Anda di halaman 1dari 8

Glauber's salt

Glauber's salt, common name for sodium sulfate decahydrate, Na2


SO410H2O; it occurs as whiteor colorless monoclinic crystals. Upo
n exposure to fairly dry air it effloresces, forming powderyanhydro
us sodium sulfate. Johann Glauber was the first to produce the sal
t (from Hungarianspring waters). The naturally occurring salt is c
alled mirabilite. Glauber's salt is water soluble,has a salty, bitter ta
ste, and is sometimes used in medicine as a mild laxative; it is also
used indyeing. http://www.questia.com/read/1E1-Glaubers/glauber-s-salt

PEMBUATAN GARAM MOHR
http://anorganik1.blogspot.com/2013/11/pembuatan-garam-mohr.html
I. PENDAHULUAN

A. TUJUAN
Membuat garam mohr atau besi (II) ammonium sulfat (NH
4
)
2
Fe(SO
4
)
2
.6H
2
O serta menentukan
banyaknya kemurnian kristal dalam garam mohr hasil percobaan

B. DASAR TEORI
Senyawa ferro yang paling penting adalah garam besi (II) sulfat, lazim disebut garam ferro sulfat
bentuk yang umum dari garam ini adalah vitriol hijau, FeSO
4
.7H
2
O yang mengkristal dalam bentuk
monoklin. Garam ini isomorf dengan garam Epson atau garam inggris MgSO
4
.7H
2
O. Garam besi (II) sulfat
ini dapat diperoleh dengan cara melarutkan serbuk besi atau besi (II) sulfida dalam asam sulfat encer.
Setelah larutan disaring dan diuapkan maka akan mengkristal FeSO
4
.7H
2
O yang berwarna hijau. Dalam
skala besar garam ini dibuat dengan cara mengoksidasi perlahan garam FeS
2
oleh udara yang
mengandung air. Garam besi (II) sulfat dan garam sulfat yang berasal dari logam alkali, dapat bergabung
membentuk garam rangkap. Contoh senyawanya adalah (NH
4
)
2
Fe(SO
4
)
2
.6H
2
O senyawa ini disebut
dengan garam mohr.

C. TINJAUAN PUSTAKA
Besi adalah logam yang kedua melimpah sesudah Al, dan unsur keempat yang paling melimpah
dalam kulit bumi. Teras bumi yang dianggap utama terdiri atas Fe dan Ni. Bijih yang utama
adalah hematite Fe
2
O
3,
magnetite Fe
3
O
4
,limonite Fe(OH), dan siderite FeCO
3.
Besi murni cukup reaktif
dalam udara lembab cepat teroksidasi memberikan besi (III) oksida hidrat (karat) yang tidak sanggup
melindungi, karena zat ini hancur dan membiarkan permukaan logam yang baru terbuka. Besi yang
sangat halus bersifat pirofor.
Penambahan OH
-
kepada larutan Fe
2+
menghasilkan hidroksida hijau pucat, yang mudah
teroksidasi oleh udara memberikan ferrioksida hidrat yang coklat merah. Fe(OH)
2
suatu hidroksida sejati
dengan struktur Mg(OH)
2
agak bersifat amfoter. Seperti Fe, zat ini larut dalam NaOH pekat, dari larutan
ini dapat diperoleh kristal-kristal biru Na
4
[Fe
2
(OH)
6
].
Unsur besi (Fe) dalam sistem periodik unsur (SPU) termasuk kedalam golongan VIII. Besi dapat
dibuat dari biji besi dalam tungku pemanas. Biji besi biasanya mengandung Fe
2
O
3
yang dikotori oleh
pasir (SiO
2
) sekitar 10% serta sedikit senyawa sulfur, fosfor, aluminium dan mangan. Besi dapat pula
dimagnetkan.
Endapan pasir besi, dapat memiliki mineral-mineral magnetik seperti magnetik (Fe
3
O
4
), hemafit
(-Fe
2
O
3
) dan maghemit (-Fe
2
O
3
). Mineral mineral tersebut mempunyai potensi untuk dikembangkan
sebagai bahan dasar untuk tinta kering (toner) pada mesin photo-copy dan printer laser, sementara
maghemit adalah bahan untuk pita kaset.
Ion besi (II) dapat mudah dioksidasikan menjadi Fe (III), ini merupakan zat pereduksi yang kuat.
Semakin kurang asam larutan itu, semakin nyatalah efek ini, dalam suasana netral atau basa bahkan
oksigen dari atmosfer akan mengoksidasikan ion besi (II). Garam-garam besi (III) atau feri diturunkan
dari oksida besi (III), Fe
2
O
3
. Mereka lebih stabil daripada garam besi (II). Dalam larutannya, terdapat
kation-kation Fe
3+
yang berwarna kuning muda, jika larutan mengandung klorida, warna menjadi
semakin kuat. Zat-zat pereduksi mengubah ion besi (III) menjadi besi (II). Ion ferro
[Fe(H
2
O)
6
]
2+
memberikan garam berkristal.
Garam yang mengandung ion ferri akuo, [Fe(H
2
O)
6
]
3+
seperti Fe(ClO
4
)
3
.
10
H
2
O adalah merah
jambu pucat hamper putih, dan ion akuonya adalah merah lembayung pucat. Kecuali bila larutan
Fe
3+
cukup kuat keasamannya, terjadi hidrolisis dan umumnya larutan menjadi kuning karena
pembentukan spesies hidrokso yang mempunyai pita perpindahan muatan dalam daerah ultraviolet dan
berakhir ke daerah tampak.
Garam-garam unsur triad besi biasanya terkristal dari larutan sebagai hidrat, jika diletakkan
pada uap lembab atmosfer, tergantung pada tekanan parsial H
2
O. hidrat dapat terjadi dalam warna
warna yang berbeda. Pada udara kering, air hidrat lepas dan padatan berangsur angsur berubah
menjadi merah muda. Senyawa besi (II) menghasilkan endapan biru turbull, jika direaksikan dengan
heksasioferrat (III).
Besi membentuk dua deret garam yang penting. Garam garam besi (II) atau ferri diturunkan
dari besi (II) oksida, FeO. Dalam larutan garam-garam ini mengandung kation Fe
2+
dan berwarna sedikit
hijau. Ion ion gabungan dan kompleks kompleks yang berwarna tua adalah juga umum. Ion besi (II)
dapat mudah dioksidasi menjadi besi (III) maka merupakan pereduksi yang kuat, semakin kurang asam
larutan itu, semakin nyatalah efek ini. Dalam suasana netral atau basa bahkan oksigen dari atmosfer
akan mengoksidasi ion besi (II). Maka larutan besi (II) harus sedikit asam bila ingin disimpan untuk waktu
yang agak lama.
Apabila jumlah mol besi (II) sulfat dan ammonium sulfat sama, dan masing masing garam
tesebut dilarutkan sampai jenuh dengan air panas, sedangkan kedalam larutan besi (II) sulfat
ditambahkan sedikit asam sulfat akhirnya kedua larutan tersebut dicampurkan satu sama lain maka
proses pendinginannya akan terbentuk kristal monoklin yang berwarna hijau kebiru-biruan, garam ini
adalah garam besi (II) ammonium sulfat dengan rumus: (NH
4
)
2
Fe(SO
4
)
2
.6H
2
O. Senyawa ini lazim disebut
dengan garam mohr. Jika dibandingkan dengan garam besi (II) sulfat atau besi (II) klorida, maka kristal
garam Mohr lebih stabil diudara dan larutannya tak mudah dioksidasi oleh oksigen di atmosfer. Garam
mohr banyak digunakan dalam bidang kimia analitik, yaitu dalam analisis volumetri, untuk membakukan
larutan kalium permanganat atau kalium bikromat.
Garam Mohr cukup stabil terhadap udara dan terhadap hilangnya air dan umumnya dibuat
untuk membuat larutan baku Fe
2+

