Anda di halaman 1dari 49

IPBA

HIDROSFER

OLEH KELOMPOK 2:
I KOMANG JANUARIASA (1113021007)
KADEK AGUS ARIADI (1113021014)
KETUT GENEP DARMAYASA (1113021018)
KELAS : IV B

JURUSAN PENDIDIKAN FISIKA
FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS PENDIDIKAN GANESHA SINGARAJA
2013

HIDROSFER
i

KATA PENGANTAR
Puja dan puji syukur penulis panjatkan kehadapan Tuhan Yang Maha Esa,
karena berkat rahmat-Nya, penulis dapat menyelesaikan makalah dengan judul
Hidrosfer tepat pada waktunya. Maksud dan tujuan dari penulisan makalah ini
tidak lain untuk memenuhi salah satu dari kewajiban mata kuliah IPBA serta
merupakan bentuk langsung tanggung jawab penulis pada tugas yang diberikan.
Pada kesempatan ini, penulis juga ingin menyampaikan ucapan terima
kasih kepada Bapak Drs. Iwan Suswandi, M.Si selaku dosen mata kuliah IPBA
serta semua pihak yang telah membantu penyelesaian makalah ini baik secara
langsung maupun tidak langsung. Penulis menyadari bahwa manusia tidak luput
dari kesalahan dan kekurangan, serta kesempurnaan hanya milik Tuhan Yang
Maha Esa sehingga dalam penulisan dan penyusunannya masih jauh dari
sempurna. Oleh karena itu, kritik dan saran sangat penulis harapkan dalam upaya
evaluasi diri.
Akhirnya penulis hanya bisa berharap, semoga makalah ini dapat
bermanfaat bagi pembaca dan seluruh mahasiswa-mahasiswi Universitas
Pendidikan Ganesha Singaraja.




Singaraja, 21 Maret 2013
Penulis









HIDROSFER
ii

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ................................................................................ i
DAFTAR ISI ............................................................................................... ii

BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang ...................................................................................... 1
1.2 Rumusan masalah .................................................................................. 2
1.3 Tujuan Penulisan ................................................................................... 2

BAB II
PEMBAHASAN
2.1. Pengertian Hidrosfer ............................................................................ 3
2.2. Siklus Hidrologi ................................................................................... 3
2.3. Perairan Darat ....................................................................................... 7
2.4. Perairan Laut ........................................................................................ 29

BAB III
PENUTUP
3.1. Kesimpulan .......................................................................................... 45

DAFTAR PUSTAKA

HIDROSFER

1

BAB I
PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang
Bumi sebagai tempat tinggal makhluk hidup merupakan salah satu planet di tata
surya. Keistimewaan bumi dibanding planet-planet lain di tata surya adalah mampu
menyokong kehdupan yang beraneka ragam. Keistimewaan tersebut diantaranya adalah
suhu yang optimal, kadar oksigen yang baik, serta yang tidak kalah penting adalah
terdapatnya air di bumi sebagai sumber kehidupan. Bumi menjadi istimewa karena
sebagian besar permukaan bumi tertutup oleh air, baik air di darat maupun di laut.
Seperti kita ketahui bahwa sekitar 70,8 % bumi kita ini terdiri dari air, dimana air
adalah kebutuhan yang sangat penting bagi kehidupan mahluk hidup dan 29, 2% daratan.
Prosentase air di bumi paling banyak berada di lautan yakni sekitar 97,2%; kemudian
dalam bentuk es sekitar 1,75%; berada di daratan sebagai air sungai, air danau, air tanah
sekitar 0,62%; dan hanya 0,001% dalam bentuk uap di udara.
Air di bumi mengulangi terus menerus sirkulasi: penguapan, presipitasi, dan keluar
dari tanah. Sirkulasi ini sering disebut dengan siklus hidrologi. Air berubah dalam tiga
wujud menurut waktu dan tempat, yakni dalam bentuk padat, air sebagai cairan, air
sebagai uap seperti gas. Pemanasan air samudera oleh sinar matahari merupakan kunci
proses siklus hidrologi tersebut dapat berjalan secara kontinu. Air berevaporasi,
kemudian jatuh sebagai presipitasi dalam bentuk hujan, salju, hujan batu, hujan es dan
salju (sleet), hujan gerimis atau kabut.
Pada perjalanan menuju bumi beberapa presipitasi dapat berevaporasi kembali ke
atas atau langsung jatuh yang kemudian diintersepsi oleh tanaman sebelum mencapai
tanah. Setelah mencapai tanah, siklus hidrologi terus bergerak secara kontinu dalam tiga
cara yang berbeda: Air permukaan, baik yang mengalir maupun yang tergenang (danau,
waduk, rawa), dan sebagian air bawah permukaan akan terkumpul dan mengalir
membentuk sungai dan berakhir ke laut. Proses perjalanan air di daratan itu terjadi dalam
komponen-komponen siklus hidrologi yang membentuk sistem Daerah Aliran Sungai
(DAS).
Sebagian besar wilayah Indonesia terdiri dari laut. Jika dibandingkan dengan luas
daerah keseluruhan, perairan Indonesia 62,9 % dan daratan 37,1 %. Di Indonesia terdapat
perairan laut dan berbagai macam perairan darat, di mana perairan darat dan perairan laut
ini merupakan bagian hidrosfer. Hidrosfer atau lapisan air merupakan fisik bumi yang
berguna bagi kehidupan manusia, hewan, dan tumbuhan. Untuk lebih mengetahui lebih
HIDROSFER

2

jelasnya mengenai hidrosfer, serta perairan laut dan perairan darat, maka hal ini akan di
bahas lebih lanjut pada pembahasan dalam makalah ini.

1.2. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang di atas, dapat dirumuskan beberapa masalah yang akan
dikaji adalah sebagai berikut:
1.2.1 Bagaimanakah pengertian hidrosfer?
1.2.2 Bagaimanakah proses siklus hidrologi?
1.2.3 Apa sajakah yang tergolong perairan darat?
1.2.4 Apa sajakah yang tergolong perairan laut?
1.3. Tujuan Penulisan
Adapun tujuan dari penulisan makalah ini adalah sebagai berikut:
1.3.1 Untuk menjelaskan pengertian hidrosfer.
1.3.2 Untuk menjelaskan proses siklus hidrologi.
1.3.3 Untuk mengetahui apa saja yang tergolong perairan darat.
1.3.4 Untuk mengetahui apa saja yang tergolong perairan laut.






HIDROSFER
3

BAB II
PEMBAHASAN

2.1 PENGERTIAN HIDROSFER
Hidrosfer merupakan daerah perairan yang mengikuti bentuk bumi yang
bulat. Hidrosfer berasal dari kata hidros yang berarti air dan sphere yang berarti
daerah atau bulatan. Daerah perairan ini meliputi samudra, laut, danau, sungai,
gletser, air tanah, dan uap air yang terdapat di atmosfer. Hidrosfer menempati
sebagian besar muka bumi karena 75% muka bumi tertutup oleh air. Jumlah air
yang tetap dan selalu bergerak dalam satu lingkaran peredaran membentuk suatu
siklus yang dinamakan siklus hidrologi, siklus air, atau daur hidrologi.
Penguapan air yang terjadi di permukaan bumi terutama samudra dan laut
disebabkan oleh panas matahari.
Bentangan air yang terdapat di daratan dipelajari dalam ilmu hidrologi.
Bentangan air yang terdapat di lautan dipelajari dalam ilmu oceanografi.
Bentangan air yang terdapat di atmosfer, yang mempengaruhi iklim dan cuaca,
dipelajari dalam ilmu meteorology dan klimatologi.

2.2 SIKLUS HIDROLOGI
Jumlah air di bumi sangat besar, kira-kira 1,36 milyar km3. Dari jumlah
tersebut sekitar 97,2% merupakan air yang berada di laut, 2,15% berupa es dan
salju, sedang sisanya yang 0,65% merupakan air yang terdapat di danau, sungai,
atmosfer dan air tanah. Meskipun persentase dari bagian yang terakhir ini sangat
kecil, tetapi jumlahnya sangat besar.
Air merupakan komponen yang sangat penting bagi kehidupan di muka
bumi. Dengan meningkatnya kebutuhan akan air, para ilmiawan memberikan
perhatian yang sangat besar terhadap kelangsungan perubahan air di atmosfer, laut
dan daratan. Sirkulasi suplai air di bumi yang tidak putusnya disebut siklus
hidrologi.
Siklus air (daur hidrologi) meliputi gerakan air dari laut ke atmosfer,
atmosfer ke tanah dan dari tanah kembali lagi ke laut. Air naik ke udara dari
permukaan laut dan daratan melalui penguapan. Penguapan terjadi karena
HIDROSFER
4

penyinaran matahari. Matahari memancarkan energi panas ke seluruh bumi
akibatnya terjadilah penguapan dari laut, sungai, danau, rawa, dan wilayah
perairan lainnya. Uap air yang terbentuk bergerak naik ke udara. Semakin tinggi
uap air bergerak , suhu udara semakin rendah. Di daerah yang bersuhu rendah
tersebut, uap air itu mengalami kondensasi. Di daerah yang sangat tinggi, uap air
tersebut membeku menjadi salju yang disebut proses sublimasi. Oleh sebab itu, air
di permukaan bumi terdiri dari tiga macam yaitu, cair, gas dan padat.











