Anda di halaman 1dari 25

BAB IV

HASIL DAN PEMBAHASAN



A. Hasil Penelitian
Penelitian dengan tujuan mengetahui perbedaan VO2max antara laki-
laki dengan perempuan setelah aktivitas lari 12 menit telah peneliti lakukan
pada bulan Desember 2011 dan Januari 2012 pada mahasiswa Jurusan
Keperawatan FKIK Universitas Jenderal Soedirman Purwokerto. Pada
periode tersebut, peneliti memperoleh 56 responden, kelompok laki-laki 28
orang responden dan kelompok perempuan 28 orang responden sesuai dengan
kriteria inklusi dan kriteria eksklusi yang telah ditentukan. Pengambilan
sampel menggunakan teknik purposive sampling.

1. Karakteristik Responden
Karakteristik responden dalam penelitian ini adalah jenis kelamin,
usia, dan indeks massa tubuh (IMT).
a. Karakteristik responden berdasarkan jenis kelamin
Responden yang terlibat dalam penelitian ini adalah
mahasiswa Jurusan Keperawatan FKIK Universitas Jenderal
Soedirman Purwokerto yang berjenis kelamin laki-laki dan
perempuan. Distribusi frekuensi responden berdasarkan jenis kelamin
dapat dilihat pada Tabel 4.1


Tabel 4.1 Distribusi frekuensi responden berdasarkan jenis kelamin
mahasiswa Jurusan Keperawatan FKIK Universitas
Jenderal Soedirman Purwokerto (n=56)
No Jenis Kelamin Jumlah (n) Persentase (%)
1 Laki-laki 28 50
2 Perempuan 28 50
Total 56 100

Berdasarkan Tabel 4.1 diketahui jumlah responden laki-laki
dan perempuan sama. Kelompok laki-laki 28 orang dan kelompok
perempuan 28 orang.

b. Karakteristik responden berdasarkan usia
Responden yang terlibat dalam penelitian ini adalah
mahasiswa Jurusan Keperawatan FKIK Universitas Jenderal
Soedirman Purwokerto dengan usia 18-23 tahun. Karakteristik usia
responden dapat dilihat pada Tabel 4.2
Tabel 4.2 Distribusi karakteristik responden berdasarkan usia
mahasiswa Jurusan Keperawatan FKIK Universitas
Jenderal Soedirman Purwokerto (n=28)
Variabel

Mean

SD
95% Confidence
Interval of the
Difference
Lower Upper
Usia (tahun)
Kelompok laki-laki 20,71 1,15 20,27 21,16
Kelompok perempuan 21,07

0,54 20,86 21,28

Berdasarkan Tabel 4.2 diketahui rata-rata usia responden pada
kelompok laki-laki 20,71 tahun dan pada kelompok perempuan 21,07


tahun. Usia responden pada kelompok laki-laki mengelompok pada
rentang usia 20,27 sampai 21,16 tahun sedangkan pada kelompok
perempuan mengelompok pada rentang usia 20,86 sampai 21,28
tahun. Hasil penelitian menunjukkan bahwa usia responden pada
kelompok intervensi dan kelompok kontrol mengelompok pada
rentang usia yang hampir sama.

c. Karakteristik responden berdasarkan Indeks Massa Tubuh
(IMT)
Karakteristik responden berdasarkan indeks massa tubuh sesuai
klasifikasi menurut American Critical Care Nurses 2004 ditunjukkan
pada Tabel tabel 4.3
Tabel 4.3 Distribusi karakteristik responden berdasarkan Indeks
Massa Tubuh (IMT) mahasiswa Jurusan Keperawatan
FKIK Universitas Jenderal Soedirman Purwokerto (n=56)
B





Berdasarkan Tabel 4.3 dapat dilihat bahwa sebagian besar
responden memiliki indeks massa tubuh dalam klasifikasi Normal
yaitu sebanyak 43 orang (76,8%) dan paling sedikit berada dalam
klasifikasi obesitas I yaitu sebanyak 1 orang (1,8%).
No IMT
Jumlah
(n)
Persentase
(%)
1
2
3
4
5
6
Underweight (<18.5)
Normal (18.524.9)
Overweight (25.029.9)
Obesitas I (30.034.9)
ObesitasII (35.039.9)
Extreme obesitas (>40)
9
43
3
1
-
-
16,1
76,8
5,4
1,8
-
-
56 100


2. Nilai VO2max sebelum aktivitas lari 12 menit
Nilai VO2max sebelum aktivitas lari 12 menit pada kelompok laki-
laki dan perempuan dapat dilihat pada Tabel 4.4
Tabel 4.4 Distribusi nilai VO2max sebelum aktivitas lari 12 menit pada
kelompok laki-laki dan perempuan pada mahasiswa Jurusan
Keperawatan FKIK Universitas Jenderal Soedirman Purwokerto
(n=28)
Variabel

Mean

SD
95% Confidence
Interval of the
Difference
Lower Upper
VO2max (ml/menit/kg)
Kelompok laki-laki
Kelompok perempuan
21,10
15,11
5,25
3,93
19,06
13,58
23,14
16,63

Berdasarkan Tabel 4.4 diketahui rata-rata nilai VO2max sebelum
aktivitas lari 12 menit pada kelompok laki-laki 21,10 ml/menit/kg
sedangkan rata-rata nilai VO2max pada kelompok perempuan 15,11
ml/menit/kg. Hasil penelitian menunjukkan bahwa nilai VO2max sebelum
aktivitas lari 12 menit pada responden kelompok laki-laki lebih tinggi jika
dibandingkan dengan kelompok perempuan.

