Anda di halaman 1dari 21

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Perkembangan industri di Indonesia membawa dampak positif bagi
perekonomian penduduk Indonesia serta dampak negatif yang menyebabkan adanya
penurunan kualitas lingkungan. Penurunan ini salah satunya terjadi karena peran dari
limbah industri. Salah satu masalah di Indonesia yang harus diolah secara tepat
adalah pencemaran air. Pencemaran ini dapat disebabkan karena limbah yang berasal
dari industri fotografi yang umumnya mengandung logam berat utama yaitu perak
(Ag).
Perak (Ag) merupakan salah satu logam yang sangat penting namun
keberadaannya di alam sangat terbatas. Perak (Ag) menjadi komoditas utama dalam
kebutuhan industri contohnya dalam industri fotografi, Pemeriksaan (Scanning) X-
ray, industri pertambangan, industri elektroplating dan industri lainnya. Disamping
kegunaannya yang melimpah, logam Ag dapat menjadi sumber masalah jika
dibiarkan dalam lingkungan. Dari berbagai industri yang membutuhkan logam Ag,
limbah fotografi menjadi salah satu masalah yang berhubungan dengan keberadaan
logam ini. Limbah X-ray atau film fotografi mengandung perak hitam metalik
tersebar di gelatin, dan limbah ini dipercaya sebagai sumber yang baik dalam proses
recovery logam Ag (Shankar, 2010). Jumlah perak dalam X-ray film yaitu sekitar 1.5
sampai 2.0%. Selama ini telah diketahui bahwa 25% kebutuhan perak disuplai oleh
pendaurulangan limbah, dengan 75% adalah limbah fotografi. (Shankar, 2010).
Limbah fotografi X-ray biasanya sangat mudah dijumpai di Rumah Sakit.
Salah satu Rumah Sakit yang memiliki masalah dengan limbah fotografi film adalah
RSUP Dr. Sardjito di Yogyakarta. Hasil uji Laboratorium Balai Besar Teknik
Kesehatan Lingkungan dan Pemberantasan Penyakit Menular (BBTKL PPM)
Yogyakarta pada bulan Maret April 2008 ternyata kandungan perak limbah cair
film foto rontgen RSUP Dr. Sardjito sebesar 2532,1 mg/l sehingga melebihi ambang
batas yang disyaratkan. Limbah cair ini dikategorikan dalam B3 (Bahan Beracun dan
Berbahaya) yaitu kandungan logam berat perak dan karakteristik limbah yang
beracun, sehingga perlu dilakukan pengolahan yang dapat menghilangkan atau
mengurangi sifat bahaya, tidak membahayakan kesehatan manusia dan mencegah
terjadinya pencemaran lingkungan. Berdasarkan Peraturan Pemerintah Republik
Indonesia No.85 tahun 1999 tentang baku mutu TCLP (Toxicity Characteristic
Leaching Prosedure) pencemar dalam limbah untuk penentuan karakteristik sifat
racun, kandungan perak (Ag) yang diperbolehkan sebesar 5,0 mg/l.
Beberapa metode recovery logam Ag telah digunakan seperti flokulasi
presipitasi, penukar ion dan reverse osmosis (Modi, 2012). Namun metode tersebut
cukup mahal dan kurang efisien, serta membutuhkan perlakuan lebih lanjut terhadap
logam dan material yang telah digunakan. Salah satu kelemahan metode flokulasi
diantaranya adalah penggunaan bahan kimia yang terlalu banyak dan terbentuknya
sludge yang dapat menjadi limbah B3 (bahan berbahaya dan beracun). Di Indonesia,
limbah yang digolongkan sebagai B3 adalah sludge industri tekstil dan industri zat
warna yang penanganannya memerlukan cara-cara khusus (BAPEDAL, 1996).
Pertukaran ion dapat digunakan dalam pengolahan limbah ini. Kelemahan metode ini
kompleks yaitu memerlukan proses lebih lanjut untuk mengendapkan dan membuang
logam dari limbah plating tersebut. Selain itu, proses ini membutuhkan biaya mahal.
Metode lain seperti filtrasi membran juga mempunyai kelemahan, yaitu terjadinya
fouling, proses terakumulasinya komponen secara permanen akibat filtrasi itu sendiri.
Fouling terjadi akibat interaksi yang sangat spesifik secara fisik dan kimia antara
