Anda di halaman 1dari 10

Kelompok 6

Febriyanna (18)
Gede Wira Aditya (21)
Resnawati (37)
Yemima L.A (45)

ASEA BROWN BOVERI



Pembahasan Kasus :
Menurut pemahaman kelompok kami, Asea brown Boveri (ABB) sebagai suatu perusahaan hasil
merger dari dua industri raksasa peralatan elektronik di eropa yaitu Asea AB of Sweden dan
BBC Brown boveri merupakan sebuah perusahaan industri bisnis elektroteknikal yang menjadi
pesaing terbesar di dunia dalam menghasilkan, mentranmisi, dan mendistribusikan energi. Selain
itu, perusahaan yang digabung akan mampu menjadi pemimpin supplier sistem proses otomatis,
robotik, lingkungan dan lokomotif yang sangat cepat, dan peralatan pengendalian polusi di
dunia.
Bergerak dibidang teknologi otomatisasi yang berusaha untuk menggantikan tenaga manusia
dengan tenaga yang dihasilkan dari energi untuk mengoperasikan dan mengendalikan operasi
suatu perusahaan. Menunjukan bahwa ABB bergerak dalam industri yang bersifat khusus dan
memerlukan modal juga keahlian yang terspesialis dan kompleks. Apalagi melihat peningkatan
skala industrinya setelah melakukan integrasi, sekitar 65000 karyawan Asea akan bergabung
dengan 85000 karyawan BBC untuk menciptakan sebuah perusahaan yang terdiri dari 850
perusahaan yang terpisah secara hukum yang beroperasi pada 140 negara. Tentunya
membutuhkan kontrol yang tepat (efektif dan efisien) juga berkualitas tinggi.
Keputusan ABB untuk menjadi perusahaan gabungan pun tepat, hasil pendapatan perusahaan
pada operasi gabungan pada tahun pertamanya sebelum pajak sekitar US$ 536 juta dari
penjualan sekitar US$ 17,8 miliar. Selain itu, adanya sambutan yang sangat optimis yang
ditandai dengan peningkatan saham BBC 10% di Zurich dan peningkatan saham Asea 15% di
Stockholm. Perusahaan Asea yang berperan sebagai penyumbang kinerja profit tahun berjalan
yang telah unggul, pengendalian manajemen yang memuaskan, dan pemasaran yang agresif,
sementara BBC membawakan pesanan yang kuat, $ 4 miliar dalam kas ( uang tunai ) dan surat-
surat berharga, dan keahlian teknikal.
Terlihat disini bahwa merger yang terjadi di antara dua industri raksasa ini menjadi saling
melengkapi satu sama lain untuk menjadi yang paling unggul dan memimpin di bidangnya. Hal
ini menempatkan ABB sebagai Pemasok Sistem Automation terbesar dan memimpin diantara 8
Besar dunia setelah proses Konsolidasi: the Big Eight

Bukti di atas juga mengindikasikan strategi yang di gunakan oleh ABB untuk menjadi yang
terdepan, yaitu Strategi Ekspansi yaitu strategi yang menekankan pada penambahan atau
perluasan produk, pasar dan fungsi dalam perusahaan sehingga aktivitas dan pertumbuhan
permintaan perusahaan meningkat. Hal ini terlihat dari upaya-upaya ABB dalam melakukan
akuisisi terhadap perusahaan-perusahaan lainnya seperti :
- Pengakuisisi bisnis turbin uap AEG di jerman
- Perusahaan joint venture reaktor nuklir bersama Siemens
- Penandatanganan perjanjian joint venture dengan Finmeccanica di italia
- Persekutuan untuk mengakuisi BREL pendiri British Rail Engineering Limited
- Bekerja sama dengan Rolls Royce. Secara keseluruhan, Dan lain-lain
ABB mengakuisisi atau melakukan joint venture dengan 40 perusahaan dalam waktu 18 bulan.
Jika di lihat dari jenis perusahaan yang di akuisinya, nampak disini jika ditinjau dari sudut
pandang strategi menurut tingkat levelnya ABB menerapkan stategi bisnis unit dengan
diversifikasi yang berhubungan (Related Diversification) dimana ia cenderung mengakuisis
perusahaan sejenis yang memiliki hubungan didalamnya.
ABB Tidak hanya berhenti dengan 40 perusahaan tersebut. Pada awal 1989, perhatian Barnevik
pemimpin ABB mulai beralih pada pangsa pasar Amerika, bernegosiasi untuk mengakuisisi
bisnis ditribusi daya dan transmisi Westinghouse sama baiknya saat dengan perusahaan publik
Combustion Engineering group. Hasilnya, pada 1990 seiring dengan berhasilnya akuisisi
Westinghouse dan Combustion Engineering, ABB mempekerjakan 215000 karyawan di 1300
anak perusahaan di seluruh dunia dan menghasilkan pendapatan sebesar 27 milyar us dollar.
Sementara itu hal ini juga memicu reaksi dari Industri terkait untuk melalukan pembentukan
ulang dari industri elektrik di Eropa. Hasilnya GEC menjadi perusahaan power equipment nomor
dua di Eropa dibelakang ABB, dan perusahaan Jerman Siemens turun ke posisi ketiga.
Melihat bahwa bukan hanya ABB yang melakukan strategi ekspansi melalui jalan akuisisi,
misalnya saja ada GEC dengan membentuk joint venture dengan perusahaan Prancis Alsthom-
Jeumont, siemen yang melakukan penandatanganan kontrak kerja sama untuk memperluas
jaringan telegraf dan teleprinte dengan The Indonesian Postal Administration. Maka berikut
analisa kelompok kami mengenai keunggulan kompetitif yang menyebabkan ABB mampu
menjadi yang terdepan dibandingkan pesaiang-pesaingnya adalah :
Menjadi Pionir dalam mengimplementasikan Strategi
ABB mampu melakukan ekspansi yang perkembangannya lebih cepat dan menjadi pemicu bagi
para kompetitor lainnya seperti GEC dan Siemen. Seperti yang kita tahu pada umumnya pionir
dari suatu produk biasanya akan menjadi yang paling dikenal.

