Anda di halaman 1dari 22

BAB II

KAJIAN PUSTAKA DAN HIPOTESIS TINDAKAN


A. Kajian Pustaka
1. Tujuan Pembelajaran Apresiasi Sastra
Pembelajaran apresiasi merupakan bagian integral dari
pembelajaran komponen pemahaman bahasa. Artinya, pembelajaran sastra
terpusat pada pemahaman,penghayatan, dan penikmatan atas karya sastra.
Prinsip- prinsip pembelajaran apresiasi sastra yang perlu diperhatikan
sebagai berikut :
a. Pembelajaran sastra dapat meningkatkan kepekaan rasa terhadap
budaya bangsa, khususnya bidang kesenian.
b. Pembelajaran sastra memberikan kepuasan batin dan
keterampilan pengajaran karya estetis melalui bahasa.
c. Pembelajaran sastra bukan merupakan pengajaran sejarah sastra,
aliran, dan teori tentang sastra.
d. Pembelajaran sastra merupakan pembelajaran untuk memahami
nilai kemanusiaan dari karya-karya sastra ( Ambang, 1999:2 !.
2. Hakikat Kemampuan Menapresiasi Cerita wayang
"emampuan adalah kesiapan mental dan intelektual baik ber#ujud
kematangan sikap dan pengetahuan maupun keterampilan yang digunakan
untuk menemukan kebutuhan belajar ( $anu#ijaya , 199% : !. Apresiasi
adalah kegiatan menggauli karya sastra secara sungguh sungguh sehingga
1&
menumbuhkan pengertian, penghargaan, kepekaan pikiran kritis dan
kepekaan perasaan yang baik terhadap karya sastra (Aminuddin, 19' :
()!.
"emampuan mengapresiasi adalah kesiapan mental dan intelektual
baik ber#ujud kematangan sikap dan pengetahuan maupun keterampilan
yang digunakan untuk menghargai , memahami dan menghayati karya
sastra.
Cerita wayang adalah suatu cerita yang selesai dibaca dalam
#aktu 1& sampai 2& menit. *ika ceritanya lebih panjang,mungkin sampai
+ atau 2 jam. ,umber cerita #ayang dari kehidupan manusia sehari-hari,
tetapi tidak melukiskan seluruh kehidupan pelakunya. -leh karena yang
dipilih bagian-bagian yang penting saja, maka ceritanya menjadi padat dan
berisi ( ../. ,urana, 192:'2 !.
*adi kemampuan mengapresiasi cerita #ayang adalah kemampuan
untuk menghargai, memahami dan menghayati karya sastra berbentuk
cerita yang didalamnya terjadi pemusatan perhatian pada satu tokoh saja
yang ditempatkan pada situasi sehari-hari tetapi posisiya sangat
menentukan.
3. Hakikat Pema!aman Unsur"unsur Intrinsik Cerita wayang
0akikat setiap karya sastra mengandung unsur intrinsik dan
ekstrinsik. 1ang dimaksud dengan unsur intrinsik adalah hal-hal atau unsur
yang membangun karya sastra dari dalam . ,edangkan unsur ekstrinsik
11
mencakup 2aktor sosial, ideologi, politik , ekonomi, kebudayaan, dan lain-
lain. 3erikut ini, dikemukakan beberapa pendapat pakar yang
nengemukakan tentang unsur pembangun karya 2iksi.
4oody ( 19'2:5 ! mengemukakan bah#a unsur intrinsik sebuah
cerita 2iksi mencakup : setting, characters, narrative,narrative technique,
language, dan ritme. 6. 4. .orster ( 19'&:') ! menyebutkan adanya
tujuh unsur yang membangunnya : cerita, orang, alur, 2antasi dan nubuat,
pola dan ritme. Anton 3akker ( 19'9:1' ! berpendapat syarat-syarat
pembangun unsur 2iksi mencakup : plot, setting, character, action, purpot,
theme, dan language.