3. Nilai VO2max setelah aktivitas lari 12 menit
Nilai VO2max setelah aktivitas lari 12 menit pada kelompok laki-
laki dan perempuan dapat dilihat pada Tabel 4.5





Tabel 4.5 Distribusi nilai VO2max setelah aktivitas lari 12 menit pada
kelompok laki-laki dan perempuan pada mahasiswa Jurusan
Keperawatan FKIK Universitas Jenderal Soedirman
Purwokerto (n=28)
Variabel

Mean

SD
95% Confidence
Interval of the
Difference
Lower Upper
VO2max (ml/menit/kg)
Kelompok laki-laki
Kelompok perempuan
31,92
23,05
6,70
4,34
29,32
21,37
34,51
24,73

Berdasarkan Tabel 4.5 diketahui rata-rata nilai VO2max setelah
aktivitas lari 12 menit pada kelompok laki-laki 31,92 ml/menit/kg,
sedangkan rata-rata nilai VO2max pada kelompok perempuan 23,05
ml/menit/kg. Hasil penelitian menunjukkan bahwa nilai VO2max
setelah aktivitas lari 12 menit pada responden kelompok laki-laki
lebih tinggi jika dibandingkan dengan kelompok perempuan.

4. Perbedaan nilai VO2max sebelum dan setelah aktivitas lari 12 menit
pada kelompok laki-laki
Perbedaan nilai VO2max sebelum dan setelah aktivitas lari 12
menit pada kelompok laki-laki Jurusan Keperawatan FKIK Universitas
Jenderal Soedirman Purwokerto dapat dilihat pada Tabel 4.6






Tabel 4.6 Perbedaan nilai VO2max sebelum dan setelah intervensi pada
kelompok laki-laki Jurusan Keperawatan FKIK Universitas
Jenderal Soedirman Purwokerto
No
Nilai VO2max
(ml/menit/kg)
Mean SD Nitai t Nilai p
1

2

Hasil pre test laki-laki

Hasil post test laki-laki
21,01

31,92
5,248

6,691

-11,586


0,000

Berdasarkan Tabel 4.6 dapat dilihat bahwa nilai rata-rata VO2max
pada kelompok laki-laki sebelum intervensi sebesar 21,01 ml/menit/kg dan
nilai rata-rata VO2max setelah intervensi adalah sebesar 31,92
ml/menit/kg. Nilai VO2max pada kelompok laki-laki setelah aktivitas lari
12 menit mengalami peningkatan rata-rata sebesar 10,91 ml/menit/kg.
Berdasarkan uji paired t-test diperoleh nilai t = -11,586 (p = 0,000),
dengan nilai t-tabel 2,052. Nilai t-hitung lebih besar dari pada t-tabel dan
nilai p lebih kecil dari (0,05) yang menunjukkan bahwa secara statistik
terdapat perbedaan yang bermakna antara nilai VO2max sebelum aktivitas
lari 12 menit dengan nilai VO2max setelah aktivitas lari 12 menit pada
kelompok laki-laki.

5. Perbedaan nilai VO2max sebelum dan setelah aktivitas lari 12 menit
pada kelompok perempuan
Perbedaan nilai VO2max sebelum dan setelah aktivitas lari 12
menit pada mahasiswa perempuan Jurusan Keperawatan FKIK Universitas
Jenderal Soedirman Purwokerto dapat dilihat pada Tabel 4.7


Tabel 4.7 Perbedaan nilai VO2max sebelum dan setelah intervensi pada
mahasiswa perempuan Jurusan Keperawatan FKIK Universitas
Jenderal Soedirman Purwokerto
No
Nilai VO2max
(ml/menit/kg)
Mean SD Nitai t Nilai p
1

2
Hasil Pre test perempuan

Hasil post test perempuan
15,11

23,05
3,934

4,340

-11,187


0,000

Berdasarkan Tabel 4.7 dapat dilihat bahwa nilai rata-rata VO2max
nilai rata-rata VO2max sebelum intervensi sebesar 15,11 ml/menit/kg dan
nilai rata-rata VO2max setelah intervensi adalah sebesar 23,05
ml/menit/kg. Nilai VO2max pada kelompok perempuan setelah aktivitas
lari 12 menit mengalami peningkatan rata-rata sebesar 7,94 ml/menit/kg.
Berdasarkan uji paired t-test diperoleh nilai t = -11,187 (p = 0,000),
dengan nilai t-tabel 2,052. Nilai t-hitung lebih besar dari pada t-tabel dan
nilai p lebih kecil dari (0,05) yang menunjukkan bahwa secara statistik
terdapat perbedaan yang bermakna antara nilai VO2max sebelum aktivitas
lari 12 menit dengan nilai VO2max setelah aktivitas lari 12 menit pada
kelompok perempuan.