Memanfaatkan keuntungan berkekspansi
ABB mampu melihat adanya keuntungan lain yang mendorong ABB menjadi yang terdepan
setelah berekspansi di berbagai Negara. Kesempatan yang memungkinkan ABB untuk melihat
peluang akan perkembangan teknologi yang berbeda-beda di setiap Negara. Misalnya saja ketika
suatu produk yang sudah ditinggalkan oleh Negara maju dapat menjadi produk baru yang dijual
dinegara berkembang yang perkembangan teknologinya lebih lambat. Hal ini membuat usia
suatu produk menjadi lebih panjang dibandingkan jika hanya dijual di satu Negara saja.

Memiliki pemimpin yang mendorong pencapaian kesuksesan
Implementasi strategi yang mencapai kesuksesan ini tentu tidak akan tercapai tanpa adanya
seorang pemimpin yang kompeten dan credible yaitu Percy Barnevick. Berikut profile
Barnevick.
Percy Barnevik : Pemimpin Baru ABB
Percy Barnevik, yang telah belajar mengenai kerja keras dan kerja tim dari ayahnya,
mendapatkan gelar ekonominya di Gothenburg School of Economics, dan melanjutkannya di
Stanford University. Dia memiliki banyak pengalaman kerja dan karakteristik kepemimpinan
yang baik (etika yang kuat, komunikasi yang baik, tegas).
Kepemimpinan di ABB
Barnevik mampu menanamkan nilai- nilai kedalam organisasinya, memperhatikan detail-detail
kecil dan mencari tahu masalah-masalah yang ada. Dia percaya bahwa komunikasi dalam
organisasi adalah hal penting.
Barnevik mengharapkan para manajernya untuk mengambil keputusan secara cepat. Dengan
Filosofinya tidak ada yang lebih buruk dari penundaan. Dia juga menekankan pentingnya
pengambilan inisiatif dan keputusan meskipun salah dari pada tidak melakukan apapun. Dalam
timnya, analisis yang buruk atau pengetahuan yang dangkal tidak dapat diterima
Terlihat disini Barnevik berperan sebagai Controller di perusahaan ABB, dia banyak melakukan
desain dalam sistem ABB juga menerangkan peran laporan sebagai alat evaluasi kinerja dengan
menetapkan adanya profit center di setiap wilayah. Sebagai seorang controller Barnevik
menyadari arti penting dari suatu strategi dan upaya menerapkannya.
Kemampuan membentuk perusahaan baru dengan baik dan terstruktur dengan cepat
Keputusan intergrasi yang diambilnya ABB selain menjadi tantangan juga menimbulkan resiko
seperti kemungkinan kegagalan integrasi yang dapat menimbulkan kerugian besar. Dalam waktu
4,5 bulan ABB mengambil langkah cepat, tidak hanya melakukan merger dan menjaga
penjualannya namun dia juga mengelompokkan manajer-manajer ke dalam segmen bisnis yang
terpusat pada satu sisi dan terintegrasi ke dalam sebuah basis nasional melalui kepemilikan
perusahaan lokal pada sisi lain.(EXHIBIT 3 dan 6 mengenai Matrix Organisasi)
Pengelolaan kinerja organisasi dengan baik
Setelah stategi bisnis telah dibuat, seorang manajer harus menentukan bagaimana dia
mengorganisir orang-orang dan sumber daya yang ada agar berkinerja baik untuk mencapai
strategi tersebut. Mampu membangun benteng yang kuat namun tidak mampu merawatnya tentu
akan mudah mengalami keruntuhan.
Sebelum terjun langsung kedalam sistem, ABB melakukan penanaman nilai-nilai didalam
organisasinya. Barnevik membentuk program utama untuk menyampaikan arah ABB dan
prioritasnya. Menjelaskan filosofi manajemennya juga menekankan pentingnya "Buku Kebijakan
( policy bible )". Kemudian meminta 300 manajer untuk menerjemahkanya ke dalam bahasa
lokal mereka dan mengadakan forum interaktif yang sama dalam organisasi mereka sendiri agar
menjangkau 30000 orang-orang ABB yang lain di seluruh dunia dalam 60 hari.
Pengoperasian perusahaan yang efektif
Berhasil menyatukan dua perusahaan besar dengan adanya pemimpin yang memadai, berhasil
menanamkan nilai-nilai dalam organisasi, kini ABB memikirkan bagaimana untuk mampu terus
mempertahankan posisinya sebagai yang teratas. Pada awal 1989, 18 bulan setelah merger
diumumkan, Barnevik mengalihkan fokusnya dari yang semula membentuk perusahaan baru ke
bagaimana menjalankan perusahaan itu dengan efektif.
Prinsip dasar organisasi
Dua hal yang menjadi dasar dalam organisasi yaitu Tanggung jawab yang terdesentralisasi dan
Akuntabilitas individual.
Tanggung jawab yang didesentralisasikan
Barnevik menjelaskan bahwa satu-satunya cara untuk membangun sebuah organisasi yang
global,kompleks adalah dengan membuatnya sesederhana mungkin, sehingga ABB
menerapkan sistem desentralisasi dimana seorang manajer mempunyai span of attention yang
luas. Desentralisasi ini sendiri akan efektif jika suatu perusahaan memiliki banyak
permintaan dan tanggap dalam merespon perubahaan di pasar. ABB sebagai perusahaan yang
berhubungan dengan dunia teknologi tentunya harus mampu tanggap dalam memantau
