Anda di halaman 1dari 40

1

BAB I
PENDAHULUAN


1.1. Latar Belakang
Penyakit jantung koroner ( PJK ) merupakan problema kesehatan utama di
negara maju. Di Indonesia telah terjadi pergeseran kejadian Penyakit Jantung dan
pembuluh darah dari urutan ke-l0 tahun 1980 menjadi urutan ke-8 tahun 1986.
Sedangkan penyebab kematian tetap menduduki peringkat ke-3.(Bahri,2004)
Menurut profil kesehatan provinsi Jawa Tengah (2004) kasus tertinggi
Penyakit Jantung Koroner adalah di Kota Semarang yaitu sebesar 4.784 kasus
(26,00%) dibanding dengan jumlah keseluruhan kasus Penyakit Jantung Koroner di
kabupaten/kota lain di Jawa Tengah. Apabila dilihat berdasarkan jumlah kasus
keseluruhan PTM lain di Kabupaten Klaten adalah 3,82%. Sedangkan kasus tertinggi
kedua adalah Kabupaten Banyumas yaitu sebesar 2.004 kasus (10,89%) dan apabila
dibanding dengan jumlah keseluruhan PTM lain di Kabupaten Banyumas adalah
sebesar 9,87%. Kasus ini paling sedikit dijumpai di Kabupaten Tegal yaitu 2 kasus
(0,01%). Sedangkan kabupaten Semarang dan Kabupaten Cilacap belum melaporkan.
Rata-rata kasus Jantung Koroner di Jawa Tengah adalah 525,62 kasus.
Penyakit Jantung Koroner pada mulanya disebabkan oleh penumpukan lemak
pada dinding dalam pembuluh darah jantung (pembuluh koroner), dan hal ini lama
kelamaan diikuti oleh berbagai proses seperti penimbunan jarinngan ikat, perkapuran,


2
pembekuan darah, dll.,yang kesemuanya akan mempersempit atau menyumbat
pembuluh darah tersebut. Hal ini akan mengakibatkan otot jantung di daerah tersebut
mengalami kekurangan aliran darah dan dapat menimbulkan berbagai akibat yang
cukup serius, dari Angina Pectoris (nyeri dada) sampai Infark Jantung, yang dalam
masyarakat di kenal dengan serangan jantung yang dapat menyebabkan kematian
mendadak.(Medistra,2010). Faktor resiko penting pada PJK adalah kenaikan kadar
kolesterol yang melebihi angka normal dan kadar HDL yang rendah (Soeharto, 2004).
HDL merupakan jenis kolesterol yang bersifat baik atau menguntungkan (good
cholesterol) : karena mengangkut kolesterol dari pembuluh darah kembali ke hati
untuk di buang sehingga mencegah penebalan dinding pembuluh darah atau
mencegah terjadinya proses arterosklerosis. adi makin rendah kadar HDL kolesterol,
makin besar kemungkinan terjadinya PJK. (Bahri, 2010).
Tingginya kadar kolesterol dalam darah dapat diatasi dengan pengobatan
secara tradisional menggunakan aneka tanaman obat, karena selain tanpa efek
samping yang berarti, obat tradisional ini juga terjangkau oleh masyarakat luas.
khasiatnya pun tak kalah dari obat modern (Wed, 2004)
Strawberry (Fragaria sp) adalah buah berry yang paling populer di dunia
karena strawberry adalah buah yang mengandung banyak air, harum, manis dan
warna merah tua pada buah yang selalu tersedia sepanjang tahun ini dapat
mencerahkan baik rasa dan estetika saat dimakan (WHFoods, 2001). Strawberry
merupakan sumber fitokimia yang sangat baik, terutama anthocyanin dan asam
ellagic yang terkandung dalam strawberry, yang memiliki fungsi antioksidan kuat dan


3
anti-inflamasi. Ekstrak jus strawberry telah terbukti secara signifikan menghambat
radikal bebas dan mengurangi proliferasi LDL pada tikus, suplementasi asam ellagic
juga mengurangi pembentukan lesi aterosklerotik pada kelinci hiperlipidemia,
sehingga strawberry juga termasuk buah-buahanan berwarna yang mengandung
berbagai phytochemical yang bermanfaat bagi kesehatan jantung (Basu et al, 2009)
Berdasarkan pemaparan diatas, peneliti ingin melakukan penelitian pengaruh
pemberian jus strawberry terhadap kadar HDL darah tikus putih jantan galur wistar
yang diinduksi diet tinggi kolesterol. Karena sejauh ini belum ada penelitian tentang
pengaruh jus strawberry terhadap kadar HDL darah pada tikus putih jantan galur
wistar yang diinduksi diet tinggi kolesterol.
1.2. Perumusan Masalah
Dari latar belakang diatas dapat dirumuskan masalah sebagai berikut:
Adakah pengaruh jus strawberry terhadap kadar HDL darah tikus putih jantan galur
wistar yang diinduksi diet tinggi kolesterol. ?

1.3.Tujuan Penelitian
1.3.1. Tujuan Umum
Untuk mengetahui Mengetahui pengaruh ekstrak strawberry terhadap
kadar HDL pada mencit.
1.3.2. Tujuan Khusus


4
Mengetahui pengaruh perbedaan dosis ekstrak strawberry terhadap
kadar HDL pada mencit.
1.4. Manfaat Penelitian
1.4.1. Memberikan informasi kepada masyarakat tentang pengaruh pemberian
Jus strawberry terhadap peningkatan kadar HDL
1.4.2. Sebagai bahan acuan untuk penelitian lebih lanjut mengenai pengaruh
pemberian jus strawberry terhadap peningkatan kadar HDL darah.


BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1. HDL
2.1.1. Definisi
Lipoprotein densitas tinggi merupakan lipoprotein yang mengandung
konsentrasi protein yang tinggi, kira-kira 50% protein, tetapi konsentrasi
kolesterol dan fosfolipid yang lebih kecil (Guyton, 1997).

