Anda di halaman 1dari 85

PENGARUH PEMANFAATAN PROGRAMADOBE FLASH

TERHADAP HASIL BELAJAR FISIKA SISWA PADA KONSEP


ENERGI BERNUANSA NILAI
(Kuasi Eksperimen Di MTs. Islamiyah Ciputat)
Skripsi
Diajukan Untuk Memenuhi Persyaratan Sarjana Strata 1 (S.Pd)
Oleh :
MUHAMMAD HARTATO
NIM: 104 016 300 478
PROGRAM STUDI PENDIDIKAN FISIKA
JURUSAN PENDIDIKAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
FAKULTAS ILMU TARBIYAH DAN KEGURUAN
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI
SYARIF HIDAYATULLAH
JAKARTA
2011 M/1432 H
LEMBAR PENGESAHAN
PENGARUH PEMANFAATAN PROGRAMADOBE
FLASH TERHADAP HASIL BELAJAR FISIKA SISWA
PADA KONSEP ENERGI BERNUANSA NILAI
Skripsi
Diajukan Kepada Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan Untuk Memenuhi
Syarat-Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Stata I (S
1
)
Oleh:
MUHAMMAD HARTATO
104016300478
Dibawah Pembimbing:
Pembimbing I Pembimbing II
Drs. Zamris Habib, M. Si. Iwan Permana Suwarna, M. Pd.
NIP. 130 695 192 NIP. 197805042009011013
PROGRAM STUDI PENDIDIKAN FISIKA
JURUSAN PENDIDIKAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
FAKULTAS ILMU TARBIYAH DAN KEGURUAN
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI
SYARIF HIDAYATULLAH
JAKARTA
1432 H/2011 M
ii
ABSTRAK
MUHAMMAD HARTATO, "Pengaruh Pemanfaatan Program Adobe Flash Pada
Siswa Fisika Terhadap Hasil Belajar Pada Konsep Energi Nilai Bernuansa".
Skripsi Program Studi Fisika, Ilmu Pengetahuan Alam, Fakultas Ilmu Tarbiyah
dan Keguruan, Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta.
Penelitian ini bertujuan untuk memanfaatkan program adobe flash pada konsep
energi bernuansa nilai untuk meningkatkan belajar fisika siswa. Metode yang
digunakan dalam penelitian ini adalah kuasi eksperimen kelas kontrol dan
eksperimen nonrandomized desain pretest-postest. Penelitian ini dilaksanakan di
MTs. Islamiyah Ciputat Tangerang Selatan pada tahun 2010/2011. Sampel ini
adalah siswa kelas VIII A sebagai kelompok eksperimen dengan menggunakan
program adobe flash dan siswa kelas VIII B sebagai kelompok kontrol
menggunakan gambar media. Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini
adalah kuesioner dan tes pengetahuan (kognitif) tipe pilihan ganda dengan empat
pilihan dan hasilnya diuji melalui statistik "t" test. Dari hasil perhitungan
diperoleh nilai t
hitung
sebesar 4,26 sedangkan nilai ttabel sebesar 2,00 pada tingkat
signifikansi untuk 0,05 atau dapat diketahui t
hitung
> t
tabel
, dapat disimpulkan bahwa
Ha ada perbedaan antara hasil belajar fisika siswa dalam konsep energi bernuansa
nilai melalui program adobe flash dan media gambar. respon siswa untuk program
adobe flash dan gambar adalah positif.
Kata kunci: Program Adobe Flash, Media Gambar, Hasil Belajar Fisika Siswa.
iii
ABSTRACT
Muhammad Hartato, "Learning effect of using adobe flash on physics students
to learning outcomes on energy concepts nuanced value". Skripsi Physics
Education Program, Natural Sciences Major, Faculty of Tarbiya and Teachers
Training, Islamic State University Syarif Hidayatullah Jakarta.
This research aim to use the program of adobe flash on the concept of energy
nuance value to enhance students physics learning. The method were used in this
research were the quasi of experiments and nonrandomized control group pretest-
postest design. This research was conducted in MTs. Islamiyah Ciputat on South
Tangerang on 2010/2011 school year. This sample is a student of class VIII A as a
group of experiments using a program of adobe flash and student class VIII B as
a control group use drawing media. The instruments were used in this study were
a questionnaire and tests of knowledge (cognitive) multiple-choice type with four
options and the results were tested through the "t" test statistic. From calculation
results were obtained t
count
value of 4.26 whereas for t
tabel
value of 2.00 on
significance level to 0.05 or can be known t
count
> t
table
, it can be concluded that
the Ha stating that there is a difference between students physic learning result in
energy concept nuance value through the program of adobe flash and drawing
media. The student responses to program of adobe flash and drawing is a
positive.
Keywords: The Adobe Flash Program, Drawing Media, Physics Learning Results.
iv
KATA PENGANTAR
Assalamualaikum Wr.Wb
Alhamdulillah segala puji atas kekuasaan Allah SWT, Tuhan yang telah
menciptakan manusia dalam kesempurnaan. Segala syukur atas kasih sayang dan
bimbingan-Nya yang telah memberikan kenikmatan dunia sebagai ladang untuk
mengantarkan pada kehidupan akhirat. Ampuni atas kelalaian dan keingkaran
Syahadat yang tidak mampu termanifestasi dalam kehidupan.
Sholawat serta salam semoga tetap tercurahkan kepada junjungan kita
baginda Nabi Muhammad SAW, para keluarga, sahabat serta para pengikutnya
yang telah membawa petunjuk kebenaran pada seluruh umat manusia yaitu Ad-
Dinul Islam yang kita harapkan syafaatnya di dunia dan akhirat kelak.
Selanjutnya, penulis menyadari betul bahwa tidak sedikit kesulitan yang
dihadapi selama penulisan skripsi ini. Namun, atas bimbingan-Nya dan motivasi
dari berbagai pihak penulis menyadari bahwa keberhasilan dan kesempurnaan
merupakan sebuah proses yang mesti dijalani. Olehsebab itu, pada kesempatan ini
penulis penyampaikan ucapa terima kasih kepada semua pihak yang berhasa
dalam penulisan skripsi ini, diantaranya:
1. Bapak Prof. Dr. Dede Rosyada, MA., Dekan Fakultas Ilmu Tarbiyah dan
Keguruan UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.
2. Ibu Baiq Hana Susanti, M. Sc, selaku Ketua Jurusan Ilmu Pengetahuan
Alam.
3. Bapak Iwan Permana Suwarna, M. Pd. Ketua Prodi Pendidikan Fisika.
4. Bapak Drs. Zamris Habib, M. Si. Dosen Pembimbing I yang penuh
kesabaran serta keikhlasan dalam membimbing penulis selama ini.
5. Bapak Iwan Permana Suwarna, M. Pd. Dosen Pembimbing II juga telah
banyak memberikan ide, pemikiran serta waktu hingga tuntasnya skripsi ini.
6. Ibu Erina Hertanti, M. Si., Dosen Penasehat yang selalu memberikan saran
sehingga penulis bisa menyelesaikan penulisan skripsi ini.
7. Bapak dan Ibu Dosen, atas ilmu dan pengalaman yang telah diberikan
selama penulis mengikuti perkuliahan.
v
8. Kepala Madrasah Tsanawiyah Islamiyah Ciputat Bapak Drs. Oding,
Wakepsek Ibu Hj. Yurnelis, BA, dan rekan guru-guru Islamiyah Ciputat
yang telah banyak membantu selama proses penelitian. Siswa kelas VIII. 1
dan 2 yang telah bersedia memberikan waktunya untuk menjadi sampel.
9. Ayahanda Rodin dan Ibunda Cayem yang telah melimpahkan segenap kasih
sayang yang tak terhingga. Teruntuk Kakak saya Erdiana, S. Ag. serta
keluarga, Diany, Anita Rizki, Lenah, Mas Mukid yang tak henti-hentinya
mendoakan, melimpahkan kasih sayang dan memberikan semangat dalam
setiap waktu. Hanya Allah yang dapat membalasnya, dan semoga penulis
dapat memberikan yang terbaik untuk kalian.
Semoga skripsi ini dapat bermanfaat bagi penulis khususnya dan bagi
khazanah ilmu pengetahuan pada umunya.
Wassalamualaikum Wr. Wb
Jakarta, April 2011
Penulis
M. Hartato
vi
DAFTAR ISI
LEMBAR PENGESAHAN .................................................................................. i
ABSTRAK ............................................................................................................ ii
KATA PENGANTAR .......................................................................................... iv
DAFTAR ISI ........................................................................................................ vi
DAFTAR TABEL ................................................................................................ ix
DAFTAR GAMBAR ........................................................................................... x
DAFTAR LAMPIRAN ....................................................................................... xi
BAB I PENDAHULUAN ................................................................................... 1
A. Latar Belakang Masalah .............................................................................. 1
B. Identifikasi Masalah .................................................................................... 3
C. Pembatasan Masalah ................................................................................... 3
D. Perumusan Masalah .................................................................................... 3
E. Tujuan Penelitian ........................................................................................ 3
F. Manfaat Penelitian ...................................................................................... 4
BAB II DESKRIPSI TEORITIS DAN KERANGA BERFIKIR ................. 5
A. Deskripsi Teori .......................................................................................... 5
1. Hakikat Media Pembelajaran ............................................................. 5
a. Pengertian media pembelajaran .................................................. 5
b. Dasar pertimbangan dan kriteria pemilihan media ..................... 7
c. Manfaat media pembelajaran ...................................................... 8
d. Klasifikasi media ......................................................................... 9
2. Pengertian media presentasi ............................................................... 10
3. Aplikasi pembuatan slide presentasi dengan adobe flash .................. 13
B. Hasil Belajar Siswa ................................................................................... 20
1. Pengertian hasil belajar ...................................................................... 20
2. Faktor-faktor yang mempenaruhi hasil belajar .................................. 24
C. Definisi pendidikan nilai ........................................................................... 25
vii
D. Konsep Energi ........................................................................................... 30
1. Pengertian energi ................................................................................ 30
2. Bentuk bentuk energi ....................................................................... 30
3. Perubahan bentuk energi .................................................................... 31
4. Energi mekanik .................................................................................. 32
5. Sumber-sumber energi ....................................................................... 33
6. Kandungan nilai dalam pembelajaran konsep energi ........................ 33
E. Hasil Penelitian Relevan ........................................................................... 35
F. Kerangka Berpikir .................................................................................... 37
G. Hipotesis penelitian .................................................................................. 39
BAB III METODOLOGI PENELITIAN ...................................................... 40
A. Tempat dan waktu penelitian .................................................................... 40
B. Metode Penelitian ...................................................................................... 40
C. Desain penelitian ....................................................................................... 40
D. Populasi dan Sampel ................................................................................. 41
E. Variabel Penelitian ................................................................................... 41
F. Teknik Pengambilan sampel .................................................................... 41
G. Prosedur Penelitian .................................................................................. 42
H. Teknik pengumpulan data........................................................................ 44
I. Instrumen Penelitian ................................................................................ 44
1. Validitas Instrumen .......................................................................... 44
2. Uji Reliabilitas Instrumen ................................................................. 45
3. Tingkat Kesukaran Item ................................................................... 45
4. Daya Pembeda Soal .......................................................................... 46
J. Teknik Analisis Data ............................................................................... 46
1. Uji Normalitas .................................................................................. 46
2. Uji Homogenitas .............................................................................. 47
3. Uji Hipotesis Statistik Parametik ..................................................... 47
K. Hipotesis Statistik ................................................................................... 48
viii
BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN ........................................................ 49
A. Hasil Penelitian ...................................................................................... 49
1. Hasil belajar (pretest) kelompok eksperimen dan kontrol .............. 49
2. Hasil belajar (posttest) kelompok eksperimen dan kontrol ............ 51
3. Rekapitulasi data hasil belajar ........................................................ 53
4. Hasil angket siswa .......................................................................... 54
a. Sikap siswa terhadap program Adobe Flash ........................... 54
b. Sikap siswa terhadap media gambar ....................................... 55
5. Hasil uji prasyarat analisis .............................................................. 55
a. Hasil uji normalitas tes hasil belajar ....................................... 55
b. Hasil uji homogenitas tes hasil belajar .................................... 56
6. Pengujian Hipotesis ........................................................................ 57
a. Hasi uji kesamaan dua rata-rata hasil pretest .......................... 57
b. Hasi uji kesamaan dua rata-rata hasil posttest ........................ 58
7. Hasil Uji Normal Gain ................................................................... 58
B. Pembahasan .......................................................................................... 61
BAB V KESIMPULAN DAN SARAN ....................................................... 63
A. Kesimpulan ............................................................................................ 63
B. Saran ....................................................................................................... 63
DAFTAR PUSTAKA .................................................................................... 64
LAMPIRAN .................................................................................................. 68
ix
DAFTAR TABEL
Tabel 2.1 Klasifikasi dan Jenis Media ............................................................. 9
Tabel 2. 2 Nilai dalam sains ............................................................................ 29
Tabel 3.1 Desain Penelitian .............................................................................. 40
Tabel 4.1 Rekapitulasi Data Hasil Belajar ....................................................... 54
Tabel 4.2 Hasil Uji Normalitas Pretest Postes ................................................ 56
Tabel 4.3 Hasil Uji Homogenitas Kelas Eksperimen ...................................... 56
Tabel 4.4 Hasil Uji Homogenitas Kelas Kontrol ............................................. 57
Tabel 4.5 Uji Kesamaan Dua Rata-Rata Hasil Pretest ...................................... 57
Tabel 4.6 Uji Kesamaan Dua Rata-Rata Hasil Posttest ..................................... 58
Tabel 4.7 Uji Kesamaan Dua Rata-Rata Normal Gain ...................................... 59
x
DAFTAR GAMBAR
Gambar 2.1 OHP (Over Head Projector) ........................................................... 11