6. Perbedaan peningkatan nilai VO2max setelah aktivitas lari 12 menit
pada kelompok laki-laki dan kelompok perempuan
Untuk membandingkan nilai VO2max pada kelompok laki-laki dan
kelompok perempuan dilakukan dengan independent samples t test (uji t
tidak berpasangan). Sebelum dilakukan independent samples t test data
terlebih dahulu dilakukan uji normalitasnya dengan One-Sample


Kolmogorov-Smirnov Test. Hasil uji normalitas dengan One-Sample
Kolmogorov-Smirnov Test dapat dilihat pada tabel 4.8
Tabel 4.8 Uji normalitas One-Sample Kolmogorov-Smirnov Test
n Kolmogorof-Smirnov Z
Post test laki-laki 28 1,030
Post test perempuan 28 0,905

Berdasarkan uji normalitas menggunakan uji One-Sample
Kolmogorov-Smirnov Test pada tabel 4.8 didapatkan nilai, nilai Z post test
laki-laki = 1,030 dan nilai Z post test perempuan = 0,905 . Hal ini berarti
nilai Z>0,05 yang dapat disimpulkan bahwa data terdistribusi normal,
maka dapat dilanjutkan analisis dengan uji statistik parametrik
menggunakan uji independent samples t test dengan =5% untuk
membandingkan nilai VO2max pada kelompok laki-laki dan kelompok
perempuan.
Perbedaan peningkatan nilai VO2max setelah aktivitas lari 12 menit
antara kelompok laki-laki dan kelompok perempuan pada mahasiswa
Jurusan Keperawatan FKIK Universitas Jenderal Soedirman Purwokerto
dapat dilihat pada Tabel 4.9
Tabel 4.9 Hasil analisa statistik independent samples t test
peningkatan nilai VO2max setelah aktivitas lari 12 menit
antara kelompok laki-laki dengan kelompok perempuan
pada mahasiswa Jurusan Keperawatan FKIK Universitas
Jenderal Soedirman Purwokerto
No
Nilai VO2max
(ml/menit/kg)
Mean SD Nitai t Nilai p
1

Kelompok Laki-laki 10,81 4,94
2,447

0,018
2 Kelompok
Perempuan
7,95 3,76



Berdasarkan Tabel 4.9 didapatkan nilai p sebesar 0,018.
Dengan demikian nilai p lebih kecil dari nilai (5%) atau 0,05
sehingga Ho ditolak dan Ha diterima. Hasil lain menunjukkan bahwa
nilai t-hitung sebesar 2,447 sedangkan nilai t-tabel 2,00488 atau t-
hitung lebih besar dari t-tabel yang berarti secara statistik Ho ditolak
dan Ha diterima. Berarti dapat disimpulkan bahwa secara statistik
terdapat perbedaan peningkatan nilai VO2max yang signifikan setelah
aktivitas lari 12 menit antara kelompok laki-laki dan kelompok
perempuan.

B. Pembahasan
1. Karakteristik Responden
a. Karakteristik responden berdasarkan jenis kelamin
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbedaan nilai
VO2max setelah aktivitas lari 12 menit antara kelompok laki-laki
dengan kelompok perempuan di Jurusan Keperawatan FKIK
Universitas Jenderal Soedirman, sehingga jumlah responden laki-laki
dan perempuan sama.
Beberapa responden di drop out dari penelitian ini karena
tidak kooperatif dalam mengikuti penelitian dari awal sampai akhir.
Jumlah total responden sebanyak 56 orang responden, karena untuk
mengetahui perbedaan VO2max antara kelompok laki-laki dan
kelompok perempuan jadi jumlah sampel kedua kelompok sengaja


sama, responden laki-laki berjumlah 28 orang dan responden
perempuan berjumlah 28 orang.
Jenis kelamin merupakan salah satu faktor di dalam individu
yang menentukan kebugaran jasmani seseorang. Menurut Sharkey
(2003), nilai VO2max dapat dipengaruhi oleh genetik, jenis kelamin,
usia, dan aktifitas (latihan). Sampai usia pubertas, daya tahan
kardiorespirasi antara anak perempuan dan laki-laki tidak berbeda,
tetapi setelah usia tersebut nilai pada wanita lebih rendah 15-25% dari
pria.

b. Karakteristik responden berdasarkan usia
Pada penelitian ini rata-rata usia responden pada kelompok
laki-laki 20,71 tahun dan pada kelompok perempuan 21,07 tahun.
Terdapat sedikit perbedaan rata-rata usia responden kelompok laki-laki
dengan kelompok perempuan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa
usia responden pada kelompok laki-laki mengelompok pada rentang
usia 20,27 sampai 21,16 tahun sedangkan pada kelompok perempuan
mengelompok pada rentang usia 20,86 sampai 21,28 tahun.
Berdasarkan literatur, usia dapat mempengaruhi VO2max.
Menurut Hargeaves (2003) respon kardiovaskular terhadap latihan fisik
berbeda pada anak dan orang dewasa dan perbedaan ini berhubungan
dengan ukuran jantung dan jumlah otot yang lebih kecil pada anak.
Pada orang-orang terlatih, ketahanan otot akan terus meningkat dan