Ada tiga macam siklus air, yaitu siklus pendek, sedang dan panjang.
1. Siklus pendek

Gambar 2. Siklus Hidrologi pendek
Siklus ini terjadi jika uap air laut mengalami kondensasi di atas laut,
selanjutnya membentuk awan dan jatuh sebagai hujan di laut setempat.
Gambar 1 Siklus Hidrologi
HIDROSFER
5

Karena terjadi pemanasan oleh sinar matahari, air di laut menguap,
membubung di udara. Di udara uap air mengalami penurunan suhu karena
perbedaan ketinggian (setiap naik 100 meter suhu udara turun 0,5
0
C).
Dengan demikian semakin ke atas suhu udara semakin rendah, sehingga
terjadi proses kondensasi (pengembunan).
2. Siklus sedang

Gambar 3. Siklus Hidrologi sedang
Siklus ini terjadi jika uap air laut mengalami kondensasi, selanjutnya
membentuk awan yang terbawa angin menuju daratan dan jatuh sebagai
hujan. Namun, terbentuknya awan tidak selalu di atas laut sehingga ada
kemungkinan yang terbawa angin adalah uap airnya. Setelah di atas daratan
uap air berubah menjadi awan dan selanjutnya turun sebagai hujan. Air
hujan yang jatuh di darat ada yang menjadi aliran permukaan, meresap ke
dalam tanah, mengalir di sungai, dan akhirnya kembali ke laut.
3. Siklus panjang

Gambar 4. Siklus Hidrologi Panjang
Siklus ini terjadi jika uap air laut mengalami kondensasi, selanjutnya
seperti pada siklus sedang, uap air atau awan terbawa angin menuju daratan
HIDROSFER
6

hingga pegunungan tinggi. Karena pengaruh suhu, uap air berubah menjadi
kristal-kristal es atau salju. Kemudian jatuh sebagai hujan es atau salju yang
membentuk gletser, mengalir masuk ke sungai, dan akhirnya kembali ke
laut.
Siklus hidrologi besar terjadi di dalam DAS, dalam mempelajari DAS,
daerah aliran sungai biasanya dibagi menjadi daerah hulu, tengah, dan hilir.
Ekosistem DAS hulu merupakan bagian yang penting karena mempunyai fungsi
perlindungan terhadap seluruh bagian DAS. Perlindungan ini, antara lain, dari segi
fungsi tata air. Erosi yang terjadi di daerah hulu akibat praktik bercocok tanam
yang tidak mengikuti kaidah-kaidah konservasi tanah dan air atau akibat
pembuatan jalan yang tidak direncanakan dengan baik tidak hanya berdampak di
daerah erosi tersebut berlangsung, tetapi juga akan menimbulkan dampak di
daerah hilir dalam bentuk penurunan kapasitas tampung waduk sehingga terjadi
pendangkalan sungai dan saluran irigasi yang meningkatkan risiko banjir.
Dengan demikian, kondisi hidrologis DAS yang baik sangat dipengaruhi
oleh pemanfaatan dan konservasi lahan di wilayah DAS tersebut. Siklus air terjadi
karena adanya proses-proses yang mengikuti gejala meteorologis dan
klimatologis, antara lain, sebagai berikut.
a. Transpirasi, adalah proses pelepasan uap air dari tumbuh-tumbuhan
melalui stomata atau mulut daun.
b. Evaporasi, adalah penguapan benda-benda abiotik dan merupakan proses
perubahan wujud air menjadi gas. Penguapan di bumi 80% berasal dari
penguapan air laut.
c. Evapotranspirasi, adalah proses gabungan antara evaporasi dan
transpirasi.
d. Kondensasi, merupakan proses perubahan wujud uap air menjadi air akibat
pendinginan.
e. Presipitasi, merupakan segala bentuk hujan dari atmosfer ke bumi yang
meliputi hujan air, hujan es, dan hujan salju.
f. Run off (aliran permukaan), merupakan pergerakan aliran air di permukaan
tanah melalui sungai dan anak sungai.
HIDROSFER
7

g. Adveksi, adalah transportasi air pada gerakan horizontal seperti
transportasi panas dan uap air oleh gerakan udara mendatar dari satu lokasi
ke lokasi yang lain.
h. Infiltrasi, yaitu perembesan atau pergerakan air ke dalam tanah melalui
pori tanah

2.3 PERAIRAN DARAT
Perairan darat adalah sejumlah massa air yang terdapat di daratan, yang
ada di permukaan bumi, yang tergenang dan mengalir di permukaan bumi.
Perairan darat dapat dibentuk oleh alam atau oleh manusia. Perairan darat
yang dibentuk oleh alam antara lain air tanah, sungai, danau, gletser dan rawa.
Sedangkan perairan darat yang dibentuk oleh manusia antara lain waduk,
kolam dan terusan.
Perairan darat alami berasal dari air hujan yang meresap dan mengalir di
permukaan bumi. Perbandingan antara banyaknya air yang meresap dan
mengalir di permukaan tergantung pada berbagai faktor yaitu :
1. Jumlah curah hujan yang jatuh
2. Kekuatan jatuhnya butiran air hujan ke permukaan bumi
3. Lamanya curah hujan
4. Penutupan vegetasi di permukaan bumi
5. Derajat permeabelitas dan struktur bumi
6. Kemiringan topografi
Keenam faktor tersebut di atas merupakan satu kesatuan yang saling
berhubungan dan menentukan kondisi tertentu di permukaan bumi.
Macam-macam perairan darat yang ada di permukaan bumi yaitu : air
tanah, sungai, gletser, danau, dan rawa.






HIDROSFER
8

A. Air Tanah

Gambar 5. Air tanah
Air tanah yaitu air yang terdapat pada pori-pori di bawah permukaan
tanah. Air tanah pada litosfer kurang lebih 0,62% dari seluruh hidrosfer.
Volum air tanah yang ada di berbagai tempat tidak sama, bergantung kepada
persyaratan yang menunjang proses peresapan air hujan.
1. Asal Air Tanah dan Media Peresapan
Air tanah yang berasal dari air hujan yang meresap melalui berbagai
media peresapan, yaitu sebagai berikut :
1. Pori-pori tanah sangat mempengaruhi peresapan air hujan. Tanah
yang gembur atau berstruktur lemah akan meresapkan air lebih
banyak daripada tanah yang pejal.
2. Retakan-retakan lapisan tanah akibat kekeringan, yang dimana pada
musim hujan sangat basah dan becek, seperti tanah liat dan lumpur.
3. Rongga-rongga yang dibuat binatang (cacing dan rayap)
4. Rongga-rongga akibat robohnya tumbuh-tumbuhan yang berakar
besar.
5. Rongga-rongga akibat pencairan berbagai kristal yang membeku pada
musim dingin.
6. Penutupan vegetasi di permukaan bumi sangat besar pengaruhnya
terhadap peresapan air hujan ke dalam tanah. Hujan yang lebat akan
tertahan oleh daun-daun dan ranting-ranting, sehingga jatuhnya di
permukaan bumi sangat perlahan-lahan. Dengan demikian, proses
peresapan air akan menjadi lebih lancar.
HIDROSFER
9

Jumlah air hujan yang merembes ke dalam tanah bergantung pada
berbagai faktor sebagai berikut :
a. Jumlah curah hujan
Semakin besar jumlah curah hujan di permukaan, maka semakin
banyak air hujan yang meresap ke dalam tanah.
b. Lama curah hujan
Semakin lama curah hujan, maka air hujan yang meresap ke dalam
tanah akan semakin banyak
c. Tingkat curah hujan
Jika curah hujan lebat, permukaan tanah akan secara cepat menjadi
jenuh air dan air tidak akan meresap ke dalam tanah, tetapi air tersebut
akan bergerak menyusuri permukaan tanah.
d. Lereng daratan
Semakin curam lereng daratan tempat turunnya hujan, maka
semakin besar volume air permukaan yang lolos karena mengalir.
e. Derajat permeabelitas
Derajat permeabelitas suatu bahan adalah ukuran kemampuan
bahan tersebut untuk ditembus oleh air. Secara alamiah, pasir dan batu
kerikil adalah bahan yang mudah ditembus oleh air (bahan permeable)
sedangkan tanah liat adalah bahan yang permeabelitasnya rendah
(sukar ditembus air). Oleh karena itu, tanah yang dekat permukaannya
banyak mengandung pasir dan batu kerikil akan memudahkan air
merembes ke dalam tanah.
f. Porositas
Porositas adalah persentase volume ruang suatu bahan yang
kosong. Porositas berkisar kurang dari 1% dalam batuan beku tertentu,
seperti granit, sampai lebih dari 40% dalam pasir dan kerikil tertentu.
Semakin tinggi porositas bahan, maka semakin banyak air yang
meresap ke dalam tanah. Batuan dan tanah yang berpori-pori di dekat
permukaan bumi sangat menentukan kapasitas tanah sebagai tempat
persediaan air.
g. Penutupan vegetasi di permukaan bumi
HIDROSFER
10