,edangkan 7ellek 8 7arren ( 19%%:21% ! berpendapat bah#a
unsur pembangun cerita 2iksi meliputi : plot characteri9ation , dan setting .
4urphy, menyebutkan lain, yakni : plot, setting, ways of setting a story,
characters and personalities, dan language. :an *akob ,umardjo ( 19'9:'
! mengungkapkan unsur pembangun 2iksi yang meliputi: tema, karakter,
plot, point o2 ;ie#, setting, dan suasana.
3anyak teori yang dapat dipertimbangkan untuk dipergunakan
dalam melakukan kajian dan apresiasi sebuah karya 2iksi. :isini penulis
menggunakan teori struktural yang menekankan pada kajian hubungan
antar unsur pembangun karya 2iksi yang bersangkutan.
Adapun kajian struktur 2ormal cerita #ayang dalam kajian
struktural secara ringkas dapat dikemukakan sebagai berikut :
12
1. $ema
2. $okoh dan penokohan
(. Plot
5. ,etting
). ,udut pandang ( point o2 ;ie# !
%. ,tyle ( gaya !
'. Pesan<amanat
,ecara terperinci unsur-unsur tersebut akan dibicarakan satu
persatu dalam uraian berikut :
#. Tema
$ema dalam penulisan sebuah cerita #ayang merupakan
pengeja#antahan dari ide yang ditemukan oleh pengarangnya. $ema
karena itu sering kali di2ormulasikan sebagai ide, gagasan , pandangan
hidup pengarang yang melatarbelakangi penciptaan karya sastra cerita
#ayang (=ainuddin .anani, 2&&1 : 5 !. "arena karya sastra
merupakan re2leksi dari kehidupan masyarakat, maka tema yang
diungkapkan di dalamnya bisa sangat beragam . ,eberagam kejadian
yang terjadi dalam masyarakat itu sendiri. $ema sendiri selanjutnya
dapat berupa persoalan moral, agama, kehidupan sosial
kemasyarakatan, politik, hukum, keluarga, cinta dan masalah
kehidupan yang lain. ,ecara teoritik pengertian tema di2ormulasikan
sebagai makna yang terkandung dalam sebuah cerita.
1(
$. T%k%! &an Pen%k%!an
Peristi#a dalam karya sastra (2iksi! seperti halnya peristi#a
dalam kehidupan sehari-hari, selalu diemban oleh tokoh atau pelaku-
pelaku tertentu. Pelaku yang mengemban peristi#a dalam cerita 2iksi
sehingga peristi#a itu mampu menjalin suatu cerita disebut dengan
tokoh ( Aminuddin, 19':'9 !.
4enurut Abdul ,yukur >brahim ( 19':'' ! dalam sebuah
karya sastra terdapat beberapa nama yang ditampilkan untuk
mendukung cerita tersebut. ?ama-nama itu disebut tokoh dalam karya
sastra. Penampilan nama-nama tersebut tidak sama antara satu dengan
lainnya. Ada yang sengaja ditampilkan dengan jelas sekali , ada juga
yang ditampilkan secara sepintas saja.
4enurut $arigan ( 19)):155 ! mengatakan bah#a tokoh adalah
orang yang sanggup memainkan gerak tertentu, gerak yang terarah
dan #ajar, gerak yang logis.:ick 0artoko ( 192:1)( ! mengatakan
bah#a para pelaku dalam identitas mereka masing-masing disebut
sebagai tokoh.
$okoh-tokoh dalam cerita 2iksi ber2ungsi untuk memainkan
cerita, di samping juga berperan untuk menyampaikan ide, moti2, plot,
tema yang sedang diangkat oleh pengarangnya. ,emakin berkembang
aspek psikologisnya, maka semakin mengukuhkan pentingnya kajian
menarik berkaitan dengan tokoh dan penokohan dalam cerita
2iksi.