mencapai ketahanan otot maksimal di usia 20 tahun. Setelah itu, tingkat
ketahanan otot akan menetap 3-5 tahun yang kemudian akan berangsur-
angsur turun. Secara umum, kemampuan aerobik turun perlahan setelah
usia 25 tahun. Penurunan rata-rata VO2max per tahun adalah 0,46
ml/menit/kg untuk pria (1,2%) dan 0,54 ml/menit/kg untuk wanita
(1,7%).
Wilmore & Costill (2005) menjelaskan bahwa penurunan
VO2max terjadi karena paru, jantung dan pembuluh darah mulai
menurun fungsinya. Kecuraman penurunan dapat dikurangi dengan
melakukan olahraga aerobik secara teratur. Penurunan fungsi paru
orang yang tidak berolahraga atau usia tua terutama disebabkan oleh
hilangnya elastisitas paru-paru dan otot dinding dada. Hal ini
menyebabkan penurunan nilai kapasitas vital dan nilai forced expiratory
volume, serta meningkatkan volume residual paru. Setelah usia 20-an
VO2max menurun dengan perlahan- lahan. Dalam usia 55 tahun, VO2max
lebih kurang 27 % lebih rendah dari usia 25 tahun. Dengan sendirinya hal
ini berbeda dari satu dengan orang yang lain. Mereka yang mempunyai
banyak kegiatan VO2max akan menurun secara perlahan.

c. Karakteristik responden berdasarkan Indeks Massa Tubuh (IMT)
Pada penelitian ini sebagian besar responden memiliki indeks
massa tubuh dalam klasifikasi normal yaitu sebanyak 43 orang (76,8%)
dan paling sedikit berada dalam klasifikasi obesitas I yaitu sebanyak 1
orang (1,8%).


Menurut Glisezinski (2003), intensitas 50% VO2max selama 1
jam memberikan efek pembongkaran lemak yang ditunjukkan dengan
peningkatan kadar asam lemak bebas dan gliserol dalam darah yang
tetinggi. Pemicu kondisi muscle glycogen depletion tersebut mungkin
sebagai warning system untuk mendapatkan shearing penyediaan energi
dari adipocytes untuk kontraksi otot skelat.
Berdasarkan penelitian Horowitz dan Klien (2000), latihan
fisik 25%-60% VO2max meningkatkan oksidasi lemak 5-10 kali lebih
tinggi dibanding normal yang dirangsang oleh peningkatan respon
adrenegis 2-3 kali lebih tinggi. Efektivitas peningkatan lipolisis 3 kali
terjadi setelah 30 menit, pada latihan fisik orang yang tidak terlatih
mengalami lipolisis lebih lambat dibanding orang terlatih. Hasil
penelitian pada orang terlatih juga didapatkan basal lipolysis dan
ephinephrine stimulated lipolysis lebih rendah dibandingkan dengan
orang yang terlatih selama 4 minggu.
Indeks Massa Tubuh (IMT) merupakan cara yang banyak
digunakan untuk menggambarkan komposisi tubuh orang dewasa
secara tidak langsung. Komposisi tubuh menggambarkan perbandingan
bagian tubuh yang secara metabolisme aktif terutama otot dibandingkan
dengan bagian yang kurang aktif terutama lemak. Baik otot maupun
lemak mempunyai berat/massa, yang jika dibandingkan dengan tinggi
badan akan menggambarkan komposisi tubuh secara tidak langsung.
Komposisi tubuh erat kaitannya dengan daya tahan kardiorespirasi.


Satu- satunya prediktor terbaik untuk mengetahui daya tahan
kardiorespirasi seseorang adalah penentuan volume ambilan maksimal
O2 (VO2max) permenit yang mampu dipakai oleh seseorang untuk
mengoksidasi molekul-molekul nutrien untuk menghasilkan energi.
Semakin tinggi nilai VO2max seseorang semakin baik daya tahan
kardiorespirasi dan semakin baik pula kebugaran jasmani orang
tersebut. Semakin rendah nilai IMT semakin tinggi nilai VO2max,
demikian sebaliknya semakin tinggi nilai IMT semakin rendah nilai
VO2max (Kusumaningrum, 2009).
Walaupun VO2max dinyatakan dalam beberapa milliliter
oksigen yang dikonsumsi per kg berat badan, perbedaan komposisi
tubuh seseorang menyebabkan konsumsi oksigen yang berbeda.
Misalnya tubuh mereka yang mempunyai lemak dengan persentasi
tinggi mempunyai konsumsi oksigen maksimum yang lebih rendah.
Bila tubuh berotot kuat, VO2max akan lebih tinggi. Sebab itu, jika dapat
mengurangi lemak dalam tubuh, konsumsi oksigen maksimal dapat
bertambah tanpa tambahan latihan (Mahler, 2003).

