Anda di halaman 1dari 5

1.

Masalah wanita pada kasus


- Gastritis
Gastritis adalah proses inflamasi pada lapisan mukosa dan submukosa lambung
(Herlan, 2003), atau peradangan pada lapisan lambung Secara histopatologi dapat
dibuktikan dengan adanya inflitrasi sel-sel radang pada daerah tersebut
Gastritis akut dapat disebabkan oleh beberapa hal :
a. Iritasi yang disebabkan oleh obat-obatan, aspirin, obat antiinflamasi
Nonsteroid
b. Adanya asam lambung dan pepsin yang berlebihan
c. Dalam sebuah jurnal kedokteran, peneliti dari Unversitas Leeds,
mengungkapkan stress dapat mempengaruhi kebiasaan makan
seseorang. Saat stres, orang cenderung makan lebih sedikit, stres juga
menyebabkan perubahan hormonal dalam tubuh dan merangsang
produksi asam lambung dalam jumlah berlebihan. Akibatnya, lambung
terasa sakit, nyeri, mual, mulas, bahkan bisa luka (OConnor, 2007).
d. Waktu makan yang tidak teratur, sering terlambat makan, atau sering
makan berlebihan.
e. Menurut penelitian yang dilakukan Herlan pada tahun 2001 sekitar
20% faktor etiologi dari gastritis akut yaitu terlalu banyak makanan
yang berbumbu.pada orang yang sering meminum Alkohol dan bahan
kimia lainya yang dapat menyebabkan peradangan dan perlukaan pada
lambung.
f. Gangguan mikrosirkulasi mukosa lambung : trauma, luka bakar, sepsis
Endotoksin bakteri (setelah menelan makanan terkontaminasi), kafein,
alkohol dan aspirin merupakan agen pencetus yang lazim infeksi
Helicobacter Pylory lebih sering dianggap sebagai penyebab gastritis
akut. Organisme tersebut melekat pada epitel lambung dan
menghancurkan mukosa pelindung, meninggalkan daerah epital yang
gundul (Price &.Wilson, 2006)
Faktor agresif itu terdiri dari asam lambung, pepsin, AINS, empedu, infeksi virus,
infeksi bakteri, bahan korosif: asam dan basa kuat. Sedangakan faktor defensive
tersebut terdiri dari mukus, bikarbonas mukosa dan prostaglandin
mikrosirkulasi.(Hirlan, 2001).
Penanganan
Faktor utama adalah dengan menghilangkan etiologinya, diet lambung
dengan posisi kecil dan sering
a. Obat-obatan ditujukan untuk mengatur sekresi asam lambung berupa
antagonis reseptor H2 Inhibition pompa proton, antikolinergik dan
antasid juga ditujukan sebagai sifo protektor berupa sukralfat dan
prostaglandin (Mansjoer, 1999)
b. Menurut sejumlah penelitian, makan dalam jumlah kecil tapi sering
serta memperbanyak makan makanan yang mengandung tepung,
seperti nasi, jagung, dan roti akan menormalkan produksi asam
lambung. Kurangilah makanan yang dapat mengiritasi lambung,
misalkan makanan yang pedas, asam, dogoreng, dan berlemak.
c. Hilangkan kebiasaan mengkonsumsi alkohol. Tingginya konsumsi
alkohol dapat mengiritasi atau merangsang lambung, bahkan
menyebabkan lapisan dalam lambung terkelupas sehingga
menyebabkan peradangan dan perdarahan di lambung.
d. Jangan merokok. Merokok akan merusak lapisan pelindung lambung.
Oleh karena itu, orang yang merokok lebih sensitif terhadap gastritis
maupun ulser. Merokok juga akan meningkatkan asam lambung,
melambatkan kesembuhan, dan meningkatkan risiko kanker lambung.
e. Ganti obat penghilang rasa sakit, jika memungkinkan jangan
menggunakan obat pengialng rasa sakit dari golongan NSAIDs, seperti
aspirin, ibuprofen, dan naproxen dan obat-obat tersebut dapat
mengiritasi lambung.
f. Memelihara tubuh. Problem saluran pencernaan seperti rasa terbakar di
lambung, kembung, dan konstipasi lebih umum terjadi pada orang
yang mengalami kelebihan berat badan (obesitas). Oleh karena itu,
memelihara berat badan agar tetap ideal dapat mencegah terjadinya
sakit maag.
g. Memperbanyak olahraga. Olahraga aerobik dapat meningkatkan detak
jantung yang dapat menstimulasi aktivitas otot usus sehingga
mendorong isi perut dilepaskan dengan lebih cepat. Disarankan
aerobik dilakuakn setidaknya selam 30 menit setiap harinya.
h. Manajemen stres. Stres dapat meningkatkan serangan jantung dan
stroke. Kejadian ini akan menekan respons imun dan akan
mengakibatkan gangguan pada kulit. Selain itu, kejadian ini juga akan
meningkatkan produksi asam lambung dan menekan pencernaan.
Tingkat stres seseorang berbeda-beda untuk setiap orang. Untuk
menurunkan tingkat stress anda disarankan banyak mengkonsumsi
makanan bergizi, cukup istirahat, berolahraga secara teratur, serta
selalu menenangkan pikiran. Anda dapat menenangkan pikiran dengan
melakukan meditasi atau yoga untuk menurunkan tekanan darah,
kelelahan dan rasa letih

