Anda di halaman 1dari 26

1

Penyakit Lepra dan Penanggulangannya


Nama : Theodora Abdiel Purwa Dolorosa
NIM : 102011066
Kelompok : A7
Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Krida Wacana
Jl. Arjuna Utara No. 6, Jakarta Barat 11510
Email : theodora.dolorosa@yahoo.com


Pendahuluan
Penyakit kusta adalah salah satu penyakit menular yang masih merupakan masalah
nasional kesehatan masyarakat, dimana beberapa daerah di Indonesia prevalens rate masih
tinggi dan permasalahan yang ditimbulkan sangat komplek. Masalah yang dimaksud bukan
saja dari segi medis tetapi meluas sampai masalah sosial ekonomi, budaya, keamanan dan
ketahanan sosial.
Pada umumnya penyakit kusta terdapat di negara yang sedang berkembang, dan
sebagian besar penderitanya adalah dari golongan ekonomi lemah. Hal ini sebagai akibat
keterbatasan kemampuan negara tersebut dalam memberikan pelayanan yang memadai di
bidang kesehatan, pendidikan, kesejahteraan sosial ekonomi pada masyarakat. Kusta
merupakan penyakit menahun yang menyerang syaraf tepi, kulit dan organ tubuh manusia
yang dalam jangka panjang mengakibatkan sebagian anggota tubuh penderita tidak dapat
berfungsi sebagaimana mestinya.
Meskipun infeksius, tetapi derajat infektivitasnya rendah. Kelompok yang berisiko
tinggi terkena kusta adalah yang tinggal di daerah endemik dengan kondisi yang buruk
seperti tempat tidur yang tidak memadai, air yang tidak bersih, asupan gizi yang buruk, dan
adanya penyertaan penyakit lain yang dapat menekan sistem imun. Pria memiliki tingkat
terkena kusta dua kali lebih tinggi dari wanita.
2

Pembahasan
Skenario 2
Seorang laki-laki usia 40 tahun datang ke poliklinik dengan keluhan berupa bercak putih pada
lengan kiri sejak 1 bulan. Tidak ada rasa gatal.
Mind Mapping







1. Anamnesis
Pada anamnesis yang perlu ditanyakan yaitu : identitas, keluhan utama, riwayat
penyakit sekarang, riwayat penyakit dahulu, riwayat penyakit keluarga, dan
anamnesis pribadi (meliputi keadaan sosial ekonomi, budaya, kebiasaan, obat-obatan
dan lingkungan).
Identitas meliputi nama, umur, jenis kelamin, nama orang tua atau anggota
keluarga terdekat sebagai penanggung jawab, alamat, pendidikan, pekerjaan, suku
bangsa dan agama. Identitas perlu ditanyakan untuk memastikan bahwa pasien yang
dimaksud dan sebagai data penelitian.
Keluhan utama adalah keluhan yang dirasakan pasien yang membawa pasien ke
dokter atau mencari pertolongan. Dari hasil anamnesa didapatkan data bahwa pasien
datang dengan keluhan adanya bercak putih pada lengan kiri, sejak 1 bulan, dan tidak
ada rasa gatal.
Laki-laki usia 40 tahun mengeluh bercak putih di
lengan kiri dan tidak gatal sejak 1 bulan.
Anamnesis
Pemeriksaan
Fisik
Penunjang
Diagnosa

Gejala
Klinis

Etiologi

Epidemiologi
Patofisiologi
Terapi
Komplikasi
Prognosis
Pencegahan
3

Riwayat penyakit sekarang merupakan cerita yang kronologis, terperinci dan jelas
mengenai keadaan kesehatan pasien sejak sebelum keluhan utama sampai pasien
datang berobat. Berdasarkan skenario kasus dalam melakukan anamnesis, harus
diusahakan data sebagai berikut :
- Waktu dan lamanya keluhan berlangsung, pada kasus ini keluhan berupa bercak
putih dan berlangsung sejak 1 bulan yang lalu.
- Sifat dan berat serangan (warna bercak, adanya gatal, adanya baal pada
bercak/lesi)
- Lokalisasi dan penyebarannya (menetap, menjalar, berpindah-pindah)
- Apakah keluhan baru pertama kali atau sudah berulang kali.
- Faktor resiko dan pencetus serangan, termasuk faktor yang memperberat atau
meringankan keluhan.
- Apakah ada saudara sedarah, atau teman dekat yang mengalami keluhan yang
sama.
- Riwayat perjalanan ke daerah endemis untuk penyakit tertentu.
- Perkembangan penyakit ( kemungkinan telah terjadi komplikasi atau gejala sisa).
- Apakah sudah pernah berobat sebelumnya.
Riwayat penyakit dahulu untuk mengetahui kemungkinan-kemungkinan adanya
hubungan penyakit yang pernah ia derita dengan penyakitnya sekarang.
Riwayat penyakit keluarga penting untuk mencari kemungkinan penyakit
herediter, familial, atau penyakit infeksi.
Riwayat pribadi meliputi data-data sosial, ekonomi, pendidikan dan kebiasaan.
Perlu ditanyakan apakah pasien mengalami kesulitan dalam kehidupan sehari-hari
seperti masalah keuangan, pekerjaan dan sebagainya. Kebiasaan pasien yang harus
ditanyakan kebiasaan merokok, minum alkohol dan obat-obatan termasuk obat
terlarang. Pasien yang sering melakukan perjalanan juga harus ditanyakan tujuan
perjalanan yang telah ia lakukan untuk mencari kemungkinan tertular penyakit infeksi
tertentu di tempat tujuan perjalanannya. Bila ada indikasi, riwayat perkawinan dan
kebiasaan seksual juga harus ditanyakan. Lalu terakhir menanyakan tentang
lingkungan tempat tinggal, termasuk keadaan rumah, sanitasi, sumber air minum,
ventilasi, tempat pembuangan sampah dan sebagainya.
1

4

2. Pemeriksaan Fisik
Inspeksi pasien dapat dilakukan dengan penerangan yang baik, lesi kulit juga
harus diperhatikan dan juga dilihat kerusakan kulit.
Palpasi dan pemeriksaan dengan menggunakan alat-alat sederhana yaitu jarum
untuk rasa nyeri, kapas untuk rasa raba, tabung reaksi masing-masing dengan air
panas dan es, pensil tinta Gunawan (tanda Gunawan) untuk melihat ada tidaknya
dehidrasi di daerah lesi yang dapat jelas dan dapat pula tidak dan sebagainya. Cara
menggoresnya mulai dari tengah lesi, yang kadang-kadang dapat membantu, tetapi
bagi penderita yang memiliki kulit berambut sedikit, sangat sukar untuk
menentukannya.
1
Pemeriksaan Saraf Tepi
Untuk saraf perifer, perlu diperhatikan pembesaran, konsistensi dan nyeri atau
tidak. Hanya beberapa saraf yang diperiksa yaitu N.fasialis, N.aurikularis magnus,
N.radialis, N. Ulnaris, N. Medianus, N. Poplitea lateralis, N. Tibialis posterior. Pada
pemeriksaan saraf tepi dapat dibandingkan saraf bagian kiri dan kanan, adanya
pembesaran atau tidak, pembesaran reguler/irreguler, perabaan keras/kenyal, dan yang
terakhir dapat dicari adanya nyeri atau tidak. Pada tipe lepromatous (LL) biasanya
kelainan sarafnya billateral dan menyeluruh sedangkan tipe tuberkoloid (TT)
terlokalisasi mengikuti tempat lesinya.
1

