Anda di halaman 1dari 29

KOMPLIKASI DAN PENYULIT KEHAMILAN TRIMESTER III

HIPERTENSI DALAM KEHAMILAN


Prinsip Dasar

Masalah
Wanita hamil atau baru melahirkan mengeluh nyeri kepala hebat atau penglihatan
kabur
Wanita hamil atau baru melahirkan menderita kejang atau tidak sadar/koma
Penanganan Umum
Segera rawat
Lakukan penilaian klinik terhadap keadaan umum sambil mencari riwayat penyakit
sekarang dan terdahulu dari pasien atau keluarganya.
Jika pasien tidak bernafas :
Bebaskan jalan nafas
Beri O2 dengan masker
Intubasi dengan masker
Jika pasien tidak sadar/koma :
Bebaskan jalan nafas
Baringkan pada satu sisi
Ukur suhu
Periksa apakah ada kaku tengkuk.
Jika pasien syok :
Lihat penanganan syok
Jika pasien perdarahan
Lihat penanganan perdarahan
Jika pasien kejang
Baringkan pada satu sisi, tempat tidur arah kepala ditinggikan sedikit untuk
mengurangi kemungkinan aspirasi sekret, muntahan atau darah.
Bebaskan jalan nafas.
Pasang spatel lidah untuk menghindari tergigitnya lidah.
Fiksasi, untuk menghindari jatuhnya pasien dari tempat tidur.
Penilaian Klinik
Gejala /
tanda lain
Migrane
Malaria serebral
meningitis
ensefalitis
-Nyeri kepala dan /atau
-Gangguan penglihatan
dan /atau
-Hiperefleksia, dan /atau
-Proteinuria dan atau
-Koma

Normal
Superimposed
Pre eclampsia
Meningkat
( TD 140/90 )
Hamil < 20
minggu
Hipertensi
kronik
Hipertensi Pre eklamasi
ringan
Eklamasi Pre eklamasi
berat
Kejang (-)
Kejang (+)
Hamil>20 minggu
Tetanus
Epilepsi
-Kejang
-Riwayat kejang
-Demam (-)
-Kakau kuduk (-)

Gejala / tanda lain
-demam
-Nyeri
-disorienta
-kaku
kuduk(+)
-Trismus
-spasme
-otot muka
-Nyeri kepala
-Gangguan penglihatan
-Muntah
-Riwayat gejala serpupa
Penilaian klinik
Gejala dan Tanda
Tekanan darah diastolik merupakan indikator dalam penanganan hipertensi dalam kehamilan,
oleh karena tekanan diastolik mengukur tahanan perifer dan tidak tergantung keadaan emosional
pasien.
Diagnosa hipertensi dibuat jika tekanan darah diastolik 90 mmHg pada 2 pengukuran berjarak
1 jam atau lebih.
Hipertensi dalam kehamilan dapat dibagi dalam :
Hipertensi karena kehamilan, jika hipertensi terjadi pertama kali sesudah kehamilan 20 minggu,
selama persalinan dan/atau dalam 48 jam pasca persalinan.
Hipertensi kronik jika hipertensi terjadi sebelum kehamilan 20 minggu
Klasifikasi Hipertensi dalam Kehamilan

Diagnosis

Tekanan darah
Tanda lain
Hipertensi karena
kehamilan
Hipertensi
Preeklampsi ringan
Presklampsi berat
Eklampsia
Kenaikan tekanan diastolik 15 mmHg atau > 90
mmHg dalam 2 pengukuran berjarak 1 jam atau
tekanan diastolk sampai > 1002
Idem
Tekanan diastolik >< 110 mmHg
Kejanag
Proteinuia (-)
Kehamilan > 20 minggu
Proteinuia 1+
Proteinuia 2 +
Oliguria
Hiperrefleksia
Gangguan penglihatan
Nyeri episgastrum
kejang
Hipertensi kronik
Hipertensi kronik
Superimposed pre-eclampsia
Hipertensi
Hipertensi kronik
Kehamilan < 20 minggu
Proteinuria + tanda lain dari
prekelampsia
A. Hipertensi Karena Kehamilan
Lebih sering pada primigravida, patologi telah terjadi akibat implantasi sehingga timbul iskemia
placenta yang diikuti sindrom inflamasi.
Resiko meningkat pada :
Masa placenta besar (pada gamelli, penyakit tropoblas).
Diabetes mellitus
150 imunisasi rhesus
Faktor heriditer
Masalah vaskuler
Hipertensi karena kehamilan
Hipertensi essensial
Pre eklampsia ringan.
Pre eklampsia berat
Eklamsia

B. Hipertensi Essensial
Etiologi

Faktor Heriditer atau faktor lingkungan dan emosi yang labil, yang banyak dijumpai adalah hipertensi essensial
jinak dengan tekanan darah antara 140/90 mmHg sampai 160/100 mmHg. Dalam waktu panjang barulah
memberikan gejala pada alat-alat vital seperti jantung, kelainan ginjal, arteriosklerosis atau terjadi serangan
perdarahan mendadak.

