Anda di halaman 1dari 9

Laporan Kegiatan Usaha Kesehatan Masyarakat (UKM)

F5. Pencegahan dan Pemberantasan Penyakit Menular dan Tidak Menular


PENYELIDIKAN EPIDEMIOLOGI DALAM UPAYA PENCEGAHAN DAN
PEMBERANTASAN PENYAKIT DEMAM BERDARAH DENGUE (DBD)
DI KELURAHAN SANGKRAH









Disusun Oleh:
dr. Annisa Nur Fadlilah

PUSKESMAS SANGKRAH
KOTA SURAKARTA
JAWA TENGAH
2013


A. LATAR BELAKANG
Demam berdarah dengue (DBD) merupakan penyakit yang banyak ditemukan di
sebagian besar wilayah tropis dan subtropis, terutama Asia Tenggara, Amerika tengah,
dan Karibia. Dalam 50 tahun terakhir, kasus DBD meningkat 30 kali lipat dengan
peningkatan ekspansi geografis ke negara-negara baru dan, dalam dekade ini, dari kota ke
lokasi pedesaan.
Jumlah kasus DBD tidak pernah menurun di beberapa daerah tropis dan
subtropis bahkan cenderung terus meningkat dan banyak menimbulkan kematian pada
anak sebesar 90% di antaranya menyerang anak di bawah 15 tahun. Di Indonesia, setiap
tahunnya selalu terjadi KLB di beberapa provinsi, yang terbesar terjadi tahun 1998 dan
2004 dengan jumlah penderita 79.480 orang dengan kematian sebanyak 800 orang lebih.
Penyakit Demam Berdarah Dengue merupakan salah satu penyakit menular yang
berbahaya dapat menimbulkan kematian dalam waktu singkat dan sering menimbulkan
wabah. Penyakit ini pertama kali ditemukan di Filipina pada tahun 1953 dan selanjutnya
menyebar ke berbagai negara. Di Indonesia penyakit ini pertama kali dilaporkan pada
tahun 1968 di Surabaya dengan jumlah penderita 58 orang dengan kematian 24 orang
(41,3%). Selanjutnya sejak saat itu penyakit Demam Berdarah Dengue cenderung
menyebar ke seluruh tanah air Indonesia dan mencapai puncaknya pada tahun 1988
dengan insidens rate mencapai 13,45 % per 100.000 penduduk. Keadaan ini erat
kaitannya dengan meningkatnya mobilitas penduduk dan sejalan dengan semakin
lancarnya hubungan transpotasi.
Seluruh wilayah Indonesia mempunyai resiko untuk terjangkit penyakit Demam
Berdarah Dengue sebab nyamuk penularnya tersebar luas baik di rumah maupun tempat-
tempat umum, kecuali yang ketinggiannya lebih dari 1000 meter diatas permukaan laut.
Kemampuan deteksi dini, baik pada penderita maupun lingkungan menjadi salah
satu kunci keberhasilan pemberantasan demam berdarah. Sebagai tenaga kesehatan
masyarakat kita dituntut lebih profesional pada aspek proses pencegahan penyakit dan
surveillance.
Sesuai rekomendasi Depkes RI, setiap kasus DBD harus segera ditindaklanjuti
dengan penyelidikan epidemiologi dan penanggulangan lainnya untuk mencegah
penyebarluasan atau mencegah terjadinya KLB. Penyelidikan epidemiologi demam
berdarah dengue merupakan kegiatan pencarian penderita atau tersangka lainnya, serta
pemeriksaan jentik nyamuk penular DBD dirumah penderita atau tersangka dan rumah-
rumah sekitarnya dalam radius sekurangkurangnya 100 meter. Juga pada tempat umum
yang diperkirakan menjadi sumber penularan penyakit. Tujuannya utama kegiatan ini
untuk mengetahui ada tidaknya kasus DBD tambahan serta terjadinya potensi meluasnya
penyebaran penyakit padad wilayah tersebut.

B. PERMASALAHAN
I. ANAMNESIS
Anamnesis dilakukan secara alloanamnesis dengan ibu pasien. Anamnesis dilakukan
pada tanggal 28 Agustus 2013 di rumah pasien.
a. Identitas Penderita
Nama : An. P
Jenis kelamin : Perempuan
Umur : 8 tahun
Nama ayah : Tn. S
Nama Ibu : Ny. P
Pekerjaan Ayah : Buruh bangunan
Pekerjaan Ibu : Ibu rumah tangga
Agama : Islam
Alamat : Sangkrah 03/13, Pasar Kliwon, Surakarta