Tes Fungsi Saraf
Gunakan kapas, jarum, serta tabung reaksi berisi air hangat dan dingin.
- Rasa Raba
Sepotong kapas yang dilancipkan ujungnya digunakan untuk memeriksa perasaan
rangsang raba dengan menyinggungkannya pada kulit. Pasien yang diperiksa harus
duduk pada waktu dilakukan pemeriksaan. Terlebih dahulu petugas menerangkan
bahwa bilamana merasa disinggung bagian tubuhnya dengan kapas, ia harus
menunjukkan kulit yang disinggung dengan jari telunjuknya dan dikerjakan dengan
mata terbuka. Bilamana hal ini telah jelas, maka ia diminta menutup matanya, kalau
perlu matanya ditutup dengan sepotong kain. Selain diperiksa pada lesi di kulit
sebaiknya juga diperiksa pada kulit yang sehat. Bercak pada kulit harus diperiksa
pada bagian tengahnya.
1

5

- Rasa Nyeri
Diperiksa dengan memakai jarum. Petugas menusuk kulit dengan ujung jarum yang
tajam dan dengan pangkal tangkainya yang tumpul dan pasien harus mengatakan
tusukan mana yang tajam dan mana yang tumpul.
1

- Suhu
Dilakukan dengan menggunakan 2 tabung reaksi, yang satu berisi air panas
(sebaiknya 400C), yang lainnya air dingin (sebaiknya sekitar 200C). Mata pasien
ditutup atau menoleh ke tempat lain, lalu bergantian kedua tabung tersebut
ditempelkan pada daerah kulit yang dicurigai. Sebelumnya dilakukan kontrol pada
kulit yang sehat. Bilapada daerah tersebut pasien salah menyebutkan sensasi suhu,
maka dapat disebutkan sensasi suhu di daerah tersebut terganggu.
1


3. Pemeriksaan Penunjang
Pemeriksaan penujang diagnosis atau penunjang pemeriksaan fisik yang dapat
dilakukan pada penderita kusta adalah pemeriksaan bakteriologi (menggunakan
kerokan jaringan kulit), pemeriksaan histopatologik, pemeriksaan serologik.
2

- Pemeriksaan bakteriologi
Pemeriksaaan bakterioskopik, sediaan dari kerokan jaringan kulit atau usapan mukosa
hidung yang diwarnai dengan pewarnaan BTA ZIEHL NEELSON. Pertama-tama
harus ditentukan lesi di kulit yang diharapkan paling padat oleh basil setelah terlebih
dahulu menentukan jumlah tepat yang diambil. Untuk riset dapat diperiksa 10 tempat
dan untuk rutin sebaiknya minimal 4-6 tempat yaitu kedua cuping telinga
bagianbawah dan 2-4 lesi lain yang paling aktif berarti yang paling eritematosa dan
paling infiltratif. Pemilihan cuping telinga tanpa menghiraukan ada atau tidaknya lesi
di tempat tersebut oleh karena pengalaman, pada cuping telinga didapati banyak
M.leprae.
2

- Pemeriksaan histopatologik
Pemeriksaan histopatologi, gambaran histopatologi tipe tuberkoloid (TT) adalah
tuberkel (giant cell, limfosit) dan kerusakan saraf yang lebih nyata, tidak ada basil
atau hanya sedikit dan nonsolid. Tipe lepromatosa (LL) terdapat lini tenang
6

subepidermal ( subepidermal clear zone ) yaitu suatu daerah langsung di bawah
epidermis yang jaringannya tidak patologik. Bisa dijumpai sel virchow/sel busa
dengan banyak basil. Pada tipe borderline (BB) terdapat campuran unsur unsur
tersebut. Sel virchow adalah histiosit yang dijadikan M.leprae sebagai tempat
berkembang biak dan sebagai alat pengangkut penyebarluasan.
2
- Pemeriksaan serologic
Pemeriksaan ini tidak rutin dilakukan, biasanya diindikasikan untuk membantu
diagnosis kusta pada kasus yang meragukan atau kusta subklinis (lesi di kulit tidak
ada). Uji yang dapat dilakukan antara lain:
2
- Uji MLPA
- Uji ELISA
- M. leprae dipstick test
- M. leprae flow test

4. Working Diagnosis
Morbus Hansen atau lepra atau yang paling terkenal dengan kusta dapat
disebut sebagai penyakit imunologik karena pada penderita ketidakseimbangan antara
derajat infeksi dan derajat penyakit disebabkan oleh respon imun yang berbeda.
Penyakit ini di sebabkan oleh Mycobacterium leprae yang menyerang saraf tepi, kulit
dan jaringan tubuh lainnya. Penyakit ini sering kali menimbulkan masalah yang
sangat kompleks. Masalah yang dimaksud bukan hanya dari segi medis tetapi meluas
sampai masalah sosial, ekonomi, budaya, keamanan dan ketahanan nasional.
2
Diagnosa dari lepra pada umumnya berdasarkan pada gejala klinis dan
symptom. Lesi kulit dapat bersifat tunggal atau multiple yang biasanya dengan
pigmentasi lebih sedikit dibandingkan kulit normal yang mengelilingi. Kadang lesi
tampak kemerahan atau berwarna tembaga. Beberapa variasi lesi kulit mungkin
terlihat, tapi umumnya berupa makula (datar), papula (menonjol), atau nodul.
Kehilangan sensasi merupakan tipikal dari lepra. Lesi pada kulit mungkin
menunjukkan kehilangan sensasi pada pinprick atau sentuhan halus.
2,3
Diagnosis penyakit kusta didasarkan pada gambaran klinis, bakteriologis dan
histopatologis. Dari ketiga diagnosis klinis merupakan yang terpenting dan paling
sederhana. Sebelum diagnosis klinis ditegakkan, harus dilakukan anamnesa,
pemeriksaan klinik (pemeriksaan kulit, pemeriksaan saraf tepi dan fungsinya). Untuk
7

menetapkan diagnosis klinis penyakit kusta harus ada minimal satu tanda utama atau
cardinal sign. Tanda utama tersebut yaitu :
Lesi (kelainan) kulit yang mati rasa. Kelainan dapat berbentuk bercak keputihan
(hipopigmentasi) atau kemerah-merahan (eritematosa) yang mati rasa (anestesi)
Penebalan saraf tepi yang disertai dengan gangguan fungsi saraf akibat peradangan
saraf (neuritis perifer) , bisa berupa :
1). Gangguan fungsi sensoris (mati rasa)
2). Gangguan fungsi motoris : kelemahan otot, kelumpuhan
3). Gangguan fungsi otonom : kulit kering dan retak
Adanya kuman tahan asam di dalam pemeriksaan kerokan jaringan kulit (BTA
positif).