Kehamilan dengan hipertensi essensial dapat berlangsung sampai aterm tanpa gejala menjadi pre eklamsi
tidak murni, hanya sekitar 20% dapat menjadi pre eklamsi tidak murni (superimposed) yang disertai dengan
gejala proteinuri, penglihatan kabur dan mual serta muntah.
Proteinuria berarti kosentrasi dalam air kencing yang melebihi 0,39/hari dalam air kencing 24 jam atau
pemeriksaan kualitatif menunjukkan 1 atau 24 atau 1 gram/liter atau lebih dalam air kencing ygg dikeluarkan
dengan kateter atau midstream yang diambil minimal 2 kali dengan jarak 6 jam.
Pre Eklamsia di bagi menjadi 2 yaitu : berat dan ringan
1. Pre Eklamsia ringan.
a. Gejala-gejalanya antara lain :
b. TD sistolik 140 mmHg atau lebih.
c. TD diastolik 90 mmHg atau lebih.
2. Pre Eklamsia Berat
a. TD sistolik 160 mmHg.
b. TD diastolik 110 mmHg.
c. Peningkatan kadar enzim hati/ikterus.
d. Trombosit < 100.000/mm3
e. Oliguria < 400 m / 24 jam.
f. Proteinuria > 3 gram/liter.
g. Nyeri epigastrum
h. Skotoma dan gangguan virus lain atau nyeri frontal yang berat.
i. Perdarahan retina.
j. Edema pulmonun
k. Koma.

Gambaran Klinik
Biasanya tanda-tanda pre eklamsia timbul dalam urutan : pertumbuhan BB yang berlebihan, diikuti edem,
hipertensi dan akhirnya proteinuri pada pre eklamsia ringan tidak ditemukan gejala-gejala subjektif.

Pada Pre Eklamsia berat didapatkan sakit kepala didaerah frontal, skotoma, diploid, penglihatan kabur, nyeri
di daerah epigastrum, mula atau muntah-muntah.
Diagnosis
Diagnosis pre eklamsia didasarkan atas 2 dari trias tanda-tanda utama hipertensi, edem, proteinuria.
Diagnosis diferansial antara antara pre eklamsia dengan hipertensi menahun adanya tekanan daerah yang
meninggi sebelum hamil, pada kehamilan muda, atau 6 bulan post partum akan sangat berguna untuk
membuat diagnosis.

Pemeriksaan fundus kopi juga berguna karena perdararahan dan eksudat jarang ditemukan pada pre eklamsi,
kelainan tersebut biasanya menunjukkan hipertensi menahu. Untuk diagnosis penyakit ginjal saat timbulnya
proteinuria banyak menolong ; proteinuria pada pre eklamsia jarang timbul sebelum triwulan ke III sedang
pada penyakit ginjal timbul lebih dahulu.

Tes fungsi ginjal juga banyak berguna, pada umumnya fungsi ginjal normal pada pre eklmasia ringan.
Uji Diagnostik Pre eklamsia.
1. Uji diagnostik dasar
a. pengukuran TD
b. Analisis protein dalam urien
c. Pemeriksaan edema
d. Pengukuran TFU
e. Pengukuran funduskopik
2. Uji Laboratorium dasar
1. Avaluasi hematologik (hematokrit, jumlah trombosit, morfologi eritrosit pada sediaan apus darah tepi).
2. Pemeriksaan fungsi hati (bilirubin, protein serum, aspartat aminotransferase, dan sebagainya).
3. Pemeriksaan fungsi ginjal.
3. Uji untuk meramalkan hipertensi.
a. Roll-over test
b. Pemberian infus angiotensin II
Pencegahan

Pemeriksaan antenatal yang terukur dan teliti dapat menemukan tanda-tanda dini preeklamsia, dan dalam hal
ini harus dilakukan penanganan semestinya. Kita perlu lebih waspada akan timbulnya pre eklamsi dengan
adanya faktor predisposisi penerangan tentang manfaat istirahat dan diit berguna dalam pencegahan, istirahat
tidak selalu berarti berbaring ditempat tidur, namun pekerjaan sehari-hari perlu dikurangi dan dianjurkan lebih
banyak duduk dan berbaring. Diit tinggi protein, rendah lemak, karbohidrat, garam dan penambahan BB yang
tidak berlebihan perlu dianjurkan.

Mengenal secara dini pre eklamsi dan segera merawat penderita tanpa memberikan deuretika dan obat anti
hipertensif, memang merupakan kemajuan yang penting dari pemeriksaan antenatal yang baik.

Penanganan

Pengobatan hanya dapat dilakukan secara simtomatis karena etiologi pre eklamsia dan faktor-faktornya belum
diketahui . Tujuan utama penanganan :
1. Mencegah terjadi pre eklamsia berat dan eklamsia.
2. Melahirkan janin hidup
3. Melahirkan janin dengan trauma sekecil-kecilnya.
Pada umumnya indikasi untuk merawat penderita pre eklamsia di RS ialah :
1. TD sistolik 140 mmHg atau lebih, atau TD diastolik 90 mmHg atau lebih.
2. Protein urin +1 atau lebih.
3. Kenaikan BB 1,5 kg atau lebih dalam seminggu yang berulang.
4. Penambahan edem berlebih secara tiba-tiba.

Apabila hanya 1 tanda ditemukan perawatan belum seberapa mendesak, akan tetapi pengawasan
ditingkatkan dan kepada yang bersangkutan diajurkan untuk segera datang jika ada keluhan dan banyak
istirahat dan mengurani pemakaian garam dalam makanan.
Penilaian kondisi janin pada pre eklamsia.

