Anda di halaman 1dari 41

Husni Ahmad Khusaeri, S.Si., Apt.

DEFINISI
Kemoterapi :
terapi mengunakan obat obat kimiawi untuk
memberantas penyakit infeksi yg disebabkan
mikroorganisme : bakteri, fungi, virus, protozoa, sel
sel kanker (obat sitostatika), termasuk juga dalam
golongan ini adalah obat cacing.

Antibiotik :
zat zat kimia yang (dihasilkan oleh fungi & bakteri),
memiliki khasiat mematikan atau menghambat
pertumbuhan kuman, sedangkan toksisitasnya bagi
manusia relatif kecil.

KLASIFIKASI ANTIBIOTIKA
I. Berdasarkan mekanisme kerja, aktivitas antibiotik,
dibagi :
1. Bakterisid, yaitu antibiotik yang pada dosis biasa
berkhasiat mematikan kuman (bakteri).
1.1. bekerja pada fase tumbuh
contoh : gol. Beta laktam (penisilin, sefalosporin), gol.
Polipeptida (polimiksin, basitrasin); rifampicin; asam
nalidiksat, dan gol. Kinolon.
1.2. bekerja pada fase istirahat
contoh : gol. Aminoglikosida, nitrofurantoin, INH,
kotrimoksazol.

KLASIFIKASI ANTIBIOTIKA
2. Bakteriostatis, yaitu antibiotik yang pada dosis biasa
berkhasiat menghentikan / menghambat pertumbuhan
dan perbanyakan kuman, pemusnahan kuman
dilakukan oleh sistem imun dari tubuh sendiri
(inang/hospes) dg jalan fagositosis (dimakan oleh
limfosit).
contoh obat : sulfonamid, kloramfenikol, tetrasiklin,
makrolida, linkomisisn, asam fusidat, PAS (p-
aminosalisilat).


KLASIFIKASI ANTIBIOTIKA
II. Berdasarkan luas aktivitasnya
1. Antibiotik spektrum sempit (narrow-spectrum)
yaitu antibiotika yang aktif terhadap beberapa jenis
kuman saja, contoh : penisilin G & V, eritromisin,
klindamisin, kanamisin, asam fusidat (hanya bekerja
terhadap kuman gram-positif); streptomisin,
gentamisin, polimiksin-B, dan asam nalidiksat (hanya
aktif terhadap bakteri gram negatif)
2. Antibiotik spektrum luas (broad-spectrum), yaitu
antibiotik yang bekerja terhadap lebih banyak jenis
kuman baik bakteri gram positif maupun gram negatif.
Contoh obat : sulfonamida, ampisilin, sefalosforin,
kloramfenikol, tetrasikiln, rifampisin.

KLASIFIKASI BAKTERI
Pengolongan bakteri yang mempunyai makna
(manfaat) dalam poses terapi adalah pengolongan
menurut dr. Gram, secara garis besar bakteri
dibedakan menjadi 2 golongan besar yaitu :
Bakteri gram positif : yaitu bakteri dengan struktur
dinding sel tertentu sehingga memberikan warna (positif)
terhadap pengecatan gram
Bakteri gram negatif : yaitu bakteri dengan struktur
dinding sel tertentu yang negatif terhadap pengecatan
gram.

MEKANISME KERJA ANTIBIOTIKA
1. Penghambatan sintesis dinding sel
jika sintesis dinding sel terganggu maka dinding sel
menjadi kurang sempurna & tekanan osmotik dalam
sel kuman lebih tinggi daripada di luar sel shg terjadi
kerusakan dinding sel kuman, akibatnya pecah/lisis.
contoh obat : penisilin, sefalosporin, basitrasin,
sikloserin, vankomisin.
2. Penghambatan fungsi membran sel
molekul lipoprotein di dalam dinding sel yg semi
permeabel diganggu sintesisnya shg menjadi lebih
permeabel. Akibatnya zat-zat penting (isi sel) dapat
merembes keluar maka sel rusak / mati.
contoh obat : polimiksin, polien (nistatin, amfoterisin
B), azol / imidazol (mikonazol, ketokonazol,
klotrimazol).

