Anda di halaman 1dari 6

Sebuah Mimpi Mulia: Jaminan Kesehatan Semesta (Universal Health Coverage)

Oleh, Khansa Asikasari (1306375241)



Kesehatan adalah hak dasar setiap orang. Oleh karena itu, kesehatan harus mudah diakses
oleh siapa saja tanpa pandang bulu. Adalah mimpi setiap orang untuk mendapatkan pelayanan
kesehatan yang layak ketika mereka sakit, tidak peduli apakah mereka mampu membayar atau
tidak sebagai wujud dari equity egalitarian yang berarti you get what you need (Anda
mendapatkan apa yang Anda butuhkan), dan merupakan kebalikan dari equity libertarian yang
berarti you get what you pay (Anda mendapatkan apa yang Anda bayar). Sakit adalah suatu
kejadian yang tidak pasti kapan datangnya (uncertainty of lose), dapat menyerang siapa saja dan
kapan saja. Sakit dapat membuat seseorang kehilangan produktivitas, di sisi lain sakit pun
berisiko untuk menguras sektor finansial orang tersebut. Maka, perlu adanya sebuah jaminan
kesehatan untuk mencegah pemiskinan akibat sakit atau menjadi lebih miskin lagi ketika sakit
(poverty trap). Oleh karena itu, perlu adanya sebuah jaminan kesehatan yang mencakup seluruh
penduduk tidak peduli kaya atau miskin (universal health coverage), sebuah jaminan kesehatan
yang cakupannya universal yang memiliki dua substansi penting yaitu: (1) Akses pelayanan
kesehatan yang adil dan bermutu bagi setiap warga; dan (2) Perlindungan risiko finansial ketika
warga menggunakan pelayanan kesehatan (WHO, 2005).
Jaminan Kesehatan Semesta (Universal Health Coverage) adalah isu penting bagi negara
maju dan berkembang. Menyadari urgensi hal tersebut, maka pada tahun 2005 negara-negara
anggota WHO menyetujui sebuah resolusi agar negara mengembangkan sistem pembiayaan
kesehatan dengan tujuan untuk menyediakan Jaminan Kesehatan Semesta (Universal Health
Coverage). Ketentuan ini penting untuk memastikan akses yang adil untuk semua warga negara,
untuk tindakan preventif yang penting dan tepat, promotif, kuratif, dan rehabilitatif pelayanan
kesehatan dengan biaya yang terjangkau (affordable cost). Selain perlindungan dari risiko
finansial (financial risk), cakupan Jaminan Kesehatan Semesta (Universal Health Coverage)
mencakup tiga dimensi yang bersifat komplementer antara satu dengan yang lainnya yakni,
sejauh mana cakupan populasi (breadth), sejauh mana cakupan pelayanan kesehatan (depth), dan
tingkat cakupan keuangan dari paket bantuan seperti co-payment dan deductible (height). Hal-hal
terkait optimalisasi penerapan Jaminan Kesehatan Semesta(Universal Health Coverage) seperti
benefit package, premi, remunerasi fasilitas kesehatan, kesiapan fasilitas kesehatan dan yang
lainnya termaktub dalam tiga dimensi tersebut.
Gambar 1 menunjukkan peta status cakupan universal pelayanan kesehatan negara-
negara di seluruh dunia. Duapuluhdua dari 23 negara maju memiliki sistem pembiayaan
pelayanan kesehatan untuk cakupan universal.









Pada awalnya, satu-satunya negara maju yang tidak memiliki pelayanan kesehatan
universal adalah AS. Tetapi pada 21 Maret 2010 House of Representatives (Dewan Perwakilan
Rakyat) AS mengesahkan RUU Reformasi Kesehatan yang diusulkan Barack Obama dan Partai
Demokrat. Dengan undang-undang itu Amerika Serikat akan mengimplementasikan pelayanan
kesehatan universal mulai 2014 dengan menggunakan sistem mandat asuransi.