berbagai padatan terlarut pada membran. Saat ini limbah fotografi film khususnya di
Rumah Sakit belum teratasi dengan baik dan adanya fasilitas pengolahan limbah yang
minim. Salah satu metode yang dapat digunakan adalah adsorpsi menggunakan
limbah organik sehingga keberadaannya tidak mengganggu keseimbangan
lingkungan.
Limbah organik yang dapat digunakan sebagai penyerap logam berat Ag
adalah tulang ayam, di mana pada umumnya limbah tulang ayam hanya digunakan
sebagai pupuk dan selebihnya dibuang tanpa pengolahan lebih lanjut. Tulang ayam
sangat berpotensi dalam mengurangi pencemaran akibat logam berat karena terdiri
dari matriks ekstraseluler yang tersusun atas fasa organik dan anorganik berupa
kristal hidroksiapatit yang berpotensi sebagai adsorben untuk pengolahan limbah cair
yang mengandung perak (Ag) (Chojnacka, 2008). Serbuk tulang ayam yang telah
digunakan sebagai penyerap logam Ag didesorpsi dan dilakukan proses recovery
pada adsorben setelah proses tersebut. Recovery adsorben dapat meningkatkan nilai
ekonomi dan efisiensi adsorben.
Penanganan dalam masalah kualitas air yang kurang memuaskan serta
tingginya semakin banyaknya limbah perak yang dihasilkan saat ini sering membuat
kondisi lingkungan sekitar semakin memburuk dan. Oleh karena itu, pemanfaatan
potensi tulang ayam ini akan sangat membantu dalam penanggulangan masalah
kualitas air yang saat ini mulai marak. Hasil penelitian ini diharapkan dapat
memperbaiki kualitas air yang tercemar limbah fotografi sebelum digunakan dalam
kehidupan sehari-hari.
B. Rumusan Masalah
Limbah fotografi x-ray rumah sakit banyak mengandung perak (Ag) yang
dapat menyebabkan pencemaran lingkungan dan mempengaruhi kesehatan makhluk
hidup pada akhirnya. Beberapa metode telah digunakan untuk mengolah limbah
tersebut seperti koagulasi dengan FeCl
3
namun sludge hasil koagulasi dapat
menimbulkan limbah baru yang perlu mendapat penanganan lebih lanjut. Sistem
ATRS berpotensi menjadi alternatif penanggulangan limbah fotografi rumah sakit
khususnya pencemaran oleh logam berat Ag dan recovery hasil adsorpsi yang
sebelumnya belum pernah dilakukan. Perolehan kembali Ag dengan desorpsi dari
adsorben yang telah diaplikasikan pada limbah mampu meningkatkan nilai guna Ag
dan meminimalisir adanya limbah baru sehingga penelitian ini perlu dilakukan.
C. Tujuan
Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji penggunaan limbah tulang ayam
sebagai adsorben dalam penanganan masalah limbah fotografi di RSUP Dr. Sardjito
Yogyakarta sehingga pencemaran lingkungan air dapat teratasi serta memperoleh
kembali perak (Ag) dari adsorben sehingga dapat digunakan dalam keperluan lain dan
meminimalisasi limbah baru akibat penyerapan Ag pada tulang ayam.
D. Manfaat Penulisan
Berdasarkan tujuan penulisan karya tulis tersebut yaitu menangani masalah
pencemaran lingkungan air akibat limbah fotografi menggunakan tulang ayam dan
memperoleh kembali perak yang terserap, penulisan karya tulis ini bermanfaat untuk
memperoleh kondisi optimum adsorben tulang ayam agar dapat menyerap perak
secara maksimum.
E. Sistematika Penulisan
Halaman Judul
Abstrak
Kata Pengantar
Daftar Isi
Daftar Gambar
BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
B. Rumusan Masalah
C. Tujuan
D. Manfaat
E. Sistematika Penulisan
BAB II TINJAUAN PUSTAKA
A. Limbah Rumah Sakit
B. Adsorpsi
C. Desorpsi
D. Tulang Ayam
E. Hidroksiapatit
F. Argentum Nitrat (AgNO
3
)
G. Spektrofotometri Serapan Atom (AAS)
H. Fourrier Transform Infrared Radiance (FTIR)
BAB III METODE PENULISAN
A. Pendekatan Penulisan
B. Sumber Penulisan
C. Sasaran Penulisan
D. Tahapan Penulisan
BAB IV PEMBAHASAN
BAB V PENUTUP
A. Kesimpulan
B. Saran
Daftar Pustaka
Lampiran