15
4enjadi alasan penting akan peranan tokoh-tokoh cerita
sebagai bagian yang ditonjolkan pengarang ( *akob ,umardjo,
19%:%(!. :ari beberapa pendapat mengenai tokoh di atas, dapatlah
ditarik suatu kesimpulan bah#a tokoh merupakan orang atau pelaku
yang sanggup memainkan gerak tertentu, mendukung cerita tertentu
sehingga pelaku-pelaku tersebut mampu mengemban peristi#a dalam
cerita 2iksi dan mampu menjalin suatu cerita.
Adapun klasi2ikasi para tokoh dalam cerita 2iksi dapat
dikatagorikan dalam jenis-jenis sebagai berikut :
a. $okoh utama dan tokoh tambahan
b. $okoh protagonis dan tokoh antagonis
c. $okoh sederhana dan tokoh bulat
d. $okoh statis dan tokoh berkembang
e. $okoh tipikal dan tokoh netral
'. Pl%t ( Alur )erita *
Alur cerita merupakan hal yang tidak bisa dipandang remeh
dalam kajian 2iksi. Penguasaan akan alur menjadi kunci penting
karena hanya melalui alurlah, peristi#a dapat dirunut dan hubungan
antar tokoh dapat ditelusuri lebih intensi2. Alur sendiri secara umum
dipahami sebagai keseluruhan rangkaian peristi#a yang terdapat
dalam cerita (=ainuddin .anani, 2&&1 : 9( !.

1)
Alur berdasarkan urutannya dibagi menjadi dua yaitu :
a. Alur maju
Alur maju adalah alur yang susunannya dimulai dari peristi#a
pertama , peristi#a kedua, ketiga, keempat dan seterusnya sampai
cerita berakhir.
b. Alur mundur
Alur mundur adalah alur yang susunannya dimulai dari peristi#a
berakhir kemudian kembali pada peristi#a-peristi#a kedua, dan
seterusnya sampai kembali lagi pada peristi#a berakhir tadi.
+. Settin ( Pelataran *
,etting adalah latar peristi#a dalam karya 2iksi, baik berupa
tempat, #aktu maupun peristi#a serta memiliki 2ungsi 2isikal dan
2ungsi psikologis ( Aminuddin, 19' : %' !. 4enurut ,udjiono ( 19(:
%' ! setting merupakan cara melukiskan tentang terjadinya peristi#a,
biasanya meliputi ilustrasi tempat, lingkungan, penempatan, #aktu
sebagai latar cerita. ,ecara singkat @ene dan Austin ( 199 : 29& !
mengungkapkan bah#a setting atau latar adalah lingkungan yang
ber2ungsi sebagai penentu pokok.
Ada juga pendapat yang mengungkapkan bah#a setting adalah
segala keterangan yang berhubungan dengan ruang, serta suasana
terjadinya peristi#a dalam cipta sastra umumnya ( >brahim, 19' :
1%2 !.
4enurut 0enry Auntur $arigan ( 19) : 1(% ! setting
merupakan tempat dan ruang dalam suatu cerita.
1%
,etting juga merupakan perlengkapan yang dipakai dalam
suatu aksi yang dapat berupa pemandangan, pegunungan, lautan luas,
tebing, dan sebagainya ( ,oegiarta , 195 : 1(1 !. ,elain itu juga
dijelaskan, bah#a setting merupakan tempat tertentu, daerah tertentu,
orang-orang tertentu dengan #atak-#atak tertentu akibat situasi
lingkungan atau 9amannya, cara hidup tertentu, cara berpikir tertentu
( ,umardjo dan ,aini ( 19% : '% !.
:ari beberapa pendapat diatas, dapatlah disimpulkan bah#a
yang dimaksud dengan setting adalah latar peristi#a yang meliputi
tempat, lingkungan, penempatan dan #aktu.
,. Su&ut Pan&an ( P%int %- .ie/ *
1ang dimaksud dengan sudut pandang ( pont o2 ;ie# ! ialah
sebuah cara cerita yang dikisahkan. >a merupakan cara atau pandangan
yang dipergunakan pengarang sebagai sarana menyajikan tokoh,
tindakan, latar, dan berbagai peristi#a yang membentuk cerita dalam
sebuah karya 2iksi ( Abrams, 191:25 !. ,udut pandang oleh
,te;ik ( 19%': ) ! disamakan dengan apa yang disebutnya dengan
pusat pengisahan ( focus of narration ! .
