Anda di halaman 1dari 20

1

BALQIS TODA/1102011060
L.I.1 Memahami dan Menjelaskan Masalah Gizi Pada Anak
MASALAH GIZI PADA ANAK
Masalah gizi adalah gangguan pada beberapa segi kesejahteraan perorangan dan atau masyarakat yang disebabkan oleh tidak
terpenuhinya kebutuhan akan zat gizi yang diperoleh dari makanan. Zat gizi merupakan zat kimia yang terdapat dalam bahan
makanan yang diperlukan manusia untuk memelihara dan meningkatkan kesehatan tubuhnya dimana zat gizi dapat
dikelompokan menjadi zat gizi
makro (karbohidrat, lemak dan protein) (Soekirman, 2002). Masalah gizi dapat dibedakan menjadi dua yaitu masalah gizi makro
dan masalah gizi mikro. Masalah gizi makro yang ada di Indonesai adalah Kurang Energi Protein sedangkan masalah gizi mikro
adalah kurang Vitamin A, Kurang Zat besi dan Kurang zat yodium (Soekirman, 2002).
KLASIFIKASI STATUS GIZI
1. Malnutrisi jenis bahan yang kurang
Kelompok KEP yaitu kurang energi protein. Ada 3 jenis: kwasiorkor, marasmik, dan marasmik kwashiorkor
2. Kelompok kekurangan vitamin/mineral
a. Anemi kekurangan zat besi
b. Defisiensi vitamin A
c. Penyakit gondok endemic
d. Penyakit defisiensi lainnya seperti beri-beri, pellagra, scurvy, rickets
3. Menurut derajat tingkatan keadaan gizi
a. Gizi lebih
b. Gizi baik
c. Gizi kurang
d. Gizi buruk
4. Menurut sebab terjadinya malnutrisi
a. Primary malnutrition
Terjadi karena makanan yg dimakan (intake) tidak cukup / berlebihan
b. Secondary malnutrition
Terjadi meskipun makanan yg dimakan sudah cukup untuk kebutuhannya karena sebab lain, misal karena kebutuhan
meningkat, gangguan absorbs

MASALAH GIZI MAKRO
A. Kurang Energi Protein (KEP)/Protein Energi Malnutrition (PEM)/Protein Calori Malnutrition (PCM)
1. Adalah penyakit gizi akibat defisiensi energi dalam jangka waktu yang cukup lama.
2. Prevalensi tinggi terjadi pada balita, ibu hamil (bumil) dan ibu menyusui/meneteki (buteki)
3. Pada derajat ringan pertumbuhan kurang, tetapi kelainan biokimiawi dan gejala klinis (marginal malnutrition)
4. Derajat berat adalah tipe kwashiorkor dan tipe marasmus atau tiep marasmik-kwashiorkor
5. Terdapat gangguan pertumbuhan, muncul gejala klinis dan kelainan biokimiawi yang khas
Penyebab
Masukan makanan atau kuantitas dan kualitas rendah
Gangguan sistem pencernaan atau penyerapan makanan
Pengetahuan yang kurang tentang gizi
Konsep klasik diet cukup energi tetapi kurang pprotein menyebabkan kwashiorkor
Diet kurang energi walaupun zat gizi esensial seimbang menyebabkan marasmus
Kwashiorkor terjadi pada hygiene yang buruk , yang terjadi pada penduduk desa yang mempunyai kebiasaan memberikan
makanan tambahan tepung dan tidak cukup mendapatkan ASI
Terjadi karena kemiskinan sehingga timul malnutrisi dan infeksi
Gejala klinis KEP ringan
Pertumbuhan mengurang atau berhenti
BB berkurang, terhenti bahkan turun
Ukuran lingkar lengan menurun
Maturasi tulang terlambat
Rasio berat terhadap tinggi normal atau menurun
Tebal lipat kulit normal atau menurun
Aktivitas dan perhatian kurang
Kelainan kulit dan rambut jarang ditemukan
Klasifikasi
Marasmus
Kwashiorkor
Marasmus-kwashiorkor
2

1) Marasmus
adalah kekurangan energi pada makanan yang menyebabkan cadangan protein tubuh terpakai sehingga anak menjadi kurus dan
emosional. Sering terjadi pada bayi yang tidak cukup mendapatkan ASI serta tidak diberi makanan penggantinya, atau terjadi
pada bayi yang sering diare.
Penyebab
c. Ketidakseimbangan konsumsi zat gizi atau kalori didalam makanan
d. Kebiasaan makanan yang tidak layak
e. Penyakit-penyakit infeksi saluran pencernaan
Tanda dan gejala
a. Wajah seperti orang tua, terlihat sangat kurus
b. Mata besar dan dalam, sinar mata sayu
c. Mental cengeng
d. Feces lunak atau diare
e. Rambut hitam, tidak mudah dicabut
f. Jaringan lemak sedikit atau bahkan tidak ada, lemak subkutan menghilang hingga turgor kulit menghilang
g. Kulit keriput, dingin, kering dan mengendur, baggy paint
h. Torax atau sela iga cekung
i. Atrofi otot, tulang terlihat jelas (muscle wasting)
j. Tekanan darah lebih rendah dari usia sebayanya
k. Frekuensi nafas berkurang
l. Kadar Hb berkurang
m. Disertai tanda-tanda kekurangan vitamin

2) Kwashiorkor
adalah penyakit yang disebabkan oleh kekurangan protein dan sering timbul pada usia 1-3 tahun karena pada usia ini kebutuhan
protein tinggi.
Meski penyebab utama kwashiorkor adalah kekurangan protein, tetapi karena bahan makanan yang dikonsumsi kurang
menggandung nutrient lain serta konsumsi daerah setempat yang berlainan, akan terdapat perbedaan gambaran kwashiorkor di
berbagai negara.
Penyebab
Kekurangan protein dalam makanan
Gangguan penyerapan protein
Kehilangan protein secara tidak normal
Infeksi kronis
Perdarahan hebat
Tanda dan gejala
1. Wajah seperti bulan moon face
2. Pertumbuhan terganggu
3. Sinar mata sayu
4. Lemas-lethargi
5. Perubahan mental (sering menangis, pada stadium
lanjut menjadi apatis)
6. Rambut merah, jarang, mudah dicabut
7. Jaringan lemak masih ada
8. Perubahan warna kulit (terdapat titik merah kemudian
menghitam, kulit tidak keriput)
9. Iga normal-tertutup oedema
10. Atrofi otot
11. Anoreksia
12. Diare
13. Pembesaran hati (perlemakan hepar)
14. Anemia
15. Sering terjadi acites
16. Oedema (edema kedua tungkai, pitting edema)

3) Kwashiorkor-marasmik memperlihatkan gejala campuran antara marasmus dan kwashiorkor
a) Penatalaksanaan Secara umum
1. Ruangan cukup hangat dan bersih
2. Posisi tubuh diubah-ubah (karena mudah terjadi dekubitus)
3. Pencegahan infeksi nosokomial
4. Penimbangan BB tiap hari
b) Penatalaksanaan Secara khusus
Resusitasi dan terapi komplikasi
Koreksi dehidrasi dan asidosis (pemberian cairan oralit atau infus)
Mencegah atau mengobati defisiensi vitamin A
Terapi Ab bila ada tanda infeksi atau sakit berat
Dietetik
Prinsip TKTP dan suplemen vitamin mineral
Bentuk makanan disesuaikan secara individual (cair, lunak, biasa, makanan dengan porsi sedikit-sedikit tapi sering)
3
Pemantauan masukan makanan tiap hari (perubahan diet biasanya dilakukan setiap saat)
Persiapan pulang
Gejala klinik tidak ada
Nafsu makan baik
Pembekalan terhadap orang tua tentang gizi, perilaku hidup dan lingkungan yang sehat
Komplikasi
Infeksi saluran pencernaan
Defisiensi vitamin
Depresi mental

Program pemerintah penanggulangan KEP
Diprioritaskan pada daerah-daerah miskin dengan sasaran utama :
Ibu hamil
Bayi
Balita
Anak-anak sekolah dasar
Keterpaduan kegiatan :
Penyuluhan gizi
Peningkatan pendapatan
Peningkatan pelayanan kesehatan
Keluarga berencana
Peningkatan peran serta masyarakat
Kegiatan :
Peningkatan upaya pemantauan tumbuh kembang anak melalui keluarga, dasawisma dan posyandu
Penanganan secara khusus KEP berat
Rujukan pelayanan gizi di posyandu
Peningkatan gerakan sadar pangan dan gizi
ASI eksklusif