b. Keluhan Utama
Demam
c. Riwayat Penyakit Sekarang
Pada awalnya (hari pertama demam) pasien mengeluh badannya panas.
Demam dirasakan terus menerus tidak berkurang dengan pemberian kompres.
Demam disertai dengan muntah, muntah berupa makanan yang dimakan dan air
sebanyak gelas belimbing. Pasien segera dibawa ke balai pengobatan dan diberi
obat penurun panas, anti mual dan dikatakan pasien menderita penyakit tipes.
Setelah dua hari mengkonsumsi obat (demam hari ke 3), demam turun
setelah diberi obat tetapi naik lagi. Oleh ibu pasien, pasien segera diperiksakan ke
bidan setempat. Oleh bidan diberi obat panas dan juga dikatakan menderita tipes.
Setelah minum obat, demam turun tetapi beberapa saat kemudian naik lagi.
Satu hari setelah diperiksakan ke bidan (demam hari ke 4), demam turun
dan keadaan pasien membaik. Pasien bisa masuk sekolah seperti biasa. Satu hari
setelah keadaan membaik (demam hari ke 5), pasien mengeluh badannya panas
lagi disertai rasa lemas. Pasien sempat pingsan di rumah sebanyak 2 kali.
Dikarenakan keadaan semakin memburuk, pasien kembali periksa ke bidan dan
oleh bidan pasien diminta untuk cek darah di RS Kustati. Setelah dibawa ke RS
Kustati pasien disarankan untuk rawat inap. Pada saat demam, tidak terdapat
keluhan perdarahan seperti bintik-bintik merah, mimisan atau gusi berdarah.

d. Riwayat Penyakit Dahulu
- Riwayat sakit serupa : disangkal
- Riwayat sering batuk pilek : (+)
- Riwayat asma dan alergi : disangkal
- Riwayat mondok : (+) Usia 2 tahun, mondok di RSDM
dengan Febris e.c ISPA

e. Riwayat Penyakit Keluarga dan Lingkungan
- Riwayat sakit serupa di keluarga : disangkal
- Riwayat sakit serupa di lingkungan : disangkal
- Riwayat asma : disangkal
- Riwayat sakit paru : disangkal
- Riwayat alergi di keluarga : disangkal




f. Riwayat Penyakit Yang Pernah Diderita
Faringitis : disangkal
Bronkitis : disangkal
Pneumonia : disangkal
Morbili : disangkal
Pertusis : disangkal
Meningitis : disangkal
Malaria : disangkal
Polio : disangkal
Demam typoid : disangkal
Diare : disangkal
Kejang Demam : disangkal
Gegar otak : disangkal

g. Riwayat Imunisasi

Jenis I II III IV
BCG 2 bulan - - -
Dipteri 2 bulan 4 bulan 6 bulan -
Pertusis 2 bulan 4 bulan 6 bulan -
Tetanus 2 bulan 4 bulan 6 bulan -
POLIO 0 bulan 2 bulan 4 bulan 6 bulan
HEPATITIS B 0 bulan 1 bulan 3 bulan -
CAMPAK 9 bulan - - -

h. Data Rumah dan Lingkungan
- Kepemilikan rumah : rumah sendiri
- Keadaan rumah : dinding rumah tembok, 1 kamar tidur, 1 kamar mandi, 1
ruang tamu dan 1 dapur. Limbah dibuang di septic tank. Sumber air minum ialah
PDAM. Sumber air minum untuk mandi, memasak dan mencuci berasal dari air
PDAM. Air untuk mandi ditampung di dalam ember yang selalu habis setiap
hari. Air untuk masak berasal langsung dari air kran dan tidak pernah
menampung.
- Keadaan Lingkungan : jarak antar rumah berdekatan <50 meter. Tetangga dalam
satu RT pasien tidak ada yang menderita demam berdarah.


II. PEMERIKSAAN FISIK
a. Keadaan Umum
Compos mentis, gizi kesan cukup
b. Tanda Vital
Nadi : 98x/menit, reguler, kuat, isi dan tegangan cukup
Respirasi : 30x/menit, reguler
Suhu : 36,4C (per axiler)
c. Status Internus
1. Kulit : petechie (-), pada tanggal 26 Juli 2013 rumple leede (+)
2. Kepala : bentuk mesocephal, rambut hitam tidak mudah dicabut
3. Mata : conjungtiva bleeeding (-/-), conjungtiva pucat (-/-), sklera
ikterik (-/-), cowong (-/-), reflek cahaya (+/+), pupil (isokor 2mm/2mm),
air mata (+/+)
4. Hidung : napas cuping hidung (-/-), bau (-), sekret (-/-), darah (-/-)
5. Mulut : mukosa basah (+), sianosis (-), lidah kotor (-), gusi
berdarah (-)
6. Telinga : sekret (-)
7. Tenggorok : uvula ditengah, tonsil T
1
-T
1
, faring hiperemis (-)
8. Leher : limfonodi tidak membesar.
9. Limphonodi : tidak membesar
10. Thoraks : bentuk normochest, iga gambang (-), retraksi (-)
subcostal, suprasternal, ekspirasi memanjang (-)
Cor
Inspeksi : iktus kordis tidak tampak
Palpasi : iktus kordis tidak kuat angkat
Perkusi : batas jantung tidak melebar
Auskultasi : Bunyi jantung I II intensitas normal, reguler, bising (-).
Pulmo
Inspeksi : pengembangan dada kanan = kiri
Palpasi : fremitus dada kanan = kiri
Perkusi : sonor // sonor
Auskultasi : suara dasar vesikuler (+/+), suara tambahan (-/-), RBH (-/-
), wheezing (-/-)
Abdomen
Inspeksi : dinding perut // dinding dada, venektasi (-)
Auskultasi : peristaltik (+) normal
Perkusi : timpani, shifting dullness (-)
Palpasi : supel, nyeri tekan (-), hepar & lien tidak teraba, turgor
kembali cepat
11. Urogenitalia : nyeri saat BAK (-)
12. Ekstremitas
Akral dingin - - edema - - sianosis - -
- - - - - -
Capillary refill time < 2
Arteri Dorsalis Pedis teraba kuat

