Anda di halaman 1dari 13

OLEH : DIO HADINATA

DITO PRESETYO
PUTRI RIZKIA
RAUDAH ANSARI
RETNO WIDIASTUTI
Semua orang mendambakan kehidupan yang
aman, damai dan sejahtera sebagaimana
yang dicita-citakan masyarakat Indonesia,
yaitu adil dan makmur bagi seluruh lapisan
masyarakat. Untuk mencapainya berbagai
sistem kenegaraan muncul, seperti
demokrasi. Cita-cita suatu masyarakat tidak
mungkin dicapai tanpa mengoptimalkan
kualitas sumber daya manusia..
Masyarakat madani (civil society) dapat diartikan
sebagai suatu masyarakat yang beradab dalam
membangun, menjalani, dan mamaknai
kehidupannya.
masyarakat madani pada prinsipnya memiliki
multimakna, yaitu masyarakat yang demokratis,
menjunjung tinggi etika dan moralitas,
transparan, toleransi, berpotensi, aspiratif,
bermotivasi, berpartisipasi, konsisten memiliki
bandingan, mampu berkoordinasi, sederhana,
sinkron, integral, mengakui, emansipasi, dan hak
asasi, namun yang paling dominan adalah
masyarakat yang demokratis.
Rahardjo (1997) menyatakan bahwa istilah civil society sudah ada sejak
zaman sebelum masehi. Orang yang pertama kali yang mencetuskan
istilah civil society ialah Cicero (106-43 SM), sebagai orator Yunani kuno.
Civil society menurut Cicero ialah suatu komunitas politik yang beradab
seperti yang dicontohkan oleh masyakat kota yang memiliki kode hukum
sendiri. Dengan konsep civil society (kewargaan) dan urbanity (budaya
kota), maka kota dipahami bukan hanya sekerdar konsentrasi penduduk,
melainkan juga sebagai pusat peradaban dan kebudayaan.
Istilah masyarakat madani selain mengacu pada konsep civil society, juga
berdasarkan pada konsep negara-kota Madinah yang dibangun Nabi
Muhammad SAW pada tahun 622M. Masyarakat madani juga mengacu pada
konsep tamadhun (masyarakat yang beradaban) yang diperkenalkan oleh
Ibn Khaldun, dan konsep Al Madinah al fadhilah (Madinah sebagai Negara
Utama) yang diungkapkan oleh filsuf Al Farabi pada abad pertengahan
(Rahardjoseperti yang dikutip Nurhadi, 1999).
Free public sphere
Demokratisasi
Toleransi
Pluralisme
Keadilan sosial (social justice)
Partisipasi sosial
Supremasi hukum
Adanya perbaikan sektor di ekonomi, dalam rangka
peningkatan pendapatan masyarakat, dan dapat
mendukung kegiatan pemerintahan.
Tumbuhnya intelektualitas dalam rangka membangun
manusia yang memiliki komitmen untuk independen.
Terjadinya pergeseran budaya dari masyarakat yang
berbudaya paternalistik menjadi budaya yang lebih
modern dan lebih independen.
Berkembangnya pluralismedalam kehidupan yang
beragam.
Adanya partisipasi aktif dalam menciptakan tata
pamong yang baik.
Adanya keinginan dan ketakwaan kepada Tuhan yang
melandasi moral kehidupan.

Manfaat yang dapat diperoleh dengan terwujudnya
masyarakat madani ialah terciptanya masyarakat yang
demokratis, sebagai salah satu tuntutan reformasi di dalam
negeri dan tekanan-tekanan politik, serta ekonomi dari
luar negeri. Di samping itu, menurut Suwardi (1999)
melalui masyarakat madani akan mendorong munculnya
inovasi-inovasi baru di bidang pendidikan.
Guna mewujudkan masyarakat madani, dibutuhkan motivasi
yang tinggi dan partisipasi nyata dari individu sebagai
anggota masyarakat. Hal ini mendukung pendapat Suryadi
(1999), yang intinya menyatakan bahwa untuk
mewujudkan masyarakat madani diperlukan proses waktu,
serta dituntut komitmen masing-masing warganya untuk
mereformasi diri secara total dan selalu konsisten, dan
penuh kearifan dalam menyikapi konflik yang tak
terelakan. Tuntutan terhadap terhadap aspek ini sama
pentingnya dengan kebutuhan akan toleransi sebagai nilai
instrumen dasar lahirnya sebuah konsensus atau kompromi.