perkembangan teknologi yang berlangsung bukan hanya secara lokal tapi juga dunia.
Masyarakat di setiap Negara tentu memiliki selera dan tingkat penguasaan teknologi yang
berbeda-beda, sehingga dengan sistem desentralisasi ini proses memantau pasar akan
menjadi lebih sederhana daripada menggunakan sistem sentralisasi. Tetap meski menerapkan
sistem desentralisasi, untuk masalah pelaporan sistem sentralisasi lah yang diterapkan oleh
ABB, langkah ini diambil tentunya untuk memastikan setiap keputusan yang diambil di
setiap region telah tepat dan sesuai.
Konsep desentralisasi ini sendiri sebagai wujud dari span of attention yang merupakan tujuan
utama dari tiga mekanisme yang dijalankan dalam perusahaan. Yaitu :
1. Unit kerja
2. Span of control
3. Span of accountability
Berikut analisa kami untuk setiap mekanisme ini sehingga membentuk sistem desentralisasi:
o Unit Kerja
Unit kerja adalah sekumpulan orang yang menggunakan sumber daya perusahaan dan
bertanggung jawab atas suatu kinerja. Dalam unit kerja ini setiap individual dikelompokkan
untuk bekerja berdasarkan tugas tertentu (spesifik). Tujuannya adalah menghasilkan suatu
output / produk dengan jumlah standar tertentu yang telah ditetapkan oleh manajemen yang
disebut sebagai Tanggung Jawab (Accountability). Tanggung jawab ini akan dituangkan
dalam suatu grafik yang disebut dengan Grafik Organisasi (Organization Chart).
Menurut analisa kelompok kami dasar tanggung jawabnya di ABB adalah berdasarkan Pasar
dengan dua bidang spesifik yaitu Region dan Lini Produk. Sementara untuk hubungan dalam
struktur organisasinya ABB menerapkan Struktur Matrix. Karena terlihat dalam EXHIBIT 3,
4,5 dan penjelasan Josef Durr mengenai sistem pelaporan ABB dimana digambarkan bahwa
setiap manajer diharuskan melapor kepada dua manajer, yaitu manajer yang bertanggung
jawab atas regionalnya dan manajer yang bertanggung jawab atas lini produk yang dijual.
o Span of control
Mengenai Span of control yang menunjukan berapa banyak, siapa saja dan bagaiamanaa fungsi
pelaporannya, menurut kelompok kami ABB dikategorikan sebagai perusahaan dengan Span of
Control yang luas. Karena terlihat pada EXHIBIT 1, ABB memiliki wilayah yang luas dalam
pemasaran produknya, ABB juga 65 Bisnis Area dengan total 1300 Perusahaan yang terlihat
pada EXHIBIT 2. Dengan skala perusahaan sebesar ini tentu rentan kendalinya akan sangat luas.
o Span of Accountability
Menurut diskusi kami, ABB juga memiliki Span of Accountability yang luas. Karena terlihat
ketika Goran Linhald menjelaskan mengenai usaha transmisi energi sebagai bagian dari
perusahaan ABB, dimana terdapat 750 profit center yang berbeda dengan setiap profit center
rata-rata mengasilkan $7 juta peenjualan dengan total 45 orang didalamnya.
Akuntabilitas secara Individual
ABB membuat entitas legal yang terpisah. ABB beroperasi di kurang lebih 1200 perusahaan
dengan jumlah karyawan rata-rata 200 karyawan. Dan tiap perusahaan dibagi menjadi 4500
pusat profit dengan jumlah karyawan kurang lebih 50 orang.
Memiliki Struktur organisasi matrix dan sistem ABACUS
Bernevik melihat bahwa ABB memiliki tiga kontradiksi internal.
1. Mereka ingin mendunia sekaligus menjangkau daerah,
2. Menjadi besar tapi juga kecil,
3. desentralisasi radikal dengan kendali dan pelaporan yang sentralisasi.
Menghadapi kontradiksi tersebut, matriks inilah yang menjadi framework dalam mengorganisir
aktivitas. Matriks tersebut memungkinkan mereka untuk mengoptimalkan bisnis mereka secara
global dan memaksimalkan kinerja setiap negara dimana mereka beroperasi.(EXHIBIT 2 dan 3
menunjukkan kerangka bagan dari struktur matriks yang digunakan di ABB). Prakteknya para
manajer perusahaan melapor pada manajer regional yang bertanggung jawab atas seluruh
perusahaan di negara tertentu dan juga melapor pada salah satu dari sebelas wakil direktur yang
bertanggung jawab atas segmen bisnis individu. Terlihat disini terdapat pelaporan silang seperti
sifat struktur matriks. Meskipun terlihat rumit namun matrix ini mendukung strategi perusahaan
dan pencapaian tujuan organisasi.
The ABACUS System
Sistem pelaporan yang terkomputerisasi bernama ABACUS menyediakan informasi yang
terupdate yang dibutuhkan dalam pengawasan dan pengambilan keputusan yang kompleks.
Cara kerjanya, setiap bulan ABACUS mengumpulkandata kinerja di 4500 profit center dan
membandingkannya dengan budget dan forecasts. Data yang dikumpulkan dalam mata uang
lokal namun di konversi ke U.S Dollars agar memudahkan proses analisis. Sistem ini juga
memungkinkan ABB untuk mengolahnya sedemikian rupa. ABB bisa menjumlahkan atau
memisahkan hasil berdasarkan segmen bisnis, negaa, dan perusahaan-perusahaan yang ada
didalam suatu Negara.

