Anda di halaman 1dari 27

REFERAT

PENCEGAHAN DAN PENATALAKSANAAN MERS-CoV


PADA JEMAAH HAJI DAN UMRAH JAWA TIMUR
ILMU KESEHATAN MASYARAKAT














i

1

BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang
Sejak April 2012 novel coronavirus telah menular di Timur Tengah.
Middle East Respiratory Syndrome Corona Virus (MERS-CoV) adalah
suatu strain baru dari virus corona yang belum pernah ditemukan
menginfeksi manusia sebelumnya. MERS-CoV merupakan Emerging
Infectious Diseases berpotensi menjadi pandemik dan diduga oleh
organisasi kesehatan hewan dunia (OIE) bersifat zoonosis karena virus
ditemukan pada onta (Menko Kesra, 2014).
Jenis coronavirus yang baru telah ditemukan yang menyebabkan
penyakit yang berbahaya pada manusia. Virus ini awal diidentifikasi pada
bulan September 2012 dari sampel yang diperoleh dari pasien di Arab
Saudi yang berkembang semakin parah mulai dari infeksi saluran
pernapasan akut dan kemudian terjadi gagal ginjal akut lalu akhirnya
meninggal (de Groot RJ, Baker SC, et al. 2013). Virus ini kemudian
dilaporkan sebagai penyebab pneumonia pada kasus-kasus yang terjadi
diberbagai negara terutama di Timur Tengah seperti: Arab Saudi, Qatar,
Jordania, Tunisia, Uni Emirat Arab, Inggris, Jerman, Perancis dan Italia
(CDC, 2013).
Sebagian besar pasien mengalami demam (98%), demam dengan
batuk (83%) dan sesak napas (72%). Gambaran radiologi menunjukkan
adanya infiltrate unilateral (43%), peningkatan bronchovascular pattern
(17%), dan diffuse reticulonodular pattern (4%). Pemahaman kita terhadap
epidemiologi dan manifestasi klinis dari kasus ini adalah semakin
meningkat dari waktu ke waktu. Namun hal ini belum diketahui secara
pasti apa virus yang sebenarnya dan apa modalitas pengobatan yang
terbaik ( Assiri, 2013).
Organisasi Kesehatan Dunia mengatakan, jumlah orang yang
terinfeksi MERS di seluruh dunia tahun 2013 telah meningkat menjadi
136, setelah Arab Saudi mengkonfirmasi enam kasus baru. Adanya
2

penderita terbanyak di Saudi telah menimbulkan kekhawatiran tentang
pelaksanaan haji. Ada kekhawatiran para jamaah terinfeksi dan kembali
ke tanah air mereka dengan membawa virus tersebut
(http://www.hidayatullah.com/berita/info-haji-umrah/read/2013).
Namun pihak berwenang, sebagaimana diberitakan AFP,
mengatakan, optimistis musim haji akan berlangsung tanpa wabah
apapun, mengingat kaum Muslim pada pelaksanaan umrah sebelumnya
tidak tercatat adanya penyebaran virus MERS. Saudi pun telah mendesak
orang lanjut usia dan yang sedang sakit kronis untuk tidak menunaikan
haji. Pihak berwenang juga telah menyarankan jamaah untuk memakai
masker (http://www.hidayatullah.com/berita/info-haji-umrah/read/2013).
Dalam jumlah besar, warga Negara Indonesia berada di Jazirah
Arab terutama di Saudi Arabia, Jordania, Uni Emirat Arab dan Qatar
sebagai tenaga kerja khususnya di Arab Saudi tidak hanya yang menetap
dalam waktu relatif lama sebagai tenaga kerja tetapi juga dalam
rombongan jamaah umrah (mass gathering) khususnya umrah Ramadhan
dan jamaah haji yang waktunya relatif singkat (10-35 hari). Terdapatnya
pengumpulan massa/jamaah di wilayah yang sedang berlangsung infeksi
MERS-CoV beresiko dapat terjadi penularan. Oleh karena itu, untuk
mengantisipasi kemungkinan resiko tertularnya dan masuknya MERS-
CoV tersebut ke Indonesia perlu disusun kesiapsiagaan menghadapinya
sebagai bagian yang tidak terpisahkan untuk memperkuat ketangguhan
bangsa terhadap kedaruratan kesehatan masyarakat (Kementerian
Kesehatan Republik Indonesia, 2013).


