Anda di halaman 1dari 24

SEWA-GUNA-USAHA (LEASING)

KMK Nomor: 1169/KMK.01/1991


Tentang Kegiatan Sewa Guna Usaha (Leasing)
Ketentuan Umum
Sewa Guna Usaha (Leasing) adalah
kegiatan pembiayaan dalam bentuk
penyediaan barang modal baik secara
sewa-guna-usaha dengan hak opsi
(finance lease) maupun sewa guna
usaha tanpa hak opsi (operating lease)
untuk digunakan oleh Lessee selama
jangka waktu tertentu berdasarkan
pembayaran secara berkala.
Lessor adalah perusahaan pembiayaan
atau perusahaan sewa-guna-usaha yang
telah memperoleh izin usaha dari
Menteri Keuangan dan melakukan
kegiatan sewa-guna-usaha.
Lessee adalah perusahaan atau
perorangan yang menggunakan barang
modal dengan pembiayaan dari Lessor
Ketentuan Umum
Opsi adalah hak Lessee untuk membeli
barang modal yang disewa-guna-usaha
atau memperpanjang jangka waktu
perjanjian sewa-guna-usaha
Ketentuan Umum
Sewa Guna Usaha
Finance Lease
(Dengan Hak Opsi)
Operating Lease
(Tanpa Hak Opsi)
Barang modal
Pembelian
LESSEE
Penjual
LESSOR
Operating Lease
Uang sewa
Barang modal
1
2
3
4
Barang modal
Pembelian
Hak opsi
Kepemilikan
berpindah ke
lease
Financial Lease
Angsuran
(pokok+bunga)
Barang modal
1
2
3
4
5
LESSEE
Penjual
LESSOR
Finance Lease
a. Jumlah pembayaran sewa-guna-usaha
selama masa sewa-guna-usaha pertama
ditambah dengan nilai sisa barang modal,
harus dapat menutup harga perolehan barang
modal dan keuntungan lessor;
b. Masa sewa-guna-usaha ditetapkan sekurang-
kurangnya 2 (dua) tahun untuk barang modal
Golongan I, 3 (tiga) tahun untuk barang modal
Golongan II dan III, dan 7 (tujuh) tahun untuk
Golongan bangunan Tunduk Pada
Ketentuan Pasal 11 UU PPh
c. Perjanjian sewa-guna-usaha memuat
ketentuan mengenai opsi bagi lessee.
Operating Lease
Jumlah pembayaran sewa-guna-usaha
selama masa sewa-guna-usaha pertama
tidak dapat menutupi harga perolehan
barang modal yang disewa-guna-
usahakan ditambah keuntungan yang
diperhitungkan oleh lessor;
Perjanjian sewa-guna-usaha tidak
memuat ketentuan mengenai opsi
bagi lessee.
Sewa Guna Usaha
Finance Lease
(Dengan Hak Opsi)
Operating Lease
(Tanpa Hak Opsi)
Dikecualikan dari
Pengenaan PPN
Terhutang PPN
Penghasilan lessor yang dikenakan PPh adalah sebagian dari
pembayaran sewa guna usaha dengan hak opsi yang berupa
imbalan jasa sewa guna usaha
dalam hal masa sewa-guna-usaha lebih pendek dari masa yang ditentukan,
Dirjen Pajak melakukan koreksi atas pengakuan penghasilan pihak lessor
lessor dapat membentuk cadangan penghapusan piutang ragu-ragu yang
dapat dikurangkan dari penghasilan bruto, setinggi-tingginya sejumlah
2,5% dari rata-rata saldo awal dan saldo akhir piutang sewa-guna-usaha
dengan hak opsi
kerugian yang diderita karena piutang sewa-guna-usaha yang nyata-nyata
tidak dapat ditagih lagi dibebankan pada cadangan penghapusan piutang
ragu-ragu yang telah dibentuk pada awal tahun pajak yang bersangkutan
lessor tidak boleh menyusutkan atas barang modal yang
disewa-guna-usahakan dengan hak opsi
FINANCE LEASE - Perlakuan PPh LESSOR
dalam hal cadangan penghapusan piutang ragu-ragu
tersebut tidak atau tidak sepenuhnya dibebani
untuk menutup kerugian dimaksud maka sisanya
dihitung sebagai penghasilan, sedangkan apabila
cadangan tersebut tidak mencukupi maka
kekurangannya
dapat dibebankan sebagai biaya yang dikurangkan
dari penghasilan bruto.
FINANCE LEASE - Perlakuan PPh LESSOR
selama masa sewa-guna-usaha, lessee tidak boleh melakukan penyusutan