Lepra tipe Indeterminate (I)
Lepra tipe Indeterminate ditemukan pada anak yang kontak dan kemudian
menunjukkan 1 atau 2 makula hipopigmentasi yang berbeda-beda ukurannya dari 20
sampai 50 mm dan dapat dijumpai di seluruh tubuh. Makula memperlihatkan
hipoestesia dan gangguan berkeringat. Hasil tes lepromin mungkin positif atau
negatif. Sebagian besar penderita sembuh spontan, namun jika tidak diobati, sekitar
25% berkembang menjadi salah satu tipe determinate.
3

Lepra tipe Determinate
a) Lepra tipe Tuberkuloid (TT)
Manifestasi klinis lepra tipe TT berupa 1 sampai 4 kelainan kulit. Kelainan
kulit tersebutdapatberupabercak-bercak hipopigmentasi yang berbatas tegas, lebar,
kering, serta hipoestesi atau anestesi dan tidak berambut. Kadang kala ditemukan
penebalan saraf kulit sensorik di dekat lesi, atau penebalan pada saraf predileksi
seperti n. auricularis magnus. Hasil pemeriksaan usapan kulit untuk basil tahan asam
negatif, sedangkan tes lepromin memperlihatkan hasil positif kuat. Hal ini
menunjukkan adanya imunitas seluler terhadap Mycobacterium leprae yang baik.
3
b) Lepra tipe Borderline-Tuberkuloid (BT)
Kelainan kulit pada lepra tipe ini mirip dengan lepra tipe TT, namun biasanya
lebih kecil dan banyak serta eritematosa dan batasnya kurang jelas. Dapat dijumpai
lesi-lesi satelit. Dapat mengenai satu saraf tepi atau Iebih, sehingga menyebabkan
8

kecacatan yang luas. Hasil pemeriksaan usapan kulit untuk basil tahan asam positif
pada penderita lepra BT (very few sampai 1+). Tes lepromin positif.
2
c) Lepra tipe Borderline-Borderline (BB)
Kelainan kulit berjumlah banyak tidak simetris dan polimorf. Kelainan kulit
ini dapat berupa makula, papula dan bercak dengan bagian tengah hipopigmentasi
dan hipoestesi serta berbentuk anuler dan mempunyai lekukan yang
curam (punchedout). Hasil pemeriksaan usapan kulit untuk basil tahan asam positif,
dengan indeks bakteriologis 2+ dan 3+. Tes lepromin biasanya negatif. Lepra tipe BB
sangat tidak stabil.
2
d) Lepra tipe Borderline-Lepromatosa (BL)
Kelainan kulit dapat berjumlah sedang atau banyak, berupa makulaatau
bercak-bercak eritematosa dan hiperpigmentasi atau hipopigmentasi dengan ukuran
yang berbeda-beda dan tepi yang tidak jelas, dan juga papula, nodul serta plakat
Kelainan saraf ringan. Hasil pemeriksaan apusan kulit untuk basil tahan asam positif
kuat, dengan indeks bakteriologis 4+ sampai 5+. Tes lepromin negatif.
3
e) Lepra tipe Lepromatosa (IL)
Kelainan kulit berupa makula hipopigmentasi atau eritematosa yang berjumlah
banyalc, kecil-kecil, dan simetris dengan sensasi yang normal, permukaannya halus
serta batasnya tidak jelas, dan papula. Saraf tepi biasanya tidak menebal, karena baru
terserang pada stadium lanjut. Dapat terjadi neuropati perifer. Mukosa hidung
menebal pada stadium awal, menyebabkan sumbatan hidung dan keluarnya duh tubuh
hidung yang bercampur darah. Lama-kelamaan sel-sel lepra mengadakan infiltrasi,
menyebabkan penebalan kulit yang progresif, sehingga menimbulkan wajah singa,
plakat, dan nodul. Nodul juga dapat terjadi pada mukosa palatum, septum nasi dan
sklera. Alis dan bulu mata menjadi tipis, serta bibir, jari-jari Langan dan kaki
membengkak. Dapat terjadi iritis dan keratitis. Kartilago dan tulang hidung perlahan-
lahan mengalami kerusakan, menyebabkan hidung pelana. Jika laring terinfiltrasi oleh
sel lepra, maka akan timbul suara serak. Akhirnya testis mengalami atrofi, dan kadang
kala mengakibatkan ginekomastia. Hasil pemeriksaan asupan kulit untuk basil tahan
asam positif, dengan indeks bakteriologis 5+
sampai 6+. Tes lepromin selalu negative.
3


9

5. Differensial Diagnosis
Kusta terkenal sebagai penyakit yang paling ditakuti karena menyebabkan deformitas
atau cacat tubuh. Kelainan kulit lain yang dapat menjadi diagnosis banding dari lepra
atau morbus Hansen atau yang lebih dikenal sebagai kusta yaitu tinea versikolor,
psoriasis, pitiriasis alba.
2
Vitiligo Pitiriasis versikolor Pitiriasis alba Tinea korporis
Lokasi tangan, wajah, dada
bagian atas, mata,
cuping hidung,
mulut, puting,
pusar, dan organ
kemaluan. Lipatan
tubuh seperti
ketiak, paha,
selangkangan.
ketiak, lipat paha,
tungkai atas, leher,
muka dan kulit
kepala.
Ektermitas dan
bdan, bokong, paha
atas, punggung,
ekstensor lengan.

muka, leher,
badan, lengan,
dan gluteal
Gejala
klinis
- Lesi berupa bercak
yang berbatas tegas
disertai dengan
skuama halus, lesi
tersebut mempunyai
ukuran, bentuk dan
warna yang
bermacam-macam,
gatal bila
berkeringat
Bercak multiple,
eritema,
depigmentasi.

lesi bulat atau
lonjong , berbatas
tegas terdiri atas
eritema, skuama,
kadang-kadang
dengan vesikel
dan papul di tepi.
Daerah
tengahnya
biasanya lebih
tenang, sementara
yang di tepi lebih
aktif ( tanda
peradangan lebih
jelas )
Tabel 1. Differensial Diagnosis
1


10

6. Etiologi
Penyebab kusta adalah Mycobacterium leprae, yang ditemukan oleh warga negara
Norwegia, G.A Armauer Hansen pada tahun 1873 dan sampai sekarang belum dapat
dibiakkan dalam media buatan. Kuman Mycobacterium leprae berbentuk basil dengan
ukuran 3-8 Um X 0,5 Um, tahan asam dan alkohol serta bersifat gram positif.
Mycobacterium leprae hidup intraseluler dan mempunyai afinitas yang besar pada sel
saraf (Schwan cell) dan sistem retikulo endothelial.
2

7. Epidemiologi
Cara-cara penularan penyakit kusta sampai saat ini masih merupakan tanda tanya.
Yang diketahui hanya pintu keluar kuman kusta dari tubuh si penderita, yakni selaput
lendir hidung. Tetapi ada yang mengatakan bahwa penularan penyakit kusta adalah:
4
a) Melalui sekret hidung, basil yang berasal dari sekret hidung penderita yang sudah
mengering, diluar masih dapat hidup 27 x 24 jam.
b) Kontak kulit dengan kulit. Syarat-syaratnya adalah harus dibawah umur 15 tahun,
keduanya harus ada lesi baik mikoskopis maupun makroskopis, dan adanya
kontak yang lama dan berulang-ulang. Klinis ternyata kontak lama dan berulang-
ulang ini bukanlah merupakan faktor yang penting. Banyak hal-hal yang tidak dapat
di terangkan mengenai penularan ini sesuai dengan hukum-hukum penularan seperti
halnya penyakit-penyakit terinfeksi lainnya.

