Anda di halaman 1dari 7

Nama : Mario H.

Refwalu
NRI : 121015052


Defenisi Kimia medisinal
Menurut IUPAC (1974)
Kimia medicinal : ilmu pengetahuan yang mempelajari penemuan, pengembangan, identifikasi
dan interpretasi cara kerja senyawa biologis aktif (obat) pada tingkat molekul.
Kimia medisinal juga melibatkan studi, identifikasi dan sintesis produk
metabolisme obat dan senyawa yang berhubungan.
Menurut Burger (1970)
Kimia Medisinal : ilmu pengetahuan yang merupakan cabang dari ilmu kimia dan biologi, dan
digunakan untuk memahami dan menjelaskan mekanisme kerja obat. Burger
menyatakan bahwa dalam kimia medisinal dilakukan usaha untuk menemukan
obat berdasarkan rasionalitas biokimiawi. Aktivitas ahli kimia medisinal
meliputi bidang biologi dan fisikokimia.

Sejarah kimia medicinal

Kimia medisinal sudah dipraktekkan sejak beribu tahun yang lalu. Manusia selalu berusaha
mencari pengobatan saat sakit dengan memanfaatkan berbagai tanaman meliputi herba, buah, akar,
kulit (by trial and error). Berbagai catatan menunjukkan efek terapi berbagai tanaman ditemukan di
: Cina, India, Amerika Selatan, dan sekitar Lautan Tengah (Mediterania). Pada periode pra-
saintifik, digunakan produk alam dalam pengobatan tradisional. Hingga saat ini ada beberapa obat
alam yang masih digunakan, baik murni maupun turunannya, seperti opium, belladonna, kulit kina,
ergot, kurare, dan lain-lain.

Setelah berkembang pengetahuan tentang anatomi dan fisiologi manusia, perkembangan
terapi obat memasuki era ilmiah. Percobaan tentang absorpsi obat dilakukan pertama kali oleh
Magendie (1783-1855), seorang ahli anatomi dari Paris, yang memberikan racun panah (Nux
vomica) pada hewan coba dengan berbagai rute dan mengamati efek konvulsi yang dihasilkan.


Ruang lingkup
Ruang lingkup bidang kimia medisinal menurut Burger (1980) adalah:
1. Isolasi dan identifikasi senyawa aktif dalam tanaman yang secara empirik telah digunakan
untuk pengobatan.
2. Sintesis struktur analog dari bentuk dasar senyawa yang mempunyai aktivitas pengobatan
potensial.
3. Mencari struktur induk baru dengan cara sintesis senyawa organik, dengan ataupun tanpa
berhubungan dengan zat aktif alamiah.
4. Menghubungkan struktur kimia obat dengan cara kerjanya.
5. Mengembangkan rancangan obat.
6. Mengembangkan hubungan struktur kimia dan aktivitas biologis melalui sifat kimia fisika
dengan bantuan statistic.





Hubungan kimia medicinal dengan bidang lain

Kimia Analisis
Kimia Organik
Kimia Fisik Farmasetika
Biokimia Biofarmasi


Kimia Medisinal -------------> farmakologi -----------> Kedokteran Klinik

Biologi Toksikologi
Mikrobiologi Patologi
Fisiologi

Tujuan dan manfaat kimia medisinal bagi farmasis

Kimia medisinal bermanfaat untuk memberikan pemahaman tentang nasib obat, aspek
kimia reseptor dan aspek kimia berbagai golongan obat, ditinjau dari struktur, isomerisme,
sifat fisikokimia, SAR dan metabolisme.
Kimia medisinal berfokus pada aspek kualitas obat dan bertujuan untuk memelihara
kesehatan sebagai tujuan dari produk obat.