3urhan ?urgiyantoro ( 199:259 ! membedakan sudut
pengisahan ini ke dalam dua kategori: persona pertama, 2irst-
person, gaya ber-aku, dan persona ketiga, third person, gaya ber-dia .
4acam sudut pandang , selanjutnya dikelompokkan ke dalam dua
kelompok. Pertama , sudut pandang persona ketiga: dia , yakni cara
pengisahan cerita yang mempergunakan sudut pandang persona
1'
ketiga, gaya dia , narrator adalah seseorang yang berada di luar cerita
yang menampilkan tokoh-tokoh cerita dengan menyebut nama, atau
kata gantinya: ia, dia, mereka. ,udut pandang dia, dapat dibedakan
lagi ke dalam dia yang serba tahu, dan dia yang bersi2at terbatas
selaku pengamat saja.
0. St1le ( 2a1a *
Aaya adalah ciri khas pengungkapan seseorang. Bara
bagaimana seorang pengarang memilih tema, persoalan, meninjau
persoalan dan menceritakannya dalam sebuah cerita #ayang , itulah
gaya seorang pengarang (,umardjo dan ,aini , 19% : 92 !.
:ick 0artoko ( 195 : 1&) ! mengatakan bah#a gaya
merupakan segala sesuatu yang memberikan ciri khas kepada sebuah
teks, menjadikan teks itu semacam indi;idu bila dibandingkan dengan
teks-teks lainnya.
Aaya merupakan cara berbahasa agak berbeda dengan yang
biasa dengan maksud untuk mencapai tujuan, baik tujuan estetis
maupun yang lain ( ,oegiarta , 195 : 5' !.
,elain pengertian-pengertian yang telah disampaikan oleh para
ahli di atas, ada sebuah teori lagi pengertian tentang gaya yang
lebihluas, tetapi mudah dipahami, yaitu gaya mengandung pengertian
cara seorang pengarang menyampaikan gagasannya dengan
menggunakan media bahasa yang indah dan harmonis serta mampu
menuansakan makna dan suasana yang dapat menyentuh daya
intelektual dan emosi pembaca (Aminuddin , 19' : '2 !.
1
:ari berbagai pendapat di atas dapat disimpulkan, bah#a yang
dimaksud gaya ( di sini adalah penggunaan gaya bahasa pengarang !
yaitu cara khas pengarang dalam mengungkapkan gagasannya
dalam cerita dengan menggunakan media bahasa yang indah,
harmonis yang dapat menyentuh daya intelektual dan emosi pembaca.
Pada dasarnya gaya bahasa dibagi atas empat bagian yaitu :
a. Aaya bahasa perbandingan
b. Aaya bahasa penegasan
c. Aaya bahasa pertentangan
d. Aaya bahasa sindiran.
Adapun uraian masing-masing pembagian gaya bahasa tersebut adalah
sebagai berikut :
a. 2a1a Ba!asa Perban&inan
1ang termasuk dalam gaya bahasa perbandingan
diantaranya adalah sebagai berikut :
1! 4eta2ora
4eta2ora yaitu gaya bahasa yang memperbandingkan suatu
benda lain secara langsung . 3iasanya disertai kata-kata:
bagaikan, laksana, seperti, dan sebagainya contohnya : Aadis itu
matanya seperti bintang timur, tetapi larinya bagai kilat.
19
2! Personi2ikasi
Personi2ikasi adalah gaya bahasa yang melukiskan benda mati
yang diungkapkan seperti manusia atau benda hidup.
Bontohnya : 4alam itu angin pantai berbisik dan menyapaku
(! 4etonimia
Aaya bahasa ini dipakai dengan menggantikan benda yang
dimaksud dengan sepatah kata, atau sebuah nama yang
berasosiasi dengan benda yang dimaksudkan.