Menurut Cocrane, terlalu sedikit orang yang tertular penyakit kusta secara kontak
kulit dengan kasus-kasus lepra terbuka. Menurut Ress dapat ditarik kesimpulan bahwa
penularan dan perkembangan penyakit kusta hanya tergantung dari dua hal yakni
jumlah atau keganasan M. Leprae dan daya tahan tubuh penderita. Disamping itu
faktor-faktor yang berperan dalam penularan ini adalah :
Usia : Anak-anak lebih peka dari pada orang dewasa
Jenis kelamin : Laki-laki lebih banyak dijangkiti
Ras : Bangsa Asia dan Afrika lebih banyak dijangkiti
Kesadaran sosial :Umumnya negara-negara endemis kusta adalah negara
dengan tingkat sosial ekonomi rendah
Lingkungan : Fisik, biologi, sosial, yang kurang sehat



11

8. Patofisiologi
Penyakit kusta dapar di sebut sabagai penyakit imunologik. Karena di sebut sebagai
penyakit imunologik maka perjalanan penyakit ini melibatkan antigen dan antibody.
Kuman yang menyebabkan penyakit ini adalah Mycobacterium leprae. Masuknya
Mycobacterium leprae ke dalam tubuh akan ditangkap oleh APC (Antigen Presenting
Cell) dan melalui dua signal yaitu signal pertama dan signal kedua. Signal pertama
adalah tergantung pada TCR- terkait antigen (TCR = T cell receptor) yang
dipresentasikan oleh molekul MHC pada permukaan APC sedangkan signal kedua
adalah produksi sitokin dan ekspresinya pada permukaan dari molekul kostimulator
APC yang berinteraksi dengan ligan sel T melalui CD28.
4
Adanya kedua signal ini akan mengaktivasi To sehingga To akan
berdifferensiasi menjadi Th1 dan Th2. Adanya TNF dan IL 12 akan membantu
differensiasi To menjadi Th1. Th 1 akan menghasilkan IL 2 dan IFN yang akan
meningkatkan fagositosis makrofag (fenolat glikolipid I yang merupakan lemak dari
Mycobacterium leprae akan berikatan dengan C3 melalui reseptor CR1,CR3,CR4
pada permukaannya lalu akan difagositosis) dan proliferasi sel B. Selain itu, IL 2 juga
akan mengaktifkan CTL lalu CD8+. Di dalam fagosit, fenolat glikolipid I akan
melindungi bakteri dari penghancuran oksidatif oleh anion superoksida dan radikal
hidroksil yang dapat menghancurkan secara kimiawi. Karena gagal membunuh
antigen maka sitokin dan growth factorsakan terus dihasilkan dan akan merusak
jaringan akibatnya makrofag akan terus diaktifkan dan lama kelamaan sitoplasma dan
organella dari makrofag akan membesar, sekarang makrofag seudah disebut dengan
sel epiteloid dan penyatuan sel epitelioid ini akan membentuk granuloma.
4
Th2 akan menghasilkan IL 4, IL 10, IL 5, IL 13. IL 5 akan mengaktifasi dari
eosinofil. IL 4 dan IL 10 akan mengaktifasi dari makrofag. IL 4 akan mengaktifasi sel
B untuk menghasilkan IgG4 dan IgE. IL 4 , IL10, dan IL 13 akan mengaktifasi sel
mast. Signal I tanpa adanya signal II akan menginduksi adanya sel T anergi dan tidak
teraktivasinya APC secara lengkap akan menyebabkan respon ke arah Th2. Pada
Tuberkoloid Leprosy, kita akan melihat bahwa Th1 akan lebih tinggi dibandingkan
dengan Th2 sedangkan pada Lepromatous leprosy, Th2 akan lebih tinggi
dibandingkan dengan Th1.
4


12

9. Gejala Klinis
Bila kuman M leprae masuk kedalam tubuh seseorang dapat timbul gejala
klinis sesuai dengan kerentanan orang tersebut. Bentuk tipe klinis bergantung pada
sistem imunitas seluler (SIS) penderita. Bila SIS baik akan tampak gambaran klinis ke
arah tuberkuloid, dan bila keadaan SIS nya rendah akan memberikan gambaran
lepromatosa.
1-4

Tipe I (indeterminate) tidak termasuk dalam spektrum. TT adalah tipe
tuberkuloid polar yakni tuberkuloid 100% merupakan tipe yang stabil. Jadi berarti
tidak mungkin berubah tipe. Begitu juga LL adalah tipe lepromatosa polar yakni
lepromatosa 100%, juga merupakan tipe yang stabil dan tidak mungkin berubah lagi.
Sedangkan tipe antara Ti dan Li disebut sebagai tipe borderline, berarti campuran
antara tuberkuloid dan lepromatosa. BB adalah tipe cammpurang yang terdiri dari
50% tubekuloid dan 50% lepromatosanya. BT dan Ti lebih banyak tuberkuloidnya
sementara BL dan Li lebih banyak lepromatosanya. Tipe-tipe campuran ini adalah
tipe yang labil, berarti dapat bebas beralih tipe, baik ke arah TT maupun ke arah LL.
Zona spektrum kusta menurut berbagai klasifikasi dapat dilihat di tabel di bawah ini:
Klasifikasi Zona Spektrum Kusta
Ridley dan
Jopling
TT BT BB BL LL
Madrid Tuberkuloid Borderline Lepromatosa
WHO Pausibasiler (PB) Multibasiler (MB)
Puskesmas PB MB
Tabel 2. Zona spektrum kusta menurut macam klasifikasi
1
Multibasiler berarti mengadung banyak kuman yaitu tipe LL, BL dan BB.
Sedangkan pausibasiler berarti mengadung sedikit kuman, yakni tip TT, BT dan I.
Beberapa perbandingan dari berbagai tipe tersebut dapat di lihat di tabel di bawah ini.




13

Sifat Lepromatosa (LL) Bordeline
Lepromatosa (BL)
Mid Borderline (BB)
Lesi:
Bentuk



Jumlah


Distribusi
Permukaan

Batas

Anestesia

Makula
Infiltrat difus
Papul
Nodus
Tidak terhitung,
praktis tidak ada
kulit sehat
Simetris
Halus berkilat

Tidak jelas

Tidak ada sampai
tidak jelas

Makula
Plakat
Papul

Sukar dihitung,
masih ada kulit sehat

Hampir simetris
Halus berkilat

Agak jelas

Tak jelas

Plakat
Dome-shaped (kubah)
Punched-out

Dapat dihitung, kulit
sehat jelas ada

Asimetris
Agak kasar, agak
berkilat
Agak jelas

Lebih jelas
BTA
Lesi kulit
Sekret hidung

Banyak (ada globus)
Bannyak (ada
globus)

Banyak
Biasanya negatif

Agak banyak
Negatif

Tes Lepromin Negatif Negatif Biasanya negatif
Tabel 3. Gambaran klinis, bakteriologik dan imunologik kusta multibasiler (MB)
1

Sifat Tuberkuloid (TT) Bordeline
Tuberculoid (BT)
Indeterminate
(I)
Lesi
Bentuk

Jumlah

Distribusi

Makula saja, makula
dibatasi infiltrat
Satu, dapat beberapa

Asimetris

Makula dibatasi
infiltrat: infiltrat saja
Beberapa atau satu
dengan satelit
Masih asimetris

Hanya makula

Satu atau beberapa

Variasi
14

Permukaan
Batas

Anestesia
Kering bersisik
Jelas

Jelas
Kering bersisik
Jelas

Jelas
Halus, agak berkilat
Dapat jelas atau dapat
tidak jelas
Tak ada sampai tidak
jelas
BTA
Lesi kulit