Gambar 2.2 Proyektor Digital ............................................................................. 12
Gambar 2.3 Tampilan Menu Adobe Flash CS3................................................... 15
Gambar 2.4 Bagan Hasil Belajar........................................................................ 23
Gambar 2.5 Nilai Sains Menurut Einstein ........................................................ 29
Gambar 3.1 Bagan tahap prosedur penelitian ..................................................... 43
Gambar 4.1 Histogram Hasil Pretest Kelompok Eksperimen dan Kontrol ........ 49
Gambar 4.2 Histogram Hasil Statistika Pretest Eksperimen dan Kontrol ........... 50
Gambar 4.3 Histogram Hasil Postest Kelompok Eksperimen dan Kontrol ........ 51
Gambar 4.4 Histogram Hasil Statistika Postest Eksperimen dan Kontrol ........... 52
Gambar 4.5 Histogram Rekapitulasi Hasil Belajar ............................................... 53
xi
DAFTAR LAMPIRAN
Lampiran 1 Silabus ................................................................................................
Lampiran 2 Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) Eksperimen ................... 69
Lampiran 3 Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) Kontrol ......................... 76
Lampiran 4 Kisi-kisi Instrumen Peneltian Pemahaman ........................................ 82
Lampiran 5 Kisi-kisi Instrumen Tes Kognitif ....................................................... 83
Lampiran 6 Uji Coba Instrumen ............................................................................ 91
Lampiran 7 Jawaban Instrumen Tes ...................................................................... 97
Lampiran 8 Validitas Instrumen ............................................................................. 98
Lampiran 9 Soal Uji Kemampuan Pemahaman Konsep ........................................ 109
Lampiran 10 Jawaban ............................................................................................. 113
Lampiran 11 Perhitungan Uji Analisis Data .......................................................... 114
Lampiran 12 Persentase Respon Program Adobe Flash ........................................ 136
Lampiran 13 Persentase Respon Media Gambar ................................................... 137
Lampiran 14 Nilai-nilai Chi Kuadrat ..................................................................... 138
SURAT-SURAT
UJI REFERENSI
1
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Pembelajaran merupakan suatu kegiatan yang melibatkan seseorang dalam
upaya memperoleh pengetahuan, keterampilan dan nilai-nilai positif dengan
memanfaatkan berbagai sumber untuk belajar. Pembelajaran melibatkan dua pihak
yaitu siswa sebagai pembelajar dan guru sebagai fasilitator. Yang terpenting
dalam kegiatan pembelajaran adalah tarjadinya proses belajar (learning proces).
1
Pembelajaran IPA khususnya fisika di sekolah selalu mengalami titik
jenuh bagi para siswa disamping banyaknya rumus yang harus dihafal, siswa juga
kurang memahami materi fisika yang bersifat abstrak dan selalu mendapatkan
suasana belajar yang membosankan. Oleh karena itu pembelajaran fisika harus
dibuat lebih menarik dan mudah dipahami, karena fisika lebih membutuhkan
pemahaman dari pada penghafalan berbagai rumus yang begitu banyak. Untuk
mengantisipasi hal tersebut salah satunya perlu didukung media pembelajaran
yang sesuai.
Secara umum pengajaran sains bertujuan untuk meningkatkan pemahaman
konsep dan ketertarikannya dengan kehidupan sehari-hari. Fisika sebagai proses
berkaitan dengan cara mencari tahu dan memahami tentang alam secara
sistematis, sehingga fisika bukan hanya sebagai produk yaitu sekumpulan
pengetahuan berupa fakta-fakta, konsep-konsep, prinsip-prinsip saja tetapi juga
merupakan suatu proses penemuan untuk mendapatkan pengetahuan.
Proses pembelajaran di sekolah sangat membutuhkan strategi dalam
penyampaian, dan sistem evaluasi yang tepat. Strategi itu dapat berupa
pembelajaran yang mempesona, menyenangkan, menarik, mengasyikan, tidak
membosankan, variatif, kreatif dan indah.
2
Adanya media pembelajaran ini didukung oleh perkembangan IPTEK
khususnya TIK telah berkembang dengan pesat dalam semua aspek kehidupan
1
Azhar Arsyad., Media Pembelajaran (Jakarta: PT. Grafindo Persada, 2004), h. 23.
2
Rosa Rohmatika, Efektifitas Penerapan MMI dengan Metode Diskusi Terhada Fisika Siswwa
SMP, (Jurnal Pendidikan, 2006)
2
kita. Pembelajaran dengan menggunakan media berbasis komputer sudah
dilakukan di beberapa sekolah dengan menggunakan seperangkat komputer atau
laptop, proyektor digital, dan perangkat audio. Tujuannya agar pembelajaran
menjadi lebih menarik dan efektif. Siswa dipercaya untuk belajar melalui tata cara
menyimak tayangan di layar monitor atau mungkin menggunakan sarana lain
berupa digital proyektor. Kehadiran media elektronik seperti komputer dengan
fasilitas internetnya dan ditambah digital proyektor untuk penayangannya sebagai
media belajar menuntut guru untuk lebih biasa memanfaatkannya sebagai sarana
penunjang yang menarik.
Selain dari usaha pencapaian hasil belajar berupa penguasaan pengetahuan
dan konsep sains, pembelajaran fisika yang merupakan bagian dari sains juga
dianggap perlu untuk mengungkap nilai-nilai umum yang terkandung di dalam
sains. Menurut Einstein yang dikutip oleh Yudianto, dalam IPA (sains)
mengandung lima nilai, yaitu: (1) nilai religius, (2) nilai praktis, (3) nilai
intelektual, (4) nilai sosial politik, dan (5) nilai pendidikan.
3
Manusia memanfaatkan hasil-hasil sains yang akan memberikan nilai-
nilai dala sains sendiri.
4
Dalam kegiatan pembelajaran pengetahuan siswa yang
berkaitan dengan konsep-konsep yang terdapat dalam fisika, khususnya konsep
Energi dapat disisipkan beberapa nilai seperti nilai praktis dan nilai intelektual.
Nilai-nilai tersebut dapat kembangkan melalui peran serta aktif antara siswa dan
guru dalam kegiatan pembelajaran.
Materi yang digunakan dalam penelitian ini adalah Energi, jika materi
ini disampaikan hanya dengan metode ceramah saja maka siswa merasa jenuh dan
tidak tertarik untuk mempelajarinya. Media presentasi dengan program adobe
flash diharapkan tepat untuk konsep fisika Energi karena materi ini dapat
digambarkan dengan simulasi, visualisasi, dan animasi yang dapat memudahkan
siswa dalam memahami materi. Presentasi dengan Adobe flash dapat membantu
pembelajaran secara visual yang dapat didesain dengan memanfaatkan animasi,
3
Suroso Adi Yudianto, Manajemen Alam dan Sumber Pendidikan Nilai, (Bandung: PPS UPI,
2005), h. 305
4
Sukarno, et al., Dasar-dasar Pendidikan Sains, (Jakarta: PT. Bharatara Karya Aksara, 1981), h.
15
3
gambar, dan gerakan yang digabungkan dalam penyajian pembelajaran, ini
merupakan suatu teknologi yang terus dikembangkan dalam dunia pendidikan.
5
Karena penyajiannya yang dalam bentuk visual maka media ini diharapkan dapat
membantu dalam proses pembelajaran dan dapat menarik perhatian siswa, serta
memudahkan bagi guru dalam menyampaikan materi pembelajaran.
Berdasarkan uraian tersebut, peneliti tertarik untuk menyelidiki apakah
terdapat pengaruh penggunaan media presentasi dengan program adobe flash
terhadap hasil belajar fisika siswa. Oleh karena itu sebagai judul penelitian ini
adalah: Pengaruh Pemanfaatan Program Adobe Flash Terhadap Hasil Belajar
Fisika Siswa Pada Konsep Energi Bernuansa Nilai.
B. Identifikasi Masalah
Berdasarkan latar belakang masalah tersebut di atas maka dapat
diidentifikasikan masalah sebagai berikut:
1. Siswa kurang memahami terhadap materi tertentu yang bersifat abstrak.
2. Siswa dituntut untuk menghafal rumus-rumus fisika.
3. Pembelajaran fisika umumnya hanya dengan metode ceramah.
C. Pembatasan Masalah
Berdasarkan identifikasi masalah di atas, maka penelitian ini dibatasi pada:
1. Konsep fisika yang diajarkan dengan program adobe flash dan media gambar
yang bernuansa nilai.
2. Hasil belajar yang diukur dalam penelitian ini adalah aspek kognitif (hasil
belajar) pada tingkatan C
1
(menghafal), C
2
(memahami), dan C
3
(menerapkan).
3. Pendekatan nilai yang dimaksud dalam penelitian ini adalah penyisipan
muatan nilai dalam kegiatan pembelajaran. Nilai yang akan disisipkan dalam
pembelajaran meliputi nilai praktis dan nilai intelektual.
5
Indah lestari, pengaruh pemanfaatan software macromedia flash MX sebagai media Chemo-
edutainment (CET) pada pembelajaran dengan pendekatan Chemo-entrepenership (CEP) terhadap
hasil belajar fisika siswa SMP pokok materi Pengukuran, (Universitas Negeri Semarang : Fakultas
MIPA jurusan Fisika, 2007), h. 20
4
D. Perumusan Masalah
Berdasarkan identifikasi masalah dan pembatasan masalah di atas, maka
masalah yang akan diteliti dan dirumuskan sebagai berikut: Apakah terdapat
pengaruh pemanfaatan program adobe flash terhadap hasil belajar fisika siswa
pada konsep energi bernuansa nilai?
E. Tujuan Penelitian
Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh pemanfaatan
program adobe flash dalam konsep energi terhadap hasil belajar fisika siswa.
F. Manfaat Penelitian
Hasil penelitian ini diharapkan bermanfaat untuk:
1. Memberikan informasi terkait teknologi dan cara belajar agar lebih
menyenangkan, sehingga diharapkan dapat berpengaruh terhadap hasil belajar
fisika.
2. Memberikan informasi pembelajaran yang dapat memotivasi siswa untuk
menyukai pelajaran fisika, dan memudahkannya dalam memahami konsep-
konsep dalam fisika.
5
BAB II
DESKRIPSI TEORETIS, KERANGKA BERPIKIR DAN PENGAJUAN
HIPOTESIS
A. Deskripsi Teori
1. Hakikat Media Pembelajaran
a. Pengertian Media Pembelajaran
Kata media berasal dari bahasa latin yang secara harfiah memiliki arti
perantara atau pengantar. Gerlac dan Erly (1971) mengatakan bahwa media
apabila dipahami secara garis besar adalah manusia, materi atau kejadian yang
membangun kondisi yang membuat siswa mampu memperoleh pengetahuan,
keterampilan atau sikap.
1
Sedangkan National Education Association (NEA)
mendefinisikan media sebagai benda yang dapat dimanipulasikan, dilihat,
didengar, dibaca, dan dibicarakan beserta instrumen yang dipergunakan dengan
baik dalam kegiatan belajar mengajar, dapat mempengaruhi efektifitas program
instruksional.
2
Pada tahun 1970, Gagne menyatakan bahwa media adalah berbagai jenis
komponen dalam lingkungan siswa yang dapat merangsangnya untuk belajar.
Sedangkan Briggs memiliki pendapat lain, media adalah segala alat fisik yang
dapat menyajikan pesan serta merangsang siswa untuk belajar, contohnya yaitu
buku, film, kaset, film bingkai, dan lain-lain
3
Dari beberapa pengertian diatas, dapat disimpulkan bahwa media
merupakan sesuatu yang dapat digunakan untuk menyalurkan pesan dari pengirim
ke penerima yang dapat merangsang pikiran, perasaan, perhatian, dan minat siswa
sehingga dapat mendorong terjadinya proses belajar pada dirinya. Penggunaan
media secara kreatif akan memungkinkan siswa untuk belajar lebih baik dan dapat
meningkatkan motivasi mereka sehingga tujuan pembelajaran dapat tercapai.
1
Azhar Arsyad, Media Pengajaran, (Jakarta: Raja Grafindo Persada, 1997), h. 3
2
Ibid,
3
Arief S. Sadiman, et. Al., Media Pendidikan, (Jakarta : Grafindo Persada, 2007), h. 6
6
Pengertian media pembelajaran yang lebih komperhensif adalah yang
dikemukakan oleh Raphael Raharjo, yaitu segala sesuatu, baik yang sengaja
dirancang (media by utilization) maupun yang telah tersedia (media by design),
baik secara sendiri-sendiri maupun bersama-sama, yang dapat digunakan untuk
menyampaikan pesan (materi pelajaran) dari sumber (misalnya guru) kepada
penerima (peserta didik) sehingga membuat atau membantu peserta didik
melakukan kegiatan belajar (Rahardjo 1984).
4
Hamalik mengatakan media pendidikan adalah suatu bagian integral dari
proses pendidikan di sekolah karena itu menjadi suatu bidang yang harus dikuasai
oleh setiap guru profesional.
5
Dilihat dari beberapa pokok yang telah
dikemukakan diatas, jelas bahwa media pendidikan merupakan dasar yang sangat
diperlukan yang bersifat melengkapi dan merupakan bagian integral demi
berhasilnya proses pendidikan dan usaha pengajaran di sekolah khususnya kelas.
Selain itu juga, media pendidikan digunakan sebagai suatu media komunikasi
terhadap guru dengan siswa.
Jika dilihat dari bahan pembuatannya media dibagi menjadi dua, pertama,
media sederhana, yakni media yang bahan dasarnya mudah diperoleh dengan
harga murah, cara pembuatannya mudah dan penggunaanya tidak sulit. Kedua,
media kompleks yakni media dengan bahan yang sulit didapat, alat tidak mudah
dibuat dan harga relatif mahal.
6
Penggunaan media dalam proses pembelajaran pada penelitian ini
berperan sebagai alat bantu untuk membuat penyampaian pesan dari guru kepada
siswa secara lebih nyata. Media yang diberikan dengan cara kegiatan eksperimen
atau demonstrasi, dengan adanya adobe flash dengan gambar sekolah dalam
kegiatan pembelajaran bertujuan untuk membantu siswa dalam memahami
4
Sudirman Siahaan, Media Pembelajaran: Pemahaman dan Pemanfaatannya dalam Kegiatan
PembelajaranJurnal Pendidikan dan Kebudayaan, No.20 Tahun XI, April 2007. h. 76
5
Oemar Hamalik, Media Pendidikan, (Bandung: PT Citra Aditya Bakti, 1994), Cet Ke-7, h.1.
6
Pupuh Faturarohma & Sobri Sutukno, Strategi Belajar Melalui Penanaman Konsep Umum dan
Konsep Alam (Bandung: PT Rafika Aditama, 2007),h. 68.
7
konsep-konsep fisika yang dipelajari agar siswa berhadapan dengan konsep yang
nyata bukan hanya sekedar teori.
7
b. Dasar Pertimbangan dan Kriteria Pemilihan Media
Penyebab seseorang memilih suatu media di antaranya adalah bermaksud
mendemonstrasikan sesuatu yang sedang disampaikan, merasa sudah akrab
dengan media tersebut, ingin memberi penjelasan yang lebih kongkrit serta
merasa bahwa media dapat berbuat lebih dari yang dilakukannya, misalnya untuk
menarik minat belajar siswa. Jadi dasar pertimbangan untuk memilih suatu media
sangatlah sederhana, yaitu dapat memenuhi kebutuhan atau mencapai tujuan yang
diinginkan atau tidak.
8
Sudjana dan Rivai mengemukakan rumusan pemilihan media dengan
kriteria-kriteria sebagai berikut:
1) Ketepatannya dengan tujuan pengajaran, artinya media dipilih atas dasar
tujuan-tujuan intruksional yang telah ditetapkan.
2) Dukungan terhadap isi bahan pelajaran, artinya bahan pelajaran yang sifatnya
fakta, prinsip, konsep dan generalisasi sangat memerlukan media agar lebih
mudah dipahami siswa.
3) Kemudahan memperoleh media, artinya media yang diperlukan mudah
diperoleh.
9
Menurut Hamalik memilih dan menggunakan media pendidikan harus
sesuai dengan kriteria tertentu, yakni:
1) Tujuan mengajar
2) Bahan pelajaran
3) Metode mengajar
4) Tersedianya alat yang dibutuhkan
5) Jalan pelajaran
7
Wasis Sucipto, Eksperimen Pembelajaran Konsep Kalor Menggunakan Peralatan Sederhana,
Jurnal Pendidikan Fisika Internasional, Volume 3, Nomor 2, Juli 2005, h. 103.
8
Arif S. Sadiman, et.al., Media Pendidikan: Pengembangan dan Pemanfaatannya, (Jakarta: Raja
Grafindo, 2003),h. 82.
9
Pupuh Faturarohma & Sobri Sutukno, loc.cit.
8
6) Penilaian hasil belajar pribadi guru
7) Minat dan kemampuan siswa
8) Pribadi guru
9) Situasi pengajaran yang sedang berlangsung.
10
Sejumlah kriteria khusus lainnya dalam memilih media pembelajaran yang
tepat dapat kita rumuskan dalam satu kata ACTION, yaitu akronim; access, cost,
technology, interactivity, organization, dan novelty.
11
Setiap guru dapat mengembangkan media sesuai dengan tujuan yang ingin
dicapai, karena pada akhirnya pemilihan media adalah keputusan untuk
menggunakan media dengan baik dan mudah disampaikan kepada peserta didik.
Untuk memperoleh hasil belajar yang baik.
c. Manfaat Media Pembelajaran
Sudjana dan Rivai mengemukakan manfaat media pembelajaran dalam
proses belajar siswa, yaitu:
1) Pengajaran akan lebih menarik perhatian siswa sehingga dapat menumbuhkan
motivasi belajar.
2) Bahan pengajaran akan lebih jelas maknanya sehingga dapat lebih dipahami
oleh siswa dan memungkinkannya menguasai dan mencapai tujuan
pengajaran.
3) Metode mengajar akan lebih bervariasi, tidak semata-mata komunikasi verbal