2. Nilai VO2max sebelum aktivitas lari 12 menit
Hasil penelitian menunjukkan bahwa nilai VO2max responden
kelompok laki-laki lebih tinggi jika dibandingkan dengan kelompok
perempuan. Rata-rata nilai VO2max kelompok laki-laki sebelum aktivitas


lari 12 menit 21,10 ml/menit/kg, sedangkan pada kelompok perempuan
rata-rata nilai VO2max 15,11 ml/menit/kg.
Hal ini sesuai dengan hasil penelitian Matthys (2008), bahwa
perempuan memiliki VO2max yang sedikit lebih kecil dibandingkan
dengan lelaki. Perbedaan mendasar adalah laki-laki mempunyai ukuran
tubuh lebih besar. Faktor lain yang juga berpengaruh adalah kadar Hb,
sebagian besar perempuan mempunyai kadar Hb lebih rendah daripada
laki-laki dan biasanya aktivitas fisik perempuan lebih rendah. Sedangkan
Obert et al (2003) menjelaskan bahwa perbedaan nilai kapasitas aerobik
pada perempuan lebih rendah 15-25% dari laki-laki. Hal ini dikarenakan
ketahanan kardiorespirasi berhubungan dengan luas permukaan tubuh,
komposisi tubuh, kekuatan otot, jumlah hemoglobin dan kapasitas paru.
Zalbawi dan Handayani (2004) mengatakan bahwa pada wanita
terjadi penimbunan lemak selama masa pubertas, sedangkan pada pria
terjadi perkembangan otot. Sehingga wanita dewasa mempunyai lemak
sekitar dua kali lebih besar dari pada pria. Pria mempunyai darah yang
kurang lebih satu liter lebih banyak dari pada wanita. Selain itu dimensi
jantung pada pria lebih besar sehingga volume sedenyut lebih besar,
volume paru-paru pria lebih besar 10 % dari pada wanita.
Pengaruh latihan fisik yang tepat akan meningkatkan kebugaran
jasmani seseorang. Menurut Coooper (1983), kebugaran jasmani seseorang
dapat ditingkatkan melalui latihan, pengaruh latihan fisik yang tepat akan
meningkatkan konsumsi oksigen maksimal yang dapat dicapai dengan cara


meningkatkan efisiensi kerja semua penyediaan dan penyalur oksigen.
Dalam proses peningkatan ini, kondisi tubuh makin meningkat secara
menyeluruh terutama pada bagian-bagian tubuh yang terpenting seperti
paru-paru, jantung, pembuluh darah dan seluruh jaringan tubuh. Seseorang
dapat memperbaiki VO2max dengan olahraga atau latihan. Dengan latihan
daya tahan yang sistematis, akan memperbaiki konsumsi oksigen
maksimal dari 5% sampai 25%.
Untuk meningkatkan VO2max, maka latihan fisik yang dilakukan
adalah latihan fisik endurance, salah satu contoh latihan fisik endurance
adalah lari 12 menit. Pada penelitian ini, responden diberikan perlakuan
aktivitas fisik lari 12 menit 3 kali perminggu selama 3 minggu.

3. Nilai VO2max setelah aktivitas lari 12 menit
Hasil penelitian menunjukkan bahwa nilai VO2max responden
kelompok laki-laki setelah aktivitas lari 12 menit lebih tinggi jika
dibandingkan dengan kelompok perempuan. Rata-rata nilai VO2max
setelah aktivitas lari 12 menit pada kelompok laki-laki 31,92 ml/menit/kg,
sedangkan pada kelompok perempuan rata-rata nilai VO2max 23,05
ml/menit/kg.
Peningkatan nilai VO2max pada kedua kelompok yang melakukan
latihan fisik sesuai dengan beberapa penelitian sejenis yang telah
dilakukan sebelumnya. Dalam penelitian Nasution (2007), bentuk-bentuk
latihan interval, kontinyu, dan Speed Play memberikan pengaruh yang


signifikan terhadap peningkatan VO2max, peningkatan rata-rata sebesar
17,80% karena sistem kardiovaskuler bekerja lebih efektif dan efisien
dalam menjalankan fungsi fisiologinya pada saat melakukan latihan fisik.
Penelitian Uliyandari (2009), menjelaskan bahwa peningkatan
VO2max dipengaruhi oleh beberapa hal yaitu latihan fisik, fungsi
kardiovaskuler, dan komposisi tubuh. Latihan fisik atau olahraga dapat
meningkatkan nilai VO2max. Akan tetapi peningkatan ini hanya terbatas
sekitar 10-20% dari nilai VO2max sebelumnya. Diduga hal ini berkaitan
dengan meningkatnya kerja sistem kardiovaskuler yang berupa
peningkatan cardiac output, stroke volume, dan volume darah yang diikuti
dengan menurunnya denyut jantung istirahat. Orang yang terlatih akan
memiliki denyut jantung istirahat yang lebih rendah daripada orang biasa.
Denyut jantung yang lebih rendah mengakibatkan nilai VO2max pada
orang terlatih menjadi lebih tinggi. Denyut jantung dapat mengalami
penurunan setelah melakukan latihan fisik selama waktu tertentu. Ini
adalah kompensasi tubuh terhadap latihan fisik.
Dengan adanya paparan dari beberapa ahli, maka peneliti
menyimpulkan bahwa, seseorang yang melakukan aktifitas fisik akan
dapat memfungsikan organ-organ tubuhnya dengan baik terutama jantung
dan parunya dan dapat mengambil oksigen dengan lebih banyak, sehingga
nilai VO2maxnya menjadi lebih banyak pula. Pada akhirnya, seseorang
yang melakukan latihan aktifitas fisik teratur mempunyai tingkat


kebugaran jasmani yang lebih tinggi daripada sebelum melakukan latihan
fisik.