3

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 MERS-CoV (Middle East Respiratory SyndromeCorona Virus)
2.1.1 Definisi
MERS adalah singkatan dari Middle East Respiratory Syndrome
yang merupakan penyakit saluran pernapasan disebabkan oleh
coronavirus yang juga disebut MERS-CoV, Virus ini menyebabkan
penyakit saluran pernafasan yang berat dan akut dengan gejala-gejala
seperti demam, batuk dan sesak. Pertama kali dilaporkan terjadi di Arab
Saudi pada tahun 2012 (CDC, 2014).

2.1.2 Epidemiologi
Middle East Respiratory Syndrome coronavirus (MERS-COV)
pertama kali dilaporkan menyebabkan infeksi pada manusia pada bulan
September 2012 . Juli 2013 Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) komite
darurat Peraturan Kesehatan Internasional menetapkan bahwa MERS-
COV tidak memenuhi kriteria untuk keadaan darurat kesehatan publik
yang menjadi keprihatinan internasional, tetapi tetap serius dan mendapat
perhatian yang besar. laporan ini merangkum informasi epidemiologi dan
menyediakan informasi baru untuk pedoman CDC tentang evaluasi
pasien, definisi kasus, wisata, dan pengendalian infeksi pada 20
September 2013.
Pada 20 September 2013, total 130 kasus dari delapan negara
telah dilaporkan ke WHO; 58 (45%) dari kasus-kasus ini berakibat fatal.
semua kasus telah secara langsung atau tidak langsung berhubungan
dengan adanya perjalanan ke atau tinggal di empat negara: Arab Saudi,
Qatar, Yordania, dan United Arab Emirates (UAE). Usia rata-rata orang
dengan infeksi MERS-COV adalah 50 tahun (kisaran: 2-94 tahun). Rasio
pria-wanita 1,6-1,0. Dua-puluh-tiga (18%) kasus terjadi pada orang-orang
yang diidentifikasi sebagai pekerja kesehatan. Meskipun sebagian besar
kasus yang dilaporkan mengalami penyakit pernafasan parah memerlukan
4

rawat inap, setidaknya 27 (21%) yang mengalami gejala ringan atau tidak
ada gejala. meskipun ada bukti penularan orang-ke-orang, jumlah kontak
yang terinfeksi oleh orang-orang dengan infeksi yang dikonfirmasi
tampaknya terbatas. Potensi penularan dari hewan dan mekanisme
penularan MERS-COV ke manusia tetap tidak jelas (CDC, 2013).

2.1.3 Klasifikasi kasus
Merujuk dari definisi kasuk WHO, klasifikasi kasus MERS-CoV
adalah sebagai berikut:
1. Kasus dalam penyelidikan (underinvestigated case).
a. Seseorang dengan Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA)
dengan tiga keadaan di bawah ini:
Demam (38C) atau ada riwayat demam,
Batuk,
Pneumonia berdasarkan gejala klinis atau gambaran
radiologis yang membutuhkan perawatan di rumah sakit.
Perlu waspada pada pasien dengan gangguan sistem
kekebalan tubuh (immune-compromised) karena gejala dan
tanda tidak jelas.
DAN
Salah satu criteria berikut:
1) Seseorang yang memiliki riwayat perjalanan ke Timur
Tengah (Negara terjangkit) dalam waktu 14 hari sebelum
sakit kecuali ditemukan etiologi / penyebab penyakit lain.
2) Adanya petugas kesehatan yang sakit dengan gejala yang
sama setelah merawat pasien ISPA berat, terutama pasien
yang memerlukan perawatan intensif, tanpa memperhatikan
tempat tinggal atau riwayat berpergian, kecuali ditemukan
etiologi / penyebab penyakit lain.
3) Adanya klaster pneumonia (gejala penyakit yang sama)
dalam periode 14 hari, tanpa memperhatikan tempat tinggal
5

