Anda di halaman 1dari 9

MAKALAH IPTEK Page 1

BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang

Saat ini jumlah penduduk dunia mencapai tujuh miliar, akan melonjak menjadi
sembilan miliar pada tahun 2045. Lebih dari tiga perempat penduduk dunia bertempat
tinggal di negara berkembang, salah satunya adalah negara Indonesia. Ada tiga elemen
utama tantangan kependudukan Indonesia dewasa ini. Pertama, kuantitas, merupakan
negara keempat terpadat di dunia dengan pertumbuhan penduduk tinggi. Kedua,
kualitas sumber daya manusia relative rendah, tercermin dari Indeks Pembangunan
Manusia (IPM) yang menempatkan Indonesia di urutan ke 124. Ketiga, persebaran dan
mobilitas yang timpang.
Salah satu komponen yang mempengaruhi pertumbuhan penduduk adalah
kelahiran (fertilitas) yang bersifat menambah jumlah penduduk. Fertilitas adalah
kemampuan menghasilkan keturunan yang dikaitkan dengan kesuburan wanita
(fekunditas).
Perempuan dan kecantikan adalah dua hal yang bagi banyak orang sulit
dipisahkan. Berbicara mengenai perempuan, adalah juga bicara mengenai
kecantikannya. Karenanya, tuntutan untuk selalu tampil cantik akan selalu mengikuti
sosok perempuan kemana pun ia pergi, dimana pun ia berada, dan pada usia yang mana
pun.
Sebagai sebuah komoditas, kecantikan adalah ladang yang tidak habis-habisnya
digali. Banyak pihak yang mengerti benar bahwa ada keuntungan yang luar biasa yang
bisa didapat dengan terus menggali (baca: mengeksploitasi) wacana tentang kecantikan
ini akan terus menerus berusaha untuk mendefinisikan secara berulang-ulang tentang
apa itu yang disebut sebagai kecantikan ideal. Salah satu pihak yang jelas-jelas
memiliki kepentingan terhadap wacana kecantikan perempuan adalah produsen produk-
produk kosmetika.

1.2 Tujuan
Tujuan dari makalah ini adalah agar mahasiswa(i) adalah dapat mengetahui
hubungan antara kecantikan dan fertilitas dan apa makna dari kecantikan.

MAKALAH IPTEK Page 2


BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Definisi Kecantikan

Kecantikan adalah suatu hal yang didambakan setiap perempuan. Pada saat itu
diperuntukkan bagi para perempuan dan anak - anak. Semenjak usia dini, perempuan
diajarkan untuk menganggap penampilan fisiknya sebagai salah satu faktor penting
dalam menumbuhkan kebanggaan dan rasa percaya diri. Pada masa kini juga, biasanya
perempuan akan mendapatkan pujian lebih karena karakter feminimnya, seperti cantik,
halus tutur katanya, sopan, manis dan manja. Karena itu, bagi perempuan penampilan
menjadi sesuatu yang penting.
Kata - cantik berasal dari bahasa latin, bellus. Sedangkan menurut kamus lengkap
bahasa Indonesia edisi keempat (2008), cantik mempunyai arti, indah, jelita, elok dan
molek. Kemudian dalam penerapannya, pemaknaan seseorang terhadap kecantikan itu
berbeda dan bahkan selalu berubah dari waktu ke waktu. Konsep kecantikan seseorang
di daerah tertentu boleh jadi berbeda dari konsep kecantikan seseorang di daerah lain.
Dalam Islam, pengertian cantik adalah Kecantikan hakiki dan ideal adalah
kecantikan yang bersumber pada dimensi ilahiah (hati) .Bagi muslimah dan mukminah
sejati keinginan untuk menjadi cantik bak bidadari syurga merupakan dambaan dan
keinginan yang terperi. Dambaan untuk menjadi wanita cantik nan anggun yang ianya
menjadi incaran dan simpanan bagi hamba-hamba Allah yang shalih dan bertakwa.
Ada kecantikan luar (outer beauty) yang menyangkut fisik, seperti kulit, wajah,
dan bentuk; tetapi yang lebih penting lagi adalah kecantikan dalam (inner beauty) yang
berhubungan dengan seluruh kepribadian dan dimensi psikis-rohani dan lebih abadi
sifatnya.
Wanita adalah makhluk yang kaya akan dimensi. Karena itu wanita sudah
sewajarnya merawat dan memperhatikan tubuhnya, memiliki kosmetik atau melakukan
perawatan kecantikan sekedarnya agar dapat muncul semua kepribadian dan kecantikan
dalamnya. Kecantikan luar memang lebih langsung menonjol dan tampak, misalnya
pada wajah, paras, bentuk, dan kulit. Karenanya, kulit, terutama kulit wajah banyak
yang memperlakukannya bagaikan sebuah tanaman: perlu dipelihara, disiram, diberi
pupuk supaya subur, dengan cara memakai kosmetik atau pergi ke klinik bedah
MAKALAH IPTEK Page 3