MASALAH ZAT GIZI MIKRO
1) ANEMIA
Anemia defisiensi adalah anemia yang disebabkan oleh kekurangan satu atau beberapa bahan yang diperlukan untuk pematangan
eritrosit.
Keadaan dimana kadar hemoglobin (Hb), hematokrit (Ht) dan eritrosit lebih rendah dari nilai normal, akibat defisiensi salah satu
atau beberapa unsur makanan yang esensial yang dapat mempengaruhi timbulnya defisiensi tersebut.
Macam-macam anemia
Anemia defisiensi besi adalah anemia karena kekurangan zat besi atau sintesa hemoglobin
Anemia megaloblastik adalah terjadinya penurunan produksi sel darah merah yang matang, bisa diakibatkan defisiensi
vitamin B12
Anemia aplastik adalah anemia yang berat, leukopenia dan trombositopenia, hipoplastik atau aplastik
ANEMIA DEFISIENSI BESI
Prevalensi tertinggi terjadi didaerah miskin, gizi buruk dan penderita infeksi
Hasil studi menunjukan bahwa anemia pada masa bayi mungkin menjadi salah satu penyebab terjadinya disfungsi otak
permanen
Defisiensi zat besi menurunkan jumlah oksigen untuk jaringan, otot kerangka, menurunnya kemampuan berfikir serta
perubahan tingkah laku.
Ciri
Akan memperlihatkan respon yang baik dengan pemberian preparat besi
Kadar Hb meningkat 29% setiap 3 minggu
Tanda dan gejala
Pucat (konjungtiva, telapak tangan, palpebra)
Lemah
Lesu
Hb rendah
Sering berdebar
Papil lidah atrofi
Takikardi
Sakit kepala
Jantung membesar
Dampak
Produktivitas rendah
SDM untuk generasi berikutnya rendah
Penyebab
Sebab langsung
Kurang asupan makanan yang mengandung zat besi
Mengkonsumsi makanan penghambat penyerapan zat besi
Infeksi penyakit
Sebab tidak langsung
Distribusi makanan yang tidak merata ke seluruh
daerah
Sebab mendasar
Pendidikan wanita rendah
4
Ekonomi rendah Lokasi ggeografis (daerah endemis malaria)
Kelompok sasaran prioritas
Ibu hamil dan menyusui
Balita
Anak usia sekolah
Tenaga kerja wanita
Wanita usia subur
Penanganan
Pemberian Komunikasi,informasi dan edukasi (KIE) serta suplemen tambahan pada ibu hamil maupun menyusui
Pembekalan KIE kepada kader dan orang tua serta pemberian suplemen dalam bentuk multivitamin kepada balita
Pembekalan KIE kepada guru dan kepala sekolah agar lebih memperhatikan keadaan anak usia sekolah serta pemeberian
suplemen tambahan kepada anak sekolah
Pembekalan KIE pada perusahaan dan tenaga kerja serta pemberian suplemen kepada tenaga kerja wanita
Pemberian KIE dan suplemen dalam bentuk pil KB kepada wanita usia subur (WUS)

2) DEFISIENSI VITAMIN A
Prevalensi tertinggi terjadi pada balita
Penyebab
Intake makanan yang mengandung vitamin A kurang atau rendah
Rendahnya konsumsi vitamin A dan pro vitamin A pada bumil sampai melahirkan akan memberikan kadar vitamin A yang
rendah pada ASI
MP-ASI yang kurang mencukupi kebutuhan vitamin A
Gangguan absorbsi vitamin A atau pro vitamin A (penyakit pankreas, diare kronik, KEP dll)
Gangguan konversi pro vitamin A menjadi vitamin A pada gangguan fungsi kelenjar tiroid
Kerusakan hati (kwashiorkor, hepatitis kronik)
Sifat
Mudah teroksidasi
Mudah rusak oleh sinar ultraviolet
Larut dalam lemak
Tanda dan gejala
Rabun senja-kelainan mata, xerosis konjungtiva, bercak bitot, xerosis kornea
Kadar vitamin A dalam plasma <20ug/dl
Tanda hipervitaminosis
Akut
Mual, muntah
Fontanela meningkat
Kronis
Anoreksia
Kurus
Cengeng
Pembengkakan tulang
Upaya pemerintah
Penyuluhan agar meningkatkan konsumsi vitamin A dan pro vitamin A
Fortifikasi (susu, MSG, tepung terigu, mie instan)
Distribusi kapsul vitamin A dosis tinggi pada balita 1-5 tahun (200.000 IU pada bulan februari dan agustus), ibu nifas
(200.000 IU), anak usia 6-12 bulan (100.000 IU)
Kejadian tertentu, ditemukan buta senja, bercak bitot. Dosis saat ditemukan (200.000 IU), hari berikutnya (200.000 IU) dan
4 minggu berikutnya (200.000 IU)
Bila ditemukan xeroptalmia. Dosis saat ditemukan :jika usia >12 bulan 200.000 IU, usia 6-12 bulan 100.000 IU, usia < 6
bulan 50.000 IU, dosis pada hari berikutnya diberikan sesuai usia demikian pula pada 1-4 minggu kemudian dosis yang
diberikan juga sesuai usia
Pasien campak, balita (200.000 IU), bayi (100.000 IU)
***NB
1. Vitamin A merupakan nutrient esensial, yang hanya dapat dipenuhi dari luar tubuh, dimana jika asupannya berlebihan bisa
menyebabkan keracunan karena tidak larut dalam air
2. Gangguan asupan vitamin A bisa menyebabkan morbili, diare yang bisa berujung pada morbiditas dan mortalitas, dan
pneumonia

3) GANGGUAN AKIBAT KEKURANGAN YODIUM (GAKY)
Adalah sekumpulan gejala yang dapat ditimbulkan karena tubuh menderita kekurangan yodium secara terus menerus dalam
waktu yang lama.
Merupakna masalah dunia
Terjadi pada kawasan pegunungan dan perbukitan yang tanahnya tidak cukup mengandung yodium
5
Defisiensi yang berlangsung lama akan mengganggu fungsi kelenjar tiroid yang secara perlahan menyebabkan pembesaran
kelenjar gondok
Dampak
Pembesaran kelenjar gondok
Hipotiroid
Kretinisme
Kegagalan reproduksi
Kematian
Defisiensi pada janin
Dampak dari kekurangan yodium pada ibu
Meningkatkan insiden lahir mati, aborsi, cacat lahir
Terjadi kretinisme endemis
Jenis syaraf (kemunduran mental, bisu-tuli, diplegia spatik)
Miksedema (memperlihatkan gejala hipotiroid dan dwarfisme)
Defisiensi pada BBL
Penting untuk perkembangan otak yang normal
Terjadi penurunan kognitif dan kinerja motorik pada anak usia 10-12 tahun pada mereka yang dilahirkan dari wanita yang
mengalami defisiensi yodium
Defisiensi pada anak
Puncak kejadian pada masa remaja
Prevalensi wanita lebih tinggi dari laki-laki
Terjadi gangguan kinerja belajar dan nilai kecerdasan
Klasifikasi tingkat pembesaran kelenjar menurut WHO (1990)
Tingkat 0 : tidak ada pembesaran kelenjar
Tingkat IA : kelenjar gondok membesar 2-4x ukuran normal, hanya dapat diketahui dengan palpasi, pembesaran tidak
terlihat pada posisi tengadah maksimal
Tingkat IB : hanya terlihat pada posisi tengadah maksimal
Tingkat II : terlihat pada posisi kepala normal dan dapat dilihat dari jarak 5 meter
Tingkat III : terlihat nyata dari jarak jauh
Sasaran
Ibu hamil
WUS
Dosis dan kelompok sasaran pemberian kapsul yodium
Bayi < 1tahun : 100 mg
Balita 1-5 tahun : 200 mg
Wanita 6-35 tahun : 400 mg
Ibu hamil (bumil) : 200 mg
Ibu meneteki (buteki) : 200 mg
Pria 6-20 tahun : 400 mg
GAKY tidak berhubungan dengan tingkat sosek melainkan dengan geografis

Spektrum gangguan akibat kekurangan yodium
Fetus : abortus, lahir mati, kematian perinatal, kematian bayi, kretinisme nervosa (bisu tuli, defisiensi mental, mata juling),
cacat bawaan, kretinisme miksedema, kerusakan psikomotor
Neonatus : gangguan psikomotor, hipotiroid neonatal, gondok neonatus
Anak dan remaja : gondok, hipotiroid juvenile, gangguan fungsi mental (IQ rendah), gangguan perkembangan
Dewasa : gondok, hipotiroid, gangguan fungsi mental, hipertiroid diimbas oleh yodium
Sumber makanan beryodium yaitu makanan dari laut seperti ikan, rumput laut dan sea food. Sedangkan penghambat
penyerapan yodium (goitrogenik) seperti kol, sawi, ubi kayu, ubi jalar, rebung, buncis, makanan yang panas, pedas dan
rempah-rempah.
Pencegahan/penanggulangan
Fortifikasi : garam
Suplementasi : tablet, injeksi lipiodol, kapsul minyak beryodium

Dalam rangka menurunkan angka kematian Anak akibat gizi buruk,sangat diperlukan keterlibatan Pemerintah Daerah secara
langsung, serta melibatkan partisipasi masyarakat terutama tokoh masyarakat, untuk mengelola penanganan anak gizi buruk baik,
sehingga diharapkan semua kasus gizi buruk dapat ditangani dengan baik. Penanganan anak gizi buruk dapat dilakukan secara
rawat jalan maupun rawat inap. Penanganan dengan rawat inap hanya dilakukan di Puskesmas. Sedangkan penanganan anak gizi
buruk dengan rawat jalan, merupakan pelayanan yang diberikan dan dilakukan di fasilitas kesehatan lain seperti, Puskesmas
Pembantu ataupun Poskesdes, dan lebih membutuhkan partisipasi masyarakat
6

7

Keterangan :
Alur pelayanan Anak Gizi Buruk memperlihatkan suatu sistim yang saling terkait, dimana penanganan Anak Gizi Buruk
melibatkan keluarga, masyarakat dan lintas sektor serta pelayanan kesehatan

Keluarga :
Seluruh keluarga bertanggung jawab untuk mewujudkan keluarga sadar gizi

Masyarakat dan lintas sektor :
Semua anak balita diharapkan rutin datang dan mengikuti kegiatan posyandu serta diberikan KMS (Kartu Menuju Sehat). Anak
perlu dirujuk ke puskesmas bila ditemukan :
8
Arah garis pertumbuhan anak pada KMS adalah T (berat badan tidak naik atau naik tetapi tidak sesuaidengan garis
baku pada KMS selama 2 kalipenimbangan berturut- turut )
Bawah Garis Merah (BGM)
Anak sakit
Bila menderita gizi kurang, anak dapat diberikan PMT dan konseling di PGBM.