atau riwayat berpergian, kecuali ditemukan etiologi /
penyebab penyakit lain.
4) Adanya perburukan perjalanan klinis yang mendadak
meskipun dengan pengobatan yang tepat, tanpa
memperhatikan tempat tinggal atau riwayat berpergian,
kecuali ditemukan etiologi / penyebab penyakit lain.
b. Seseorang dengan Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA)
ringan sampai berat yang memiliki riwayat kontak erat dengan
kasus konfirmasi atau kasus probable infeksi MERS-CoV dalam
waktu 14 hari sebelum sakit.
2. Kasus probabel.
a. Seseorang dengan pneumonia atau ARDS dengan bukti klinis,
radiologis atau histopatologis.
DAN
Tidak tersedianya pemeriksaan untuk MERS-CoV atau hasil
laboratoriumnya negatif pada satu kali pemeriksaan spesimen
yang tidak adekuat.
DAN
Adanya hubungan epidemiologis langsung dengan kasus
konfirmasi MERS-CoV.
b. Seseorang dengan pneumonia atau ARDS dengan bukti klinis,
radiologis atau histopatologis.
DAN
Hasil pemeriksaan laboratorium inklonklusif (pemeriksaan
skrining hasilnya positif tanpa konfirmasi biomolekuler).
DAN
Adanya hubungan epidemiologis langsung dengan kasus
konfirmasi MERS-CoV.
3. Kasus konfirmasi.
Seseorang yang terinfeksi MERS-CoV dengan hasil pemeriksaan
positif.

6

2.1.4 Etiologi
MERS terjadi disebabkan infeksi virus MERS-COV yang
merupakan beta coronavirus disebut juga novel coronavirus atau nCOV,
virus ini berbeda dengan jenis cornavirus lainnya yang sebelumnya telah
ditemukan pada manusia. Virus ini memilki spike glycoprotein yang
bekerja pada reseptor sel target Dipeptidyl Peptidase 4 (DPP4) (Wang et
al. 2013).

2.1.5 Transmisi
Virus ini menyerang saluran pernafasan dan penyebarannya
terutama melalui kontak erat dengan orang yang terinfeksi atau termasuk
kasus probable (petugas kesehatan atau keluarga penderita MERS atau
orang-orang yang tinggal di tempat yang sama dengan penderita),
penyebarannya terutama terjadi di tempat tempat pelayanan kesehatan
seperti rumah sakit. Selain itu penularan virus ini juga terjadi dari unta ke
manusia (infeksi zoonotic). Saat ini kelelawar dan unta merupakan hewan
yang dicurigai sebagai sumber penularan virus ini. transmisi dari manusia
ke manusia juga dapat terjadi namun kejadiannya tidak begitu spesifik
(Mackay, 2014).

2.1.6 Patogenesis
Dari penelitian yang dilakukan secara in vitro menunjukan bahwa
MERS-CoV bereplikasi secara efisien pada sel-sel tidak bersilia terutama
pada saluran pernafasan manusia dan dari kultur paru manusia secara ex
vivo menunjukan bahwa MERS-CoV bereplikasi pada sel-sel epitel
bronkus, bronkiolus dan alveoli dan menyebabkan penyakit saluran
pernafasan pada manusia. MERS-CoV berikatan dengan dengan reseptor
sel target yaitu Dipeptidyl Peptidase 4 (DPP4) dan akan berperan penting
untuk terjadinya replikasi MERSS-CoV. Periode inkubasi virus ini
berlangsung antara 2-14 hari, dalam masa inkubasi tidak terjadi
penularan, namun durasi infektifitasnya sendiri masih belum diketahui
secara pasti (Kunis, 2014).
7



Gambar 2.1 Morfologi Coronavirus (Mackay, 2014).