Mexico, Afrika Selatan, Thailand, dan Indonesia, merupakan beberapa di antara negara
yang sedang mencoba mengimplementasikan pelayanan kesehatan universal (Sreshthaputra dan
Indaratna, 2001; Prakongsai et al., 2009). Indonesia merupakan salah satu negara yang sedang
dalam masa transisi menuju sistem pelayanan kesehatan universal. Undang-Undang Sistem
Jaminan Sosial Nasional (SJSN) No.4/2004 mewajibkan setiap warga di Indonesia memiliki
Gambar 1 Peta status cakupan pelayanan kesehatan universal
di negara-negara seluruh dunia (Sumber: Truecostblog, 2009)
Negara tanpa pelayanan
kesehatan universal
Negara dengan pelayanan
kesehatan universal
Negara sedang mencoba
mengimpelmentasikan
pelayanan kesehatan
universal
akses pelayanan kesehatan komprehensif yang dibutuhkan melalui sistem pra-upaya (pre-paid
system).
Implementasi sistem pelayanan kesehatan universal bervariasi di berbagai negara,
tergantung pada sejauh mana keterlibatan pemerintah dalam menyediakan pelayanan kesehatan
dan asuransi kesehatan. Dengan pengecualian Amerika Serikat, di banyak negara maju atau
kaya, misalnya Inggris, Spanyol, Italia, negara-negara Nordik/Skandinavia, Kanada, Jepang,
Kuwait, Bahrain, dan Brunei, pemerintah memiliki keterlibatan tinggi dalam menyediakan
pelayanan kesehatan. Akses pelayanan kesehatan berdasarkan hak warga, bukan berdasarkan
pembelian asuransi. Pemerintah membiayai pelayanan kesehatan dengan menggunakan dana
anggaran pemerintah yang berasal dari pajak umum (general tax).
Sejumlah negara lainnya seperti Jerman, Belanda, dan Perancis, menerapkan sistem
penyediaan pelayanan kesehatan yang lebih pluralistik, berdasarkan asuransi sosial wajib
ataupun asuransi swasta. Tingkat kontribusi asuransi wajib biasanya ditentukan berdasarkan gaji
dan pendapatan, dan biasanya didanai oleh perusahaan maupun pekerja penerima manfaat
asuransi. Tidak jarang dana kesehatan merupakan komposisi antara premi asuransi, kontribusi
wajib perusahaan dan pekerja, dan pajak pemerintah. Sistem asuransi ini membayar penyedia
pelayanan kesehatan swasta atau pemerintah dengan regulasi tingkat pembayaran. Di Jerman,
premi asuransi kesehatan wajib dikelola oleh perusahaan asuransi yang dimiliki bersama oleh
masyarakat. Di sejumlah negara seperti Belanda dan Swiss, pelayanan kesehatan dibiayai
melalui asuransi swasta. Tetapi perusahaan asuransi swasta sangat diregulasi dan tidak
diperbolehkan mengambil untung dari elemen asuransi wajib, meskipun boleh mengambil
untung dari penjualan asuransi tambahan.
Jaminan Kesehatan Semesta (Universal Health Coverage) adalah sebuah keputusan
politik pemerintah melalui Undang-Undang mengenai Badan Penyelenggara Jaminan Sosial
(BPJS) dengan target pada tahun 2014 sebagai awalan, hingga final cakupannya berada pada
tahun 2019. Selain dirumuskannya suatu peta jalan (roadmap) terhadap tata laksana Jaminan
Kesehatan Nasional, ditetapkan pula delapan sasaran pokok yang hendak dicapai pada tahun
2014 dan delapan sasaran pokok yang akan dicapai pada tahun 2014. Total 18 sasaran ini cukup
komprehensif dan esensial untuk menjadi tolak ukur pelaksanaan peta jalan (roadmap)
beroperasinya BPJS Kesehatan pada tanggal 1 Januari 2014 dan tercapainya INA-Mediacare
untuk seluruh penduduk Indonesia pada tahun 2019.
