Anda di halaman 1dari 9

Laporan Kegiatan Usaha Kesehatan Masyarakat (UKM)

F2. Upaya Kesehatan Lingkungan


MELAKUKAN KUNJUNGAN RUMAH UNTUK
PEMERIKSAAN JENTIK BERKALA (PJB)
DI KELURAHAN SEMANGGI









Disusun Oleh:
dr. Annisa Nur Fadlilah

PUSKESMAS SANGKRAH
KOTA SURAKARTA
JAWA TENGAH
2013


A. LATAR BELAKANG
Penyakit Demam Berdarah Dengue (DBD) merupakan salah satu masalah
kesehatan masyarakat di Indonesia. Penyakit ini termasuk penyakit menular yang
disebabkan oleh virus dengue yang ditularkan oleh nyamuk Aedes aegypti maupun Aedes
albopictus. Aedes aegypti lebih berperan dalam penularan penyakit ini, karena hidupnya
di dalam dan di sekitar rumah, sedangkan Aedes albopictus di kebun, sehingga lebih
jarang kontak dengan manusia.Timbulnya mendadak dan banyak mengakibatkan
kematian bagi penderitanya, sehingga tidak mengherankan bila adanya penyakit ini
menimbulkan keresahan bagi masyarakat.
Penyakit Demam Berdarah Dengue (DBD) merupakan salah satu masalah
kesehatan lingkungan yang cenderung meningkat jumlah penderita dan semakin luas
daerah penyebarannya, sejalan dengan meningkatnya mobilitas dan kepadatan penduduk.
Untuk membunuh nyamuk DBD ini ada beberapa cara, yaitu secara mekanisme,
biologis dan kimia. Pemberantasan nyamuk Demam Berdarah akan lebih efektif jika
dilakukan pemeriksaan jentik berkala (PJB) yang dilakukan oleh petugas Puskesmas
disemua desa non endemis sekaligus memberikan abate pada penampungan air yang ada
jentiknya. Peran serta mayarakat dalam pemberantasan sarang nyamuk digerakkan lebih
giat melalui penyuluhan-penyuluhan.
Keberadaan jentik Aedes aegypti di suatu daerah merupakan indikator
terdapatnya populasi nyamuk Aedes aegypti di daerah tersebut. Untuk itu perlu dilakukan
upaya Pemeriksaan Jentik Berkala (PJB).
Kegiatan Pemeriksaan Jentik Berkala (PJB) merupakan kegiatan pengamatan
dan pemberantasan terhadap vektor penular DBD. Definisi operasional PJB adalah
kegiatan pemeriksaan pada tempat penampungan air dan tempat perkembangbiakan
nyamuk Aedes sp. untuk mengetahui adanya jentik nyamuk tersebut yang dilakukan
secara teratur 3 bulan sekali. Sasaran wilayah kegiatan PJB adalah rumah dan tempat
umum.




B. PERMASALAHAN
I. ANAMNESIS
Anamnesis dilakukan secara alloanamnesis dengan ibu pasien. Anamnesis dilakukan
pada tanggal 26 Agustus 2013 di rumah pasien.
a. Identitas Penderita
Nama : An. E
Jenis kelamin : Perempuan
Umur : 2 tahun 10 bulan
Nama ayah : Tn. A
Nama Ibu : Ny. W
Pekerjaan Ayah : Buruh bangunan
Pekerjaan Ibu : Ibu rumah tangga
Agama : Islam
Alamat : Semanggi RT 02/22, Pasar Kliwon, Surakarta
b. Keluhan Utama
Demam
c. Riwayat Penyakit Sekarang
Pada awalnya (hari pertama demam) pasien mengeluh badannya panas.
Demam dirasakan terus menerus, tidak berkurang dengan pemberian kompres.
Pasien segeradiperiksakan ke klinik dan diberi obat penurun panas. Demam turun
setelah minum obat namun demam muncul lagi setelah beberapa lama.
Karena keadaan tidak membaik, pada pagi harinya (hari ke 2 demam)
pasien dibawa periksa ke dokter. Oleh dokter pasien diminta minum obat penurun
panas dan apabila dua hari kedepan panas tidak turun segera dilakukan cek darah.
Pada hari ke 3 demam, pasien mengeluh nyeri perut. Nyeri dirasakan terus
menerus diseluruh lapang perut dan tidak berkurang dengan posisi berbaring.
Pada hari ke 4 demam, demam sudah mulai menurun dan ibu pasien
membawa pasien ke RS Kustati untuk dilakukan cek darah. Dari hasil pemeriksaan
darah, pasien disarankan untuk dilakukan rawat inap. Pada saat demam, tidak
terdapat keluhan perdarahan seperti bintik-bintik merah, mimisan atau gusi
berdarah.
d. Riwayat Penyakit Dahulu
- Riwayat sakit serupa : disangkal
- Riwayat sering batuk pilek : (+)
- Riwayat asma dan alergi : disangkal
- Riwayat mondok : (+) Usia 1 tahun, mondok di RS Kustati dengan
Febris e.c demam thypoid, usia 2 tahun mondok di RS Kustati dengan Febris e.c
ISPA