III. PEMERIKSAAN PENUNJANG
Hasil Pemeriksaan Laboratorium Darah Rutin Serial
Tanggal Hb (g/dl) Hct (%) AT (x10
3
uL)
26/07/13 15,6 45,4 73
28/07/13 15,0 43,1 44
29/07/13 12,9 37,9 57
30/07/13 12,8 37,9 79
31/07/13 13,0 39,3 134

C. PELAKSANAAN
Langkah-langkah pelaksanaan kegiatan:

1. Petugas puskesmas/koordinator DBD setelah menerima laporan adanya
kasus/tersangka DBD segera mencatat dalam buku catatan harian penderita
penyakit DBD, serta mempersiapkan peralatan survey (tensimeter, senter dan
formulir PE) dan menyiapkan surat tugas.
2. Petugas puskesmas melapor kepada Lurah dan Ketua RT/RW setempat bahwa di
wilayahnya ada penderita/tersangka DBD dan akan dilaksanakan penyelidikan
epidemiologi.
3. Petugas Puskesmas mengenalkan diri dan selanjutnya melakukan wawancara
dengan keluarga, untuk mengetahui ada/tidaknya penderita panas saat itu dan
dalam kurun waktu 1 minggu sebelumnya. Bila ada penderita panas tanpa sebab
yang jelas, pada saat itu, dilakukan pemeriksaan terhadap adanya tanda
perdarahan di kulit dan dilakukan uji torniquette.
4. Melakukan pemeriksaan jentik pada tempat penampungan air (TPA) dan benda-
benda lain yang dapat menjadi tempat berkembang biaknya nyamuk Aedes
aegypti baik didalam maupun diluar rumah (radius 20 rumah di sekitar kasus atau
radius 100 meter dari kasus).
5. Hasil pemeriksaan penderita panas dan pemeriksaan jentik dicatat dalam formulir
penyelidikan epidemiologi
6. Hasil penyelidikan epidemiologi dilaporkan kepada kepala puskesmas dan
selanjutnya Kepala Puskesmas melaporkan hasil PE dan rencana penanggulangan
focus kepada Lurah melalui Camat.
7. Berdasarkan hasil penyelidikan epidemiologi ini dilakukan pelaksanaan
penanggulangan fokus

Tindak lanjut hasil PE berdasarkan Buku Pedoman Pencegahan dan
Pemberantasan DBD Departemen Kesehatan tahun 2005 ialah sebagai berikut:
1. Bila ditemukan penderita DBD lainnya (1 atau lebih) atau ditemukan 3 atau
lebih tersangka DBD dan ditemukan jentik (5%) dari rumah/ bangunan yang
diperiksa, maka dilakukan penggerakan masyarakat dalam PSN DBD,
larvasidasi, penyuluhan dan pengasapan dengan insektisida di rumah
penderita DBD dan rumah/ bangunan sekitarnya dalam radius 200 meter, 2
siklus dengan interval 1 minggu.
2. Bila tidak ditemukan penderita lain seperti tersebut diatas, tetapi ditemukan
jentik, maka dilakukan penggerakan masyarakat dalam PSN DBD, larvasidasi
dan penyuluhan
3. Bila tidak ditemukan penderita lainnya seperti tersebut di atas dan tidak
ditemukan jentik, maka dilakukan penyuluhan dalam masyarakat.

Dari hasil kegiatan penyelidikan epidemiologi di Kelurahan Sangkrah RT
03/13, kondisi rumah yang berdekatan, dan kebersihan lingkungan yang kurang
baik menjadi penyebab mudahnya penyebaran nyamuk Aedes aegypti.
Berdasarkan hasil penyelidikan, tidak ditemukan penderita tambahan yaitu
kasus penderita panas tanpa sebab yang jelas.

Hasil pemeriksaan jentik:
Jumlah rumah yang diperiksa : 20 rumah
Jumlah positif jentik: 1
Angka Bebas Jentik: 95%
House Index: 5%

D. KESIMPULAN
1. Dari hasil penyelidikan epidemiologi, tidak ditemukan adanya kasus tambahan, yaitu
kasus penderita panas tanpa sebab yang jelas, dan ditemukan satu rumah dengan
positif jentik dengan HI sebesar 5%.
2. Tindak lanjut dari hasil PE di Kelurahan Sangkrah RT 03/13 dengan hasil tersebut
ialah dilakukan penggerakan masyarakat dalam PSN DBD, larvasidasi dan
penyuluhan.

Surakarta, 7 September 2013
Dokter Internsip Dokter Pendamping


dr. Annisa Nur Fadlilah dr. Heri Wijanarko, M.Si