1. Penilaian pertumbuhan janin.
a. Pemantauan pertumbuhan tinggi fundus uteri
b. Pemeriksaan ultrasonografi

2. Penilaian ancaman gawat janin
a. Pemantauan gerak janin
b. Non stress test dan contarction stress test
c. Profil biofisik janin :
d. Reaksi denyut jantung janin terhadap gerakan janin.
e. Volume cairan ketuban
f. Gerakan janin
g. Gerakan pernafasan janin
h. Tonus janin
i. Pemeriksaan surfaktan dalam cairan ketuban
j. Pemeriksaan perfusi plasenta

Pada penderita yang dirawat di Rumah Sakit dilakukan pemeriksaan dan penilaian sebagai berikut :

1. Anamnesis, pemeriksaan umum, pemeriksaan obstetrik, dan pemeriksaan laboratorium rutin.
2. Tekanan darah, air kencing, berat badan diperiksa setiap hari dan edema dicari, terutama pada daerah sakral.
3. Balan cairan ditentukan setiap hari.
4. Funduskopi dilakukan pada waktu penderita masuk rumah sakit dan kemudian tiap 3 hari.
5. Keadaan janin diperiksa tiap hari dan besarnya dinilai, dapat ditemukan janin tidak tumbuh secara semestinya,
penaksiran maturnitas janin dalam hal ini dilakukan dengan cara lain.
6. Penentuan hematokrit dilakukan berulang-ulang.
7. Penderita diingatkan untuk segera memberitahukan apabila sakit kepala merasa mual, merasa nyeri di daerah
epigastrum, atau menderita gangguan dm penglihatan.
Pengobatan pre eklamsia yang tepat adalah pengakhiran kehamilan karena tindakan tersebut menghilangkan sebabnya
dan mencegah terjadinya eklamsia dengan bayi yang masih prematur, penundaan pengakhiran kehamilan mungkin dapat
menyebabkan eklamsia atau kematian janin. Pada janin dengan berat bedan rendahpun kemungkinan hidup pada pere
eklamsia berat, lebih baik diluar dari pada di dalam uterus.

Cara pengakhiran dapat dilakukan dengan induksi persainan atau seksio cesaria menurut keadaan. Pada umumnya
indikasi untuk pengakhiran kehamilan ialah :

a. Pre eklamsia ringan dengan kehamian lebih dari cukup bulan.
b. Pre eklamsia dengan hipertensi dan atau proteinuria menetap.
c. Pre eklamsia berat
d. Eklamsia.
Eklamsia

Berasal dari bahasa Yunani yang berarti halilintar, karena gejala eklamsia timbul dengan tiba-tiba. Pada
wanita yang menderita eklamsia timbul serangan kejang yang diikuti dengan koma, tergantung dari saat
timbulnya eklamsia dibedakan eklamsia gravidarum, eklamsia parturientum, dan eklamsia peurpurale.

Dengan mengetahui bahwa biasanya eklamsia didahului oleh pre eklamsia, tampak pentingnya
pengawasan antenatal yang teliti dan teratur, sebagai usaha untuk mencegah timbulnya penyakit itu.
Tanda dan Gejala
Kejang
Didahului dengan makin buruknya pre eklamsia
Nyeri kepala didaerah frontal.
Gangguan penglihatan
Mual, nyeri epigastrum dan hiperfleksia.
Konvulsi dibagi menjadi empat yaitu :

1. Tingkat awal atau Aura
2. Berlangsung kira-kira 30 detik, mata terbuka tanpa melihat, kelopak mata bergetar demikian pula
tangannya dan kepala diputar kekanan dan kekiri.
3. Tingkat kejangan tonik yang berlangsung lebih kurang 30 menit.
4. Seluruh otot menjadi kaku, wajahnya terlihak kaku, tangan menggenggam dan kaki membengkok ke dalam,
pernafasan berhenti, muka mulai menjadi sianotik, lidah dapat tergigit
5. Tingkat kejangan klonik.
6. Berlangsung antara 1 2 menit, spasmus tonik menghilang, seluruh otot berkontraksi dan berulang-ulang
dalam tempo yang cepat, mulut membuka dan menutup dan lidah dapat tergigit, bola mata menonjol, dari
mulut keluar air ludah yang berbusa, maka kongesti dan sianosis, penderita menjadi tidak sadar. Kejang
klonik ini dapat sedemikian hebatnya sehingga penderita dapat terjatuh dari tempat tidurnya, akhirnya
kejangan terhenti dan penderita menarik nafas secara mendengkur.
7. Sekarang ia masuk ketingkat koma, lamanya ketidaksabaran tidak selalu sama. Secara perlahan-lahan
penderita menjadi sadar lagi, akan tetapi dapat terjadi pula bahwa sebelum itu timbul serangan baru dan
yang berulang sehingga ia masih tetap dalam koma.
8. Selama serangan TD tinggi, nadi cepat, suhu meningkat sampai 40 0C, sebagai akibat serangan dapat
terjadi komplikasi komplikasi seperti :