BAB II
ARGENTUM-I ON TREATMENT AND RECOVERY SYSTEM:
POTENSI DAYA GUNA TULANG AYAM SEBAGAI ADSORBEN ION Ag+
DALAM PENANGGULANGAN LIMBAH FOTOGRAFI RUMAH SAKIT

A. Limbah Fotografi Rumah Sakit
Foto rontgen merupakan suatu teknik yang digunakan untuk mencitrakan
organ suatu jaringan yang terdapat di dalam tubuh tanpa membuat sayatan atau
menimbulkan luka (non-inasive). Foto rontgen disediakan di beberapa rumah sakit
sebagai medical imaging facility. Perak terdapat dengan kadar yang tinggi pada film
negatif yang memiliki kepekatan warna hitam yang menyeluruh pada lapisan film dan
ditandai dengan sedikitnya tingkat transparansi jika diamati secara kualitatif.
Berdasarkan Peraturan Pemerintah Republik Indonesia No. 85 tahun 1999
mengenai baku mutu TCLP (Toxicity Characteristic Leaching Procedur) pencemar
dalam limbah untuk penentuan karakteristik sifatracun, kandungan perak yang
diperbolehkan adalah 5,0 mg/L.
B. Adsorpsi
Adsorpsi atau penyerapan adalah pembentukan lapisan gas pada permukaan
padatan atau kadang-kadang cairan. Dalam proses adsorpsi ada zat yang terserap pada
suatu permukaan zat lain yang disebut adsorbat, sedangkan zat yang permukaannya
dapat menyerap zat lain disebut adsorben (Daintith, 1994). Adsorpsi meliputi
interaksi dari suatu zat dengan permukaan suatu adsorben. Proses adsorpsi
berlangsung antara dua fasa, yakni cair-cair, gas-padatan, gas-cair, ataupun cair-
padatan. Material yang diadsorpsi disebut absorbat dan material yang mengadsorpsi
disebut absorben (Weber, 1972).
Adsorpsi adalah peristiwa penyerapan suatu zat kedalam atau permukaan
adsorben. Menurut Underwood (1992), nilai suatu adsorben tergantung pada hal-hal
berikut ini :
a. Luas permukaan
b. Temperatur
c. Konsentrasi adsorben dan adsorbat
d. Tekanan
e. Macam adsorben
f. Macam zat yang akan diadsorpsi
C. Desorpsi
Desorpsi adalah peristiwa pelepasan kembali bahan yang telah diserap oleh
adsorben (Kirk dan Othmer, 1963). Keberhasilan proses desorpsi sangat tergantung
dari kondisi proses seperti lama waktu proses, suhu, maupun jenis adsorben yang
digunakan, eluen serta metode adsorpsi yang digunakan untuk proses pemisahan
(Chu et al., 2003).
Bahan yang telah teradsorpsi dikeluarkan dengan cara pemanasan, penurunan
tekanan, pencucian dengan bahan yang tak dapat diadsorpsi, pendesakan dengan
bahan yang dapat teradsorpsi lebih baik ataupun dengan cara ekstraksi menggunakan
pelarut (Bernasconi et al., 1995).
D. Tulang Ayam
Matriks ekstraseluler jaringan keras tulang ayam tersusun dari fase oranik dan
anorganik di mana fase anorganik terdiri dari kristal-kristal hidroksiapatit (HA) dan
fase organik terdiri dari kolagen dan senyawa lain seperti glycosaminoglycans
(GAGs), proteoglycans dan glikoprotein. Fase utama anorganik adalah garam
kristalin yang merupakan kalsium fosfat dan sering kali diidealkan sebagai
hidroksiapatit.
Berikut adalah komposisi tulang ayam menurut Yildrim (2004):
Tabel 2.3. Komposisi Tulang Ayam secara Umum
Komponen Jumlah (%)
Kolagen 90-96
Hidroksiapatit 69
Matriks organik 22
Air 9
Lain-lain 4-10

