Anda di halaman 1dari 35

1

BAB I
PENDAHULUAN


Pada bab ini akan dijelaskan mengenai hal-hal yang melatar belakangi
penulisan laporan ini, disertai dengan tujuan dan sasaran, ruang lingkup penulisan,
serta sistematika penulisan.
1.1 Latar Belakang
Undang-Undang No. 26 Tahun 2007 tentang Penataan Ruang, Pasal 5 ayat (2)
adalah landasan hukum bagi penataan lingkungan fisik (geologi). Dalam ayat
tersebut dijelaskan bahwa penataan ruang berdasarkan fungsi utama kawasan yang
terdiri atas kawasan lindung dan kawasan budidaya. Pengertian kedua kawasan
tersebut kemudian dijelaskan dalam Pasal 1 no. 21 dan 22, yakni kawasan lindung
adalah wilayah yang ditetapkan dengan fungsi utama melindungi kelestarian
lingkungan hidup yang mencakup sumber daya alam dan sumber daya buatan.
Sedangkan kawasan budi daya adalah wilayah yang ditetapkan dengan fungsi utama
untuk dibudi dayakan atas dasar kondisi dan potensi sumber daya alam, sumber
daya manusia, dan sumber daya buatan.

Dalam Peraturan Pemerintah No. 26 Tahun 2008 tentang Rencana Tata Ruang
Wilayah Nasional dijelaskan bahwa kawasan lindung geologi merupakan bagian dari
kawasan lindung nasional. Pada pasal 53 dijelaskan kawasan rawan bencana
merupakan bagian dari kawasan lindung geologi.

Kaitan Penataan Ruang dengan Undang-Undang RI No. 24 Tahun 2007 tentang
penanggulangan bencana dijelaskan pada pasal 35 huruf f mengenai pelaksanaan
dan penegakan rencana tata ruang dan dalam pasal 38 huruf d tentang penataan
ruang dan pengelolaan lingkungan hidup. Pasal 1 dijelaskan bahwa bencana adalah




2
peristiwa atau rangkaian peristiwa yang mengancam dan mengganggu kehidupan
dan penghidupan masyarakat yang disebabkan baik oleh faktor alam dan/atau
faktor non-alam maupun faktor manusia sehingga mengakibatkan timbulnya korban
jiwa manusia, kerusakan lingkungan, kerugian harta benda, dan dampak psikologis.
Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral melalui Keputusan Menteri
ESDM No. 1457 K/28/MEM/2000 Tanggal 3 Nopember 2000 tentang Pedoman Teknis
Pengelolaan Lingkungan Di Bidang Pertambangan Dan Energi, salah satunya adalah
tentang Kriteria Tata Ruang Aspek Minyak dan Gas Bumi. Dalam keputusan tersebut
dijelaskan antara lain bahwa untuk sektor migas yang meliputi kegiatan eksplorasi
digunakan kriteria jarak aman bagi operator terhadap kegiatan umum yaitu sejauh
lebih dari 50 meter, sedangkan untuk pemboran eksplorasi digunakan kriteria jarak
aman dari lubang bor terhadap kegiatan umum yaitu sejauh lebih dari 100 meter.

1.2 Tujuan
Tujuan kami membuat laporan ini adalah:
Mengetahui pentingnya pemahaman aspek geologi tata lingkungan
dalam perencanaan wilayah dan kota.
1.3 Ruang Lingkup Penulisan
Ruang lingkup dari penulisan makalah ini terdiri atas ruang lingkup
materi dan ruang lingkup waktu.
i. Ruang Lingkup Materi
Meliputi aspek-aspek fisik dalam perencanaan wilayah dan kota.
ii. Ruang Lingkup Waktu
Pengerjaan makalah ini dimulai pada tanggal 6 Februari 2014 sampai
dengan 7 Februari 2014.

1.4 Sistematika Penulisan




3
Sistematika penulisan laporan praktikum ini adalah sebagai berikut :
Bab I Pendahuluan
Pada bagian pendahuluan, penulis menjelaskan mengenai hal-hal yang
melatar belakangi penulisan laporan ini, disertai dengan perumusan masalah,
tujuan dan sasaran, ruang lingkup penulisan, serta sistematika penulisan.
Bab II Dasar Teori
Pada bab ini, penulis akan memaparkan dasar teori keplanologian dan
tata guna lahan.
Bab III Pembahasan
Pada bab ini, penulis akan menuliskan penerapan dari keterkaitan antar
dasar teori yang telah dipaparkan.
Bab IV Penutup
Pada bab ini, penulis membuat simpulan dari bab-bab sebelumnya
untuk menjawab tujuan penulisan makalah ini.






4
BAB II
KAJIAN TEORI

Pada bab ini akan dipaparkan teori-teori terkait geologi tata lingkungan serta
perencanaan wilayah dan kota/planologi.
2.1 PLANOLOGI
Planologi atau Perencanaan Wilayah dan Kota merupakan perencanaan tata
ruang yang mempelajari perencanaan wilayah dan kota secara menyeluruh.
Perencanaan kota yaitu perencanaan yang hanya berhubungan dengan perkotaan
tanpa terkait dengan daerah lainnya disekitar kota itu karena disini lebih
ditekankan perencanaan tentang tata kota. Sedangkan perencanaan wilayah
mempelajari tentang prencanaan suatu wilayah serta interaksinya terhadap
daerah-daerah lain disekitarnya. Ilmu perencanaan wilayah dan kota merupakan
ilmu terdiri dari berbagai konsep ilmu yang lain. Misalnya, ilmu ekonomi, ilmu
kependudukan, ilmu sosial, dan salah satu yang paling penting yaitu geologi
lingkungan. Ilmu-ilmu tersebut diperlukan agar ilmu perencanaan dapat
dipergunakan secara maksimal sesuai dengan tujuan yang ingin dicapai serta dapat
mendatangkan manfaat bagi masyarakat atau penduduk sebagai subjek dan
sekaligus objek perencanaan. Sehingga perencana dapat merencanakan suatu
wilayah atau kota yang bersih, rapi, indah, aman, dan berwawasan lingkungan.
Menurut Archibugi (2008) berdasarkan penerapan teori perencanaan wilayah
dapat dibagi atas empat komponen yaitu :
Physical Planning (Perencanaan fisik). Perencanan yang perlu dilakukan untuk
merencanakan secara fisik pengembangan wilayah. Muatan perencanaan ini
lebih diarahkan kepada pengaturan tentang bentuk fisik kota dengan jaringan
infrastruktur kota menghubungkan antara beberapa titik simpul aktivitas. Teori
perencanaan ini telah membahas tentang kota dan sub bagian kota secara




3
komprehensif. Dalam perkembangannya teori ini telah memasukkan kajian
tentang aspek lingkungan. Bentuk produk dari perencanaan ini adalah
perencanaan wilayah yang telah dilakukan oleh pemerintah Kota Medan dalam
bentuk master plan (tata ruang, lokasi tempat tinggal, aglomerasi, dan
penggunaan lahan).
Macro-Economic Planning (Perencanaan Ekonomi Makro). Dalam perencanaan
ini berkaitan perencanaan ekonomi wilayah. Mengingat ekonomi wilayah
menggunakan teori yang digunakan sama dengan teori ekonomi makro yang
berkaitan dengan pembangunan ekonomi, pertumbuhan ekonomi, pendapatan,
distribusi pendapatan, tenaga kerja, produktivitas, perdagangan, konsumsi dan
investasi. Perencanaan ekonomi makro wilayah adalah dengan membuat
kebijakan ekonomi wilayah guna merangsang pertumbuhan ekonomi wilayah.
Bentuk produk dari perencanaan ini adalah kebijakan bidang aksesibilitas
lembaga keuangan, kesempatan kerja, tabungan).
Social Planning (Perencanaan Sosial). Perencanaan sosial membahas tentang
pendidikan, kesehatan, integritas sosial, kondisi tempat tinggal dan tempat
kerja, wanita, anak-anak dan masalah kriminal. Perencanaan sosial diarahkan
untuk membuat perencanaan yang menjadi dasar program pembangunan sosial
di daerah. Bentuk produk dari perencanaan ini adalah kebijakan demografis.
Development Planning (Perencanaan Pembangunan). Perencanaan ini berkaitan
dengan perencanaan program pembangunan secara komprehensif guna
mencapai pengembangan wilayah.