Hampir selalu
negatif

Negatif atau hanya
1+

Biasanya negatif
Tes lepromin Positif kuat (3+) Positif lemah Dapat positif lemah atau
negative
Tabel 4. Gambaran klinis, bakteriologik dan imunologik kusta pausibasiler (PB)
1
Kusta Indeterminate merupakan kusta yang paling ringan dimana hanya sangat
kecil atau terbatas mempengaruhi saraf dan kulit. Hanya ada sedikit bakteri yang
ditemukan dan dengan tes lepromin sering kali hanya memberikan positif lemah. Di
bawah mikroskop, dapat dilihat peradangan hanya minimal dan tidak tipikal. Kusta
Indeteminate sering kali hanya pada satu bagian tubuh, asimptomatik, berupa makula
hipopigmentasi dengan diameter beberapa cm. Kusta indeterminate sering kali
ditemukan di wajah, punggung, permukaan ekstensor dari ekstremitas. Bila multipel
lesi yang terjadi penyebarannya tidak simetris. Sensasi kulit mungkin sedikit
berkurang namun fungsi dari kelenjar keringat masih normal. Penebalan saraf
biasanya hanya ditemukan pada satu saraf.
5

Kusta Lepromatous merupakan kusta yang ditandai dengan adanya infeksi M.
leprae yang progresif dimana banyak bakteri yang ditemukan pada lesi kulit. Lesi
kulit umumnya asimetris, kecil, bersinar dan umunya konfluen. Plaq infiltrat memiliki
batas yang tidak tegas dengan warna merah kecoklatan, dimana sering kali berubah
tergantung warna kulit penderita. Tempat yang sering terkena adalah wajah dengan
infiltrasi di bagian depan kepala, dagu, hidung, dan telinga yang sering
mengakibatkan deformitas pada wajah yang disebut leonine facies (lions face).
Tanda lain yang sering terjadi adalah madarosis. Dengan berkembangnya penyakit
anestesia dan kekeringan kulit juga akan semakin parah. Daerah tubuh yang hangat
akan terhindar seperti bagian axilla, inguinal, perineum, dan scalp.
15

Mukosa hidung merupakan bagian yang hampir selalu terserang. Kelainan
kronik dari hidung seperi hemorrhagic sering kali ditemukan pada penderita kusta di
daerah endemis. Serangan M. leprae pada hidung akan menganggu proses pernafasan
dan merusak septum nasal dan mengakibatkan hidung kehilangan substansinya
(clover leaf nose). Mukosa lain seperti bibir, mulut dan laring juga dapat terkena
infiltrasi dari M leprae. Infiltrasi juga dapat mengenai mata dibagian konjungtiva,
kornea dan badan ciliary.
5

Kerusakan saraf perifer umumnya muncul dalam waktu yang lama. Kerusakan
saraf tepi mulanya mengenai saraf sensoris dan umumnya simeteris di bagian
ekstensor. Kehilangan sensoris kemudian secara perlahan akan menyebar ke bagian
tengah tubuh. Rasa sakit jarang terjadi karna infeksi M leprae pada saraf sensoris.
Saraf otonom juga terkena dengan ditandai adanya kehilangan fungsi dari kelenjar
keringat dan kelainan vasomotor pembuluh darah tepi. Pada lepromatous leprosi,
terkenanya saraf motor yang besar lebih sering terjadi dibandingkan lepra tipe
tubekuloid. Pada keadaan lepra lepromatosa yang lebih berat bisa mengakibatkan
tangan dan kaki mengecil, karena terjadinya osteoporosis dengan fraktur kompresi.
Adanya trauma yang tidak disadari penderita dan infeksi sekunder juga bisa
mengakibatkan kecacatan. Beberapa pasien memiliki limfeadenopathy. Infiltrat
kadang-kadang dapat ditemukan pada testis yang bisa mengakibatkan kemandulan
dan gynecomastia.
5
Lepra tuberkuloid merupakan lepra yang terjadi dengan jumlah lepra yang
tidak terlalu banyak di tubuh dan keadaan sistem imun seluler tubuh penderita yang
masih baik. Kerusakan saraf juga terjadi tetapi tidak sistemik. Lesi yang terjadi
umumnya asimetris, jumlahnya sedikit, dan menyebar dengan sangat pelan. Mulanya
bewarna merah atau merah keunguan, dan berupa makula atau papula. Kemudai
secara perlahan membesar, dengan batas yang tegas, dan memperlihatkan bagian
tengah yang bersih dengan atrofi yang halus, bersisik dan hipopigmentasi. Predileksi
lesinya di bagian gluteus, punggung, wajah dan ekstensor ekstremitas. Hilangnya
sensasi, anhidrosis dan hilangnya rambut juga terjadi.
Inflamasi granul akan mengakibatkan kerusakan pada saraf tepi yang
mengakibatkan hilangnya fungsi saraf tersebut. Gangguan fungsi sensoris merupakan
kelainan saraf yang awal, selanjutnya dapat mengakibatkan paralisis dan akhirnya
16

mengakibatkan atrofi otot. Kerusakan pada saraf wajah juga dapat terjadi dan
mengakibatkan kelainan ekpresi wajah dimana wajahnya menjadi tidak berekspresi
atau Antonine facies. Paralisis pada otot-otot vocal juga dapa terjadi.
5

Masalah yang terberat daripada kusta tuberkuloid adalah bila kerusakan saraf
mencapai di bagian saraf yang menggerakan ekstremitar. Saraf yang terkenan
umumny adalah saraf yang lebih superficialis dan mudah terkena trauma. Kerusakan
saraf bisa mengenai N. ulnaris dan N medialis yang mengakibatkan terjadinya
perubahan tangan yang berbentuk clawing lateral maupun medial. Pada kaki, bila
yang terkena adalah sara peroneal akan mengakibatkan terjadinya foot drop dan bila
mengenai saraf tibialis posterior akan mengakibarkan terjadinya anestesia pada
telapak kaki. Sebagai hasil kerusakan saraf dapat mengakibatkan kulit yang kering,
proses penyembuhan yang tidak berfungsi sebagaimana mestinya, paralisis otot,
respon terhadap trauma yang kecil. Dalam keadaan ini bila ada trauma kecil seperti
menginjak batu, atau bahkan karna trauma panas pada kulit, penderita tidak akan
merasakan apa-apa sehingga bisa mengakibatkan terjadi kerusakan yang besar.
Menurut WHO pada tahun 1981, kusta dibagi menjadi multibasiler dan
pausibasiler. Yang termasuk tipe multibasiler adalah tipe LL, BL dan BB pada
klasifikasi Ridley-Jopling dengan indeks bakteri (IB) lebih dari 2+ sedangkan
pausibasiler adalah tipe I, TT dan BT dengan IB kurang dari 2+.
1
Untuk kepentingan pengobatan pada tahun 1987 telah terjadi perubahan. Yang
dimaksud dengan kusta PB adalah kusta dengan BTA negatif pada pemeriksaan
kerokan jaringan kulit, yaitu tipe-tipe I, TT, dan BT menurut klasifikasi Ridley-
Jopling. Bila pada tipe-tipe tersebut disertai dengan BTA positif, maka akan
dimasukkan kedalam kusta MB. Sedangkan kusta MB adalah semua penderita kusta
tipe BB, BL dan LL atau apapun klasifikasi klinisnya dengan BTA positif harus
diobati dengan rejimen MDT-MB.
1

Karena pemeriksaan kerokan jaringan kulit tidak selalu tersedia di lapangan,
pada tahun 1995. WHO lebih menyederhanakan klasifikasi klinis kusta berdasarkan
hitung lesi kulit dan saraf yang terkena. Hal ini dapat di lihat di tabel di bawah ini.