Hubungan Struktur dengan Proses Absorpsi, Distribusi dan Ekskresi Obat

Hubungan struktur dengan proses absorpsi
Proses absorpsi merupakan dasar yang penting dalam menentukan aktivitas farmakologis
obat. Kegagalan ata kehilangan obat selama proses absorpsi akan mempengaruhi efek obat
dan menyebabkan kegagalan pengobatan.
1. Absorpsi Obat melalui Saluran Cerna
Pada pemberian secara oral, sebelum obat masuk ke peredaran darah dan
didistribusikan ke seluruh tubuh, terlebih dulu harus mengalami proses absorpsi pada saluran
cerna. Faktor-faktor yang berpengaruh terhadap proses absorpsi obat pada saluran cerna antara
lain:
Bentuk sediaan
Sifat kimia fisika
Cara pemberian
Faktor biologis
Faktor-faktor lain seperti umur, diet (makanan), adanya interaksi obat dengan
senyawa lain dan adanya penyakit tertentu.
Absorpsi obat melalui saluran cerna terutama tergantung pada ukuran partikel
molekul obat, kelarutan obat dalam lemak/air dan derajat ionisasi. Suatu obat yang bersifat
basa lemah , seperti amin aromatic (Ar-NH
2
), aminopirin , asetanilid, kafein dan kuinin, bila
diberikan melalui oral dalam lambung yang bersifat asam (pH 1-3,5) , sebagian besar akan
menjadi bentuk ion (Ar-NH
3
+
),yang mempunyai kelarutan dalam lemak sangat kecil sehingga
sukar menembus membrane lambung .
bentuk ion tersebut kemudian masuk ke usus halus yang bersifat agak basa (pH 5-8)
dan berubah menjadi bentuk tidak terionisasi (Ar-NH
2
),bentuk ini mempunyai kelarutan dalam
lemak besar sehingga mudah terdifusi menembus membrane usus.

Hubungan struktur dengan proses distribusi
Pada umumnya distribusi obat terjadi dengan cara menembus membran biologis
melalui proses difusi. Mekanisme difusi dipengaruhi oleh struktur kimia, sifat kimia fisika
obat dan sifat membran biologis.
Proses difusi dibagi menjadi dua yaitu difusi pasif dan difusi aktif.
1. Difusi pasif
a. Difusi pasif melalui pori
b. Difusi pasif dengan cara melarut pada lemak penyusun membran
c. Difusi pasif dengan fasilitas
2. Difusi aktif
a. Sistem pengangkutan aktif
b. Pinositosis
c. Interaksi obat dengan biopolimer
Setelah masuk ke peredaran sistemik, molekul obat secara serentak didistribusikan
ke seluruh jaringan dan organ tubuh. Kecepatan dan besarnya distribusi obat dalam tubuh
bervariasi dan tergantung pada faktor-faktor sebagai berikut:
Sifat kimia fisika obat, terutama kelarutan dalam lemak
Sifat membran biologis
Kecepatan distribusi aliran darah pada jaringan dan organ tubuh
Ikatan obat dengan sisi kehilangan
Adanya pengangkutan aktif dari beberapa obat
Masa atau volume jaringan