Berdasarkan Jabaran di atas, ilmu perencanaan wilayah dan kota secara garis
besar mempunyai dua aspek yang harus dikembangkan, yaitu aspek fisik dan non
fisik. Aspek fisik meliputi klimatologi, morfologi, litologi, stratigrafi, hidrologi,
hidrogeologi, bahaya geologi, dan sumber daya alam. Sedangkan aspek non fisik
meliputi ekonomi, sosial, budaya, politik dan hankam.
Perencanaan tata ruang pada dasarnya mengikuti pendekatan bio-region
dalam penetapan batas wilayah analisisnya. Dengan pendekatan ini, keterkaitan
antara wilayah/kawasan yang direncanakan dengan wilayah/kawasan lain dalam




6
satu sistem ekologi (ekosistem) dianalisia. Analisis ini mencakup pengaruh yang
diterima maupun dampak yang ditimbulkan dari proses pembangunan yang
dilaksankan berdasarkan rencana tata ruang yang disusun. Hal ini secara tegas
telah diatur dalam UU 24/1992 Tentang Penataan Ruang di mana dalam penjelasan
Pasal 21 ayat (1) disebutkan bahwa Rencana Tata Ruang Wilayah Provinsi (RTRWP)
disusun dengan memperhatikan RTRWP lainnya yang berbatasan. Demikian pula
dalam penjelasan Pasal 22 ayat (1) ditegaskan bahwa Rencana Tata Ruang Wilayah
Kabupaten/Kota (RTRWK) disusun dengan memperhatikan RTRWK lainnya yang
berbatasan. Ketentuan tersebut secara langsung mengamanatkan pentingnya
integrasi perencanaan tata ruang antar-daerah yang saling berbatasan, yang besar
kemungkinannya berada dalam satu ekosistem.
Perencanaan tata ruang yang terintegrasi antar-daerah dalam satu ekosistem
dimaksudkan agar keseimbangan (dalam bentuk ruang yang nyaman, produktif, dan
berkelanjutan) dapat diwujudkan dalam satu kesatuan ekosistem, tidak hanya
terbatas pada wilayah yang direncanakan. Pengabaian terhadap priinsip ini akan
mengakibatkan kerusakan lingkungan hidup di wilayah lain, misalnya di wilayah
hilir apabila perencanaan di wilayah hulu tidak memperhatikan dampak yang
ditimbulkan dari implementasi rencana tata ruangnya terhadap wilayah hilir.
Di samping keterpaduan antar-daerah dalam satu ekosistem, perencanaan
tata ruang juga harus disusun dengan memperhatikan daya dukung dan daya
tampung lingkungan, sebagaimana ditegaskan dalam penjelasan Pasal 20 ayat (1),
Pasal 21 ayat (1) dan Pasal 22 ayat (1) UU 24/1992 Tentang Penataan Ruang.
Perhatian terhadap daya dukung dan daya tampung lingkungan dimaksudkan agar
pemanfaatan ruang tidak sampai melampau batas-batas kemampuan lingkungan
hidup dalam mendukung dan menampung aktivitas manusia tanpa mengakibatkan
kerusakan lingkungan. Kemampuan tersebut mencakup kemampuan dalam
menyediakan ruang, kemampuan dalam menyediakan sumberdaya alam, dan
kemampuan untuk melakukan perbaikan kualitas lingkungan apabila terdapat
dampak yang mengganggu keseimbangan ekosistem.
Sebagaimana telah disampaikan pada bagian sebelumnya, rencana tata ruang
juga mencakup arahan pola pemanfaatan ruang untuk kawasan-kawasan berfungsi




7
lindung. Pengaturan arahan pola pemanfaatan ruang untuk kawasan lindung
dimaksudkan agar:
a. Kawasan-kawasan yang memberikan perlindungan terhadap kawasan budidaya
(kawasan yang memberikan perlindungan terhadap kawasan bawahannya)
tetap terjaga keberadaannya, sehingga kawasan budidaya dapat dioptimalkan
untuk memenuhi kebutuhan hidup masyarakat, termasuk kebutuhan bagi
generasi yang akan datang.
b. Kawasan-kawasan yang secara spesifik perlu dilindungi untuk kepentingan
pelestarian flora dan fauna (plasma nuftah), pelestarian warisan budaya
bangsa, pengembangan ilmu pengetahuan, dan kepentingan lainnya dapat
tetap dipertahankan untuk jangka waktu yang tidak terbatas.

Terkait dengan upaya menjamin keberadaan kawasan lindung, dalam
Rancangan Peraturan Pemerintah Tentang Rencana Tata Ruang Wilayah Nasional
telah dirumuskan strategi untuk memelihara dan mewujudkan kelestarian fungsi
lingkungan hidup meliputi:
a. menetapkan kawasan lindung baik di ruang daratan, di ruang lautan dan ruang
udara;
b. mempertahankan luas kawasan berfungsi lindung dalam satu wilayah pulau
pada tingkat sekurang-kurangnya 30% (tigapuluh persen) dari luas pulau
tersebut sesuai dengan kondisi ekosistemnya;
c. mewujudkan dan memelihara kelestarian fungsi lingkungan hidup dan
mencegah timbulnya kerusakan lingkungan hidup melalui perlindungan
kawasan-kawasan di darat, laut, dan udara secara serasi dan selaras;
d. mengembalikan dan meningkatkan fungsi kawasan lindung yang telah menurun
akibat pengembangan kegiatan budidaya dalam rangka mewujudkan dan
memelihara keseimbangan ekosistem wilayah.

Pada paparan di atas disebutkan pentingnya menjaga keseimbangan
ekosistem dalam perencanaan. Ekosistem adalah suatu sistem ekologi yang
terbentuk oleh hubungan timbal balik tak terpisahkan antara makhluk hidup




8
dengan lingkungannya. Ekosistem bisa dikatakan juga suatu tatanan kesatuan
secara utuh dan menyeluruh antara segenap unsur lingkungan hidup yang saling
memengaruhi.
Geologi lingkungan sebagai ilmu terapan dari pengetahuan geologi yang
ditujukan dalam upaya memanfaatkan sumberdaya alam secara efektif dan efisien
guna memenuhi kebutuhan hidup manusia masa kini dan masa mendatang dengan
seminimal mungkin mengurangi dampak lingkungan yang ditimbulkannya. Dengan
kata lain geologi lingkungan dapat diartikan sebagai penerapan informasi geologi
dalam pembangunan terutama untuk meningkatkan kualitas lingkungan dan untuk
meminimalkan degradasi lingkungan sebagai akibat perubahan-perubahan yang
terjadi dari pemanfaatan sumberdaya alam.


2.2 GEOLOGI TATA LINGKUNGAN
Geologi adalah ilmu yang mempelajari susunan, bentuk, sejarah
perkembangan bumi, serta proses - proses yang telah, sedang, dan akan
berlangsung di bumi. Adapun lingkungan, secara umum dapat diartikan sebagai
hubungan antara suatu obyek dengan sekitarnya. Hubungan ini dapat bersifat aktif
maupun pasif, dinamis ataupun statis. Geologi lingkungan pada hakekatnya
merupakan ilmu geologi terapan yang ditujukan sebagai upaya memanfaatkan
sumber daya alam dan energi secara efisien dan efektif untuk memenuhi
kebutuhan perikehidupan manusia pada masa kini dan masa mendatang dengan
mengurangi dampak lingkungan yang ditimbulkannya semaksimal mungkin. Dengan
demikian dapat dikatakan bahwa bumi sebagai suatu obyek yang dipengaruhi oleh
lingkungannya, termasuk didalamnya adalah manusia sebagai salah satu unsur yang
mempengaruhinya.
The Club of Rome berdiri pada tahun 1968, pendirinya adalah Aurelio Pecci,
seorang industriawan Italia. Pada tahun 1972, klub ini menerbitkan buku The
Limits to Growth yang berpengaruh terhadap permasalahan lingkungan dunia.