5! Asosiasi
Asosiasi adalah gaya bahasa yang melukiskan terhadap benda
yang telah disebut sehingga menimbulkan asosiasi atau
pengertian yang jelas.
)! 6u2imisme
6u2imisme merupakan gaya bahasa dengan menggantikan kata
yang disebut dengan kata lain yang lebih halus sehingga
terdengar lebih sopan.
b. 2a1a Ba!asa Peneasan
1ang termasuk dalam gaya bahasa penegasan adalah sebagai berikut :
1!. @epetisi
@epetisi adalah penggunaan gaya bahasa dengan menggunakan
dan mengulang kata-kata tertentu beberapa kali.
2&
2!. 0iperbola
0iperbola yaitu gaya bahasa yang dipakai untuk melukiskan
keadaan secara berlebihan.
(!. Pleonasme
4erupakan gaya bahasa yang dipakai untuk memperjelas maksud
dengan menggunakan kata atau keterangan yang ber- ulang.
5!. Citotes
Aaya bahasa ini digunakan untuk melukiskan hal sekecil-
kecilnya atau gaya pengeras untuk merendahkan diri.
Bontohnya : ,ilahkan mampir ke gubugku.
3. 2a1a Ba!asa Pertentanan
1ang termasuk dalam gaya bahasa pertentangan antara lain adalah
sebagai berikut:
1!. Paradoks
Paradoks adalah gayabahasa pertentangan yang rasanya hanya
sekilas saja, jika diteliti ternyata tidak bertentangan, sebab arah
yang dibicarakan berlainan.
2!. Antitesis
Aaya bahasa ini menggunakan kata-kata secara bersama-sama
yang saling bertentangan agar menarik perhatian.
&. 2a1a Ba!asa Sin&iran
1ang termasuk dalam gaya bahasa sindiran antara lain adalah
sebagai berikut :
21
1 !. >roni
>roni adalah gaya bahasa sindiran yang paling halus, kadang
yang disindir ,ampai tidak terasa, caranya dengan meng-
gunakan kata-kata yang mengandung arti kebalikan dari yang
dimaksud.
2!. ,inisme
,inisme adalah gaya bahasa yang agak kasar disbanding ironi.
(!. ,arkasme
,arkasme adalah gaya bahasa sindiran yang paling kejam dan
kasar sehingga sangat menyakitkan hati orang lain.
5!. Alusio
Aaya bahasa ini adalah gaya bahasa sindiran dengan
menggunakan Peribahasa atau ungkapan yang sudah la9im.
4. Pesan atau Amanat
Dnsur terakhir dalam kajian struktural adalah pesan atau amanat
yang dapat digali dari cerita 2iksi. Pesan ini dalam kajiannya dapat
berupa :
a. Pesan moral yang disampaikan
b. Pesan religius
c. ?ilai dan kritik sosial
d. ?ilai pesan lain seperti nilai kekeluargaan, pendidikan, adat dan
sebagainya.
22
4. Pembelajaran Apresiasi Sastra ( cerita wayang * &i Sek%la!
Pembelajaran sastra dimaksudkan untuk meningkatkan kemampuan
sis#a mengapresiasikan karya sastra. "egiatan mengapresiasikan sastra
berkaitan erat dengan pelatihan mempertajam perasaan, penalaran, dan
daya khayal, serta kepekaan terhadap masyarakat, budaya, dan lingkungan
hidup. Dntuk memahami dan menghayati karya sastra , sis#a diharapkan
langsung membaca karya sastra bukan membaca ringkasannya
( :epdikbud, 199):% !.
:ari maksud tujuan pembelajaran sastra di ,C$P tersebut,
diketahui bah#a muara akhir pengajaran sastra adalah terbinanya apresiasi
dan kegemaran terhadap sastra, yang didasari oleh pengetahuan dan
keterampilan di bidang sastra. ,astra adalah sesuatu untuk dipelajari dan
dinikmati. -leh karena itu, bimbingan< dasar-dasar pena2siran dalam batas-
batas tertentu perlu diberikan agar proses penikmatan menjadi lebih
terarah ( 7ardani, 191:1& !.