kosmetik. Banyak wanita mengusahakan kecantikan dirinya dengan tidak sewajarnya
melalui berbagai cara, bahkan pergi ke paranormal, orang pintar, dukun, dan
sebagainya untuk pemasangan susuk agar dirinya terlihat cantik dan suaminya tidak
pernah meninggalkannya.
Kecantikan tidaklah cukup hanya diukur dari aspek lahiriah (fisik) seseorang saja.
Akan tetapi, kecantikan yang sesungguhnya terletak pada kepribadian seseorang yang
terwujud dalam tingkah laku kehidupan sehari-hari. Yaitu kecantikan yang lahir dari
dalam diri seseorang (inner beauty). Maka filsuf Yunani Plato mengungkapkan bahwa
kecantikan tidak pernah menempel pada sesuatu yang berdaging; karena itu sia-sialah
semua upaya manusia untuk mempertahankan kecantikannya. Kecantikan Platonik
yang memuja keabadian ini mengingatkan bahwa kecantikan adalah sesuatu yang tidak
dapat dilihat bentuknya dari wajah, kaki, tangan, tubuh, dan dari segala sesuatu yang
berdaging.
Dulu, pada zaman kekaisaran Romawi, wanita cantik adalah wanita yang
bertubuh gemuk, wanita yang subur, sehingga tak heran jika Julius Caesar jatuh cinta
pada Cleopatra, yang menurut sejarah adalah wanita yang betubuh subur. Definisi
cantik dan mitos bagi perempuan memang berubah-ubah dari masa ke masa. Sejarah
manusia mencatat, definisi cantik terus-menerus berubah. Di Eropa pada abad
pertengahan kecantikan perempuan berkait erat dengan fertilitasnya, dengan
kemampuan reproduksinya. Pada abad ke-15 sampai ke-17, perempuan cantik dan seksi
adalah mereka yang punya perut dan panggul yang besar serta dada yang montok, yakni
bagian tubuh yang berkait dengan fungsi reproduksi. Pada awal abad ke-19 kecantikan
didefinisikan dengan wajah dan bahu yang bundar serta tubuh montok. Sementara itu,
memasuki abad ke-20 kecantikan identik dengan perempuan dengan bokong dan paha
besar.
Di Afrika dan India umumnya perempuan dianggap cantik jika ia bertubuh
montok, terutama ketika ia telah menikah, sebab kemontokannya menjadi lambang
kemakmuran hidupnya. Tahun 1965 model Inggris, Twiggy, yang kurus kerempeng
menghentak dunia dengan tubuhnya yang tipis dan ringkih. Ia lalu digandrungi hampir
seluruh perempuan seantero jagat dan menjadi ikon bagi representasi perempuan
modern saat itu. Menurut feminis Naomi Wolf, apa yang dilakukan dunia mode lewat
Twiggy saat itu merupakan upaya dekonstruksi citra montok dan sintal sebelumnya.
Twiggy yang kerempeng adalah representasi gerakan pembebasan perempuan dari
mitos kecantikan yang sebelumnya dikaitkan dengan fungsi reproduktif. Namun, seperti
MAKALAH IPTEK Page 4