melalui penuturan kata-kata oleh guru, sehingga siswa tidak bosan dan guru
tidak kehabisan tenaga, apabila guru mengajar di setiap jam pelajaran.
4) Siswa dapat lebih banyak melakukan kegiatan belajar sebab tidak hanya
mendengarkan uraian guru, tetapi juga aktifitas lain seperti mengamati,
melakukan, mendemonstrasikan dan lain-lain.
12
10
Oemar Hamalik, loc.cit.
11
Rudi Susilana & Cepi Riyana, loc.cit.
12
Azhar Arsyad, Media Pembelajaran,(Jakarta: PT. Grafindo Persada, 2004), Cet. V, h. 24-25.
9
Selain itu, kontribusi media pembelajaran menurut Kemp and Dayton
adalah sebagai berikut:
1) Penyampain pesan pembelajaran dapat lebih terstandar
2) Pembelajaran dapat lebih menarik
3) Pembelajaran menjadi lebih interaktif dengan menerapkan teori belajar
4) Waktu pelaksanaan pembelajaran dapat diperpendek
5) Kualitas pembelajaran dapat ditingkatkan
6) Proses pembelajaran dapat berlangsung kapanpun dan dimanapun diperlukan
7) Sikap positif siswa terhadap materi pembelajaran serta proses pembelajaran
dapat ditingkatkan
8) Peran guru berubahan kearah yang positif
13
Berdasarkan pengamatan yang dilakukan terhadap para siswa yang
kegiatan belajarnya memanfaatkan media pembelajaran yang dibimbing oleh guru
memperlihatkan semangat atau motivasi belajar siswa yang memperlihatkan rasa
bosan atau jenuh belajar. Karena itu, guru yang kreatif memanfaatkan media
pembelajaran dalam kegiatan belajar mengajar baik yang dikembangkan sendiri
maupun yang dikembangkan oleh pihak lain akan menciptakan kegiatan kelas
dengan para siswa yang antusias belajar. Antusiasme dan motivasi yang tinggi
dalam belajar mempunyai kecenderungan untuk menghasilkan prestasi belajar
yang tinggi.
14
Dari uraian di atas, dapat diketahui bahwa penggunaan media
pembelajaran pada dasarnya mengarah kepada kemajuan atau peningkatan
kualitas proses belajar mengajar dan peningkatan hasil belajar.
13
Rudi Susilana & Cepi Riyana, Op.Cit., h. 9-10.
14
Sudirman Siahaan, loc.cit.
10
d. Klasifikasi Media
Adapun kelompok media menurut Susilana adalah:
Tabel 2.1 Klasifikasi dan Jenis Media
No Klasifikasi
1 Media grafis, bahan cetak, gambar diam (foto).
2 Media proyeksi diam seperi OHP, OHT, opaque projektor, slide.
3 Media audio seperti radio, alat perekam pita magnetik.
4 Media audio visual diam.
5 Film (motion pictures)
6 Televisi
7 Multimedia
15
Dari kelompok media diatas media model animasi flash termasuk
kelompok multimedia. Kelebihan pada multimedia adalah:
1) Dibandingkan dengan grafis, multimedia ini lebih konkrit
2) Dapat menunjukan perbandingan yang tepat dari objek yang sebenarnya
3) Dapat digunakan untuk memvisualisasikan simulasi dan animasi sehingga
membuat gambar seperti hidup.
4) Dapat menampilkan penyajian materi secara menarik dan informatif.
Adapun kelemahan dari multimedia adalah sebagai berikut:
1) Biasanya ukuran terbatas sehingga kurang efektif untuk pembelajaran
kelompok besar
2) Perbandingan yang kurang tepat dari suatu objek akan menimbulkan
kesalahan persepsi.
16
2. Pengertian Media Presentasi
Presentasi adalah suatu kegiatan berbicara di hadapan banyak orang,
dengan tujuan untuk memperkenalkan, membujuk, meyakinkan yang biasanya
yang biasanya dibawakan oleh pakar, guru, atau wiraniaga. Berbeda dengan
15
Rudi Susilana & Cepi Riyana, Op.Cit, h. 14.
16
Ibid, h. 16.
11
pidato yang lebih sering dibawakan dalam acara bisnis, pelatihan, pendidikan, dan
lain sebagainya.
17
Dengan presentasi ini, kita dapat dengan lebih mudah untuk
menyampaikan atau menjelaskan ide-ide, mendapat tanggapan, sanggahan tentang
apa yang kita sampaikan sehingga ide dapat lebih jelas dan dimengerti oleh para
pendengar dan dapat mencapai sasaran yang diinginkan. Dalam presentasi kita
mengenal beberapa istilah seperti presenter yaitu pihak yang melakukan
presentasi. Audience yaitu pihak yang menjadi sasaran atau peserta presentasi dan
media yaitu peralatan yang digunakan untuk melakukan presentasi.
Dahulu orang hanya menggunakan papan tulis sebagai alat bantu
presentasi. Beberapa hal yang akan di paparkan ditulis dengan kapur tulis atau
spidol di papan tulis tersebut. Selain papan tulis media presentasi yang banyak
digunakan adalah lembaran-lembaran kertas lebar yang digunakan untuk menulis
ringkasan, skema, tabel, grafik, dan gambar yang dikenal dengan nama Chart atau
Carta. Dengan media ini presenter dapat membuat rencana apa yang hendak
disampaikan serta menyampaikan data-data pendukung. Cara menggunakannya
adalah menampilkan kertas yang sedang dibahas, menggulungnya jika sudah
selesai serta mengganti dengan lembaran berikutnya. Teknik ini sebenarnya yang
kemudian berkembang menjadi OHP dan slide projector.
Gambar 2.1 OHP (Over Head Projector)
17
Wenly Julita, Perkembangan Teknologi Media Presentasi,
http://wenlist.multiply.com, 13/04/2009
12
OHP adalah contoh yang tepat dari alat bantu pengajaran, karena didesain
khusus untuk digunakan guru didepan kelas.
18
untuk menyorot lembaran plastik
transparansi ke sebuah layar. Plastik transparansi ini diisi text, tabel, grafik serta
berbagai gambar-gambar pendukung yang dapat ditayangkan ke layar sehingga
menghasilkan tampilan dan menjadi alat bantu presentasi yang sangat menarik.
19
Setiap lembar tayangan berisi materi yang disorotkan dengan menggunakan
proyektor disebut slide.
Media presentasi yang paling canggih saat ini adalah projector. Projector
yang dimaksud disini adalah alat yang digunakan untuk menampilkan atau
menayangkan program presentasi yang dihasilkan oleh komputer.
20
Seperangkat
komputer, proyektor, dan layar sebagai satu kesatuan disebut juga peralatan
multimedia sebab peralatan tersebut dapat menampilkan text, gambar, animasi,
suara, dan film.
Gambar 2.2 Proyektor Digital
Teknologi proyektor kini semakin berkembang diawali dengan
ditemukannya proyektor CRT (Cathode Ray Tube) sebuah perangkat proyektor
berteknologi tabung, lengkap dengan tiga lensa di depannya. Namun proyektor
jenis ini mulai ditinggalkan dengan munculnya proyektor digital, mulai dari yang
berteknologi LCD (Liquid Crystal Display), DLP (Digital Light Processing),
sampai teknologi terbaru yang kini tengah beranjak populer, LCOS (Liquid
Crystal On Single Crystal). Hal ini dimungkinkan, karena proyektor digital ini
memang bobotnya relatif ringan, dan harganya pun relatif murah, jauh dibawah
proyektor CRT.
18
Ronald H. Anderson, pemilihan dan pengembangan media untuk pembelajaran, (Jakarta: Raja
Grafindo Persada). H. 59
19
Triwahono, et. Al, Teknologi Informasi dan Komunikasi, http://Smp68jkt.org, 13/04/2009,
h.4
20
Ibid.
12
OHP adalah contoh yang tepat dari alat bantu pengajaran, karena didesain
khusus untuk digunakan guru didepan kelas.
18
untuk menyorot lembaran plastik
transparansi ke sebuah layar. Plastik transparansi ini diisi text, tabel, grafik serta
berbagai gambar-gambar pendukung yang dapat ditayangkan ke layar sehingga
menghasilkan tampilan dan menjadi alat bantu presentasi yang sangat menarik.
19
Setiap lembar tayangan berisi materi yang disorotkan dengan menggunakan
proyektor disebut slide.
Media presentasi yang paling canggih saat ini adalah projector. Projector
yang dimaksud disini adalah alat yang digunakan untuk menampilkan atau
menayangkan program presentasi yang dihasilkan oleh komputer.
20
Seperangkat
komputer, proyektor, dan layar sebagai satu kesatuan disebut juga peralatan
multimedia sebab peralatan tersebut dapat menampilkan text, gambar, animasi,
suara, dan film.
Gambar 2.2 Proyektor Digital
Teknologi proyektor kini semakin berkembang diawali dengan
ditemukannya proyektor CRT (Cathode Ray Tube) sebuah perangkat proyektor
berteknologi tabung, lengkap dengan tiga lensa di depannya. Namun proyektor
jenis ini mulai ditinggalkan dengan munculnya proyektor digital, mulai dari yang
berteknologi LCD (Liquid Crystal Display), DLP (Digital Light Processing),
sampai teknologi terbaru yang kini tengah beranjak populer, LCOS (Liquid
Crystal On Single Crystal). Hal ini dimungkinkan, karena proyektor digital ini
memang bobotnya relatif ringan, dan harganya pun relatif murah, jauh dibawah
proyektor CRT.
18
Ronald H. Anderson, pemilihan dan pengembangan media untuk pembelajaran, (Jakarta: Raja
Grafindo Persada). H. 59
19
Triwahono, et. Al, Teknologi Informasi dan Komunikasi, http://Smp68jkt.org, 13/04/2009,
h.4
20
Ibid.
12
OHP adalah contoh yang tepat dari alat bantu pengajaran, karena didesain
khusus untuk digunakan guru didepan kelas.
18
untuk menyorot lembaran plastik
transparansi ke sebuah layar. Plastik transparansi ini diisi text, tabel, grafik serta
berbagai gambar-gambar pendukung yang dapat ditayangkan ke layar sehingga
menghasilkan tampilan dan menjadi alat bantu presentasi yang sangat menarik.
19
Setiap lembar tayangan berisi materi yang disorotkan dengan menggunakan
proyektor disebut slide.
Media presentasi yang paling canggih saat ini adalah projector. Projector
yang dimaksud disini adalah alat yang digunakan untuk menampilkan atau
menayangkan program presentasi yang dihasilkan oleh komputer.
20
Seperangkat
komputer, proyektor, dan layar sebagai satu kesatuan disebut juga peralatan
multimedia sebab peralatan tersebut dapat menampilkan text, gambar, animasi,
suara, dan film.
Gambar 2.2 Proyektor Digital
Teknologi proyektor kini semakin berkembang diawali dengan
ditemukannya proyektor CRT (Cathode Ray Tube) sebuah perangkat proyektor
berteknologi tabung, lengkap dengan tiga lensa di depannya. Namun proyektor
jenis ini mulai ditinggalkan dengan munculnya proyektor digital, mulai dari yang
berteknologi LCD (Liquid Crystal Display), DLP (Digital Light Processing),
sampai teknologi terbaru yang kini tengah beranjak populer, LCOS (Liquid
Crystal On Single Crystal). Hal ini dimungkinkan, karena proyektor digital ini
memang bobotnya relatif ringan, dan harganya pun relatif murah, jauh dibawah
proyektor CRT.
18
Ronald H. Anderson, pemilihan dan pengembangan media untuk pembelajaran, (Jakarta: Raja
Grafindo Persada). H. 59
19
Triwahono, et. Al, Teknologi Informasi dan Komunikasi, http://Smp68jkt.org, 13/04/2009,
h.4
20
Ibid.
13
Strategi pembelajaran dengan media presentasi keterlaksanaanya
tergantung dai satu atau lebih dari tiga mode dasar komunikasi sebagai berikut:
1) Komunikasi antar guru dengan siswa
2) Komunikasi antar siswa dengan sumber belajar
3) Komunikasi diantara siswa
Apabila ketiga aspek tersebut bisa dilakukan dengan komposisi yang
serasi, maka diharapkan akan terjadi proses pembelajaran yang optimal. Para paka
pendidikan menyatakan bahwa keberhasilan pencapaian tujuan dari pembelajaran
sangat ditentukan oleh keseimbangan antara ketiga aspek tersebut. Kemudian
dinyatakan pula bahwa perancangan suatu pembelajaran dengan mengutamakan
keseimbangan antara ketiga komunikasi tersebut sangat penting pada lingkungan
pembelajaran berbasis komputer, tentunya juga pada media presentasi ini.
1) Kelebihan Media Presentasi Pembelajaran
a) Dapat menyajikan teks, gambar, foto, animasi, audio, dan video sehingga
lebih menarik,
b) Dapat menjangkau kelompok banyak
c) Tempo dan cara penyajian bisa disesuaikan
d) Penyajiannya masih bisa bertatap muka
e) Dapat digunakan secara berulang-ulang
2) Kelemahan Media Presentasi Pembelajaran
a) Ketergantungan arus listrik sangat tinggi
b) Media pendukung harganya relatif mahal karena harus ada komputer dan
digital proyektor
c) Penggunaan media ini sangat tergantung pada penyaji materi
d) Masih sangat terbatas guru yang mampu membuat media presentasi
3. Aplikasi Pembuatan Slide Presentasi Dengan Adobe Flash
Dalam sudut pandang proses pembelajaran, presentasi merupakan salah
satu metode pembelajaran. Penggunaanya yang menempati frekuensi paling tinggi
dibandingkan dengan metode lainnya. Berbagai alat yang dikembangkan telah
memberikan pengaruh yang sangat besar bukan hanya pada pengembangan
14
kegiatan praktis dalam kegiatan presentasi pembelajaran akan tetapi juga pada
teori-teori yang mendasarinya. Perkembangan terakhir pada bidang presentasi
dengan alat bantu komputer telah menyebabkan perubahan tuntutan
penyelenggaraan pendidikan dan pelatihan dalam berbagai aspek. Diantaranya
tuntutan terhadap peningkatan kemampuan dan keterampilan pada guru, dosen,
instruktur/widiaswara serta para professional lainnya didalam mengolah bahan-
bahan pembelajaran/pelatihan kedalam media presentasi yang berbasis komputer.
Pada saat ini dokumen presentasi dikemas dalam bentuk slide multimedia
berupa program presentasi yang tersimpan dalam media penyimpanan yang
dioperasikan dengan komputer dan ditampilkan melalui proyektor ke layar.
Dengan menggunakan komputer ini, presentasi yang kita buat akan jauh lebih
menarik, mudah digunakan, lebih mudah di update dan jangkauannya lebih luas.
Selain itu pesentasi dengan komputer akan memberiakn motivasi yang lebih tinggi
karena komputer selalu dikaitkan dengan kesenangan, permainan, dan kreativitas.
Pembuatan slide presentasi seperti ini dapat dilakukan dengan menggunakan
program khusus yang sekarang banyak tersedia, seperti microsoft power point dan
adobe flash. Beberapa program ini dapat ditayangkan menggunakan komputer,
melalui proyektor, media interaktif atau ditayangkan melalui internet. Aplikasi
pembuatan presentasi terbagi dalam beberapa kategori, seperti aplikasi multimedia
presentasi, mutimedia presentasi interaktif, dan melalui internet.
Adobe Flash adalah salah satu perangkat lunak komputer yang merupakan
produk unggulan Adobe Systems. Adobe Flash digunakan untuk membuat gambar
vektor maupun animasi gambar.
21
Flash juga merupakan salah satu program
pembuatan animasi yang sangat handal dibandingkan dengan program lain, karena
ukuran file dari hasil animasi flash relatif kecil.
22
Selain itu, flash bisa
menggabungkan gambar, suara, dan video ke dalam animasi yang dibuat,
misalnya untuk presentasi.
23
Software ini juga memiliki banyak keunggulan
21
Syarif Hidayat. Adobe Flash, http://www.klik-m.com/tip-trik/tip-animasi/117-adobe-flash,,
15/05/2009
22
Daryanto, Belajar Komputer Animasi Macromedia Flash, (Bandung : Yrama Widya, cet. IV,
2008), h. 9
23
Jubilee Enterprise, Flash CS3, (Jakarta ; Elex Media Komputindo, cet. 1, 2007), h. 1
15
dibandingkan dengan software animasi lainnya diantaranya adalah program yang
berorientasi objek (OOP), mampu membuat gambar berbasis vektor, animasi
gambar, dan dapat dipergunakan sebagai software pembuat situs web, serta
keunggulan-keunggulan lainnya.
24
Dalam dunia web, berkas dari perangkat lunak
yag biasa diputar berupa file extention. Swf Yang telah dipasangi Adobe Flash
Player.
25
Awalnya, file olahan yang dihasilkan flash bertipe.fla. file ini kemudia
dapat ditampilkan sehingga dihasilkan file.swf yang merupakan file akhir yang
berisi animasi. File.swf dapat ditampilkan menggunakan software khusus, salah
satunya Flash Player.
26
Dalam penelitian ini Flash Player yang digunakan adalah
Adobe Flash Player 9 yang sudah terintegrasi dalam pada program Adobe Flash
CS3.
Flash menggunakan bahasa pemograman bernama Action Script yang
muncul pertama kalinya pada flash 5. sejak diperkenalkan pada tahun 1996, flash
menjadi sangat populer dan sangat diminati oleh masyarakat dunia web karena
dapat membuat menamilkan animasi dan interaksi di web. Tetapi sejak bulan
Desember 2005, perusahaan Macromedia dibeli oleh Adobe dan kini berganti
nama menjadi Adobe Flash. Sejak versi 9 atau CS3. Berikut tampilan muka dari
program Adobe Flash CS3.
24
Fikri Alami, 2005. Pembuatan Media Pembelajaran dengan Macromdia Flash MX 2004.
http://www.unila.ac.id, 23/07/2009
25
Yunita, Triani. Adobe Flash vs Macromedia. http://www.my.opera.com., 15/05/2009
26
Jubilee Enterprise, loc.cit
16
Tampilan Adobe Flash memiliki beberapa menu diantaranya adalah: main
bar, toolbar, toolbox, layer, controller, time line, frame, playhead, ruler, stage, dan
panel.
27
Gambar 2.3 Tampilan Menu Adobe Flash CS3
Keterangan:
1) Main bar
Merupakan menu baris/pulldown menu yang dipergunakan untuk
mengakses beberapa perintah yang ada di flash. Menu ini berisi sub menu yang