9
Buku ini memaparkan hasil riset bahwa sumberdaya alam di bumi ini semakin
menipis. Asumsi mereka, hal ini diakibatkan dampak buruk dari pertumbuhan
penduduk dunia. Buku ini merepresentasikan beberapa skenario perubahan untuk
keberlangsungan global berdasarkan model komputer dinamik sistem untuk
mensimulasikan interaksi dari lima subsistem ekonomi global, yaitu: populasi,
produksi pangan, produksi industri, polusi, dan konsumsi sumberdaya alam tak
terbarukan. Buku ini melihat pandangan seseorang akan adanya batasan untuk
tumbuh dan memunculkan tiga pernyataan yang perlu direspons, yaitu: -Kita
telah mendekati batas jumlah manusia yang dapat ditopang oleh bumi. -Bumi
memiliki banyak sumberdaya alam jika kita mempelajari bagaimana cara
mengembangkannya. -Bumi bagaikan sebuah kapal angkasa dengan ruangan dan
sumber daya yang sangat terbatas. Ketiga pernyataan tersebut menjelaskan
bahwa lingkungan memiliki keterbatasan dalam menampung populasi dan
eksploitasi manusia.
Agenda 21 merujuk kepada satu Rancangan Tindakan Global ke arah
pembangunan maju untuk abad ke-21. Agenda ini dihasilkan melalui deklarasi
Earth Summit di Rio de Janeiro, Brazil pada tahun 1992 yang dihadiri oleh 178
buah Negara. Konferensi Rio de Janeiro menghasilkan lima dokumen, yaitu:
a) Deklarasi Rio de Janeiro, tentang Lingkungan Hidup dan Pembangunan (The Rio
de Janeiro Declaration on Environment and Development) juga dikenal
dengan Earth Chapter terdiri atas 27 prinsip yang memacu dan
memprakarsai kerja sama internasional, perlunya pembangunan dilanjutkan
dengan prinsip perlindungan lingkungan, dan perlu adanya analisis mengenai
dampak lingkungan. Deklarasi ini juga mengakui pentingnya peran serta
masyarakat yang tidak hanya dikonsultasi mengenai rencana pembangunan,
tetapi juga ikut serta dalam pengambilan keputusan, serta aktif dalam proses
pelaksanaan dan ikut menikmati hasil pembangunan itu.
b) Tujuan pokok Konvensi ini adalah Stabilisasi konsentrasi gas rumah kaca di
atmosfer pada tingkat yang telah mencegah terjadinya intervensi yang
membahayakan oleh manusia terhadap sistem iklim, yang mengharuskan




10
pengurangan sumber emisi gas seperti CO2, emisi pabrik, transportasi dan
penggunaan energy fosil pada umumnya.
c) tujuannya, yaitu melestarikan dan mendayagunakan secara berkelanjutan
keanekaragaman hayati dan berbagai keuntungan secara adil dan merata dari
hasil pemanfaatan sumber genetika melalui akses terhadap sumber genetika
tersebut, alih teknologi yang relevan, serta pembiayaan yang cukup dan
memadai.
d) Dirancang untuk menjaga dan melakukan pemanfaatan dan pengelolaan
sumber daya hutan global secara berkelanjutan yang bermakna ekonomi dan
keselamatan berbagai jenis biotanya.
e) Agenda 21, sebuah rancangan tentang cara mengupayakan pembangunan yang
berkelanjutan dari segi sosial, ekonomi dan lingkungan hidup.
Pada hakekatnya hubungan antara geologi dan lingkungan tidak dapat
dipisahkan, mengingat permasalahan lingkungan yang muncul sebagai akibat dari
eksploitasi sumber daya alam dan aktifitas manusia lainnya merupakan subyek dan
obyek dari geologi.
Pada awalnya geologi lingkungan merupakan ilmu yang kurang mendapat
perhatian dari para ahli maupun para pembuat kebijakan, namun seiring dengan
waktu, ditandai oleh kerusakan lingkungan yang terjadi dan kelangkaan sumber
daya alam sebagai akibat dari aktifitas manusia yang mengabaikan lingkungannya,
ilmu ini mulai mendapat perhatian dari berbagai pihak.
Dengan kata lain geologi lingkungan dapat diartikan sebagai penerapan
informasi geologi dalam menjembatani antara manusia dan lingkungan, sehingga
pembangunan yang berkelanjutan dan berwawasan lingkungan dapat berjalan
dengan baik.
Ruang lingkup geologi lingkungan mencakup antara lain:
1. Proses proses geologi dan perubahan bentangalam
2. Sumberdaya Geologi (air, mineral, lahan, dan energi)-




11
3. Bahaya geologi (gerakan tanah / longsor, gempabumi, tsunami, gunungapi),
dan
4. Perencanaan tata guna lahan
Sedangkan konsep dasar dalam mempelajari geologi lingkungan ada tujuh,
yaitu:
1. Pada dasarnya bumi merupakan suatu sistem tertutup
2. Bumi yang kita miliki sebagai tempat tinggal yang paling sesuai dengan
kehidupan manusia ini mempunyai sumber daya alam yang terbatas
3. Pada saat ini, proses proses fisik telah mengubah bentangalam, baik secara
alamiah dan buatan, yang telah tersusun selama periode geologi
4. Selalu terjadi proses alam yang membahayakan kehidupan manusia. Oleh
karena itu, bencana alam ini haruslah dikenali dan sedapat mungkin dihindari,
agar kerugian akan rusaknya harta benda dan jatuhnya korban jiwa dapat
diminimalkan
5. Perencanaan tata guna lahan dan tataguna air harus diupayakan seoptimal
mungkin untuk memperoleh keseimbangan antara pertimbangan ekonomi dan
variabel yang nyata, seperti estetika
6. Efek dari penggunaan tanah sifatnya kumulatif, oleh karena itu kita
mempunyai kewajiban untuk menerima dan menanggungnya
7. Komponen dasar dari setiap lingkungan manusia adalah faktor geologi, dan
pemahaman terhadap lingkungannya membutuhkan wawasan dan penafsiran
yang luas terhadap ilmu bumi dan ilmu lain yang berkaitan
Geologi Tata Lingkungan merupakan media dalam penerapan informasi
geologi melalui penataan ruang dalam rangka pengembangan wilayah dan
pengelolaan lingkungan, yaitu memberikan informasi tentang karakteristik
lingkungan geologi suatu lokasi/wilayah berdasarkan keterpaduan dari aspek
sumber daya geologi sebagai faktor pendukung dan aspek bencana geologi sebagai
faktor kendala. Selanjutnya hasil kajian geologi lingkungan menggambarkan tingkat
keleluasaan suatu wilayah untuk dikembangkan.




12
Tingkat keleluasaan (restraint) suatu wilayah untuk dikembangkan pada
dasarnya menggambarkan tingkat kemudahan dalam pengorganisasian ruang
kegiatan maupun pemilihan jenis penggunaan lahan (Indra Badri 2005). Pengertian
keleluasaan yaitu peringkat wilayah yang dapat dikembangkan sebagai kawasan
budi daya dalam arti leluasa dalam pemilahan penggunaan lahan dan mudah dalam
pengorganisasian ruang.
Tersedianya data dan informasi geologi lingkungan dapat dijadikan bahan
masukan dan sekaligus evaluasi terhadap Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW)
Kabupaten/Kota yang sudah ada maupun yang akan disusun terutama berguna
untuk:
Memberi gambaran secara garis besar rekomendasi dalam penggunaan lahan
ditinjau dari geologi lingkungan dan sebagai bahan penyusunan Rencana Tata
Ruang Wilayah (RTRW) Kabupaten/Kota maupun bagi Rencana Tata Ruang
Wilayah (RTRW) Kecamatan.
Memberi gambaran mengenai faktor pendukung dan kendala geologi
lingkungan bagi pembangunan wilayah dan pengelolaan lingkungan secara
keseluruhan.