1) Struktur Membran Biologis
Membran biologis mempunyai dua fungsi utama, yaitu:
Sebagai penghalang dengan sifat permeabilitas yang khas
Sebagai tempat untuk reaksi biotransformasi energi
a. Komponen Membran Sel
Lapisan Lemak Bimolekul
Protein
Mukopolisakarida
b. Model Membran Sel
Model Struktur Membran Davson-Danielli (1935) : Struktur membran sel terdiri daru
dua bagian dalam adalah bagian lapisan lemak bimolekul dan bagian luar adalah satu
lapisan protein, yang mengapit lapisan lemak bimolekul. Protein ini bergabung dengan
bagian polar lemak melalui kekuatan elektrostatik.
Model Struktur Membran Robertson (1964) : Memperjelas model membran biologis
Davson-danielli yaitu daerah polar molekul lemak secara normal berorientasi pada
permukaan sel dan diselimuti oleh satu lapis protein pada permukaan membran.
Model Struktur Membran Singer dan Nicholson (1972) Disebut model cairan mosaik
dimana struktur membran terdiri dari lemak bimolekul dan protein globular yang
tersebar diantara lemak bimolekul tersebut.
2) Interaksi obat dengan biopolymer
a. Interaksi tidak khas
Interaksi tidak khas adalah interaksi obat dengan biopolymer, yang hasilnya tidak
memberikan efek yang berlangsung lama dan tidak menyebabkan perubahan struktur
molekul obat maupun biopolymer. Interaksi ini bersifat terpulihkan , ikatan kimia yang
terlibat pada umumnya mempunyai kekuatan yang relative lemah. Interaksi tidak khas
tidak menghasilkan respons biologis.
Interaksi obat dengan asam nukleat
Interaksi obat dengan mukopolisakarida
Interaksi obat dengan jaringan lemak
Pengaruh lain-lain dari interaksi tidak khas
b. Interaksi khas
Interaksi khas adalah interaksi yang menyebabkan perubahan struktur makromolekul
reseptor sehingga timbul rangsangan perubahan fungsi fisiologis normal, yang diamati
sebagai respons biologis.
1. Interaksi obat dengan enzim biotransformasi
2. Interaksi obat dengan reseptor

Hubungan struktur dengan proses ekskresi obat

1. Ekskresi obat melalui Paru
Obat yang diekskresikan melalui paru terutama obat yang digunakan secara inhalasi. Sifat
fisik yang menentukan kecepatan ekskresi obat melalui paru adalah koefisien partisi
darah/udara.



2. Ekskresi obat melalui Ginja
Ekskresi obat melalui Ginjal melibatkan tiga proses:
Penyaringan Glomerulus
Absorpsi Kembali secara Pasif pada Tubulus Ginjal
Sekresi Pengangkutan Aktif pada Tubulus Ginjal
3. Ekskresi Obat melalui Empedu
Obat dengan berat molekul lebih dari 150 dan obat yang telah dimetabolisis menjadi
senyawa yang lebih polar, dapat diekskresikan dari hati, melewati empedu menuju ke usus
dengan mekanisme pegangkutan aktif. Obat tersebut biasanya dalam bentuk terkonjugasi
dengan asam glukuronat, asam sulfat atau glisin. Di usus bentuk terkonjugat tersebut secara
langsung diekskresikan melaui tinja, atau dapat mengalami proses hidrolisis oleh enzim atau
bakteri usus menjadi senyawa yang bersifat non polar, sehingga diabsorpsi kembali ke
plasma darah, kembali ke hati, dimetabolisis, dikeluarkan lagi melaui empedu menuju ke
usus,demikian seterusnya sehingga merupakan suatu siklus yang dinamakan siklus
enterohepatik. Siklus ini menyebabkan masa kerja obat menjadi lebih panjang

Sifat interaksi obat-biopolimer secara non spesifik
Interaksi tidak khas adalah interaksi obat dengan biopolymer, yang hasilnya tidak
memberikan efek yang berlangsung lama dan tidak menyebabkan perubahan struktur
molekul obat maupun biopolymer. Interaksi ini bersifat terpulihkan ,ikatan kimia yang
terlibat pada umumnya mempunyai kekuatan yang relative lemah. Interaksi tidak khas
tidak menghasilkan respons biologis.
1. Interaksi obat dengan asam nukleat
2. Interaksi obat dengan muko polisakarida
3. Interaksi obat dengan jaringan lemak
4. Pengaruh lain-lain dari interaksi tidak khas
5. Interaksi khas
Sifat interaksi obat-biopolimer secara non spesifik adalah interaksi yang menyebabkan
perubahan struktur makro molekul reseptor sehingga timbul rangsangan perubahan fungsi
fisiologis normal, yang diamati sebagai respons biologis.
1. Interaksi obat dengan enzim bio transformasi
2. Interaksi obat dengan reseptor