2.1.2. Fungsi
Bertindak sebagai tempat penyimpanan apo C dan E yang dibutuhkan
dalam metabolism kilomikron dan VLDL (Murray,dkk, 2003)

2.1.3. Metabolisme
HDL disintesis dan disekresikan oleh hati maupun intestinum. Namun
demikian, HDL nascent (HDL yang baru disekresikan) dari intestinum tidak
mengandung apolipoprotein A, Apo C dan E disintesis dalam hati
dandipindahkan kepada HDL intestinum ketika HDL ini memasuki plasma
darah (Murray,dkk,2003).
7

Pertama kali disekresikan kedalam darah, partikel HDL berukuran kecil
dan berbentuk cakram. Setelah HDL menyerap kolesterol dari lipoprotein lain
dan dari membran sel, kolesterol tersebut diubah menjadi ester kolesterol oleh
enzim LCAT (Lechitin Cholesterol Acyl Transferase), yang dirangsang oleh
apoAI, suatu komponen pada partikel HDL imatur. Partikel akan menjadi
besar dan berbentuk sferis setelah terisi oleh ester kolesterol dan trigliserol.
Partikel ini disebut juga HDL3.
HDL3 ini memindahkan ester kolesterol ke VLDL untuk dipertukarkan
dengan triasilgliserol yang di perantarai oleh protein pemindah ester kolesterol
(Cholesterol Ester Ttransfer Protein). Saat diuraikan oleh LPL (Lipoprotein
Lipase), VLDL memindahkan kembali apoprotein CII ke HDL. Akibat
pemindahan dan penguraian triasilgliserol ini, VLDL berubah menjadi IDL
(Intermediet Density Lipoprotein) yang berukuran lebih kecil dan padat.
Triasilgliserol pada sebagian partikel IDL mengalami penguraian, terutama
oleh trigliserida lipase hati, ApoE dipindahkan ke HDL memiliki kandungan
triasilgliserol yang rendah. Partikel HDL yang telah berubah sekarang
menjadi semakin kecil dan dikenal sebagai HDL2.
Partikel IDL dan LDL (Low Density Lipoprotein) mengalami endositosis
oleh sel hati dan isinya dibebaskan melalui kerja enzim lisosom. Sehingga
kolesterol yang telah dikumpulkan oleh HDL di kembalikan ke hati.LDLjuga
mengalami endositosis oleh sel perifer untuk memberi sel tersebut
kolesterol.(Marks,dkk,2000).
8


2.1.4. Komposisi dan Kadar HDL
HDL mengandung triasilgliserol 16% untuk HDL2 sedang untuk HDL3
13%, prosentase protein untuk HDL2 33% sedang untuk HDL3 57%,
Prosentase fosfolipid 43% untuk HDL2 sedang untuk HDL3 46%. Diameter
HDL adalah 10*20 nm dengan densitas 1,063*1,210. Sumber HDL berasal
dari hati, usus Very Low Density Lipoprotein (VLDL) dan khilomikron
(Murray,dkk,2003).
Kadar HDL normal pada manusia menurut NECP (National Education
Cholesterol Program): 40*60 mg/dl (Soeharto,2004). Kadar HDL normal pada
mencit : 20*80 mg/dl (Walter,1989)
2.1.5. Faktor faktor yang Mempengaruhi Kadar HDL Darah
2.1.5.1. Faktor faktor yang dapat menurunkan kadar HDL
2.1.5.1.1. Genetik
Suatu kadar HDL yang terlalu rendah, dikombinasikan dengan
sejarah keluarga yang memiliki PJK, mungkin menunjukkan adanya
persoalan genetik pada dirinya. Faktor keturunan jenis ini disebut
Hypo-HDL. Pada keluarga yang mengalami Hypo-HDL, ada
dominant trait yang terdiri dari satu gen abnormal berpasangan
dengan gen normal. Maka, analog dengan FH (Family
9

Hipercholesterolemia) heterozygote, dari seorang ibu atau bapak
yang terkena Hypo-HDL, rata rata setengah dari anak - anaknya,
terkena Hypo-HDL (Soeharto,2004).
2.1.5.1.2. Usia dan jenis kelamin
Sebelum usia menopause wanita mempunyai kadar HDL lebih tinggi
dibandingkan pria dengan usia yang sama (Soeharto, 2004). Setelah
menopause, kadar kolesterol HDL pada wanita cenderung menurun
karena hormone estrogen yang berfungsi menghambat aktivitas
enzim lipase hepatic berkurang (Murray,dkk,2003).
2.1.5.1.3. Diet tinggi kolesterol
Seseorang dengan diet tinggi lemak, khususnya lemak jenuh dan
kolesterol. Diet tinggi lemak jenuh dapat meningkatkan kadar
kolesterol (Guyton dan Hall, 1997). Asam lemak jenuh dapat
menurunkan HDL dengan menghambat aktifitas enzim LCAT
(Lecithin cholesterol acyl transferase) (Murray dkk, 2003).
2.1.5.2. Faktor faktor yang dapat meningkatkan kadar HDL
2.1.5.2.1. Diet tinggi serat
2.1.5.2.2. Aktivitas fisik

10


2.2. Strawberry
2.2.1. Taksonomi
Berdasarkan hasil identifikasi tumbuhan, tanaman strawberry dapat
diklasifikasikan sebagai berikut:
Divisi : Spermatopyta
Sub divisi : Angiospermae
Kelas : Dicotyledonae
Famili : Roseceae
Genus : Fragaria
Spesies : Fragaria sp.
(Budiman, 2008)


2.2.2. Ciri ciri fisik
2.2.3. Kandungan strawberry
2.2.4. Khasiat Strawberry

2.1.1. Limfosit T
11

Subpopulasi limfosit T, limfosit T helper dan T sitotoksik
mempunyai peranan yang sama dalam mengeliminasi antigen tumor.
Sel yang mengandung antigen tumor akan mengekspresikan antigennya
bersama molekul MHC kelas I yang kemudian membentuk komplek
melalui TCR (T-cell Receptor) dari sel T-sitotoksik (CD8),
mengaktivasi sel T-sitotoksik untuk menghancurkan sel tumor tersebut.
Melakukan fungsi surveillance dengan mengenal dan membunuh sel-
sel potensial ganas yang mengekspresikan peptida yang berasal dari
protein seluler mutant atau protein virus onkogenik yang
dipresentasikan oleh molekul MHC kelas I. Limfosit T yang
menginfiltrasi jaringan tumor (Tumor Infiltrating Lymphocyte = TIL)
juga mengandung sel CTL yang memiliki kemampuan melisiskan sel
tumor. Sel T CD4
+
pada umumnya tidak bersifat sitotoksik bagi tumor,
tetapi sel-sel itu dapat berperan dalam respon antitumor dengan
memproduksi berbagai sitokin yang diperlukan untuk perkembangan
sel sel CTL menjadi sel efektor. Di samping itu sel T CD4
+
yang
diaktifasi oleh antigen tumor dapat mensekresi TNF dan IFN yang
mampu meningkatkan ekspresi molekul MHC kelas 1 dan sensitivitas
tumor terhadap lisis oleh sel CTL.
Proliferasi limfosit dalam kelenjar getah bening yang merupakan
draining sites dari pertumbuhan tumor disertai peningkatan ekpresi MHC
dan intercellular adhesion melocule (ICAM) yang mengindikasikan
12