Penyusunan informasi Geologi Lingkungan dilakukan dengan menggabungkan
informasi dari peta tematik geologi maupun peta non-geologi. Informasi geologi
lingkungan dapat membantu mengatasi permasalahan lingkungan dan upaya
pengelolaannya melalui rekomendasi penggunaan lahan dan juga menyediakan
alternatif pemecahan permasalahannya.

2.2.1. STRUKTUR GEOLOGI
SLrukLur geologl adalah gambaran benLuk arslLekLur baLuan-baLuan penyusunan kerak
buml. AklbaL sedlmenLasl dan deformasl. berdasarkan ke[adlannya, sLrukLur geologl dapaL
dlbedakan men[adl srukLur prlmer & sLrukLur sekunder.




13
SLrukLur prlmer adalah sLrukLur geologl yang LerbenLuk pada saaL pembenLukan
baLuan. Mlsalnya, sLrukLur sedlmen (sllang slur, fluLe casL, dll,), sLrukLur kekar aklbaL
pendlnglnan magma (columnar [olnL dan sheeLlng [olnL), dan sLrukLur perlaplsan.
SLrukLur sekunder adalah sLrukLur geologl yang mempela[arl dan membahas benLuk-
benLuk deformasl kerak buml dan ge[ala-ge[ala penyebab pembenLukannya. ulbedakan
dengan geoLekLonlk aLau LekLonlk, geologl sLrukLur mempunyal ruang llngkup yang leblh
semplL, yang mellpuLl deformasl-deformasl pada lsl cekungan, sedangkan LekLonlk
menyangkuL skala yang leblh luas darl lnl, mlsalnya proses pembenLukan pegunungan
(orgenesa) dsb.
SLrukLur geologl LeruLama mempela[arl sLrukLur-sLrukLur sekunder yang mellpuLl :
kekar (!olnL)
kekar adalah sLrukLur rekahan pada baLuan yang Lldak memperllhaLkan
pergeseran. Pamplr Lldak ada suaLu slngkapan dl muka buml lnl yang Lldak
memperllhaLkan ge[ala rekahan. kekar bukan merupakan ge[ala yang kebeLulan,
LeLapl merupakan hasll kekandasan/kegagalan baLuan aklbaL Legasan (sLress). karena
lLu kekar akan mempunyal slfaL-slfaL yang menuruLl hukum-hukum flslka. SLrukLur
kekar merupakan ge[ala yang pallng umum dl[umpal dan banyak dlpela[arl secara luas
LeLapl merupakan sLrukLur yang pallng sukar unLuk dlanallsa.
8erdasarkan cara LerbenLuknya kekar dapaL dlklaslflkaslkan men[adl kekar
LekLonlk [mlsalnya kekar gerus (shear [olnL) dan kekar Larlk (Lenslon [olnL)}, dan kekar
non LekLonlk, (mlsalnya mudcrack, columnar [olnL dan sheeLlng [olnL).
SLrukLur lnl banyak dlpela[arl karena sangaL berhubungan eraL dengan masalah-
masalah :
a. geologl Leknlk
b. geologl mlnyak buml, LeruLama masalah cadangan dan produksl.
c. geologl unLuk perLambangan, balk dalam hal slsLlm penambangannya maupun
pengerahan Lerhadap benLuk-benLuk mlnerallsasl dll.
ul dalam Leknlk slpll dan perLambangan, masalah kekar merupakan hal yang
sangaL penLlng, karena meraka merupakan [alur-[alur lemah dalam baLuan. kesukaran




14
yang dlhadapl dalam membuaL anallsa sLrukLur lnl LerleLak pada banyaknya slfaL-slfaL
dasar yang dlmlllklnya, arLlnya LerdapaL bukLl-bukLl bahwa rekahan-rekahan lnl dapaL
LerbenLuk pada seLlap wakLu ke[adlan.
umumnya, dalam baLuan sedlmen, kekar dapaL LerbenLuk mulal darl saaL
pengendapan, aLau segera LerbenLuk seLelah pengendapannya, dlmana sedlmen
LersebuL maslh dalam proses kompaksl.
kekar non-LekLonlk, yalLu kekar, yang LerbenLuk bukan karena gaya LekLonlk,
mlsalnya kekar aklbaL pendlnglnan (coollng [olnL) pada baLuan beku, mlsalnya kekar
kolom (columnar [olnLs) aLau dapaL [uga LerbenLuk aklbaL pembebanan, mlsalnya
sheeLlng [olnLs".
SLrukLur kekar dlpela[arl dengan cara sLaLlsLlk, mengukur dan mengelompokkan
nya dalam benLuk dlagram roseL (dlagram bunga) aLau dlagram konLur.
Sesar (laulL)
Sesar adalah rekahan aLau zona rekahan pada baLuan yang Lelah mengalaml
pergeseran sehlngga Ler[adl perplndahan anLara baglan-baglan yang berhadapan,
dengan arah yang se[a[ar dengan bldang paLahan. ergeseran pada sesar blsa Ler[adl
sepan[ang garls lurus yang dlsebuL sesar Lranslasl aLau LerpuLar yang dlnamakan sesar
roLasl. ergeseran-pergeseran lnl mempunyal demensl berklsar anLara beberapa cm
sampal mencapal raLusan km.
8ahan yang hancur aklbaL pergeseran yang LerdapaL pada [alur sesar, dapaL
berupa gouge" yalLu suaLu bahan yang halus karena lumaL aklbaL gerusan dan
breksl sesar" yalLu zona hancuran yang memperllhaLkan orlenLasl fragmen aklbaL
gerusan.
lsLllah-lsLllah penLlng yang berhubungan dengan sesar.
- 8ldang sesar adalah bldang rekahan dlmana Ler[adl pergeseran anLara blok-
blok yang sallng berhadapan. Serlngkall bldang sesar Lercermlnkan secara morfologls
sebagal gawlr sesar"
- Panglng wall adalah blok paLahan yang berada dlbaglan aLas bldang sesar. -
looL wall adalah blok yang ada dlbaglan bawah bldang sesar (gambar 9.1).




13
- 1hrow (loncaLan verLlkal) adalah [arak sllp / separaLlon yang dlukur pada
bldang verLlkal
- Peave (loncaLan horlzonLal) adalah [arak sllp / separaLlon yang dlukur pada
bldang horlzonLal

9.4. LlpaLan
LlpaLan adalah hasll perubahan benLuk aLau volume darl suaLu bahan yang
dlLun[ukkan sebagal lengkungan aLau kumpulan darl lengkungan aklbaL pengaruh suaLu
Legasan (sLress). ada umumnya refleksl pelengkungan dlLun[ukkan pada perlaplsan baLuan
sedlmen aLau follasl baLuan meLamorf.
8eberapa deflnlsl pada sLrukLur llpaLan
- Plnge polnL adalah LlLlk makslmum pelengkungan pada laplsan yang LerllpaL. Carls yang
menghubungkan LlLlk-LlLlk LersebuL, dlsebuL [uga hlnge-llne" aLau axls llne" (sumbu
perllpaLan)
- CresL polnL adalah LlLlk LerLlngl pada llpaLan. Carls yang melalul LlLlk-LlLlk LersebuL
cresLal-llne"
- 1rough polnL dan 1rough llne adalah LlLlk dan garls Lerendah pada llpaLan
- Carls sumbu llpaLan (Axlal llne) adalah perpoLongan anLara bldang sumbu dengan bldang
horlzonLal. (Carls lnl lazlm dlcanLumkan pada peLa geologl).
- Axlal plane (bldang sumbu) adalah bldang yang melalul garls sumbu dan garls pusaL
perllpaLan dan membagl sama besar suduL yang dlbenLuk sayap- sayapnya
- CresLal plane adalah bldang yang melalul cresLal-llne dan pusaL perllpaLan
- Sayap llpaLan (Llmb) adalah baglan sebelah-menyebelah darl slsl llpaLan
- Core adalah pusaL llpaLan

!enls-[enls llpaLan secara umum:
- AnLlklln yalLu llpaLan yang kedua sayaonya mempunyal arah kemlrlngan yang sallng
men[auh.