17

Sifat PB MB
1. Lesi kulit
(makula datar, papul yang
meninggi, nodus)
1 5 lesi
Hipopigmentasi/erit
ema
Distribusi tidak
simetris
Hilangnya sensasi
yang jelas
Lebih dari 5 lesi
Distribusi lebih
simetris
Hilangnya sensasi
kurang jelas
2. Kerusakan saraf
(menyebabkan hilangnya
sensasi/kelemahan otot
yang dipersarafi oleh saraf
yang terkena)
Hanya satu cabang Banyak cabang
saraf
Tabel 5. Bagan klinis menurut WHO (1995)
Antara diagnosa secara klinis dan secara histopatologik, ada kemungkinan
terdapat persamaan maupun perbedaan tipe. Perlu diingat bahwa diagnosis klinis
seseorang harus didasarkan kepada hasil pemeriksaan kelainan klinis seluruh tubuh
orang tersebut. Sebaiknya jangan hanya didasarkan pemeriksaan sebagian tubuh saja,
sebab ada kemungkinan diagnosis klinis di wajah berbeda dengan tubuh, lengan,
tungkai dan sebagainya. Bahkan pada satu lesi (kelainan kulit) pun dapat berbeda
tipenya. Begitu juga dengan dasar diagnosis histopatologik, tergantung pada beberapa
tempat dan dari tempat mana biopsinya di ambil. Sebagaimana lazimnya dalam
bentuk diagnosis klini, dimulai dengan inspkesi, palpasi, lalu dilakukan pemeriksaan
dengan alat yang sederhana misalnya jarum, kapas, tabung rekasi masing-masing air
panas dan air dingin, pensil tinta dan sebagainya.
1

Kelainan kulit pada penyakti kusta tanpa komplikasi dapat hanya berbentuk
makula saja, infiltrat saja atau keduaya. Kalau secara inspeksi mirip penyakit lain ada
tidaknya anestesia sangat banyak membantu penentuan diagnosis, mesikpun tidak
selalu jelas. Hal ini dengan mudah dilakukan dengan menggunakan jarum terhadap
rasa nyeri, kapas terhadap rasa raba dan kalau masih belum jelas dengan kedua cara
tersebut baruah pengujian terhadap rasa suhu yaitu panas dan dingin dengan
menggunakan 2 tabung reaksi.
18

Untuk mengetahui adanya kerusakan fungsi saraf otonom di daerah lesi yang
dapat jelas dan dapat pula tidak, yang dipertegas dengan menggunakan pensil tinta
(tanda Gunawan). Cara menggoresnya mulai dari tengah lesi ke arah kulit normal.
Bila ada gangguan, goresan pada kulit normal akan lebih tebal bila dibandingkan
dengan bagian tengah lesi. Dapat pula diperhatikan adanya alopesia di daerah lesi,
yang kadang-kadang dapat membantu, tetapi bagi penderita yang memiliki kulit
berambut sedikit sangat sukar menentukannya. Gangguan fungsi motoris diperiksan
dengan menggunakan Voluntary Muscle Test (VMT).
1

Kusta yang mengenai saraf perifer yang perlu diperhatikan ialah pembesaran,
konsitensi, ada atau tidaknya nyeri spontan dan nyeri tekan. Hanya beberaoa saraf
superfisial yang dapat dan perlu diperiksa yaitu N. fasialis, N. aurikularis magnus, N.
radialis, N. ulnaris, N. medianus, N. poplitea lateralis dan N. tibialis posterior. Bagi
tipe ke arah lepromatosa kelainan saraf biasanya bilateral atau menyeluruh, sedang
bagi tipe tuberkuloid, kelainan sarafnya lebih terlokalisasi mengikuti tempat lesinya.
1

Deformitas atau cacat yang disebabkan oleh kusta dapat dibedakang menjadi 2
yaitu deformitas primer dan deformitas sekunder. Cacat primer sebagai akibat
langsung oleh granuloma yang terbentuk sebagi reaksi terhadap M. leprae, yang
mendesak dan merusak jaringan di sekitarnya, yaitu kulit, mukosa traktus
respiratorius atas, tulang-tulang jari, dan wajah. Cacat sekunder terjadi sebagai akibat
adanya deformitas primer, terutama kerusakan pada saraf baik saraf sensorik, motorik
dan saraf autonom. Cacat sekunder dapat berupa kontraktur sendi, mutilasi tangan dan
kaki.
1

Gejala-gejala kerusakan saraf karena kusta diantaranya:
a) N. Ulnaris:
Anestesia pada ujung jari anterior kelingking dan jari manis
Clawing kelingking dan jari manis
Atrofi hipotenar dan otot interseus serta kedua otot lumbrikalis medial
b) N. medianus
Anestesia pada ujung jari bagian anterior ibu jari, telunjuk dan jari tengah
Tidak mampu aduksi ibu jari
Clawing ibu jari, telunjuk dan jari tengah
Ibu jari kontraktur
19

Atrofi otot tenar dan kedua otot lumbrikalis lateral
c) N. Radialis
Anestesia dorsum manus, serta ujung proksimal jari telunjuk
Tangan gantung (wrist drop)
Tak mampu ekstensi jari-jari atau pergelangan tangan
d) N. popliteal lateralis
Anestesia tungkai bawah, bagian lateral dan dorsum pedis
Kaku gantung (foot drop)
Kelemahan otot peroneus
e) N. tibialis posterior
Anestesia telapak kaki
Claw toes
Paralisis otot intrinsik kaki dan kolaps arkus pedis
f) N. fasialis
Cabang temporal dan zigomatik menyebabkan lagoftalmus
Cabang bukal, mandibular dan servikal menyebabkan kehilangan ekspresi
wajah dan kegagalan mengatupkan bibir
g) N. trigeminus
Anestesia kulit wajah, kornea dan konjungtiva mata
Atrofi otot tenar dan kedua otot lumbrikalis lateral
Kerusakan mata pada kusta juga dapat primer dan sekunder. Primer
mengakibatkan alopesia pada alis mata dan bulu mata, juga dapat mendesak jaringan
mata lainnya. Sekunder disebabkan oleh rusaknya N. fasialis yang dapat membuat
paralisis N. orbikularis palpebarum sebagian atau seluruhnya, mengakibatkan
lagoftalmus yang selanjutnya, menyebabkan kerusakan bagian-bagian mata lainnya.
Secara sendiri-sendiri atau bergabung akhirnya dapat menyebabkan kebutaan.
Infiltrat granuloma ke dalam adneksa kulit yang terdiri atas kelenjar keringat,
kelenjar palit dan folikel rambut dapat mengakibatkan kulit kering dan alopesia. Pada
tipe lepromatosa dapat timbul ginekomastia akibat gangguan hormonal dan oleh
karena infiltrasi granuloa pada tubulus seminiferus testis.
1

20

Untuk dapat membuat diagnosis klinis dan tipenya, perlu diketahui terlebih
dahulu cara membuat diagnosis kedua bentuk polat TT dan LL yang telah diuraikan
secara sistematis pada tabel 1 diatas.
Kusta dapat dibedakan menjadi kusta histoid dan kusta tipe neural:
a. Kusta Histoid
Kusta histoid merupakan variasi lesi pada tipe lepormatosa yang pertama
dikemukakan oleh WADE pada tahun 1963. Secara klinis berbentuk nodus yag
berbatas tegas, dapat juga berbentuk plak. Bakterioskopik positif tinggi.
Umumnya timbul sebagai kasus relaps sensitif atau relaps resisiten.
b. Kusta tipe neural
Kusta tipe neural murni mempunayi tanda sebagai berikut:
Tidak ada dan tidak pernah ada lesi kulit
Ada satu atau lebih pembesara saraf
Ada anestesia dan atau paralisis, serta atrofi otot pada daerah yang
disarafinya
Bakterioskopik negatif
Tes Mitsuda umumnya positif
Untuk menentukan tipe, biasanya tipe tuberkuloid, borderline atau tipe
nonspesifik, harus dilakukan pemeriksaan histopatologik saraf.
Reaksi Kusta
Reaksi kusta adalah interupsi dengan episode akut pada perjalanan penyakit
yang sebenarnya sangat kronik. Adapun patofisiologinya belum diketahui dengan
pasti sampai saat ini. Mengenai patofisiologi yang belum jelas tersebut akan
diterangkan secara imunologik. Dimana reaksi imun tubuh kita dapat menguntungkan
dan merugikan yang disebut reaksi imun patologik dan reaksi kusta tergolong di
dalamnya. Reaksi kusta dapat dibedakan menjadi eritema nodosum leprosum (ENL)
dan reaksi reversal atau reaksi upgrading.
1