atas barang modal yang disewa-guna-usaha, sampai saat lessee
menggunakan hak opsi untuk membeli
pembayaran sewa-guna-usaha yang dibayar atau terutang oleh lessee
kecuali pembebanan atas tanah, merupakan biaya yang dapat dikurangkan
dari penghasilan bruto lessee sepanjang transaksi sewa-guna-usaha
tersebut memenuhi ketentuan
dalam hal masa sewa-guna-usaha lebih pendek dari masa yang ditentukan
dalam Pasal 3 Keputusan ini, Direktur Jenderal Pajak melakukan koreksi
atas pembebanan biaya sewa-guna-usaha.
setelah lessee menggunakan hak opsi untuk membeli barang modal
tersebut, lessee melakukan penyusutan dan dasar penyusutannya adalah
nilai sisa (residual value) barang modal yang bersangkutan
FINANCE LEASE - Perlakuan PPh LESSEE
Lessee tidak memotong PPh Pasal 23
atas pembayaran
sewa-guna-usaha yang dibayar atau terutang
berdasarkan
perjanjian sewa-guna-usaha dengan hak opsi.
FINANCE LEASE - Perlakuan PPh LESSEE
seluruh pembayaran sewa-guna-usaha tanpa hak opsi
yang diterima atau diperoleh lessor merupakan
obyek Pajak Penghasilan dan Pajak Pertambahan Nilai
lessor membebankan biaya penyusutan atas
barang modal yang disewa-guna-usahakan tanpa
hak opsi, sesuai dengan ketentuan Pasal 11
Undang-undang Pajak Penghasilan 1984 beserta
peraturan pelaksanaannya.
OPERATING LEASE - Perlakuan PPh LESSOR
pembayaran sewa-guna-usaha tanpa hak opsi yang
dibayar atau terutang oleh lessee adalah
biaya yang dapat dikurangkan dari penghasilan bruto
lessee wajib memotong PPh Pasal 23
atas pembayaran sewa-guna-usaha tanpa hak opsi
yang dibayarkan atau terutang kepada lessor
OPERATING LEASE - Perlakuan PPh LESSEE
AKUNTANSI SELISIH KURS
Keuntungan /kerugian karena fluktuasi
mata uang asing diakui berdasarkan
pembukuan yang dianut dan dilakukan
secara taat asas sesuai standar
akuntansi keuangan yang berlaku di
Indonesia (Ps. 4 (1) hurum i UU PPh)
Pengakuan kurs menurut PSAK
Asset dan liabilities , untuk setiap
laporan keuangan yang disajikan ,
menggunakan kurs penutup (kurs spot
pada akhir periode pelaporan)
Pendapatan dan beban untuk setiap
laporan rugi laba , harus dijabarkan
dengan kurs tanggal transaksi
Semua hasil selisih laba/rugi kurs harus
diakui sebagai pendapatan /biaya
Pengaruh ke Pajak
Laba atau rugi selisih kurs diakui
sebagai penghasilan atau beban dalam
penghitungan pajak terhutang, baik
selisih kurs realisasi maupun unrealisasi
Selisih kurs yang unrealisasi mungkin
akan berpengaruh secara temporer
terhadap pajak
Pengecualian
Keuntungan atau kerugian selisih kurs
yang berkaitan langsung dengan
penghasilan yang dikenakan Pajak yang
bersifat Final atau penghasilan yang
bukan objek pajak tidak boleh
penghasilan atau beban
Contoh
Pada tanggal 3 Maret PT. A membukukan
tagihan pendapatan sewa kantor
sebesar USD 10.000 dengan kurs
Rp.10.000.Pada tanggal 30 Maret
mencatat pembayaran sewa dengan
kurs Rp 9.000atas tagihan taggal 3
Maret.Kerugian selisih kurs sebesar 10
juta tidak boleh dibiayakan
Akuntansi Ivestasi
Pajak menganut prinsip realisasi dalam
pengakuan penghasilan dan biaya.
Dalam hal terjadi kenaikan atau
penurunan investasi , maka tidak boleh
diakui sebagai penghasilan atau biaya.
Penghasilan dan biaya baru diakui pada
saat terjadinya realisasi , misalnya ketika
dilakukan pengalihan, yaitu berupa
capital gain
Contoh
Pada tahun 2010 PT. A membukuan
laba anak perusahaan sebesar 100 jt.
Dalam penghitungan PPh terhutang ,
laba anak perusahaan tersebut tidak
boleh diakui sebagai penghasilan