:ari pengamatan langsung di kelas dan hasil diskusi , diketahui
beberapa masalah yang berhubungan dengan pembelajaran sastra pada
umumnya, antara lain :
a. "esulitan guru sastra dalam memperkenalkan karya sastra baik klasik
maupun modern, kemudian menghubungkan dengan karya sastra
kegemaran sis#a , dengan cara yang #ajar dan menyenangkan.
b. "esulitan membicarakan sastra tanpa kehilangan sentuhan kepekaan
reaksi, memberikan kegairahan dalam membaca.
2(
c. "esulitan menolong sis#a bereaksi secara perorangan, dengan
kehalusan dan kerumitan yang berkembang, dan tidak hanya
bergantung pada kede#asaan dan kematangan persepsi guru atau
kritikus sastra.
5. Penertian M%&el )%%perati.e 5earnin
"ualitas kehidupan bangsa sangat ditentukan oleh 2aktor
pendidikan. Peran pendidikan sangat penting untuk menciptakan
kehidupan yang cerdas, damai, terbuka,dan demokratis. -leh karena itu,
pembaharuan pendidikan harus selalu dilakukan untuk meningkatkan
kualitas pendidikan nasional. "emajuan suatu bangsa hanya dapat dicapai
melalui penataan pendidikan yang baik. Dpaya peningkatan mutu
pendidikan itu diharapkan dapat menaikkan harkat dan martabat manusia
>ndonesia. Dntuk mencapai itu, pendidikan harus adapti2 terhadap
perubahan 9aman.
:alam konteks pembaruan pendidikan, ada tiga isu utama yang
perlu dosoroti, yaitu pembaruan kurikulum, peningkatan kualitas
pembelajaran, dan e2ekti;itas metode pembelajaran. "urikulum
pendidikan harus komprehensi2 dan responsi2 terhadap dinamika sosial,
rele;an, dan mampu mengakomodasikan keberagaman keperluan dan
kemajuan teknologi. "ualitas pembelajaran harus ditingkatkan untuk
meningkatkan kualitas hasil pendidikan. :an secara mikro, harus
ditemukan strategi atau pendekatan pembelajaran yang e2ekti2 di kelas ,
25
yang lebih memberdayakan potensi sis#a. "etiga hal itulah yang sekarang
menjadi 2okus pembaruan pendidikan di >ndonesia.
4odel pembelajaran cooperative learning merupakan model
pembelajaran yang dilakukan oleh sis#a secara bersama-sama atau secara
bergotong -royong. :engan kata lain, segala tugas-tugas yang diberikan
guru dilakukan secara gotong -royong. -leh karena itu, model
pembelajaran ini disebut juga model pembelajaran gotong- royong
Anita Cie ( 2&&&:2 ! menyatakan bah#a model pembelajaran
cooperative learning tidak sama dengan sekedar belajar ala kelompok.
Ada unsur-unsur dasar pembelajaran cooperative learning yang
membedakan dengan pembagian kelompok dilakukan asal-asalan.
Pelaksanaan prosedur model cooperative learning dengan benar akan
memungkinkan pendidik mengelola kelas dengan lebih e2ekti2.
Ada beberapa hal positi2 dengan penerapan model pembelajaran
ini, yaitu : semua anggota kelompok bertanggung ja#ab atas
kelompoknya, masing-masing ingin memperlihatkan keberhasilannya,
sis#a yang biasanya lemah menjadi terpacu dan merasa mindernya sedikit
demi sedikit hilang dengan diberikan tanggung ja#ab. ,is#a yang
lebih pandai tidak merasa dirugikan karena harus saling membantu. *adi
keberhasilan kelompok sangat tergantung pada usaha anggotanya.