sistem imun yang aktif. Antigen tumor yang dapat dikenal oleh sel T
sitotoksik melalui MHC kelas 1 diidentifikasi sebagai protein seluler yang
diekspresikan secara abnormal atau disebut sebagai protein mutan.
Penemuan ini mendukung dugaan bahwa fungsi sel T sitotoksik adalah
surveillance dan menghancurkan sel yang mengandung gen mutan yang
dapat menyebabkan atau yang diasosiasikan dengan tumor ganas.
2.1.2 Sel Natural Killer (NK)
Sel NK merupakan komponen utama dari immune surveillance, yang
dapat bekerja sebagai sel efektor dari imunitas natural maupun spesifik /
adaptif. Mekanisme efek
-
tor sel NK mirip dengan sel T- sitotoksik (CD8),
yang membedakan adalah bahwa sel NK melakukan sitotoksisitas
terhadap sel tumor tanpa melalui ekspresi antigen tumor bersama molekul
MHC kelas I "(MHC-unrestricted manner)". Secara in vitro, sel NK dapat
melisis sel terinfeksi virus dan cell line dari tumor terutama tumor
hematopoetik. Kapasitas dari sel NK akan ditingkatkan oleh berbagai
sitokin, diantaranva IFN, TNF, IL-2 dan IL-12. Konsep ini diadaptasikan
dalam imunoterapi tumor menggunakan LAK (Lymphokine Activated
Killer), yaitu set mononuklear perifer yang dikultur secara in vitro
dengan penambahan IL-2 dosis tinggi
Sel NK adalah sel efektor dengan sitotoksisitas spontan terhadap
berbagai jenis sel sasaran; sel-sel efektor ini tidak memiliki sifat-sifat
klasik dari makrofag, granulosit maupun CTL, dan sitotoksisitasnya
13

tidak bergantung pada MHC. Sel NK tidak dapat melisiskan sel yang
mengekspresikan MHC, tetapi sebaliknya sel tumor yang tidak
mengekspresikan MHC, yang biasanya terhindar dari lisis oleh CTL,
justru merupakan sasaran yang baik untuk dilisiskan oleh sel NK.
Disamping itu penelitian-penelitian terakhir mengungkapkan bahwa
pengikatan sel NK pada sel sasaran juga dapat terjadi melalui reseptor
khusus yang berbeda dengan reseptor Fc, yaitu reseptor NKR-Pl, yang
mengikat molekul semacam lektin
Kemampuan seI NK membunuh sel tumor ditingkatkan oleh
sitokin, termasuk IFN, TNF, IL-2 dan IL-12. Ketiga jenis IFN (,,)
juga dapat meningkatkan fungsi sel NK. Peran sel NK diaktifkan
dengan stimulasi IL-2 dalam membunuh sel tumor. Sel-sel itu yang
disebut lymphokine activated killer cells (LAK cells) dapat diperoleh in
vitro dengan memberikan IL-2 dosis tinggi pada biakan sel-sel limfosit
darah perifer atau sel-sel Tumor Infiltrating Lymphocytes (TIL) yang
berasal dari penderita kanker.
Setelah mengenal sel tumor dengan caranya masing-masing. CTL
dan sel NK melepas granula azurofilik. Granula ini akan menyelubungi
sel target, kemudian akan bersatu dengan membran sel target
(eksositosis). Granula CTL dan sel NK mengandung perforin, sitotoksin,
serine esterase (granzyme) dan proteoglikan.

Perforin akan menimbulkan
lubang pada membran sel target (sel tumor), dimana lubang tersebut
14

merupakan pintu masuk bagi molekul sitotoksik lainnya dalam sitoplasma
dan inti sel yang menyebabkan kematian dari sel target
2.1.3. Makrofag
Makrofag juga berperan dalam pertahanan melawan sel tumor baik
bertindak sebagai APC dalam mengolah dan mempresentasikan antigen
tumor kepada sel T helper, maupun bertindak langsung sebagai efektor
dengan melisiskan sel tumor. Makrofag yang berperan dalam
mekanisme tersebut adalah makrofag aktif yaitu makrofag yang telah
diaktifasi oleh Macrofag Activating Factors (MAF), suatu sitokin yang
dihasilkan limfosit T yang distimulasi antigen. Makrofag yang tidak
aktif telah dibuktikan tidak memiliki kemampuan melisis sel tumor.
Makrofag aktif mensekresi sitokin antara lain IL-12 dan Tumor
Necrosis Factor (TNF). IL-12 berperan memacu proliferasi dan
akfivasi sel T CD4+, sel T CD8+ serta sel NK. TNF sesuai namanya
mampu melisis sel tumor melalui cara : 1) TNF berikatan dengan
reseptor permukaan dari sel tumor dan secara langsung melisis sel
tumor, 2) TNF dapat menyebabkan nekrosis dari sel tumor dengan cara
memobilisasi berbagai respon imun tubuh. (Abas, 2010) (Kresno, 2001)
2.1.4. Respon imun terhadap tumor
Mekanisme repon imun meliputi mekanisme imun humoral dan
mekanisme imun selular. Dalam mekanisme imun humoral,
Imunoglobulin M (Ig M) dan Imunoglobulin G (Ig G) bersama dengan
15

komplemen memiliki kemampuan melisiskan sel kanker. Namun
kemampuan ini tidak efektif terhadap kanker yang solid. Hal ini
disebabkan karena antibodi membentuk kompleks imun yang mencegah
sitotoksisitas sel T. Meskipun imunitas selular pada kanker lebih banyak
berperan dibanding imnitas humoral, tetapi tubuh membentuk juga
antibodi terhadap antigen kanker. Antibodi tersebut ternyata dapat
menghancurkan sel kanker secara langsung atau dengan bantuan
komplemen atau melalui sel efektor Antibody Dependent Cell Mediated
Cytotoxicity (ADCC) yang memiliki reseptor Fragmen crystallizable (Fc)
dari molekul Ig. Sel efektor potensial yang dapat menyebabkan lisis,
misalnya sel NK (Natural Killer) dan makrofag (opsonisasi) atau dengan
jalan mencegah adhesi sel kanker. Respon Imun pada dasarnya terdiri
dari tiga fase :
a. Fase Kognitif
Fase Kognitif dari respon imun terdiri dari pengikatan imunogen ke
reseptor spesifik dari limfosit mature yang terjadi sebelum stimulasi
imunogenik. Limfosit B memiliki molekul antibodi pada permukaannva
yang dapat mengikat protein, polisakarida, atau lipid. Sedangkan limfosit
T hanya mengenal peptida yang berikatan dengan MHC pada permukaan
set penyaji. Respon imun diawali dengan peristiwa masuknya imunogen
dan penyajian imunogen tersebut ke reseptor dari limfosit.

b. Fase Aktivasi
16

Fase aktivasi dari respon imun merupakan rangkaian kejadian
dimana limfosit terinduksi sebagai konsekuensi dan pengenalan terhadap
imunogen spesifik. Limfosit mengalami dua perubahan utama dalam
respons terhadap imunogen. Pertama, limfosit spesifik berproliferasi
sehingga jumlahnya bertambah. Kedua, limfosit tersebut berdiferensiasi
menjadi sel yang berfungsi mengeliminasi imunogen asing.