MEKANISME KERJA ANTIBIOTIKA
3. Penghambatan sintesis protein sel
sintesis protein bakteri di ribosom diganggu oleh antibiotik dg
berbagai cara.
contoh obat : aminoglikosida, tetrasiklin, makrolida
(eritromisin), kloramfenikol, linkomisin.
4. Penghambatan sintesis asam nukleat / asam inti (DNA,
RNA).
contoh : rifampisin berikatan dg enzim polimerase-RNA shg
menghambat sintesis RNA & DNA oleh enzim tsb.
5. Penghambatan metabolisme sel bakteri (antagonisme
kompetitif).
antibiotik menyaingi zat-zat penting untuk metabolisme
kuman shg pertukaran zatnya terhenti, dihasilkan efek
bakteriostatik.
contoh : sulfonamid, trimetoprim, PAS, INH, pirimetamin.

PEMILIHAN ANTIBIOTIKA
Jika harus dipilih beberapa obat antibiotika yang mempunyai
aktivitas dan sifat farmakokinetik kurang lebih sama maka
dipilih obat dengan pertimbangan :
1. Antibiotik bakterisid lebih dipilih daripada bakteriostatik
2. Antibiotik dengan daya penetrasi kuat ke dalam organ atau
CCS lebih disukai karena obat lebih mudah diserap
ketempat infeksi, contoh obat dg penetrasi baik ke dalam
jaringan : amoksisilin, linkomisin, rifampisin. Spiramisin
berpenetrasi baik khusus ke dalam jaringan mulut dan
tenggorokan. Sulfonamid, kloramfenikol, rifampisin, adalah
obat dg penetrasi baik ke dalam CCS shg menjadi pilihan
utama pd meningitis.
3. Antibiotik dengan pemakaian 1-2 kali sehari lebih disukai
dari pada 3-4 kali sehari (meningkatkan kepatuhan minum
obat).
4. Antibiotik yang terikat protein plasma rendah lebih
diutamakan, karena prosentase obat bebas besar shg yg
didistribusikan ketempat infeksi juga besar.

PEDOMAN PENGGUNAAN OBAT
1. Frekuensi pemakaian tergantung t obat (ukuran kecepatan
eliminasi). Antibiotik dg t pendek, pemberiannya sampai 5x
sehari, sedangkan obat dg t panjang, pemberiannya 1x
sehari bahkan 1x seminggu.

2. Lama terapi dg kemoterapetik harus cukup panjang untuk
menjamin semua parasit mati &
menghindarkan kambuhnya penyakit, biasanya terapi terus
dilanjutkan 2-3 hari setelah gejala hilang, untuk lepra dan tbc
sering kali butuh waktu bertahun-tahun.

EFEK SAMPING ANTIBIOTIK
Pengunaan antibiotika yang tidak tepat skema penakarannya
dapat menggagalkan terapi dan menimbulkan efek samping
sbb :

1. Resistensi sel bakteri : suatu sifat tidak terganggunya
kehidupan sel bakteri oleh antibiotik. (resistensi primer,
sekunder, episomal, & resistensi silang).
Bahaya resistensi bakteri : pengobatan infeksi lebih sulit,
lama sakit bertambah, komplikasi, kematian meningkat.
Pencegahan resistensi bakteri :
a. dosis obat relatif tinggi (dibanding dosis efektif minimal),
selama waktu agak singkat, sbg ganti kur panjang tanpa
istirahat. Bila mungkin, lama terapi maksimal 5 hari.
b. penggunaan kombinasi (2 / lebih antibiotika), terutama pd
TBC, lepra, kanker.
c. pembatasan penggunaan antibiotika hanya untuk penyakit
infeksi parah (karena kuman berbahaya) & tidak untuk
membasmi kuman biasa (mis : sakit tenggorokan, radang
telinga luar).