ENL terutama timbul pada tipe lepromatosa polar dan dapat pula pada BL,
berarti makin tinggi tingkat multibasilarny makin besar kemungkinanan timbulnya
ENL. Secara imunopatologis, ENL termasuk respon imun humoral, berupa fenomena
kompelks imun akibat reaksi antara antigen M leprae + antibodi (IgM & IgG) +
21

komplemen yang kemudian akan menghasilkan komplek imun. Dengan terbentuknya
kompleks imun ini maka ENL termasuk di dalam golongan penyakit komplek imun.
Kadar antibodi imunoglobulin penderita kusta lepromatosa lebih tinggi daripada tipe
tuberkuloid. Hal ini terjadi oleh karena pada tipe lepromatosa jumlah kuman jauh
lebig banyak daripada tipe tuberkuloid. ENL lebih banyak terjadi pada saat
pengobata. Hal ini terjadi karena banyak kuman kusta yang mati dan hancur yang
kemudian kuman kuman lepra ini akan menjadi antigen, dengan demikian akan
meningkatkan terbentuknya komplek imun. Kompleks imun ini terus beredar dalam
sirkulasi darah yang akhirnya dapat mengendap dan melibatkan berbagai organ.
1

Pada kulit akan timbul gejala klinis yang berupa nodus eritema, dan nyeri
dengan tempat predileksi di lengan dan tungkai. Bila mengenai organ lain dapat
mengakibatkan gejala seperti iridosiklitis, neuritis akut, limfadenitis, arthritis, orkitis,
dan nefritis akut dengan adanya proteinuria. ENL dapat disertai gejala konstitusi dari
ringan sampai berat yang dapat diterangkan secara imunologik.
Pada reaksi ENL tidak terjadi perubahan tipe kusta, lain halnya dengan reaksi
reversal yang terjadi pada kusta tipe borderline (Li, BL, BB, BT, Ti) sehingga dapat
disebut reaksi borderline. Yang memegang pernanan utama dalam reaksi kusta ini
adalah sistem imunitas seluler, yaitu bila terjadi peningkatan SIS yang mendadak.
Meskipun faktor pencetusnya belum diketahui pasti, diperkirakan ada hubungannya
dengan reaksi hipersensitivitas tipe lambat. Reaksi peradangan terjadi pada tempat-
tempat kuman M leprae berada, yaitu pada saraf dan kulit, umumnya terjadi pada
pengobatan 6 bulan pertama. Neuritis akut dapat menyebabkan kerusakan saraf secara
mendadak, oleh karena itu memerlukan pengobatan segera yang memadai. Seperti
yang sudah dijelaskan di atas yang memiliki peranan untuk menentukan tipe kusta
adalah SIS. Tipe kusta yang termasuk borderline ini dapat berubah menjadi tipe TT
dan LL dengan mengikuti naik turunnya SIS, sebab setiap perubahan tipe selalu
terjadi perubahan SIS juga. Begitu pula reaksi reversal terjadi perpindahan tipe ke
arah TT dengan disertai peningkatan SIS hanya bedanya dengan cara mendadak dan
cepat.
1

Penggunaan istilah downgrading untuk reaksi kusta saat ini sudah hampir
tidak pernah digunakan lagi, downgrading merupakan kata yang menggambarkan
proses perubahan ke arah lepromatosa.
22

Gejala klinis reaksi reversal ialah umumnya sebagian atau seluruh lesi yang
telah ada bertambah aktif dan atau timbul lesi baru dalam waktu yang relatif singkat.
Artinya lesi hipopigmentasi menjadi eritema menjadi eritematosa, lesi makula
menjadi infiltrat, lesi infiltrat semakin infiltrat lagi, dan lesi lama menjadi bertambah
luas. Adanya gejala neuritis akut perlu diperhatikan karena sangat menentukan
prognosis dari pengobatan, bila ada neuritis maka penggunaan kortikosteroid
diperlukan untuk mengurangi reaksi peradangan.
Pada beberapa kasus kusta dapat ditemukan fenomena Lucio. Fenomena lucio
merupakan reaksi kusta yang sangat berat yang terjadi pada kusta tipe lepromatosa
non nodular difus. Kusta tipe ini terutama ditemukan di Meksiko dan Amerika
Tengah, di negara lain prevalensinya rendah. Gambaran klinis dapat berupa plak atau
infiltrat difus, berwarna merah muda, bentuk rak teratur dan terasa nyeri. Lesi
terutama pada ekstremitas, kemudian meluas ke seluruh tubuh. Lesi yang berat akan
semakin eritematosa, disertai purpura dan bula kemudian dengan cepat terjadi
nekrosis serta ulserasi yang nyeri. Lesi lambat menyembuh dan akhirnya terbentuk
jaringan parut.
Gambaran histopatologik dari fenomena lucio menunjukkan nekrosis
epidermal iskemik dengan nekrosis pembuluh darah superfisial, edema, dan
proliferasi enodetelial pembuh darah lebih dalam. Didapatkan banyak basil M. leprae
di endotel kapiler. Walaupun tidak ditemukan infiltrat polimorfonuklear seperti pada
ENL, namun dengan imunofloureseni tampak deposti imunoglobulin dan komplemen
di dalam dinding pembuluh darah. Titer kompleks imun yang beredar dan
krioglobulin sangat tinggi pada semua penderita.
1
10. Penatalaksanaan
a. Obat Utama:
6

1) DDS
Merupakan obat pertama yang dipakai sebagai monoterapi. Seringkali dapat
menyebabkan resistensi (pertama kali dibuktikan tahun 1964). Resistensi
terhadap DDS ini yang memicu dilakukannya MDT.
2) Rifampisin
Dosis antikusta adalah 10 mg/kg BB. Dipakai sebulan sekali dalam MDT
karena efek sampingnya. Efek samping yang perlu diperhatikan adalah
23

hepatotoksik, nefrotoksik, gejala gastrointestinal, flu-like syndrome, erupsi
kulit, dan warna kemerahan pada keringat, air mata, dan urin.
3) Klofazimin (lamprene)
Pada kasus kusta yang dimonoterapi dengan DDS dapat terjadi relaps/kambuh.
Dosis yang dapat digunakan adalah 1x50 mg setiap hari, atau 100 mg selang
sehari, atau 3 x 100 mg selama seminggu.
Efek sampingnya dapat berupa warna kecoklatan pada kulit, warna
kekuningan pada sklera, sehingga mirip ikterus. Hal ini disebabkan klofazimin
merupakan zat warna dan dideposit dalam sel sistem retikuloendotelial.
4) Protionamid.
Dosis diberikan 5-10 mg/kg BB. Obat ini jarang dipakai. Distribusi dalam
jaringan tidak merata, sehingga kadar hambat minimal sukar ditentukan.