1. Lidah tergigit, perlukaan dan fraktura.
2. Gangguan pernafasan
3. Solusia plasenta
4. Perdarahan otak.
Diagnosis
Umumnya tidak mengalami kesulitan. Dengan adanya tanda-tanda dan gejala pre eklamsi yang disusul oleh serangan
kejangan, maka diagnosa eklamsia tidak diragukan.
Eklamsia harus dibedakan menjadi :
1. Epilepsi
2. Kejang karena obat anastesi
3. Koma karena sebab lain seperti DM, perdarahan otak, meningitis dan ensefalitis.
Komplikasi
Komplikasi yang terberat adalah kematian ibu dan janin.
1. Solusio plasenta
2. Biasanya terjadi pada ibu yang menderita hipertensi akut dan lebih sering terjadi pada pre eklamsia. Di RS Cipto
Mangunkusumo 15,5% solusio plasenta diikuti pre eklamsia.
3. Hipofibrinogenemia
4. Pada pre eklamsia berat Zuspen (1978) menemukan 23% hiperfibronogenemia maka penulis menganjurkan
pemeriksaan kadar fibrinogen.
5. Hemolisis
6. Penderita dengan pre eklamsia berat kadang-kadang menunjukkan gejala klinik hemolisis yang dikenal karena
ikterus. Belum diketahui dengan pasti apakah ini merupakan kerusakan sel-sel hati atau destruksi sel darah
merah. Nekrosisi periportal hati yang sering ditemukan pada autopsi penderita iklamsia dapat menerangkan
ikterus tersebut.
1. Perdarahan otak
2. Merupakan penyebab utama kematian maternal penderita eklamsia.
3. Kelainan mata
4. Kehilangan penglihatan untuk sementara, yang berlangsung selama seminggu dapat terjadi. Perdarahan
kadang-kadang terjadi pada retina, merupakan tanda gawat akan terjadinya apopleksia serebri.
5. Volume paru-paru.
6. Zuspen (1978) menemukanhanya satu penderita dari 69 kasus eklamsia, hal ini disebabkan karena payah
jantung.
7. Nekrosis
8. Nekrosis periportal hari pada pre eklamsia eklamsia merupakan akibat vasopasmus arteriol umum.
9. Sindrom HELLP yaitu haemolisis , elevated lever enzyme, dan low plateet
10. Kelainan ginjal yaitu kelainan yang berupa endoteliosis glomerolus yaitu pembengkakan sitoplasma sel
endotelial tubulus ginjal tanpa kelainan struktur lainnya.
11. Komplikasi lain, lidah tergigit, trauma dan fraktura karean jatuh akibat kejang-kejang, pneumonia aspirasi dan
DIC.
12. Prematuritas, dismaturitas dan kematian janin intra uterin.
Prognosis

Eklamsia di Indonesia masih merupakan penyakit pada kehamilan yang meminta korban besar dari ibu dan bayi.
Kematian ibu berkisar antara 9,8% - 25,8%, sedangkan kematian bayi lebih tinggi lagi yakni 42,2% - 48,9%.

Tingginya kematian ibu dan anak di negara-negara yang kurang maju dikarenakan oleh kurang sempurnanya
pengawasan antenatal dan natal, penderita eklamsia sering terlambat mendapat pengobatan yang tepat. Kematian ibu
disebabkan oleh perdarahan otak, dekompensasi kordis dengan edem paru-paru, payah ginjal, dan
masuknya isi lambung ke dalam jalan pernafasan waktu kejang, sebab kematian bayi terutama oleh hipoksia intrauterin dan prematuritas.
Pencegahan
Usaha untuk menurunkan frekuensi Eklamsia terdiri atas :
1. Meningkatkan jumlah balai pemeriksaan antenatal dan mengusahakan agar semua wanita hamil memeriksakan diri
sejak hamil muda.
2. Mencari pada tiap pemeriksaan tanda-tanda pre eklamsia dan mengobatinya segera apabila ditemukan .
3. Mengakhiri kehamilan sedapat mungkin pada kehamilan 37 minggu ke atas apabila setelah dirawat tanda-tanda pre
eklamsia tidak juga dapat dihilangkan.
Penanganan

Hipertensi karena kehamilan tanpa proteinuria
Jika kehamilan < 37 minggu, tangani secara rawat jalan
1. Pantau TD, proteinuria dam kondisi janin setiap minggu.
2. Jika TD meningkat, tangani sebagai pre eklamsia
3. Jika kondisi janin memburuk, atau terjadi pertumbuhan janin terlambat, rawat dan pertimbangkan terminasi kehamilan.
Pre Eklamsia Ringan
Jika kehamilan < 37 minggu dan tidak ada tanda-tanda perbaikan, lakukan penilaian 2 kali seminggu secara rawat jaan :
1. pantau TD, proteinuria, refleks dan kondisi janin.
2. Lebih banyak istirahat
3. Diet biasa
4. Tidak perlu diberi obat-obatan
5. Jika rawat jalan tidak mungkin, rawat di Rumah Sakit :
Diit biasa
Pantau TD 2 x sehari, proteinuria 1 x sehari
Tidak perlu pengobatan
Tidak perlu diuretik, kecuali jika terdapat edem paru, dekompensasi kordis atau gagal ginjal akut.
Jika tekanan diastolik turun sampai normal pasien dapat dipulangkan :
Nasehatkan untuk istirahat dan perhatikan tanda-tanda pre eklamsia berat
Kontrol 2 x seminggu
Jika TD diastolik naik lagi, rawat kembali.
Jika tidak ada tanda-tanda perbaikan, rawat kembali.
Jika terdapat tanda-tanda pertumbuhan janin terhambat, pertimbangkan terminasi kehamilan.
Jika proteinuria meningkat tangani sebagai pre eklamsia berat.
Jika kehamilan > 37 minggu, pertimbangkan terminasi :
Jika serviks matang, lakukan induksi dengan oksitosin 5 IU dalam 500 ml dektrose IV 10 tetes/menit atau dengan prostoglandin.
Jika serviks belum matang, berikan protaglandin, misoprostol atau kateter foley atau terminasi dengan SC.
Pre Eklamsi Berat
Penanganan pre eklamsi berat dan eklamsia sama, kecuali bahwa persalinan harus berlangsung dalam 12 jam setelah timbulnya
kejang pada Eklamsia.