Pelayanan kesehatan :
Bila ditemukan anak menderita gizi buruk, anak perlu mendapat perawatan di Puskesmas, Pusat Pemulihan Gizi (TFC) atau
Rumah Sakit dan anak dirawat sesuai dengan tatalaksana anak gizi buruk, setelah perawatan dan anak dinyatakan sembuh, anak
dikembalikan ke keluarga dan disarankan untuk kontrol secara teratur ke Puskesmas dan bila anak pulang dari perawatan dengan
kondisi gizi kurang disarankan ke CFC dan diberikan PMT serta konseling.

KELEBIHAN GIZI ATAU OBESITAS
adalah penyakit gizi yang disebabkan kelebihan kalori dan ditandai dengan akumulasi jaringan lemak secara berlebihan
diseluruh tubuh.
Merupakan keadaan patologis dengan terdapatnya penimbunan lemak yang berlebihan dari yang diperlukan untuk fungsi
tubuh
Gizi lebih (over weight) dimana berat badan melebihi berat badan rata-rata, namun tidak selalu identik dengan obesitas
Terdapat 2 golongan obesitas
a) Regulatory obesity, yaitu gangguan primer pada pusat pengatur masukan makanan
b) Obesitas metabolik, yaitu kelainan metabolisme lemak dan karbohidrat
Resiko/dampak obesitas
Gangguan respon imunitas seluler
Penurunan aktivitas bakterisida
Kadar besi dan seng rendah
Penatalaksanaan
1) Menurunkan BB sangat drastis dapat menghentikan pertumbuhannya. Pada obesitas sedang, adakalanya penderita tidak
memakan terlalu banyak, namun aktifitasnya kurang, sehingga latihan fisik yang intensif menjadi pilihan utama
2) Pada obesitas berat selain latihan fisik juga memerlukan terapi diet. Jumalh energi dikurangi, dan tubuh mengambil
kekurangan dari jaringan lemak tanpa mengurangi pertumbuhan, dimana diet harus tetap mengandung zat gizi esensial.
3) Kurangi asupan energi, akan tetapi vitamin dan nutrisi lain harus cukup, yaitu dengan mengubah perilaku makan
4) Mengatasi gangguan psikologis
5) Meningkatkan aktivitas fisik
6) Membatasi pemakaian obat-obatan yang untuk mengurangi nafsu makan
7) Bila terdapat komplikasi, yaitu sesak nafas atau sampai tidak dapat berjalan, rujuk ke rumah sakit
8) Konsultasi (psikologi anak atau bagian endokrin)

DEFINISI OPERASIONAL STATUS GIZI
Sebenarnya untuk mendefinisikan operasional status gizi ini dapat dilakukan di klinik kesehatan swasta maupun pemerintah yang
menyediakan pengukuran status gizi, namun demikian yang perlu diketahui masyarakat adalah pengertian dan pemahaman dari
status gizi anak, selanjutnya ketika mengunjungi klinik gizi hasilnya dapat segera diketahui termasuk upaya-upaya
mempertahankan status gizi yang baik.
STATUS GIZI ANAK
Status Gizi anak umur 6-18 tahun dikelompokan menjadi tiga kelompok umur yaitu 6-12 tahun, 13-15 tahun dan 16-18 tahun.
Indikator status gizi yang digunakan untuk kelompok umur ini didasarkan pada pengukurran antropometri berat badan (BB) dan
tinggi badan (TB) yang disajikan dalam bentuk tinggi badan menurut umur (TB/U) dan Indeks Massa Tubuh menurut umur
(IMT/U). Indeks massa tubuh anak dihitung berdasarkan rumus berikut: Dengan menggunakan baku antropometri anak 5-19
tahun WHO 2007 dihitung nilai Z_score TB/U dan IMT/U masing-masing anak.
INDIKATOR PENILAIAN STATUS GIZI
Penilaian status gizi secara langsung.
Penilaian status gizi secara langsung dapat dibagi menjadi empat penilaian yaitu: antropometri, klinis, biokimia, dan biofisik.
1. Antropometri
Secara umum antropometri artinya ukuran tubuh manusia. Ditinjau dari sudut pandang gizi, maka antropometri gizi berhubungan
dengan berbagai macam pengukuran dimensi tubuh dan komposisi tubuh dari berbagai tingkat umur dan tingkat gizi.
Antropometri secara umum digunakan untuk melihat ketidakseimbangan asupan protein dan energi. Ketidakseimbangan ini
terlihat pada pola pertumbuhan fisik dan proporsi jaringan tubuh seperti lemak, otot dan jumlah air dalam tubuh.
Dalam pemakaian untuk penilaian status gizi, antropomteri disajikan dalam bentuk indeks yang dikaitkan dengan variabel lain.
Variabel tersebut adalah sebagai berikut :
a. Umur
9
Umur sangat memegang peranan dalam penentuan status gizi, kesalahan penentuan akan menyebabkan interpretasi
status gizi yang salah. Hasil penimbangan berat badan maupun tinggi badan yang akurat, menjadi tidak berarti bila tidak disertai
dengan penentuan umur yang tepat. Kesalahan yang sering muncul adalah adanya kecenderunagn untuk memilih angka yang
mudah seperti 1 tahun; 1,5 tahun; 2 tahun. Oleh sebab itu penentuan umur anak perlu dihitung dengan cermat. Ketentuannya
adalah 1 tahun adalah 12 bulan, 1 bulan adalah 30 hari. Jadi perhitungan umur adalah dalam bulan penuh, artinya sisa umur
dalam hari tidak diperhitungkan ( Depkes, 2004).
b. Berat Badan
Berat badan merupakan salah satu ukuran yang memberikan gambaran massa jaringan, termasuk cairan tubuh. Berat
badan sangat peka terhadap perubahan yang mendadak baik karena penyakit infeksi maupun konsumsi makanan yang menurun.
Berat badan ini dinyatakan dalam bentuk indeks BB/U (Berat Badan menurut Umur) atau melakukan penilaian dengam melihat
perubahan berat badan pada saat pengukuran dilakukan, yang dalam penggunaannya memberikan gambaran keadaan kini. Berat
badan paling banyak digunakan karena hanya memerlukan satu pengukuran, hanya saja tergantung pada ketetapan umur, tetapi
kurang dapat menggambarkan kecenderungan perubahan situasi gizi dari waktu ke waktu (Djumadias Abunain, 1990).
c. Tinggi Badan
Tinggi badan memberikan gambaran fungsi pertumbuhan yang dilihat dari keadaan kurus kering dan kecil pendek.
Tinggi badan sangat baik untuk melihat keadaan gizi masa lalu terutama yang berkaitan dengan keadaan berat badan lahir
rendah dan kurang gizi pada masa balita. Tinggi badan dinyatakan dalam bentuk Indeks TB/U ( tinggi badan menurut umur), atau
juga indeks BB/TB ( Berat Badan menurut Tinggi Badan) jarang dilakukan karena perubahan tinggi badan yang lambat dan
biasanya hanya dilakukan setahun sekali. Keadaan indeks ini pada umumnya memberikan gambaran keadaan lingkungan yang
tidak baik, kemiskinan dan akibat tidak sehat yang menahun ( Depkes RI, 2004).
Berat badan dan tinggi badan adalah salah satu parameter penting untuk menentukan status kesehatan manusia, khususnya yang
berhubungan dengan status gizi. Penggunaan Indeks BB/U, TB/U dan BB/TB merupakan indikator status gizi untuk melihat
adanya gangguan fungsi pertumbuhan dan komposisi tubuh (M.Khumaidi, 1994).
Penggunaan berat badan dan tinggi badan akan lebih jelas dan sensitive/peka dalam menunjukkan keadaan gizi kurang bila
dibandingkan dengan penggunaan BB/U. Dinyatakan dalam BB/TB, menurut standar WHO bila prevalensi kurus/wasting < -
2SD diatas 10 % menunjukan suatu daerah tersebut mempunyai masalah gizi yang sangat serius dan berhubungan langsung
dengan angka kesakitan.



Tabel 1 Penilaian Status Gizi berdasarkan Indeks BB/U,TB/U, BB/TB Standart Baku Antropometeri WHO-NCHS
10

No
Indeks yang dipakai
Batas Pengelompokan Sebutan Status Gizi
1 BB/U < -3 SD Gizi buruk
- 3 s/d <-2 SD Gizi kurang
- 2 s/d +2 SD Gizi baik
> +2 SD Gizi lebih
2 TB/U < -3 SD Sangat Pendek
- 3 s/d <-2 SD Pendek
- 2 s/d +2 SD Normal
> +2 SD Tinggi
3 BB/TB < -3 SD Sangat Kurus
- 3 s/d <-2 SD Kurus
- 2 s/d +2 SD Normal
> +2 SD Gemuk
Sumber : Depkes RI 2004.