Dntuk mencapai hasil yang maksimal dalam model pembelajaran
gotong-royong ini harus menerapkan lima unsur berikut :
a. ,aling ketergantung positi2
2)
b. $anggung ja#ab perseorang
c. $atap muka
d. "omunikasi antar anggota
e. 6;aluasi proses kelompok
3erdasarkan uraian di atas, dapat disimpulkan bah#a model
pembelajaran cooperative learning sangat berman2aat jika diterapkan
secara maksimal. ?amun selama ini masih banyak guru yang enggan
melakukannya karena beberapa pertimbangan. 3ahkan ( Anita Cie,
2&&&:2' ! menyatakan bah#a keengganan guru menerapkan model
cooperative learning adalah:
a. "ha#atir akan terjadi kekacauan di kelas
b. ,is#a tidak belajar jika ditempatkan dalam satu grup
c. 3anyak sis#a tidak senang disuruh bekerjasama dengan orang lain
d. ,is#a yang tekun merasa harus bekerja melebihi sis#a lain dalam
grup
e. ,is#a yang kurang mampu merasa harus bekerja melebihi sis#a yang
lebih pandai
2. ,is#a yang tekun merasa temannya yang kurang mampu hanya nunut
saja pada hasil jerih payah mereka.
Pembelajaran dengan cooperative learning akan memberikan
man2aat bagi sis#a dalam :
1. 4eningkatkan kemampuannya untuk bekerjasama dan
bersosialisasi
2%
2. 4elatih kepekaan diri, melalui ;ariasi perbedaan sikap laku selama
bekerjasama
(. Dpaya mengurangi rasa kecemasan dan menumbuhkan rasa
percaya diri
5. 4eningkatkan moti;asi belajar ( partisipasi dan minat !, harga diri
dan sikap laku yang positi2
). 4eningkatkan prestasi belajarnya.
:e#asa ini telah banyak digunakan model cooperative learning .
3ahkan pembelajaran ini merupakan suatu model pembelajaran yang
banyak dikembangkan. 3eberapa ahli menyatakan bah#a model
cooperative learning tidak hanya uggul dalam membantu sis#a untuk
memahami konsep-konsep, tetapi juga membantu sis#a menumbuhkan
kemampuan kerja sama, berpikir kritis, dan mengembangkan sikap sosial
sis#a . :isamping itu , keterampilan cooperative menjadi semakin penting
untuk keberhasilan dalam menghadapi tuntutan lapangan kerja yang
sekarang ini berorientasi pada kerja sama dalam tim. "arena pentingnya
interaksi dalam tim, maka penerapan stategi pembelajaran cooperative
dalam pendidikan menjadi lebih penting lagi.
:alam cooperative learning terdapat bermacam - macam tipe,
diantaranya adalah ,$A:, *igsa#,in;estigasi kelompok, pendekatan
struktural, *igsa# merupakan salah satu tipe metode pembelajaran
kooperati2 yang 2leksibel. ,ejumlah riset telah banyak dilakukan
berkaitan dengan pembelajaran kooperati2 dengan dasar jigsa#. @iset
2'
tersebut secara konsisten menunjukkan bah#a sis#a yang terlibat dalam
pembelajaran semacam itu memperoleh prestasi yang lebih baik, dan
mempunyai sikap yang lebih baik pula terhadap pembelajaran.
Pembelajaran kooperati2 tipe *igsa# yang dideskripsikan melalui:
a. "emampuan guru dalam mengelola pembelajaran kooperati2 tipe
*igsa#
b. Akti;itas sis#a dalam pembelajaran kooperati2 tipe *igsa#
c. Akti2itas guru dalam mengelola pembelajaran kooperati2 tipe *igsa#
d. "eterampilan kooperati2 sis#a dalam pembelajaran kooperati2 tipe
*igsa#
e. @espon sis#a dan kesan guru terhadap pembelajaran kooperati2 tipe
*igsa#.