16
- Slnklln yalLu llpaLan yang kedua sayapnya mempunyal arah kemlrlngan yang sallng
mendekaL.

8erdasarkan poslsl bldang sumbunya, llpaLan dapaL dlklaslflkaslkan men[adl:
- llpaLan Legak
- llpaLan mlrlng
- llpaLan rebah

Secara dlskrlpLlf (berdasarkan poslsl bldang sumbu dan sayap), llpaLan dlklaslflkaslkan
men[adl :
- llpaLan slmeLrl yalLu llpaLan yang kedua sayapnya mempunyal suduL kemlrlngan
- llpaLan aslmeLrl yalLu llpaLan yang kedua sayapnya mempunyal suduL kemlrlngan Lldak
sama besar.





17
BAB III
PEMBAHASAN

Pada bab ini, penulis akan menuliskan penerapan dari keterkaitan antar
dasar teori yang telah dipaparkan.

3.1. ANALISIS ASPEK KEBENCANAAN DALAM PERENCANAAN
Gambar 3.1. Peta Rawan Bencana Tsunami
Banyaknya korban jiwa yang timbul akibat bencana alam yang terjadi
setidaknya telah memberikan pelajaran berharga kepada kita semua terhadap
pentingnya keberadaan ruang yang aman. Ketahanan ruang terhadap ancaman
bencana alam memang tidak akan secara mutlak menghindarkan manusia dari
bahaya maut, tetapi setidaknya akan mengurangi jumlah korban yang menderita




18
akibat dampak bencana tersebut. Oleh karena itu, semua pihak diharapkan mau
dan mampu mempertimbangkan aspek kebencanaan tersebut dalam melaksanakan
segala rutinitasnya. Pemerintah sendiri telah mengeluarkan peraturan perundang-
undangan yang terkait dengan penanggulangan bencana tersebut. Salah satu
instrument yang dinilai cukup strategis perannya dalam upaya meminimalisasi
korban bencana tersebut adalah penataan ruang. Dalam Arah Kebijakan Mitigasi
Bencana Perkotaan yang dikeluarkan oleh Sekretariat Nasional Bakornas PBP, salah
satu dari 10 kebijakan mitigasi bencananya adalah mengevaluasi dan merevisi
Rencana Tata Ruang (terutama Rencana Tata Ruang Kota), dengan
mempertimbangkan aspek mitigasi bencana. Setidaknya ada 2 (dua) jenis program
yang dicanangkan, yaitu: keberadaan sumber-sumber potensi bahaya teknologi
yang terlalu dekat dengan kawasan perumahan.
Untuk daerah yang sudah terbangun : gempa bumi mengevaluasi dan merevisi
pola dan struktur tata ruang untuk menurunkan tingkat resiko sehingga akrab
dengan bencana, yaitu misalnya dengan :

- Peningkatan akses ke kawasan-kawasan kota yang sangat rentan terhadap
bencana.
- Pelaksanaan peremajaan kota dan/atau pembangunan kembali kawasan-
kawasan kumuh sekaligus melengkapi prasarana, sarana dan fasilitas-fasilitas
ketahanan terhadap bencana yang memadai.
- Penambahan Ruang Terbuka (Open Space) yang ada dalam rangka
memfasilitasi terbentuknya fungsi-fungsi integrasi sosial antar semua golongan
masyarakat sekaligus menyiapkan (mencadangkan) sebagai tempat evakuasi,
bila terjadi bencana.
- Pengkajian kembali dan/atau relokasi





19
Untuk daerah yang belum terbangun : mengevaluasi rencana tata ruang yang
ada berdasarkan potensi bahaya yang ada untuk keperluan :

- Pengetatan pengaturan dan integrasi sistem infrastruktur seperti jalan dan
drainase dalam pengembangan lahan dan persyaratan bangunan yang tahan
terhadap jenis bahaya yang ada disekitarnya.
- Pengetatan pengaturan ketentuan lingkungan bangunan seperti Keofisien Dasar
Bangunan (KDB), dan Koefisien Lantai Bangunan (KLB) untuk kawasankawasan
yang berpotensi bahaya alam, seperti gempa & longsor, maupun buatan
seperti kebakaran.
- Optimasi penyediaan prasarana, sarana dan fasilitasfasilitas ketahanan
terhadap potensi bahaya yang ada.
- Pengalokasian dan pencadangan calon tempat-tempat evakuasi (bila terjadi
bencana).
Menurut analisis resiko global oleh Bank Dunia (2009), Indonesia merupakan
salah satu dari 35 negara yang memiliki risiko kematian yang tinggi dari berbagai
bahaya dengan sekitar 40 persen dari populasi yang beresiko. Dengan jumlah
penduduk lebih dari 220 juta jiwa, maka jumlah nominal korban yang beresiko
adalah sekitar 90 juta jiwa. Hal ini disebabkan karena Indonesia terletak di salah
satu area hot spot bencana yang paling aktif. Pada area hot spot beberapa jenis
bencana seperti gempa bumi, tsunami, letusan gunung berapi, banjir, tanah
longsor, kekeringan dan kebakaran hutan sering terjadi. Berdasarkan hasil analisis
resiko global yang dilakukan oleh Bank Dunia tersebut, setidaknya ada 3 (tiga)
kelompok ancaman bencana alam yang dapat menyerang wilayah Indonesia, antara
lain:

1. bencana geologis Indonesia terletak di sabuk gempa bumi (ring of fire) yang
sangat rentan terhadap gempa bumi dan letusan gunung berapi. Daerah yang




20
paling rentan terhadap Untuk daerah yang sudah terbangun : gempa bumi
mengevaluasi dan merevisi pola dan struktur tata ruang untuk menurunkan
tingkat resiko sehingga akrab dengan bencana, yaitu misalnya dengan :
a. Peningkatan akses ke kawasan-kawasan kota yang sangat rentan terhadap
bencana.
b. Pelaksanaan peremajaan kota dan/atau pembangunan kembali kawasan-
kawasan kumuh sekaligus melengkapi prasarana, sarana dan fasilitas-
fasilitas ketahanan terhadap bencana yang memadai.
c. Penambahan Ruang Terbuka (Open Space) yang ada dalam rangka
memfasilitasi terbentuknya fungsi-fungsi integrasi sosial antar semua
golongan masyarakat sekaligus menyiapkan (mencadangkan) sebagai
tempat evakuasi, bila terjadi bencana.
d. Pengkajian kembali dan/atau relokasI kawasan-kawasan di Pulau Sumatera,
Jawa, Bali, Nusa Tenggara, Maluku, Sulawesi dan Papua. Sumatera sendiri
telah menderita lebih dari 15 gempa bumi besar dalam kurun waktu 100
tahun. Indonesia juga memiliki 129 gunung berapi aktif, 70 diantaranya
diklasifikasikan sebagai berbahaya. Pulau Jawa dan Sumatra rawan tanah
longsor karena topografi dan kondisi tanahnya tidak stabil.