Interaksi
makrofag yang menyajikan imunogen dengan limfosit T spesifik
mengakibatkan makrofag mensekresikan Interleukin-1 (IL-1) yang
menstimulasi limfosit T helper sehingga menghasilkan IL-2. Limfosit T
helper berproliferasi sebagai respons terhadap IL-2 tersebut.

Limfosit T
helper tersebut juga menghasilkan interleukin lain yang dapat
menginduksi berbagai sel lain seperti limfosit B, makrofag, prekursor
limfosit T sitotoksik, dan sel endotelial.
c. Fase Efektor

Fase Efektor dari respons imun adalah tahap pada waktu limfosit
telah teraktifkan oleh Imunogen dan dalam keadaan yang dapat berfungsi
mengeliminasi imunogen tersebut. Pada fase Efektor, imunogen tidak
lagi berperan kecuali sebagai suatu target untuk dihancurkan.

Fungsi sistem imun adalah fungsi protektif dengan mengenal dan
menghancurkan sel-sel abnormal itu sebelum berkembang menjadi
tumor atau membunuhnya kalau tumor itu sudah tumbuh. Peran sistem
imun ini disebut immune surverillance, oleh karena itu maka sel-sel
17

Efektor seperti limfosit B, T-sitotoksik dan sel NK harus mampu
mengenal antigen-tumor dan memperantarai/menyebabkan kematian sel-
sel tumor.
Sel imun yang berada disekitar sel kanker yang berperan dalam
perondaan terhadap kanker adalah limfosit T sitotoksik (CTL), Sel NK
(Natural Killer) dan makrofag. Setelah mengenal sel kanker sebagai sel
asing, ketiga sel imun tersebut akan menghancurkan sel kanker. Sel
CTL dan sel NK melakukan cara sitotoksisitas yang sama yaitu dengan
mengeluarkan perforin, sedangkan makrofag menggunakan cara
fagositosis. Dalam memproses antigen tumor in vivo akan melibatkan
baik respon imun humoral maupun seluler. Sampai saat ini belum ada
bukti antibodi secara sendiri dapat menghambat perkembangan /
pertumbuhan sel tumor. Dengan demikian respon imun humoral dalam
bentuk antibodi terhadap tumor selalu memerlukan bantuan efektor
imun seluler (Abbas, 2010) (Kresno, 2001).
Sebukan limfosit disekitar sel kanker secara histologik mempunyai
nilai prognostik yang baik karena kecepatan pertumbuhan sel kanker
akan menurun
2.1.5. Immunological Escape
Kanker dapat luput dari pengawasan sistem imun tubuh walaupun ada
sistem immunosurveillance bila faktor-faktor yang menunjang
pertumbuhan tumor lebih berpengaruh dibanding dengan faktor-faktor
18

yang menekan tumor. Mekanisme penghindaran ini disebut
immunological escape kanker
Faktor-faktor yang mempengaruhi luputnya tumor dari pengawasan
sistem imun tubuh sebagai berikut :
a. Tidak adanya antigen yang sesuai
b. Kinetik Tumor (sneaking through)
c. Modulasi antigenik permukaan atau perubahan fenotip
d. Masking antigen
e. Pelepasan antigen
f. Limfosit yang terperangkap
g. Faktor penyekat
h. Produksi substansi yang menekan respon antitumor
Mekanisme jalan keluar yang terutama sekali penting adalah hilangnya
antigen MHC yang menyebabkan ketidakmampuan untuk
mempresentasikan antigen dari tumor (Kresno,2001)
2.2. Jahe
2.2.1 Taksonomi Tanaman Jahe
Jahe merupakan tanaman obat berupa tumbuhan rumpun berbatang
semu. Jahe berasal dari Asia Pasifik yang tersebar dari India sampai Cina.
Oleh karena itu kedua bangsa ini disebut-sebut sebagai bangsa yang
pertama kali memanfaatkan jahe terutama sebagai bahan minuman, bumbu
masak dan obat-obatan tradisional. Jahe termasuk dalam suku temu-
19

temuan (Zingiberaceae), se-famili dengan temu-temuan lainnya seperti
temu lawak (Cucuma xanthorrizha), temu hitam (Curcuma aeruginosa),
kunyit (Curcuma domestica), kencur (Kaempferia galanga), lengkuas
(Languas galanga) dan lain-lain. Tiap daerah mempunyai berbagai
macam nama untuk tanaman jahe.
Taksonomi jahe adalah sebagai berikut :
Kingdom : Plantae
Divisi : Spermatophita
Sub Divisi : Angiospermae
Kelas : Monocotyledonae
Ordo : Zingiberales
Famili : Zingiberaceae
Spesies : Zingiber officinale rosc (Ratna,2009)
2.2.2. Deskripsi Tanaman
Terna berbatang semu, tinggi 30 cm sampai 1 m, rimpang bila
dipotong berwarna kuning atau jingga. Daun sempit, panjang 15 23 mm,
lebar 8 15 mm ; tangkai daun berbulu, panjang 2 4 mm ; bentuk lidah
daun memanjang, panjang 7,5 10 mm, dan tidak berbulu; seludang agak
berbulu. Perbungaan berupa malai tersembul dipermukaan tanah,
berbentuk tongkat atau bundar telur yang sempit, 2,75 3 kali lebarnya,
sangat tajam ; panjang malai 3,5 5 cm, lebar 1,5 1,75 cm ; gagang
bunga hampir tidak berbulu, panjang 25 cm, rahis berbulu jarang ; sisik
20

pada gagang terdapat 5 7 buah, berbentuk lanset, letaknya berdekatan
atau rapat, hampir tidak berbulu, panjang sisik 3 5 cm; daun pelindung
berbentuk bundar telur terbalik, bundar pada ujungnya, tidak berbulu,
berwarna hijau cerah, panjang 2,5 cm, lebar 1 1,75 cm ; mahkota bunga
berbentuk tabung 2 2,5 cm, helainya agak sempit, berbentuk tajam,
berwarna kuning kehijauan, panjang 1,5 2,5 mm, lebar 3 3,5 mm, bibir
berwarna ungu, gelap, berbintik-bintik berwarna putih kekuningan,
panjang 12 15 mm ; kepala sari berwarna ungu, panjang 9 m, tangkai
putik 2. (Matondang,2005)
2.2.3 Kandungan Kimia
Rimpang jahe mengandung minyak atsiri yang terdiri dari senyawa-
senyawa seskuiterpen, zingiberen, zingeron, oleoresin, kamfena, limonen,
borneol, sineol, sitral, zingiberal, felandren. Disamping itu terdapat juga
pati, damar, asam-asam organik seperti asam malat dan asam oksalat,
Vitamin A, B, dan C, serta senyawa-senyawa flavonoid dan polifenol.
(Ratna,2009)