disertai dengan shortcut.
2) Toolbar
Toolbar berisi kumpulan tool yang digunakan untuk membuat dan memilih
isi di dalam timeline dan stage.
28
Menu ini ditandai dengan icon-icon yang
fungsinya sama seperti menu bar.
3) Toolbox
Merupakan alat bantu dalam menggambar suatu objek seperti garis,
lingkaran, ersegi empat, text, pemberi warna, juga dapat dipergunakan untuk
menghapus, memperbesar, maupun memilih objek.
27
Fikri Alami, loc.cit
28
Daryanto, op.cit., h.10
17
4) Layer
Lapisan-lapisan yang dipergunakan untuk mengatur pengerjaan dokumen
flash, menggambar atau mengedit sebuah objek dalam satu layer tanpa
mempengaruhi objek lain pada layer lain.
29
Layer dapat menampilkan kumpulan-
kumpulan objek atau komponen, baik gambar, animasi maupun video. Layer juga
dapat dijalankan secara bersama-sama.
5) Controller
Merupakan tombol-tombol yang dipergunakan untuk menjalankan movie
yang berisi tombol play, pause, stop dan lain-lain.
6) Time Line
Merupakan tempat dimana animasi objek akan dijalankan. Time line juga
berfungsi untuk menentukan kapan suatu objek dimunculkan atau dihilangkan
berdasarkan satuan waktu. Pada timeline terdapat frame, layer, dan playhead
7) Frame
Merupakan bagian-bagian dari movie yang dijalankan bergantian dari kiri
ke kanan. Masing-masing frame terdiri atas satu gambar
8) Play Head
Dipergunakan untuk menunjuk posisi dari frame yang sedang dijalankan.
9) Ruler
Merupakan mistar bantuan yang terletak disebelah atas maupun kiri dari
stage yang berfungsi untuk mengukur ketepatan penggambaran maupun peletakan
suatu objek.
10) Stage
Sebagai daerah tempat meletakkan objek. Objek-objek yang terletak
didalam stage akan ditampilkan dalam movie, sedangkan yang berada diluar stage
tidak
11) Panel
Merupakan jendela tambahan yang dipergunakan untuk
mengedit/mengatur performa dari suatu objek. Flash memiliki beberapa panel
29
Jubilee Enterprise, op.cit., h.10
18
sesuai dengan fungsinya. Di dalam panel terdapat beberapa tombol seperti tombol
untuk memilih, menggambar, menarik, mengedit, dan melayari.
30
Flash dapat dilihat di beberapa halaman-halaman media atau web dengan
animasi-animasi yang sangat menarik perhatian. Oleh karena itu, desain
pembelajaran dengan menggunakan media flash ini diharapkan juga mampu untuk
dapat menarik perhatian siswa dalam mempelajari materi fisika, sehingga hal
tersebut akan berdampak pada hasil belajar siswa yang menjadi lebih baik.
Kelebihan dan kemampuan flash secara umum, diantaranya adalah:
31
1) Merupakan teknologi animasi web yang paling populer saat ini sehingga
banyak didukung oleh berbagai pihak dan sangat digemari oleh masyarakat.
2) Ukuran file yang kecil dengan kualitas yang baik.
3) Kebutuhan hardware yang tidak tinggi
4) Dapat membuat website, CD-interaktif, animasi web, animasi kartun, kartu
elektronik, iklan TV, banner di web, presentasi cantik, membuat permainan
(game), aplikasi web dan handphone.
5) Dapat ditampilkan di banyak media seperti web, CD-ROM, VCD, DVD,
Televisi, Handphone, dan PDA.
Kelebihan media flash dalam dunia pendidikan. Yaitu:
1) Membuat media ajar yang interaktif dan animatif dari segi tampilan dan juga
mengena dalam segi tujuan.
32
2) Penyajiannya menarik karena ada permainan warna, huruf dan animasi, baik
animasi teks maupun gambar atau foto. Dengan adanya media yang menarik
akan membuat minat belajar siswa menjadi meningkat.
3) Meningkatkan motivasi belajar siswa, sehingga siswa akan senang untuk
mempelajari fisika, kemudian hasil belajarnya juga meningkat.
4) Lebih merangsang anak untuk mengetahui lebih jauh informasi tentang bahan
ajar yang tersaji.
30
Adobe Creative Team (Author), Adobe Flash CS3 Professional Classroom in a Book Instructor
Notes, http://ptgmedia.pearsonemg.com/.../promo/FLASH_cib_instructor_notes.pdf.
13/04/2009
31
Rohman, Apa Sebenarnya Flash itu?, http://Sinauflash.blogspot.com, 15/05/2009
32
Rohman, Manfaat Flash dalam Dunia Pendidikan, http://www.sinauflash.blogspot.com,
15/05/2009
19
5) Pesan informasi secara audio dan visual mudah dipahami peserta didik.
6) Tenaga pendidik tidak perlu banyak menerangkan bahan ajar yang sedang
disajikan.
7) Dapat diperbanyak sesuai kebutuhan, dan dapat dipakai secara berulang-ulang.
8) Dapat disimpan dalam bentuk data optik atau magnetik.
(CD/Disket/Flashdisk), sehingga praktis untuk dibawa kemana-mana.
Disamping kelebihan flash, terdapat juga kelemahannya, diantaranya:
1) Terbatasnya kemampuan guru untuk menggunakan software adobe flash,
sehingga jika harus mengguunakan jasa ahli desain komputer membutuhkan
biaya yang mahal,
2) Terbatasnya fasilitas komputer yang menyajikan pembelajaran dengan
program flash di sekolah, karena komputer biasa digunakan untuk mata
pelajaran TIK (Teknologi Informasi dan Komunikasi), sehingga fasilitas
komputer untuk mata pelajaran lain, misalnya fisika masih belum mencukupi,
3) Waktu pembuatan bahan ajar relatif lama, karena menggunakan desain
animasi yang harus dihubungkan dengan materi yang bersangkutan.
Guru bisa meningkatkan motivasi belajar siswa dengan menggunakan
media flash. Kemampuan yang dimiliki oleh adobe flash dapat dikembangkan
dalam dunia pendidikan yaitu dalam pembuatan visualisasi simulasi dan animasi,
sehingga sangat membantu dalam pemecahan masalah dalam proses pembelajaran
fisika. Simulasi digunakan karena memiliki beberapa keunggulan diantaranya
menurut Louis Cohen adalah:
33
1) Improve the speed and quality learning and performance
2) Stimulate and develop motivation and curiosity,
3) Enhace learning and memorisation through visualitation, experimentation,
prediction, manipulation, and logical thinking,
4) Enable students to experience succes and a sense of echievement.
Simulasi dapat mempercepat pembelajaran, mengembangkan motivasi,
merangsang daya ingat karena disampaikan melalui visualisasi, percobaan,
33
Louis Cohen, A Guide to Teaching Practice, (London and Newyork : Reutledge Falmer Taylor
and Fracis Group, 2006), h. 66
20
ramalan, manipulasi, dan pemikiran logis, serta memungkinkan siswa untuk
berhasil mencapai tujuan pembelajaran.
Pemanfaatan software adobe flash dalam pembuatan media pembelajaran
fisika pokok materi energi berfungsi agar siswa dapat memusatkan perhatiannya
dalam situasi pembelajaran, kemudian materi pembelajaran yang dipadu dengan
animasi gambar dan gerakan yang menarik dapat memotivasi dan menjadikan
siswa senang untuk belajar karena suasana pembelajaran menjadi lebih santai dan
terarah. Selain itu karena terdapat materi-materi yang bersifat abstrak maka
dengan media flash dapat digambarkan secara visual bergerak yang akan lebih
membantu untuk menjelaskan materi tersebut sehingga diharapkan siswa akan
lebih dapat mengerti dan memahami materi tersebut.
Animasi flash fisika membuat pelajaran fisika menjadi menyenangkan.
Sebab dapat menjelaskan dari konsep-konsep dasar hingga pada konsep-konsep
yang bersifat abstrak. Banyak hal yang sulit dibayangkan tetapi dapat dijelaskan
melalui animasi flash. Misalnya bagaimana bulan dapat bergerak mengelilingi
bumi. Gaya-gaya mana saja yang bekerja baik dilihat dari frame bumi maupun
frame bulan. Sehingga dalam pembuatan animasi disesuaikan dengan rumus yang
berlaku. Misalnya gerak benda jatuh, tidak bisa benda jatuh kecepatan selalu
sama, harusnya benda tersebut bergerak makin lama makin cepat.
34
Dibandingkan dengan teknologi lain animasi flash lebih cepat, grafisnya
bagus, dan fleksibel atau dapat dikirim di Internet. Sehingga dapat memudahkan
para guru yang ingin melakukan Download materi-materi fisika baik dari konsep-
konsep dasar maupun konsep-konsep yang bersifat abstrak.
Bagi siswa itu sendiri, animasi flash dapat menjadikan mata pelajaran
fisika menjadi lebih mudah dipahami oleh para siswa. Siswa yang pada awalnya
berfikir bahwa fisika hanyalah identik dengan dengan banyak rumus, tetapi
dengan menggunakan animasi flash fisika diharapkan fisika menjadi mata
pelajaran menyenangkan.
34
Yohanes Surya, http://www.babaflash.com/interview.asp (Wikipedia, 2007)
21
B. Hasil Belajar Fisika
1. Pengertian Hasil Belajar
Belajar (Learning), seringkali didefinisikan sebagai perubahan yang secara
relatif berlangsung lama yang diperoleh dari pengalaman-pengalaman.
35
Belajar
diartikan sebagai proses perubahan tingkah laku pada diri individu berkat adanya
interaksi antara individu dan individu dengan lingkungan.
36
Witting (1981) dalam
bukunya psychology of learning mendefinisikan belajar sebagai any relatively
permanent change in an organisms behavioral that occurs as a result of
experience (belajar ialah perubahan yang relatif menetap yang terjadi dalam
segala macam atau keseluruhan tingkah laku suatu organisme sebagai hasil
pengalaman).
37
Pengertian yang berbeda ini didasarkan pada kepercayaan bahwa
tingkah laku lahiriah organisme itu sendiri bukan indikator adanya peristiwa
belajar.
Selain itu belajar adalah modifikasi atau memperteguh kelakuan melalui
pengalaman (learning is defined as the modification or strengthening of behavior
through experiencing).
38
Menurut pengertian diatas, belajar merupakan suatu
proses, suatu kegiatan dan bukan hasil atau tujuan. Belajar bukan hanya
mengingat, akan tetapi lebih luas dari itu, yakni mengalami.
Learning is experiencing. The process of learning is doing, reacting,
unergoing,experiencing. Experiencing means living through actual situations and
reactingvigorously to various aspect of those situations for purposes apparent to
the learner. Belajar adalah mengalami sesuatu. Proses belajar adalah berbuat,
beraksi, mengalami, menghayati. Pengalaman berarti menghayati situasi-situasi
yang sebenarnya dan bereaksi dengan sungguh-sungguh terhadap berbagai aspek
situasi itu demi tujuan-tujuan yang nyata bagi pelajar.
39
35
Abdul Rahman Shaleh & Muhibin Abdul Wahab, Psikologi Suatu Pengantar dalam Perspektif
Islam, (Jakarta: Prenada Media, 2004), h. 207.
36
Moh. Uzer Usman, Menjadi Guru Profesional, Bandung : PT Remaja Rosda Karya edisi ke dua.
2005. h. 5.
37
Muhibin Syah, Psikologi Belajar, (Jakarta: PT. Logos Wacana Ilmu, 1999), cet.3, h. 61.
38
Oemar Hamalik, Proses Belajar Mengajar, (Jakarta : Bumi Aksara, 2001) h. 27.
39
S. Nasution, Didaktik Asas-Asas Mengajar, (Jakarta: Bumi Aksara Cet 1, 1995), h. 99.
22
Menurut Winkel (2005), belajar menurut manusia boleh dirumuskan
sebagai berikut: suatu aktivitas mental dan psikis, yang berlangsung dalam
interaksi aktif dengan lingkungan, yang menghasilkan perubahan dalam
pengetahuan-pengetahuan, keterampilan dan nilai sikap. Menurut Morgan belajar
adalah tingkah laku yang relatif menetap sebagai hasil dari pengalaman-
pengalaman yang lampau. Kingsley mengungkapkan belajar adalah proses dimana
tingkah laku ditimbulkan atau di ubah melalui latihan atau praktek.
40
Jadi belajar menempatkan seseorang dari status abilitas yang satu
ketingkat stabilitas yang lain. Mengenai abilitas itu, menurut Bloom dalam
Sudijono meliputi tiga ranah, yaitu ranah kognitif, afektif, dan psikomotorik.
Dikategorikan lebih terinci secara hierarki kedalam enam jenjang kemampuan,
yakni:
41
1. Hafalan (C
1
)
Jenjang hafalan (ingatan) meliputi kemampuan menyatakan kembali fakta,
konsep, prinsip, dan prosedur yang telah dipelajarinya.
2. Pemahaman (C
2
)
Jenjang pemahaman meliputi kemampuan menangkap arti dari informasi
yang diterima, misalnya dapat menafsirkan bagan, atau grafik, menerjemahkan
suatu pernyataan verbal ke dalam rumusan matematis atau sebaliknya,
meramalkan berdasarkan kecendrungan tertentu (eksplorasi dan interpolasi), serta
mengungkapkan suatu konsep atau prinsip dengan kata-kata sendiri.
3. Penerapan (C
3
)
Yang termasuk jenjang penerapan ialah kemampuan menggunakan
prinsip, aturan, metode yang dipelajarinya pada situasi baru atau pada situasi
kongkrit.
40
Wasty Soemanto, Psikologi Pendidikan Landasan Kerja Pemimpin Pendidikan, (Jakarta: PT.
Rineka Cipta, 2006), h. 104.
41
Ahmad Sofyan, et.al., Evaluasi Pembelajaran IPA Berbasis Kompetensi, (Jakarta: UIN Jakarta
Press,2006), h.15-18.
23
4. Analisis (C
4
)
Jenjang analisis meliputi kemampuan-kemampuan menguraikan suatu
informasi yang dihadapi menjadi komponen-komponennya sehingga struktur
informasi serta hubungan antar komponen informasi tersebut menjadi jelas.
5. Sintesis (C
5
)
Yang termasuk jenjang sintesis ialah kemampuan untuk menghubungkan
bagian-bagian yang terpisah-pisah menjadi suatu keseluruhan yang terpadu.
Termasuk kedalamnya kemampuan merencanakan eksperimen, menyusun
karangan (laporan praktikum, artikel, rangkuman), menyusun cara baru untuk
mengklasifikasikan objek-objek, peristiwa dan informasi lainnya.
6. Evaluasi (C
6
)
Kemampuan pada jenjang evaluasi ialah kemampuan untuk
mempertimbangkan nilai suatu perntataan, uraian, pekerjaan, berdasarkan criteria
tertentu yang ditetapkan.
Hasil belajar efektif berkaitan sikap dan nilai, yang berorientasi pada
penguasaan dan pemilihan kecakapan proses atau metode. Ciri-ciri hasil belajar
ini akan tampak pada peserta didik dalam berbagai tingkah laku, seperti: perhatian
terhadap pelajaran, kedisiplinan, motivasi belajar, rasa hormat kepada guru,dan
sebagainya.
Sedangkan hasil belajar aplikasi (psikomotor), hasil belajar pada ranah
yang berkaitan dengan keterampilan (skill) atau kemampuan bertindaksetelah
seseorang menerima pengalaman belajar tertentu. Sipson (1956) menyatakan
bahwa belajar psikomotor ini tampak dalam bentuk keterampilan dan kemampuan
bertindak individu.
42
Hasil belajar merupakan peristiwa yang bersifat internal dalam arti sesuatu
yang terjadi didiri seseorang. Peristiwa tersebut dimulai dari adanya perubahan
kognitif atau pengetahuan untuk kemudian berpengaruh pada prilaku. Dan prilaku
belajar seseorang yang dipelajari dapat diketahui melalui tes yang pada akhirnya
memunculkan nilai belajar dalam bentuk riil atau non riil.
42
Ibid., h. 23.
24
Gambar 2.4 Bagan Hasil Belajar
Dari bagan di atas mencerminkan, bahwa hasil belajar diakibatkan oleh
adanya kegiatan evaluasi belajar (tes) dan evaluasi belajar dilakukan karena
adanya kegiatan belajar. Baik buruknya hasil belajar sangat tergantung dari
pengetahuan dan perubahan prilaku dari individu yang bersangkutan terhadap apa
yang dipelajari.
Proses belajar menganjar pada hakikatnya adalah proses komunikasi, yaitu
proses penyampaian pesan dari sumber pesan melalui saluran/media dan penerima
pesan adalah komponen-komponen proses komunikasi.
43
Salah satu cara yang
baik untuk menyerapnya (sebagai gambaran mental) dapat dilakukan dengan cara
menunjukkan wujud kongkrit tentang konsep yang dipelajari tersebut.
44
Sedangkan Sudjana, mendefinisikan hasil belajar sebagai kemampuan-
kemampuan yang dimiliki siswa setelah ia menerima pengalaman belajarnya.
45
Hasil belajar menunjuka pada prestasi belajar, sedangka prestasi belajar itu
merupakan indikator adanya dan derajat perubahan tingkah laku siswa.
46
Selain
itu juga hasil belajar adalah perubahan perilaku yang terjadi setelah mengikuti
proses belajar mengajar yang sesuai dengan tujuan pendidikan.
Dari berbagai pengertian yang ada dapat disimpulkan bahwa hasil belajar
adalah hasil yang dicapai oleh siswa, setelah mengalami proses belajar mengajar
dan ditandai dengan adanya perubahan kepandaian, kecakaan, dan tingkah laku
pada diri siswa itu sendiri. Hasil belajar juga akan menumbuhkan pengetahuan
seseoran sehingga ia dapat mempunyai kemampuan berupa keterampilan dan
43
Arif S. Sadiman, et.al., loc.cit., h.11.
44
Sutarto, Buku Ajar Fisika (BAF) dengan Tugas Analisis Foto KejadianFisika (AFKF) sebagai
Alat Bantu Penguasaan Konsep Fisika, Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan,Jakarta: Badan
Pengembangan dan Penelitian Departemen Pendidikan Nasional, 2005. h. 327-328.
45
Nana Sudjana, Penilaian Hasil Belajar Mengajar, (Bandung: Remaja Rosda Karya,2001), h.22.
46
Oemar Hamalik, Kurikulum dan Pembelajaran (Jakarta: PT.Bumi Aksara, 1999), h. 159.
Pengetahuan
Perilaku
Belajar Tes Hasil Belajar
Nilai
25
membentuk kebiasaan sikap dan cita-cita hidupnya. Proses pembelajaran erat