2.1.7 Tanda dan gejala
Kebanyakan orang yang terinfeksi dengan MERS-COV mengalami
penyakit pernapasan akut parah dengan gejala demam, batuk, dan sesak
napas. Beberapa orang juga memiliki gejala gastrointestinal seperti diare
dan mual / muntah. Bagi banyak orang dengan MERS, komplikasi yang
lebih parah diikuti, seperti pneumonia dan gagal ginjal. Sekitar 30% dari
orang dengan MERS meninggal. Sebagian besar orang yang meninggal
memiliki gejala-gejala MERS. (CDC, 2014).
Symptoms of Middle East respiratory syndrome in Saudi cases
(Assiri, 2013).

at presentation
Symptoms n (%)
Fever 46 (98.0)
Fever with chills/rigors 41 (87.0)
Respiratory symptoms
Cough 39 (83.0)
Dry 22 (56.0)
Productive (sputum) 17 (44.0)
8

Hemoptysis 8 (17.0)
Shortness of breath 34 (72.0)
Chest pain 7 (15.0)
Sore throat 10 (21.0)
Runny nose 2 (4.0)
Gastro-intestinal symptoms
Abdominal pain 8 (17.0)
Nausea 10 (21.0)
Vomiting 10 (21.0)
Diarrhea 12 (26.0)
Other symptoms
Myalgia 15 (32.0)
Headache 6 (13.0)



















9

Tabel 2.1 Perjalanan Penyakit MERS (Kementrian Kesehatan RI,
2013)

10




2.1.8 Diagnosa
Orang yang mengalami penyakit pernapasanyang akut dan berat
kurang dari 10 hari setelah perjalanan dari Arab atau negara-negara
tetangganya harus terus dievaluasi sesuai dengan pedoman saat ini .
Secara khusus , orang-orang yang memenuhi kriteria berikut untuk
"pasien dalam penyelidikan" (Patient Under Investigation/ PUI) harus
dilaporkan kepada negara dan departemen kesehatan setempat dan
dievaluasi untuk infeksi coronavirus baru :
11

1. Seseorang dengan infeksi saluran pernapasan akut, termasuk
demam ( 38 C, 100.4 F) dan batuk ;
2. Kecurigaan penyakit parenkim paru ( misalnya , pneumonia atau
sindrom gangguan pernapasan akut berdasarkan bukti klinis atau
radiologis konsolidasi);
3. Sebelumnya melakukan perjalanan ke Arab atau negara-negara
tetangganya dalam waktu 10 hari (CDC Health Alert Network, 2013).
Pemeriksaan lain yang dapat dilakukan adalah pemeriksaan
laboratorium untuk sputum dari penderita. Virus corona dapat di kultur dari
sediaan sputum (dahak) menggunakan sel-sel ginjal kera, sel Vero dan
dan sel LLC-MK2. Virus yang terinduksi akan terjadi perubahan
cythopathic yang tampak pada sel-sel tersebut pada 1-2 minggu infeksi.
Namun, perubahan-perubahan ini tidak spesifik untuk NcoV (Virus
Corona) dan untuk mendiagnosa pasti menggunakan RT-PCR (Reverse
Transcription PCR). RT-PCR yang dapat digunakan secara langsung
pada sediaan klinis, contohnya respiratory swabs. Optimalisasi real-time
RT-PCR untuk mendeteksi secara spesifik sedang dikembangkan. Dapat
juga digunakan diagnosis tambahan RT-PCR dan tes serologi yang
menggunakan serum pasien yang telah sembuh (Mackay, 2014).
Virus MERS juga dapat ditemukan dari cairan tubuh lain darah,
urin,dan feses namun kegunaan sampel tersebut dalam mendiagnosa
MERS masih belum diketahui secara pasti (Kementrian kesehatan RI,
2013).

2.1.9 Penatalaksanaan
A. Deteksi dan tatakasana dini.
Virus corona diketahui dapat menimbulkan kesakitan pada manusia
mulai dari ringan sampai berat untuk itu kenali manifestasi Infeksi Saluran
Napas Akut Berat. Sebelum menentukan pasien suspek MERS-CoV harus
dilakukan penilaian melalui:
12

Anamnesis : Demam suhu 38C, batuk dan sesak,
ditanyakan pula riwayat bepergian dari negara Timur Tengah 14
hari sebelum onset.
Pemeriksaan fisik :Sesuai dengan gambaran pneumonia.
Radiologi : Foto toraks dapat ditemukan infiltrate,
konsolidasi sampai gambaran ARDS.
Laboratorium : Ditemukan dari pemeriksaan PCR dari swab
tenggorokan san sputum.