2.3. Kanker Payudara
2.3.1. Definisi
Kanker dapat dianggap sebagai penyakit yang ditimbulkan ekspansi
progresif sel asal progenitor tunggal yang dapat melepaskan diri dari
pengawasan regulator pembagian sel dan mekanisme homeostasis yang
21

normal. Pada keadaan normal, pertumbuhan sel dipertahankan seimbang
oleh berbagai regulator yang mengatur kecepatan sel membagi diri,
diferensiasi dan mati. Beberapa regulator adalah intrinsik sedang lainnya
berhubungan dengan sinyal yang diperoleh sel dari lingkungan.
Kanker terjadi melalui proses yang disebut transformasi yang terjadi
bila sel mengalami perubahan genetik dan mendapat kemampuan untuk
melepasakan diri dari mekanisme regulator dan proses diduga terjadi
bertahap yang mengubah sel normal menjadi derivat klon yang sangat
ganas (Baratawidjaja, 2006)Kanker atau tumor merupakan pertumbuhan
sekelompok sel yang abnormal dan tidak terkendali, dan membentuk
benjolan (tumor). Tumor dapat bersifat jinak (benigna) atau ganas
(maligna) yang disebut dengan kenker. Kanker payudara merupakan
neoplasma ganas yang berasal dari pertumbuhan abnormal jaringan
epitelial, dan paling sering terjadi pada sistem duktal payudara. Tumor ini
tumbuh progresif dan relatif cepat meyebar. Mula-mula terjadi hiperplasia
sel-sel dengan perkembangan sel-sel atipik. Sel-sel ini berlanjut menjadi
karsinoma in situ dan menginvasi stroma (Underwood, 2002).
2.3.2. Histologi
Kelenjar payudara terdiri dari 15-20 lobus yang merupakan kelenjar
tubuloalveolar kompleks. Sebuah lobus diliputi jaringan interlobularis
yang mengandung banyak sel lemak. Lemak dan juga jaringan ikat
tersebut juga membagi lobus menjadi banyak lobulus. Jaringan ikat
22

intralobular berupa jaringan ikat longgar, halus, dan padat sel. Duktus
intralobular bermuara ke duktus interlobular yang kemudian bersatu
membentuk sebuah saluran keluar dari setiap lobus yang disebut duktus
laktiferus. Duktus laktiferus berjalan melewati puting dan melebar di
dekat ujungnya pada puncak puting membentuk sinus laktiferus.
Kelenjar mammae nonlaktans ditandai dengan banyak jaringan ikat dan
sedikit unsur kelenjar. Lobulus mengandung kelompok-kelompok tubuli
kecil yang dilapisi epitel kuboid atau silindris rendah. Tubuli ini mirip
duktus dan tetap dalam tahap ini selama kelenjar mammae ini tidak aktif.
Mungkin terdapat sedikit perubahan siklik pada kelenjar mammae tetapi
kelenjar ini mengalami regresi pada akhir siklus menstruasi. Kadang-
kadang terlihat tubulus yang lebih nyata,seperti duktus interlobular kecil
atau duktus ekskretorius intralobular besar yang keluar lobulus untuk
bersatu dengan duktus interlobular. Tubulus potensial mungkin berupa
korda sel padat berkembang.
Tubuli ekskretorius dikelilingi jaringan ikat intralobular longgar dan
halus yang mengandung fibroblas, limfosit, sel plasma dan eosinofil.
Daerah ini dikelilingi oleh jaringan ikat padat interlobular dan jaringan
lemak (De fiore, 2003).
2.3.3. Klasifikasi
Pembagian jenis histologik kanker payudara terbatas jenis epitel dan
duktus invasif menurut WHO sebagai berikut:
23

Epitelial tumours
Invasive ductal carcinoma, not otherwise specified
Mixed type carcinoma
Pleomorphic carcinoma
Carcinoma with osteoclastic giant cells
Carcinoma with choriocarcinomatous features
Carcinoma with melanotic features
Invasive lobular carcinoma
Tubular carcinoma
Invasive cribform carcinoma
Medullary caarcinoma
Mucinous carcinoma and other tumours with abundant mucin
Mucinous carcinoma
Cysadenocarcinoma and columnar cell mucinous carcinoma
Signet ring cell carcinoma
Neuroendocrine tumours
Solid neuroendocrine carcinoma
Atypical carcinoid tumour
Small cell / oat cell carcinoma
Large cell neuroendocrine carcinoma
Invasive pappilary carcinoma
Invasive micropapillary carcinoma
24

Apocrie carcinoma
Metaplastic carcinoma
Pure epithelial metaplastic carcinomas
Squamous cell carcinoma
Adenocarcinoma with spindle cell metaplasia
Adenosquamous carcinoma
Mucoepidermoid carcinoma
Mixed epithelial/mesenchymal metaplastic carcinoma (Kumar,2007)

2.4. Mekanisme Kerja Anti Kanker Ekstrak Jahe dalam Meningkatkan Respon
Immunologis Kanker Payudara
Senyawa flavonoid yang terkandung dalam obat tradisional di mana
senyawa ini akan menghambat pertumbuhan dan menginduksi proses
apoptosis pada target sel-sel kanker. Flovanoid mempunyai efek
memblok reseptor growth factor, dan menginhibisi Mitogen Activated
Protein Kinase (MAPK), pada jalur sinyal Receptor Tirosin Kinase
(RTKs). Flavonoid mempunyai efek inhibisi pertumbuhan pada sel kanker
payudara (sel T47D). Mekanisme inhibisi pertumbuhan tersebut terutama
pada MAPK,

di mana MAPK akan memphosporilasi berbagai protein
termasuk transcription factor yang dibutuhkan pada sintesa protein dalam
differensiasi dan siklus sel. Flavonoid juga mempunyai kemampuan
untuk menghambat aktivasi Nuclear Factor Kappa B (NF-B). Suatu
25

transcription factor yang berperan penting dalam regulasi molekul
pembentukan sitokin. (Abbas, 2010). Adanya NFB ini membuat sebuah
imbas utama yaitu munculnya agen baru TNF- (Tumour Necrosis Factor
Alpha). TNF- ini merupakan penyebab munculnya tumor pada berbagai
model percobaan karsinogenesis. Dengan demikian, menghambat sinyal
NFB dan menstimulasi produksi Interferon- (IFN-) dalam suatu
populasi immunosit merupakan sebuah strategi untuk mengobati kanker
menggunakan agen kemopreventif seperti jahe (Wunderlich, 1997).