- GERD
Berdasarkan Konsensus Montreal tahun 2006 (the Montreal definition and
classification of gastroesophageal reflux disease : a global evidence-based
consensus), penyakit refluks gastroesofageal (Gastroesophageal Reflux
Disease/GERD) didefinisikan sebagai suatu keadaan patologis sebagai akibat
refluks kandungan lambung ke dalam esofagus yang menimbulkan berbagai gejala
yang mengganggu (troublesome) di esofagus maupun ekstra-esofagus dan/atau
komplikasi (Vakil dkk, 2006). Komplikasi yang berat yang dapat timbul adalah
Barrets esophagus, striktur, adenokarsinoma di kardia dan esofagus (Vakil dkk,
2006), (Makmun, 2009).
Penyebab GERD
Terdapat berbagai faktor yang menyebabkan terjadinya GERD. Esofagitis
dapat terjadi sebagai akibat refluks esofageal apabila : 1). Terjadi kontak
dalam waktu yang cukup lama antara bahan refluksat dengan mukosa
esofagus, 2). Terjadi penurunan resistensi jaringan mukosa esofagus
(Makmun, 2009).
Refluks gastroesofageal pada pasien GERD terjadi melalui 3 mekanisme :
1). Refleks spontan pada saat relaksasi LES tidak adekuat, 2). Aliran
retrograd yang mendahului kembalinya tonus LES setelah menelan, 3).
Meningkatnya tekanan intra abdomen. Dengan demikian dapat diterangkan
bahwa patogenesis terjadinya GERD menyangkut keseimbangan antara
faktor defensif dari esofagus (pemisah anti refluks, bersihan asam dari
lumen esofagus, ketahanan epitel esofagus) dan faktor ofensif dari bahan
refluksat. Faktor-faktor lain yang turut berperan dalam timbulnya gejala
GERD adalah kelainan di lambung yang meningkatkan terjadinya refluks
fisiologis, antara lain dilatasi lambung atau obstruksi gastric outlet dan
delayed gastric emptying (Makmun, 2009).
Faktor risiko penyakit GERD ini antara lain :
Obesitas,
Tidur terlentang atau langsung tidur setelah makan,
Merokok,
Minuman atau makanan beralkohol,
Kopi,
Stres
Kopi menyebabkan asam lambung meningkat, begitu juga stress. Stress
akan mempengaruhi lambung untuk memproduksi asam lambung.
Solusi dan Pengobatan
1. Turunkan berat badan.
2. Longgarkan pakaian.
3. Tidur dalam posisi setengah duduk dan tunggulah hingga perut kosong.
Jangan tidur langsung setelah makan. Bila akan tidur setelah makan, maka
tunggulah setelah 2-3 jam.
4. Hindari rokok, kopi, coklat, alkohol, pedas, lemak, mint, bawang putih,
bawang merah, makanan yang digoreng.
5. Hindari kafein dan teofilin.
6. Jangan mengobati atau membeli obat sendiri.
7. Segeralah menghubungi dokter kembali bila obat habis namun belum
sembuh.
Beberapa pilihan obat untuk mengendalikan sensasi terbakar atau nyeri di
dada (heartburn) :
1. Antacid untuk menetralkan asam lambung. Efek samping dari
penggunaan antacid yang berlebihan adalah diare (mencret) atau konstipasi
(sulit buang air besar).
2. Terapi untuk mengurangi produksi asam (H-2-receptor blockers),
misalnya seperti: cimetidine, famotidine, nizatidine, atau ranitidine.
3. Terapi untuk menghalangi produksi asam dan menyembuhkan
kerongkongan, yang disebut proton pump inhibitors. Untuk menghambat
produksi asam dan memberikan waktu kepada jaringan kerongkongan
yang rusak untuk dipulihkan. Misalnya: lansoprazole, omeprazole,
esomeprazole, pantoprazole, dan rabeprazole.
4. Terapi untuk memperkuat sfingter esofagus bagian bawah disebut agen
prokinetic. Kerjanya membantu mempercepat pengosongan lambung dan
menguatkan katub atau klep antara lambung dan esofagus. Efek
sampingnya adalah kelelahan, depresi, cemas.
5. Terapi herbal, akupunktur dan terapi relaksasi.
http://www.rs-sejahterabhakti.com/2013/07/gerd-gastroesophageal-reflux-
disease.html