Peresapan air hujan ke dalam tanah juga dipengaruhi oleh
kehadiran tumbuh-tumbuhan di permukaan. Daun-daun dan ranting
pohon di hutan dan daerah-daerah berumput menghalangi air lolos
setelah hujan lebat. Akibatnya, air akan lebih banyak meresap ke
dalam tanah. Oleh karena itu, kita harus selalu mendukung secara aktif
program pemerintah yang menganjurkan penanaman pohon di
halaman-halaman yang kosong.
2. Peresapan dan Transpirasi
Air tanah mengalami proses penguapan dengan dua cara, yaitu :
1. Penguapan langsung melalui pori-pori di permukaan tanah sebagai
akibat dari pemanasan lapisan tanah oleh sinar matahari. Jenis
penguapan ini disebut dengan evaporasi.
2. Penguapan yang tidak langsung, yaitu penguapan yang melalui
permukaan daun tumbuh-tumbuhan yang dinamakan dengan
transpirasi.
Dalam Klimatologi dan Hidrologi, kedua jenis penguapan ini
dinamakan evapotranspirasi. Lapisan tanah yang dipengaruhi
evapotranspirasi hanya sampai kedalaman 30 cm. Di daerah gurun
menjadi lebih dalam lagi, karena curah hujan rendah dan terjadi
pemanasan terus-menerus , sehingga lapisan atas tanah gurun itu akan
menjadi kering.
3. Klasifikasi Air Tanah
a. Zona penjenuhan dan zona aerasi
Perhatikan kembali siklus air yang ditunjukkan pada gambar 10.30
yang menunjukkan zona-zona peresapan air dalam tanah. Air yang
merembes ke bawah melalui batuan yang berpori-pori dan permeable
akhirnya sampai pada zona penjenuhan. Tapal batas atas zona
penjenuhan dinamakan meja air (water table) atau muka air tanah.
Zona tak jenuh di atas meja air dinamakan zona aerasi. Dalam zona
aerasi, pori-pori tanah atau batuan hanya sebagian atau sama sekali
tidak berisi air, sedangkan dalam zona penjenuhan semua pori-pori
batuan penuh berisi air. Oleh karena itu, untuk mendapatkan suplai air
HIDROSFER
11

tanah, orang biasanya menggali atau mengebor sumur hingga
kedalaman di bawah meja air dalam zona penjenuhan.
b. Berdasarkan tempatnya, air tanah digolongkan menjadi dua bagian,
yaitu sebagai berikut :
1) Air tanah dangkal (air preatis)

Gambar 6. Air tanah dangkal dan dalam
Yaitu air tanah yang terdapat di atas lapisan yang kedap air
dan dekat dengan permukaan bumi. Dengan adanya gaya gravitasi,
air tanah dangkal ini akan bergerak turun melalui pori-pori lapisan
tanah yang ada di bawahnya. Contoh dari air tanah dangkal yaitu
air sumur.
2) Air tanah dalam
Yaitu air tanah yang terdapat pada lapisan yang mengandung air
dan berada diantara dua lapisan kedap air. Air tanah dalam dibagi
lagi menjadi dua zone, yaitu zone jenuh dan zone tidak jenuh.
Air tanah dalam zone tak jenuh tertahan agak lebih lama di pori-
pori yang halus pada lapisan tanah yang lebih padat, mengikuti
hukum kapilaritas.
Air tanah zone jenuh tertahan lebih lama lagi karena air telah
sampai pada lapisan batuan induk yang kedap air. Pada zone inilah
air tanah seakan-akan tergenang, sehingga merupakan reservoir air.
Kedalaman permukaan air pada zone jenuh dapat dilihat pada
sumur biasa (bukan sumur bor). Dengan meneliti kedalaman
beberapa sumur, kita dapat membuat penampang zone jenuh di
tempat itu.



HIDROSFER
12

c. Sumur Artesis

Gambar 7. Sumur Artesis
Danau, sungai, dan mata air terjadi jika ketinggian meja air sama
dengan permukaan bumi. Suatu lapisan batuan permeable dimana air
tanah dapat bergerak yang dinamakan aquifer (Gambar 10.36 dan
gambar 10.37). Aquifer berasal dari bahasa Latin yang berarti
pembawa air. Pasir, kerikil dan batuan sedimen tertentu adalah bahan-
bahan aquifer yang baik. Di aquifer inilah biasanya didapat mata air
dan dasar sumur. Sumur dan mata air berisi karena keduanya
memotong meja air (lihat gambar 10.36). Mata air adalah suatu aliran
air tanah yang keluar secara alamiah pada permukaan bumi. Oleh
karena mata air dihasilkan dari aliran air yang terjadi karena pengaruh
gravitasi (perbedaan ketinggian) maka kadang-kadang sering disebut
mata air gravitasi.
Sumur artesis terjadi ketika aquifer yang berpangkal dari tempat yang
tinggi berada di antara dua lapisan batuan kedap air yang miring (lihat
gambar 10.37). Jika kita melakukan pengeboran di tempat yang
rendah, maka perbedaan ketinggian antara pangkal aquifer yang tinggi
dan tempat pengeboran yang rendah menghasilkan beda energy
potensial yang cukup besar yang dapat mendorong air untuk
memancar keluar dengan kuat. Nama artesis berasal dari artois,
sebuah propinsi di Perancis, tempat sumur-sumur seperti ini digali.
4. Masalah Air Tanah
Pengambilan air tanah oleh manusia untuk berbagai keperluan
menimbulkan tiga masalah berikut :
HIDROSFER
13

1. Pengambilan air tanah secara berlebihan melalui sumur bor dapat
menyebabkan tanah amblas. Hal ini terjadi karena volume air tanah
yang diambil tidak seimbang dengan air yang meresap ke dalam
tanah.
2. Pengambilan air tanah secara berlebihan juga dapat menurunkan
meja air, khususnya pada musim panas.
3. Di daerah dekat pantai yang dijadikan tempat pemukiman,
penyedotan air tanah melalui sumur pompa dapat mengakibatkan
intrusi air asin dari laut.
5. Polusi terhadap Air Tanah
Di kota-kota dan di daerah-daerah industri sering terjadi polusi pada
air tanah yang disebabkan oleh sampah dan buangan limbah industri.
Sampah-sampah yang padat, apabila membusuk akan meresap ke dalam
lapisan tanah oleh pengaruh air hujan sehingga akan mengotori air tanah
di tempat-tempat yang dekat dengan sumber polusi itu. Air tanah yang
sudah tercemar bias dibedakan dengan air tanah yang masih murni dari
segi warna, bau dan rasa. Akibat polusi, air tanah bisa membahayakan
kehidupan manusia.
6. Manfaat Air Tanah
Air permukaan mempunyai beberapa manfaat yang sangat penting,
antara lain :
1) Air sebagai sarana transportasi
2) Air sebagai sumber air bersih
3) Air sebagai kegiatan pertanian dan perikanan
4) Air sebagai sumber energi
5) Air sebagai sarana pariwisata dan olahraga






HIDROSFER
14

B. Sungai

Gambar 8. Sungai
Sungai adalah aliran air tawar dari sumber alamiah di daratan menuju
dan bermuara ke danau, laut, samudra, atau sebagian sungai lain yang lebih
besar. Selain itu, sungai juga dapat diartikan sebagai bagian dari muka bumi
yang rendah atau miring berupa alur tempat air tawar mengalir, baik ke laut
maupun ke sungai induknya. Sungai berawal dari hujan. Besar curah hujan
diserap oleh tumbuh-tumbuhan dan tanah, tetapi hujan yang berlebihan akan
lolos mengalir dan terkumpul ke dalam daerah yang letaknya rendah. Air
yang terkumpul di permukaan ini akan membentuk sungai kecil (anak
sungai). Anak-anak sungai ini kemudian bersatu dan membentuk aliran air
yang lebih lebar yang disebut sungai.
1. DAS (Daerah Aliran Sungai)

Gambar 9. Daerah aliran sungai (DAS)
HIDROSFER
15

Daerah aliran sungai (DAS) adalah suatu daerah yang terhampar di sisi
kiri dan kanan suatu aliran sungai, dimana semua anak-anak sungai yang
terdapat di daerah sebelah kiri dan kanannya bermuara ke sungai itu.
Contoh DAS yang ada di Indonesia yaitu DAS Musi, DAS Brantas, DAS
Cimanuk.
Sebuah DAS dianggap berfungsi dengan baik apabila dapat
menyediakan sumber daya air dengan jumlah dan kualitas yang relatif
tetap dan dengan fluktuasi yang rendah, serta dapat diperkirakan sepanjang
tahun.
Ada berbagai pola aliran sungai yaitu :

Gambar 10. Pola aliran sungai
1. pola aliran dendritik yaitu pola aliran yang berbentuk seperti pohon
dimana sungai induk mendapat air dari sejumlah anak sungainya.
2. pola aliran rektanguler yaitu pola aliran yang alirannya melalui daerah
patahan
3. pola aliran Trelis yaitu pola aliran pada beberapa sungai yang
mendapat tambahan air dari anak sungainya dimana arah alirannya
tegak lurus pada sungai tersebut.
4. pola aliran radial yaitu pola aliran yang terjadi jika beberapa sungai
mengalir keluar dari sebuah gunung atau sebuah dome.
5. pola aliran annular yaitu pola aliran yang merupakan variasi dari pola
radial.
Secara umum aliran sungai selalu dibagi menjadi tiga bagian, yaitu
bagian hulu, tengah dan hilir.
HIDROSFER
16