2.5. Hewan Coba
Hewan yang digunakan dalam penelitian ini adalah mencit strain C3H.
Adapun taksoominya menurut Sharp (1998) adalah sebagai berikut:
Kingdom : Animalia
Phylum : Chordata
Class : Mammalia
Ordo : Rodentia
Subordo : Myomorpha
Family : Muridae
Genus : Mus
Species : Mus musculus
Strain : Mus musculus strain C3H
26

Mencit C3H merupakan hasil inbreeding mencit strain Agouti. Strain
C3H dikembangkan oleh Strong pada tahun 1920 dari perkawinan silang
mencit Bagg albino dan DBA jantan dengan seleksi yang mempunyai
insidensi tinggi tumor payudara. Substrain yang tidak disapih mempunyai
insidensi tumor payudara yang tinggi. Mencit ini rentan terhadap virus tumor
payudara yang dibawa dalam bentuk aktif dalam substrain yang tidak disapih.
Virus tumor payudara mencit (murine mammary tumor virus/MuMTV)
diketahui sebagai agen etiologik kanker payudara mencit spontan pada
beberapa strain mencit yang ditularkan lewat air susu. Mencit C3H
menunjukkan titer tinggi MuMTV dalam air susunya, dan kira-kira 90%
keturunan C3H yang disusui induk C3H mengembangkan tumor payudara
antara umur enam dan sepuluh bulan. Menyapih bayi-bayi mencit atau
mentrasfer sel telur yang telah difertilisasi ke strain yang bebas virus tumor
payudara mengeliminasi virus pada keturunan mencit tersebut dan secara
substansial mengurangi insidensi kanker payudara dan perkembangan kanker
payudara terjadi lebih lambat. Tumor payudara yang lambat terjadinya ini
diperkirakan hasil dari aktivasi MuMTV endogen. MuMTV endogen
diekspresikan pada mencit C3Hf sejalan dengan meningkatnya usia dan
jumlah paritas. Gen dominan tunggal, MTV-1, yang berada pada kromosom 7
mencit, bertanggungjawab terhadap ekspresi antigen viral MuMTV dalam air
susu mencit C3Hf dan meningkatnya insidensi perkembangan tumor
payudara. Semua substrain perkawinan dalam (inbred) mencit mengandung
27


IL-2
IFN

TNF
Limfosit
T
SEL Th 1
CD4
+


Sel
Kanker
Ekstrak jahe
(Zingiber
officinale roscoe
Flavanoid
CFM
MIF
MAF
SEL Tc
CD8
+


Sel
Kanker
MAPK

provirus MuMTV endogen yang mekanismebelum diketahui. Mencit ini juga
direkomendasikan sebagai model untuk skrining obat anti kanker potensial.












2.6. Kerangka Teori







28

Pertumbuhan sel
kanker menurun















2.7. Kerangka Konsep



2.6 Hipotesis
Ekstrak jahe berpengaruh terhadap jumlah sebukan sel mononuklear dalam
jaringan sel kanker payudara.
Apoptosis
Ekstrak Jahe Sebukan Sel Mononuklear
Kanker Payudara
29

BAB III
METODE PENELITIAN

3.1. Jenis Penelitian dan Rancangan Penalitian
Jenis penelitian yang dilakukan merupakan penelitian eksperimental laboratorium
dengan rancangan : Post test only control group design

3.2. Variabel dan Definisi Operasional
3.2.1. Variabel
3.2.1.1. Variabel bebas
Ekstrak jahe (Zingiber officinale roscoe)
3.2.1.2. Variabel tergantung
Sebukan sel mononuklear jaringan sel kanker payudara
3.2.2. Definisi Operasional
3.2.2.1. Ekstrak Jahe
Ekstrak jahe adalah sediaan cair yang dibuat dari rimpang jahe dengan
menarik sari aktifnya menggunakan pelarut etanol. Ekstrak jahe
dengan 3 kali dosis bertingkat diperoleh dari dosis standart jahe yang
dikonversikan dari manusia ke mencit kemudian dikalikan 2 kali serta
3 kali dosis standart.
Skala data: Ordinal
3.2.2.2. Sebukan Sel Mononuklear
26
30

Pembacaan dan penilaian jumlah sebukan sel mononuklear
dilakukan pada 5 lapangan pandang (4 disudut dan 1 ditengah)
dengan pembesaran 400x untuk tiap preparat pada masing-masing
kelompok. Adapun penilaian jumlah sebukan sel mononuklear
yang terdapat disekitar jaringan kanker payudara mencit menurut
Sarjadi adalah sebagai berikut:
Sebukan sel mononuklear Skor
a. Tidak ada (0-5 sel) 0
b. Sedikit (sampai dengan lapangan pandang) 1
c. Sedang ( sampai dengan lapangan pandang) 2
d. Banyak (lebih dari lapangan pandang) 3
Skala data: Rasio
3.3. Populasi dan Sampel
3.3.1. Populasi
Mencit yang akan dipilih mencit C3H yang sehat, jenis kelamin betina
dengan rata-rata usia 6 bulan, berat badan + 20-35 gram.
3.3.2. Sampel
Besar sampel ideal menurut kriteria WHO minimal 5 ekor atau lebih.
Dengan demikian jumlah mencit semua kelompok uji secara keseluruhan
adalah 20 ekor, kemudian dibagi dalam 4 kelompok.
i. Kelompok 1
Mencit yang mendapat perlakuan inokulasi bubur tumor sebagai kontrol
positif.
31

ii. Kelompok 2
Mencit yang mendapat perlakuan pemberian secara lokal ekstrak jahe
dengan dosis kesatu.
iii. Kelompok 3
Mencit yang mendapat perlakuan pemberian secara lokal ekstrak jahe
dengan dosis kedua.
iv. Kelompok 4
Mencit yang mendapat perlakuan pemberian secara lokal ekstrak jahe
dengan dosis ketiga.