Adapun langkah-langkah teknik *igsa# adalah sebagai berikut :
a. Ta!ap Persiapan
1! 4embuat beberapa perintah yang memuat isi pesan sesuai dengan
topik bahasan secara berlainan yang jumlahnya sebanyak anggota
dalam setiap kelompok. Dntuk memudahkan setiap penilaian
tindakan kelas dapat dibuatkan satu perintah atau lebih sesuai
selera. "emudian menggandakan perintah tersebut sebanyak
kelompok yang akan dibuat dalam satu kelas.
2! 4embuat tugas-tugas yang harus diselesaikan oleh sis#a secara
kelompok setelah memahami in2ormasi . $ugas-tugas yang
dimaksud
2
harus dapat diselesaikan oleh sis#a dengan memperhatikan perintah
yang ada.
b. Ta!ap Pelaksanaan
#* Ta!ap K%%perati-
a! ,is#a dibagi kedalam kelompok kecil yang beranggotakan %-'
orang
b! Auru membagikan soal yang berisi perintah pada kartu
c! Auru menugaskan setiap kelompok untuk membagi
tanggungja#ab dalam memahami soal yang ada.
$* Ta!ap A!li
a! Auru menugaskan kepada sis#a dari setiap kelompok yang
mendapat tugas untuk memahami soal serta membuat
kelompok baru
b! :alam kelompok baru tersebut sis#a diajak belajar bersama
untuk menjadi tim ahli dalam bidang in2ormasi tentang soal
yang menjadi tugasnya
c! Auru mengarahkan kepada sis#a untuk merencanakan
bagaimana caranya menyampaikan in2ormasi kepada anggota
kelompok kooperati2nya. Apakah kegiatan ini telah selesai
maka guru memerintahkan agar sis#a kembali kekelompoknya
semula < kelompok kooperati2.
29
'* Ta!ap Empat 6 Ta!ap Delapan Serankai
Pada tahap ini dilakukan setelah sis#a kembali ke kelompok
kooperati2nya, tetapi namanya berubah menjadi kelompok empat
atau delapan serangkai dimana setiap anggota telah
menjadi ahli in2ormasi dalam bidangnya. "arakteristik pada
tahapan ini adalah
a! ,ecara bergiliran guru menugaskan pada setiap sis#a dalam
setiap kelompok untuk meeengin2ormasikan isi pesan yang
telah dipahami dari soal kepada anggota kelompoknya yang
lain.
b! ,etelah selesai guru memerintahkan kepada setiap kelompok
untuk menyelesaikan tugas yang telah dipersiapkan sekaligus
untuk melaporkan hasilnya.
B. Keranka Pikir Penelitian
"erangka pikir penelitian merupakan penjelasan sementara atas
masalah yang dirumuskan dalam penelitian ini, penelitian ini merupakan
penelitian tindakan kelas, penulis berpedoman pada kemampuan
mengapresiasi cerita #ayang melalui model cooperative learning type
*igsa#.
4enyadari betapa besar man2aat mengapresiasi karya sastra dalam
pengajaran sastra, diharapkan guru dapat menggunakan berbagai model dan
teknik yang sesuai, sehingga sis#a benar-benar mampu mengapresiasi karya
sastra cerita #ayang bukan hanya teori saja.
(&
"emampuan mengapresiasi karya sastra khususnya cerita #ayang
daEat ditingkatkan melalui model pembelajaran yang sesuai. ,alah satu model
yang sesuai adalah model cooperati;e learning.
3ertitik tolak dari uraian di atas dapat ditunjukkan bah#a model
cooperative learning akan mempengaruhi kemampuan mengapresiasi cerita
wayang sis#a kelas >/-B ,4P ?egeri 2 3alerejo 4adiun tahun pelajaran
2&&9<2&1&.
). Hip%tesis Tin&akan
3erdasarkan uraian di atas, maka hipotesis tindakan penelitian ini
adalah sebagai berikut : :engan menggunakan model cooperative learning
dalam pembelajaran cerita wayang, maka kemampuan mengapresiasi cerita
wayang sis#a kelas >/-B ,4P ?egeri 2 3alerejo 4adiun tahun pelajaran
2&&9<2&1& akan meningkat.
(1