Hubungan struktur dengan interaksi non spesifik antara obat dengan asam
nukleat,lemak, protein plasma
Beberapa obat berinteraksi dengan asam nukleat secara reversible padaRibo Nucleic Acid
(RNA) = Asam RiboNukleat, DeoxyRibo Nucleic Acid (DNA) = ADN or nukleotida inti
sel
Kuinakrin terikat kuat pada asam nukleat, sehingga untuk mencapai kadar
kemoterapik, harus diberi dosis awal yang besar
Hubungan strukur dengan interaksi non spesifik antara obat dengan lemak
Tubuh mengandung lemak netral cukup besar 20-50% dari berat badan
Berfungsi sebagai depo obat yang mudah larut dalam lemak
Obat terikat pada gliserida netral asam lemak, fosfolipid yang bersifat polar,
seperti: lesitin & sefaelin. Sterol seperti kolesterol.
Interaksi obat jaringan lemak bersifat reversible
Sifat kelarutan dalam lemak berpengaruh terhadap aktivitas biologis obat

Hubungan struktur dengan interaksi non spesifik antara obat dengan protein plasma
Dalam tubuh terdapat protein : pada plasma & jaringan, yang dapat berinteraksi
dengan hamper semua molekul obat
Bersifat terpulihkan
Interaksi kimia : ion, hidrogen, hidrofob, van der waals
Interaksi Obat Biopolimer sebagian besar terjadi dalam cairan darah
Kadar obat bebas dalam darah selalu berkaitan dengan kadar obat yang terikat oleh
protein plasma
Komponen darah mengandung protein 6,5% & 50% dari protein tersebut :
albumin, yang berperan penting dalam proses pengikatan obat
BM Albumin 69.000; amfoter, pH isoelektrik lebih redah dibanding pH fisiologis
7,4 sehingga dalam darah bermuatan negative
Albumin dapat berinteraksi baik dengan kation atau anion obat, karna mengandung
ion Zwitter
Selain Albumin, protein yang sering mengikat : gamma globulin
Jika protein plasma telah jenuh, obat bebas dalam cairan darah akan berinteraksi
dengan reseptor dan menimbulkan respon biologis
jika kadar obat dalam darah menurun, kompleks obat-protein plasma akan terurai
& obat bebas kembali ke plasma darah
Pada umumnya interaksi obat-protein plasma lebih tergantung pada struktur kimia
dibanding koefisien part o/w





Interaksi Obat-Enzim Biotransformasi
Interaksi obat-enzim biotransformasi, ditinjau dari tipe interaksi, bersifat relatif tidak khas
tetapi jika ditinjau dari akibat interaksi ternyata bersifat khas.
Contoh: Fisostigmin, suatu penghambat enzim asetilkolinesterase, dapat menghambat
pemecahan asetilkolin dalam tubuh & menimbulkan respons kolinergik.
Interaksi Obat-Reseptor
Tubuh mengandung makromol protein yang dapat berfungsi sebagai berikut:
a. Menyusun alat regenerasi sel, contoh : asam nukleat
b. Untuk transportasi senyawa biologis, contoh : hemoglobin untuk transportasi O2
c. Untuk kontraksi otot, contoh : aktin & myosin
d. Sebagai katalisator & mengontrol proses mekanisme tubuh, contoh: enzim
e. Sebagai reseptor obat

Interaksi obat-reseptor terjadi melalui 2 tahap:
1. Kompleks Obat - Reseptor khas. interaksi ini membutuhkan afinitas
2. Interaksi obat-reseptor, yang menyebabkan perubahan konformasi makromol protein
sehingga timbul respon biologis. Interaksi ini membutuhkan efikasi (aktifitas intrinsik)
yaitu: kemampuan obat untuk mengubah konformasi makromol protein sehingga dapat
menimbulkan respon biologis.