3.4. Kriteria Inklusi dan Kriteria Eksklusi
3.4.1. Kriteria Inklusi
3.4.1.1 Mencit C3H yang telah tumbuh tumor
3.4.2. Kriteria Eksklusi
3.4.2.1 Tidak tumbuh tumor setelah dilakukan inokulasi
3.4.2.2 Mencit tampak sakit (gerakan tidak aktif) atau mati saat adaptasi
perlakuan

3.5. Instrumen dan Bahan Penelitian
3.5.1. Bahan transplantasi jaringan tumor pada mencit
1. Alkohol 70 %
2. Larutan Garam Fisiologik
3. Es batu
32

4. Mencit donor bertumor
5. Mencit resipien
3.5.2 Bahan untuk pemeriksaan histopatologi dengan pewarnaan HE
a. Zat pewarna hematoksilin eosin dan larutan emersi
b. Alkohol 70%, 85%, 90%, 100%
c. Karbol xylol, xylol lilin, dan xylol pembersih
d. Formalin, aceton, parafin cair dan balsem kanada
e. Larutan zoutzure 70% yang dibuat dengan campuran alkohol 100%
3.5.3 Alat transplantasi jaringan tumor pada mencit
1. Cawan petri ukuran 6 Cm
2. Cawan petri ukuran 15 Cm
3. Cawan ukuran 10 Cm
4. Spuit 1 cc
5. Jarum suntik trocar
6. Gunting lurus I0 Cm
7. Gunting bengkok 10 Cm
8. Pinset anatomi 10 Cm
9. Alas fiksasi
3.5.4 Alat untuk pembuatan sediaan penelitian dengan pewarnaan H&E:
a. Kandang tikus, timbangan, mikroskop dan oven
b. Gelas ukur dan pengaduk dari kaca
c. Alat pemotong jaringan (mikrotom), kaca obyek dan deck glass
d. Pencetak blok jaringan dan tabung penyimpanan
33

3.6 Cara Penelitian
3.6.1 Dosis Ekstrak Jahe (Zingiber officinale rocs.)
Dosis pemberian ekstrak jahe (Zingiber officinale rocs.) sesuai
dengan penelitian yang telah dilakukan oleh Janesh (2004) yang
menyatakan bahwa dosis pemberian ekstrak jahe pada mencit adalah 250
mg/kg BB, pemberian sekali dalam satu hari. Mencit yang dipakai adalah
mencit dengan berat 20-35 gram. Ini berarti dosis standart ekstrak jahe
yang diberikan pada mencit adalah 5-7,5 mg, pemberian sekali dalam
satu hari.
Dosis pada mencit dibuat dosis bertingkat sebanyak 3 kali, yaitu:
Dosis pertama dibuat dengan dosis standart, yaitu 5-7,5 mg,
pemberian sehari sekali dalam 0,2 ml.
Dosisi kedua dibuat dari dosis standart dikali 2, yaitu 10-15
mg, pemberian sehari sekali dalam 0,2 ml.
Dosis ketiga dibuat dari dosis standart dikali 3 kali, yaitu
15-22,5 mg, pemberian sehari sekali dalam 0,2 ml.
Batasan dosis terapi untuk jahe adalah 1500 mg/kg BB. Lebih dari
1500 mg/kg BB masuk dalam dosis toxic.
3.6.2 Cara Pembuatan Ekstrak Jahe (Zingiber officinale rosc.)
a. Lima ratus miligram rimpang jahe yang telah dikeringkan ditumbuk halus,
kemudian serbuk dimasukkan ke dalam alat soklet (kapasitas 50 mg)
dan dilakukan ekstraksi dengan cara sokletasi menggunakan pelarut
etanol dengan siklus 8-10 kali.
34

b. Hasil ekstrak dimasukkan dalam labu rotary evaporator dan dilakukan
destilasi vakum hingga menjadi pekat (suhu 40
0
C).
c. Ekstrak dikeringkan dalam oven dengan suhu 40
0
C selama 1 jam untuk
menguapkan etanol.
d. Hasil ekstrak diencerkan dengan aquabidest sampai tercapai konsentrasi
0,2 mg/mL.
3.6.3 Pemberian Perlakuan
Penelitian dilakukan secara eksperimen dengan menggunakan hewan
uji berupa mencit betina strain C3H sebanyak 20 ekor yang dibagi dalam
4 kelompok uji secara acak. Pengelompokan tikus sebagai berikut :
a. Kelompok I
Terdiri dari 5 ekor mencit betina strain C3H bertumor yang
mendapat perlakuan inokulasi bubur tumor yang perkembangannya
ditunggu selama 1 minggu.
b. Kelompok II
Terdiri dari 5 ekor mencit betina strain C3H bertumor yang
mendapatkan perlakuan pemberian bubur tumor yang
perkembangannya ditunggu selama 1 minggu serta pemberian
ekstrak jahe dosis kesatu selama 3 minggu lalu diperiksa sebukan sel
mononuklear jaringan kanker payudaranya dengan pemeriksaan
histopatologi.
c. Kelompok III
35

Terdiri dari 5 ekor mencit betina strain C3H bertumor yang
mendapatkan perlakuan pemberian bubur tumor yang
perkembangannya ditunggu selama 1 minggu serta pemberian
ekstrak jahe dosis kedua selama 3 minggu lalu diperiksa sebukan sel
mononuklear jaringan kanker payudaranya dengan pemeriksaan
histopatologi.
d. Kelompok IV
Terdiri dari 5 ekor mencit betina strain C3H bertumor yang
mendapatkan perlakuan pemberian bubur tumor yang
perkembangannya ditunggu selama 1 minggu serta pemberian
ekstrak jahe dosis kedua selama 3 minggu lalu diperiksa sebukan sel
mononuclear jaringan kanker payudaranya dengan pemeriksaan
histopatologi.
3.6.4 Prosedur Transplantasi Jaringan Tumor pada Mencit
a. Mencit donor dimatikan dengan eter, kemudian diletakkan terlentang
pada tatakan / alas fiksasi dan keempat kakinya difiksasi dengan jarum.
b. Kulit dibagian yang bertumor diusap dengan alkohol 70 %, kemudian
dibuat sayatan dengan gunting lurus, untuk mengeluarkan tumor.
c. Tumor diletakkan di cawan petri kecil yang telah terlebih dahulu dicuci
dengan garam fisiologis dan diletakkan diatas es.
d. Amati bentuk dan keadaan tumor, kemudian ambil/potong jaringan tumor
yang masih baik yaitu bagian yang tanpa nekrosis (biasanya di daerah
tepi jika tumor besar) sebanyak kira-kira yang dapat menghasilkan bubur
36

tumor paling sedikit 1 ml dan taruh dicawan petri kecil lainnya.
Bersihkan dari jaringan ikat (simpai), jaringan nekrotik dan darah,
kemudian cacah/potong-potong sampai halus dengan gunting hingga
akhirnya terbentuk "bubur tumor" yang partikelnya dapat melewati jarum
trokar. Tambahkan garam fisiologis lebih kurang sama banyak dengan
volume tumor.
e. Bubur tumor disuntikkan subkutan di aksila kanan mencit dengan dosis
0,2 ml menggunakan spuit insulin dengan ketepatan 10
-1
.
f. Sisa tumor yang padat dimasukkan ke dalam botol formalin unt uk dibuat
sediaan mikroskopik.
g. Masing-masing mencit diberi nomor ditelinganya (lihat bagan) dan
dimasukkan ke dalarn kandang berbeda yang diberi label berisi : jenis
kelompok perlakuan, tanggal transplantasi
3.6.5 Cara Pembuatan Preparat Jaringan dengan Pewarnaan Hematoksilin
Eosin (HE)
Adapun cara pembuatan preparat jaringan dengan pewarnaan HE
adalah sebagai berikut:
1) Sediaan jaringan yang didapat kemudian diukur secara makroskopik
lalu dipotong basah yakni pemotongan jaringan tersebut dengan
pemotongan langsung.
2) Setelah pemotongan basah dari jaringan tersebut, difiksasi dengan
larutan formalin 10% dengan waktu kira - kira 24 jam.
37