Penanganan Kejang
Beri obat anti konvulsan
Perlengkapan untuk penangankejang (jalan nafas, sedotan, masker oksigen, oksigen)
Lindungi pasien dari kemungkinan trauma
Aspirasi mulut tenggorokan
Baringkan pasien pada sisi kiri, posisi trendenlenburg untuk mengurangi resiko aspirasi
Beri O2 4-6 liter/menit
Penanganan Umum
Jika tekanan diastolik > 110 mmHg, berikan antihipertensi sampai tekanan diastolik antara 90-100 mmHg.
Pasang infus RL dengan jarum besar (16 gauge atau >)
Ukur keseimbangan cairan, jangan sampai terjadi overload
Kateterisasi urin untuk pengeluaran volume dan proteinuria.
Jika jumlah urin < 30 ml/jam
Infus cairan dipertahankan 11/8 jam
Pantau kemungkinan edem paru
Jangan tinggalkan pasien sendirian, kejang disertai aspirasi dapat mengakibatkan kematian ibu dan janin.
Observasi tanda-tanda vital, refleks dan denyut janin setiap jam.
Auskutasi paru untuk mencari tanda-tanda edem paru.
Krepitasi merupakan tanda edem paru, jika ada edem paru, stop pemberian cairan dan berikan deuretik misalnya furesemida 40 mg IU
Nilai pembekuan darah dengan uji pembekuan bed side. Jika pembekuan tidak terjadi sesudah 7 menit, kemungkinan terdapat koagulapati
Antikonvulsan
MgSO4 merupakan obat pilihan untuk mencegah dan mengatasi kejang pada pre Eklamsia. Aternatif lain adalah
diazepam dengan resiko terjadinya depresi neonatal.

MgSO4 untuk Pre Eklamsia dan Eklamsia
Dosis awal
MgSO4 sebagai larutan 20% selama 5 menit
Diikuti dengan MgSO4 (50%) 5 gr IM dengan 1 ml lignokain 2% (dalam semprit yang sama)
Pasien akan merasa agak panas sewaktu pemberian MgSO4

Dosis Pemeliharaan
MgSO4 (50%) 5 g + lignokain 2% 1 ml IM setiap 4 jam.
Lanjutkan sampai 24 jam pasca persalinan atau kejang terakhir.
Dapat pula diberikan melalui kateter urin yang dimasukkan kedalam rektum
Sebelum pemberian MgSO4 , periksa :
Frekuensi pernafasan minimal 16/menit
Reflek Patella (+)
Urin minimal 30 ml/jam dalam 24 jam terakhir
Stop pemberian MgSO4 jika :
Frekuensi pernafasan minimal < 16/menit
Reflek Patella (-)
Urin < 30 ml/jam
Siapkan antidotum
Jika terjadi henti nafas :
Bantu dengan fentilator
Beri kalsium glukonat 2 9 (20 ml dalam larutan 10%) IV, perlahan-lahan sampai pernafasan mulai lahi.
Pemberian Diazepam pada Pre Eklamsia dan Eklamsia
Pemberian intra vena
Dosis awal
Diazepam 10 mg IV pelan-pean selama 2 menit
Jika kejang berulang ulangi dosis
Dosis Pemeliharaan
Diazepam 40 mg dalam 500 ml larutan RL perinfus.
Depresi pernafasan ibu mungkin akan terjadi jika dosis > 30 mg/jam
Jangan berikan > 100 mg/24 jam
Pemberian melalui rektum :
Jika pemberian IV tidak mungkin, diazepam dapat diberikan per rektal dengan dosis awal 20 mg dalam semprit 10 ml.
Jika masih terjadi kejang, beri tambahan 10 mg/jam.
Dapat pula diberikan melalui kateter urin yang dimasukkan kedalam rektum
Anti Hipertensi
Obat pilihan adalah hidralazin, yang diberikan 5 mg IU pelan-pelan selama 5 menit sampai tekanan darah turun.
Jika perlu pemberian hidralazin dapat diulang setiap jam, atau 12,5 mg IM setiap 2 jam.
Jika hidralazin tidak tersedia, dapat diberikan :
Nifedifin 5 mg sublingual, jika respon tidak baik setelah 10 menit beri tambahan 5 mg submarginal.
Labetolol 10 mg IV, yang jika respon tidak baik setelah 10 menit, berikan lagi labetolol 20 mg IV
Persalinan
Pada pre eklamsi berat, persalinan harus terjadi dalam 24 jam sedang eklamsia dalam 12 jam sejak gejala eklamsia timbul
Jika terdapat gawat janin , atau persalinan tidak dapat terjadi dalam 12 jam pad eklamsia ,lakukan SC.
Jika SC akan dilakukan perhatikan bahwa :
Tidak terdapat koagulapati
Anastesi yang aman/terpiih adalah anastesi umum, jangan lakukan anastesi lokal, sedang anastesi spinal berhubungan
denganresiko hipotensi.
Jika anastesi umumtidak tersedia atau janin mati, atterm terlalu kecil, lakukan persalian vervaginam.
Jika servik matang, lakukan induksi dengan oksitosi 2-5 IU dalam 50 ml dekstrose 10 tetes/menit atau dengan prostaglandin

Perawatan Post Partum
Anti konvulsan diteruskan sampai 24 jam post partum atau ygterakhir.
Teruskan terapi antihipertensijika tekanan diastolik masih > 110 mmHg
Pantau urin
Rujukan
Rujuk ke fasilitas yang lebih lengkap jika :
Terdapat oliguria (<400 ml/24 jam)
Terdapat sindrom HELLP
Koma berlanjut lebih dari 24 jam sesudah kejang.
Perdarahan Antepartum.
Pengertian
Perdarahan antepartum adalah perdarahan pada triwulan terakhir di kehamilan pada hamil muda sebab-sebab perdarahan
adalah :
Abortus
Kehamilan ektopik
Mola hidatidosa
Pada triwulan terakhir sebab-sebab utama adalah :
Solusio Plasenta
Plasenta previa
Insersio velamentosa
Ruptur sinus marginalis
Plasenta sirkum valata
a. Solusio Plasenta
Adalah terlepasnya plasenta dari tempat implantasinya yang normal pada uterus, sebelum janin
dilahirkan. Pada kehamilan diatas 22 minggu atau berat janin diatas 500 gram.