4. Perbedaan nilai VO2max sebelum dan setelah aktivitas lari 12 menit
pada kelompok laki-laki
Setelah dilakukannya perlakuan lari 12 menit selama 3 kali
seminggu dengan selang waktu dua hari sehingga perlakuan dilakukan
sebanyak 8 kali, didapatkan hasil nilai VO2max pada kelompok laki-laki
setelah aktivitas lari 12 menit mengalami peningkatan rata-rata sebesar
10,91 ml/menit/kg. Dari hasil analisis pada tabel 4.5 dapat dilihat bahwa
nilai t-hitung lebih besar dari pada t-tabel dan nilai p lebih kecil dari
(0.05) maka dengan demikian dapat disimpulkan bahwa secara statistik
terdapat perbedaan yang bermakna antara nilai VO2max sebelum aktivitas
lari 12 menit dengan nilai VO2max setelah lari 12 menit pada kelompok
laki-laki.
Menurut Kartawa (2003), pada suatu kerja maksimal yang singkat,
seorang pria dewasa dalam keadaan kondisi badan bugar, seperti
anak normal dapat mencapai nilai ventilasi di atas 100 liter per menit,
yaitu 20 sampai 25 kali tingkat istirahat. Peningkatan ventilasi ini dicapai
sebagai akibat peningkatan frekuensi dan volume tidal. Frekuensi 40 50
per menit dan volume tidal sampai 50% dari kapasitas vital telah tercatat
pada suatu kerja berat.


Penelitian Kuntaraf (1992) menunjukan bahwa laki-laki usia 65-74
tahun dapat meningkatkan VO2max sekitar 18 % setelah berolahraga
secara teratur selama 6 bulan, faktor fisiologis yang mempengaruhi daya
tahan jantung-paru antara lain: faktor genetik, usia, jenis kelamin, dan
aktivitas latihan. Oleh karena itu VO2max seseorang dapat ditingkatkan
paling tidak daya tahan aerobiknya dapat meningkat antara 6-20% dengan
pelatihan atletik, yaitu dengan melakukan jalan, jogging, ataupun lari.
Menurut Ganong (2008), selama latihan fisik, terdapat kenaikan
ventilasi yang tiba-tiba, selanjutnya diikuti oleh kenaikan yang perlahan.
Pada latihan fisk sedang, peningkatan ventilasi terutama disebabkan pada
dalamnya pernafasan, kemudian diikuti oleh peningkatan kecepatan
pernafasan pada latihan fisik berat. Peningkatan yang mendadak pada
permulaan latihan fisik diduga disebabkan karena rangsangan psikis dan
impuls aferen propioreseptor dalam otot, tendon, dan sendi-sendi.
Peningkatan yang perlahan diduga karena humoral, pH arteri, PCO
2
dan
PO
2
tetap konstan selama latihan fisik sedang. Peningkatan ventilasi
sebanding dngan peningkatan konsumsi oksigen.
Hasil nilai VO2max pada kelompok laki-laki setelah aktivitas lari
12 menit mengalami peningkatan, sehingga dapat disimpulkan bahwa
latihan aktivitas lari 12 menit selama 3 kali perminggu selama 3 minggu
dapat meningkatkan VO2max laki-laki.



5. Perbedaan nilai VO2max sebelum dan setelah aktivitas lari 12 menit
pada kelompok perempuan
Hasil nilai VO2max pada kelompok perempuan setelah aktivitas
lari 12 menit mengalami peningkatan rata-rata sebesar 7,94 ml/menit/kg.
Dari hasil analisis pada tabel 4.6 dapat dilihat bahwa nilai t-hitung lebih
besar dari pada t-tabel dan nilai p lebih kecil dari (0.05) maka dengan
demikian dapat disimpulkan bahwa secara statistik terdapat perbedaan
yang bermakna antara nilai VO2max sebelum aktivitas lari 12 menit
dengan nilai VO2max setelah lari 12 menit pada kelompok perempuan.
Peningkatan rata-rata VO2max di penelitian ini pada kelompok
perempuan lebih rendah dari pada peningkatan VO2max pada kelompok
laki-laki. Menurut Matthys (2008), dalam kondisi tertentu perempuan
mungkin memiliki kadar Hb maupun kadar lemak mendekati laki-laki
sehingga kadar VO2max perempuan juga bisa mendekati laki-laki. Ukuran
jantung wanita lebih kecil sehingga menyebabkan isi sekuncup yang kecil,
curah jantung yang rendah, dan denyut jantung submaksimal yang tinggi
dibandingkan pada pria. Selain itu, wanita memiliki jaringan lemak yang
lebih banyak dan kadar hemoglobin lebih rendah dibanding laki-laki.
Nilai VO2max perempuan mengalami peningkatan setelah aktivitas
lari 12 menit selama 3 kali perminggu. Perubahan yang terjadi akibat suatu
latihan terhadap VO2max yaitu terjadinya peningkatan kemampuan untuk
mengkonsumsi oksigen dalam satuan liter per menit. Guyton dan Hall
(2008) mengatakan bahwa VO2max adalah kecepatan pemakaian oksigen