2) Ciri-ciri daerah bagian hulu sungai antara lain :
a) Berada di daerah yang tinggi
b) Aliran airnya sangat deras
c) Tenaga erosinya sangat kuat ke arah vertikal
d) Kekuatan erosinya membuat palung berbentuk V
e) Terdapat air terjun
f) Terdapat batuan dengan ukuran yang besar
3) Ciri-ciri daerah bagian tengah sungai antara lain :
a) Aliran airnya tidak begitu deras, umumnya berada di daerah
kaki pegunungan hingga daerah dataran.
b) Erosi dapat ke arah vertikal dan horizontal.
c) Kekuatan erosinya membuat palung berbentuk U.
d) Tidak terdapat air terjun.
4) Ciri-ciri daerah bagian hilir sungai antara lain :
a) Aliran airnya lambat dan tenang.
b) Erosi ke arah horizontal.
c) Tidak terdapat batuan yang berukuran besar.
d) Bentuk sungainya berkelok (meander).
e) Di muara sungainya banyak terdapat sedimen.
Terdapat tiga dimensi pendekatan analisis dalam pengelolaan DAS,
yaitu :
1. Sebagai proses dengan langkah-langkah perencanaan dan
pelaksanaan yang terpisah, tetapi masih berkaitan.
2. Sebagai sistem perencanaan pengelolaan dan sebagai alat
implementasi program pengelolaan DAS melalui kelembagaan yang
terkait.
3. Sebagai rangkaian aktivitas yang masing-masing berkaitan dan
memerlukan perangkat pengelolaan yang spesifik.
Sungai mengalami masa muda, dewasa, dan tua.
1) Sungai muda
Sungai muda (young) adalah apabila sedang aktif sungai tersebut
dapat melakukan pengikisan saluran makin dalam.
HIDROSFER
17

2) Sungai dewasa
Disebut sungai dewasa (mature) apabila sungai tersebut tidak
mampu lagi mengikis saluran lebih dalam.
3) Sungai tua
Disebut sungai tua (old) apabila sungai tersebut telah mempunyai
daerah banjir yang luas, daerah meander yang lebar, dan lereng
yang landai.
2. Jenis sungai
Jenis sungai dapat dibedakan berdasarkan sumber airnya, ketetapan
alirannya, arah alirannya dan struktur geologinya.
a) Berdasarkan sumber airnya

Gambar 11. Sungai
1. Sungai mata air adalah sungai yang sebagian besar sumber airnya
berasal dari mata air. Contohnya sungai di pulau Jawa.

Gambar 12. Sungai Hujan
2. Sungai hujan adalah sungai yang sebagian besar sumber airnya
berasal dari air hujan. Contohnya : sungai-sungai di pulau-pulau di
kawasan Nusa Tenggara.
HIDROSFER
18


Gambar 13. Sungai gletser
3. Sungai gletser adalah sungai yang sebagian besar sumber airnya
berasal dari lapisan es atau gletser yang mencair. Contohnya sungai
yang airnya benar-benar murni berasal dari pencairan es saja
(ansich), bagian hulu sungai Gangga di India.
4. Sungai campuran adalah sungai yang sumber airnya berasal dari
aliran es atau gletser yang mencair dan bercampur dengan mata air
serta air hujan. Contohnya sungai Digul.
b) Berdasarkan debit airnya
1. Sungai permanen (tetap) adalah sungai yang alirannya tetap
sepanjang tahun. Contohnya sungai di pulau Sumatera,
Kalimantan, dan Irian Jaya.
2. Sungai periodik (tidak tetap) adalah sungai yang aliran airnya tidak
tetap sepanjang tahun. Contohnya sungai-sungai di pulau Jawa dan
Nusa Tenggara.
3. Sungai episodik adalah sungai yang pada musim kemarau airnya
kering dan pada musim hujan airnya banyak. Contohnya sungai
Kalada di Pulau Sumba.
4. Sungai emphemeral adalah sungai yang ada airnya hanya saat
musim hujan.
c) Berdasarkan asal kejadiannya (genetikanya)
1. Sungai konsekuen, adalah sungai yang airnya mengalir mengikuti
arah lereng awal.
HIDROSFER
19


Gambar 14. Sungai konsekuen
2. Sungai subsekuen, atau strike valley adalah sungai yang aliran
airnya mengikuti strike batuan.

Gambar 15. Sungai Subsekuen
3. Sungai obsekuen, adalah sungai yang aliran airnya berlawanan arah
dengan sungai.
4. Sungai resekuen, adalah sungai yang airnya mengalir mengikuti
arah kemiringan lapisan batuan dan bermuara di sungai subsekuen.
5. Sungai insekuen adalah sungai yang mengalir tanpa dikontrol oleh
litologi maupun struktur geologi.
d) Berdasarkan struktur geologi wilayahnya
1. Sungai anteseden adalah sungai yang tetap mempertahankan arah
alirannya meskipun terjadi pengangkatan yang melintang terhadap
alirannya.
HIDROSFER
20


Gambar 16. Sungai anteseden
2. Sungai superimposed adalah sungai yang mengalir pada lapisan
sedimen atau dataran aluvial yang menutupi lapisan batuan di
bawahnya.

Gambar 17. Sungai superimposed
e) Berdasarkan letak alirannya, sungai dapat diklasifikasikan atas tiga
macam yaitu:
1. Sungai yang seluruh alirannya terletak di atas permukaan tanah.
Sungai seperti ini banyak terdapat di bumi.
2. Sungai yang seluruh alirannya terletak di bawah permukaan tanah
atau dinamakan sungai bawah tanah. Sungai ini terjadi karena air
yang sudah merembes ke dalam tanah mengalir ke tempat yang
rendah. Di daerah batuan kapur, air merembes mudah melarutkan
batuan kapur. Pada kedalaman tertentu, pelarutan dapat
membentuk terowongan, dan jika dasar terowongan bersifat kedap
air, terjadilah sungai di bawah tanah.
HIDROSFER
21

3. Sungai yang sebagian aliran di permukaan tanah dan sebagian lagi
di bawah permukaan tanah.
3. Pemanfaatan sungai
Sungai memiliki beberapa manfaat, antara lain :
1. Air minum
2. Pengairan (irigasi)
3. Pembangkit tenaga listrik
4. Rekreasi dan olahraga
5. Penghasil bahan bangunan
6. Sarana transportasi
7. Jamban
4. Hasil Bentukan Sungai
a. Meander

Gambar 18. Meinder
Akibat erosi mendatar, yaitu arus air yang menghantam satu tebing
dan tebing lainnya, air sungai sering mengalir atau menempuh jalur
yang berkelok-kelok. Semakin cepat laju aliran air, maka semakin
panjang belokan yang dilalui oleh air itu. Sebuah anak sungai dapat
menggali beberapa belokan, sebaliknya sebuah sungai besar dapat
membentuk belokan sepanjang 15-30 km dan kembali hampir ke
kedudukan tempat sungai berawal. Bentuk jalur aliran sungai yang
berkelok-kelok seperti ini dinamakan meander. Nama ini berasal dari
nama sungai Meander di Turki bagian barat yang sekarang dikenal
dengan Menderes, yang mempunyai belokan berkelok-kelok yang
panjang.
HIDROSFER
22

Ciri sebuah rangkaian meander adalah adanya suatu bagian yang
menyempit yang dinamakan leher meander. Leher meander dapat
terpotong dan menghasilkan suatu potongan meander. Rangkaian
meander yang terlepas ini berbentuk seperti bulan sabit atau tapal kuda
yang dinamakan danau tapal kuda (oxbow lake)
b. Delta

Gambar 19. Delta
Hasil pengikisan air sungai berupa batu-batu besar dan kecil dan
bahan-bahan halus, seperti pasir dan lumpur diangkut oleh arus sungai
menuju ke hilir. Batu-batu besar dan kecil itu diendapkan terlebih
dahulu di bagian tengah dan bagian hulu jalur air sungai. Bahan-bahan
halus yang tidak mengendap terus dibawa oleh arus sungai ke laut dan
danau membentuk daratan berbentuk segitiga di muara sungai, yang
dinamakan delta. Jadi, delta adalah suatu daratan yang terletak di
muara (mulut) sungai, yang terpisah dari laut dan terdiri dari endapan.
C. Gletser

Gambar 20. Gletser
Gletser adalah massa besar es berbutir, yang terbentuk dari penimbunan
salju dan bergerak menuju ke bawah akibat gravitasi bumi sambil menguap
ataupun meleleh (Katili, hal 174). Gletser terdapat di wilayah-wilayah
HIDROSFER
23

dingin seperti Kutub Utara (Arktik), Kutub Selatan (Antartika), Greenland,
Alaska, Jazirah Skandinavia, dan Pegunungan Alpen. Pada saat ini, 10%
dari daratan bumi merupakan hamparan gletser-gletser, 0,5% daerah gletser
berada di daerah-daerah pegunungan-pegunungan tinggi, 99,5% berada di
wilayah-wilayah kutub.
Di tempat dimana suhu udara pada musim dingin dapat mencapai 0
0
C,
uap air di atmosfer dapat mengalami sublimasi yaitu langsung berubah
menjadi salju dan kemudian turun menjadi hujan salju. Di gunung-gunung
gletser, es merupakan transformasi dari salju. Ketika massa salju
terakumulasi (berkumpul), ia menjadi padat akibat tekanannya sendiri.
Mula-mula salju ini mencair oleh terik matahari di siang hari, lalu membeku
di malam hari (bahkan dalam musim panas). Proses silih berganti ini
membuat salju berubah menjadi es berbutir. Es berbutir memenuhi lubang-
lubang di lereng gunung. Kumpulan es berbutir menjadi materi plastis dan
mempunyai gaya gravitasi yang sangat besar. Oleh karena sifat licin es dan
gravitasi, massa besar es berbutir bergulir ke bawah menyusuri lereng-lereng
pegunungan. Massa es berbutir yang bergerak inilah yang dinamakan
gletser.
1. Tipe Gletser
Ada dua tipe gletser yaitu :
1. Tipe gunung (Mountain Glacier)
Gletser gunung atau disebut juga gletser lembah atau gletser Alpen
merupakan ukuran yang relatif kecil. Gletser ini terletak di puncak
gunung, menutupi lubang-lubang cekung di lereng-lereng gunung atau
bergerak meluncur ke dasar lembah gunung. Gletser ini hanya meliputi
luas beberapa kilometer persegi atau beberapa puluh kilometer persegi
dan terdapat di Kaukasia, Tien, Shan, Pamir, Pegunungan Altai dan
Alpen.
2. Tipe Benua (Continental Glacier)
Gletser benua dikenal juga sebagai lembaran es tutup es. Gletser ini
sangat tebal. Di bagian tengah gletser Greenland, tebalnya bias lebih dari
3000 m. Lapisan es gletser ini merekah pada bagian tengahnya dan turun
HIDROSFER
24