Proses solusio plasenta dimulai dengan terjadinya perdarahan dalam desidua basalis yang menyebabkan hematoma retroplasenter.
Hematoma dapat semakin membesar kearah pinggir plasenta sehingga jika amionkhorion sampai terlepas, perdarahan akan keluar melalui
asteum uteri (perdarahan keluar), sebaliknya apabila amionkhorion tidak terlepas perdarahan tertampung dalam uterus (perdarahan
tersembunyi).
Perdarahan Keluar Perdarahan tersembunyi
1. Keadaan umum penderita relatif baik
2. Plasenta terlepas sebagian atau inkomplit
3. Jarang berhubungan dengan hipertensi
1. Keadaan penderita jelek
2. Plasenta terlepas luas, uterus keras/tegang
3. Sering berkaitan dengan hipertensi
Terapi Spesifik
Terhadap komplikasi
Atasi Syok :
Infus larutan tetes/RL untuk restorasi cairan, berikan 500 ml dalam 15 menit pertama dan 2L dalam 2 jam pertama.
Berikan transfusi dengan darah segar untuk memperbaiki faktor pembekuan akibat koagulasi
Tatalaksana Oliguria atau Nekrosis Tubuler Akut

Tindakan restorasi cairan, dapat memperbaiki hemodinimika dan mempertahankan fungsi ekskresi sistem urinaria,
tetapi jika syok terjadi secara cepat dan telah berlangsung lama, umumnya akan terjadi ganguan fungsi ginjal yang
ditandai dengan oliguria (produksi urin < 30 ml/jam), dalam kondisi yang lebih berat akan terjadi anuria yang mengarah
pada nekrosis tubulus renalis. Setelah restorasi cairan lakukan tindakan untuk mengatasi gangguan tersebut dengan :
Furosemida 40 mg dalam II Kristaloid dengan 40-60 tetesan permenit
Bila belum berhasil, gunakan manitol 500 ml dengan 40 tetesan permenit
Atasi Hipofibrinogenemia
Restorasi cairan/darah sesegera mungkin dapat menghindarkan terjadinya koagulapati.
Lakukan uji beku darah untuk menilai fungsi pembekuan darah. Caranya adalah sebagai berikut :
Ambil darah vena 2 ml, masukkan dalam tabung kemudian diobservasi.
Genggam bagian tabung yang berisi darah
Setelah 4 menit, miringkan tabung untuk melihat lapisan koagulasi dipermukaan
Lakukan hal yang sama setiap menit
Bila bagian permukaan tidak membeku dalam tujuh menit maka diperkirakan titer fibrinogen dibawah nilai
standar
Bila terjadi pembekuan tipis dan mudah robek bila tabung dimiringkan keadaan ini juga menunjukkan kadar
fibrinogen dibawah ambang normal.
Bila darah segar tidak dapat segera diberikan, berikan knopresipitat fibrinogen. Pemberian fibrinogen,
dapat memperkuat terjadinya koagulasi tentang infrastruktur yang berlanjut dengan pengendapan fibrin ,
pembendungan mikrosirkulasi di dalam organ-organ vital, seperti ginjal, glandula adrenalis, hipofisis dan
otak

Bila perdarahan masih berlangsung (koagulapati ) dan trombosit dibawah 20.000 berisikan konsentrat
hombosit.
Atasi Anemia
Darah segar merupakan bahan terpilih untuk mengatasi anemia karena disamping mengandung butir-butir darah merah, juga mengandung unsur
pembekuan darah.
Bila restorasi cairan telah tercapai dengan baik tetapi pasien masih dalam kondisi anemia berat berikan packet Cell.


SOLUSIO PLASENTA
Hidup
Kondisi bayi
Singkirkan plasenta
previa tau abdomen aku
lainnya
Kadar Haemoglobine
uji pembekuan darah,
pantau produksiurin,
konfirmasi USG
Evaluasi keadaan janin
Evaluasi medik dan
tanda vital, anemia dan
koagulapati
Faktor resiko hipertonia
uteri nyeri
Normal
Gawat Janin
Kondisi Servik
Nilai Pelviks
tidak memadai
Sectio Sesaria
Amniotomi
Percepatan kala
II
Partus Pervaginam
Kakau/rigrid
Pembukaan 1 jari
Penurunan H II-III
Lunak
Pembukaanm > 3 cm
Penurunan H III-IV
Amniotomi
Akselerasi (infus oksitosin)
Kondisi bayi
Mati
Pembukaan
lengkap bagian
terendah di
dasar panggul
Tindakan Obstetri
Persalinan diharapkan dapat terjadi dalam 3 jam, umumnya dapat pervaginam .
Secsio Secaria
Dilakukan apabila :
Janin hidup dan pembukaan belum lengkap
Janin hidup, gawat janin tetap persalinan pervaginam tidak dilaksanakan dengan segera.
Janinnya mati tetapi kondisi serviks tidak memungkinkan persalinan pervaginam dapat berlangsung dalam waktu singkat.
Persiapan untuk secsio sesaria, cukup dilakukan penanggulangan awal (stabilisasi dan tata laksana komplikasi)
dan segera lahirkan bayi karena operasi merupakan satu-satunya cara efektif untuk menghentikan perdarahan.
Hematoma miometrium tidak menggangu kontraksi uterus
Observasi ketat kemungkinan perdarahan ulang.
Partus Pervaginam
Dilakukan apabila :
Janin hidup, gawat janin, pembukaan lengkap dan bagianterendah di dasar panggul Janin telah meninggal dan
permbukaan serviks> 2 cm. Ada kasus pertama, amniotomi kemudian percepat kala II dengan ekstraksi forcep/
vakum.
Untuk kasus ke 2, lakukan amniotomi kemudian akselerasi dengan 5 unit pksitosin dalam dextrose 5% atau TL,
tetesan diatur sesuai dengan kondisi kontraksi uterus.
Setelah persalinan, gangguan pembekuan darah akan membaik dalam waktu 24 jam kecuali bila jumlah trombodit
sangat rendah (perbaikan baru terjadi dalam 2-4 hari kemudian)
Plasenta Previa
Pengertian