b. Obat alternatif:
6
1) Ofloksasin
Berdasarkan in vitro merupakan kuinolon yang paling efektif terhadap M.
leprae. Dosis tunggal dalam 22 dosis akan membunuh hingga 99,99%. Efek
samping adalah mual, diare, gangguan saluran cerna, gangguan saraf pusat
(insomnia, nyeri kepala, dizziness, nervousness dan halusinasi). Penggunaan
pada anak dan ibu hamil dapat menyebabkan artropati.
2) Minosiklin
Termasuk dalam kelompok tetrasiklin. Efek bakterisidal lebih tinggi daripada
klaritromisin tapi lebih rendah daripada rifampisin. Dosis 100 mg. Efek
samping antara lain hiperpigmentasi, simtom saluran cerna dan SSP.
3) Klaritromisin
Kelompok antibiotik makrolid dan mempunyai aktivitas bakterisidal M.
leprae. Dosis harian selama 28 hari dapat membunuh 99% dan selama 56 hari
sebesar 99,99%. Efek sampingnya adalah nausea, vomitus, dan diare.


11. Komplikasi
Di dunia, lepra mungkin penyebab tersering kerusakan tangan. Trauma dan
infeksikronik sekunder dapat menyebabkan hilangnya jari jemari ataupun ekstremitas
24

bagian distal. Juga sering terjadi kebutaan. Fenomena lucio yang ditandai dengan
artitis, terbatas pada pasien lepromatosus difus, infiltratif dan non noduler. Kasus
klinik yang berat lainnya adalah vaskulitis nekrotikus dan menyebabkan
meningkatnya mortalitas.Amiloidos sekunder merupakan penyulit pada penyakit
leprosa berat terutama ENL kronik.

12. Prognosis
Setelah program terapi obat biasanya prognosis baik, yang paling sulit adalah
manajemen dari gejala neurologis, kontraktur dan perubahan pada tangan dan kaki.
Ini membutuhkan tenaga ahli seperti neurologis, ortopedik, ahli bedah,
prodratis,oftalmologis, physical medicine, dan rehabilitasi. Yang tidak umum adalah
secondary amyloidosis dengan gagal ginjal dapat mejadi komplikasi.

13. Pencegahan
1) Pencegahan primer
1
Pencegahan primer dapat dilakukan dengan :
a. Penyuluhan kesehatan
Pencegahan primer dilakukan pada kelompok orang sehat yang belum
terkena penyakit kusta dan memiliki resiko tertular karena berada disekitar
atau dekat dengan penderita seperti keluarga penderita dan tetangga penderita,
yaitu dengan memberikan penyuluhan tentang kusta. Penyuluhan yang
diberikan petugas kesehatan tentang penyakit kusta adalah proses peningkatan
pengetahuan, kemauan dan kemampuan masyarakat yang belum menderita
sakit sehingga dapat memelihara, meningkatkan dan melindungi kesehatannya
dari penyakit kusta. Sasaran penyuluhan penyakit kusta adalah keluarga
penderita, tetangga penderita dan masyarakat.
b. Pemberian imunisasi
Sampai saat ini belum ditemukan upaya pencegahan primer penyakit
kusta seperti pemberian imunisasi. Dari hasil penelitian di Malawi tahun 1996
didapatkan bahwa pemberian vaksinasi BCG satu kali dapat memberikan
perlindungan terhadap kusta sebesar 50%, sedangkan pemberian dua kali
dapat memberikan perlindungan terhadap kusta sebanyak 80%, namun
demikian penemuan ini belum menjadi kebijakan program di Indonesia karena
25

penelitian beberapa negara memberikan hasil berbeda pemberian vaksinasi
BCG tersebut.
2) Pencegahan sekunder
1
Pencegahan sekunder dapat dilakukan dengan :
Pengobatan pada penderita kusta
Pengobatan pada penderita kusta untuk memutuskan mata rantai penularan,
menyembuhkan penyakit penderita, mencegah terjadinya cacat atau mencegah
bertambahnya cacat yang sudah ada sebelum pengobatan. Pemberian Multi
drug therapy pada penderita kusta terutama pada tipe Multibaciler karena tipe
tersebut merupakan sumber kuman menularkan kepada orang lain.
3) Pencegahan tersier
1
Pencegahan cacat kusta
Pencegahan tersier dilakukan untuk pencegahan cacat kusta pada penderita. Upaya
pencegahan cacat terdiri atas :
a. Upaya pencegahan cacat primer meliputi penemuan dini penderita
sebelum cacat, pengobatan secara teratur dan penangan reaksi untuk
mencegah terjadinya kerusakan fungsi saraf.
b. Upaya pencegahan cacat sekunder meliputi perawatan diri sendiri
untuk mencegah luka dan perawatan mata, tangan, atau kaki yang
sudah mengalami gangguan fungsi saraf.
Kesimpulan
1. Kusta adalah penyakit yang menahun dan disebabkan oleh kuman micobakterium
leprae.
2. Kusta dibagi dalam 2 bentuk,yaitu :
-kusta bentuk kering (tipe tuberkuloid)
-kusta bentuk basah (tipe lepromatosa)
3. Micobakterium leprae merupakan basil tahan asam (BTA) bersifat obligat
intraseluller, menyerang saraf perifer, kulitdan organ lain seperti mukosa saluran
napas bagian atas, hati, sumsum tulang kecuali susunan saraf pusat.
4. Micobakterium leprae masuk kedalam tubuh manusia, jika orang tersebut memiliki
respon imunitas yang tinggi maka kusta akan lebih mengarah pada tuberkuloid,
namun jika respon imunitas dari tubuh orang tersebut rendah maka kusta akan lebih
mengarah pada lepromatosa.
26

5. Manifestasi klinik dari penderita kusta adalah adanya lesi kulit yang khas dan
kehilangan sensibilitas.
6. Penularan penyakit kusta sampai saat ini hanya diketahui melalui pintu keluar kuman
kusta yaitu: melalui sekret hidung dan kontak langsung dengan kulit penderita. Selain
itu ada faktor-faktor lain yang berperan dalam penularan ini diantaranya: usia, jenis
kelamin, ras, kesadaran sosial dan lingkungan.
7. Untuk pencegahan penyakit kusta terbagi dalam 3 tahapan yaitu : pencegahan secara
primer, sekunder dan tersier.

Daftar Pustaka
1. Bickley, Lynn S. Buku saku pemeriksaan fisik & riwayat kesehatan bates. Ed 5.
Jakarta : Penerbit Buku Kedokteran EGC: 2008; hal.64-7.
2. Djuanda A, Kosasih A, Wiryadi, et al. Ilmu Penyakit Kulit dan Kelamin : Edisi 6.
Jakarta: Badan Penerbit Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia: 2010; hal. 73-83.
3. Legendre DP, Muzny CA, et al. Hansens disease (leprosy). Medscape reference:
2012; hal. 27-37.
4. Price SA, Wilson LM. Patofisiologi. Edisi VI. Jakarta : Penerbit Buku Kedokteran
EGC: 2006; hal. 1580-98.
5. Montoya D, Moddlin RL. Learning from leprosy : insight into the human innate
immune response. Vol. 105. Los Angeles: Elsevier: 2010; hal 1-24.
6. Sardjono OS. Farmakologi dan terapi. Edisi 5. Jakarta: Badan Penerbit Fakultas
Kedokteran Universitas Indonesia: 2007; hal. 633-37.