ke laut seperti lidah-lidah es yang terpisah. Es mencair lagi ketika gletser
masuk ke laut dan mengapung dalam bentuk gundukan di permukaan
laut. Saat ini, hanya ada dua lembaran es yaitu yang menutupi Antartika
seluas 12.500.000 km
2
dan yang menutupi sebagian besar Greenland
seluas 1.800.000 km
2
. Kutub es yang lebih kecil terdapat di Skandinavia,
Pulau Baffin, Eslandia dan Kanada bagian timur laut.
2. Manfaat Gletser Bagi Manusia
Gletser di permukaan bumi tidak mendatangkan manfaat yang
langsung seperti air tanah dan sungai. Manfaat glester pada umumnya
secara tidak langsung diantaranya :
1. Terbentuknya danau-danau glasial seperti di lereng pegunungan Alpen
dan di Amerika Utara. Danau itu dijadikan tempat lalu lintas dan untuk
rekreasi ataupun wisata.
2. Terbentuknya fyord sebagai hasil erosi glasial seperti di Norwegia
yang dapat digunakan untuk tempat berlindung perahu dan kapal pada
waktu badai dan merupakan tempat penangkapan ikan yang aman.
3. Gletser merupakan tempat penelitian ahli glasiologi
4. Daerah padang salju merupakan tempat berolah raga musim dingin
(ski)
5. Gletser juga merupakan sumber air bagi sungai di bawahnya
6. Daerah yang tertutup es daratan dapat menyebabkan lahirnya
kebudayaan yang khas, misalnya budaya Eskimo dengan rumah Iglo
dan alat transportasi slide yang ditarik anjing serta bahan makanan
utama daging hewan.
D. Danau
Danau merupakan kumpulan air dalam cekungan tertentu, yang biasanya
berbentuk mangkuk. Suplai air danau berasal dari curah hujan, sungai-sungai,
serta mata air dan air tanah. Danau bersifat permanen atau tetap berair
sepanjang tahun. Akan tetapi, jika sumber air pengisi danau berasal dari salah
satu saja, danau tersebut bersifat sementara atau periodik, sehingga pada
waktu tertentu danau tersebut akan kering.
HIDROSFER
25

a. Menurut terjadinya, danau dapat dibagi menjadi beberapa jenis sebagai
berikut.
1. Danau Vulkanis

Gambar 21. Danau Vulkanis
Danau vulkanis terbentuk akibat adanya aktivitas vulkanis. Depresi
vulkanis timbul pada bekas suatu letusan gunung api. Dasar cekungan yang
tertutup oleh material vulkan tidak tertembus oleh air, sehingga jika terjadi
hujan, airnya akan tertampung dan membentuk danau vulkanis. Bentuk dan
luas yang terjadi dipengaruhi oleh tipe letusan.
2. Danau Tektonik

Gambar 22. Danau vulkanik
Danau tektonik terbentuk karena bentuk-bentuk patahan dan slenk yang
ditimbulkan oleh gerak dislokasi (perpindahan lokasi) di permukaan bumi.
Slenk yang diapit oleh horst, di sekitarnya dapat membentuk danau kalau
mendapat air dalam jumlah yang cukup (air hujan, sungai, mata air).
3. Danau Lembah Gletser
HIDROSFER
26


Gambar 23. Danau lembah gletser
Setelah zaman es berakhir, daerah-daerah yang dahulunya dilalui gletser
menjadi kering dan diisi oleh air. Danau akan terbentuk jika lembah yang telah
terisi air itu tidak berhubungan dengan laut.
4. Danau Dolina

Gambar 24. Danau dolina
Danau dolina/dolin merupakan danau yang terdapat di daerah karst dan
umumnya berupa danau kecil yang bersifat temporer. Danau ini dapat
terbentuk jika di dasar dan tebing dolina terdapat bahan geluh lempung yang
tak tembus air, sehingga jika terjadi hujan airnya tidak langsung masuk ke
dalam tanah kapur, tetapi akan tertampung di dolina terbentuklah danau
dolina.
E. Rawa
Rawa ialah genangan air daratan pada cekungan yang relatif dangkal dan
seringkali ditutupi tumbuhan air. Rawa terutama terdapat di bagian tengah dan
hilir aliran sungai yang mengalir di dataran yang hampir sama tinggi dengan
tinggi air sungai. Rawa juga terdapat di sepanjang pantai yang landai yang
banyak dipengaruhi oleh pasang-surut air laut. Rawa seperti ini dinamakan
HIDROSFER
27

rawa pantai seperti yang terdapat di pantai timur Sumatra, pantai selatan
Kalimantan, dan Irian Jaya serta di beberapa tempat di pantai utara Jawa.

Gambar 25. Rawa
1. Terjadinya Rawa
Sesuai dengan proses terbentuknya, terdapat beberapa macam rawa,
yaitu sebagai berikut.
1. Rawa abadi, yaitu rawa yang tidak pernah kering sepanjang tahun,
terbentuk oleh genangan air hujan atau air tanah yang tidak
mempunyai pelepasan. Air di rawa tersebut sangat asam dan berwarna
kemerah-merahan. Di rawa tersebut hampir tidak dapat organism yang
dapat hidup sehingga dapat dikatakan tidak berguna bagi manusia.

Gambar 26. Rawa abadi
2. Rawa di pinggir aliran sungai yang mengalir di dataran dan berawal
pada waktu sungai itu banjir. Ketika air sungai meluap, bahan kasar
yang dibawa sungai akan membentuk tanggul alam sepanjang sungai
itu. Di sebelah luarnya terendapkan bahan-bahan yang lebih halus.
Ketika air surut kembali, genangan air di luar tanggul itu tidak dapat
kembali ke sungai dan tergenanglah rawa sungai. Peristiwa yang sama
akan terjadi setiap air sungai meluap dari tempat alirannya.
HIDROSFER
28

3. Rawa pantai terdapat di muara sungai. Pada waktu pasang naik, air laut
masuk ke muara sungai dan melimpah ke dataran di sekitarnya.
Kejadian itu berlangsung dua kali dalam sehari sehingga terbentuklah
rawa pantai. Ketika air laut surut, permukaan air rawa tersebut rendah
dan naik lagi pada waktu pasang naik.

Gambar 27. Rawa Pantai
4. Rawa teluk di pantai landai terbentuk karena sebuah teluk
terbendung oleh bar yaitu endapan pasir yang tumbuh di dasar laut.
Oleh karena pembendungan itu, dasar teluk menjadi bertambah
dangkal dan tertutup vegetasi pantai, maka terbentuklah sejenis
rawa pantai.
2. Manfaat Rawa
Beberapa manfaat rawa bagi kehidupan manusia adalah sebagai
berikut
1. Seperti enceng gondok dapat dijadikan bahan baku pembuatan bioas
dan barang-barang kerajinan anyaman seperti tas, dompet, hiasan
dinding, dan lain-lain.
2. Dapat dijadikan daerah pertanian pasang surut.
3. Sebagai lahan untuk usaha perikanan darat.
4. Dapat dikembangkan menjadi daerah wisata.
5. Rawa dengan hutan mangrove (bakau, api-api dan sebagainya), dapat
menghasilkan kayu untuk berbagai keperluan manusia.
6. Rawa pantai dengan nipah dan rumbia yang tumbuh di dalamnya
digunakan orang sebagai bahan atap.
HIDROSFER
29

7. Daerah rawa dapat juga dijadikan tempat pemukiman dengan rumah-
rumah bertiang tinggi dan dengan perahu sebagai alat angkutannya.
8. Setelah dikeringkan, rawa juga dapat dijadikan lahan pertanian tanah
kering.
3. Potensi dan pengelolaan rawa
Rawa dapat menjadi tempat sumber cadangan air, yaitu dengan
menyerap dan menyimpan kelebihan air dari daerah sekitarnya. Rawa
masih dapat diupayakan untuk kegiatan pertanian jika dilakukan reklamasi
terhadap rawa tersebut. Kendala utama yang dihadapi dalam rangka
reklamasi dan pengembangan wilayah rawa adalah tingkat kemasaman
tanah yang tinggi dan ketersediaan unsur hara dalam tanah yang rendah.