No. 8 Sasaran Pokok pada Tahun 2014 8 Sasaran Pokok pada Tahun 2019
1. Tersusunnya seluruh peraturan yang
diperlukan.
BPJS Kesejatan telah mendapat
kepercayaan publik.
2. Beroperasinya BPJS Kesehatan sesuai
dengan UU No. 24 Tahun 2011.
Seluruh penduduk (diperkirakan 257,5 juta
jiwa) telah terjamin.
3. Paling sedikit 121,6 juta penduduk
dijamin melalui BPJS Kesehatan.
Paket manfaat medis dan non-medis sudah
sama untuk seluruh peserta.
4. Manfaat medis Jaminan Kesehatan
Nasional yang dikelola oleh BPJS
Kesehatan sama untuk seluruh pengamat
sedangkan untuk manfaat non-medis
masih terdapat perbedaan.
Fasilitas kesehatan telah tersebar memadai.
5. Disusunnya rancangan aksi
pengembangan fasilitas kesehatan dan
impelementasinya secara bertahap.
Peraturan perundangan disesuaikan untuk
memenuhi kebutuhan waktu itu.
6. Paling sedikit 75% peserta puas dengan
layanan BPJS Kesehatan.
Paling sedikit 85% peserta puas dengan
pelayanan yang diterima dari BPJS
Kesehatan.
7. Paling sedikit 75% fasilitas kesehatan
puas dengan layanan BPJS Kesehatan.
Paling sedikit 80% fasilitas kesehatan puas
dengan pelayanan yang di terima dari BPJS
Kesehatan;
8. Pengelolaan BPJS Kesehatan terlaksana
secara transparan, efisien dan akuntabel.
Pengelolaan keuangan BPJS Kesehatan
sudah mencapai tingkat transparansi,
efisiensi, dan akuntabilitas optimal.
Tabel 1. Sasaran 8-8
(Sumber: Peta Jalan Menuju Jaminan Kesehatan Nasional 2012-2019, 2012)
Salah satu sasaran yang menjadi fokus utama pada tahun 2014, adalah sasaran poin ketiga
yakni, mengenai cakupan kepesertaan. Target kepesertaan pada tahun 2014, seperti dipaparkan
pada tabel di atas, mencakup paling sediki 121,6 juta jiwa. Seperti di lansir pada media online
Kompas pada 5 Februari 2014 lalu, Menteri Kesehatan, Nafsiah Mboi, mengatakan bahwa
jumlah peserta Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) sudah mencapai 119 juta jiwa dari target
awal 121,6 juta jiwa. Di mana dalam komposisi 119 juta jiwa tersebut, 86,4 juta jiwa merupakan
Penerima Bantuan Iuran (PBI).
Meninjau dari jumlah tersebut, kepesertaan yang bersifat wajib dan pengalihan peserta
berpotensi menimbulkan ledakan peserta pada waktu mendatang. Terdapat lima faktor utama
yang mempengaruhi, yaitu pertama, transformasi merubah kepesertaan secara signifikan di tahun
pertama. Ditargetkan, dari kepesertaan 16.386.274 jiwa (data dalam master file PT Askes per 31
Desember 2012), menjadi121,6 juta jiwa peserta dijamin BPJS pada tahun 2014. Kedua,
Undang-Undang memerintahkan kepada para pihak untuk mendaftar secara aktif ke BPJS
(stelsel aktif kepesertaan). Ada tiga aturan yang mendasari, yang pada pokoknya berisi tentang:
a.) Kewajiban pemberi kerja untuk mendaftarkan pekerjanya (pasal 13 ayat (1) UU SJSN), b.)
Kewajiban Pemerintah untuk mendaftarkan orang miskin sekaligus memberi bantuan iuran
(pasal 18 ayat (1) UU BPJS), c.) Setiap orang, (yang belum didaftarkan oleh pemerintah maupun
pemberi kerja), wajib mendaftarkan dirinya dan anggota keluarganya ke BPJS (Pasal 16 ayat (1)
UU BPJS). Ketiga, Putusan MK Perkara Nomor 70/PUU-IX/2011 yang menegaskan bahwa
pekerja berhak untuk mendaftarkan diri sebagai peserta program jaminan sosial atas tanggungan
pemberi kerja apabila pemberi kerja telah nyata-nyata tidak mendaftarkan pekerjanya pada BPJS.