e. Riwayat Penyakit Keluarga dan Lingkungan
- Riwayat sakit serupa di keluarga : disangkal
- Riwayat sakit serupa di lingkungan : (+) An. F usia 10 tahun
- Riwayat asma : disangkal
- Riwayat sakit paru : disangkal
- Riwayat alergi di keluarga : disangkal

f. Riwayat Penyakit Yang Pernah Diderita
Faringitis : disangkal
Bronkitis : disangkal
Pneumonia : disangkal
Morbili : disangkal
Pertusis : disangkal
Meningitis : disangkal
Malaria : disangkal
Polio : disangkal
Demam typoid : (+)
Diare : disangkal
Kejang Demam : disangkal
Gegar otak : disangkal









g. Riwayat Imunisasi

Jenis I II III IV
BCG 2 bulan - - -
Dipteri 2 bulan 4 bulan 6 bulan -
Pertusis 2 bulan 4 bulan 6 bulan -
Tetanus 2 bulan 4 bulan 6 bulan -
POLIO 0 bulan 2 bulan 4 bulan 6 bulan
HEPATITIS B 0 bulan 1 bulan 3 bulan -
CAMPAK 9 bulan - - -

h. Data Rumah dan Lingkungan
- Kepemilikan rumah : rumah orang tua
- Keadaan rumah : dinding rumah tembok, 1 kamar tidur, 1 kamar mandi, 1
ruang tamu dan 1 dapur. Limbah dibuang di septic tank. Sumber air minum ialah
PDAM. Sumber air minum untuk mandi, memasak dan mencuci berasal dari air
PDAM. Air untuk mandi ditampung di dalam ember yang selalu habis setiap
hari. Air untuk masak berasal langsung dari air kran dan tidak pernah
menampung.
- Keadaan Lingkungan : jarak antar rumah berdekatan <50 meter. Tetangga dalam
satu RT pasien ada yang menderita demam berdarah.

II. PEMERIKSAAN FISIK
a. Keadaan Umum
Compos mentis, gizi kesan cukup
b. Tanda Vital
Nadi : 88x/menit, reguler, kuat, isi dan tegangan cukup
Respirasi : 24x/menit, reguler
Suhu : 36,0C (per axiler)



c. Status Internus
1. Kulit : petechie (-), pada tanggal 19 Juli 2013 rumple leede (+)
2. Kepala : bentuk mesocephal, rambut hitam tidak mudah dicabut
3. Mata : conjungtiva bleeeding (-/-), conjungtiva pucat (-/-), sklera
ikterik (-/-), cowong (-/-), reflek cahaya (+/+), pupil (isokor 2mm/2mm),
air mata (+/+)
4. Hidung : napas cuping hidung (-/-), bau (-), sekret (-/-), darah (-/-)
5. Mulut : mukosa basah (+), sianosis (-), lidah kotor (-), gusi
berdarah (-)
6. Telinga : sekret (-)
7. Tenggorok : uvula ditengah, tonsil T
1
-T
1
, faring hiperemis (-)
8. Leher : limfonodi tidak membesar.
9. Limphonodi : tidak membesar
10. Thoraks : bentuk normochest, iga gambang (-), retraksi (-)
subcostal, suprasternal, ekspirasi memanjang (-)
Cor
Inspeksi : iktus kordis tidak tampak
Palpasi : iktus kordis tidak kuat angkat
Perkusi : batas jantung tidak melebar
Auskultasi : Bunyi jantung I II intensitas normal, reguler, bising (-).
Pulmo
Inspeksi : pengembangan dada kanan = kiri
Palpasi : fremitus dada kanan = kiri
Perkusi : sonor // sonor
Auskultasi : suara dasar vesikuler (+/+), suara tambahan (-/-)
Abdomen
Inspeksi : dinding perut // dinding dada, venektasi (-)
Auskultasi : peristaltik (+) normal
Perkusi : timpani, shifting dullness (-)
Palpasi : supel, nyeri tekan (-), hepar & lien tidak teraba, turgor
kembali cepat
11. Urogenitalia : nyeri saat BAK (-)
12. Ekstremitas
Akral dingin - - edema - - sianosis - -
- - - - - -
Capillary refill time < 2
Arteri Dorsalis Pedis teraba kuat