yang dikatakan Richard Dunphy, dosen politik seksual di Inggris, pada kenyataannya
kita telah terperangkap di dalam berbagai citra dan mitos itu.
Pada masa berikutnya, pemaknaan cantik mulai bergeser. Cantik itu kemudian
dimaknai sebagai wanita yang memiliki tubuh langsing dan berkulit putih. Sepanjang
peradaban manusia, apa yang disebut cantik selalu berubah menurut apa yang
dikonstruksikan oleh masyarakat itu. Pandangan tentang cantik berubah bersama
perkembangan teknologi. Di Barat, semenjak Revolusi Industri terjadi perubahan
konsep kecantikan. Dimulainya era industrialisasi membuat banyak perempuan bekerja
di luar rumah dan independen secara material.
Keadaan ini, seperti yang diungkapkan Naomi Wolf, aktivis gerakan perempuan
dalam bukunya The Beauty Myth, mendorong perempuan membelanjakan uangnya,
menjadi konsumen demi kecantikan yang sejalan dengan penciptaan mitos cantik
secara massal oleh kaum industri kapitalis; seperti misalnya: tubuh yang ramping
cenderung kurus, muka cantik, bersih, dan kulit kencang.
Karena mitos dan kriteria cantik itu, banyak wanita tergoda terhadap tawaran
paket mempercantik diri yang kini banyak bertebaran. Mulai dari melangsingkan tubuh,
memutihkan kulit, mentato alis mata, membentuk bokong atau payudara, membuat
lesung pipit, sampai mendandani "organ paling intim". Paha, pinggul, lengan, dan perut
adalah tidak bagus kalau terlihat gemuk sehingga ada paket sedot lemak untuk
merampingkannya. Tampaknya di mata bengkel kecantikan, selalu ada saja bagian
tubuh yang dianggap tidak indah, dari ujung rambut hingga ujung kaki sampai bagian
terdalam.
Pada majalah wanita asing seperti Marie Claire, Cosmopolitan, dan Glamour,
peneliti melihat bahwa salah satu produk yang banyak muncul diiklankan adalah
produk tanning lotion atau cairan kosmetik untuk mencoklatkan warna kulit.
Sebagaimana sebuah upaya marketing untuk menjual produk, iklan produk-produk
tanning lotion itu pun disajikan dengan kemasan semenarik mungkin, baik dari segi
visual maupun kata-katanya. Hal yang menarik perhatian peneliti adalah adanya sebuah
wacana tertentu dalam iklan-iklan tersebut yang berusaha untuk mengkaitkan produk
yang ditawarkan dengan sebuah konstruksi identitas diri perempuan kulit putih yang
menjadi target market mereka.
Pada iklan-iklan produk tanning lotion tersebut, peneliti melihat ada wacana lain
yang digunakan sebagai daya tarik untuk menjual produk-produk tersebut. Ada isu
tentang warna kulit yang dikaitkan erat dengan konstruksi tentang kecantikan ideal.
MAKALAH IPTEK Page 5

Menariknya, berkebalikan dengan wacana kulit putih yang banyak beredar di Asia,
iklan-iklan tanning lotion tersebut justru mengusung tentang kulit berwarna gelap
sebagai pesan utamanya.
Mengkampanyekan kecantikan untuk perempuan tidaklah menjadi masalah
sepanjang hal itu tidak berdampak buruk bagi perempuan. Bagaimanapun konsep
tentang kecantikan (entah itu kecantikan fisik atau batiniah) adalah hal yang positif
yang sah-sah saja untuk diinginkan. Hal ini menjadi masalah ketika potret ideal
kecantikan perempuan di media bukanlah refleksi dari realitas perempuan kebanyakan.
Keinginan yang membabi buta dari para perempuan untuk mencapai kecantikan ideal
seperti apa yang ditampilkan oleh media yang pada kenyataannya nyaris tidak tergapai
telah memunculkan berbagai macam masalah kesehatan. Berdiet secara berlebihan,
eating disorder seperti anorexia dan bulimia, serta meningkatnya permintaan untuk
melakukan prosedurprosedur medis seperti sedot lemak, breast implant, dan cosmetic
surgery yang lain adalah bukti bahwa perempuan telah menjadi korban gambaran ideal
tentang kecantikan (Wood 2005:141-144).
Baik penelitian Prabasmoro (2003) maupun Yulianto (2007) yang membahas
tentang maraknya produk pemutih kulit di pasaran Asia (dan Indonesia khususnya)
mendapati bahwa wacana yang diusung oleh iklan-iklan tersebut lebih mengarah pada
idealisasi kulit berwarna putih sebagai simbol kebersihan, kecantikan utama
perempuan, kesucian, innocence, kemulusan, serta kemurnian. Selain itu, keduanya
juga melihat bahwa wacana idealisasi kulit putih ini tidak terlepas dari konteks sejarah
di masa lalu dimana Indonesia (dan sebagian besar negara-negara Asia yang lain)
merupakan bekas negara jajahan bangsa kulit putih.
Hasil penelitian keduanya menunjukkan bahwa iklan-iklan produk pemutih kulit
tersebut mengkonstruksikan perempuan sebagai mahluk yang harus senantiasa suci
dan murni. Disini kecantikan perempuan erat dihubungkan dengan sifat-sifat yang
melambangkan ketidakberdosaan (innocence), kebersihan, serta flawlessness (tanpa
cacat). Sehingga, konstruksi yang dibangun adalah bagaimana mengkonsepkan
perempuan normal sebagai perempuan baik-baik. Dalam kaitannya dengan isu ras,
penelitian Prabasmoro (2003) dan Yulianto(2007) menunjukkan bahwa ras kulit putih
masih dianggap sebagai ras tertinggi dan terbaik dalam hirarki warna kulit yang ada.
Sehingga, keinginan untuk mendapatkan kulit yang (lebih) putih bisa dimaknai sebagai
keinginan untuk lebih mendekati ras yang paling sempurna tersebut.