kaitannya dengan hasil belajar siswa. Proses pembelajaran yang monoton, tidak
menarik, cenderung menurunkan hasil belajar. Sebaliknya, proses pembelajaran
yang meningkatkan minat dan aktivitas siswa terhadap suatu pelajaran cenderung
akan meningkatkan hasil belajar mereka.
7. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Hasil Belajar
Secara global faktor-faktor yang mempengaruhi hasil belajar adalah:
47
a. Faktor internal yang meliputi dua aspek, yakni aspek fisiologis dan aspek
psikologis, yang terdiri dari lima faktor, yaitu:
1) Intelegensi siswa
2) Sikap siswa
3) Bakat siswa
4) Minat siswa
5) Motivasi siswa
b. Faktor eksternal yang terdiri atas dua macam, yakni:
1) Lingkungan sosial
2) Lingkungan non sosial (sarana dan prasarana), termasuk di dalamnya
media pembelajaran
c. Faktor pendekatan belajar, yakni jenis upaya belajar siswa yang meliputi
strategi dan metode yang digunakan untuk melakukan kegiatan pembelajaran.
Faktor-faktor tersebut di atas sangat mempengaruhi hasil belajar siswa,
karena dalam proses pembelajaran siswalah yang menentukan terjadi atau
tidaknya suatu proses belajar. Untuk belajar siswa menghadapi masalah-masalah
baik internal maupun eksternal. Jika siswa tidak dapat mengatasi masalah
tersebut, maka ia tidak belajar dengan baik. Dalam penelitian ini, faktor-faktor
yang mempengaruhi hasil belajar yang dimaksud adalah faktor lingkungan
nonsosial yang meliputi sarana dan prasarana serta faktor pendekatan belajar.
Dalam proses pembelajaran guru menggunakan strategi penggunaan program
adobe flash dengan metode diskusi kelompok.
47
Muhibin Syah, loc.cit, h. 130.
26
Sehingga dapat disimpulkan bahwa hasil belajar adalah pola-pola
perbuatan, nilai-nilai, sikap-sikap, apresiasi, abilitas, dan keterampilan. Hasil
belajar dapat dilengkapi dengan jalan serangkaian pengalaman-pengalaman
dengan pertimbangan belajar yang telah dialami peserta didik.
C. Definisi Pendidikan Nilai
Nilai berasal dari bahasa latin Value yang berarti nilai. Nilai adalah
keyakinan yang membuat seseorang bertindak atas dasar pilihannya. Definisi ini
dikemukakan oleh Allport sebagai ahli psikologi kepribadian.
48
nilai kata
Fraenkel adalah an ide, a concept about what some one thinks important in life.
Ide atau konsep tentang apa yang difikirkan dan dianggap penting oleh seseorang
ini akan menjadi standar berprilaku. Sedangkan Djahiri menyatakan nilai adalah
sebagai sesuatu yang berharga, baik menurut standar logika, menjadi acuan dan
sistem keyakinan diri dalam kehidupan seseorang.
49
Rokesch (dalam Lim Loong Fatt) mendefinisikan nilai sebagai berikut: A
Value is an enduring belief that a specific mode of conduct or end-state of
existence is personally or socially preferable to an opposite or converse mode of
conduct or end-state of existence. Secara singkat dapat diartikan nilai adalah
kepercayaan bahwa suatu tindakan atau hasil memiliki suatu kelebihan (baik
secara sosial atau personal) dibandinkan hal lain yang berbeda atau yang menjadi
kebalikannya.
50
Selain itu juga nilai dapat didefinisikan sebagai suatu ide yang relatif
konstan tentang suatu prilaku. Nilai tersebut dikembangkan untuk memberikan
filter penting dalam menyeleksi input, menghubungkan pikiran dan perasaan
dengan tindakan disamping mencakup pembahasan sistem pengaturannya.
51
48
Rahmat Mulyana, Mengartikulasikan Pendidikan Nilai, Bandung: ALFABETA. 2004. h. 7&9.
49
Sodun Akbar, Pelakonan Sebagai Pendekatan unggulan Dalam Pendidikan Nilai, dalam Jurnal
Pendidikan Nilai. Th1, No 2, Mei 1996. h. 69-70.
50
Lim Loong Fatt, Inculcating Values Through Science Pratical Work, makalah disampaikan
dalam seminar International Seminar On Development of Value In Mathematics And Science
Education, Faculty of Education, University of Malaya, 3 Agustus 2007, h. 3.
51
Sutarno, Nilai dan Pendekatan Pendidikan Nilai, dalam Jurnal Pendidikan Nilai. Th6, No 1,
februari 2000. h. 53.
27
Lebih tegasnya dapat dikatakan bahwa values are an inherent part of
educational process at all levels, from the systemic, institutional macro-level,
through the mose-level of curriculum development and management, to the micro-
level of classroom interactions (Le Matias, 1997) where the play a major role in
establishing a sense of personal and social indenoty for the student. secara singkat
dapat diartikan bahwa Nilai merupakan bagian tak terpisahkan dalam semua
level proses pendidikan, mulai dari level makro berupa sistem internasional,
melalui level pengembangan kurikulum dengan manajemen, hingga level makro
berupa interaksi dalam kelas, dimana nilai memainkan peran utama dalam
mewujudkan, menimbulkan identitas sosial dan personal pada siswa.
52
Karakteristik nilai dapat dilihat dari Value is an abstract reality, kata
Ambroise (1987). Nilai yang abstrak itu dapat dilihat dari tiga realisi, yaitu pola
tingkah laku, pola pikiran dan sikap-sikap dari individu atau kelompok.
53
Setelah
memahami karakteristik nilai dan pengertian nilai tersebut maka nilai-nilai dapat
disimpulkan sebagai penetapan yang menyangkut kualitas baik atau buruk
terhadap pendidikan maupun terhadap siswa.
Sedangkan pendidikan nilai adalah penanaman dan pengembangan nilai-
nilai dalam diri seseorang. Pendidikan nilai tidak harus merupakan suatu program
atau pelajaran khusus, seperti pelajaran menggambar atau bahasa Inggris, tetapi
lebih merupakan suatu dimensi dari seluruh usaha pendidikan. Dalam dunia
pendidikan seorang pendidik tidak hanya mengembangkan teknologi atau
memtransfer ilmu yang dimiliki, dan keterampilan saja, tetapi juga ingin
mengembangkan aspek-aspek lainnya seperi kepribadian, etika moral dan lain-lain
yang kesemuanya dapat disebut dengan pendekatan nilai.
54
Begitupun seperti
yang diungkap oleh Sastrapratedja (kaswardi, 1993:3-4) secara rinci mengatakan:
Perubahan kondisi sosial ekonomi yang dipacu oleh perkembangan ilmu
dan teknologi yang pesat, membawa serta perubahan-perubahan dalam cara
52
Alan J. Bioshop, Vallue in Matematic and Science Education: Silasities And Differences, Jurnal
ISSN 1551-3440, vol. 5, no. 1, The Montana Mathematics Enthusiast.
53
Sumarsono, Pendidikan Nilai: Karakteristik, Peluang,dan pelaksanaan, Jurnal Aneka Widya
STKIP Singaraja, Edisi Khusus Th. XXXIII September 2000, h. 1.
54
Kaswardi, EM. K. Pendidikan Nilai Memasuki Tahun 2000, (Jakarta: PT. Grasindo).1993. h. 3-
4.
28
berfikir, cara menilai, cara menghargai hidup dan kenyataan. Ini semua membawa
kekaburan dimensi nilai yang sebenarnya selalu ada dalam proses perkembangan
masyarakat serta pribadi seseorang.oleh karena itu menjadi tanggung jawab
pendidik untuk (1) melihat implikasi nilai etik dalam setiap proses yang terjadi (2)
membantu untuk berkembangnya nilai-nilai dalam diri seseorang, dan (3)
membantu agar anak didik dapat mengambil sikap dan keputusan dalam
merencanakan kehidupan secara berarti.
Pendidikan nilai dalam pembelajaran merupakan salah satu pendekatan
terpadu karena melibatkan disiplin ilmu agama yang secara bertahap bisa
mempengaruhi terhadap nilai-nilai yang lainnya seperti menurut Einstein, bahwa
sains mengandung lima nilai:
55
1. Nilai Praktis
Nilai praktis adalah kandungan nilai yang berhubungan dengan aspek-
aspek manfaat sains untuk kehidupan manusia. Sains telah membuka jalan ke arah
penemuan-penemuan yang manfaatnya langsung dapat digunakan manusia dalam
memenuhi kebutuhan hidupnya. Aplikasi (penerapan) sains dalam bidang ini
adalah teknologi.
2. Nilai Religius
Nilai religius merupakan nilai yang dapat membangkitkan rasa percaya
dan menanamkan keyakinan bahwa sesuatu yang ada mesti ada yang menciptakan
dan yang mengatur, yang akhirnya timbul kesadaran adanya Allah. Seorang yang
beragama akan lebih tebal keimanannya kepada Tuhan karena kepercayaan
tentang adanya Tuhan tidak hanya disokong oleh dogma-dogma, ayat-ayat Al-
Quran, melainkan juga oleh ratio yang ditunjang oleh segala pengamatan yang
merupakan manifestasi kebesaran Tuhan.
3. Nilai Intelektual
Nilai intelektual adalah kandungan nilai yang mengajarkan kecerdasan
seseorang dalam menggunakan akalnya untuk memahami sesuatu dengan tidak
mempercayai tahayul atau kebenaran mistik, tetapi agar lebih kritis, analitis, dan
55
Suroso Adi Yudianto, Manajemen Alam Sumber Pendidikan Nilai, (Bandung: Mugni Sejahtera,
2005), h. 13.
29
kreatif (sikap ilmiah/scientific attitude) terhadap pemecahan masalah yang lebih
efektif dan efisien.
4. Nilai Sosial-Politik
Nilai ini merupakan suatu model menjalin hubungan sesama manusia
makhluk sosial yang tidak bisa hidup sendiri tetapi senantiasa memerlukan yang
lain dalam melakukan berbagai kegiatan. Di bidang politik, kemajuan sains suatu
negara akan menempatkan negara itu dalam kedudukan politik yang
menguntungkan.
5. Nilai Pendidikan
Nilai pendidikan adalah kandungan nilai yang dapat memberi inspirasi
atau idea untuk pemenuhan kebutuhan manusia dengan belajar dari prinsip-
prinsip atau aturan-aturan yang berlaku dalam sains.
Walaupun demikian sebutan nilai-nilai tersebut ada unsur kesamaan dan
perbedaan dalam pengertiannya antara ahli yang satu dengan ahli lainnya.
Gambar 2.5 Nilai Sains Menurut Einstein
Science without religion is blind, religion without science is limb
29
kreatif (sikap ilmiah/scientific attitude) terhadap pemecahan masalah yang lebih
efektif dan efisien.
4. Nilai Sosial-Politik
Nilai ini merupakan suatu model menjalin hubungan sesama manusia
makhluk sosial yang tidak bisa hidup sendiri tetapi senantiasa memerlukan yang
lain dalam melakukan berbagai kegiatan. Di bidang politik, kemajuan sains suatu
negara akan menempatkan negara itu dalam kedudukan politik yang
menguntungkan.
5. Nilai Pendidikan
Nilai pendidikan adalah kandungan nilai yang dapat memberi inspirasi
atau idea untuk pemenuhan kebutuhan manusia dengan belajar dari prinsip-
prinsip atau aturan-aturan yang berlaku dalam sains.
Walaupun demikian sebutan nilai-nilai tersebut ada unsur kesamaan dan
perbedaan dalam pengertiannya antara ahli yang satu dengan ahli lainnya.
Gambar 2.5 Nilai Sains Menurut Einstein
Science without religion is blind, religion without science is limb
29
kreatif (sikap ilmiah/scientific attitude) terhadap pemecahan masalah yang lebih
efektif dan efisien.
4. Nilai Sosial-Politik
Nilai ini merupakan suatu model menjalin hubungan sesama manusia
makhluk sosial yang tidak bisa hidup sendiri tetapi senantiasa memerlukan yang
lain dalam melakukan berbagai kegiatan. Di bidang politik, kemajuan sains suatu
negara akan menempatkan negara itu dalam kedudukan politik yang
menguntungkan.
5. Nilai Pendidikan
Nilai pendidikan adalah kandungan nilai yang dapat memberi inspirasi
atau idea untuk pemenuhan kebutuhan manusia dengan belajar dari prinsip-
prinsip atau aturan-aturan yang berlaku dalam sains.
Walaupun demikian sebutan nilai-nilai tersebut ada unsur kesamaan dan
perbedaan dalam pengertiannya antara ahli yang satu dengan ahli lainnya.
Gambar 2.5 Nilai Sains Menurut Einstein
Science without religion is blind, religion without science is limb
30
Bishop dalam jurnalnya mengklasifikasikan nilai dalam pendidikan sains,
yakni:
56
Tabel 2.1 Nilai dalam sains
Sains
Rasionalisme
Sebab, penjelasan, alasan hipotetis, abstraksi, pemikiran logis, teori
Empiris
Atomisme, tujuan, materialisasi, simbolisasi, pemikiran analogis, pengukuran,
ketepatan, koherensi, ketertarikan, keterbatasan, identifikasi masalah
Kontrol
Prediksi, penguasaan masalah, pengetahuan, aturan, paradigma, kondisi aktifitas
Kemajuan
Pertumbuhan, perkembangan pengetahuan secara kumulatif, generalisasi,
pemahaman mendalam, alternatif kemungkinan
Keterbukaan
Artikulasi, sharing, kredibilitas, kebebasan individu, konstruksi pribadi
Misteri
Intuisi, perkiraan, khayalan, keingintahuan, kesan
D. Konsep Energi
Sumber: Tim Abdi Guru. IPA Terpadu Untuk SMP Kelas VIII, (Jakarta:
Erlangga, 2006)
56
Alan J. Bishop, loc.cit., h. 5.
31
1. Pengertian Energi
Apa yang kita rasakan setelah mengayuh sepeda? Pasti kita akan merasa
lelah. Mengapa demikian? Kita merasa lelah karena energi yang kita miliki
digunakan untuk mengayuh sepeda. Dari mana energi yang kita miliki? Energi
tersebut berasal dari energi kimia yang terkandung dalam bahan makanan yang
kita makan. Kita tidak akan mampu mengayuh sepeda apabila kita lelah karena
kehabisan energi. Untuk memproleh kembali energi yang telah digunakan, kita
harus makan dan istirahat. Dari peristiwa tersebut dapat disimpulkan bahwa agar
dapat mengerjakan sesuatu diperlukan energi. Agar kita dapat mengayuh sepeda
diperlukan energi. Jadi, energi adalah kemampuan untuk melakukan kerja/usaha.
Satuan energi dalam SI adalah joule (J). Satuan lain untuk energi adalah kalori
(kal).
57
2. Bentuk-Bentuk Energi
Pada pembahasan di atas kita telah menyinggung salah satu bentuk energi
yang terdapat dalam bahan makanan yaitu energi kimia. Selain energi kimia,
masih ada bentuk-bentuk energi lainnya, diantaranya adalah sebagai berikut:
a. Energi listrik adalah energi yang timbul karena perpindahan muatan-muatan
listrik. Alat-alat yang dapat menghasilkan energi listrik, diantaranya baterai,
aki dan generator.
b. Energi panas (kalor) adalah energi yang dihasilkan oleh gerakan partikel
penyusun benda. Misalnya, kalor setrika dan magic jar.
c. Energi cahaya adalah energi yang dihasilkan oleh gelombang
elektromagnetik. Misalnya, energi cahaya matahari, dan cahaya lampu darurat
(emergency light).
d. Energi bunyi adalah energi yang dihasilkan oleh getaran benda. Misalnya,
suara bunyi telepon.
e. Energi nuklir adalah energi yang dihasilkan oleh bahan-bahan radioaktif.
Dapat dimanfaatkan sebagai pembangkit tenaga listik dan pembuatan bom
nuklir.
57
Tim Abdi Guru, IPA Terpadu untuk SMP Kelas VIII, (Jakarta: Erlangga, 2006), h. 27.
32
f. Energi kimia adalah energi yang dimiliki oleh zat karena reaksi kimia.
Misalnya, energi kimia pada makanan.
g. Energi biogas adalah energi yang memanfaatkan kotoran ternak seperti sapi,
kambing, kerbau, dan ayam sebagai sumber gas metana. Dapat dimanfaatkan
untuk gas bahan bakar, misalnya untuk bahan bakar penerangan dan
pengganti bahan bakar untuk kompor.
58
3. Perubahan Bentuk Energi
Apabila kita memanaskan air dengan menggunakan kompor minyak tanah,
maka energi kimia yang terkandung dalam minyak tanah berubah menjadi energi
panas pada air. Ternyata, energi dapat berubah bentuk. Perubahan bentuk energi
dari satu bentuk kebentuk lain disebut konversi energi.
59
Energi akan tampak
ketika berubah bentuk, misalnya dalam peristiwa-peristiwa berikut ini.
a. Energi listrik dirubah menjadi energi gerak pada penggunaan blender untuk
melumatkan buah.
b. Dalam peristiwa menghidupkan senter terjadi perubahan energi kimia dalam
baterai menjadi energi cahaya sehingga bisa menerangi ruangan yang gelap.
c. Saat menggunakan setrika terjadi perubahan energi listrik menjadi energi
panas (kalor).
d. Saat sepeda dikayuh lampu sepeda akan menyala. Karena terjadi perubahan
dari energi listrik menjadi energi cahaya.
4. Energi Mekanik
Energi mekanik pada suatu benda adalah tetap asalkan tidak ada gaya luar
yang dikerjakan pada benda tersebut. Pernyataan tersebut dikenal dengan hukum
kekekalan energi mekanik dan secara matematis dapat dirumuskan:
60
E
M
= E
p
+ E
k
= tetap
Dengan:
E
M
= energi mekanik (J)
58
Ibid, h. 28-29.
59
Ibid, h. 38.
60
Ibid, h. 37-38.
33
E
p
= energi potensial (J)
E
k
= energi kinetik benda (J)
Hukum kekekalan energi dinyatakan bahwa energi tidak dapat diciptakan
dan tidak dapat dimusnahkan, dan energi hanya dapat berubah dari satu bentuk ke
bentuk lain.
61
Energi mekanik terdiri atas energi potensial dan energi kinetik:
a) Energi kinetik adalah energi yang dimiliki oleh benda karena benda itu
bergerak. Misalnya, seorang pemain sepak bola menendang bola yang semula
diam. Apa yang terjadi saat bola tersebut ditendang? Tentu saja bola
bergerak. Bola yang diam tidak mempunyai energi kinetik, sedangkan bola
yang bergerak memiliki energi kinetik. Secara matematis energi kinetik
dirumuskan:
62
2
2
1
mv
k