Plasenta previa adalah plasenta yang berimplantasi pada segmen bawah rahim dan menutupi
sebagian atau seluruh ostium uteri internum. Angka kajadian plasenta previa adalah 0,4-0,6% dari
keseluruhan persalinan, dengan penatalaksanaan dan perawatan yang baik mortalitas perinatal
adalah 50 per 1000 kelahiran hidup.
Gejala perdarahan awal plasenta previa, pada umumnya hanya berupa perdarahan bercak
atau ringan dan umumnya berhenti secara spontan. Gejala tersebut kadang-kadang terjadi
waktu bangun tidur, tidak jarang perdarahan pervaginam baru tejadi pada saat in partu.
Jumlah perdarahan yang terjadi sangat tergantung dari jenis plasenta previa.
Tidak dianjurkan untuk melakuan pemeriksaan dalam pada perdarahan antepartum.
Pemeriksaan inspikulo secara berhati-hati dan benar, dapat menentukan sumber perdarahan
dari kanalis servisis atau sumber lain (servisitis, polip, kegananasan laserasi atau trauma).
Pemeriksaan ultrasonografi
Dengan pemeriksaan ini dapat ditentukan implantasi plasenta atau jarak tepi plasenta
terhdap ostium. Bila jarak tepi tersebut kurang dari 5 cm disebut plasenta letak rendah.
Diagnosis plasenta previa secara defenitif dilakukan dengan PDMO, yaitu melakukan
perubahan plasenta secara langsung melalui pembukaan serviks. Pada perdarahan yang
sangat banyak dan pada ibu dengan anemia berat tidak dianjurkan melakukan PDMO
sebagai upaya menentukan diagnosisnya.

PLASENTA PREVIA
Perdarahan dinding
vagina tau serviks
Konsentrasi HB
Jenis dan uji silah salah
L/S rasio dan usia
gestasi profil biofisik
bayi.
Pewrdarahan tanpa
nyeri
Tanda vital
Debyut jabntung bayi
Rawat
Inspikulo
Dibawah 37 Minggu
Tentukan Usia Gestasi
Diatas 37 Minggu Sedikit Intermiten
Dari KavumUteri
Banyak dan aktif Sedikit intermiten
Plasenta previa
Parsiaqlis / totalis
Plasenta previa
Marginalis atau
plasenta letak
rendah
Sesio Sesaria Induksi atau
Akselerasi
Profil Biofisik
Tirah baring pantau
ketat
Konfirmasi USG
Implantasi atau
migrasi plasenta
Ekspektatif
Perdarahan
ulang
Terapi Spesifik
Terapi Ekspektatif
Tujuannya adalah supaya janin tidak terlahir prematur, penderita dirawat tanpa malakukan
pemeriksaan dalam melalui kanalis servisis. Upaya diagnosis dilakukan secara non invasif.
Pemantauan klinis dilaksanakan secara ketat dan baik. Syarat-syarat terapi espektatif :
Kehamilan preterm dengan perdarahan sedikit yang kemudian berhenti.
Belum ada tanda-tanda inpartu
Keadaan umum ibu cukup baik (Kadar Hb dalam batas normal)
Janin masih hidup.
Rawat inap, tirah baring dan berikan antibiotik profilaksis
Lakukan pemeriksaan USG untuk mengetahui implantasi plasenta, usia kehamilan, profil biofisik,
letak dan presentasi janin.
Berikan tokolitik bila ada kontraksi:
MgSO4 9 IV dosis awal dilanjutkan 4 g setiap 6 jam
Bifedipin 3 x 20 mg/hari
Betamethason 24 mg IV dosis tunggal untuk pematangan paru janin.
Uji pematangan paru janin dengan tes kocok (bubble test) dari hasil omniosintesis.
Bila setelah usia kehamilan diatas 34 minggu, plasenta masih berada disekitar ostium uteri
internum, maka dugaan plasenta previa menjadi jelas , sehingga perlu dilakukan observasi dan
konseling untuk menghadapi kemungkinan keadaan gawat darurat.
Bila perdarahan berhenti dan waktu untuk mencapai 37 minggi masing lama, pasien dapat
dipulangkan untuk raway jalam dengan pesan untuk segera kembalai ke RS bapabila terhadi
perdarahan ulanga.
Terapi Aktif
Wanita hamil diatas 23 minggu dengan perdarahan pervaginam yang aktif dan banyak harus segera
ditatalaksana secara aktif tanpa memandang maturitas janin.
Untuk diagnosis plasenta previa dan menentukan cara penyelesaian persalinan setelah semua persyaratan dipenuhi, lakukan
PDMO jika :
Infus/transfusi telah terpasang, kamar dan tim operasi telah siap.
Kehamilan > 37 minggu (BB > 2500 gr) dan inpartu
Janin telah meninggal atau terdapat anomali kongenital mayor (misalnya anensefali)
Perdarahan dengan bagian terbawah janin telah jauh melewati PAP 12/5 atau 3/5 pada palpasi luar.