Data baku WHO-NCHS indeks BB/U, TB/U dan BB/TB disajikan dalan dua versi yakni persentil (persentile) dan skor
simpang baku (standar deviation score = z). Menurut Waterlow,et,al, gizi anak-anak dinegara-negara yang populasinya relative
baik (well-nourished), sebaiknya digunakan presentil, sedangkan dinegara untuk anak-anak yang populasinya relative kurang
(under nourished) lebih baik menggunakan skor simpang baku (SSB) sebagai persen terhadap median baku rujukan ( Djumadias
Abunaim,1990).

Tabel 2. Interpretasi Status Gizi Berdasarkan Tiga Indeks Antropometri (BB/U,TB/U, BB/TB Standart Baku
Antropometeri WHO-NCHS)

No
Indeks yang digunakan
Interpretasi
BB/U TB/U BB/TB

1 Rendah Rendah Normal Normal, dulu kurang gizi
Rendah Tinggi Rendah Sekarang kurang ++
Rendah Normal Rendah Sekarang kurang +
2 Normal Normal Normal Normal
Normal Tinggi Rendah Sekarang kurang
Normal Rendah Tinggi Sekarang lebih, dulu kurang
3 Tinggi Tinggi Normal Tinggi, normal
Tinggi Rendah Tinggi Obese
Tinggi Normal Tinggi Sekarang lebih, belum obese
Keterangan : untuk ketiga indeks ( BB/U,TB/U, BB/TB) :
Rendah : < -2 SD Standar Baku Antropometri WHO-NCHS
Normal : -2 s/d +2 SD Standar Baku Antropometri WHO-NCHS
Tinggi : > + 2 SD Standar Baku Antropometri WHO-NCHS

Sumber : Depkes RI 2004.

Pengukuran Skor Simpang Baku (Z-score) dapat diperoleh dengan mengurangi Nilai Induvidual Subjek (NIS) dengan
Nilai Median Baku Rujukan (NMBR) pada umur yang bersangkutan, hasilnya dibagi dengan Nilai Simpang Baku Rujukan
(NSBR). Atau dengan menggunakan rumus :




Status gizi berdasarkan rujukan WHO-NCHS dan kesepakatan Cipanas 2000 oleh para pakar Gizi dikategorikan seperti
diperlihatkan pada tabel 1 diatas serta di interpretasikan berdasarkan gabungan tiga indeks antropometri seperti yang terlihat
pada tabel 2.
2. Klinis
Z-score = (NIS-NMBR) / NSBR
11
Pemeriksaan klinis adalah metode yang sangat penting untuk menilai status gizi masyarakat. Metode ini didasarkan atas
perubahan-perubahan yang terjadi yang dihubungkan dengan ketidakcukupan zat gizi. Hal ini dapat dilihat pada jaringan epitel
(superficial epithelial tissues) seperti kulit, mata, rambut dan mukosa oral atau pada organ-organ yang dekat dengan permukaan
tubuh seperti kelenjar tiroid. Penggunaan metode ini umumnya untuk survei klinis secara cepat (rapid clinical surveys). Survei ini
dirancang untuk mendeteksi secara cepat tanda-tanda klinis umum dari kekurangan salah satu atau lebih zat gizi. Disamping itu
digunakan untuk mengetahui tingkat status gizi seseorang dengan melakukan pemeriksaan fisik yaitu tanda (sign) dan gejala
(symptom) atau riwayat penyakit.
3. Blokimia
Penilaian status gizi dengan biokimia adalah pemeriksaan spesimen yang diuji secara laboratoris yang dilakukan pada
berbagai macam jaringan tubuh. Jaringan tubuh yang digunakan antara lain: darah, urine, tinja dan juga beberapa jaringan
tubuh seperti hati dan otot. Metode ini digunakan untuk suatu peringatan bahwa kemungkinan akan terjadi keadaan
malnutrisi yang lebih parah lagi, Banyak gejala klinis yang kurang spesifik, maka penentuan kimia faali dapat lebih banyak
menolong untuk menentukan kekurangan gizi yang spesifik.
4. Biofisik
Penentuan status gizi secara biofisik adalah metode penentuan status gizi dengan melihat kemampuan fungsi (khususnya
jaringan) dan melihat perubahan struktur dari jaringan. Umumnya dapat digunakan dalam situasi tertentu seperti kejadian
buta senja epidemik (epidemic of night blindnes), Cara yang digunakan adalah tes adaptasi gelap.

Penilaian status gizi secara tidak langsung.
1. Survei Konsumsi Makanan
Survei konsumsi makanan adalah metode penentuan status gizi secara tidak langsung dengan melihat jumlah dan jenis zat
gizi yang dikonsumsi. Pengumpulan data konsumsi makanan dapat memberikan gambaran tentang konsumsi berbagai zat
gizi pada masyarakat, keluarga dan individu. Survei ini dapat mengidentifikasikan kelebihan dan kekurangan zat gizi.
2. Statistik Vital
Pengukuran status gizi dengan statistik vital adalah dengan menganalisis data beberpa statistik kesehatan seperti angka
kematian berdasarkan umur, angka kesakitan dan kematian akibat penyebab tertentu dan data lainnya yang berhubungan
dengan gizi. Penggunaannya dipertimbangkan sebagai bagian dari indikator tidak langsung pengukuran status gizi
masyarakat.
3. Faktor Ekologi
Bengoa mengungkapkan bahwa malnutrisi merupakan masalah ekologi sebagai hasil interaksi beberapa faktor fisik,
biologis dan lingkungan budaya. Jumlah makanan yang tersedia sangat tergantung dari keadaan ekologi seperti iklim,
tanah, irigasi dan lain-lain. Pengukuran faktor ekologi dipandang sangat penting untuk mengetahui penyebab malnutrisi di
suatu masyarakat sebagai dasar untuk melakukan program intervensi gizi (Schrimshaw, 1964).

Menurut Djoko Pekik Irianto (2006: 59) dari ketujuh cara pengukuran status gizi tersebut pengukuran antropometri merupakan
cara yang pailng sering digunakan karena memiliki kelebihan yaitu :
a. Alat mudah diperoleh.
b. Pengukuran mudah dilakukan.
c. Biaya murah.
d. Hasil pengukuran mudah disimpulkan.
e. Dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah.
f. Dapat mendeteksi riwayat gizi masa lalu.

Pengkuran antropometri juga memiliki kelemahan yaitu :
a. Kurang sensitive
b. Faktor luar (penyakit, genetik dan penurunan penggunaan energi tidak dapat dikendalikan)
c. Kesalahan pengukuran akan mempengaruhi akurasi kesimpulan.
d. Kesalahan-kesalahan antara lain pengukuran, perubahan hasil pengukuran baik fisik maupun komposisi jaringan, analisis
dan asumsi salah.

PENANGANAN DAN PREVENTIF
Pemberian Makanan Tambahan merupakan salah satu komponen penting Usaha Perbaikan Gizi Keluarga (UPGK) dan program
yang dirancang oleh pemerintah. PMT sebagai sarana pemulihan gizi dalam arti kuratif, rehabilitatif dan sebagai sarana untuk
penyuluhan merupakan salah satu bentuk kegiatan pemberian gizi berupa makanan dari luar keluarga, dalam rangka program
UPGK. PMT ini diberikan setiap hari, sampai keadaan gizi penerima makanan tambahan ini menunjukkan perbaikan dan
hendaknya benar-benar sebagai penambah dengan tidak mengurangi jumlah makanan yang dimakan setiap hari dirumah. Pada
saat ini program PMT tampaknya masih perlu dilanjutkan mengingat masih banyak balita dan anak-anak yang mengalami kurang
gizi bahkan gizi buruk.
Jenis PMT
PMT sebagai sarana pemilihan keadaan gizi, dalam arti kuratif dan rehabilaitas meeruuupakan salah satu bentuk kegiatan
pemberian zat gizi beruupa makanan dari kelurga daalam rangka Program UPGK.
12
PMT sebagai sarana penyuluhan merupakan salah satu cara penyuluhan gizi, khususnya untuk meningkatkan keadaan gizi anak
balita, ibu hamil dan ibu menyusui (Depkes-UNICEF, 1980)
Tujuan PMT
a) PMT sebagai sarana penyuluhan
Tujuan umumnya adalah memberikan pengtahuan dan menumbuhkan kesadaran maasyarakat ke arah perbaikan cari
pembagian pemberian makanan anak balita, ibu hamil dan ibu menyusui, tujuan khususnya.
Adalah memperluas jangkauan pelayanan program UPGK serta mengumumkan kesadaran masyarakat untuk menggunakan
bahan makanan setempat dan dapat diusaahakan secara swadana. (Depkes-UNICEF, 1980).
b) PMT sebagai sarana pemulihan
Tujuan umum dari PMT sebagai sarana pemulihan adalah memberikan makanan tambahan kepada ibu hamil kurang Energi
Kronis (KEK), ibu nifas KEK, bayi (6-11 bulan) dari keluarga miskin sebagai upaya mempertahankan /meningkatkan status
gizi GD. (Depkes, 1998).
Tujuan khususnya adalah memperbaiki kedaan gizi yang menderita kurang gizi. (Depkes-UNICEF, 1980).
Sasaran Program PMT
Semua anak balita
Ibu hamil trimester III
Ibu menyusui yang anaknya berumur dibawah 150 hari (Depkes-UNICEF, 1980).