dengan:
E
k
= energi kinetik benda (J)
m = massa benda (kg atau g)
v = kecepatan benda (m/s)
Dari persamaan tersebut diketahui bahwa makin besar kecepatan
benda, makin besar energi kinetik benda.
b) Energi potensial adalah energi yang dimiliki oleh benda karena posisi atau
kedudukannya. Misalnya, buah apel yang tergantung pada pohonnya lalu
jatuh ke bawah dikatakan memiliki energi potensial, karena buah apel
memiliki energi karena letaknya di atas pohon dan karet yang diregangkan
lalu dilepaskan mampu terlempar ke ujung ruangan dikarenakan karet
memiliki energi karena sifatnya yang elastis. Energi potensial dapat dibagi
menjadi dua kelompok yaitu energi potensial gravitasi dan energi potensial
61
Ibid, h. 40.
62
Ibid, h. 35-36.
34
elastis. Untuk energi potensial gravitasi, dapat dihitung besarnya dengan
persamaan:
63
mgh
p

dengan:
E
p
= energi potensial (J)
m = massa benda (kg atau g)
g = gravitasi (m/s
2
)
h = tinggi benda terhadap bidang acuan (m)
5. Sumber-Sumber Energi
Sumber energi dibedakan menjadi dua, yaitu:
a) Sumber energi yang tidak dapat diperbaharui adalah sumber energi dengan
persediaan terbatas di alam ini dan suatu saat akan habis apabila terus
menerus kita pakai, contohnya bahan bakar minyak (BBM), batu bara, dan
gas alam.
b) Sumber energi yang dapat diperbaharui adalah sumber energi dengan jumlah
yang tidak terbatas di alam. Sumber energi ini diantaranya adalah energi
angin, air, pasang surut air laut, matahari, biogas, dan nuklir.
6. Kandungan Nilai Dalam Pembelajaran Konsep Energi
Berdasarkan konsep energi dapatlah dikemukakan beberapa kandungan
nilainya, sebagai berikut:
a) Energi merupakan salah satu sumber kehidupan di muka bumi ini, seandainya
jika tidak ada energi pasti tidak akan ada kehidupan di muka bumi ini. Maka
sebagai manusia kita wajib bersyukur kepada Allah yang telah memberikan
berbagai macam nikmat energi yang telah diberikan Allah kepada manusia.
Karena kalau manusia tidak bersyukur, Allah akan memberikan azab kepada
manusia yang tidak bersyukur, seperti yang terlihat akhir-akhir ini seringnya
63
Ibid, h. 34-35.
35
terjadi bencana alam disebabkan oleh manusia itu sendiri, karena tidak
bersyukur terhadap kenikmatan yang telah diberikan oleh Allah.
b) Dengan adanya sumber-sumber energi yang dapat diperbaharui maupun yang
tidak dapat diperbaharui, manusia harus menghemat pemakainya. Karena
sumber energi tidak untuk dipakai pada masa sekarang saja, tetapi untuk
dipakai pada masa depan. Boros terhadap sesuatu dalam agama termasuk
temannya syaitan dan Allah tidak menyukai kepada hal-hal yang berlebih-
lebihan.
c) Akhir-akhir ini makin marak pencurian energi listrik oleh pihak-pihak yang
tidak bertanggung jawab disebabkan mereka ingin memakai energi listrik
secara gratis. Padahal menurut agama mencuri listrik juga termasuk perbuatan
tercela dan energi listrik tersebut bukan hak milik mereka.
d) Tuhan Yang Maha Esa menciptakan berbagai energi yang ada di bumi ini
untuk memudahkan manusia dalam kelangsungan hidupnya, contohnya di
dalam makanan menyimpan energi kimia untuk kita beraktivitas.
e) Setia benda memiliki energi potensial, diumpamakan bahwa setiap diri
manusia memiliki potensi sebagai anugerah dari Tuhan Yang Maha Esa.
f) Setiap kesuksesan harus disertakan dengan kerja keras yang besar seperti
halnya energi mekanik, berbanding lurus dengan potensi dari diri manusia
disertai usaha yang semaksimal mungkin. Sebagaimana Tuhan menjelaskan
bahwa Tuhan tidak akan merubah nasib suatu kaum, kecuali kaum itu
sendidri yang akan merubahnya.
g) Nilai praktis (manfaat) dalam konsep energi diantaranya adalah:
h) Energi listrik dimanfaatkan untuk menyalakan lampu, peralatan elektronik,
ataupun menggerakkan mesin-mesin industri.
i) Energi bunyi dimanfaatkan untuk menikmati suara musik yang merdu
j) Energi biogas dimanfaatkan sebagi sumber gas metana
k) Energi panas dimanfaatkan untuk menyetrika
l) Energi angin dimanfaatkan untuk membuat pembangkit listrik
m) Energi nuklir dimanfaatkan untuk menciptakan bom nuklir dan pembangkit
listrik tenaga nuklir.
36
n) Energi air dimanfaatkan untuk membuat pembangkit listrik tenaga air.
o) Energi biogas dimanfaatkan untuk bahan bakar penerangan di daerah yng
belum terjangkau oleh PLN dan pengganti bahan bakar kompor.
E. Hasil Penelitian Relevan
Penelitian yang relevan dengan penelitian ini, dilakukan juga oleh Indah
Lestari dalam skripsinya yang berjudul Pengaruh Pemanfaatan Software
Macromedia Flash MX sebagai media Chemo-edutainment (CET) pada
pembelajaran dengan pendekatan Chemo-entrepenership (CEP) terhadap hasil
belajar fisika siswa SMP pokok materi Pengukuran
64
, tahun 2007, Universitas
Negeri Semarang Fakultas MIPA Jurusan Fisika, telah memberi kesimpulan
bahwa pembelajaran dengan memanfaatkan Software Macromedia Flash MX
sebagai media Chemo-edutainment (CET) pada pendekatan Chemo-
entrepeneurship (CEP) berpengaruh terhadap hasil belajar fisika siswa pada
konsep pengukuran. Besarnya kontribusi pembelajaran dengan memanfaatkan
Software Macromedia Flash MX sebagai media Chemo-edutainment (CET) pada
pendekatan Chemo-entrepeneurship (CEP) terhadap hasil belajar fisika siswa
pada konsep hukum newton adalah 30,69%.
Asnik Yanatun juga dalam skripsinya yang berjudul pembelajaran fisika
dengan media komputer progam flash MX pokok bahasan tatasurya
65
di SMS
Assalam semester 1 tahun ajaran 2005/2006, FKIP, Universitas Negeri
Surakarta, menyimpulkan bahwa ada perbedaan pengaruh antara pembelajaran
fisika menggunakan media grafis dan media komputer terhadap hasil belajar fisika
pokok bahasan tatasurya, dan ada perbedaan pengaruh antara minat belajar fisika
siswa kategori tinggi dan rendah terhadap hasil belajar fisika siswa pokok bahasan
tatasurya. Dari uji komparasi antar baris diperoleh bahwa pengajaran dengan
64
Indah Lestari, Pengaruh Pemanfaatan Software Macromedia Flash MX sebagai media
Chemo-edutainment (CET) pada pembelajaran dengan pendekatan Chemo-entrepenership (CEP)
terhadap hasil belajar fisika siswa SMP pokok materi Pengukuran, tahun 2007, Universitas
Negeri Semarang Fakultas MIPA Jurusan Fisika
65
Asnik Yanatun Pembelajaran Fisika Dengan Media Komputer Progam Flash Mx
Pokok Bahasan Tatasurya di SMS Assalam semester 1 tahun ajaran 2005/2006, FKIP,
Universitas Negeri Surakarta
37
media komputer lebih efektif bila dibandingkan dengan pengajaran dengan
menggunakan media grafis dan dari uji komparasi antar kolom diperoleh bahwa
minat belajar fisika siswa kategori tinggi lebih berpengaruh tehadap hasil belajar
fisika siswa dibandingkan minat belajar fisika siswa kategori rendah.
M. Zakiudin Al-Fauri dalam skripsinya yang berjudul pengaruh media
audiovisual dalam bentuk VCD terhadap motivasi dan prestasi belajar sains
biologi pokok bahasan fotosintesis
66
, tahun 2008, UIN Sunan Kalijaga
Yogyakarta, menyimpulkan bahwa motivasi belajar sains-Biologi siswa yang
mengikuti pembelajaran dengan menggunakan media VCD lebih tinggi dari pada
motivasi belajar sains-Biologi siswa yang mengikuti pembelajaran tanpa
menggunakan media VCD. Ada perbedaan prestasi belajar sains-Biologi yang
cukup signifikan antara siswa yang mengikuti pembelajaran dengan menggunakan
media VCD dibandingkan dengan siswa yang mengikuti pembelajaran tanpa
menggunakan media VCD. Siswa yang mengikuti pembelajaran dengan
menggunakan media VCD memiliki motivasi dan prestasi belajar yang lebih baik
daripada siswa yang mengikuti pembelajaran tanpa menggunakan media VCD.
Numan Yasir dalam skripsinya yang berjudul Pengaruh Pemanfaatan
Multimedia Terhadap Hasil Belajar Kimia Siswa Pada Pokok Bahasan Senyawa
Hidrokarbon
67
, tahun 2008, program studi Pendidikan Kimia, Jurusan Pendidikan
IPA, Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan, UIN Syarif Hidayatullah Jakarta,
menyimpulkan bahwa terdapat pengaruh yang positif dari pemanfaatan
multimedia khususnya program powerpoint, VCD, Program flash, terhadap hasil
belajar kimia siswa pada bahasan senyawa hidrokarbon.
Nicolaus Dolly Simon Kusdwiutomo dalam tesisnya yang berjudul
pengaruh pembelajaran fisika dengan media powerpoint disertai animasi dan
modul dilengkapi alat peraga terhadap prestasi belajar fisika ditinjau dari
66
M. Zakiudin Al-Fauri Pengaruh Media Audiovisual Dalam Bentuk VCD Terhadap Motivasi
Dan Prestasi Belajar Sains Biologi Pokok Bahasan Fotosintesis, tahun 2008, UIN Sunan
Kalijaga Yogyakarta
67
Numan Yasir Pengaruh Pemanfaatan Multimedia Terhadap Hasil Belajar Kimia Siswa Pada
Pokok Bahasan Senyawa Hidrokarbon, tahun 2008, Pend. Kimia, Jurusan Pendidikan IPA,
UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
38
kreativitas siswa (studi kasus konsep gerak melingkar pada siswa kelas X
semester I di SMA Negeri 7 Surakarta Tahun Ajaran 2006/2007)
68
, 2008,
Program Studi Pendidikan Sains, Minat Utama Fisika, Program Pascasarjana
Universitas Sebelas Maret Surakarta, menyimpulkan bahwa terdapat pengaruh
pembelajaran fisika dengan media powerpoint disertai animasi dan modul
dilengkapi alat peraga terhadap prestasi belajar fisika (xrerata powerpoint = 82,15
> xrerata modul = 67,45) dan terdapat pengaruh yang signifikan pada prestasi
belajar fisika antara siswa yang memiliki kreativitas tinggi dan rendah, serta
terdapat interaksi pengaruh antara pembelajaran fisika dengan media power point
disertai animasi, modul dlengkapi alat peraga dan kreativitas siswa.
F. Kerangka Berpikir
Belajar merupakan salah satu usaha yang dapat mengubah kepribadian dan
tingkah laku setiap individu. Dalam prosesnya terjadi interaksi yang dilakukan
oleh guru dan siswa, baik didalam maupun diluar kelas dengan menggunakan
berbagai sumber belajar. Belajar bukan hanya merupakan usaha untuk mendapat
pengetahuan semata, namun juga merupakan usaha seseorang agar terjadi
perubahan pada dirinya. Perubahan yang dihasilkan setelah proses belajar dapat
dilihat dari perubahan tingkah laku, bertambahnya pengetahuan, keterampilan dan
sikap, serta bertanggung jawab dan mandiri. Dalam kegiatan belajar mengajar
siswa harus diarahkan dan dibantu untuk mencapai tujuan pendidikan dan hasil
belajar yang baik pada dirinya.
Materi fisika energi memuat teori-teori yang mengharuskan siswa untuk
memahami konsep, jika penyajian materi hanya dengan metode ceramah saja
maka akan menimbulkan kebosanan dalam diri siswa, karena metode ceramah ini
merupakan komunikasi satu arah saja. Oleh karena itu, diperlukan suatu media
yang dapat membuat siswa termotivasi dalam belajar, karena media selain
68
Nicolaus Dolly Simon Kusdwiutomo Pengaruh Pembelajaran Fisika Dengan Media
Powerpoint Disertai Animasi Dan Modul Dilengkapi Alat Peraga Terhadap Prestasi Belajar
Fisika Ditinjau Dari Kreativitas Siswa (studi kasus konsep gerak melingkar pada siswa kelas X
semester I di SMA Negeri 7 Surakarta Tahun Ajaran 2006/2007), 2008, Prodi Pendidikan
Sains, Minat Utama Fisika, Program Pascasarjana Universitas Sebelas Maret Surakarta
39
berfungsi sebagai stimulus informasi dan pengetahuan, juga untuk meningkatkan
keserasian dalam penerimaan informasi. Media ini terintegrasi dalam proses
belajar mengajar. Media presentasi dengan tampilan slide presentasi yang menarik
dapat digunakan untuk membantu guru dalam penyampaian materi tersebut.
Karena materi pengukuran juga membutuhkan simulasi secara visual bergerak
untuk menjelaskan contoh-contoh yang abstrak, maka program adobe flash dapat
membantu untuk membuat presentasi dengan simulasi dan animasi yang menarik.
Penggunaan media presentasi dengan program adobe flash diharapkan
dapat merangsang kemampuan siswa untuk berpikir secara kreatif dan
menyeluruh, terciptanya proses pembelajaran yang efektif, efisien, dan
menyenangkan, serta siswa akan termotivasi untuk mempelajari fisika sehingga
mampu mengerjakan soal-soal fisika. oleh karena itu, jika penyajian materi
dengan menggunakan program adobe flash dapat dilakukan dengan baik, maka
akan berimplikasi dengan hasil belajar fisika yang lebih baik juga.
Gambar 2.6 Skema Kerangka Berpikir
Hasil Belajar < KKM
Kejenuhan Belajar Di Kelas
Pembelajaran Dengan Program Adobe Flash
Guru
Kondisi Belajar Menyenangkan
Siswa
Hasil Belajar > KKM
40
G. Hipotesis Penelitian
Adapun hipotesis penelitian ini adalah: Terdapat pengaruh pemanfaatan
program adobe flash terhadap hasil belajar fisika pada konsep energi.
41
BAB III
METODOLOGI PENELITIAN
A. Metode Penelitian
Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode
penelitian kuasi eksperimen (quasi-exsperiment research) karena melibatkan
penggunaan kelompok subjek secara utuh dalam eksperimen yang sudah
terbentuk secara alami dalam kelas daripada menentukan subjek secara random
untuk perlakuan eksperimen. Eksperimen ini biasa juga disebut eksperimen semu.
Karena berbagai hal, terutama berkenaan dengan pengontrolan variabel
1
. Dalam
metode ini terdapat dua kelompok. Kelompok eksperimen yang akan diberi
perlakuan khusus (variabel yang akan diuji akibatnya) yaitu pemanfaatan dengan
menggunakan program adobe flash, dan kelompok kontrol yang akan diberi
perlakuan dengan menggunakan media gambar.
B. Desain Penelitian
Desain penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah desain
kelompok kontrol pretest-posttest acak (randomized pretest-posttest control group
design) yang divisualisasikan sebagai berikut:
2
Adapun desain penelitiannya adalah sebagai berikut:
Tabel 3.1 Desain Penelitian
Kelompok Tes Awal (Pretes) Variabel Bebas Tes Akhir (Posttes)
Eksperimen
1
T
X
e
2
T
Kontrol
1
T
X
k
2
T
Keterangan :
E = Kelompok eksperimen.
K = Kelompok kontrol
X
e
= Perlakuan terhadap kelas eksperimen yaitu dengan menggunakan media
1
Nana Syaodih Sukmadinata, Metode Penelitian Pendidikan, (Bandung: PT. Remaja
Rosdakarya, 2005), h. 207
2
Nana Syaodih Sukmadinata, Ibid., h. 204
42
42
presentasi program adobe flash dalam proses pembelajaran fisika.
X
k
= Perlakuan terhadap kelas kontrol yaitu dengan menggunakan media
gambar dalam proses pembelajaran fisika.
1
T
= Tes awal (pretest) terhadap kedua kelompok (eksperimen dan kontrol).
2
T
= Tes akhir (posttest) terhadap kedua kelompok (eksperimen dan kontrol).
C. Tempat dan Waktu Penelitian
Penelitian ini dilakukan di MTs. Islamiyah Ciputat. Penelitian ini
dilakukan pada bulan Maret semester genap tahun pelajaran 2010/2011.
D. Prosedur Penelitian
Prosedur dalam penelitian ini dilaksanakan dalam tiga tahap, yaitu: tahap
persiapan, tahap pelaksanaan, dan tahap akhir penelitian.
1. Tahap persiapan
Sebelum melaksanakan penelitian, langkah awal pada tahap ini adalah
pengurusan surat izin dari UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Langkah selanjutnya
adalahh observasi tempat, selanjutnya membuat instrumen penelitian berdasarkan
kisi-kisi soal yang telah dibuat, serta menyusun RPP.
Langkah selanjutnya yaitu melakukan koordinasi dengan pihak sekolah
dalam hal ini guru bidang studi yang bersangkutan untuk melaksanakan uji coba
instrumen. Setelah itu analisis data uji coba instrumen untuk menentukan soal-
soal yang akan digunakan dalam penelitian (pretest dan posttest). Analisis data
hasil uji coba instrumen merupakan langkah terakhir pada tahap persiapan
sebelum melakukan penelitian.
2. Tahap pelaksanaan
Langkah awal pada tahap ini adalah menentukan 2 kelompok sampel, yaitu
kelompok eksperimen dan kelompok kontrol, selanjutnya diadakan tes awal
(pretest) terhadap kedua kelompok penelitian menggunakan soal-soal hasil
analisis data uji coba instrumen penelitian. Kemudian kegiatan pembelajaran
dapat dilakukan yaitu dengan menggunakan media presentasi program Adobe
Flash pada kelas eksperimen pada konsep energi. Sedangkan kelas kontrol yaitu
43
43
dengan menggunakan media gambar. Setelah proses pembelajaran selesai,
diadakan tes akhir (posttest) dengan menggunakan soal yang sama ketika tes awal
(pretest).
3. Tahap akhir penelitian
Langkah pertama dalam tahap ini adalah melakukan analisis data hasil tes
awal (pretest) dan tes akhir (posttest) kedua kelompok penelitian. Analisis
dilakukan dengan menggunakan uji statistik. Setelah itu dilakukan penarikan
kesimpulan yang merupakan langkah akhir pada tahap ini.
44
44
Gambar 3.1. Bagan Tahap Prosedur Penelitian
Tahap persiapan
sebelum penelitian
Survey tempat
Penyusunan instrumen
penelitian dan RPP
Uji coba instrumen
Analisis data hasil uji
coba instrumen
Tahap pelaksanaan
penelitian
Pretest
KBM
Posttest
Tahap akhir
penelitian
Analisis dan hasil
penelitian
Penarikan kesimpulan
Kelompok eksperimen menggunakan
program adobe flash
Kelompok kontrol menggunakan
media gambar
45
45
E. Variabel Penelitian
Terdapat dua variabel dalam penelitian ini yaitu variabel bebas dan
variabel terikat.
X = Pemanfaatan Proram Adobe Flash.
Y = Hasil Belajar Fisika Siswa.
F. Populasi dan Sampel
Populasi target dalam penelitian ini adalah seluruh siswa MTs Islamiyah
Ciputat, dan populasi terjangkau seluruh siswa kelas VIII MTs Islamiyah Ciputat.
Sampel yang digunakan adalah kelas VIII.1 (untuk kelompok eksperimen) dan
kelas VIII.2 (untuk kelompok kontrol) semester genap tahun ajaran 2010/2011
diambil dari populasi terjangkau secara purposive sampling.
G. Teknik Pengambilan Sampel
Dalam penelitian ini adalah dengan cara purposive sampling. Pengambilan
sampel dengan teknik purposive sampling adalah suatu teknik yang dilakukan
bertujuan untuk menentukan kelas yang sudah ditentukan sesuai dengan tujuan
penelitian.
3
Sehingga peneliti dapat memperoleh hasil penelitian sesuai dengan
prosedur yang telah dipilih dalam desain penelitian.
H. Teknik Pengumpulan Data
Teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah
berupa tes hasil belajar fisika yang berbentuk objektif (pilihan ganda) berjumlah
20 soal, dengan 4 alternatif jawaban
I. Instrumen Penelitian
Instrumen pada suatu penelitian adalah alat yang digunakan untuk
mengumpulkan data. Dalam penelitian ini digunakan instrumen tes hasil belajar
fisika. Tes hasil belajar merupakan tes yang digunakan untuk mengukur sejauh
mana siswa menguasai materi yang telah diberikan. Jenis tes yang digunakan
3
Nana Syaodih Sukmadinata, Ibid., h. 254
46
46
adalah tes tertulis berbentuk pilihan ganda pada materi energi dengan 5 indikator
yang meliputi pengetahuan, pemahaman, penerapan dan aplikasi. Sebelum tes ini
diujikan terhadap sampel penelitian, maka terlebih dahulu diujikan terhadap
sampel lain untuk mengetahui validitas dan reliabilitasnya.
Sebelum instrumen digunakan, terlebih dahulu diuji coba. Data hasil uji
coba dianalisis yaitu validitas butir soal, reliabilitas instrumen, tingkat kesukaran
butir soal, dan daya pembeda.
1. Validitas Instrumen
Validitas adalah suatu ukuran yang menunjukkan tingkatan-tingkatan
kesahihan atau keabsahan suatu instrumen. Suatu instrumen dikatakan valid
apabila instrumen tersebut dapat mengukur apa yang seharusnya diukur. Rumus
yang digunakan untuk menguji validitas butir soal yaitu rumus korelasi biserial
antara skor butir soal nomor i dengan skor total. Rumus ini digunakan karena
skor setiap item soal sama, jika item soal dijawab benar diberi skor satu dan jika
item soal dijawab salah diberi skor nol.
4
Rumus yang digunakan tersebut adalah:
5
qi
pi
St
Xt Xi
r
bis(i)