Sistem Kontrol
Mengenai sistem control yang diterapkan oleh ABB sebenarnya sudah dijelaskan secara tidak
langsung pada keunggulan kompetitif diatas, secara ringkas sebagai berikut :
Struktur organisasi matriks
Buku kebijakan yang mengarahkan tujuan dan prioritas perusahaan
(Buku Kebijakan policy bible-buku kecil dengan 21 halaman yang menggambarkan
hubungan organisasional yang baru)
Controller yang memadai (Percy Barnevik)
Mampu membangun ABB sebagai perusahaan baru, merancang strategi juga
pengimplementasian yang berujung kesuksesan bagi ABB
Sistem dasar perusahaan (Desentralisasi dan Akuntabilitas)
ABACUS system

Kesimpulan
Asea brown Boveri (ABB) sebagai suatu perusahaan hasil merger dari dua industri raksasa
peralatan elektronik di eropa yaitu Asea AB of Sweden dan BBC Brown boveri. Melihat skala
dan bidang usahanya yang besar tentunya ABB memerlukan strategi usaha yang tepat yaitu
Strategi Ekspansi. Melalui berbagai keunggulan kompetitif dan struktur organisasi yang baik
ABB mampu menjadi pemimpin dibidang teknologi otomatisasi dan mengimplementasikan
strateginya dengan efektif dan efisien. Selain itu kesuksesan ABB juga didukung dengan adanya
berbagai sistem control yang memadai agar tidak hanya pembentukannya yang sukses tetapi juga
pengimplementasian dan operasi perusahaannya.