Adsorben dari bahan alam pada umumnya diaktivasi terlebih dahulu untuk
meningkatkan kinerjanya. Aktivasi adsorben bertujuan untuk meningkatkan kapasitas
dan efisiensi adsorpsi dari adsorben. Aktivasi dapat dilakukan dengan memberi
perlakuan kimia seperti direaksikan dengan asam dan basa juga dengan perlakuan
fisika seperi pemanasan dan pencucian. Pencucian dengan alkohol bertujuan
menghilangkan pengotor dari adsorben dan diharapkan meningkatkan kemampuan
adsorpsi dari adsorben.
E. Hidroksiapatit (Hap)
Hydroxyapatite merupakan suatu mineral dengan rumus molekul
Ca
10
(PO
4
)
6
(OH)
2
. Hidroxyapatite memiliki specific gravity 3,08 dan serbuk
hidroxyapatite yang murni berwarna putih. HAP memilliki berat molekul 502,31
gram/mol dan massa jenisnya 3,156 gram/cm3 (Junqueira dan Jos, 2003).
Telah diketahui saat in bahwa terdapat grup mineral apatit dengan Kristal
kimia yang memiliki karakteristik special dapat menjadi mineral yang menjanjikan
dalam fungsinya di dalam proses penanggulangan masalah limbah yang mengandung
fluoride dan logam berat (Sljivic, 2009). Sebagai bagian dari mineral apatit,
hidroksiapatit (Ca
10
(PO
4
)
6
(OH)
2
, HAP) merupakan material yang ideal dalam proses
pembuangan kontaminan dalam jangka waktu panjang, karena HAP memiliki
kapasitas yang tinggi dalam penyerapan logam berat, dimana HAP pun memiliki sifat
kurang larut dalam air, mudah didapat, biaya yang minim dan yang paling penting
memiliki stabilitas yang tinggi dalam kondisi oksidasi dan reduksi (Krestou, 2004).
Mekanisme adsorpsinya berbeda dan biasanya terdiri dari proses pertukaran ion,
dilusi atau presipitasi dan menghasilkan suatu kompleks (Srinivasan, 2006)
Dari beberapa penelitian, diketahui bahwa HAP memang sangat potensial
dalam proses penghilangan logam berat. Menurut Zhou et al (2009), dimana
nanopartikel dari hidroksiapatit dapat menyerap ion tembaga (Cu). Dybowska et al
(2009), telah memberikan suatu hasil bahwa grup apatit dari alam dapat
menghilangkan logam berat dalam larutan aquos.

F. Argentum Nitrat
Argentum nitrar (AgNO
3
) adalah bahan aktif yang biasanya digunakan dalam
bidang kesehatan an juga formulasi desinfektan. AgNO
3
memiliki banyak fungsi
dalam beberapa bidang antara lain digunakan secara meluas pada laboratorium kimia,
silver plating (The Merck Index), chrome silver (The Merck Index), antimikroba dan
antibakteri (Ewald, 2006) ,desinfektan (Husain, 2008), anti infeksi (Husain, 2008)
dan bidang lainnya