2.4 PERAIRAN LAUT
Perairan laut merupakan bagian hidrosfer yang paling besar. Hal ini
dikarenakan, 97,2% dari seluruh volum hidrosfer adalah air laut. Dilihat dari segi
luasnya, 71% permukaan bumi adalah lautan yang dapat dilihat pada tabel berikut.
Tabel 1. Perbandingan Luas Daratan dan Luas Lautan di Permukaan Bumi
Permukaan Bumi
Luas
km
2
%
Daratan
Lautan
148.892.000
361.059.000
29,2
70,8
Jumlah 509.951.000 100,0

Tabel 2. Perbandingan Luas Samudera-Samudera
Samudera
Luas
km
2
%
Pasifik
Atlantik
Hindia
Arktik
Laut yang lainnya
165.000.000
82.000.000
64.000.000
14.000.000
36.059.000
45,7
22,7
17,5
4,0
10,1
Jumlah 361.059.000 100,0
HIDROSFER
30


Menurut letaknya, laut dapat dibagi dalam tiga golongan, yaitu sebagai berikut.
1. Laut Tepi, yaitu bagian lautan yang terletak di pinggir benua serta terhalang
dari lautan luas oleh gugusan pulau atau jasirah. Contoh: Laut Bering
terhalang oleh Kepulauan Aleuten, Laut Utara terhalang oleh Kepulauan
Inggris, Laut Ochostk terhalang oleh jasirah Kamsyatkan dan Kepulauan
Kurillen, Laut Tiongkok Selatan terhalang oleh Filipina dan Kepulauan
Indonesia, dan Laut Jepang terhalang oleh Kepulauan Jepang.

Gambar 28. Laut Bering
2. Laut Pertengahan atau Laut Tengah, yaitu laut yang terletak antara dua benua
yang memiliki gejala-gejala gunung api dan mempunyai gugusan pulau-pulau.
Contoh: Laut pertengahan Australia, Asia, dengan gugusan Kepulauan
Indonesia, Laut Tengah dengan gugusan pulau-pulau Yunani.

Gambar 29. Laut tengah
3. Laut Pedalaman, yaitu bagian lautan yang hampir seluruhnya dikelilingi oleh
daratan. Contohnya: Laut Baltik, Laut Kaspi, Laut Hitam
HIDROSFER
31


Gambar 30. Laut Hitam

Menurut terjadinya, laut juga dapat dibedakan menjadi tiga golongan sebagai
berikut:
1. Laut transgressi atau laut meluas, yaitu laut yang terjadi karena perubahan
permukaan air laut positif, baik yang disebabkan oleh kenaikan permukaan air
laut itu sendiri atau oleh turunya daratan perlahan-lahan, sehingga sebagian
dari daratan digenangi air. Laut jenis ini pada umumnya terjadi pada akhir
zaman glasial. Contohnya: Laut Utara dan Laut Jawa.
2. Laut insgresi atau laut tanah turun. Laut ini terjadi karena turunnya tanah
sebagai akibat tekanan vertikal (gaya endogen) yang menimbulkan patahan.
Contoh: Laut Karibia, Laut Jepang, Laut Tengah.
3. Laut regressi atau Laut menyempit, yaitu laut yang terjadi pada zaman es
(merupakan kebalikan dari laut transgressi).

Menurut zona atau jalur kedalamannya, laut dapat dibedakan menjadi beberapa
zona sebagai berikut:
1. Zona litoral atau jalur pasang, yaitu bagian cekungan lautan yang terletak di
antara pasang naik dan pasang surut.
2. Zona Neritis, yaitu zona yang terletak di antara garis air surut sampai
kedalaman 200 m. Jadi, zona ini termasuk laut dangkal, yaitu Dangkalan Sunda
dan Dangkalan Sahul.
3. Zona Bathyal, yaitu bagian laut terletak antara kedalaman 200 m dan 1000m.
4. Zona Abysal, yaitu bagian laut yang dalamnya lebih dari 1000 m. Pada zona ini
terdapat palung laut yang kedalamannya melebihi 6000 m. Laut yang termasuk
HIDROSFER
32

Zona Abysal sebagian besar terletak di Indonesia bagian tengah (antara
Dangkalan Sunda dan Dangkalan Sahul). Misalnya: Laut Flores (5.140m), Laut
Banda (7.440m), Laut Sulawesi (5.590m).

Gambar 31. Zona Laut
Dengan melihat gambar di atas garis air surut dipakai sebagai garis dasar untuk
menentukan laut wilayah Indonesia selebar 12 mil laut (1 mil laut = 1.852 m).

A. RELIEF DASAR LAUT
Dengan perkembangan ilmu Geologi Submarin, sudah makin banyak
dikenal relief dasar laut yang sebenarnya, yang mana dahulu banyak orang
menduga relief dasar laut relatif homogen yang terdiri atas dataran dengan relief
yang lemah. Perhatian yang besar ditunjukkan kepada penelitian dangkalan benua
untuk pertambangan minyak bumi.
Kedalaman air laut dapat diketahui dengan menggunakan gelombang sonik
dan gelombang supersonik. Kedalaman laut dapat diukur dengan
memperhitungkan waktu yang dibutuhkan suara untuk menempuh jarak antara
permukaan laut dengan dasar laut dan kecepatan rambat suara di air (1.440 m/s).
Teknik dalam menentukan kedalaman laut adalah dengan merambatkan
gelombang sonik dan supersonik dari permukaaan laut ke dasar laut yang mana
setelah dipantulkan oleh dasar laut, gelombang itu diterima kembali oleh alat
perekam di kapal.
Hasil pengukuran kedalaman dasar laut diantaranya adalah peta relief dasar
laut. Dari peta tersebut dapat diklasifikasikan menjadi berbagai bentuk relief dasar
laut. Bentuk relief dasar laut yang penting adalah sebagai berikut:


HIDROSFER
33

a. Teras Kontinen (Continental Terrace)
Teras kontinen (continental terrace) adalah bagian dasar laut di tepi benua,
berelief lemah dan lebarnya bermacam-macam. Teras kontinen terdiri dari 2
bagian yaitu dangkalan benua, dan lereng benua. Kedalaman dangkalan benua
antara 0-200 meter dengan lebar antara 0-1200 km terhitung dari garis pantai.
Dangkalan yang luas yang terdapat di Indonesia adalah dangkalan Sunda dan
dangkalan Sahul. Sedangkan dangkalan yang luas yang terdapat di luar Indonesia
yaitu dangkalan Korea (Laut Kuning). Sedangkan lereng benua (continental
slope) biasanya terdapat di pinggir continental shelf. Daerah continental slope bisa
mencapai kedalaman 1500 m dengan sudut kemiringan biasanya tidak lebih dari 5
derajat.
Teras kontinen terbentuk melalui gabungan proses erosi marin dan
sedimentasi yang semuanya disebabkan oleh gelombang laut. Terbentuknya
permukaan dasar laut yang relatif datar disebabkan erosi oleh gelombang dasar
laut sampai kedalaman 200 meter.
b. Lereng Kontinen
Lereng kontinen adalah bidang miring yang membatasi dangkalan kontinen.
Kemiringan dari lereng kontinen antara 1
0
35
0
mulai dari tepi dangkalan benua
kea rah laut lepas, mulai dari kedalaman 200 meter sampai 1800 meter. Dari
bukti-bukti yang mendukung, proses terjadinya lereng kontinen adalah sebagai
hasil sedimentasi dan sebagai sesar.

Gambar 32. Lereng kontinental
Bentukan yang terdapat pada dangkalan kontinen dan lereng kontinen
adalah sebagai berikut:
HIDROSFER
34

Saluran dangkalan yang terdiri atas lembah tenggelam, saluarn akibat
pengikisan air pasang, dan palung glacial yang tenggelam.
Lembah tenggelam dan Jurang submarine (submarine-canyons).
Lembah tenggelam adalah lembah sungai yang tergenang air laut
sebagai akibat dari penenggelaman relatif daratan seperti lembah-
lembah sungaipirba di Selat Karimata dan di Laut Jawa.
Jurang submarine adalah lembah yang dalam dan lebar, ada pula yang
bercabang-cabang sebagai hasil proses patahan atau tanah amblas.
c. Relief di Daerah Laut
Relief di daerah laut yang dalam dibagi menjadi dua bagian yaitu:
a. Bentukan negatif yang terdiri dari:
Lubuk laut (basin) adalah depresi luas yang bentuknya membulat
atau lonjong, contohnya lubuk laut di Eropa Barat, laut Sulawesi,
dan yang lainnya.
Palung adalah depresi memanjang dan di kiri kanannya dibatasi
lereng yang curam. Palung dibagi menjadi dua bagian, yaitu trench
jika depresi itu memenjang, sempit dengan lereng yang tidak begitu
curam, dan trough jika depresi itu memanjang lebih lebar dari
trench dan berlereng lebih curam. Contoh palung yang terkenal
diantaranya adalah Palung Jawa, Palung Bartlett, dan yang lainnya.

Gambar 33. Relief di laut
b. Bentukan positif yang terdiri dari:
Cembungan (rise atau swell) adalah bentukan positif dngan ukuran
panjang dan lebar, lebih tinggi dari dasar laut rata-rata disekitarnya.
HIDROSFER
35

Contohnya, sweel Hawaii yang mencembung dengan halus,
panjangnya 3500 km, dan lebarnya 1000 km.
Punggungan submarine adalah bentukan positif yang memanjang,
sempit, berlereng curam, dan bertopografi kasar. Punggungan yang
terkenal adalah Punggungan Tengah Samudera Atlantik yang
memanjang dari P. Iceland sampai ke Tanjung Harapan.
Plato submarine adalah bentukan positif yang mempunyai puncak
relatif datar. Contohnya, Plato Albatros di Smudera Pasifik.
Gunung laut sebenarnya adalah pulau submarine, yaitu tonjolan-
tonjolan yang tumbuh dari dasar laut seperti Pulau Krakatau, dan
pulau-pulau kecil di Teluk Alaska.
B. BENTUK PANTAI
Istilah pantai seringkali dikacaukan dengan istilah pesisir. Yang dimaksud
dengan pesisir adalah lokasi pertemuan daratan dengan lautan, mulai dari batas
permukaan air laut pada waktu pasang surut terendah menuju ke arah darat sampai
batas tertinggi yang mendapat pengaruh gelombang pada waktu badai.

Gambar 34. Pesisir dan Pantai
Pantai adalah daerah yang meliputi pesisir sampai daerah yang lebih jauh
ke arah daratan, tetapi batasnya kurang jelas. Jadi, pesisir merupakan bagian dari
pantai. Pantai mempunyai dua bentuk utama, yaitu pantai curam dan pantai landai.
Pantai curam terdapat di daerah pegunungan yang berbatasan langsung dengan
laut, baik yang sejajar, maupun yang memotong garis pantai.
Bentuk permukaan pantai tidak selalu tetap, tetapi senantiasa mengalami
perubahan, yang disebabkan oleh hal-hal sebagai berikut.
HIDROSFER
36

a. Gelombang, arus, dan pasang surut yang merupakan tenaga pengikis,
pengangkut, dan pengendap material.
b. Sifat bagian daratan yang mendapat pengaruh proses-proses marin,
maksudnya apakah pantai itu landai atau curam, dataran tinggi atau
rendah, batuannya keras atau lunak, dan homogen atau heterogen.
c. Perubahan ketinggian relatif permukaan laut, karena pembekuan atau
pencairan es, dan penaikan atau penurunan bagian litosfer.
d. Sebab-sebab alami lain seperti pertumbuhan terumbu karang, gletser yang
mencapai laut, letusan gunung berapi yang materialnya sampai ke laut dan
pembentukan delta sungai.
e. Pengaruh kegiatan manusia seperti pembuatan pelabuhan, pengeringan
rawa-rawa, pengerukan muara sungai dan pembuatan polder
C. KANDUNGAN AIR LAUT
Salinitas menunjukkan tingkat kandungan garam dalam air laut. Berbagai
garam yang larut dalam laut berasal dari sungai yang membawa larutan garam-
garam itu dari litosfer. Akibatnya air laut mengandung beberapa macam garam.
Kandungan garam-garam tersebut dapat dilihat pada tabel 3.
Tabel 3. Kandungan garam-garaman dalam air laut
Nama Garam-garaman Rumus Kimia Jumlah Garam dalam
Gram/1000 Gram Air
Natrium Clorida
Magnesium Clorida
Natrium Sulfat
Kalsium Klorida
Kalium Klorida
Bahan-bahan Lain
NaCl
MgCl2
Na2SO4
CaCl2
KCl
23
5
4
1
0,7
0,8
Jumlah 34,5

Dari tabel kita dapat melihat salinitas rata-rata atau kandungan garam rata-
rata adalah sedikit kurang dari 35 bagian garam untuk setiap 1000 bagian air laut.
Ini berarti salinitas rata-ratanya adalah 3,5 %. Dari keseluruhan garam yang
HIDROSFER
37

terkandung itu, garam biasa (NaCl) mencapai 80 % dari seluruhnya, disusul oleh
Magnesium. Garam ini memiliki peranan yang sangat penting dalam proses hidup.
Salinitas ditentukan oleh beberapa faktor, diantaranya:
! Pemasukan air tawar. Masuknya air tawar menyebabkan rendahnya
salinitas.
! Penguapan. Penguapan menambah besarnya salinitas. Makin besar
penguapannya makin besar salinitasnya.
! Campuran air permukaan dan air dari bagian dalam yang salinitasnya
berlainan. Begitu juga arus laut mempunyai pengaruh besar terhadap
salinitas.

Gambar 35. Kadar Garam di Daerah Katulistiwa
Lebih Rendah Daripada Daerah Subtropis
Karena curah hujan yang tinggi, salinitas di daerah khatulistiwa (3,5 %)
lebih rendah dibandingkan daerah subtropis (3,7 %).
D. GERAKAN AIR LAUT
Air laut dalam pergerakannya terdapat tiga macam, yaitu ombak
(gelombang), arus, dan pasang surut. Semua gerakan air laut mempengaruhi
perubahan bentuk permukaan pantai. Hal ini disebabkan karena gerakan-gerakan
tersebut merupakan pengikis, pengangkut, dan pengendap material. Adapun ketiga
gerakan tersebut antara lain adalah sebagai berikut:
a. Gelombang Laut
Gelombang laut adalah gerak molekul air laut yang disebabkan oleh
adanya suatu gangguan. Gerakan ini berupa gerakan naik turun dengan sedikit
gerak maju. Gerak ke depan air yang tampak jelas karena gelombang menyapa ke
permukaan laut sebenarnya merupakan suatu ilusi optis. Apa yang sebenarnya
HIDROSFER
38

terjadi adalah bahwa gangguan yang disebabkan oleh angin ditularkan dari satu
tempat ke tempat berikutnya dan bukan gerak air maju ke depan.

Gambar 36. Gelombang laut
Titik tertinggi dari suatu gelombang disebut puncak gelombang, dan titik
yang terendah disebut palung gelombang. Jarak dari satu puncak ke puncak
berikutnya disebut panjang gelombang. Tinggi gelombang air sama dengan jarak
vertikal antara puncak dengan palung. Waktu yang dipakai gelombang untuk
melaju dari puncak ke puncak berikutnya dinamakan periode gelombang.
Gelombang laut kadang-kadang disebut gelombang permukaan dan pada
kedalaman gerak gelombang hanya beberapa persen dari gelombang permukaan
sehingga kapal-kapal selam yang menyelam sedalam 30 m atau lebih, sama sekali
tidak terpengaruh oleh gerak yang terjadi di permukaan.
Gelombang air laut dapat terjadi karena beberapa faktor, yaitu sebagai
berikut.
1. Angin
Angin laut yang bertiup di atas permukaan laut dapat merupakan
pambangkit utama gelombang. Peristiwa ini terjadi pada angin dan air.
Oleh karena itu, apabila pergesekan antara angin dan air itu kencang,
maka terjadilah gelombang besar. Sifat gelombang yang digerakkan
oleh angin ini dipengaruhi oleh :
! Kecepatan angin.
Semakin cepat angin bertiup, semakin besar gelombang yang
terbentuk.
! Waktu angin bertiup.
HIDROSFER
39

Semakin meningkat waktu angin pembangkit gelombang bertiup,
akan semakin meningkat pula tinggi dan panjang gelombang.
! Jarak tanpa rintangan bertiupnya angin
Semakin jauh jarak rintangan angin akan semakin tinggi dan panjang
gelombang yang terbentuk. Gelombang yang berada di perairan
pedalaman seperti di Laut Jawa ataupun di selat-selat lebih kecil
pada gelombang yang ada di perairan yang terbuka seperti di
Samudra Hindia.
2. Gelombang yang terjadi karena gempa laut
Di dasar laut sering terjadi gempa yang disebabkan oleh
diselokasi (perpindahan atau retakan-retakan pada kulit bumi) ataupun
letusan-letusan gunung berapi. Gempa ini sering menimbulkan
gelombang besar yang disebut Tsunami, dan kadang-kadang
mengakibatkan kerusakan hebat. Gelombang yang mendadak ini
mempunyai kecepatan sampai 80 km/jam, dan apabila mencapai daerah
pantai gelombang tersebut ketinggiannya meningkat secara drastis,
membuat kekuatan yang merusak dan menakutkan.

Gambar 37. Gelombang laut akibat gempa
Gerakan air laut yang berupa gelombang ini seakan-akan
merugikan kita. Namun sebenarnya tenaga kinetik (tenaga gerak)
gelombang laut itu, terutama yang disebabkan oleh perbedaan pasang
surut yang tinggi dan dapat dimanfaatkan untuk menggerakkan
generator listrik terapung.
HIDROSFER
40

Gelombang tinggi dengan periode pendek dihasilkan oleh angin
kuat yang dekat. Gelombang tinggi dengan periode panjang dihasilkan
oleh angin sangat kuat yang jauh. Gelombang rendah dengan periode
pendek dihasilkan oleh angin lemah yang dekat dan gelombang rendah
dengan periode panjang dihasilkan oleh angin sedang yang jauh.
Jenis gelombang laut dapat diklasifikasikan menjadi 2, yaitu:
1. Gelombang osilasi, pada gelombang osilasi molekul air bergerak
melingkar. Gelombang ini biasanya terjadi di laut lepas (bagian laut
yang dalam). Ketinggian, panjang, serta kecepatan gelombang ini
bervariasi.

2. Gelombang translasi atau gelombang soliter, gelombang yang massa
airnya bergerak searah dengan arah gerakan gelombang itu tanpa
diimbangi gerakan mundur. Gelombang ini tidak memiliki puncak dan
lembah gelombang. Jika gelombang ini membentuk klif, maka
gelombang itu akan pecah dengan kekuatan tumbukan yang sangat
besar, sehingga pada klif itu akan terbentuk relung, gua pantai atau
gerbang laut. Proses pengikisan juga berlaku pada dasar laut, sehingga
di dapan pantai itu terbentuk dataran luas yang dinamakan abrasi. Bila
gelombang ini sampai di pesisir, air laut akan naik dan dinamakan
swash. Setelah berhenti pada ketinggian tertentu, massa air itu bergerak
kembali ke arah laut dan dinamakan backwash. Swash dan backwash
itu berperan dalam proses sedimentasi di pesisir.








Gambar 38. Penampang Gelombang
"
#
$
%
&
'"(")
*
+",)
HIDROSFER
41

Keterangan:
a. Gelombang Osilasi d. Swash
b. Gelora e. Back Wash
c. Gelombang Translasi f. Arus Dasar
Di lepas pantai, antara kedua jenis gelombang tersebutterjadi pecahan
gelombang yang dinamakan gelora (surf atau breaker). Mulai dari
sinilah gelombang osilasi berubah menjadi gelombang translasi. Gelora
terjadi karena gelombang sampai ke daerah yang lebih dangkal,
sehingga bentuk gelombang tidak simetris lagi. Lereng gelombang
bagian depan menjadi miring dan kemudian tumpah, lalu air mengalir
di atas permukaan laut yang lain, seperti pada gambar di atas.
b. Arus Laut
Arus laut ialah gerakan molekul air laut yang pada umumnya
berarah mendatar (horizontal), namun di beberapa bagian laut terdapat
juga arus vertikal. Berdasarkan faktor penyebabnya arus laut dapat
diklafikasikan menjadi:
1. Arus tetap yaitu arus laut yang terjadi karena angin tetap dan
mempunyai arah yang tetap sepanjang tahun. Angin tetap yang
menyebabkan arus tetap adalah angin pasat (timur laut dan tenggara),
dan angin barat.
2. Arus musiman yaitu arus laut yang terjadi karena tiupan angin musim
(muson) dan berubah arah tiap setengah tahun. Pada bagian utara
Samudera Hindia, yaitu di sepanjang pantai india yang dipengaruhi
angin musim. Terjadinya arus musim barat daya pada bulan Juli dan
arus musim timur laut pada bulan Januari.
3. Arus kompensasi yaitu arus yang terjadi karena perbedaan tinggi
permukaan air laut, seperti arus sungsang di antara arus katulistiwa
utara dan selatan. Karena kedua arus khatulistiwa itu, molekul air
berpindah ke arah barat, sehingga permukaan air di bagian barat
samudera relative lebih tinggi daripada di bagian timur. Sebagai
kompensasinya, mengalirlah arus yang arahnya berlawanan dengan
kedua arus khatulistiwa tersebut. Arus itu dinamakan arus sungsang.
HIDROSFER
42

4. Arus vertikal yaitu arus yang naik atau turun adalah gerakan dua arus
yang berlawanan yang disebabkan karena perbedaan kadar garam. Pada
pangkal arus khatulistiwa terjadi arus vertikal yang naik. Sedangkan,
pada bagian barat samudera, yaitu di tempat permukaan air relatif lebih
tinggi, terjadi arus vertikal yang turun.
Sedangkan, berdasarkan suhunya dapat dibedakan menjadi:
1. Arus panas yaitu arus dengan suhu air yang lebih panas daripada suhu
air laut yang didatangi.
2. Arus dingin yaitu arus yang suh airnya lebih dingin daripada suhu air
laut yang didatanginya.
c. Pasang-Surut Air Laut
Pasang-surut air laut adalah perubahan ketinggian permukaan air
laut yang berlangsung secara periodik dalam periode setengah hari bulan
(satu hari bulan = 24 jam 50 menit). Laut sedang pasang naik jika
permukaannya paling tinggi dibandingkan dengan tinggi rata-rata dan
sedang pasang surut jika permukaannya paling rendah.
Pasang-surut air laut disebabkan oleh tarikan gravitasi antara Bumi
dan dua benda langit yaitu Bulan dan Matahari. Kerak bumi juga
dipengaruhi oleh penarikan ini, tetapi gerakannya demikian kecil. Planet-
planet lain pada tata surya dan bintang-bintang juga menarik bumi serta
ditarik oleh bumi, tetapi benda-benda itu terlalu kecil atau terlalu jauh
untuk mempunyai suatu pengaruh yang terlihat pada perairan laut.
Efek penimbul air pasang dari matahari hanya sekitar 0,46 kali efek
penimbul air pasang dari bulan, meskipun kenyataannya massa matahari
sekitar 28 juta kali lebih besar. Menurut hukum newton mengenai
gravitasi, gaya penarikan yang dimiliki berbagai benda untuk satu sama
lain berbanding langsung dengan hasil kali massanya tetapi berbanding
terbalik dengan kwadrat jarak benda-benda tersebut. Matahari berada
hampir 150 juta km dari bumi, sedangkan bulan sekitar 385.000 km. Jarak
yang lebih kecil antara bulan dan bumi lebih dipengaruhi daripada massa
matahari yang lebih besar. Oleh karena itu, perairan samudera terutama
dipengaruhi oleh tarikan gravitasi bulan.
HIDROSFER
43













Pada Gambar 39 diandaikan bahwa air menutup seluruh permukaan
bumi. Ketika bulan secara langsung berada di atas A, tarikannya akan
menyebabkan air tertimbun ke arah A dan terjadi pasang naik. Sewaktu air
ditarik ke arah A dari daerah-daerah lainnya permukaan air di B dan D akan
turun dan hal ini menyebabkan pasang turun (pasang surut) di tempat-
tempat tersebut.
Pada saat yang sama akan terdapat penimbunan air di sisi lain Bumi
ke arah C. Menurut suatu teori yang dinyatakan secara luas adalah bahwa
tarikan bulan pada litosfer lebih besar daripada tarikan bulan pada air di C,
yang massanya lebih kecil dan lebih jauh. Litosfer ini ditarik ke arah bulan
dengan membiarkan air di C menjadi lebih jauh dari pusat bumi.
Sebagai akibat rotasi Bumi suatu periode sekitar 24 jam 50 menit
diperlukan antara kenaikan bulan yang berturut-turut. Peroide ini disebut
satu hari bulan. Rotasi Bumi inilah yang menyebabkan rangkaian pasang
naik dan pasang turun.
Pada waktu bulan baru dan waktu bulan penuh sekitar dua minggu
terpisah mataharibulanbumi berada dalam satu garis lurus. Kekuatan air
pasang yang dihasilkan oleh matahari memperkuat kekuatan air pasang dari
bulan, terjadi pasang purnama. Ketika bulan berada pada seperempat
pertama atau seperempat terakhir, posisi bulan (dengan menarik garis lurus
Gambar 39. Tarikan Gravitasi Antara Bulan dan Samudera Serta
Litosfer Bumi Mengakibatkan Air Pasang
"#$% "#&'(
!
#
"
)
HIDROSFER
44

dari bulan ke bumi) kira-kira membentuk sudut siku-siku terhadap garis
lurus dari bumi ke matahari. Air pasang yang dihasilkan oleh matahari
kemudian sebagian menghapus air pasang yang dihaslkan oleh bulan, hal ini
menimbulkan pasang perbani.













Gambar 40. Periode bulan dengan hubungannya pasang surut.
"#$
%&'
'&'
'&"
%&%
(
" )
%
*
HIDROSFER

45

BAB III
PENUTUP

3.1 Kesimpulan
Dari latar belakang dan pembahasan yang telah dipaparkan di atas, maka dapat ditarik
simpulan sebagai berikut:
1. Hidrosfer atau lapisan air merupakan fisik bumi yang berguna bagi kehidupan
manusia, hewan, dan tumbuhan yang secara khusus dipelajari pada ilmu yang
disebut dengan hidrologi.
2. Siklus hidrologi merupakan siklus air di mana air mengalami berbagai proses
sebelum kembali ke keadaan semula.
3. Siklus hidrologi dapat dibagi menjadi 3, yaitu:
! Siklus kecil, yaitu air laut menguap, mengalami kondensasi menjadi awan
dan hujan, lalu jatuh ke laut.
! Siklus sedang, yaitu air laut menguap, mengalami kondensasi dan dibawa
angin, membentuk awan di atas daratan, jatuh sebagai hujan, lalu masuk ke
tanah, selokan, sungai dan ke laut lagi.
! Siklus besar, yaitu air laut menguap menjadi gas kemudian membentuk
kristal-kristal es di atas laut melalui proses sublimasi, dibawa angin ke
daratan (pegunungan tinggi), jatuh sebagai salju, membentuk gletser (lapisan
es yang mencair), masuk ke sungai, lalu kembali ke laut.
4. Hidrosfer dalam kajiannya nencakup perairan darat dan perairan laut.
5. Perairan darat meliputi air tanah, sungai, danau, kolam, rawa, dan waduk.
6. Perairan laut membahas tentang kegaraman air laut (salinitas), gelombang laut,
arus laut, dan pasang naik-pasang surut.
3.2. Saran
Bagi para pembaca hendaknya dalam mempelajari materi hidrosfer bisa mengaitkan
fenomena yang terjadi di lingkungan kita dengan materi yang kita dapat melalui buku atau
pengajar agar pengetahuan kita bisa berkembang.

HIDROSFER
DAFTAR PUSTAKA
Pujani, N. M. 2004. Struktur bumi. Buku ajar. Fakultas pendidikan MIPA. Institut Keguruan
dan Ilmu Pendidikan Negeri Singaraja.
Tanudidjaja, M. M. 1996. Ilmu Pengetahuan Bumi Dan Antariksa. Departemen Pendidikan
dan Kebudayaan.
Tjasyono, B. 2003. Geosains. Bandung: ITB.

Anda mungkin juga menyukai