaka
http://www.studyblue.com/notes/note/n/slides-e3/deck/8292657 ( 10 mei 2014 )
http://triyaniuc.wordpress.com/2013/06/02/echinococus-granulosus-diphyllobothrium-latum/
( 10 mei 2014 )
www.atlas.or.kr/atlas/alphabet_view.php?my_codeName=hymnelopis%20nana ( 10 mei
2014 )
http://crocodilusdaratensis.wordpress.com/2010/10/24/336/ ( 10 mei 2014 )