G. Spektrofotometri Serapan Atom
Prinsip analisis menggunakan AAS adalah penyerapan energi radiasi oleh
atom-atom netral pada keadaan dasar, dengan panjang gelombang tertentu yang
menyebabkan tereksitasinya elektron dalam berbagai tingkat energi. Kedaaan eksitasi
ini tidak stabil dan kembai ke tingkat dasar dengan melepaskan sebagian atau seluruh
energi dalam bentuk radiasi. Frekuansi radiasi yang dipancarkan karakteristik untuk
setiap unsur dan intensitasnya sebanding dengan jumlah atom yang tereksitasi yang
kemudian mengalami deeksitasi. Teknik ini dikenal dengan SEA (spektrofotometer
emisi atom). Untuk SSA keadaan berlawanan dengan cara emisi yaitu, populasi atom
pada tingkat dasar dikenakan seberkas radiasi, maka akan terjadi penyerapan energi
radiasi oleh atom-atom yang berada pada tingkat dasar tersebut. Penyerapan ini
menyebabkan terjadinya pengurangan intensitas radiasi yang diberikan. Pengurangan
intensitasnya sebanding dengan jumlah atom yang berada pada tingkat dasar
tersebut.Sumber radiasi tersebut adalah lampu katoda berongga (Cahyady, 2009).

H. FTIR
Fourier Transform-Infra Red Spectroscopy atau yang dikenal dengan FT-IR
merupakan suatu teknik yang digunakan untuk menganalisa komposisi kimia dari
senyawa-senyawa organik, polimer, coating atau pelapisan, material semikonduktor,
sampel biologi, senyawa-senyawa anorganik, dan mineral. FT-IR mampu
menganalisa suatu material baik secara keseluruhan, lapisan tipis, cairan, padatan,
pasta, serbuk, serat, dan bentuk yang lainnya dari suatu material. Spektroskopi FT-IR
tidak hanya mempunyai kemampuan untuk analisa kualitatif, namun juga bisa untuk
analisa kuantitatif.









BAB III
METODE PENULISAN

A. Pendekatan Penulisan
Penulisan penelitian dilakukan dengan menggunakan metode deskriptif
analisis yaitu dengan mengumpulkan, memaparkan, menganalisa dan menyimpulkan
data sehingga diperoleh suatu solusi terhadap penyelesaian permasalahan terkait
permasalahan yang ditemukan.
B. Sumber Penulisan
Studi pustaka untuk penyusunan karya tulis ini dilakukan pada tahapan awal
penelitian dalam penulisan karya ilmiah sebagai landasan dalam pembuatan
prototype luaran yang di harapkan. Pengumpulan data dan informasi meliputi :
1. Studi Literatur
Studi kepustakaan dilakukan untuk memperoleh landasan teori, standar materi
terkait dan proses pengolahan materi teknologi terkait melalui buku, katalog
dan bahan-bahan tertulis lain yang dapat dipertanggung jawabkan
2. Konsultasi
Konsultasi dilakukan untuk memperoleh arahan dan landasan mengenai
literature materi dan perkembangan mengenai materi penelitian terkait.

C. Sasaran Penulisan
Karya tulis ini ditujukan kepada:
1. Pemerintah Jawa Tengah
Karya tulis ini diharapkan dapat membantu program pembangunan
pemerintah dalam mengatasi permasalahan lingkungan di Jawa Tengah,
khususnya sanitasi air.
2. Bagi Rumah Sakit
Membantu pihak rumah sakit dalam mengolah limbah agar sesuai dengan
ambang batas yang diizinkan sehingga tidak menganggu kesetimbangan
lingkungan dan kesehatan penduduk sekitar serta meningkatkan
pendapatan dengan dilakukannya teknik recovery Ag.
3. Bagi Rumah Makan
Membantu pihak rumah makan dalam mengolah limbah tulang ayam
sehingga tidak menimbulkan masalah lingkungan.