2. bencana hidro-meteorologi Rezim curah hujan yang tinggi di wilayah Indonesia
sebelah barat dan zona kering di beberapa province timur tunduk pada
berulangnya bencana banjir dan kekeringan. Dalam abad yang lalu, banjir
telah menjadi bencana yang paling sering untuk Indonesia. Bencana ini sering
menghantam pusat-pusat populasi besar seperti Jakarta (dengan jumlah
penduduk lebih dari 13 juta), Medan (lebih dari 2 juta), dan Bandung (lebih
dari 4 juta).
3. bencana deforestasi dan kebakaran hutan Mus im kemarau yang
berkepanjangan telah meningkatkan terjadinya kebakaran hutan. Tanah hot
spot dan asap kebakaran merupakan episode yang terjadi selama tahun 1980-
an dan 1990-an. Di Kalimantan Timur, hampir 3,5 juta hektar hutan




21
dipengaruhi oleh kekeringan dan kebakaran. Hampir 0,8 juta ha hutan hujan
primer dibakar, dengan dampak yang lebih luas di bekas tebangan dan hutan
sekunder (terutama di sekitar daerah pemukiman). Selain itu, anomali iklim
yang dibawa oleh El Nino juga memicu turunnya curah hujan rata-rata 3,06
persen dan berdampak pada penurunan produksi pangan.
Secara umum, praktek mitigasi dapat dibagi menjadi dua, yaitu mitigasi
struktural dan mitigasi non struktural. Mitigasi struktural berhubungan dengan
usaha-usaha pembangunan konstruksi fisik, sementara mitigasi non struktural
antara lain meliputi perencanaan tata ruang yang disesuaikan dengan kerentanan
wilayahnya dan memberlakukan peraturan (law enforcement) pembangunan.
Rencana Tata Ruang seharusnya memuat visi komunitas lingkungan yang aman.
Menurut Agenda World Habitat 2008, secara umum, langkahlangkah untuk
mengembangkan lingkungan perkotaan yang aman (Saver City Process) adalah :
- Memperkirakan kebutuhan yang harus dikembangkan untuk keselamatan
perkotaan
- Membentuk kerjasama antara berbagai pihak, baik dari pemerintah, swasta
maupun masyarakat
- Memformulasikan dan mengimplementasikan rencana tindak (action plan)
kolaborasi antara berbagai pihak. Rencana ini harus disusun berdasarkan
prioritas, tujuan, indikator, kerangka waktu dan sistem pemantauan. Menurut
Koetter (2003),
Rencana Tata Ruang akan memenuhi kebutuhan terhadap pentingnya
instrument pencegahan resiko dan mitigasi bencana alam, terutama dalam
mendukung elemen-elemen dalam manajemen bencana seperti antara lain Early
Warning System (EWS), Pemetaan dan Penilaian Resiko, Prevensi dan Reduksi,
Manajemen Resiko, dan Rekonstruksi. Oleh karena itu, dalam upaya
mengintegrasikan factor kebencanaan dalam penataan ruang tidak hanya terletak
pada memasukkan data/informasi rawan bencana saja ke dalam tahapan




22
perencanaannya, tetapi juga meliputi aspek pemanfaatan dan pengendalian
pemanfaatan ruang yang harus memperhitungkan manajemen bencana tersebut.
Dengan demikian, maka pemetaan rawan bencana menjadi mutlak untuk
diperlukan dalam merumuskan rencana struktur dan pola ruang. Namun kiranya
perlu dipertimbangkan kajian-kajian kebencanaan, seperti misalnya:
a. kajian kerentanan bencana, yang menilai perbedaan suatu wilayah dengan
kriteria indeks kerentanan tertentu sehingga intensitas kegiatan di dalam
kawasan tersebut akan diatur sedemikian rupa untuk meminimalisasi biaya
resiko yang muncul dari bencana yang datang
b. kajian mitigasi bencana, yang memberikan perlakuan khusus pada bangunan
ataupun lahan yang dinilai layak untuk dijadikan sebagai tempat evakuasi
sementara yang aman, aksesible, dan kapasitas yang cukup
c. Kajian transportasi darurat, yang memberikan arahan jalur distribusi logistik
lain yang tidak menggunakan jalur transportasi yang biasa digunakan.







23
3.2. SARANA AIR BERSIH







Gambar 3.2. Peta Ketersediaan Air Tanah
Air bersih dapat diperoleh dari berbagai sumber, di antaranya : PDAM, air
hujan, mata air, air tanah, dan air permukaan.
A. PDAM
Air dari PDAM merupakan air yang termasuk dapat dikonsumsi secara
langsung untuk kebutuhan sehari-hari, misalnya untuk masak, mandi, mencuci,
serta keperluan lainnya. Kecuali untuk keperluan lainnya, air PDAM yang akan
diminum harus direbus dahulu. Namun air PDAM ini kadang belum tersedia di
berbagai tempat.
B. Air Hujan
Air hujan adalah air murni yang berasal dari sublimasi uap air di udara
yang ketika turun melarutkan benda-benda di udara yang dapat mengotori dan
mencemari air hujan, seperti: gas (O2, CO2, N2, dll), jasad renik, debu,
kotoran burung, dan lainnya. Cara mendapatkan air hujan ini yaitu dengan
menampung air hujan dari talang/genteng rumah ke dalam bak penampungan.
Di dalam air hujan ini terkandung bahan-bahan pengotor dan pencemar yang
dapat berasal dari udara dan/atau dari talang/genteng, sehingga untuk
menghindarinya, pada saat awal penampungan air hujan, 15 menit setelah




24
hujan turun di bawah talang diberi saringan dari ijuk/kerikil/pasir. Seperti
halnya air PDAM, sebelum diminum air hujan harus dimasak dahulu. Bangunan
penangkap air hujan terdiri dari suatu permukaan miring menuju tangki
reservoir. Seluruh bangunan dari sistem ini harus bersih dan bebas dari
tumbuhan, terutama bila bangunan penangkap ini sama tingginya dengan
permukaan tanah. Sistem ini harus mempunyai peralatan untuk membelokkan
air yang tidak menuju tangki, sehingga pada saat hujan pertama, air dapat
dibuang. Air hujan dapat mengalir melalui permukaan sisa tanaman bangunan
penangkap, maka bisa terjadi pengotoran debu, sisa tanaman, kotoran
binatang, dan lain-lain. Walaupun air yang mengalir pada permukaan turun
hujan dapat memberikan debu yang kemudian dibuang, tapi air yang ditampung
masih mungkin mengandung bahan padat yang halus. Saringan pasir lambat
atau saringan pasir cepat sederhana cukup dapat mengatasi masalah ini.
Biasanya air reservoir mengalir melalui saringan menuju sistem distribusi atau
dengan alaternatif lain saringan pasir diletakkan sebelum reservoir.
C. Mata Air
Air mata air berasal dari air hujan yang masuk meresap ke dalam tanah
dan muncul ke luar tanah kembali karena kondisi batuan geologis di dalam
tanah. Kondisi geologis mempengaruhi kualitas air mata air. Pada umumnya
kualitas air mata air baik dan bisa digunakan untuk keperluan sehari-hari,
tetapi untuk digunakan sebagai air minum, harus dimasak terlebih dahulu. Mata
air seringkali ditemukan di daerah pegunungan atau perbukitan.
Berdasarkan terjadi aliran air, mata air dapat dikelompokkan ke dalam 4
jenis aliran, yaitu sebagai berikut (Departemen Permukiman dan Prasarana
Wilayah, 2003) :
! Aliran artesis terpusat, adalah mata air yang terjadi karena adanya tekanan
hidrolis dan pemunculan air ke permukaan tanah secara terpusat
! Aliran artesis tersebar adalah mata air yang terjadi karena adanya tekanan
hidrolis dan pemunculan air ke permukaan tanah secara tersebar




23
! Aliran artesis vertikal adalah mata air yang terjadi karena tekanan hidrolis
dan pemunculan air ke permukaan tanah melalui celah tegak lurus lapisan
kedap air
! Aliran gravitasi kontak adalah mata air yang terjadi akibat terhalang lapisan
kedap air sehingga air naik ke permukaan
Untuk memperoleh air yang berasal dari mata air, dapat dibuat bangunan
Penangkap Mata Air (PMA). Bangunan PMA adalah bangunan untuk menangkap
dan melindungi mata air terhadap pencemaran serta dapat juga dilengkapi
dengan bak penampung. Gambar 4 dan 5 menggambarkan skema sistem PMA
secara gravitasi dan pompa.