EFEK SAMPING ANTIBIOTIK
2. Sensitasi

antibiotik menjadi lebih peka setelah dipakai topikal shg
pasien menjadi hipersensitif. Bila antibiotik yg sama
digunakan sistemik (p.o. / parenteral) terjadi alergi (gatal,
kemerahan, bentol, demam, kelainan darah, shock
anafilaktis, fatal !).

Pencegahan sensitasi : jangan menggunakan antibiotik
tertentu (penisilin, kloramfenikol, sulfonamid) sbg BSO topikal
(lotion, krim, salep).

Contoh obat yg jarang menimbulkan sensitasi & banyak
digunakan secara topikal : framisetin, fusidat, tetrasiklin.

EFEK SAMPING ANTIBIOTIK
3. Supra-infeksi

infeksi sekunder dg parasit berlainan (parasit yg berubah
patogenitasnya) yg timbul di atas infeksi primer.
Penyebab supra infeksi : terapi antibiotik jangka lama; dosis
antibiotik yg kurang; sistem imun pasien pengguna antibiotik
terganggu; karena penggunaan antibiotik spektrum luas sehingga
mengganggu keseimbangan antar bakteri di dalam usus, sal.
nafas, & kemih. Kelompok mikroorganisme yg lebih kuat & resiten
kehilangan saingan shg menjadi lebih dominan & terjadi infeksi
baru.
Contoh obat yang menimbulkan supra-infeksi : ampisilin,
kloramfenikol, tetrasiklin.
Gejala supra infeksi : stomatitis; radang saluran nafas, usus,
saluran kencing; infeksi kulit & kandidiasis, bahkan diare.
Pencegahan supra infeksi : awasi adanya gejala supra infeksi,
pemberian antibiotik spektrum sempit lebih dianjurkan dari pada
spektrum luas, waktu penggunaan antibiotik sebaiknya 1 minggu
(maksimal 5 hari) dg dosis rasional.

EFEK SAMPING ANTIBIOTIK
4. Toksisitas antibiotik yg langsung pd organ.
Beberapa antibiotik menimbulkan kerusakan pd organ tertentu.
Tabel : toksisitas organ yg ditimbulkan oleh beberapa antibiotik & hal-hal
yg perlu diwaspadai.
Antibiotik Tempat
toksisitas
Hal yg perlu diwaspadai
Penisilin
Sefalosporin
Otak 1. Hndari pemberian dg injeksi intratekal /
spinal.
2. Lakukan pemantauan terhadap pasien dg
riwayat konvulsi & gagal ginjal, jika diberi
antibiotik tsb.
Gentamisin
Vankomisin
Eritromisin (jarang)
Telinga bagian
dalam (ototoksik)
1. Jangan menggunakan bersamaan dg
obat lain yg menggeanggu fungsi telinga,
mis : diuretik furosemid.
2. Pastikan sebelum, selama & setelah
terapi, bahwa fungsi pendengaran &
keseimbangan pasien tetap baik.
3. Bila pasien mengalami tinitus (telinga
berdenging), segera laporkan pd
prescriber.
Lanj. Tabel

Antibiotik Tempat toksisitas Hal yg perlu diwaspadai
Tetrasiklin Tulang & gigi yg
sedang tumbuh
Jangan memberikan antibiotik ini pd
ibu hamil & anak < 8 tahun.
Eritromisin
Rifampisin
Tetrasiklin
Sefalosporin (jarang)
Hepar (jepatotoksik) 1. Penggunaan jangka lama,
sebaiknya dilakukan tes
laboratorium sebelum & selama
terapi secara teratur untuk
memantau fungsi hati (awasi
kenaikan SGPT & SGOT).
2. Hindari penggunaannya pd
pasien dg riwayat abuse alkohol
atau mengalami fatty liver pd
kehamilannya.
Kotrimoksazol Pankreas 1. Hati-hati terhadap gejala vomitus
berat & nyeri yg menjalar ke
punggung.
2. Lakukan pemantauan kadar
glukosa darah.
Tetrasiklin
Asiklovir
Kulit (fotosensitifitas) Hindari kulit terkena sinar matahari
langsung, gunakan krim tabir
surya (sunscreen).
Lanj. tabel
Antibiotik Tempat toksisitas Hal yg perlu diwaspadai
Gentamisin
Kotrimoksazol
Vankomisin
Sefalosporin (jarang)
Penisilin
Tetrasiklin
Ginjal (nefrotoksik) Sebaiknya melakukan
pemeriksaan darah untuk
memantau nilai fungsi ginjal, atau
menggunakan obat alternatif lain
bila pasien menderita gangguan
fungsi ginjal.
Kloramfenikol
Kotrimoksazol
Sefalosporin (jarang)
Asiklovir
Sumsum tulang belakang 1. Hindari penggunaannya pd
pasien dg riwayat kelainan
sumsum tulang belakang &
sedang menggunakan obat
lain (mis : karbimazol) yg
berpotensi toksik terhadap
sumsum tulang belakang.
2. Sebaiknya melakukan
hitung sel darah lengkap.
EFEK SAMPING ANTIBIOTIK
5. Alergi &/ hipersensitifitas.

Antibiotik dianggap sebagai antigen / alergen oleh tubuh, shg
tubuh membentuk antibodi (IgE) yg berikatan dg antigen tsb.
Ikatan Ag-Ab tsb mengikatkan diri pd mast cels (a.l. di mata ,
hidung, sal. nafas, & kulit) & kelamaan mast cels pecah
(degranulasi) serta melepaskan mediator (a.l. histamin) dg
akibat : ruam kulit, urtikaria, pruritus, bronkokonstriksi,
udema, hipersekresi mukus. Apabila pelepasan mediator tsb
secara menyeluruh (general release) maka dapat terjadi syok
anafilaktik, dg gejala : kolaps vaskuler, udema larings,
bronkospasme & henti jantung bahkan kematian). Contoh
obat yg sering menimbulkan syok anafilaktik : injeksi penisilin
( 20 menit sesudah injeksi).

EFEK SAMPING ANTIBIOTIK
Lanj. Alergi
Cara menangani alergi / hipersensitifitas antibiotika :
1. Mengkaji riwayat alergi obat dg cermat, bila perlu lakukan uji
kepekaan obat.
2. Segera hentikan penggunaan obat bila ada gejala alergi
ringan/berat.
3. Gejala alergi ringan diatasi dg pemberian antihistamin /
kortikosteroid (p.o.).
4. Syok anafilaktik diatasi dg :
pemberian injeksi adrenalin i.m., diulang tiap 5 menit
sampai ada perbaikan TD & denyut nadi).
Pemberian O2 dan antihistamin (klorfeniramin) i.v.
Pada anafilaktik parah / berulang kali dianjurkan
pemberian injeksi hidrokortison i.m. / i.v.
PENGGUNAAN KOMBINASI ANTIBIOTIK
Pada umumnya penggunaan kombinasi antibiotik tidak
dianjurkan tetapi beberapa kombinasi dapat bermanfaat, yaitu :
Infeksi campuran : (basitrasin + polikmiksin), BSO topikal.
Untuk memperoleh potensiasi : (sulfamotoksazol +
trimetropin = kotrimoksazol)
Untuk mengatasi resistensi : (amoksisilin + asam-
Klavunolat)
Untuk menghambat resistensi : khususnya pada infeksi
menahun TBC (rifampisin + INH + ethambutol)
Untuk mengurangi toksisitas : (trisulfa = sulfadiazin,
sulfamerazin, sulfametazin, dan sitostatika).

ANTAGONISME & SINERGISME
Pada umumnya penggunaan kombinasi antibiotik dari
berbagai kelompok menghasilkan potensiasi/adisi
(sinergisme) tetapi dapat juga menimbulkan
antagonisme (penurunan / peniadaan efek terapi).
Contoh adisi : kombinasi penisilin dan sulfa.
Contoh antagonisme : kombinasi penisilin /
sefalosporin dengan tetrasiklin / kloramfenikol, hal ini
karena penisilin/sefalosporin aktif ketika bakteri
tumbuh (bakterisid) sedangkan
tetrasiklin/kloramfenikol merupakan bakteriostatik.

ANTIBIOTIK GOLONGAN BETA-LAKTAM
(PENISILIN & SEFALOSPORIN)
I. GOLONGAN PENISILIN
Penisilin-G dan turunannya merupakan bakterisid terutama
terhadap gram positif, hanya beberapa kuman gram negatif.
Tak dapat dikombinasikan dengan bakteriostatik
(tetrasiklin,kloramfenikol, eritromisin dan asam fusidat).
Efek samping yang perlu diwaspadai adalah reaksi alergi
karena hipersensitasi dan dapat menimbulkan shock
anafilaksis bahkan kematian.
Semua penisilin dianggap aman untuk ibu hamil & laktasi.

Contoh obat gol. Penisilin :
1. Benzil penisilin (penisilin-G)
untuk radang paru-paru, radang otak, pencegahan
sifilis, gonorhoe.
Tidak tahan asam diberikan infus i.v. atau injeksi i.m.
Distribusi ke jaringan intraseluler bagus, penetrasi ke
jaringan otak buruk tetapi menjadi lebih baik jika ada
radang selaput otak
Dosis infeksi umum i.v./i.m 4-6 dd
Contoh obat gol. Penisilin :

Mempunyai spektrum luas & tahan asam.
Banyak digunakan untuk infeksi pernafasan (bronkitis kronis),
saluran cerna , saluran kemih, telinga, gonore, kulit dan
jaringan lunak.
absorpsinya dari usus 30-40% (dikurangi oleh makanan),
plasma t 1-2 jam.
dosis : infeksi umum (oral) 4dd 500 -1000 mg, a.c ; ISK : 3-4 dd
500 mg; gonorhoe: 1x3,5 g + probenesid 1 g, tifus 4 dd 1-2 g
selama 2 minggu.
Efek samping : gangguan lambung-usus, alergi
2. Ampisilin
Contoh obat gol. Penisilin :

Merupakan derivat hidroksi dari ampisilin
absorpsinya dari usus 80%
Plasma - tnya hampir sama dengan ampisilin, tetapi
penetrasi kejaringan tubuh lebih baik, ekskresi bentuk
utuhnya pada urin jauh lebih besar 70% sehingga
lebih layak digunakan untuk infeksi saluran kencing
dibanding ampisilin.
Dosis oral 3 dd 375-1000 mg, anak 3-10 thn 3 dd 250
mg,1-3thn 3xsehari 125mg, 0-1 tahun 3xsehari
100mg, juga diberikan i.m. / i.v.
Efek samping : alergi, gangguan saluran G.I.
3. Amoksisilin
II. GOLONGAN SEFALOSPORIN
Termasuk golongan beta laktam yang struktur, khasiat
dan sifatnya mirip penisilin.
Merupakan antibiotik semi sintetik.
Termasuk antibiotik spektrum luas & bakterisid pada
fase pertumbuhan kuman.
Tidak terlalu peka terhadap beta-laktamase.
Efek samping mirip dengan penisilin (obat oral : diare,
mual, muntah; alergi; gangguan ginjal pd generasi I).
Resistensi dapat timbul dengan cepat jadi tidak boleh
digunakan sembarangan, cadangan untuk infeksi
berat.
Resistensi silang dg penisilin dapat terjadi.

Penggolongan sefalosporin menurut khasiat dan
ketahanan/resistensinya terhadap
beta-laktamase :
Generasi ke-1: sefalotin, sefazolin,sefadrin, sefaleksin
dan sefadroksil. Tidak tahan beta-laktamase.
Generasi ke-2 : sefaklor, sefamandol, sefmetazol,
sefuroksim. Agak kuat tahan beta-laktamase.
Generasi ke-3 : sefoperazon,sefotaksim, seftitokzim,
seftriakson, sefotiam, sefiksim. Lebih kuat tahan beta-
laktamase.
Generasi ke-4 : sefepim dan sefpirom. Sangat
resisten / tahan beta-laktamase.

Penggunaan sefalosporin
Sebagian besar sefalosporin diberikan parental terutama di RS
Zat generasi ke-1 sering digunakan peroral pada infeksi
saluran kemih ringan dan obat pilihan ke-2 untuk infeksi saluran
pernafasan dan kulit yang tidak serius dan bila terdapat alergi
untuk penisilin.
Zat generasi ke-2 / ke-3 digunakan parental pada infeksi
serius yg resisten amoksisilin dan sefalosforin generasi ke-1,
biasa dikombinasi dengan aminoglikosida untuk memperkuat
aktivitasnya & untuk profilaksis bedah jantung, usus, dan
ginekologi.
Zat generasi ke-3 seftriakson & sefotaksim sebagai obat
pilihan pertama untuk gonorhoe.
Penggunaan pada kehamilan hanya sefalotin dan sefaleksin,
yang lain belum ada cukup data. Obat generasi I, sefaklor,
sefotaksim, seftriakson dianggap aman untuk bayi.


ANTIBIOTIK GOLONGAN AMINOGLIKOSIDA
Dapat digolongkan menjadi :
Streptomisin
Kanamisin, amikasin, dibekasin, gentamisin, netilmisin,
tobramisin
Neomisin, framisetin, dan paromomisin
Merupakan antibiotik spektrum luas pengunaan untuk terapi
TBC (streptomisin & kanamisin).
Aktivitasnya adalah bakterisid.
Efek samping : (parenteral) terjadi kerusakan organ
pendengaran (irreversibel)dan merusak ginjal (reversibel).
Toksisitas tsb tidak tergantung dosis melainkan dari lama
pemakaian & jenis aminoglikosida, sebaiknya diberikan 1 2
dd.
Obat golongan ini tidak dianjurkan selama hamil karena dapat
melewati plasenta dan merusak ginjal & ketulian pada janin.
Dapat diberikan selama laktasi.

ANTIBIOTIK GOLONGAN TETRASIKLIN
Merupakan antibiotik spektrum luas dg aktivitas
bakteriostatik.
Penggunaan untuk infeksi saluran nafas, saluran
kemih, kulit dan mata
Efek samping : (oral) mual, muntah, diare; supra-
infeksi; kerusakan pada tulang & gigi yg sedang
tumbuh; fotosensitasi (kulit peka cahaya, jangan kena
sinar matahari); kemungkinan hepatotoksik (pd ibu).
Tetrasiklin tidak boleh diberikan bersama makanan yg
kaya Fe, Ca, & Zn (khususnya susu) & antasida.
Sebaiknya tetrasiklin diminum 1 jam a.c. atau 2 jam
p.c.
Tidak boleh diberikan pada ibu hamil terutama setelah
bulan ke-4, menyusui dan anak dibawah 8 tahun.
ANTIBIOTIK GOLONGAN
MAKROLIDA & LINKOMISIN
Golongan makrolida terdiri dari : eritromisin, klaritromisin,
roksitromisin, azitromisin, & diritromisin.
Spiramisin juga termasuk gol.makrolida karena mempunyai
rumus struktur serupa (cincin lakton besar & terikat turunan
gula).
Linkomisin & klindamisin secara kimiawi berbeda dg eritromisin
tetapi mempunyai kesamaan dalam hal : aktivitas, mekanisme
kerja, pola resistensi & dapat terjadi resistensi silang &
antagonisme antara linkomisin & klindamisin dg eritromisin.
Eritromisin sebagai bakteristatik terhadap Gram positif,
spektrum kerjanya mirip penisilin G shg digunakan sbg pilihan
yg realistik jika pasien alergi terhadap penisilin.
Efek samping : kemungkinan kerusakan hati (pd ibu) &
gangguan sal.G.I.
t singkat shg diberikan 4 dd (diminum 1 jam a.c. / 2 jam p.c.).
KLORAMFENIKOL
(antibiotik Lain Yg Penting)
Antibiotik spektrum luas, digunakan khusus untuk infeksi Salmonella typhi
(tifus) dan meningitis (H. influenzae).
Sebagai pilihan ke-2 pada bentuk sediaan topikal (salep kulit & salep / tetes
mata) jika fusidat & tetrasiklin tidak efektif.
Sediaan salep/tetes mata tidak boleh diberikan lebih dari 10 hari
Efek samping : depresi sumsum tulang (2 bentuk anemia),
yaitu :
Penghambatan pembentukan sel darah (eritrosit, trombosit).
Anemia aplastis
Dosis untuk tifus : permulaan 1-2 g kemudian 4 dd 500-750 mg, p.c.
Penggunaan pada ibu hamil dan menyusui
Penggunaan tidak dianjurkan khususnya pada minggu terakhir kehamilan
(trimester ke-3) karena menyebabkan hypotermia & cyanosis pada neonatus
(grey baby sindrom) hal ini juga terjadi pada tiamfenikol (obat sejenis
kloramfenikol). Obat dapat melintasi plasenta & masuk ASI maka tidak boleh
diberikan selama laktasi.


ANTIBIOTIK GOLONGAN
SULFONAMIDA & QUINOLON
Sulfonamida dan quinolon adalah golongan
antibiotik yang penting untuk pengobatan infeksi
saluran kemih (ISK).
Antibiotika lain untuk ISK adalah golongan
penisilin/sefalosforin dan aminoglikosida.

ANTIBIOTIKA GOLONGAN SULFONAMIDA
Merupakan zat antibakteri dengan rumus molekul
H2N-C6H4-SO2NHR, dan kelompok obat pertama
yang digunakan sebagai antibakteri.
Kadar dalam urin 10x kadar dalam plasma sehingga
layak untuk pengobatan ISK.
Beraktivitas sbg bakteriostatik & berspektrum luas.
Mekanisme kerja : menghambat pembentukan
(dihidro)folat kuman dg cara antagonisme saingan dg
PABA (p-aminobenzoic acid = H2N-C6H4-COOH).

kombinasi sulfonamida
Trisulfa, merupakan kombinasi dari 3 sulfonamida yaitu
sulfadiazin, sulfamerazin dan sulfamezatin dengan
perbandingan yang sama.
Kotrimoksazol, adalah kombinasi sulfametoksazol dan
trimetoprim dg perbandingan 5:1 (400+80 mg) berkhasiat
sebagai bakterisid terhadap sebagian besar bakteri gram positif
dan gram negatif, kombinasi ini memperkuat khasiatnya
(potensiasi) dan menurunkan resiko resistensi.
Kombinasi sulfa lain dan trimetoprim dengan sifat dan
penggunaan mirip kotrimoksazol adalah :
Supristol (sulfamoxol 200 mg + trimetoprim 40 mg)
Kelfiprim (sulfalen 200 mg + trimetoprim 250 mg)
Lidatrim (sulfametrol 400 mg + trimetoprim 80 mg)

Penggunaan sulfonamida
Infeksi saluran kemih : sulfametizol, sulfafurazol dan
kotrimoksazol.
Infeksi mata : sulfasetamida, sulfadikramida,
sulfametizol, digunakan topikal pd mata
Radang usus : sulfasalazin (kombinasi sulfapiridin &
aminosalisilat)
Malaria tropika : fansidar (kombinasi sulfadoksin dan
pirimetamin)
Meningitis : sulfadiazin (daya penetrasi ke CCS
kuat), tetapi karena timbul resistensi maka obat ini sering
diganti dengan ampisilin atau rimfampisin.
tifus, infeksi saluran pernafasan atas, radang paru-paru, &
gonorhoe : kotrimoksazol, sama efektifnya dg
ampisilin.
Efek samping sulfonamida
kerusakan parah pada sel-sel darah (agranulositosis &
anemia hemolitis), oleh karena itu bila sulfonamida
diberikan lebih dari 2 minggu perlu dilakukan
monitaring darah.
reaksi alergi (urticaria), fotosensitasi shg selama terapi
sebaiknya pasien jangan terlalu banyak terkena sinar
matahari.
Gangguan saluran cerna
Kristaluria di dalam tubuli ginjal, sering terjadi pada
sulfa yang sukar larut dalam air seni yang asam (mis :
sulfadiazin & turunannya) resiko ini dapat dikurangi
dengan penggunaan trisulfa atau pemberian zat alkali
(natrium bikarbonat) atau banyak minum air.

Penggunaan sulfonamida pada kehamilan &
laktasi :
Harus dihindari penggunaan pada bulan terakhir
kehamilan karena resiko timbulnya icterusinti pada
neonatus (akibat pembebasan bilirubin dari ikatan
protein plasma)
Penggunaan pada awal kehamilan belum cukup data
sulfonamida masuk ke dalam ASI shg mungkin
menyebabkan icterus, hiperbilirubinemia, & alergi pd
bayi yg diberi ASI dari ibu yg minum sulfonamida.
Kotrimoksazol tidak boleh diberikan pada usia di
bawah 6 bulan dan pada penderita gangguan fungsi
hati dan ginjal.

ANTIBIOTIKA GOLONGAN QUINOLON
Digolongankan menjadi 2 serta derivat long-actingnya yaitu :
1. Zat generasi pertama (asam nalidiksinat dan
pipemidinat).
2. Zat generasi kedua, (senyawa fluorquinolon :
norfloksasin, pefloksasin, siprofloksasin, ofloksasin,
lomefloksasin, dan fleroksasin), lebih luas spektrumnya,
kadar dalam darah lebih tinggi, t-nya lebih panjang.
Digunakan juga untuk infeksi sistemis yang lain.
3. Zat-zat long acting (sparfloksasin, trovafloksasin,
grepafloksasin) spektrumnya sangat lebar dan meliputi
lebih banyak gram positif.
Aktivitasnya sbg bakterisid pada fase pertumbuhan kuman.
Mekanisme kerja : menghambat kerja enzim DNA-gyrase
bakteri (hanya dimiliki bakteri), shg sintesis DNA bakteri tidak
terjadi.


Penggunaan gol. Quinolon
Asam nalidiksinat dan pipemidat (generasi I) hanya
digunakan pada ISK bawah tanpa komplikasi.
Gol. Fluorquinolon digunakan untuk ISK atas
berkomplikasi oleh kuman-kuman multi resisten
misalnya jaringan ginjal, juga untuk infeksi saluran
nafas serius, prostalitis kronis, infeksi kulit dan
jaringan lunak oleh kuman-kuman gram negatif.
Untuk menghambat meluasnya reisistensi,maka obat
gol. fluorquinolon disarankan digunakan sebagai
terapi cadangan untuk pengobatan terhadap kuman-
kuman yang resisten terhadap obat-obat standar.
Sebagai pilihan pertama untuk ISK tanpa komplikasi
sebaiknya digunakan trimetoprim, nitrofurantoin,
sulfametizol.

Efek samping gol. quinolon
gangguan lambung-usus, reaksi alergi, efek neurologi,
efek psikis hebat.
Penggunaan pada kehamilan dan laktasi belum cukup
data. Ada indikasi kelainan tulang rawan dan
persendian pada binatang percobaan, sehingga tidak
dianjurkan penggunaan pada wanita hamil dan
selama laktasi karena senyawa ini dapat masuk ke
dalam air susu ibu (nalidiksinat & siprofloksasin).
Senyawa gol. quinolon tidak boleh diberikan pada
anak di bawah 16 th karena menimbulkan
penyimpangan tulang rawan terutama asam
nalidiksinat (jarang siprofloksasin dan ofloksasin).