3. Tahapan Penulisan
Tahapan penulisan yang dilakukan meliputi:
1. Penentuan tema
2. Penentuan judul
3. Perumusan masalah
4. Pengumpulan data
5. Penyusunan karya tulis








BAB IV
PEMBAHASAN

4.1 Adsorpsi Ion Ag+ dengan Tulang Ayam
Sistem AITRS (Argentum-Ion Treatment and Recovery System) merupakan
suatu inovasi pendayagunaan tulang ayam sebagai adsorben limbah fotografi Rumah
Sakit. Tulang ayam mengandung hidroksiapatit, dimana beberpa literatur
menyebutkan tulang ayam mengandung 35,6% kalsium yang menunjukan ketersedian
HAp yang melimpah (Orban dan Roland, 1992). Banyaknya hidrokasiapatit ini
dibuktikan oleh Sobczak, A (2009) dan ditemukan fakta bahwa hidroksiapatit dari
tulang ayam layak untuk digunakan sebagai adsorben. Hasil XRD dan SEM dapat
dilihat pada gambar 1 dan gambar 2.

Gambar 1. Hasil analisa XRD tulang ayam

Gambar 2. Hasil analisa SEM tulang ayam
Semakin banyak pori-pori dalam hidroksiapatit akan meningkatkan
optimalisasi adsorben yang digunakan dalam sistem AITRS.
Adsorpsi ion Ag
+
diawali dengan preparasi hidroksiapatit yang diperoleh dari
tulang ayam dengan cara perebusan tulang ayam pada air mendidih selama 30 menit
untuk melunakkan sisa daging yang masih melekat. Rebusan tulang ayam diambil
dan dibersihkan dari tulang tulang lunak, kemudian dikeringkan di dalam oven pada
suhu 100
o
C selama 1 jam untuk menghilangkan sisa air rebusan. Tulang ayam
dipanaskan di dalam furnace dengan suhu 400
o
C selama satu jam, kemudian
didinginkan di desikator (Mohammed, 2012). Tulang ayam dihancurkan dan diayak
dengan ayakan 200 mesh. Serbuk tulang ayam dianalisis dengan SEM untuk
mengetahui kristalinitasnya.
Pada penyerapan Ag pada tulang ayam, mekanisme yang terjadi adalah ion
exchange (pertukaran ion). Hidroksiapatit melepaskan Ca
2+
yang akan digantikan
oleh Ag
+
(Al-Asheh et al., 1999). Tiga langkah ion exchange antara hidroksiapatit
dan ion logam menurut Deydier (2003) diawali dengan pembentukan permukaan
kompleks ion logam, pelarutan Ca
10
(PO
4
)
6
(OH)
2
diikuti dengan pengendapan
Ag
10
[(PO
4
)
6
(OH)
2
]
3,
serta difusi Ca yang berjalan lambat.
Hidroksiapatit yang mempunyai rumus molekul Ca
10
[(PO
4
)
6
(OH)
2
]
3,
jika
langsung diaplikasikan pada limbah Ag maka Ca
2+
akan mengalami ion exchange
dengan Ag dan melepaskan ion Ca
2+
. Ion Ca
2+
ini akan menimbulkan masalah baru di
lingkungan seperti kesadahan sehingga hal ini harus dihindari.
Ca
10
[(PO
4
)
6
(OH)
2
]
3
+ 10 Ag
+
Ag
10
[(PO
4
)
6
(OH)
2
]
3
+ 10 Ca
2+
Permasalahan ini dapat diatasi dengan aktivasi tulang ayam menggunakan
asam dimana ion Ca
2+
pada hidroksiapatit akan bertukar ion dengan gugus hidrogen
pada HCl sehingga ketika diaplikasikan pada limbah Ag, H-Hidroksiapatit akan lebih
mudah bertukar ion dengan Ag
+
dan tidak menimbulkan masalah baru dan lebih
ramah lingkungan. Aktivasi dilakukan dengan pencampuran 250 mg serbuk tulang
ayam dengan 100 ml HCl 2M kemudian dipanaskan selama 1 jam. Serbuk tulang
ayam hasil aktivasi disaring dengan corong buchner kemudian dicuci dengan
aquabidest untuk menghilangkan asam pada permukaan sampel, lalu dikeringkan
dengan oven pada suhu 80
o
C selama 24 jam (Mohammed, 2012).
Waktu optimum dan pH optimum merupakan parameter yang penting dalam
proses adsorpsi, sehingga penentuan waktu serta pH optimum ini perlu dilakukan
untuk menentukan tingkat keberhasilan penyerapan ion Ag+ oleh tulang ayam.
Penentuan waktu optimum dilakukan dengan cara menambahkan 250 mg serbuk
tulang ayam pada 100 ml limbah cair fotografi dalam erlenmeyer, diaduk dengan
stirer kemudian didiamkan selama variasi kontak 2, 4, 6, 8 dan 10 jam. Campuran
disaring, filtrat ditampung untuk dianalisis kadar peraknya dengan instrumen AAS.
Hasil penentuan waktu optimum ini dapat diperkirakan persen adsorpsi (penurunan
kadar perak) akan meningkat dengan semakin lamanya waktu kontak hingga
kemudian menurun setelah melewati waktu maksimum di mana persen adsorpsi akan
menurun karena pada waktu maksimum, tulang ayam telah jenuh, sebagian besar
hidoksiapatit telah berikatan dengan ion Ag
+
.
Penentuan pH optimum dilakukan dengan mengkondisikan 100 ml limbah
cair pada pH 1, 3, 5 dan 7 kemudian ditambahkan 250 mg serbuk tulang ayam.
Campuran diaduk lalu didiamkan sesuai waktu optimum yang telah diperoleh pada
treatment sebelumnya. Campuran disaring, filtrat dianalisis kadar peraknya dengan
AAS. Resdiu yang diperoleh ditreatment lebih lanjut untuk proses recovery dengan
metode desorpsi. Yang bagus pH basa
Selain waktu dan pH optimum perlu dilakukannya penentuan iosterm adsorpsi
untuk mengetahui adsorpsi maksimum dari tulang ayam. Penentuan ini dilakukan
dengan menambahkna 250 mg serbuk tulang ayam pada limbah cair Ag dengan
konsentrasi 10, 40, 70, 100, 150 dan 220 ppm dengan volume 100 ml. Campuran
disaring dan dianalisis kadar peraknya dengan AAS (Lokapuspita, 2012). Belum ada
penjelasan lanjut
Hasil yang diperoleh dari proses adsorpsi ini adalah penurunan kadar Ag
+