- Ulkus Peptikum
U lkus peptikum (UP) adalah kerusakan pada lapisan mukosa, sub mukosa sampai
lapisan otot saluran cerna yang disebabkan oleh aktifitas pepsin dan asam
lambung. Ulkus peptikum dapat mengenai esofagus sampai usus halus, tetapi
kebanyakan terjadi pada bulbus duodenum (90%) dan kurvatura minor.
(http://saripediatri.idai.or.id/pdfile/3-4-5.pdf)
Diketahui ada dua faktor utama penyebab ulkus peptikum, yaitu, infeksi
Helicobacter pylori, dan penggunaan NSAID
Faktor resiko
a. Konsumsi Rokok
Bukti yang cukup kuat menunjukkan bahwa mengonsumsi rokok
merupakan faktor yang cukup besar yang berhubungan dengan
kejadian,
lama kejadian, rekurensi dan komplikasi dari ulkus peptikum yang
disebabkan oleh Helicobacterpylori.Suatu penelitian epidemiologi
menunjukkan merokok meningkatkan resiko baik ulkus duodenal
maupun
ulkus lambung dan resikonya tergantung pada jumlah rokok yang
dikonsumsi. Merokok memperlambat penyembuhan ulkus,
menyebabkan
rekurensi , dan meningkatkan resiko komplikasi. Berhenti merokok
sangat
penting untuk mencegah rekurensi dari ulkus duodenal.
b. Konsumsi Alkohol
Konsentrasi tinggi dari alkohol menyebabkan kerusakan pembatas
mukosa lambung terhadap ion hidrogen dan berhubungan dengan lesi
mukosa lambung akut yang disebabkan pendarahan mukosa. Alkohol
sendiri menstimulasi sekresi asam, dan komposisi dari minuman
beralkohol selain dari alkohol juga menstimulasi sekresi asam.
c. Faktor Psikologi
Faktor psikologis walaupun belum diketahui dengan pasti
mekanismenya, juga dapat meningkatkan resiko ulkus peptikum. Stres
psikologi dapat menyebabkan perilaku menyimpang seperti
meningkatkan konsumsi rokok, konsumsi alkohol, penggunaan obat -
obatan dan kurang tidur yang bisa menyebabkan pertahanan mukosa
rusak sehingga bisa mengarah pada ulkus. Perilaku menyimpang tadi
juga bisa menyebabkan sekresi asam berlebihan, aliran darah
berkurang, motilitas lambung meningkat, motilitas usus menurun
sehingga menyebabkan jumlah asam yang memasuki usus meningkat.
Kekebalan tubuh juga dapat menurun
Penanganan
Beberapa faktor mempengaruhi penyembuhan ulkus dan
kemungkinan untuk kambuh. Faktor yang reversibel harus diidentifikasi
seperti infeksi Helicobacterpylori, penggunaan NSAID dan merokok.
Waktu penyembuhan ulkus tergantung pada ukuran ulkus. Ulkus
lambung yang besar dan kecil bisa sembuh dalam waktu yang relatif sama
jika terapinya efektif. Ulkus yang besar memerlukan waktu yang lebih
lama untuk sembuh (Soll, 2009)
a. Bedah
Pembedahan sekarang tidak digunakan lagi dalam penatalaksaan
ulkus peptikum, kecuali pada saat keadaan darurat.
Universitas Sumatera UtaraAntasida dan antikolinergik
Antasida dan antikolinergik biasanya tidak terlalu efektif dan harus
digunakan terus-menerus dan menghasilkan efek samping.
b. H2 reseptor antagonis
Pengobatan pertama kali yang efektif pada ulkus peptikum
terungkap ketika H2 reseptor antagonis ditemukan. Untuk saat itu obat
seperti cimetidine dan ranitidine dipakai di pakai diseluruh dun ia.
c. Proton Pump Inhibitor (PPI)
PPI secara ireversibel menghentikan produksi asam oleh sel
parietal. Omeprazole merupakan salah satu obat PPI pertama kali.
d. Menghentikan Helicobacter pylori
Menghentikan Helicobacter pylori merupakan cara paling ampuh
dan secara permanen menghentikan hampir semua kasus ulkus.
Diperlukan kombinasi terapi antara penghenti asam dan dua atau tiga
antibiotik agar berhasil.
e. Penatalaksanaan Darurat
Pendarahan atau perforasi memerlukan operasi darurat dan terapi
endoskopi, seperti menyuntik adrenaline disekitar pembuluh darah agar
pendarahan berhenti (Keshav, 2004).