=
Keterangan:
bis(i)
r : koefisien korelasi biserial antara skor butir soal nomor i dengan skor total
i X : rata-rata skor total responden menjawab benar butir soal nomor i
t X : rata-rata skor total semua responden
St : standar deviasi skor total semua responden
pi : proporsi jawaban benar untuk butir nomor i
qi : proporsi jawaban salah untuk butir nomor i
4
Suharsimi Arikunto., Dasar-dasar evaluasi pendidikan, (Jakarta: Bumi aksara, 2008), h. 76.
5
Ahmad Sofyan, et. Al, Evaluasi Pembelajaran IPA Berbasis Kompetensi, (Jakarta: UIN Jakarta
Press, 2006), h. 109
47
47
2. Reliabilitas instrumen
Pengujian reliabilitas instrumen dapat dilakukan dengan teknik Kuder
Richardson 20 (KR20), yaitu sebagai berikut:
6
(
(

=

2
t
i i
2
t
i
s
q p s
1 k
k
r
k : jumlah item dalam instrumen
i
p : proporsi banyaknya subjek yang menjawab pada item 1
i
q : 1 - p
i
s
t
2
: varians total
3. Tingkat kesukaran item
Tingkat kesukaran merupakan salah satu analisis kuantitatif yang hasil
hitungnya merupakan proporsi atau perbandingan antara siswa yang menjawab
benar dengan keseluruhan siswa yang mengikuti tes. Rentang indeks
menunjukkan semakin mudah butir soal, karena dapat dijawab benar oleh
sebagian besar atau seluruh siswa. Untuk menghitung tingkat kesukaran item
dapat digunakan rumus.
7
N
B
P =
Keterangan:
P : proporsi (indeks kesukaran)
B : jumlah siswa yang menjawab benar
N : Jumlah peserta tes
Dalam penelitian ini kriteria tingkat kesukaran diklasifikasikan sebagai
berikut:
0,76 P > Mudah 0,751 0,755 = Sedang
0,75 P 0,25 s s Sedang 0,756 0,759 = Mudah
6
Prof. Dr. Sugiyono, Metode Penelitian Pendidikan pendekatan kuantitatif, kualitatif, dan R&D,
(Bandung : ALFABETA, 2008), h. 185-186
7
Ahmad Sofyan, et. Al, Evaluasi Pembelajaran IPA Berbasis Kompetensi, (Jakarta: UIN Jakarta
Press, 2006), h. 103
48
48
0,24 P s Sukar 0,241 0,245 = Sukar
0,246 0,249 = Sedang
4. Daya Pembeda Soal
Daya beda digunakan untuk mengetahui kemampuan butir dalam
membedakan kelompok siswa yang pandai dengan kelompok siswa yang kurang
pandai. Rumusnya adalah:
8
N . 0,5
Bb Ba
D

=
Keterangan:
Ba : jumlah yang menjawab benar pada kelompok atas
Bb : jumlah yang menjawab benar pada kelompok bawah
N : jumlah peserta tes kelompok atas dan bawah
Daya pembeda yang baik adalah: D > 0,30.
J. Teknik Analisis Data
Sebelum melakukan teknik analisis statistik yang akan digunakan, terlebih
dahulu memeriksa keabsahan sampel yaitu dengan menggunakan uji normalitas
dan uji homogenitas.
1) Uji Normalitas
Sebelum dilakukan pengujian terhadap hipotesis, terlebih dahulu data
dilakukan uji normalitas. Uji normalitas menggunakan uji Chi-Kuadrat.
Ho : populasi berdistribusi normal
Ha : populasi berdistribusi tidak normal
Kriteria uji normalitas:
Jika
tabel o
L L s maka sampel berdistribusi normal pada taraf signifikansi 0,05 .
2) Uji Homogenitas
Uji homogenitas variansi sangat diperlukan sebelum kita membandingkan
dua kelompok atau lebih, agar perbedaan yang ada bukan disebabkan oleh adanya
8
Ahmad Sofyan, at. Al, op.cit., h. 104
49
49
perbedaan data dasar (ketidakhomogenan kelompok yang dibandingkan)
9
. Ada
beberapa rumus yang digunakan salah satunya yaitu Uji Fisher;
, ,
, , 1
2
1
2
1 2
n- n
X - X n
S

=
Keterangan:
2
1
S : varians terbesar
2
2
S : varians terkecil
Ho : sampel homogen
Ha : sampel tidak homogen
Kriteria uji homogenitas:
Jika,
tabel hit
F F s , maka sampel bersifat homogen.
3) Uji Hipotesis Statistik Parametik
Jika sampel berdistribusi normal dan homogen, maka dilakukan uji
parametrik dengan menguji hipotesis statistik menggunakan rumus uji-t dengan
taraf signifikan 0,05 = , sebelumnya perlu diketahui peningkatan hasil belajar
diperoleh dari nilai N-gain:
10
pretes skor ideal skor
pretes skor posttest skor
gain N

=
Dengan kategori perolehan:
G tinggi : nilai (g) > 0,7
G sedang : nilai 0,7 > g > 0,3
G rendah : nilai (g) < 0,3
Selanjutnya perhitungan uji-t dengan rumus sebagai berikut:
11
, ,
y x
S
Y X
t

=
9
Prof. Dr. H. Agus Irianto, Statistik Konsep Dasar Dan Aplikasinya, (Jakarta: Kencana, 2007) h.
275-276
10
David E. Meltzer, Relationship Between Mathematics Preparation and Conceptual Learning
Gains, (Canada : Departement of Physics and Astronomy Low a State University, 2000),
http://www.physics.iastate.edu/pertalks/aapt-guelph-00.ppt. 01/09/2009, h. 8
11
Russeffendi, op.cit., h. 279
50
50
Dengan:
2
1 1
2 2
+
(

+
=

ny nx
ny nx
y x
S
x-y
Keterangan:
, ,
2
2

= x x x
, ,
2
2

= y y y
x : rata-rata kelompok ajar kelompok X
y : rata-rata hasil belajar kelompok Y
x
n : jumlah sampel kelompok X
y
n : jumlah sampel kelompok Y
y x
S

: galat baku
12
K. Hipotesis Statistik
Hipotesis yang digunakan dalam peneltian ini adalah:
2 1 a
2 1 0
: H
: H
>
=
Dengan:
1
: rata-rata hasil belajar siswa yang menggunakan program adobe flash
pada konsep fisika energi
2
: rata-rata hasil belajar siswa yang menggunakan media gambar pada
konsep fisika energi
12
Ibid.,
50
BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
A. Hasil Penelitian
1. Hasil Belajar (Pretest) Kelompok Eksperimen dan Kontrol
Berdasarkan hasil perhitungan data penelitian mengenai tes hasil belajar
fisika pada kelompok eksperimen, diketahui bahwa dari 30 siswa yang dijadikan
sampel diperoleh nilai antara 25-31 sebanyak 3 siswa, 32-38 sebanyak 7 siswa,
39-45 sebanyak 7 siswa, 46-52 sebanyak 3 siswa, 53-59 sebanyak 4 siswa, dan
60-66 sebanyak 6 siswa. Sedangkan untuk kelompok kontrol diperoleh nilai
antara 20-26 sebanyak 4 siswa, 27-33 sebanyak 4 siswa, 34-40 sebanyak 8 siswa,
41-47 sebanyak 6 siswa, 48-54 sebanyak 3 siswa, dan 55-61 sebanyak 5 siswa.
1
Untuk lebih jelasnya tentang diskripsi hasil belajar pretest kelompok
eksperimen dan kontrol diatas, dapat dilihat pada gambar 4.1 dibawah ini:
Histogram Hasil Belajar Pretest
0
1
2
3
4
5
6
7
8
9
20-27 28-35 36-43 44-51 52-59 60-67
Skor Hasil Belajar
J
u
m
l
a
h

S
i
s
w
a
Eksperimen
kontrol
Gambar 4.1 Histogram Hasil Pretest Kelompok Eksperimen dan kontrol
1
Lampiran 15, h. 110.
51
Berdasarkan gambar 4.1 terlihat jelas bahwa batang tertinggi yang
menyatakan nilai terbanyak pada kelompok eksperimen berada pada rentang skor
32-38 dan 39-45 dengan banyaknya siswa yang mendapat nilai pada interval
tersebut adalah 7 orang.
2
Sedangkan batang tertinggi yang menyatakan nilai
terbanyak pada kelompok kontrol berada pada rentang skor 34-40 dengan
banyaknya siswa yang mendapat nilai pada interval tersebut adalah 8 orang.
3
Hasil perhitungan data penelitian mengenai tes hasil belajar fisika pada
kelompok eksperimen, diketahui bahwa dari 30 siswa yang dijadikan sampel
diperoleh nilai terendah 25 dan nilai tertinggi 65, nilai rata-rata sebesar 45,73,
simpangan baku 11,85 dan varians 130,57. Sedangkan untuk kelompok kontrol,
diketahui bahwa dari 30 siswa yang dijadikan sampel diperoleh nilai terendah 20
dan nilai tertinggi 60, nilai rata-rata sebesar 40,5, simpangan baku 11,29 dan
varians 131,72.
4
Untuk lebih jelasnya, deskripsi data statistika hasil belajar pretest
kelompok eksperimen dan kontrol dapat dilihat pada gambar 4.2 dibawah ini:
Histogram Hasil Statistika Pretest
25
65
45.73
11.85
130.57
20
60
40.5
11.29
131.72
0
20
40
60
80
100
120
140
terendah tertinggi rata-rata simp. baku varians
Nilai Statistik
J
u
m
l
a
h

S
k
o
r
eksperimen
kontrol
Gambar 4.2 Histogram Hasil Statistika Pretest Eksperimen dan Kontrol
2
Lampiran 15, h. 110.
3
Lampiran 15, h. 113.
4
Lampiran 15, h. 113.
52
Berdasarkan gambar 4.2 terlihat jelas perbedaan hasil statistika antara
kelompok eksperimen dan kontrol. Selisih nilai terendah sebesar 5, selisih nilai
tertinggi sebesar 5, selisih rata-rata sebesar 5,23, selisih simpangan baku sebesar
0,54, sedangkan selisih varians sebesar -1,15.
2. Hasil Belajar (Postest) Kelompok Eksperimen dan Kontrol
Berdasarkan hasil perhitungan data penelitian mengenai tes hasil belajar
fisika pada kelompok eksperimen, diketahui bahwa dari 30 siswa yang dijadikan
sampel diperoleh nilai antara 55-61 sebanyak 2 siswa, 62-68 sebanyak 4 siswa,
69-75 sebanyak 2 siswa, 76-82 sebanyak 6 siswa, 83-89 sebanyak 8 siswa, dan
90-96 sebanyak 8 siswa. Sedangkan untuk kelompok kontrol diperoleh nilai
antara 50-56 sebanyak 4 siswa, 57-63 sebanyak 7 siswa, 64-70 sebanyak 8 siswa,
71-77 sebanyak 2 siswa, 78-84 sebanyak 5 siswa, dan 85-91 sebanyak 4 siswa.
5
Untuk lebih jelasnya tentang diskripsi hasil belajar postest kelompok
eksperimen dan kontrol diatas, dapat dilihat pada gambar 4.3 dibawah ini:
Histogram Hasil Belajar Postest
0
1
2
3
4
5
6
7
8
9
55-61 62-68 69-75 76-82 83-89 90-96
Skor Hasil Belajar
eksperimen
kontrol
Gambar 4.3 Histogram Hasil Postest Kelompok Eksperimen dan Kontrol
5
Lampiran 15, h. 110.
53
Berdasarkan gambar 4.3, terlihat jelas bahwa batang tertinggi yang
menyatakan nilai terbanyak pada kelompok eksperimen berada pada rentang skor
90-96 dengan banyaknya siswa yang mendapat nilai pada interval tersebut adalah
8 orang.
6
Sedangkan batang tertinggi yang menyatakan nilai terbanyak pada
kelompok kontrol berada pada rentang skor 64-70 dengan banyaknya siswa yang
mendapat nilai pada interval tersebut adalah 8 orang.
7
Hasil perhitungan data penelitian mengenai tes hasil belajar fisika pada
kelompok eksperimen diketahui bahwa dari 30 siswa yang dijadikan sampel
diperoleh nilai terendah 55 dan nilai tertinggi 95, nilai rata-rata sebesar 80,9,
simpangan baku 11,48 dan varians 121,95. Sedangkan untuk kelompok kontrol
diketahui bahwa dari 30 siswa yang dijadikan sampel diperoleh nilai terendah 50
dan nilai tertinggi 90, nilai rata-rata sebesar 69,1, simpangan baku 11,5 dan
varians 137,47.
8
Untuk lebih jelasnya, deskripsi data hasil belajar posttes kelompok
eksperimen dapat dilihat pada gambar 4.4 dibawah ini:
Histogram Hasil Statistika Postest
55
95
80.9
11.48
121.95
50
90
69.1
11.5
137.47
0
20
40
60
80
100
120
140
160
terendah tertinggi rata-rata simp. baku varians
Nilai Statistika
J
u
m
l
a
h

S
k
o
r
eksperimen
kontrol
Gambar 4.4 Histogram Hasil Statistika Postest Eksperimen dan Kontrol
6
Lampiran 15, h. 117.
7
Lampiran 15, h. 120.
8
Lampiran 15, h. 110.
54
3. Rekapitulasi Data Hasil Belajar
Berdasarkan hasil perhitungan data penelitian mengenai tes hasil belajar
fisika kelas eksperimen, dari 30 siswa yang dijadikan sampel diperoleh nilai rata-
rata pretest 45,73 dan postest 80,9, simpangan baku pretest 11,85 dan postest
11,48. Hasil perhitungan tes hasil belajar fisika kelas kontrol, dari 30 siswa yang
dijadikan sampel diperoleh nilai rata-rata pretest 40,5 dan postest 69,1, simpangan
baku pretest 11,29 dan postest 11,50.
9
Untuk lebih jelasnya, deskripsi data hasil belajar pretest dan postest kelas
eksperimen maupun kelas kontrol dapat dilihat pada gambar 4.5 dibawah ini:
Rekapitulasi Hasil Belajar
0
20
40
60
80
100
120
140
160
terendah tertinggi rata-rata median modus range simp.
baku
varians
Nilai Statistika
J
u
m
l
a
h

S
k
o
r
pretest eksperimen
pretest kontrol
postest eksperimen
postest kontrol
Gambar 4.5 Histogram Rekapitulasi Hasil Belajar
9
Lampiran 15, h. 110.
55
Tabel 4.1 Rekapitulasi Data Hasil Belajar
Hasil Perhitungan
Eksperimen Kotrol
Pretest Postest Pretest Postest
Nilai Terendah 25 55 20 50
Nilai Tertinggi 65 95 60 90
Rata-Rata 45,73 80,9 40,5 69,1
Median 45 85 40 70
Modus 35 85 45 60
Range 40 40 40 40
Simpangan Baku 11,85 11,48 11,29 11,50
Varian 130,57 121,95 131,72 137,47
4. Hasil Uji Prasyarat Analisis
a. Hasil Uji Normalitas Tes Hasil Belajar
Dalam penelitian ini, uji normalitas didapat dengan menggunakan uji Chi-
Kuadrat. Uji normalitas digunakan untuk mengetahui apakah data berdistribusi
normal atau tidak, dengan ketentuan bahwa data berdistribusi normal bila
memenuhi kriteria
2
hitung

2
tabel
diukur pada taraf signifikansi dan tingkat
kepercayaan tertentu.
Pengujian dilakukan pada taraf kepercayaan 95% ( = 0.05) dengan
derajat kebebasan (dk) = 5, dapat disimpulkan bahwa kedua kelompok sampel
penelitian berdistribusi normal karena memenuhi kriteria
2
hitung

2
tabel
.
10
Tabel 4.2 Hasil Uji Normalitas Pretest Postes
Data
Eksperimen Kontrol
Kesimpulan
pretest postest pretest postest
N 30 30 30 30
Data
Berdistribusi
Normal

2
hitung
8,324 6,393 5,624 6,778

2
tabel
11,070 11,070 11,070 11,070
10
Lampiran 15, h. 109-123.
56
b. Hasil Uji Homogenitas Tes Hasil Belajar
Uji normalitas dilakukan untuk mengetahui kesamaan antara dua keadaan
atau populasi. Uji homogenitas dilakukan dengan melihat keadaan kehomogenan
populasi. Uji homogenitas yang digunakan dalam penelitian ini dalah uji Fisher.
Kriteria pengujian ini digunakan, yaitu kedua kelompok sampel dinyatakan
homogen apabila H
0
diterima pada rentang F
hitung
F
tabel
.
Pengujian dilakukan pada taraf kepercayaan 95% ( = 0.05) dengan
derajat kebebasan (dk) = 5, dapat disimpulkan bahwa kedua kelompok sampel
penelitian berasal dari populasi yang homogen karena memenuhi kriteria F
hitung