MAKALAH IPTEK Page 6

Demikian pula halnya dengan isu ras dan seksualitas yang juga kental ditemukan
Said dalam Orientalisme. Seperti apa yang telah disampaikan oleh Kempadoo (1997),
Loomba (2000), serta Mackie (2000), kolonialisme di masa lalu telah ikut
mengkonstruksi seksualitas perempuan lokal/ pribumi sebagai antitesa dari seksualitas
perempuan kulit putih. Jika perempuan kulit putih adalah simbol kesucian, kemurnian,
bahkan puritan, maka perempuan pribumi (yang notabene berkulit gelap) adalah simbol
kebebasan seksual, sensualitas yang lebih terbuka, serta seksualitas yang lebih merdeka.
Karenanya, perempuan pribumi biasa dikenal dengan sebutan kecantikan yang eksotik,
sebutan yang kental dengan konotasi seksual. Tampaknya citra semacam ini telah terus
terbawa hingga kini.

2.1.1 Teori kecantikan menurut Abraham Maslow

Dalam konsep Hierarki kebutuhan yang dipopulerkan oleh Abraham Maslow,
kecantikan merupakan hal yang bisa membinggungkan untuk di kita pahami. Adapun
hirarki kebutuhan tersebut adalah sebagai berikut :
1. Kebutuhan fisiologis atau dasar
2. Kebutuhan akan rasa aman
3. Kebutuhan untuk dicintai dan disayangi
4. Kebutuhan untuk dihargai

Pada empat tingkatan kebutuhan manusia banyak orang memperkirakan
kecantikan masuk dalam tingkatan ke-empat yaitu Self Eksteem atau kebutuhan akan
penghargaan. Penjabaran dari kebutuhan ini biasanya disebutkan seperti pujian,
apresiasi dari orang lain, rasa kagum, rasa hormat dan lain-lain terhadap diri kita. Untuk
waktu tentunya terhadap kecantikan yang dimilikinya.





MAKALAH IPTEK Page 7

2.2 Definisi Fertilitas

fertilitas adalah sama dengan kelahiran hidup (live birth), yaitu terlepasnya bayi
dari rahim seorang perempuan dengan ada tanda-tanda kehidupan; misalnya berteriak,
bernafas, jantung berdenyut, dan sebagainya (Mantra, 2003:145). Fertilitas adalah
kemampuan menghasilkan keturunan yang dikaitkan dengan kesuburan wanita
(fekunditas).
Fertilitas sebagai istilah demografi diartikan sebagai hasil reproduksi yang nyata
dari seorang wanita atau kelompok wanita. Dengan kata lain fertilitas ini menyangkut
banyaknya bayi yang lahir hidup. Fertilitas mencakup peranan kelahiran pada
perubahan penduduk.
Seorang perempuan yang secara biologis subur (fecund) tidak selalu melahirkan
anak-anak yang banyak, misalnya dia mengatur fertilitas dengan abstinensi atau
menggunakan alat-alat kontrasepsi. Kemampuan biologis seorang perempuan unuk
melahirkan sangat sulit untuk diukur. Ahli demografi hanya menggunakan pengukuran
terhadap kelahiran hidup (live birth).
Pengukuran fertilitas lebih kompleks dibandingkan dengan pengukuran
mortalitas, karena seorang perempuan hanya meninggal satu kali, tetapi ia dapat
melahirkan lebih dari seorang bayi. Disamping itu seorang yang meninggal pada hari
dan waktu tertentu, berarti mulai saat itu orang tersebut tidak mempunyai resiko
kematian lagi. Sebaliknya seorang perempuan yang telah melahirkan seorang anak
tidak berarti resiko melahirkan dari perempuan tersebut menurun.
Memperhatikan kompleksnya pengukuran terhadap fertilitas tersebut, maka
memungkinkan pengukuran terhadap fertilitas ini dilakukan dengan dua macam
pendekatan : pertama, Pengukuran Fertilitas Tahunan (Yearly Performance) dan kedua,
Pengukuran Fertilitas Kumulatif (Reproductive History).