dalam metabolisme aerob maksimum. Hal ini terjadi karena sistem
kardiovaskuler bekerja lebih efektif dan efisien dalam menjalankan fungsi
fisiologinya. Bertambahnya kemampuan untuk mengkonsumsi oksigen
atau kecepatan pemakaian oksigen dalam metabolisme aerob maksimum
tersebut akan berakibat terhadap metabolisme aerobik terjadi lebih lama,
dan terjadinya perlambatan akumulasi asam laktat sehingga ambang batas
kelelahan tercapai lebih lama terjadi dengan intensitas aktivitas pada
persentase yang lebih tinggi.
Nilai VO2max perempuan juga dapat ditingkatkan dengan cara
melakukan latihan fisik, dengan diberikannya perlakuan yaitu aktivitas lari
12 menit selama 3 kali perminggu selama 3 minggu dapat berpengaruh
terhadap peningkatan nilai VO2max wanita.

6. Perbedaan peningkatan nilai VO2max setelah aktivitas lari 12 menit
antara kelompok laki-laki dan kelompok perempuan
Berdasarkan uji independent samples t test pada tabel 4.9
menunjukkan bahwa secara statistik terdapat perbedaan peningkatan nilai
VO2max yang bermakna setelah aktivitas lari 12 menit antara kelompok
laki-laki dan kelompok perempuan.
Hal tersebut sesuai dengan berbagai penelitian yang menyebutkan
bahwa nilai VO2max laki-laki lebih tinggi dibandingkan dengan nilai
VO2max perempuan. Perbedaan VO2max tersebut sesuai dengan penelitian
yang dilakukan Mexitalia et al (2005), dimana jumlah anak laki-laki yang


melakukan aktivitas fisik lebih banyak secara bermakna dibandingkan
anak perempuan. Goran et al (2002) mengukur Total Energi Expenditure
(TEE) sebanyak 11 anak perempuan dan 11 anak laki-laki selama 5 tahun
mendapatkan bahwa aktivitas fisik pada anak perempuan cenderung
menurun saat awal pubertas sedangkan anak laki-laki terus meningkat
hingga masa pubertas. Sallis (2002) juga mendapatkan aktivitas fisik
perempuan menurun lebih besar dibanding laki-laki saat mencapai umur
17 tahun (7,4%:2,7%). Studi metaanalisis di Amerika mengatakan bahwa
anak laki-laki hampir dua kali lebih aktif anak dibanding perempuan.
Fenomena ini diduga karena perbedaan kebugaran aerobik dan komposisi
tubuh saat menuju maturitas. Kebugaran aerobik dan IMT laki-laki relatif
lebih stabil dari usia 6-16 tahun namun pada perempuan mengalami
penurunan 2% pertahun.
Uliyandari (2009) menyatakan bahwa perbedaan nilai VO2max
tersebut dikarenakan kekuatan otot perempuan kira-kira 2 per 3 lebih
rendah dari laki-laki. Selain itu,otot perempuan lebih kecil daripada otot
laki-laki. Setelah masa pubertas wanita dalam usianya yang sama dengan
pria umumnya mempunyai konsumsi oksigen maksimal yang lebih rendah
dari pria. Sampai usia pubertas, daya tahan kardiorespirasi antara anak
perempuan dan laki-laki tidak berbeda tetapi setelah usia tersebut nilai
VO2max pada wanita lebih rendah 15 25% dari pada pria.
Menurut Mahler (2003), saat awal pubertas, testosteron akan
meningkatkan massa otot, sedangkan estrogen cenderung menambah


jaringan lemak. Satu gram hemoglobin dapat bersatu dengan 1,34 ml
oksigen. Pada pria dalam keadaan istirahat terdapat sekitar 15-16 gr
hemoglobin pada setiap 100 ml darah dan pada wanita rata-rata 14 gr pada
setiap 100 ml darah. Wanita juga memiliki jaringan lemak 27% dari
komposisi tubuhnya lebih banyak dibanding pria 15% dari komposisi
tubuhnya. Keadaan ini menyebabkan wanita memiliki kapasitas aerobik
lebih rendah dibanding pria. Selain itu ukuran jantung pada wanita rata-
rata lebih kecil dibanding pria. Pengambilan oksigen pada wanita 2,2L
lebih kecil daripada pria 3,2L. Kapasitas vital paru wanita juga lebih kecil
dibanding pria.
Selama latihan fisik maksimal, denyut jantung dan isi sekuncup
meningkat sekitar 95% dari nilai maksimal. Oleh karena curah jantung
adalah isi sekuncup dikalikan denyut jantung, maka curah jantung juga
meningkat. VO2max lebih banyak dipengaruhi oleh sistem jantung
dibandingkan sistem pernafasan. Hal ini disebabkan oleh karena jumlah
oksigen yang digunakan tubuh tidak pernah melebihi nilai rata-rata
oksigen yang dikirim oleh sistem jantung ke jaringan, sehingga ketahanan
seseorang dalam melakukan latihan fisik terutama tergantung pada
jantung, karena berhubungan dengan pengiriman oksigen yang adekuat ke
otot selama latihan fisik. Seseorang dengan stamina yang baik memiliki
nilai VO2max lebih tinggi, dapat melakukan latihan yang lebih berat, serta
mempunyai daya konsentrasi yang lebih tinggi (Guyton, 2008).