3) Preparat dikeluarkan dari larutan formalin 10% dikeringkan lalu
direndam air selama 15 sampai 30 menit, dengan tujuan menghilangkan
formalin yang masih melekat.
4) Setelah 15 30 menit direndam air kemudian diganti dengan larutan
aceton I, II, dan III selama kira kira 1 jam dalam setiap larutan aceton.
5) Kemudian dimasukkan ke dalam oven yang telah diisikan parafin cair I,
II, III dengan pemanasan 60
0
Celcius selama 1 jam dalam setiap cairan
parafinnya.
6) Sediaan dapat dibuat cupe dalam potongan parafin cair ditunggu hingga
membeku.
7) Potongan tersebut dipotong dengan mikrotom dengan tebal irisan yang
biasa dipergunakan adalah 4 m.
Cara kerja mikrotom:
a. Preparat yang telah dimasukkan ke dalam parafin (potongan
jaringan) diletakkan pada alat pemegang atau perekat dengan
metode pemanasan.
b. Alat mikrotom disiapkan untuk pemotongan jaringan (biasanya
dipergunakan ketebalan 4 m).
c. Kemudian alat penarik turun jaringan dijalankan sehingga
potongan jaringan akan terpotong dan dapat diambil bagian
jaringan yang terpisah dari blok parafin.
8) Potongan tadi dimasukkan ke dalam air hangat kuku agar tidak melipat
dan mengembang sehingga mudah dibuat preparat.
38

9) Potongan jaringan yang sudah dimasukkan ke dalam air, diambil
dengan menggunakan kaca obyek yang sebelumnya telah dilapisi putih
telur sebagai perekat jaringan. Agar jaringan dapat diambil/terekat pada
kaca obyek.
10) Setelah jaringan merekat pada objek glass maka lapisan parafin yang
masih melekat dihilangkan dengan memanaskan di atas lampu spirtus
kemudian didinginkan.
11) Setelah dingin, jaringan yang sudah melekat pada objek glass
dimasukkan ke dlam xylol lilin I, II, dan III selama kurang lebih 30
menit lalu dikeringkan.
12) Kemudian dimasukkan ke dalam larutan alkohol 100% I, II, III, dengan
menaik turunkan preparat namun tidak diperbolehkan preparat tersebut
tergesek pada dinding gelas sekitarnya agar preparat tidak rusak.
13) Kemudian dimasukkan ke dalam air, lalu dimasukkan ke dalam larutan
cat hematoksilin selama kira kira 5 menit.
14) Dimasukkan ke dalam air kemudian dicelupkan ke dalam larutan
zoutzure 70% (terdiri atas alkohol 100% sebanyak 76 cc ditambah
aquadest sebanyak 24 cc dengan Hcl 1 cc) yang fungsinya adalah
meratakan dari cairan tersebut.
15) Dimasukkan ke dalam air lagi lalu dikeringkan kemudian dimasukkan
ke dalam alkohol 96% lalu dimasukkan ke dalam alkohol 70%.
16) Setelah itu dimasukkan ke dalam cairan eosin selama 1 menit.
39

17) Masukkan ke dalam alkohol 70% kemudian alkohol 85% kemudian
masukan ke dalam alkohol 96% dan keringkan.
18) Masukkan dalam xylol, kemudian xylol pembersih I, II, dan III kira
kira 1 jam untuk meratakan zat pewarna lalu keringkan.
19) Kemudian ditutup dengan cairan kanada balsem, beri minyak emersi
tutup dengan deck glass dan siap dilihat di bawah mikroskop (Tjarta,
1992).
3.7 Tempat dan waktu
3.7.1 Tempat
Tempat penelitian dan perlakuan pada hewan coba, pembuatan
preparat dan analisa jumlah sebukan sel mononuklear jaringan kanker
payudara bertempat di Laboratorium Patologi Anatomi Fakultas
Kedokteran Universitas Indonesia selama 30 hari. Tempat pembuatan
ekstrak jahe di Fakultas MIPA Universitas Diponegoro.
3.7.2 Waktu
Penelitian ini dilakukan pada bulan September-Oktober 2010.
3.8 Analisa Hasil
Pengumpulan data dilakukan dengan pemeriksaan histopatologi, untuk
mengetahui gambaran histopatologi sebukan sel mononuklear dalam sel kanker
payudara. Data yang diperoleh dilakukan untuk mengetahui pengaruh pemberian
ekstrak jahe (Zingiber officinale rocs.) terhadap sebukan sel mononuklear dalam sel
kanker payudara pada mencit betina strain C3H, maka dilakukan uji anova satu arah
atau One Way Anova, yang terlebih dahulu dilakukan uji normalitas data dengan
40

shapiro-wilk dan uji homogenitas dengan levene statistic. Bila syarat uji anova
terpenuhi yaitu data berdistribusi normal dan homogen, maka dapat dilakukan uji
Anova. Jika hasil dari uji Anova terjadi perbedaan bermakna yaitu < 0,05
dilanjutkan dengan uji Post Hoc dengan menggunakan uji Bonferroni.
Jika syarat uji Anova tidak terpenuhi, maka dilakukan uji Kruskal-Wallish. Jika
hasil dari uji Kruskal-Wallish terjadi perbedaan bermakna yaitu < 0,05 dilanjutkan
dengan uji Mann-Whitney U (Dahlan, 2004).
















41

20 mencit




3.6. Alur Penelitian




















selama 30 hari selama 30 hari selama 30 hari selama 30 hari




Kelompok II
5 ekor mencit
Minum
aquades
+
pakan
standar
+
inokulasi
bubur tumor
(ditunggu 1
minggu)







99
Pemeriksaan mikroskopis sebukan sel mononuklear
sel kanker payudara mencit pada hari 31
Minum
aquades
+
pakan
standar
+
inokulasi
bubur tumor
(ditunggu 1
minggu)
+
ekstrak jahe
dosis 1

Kelompok IV
5 ekor mencit

Kelompok V
5 ekor mencit

Minum
aquades
+
pakan
standar
+
inokulasi
bubur tumor
(ditunggu 1
minggu)
+
ekstrak jahe
dosis 2

Pembuatan preparat histologi
Kelompok III
5 ekor mencit

Minum
aquades
+
pakan
standar
+
inokulasi
bubur tumor
(ditunggu 1
minggu)
+
ekstrak jahe
dosis 3