Langkah-langkah yang diperlakukan dalam rangka
good governance adalah :
Penguatan fungsi dan peran lembaga perwakilan
rakyat seperti DPR, DPRD I, DPRD II, dan DPD.
Membangun kemandirian lembaga peradilan dari
intervensi pemerintah dan pihak lain.
Membangun aparatur negara yang profesional dan
penuh integritas.
Membangun peran serta masyarakat yang kuat dan
mandiri, serta bermoral.
Membangun keimanan dan ketakwaan kepada Tuhan
yang melandasi moral kehidupan.

Dalam pasal 1 UU. No. 39 Tahun 1999 tentang
HAM disebutkan bahwa hak asasi manusia
adalah seperangkat hak yang melekat pada
hakekat dan keberadaan manusia sebagai
makhluk Tuhan Yang Maha Esa dan
merupakan anugrah-Nya yang wajib
dihormati, dijunjung tinggi, dan dilindungi
oleh Negara, hukum, pemerintah, dan setiap
orang demi kehormatan serta perlindungan
harkat dan martabat manusia.

Hak-hak asasi manusia dapat dibagi menjadi 6, yaitu:
1. Hak asasi pribadi/personal right yang meliputi kebebasan
menyatakan pendapat, kebebasan memeluk agama, dan
kebebasan bergerak.
2. Hak hak asasi ekonomi/property right yaitu hak untuk memiliki
sesuatu, membeli, menjual, serta memanfaatkannya.
3. Hak-hak asasi untuk mendapatkan perlakuan yang sama dalam
hukum dan pemerintahan atau yang biasa disebut right of legal
equality.
4. Hak-hak asasi politik/politicial right, yaitu hak untuk ikut serta
dalam pemerintahan, hak pilih (memilih dan dipilih dalam
pemilihan umum), dan mendirikan partai politik.
5. Hak-hak asasi sosial dan budaya/social and cultur right,
misalnya hak untuk memilih pendidikan dan mengembangkan
kebudayaan.
6. Hak-hak asasi mendapatkan perlakuan tata cara peradilan dan
perlindungan atau procedural right, missal pengaturan dalam
hal penangkapan, penggeledahan dan peradilan.
Sejak mula sebelum lahirnya berbagai gagasan
tentang HAM, Islam telah meletakkan dasar yang
kuat. Islam memandang bahwa kedudukan
manusia adalah sama dan hanya dibedakan dari
sudut ketqawaan, tidak ada paksaan dalam
beragama dan tidak boleh suatu kaum menghina
kaum yang lain. Rasulullah SAW. sendiri
bersabda, Setiap manusia dilahirkan dalam
keadaan suci
Landasan pijak keterkaitan dengan hak tersebut
dalam Islam dikenal melalui dua tancap, yaitu
hak manusia dan hak Allah. Hak manusia itu
bersifat relative sedangkan hak Allah adalah
mutlak, tetapi antara kedua hak tersebut saling
melindungi satu sama lain.
1. Hak perlindungan terhadap jiwa
Kehidupan merupakan suatu hal yang sangat niscaya dan tidak boleh dilanggar oleh siapapun, Allah
berfirman dalam surat



Membunuh manusia seluruhnya. Dan barangsiapa yang menyelamatkan kehidupan seorang
manusia, maka seolah-olah dia telah menyelamatkan kehidupan manusia semuanya.
2. Hak perlindungan keyakinan.
Dalam hal ini Allah telah menguti dalam Al-Quran yang berbunyi In Taqrah al-dhin dan Lakum
dinukum waliyadin.

3. Hak perlindungan terhadap akal pikiran.
Hak perlindungan terhadap akal pikiran ini telah diterjemah dalam perangkat hukum yang sangat
elementer, yakni tentang harusnya menjauhi makanan dan minuman yang dapat merusak akal dan
pikiran manusia.

4. Hak perlindungan terhadap hak milik.
Hak perlindungan terhadap hak milik telah dimaksudkan dalam hukum sebagaimana telah
diharamkannya pencurian.

5. Hak berkeluarga atau hak memperoleh keturunan dan mempertahankan nama baik.

TERIMAKASIH