Latihan daya tahan akan mengembangkan konsumsi oksigen.
Setelah diberi perlakuan aktivitas lari 12 menit sebanyak 3 kali perminggu
dalam 3 minggu pada kelompok laki-laki dan kelompok perempuan
ternyata juga menunjukkan perbedaan peningkatan nilai VO2max setelah
aktivitas lari 12 menit antara kelompok laki-laki dan kelompok
perempuan. Willmore dan Costill (2005) mengatakan bahwa subyek yang
belum terlatih VO2max menunjukkan peningkatan sebesar 20% atau lebih
setelah mengikuti program latihan minimal 3 kali perminggu.
Latihan fisik akan menyebabkan otot menjadi kuat. Perbaikan
fungsi otot, terutama otot pernapasan menyebabkan pernapasan lebih
efisien pada saat istirahat. Hal ini menyebabkan oksigen yang diperlukan
untuk kerja otot pada proses ventilasi berkurang, sehingga dengan jumlah
oksigen sama, otot yang terlatih akan lebih efektif kerjanya. Pada orang
yang dilatih selama beberapa bulan terjadi perbaikan pengaturan
pernapasan. Perbaikan ini terjadi karena menurunnya kadar asam laktat
darah, yang seimbang dengan pengurangan penggunaan oksigen oleh
jaringan tubuh. Latihan fisik akan mempengaruhi organ sedemikian rupa
sehingga kerja organ lebih efisien dan kapasitas kerja maksimum yang
dicapai lebih besar (Swadesi, 2007).
Menurut Nurhasan (2004), daya tahan kardiorespirasi akan
menurun 17 27% bila seseorang beristirahat di tempat tidur selama 3
minggu. Jenis latihan juga mempengaruhi. Orang yang melakukan


olahraga lari jarak jauh, daya tahan kardorespirasinya meningkat lebih
tinggi dibandingkan orang yang berolahraga senam atau anggar.
Anggapan beberapa ahli dan beberapa peneliti yang menyatakan
bahwa aspek-aspek tingkat kebugaran jasmani berdasarkan nilai VO2max
setelah dilakukannya aktivitas fisik pada laki-laki berbeda dengan
perempuan ternyata benar. Ditunjukkan dengan hasil penelitian ini yang
pada kelompok laki-laki dan kelompok perempuan diberi perlakuan
latiahan endurance lari 12 menit 3 kali perminggu selama 3 minggu yang
menunjukkan perbedaan pada kedua kelompok.
Kelebihan dari latihan fisik endurance lari 12 menit dalam
penelitian ini, yaitu seseorang memiliki kesempatan untuk dapat
melakukan peningkatan taraf kebugaran jasmani melalui olah raga daya
tahan hanya 12 menit dan dilakukan teratur 3 kali per minggu yang tidak
memerlukan banyak biaya dan dapat diikuti oleh semua kalangan sehingga
dapat memberikan motivasi untuk berolahraga. Nilai VO2max laki-laki
berbeda dengan perempuan Perbedaan ini antara lain disebabkan oleh
perbedaan kekuatan otot maksimal, luas permukaan tubuh, komposisi
tubuh, jumlah hemoglobin, dan kapasitas paru.

C. Kelemahan dan Keterbatasan Penelitian
Beberapa kelemahan dan keterbatasan yang ditemui peneliti selama
melakukan penelitian adalah penelitian yang dilakukan merupakan penelitian
pra eksperimen dengan menggunakan desain penelitian pre test-post test one


group without controlled design. Rancangan penelitian ini mempunyai
kekurangan karena tidak adanya kontrol terhadap variabel bebas sehingga
hubungan sebab-akibat yang ditemukan dapat membawa penafsiran yang
berbeda. Teknik sampel pada penelitian ini juga menggunakan purposive
sampling tanpa melakukan random pada sampel yang diambil.
Kelemahan lain pada penelitian ini adalah adanya beberapa variabel
pengganggu yang tidak dikontrol seperti genetik, asupan nutrisi dan aktivitas
fisik lain yang dilakukan oleh responden. Pada penelitian sebelumnya, sampel
biasanya melakukan latihan fisik lebih dari 3 minggu. Namun, sampel pada
penelitian ini hanya melakukan aktifitas fisik selama 3 minggu. Penelitian ini
tidak sesuai dengan rencana yang semula akan dilakukan selama 4 minggu,
karena berdasarkan pertimbangan peneliti dan keterbatasan responden yang
merasa keberatan jika latihan fisik dilakukan selama 4 minggu.
Faktor cuaca juga menjadi keterbatasan pada penelitian ini karena
waktu penelitian pada musim hujan, dan perlakuan aktivitas lari 12 menit
dilakukan di luar ruangan.