dalam limbah cair fotografi sehingga tidak mengganggu lingkungan sekitar rumah
sakit.
4.2 Desorpsi Sistem AITRS
Adsorpsi dan desorpsi merupakan dua komponen utama dalam sistem AITRS.
Adsorpsi digunakan untuk penyelesaian masalah ion Ag
+
dalam limbah fotografi
Rumah Sakit, sedangkan desorpsi digunakan dalam proses recovery Ag untuk
dijadikan produk AgNO
3
yang siap untuk digunakan dalam pemanfaatan selanjutnya.
Pemanfaatan lain dari sistem AITRS ini adalah konsep desorpsi dari
hidroksiapatit dimana ion Ag
+
akan diperoleh kembali (recovery) dalam bentuk
Argentum Nitrat (AgNO
3
) yang memiliki kegunaan yang beragam. Resin yang
digunakan adalah residu tulang ayam dari campuran dengan kondisi optimum (waktu
danpH optimum). Proses ini tergolong mudah dan tidak rumit, dimana resin
(Adsroben HAp) yang telah mengadsorpsi Ag akan direaksikan dengan asam nitrat
(HNO
3
) dalam kondisi yang panas pada suhu 60C-70C dalam waktu 4 jam. Proses
ini sangat efisien dimana tidak diperlukan reagen yang khusus, biaya yang diberikan
sangat murah dan tidak memakan banyak waktu dalam prosesnya, karena waktu yang
digunakan dalam proses recovery hanya 4 jam. Produk yang dituju dari proses
perolehan kembali Ag ini adalah reagen AgNO
3
dengan kualitas tinggi. AgNO
3

memiliki banyak fungsi dalam beberapa bidang antara lain digunakan secara meluas
pada laboratorium kimia, silver plating (The Merck Index), chrome silver (The Merck
Index), antimikroba dan antibakteri (Ewald, 2006) ,desinfektan (Husain, 2008), anti
infeksi (Husain, 2008) dan bidang lainnya. Berikut konsep dasar dari sistem AITRS
dalam gambar 3.