bagi analisis volumetrik dan sebagai zat pengkalibrasi dalam
pengukuran magnetik. Sebagian FeSO
4
.7H
2
O secara lambat melapuk dan beruabah menjadi kuning
coklat bila dibiarkan dalam udara. Penambahan HCO
3
- atau SH
-
kepada larutan aqua Fe
2+
berturut-turut
mengendapkan FeCO
3
dan FeS. Ion Fe
2+
teroksidasi dalam larutan asam oleh udara menjadi Fe
3+
. Dengan
ligan ligan selain air yang ada, perubahan yang nyata dalam potensial bisa terjadi.
Garam mohr mempunyai banyak fungsi, tetapi garam mohr biasanya digunakan untuk :
Untuk membuat larutan baku Fe
2+
bagi analisis volumetrik, sebagai zat pengkalibrasi dalam pengukuran
magnetik, Untuk meramalkan urutan daya mengoksidasi oksidator K
2
Cr
2
O
7
, KMnO
4
dan KBrO
3
(dengan
konsentrasi yang sama ~ 0,1 N) terhadap ion Fe
2+


II. METODE PENELITIAN
A. Alat
1. Gelas ukur
2. Gelas Piala
3. Neraca Analitik

B. Bahan
1. Serbuk besi atau paku
2. Asam sulfat 10%
3. Ammonia pekat
4. Aquades

C. Cara Kerja
Larutan A
1. Dilarutkan 3,5 gram serbuk besi ke dalam 50 ml asam sulfat 10%
2. Dipanaskan sampai hampir semua serbuk besi larut,di saring larutan ketika masih panas
3. Ditambahkan sedikit asam sulfat pekat pada filtrat kemudian di uapkan larutan hingga membentuk
kristal di permukaan larutan
Larutan B
1. Dinetralkan 50 ml H2SO4 10% dengah ammonia pekat
2. Diuapkan larutan (NH4)2SO4 hingga jenuh
Larutan A dan B
1. Dicampurkan larutan A dan larutan B,kemudian didinginkan hingga terbentuk kristal berwarna hijau
muda (dalam es batu)
2. Dilarutkan kembali dengan dalam sedikit air panas untuk mendapatkan garam mohr yang murni
3. Dibiarkan mengkristal lagi,kemudian di timbang garam mohr yang di dapat
4. Ditentukan tingkat kemurniaan kristal dengan menggunakan kadar Fe dalam larutan mohr.

III. HASIL PENGAMATAN dan PERHITUNGAN
A. Hasil Pengamatan
Larutan A

Perlakuan Hasil Pengamatan
Dilarutkan 3,5 gr besi dalam 100 ml H
2
SO
4
10%
dipanaskan
larut
Disaring larutan ketika masih panas Warna hijau muda
Ditambahkan asam sulfat pada filtrat Terjadi pembentukan gas

Larutan B
Pelakuan Hasil pengamatan
Dinetralkan 50 ml H
2
SO
4
10% dengan amoniak
diuapkan larutan
Larutan bening dan pH=7

Larutan A dan B
Perlakuan Hasil pengamatan
Larutan A dan B dicampurkan
ketika masih panas
Warna hijau tua menjadi warna biru muda/biru laut
Kristal yang terbentuk 3131,7 mg

B. Perhitungan
Massa hasil penyaringan = 38,66 gram
Massa garam mohr = 3131,7 miligram = 3,1317 gram
Massa besi (Fe) = 3,5 gram
BM besi (Fe) = 55,85 gram
BM garam mohr = 392 gram/mol

Mol Fe= mol garam mohr = massa Fe/BM Fe = 0,062 mol
Massa garam mohr (teori) = mol garam mohr x BM garam mohr = 24,304gram
Kemurnian Kristal garam mohr =