Gambar 3.3. Sistem PMA Gravitasi

Gambar 3.4. Sistem PMA Pompa





26
D. Air tanah











Gambar3.5. Siklus Hidrologi
Air tanah berasal dari air hujan yang meresap dan tertahan di dalam bumi.
Air tanah dapat dibagi menjadi air tanah dangkal dan air tanah dalam. Cara
untuk mendapatkan air tanah yaitu dengan mengebor atau menggali.
Beberapa jenis sumur untuk mendapatkan air tanah, antara lain sebagai
berikut :
a. Sumur Gali
Sarana untuk menyadap dan menampung air tanah yang digunakan
sebagai sumber air baku untuk air bersih. Sumur gali merupakan salah satu
konstruksi sumur yang paling umum dan meluas dipergunakan oleh
masyarakat kecil dan rumah-rumah perorangan.. Sumur gali menyediakan
air yang berasal dari lapisan air tanah yang relatif dekat dari tanah
permukaan sehingga dengan mudah dapat terkena kontaminasi melalui
rembesan. Kontaminasi paling umum adalah karena terkena penapisan air
dari sarana pembuangan kotoran manusia dan binatang. Untuk membangun
sumur gali, perlu diperhatikan syarat-syarat sebagai berikut (Departemen
Permukiman dan Prasarana Wilayah, 2003) :




27
! Sumur gali tidak boleh dibangun di lokasi bekas pembuangan sampah
! Jarak minimum lokasi sumur gali dengan sumber pencemar seperti
cubluk, tangki septik, dll adalah 10 meter
! Mudah dijangkau/tidak terlalu jauh dari rumah
! Penentuan lokasi yang layak untuk sumur yang akan digunakan oleh
beberapa keluarga harus dimusyawarahkan terlebih dahulu
! Sumur gali dilengkapi dengan saluran pembuangan untuk mencegah
terjadinya genangan air di sekitar sumur.
b. Sumur Pompa Tangan
Sarana untuk mendapatkan air tanah dengan cara mengebor dan
menaikkan airnya menggunakan pompa dengan bantuan tenaga tangan
manusia. Umumnya air tanah bebas dari pengotoran mikrobiologi dan
dapat dipergunakan sebagai air minum bila sumur semacam ini beserta
pompanya dibangun, maka harus dibuat bangunan perlindungan casing
pompa dan harus menonjol ke atas 30 cm dari permukaan tanah dan 3 m
ke arah bawah. Berdasarkan kedalamannya, sumur pompa tangan terdiri
dari 3 jenis, yaitu sebagai berikut (Departemen Permukiman dan Prasarana
Wilayah, 2003):
! SPT dangkal, yaitu lubang sumur dengan kedalaman muka air minimal 7
meter dari permukaan tanah serta kedalaman dasar pada umumnya
antara 12 15 meter.
! SPT sedang, yaitu lubang sumur dengan kedalaman muka air minimal 7
meter dari permukaan tanah serta kedalaman dasar pada umumnya
antara 15 30 meter.
! SPT dalam, yaitu lubang sumur dengan kedalaman muka air minimal 7
meter dari permukaan tanah serta kedalaman dasar pada umumnya
lebih dari 30 meter.




28
c. Sumur Pompa Listrik
Sarana mendapatkan air tanah dengan cara mengebor dan
menaikkan airnya dengan dipompa dengan tenaga listrik.

E. Air permukaan
Seperti air sungai, air rawa, air danau, air irigasi, air laut dan sebagainya
merupakan sumber air yang dapat dipakai sebagai air bersih dan air minum
tetapi masih memerlukan pengolahan lebih lanjut. Air permukaan sifatnya
sangat mudah terkotori dan tercemar oleh bahan pengotor dan pencemar yang
mengapung, melayang, mengendap dan melarut di air permukaan. Karena
sifatnya yang demikian, maka sebelum diminum air permukaan perlu diolah
terlebih dahulu sampai benar-benar aman dan memenuhi syarat sebagai air
bersih atau air minum.

Kondisi daerah resapan (recharge area) sangat berpengaruh terhadap debit
mata air dan kualitas airnya. Tata guna lahan pada daerah resapan berpengaruh
langsung terhadap bagian air hujan yang masuk ke dalam tanah sebagai aliran air
tanah (sumber mata air). Beberapa daerah pada pulau jawa telah mengalami
kerusakan mengkhawatirkan. Beberapa di antaranya telah mengalami penurunan
debit bila dibandingkan dengan kondisi tahun 1970an. Apabila tidak ada upaya
pengendalian kerusakan ekosistem mata air, maka dapat dipastikan bahwa
pemanfaatan mata air di masa mendatang akan terganggu. Penurunan / hilangnya
debit mata air juga berarti kerusakan ekosistem mata air secara keseluruhan
sebagai salah satu ekosistem lahan basah.
Dalam upaya pemanfaatan mata air secara optimal dan berkelanjutan,
diperlukan langkah-langkah yang tepat, meliputi perumusan strategi dan
penyusunan program pengelolaan mata air serta dukungan kelembagaan yang
memadai. Pengelolaan mata air dan pengendalian kerusakan ekosistem mata air




29
meliputi kegiatan : Inventarisasi potensi mata air, pendayagunaan mata air,
perizinan, pengawasan dan pemantauan, serta konservasi ekosistem mata air.
a. Inventarisasi potensi mata air
Kegiatan inventarisasi potensi mata air meliputi kegiatan pemetaan,
penyelidikan serta pengumpulan data dan evaluasi potensi mata air yang
mencakup sebaran lokasi mata air dan lapisan akifer, daerah resapan
(recharge area) dan daerah lepasan/pemanfaatan (discharge area), debit
mata air dan kualitas air, debit penurapan mata air dan jenis
pemanfaatannya, serta data lain yang berkaitan dengan ekosistem mata air.
Sebaran lokasi mata air mencakup data letak geografis, elevasi dan
letak administrasi, sedangkan jenis mata air diidentifikasi berdasarkan
lapisan akifer, sehingga lokasi mata air dapat dengan mudah ditelusuri untuk
keperluan pendayagunaan maupun pengendalian kerusakannya.
Delineasi daerah resapan (recharge area) perlu dilakukan untuk
mengetahui secara pasti batasan wilayah yang harus dilindungi atau dikelola
untuk mempertahankan debit dan kualitas air serta menjaga keberlanjutan
pendayagunaan mata air.
Data debit penurapan mata air perlu dibandingkan dengan debit mata
air secara alamiah, sehingga diketahui efisiensi pemanfaatan mata air untuk
memenuhi kebutuhan air domestik, industri, PLTA, pertanian atau perikanan,
dan peruntukan lainnya.
Data lain yang berkaitan dengan ekosistem mata air antara lain
meliputi tata guna lahan dan keanekaragaman hayati di wilayah:
a) Sekitar (radius 200 meter) lokasi mata air.
b) Daerah resapan (recharge area).
c) Daerah lepasan/pemanfaatan (discharge area).





30
b. Pendayagunaan Mata Air
Perencanaan pemanfaatan mata air untuk memenuhi kebutuhan
tertentu harus dilakukan dengan mempertimbangkan:
a) Kebutuhan mata air jangka panjang, berdasarkan kondisi pemanfaatan
yang telah ada dan rencana pengembangan mata air di masa
mendatang, sehingga dapat didayagunakan secara berkelanjutan.
b) Debit mata air yang keluar secara alamiah, yang ditangkap dengan
teknis penurapan yang benar.
c) Kemanfaatan untuk masyarakat, dengan pengertian bahwa selain
manfaat finansial, pemanfaatan mata air juga harus tetap memberikan
manfaat sosial, khususnya masyarakat yang telah memperoleh manfaat
sebelum mata air dikembangkan.
d) Konservasi daerah resapan, untuk menjamin keberlanjutan
pemanfaatan mata air.
Sesuai dengan peraturan pemerintah (PP) No 22 tahun 1982 tentang tata
pengaturan air, maka urutan prioritas peruntukan pemanfaatan mata air adalah
sebagai berikut :
1. Air minum
2. Rumah tangga
3. Peternakan& pertanian sederhana
4. Industri
5. Irigasi
6. Pertambangan
7. Usaha perkotaan
8. Untuk kepentingan lain.
Pendayagunaan mata air meliputi kegiatan perencanaan, desain teknis dan
konstruksi penurapan mata air. Setiap tahap pendayagunaan mata air ini harus
dilakukan dengan mengikuti petunjuk teknis penurapan mata air yang ditetapkan
oleh lembaga yang berkompeten.




31
Kegiatan perencanaan pemanfaatan mata air dilakukan sebagai dasar untuk
pendayagunaan mata air pada suatu satuan wilayah sebaran mata air tertentu.
Perencanaan pemanfaatan ini harus dibuat berdasarkan data inventarisasi dan
evaluasi potensi mata air.
Desain teknis dan konstruksi penurapan mata air mencakup bangunan-
bangunan penangkap mata air (bron capturing), jaringan transmisi, reservoir
distribusi, dan jaringan distribusi. Desain dan konstruksi ini harus
memperhitungkan debit aliran secara alamiah, dalam arti tidak dilakukan dengan
rekayasa teknik (dengan melakukan pemompaan atau pemboran) untuk
meningkatkan debit penurapan dengan mengubah cara pemunculannya. Debit
maksimum penurapan mata air ditentukan dengan pertimbangan :
" Tidak melebihi debit minimum mata air yang keluar secara alamiah
dikurangi dengan debit pemanfaatan yang telah ada sebelumnya.

3.3. TPA SANITARY LANDFILL
Pada saat ini TPA sampah di kota-kota besar masih banyak yang menerapkan
sistem open dumping, yaitu sampah ditimbun begitu saja di lokasi TPA tanpa
dilengkapi dengan sistem pengendalian gas yang dihasilkan oleh timbunan sampah.
Akan tetapi, dengan adanya Undang-Undang No. 18 Tahun 2008 tentang
pengelolaan sampah, yang menyatakan bahwa pengelolaan sampah bertujuan
untuk meningkatkan kesehatan masyarakat dan kualitas lingkungan serta
menjadikan sampah sebagai sumberdaya,. Sebagian besar lokasi TPA yang baru
dibangun, diwajibkan menggunakan sistem sanitary landfill dalam pengelolaannya.
Gas metan yang dihasilkan dari sistem sanitary landfill dapat dimanfaatkan untuk
bahan bakar pembangkit listrik (waste to energy).
Potensi sampah untuk energi listrik cukup menjanjikan. Data statistik
persampahan Indonesia pada tahun 2008 menunjukkan 26 kota besar di Indonesia




32
menghasilkan 23.204 ton sampah perhari, dengan persentase sampah organik
sebesar 58 % atau setara dengan 278,71 MW.
TPA Suwung di Denpasar Bali telah memanfaatkan gas metan untuk bahan
bakar pembangkit listrik dengan kapasitas terpasang 4 MW yang dioperasikan oleh
PT. Navigat Organic Energi Indonesia. (PT. NOEI). Sumber gas yang dimanfaatkan
berasal dari TPA open dumping yang telah ditutup dengan timbunan tanah
(temporary landfill ) dan dari landfill cell. Sampah yang diolah dari landfill cell
berasal dari empat kabupaten dengan volume sampah sebesar 800 ton atau 2400
m3 perhari. Teknologi yang digunakan adalah teknologi Galfad (Gasifikasi Sampah
Landfill dan Anaerobik Digester).
TPA lain yang menggunakan sistem sanitary landfill dan akan memanfaatkan
sampahnya sebagai sumberdaya adalah TPA Kebun Kongok Mataram dan TPA
Bengkala Singaraja. Untuk TPA Kebun Kongok, sampah yang dibuang ke TPA
tersebut sebesar 358 ton/hari, diperkirakan listrik yang dapat diproduksi kurang
lebih 4 MW.Pada tahun 2010 kegiatan meliputi pembangunan pilot project
pembangkit listrik gas landfill, di TPA Bengkala Singaraja dan penelitian teknologi
produksi gas metan pada TPA IPST Sarbagita, Denpasar dan Bengkala, Singaraja.
Pembangunan pilot project tidak terlaksana. Anggaran untuk pembangunan
tersebut diblokir dan setelah blokir dibuka, anggaran di bawah pagu sehingga
rencana pembangunan direvisi dengan mengurangi lingkup pekerjaan, yaitu
pembangunan landfill cell ditunda. Namun kegiatan ini tidak terlaksana juga
karena gagal lelang.
Metodologi yang digunakan dalam penelitian ini meliputi pengumpulan data
primer dan sekunder serta analisis data.
Dari hasil penelitian gas metan menggunakan komposisi yang berbeda dan
teknologi yang berbeda, komposisi gas metan yang terbesar adalah berasal dari
kompogas yaitu sebesar 60 %. Di samping itu tidak terdapat kandungan O2 di dalam
komposisi gas tersebut sehingga tidak terjadi pembakaran yang dapat
menyebabkan hilangnya gas metan. Reaktor untuk proses produksi cukup rapat
biasanya terbuat dari besi / stainless steel sehingga tidak terjadi kebocoran gas
metan. Sedangkan gas metan dari landfill cell berdasarkan teori seharusnya




33
komposisi gas metan bisa mencapai 50 persen atau lebih, namun yang dihasilkan
dan komposisinya hanya 33.23 persen. Hal ini disebabkan karena terjadi kebocoran
pada dinding cell dan penutup, sehingga banyak gas metan yang terbang ke udara.
Demikian pula halnya dengan teknologi sanitary landfill, secara teori seharusnya
komposisi gas metan bisa mencapai 50 persen atau lebih namun pada penelitian ini
komposisi gas metan dengan teknologi ini hanya 28.28 persen. Hal ini terjadi
karena penutup tanah pada lapisan atas terjadi perengkahan karena musim
kemarau dan beberapa sumur ada yang bocor sehinga gas metan terbang ke
udara.Pemilihan teknologi tergantung pada tujuannya, artinya apakah gas yang
dihasilkan untuk mensuplai pembangkit listrik skala kecil atau skala besar dan
apakah lokasi TPA yang tersedia cukup luas atau sempit.



Tabel 3.1. Kekurangan dan kelebihan teknologi sanitary landfill, landfill cell dan
kompogas

Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan, problema yang sering dihadapi
oleh PLTG Sampah adalah kontinyuitas produksi gas metan. Teknologi yang paling
optimal dalam memproduksi gas metan adalah kompogas dengan komposisi gas
metan sebesar 60 %. Di samping itu mudah pemeliharaannya dan tidak memerlukan
tenaga kerja yang banyak.
Pada teknologi landfill cell terjadi infiltrasi O2 ke dalam sel karena terdapat
kebocoran pada dinding dan penutup sehingga menurunkan komposisi gas metan
menjadi 33.23 %. Pada teknologi sanitary landfill saat musim kemarau terjadi
perengkahan tanah penutup sehingga terjadi kebocoran yang menyebabkan gas
terbang keluar sehingga komposisi gas metan menjadi kecil yaitu 28.28 %.




34
BAB IV
PENUTUP

Pada bab ini, penulis membuat simpulan dari bab-bab sebelumnya untuk
menjawab tujuan penulisan makalah ini.

4.1. SIMPULAN
Pada kenyataannya pemahaman dan pengetahuan seorang planner mengenai
ilmu geologi tata lingkungan sangat menentukan keberhasilan dan efektifitas
wilayah/kota yang dibangun berdasarkan rencana pembangunan yang telah
dibuatnya. Maka dari itu, materi ini penting untuk dipelajari agar tidak terjadi
kesalahan dalam penentuan lokasi pembangunan, tidak merusak keseimbangan
ekosistem, dan sebagainya.






33
DAFTAR PUSTAKA

! http://pag.bgl.esdm.go.id/?q=content/geologi-lingkungan-untuk-penataan-
ruang
http://pag.bgl.esdm.go.id/?q=content/penentuan-mata-air-prioritas-untuk-
penyediaan-air-bersih-di-kecamatan-todanankabupaten-blora
http://www.rekompakjrf.org/download/Pedoman%20Desain%20Penyediaan%
20Air%20Bersih(26-4-10).pdf
http://lingkungangeologi.blogspot.com/