B. Usaha yang telah dilakukan pemerintah untuk kesiapsiagaan MERS-
CoV.
1. Peningkatan kegiatan pemantauan di pintu masuk Negara (point of
entry).
2. Penguatan Surveilans epidemiologi termasuk surveilans
pneumonia.
3. Pemberitahuan ke seluruh Dinkes Provinsi mengenai
kesiapsiagaan menghadapi MERS-CoV, sudah dilakukan sebanyak
3 kali.
4. Pemberitahuan ke 100 RS Rujukan Flu Burung, RSUD dan RS
Vertikal tentang kesiapsiagaan dan tatalaksana MERS-CoV.
5. Menyiapkan dan membagikan 5 dokumen terkait persiapan
penanggulangan MERS-CoV, yang terdiri dari:
A. Pedoman umum MERS-CoV.
B. Tatalaksana klinis.
C. Pencegahan infeksi.
D. Surveilans di masyarakat umum dan pintu masuk negara.
E. Diagnostik dan laboratorium.
6. Semua petugas TKHI sudah dilatih dan diberi pembekalan dalam
penanggulangan MERS-Cov.
7. Menyiapkan pelayanan kesehatan haji di 15 Embarkasi / Debarkasi
(KKP).
13

8. Meningkatkan kesiapan laboratorium termasuk penyediaan reagen
dan alat diagnostik.
9. Diseminasi informasi kepada masyarakat terutama calon jamaah
haji dan umrah serta petugas haji Indonesia.
10. Meningkatkan koordinasi lintas program dan lintas sektor seperti
BNP2TKI, Kemenlub, Kemenag, dan lain-lain tentang
kesiapsiagaan menghadapi MERS-CoV.
11. Melakukan koordinasi dengan pihak kesehatan Arab Saudi.
12. Meningkatkan hubungan Internasional melalui WHO dan lain-lain.






















14

Tabel 2.2 Alur Penemuan Kasus dan Respon di Pintu Masuk
(Kementrian Kesehatan RI, 2013)






15

Tabel 2.3 Alur Penemuan Kasus dan Respon di Wilayah (Kementrian
Kesehatan RI, 2013).




16

C. Terapi.
Pengobatan yang bersifat spesifik masih belum ada, Pengobatan
hanya bersifat suportif tergantung kondisi keadaan pasien.
a. Terapi oksigen pada pasien ISPA berat / SARI.
Pada pasien dengan tanda depresi nafas berat, hipoksemia
(SpO2 < 90%) atau syok, pemberian oksigen dimulai dengan 5L /
menit lalu dititrasi sampai spO2 90% pada orang dewasa yang
tidak hamil dan SpO2 92-95% pada pasien hamil.
b. Antibiotik empirik untuk mengobati gejala pneumonia.
Pada pasien pneumonia komuniti (CAP) dan diduga
terinfeksi MERS CoV, dapat diberikan antibiotik secara empirik
secepat mungkin sampai diagnosa ditegakkan, kemudian
disesuaikan dengan hasil uji kepekaan.
c. Management cairan konservatif pada pasien ISPA berat / SARI
tanpa syok.
Pada pasien ISPA berat / SARI harus hati-hati dalam
pemberian cairan intravena, karena resusitasi cairan secara agresif
dapat memperburuk oksigenasi
d. Pemberian kortikosteroid sistemik dosis tinggi atau terapi tambahan
lainnya untuk pneumonitits virus diluar konteks uji klinis tidak
direkomendasikan. Pemberian kortikosteroid sistemik dosis tinggi
dapat menyebabkan efek samping yang serius pada pasien dengan
ISPA berat / SARI, termasuk infeksi oportunistik, nekrosis
avaskular, infeksi baru bakteri dan kemungkinan terjadi replikasi
virus yang berkepanjangan.
e. Belum ada vaksin yang tersedia untuk MERS CoV. (Kementrian
Kesehatan RI, 2013).

D. Pencegahan
- Cuci tangan dengan sabun dan air mengalir selama 20 detik.. Jika
sabun dan air tidak ada, bilas menggunakan hand sanitizer.
17

- Tutup mulut dan hidung ketika batuk atau bersin kemudian tissue
dibuang pada tempat sampah.
- Hindari menyentuh mata,hidung dan mulut sebelum mencuci
tangan.
- Hindari kontak dekat, seperti berciuman, berbagi cangkir, berbagi
peralatan makan dengan penderita atau kasus probable.
- Gunakan masker untuk melindungi saluran pernafasan terutama
saat bepergian ke negara-negara yang terserang MERS-COV dan
saat kontak dengan orang yang mengalami atau dicurigai
mengalami MERS.
- Bersihkan dan beri disinfeksi pada permukaan yang sering disentuh
seperti mainan dan pegangan pintu. (cdc)
- Hidari kontak dengan hewan-hewan yang dicurigai sebagai sumber
penularan MERS seperti unta (Indonesian Public Health, 2014)
- Bagi orang dengan penyakit kronis seperti diabetes, penyakit janutn
atau ginjal, serta penyakit saluran pernafasan harus lebih berhati-
hati saat melakukan perjalanan ke negara-negara yang terserang
MERS-COV
- Rutin melakukan pemeriksaan kesehatan (Public Health Agency of
Canada, 2014).











18

Tabel 2.4 Langkah-langkah pengendalian infeksi MERS (Kementrian
Kesehatan RI, 2013)


E. Surveilans
Surveilans di pintu masuk dilakukan untuk mendeteksi dini dan
respon serta memastikan wilayah bandara, pelabuhan, dan lintas
batas negara dalam keadaan tidak ada transmisi virus MERS-CoV.
1) Kewaspadaan.
19

Kewaspadaan dilakukan terhadap dua hal yaitu waspada terhadap
kasus MERS-Cov yang masuk ke Indonesia untuk dilakukan
deteksi dini dan respon, serta waspada terhadap keamanan
(transmisi virus MERS-CoV) wilayah bandara, pelabuhan dan lintas
batas negara (antar pengunjung, dari petugas bandara serta
keluarganya petugas, terutama petugas kesehatan yang kontak
dengan kasus).
Upaya kewaspadaan:
a. Pemutakhiran informasi untuk perkembangan penyakit melalui
website WHO, laporan harian tentang jamaah haji di Saudi
Arabia dan sumber lain yang terpercaya misalnya web
pemerintah / Kementerian Kesehatan Saudi Arabia.
b. Mengidentifikasi factor resiko yang member peluang terjadinya
transmisi virus MERS-CoV di bandara dan tindakan perbaikan
(respon), misalnya petugas tidak menggunakan masker,
pemeriksaan pasien dalam investigasi, sirkulasi udara ruangan
pemeriksaan rentan, dan lain-lain.
c. Mendeteksi adanya kasus di poloklinik (laporan harian KKP).
d. Mendeteksi adanya kasus dengan gejala deman, batuk dan
atau pneumonia diantara petugas KKP atau otoritas bandara /
pelabuhan / PLBL dan operator / agen alat angkut yang kontak
dengan penumpang dari jazirah Arab atau Negara terjangkit.
2) Deteksi dini.
Deteksi dini dilakukan melalui pengawasan kedatangan terhadap
orang, barang dan alat angkut yang dating dari Negara terjangkit.
a. Pengawasan terhadap orang.
Pemberian Kartu Kewaspadaan Kesehatan Jamaah Haji
(K3JH) terhadap jamaah haji yang kembali atau Health Alert
Card (HAC) bagi pelaku perjalanan lainnya dari negara
terjangkit.
Petugas menanyakan aktif pada operator dari tenaga
kesehatan kloter / awak / agen alat angkut yang baru saja
20

meninggalkan negara terjangkit mengenai ada tidaknya
penumpang yang sakit, terutama yang menderita ISPA.
Mendeteksi penumpang dari negara terjangkit yang
mengalami demam melalui penggunaan Thermal Scanner
di terminal kedatangan.
b. Pengawasan terhadap barang.
Pemeriksaan terhadap barang-barang yang dibawa dari negara
terjangkit.
c. Pengawasan terhadap alat angkut.
Pemeriksaan terhadap dokumen-dokumen kesehatan alat
angkut.
Pemeriksaan langsung kesehatan alat angkut oleh tim
petugas KKP.
3) Kesiapsiagaan.
Kantor Kesehatan Pelabuhan (KKP) melakukan tinjauan atas
kesiapan perangkat surveilans yang ada dalam menghadapi
kemungkinan masuknya infeksi MERS-CoV ke wilayah Indonesia.
Dalam praktisnya ada 4 hal yang harus disiapkan sebagai
kesiapsiagaan yaitu : Peraturan, Pedoman, SOP di masing-masing
KKP, Tim Gerak Cepat, petugas terlatih, serta sarana, logistik dan
biaya.
4) Respon.
a. Jika ada laporan dari crew yang menyatakan bahwa ada
jamaah haji yang sakit dengan gejala panas, batuk dan sesak
napas di atas pesawat sebelum lamding maka Petugas KKP
melakukan persiapan untuk mengevakuasi penumpang yang
sakit. Persiapan yang dilakukan adalah petugas yang akan
boarding ke pesawat menggunakan APD standar (masker dan
sarung tangan), menyiapkan ambulans evakuasi penyakit
menular dan menyiapkan ruang isolasi sementara.


21

b. Pesawat mendarat di remote area.
c. Petugas KKP yang sudah menggunakan APD standar
menggunakan ambulans mendekati pesawat yang membawa
penumpang sakit.
d. Setelah pintu pesawat dibuka petugas KKP meminta Gendec
kepada crew dan petugas wajib menyampaikan SOP evakuasi
penumpang sakit kepada crew pesawat.
e. Pramugari memberikan pengumuman kepada seluruh jamaah
haji bahwa akan dilakukan penanganan oleh Petugas
Kesehatan Bandara.
f. Prtugas KKP bersama pramugari menuju penumpang yang
sakit dan memakaikan masker N95 kepada penumpang yang
sakit.
g. Orang yang kontak dengan penumpang yang sakit yaitu
penumpang yang duduk 2 baris di depan, 2 baris belakang dan
2 baris kiri dan kanan dipasangkan masker N95, diberikan
penjelasan kepada penumpang tersebut dan diturunkan dari
pesawat setelah penumpang lain turun.
h. Penumpang yang sakit pneumonia berat dievakuasi ke Ruang
Isolasi untuk dilakukan penanganan medis sebelum dirujuk ke
Rumah Sakit.
i. Seluruh penumpang harus melewati alat deteksi panas
(Thermal Scanner).
j. Jamaah haji dengan demam, batuk tanpa pneumonia
diperbolehkan pulang dengan diberikan masker dan edukasi
untuk kontrol ke puskesmas atau rumah sakit apabila gejala
berlanjut.
k. Jamaah haji dengan pneumonia tanpa memerlukan perawatan
rumah sakit diperbolehkan pulang dengan diberikan masker,
pengobatan yang diperlukan serta edukasi untuk isolasi diri
(membatasi lingkungan di rumah) dan berobat ke rumah sakit
apabila gejala sakit bertambah berat.
22

l. Bila ditemukan kasus dalam penyelidikan (demam, batuk dan
pneumonia berat), lakukan tatalaksana kasus, ambil spesimen
dan rujuk ke RS Debarkasi sesuai SOP dengan
memperhatikan prinsip-prinsip pencegahan dan pengendalian
infeksi.
m. Petugas KKP juga memberikan penyuluhan kepada kru tentang
kewaspadaan terhadap MERS-CoV seteah seluruh
penumpang turun.
n. Petugas KKP melakukan tindakan disinfeksi pada tempat
duduk penumpang sakit dan 2 baris di depan, belakang, kanan
dan kiri dengan bahan desinfektan alcohol yang tidak merusak
interior pesawat.
o. KKP mencatat data jamaah haji dengan pneumonia dan
melaporkan data tersebut ke Posko KLB dan ditembuskan ke
Dinas Kesehatan Provinsi.
p. Mencatat data semua petugas semua unit otoritas bandara /
pelabuhan / PLBD yang sakit dan mengirimkan data tersebut
setiap minggu ke Posko KLB, termasuk bila tidak ada petugas
yang sakit (zero reporting).
q. Melaporkan kasus dalam penyelidikan ke Posko KLB dengan
tembusan Dinas Kesehatan Provinsi dalam waktu 24 jam.
(Kementrian Kesehatan RI, 2013).