= = 87,11%

IV. PEMBAHASAN dan KESIMPULAN
PEMBAHASAN
Pada percobaan ini dilakukan pembuatan garam mohr yang berasal dari pencampuran serbuk besi,
asam sulfat dan juga amoniak. Pertama-tama dibuat larutan A dengan cara menimbang serbuk besi
seberat 3,5 gram, penggunaan serbuk besi dalam percobaan ini untuk mempercepat reaksi karena luas
permukaan suatu zat berpengaruh terhadap laju reaksinya.
Setelah ditimbang serbuk besi dilarutkan dengan asam sulfat 10% 50ml dalam keadaan dipanaskan.
Pemanasan dilakukan untuk mempercepat proses reaksi. Campuran dipanaskan hingga beberapa menit
setalah itu campuran besi dan asam sulfat disaring menggunakan kertas saring dan didapatkan larutan
berwarna biru kehijauan. Larutan ditambahkan dengan beberapa tetes asam sulfat tujuannya agar
larutan bersifat agak sedikit asam, karena dalam suasana netral atau basa, ion Fe2+ sangat mudah
dioksidasi oleh oksigen dari udara menjadi ion Fe3+ yang mana akan mengganggu proses reaksi.
Kemudian larutan diuapkan agar molekul-molekul air yang ada didalam larutan berkurang. Warna biru
kehijaun dalam larutan menunjukan bahwa terdapat ion Fe2+ didalam larutan yang ditandai dengan
persamaan reaksi sebagai berikut :

Fe(s) + H2SO4(aq) FeSO4(aq) + H2(g)

Kemudian dibuat larutan B dengan menetralkan 50ml asam sulfat 10% ditambahkan dengan
amoniak pekat sebanyak 95 ml hingga pH menjadi 7 atau dalam keadaan netral. Setelah itu larutan
dipanaskan hingga jenuh sampai volume larutan mencapai sekitar 20ml, dengan tujuan untuk
menguapkan amoniak yang mungkin tidak bereaksi dengan asam sulfat. Maka dapat dituliskan persaam
reaksinya sebagai berikut :

2NH3(aq) + H2SO4(aq) (NH4)2SO4(aq)

Setelah larutan A dan B dibuat maka langkah selanjutnya kedua larutan tersebut dicampurkan lalu
diaduk dan terbentuk larutan berwarna hijau muda. Larutan ini kemudian didinginkan dengan batu es
sampai terbentuk Kristal garam mohr yang berupa Kristal monoklin yang berwarna hijau muda hal ini
disebabkan karena adanya reaksi Fe dengan (NH4)2SO4 yang membentuk senyawa kompleks, dengan
persamaan reaksinya sebagai berikut

FeSO4 + (NH4)2SO4 + 6H2O (NH4)2Fe(SO4)2.6H2O

Selanjutnya setelah larutan mengkristal dilarutkan kembali dengan air panas sebanyak 2,5 ml untuk
mendapatkan hasil garam mohr yang murni setelah itu didiamkan kembali hingga mengkristal jika sudah
mengkristal kembali tunggu hingga kering barulah dapat ditimbang berat dari garam mohr tersebut.
Dari hasil percobaan didapatkan massa garam mohr hasil penyaringan sebesar 3,1317 gram dan
didapatkan kemurnian garam mohr yang dihasilkan dari percobaan ini sebesar 87,11%. Dengan
Kemurnian sebesar ini menandakan praktikan berhasil membuat garam mohr.

KESIMPULAN
1. Garam mohr dapat dibuat dengan mencampurkan air, ammoniak, asam sulfat dan serbuk besi
2. Kemurnian Kristal garam mohr sebesar 87,11%


V. DAFTAR PUSTAKA
- Chalid, Sri Yadial. 2011. Penuntun Praktikum Kimia Anorganik. Jakarta : UIN Syarif Hidayatullah.
- Cotton and Wikinson. 1989. Kimia Anorganik Dasar. Jakarta : UI- Press.
- Harjadi, W. 1989. Ilmu kimia Analitik Dasar. Jakarta : Erlangga
- http://id.scribd.com/doc/68977520/PEMBUATAN-GARAM-MOHR

Ferrous ammonium sulfate, Mohrs salt, FeSO (NH ) SO 6H O90.5N: 196 g per liter.
LANGE'S HANDBOOK OF CHEMISTRY John A. Dean Fifteenth Edition McGRAW-HILL
1999.

ferrous ammonium sulfate [INORG CHEM] Fe(SO4)_(NH)2SO4_6H2O Light-green,
watersoluble, crystals; used in medicine, analytical chemistry, and metallurgy. Also
known as iron ammonium sulfate; Mohrs salt.
McGraw-Hill. Dictionary of Chemistry Second Edition McGraw-Hill 2003

Chemistry of Elements Second Edition. N.N. Greenwood and A. Earnshaw. Butterworth-Heiman,
MA 1997