PMT sebagai sarana penyuluhan diberikan kepada :
Seluruh bayi umur 6-11 bulan dari keluarga miskin
Seluruh anak umur 12-23 bulan dari keluarga miskin
Seluruh ibu hamil KEK dari keluarga miskin (Depkes, 1998)

Pemberian Makanan Tambahan Pada Bayi
Makanan tambahan yang diberikan pada saat bayi memerlukan zat-zat gizi yang kadarya sudah berkurang pada ASI. Tujuan
memberikan makanan tambahan: Melatih dan membiasakan bayi memakan makanan yang akan dimakan dikemudian hari;
memberikan serat makanan sebagai pelancar untuk bayi yang sembelit.

Makanan Tambahan bagi Bayi Sebagai Pendamping ASI
Sesudah bayi berumur 4 bulan secara berangsur-angsur perlu diberikan makanan tambahan sebagai pelengkap berupa sari buah,
atau buah-buahan, makanan lunak dan akhimya makanan lembek. Pada saat ini kebutuhan bayi akan zat gizi semakin bertambah
dengan pertumbuhan dan perkembangan bayi, sedangkan produksi ASI semakin menurun, oleh karena itu bayi sangat
memerlukan makanan tambahan. Tujuan pemberian makanan tambahan adalah: Melengkapi zat gizi ASI yang mulai berkurang;
mengembangkan kemampuan bayi untuk menerima bermacam-macam makanan dengan berbagai rasa dan bentuk;
mengembangkan kemampuan bayi untuk mengunyah dan menelan; mencoba adaptasi terhadap makanan yang mengandung
kadar energi tinggi.
Cara pemberian makanan pendamping pada bayi:
Berikan secara hati-hati sedikit demi sedikit dari bentuk encer kemudian lebih kental.
Makanan diperkenalkan satu per satu sampai bayi mau menerimanya.
Pada pemberian makan jangan dipaksa, sebaiknya diberikan pada waktu lapar.
Makanan yang dapat menimbulkan alergi, harus dicoba sedikit-demi sedikit.
Jenis makanan pendamping ASI yang dapat diberikan diantaranya ialah sebagai berikut: pisang, pepaya, jeruk manis, tomat dan
lainnya

FAKTOR YANG MENYEBABKAN TERJADINYA MASALAH KURANG GIZI
1) ketersediaan pangan di tingkat rumah tangga,
2) pola pengasuhan anak,
3) kondisi lingkungan atau penyediaan air bersih
4) pelayanan kesehatan yang tidak memadai
5) faktor sosial budaya dan ekonomi seperti tingkat pendapatan keluarga, besar anggota keluarga, pantangan atau tabu dalam
hal makanan dan adat kebiasaan yang merugikan
(Syahmien Moehji, 2005)

STRATEGI PENCEGAHAN DAN PENANGGULANGAN GIZI BURUK
Mengembalikan fungsi posyandu dan meningkatkan kembali partisipasi masyarakat dan keluarga dalam memantau,
mengenali dan menanggulangi secara dini gangguan pertumbuhan pada balita utamanya baduta.
Meningkatkan kemampuan dan keterampilan SDM puskesmas beserta jaringannya dalam tatalaksana gizi buruk dan
masalah gizi lain, manajemen laktasi dan konseling gizi.
Menanggulangi secara langsung masalah gizi yang terjadi pada kelompok rawan termasuk keadaan darurat melalui
suplementasi zat gizi mikro, MP-ASI, makanan tambahan dan diet khusus.
Mewujudkan keluarga sadar gizi melalui advokasi, sosialisasi dan KIE gizi seimbang.
13
Mengoptimalkan surveilans berbasis masyarakat melalui SKDN, Sistem Kewaspadaan Dini Kejadian Luar Biasa (SKD-
KLB) Gizi Buruk, dan Sistem Kewaspadaan Pangan dan Gizi (SKPG), untuk meningkatkan manajemen program perbaikan
gizi.
Mengembangkan model intervensi gizi tepat guna yang evidence based.
Menggalang kerjasama lintas sektor dan kemitraan dengan masyarakat beserta swasta/dunia usaha dalam memobilisasi
sumberdaya untuk penyediaan pangan di tingkat rumah tangga, peningkatan daya beli keluarga, dan perbaikan pola asuhan
gizi keluarga.

L.I.2 Memahami dan Menjelaskan Perilaku Hidup Bersih Dan Sehat (PHBS)
Definisi
Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) adalah semua perilaku yang dilakukan atas kesadaran sehingga anggota
keluarga atau keluarga dapat menolong dirinya sendiri di bidang kesehatan dan berperan aktif dalam kegiatan-kegiatan kesehatan
dimasyarakat.

Manfaat
Perilaku hidup bersih dan sehat sangat banyak bermanfaat bagi penduduk Indonesia, yaitu:
1. Setiap rumah tangga meningkat kesehatannya dan tidak mudah sakit.
2. Rumah tangga sehat dapat meningkat produktivitas kerja anggota keluarga.
3. Dengan meningkatnya kesehatan anggota rumah tangga maka biaya yang tadinya dialokasikan untuk kesehatan dapat
dialihkan untuk biaya investasi seperti biaya pendidikan dan usaha lain yang dapat meningkatkan kesejahteraan anggota
rumah tangga.
4. Salah satu indikator menilai keberhasilan Pemerintah Daerah Kabupaten /Kota di bidang kesehatan.
5. Meningkatkan citra pemerintah dalam bidang kesehatan.
6. Dapat menjadikan percontohan rumah tangga sehat bagi daerah lain.

Pelaksanaan PHBS
Berdasarkan tatanan (setting) atau tempat pelaksanaan nya PHBS di kelompokkan menjadi lima tatanan yaitu :
1. PHBS di Rumah Tangga
PHBS di Rumah Tangga adalah upaya untuk memberdayakan anggota rumah tangga agar tahu, mau
dan mampu mempraktikkan perilaku hidup bersih dan sehat serta berperan aktif dalam gerakan
kesehatan di masyarakat. PHBS di Rumah Tangga dilakukan untuk mencapai Rumah Tangga ber
PHBS yang melakukan 10 PHBS yaitu :
1. Persalinan ditolong oleh tenaga kesehatan
Adalah persalinan yang ditolong oleh tenaga kesehatan (dokter, bidan, dan tenaga para medis
lainnya). Persalinan ditolong oleh tenaga kesehatan menggunakan peralatan yang aman,
bersih, dan steril sehingga mencegah terjadinya infeksi dan bahaya kesehatan lainnya.
2. Memberi ASI ekslusif
Adalah bayi usia 0-6 bulan hanya diberi ASI saja tanpa memberikan tambahan makanan atau minuman lain. ASI adalah
makanan alamiah berupa cairan dengan kandungan gizi yang cukup dan sesuai untuk kebutuhan bayi, sehingga bayi
tumbuh dan berkembang dengan baik. ASI pertama berupa cairan bening berwarna kekuningan (colostrums), sangat baik
untuk bayi karena mengandung zat kekebalan terhadap penyakit.
3. Menimbang balita setiap bulan
Penimbangan bayi dan balita dimaksudkan untuk memantau pertumbuhannya setiap bulan. Penimbangan bayi dan balita
dilakukan mulai umur 1 bulan sampai 5 tahun di posyandu. Dengan demikian dapat diketahui apakah balita tumbuh sehat
atau tidak dan mengetahui kelengkapan imunisasi serta bayi yang dicurigai menderita gizi buruk.
4. Menggunakan air bersih
Air adalah kebutuhan dasar yang diperlukan sehari-hari untuk minum, memasak, mandi, berkumur, membersihkan lantai,
mencuci alat-alat dapur dan sebagainya agar kita tidak terkena penyakit atau terhindar dari sakit. Rumah tangga yang
memiliki akses terhadap air bersih adalah rumah tangga yang sehari-harinya memakai air minum yang meliputi air dalam
kemasan, ledeng, pompa, sumur terlindung, serta mata air terlindung yang berjarak minimal 10 meter dari tempat
penampungan kotor air limbah.
5. Mencuci tangan dengan air bersih dan sabun
Manfaat mencuci tangan dengan sabun adalah membunuh kuman penyakit yang ada di tangan, mencegah penularan
penyakit diare, kolera, disentri, tifus, cacingan, penyakit kulit, Infeksi Saluran Pernafasan Akut, flu burung atau Severe
Acute Respiratory Syndrome (SARS) serta tangan mejadi bersih dan bebas dari kuman.
14
6. Menggunakan jamban sehat
Jamban adalah suatu ruangan yang mempunyai fasilitas pembuangan kotoran manusia yang terdiri atas tempat jongkok atau
tempat duduk dengan leher angsa atau tanpa leher angsa (cemplung) yang dilengkapi dengan unit pembuangan kotoran dan
air untuk membersihkannya. Jamban cemplung digunakan untuk daerah yang sulit air, sedangkan jamban leher angsa
digunakan untuk daerah yang cukup air dan daerah padat penduduk.
7. Memberantas jentik di rumah sekali seminggu
Rumah bebas jentik adalah rumah tangga yang setelah dilakukan pemeriksaan jentik secara berkala tidak terdapat jentik
nyamuk. Pemeriksaan jentik berkala adalah pemeriksaan tempat-tempat perkembangbiakan nyamuk (tempat-tempat
penampungan air) yang ada dalam rumah seperti bak mandi atau WC, vas bunga, tatakan kulkas dan lain-lain. Hal yang
dilakukan agar rumah bebas jentik adalah melakukan 3 M plus (menguras, menutup, mengubur plus menghindari gigitan
nyamuk).
8. Makan buah dan sayur setiap hari
Makan sayur dan buah sangat penting karena sayur dan buah mengandung vitamin dan mineral yang mengatur
pertumbuhan dan pemeliharaan tubuh serta mengandung serat yang tinggi. Konsumsi sayur dan buah yang tidak merusak
kandungan gizinya adalah dengan memakannya dalam keadaan mentah atau dikukus. Merebus dengan air akan melarutkan
beberapa vitamin dan mineral dalam sayur dan buah tersebut. Pemanasan tinggi akan menguraikan beberapa vitamin seperti
vitamin C.
9. Melakukan aktivitas fisik setiap hari
Aktivitas fisik adalah melakukan pergerakan anggota tubuh yang menyebabkan pengeluaran tenaga yang sangat penting
bagi pemeliharaan kesehatan fisik, mental dan mempertahankan kualitas hidup agar tetap sehat dan bugar sepanjang hari.
Aktivitas fisik yang dapat dilakukan antara lain kegiatan sehari-hari yaitu berjalan kaki, berkebun, mencuci
pakaian,mencuci mobil dan turun tangga. Selain itu kegiatan olahraga seperti push up, lari ringan, bermain bola, berenang,
senam, fitness, dapat juga dilakukan sebagai aktifitas fisik.
10. Tidak merokok di dalam rumah
Tidak merokok adalah penduduk 10 tahun keatas yang tidak merokok selama 1 bulan terakhir. Perokok terdiri atas perokok
aktif dan perokok pasif. Bahaya perokok aktif dan perokok pasif adalah dapat menyebabkan kerontokan rambut, gangguan
pada mata seperti katarak, kehilangan pendengaran lebih awal dibanding bukan perokok, menyebabkan penyakit paru-paru
kronis, merusak gigi, sakit jantung, stroke, kanker kulit, kemandulan, impotensi, kanker rahim dan keguguran.

Sasaran PHBS tatanan rumah tangga adalah seluruh anggota keluarga yaitu pasangan usia subur, ibu hamil dan menyusui,
anak dan remaja, usia lanjut dan pengasuh anak.
2. PHBS di Sekolah
PHBS di Sekolah adalah sekumpulan perilaku yang dipraktikkan oleh peserta didik, guru dan masyarakat lingkungan sekolah
atas dasar kesadaran sebagai hasil pembelajaran, sehingga secara mandiri mampu mencegah
penyakit, meningkatkan kesehatannya, serta berperan aktif dalam mewujudkan lingkungan sehat.
Ada beberapa indikator yang dipakai sebagai ukuran untuk menilai PHBS di sekolah yaitu :
1. Mencuci tangan dengan air yang mengalir dan menggunakan sabun
2. Mengkonsumsi jajanan sehat di kantin sekolah
3. Menggunakan jamban yang bersih dan sehat
4. Olahraga yang teratur dan terukur
5. Memberantas jentik nyamuk
6. Tidak merokok di sekolah
7. Menimbang berat badan dan mengukur tinggi badan setiap 6 bulan
8. Membuang sampah pada tempatnya

3. PHBS di Institusi Kesehatan
PHBS di Institusi Kesehatan adalah upaya untuk memberdayakan pasien, masyarakat
pengunjung dan petugas agar tahu, mau dan mampu untuk mempraktikkan Perilaku Hidup
Bersih dan Sehat dan berperan aktif dalam mewujudkan Institusi Kesehatan Sehat dan
mencegah penularan penyakit di institusi kesehatan.
Ada beberapa indikator yang dipakai sebagai ukuran untuk menilai PHBS di Institusi Kesehatan
yaitu:
1. Menggunakan air bersih
2. Menggunakan Jamban
3. Membuang sampah pada tempatnya
4. Tidak merokok di institusi kesehatan
5. Tidak meludah sembarangan
6. Memberantas jentik nyamuk

4. PHBS di Tempat Kerja
15
PHBS di Tempat kerja adalah upaya untuk memberdayakan para pekerja agar tahu, mau dan mampu mempraktikkan perilaku
hidup bersih dan sehat serta berperan aktif dalam mewujudkan Tempat Kerja Sehat.
Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) di Tempat kerja antara lain :
1. Tidak merokok di tempat kerja
2. Membeli dan mengkonsumsi makanan dari tempat kerja
3. Melakukan olahraga secara teratur/aktifitas fisik
4. Mencuci tangan dengan air bersih dan sabun sebelum makan dan sesudah BAB dan BAK
5. Memberantas jentik nyamuk di tempat kerja
6. Menggunakan air bersih
7. Menggunakan jamban saat buang air kecil dan besar
8. Membuang sampah pada tempatnya
9. Mempergunakan Alat Pelindung Diri (APD) sesuai jenis pekerjaan
5. PHBS di Tempat Tempat Umum
PHBS di Tempat - tempat Umum adalah upaya untuk memberdayakan masyarakat pengunjung
dan pengelola tempat - tempa t umu m agar tahu, mau dan mampu untuk mempraktikkan PHBS
dan berperan aktif dalam mewujudkan tempat - tempat Umum Sehat.
Tempat - tempat Umum adalah sarana yang diselenggarakan oleh pemerintah/swasta, atau
perorangan yang digunakan untuk kegiatan bagi masyarakat seperti sarana pariwisata,
transportasi, sarana ibadah, sarana perdagangan dan olahraga, rekreasi dan sarana sosial
lainnya.
Ada beberapa indikator yang dipakai sebagai ukuran untuk menilai PHBS di Tempat - Tempat
Umum yaitu :
1. Menggunakan air bersih
2. Menggunakan jamban
3. Membuang sampah pada tempatnya
4. Tidak merokok di tempat umum
5. Tidak meludah sembarangan
6. Memberantas jentik nyamuk
Manajemen PHBS
Promosi kesehatan dan PHBS di Kabupaten/Kota dikoordinasikan melalui tiga sentra, yaitu Puskesmas, Rumah Sakit dan
Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota. Puskesmas merupakan pusat kegiatan promosi kesehatan dan PHBS di tingkat kecamatan
dengan sasaran baik individu yang datang ke Puskesmas maupun keluarga dan masyarakat di wilayah Puskesmas. Rumah Sakit
bertugas melaksanakan promosi kesehatan dan PHBS kepada individu dan keluarga yang datang ke Rumah Sakit. Dinas
Kesehatan Kabupaten/Kota melaksanakan promosi kesehatan untuk mendukung promosi kesehatan dan PHBS yang dilaksanakan
oleh Puskesmas dan Rumah Sakit serta sarana pelayanan kesehatan lainnya yang ada di Kabupaten/Kota. Penanggung jawab dari
semua kegiatan promosi kesehatan dan PHBS di daerah adalah Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota. Dinas Kesehatan
Kabupaten/Kota harus dapat mengkoordinasikan dan menyusun kegiatan promosi kesehatan dan PHBS di wilayahnya dengan
melibatkan sarana-sarana kesehatan yang ada di Kabupaten/Kota tersebut.
Program PHBS secara operasional dilaksanakan di Puskesmas oleh petugas promosi kesehatan Puskesmas dengan
melibatkan lintas program dan lintas sektor terkait dengan sasaran semua keluarga yang ada di wilayah Puskesmas.
Manajemen PHBS di Puskesmas dilaksanakan melalui penerapan fungsi-fungsi manajemen secara sederhana untuk
memudahkan petugas promosi kesehatan atau petugas lintas program di Puskesmas dalam pelaksanaan program PHBS di
Puskesmas. Manajemen PHBS di Puskesmas dilaksanakan melalui empat fungsi tahapan Manajemen sesuai kerangka konsep
sebagai berikut :

Kerangka konsep Manajemen PHBS






1. PENGKAJIAN
2. PERENCANAAN
3. PENGGERAKAN DAN
PELAKSANAAN
4. PEMANTAUAN DAN
PENILAIAN
16
Pengkajian dilakukan terhadap masalah kesehatan, masalah perilaku (PHBS) dan sumber daya. Luaran pengkajian adalah
pemetaan masalah PHBS yang dilanjutkan dengan rumusan masalah. Perencanaan berbasis data akan menghasilkan rumusan
tujuan, rumusan intervensi dan jadwal kegiatan. Penggerakan pelaksanaan merupakan inplementasi dari intervensi masalah
terpilih yang penggerakannya dilakukan oleh petugas promosi kesehatan, sedangkan pelaksanaannya bisa oleh petugas promosi
kesehatan atau lintas program dan lintas sektor terkait.
Pemantauan dilakukan secara berkala dengan menggunakan format pertemuan bulanan, sedangkan penilaian dilakukan
pada enam bulan pertama atau akhir tahun berjalan. Dalam setiap tahapan manajemen tersebut petugas promosi kesehatan tidak
mungkin bisa bekerja sendiri, tetapi harus melibatkan petugas lintas program dan lintas sektor terkait terutama masyarakat itu
sendiri.

L.I.3 Memahami dan Menjelaskan Gaya Hidup Anak yang Baik dan Normal
GAYA HIDUP ANAK YANG BAIK DAN NORMAL
Berikut ini adalah beberapa tips sederhana tentang apa yang harus diajarkan kepada anak-anak tentang gaya hidup sehat.
1. Memiliki kesehatan yang baik dengan gizi yang baik dan seimbang
2. Komposisi gi zi dari mulai karbohidrat, protein, l emak, vitamin, dan mineral
3. Makan dalam porsi kecil setiap hari dengan gizi seimbang.
4. Minum air putih yang cukup setiap hari.
5. olahraga teratur.
6. Tubuh yang selalu akti f akan membuat sist em kekebal an tubuh, mengajak untuk memilih lat ihan dan
olahraga rutin sehingga memili ki si st em kekebalan t ubuh. Menjaga tubuh sehat dan terhindar dari
kel ebihan berat badan. Dengan menjaga kebi asaan tersebut sehingga akan mampu dal am
mempert ahankan pola hidup sehat sampai usia dewasa.
7. Teratur mengkonsumsi suplemen.
8. Bisa menghindari stres dan bagaimana menghadapinya ketika hal itu tidak dapat dihindari.
9. Tidak terlalu banyak mengkonsumsi banyak gula, lemak, dan kafein.
10. Menerapkan pola hidup bersih, misalnya kebiasaan mencuci tangan
11. Istirahat yang cukup

GAYA HIDUP TIDAK BERSIH DAN TIDAK SEHAT
1. Diet tidak seimbang.
Sejak kecil, anak-anak harus terbiasa mengenal makanan sehat. Seperti membawa makanan ringan buatan rumah sebagai
bekal sekolah atau menyantap potongan buah dan sayur sebagai camilan. Kenalkan mereka pada makanan bernutrisi yang
rendah lemak dan gula.
2. Aktivitas fisik yang kurang.
Ajak mereka melakukan kegiatan fisik seperti olahraga ringan. Kegiatan itu tak hanya membebaskan mereka dari segudang
penyakit namun juga mengajarkan anak-anak untuk memiliki pandangan positif.
3. Tidak ada batasan waktu dalam menonton TV.
Batasi waktu mereka menonton TV. Saat menonton TV, mereka jadi enggan bergerak. Hal itu berujung pada risiko
penyakit kardiovaskular dan kegemukan. Aturan itu pun sebaiknya berlaku pada jam-jam mereka bermain video game atau
mengoperasikan komputer.
4. Tidak menggosok gigi.
Ajarkan mereka menggosok gigi sebanyak dua kali sehari. Beri mereka pengetahuan tentang pentingnya menjaga
kebersihan dan kesehatan gigi.
5. Tidak mencuci tangan.
Anak-anak harus mencuci tangan sebelum dan sesudah menyantap apapun. Mereka juga harus membersihkan tangan
setelah batuk, flu, atau menyentuh barang-barang kotor.
6. Konsumsi air yang kurang.
Saat anak berusia enam bulan, dokter menyarankan orangtua mengenalkan air putih pada mereka. Menghabiskan makanan
hingga piring bersih
Pada umumnya, anak-anak yang sehat akan makan ketika mereka merasa lapar dan berhenti sebelum kekenyangan. Namun
banyak orang tua yang secara tidak sadar mengacaukan hal ini dengan mengajarkan anak untuk menghabiskan makanan
sampai piring bersih. Hal ini akan membuat anak bisa makan hingga terlalu kenyang. Sebaiknya sediakan porsi makan
yang sesuai untuk anak, tidak terlalu sedikit, juga tidak terlalu banyak.
7. Tingginya konsumsi gula.
Sudah merupakan hal yang biasa untuk kebanyakan orang tua membujuk anak-anak mereka agar mau memakan buah-
buahan atau sayur-sayuran dengan sogokan atau hadiah diberikan makanan penutup yang manis seperti permen, cokelat
es krim dan lain sebagainya. Hal ini tentu saja tidak baik karena secara tidak langsung Anda mengajarkan anak berpikir
bahwa makanan manis adalah makanan paling enak daripada makanan utama. Akibatnya, anak akan terbiasa mengonsumsi
makanan penutup yang manis setelah mereka makan makanan seimbang yang sehat.
8. Ngemil terlalu banyak.
17
Memberikan cemilan terlalu banyak kepada anak akan membuat anak kenyang dengan makanan yang tidak mengandung
nutrisi untuk tubuh mereka, sehingga mereka akan menolak untuk makan makanan yang sehat. Selain itu, kebiasaan
mengemil pada anak juga tentu saja akan memicu obesitas.
9. Konsumsi kalori berlebih dari minuman.
Minuman seperti soda, jus kalengan dan smoothies yang mudah ditemukan di mana-mana mengandung kalori yang tinggi
serta tidak memberikan vitamin atau nutrisi apapun untuk tubuh. Oleh karena itu biasakan memberi Anak anda air putih,
susu atau jus yang dibuat sendiri di rumah.
10. Terlalu lama di depan layar kaca.
Tidak membatasi waktu anak di depan layar kaca juga dapat berdampak kepada berat badan mereka. Jangan izinkan anak
seharian berada di depan layar kaca seperti menonton televisi, bermain video games atau komputer. Hindari menggunakan
televisi atau media lainnya untuk menjadi pusat perhatian anak Anda saat waktu makan dan bercengkrama dengan Anda.
11. Pola tidur diacuhkan.
Kekurangan waktu tidur dapat menyebabkan keinginan untuk mengemil dan makan lebih banyak dari biasanya karena
mereka membutuhkan asupan ekstra energi untuk tidak tertidur. Oleh karena itu atur jam tidur anak Anda 8-9 jam setiap
hari
12. Malas olahraga
13. Malas minum air putih yang cukup (minimal 2 liter per hari)
14. Suka makanan junkfood dan makanan kaleng
15. Sering stress
16. Tidak melakukan 3J : Jenis makanan yang beraneka, Jam makan yang teratur, dan Jumlah makanan secukupnya
17. Tidak menghindari 3G : Gula, Garam, Goreng-gorengan
18. Tidak menyikat gigi setelah makan

LI.4 Memahami dan Menjelaskan Perilaku Hidup Bersih Dan Sehat (PHBS) dalam Islam
Kebersihan dalam pandangan Islam sangat erat hubungannya dengan kesehatan.
Tujuan Islam mengajarkan hidup yang bersih dan sihat adalah menciptakan individu dan masyarakat yang sihat jasmani, rohani,
dan sosial sehingga mampu menjadi umat pilihan dan khalifah Allah untuk memakmurkan bumi. Kesehatan merupakan salah
satu hak bagi tubuh manusia. Karena kesehatan merupakan hak asasi manusia, sesuatu yang sesuai dengan fitrah manusia, maka
Islam menegaskan perlunya kesehatan untuk menjalankan agama secara sempurna.
Makna kebersihan yang digunakan dalam Islam ternyata mengandung makna yang banyak aspek, seperti aspek kebendaan, aspek
harta dan aspek jiwa. Thaharah (suci) bermakna bersih dari kotoran yang najis. Maka tidak heran jika kitab-kitab fikih Islam
menempatkan bab thaharan diawal, sebelum membahas solat. Dalam kitab suci Al-quran banyak ayat yang menganjurkan
unntuk bersuci. Allah berfirman :


Dan pakaianmu bersikanlah (QS.Al Muddatsir ayat: 4)


Sesungguhnya Allah mencintai orang orang yang bertaubat dan orang orang
yang membersikan diri. ( QS. Al baqarah:222 ).
Ada dua makna dalam arti suci, yaitu suci dari hadas dan suci dari najis. Hadas dan najis merupakan sesuatu yang menghalangi
seseorang untuk melaksanakan ibadah tertentu seperti solat. Hadas berbeda dengan najis kerana hadas berarti keadaan dan bukan
suatu benda atau zat tertentu, sedangkan najis berarti benda atau zat tertentu dan bukan suatu keadaan.
Hadas adalah suatu keadaan tidak suci yang tidak dapat dilihat, tetapi wajib disucikan untuk sahnya ibadah.
Hadas dibagi dua yakni :
a. Hadas kecil. Penyebabnya antara lain keluar sesuatu dari dubur atau qubul, menyentuh lawan jenis yang bukan muhrimnya dan
tidur nyeyak dalam keadan tidak duduk tetap. Cara mensucikan hadas ini ialah berwudhu.
b. Hadas besar/Jenaba. Penyebabnya antara lain : keluar air mani, bersetubuh, wanita melahirkan dan haidh. Cara mensucikan
hadas besar ini adalah mandi yang harus dibasahi seluruh tubuhnya.
Najis adalah suatu benda kotor menurut syara' (hukum agama). Benda - benda najis meliputi : Darah, Anjing, babi nanah,
bangkai selain bangkai manusia, ikan laut, dan belalang, Segala sesuatu yang keluar dari dubur dan qubul, minuman keras yang
memabukkan.
Diharamkan bagimu (memakan) bangkai, darah, daging babi, (daging hewan) yang disembelih atas nama selain Allah, yang
tercekik, yang terpukul, yang jatuh, yang ditanduk, dan diterkam binatang buas, kecuali yang sempat kamu menyembelihnya, dan
(diharamkan bagimu) yang disembelih untuk berhala. Dan (diharamkan juga) mengundi nasib dengan anak panah, (mengundi
nasib dengan anak panah itu) adalah kefasikan. Pada hari ini orang-orang kafir telah putus asa untuk (mengalahkan) agamamu,
sebab itu janganlah kamu takut kepada mereka dan takutlah kepada-Ku. Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu
agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu jadi agama bagimu. Maka barang siapa
terpaksa karena kelaparan tanpa sengaja berbuat dosa, sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang (QS. Al
Maaidah, 5: 3).
Sehat menurut batasan World Health Organization adalah keadaan sejahtera dari badan, jiwa, dan sosial yang memungkinkan
setiap orang hidup produktif secara sosial dan ekonomis.
18
Tujuan Islam mengajarkan hidup yang bersih dan sehat adalah menciptakan individu dan masyarakat yang sehat jasmani,
rokhani, dan sosial sehingga umat manusia mampu menjadi umat yang pilihan.
KEBERSIHAN, MEMBERSIHKAN DAN MENYUCIKAN DIRI
a. Tubuh: Islam memerintahkan mandi bagi umatnya karena 23 alasan dimana 7 alasan merupakan mandi wajib dan 16 alasan
lainnya bersifat sunah.
b. Tangan: Nabi Muhammad SAW bersabda: Cucilah kedua tanganmu sebelum dan sesudah makan , dan Cucilah kedua
tanganmu setelah bangun tidur. Tidak seorang pun tahu dimana tangannya berada di saat tidur.
c. Islam memerintahkan kita untuk mengenakan pakaian yang bersih dan rapi.
d. Makanan dan minuman: Lindungilah makanan dari debu dan serangga, Rasulullah SAW sersabda: Tutuplah bejana air dan
tempat minummu
e. Rumah: Bersihkanlah rumah dan halaman rumahmu sebagaimana dianjurkan untuk menjaga kebersihan dan keamanan
jalan: Menyingkirkan duri dari jalan adalah ibadah.
f. Perlindungan sumber air, misalnya sumur, sungai dan pantai. Rasulullah melarang umatnya buang kotoran di tempat-tempat
sembarangan.
Perintah-perintah Rasulullah SAW tersebut di atas memiliki makna bahwa kita harus menjaga kebersihan dan kesehatan agar
terhindar dari berbagai infeksi saluran pencernaan.
PENANGGULANGAN DAN PENANGANAN EPIDEMI PENYAKIT
Karantina penyakit: Nabi Muhammad SAW bersabda: Jauhkanlah dirimu sejauh satu atau dua tombak dari orang yang
berpenyakit lepra
Islam juga mengajarkan prinsip-prinsip dasar penanganan dan penanggulangan berbagai penyakit infeksi yang membahayakan
masyarakat (misalnya wabah kolera dan cacar), Janganlah engkau masuk ke dalam suatu daerah yang sedang terjangkit wabah,
dan bila dirimu berada di dalamnya janganlah pergi meninggalkannya.
Islam menganjurkan umatnya melakukan upaya proteksi diri (ikhtiar) dari berbagai penyakit infeksi, misalnya dengan imunisasi.
MAKANAN
a. Makanan yang diharamkan
Firman Allah SWT : Sesungguhnya Allah hanya mengharamkan bagimu bangkai, darah, daging babi, dan binatang yang
(ketika disembelih) disebut (nama) selain Allah. Tetapi barangsiapa dalam keadaan terpaksa (memakannya) sedang dia
tidak menginginkannya dan tidak (pula) melampaui batas, maka tidak ada dosa baginya. Sesungguhnya Allah Maha
Pengampun lagi Maha Penyayang. (QS. 2. Al Baqarah, 2:173 )
b. Makanan sehat dan halal
Islam memerintahkan umatnya untuk makan makanan yang baik dan halal, misalnya daging, ikan, madu dan susu.
Makanan-makanan yang baik dan halal bermanfaat bagi tubuh. Islam menolak paham vegetarian. Pola konsumsi yang hanya
tergantung pada jenis sayuran belaka tidak sehat bagi tubuh karena kebutuhan protein tidak dapat tercukupi hanya dari
konsumsi sayuran saja.
c. Menjaga perilaku muslim ketika makan
Islam menegaskan kepada orang muslim untuk menjaga etika ketika makan. Allah memerintahkan kita untuk makan tidak
berlebih-lebihan sedangkan Rasulullah SAW mengatakan bahwa perut adalah seburuk-buruk tempat untuk diisi.
Sebagian besar penyakit bersumber dari perut.
Oleh karenanya Maha Benar Allah SWT dalam Firman-Nya : Apa saja nikmat yang kamu peroleh adalah dari Allah, dan
apa saja bencana yang menimpamu, maka dari (kesalahan) dirimu sendiri. Kami mengutusmu menjadi Rasul kepada
segenap manusia. Dan cukuplah Allah menjadi saksi. (QS 4. An Nisaa : 79)
OLAHRAGA
Islam menegaskan pentingnya olahraga untuk menciptakan generasi Rabbani yang kuat dan sehat. Oleh karenanya, Islam
mengajarkan setiap muslim untuk mengajarkan anak-anaknya bagaimana cara memanah, berenang, dan berkuda.
PUASA
Manfaat Bagi Kesehatan Badan (Jasmani) :
Tidak seorang pun ahli medis baik muslim maupun non muslim yang meragukan manfaat puasa bagi kesehatan manusia. Dalam
buku yang berjudul Pemeliharaan Kesehatan dalam Islam oleh Dr Mahmud Ahmad Najib (Guru Besar Fakultas Kedokteran
Universitas Ain-Syams Mesir), ditegaskan puasa sangat berguna bagi kesehatan. Antara lain:
a. Puasa memperkecil sirkulasi darah sebagai perimbangan untuk mencegah keluarnya keringat dan uap melalui pori-pori kulit
serta saluran kencing tanpa perlu menggantinya. Menurutnya curah jantung dalam mendistribusikan darah keseluruh
pembuluh darah akan membuat sirkulasi darah menurun. Dan ini memberi kesempatan otot jantung untuk beristirahat, setelah
bekerja keras satu tahun lamanya. Puasa akan memberi kesempatan pada jantung untuk memperbaiki vitalitas dan kekuatan
sel-selnya.
b. Puasa memberi kesempatan kepada alat-alat pencernaan untuk beristirahat setelah bekerja keras sepanjang tahun. Lambung
dan usus beristirahat selama beberapa jam dari kegiatannya, sekaligus memberi kesempatan untuk menyembuhkan infeksi
dan luka yang ada sehingga dapat menutup rapat. Proses penyerapan makanan juga berhenti sehingga asam amoniak, glukosa
dan garam tidak masuk ke usus. Dengan demikian sel-sel usus tidak mampu lagi membuat komposisi glikogen, protein dan
kolesterol. Disamping dari segi makanan, dari segi gerak (olah raga), dalam bulan puasa banyak sekali gerakan yang
dilakukan terutama lewat pergi ibadah.

Manfaat bagi Kesehatan Rohani (Mental) :
19
Perasaan (mental) memegang peranan penting dalam kehidupan manusia. Mendapat rasa senang, gembira, rasa puas serta
bahagia, merupakan tujuan bermacam-macam ikhtiar manusia sehari-hari. Bila seseorang menangani gangguan kesehatan, tidak
boleh hanya memperhatikan gangguan badaniah saja, tetapi sekaligus segi kejiwaan dan sosial budayanya. Rohani datang dari
Allah, maka kebahagiaan hanya akan didapat apabila makin dekat kepada pencipta-Nya.
Di dalam bulan puasa disunahkan untuk makin berdekat diri dengan Allah SWT baik lewat shalat, membaca Alquran, zikir,
berdoa, istighfar, dan qiyamul lail. Selama sebulan secara terus-menerus akan membuat rohani makin sehat, jiwa makin tenang.
Dengan memperbanyak ingat kepada Allah, makin yakin bahwa semua yang ada datang dari Allah dan akan kembali kepada-Nya
jua. Hal ini dijelaskan dalam firman Allah antara lain:
Jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu. Dan sesungguhnya yang demikian itu sungguh berat kecuali bagi orang-
orang yang khusyuk. (QS:Al Baqarah 45).
Dan Kami turunkan dari Alquran suatu yang menjadi penawar dan rahmat bagi orang-orang yang beriman dan Alquran itu
tidaklah menambah kepada orang-orang yang zalim kecuali merugi. (QS:Al-Isra 82)












DAFTAR PUSTAKA
1. DR. Bustan, M.N, Arsunan, A. 1997. Pengantar Epidemiologi. Jakarta : PT. Rineka Cipta.
2. Dr. Chandra , Budiman. 1996. Pengantar Prinsip dan Metode Epidemiologi. Jakarta : Penerbit Buku Kedokteran EGC.
3. http://gizi.depkes.go.id/download/Pedoman%20Gizi/Buku%20Pedoman%20pelayanan%20anakdfr.pdf ; 24-05-14 ; 22.12
4. http://kgm.bappenas.go.id/index.php?hal=4&keyIdHead=9 ; 23-05-14 ; 21.30
5. http://pesantrenonline.org/index.php/publikasi/529-kebersihan-dan-kesehatan-dalam-persepektif-islam-2.html ; 24-04-14 ;
19.07
6. Prof. Noor, Nasri Noor, M.P.H. 1997. Dasar Epidemiologi. Jakarta : PT. Rineka








20