III. PEMERIKSAAN PENUNJANG
Hasil Pemeriksaan Laboratorium Darah Rutin Serial
Tanggal Hb (g/dl) Hct (%) AT (x10
3
uL)
19/07/13 15,4 43,8 79
20/07/13 12,6 36,1 39
21/07/13 13,3 37,6 62
22/07/13 12,3 - 56
23/07/13 12,3 - 96

C. PELAKSANAAN
Pemeriksaan jentik dilakukan dengan cara berikut:
1. Memeriksa seluruh bak mandi/WC, tempayan, drum dan tempat-tempat
penampungan air lain yang memungkinkan sebagai tempat perkembang biakan
nyamuk dengan mata telanjang untuk mengetahui ada tidaknya jentik.
2. Jika tidak tampak pada penglihatan pertama, tunggu 0,5-1 menit, jika ada jentik, ia
akan muncul kepermukaan air untuk bernafas
3. Untuk memeriksa tempat yang gelap atau air keruh dapat digunakan senter
4. Melakukan pemeriksaan vas bunga, tempat minum burung, kaleng-kaleng
bekas/plastik, ban bekas, dll.
5. Jentik-jentik yang ditemukan ditempat-tempat penampungan ait yang tidak
beralaskan tanah (Bak mandi/WC, drum, tempayan dan sampah-sampah/barang-
barang bekas yang dapat menampung air hujan) dapat dipastikan bahwa jentik
tersebut adalah jentik nyamuk Aedes aegypti penular penyakit DBD.
6. Jika ditemukan jentik, anggota rumah tangga diminta untuk ikut menyaksikan/melihat
jentik, kemudian langsung dilanjutkan dengan PSN melalui 3 M atau 3 M plus, serta
memberikan penjelasan manfaat dan anjuran PSN kepada anggota rumah tangga.
7. Hasil pemeriksaan jentik dicatat berupa:
- Nama desa/kelurahan yang akan dilakukan pemeriksaan jentik, dan tanggal
pemeriksaan/survei
- Nama keluarga dan alamat (RT/RW) pada kolom yang tersedia
- Jumlah conteiner yang terisi air, kemudian dihitung container yang positif jentik
pada kolom yang telah ditentukan.
Untuk mengetahui kepadatan jentik Aedes aegypti digunakan:
1. Angka Bebas Jentik (ABJ):



2. House Index (HI):



3. Container Index (CI):



4. Bretau Index (BI):

Angka bebas jentik dan House index lebih menggambarkan luasnya penyebaran nyamuk
disuatu wilayah.
Hasil pemeriksaan jentik:
Jumlah rumah yang diperiksa: 20 rumah
Jumlah positif jentik: 1
Angka Bebas Jentik: 95%
House Index: 5


Dari hasil perhitungan HI di Kelurahan Semanggi RT 02/22 dikategorikan rendah.
Masyarakat tetap harus melakukan PSN untuk mencegah perkembang biakan nyamuk
DBD.

D. KESIMPULAN
1. Hasil pemeriksaan jentik didapatkan hasil 2 dari 20 rumah yang diperiksa positif
jentik, maka didapatkan Angka Bebas Jentik sebesar 90% dan House Index sebesar
10%.
2. Berdasarkan hasil HI, maka hasil pemeriksaan jentik berkala di Kelurahan Semanggi
dikategorikan rendah. Masyarakat tetap melakukan PSN setiap hari.

Surakarta, 7 September 2013

Dokter Internsip Dokter Pendamping


dr. Annisa Nur Fadlilah dr. Heri Wijanarko, M.Si