Gambar 3. Konsep adsorpsi dan desorpsi sistem AITRS
A
g
A
g
A
g
A
g
Hidroskiapatit
Adsorpsi
(Kemisorps
i)
Hidroskiapatit
A
g
A
g
A
g
A
g
Recovery
(+ HNO
3
)
Hidroskiapatit
A
g
A
g
NO3
-
A
g
A
g
Hidroskiapatit
AgNO3
Reuseabl
e
High
beneficial
Hasil dari penelitian menunjukan bahwa hidroksiapatit dapat menyerap logam
Ag dengam persentasi adsorpsi sebesar 99,8 % (pada pH 6). Sedangkan untuk
persentasi desorpsi dari Ag adalah sebesar 67 %
Tabel 1. Hasil Adsorpsi dan desorpsi ion Ag
+
oleh Hidroksiapatit
SAMPEL
ADSORPSI (%)
Desorpsi (%)
pH 3 Ph 6
Hidroksiapatit
(Chicken
Bone
Adsorbent)
75 99.8 66.7
75 99.8 66

Analisis adsorpsi dan desorpsi dilakukan secara duplo dengan tujuan agar
didapatkan data yang lebih akurat. Dari hasil analisis diatas dapat disimpulkan bahwa
hidroksi apatit sangat efektif dalam penanganan ion Ag
+
dan juga proses desorpsi
yang dilakukan sangat potensial untuk dikembangkan.








4.3 Desain Sistem AITRS





















Air Masuk
Reaktor adsorpsi
limbah oleh tulang
ayam
Ijuk
Tulang ayam
diantara ijuk
rotor untuk pengadukan
(homogenasi) tulang ayam dgn
limbah fotografi
Filter di dalam
pipa untuk
menyaring tulang
ayam yang
mungkin terbawa
limbah menuju
resevoir limbah
bebas Ag
Reservoir limbah
bebas Ag
HASIL
BAB V
PENUTUP

A. Kesimpulan
B. Saran






























DAFTAR PUSTAKA

Lokapuspita, G., Hayati, M., Purwanto, 2012, Pemanfaatan Limbah Ikan Nila sebagai
Fishbone Hydroxyapatite pada Proses Adsorpsi Logam Berat Krom pada Limbah
Cair, Jurnal Teknologi Kimia dan Industri 1 (1) hal. 379-388
Mohammed, A., Aboje, A., Auta, M., Jibril, M., 2012, A Comparative Analysis and
Characterizatiob of Animal Bones as Adsorbent, Applied Science Research, 3
(5):3089-3096
Feng, Y., Gong, J.L.,Niu, Q., Zhang, H., Yan, M., 2010, Adsorption of Cd (II) and Zn
(II) from Aqueous Solutions using Magnetoc Hydroxyapatite Nanoparticles as
Adsorbents, Chemical Engineering Journal, 162: 487-494
Hyder, G., 2013, Sorption Characteristis of Hexavalent Chromium onto Bone Char
and Bio-Char, TRITA-LWR Degree Project
Cahyadi, B., 2009, Studi tentang Kesensitifan Spektrofotometer Serapan Atom (SSA)
Teknik Vapour Hydride Generation Accessories (VHGA) Dibandingkan dengan SSA
Nyala pada Analisa Unsur Arsen (as) yang Terdapat dalam Air Minum, Tesis,
Unversitas Sumatera Utara, Medan
Lestari, E., 2005, Recovery Perak Nitrat dari Senyawa Perak dalam Limbah Fotografi
dengan Metoda Adsorpsi-Desorpsi, Tesis, Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta