Anda di halaman 1dari 12

1

Analisis Masalah
1. Budi....dingin seperti es
a. Etiologi dan patofisiologi kaki tangan teraba dingin seperti es?
Jawab :
Replikasi virus dan respon antibody kompleks virus-antibodi aktifasi
komplemen Anafilatoksin (C3a, C5a) Permeabilitas kapiler meningkat
Perembesan plasma Hipovolemia vasokontriksi pembuluh darah penurunan
suhu pada ujung-ujung ekstremitas

b. Hubungan usia, jenis kelamin dengan keluhan pada kasus?
Jawab :
Kemungkinan berkaitan dengan kebiasaan nyamuk Aedes aegypti yang aktif
menggigit pada siang hari dengan dua puncak aktivitas yaitu pada pukul 08.0012.00
dan 15.0017.00, pada jam tersebut anak bermain di luar rumah.

2. Empat hari ....seperti biasa
a. Etiologi dan mekanisme demam tinggi terus menerus, tidak menggigil, sakit kepala,
pegal-pegal dan sakit perut?
Jawab :

b. Makna klinis tidak ada batuk pilek, buang air besar dan buang air kecil seperti biasa?
Jawab :
Tidak ada batuk pilek pada kasus ini menunjukkan tidak ada infeksi agen pathogen
lain, sedangkan buang air besar dan buang air kecil normal menunjukkan keadaan
belum terjadi dehidrasi berat.

3. Budi sudah...mimisan
a. Mengapa panas Budi naik lagi walaupun telah diberi obat penurun panas?
Jawab :
Merupakan ciri dari siklus DBD
2

Nyamuk aedes aegypti ,pola demam DBD biasa disebut dengan pola pelana
kuda,yaitu Hari 1-3 Fase Demam Tinggi
Demam mendadak tinggi, dan disertai sakit kepala hebat,sakit dibelakang mata,
badan ngilu dan nyeri, serta mual muntah, kadang disertai bercak merah dikuli.
Hari 4-5 Fase kritis
Fase demam turun drastis dan seolah terlihat terjadinya kesembuhan.Namun inilah
fase kritis kemungkinan terjadinya dengue shock syndrome
Hari 6-7 Fase Masa Penyembuhan
Fase demam kembali tinggi sebagai bagian dari reaksi tahap penyembuhan.
Selain itu, pada pasien yang mengalami demam tinggi mengalami peneluaran cairan
keluar, sehingga mengakibatkan tubuh kekurangan cairan. Hal ini juga bisa menjadi
penyebab demam tidak turun.

b. Bagaimana etiologi dan mekanisme mimisan pada kasus?
Jawab :
Mekanisme mimisan pada kasus ini disebabkan karena infeksi DBD yang
mengaktivasi makrofag untuk fagositosis komplek virus antibodi tetapi virus malah
bereplikasi di makrofag tersebut sehingga terjadi agregasi trombosit yang
menyebabkan penghancuran trombosit sehingga terjadi trombositopenia yang
menyebabkan gangguan fungsi trombosit selanjutnya terjadi perdarahan masif.
Karena, pada hidung terdapat banyak pembuluh darah dan memiliki mukosa yang
tipis sehingga memudahkan untuk terjadi perdarahan sehingga terjadilah mimisan.

4. Sejak 6 jam...seperti es. Mimisan disangkal
a. Makna klinis dari tidak buang air kecil sejak 6 yang lalu?
Jawab :
Makna klinis pasien tidak mengalami dehidrasi berat.

5. Pemeriksaan fisik umum
a. Interpretasi dan mekanisme abnormal pemeriksaan fisik umum?
Jawab :
3

nilai normal Hasil Interpretasi
Kesadar compos mentis delirium terjadi penurunan
kesadaran
Tekanan darah 120/80mmHg 70/50mmhg terjadi penurunan
tekanan darah
Nadi filiformis abnormal
RR 16-20x/menit 36x.menit meningkat
Suhu 36,5
o
C-37,2
o
C 36,2
o
C menurun
BB BBI = (Umur x 2)
+ 8 = 14kg
15 kg normal
Rumple leede test (-) (+) abnormal

Mekanisme abnormal :
Tekanan darah
Mekanisme abnormal : peningkatan akut permeabilitas vaskuler yang mengarah pada
kebocoran plasma ke dalam ruang ekstra vaskuler, sehingga akan menimbulkan
hemokonsentrasi dan penurunan tekanan darah.

RR
Virus dengue yang telah masuk ketubuh penderita akan menimbulkan viremia. Hal
tersebut menyebabkan pengaktifan complement sehingga terjadi komplek imun
Antibodi virus pengaktifan tersebut akan membetuk dan melepaskan zat (3a, C5a,
bradikinin, serotinin, trombin, Histamin), yang akan merangsang PGE2 di
Hipotalamus sehingga terjadi termoregulasi instabil yaitu hipertermia yang akan
meningkatkan reabsorbsi Na+ dan air sehingga terjadi hipovolemi. Hipovolemi juga
dapat disebabkan peningkatkan permeabilitas dinding pembuluh darah yang
menyebabkan kebocoran palsma. Adanya komplek imun antibodi virus juga
menimbulkan agregasi trombosit sehingga terjadi gangguan fungsi trombosit,
trombositopeni, dan koagulopati. Ketiga hal tersebut menyebabkan perdarahan
berlebihan yang jika berlanjut terjadi syok dan jika syok tidak teratasi, maka akan
terjadi hipoxia jaringan dan akhirnya terjadi Asidosis metabolik. Asidosis metabolik
juga disebabkan karena kebocoran plasma yang akhirnya tejadi perlemahan sirkulasi
sistemik sehingga perfusi jaringan menurun dan jika tidak teratasi dapat menimbulkan
hypoxia jaringan. Hal inilah yang mengakibatkan terjadinya sesak nafas pada pasien.

4

Reaksi antigen- antibody agregasi trombosit pengeluaran ADP (adenosine
diphosphat) trombositopenia rumpled leed (+).

b. Apa indikasi dan bagaimana cara pemeriksaan rumple leede test?
Jawab :
Rumple leed adalah pemeriksaan bidang hematologi dengan melakukan
pembendungan pada bagian lengan atas selama 10 menit untuk uji diagnostik
kerapuhan vaskuler dan fungsi trombosit. Prosedur pemeriksaan Rumple leed tes
yaitu:
1. Pasang ikatan sfigmomanometer pada lengan atas dan pump sampai tekanan 100
mmHg (jika tekanan sistolik pesakit < 100 mmHg, pump sampai tekanan
ditengah-tengah nilai sistolik dan diastolik).
2. Biarkan tekanan itu selama 10 minit (jika test ini dilakukan sebagai lanjutan dari
test IVY, 5 minit sudah mencukupi).
3. Lepas ikatan dan tunggu sampai tanda-tanda statis darah hilang kembali. Statis
darah telah berhenti jika warna kulit pada lengan yang telah diberi tekanan tadi
kembali lagi seperti warna kulit sebelum diikat atau menyerupai warna kulit pada
lengan yang satu lagi (yang tidak diikat).
4. Cari dan hitung jumlah petechiae yang timbul dalam lingkaran bergaris tengah 5
cm kira-kira 4 cm distal dari fossa cubiti.
Catatan:
Jika ada > 10 petechiae dalam lingkaran bergaris tengah 5 cm kira-kira 4 cm distal
dari fossa cubiti test Rumple Leede dikatakan positif. Seandainya dalam lingkaran
tersebut tidak ada petechiae, tetapi terdapat petechiae pada distal yang lebih jauh
daripada itu, test Rumple Leede juga dikatakan positif.

6. Keadaan spesifik
a. Interpretasi dan mekanisme abnormal pemeriksaan fisik keadaan spesifik?
b. Cara pemeriksaan capillary refill time?
Jawab :
5

Capillary refill time adalah tes yang dilakukan cepat pada daerah dasar kuku
untuk memonitor dehidrasi dan jumlah aliran darah ke jaringan (perfusi).
Jika aliran darah baik ke daerah kuku, warna kuku kembali normal kurang dari 2
detik
CRT memanjang (> 2 detik) pada : Dehidrasi (hipovolumia), Syok, Peripheral
vascular disease ,hipotermia
CRT memanjang utama ditemukan pada pasien yang mengalami keadaan
hipovolumia (dehidrasi,syok), dan bisa terjadi pada pasien yang hipervolumia
yang perjalanan selanjutnya mengalami ekstravasasi cairan dan penurunan cardiac
output dan jatuh pada keadaan syok.

7. Pemeriksaan penunjang
a. Interpretasi dan mekanisme abnormal pemeriksaan penunjang?
Jawab :
Hb : 12g/dL normal
Ht : 45 vol % abnormal
Leukosit : 2800/mm
3
abnormal ; normal:5000-10000/mm
3
Trombosit : 45000/mm
3
abnormal; normal: 250.000-400.000/mm
3


Mekanisme abnormal
Ht: 45%
Mekanisme: peningkatan akut permeabilitas vaskuler yang mengarah pada kebocoran
plasma ke dalam ruang ekstra vaskuler, sehingga akan menimbulkan
hemokonsentrasi dan penurunan tekanan darah. Volume plasma menurun mencapai
20% pada kasus berat yang diikuti efusi pleura, hemokonsentrasi dan
hipoproteinemia. Jika penderita sudah stabil dan mulai sembuh, cairan ekstravasasi
diabsorbsi dengan cepat dan menimbulkan penurunan hematocrit


6

Leukosit 2800/mm3
Mekanisme: perubahan imunologi seluler karena adanya virus yang selalu
bereplikasi terkhususnya virus dengue. Hal ini memberikan respon terhadap sistem
imun seluler untuk melawan virus yang lama kelamaan akan mengakibatkan
leukopenia.
Trombosit 45.000/mm3
Mekanisme: virus yang masuk ke dalam tubuh manusia akan mengalami agregrasi
yaitu proses menempelnya virus dengue terhadap trombosit. Proses ini secara
bersamaan akan mengakibatan fagositosis oleh monosit ataupun makrofag yang di
mana keadaan yang akut maupun kronik dapat menimbulkan trombositopenia dan
memudahkan terjadinya perdarahan.
8. DD
Jawab :
Diagnosis Derajat* Gejala Laboratorium
DD Demam disertai 2 atau lebih tanda : sakit
kepala, nyeri retro-orbital, mialgia,
artralgia
Leukopenia
Trombositopenia, tidak
ditemukan bukti
kebocoran plasma
Serologi dengue positif.
DBD I Gejala diatas ditambah uji bending
positif
Trombositopenia
(<100.000/l), bukti ada
kebocoran plasma.
DBD II Gejala diatas ditambah perdarahan
spontan
Trombositopenia
(<100.000/l), bukti ada
kebocoran plasma.
DBD III Gejala diatas ditambah kegagalan
sirkulasi (kulit dingin dan lembab serta
gelisah), tekanan nadi (<20mmHg)
Trombositopenia
(<100.000/l), bukti ada
kebocoran plasma.
7

DBD IV Syok berat disertai dengan tekanan
darah dan nadi tidak terukur.
Trombositopenia
(<100.000/l), bukti ada
kebocoran plasma.

9. HTD
Jawab :
Berdasarkan kriteria WHO 1997, diagnosis DBD ditegakkan bila semua hal ini terpenuhi:
1. Demam atau riwayat demam akut, antara 2-7 hari biasanya bifasik.
2. Terdapat minimal 1 manifestasi perdarahan berikut: uji bendung positif; petekie,
ekimosis, atau purpura; perdarahan mukosa; hematemesis dan melena.
3. Trombositopenia (jumlah trombosit <100.000/ ml).
4. Terdapat minimal 1 tanda kebocoran plasma sbb:
Peningkatan hematokrit >20% dibandingkan standar sesuai umur dan jenis
kelamin.
Penurunan hematokrit >20% setelah mendapat terapi cairan, dibandingkan
dengan nilai hematokrit sebelumnya.
Tanda kebocoran plasma

Pemeriksaan penunjang
1. Kadar hemoglobin, kadar hematokrit, jumlah trombosit, dan hapusan darah
tepi
2. Pemeriksaan hemostasis (PT, APTT, Fibrinogen, D-Dimer, atau FDP).
Pemeriksaan lain yang dapat dikerjakan adalah albumin, SGOT/SGPT,
ureum/ kreatinin
3. Uji diagnostik melalui pemeriksaan isolasi virus, pemeriksaan serologi atau
biologi molekular. Di antara tiga jenis uji etiologi, yang dianggap sebagai
baku emas adalah metode isolasi virus.
4. Pemeriksaan terbaru yang sedang berkembang adalah pemeriksaan antigen
spesifik virus Dengue, yaitu antigen nonstructural protein 1 (NS1).
5. Pemeriksaan radiologis (foto toraks PA tegak dan lateral dekubitus kanan)
dapat dilakukan untuk melihat ada tidaknya efusi pleura, terutama pada
8

hemitoraks kanan dan pada keadaan perembesan plasma hebat, efusi dapat
ditemukan pada kedua hemitoraks. Asites dan efusi pleura dapat pula
dideteksi dengan USG.

10. WD
Jawab :
Demam berdarah dengue stadium IV

11. Pathogenesis
Jawab :

12. Epidemiologi
Jawab :
Setiap tahunnya WHO melaporkan 50100 juta terinfeksi virus dengue dengan 250-500
ribu menderita DBD dan 24.000 di antaranya meninggal dunia. Di Indonesia, 12 dari 30
propinsi di antaranya merupakan daerah endemis DBD dengan case fatality rate 1,12%.
Angka kejadian DBD/DD terbanyak pada umur 510 tahun, 52 anak (42,4%).
Berdasarkan distribusi jenis kelamin, laki-laki lebih banyak 66(54,6%) dibandingkan
dengan perempuan 57(45,4%). Kemungkinan berkaitan dengan kebiasaan nyamuk Aedes
aegypti yang aktif menggigit pada siang hari dengan dua puncak aktivitas yaitu pada
pukul 08.0012.00 dan 15.0017.00, pada jam tersebut anak bermain di luar rumah.
Insiden tertinggi terdapat pada kelompok umur 510 tahun yaitu 52 (42,4%), seperti hasil
penelitian di Bagian IKA RSCM, yang melaporkan insiden tertinggi terdapat pada
kelompok umur 59 tahun yaitu 46,1%.

13. Etiologi dan Faktor resiko
Jawab :
Faktor resiko :
Salah satu faktor risiko penularan DBD adalah pertumbuhan penduduk perkotaan yang
cepat, mobilisasi penduduk karena membaiknya sarana dan rasaranatransportasi dan
terganggu atau melemahnya pengendaslian populasi sehingga memungkin terjadinya
9

KLB (Wilder-Smith, 2008). Faktor risiko lainnya adalah kemiskinan
yangmengakibatkan orang tidak mempunyai kemampuan untuk menyediakan rumah
yang layak dan sehat, pasokan air minum dan pembuangan sampah yang benar (Wilder-
Smith, 2009). Tetapidi lain pihak, DBD juga bisa menyerang penduduk yang lebih
makmur terutama yang biasa bepergian (U.S.D.T, 2008) . Dari penelitian di Pekanbaru
Provinsi Riau, diketahui faktor yang berpengaruh terhadap kejadian DBD adalah
pendidikan dan pekerjaan masyara kat, jarak antar rumah, keberadaan tempat
penampungan air, keberadaan tanaman hias dan pekarangan serta mobilisai penduduk;
sedangkan tata letak rumah dan keberadaan jentik tidak menjadi faktor risiko (Roose,
2008). Faktor risiko yang menyebabkan munculnya antibodi IgM anti dengue yang
merupakan reaksi infesksi primer, berdasarkan hasil penelitian di wilayah Amazon Brasil
adalah jenis kelamin laki-laki, kemiskinan, dan migrasi. edangkan faktor risiko
terjadinya infeksi sekunder yang menyebabkan DBD adalah jenis kelamin laki-laki,
riwayat pernah terkena DBD padaperiode sebelumnya serta migrasi ke daerahperkotaan.

14. Penatalaksanaan
Jawab :
TATALAKSANA
1. Demam dengue
Pasien DD dapat berobat jalan, tidak perlu dirawat.
Pada fase demam pasien dianjurkan
Tirah baring, selama demam.
Obat antipiretik atau kompres hangat
Asetosal tidak dianjurkan gastritis, perdarahan, /asidosis.
cairan dan elektrolit per oral, jus buah, sirop, susu, disamping air putih, paling sedikit
diberikan selama 2 hari.
Monitor suhu, jumlah trombosit dan hematokrit sampai fase konvalesen.
Jenis Cairan (rekomendasi WHO)
Kristaloid.
Larutan ringer laktat (RL) ,
Larutan ringer asetat (RA), Larutan garam faali (GF)
10

Dekstrosa 5% dalam larutan ringer laktat (D5/RL)
Dekstrosa 5% dalam larutan ringer asetat (D5/RA)
Dekstrosa 5% dalam 1/2 larutan garam faali (D5/1/2LGF)
(Catatan:Untuk resusitasi syok dipergunakan larutan RL atau RA tidak boleh larutan
yang mengandung dekstran)
Koloid.
Dekstran 40
Plasma
Albumin


Monitoring tanda vital
Koreksi Gangguan Metabolik dan Elektrolit
Pemberian Oksigen
Transfusi Darah

15. Pencegahan
Jawab :
1. Kenakan pakaian lengan panjang dan celana panjang, dan gunakan obat
penangkal nyamuk yang mengandung DEET pada bagian tubuh yang tidak
terlindungi.
2. Gunakan kawat nyamuk atau kelambu di ruangan tidak berAC.
3. Pasang obat nyamuk bakar ataupun obat nyamuk cair/listrik di tempat yang dilalui
nyamuk, seperti jendela, untuk menghindari gigitan nyamuk.
4. Cegah
munculnya genangan
air
11

Buang kaleng dan botol bekas di tempat sampah yang tertutup.
Ganti air di vas bunga paling sedikit seminggu sekali, dan jangan biarkan
ada air menggenang di pot tanaman.
Tutup rapat semua wadah air, sumur dan tangki penampungan air.
Jaga saluran air supaya tidak tersumbat.
Ratakan permukaaan tanah untuk mencegah timbulnya genangan air.
Jika Anda melihat sarang nyamuk di tempat umum, harap hubungi Hotline
Departemen Kebersihan Makanan dan Lingkungan di nomor 2868 0000

16. Komplikasi
Jawab :
Ensefalopati dengue
Gagal ginjal akut
Edema paru akut

17. Prognosis
Jawab :
Dengan perawatan yang cepat dan agresif, kebanyakan pasien sembuh dari demam
berdarah dengue. Namun, setengah dari pasien yang tidak diobati dan telah
mengalami syok tidak dapat bertahan hidup.
Quo Ad vitam : Ad bonam
Quo Ad functionam : Ad bonam

18. SKDI
Jawab :
Syok hipovolemik
3B . Mampu membuat diagnosis klinis berdasarkan pemeriksaan fisik dan pemeriksaan-
pemeriksaan tambahan yang diminta oleh dokter (misalnya : pemeriksaan laboratorium
sederhana atau X-ray). Dokter dapat memutuskan dan memeberi terapi pendahuluan ,
serta merujuk ke spesialis yang relevan ( kasus gawat darurat).
12

DBD
4 . Lulusan dokter mampu membuat diagnosis klinik dan melakukan penatalaksanaan
penyakittersebut secara mandiri dan tuntas.

Hipotesis:
Budi, anak laki-laki usia 3 tahun, mengalami panas tinggi dengan ekstremitas dingin disertai
mimisan, diduga menderita DBD grade IV