Keempat, ancaman pidana maksimal bagi pemberi kerja. Dalam UU BPJS diatur bahwa, pemberi
kerja diancam dengan sanksi pidana maksimal. Tidak main-main, pemberi kerja yang lalai
dalam memungut, membayar dan menyetor iuran yang menjadi tanggungannya diancam pidana
penjara paling lama 8 (delapan) tahun atau pidana denda paling banyak 1 (satu) miliar rupiah.
(Pasal 55 UU BPJS). Kelima, kesadaran masyarakat akan pentingnya jaminan kesehatan semakin
tinggi. Kita sudah sering mendengar istilah sadikin (sakit sedikit jatuh miskin). Hal ini
menujukkan, masyarakat sudah semakin paham bahwa kesehatan itu mahal. Sehingga, bukan
tidak mungkin, masyarakat akan berbondong-bondong mendaftarkan diri menjadi peserta begitu
mengetahui kesehatannya dijamin dan berdasar Undang-Undang, dapat mendaftar sendiri secara
aktif.
Namun, penulis yakin, sejalan dengan mimpi mulia untuk mewujudkan sebuah Jaminan
Kesehatan Semesta (Universal Health Coverage) melalui Jaminan Kesehatan Nasional (JKN),
pemerintah tidak akan merasa keberatan untuk menjadikan probabilitas ledakan kepesertaan
tersebut sebagai suatu hal yang akan menjadi batu sandungan, melainkan dianggap sebagai batu
loncatan pemenuhan mimpi mulia; perlindungan yang menyeluruh. Konsep Jaminan Kesehatan
Nasional (JKN) sudah disusun dengan baik menuju sebuah sistem yang efisien, merata, dan
berkeadilan, potensi moral hazard dan fraud pun siap ditangkal oleh Jaminan Kesehatan
Nasional (JKN). Jaminan Kesehatan Semesta (Universal Health Coverage) jika diibaratkan
sudah memiliki kendaraan yang baik untuk mencapai tujuan utama, sebuah kendaraan bernama
Jaminan Kesehatan Nasional (JKN), tinggal bagaimana kinerja pengendara (pimpinan dan
pegawai BPJS), bahan bakar (kecukupan dan kualitas sumber daya serta kepatuhan fasilitas
kesehatan), dan penumpang (peserta) dapat saling bersinergi untuk mengoptimalkan kendaraan
Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) ini untuk mencapai sebuah mimpi mulia; Jaminan Kesehatan
Semesta (Universal Health Coverage).

Referensi:
Tim Penyusun: Kementrian dan Institusi terkait Jaminan Kesehatan Nasional. (2012). Peta Jalan
Menuju Jaminan Kesehatan Nasional 2012-2019. Dewan Jaminan Sosial Nasional:
Jakarta.
Truecostblog (2009). List of countries with universal healthcare. http://truecostblog.
com/2009/08/09/countries-with-universal-healthcare-by-date/ (Diakses 7 November
2010).
WHO (2005). Achieving universal health coverage: Developing the health financing system.
Technical brief for policy-makers. Number 1, 2005. World Health Organization,
Department of Health Systems Financing, Health Financing Policy.
Undang-Undang RI Nomor 40 Tahun 2004 Tentang Sistem Jaminan Sosial Nasional pada
Kumpulan Peraturan Jaminan Kesehatan.
Undang-Undang RI Nomor 24 Tahun 2011 Tentang Badan Penyelenggara Jaminan Sosial pada
Kumpulan Peraturan Jaminan Kesehatan.
Peraturan Presiden RI Nomor 12 Tahun 2003 Tentang Jaminan Kesehatan pada Kumulan
Peraturan Jaminan Kesehatan.