2.1.10 Komplikasi
ARDS
Sepsis
Syok septik
Pneumoni
Gagal ginjal (CDC, 2014)


23

DAFTAR PUSTAKA

Assiri, Abdullah, A. Jaffar, Memish, Ziad A. 2013. Middle East respiratory
syndrome novel corona (MERS-CoV) infection - Epidemiology
and outcome update, Saudi Medical Journal Vol. 34.

Assiri, Abdullah, A. Jaffar, Memish, Ziad A,. 2013. Transmission and
evolution of the Middle East respiratory syndrome coronavirus
in Saudi Arabia: a descriptive genomic study, USA.

Centers for Disease Control and Prevention. 2014. Middle East
Respiratory Syndrome, Atlanta, USA.

CDC Health Alert Network. 2013. Notice to Health Care Providers:
Updated Guidelines for Evaluation of Severe Respiratory Illness
Associated with a Novel Coronavirus, USA,
<http://emergency.cdc.gov/HAN/han00343.asp>.

Centers for Disease Control and Prevention. 2013. Update: Severe
Respiratory Illness Associated with Middle East Respiratory
Syndrome Coronavirus (MERS-CoV) - Worldwide, 20122013,
Atlanta, USA, <http://www.hidayatullah.com/berita/info-haji-
umrah/read/2013>.

Indonesian Public Health. 2014. Penilain Resiko Mers-CoV. Jakarta,
Indonesia,
<http://www.indonesian-publichealth.com/2014/05/penilaian-risiko-
mers.html>

J.De groot, Raoul, Baker, SC, SB, Ralph, SB, Caroline, Drosten, Christian,
Enjuanes, Luis et al. 2013, Middle East Respiratory Syndrome
Coronavirus (MERS-CoV), Announcement of the Coronavirus Study
Group, USA

Kementrian Kesehatan Republik Indonesia. 2013. Kewaspadaan terhadap
Middle East Respiratory Syndrome Corona Virus (MERS- CoV),
Jakarta, Indonesia.

Kementrian Kesehatan Republik Indonesia. 2013. Pedoman umum
kesiapsiagaan menghadapi Middle East Respiratory
Syndrome- Coronavirus (Mers-CoV), Jakarta, Indonesia.

Kementrian Kesehatan Republik Indonesia. 2013. Pedoman surveilans
dan respon kesiapsiagaan menghadapi Middle East Respiratory
Syndrome- Coronavirus (Mers-CoV), Jakarta, Indonesia.

24

Kementrian Kesehatan Republik Indonesia. 2013. Pedoman tatalaksana
klinis infeksi saluran pernapasan akut berat suspek Middle East
Respiratory Syndrome- Coronavirus (Mers-CoV), Jakarta,
Indonesia.

Kunis, Mila. 2014. MIDDLE EAST RESPIRATORY SYNDROME
CORONAVIRUS INFECTION (MERS), Prezi 14 mei 2014, dilihat
23 mei 2014 <http://prezi.com/lj0cm2okbaly/middle-east-
respiratory-syndrome-coronavirus- infection-mers/>

Mackay, lan M. 2014. Middle East respiratory syndrome coronavirus
(MERS-CoV), University of queensland.

Menko kesra. 2014. Waspadai Mers, Jemaah Umroh dihimbau Jaga
Kesehatan, dilihat 23 mei 2014 <
http://www.setkab.go.id/nusantara-12918-waspadai-mers-jemaah-
dihimbau-jaga-kesehatan.html>

Public Healt Agency of Canada. 2014. Middle East respiratory syndrome
coronavirus (MERS-CoV), Canada,
<http://www.phacaspc.gc.ca/tmp-pmv/notices-avis/notices-avis-
eng.php?id=108>

Wang, N, Shi, X, Jiang, L, Zhang, S, Wang, D, Tong, P. 2013. Structure of
MERS-CoV spike receptor-binding domain complexed with
human receptor DPP4, Tsinghua University, Beijing,
<http://www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmed/23835475>



.















25