Cara menyelesaikan persalinan dengan Plasenta Previa adalah :
Seksio Secaria

Prinsip umum adalah melakukan SC adalah untuk menyelamatkan ibu , sehingga walaupun janin meninggal atau tak punya
harapan untuk hidup, tindakan ini tetap dilaksanakan.
Tujuan SC :
Melahirkan janin segera sehingga uterus dapat segera berkontraksi dan menghentikan perdarahan
Menghindarkan kemungkinan terjadinya robekan pada serviks uteri, jika janin dilahirkan pervaginam.
Tempat implantasi plasenta previa terdapat banyak vaskularis sehingga serviks uteri dan segmen bawah rahim menjadi tipis
dan mudah robek, selain itu bekas tempat implantasi plasenta sering menjadi sumber perdarahan karena adanya
perbedaaan vaskularis dan susunan serabut otot dengan korpus uteri
Siapkan darah pengganti untuk stabilisasi dan pemulihan kondisi ibu.
Lakukan perawatan lajut pasca bedah termasuk pemantauan perdarahan., infeksi dan keseimbangan cairan masuk dan
keluar.

Melahirkan pervaginam
Perdarahan akan berhenti jika ada penekanan pada plasenta. Penekanan tersebut dapat dilakukan dengan cara-cara sebagai
berikut :
Amniotomi dan akselerasi
Umumnya dilakukan pada plasenta previa lateralis/marginalis dengan pembukaan > 3 cm serta presentasi kepala.
Dengan memecah ketuban dan plasenta akan mengikuti segmen bawah rahim dan ditekan oleh kepala janin. Jika
kontraksi uterus belum ada atau masih lemah, akselerasi dengan infus oksitosin.

Versi Braxton Hicks
Tujuan melakukan versi Broxton Hicks adalah mengadakan tamponade plasenta denganbokong (kaki) janin. Versi
Braxton Hicks tidak dilakukan pada janin yang masih hidup.

Traksi dengan Cunan Willet
Kulit lepala janin dijepit dengan cunam willet, kemudian beri beban secukupnya sampai perdarahan berhenti.
Tindakan ini kurang efektif untuk menekan plasenta dan sering kali menyebabkan perdarahan pada kulit kepala .
tindakan ini biasanya dilaksanakan pada janin ygtelah meninggal dan perdarahan yang tidak aktif.
Insersio Velamentosa

Ialah insersi tali pusat pada selaput janin. insersi velamentosa seringterdapat pada kehamilan ganda. Pada insersi
velamentosa tali pusat dihubungkan dengan plasenta oleh pembuluh-pembuluh darah yang berjalan dalam selaput janin.
Kalau pembuluh darah tersebut berjalan di daerah osteum uteri internum maka disebut vasa previa.

Bahaya insersi velamentosa bila terjadi vasa previa, yaitu pembuluh darahnya melintasi kanalis servikalis, sehingga saat
ketuban pecah pembuluh darah yang berasal dari janin ikut serta pecah. Gejala klinis vas previa adalah ketuban pecah,
diikuti perdarahan merah. Selanjutnya distres janin. Kematian janin pada pecahnya vase previa mencapai 60%-70%
terutama bila pembukaan masih kecil karena kesempatan seksio secaria terbatas dengan waktu, bila dijumpai atau
dapat ditegakkan diagnosis vasa previa saat melakukan pemeriksaan dalam, penderita dirujuk kerumah sakit untuk
pertolongan dengan primer seksio secaria.
Ruptur Sinus Marginalis

Darah ibu yang berada diruang intraviler dari spiral arteries yang berada di desidua basalis. Pada systole darah
disemprotkan dengan tekanan 70-80 mmHg, seperti air mancur ke dalam ruangan intraviller sampai mencapai
chorlonic plate, pangkal dari kotiledon-kotiledon janin.

Darah tersebut membasahi semua villi korialis dan kembali terdapat vena-vena yang lebar (sinus) untuk
menampung darah kembali. Pada pinggir plasenta di beberapa tempat terdapat pula suatu ruangan vena yang
luas untuk menampung darah yang berasal dari ruang intraler di atas. Ruangan ini disebut sinus marginalis,
sehingga ruptur sinus marginalis adalah robekan pada pinggir plasenta di tempat-temat tertentu di suatu ruangan
vena yang luas/lebar untuk menampung darah.

Pecahnya sinus marginalis merupakan perdarahan yang sebagian besar baru diketahui setelah persalinan. Pada
waktu persalinan, perdarahan terjadi tanpa sakit dan menjelang pembukaan lengkap perlu diperkirakan
kemungkinan perdarahaan karena sinus marginalis yang pecah. Karena pembukaan mendekati lengkap maka
bahaya untuk janin tidak terlalu besar.

Plasenta Sirkum Valata

Pada permukaan feotal dekat pada pinggir plasenta terdapat cincin putih. Ini menandakan pinggir plasenta,
sedangkan jaringan di sebelah luarnya terdiri dari villi yang timbul ke samping di bawah desidua. Jadi bukan villus
pancang.

Diduga bahwa chorion frondosum terlalu kecil dan untuk mencukupi kebutuhan villi menyerbu ke dalam decidua
diluar permukaan chorion frondosom. Placenta circumvallata menimbulkan gejala-gejala klinis menurut beberapa
penyelidik dapat menimbulkan perdarahan dan abortus.