2.2.1 Hal hal Yang Mempengaruhi Fertilitas

Tingkat fertilitas di suatu negara dipengaruhi oleh beberapa variabel seperti umur,
jenis kelamin, status perkawinan, penggunaan alat kontrasepsi atau karakteristik
lainnya. Menurut Davis dan Blake faktor-faktor yang mempengaruhi fertilitas adalah
variabel antara yaitu variabel yang secara langsung mempengaruhi dan variabel tak
langsung, seperti faktor soaial, ekonomi dan budaya. Menurut Easterlin tingkat fertilitas
MAKALAH IPTEK Page 8

sebagiannya ditentukan oleh karakteristik latar belakang seperti persepsi nilai anak,
agama, kondisi pemukiman, pendidikan, status kerja, umur kawin pertama, pendapatan,
kematian bayi/anak. Setiap keluarga mempunyai norma-norma dan sikap fertilitas yang
didasarkan atas karakteristik di atas.
Beberapa komponen yang mempengaruhi fertilitas antara lain latar belakang
pendidikan, pekerjaan, pendapatan, umur kawin pertama, persepsi nilai anak, kematian
bayi/balita dan unmet need.
Kesempatan perempuan untuk memperoleh pendidikan yang lebih tinggi semakin
terbuka pada saat ini, sehingga menyebabkan banyak perempuan menunda perkawinan.
Perempuan yang lebih lama menghabiskan waktu untuk pendidikan akan
memperpendek tahun resiko kehamilan karena menghabiskan periode panjang tahun
melahirkan anak di sekolah. Selain itu perempuan berpendidikan tinggi cenderung
memilih terjun ke pasar kerja terlebih dahulu sebelum memasuki perkawinan.
Pendidikan juga dapat meningkatkan pengetahuan perempuan dalam proses informasi
mengenai pilihan fertilitas dan perilaku kehamilan.
Di masa depan wanita dengan tingkat pendidikan tinggi akan lebih banyak masuk
ke pasar kerja. Selain karena jumlahnya meningkat, juga karena lapangan kerja
membutuhkan keahlian tertentu, terutama di bidang-bidang jasa seperti misalnya tenaga
penjualan, kesehatan, pendidikan, pelayanan dan lain sebagainya. Semakin baik tingkat
pendidikan kaum wanita, maka mereka semakin berpotensi untuk memberikan
kontribusi yang lebih besar dalam penghasilan keluarga sehingga waktu yang khusus
mereka sediakan untuk membesarkan anak semakin terbatas, dengan sendirinya akan
mempengaruhi jumlah anak yang diinginkan.
Umur kawin pertama dapat menjadi indikator dimulainya seorang perempuan
berpeluang untuk hamil dan melahirkan. Perempuan yang kawin usia muda mempunyai
rentang waktu untuk hamil dan melahirkan lebih panjang dibandingkan dengan mereka
yang kawin pada umur lebih tua dan mempunyai lebih banyak anak .







MAKALAH IPTEK Page 9

BAB III
PENUTUP

3.1 Kesimpulan

Kecantikan adalah suatu hal yang didambakan setiap perempuan. Pada saat itu
diperuntukkan bagi para perempuan dan anak - anak. Semenjak usia dini,
perempuan diajarkan untuk menganggap penampilan fisiknya sebagai salah satu
faktor penting dalam menumbuhkan kebanggaan dan rasa percaya diri. Pada masa
kini juga, biasanya perempuan akan mendapatkan pujian lebih karena karakter
feminimnya, seperti cantik, halus tutur katanya, sopan, manis dan manja. Karena
itu, bagi perempuan penampilan menjadi sesuatu yang penting.

cantik mempunyai arti, indah, jelita, elok dan molek. Kemudian dalam
penerapannya, pemaknaan seseorang terhadap kecantikan itu berbeda dan bahkan
selalu berubah dari waktu ke waktu. Konsep kecantikan seseorang di daerah
tertentu boleh jadi berbeda dari konsep kecantikan seseorang di daerah lain.


Kecantikan tidaklah cukup hanya diukur dari aspek lahiriah (fisik) seseorang saja.
Akan tetapi, kecantikan yang sesungguhnya terletak pada kepribadian seseorang
yang terwujud dalam tingkah laku kehidupan sehari-hari. Yaitu kecantikan yang
lahir dari dalam diri seseorang (inner beauty).

fertilitas adalah sama dengan kelahiran hidup (live birth), yaitu terlepasnya bayi
dari rahim seorang perempuan dengan ada tanda-tanda kehidupan; misalnya
berteriak, bernafas, jantung berdenyut, dan sebagainya (Mantra, 2003:145).
Fertilitas adalah kemampuan menghasilkan keturunan yang dikaitkan dengan
kesuburan wanita (fekunditas).


Di Eropa pada abad pertengahan kecantikan perempuan berkait erat dengan
fertilitasnya, dengan kemampuan reproduksinya.