F
tabel
.
11
Tabel 4.3 Hasil Uji Homogenitas Kelas Eksperimen
Statistik
S
E(t)
2
(pretest) 141,03
S
E(t)
2
(postest) 98,41
F
hitung
1,43
F
tabel
1,9
Kesimpulan Homogen
Tabel 4.4 Hasil Uji Homogenitas Kelas Kontrol
Statistik
S
E(t)
2
(pretest) 127,57
S
E(t)
2
(postest) 132,30
F
hitung
1,04
F
tabel
1,9
Kesimpulan Homogen
11
Lampiran 15, h. 123-124.
57
5. Pengujian Hipotesis
a. Hasil Uji Kesamaan Dua Rata-Rata Hasil Pretest
Pengujian dilakukan untuk mengetahui apakah terdapat perbedaan yang
signifikan antara skor pretest kelompok eksperimen dengan skor pretest
kelompok kontrol. Untuk pengujian tersebut diajukan hipotesis berikut:
Dari perhitungan data diperoleh nilai t
hitung
sebesar 1,75 dan t
tabel
2,00.
Hasil pengujian yang diperoleh menunjukkan bahwa t
hitung
berada di daerah
penerimaan Ho, yaitu t
tabel
t
hitung
t
tabel
atau -2,00 1,75 2,00. Dengan
demikian Ho diterima dan Ha ditolak pada taraf kepercayaan 0.95, hal ini
menunjukkan bahwa tidak terdapat perbedaan yang signifikan antara rata-rata
skor pretest kelompok eksperimen dengan rata-rata skor pretest kelompok
kontrol.
12
Tabel 4.5 Uji Kesamaan Dua Rata-Rata Hasil Pretest
Keterangan Kelompok Eksperimen Kelompok Kontrol
Jumlah Sampel 30 30
28,9 41,9
s
2
141,03 127,57
t-hitung 1,75
t-tabel 2,00
Kesimpulan Tidak Berbeda
b. Hasil Uji Kesamaan Dua Rata-Rata Hasil Postest
Pengujian ini dilakukan untuk mengetahui apakah skor postest kelompok
eksperimen yang diajar dengan menggunakan media adobe flash lebih besar
secara signifikan dibandingkan dengan skor postest kelompok kontrol yang yang
diajar dengan media gambar.
Dari perhitungan data diperoleh nilai t
hitung
sebesar 4,26 dan t
tabel
2,00.
Hasil pengujian yang diperoleh menunjukkan bahwa t
hitung
berada di daerah
penerimaan Ha, yaitu t
tabel
t
hitung
atau 2,00 4,26. Dengan demikian Ha
12
Lampiran 15, h. 124-126.
58
diterima dan Ho ditolak pada taraf kepercayaan 0.95 hal ini menunjukkan bahwa
terdapat perbedaan yang signifikan antara rata-rata skor postest kelompok
eksperimen dengan rata-rata skor postest kelompok kontrol.
13
Tabel 4.6 Uji Kesamaan Dua Rata-Rata Hasil Posttest
Keterangan Kelompok Eksperimen Kelompok Kontrol
Jumlah Sampel 30 30
80,9 69,1
s
2
98,41 132,30
t-hitung 4,26
t-tabel 2,00
Kesimpulan Berbeda
6. Hasil Uji Normal Gain
Pengumpulan data hasil penelitian dilakukan dengan menggunkan alat
pengumpul data berupa test objektif pilihan ganda. Metode yang digunakan dalam
penelitian ini adalah pretest-postest desain, maka data yang disajikan untuk kedua
kelompok sampel tersebut digolongkan menjadi data hasil pretest dan postest dari
kedua kelompok tersebut.
Peningkatan pemahaman konsep fisika siswa diperoleh dari normal gain.
Adapun nilai rata-rata normal gain dari pemahaman konsep fisika siswa kelompok
eksperimen sebesar 0,70 dan kelompok kontrol sebesar 0,50. Dari nilai tersebut
dapat dikatakan bahwa rata-rata normal gain pada kelompok eksperimen lebih
besar dibandingkan dengan kelompok kontrol. Selain itu, berdasarkan hasil uji-t
dengan taraf kepercayaan 95 % ( = 0.05), diperoleh normal gain pada kelompok
eksperimen berbeda secara signifikan dari kelompok kontrol (t
hitung
= 2,22 dan
t
tabel
( = 0.05) = 2,00).
Kategori peningkatan pemahaman konsep fisika siswa diperoleh dari
penghitungan normal gain peningkatan pemahaman konsep fisika siswa pada
kelompok eksperimen secara umum termasuk kategori tinggi (0,70), sedangkan
13
Lampiran 15, h. 126-127.
59
pada kelompok kontrol peningkatan pemahaman konsep fisika siswanya termasuk
sedang (0,50).
14
Tabel 4.7 Uji Kesamaan Dua Rata-Rata Normal Gain
Keterangan Kelompok Eksperimen Kelompok Kontrol
Jumlah Sampel 30 30
0,70 0,50
s
2
0,13 0,12
t-hitung 2,22
t-tabel 2,00
kesimpulan Berbeda
Berdasarkan hasil penelitian dapat diketahui bahwa siswa yang diajar
dengan menggunakan program adobe flash memiliki kenaikan nilai rata-rata lebih
tinggi dibandingkan siswa yang diajar dengan media gambar. Kedua kelompok
tersebut berada pada distribusi normal, baik pada hasil uji pretest maupun
postestnya. Hal ini dapat dilihat pada hasil pengujian persyaratan analisis pada
kelas eksperimen dan kelas kontrol, yang menyatakan bahwa
2
hitung
2
tabel
dengan nilai
2
tabel pada taraf kepercayaan 95% sebesar 11,070.
Selain itu kelompok eksperimen maupun kelompok kontrol bersifat
homogen, berdasarkan hasil uji pretest dan postest, yang menyatakan bahwa
F
hitung
F
tabel
dengan nilai F
tabel
pada taraf kepercayaan 95% sebesar 1,9.
Pengujian hipotesis dilakukan dengan menggunakan ujit, pada taraf
kepercayaan 95%. Hasil uji kesamaan dua rata-rata pretest dilakukan untuk
mengetahui apakah terdapat perbedaan yang signifikan antara skor pretest
kelompok eksperimen dengan skor pretest kelompok kontrol, diperoleh nilai
t
hitung
sebesar 1,75 dan nilai t
tabel
= 2,00. Hasil pengujian yang diperoleh
menunjukkan bahwa nilai t
hitung
berada di daerah penerimaan Ho, yaitu t
tabel

t
hitung
t
tabe
l atau -2,00 1,75 2,00. Dengan demikian Ho diterima dan Ha
ditolak pada taraf kepercayaan 95% hal ini menunjukkan bahwa tidak dapat
14
Lampiran 15, h. 127-129.
60
perbedaaan yang signifikan antara rata-rata skor pretest kelompok eksperimen
dengan rata-rata skor pretest kelompok kontrol.
Sedangkan berdasarkan hasil uji kesamaan dua rata-rata postest, dilakukan
untuk mengetahui apakah skor postest kelompok eksperimen yang diajar
menggunakan media komik lebih besar secara signifikan dibandingkan dengan
skor postest kelompok kontrol yang diajar dengan media gambar, diperoleh nilai
t
hitung
sebesar 4,26 dan nilai t
tabel
= 2,00. Hasil pengujian yang diperoleh
menunjukkan bahwa nilai t
hitung
berada di daerah penerimaan Ha, yaitu t
tabel

t
hitung
atau 2,00 4,26. Dengan demikian Ho ditolak dan Ha diterima pada taraf
kepercayaan 95% hal ini menunjukkan bahwa terdapat perbedaaan yang
signifikan antara rata-rata skor postest kelompok eksperimen dengan rata-rata
skor postest kelompok kontrol.
Berdasarkan hasil uji normal gain, diketahui rata-rata normal gain dari
pemahaman konsep fisika siswa kelompok eksperimen sebesar 0,70 dan
kelompok kontrol sebesar 0,50. Dari nilai tersebut dapat dikatakan bahwa rata-rata
normal gain pada kelompok eksperimen lebih besar jika dibandingkan dengan
kelompok kontrol. Hal ini senada dengan penelitian Indah Lestari yang menyatakan
bahwa terdapat pengaruh yang signifikan pada hasil belajar fisika siswa pada konsep
pengukuran.
15
Namun perbedaannya kecil, hal ini dikarenakan model pembelajaran
yang digunakan pada kedua kelompok identik.
Berdasarkan hasil uji t dengan taraf kepercayaan 95% diperoleh nilai
t
hitung
sebesar 2,22 dan nilai t
tabel
= 2,00. Hasil pengujian yang diperoleh
menunjukkan bahwa t
tabel
t
hitung
atau 2,00 2,22. Dengan demikian dapat
disimpulkan bahwa normal gain pada kelompok eksperimen berbeda secara
signifikan dari kelompok kontrol.
15
Indah Lestari, Pengaruh Pemanfaatan Software Macromedia Flash MX sebagai media
Chemo-edutainment (CET) pada pembelajaran dengan pendekatan Chemo-entrepenership (CEP)
terhadap hasil belajar fisika siswa SMP pokok materi Pengukuran, Skripsi UIN Syarif
Hidayatullah Jakarta tahun 2007,
61
B. Pembahasan Hasil Penelitian
Berdasarkan penelitian yang diakukan, dapat dilihat bahwa hasil tes
sebelum pembelajaran (pretest) diketahui nilai rata-rata kelompok eksperimen
sebesar 45,73 dan kelompok kontrol sebesar 40,5. Adapun hasil tes setelah
pembelajaran (postest) diketahui nilai rata-rata kelompok eksperimen sebesar 80,9
dan kelompok kontrol sebesar 69,1. Dari hasil analisis tampak terdapat pengaruh
pemanfaatan program adobe flash terhadap hasil belajar fisika siswa pada konsep
energi bernuansa nilai.
Saya Menyatakan bahwa penelitian ini berpengaruh terhadap hasil belajar
siswa karena dari sekian banyak penelitian relevan yang memperkuat kembali
terhadap penelitian ini bahwa pemanfaatan adobe flash berpengaruh terhadap
hasil belajar siswa. Seperti dalam skripsinya Asnik Yanatun pembelajaran fisika
dengan media komputer program adobe flash pada pokok bahasan tata surya
menyimpulkan bahwa pembelajaran dengan mengunakan adobe flash
berpengaruh terhadap hasil belajar siswa. Indah Lestari dalam skripsinya
pengaruh pemanfaatan software flash MX terhadap hasil belajar fisika pada
pokok materi pengukuran. Menyimpulkan bahwa pemanfaatan adobe flash
berpengaruh terhadap hasil belajar siswa. Numan Yasir dalam skripsinya
pengaruh pemanfaatan multimedia berupa adobe flash terhadap hasil belajar
siswa pada pokok bahasan hidrokarbon. Menyimpulkan bahwa terdapat
pengaruh positif dari pemanfaatan multimedia dalam program adobe flash
terhadap hasil belajar siswa
Selain hasil belajar yang baik, siswa merasa termotivasi dan aktif selama
proses pembelajaran. Masing-masing siswa bekerja sesuai dengan tugas yang
diberikan oleh kelompoknya. Dari mereka ada yang mencari referensi di buku
paket, ada yang menyusun jawaban. Hal ini senada dengan penelitian yang
dilakukan oleh Amalia Sholihat dengan skripsinya yang berjudul Pengaruh
Penggunaan program adobe flash Terhadap Hasil Belajar Kimia Siswa Pada
Konsep Sistem Koloid.
16
Yang menyatakan bahwa penggunaan program adobe
16
Amelia Solihat, Efektifitas Penggunaan Adobe Flash Terhadap Hasil Belajar Kimia Siswa
Pada Konsep Tata Nama Senyawa Kimia Sederhana, (Skripsi FITK UIN Jakarta, 2007), h. 73.
62
flash pada tata nama senyawa kimia sederhana membuat siswa merasa termotivasi
dan aktif dalam pembelajaran.
63
BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN
A. Kesimpulan
Berdasarkan hasil analisis data dan pembahasan sebagaimana telah
diuraikan pada bab IV, maka dapat dikatakan bahwa pemanfaatan program adobe
flash berpengaruh terhadap hasil belajar fisika siswa pada konsep energi.
B. Saran
Untuk meningkatkan hasil penelitian selanjutnya maka penulis
memberikan saran agar mendapatkan hasil yang lebih baik, sebaiknya
memperhatikan prosedur penelitian, instrumen penelitian, dan model
pembelajaran.
Gambaran secara umum untuk pihak-pihak tertentu yang ingin melakukan
penelitian sejenis. Agar dapat memberikan fasilitas belajar yang lebih baik dari
yang telah ada, serta menambah perangkat komputer baik sofware atau hardware
sebagai penunjang kegiatan belajar mengajar yang lebih maksimal dan benar.
65
DAFTAR PUSTAKA
Adi Yudianto, Suroso. Manajemen Alam Sumber Pendidikan Nilai, (Bandung:
Mugni Sejahtera, 2005)
Adobe Creative Team (Author), Adobe Flash CS3 Professional Classroom in a
Book Instructor Notes,
http://ptgmedia.pearsonemg.com/.../promo/FLASH_cib_instructor-
notes.pdf. 13/04/2009
Akbar, Sodun. Pelakonan Sebagai Pendekatan unggulan Dalam Pendidikan Nilai,
dalam Jurnal Pendidikan Nilai. Th1, No 2, Mei 1996
Alami, Fikri (2005). Pembuatan Media Pembelajaran dengan Macromdia Flash
MX 2004. http://www.unila.ac.id, 23/07/2009
Anderson, Ronald H. Pemilihan Dan Pengembangan Media Untuk Pembelajaran,
(Jakarta: Raja Grafindo Persada, 2005)
Arsyad, Azhar. Media Pembelajaran, (Jakarta: PT. Grafindo Persada, 2004), Cet.
V,
Arsyad, Azhar. Media Pengajaran, (Jakarta: Raja Grafindo Persada, 1997)
Asnik Yanatun Pembelajaran Fisika Dengan Media Komputer Progam Flash
Mx Pokok Bahasan Tatasurya di SMS Assalam semester 1 tahun ajaran
2005/2006, FKIP, Universitas Negeri Surakarta
Bioshop, Alan J. Vallue in Matematic and Science Education: Silasities And
Differences, Jurnal ISSN 1551-3440, vol. 5, no. 1, The Montana
Mathematics Enthusiast.
Daryanto, Belajar Komputer Animasi Macromedia Flash, (Bandung : Yrama
Widya, cet. IV, 2008)
Enterprise, Jubilee. Flash CS3, (Jakarta ; Elex Media Komputindo, cet. 1, 2007)
Faturarohma, Pupuh & Sobri Sutukno. Strategi Belajar Melalui Penanaman
Konsep Umum dan Konsep Alam (Bandung: PT Rafika Aditama, 2007)
Hamalik, Oemar. Kurikulum dan Pembelajaran (Jakarta: PT.Bumi Aksara, 1999)
Hamalik, Oemar. Media Pendidikan, (Bandung: PT Citra Aditya Bakti, 1994), Cet
Ke-7
Hamalik, Oemar. Proses Belajar Mengajar, (Jakarta : Bumi Aksara, 2001)
66
Hidayat, Syarif. Adobe Flash, http://www.klik-m.com/tip-trik/tip-animasi/117-
adobe-flash,, 15/05/2009
Indah Lestari, Pengaruh Pemanfaatan Software Macromedia Flash MX sebagai
media Chemo-edutainment (CET) pada pembelajaran dengan pendekatan
Chemo-entrepenership (CEP) terhadap hasil belajar fisika siswa SMP
pokok materi Pengukuran, tahun 2007, Universitas Negeri Semarang
Fakultas MIPA Jurusan Fisika
Kaswardi, EM. K. Pendidikan Nilai Memasuki Tahun 2000, (Jakarta: PT.
Grasindo).1993
Lestari, Indah. pengaruh pemanfaatan software macromedia flash MX sebagai
media Chemo-edutainment (CET) pada pembelajaran dengan pendekatan
Chemo-entrepenership (CEP) terhadap hasil belajar fisika siswa SMP pokok
materi Pengukuran, (Universitas Negeri Semarang : Fakultas MIPA jurusan
Fisika, 2007)
Lim Loong Fatt, Inculcating Values Through Science Pratical Work, makalah
disampaikan dalam seminar International Seminar On Development of
Value In Mathematics And Science Education, Faculty of Education,
University of Malaya, 3 Agustus 2007
Louis Cohen, A Guide to Teaching Practice, (London and Newyork : Reutledge
Falmer Taylor and Fracis Group, 2006)
M. Zakiudin Al-Fauri (2008). Pengaruh Media Audiovisual Dalam Bentuk VCD
Terhadap Motivasi Dan Prestasi Belajar Sains Biologi Pokok Bahasan
Fotosintesis, UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta
Mubarok, Fakhri. Efektivitas Media Pembelajaran Fisika Melalui Adobe Flash
Pada Pokok Bahasan Energi untuk SLTP, (Skripsi UNJ, 2004)
Mulyana, Rahmat. Mengartikulasikan Pendidikan Nilai, Bandung: ALFABETA.
2004
Nasution, S. Didaktik Asas-Asas Mengajar, (Jakarta: Bumi Aksara Cet 1, 1995)
Numan Yasir (2008) Pengaruh Pemanfaatan Multimedia Terhadap Hasil Belajar
Kimia Siswa Pada Pokok Bahasan Senyawa Hidrokarbon, Pend. Kimia,
Jurusan Pendidikan IPA, UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
Abdi Guru, TIM. IPA Terpadu Untuk Kelas VII SMP, (Jakarta: Erlangga, 2006)
Rohman, Apa Sebenarnya Flash itu?, http://Sinauflash.blogspot.com, 15/05/2009
Rohman, Manfaat Flash dalam Dunia Pendidikan,
http://www.sinauflash.blogspot.com, 15/05/2009
67
Sadiman, Arief S. Media Pendidikan, (Jakarta : Grafindo Persada, 2007)
Sadiman, Arif S. Media Pendidikan: Pengembangan dan Pemanfaatannya,
(Jakarta: Raja Grafindo, 2003)
Shaleh, Abdul Rahman & Muhibin Abdul Wahab, Psikologi Suatu Pengantar
dalam Perspektif Islam, (Jakarta: Prenada Media, 2004)
Siahaan, Sudirman. Media Pembelajaran: Pemahaman dan Pemanfaatannya dalam
Kegiatan Pembelajaran Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan, No.20 Tahun
XI, April 2007
Soemanto, Wasty. Psikologi Pendidikan Landasan Kerja Pemimpin Pendidikan,
(Jakarta: PT. Rineka Cipta, 2006), h. 104.
Sofyan, Ahmad. Evaluasi Pembelajaran IPA Berbasis Kompetensi, (Jakarta: UIN
Jakarta Press,2006)
Sucipto, Wasis. Eksperimen Pembelajaran Konsep Kalor Menggunakan Peralatan
Sederhana, Jurnal Pendidikan Fisika Internasional, Volume 3, Nomor 2,
Juli 2005
Sudjana, Nana. Penilaian Hasil Belajar Mengajar, (Bandung: Remaja Rosda
Karya,2001)
Sumarsono, Pendidikan Nilai: Karakteristik, Peluang,dan pelaksanaan, Jurnal
Aneka Widya STKIP Singaraja, Edisi Khusus Th. XXXIII September 2000
Surya, Yohanes. http://www.babaflash.com/interview.asp (Wikipedia, 2007)
Susilana, Rudi & Cepi Riyana. Media Pembelajaran: Hakikat, Pengembangan,
Pemanfaatan, dan Penilaian, (Bandung: CV Wacana Prima, 2009)
Sutarno, Nilai dan Pendekatan Pendidikan Nilai, dalam Jurnal Pendidikan Nilai.
Th6, No 1, februari 2000
Sutarto, Buku Ajar Fisika (BAF) dengan Tugas Analisis Foto Kejadian Fisika
(AFKF) sebagai Alat Bantu Penguasaan Konsep Fisika, Jurnal Pendidikan
dan Kebudayaan,Jakarta: Badan Pengembangan dan Penelitian Departemen
Pendidikan Nasional, 2005
Syah, Muhibin. Psikologi Belajar, (Jakarta: PT. Logos Wacana Ilmu, 1999), cet.3
Triwahono, Teknologi Informasi dan Komunikasi, http://Smp68jkt.org,
13/04/2009.
Usman, Moh. Uzer. Menjadi Guru Profesional, Bandung : PT Remaja Rosda
Karya edisi ke dua. 2005
68
Wenly Julita, Perkembangan Teknologi Media Presentasi,
http://wenlist.multiply.com, 13/04/2009
Yunita, Triani. Adobe Flash vs Macromedia. http://www.my.opera.com.,
15/05/2009
BIODATA PENULIS
MUHAMMAD HARTATO dilahirkan di kota
Indramayu, Jawa Barat pada tanggal 16 Oktober 1985,
anak ke-4 dari 4 bersaudara pasangan Bapak Rodin dan Ibu
Cayem. Saat ini tinggal di Jl. WR. Supratman No. 34 Rt.
01/05 Cempaka Putih, Ciputat, Tangerang Selatan 15412
Menamatkan pendidikan dasarnya di:
SD N III Tegalsembadra Balongan, Indramayu pada tahun 1998, setelah itu ia
melanjutkan studinya di SLTP N 2 Balongan, Indramayu dan lulus tahun 2001,
kemudian melanjutkan di MAS Daar El-Kutub Bayah Barat, Bayah Lebak dan
lulus pada tahun 2004. Sekarang ia menamatkan pendidikan S1 (Sarjana
Pendidikan) di UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Fakultas Ilmu Tarbiyah dan
Keguruan, Jurusan Pendidikan IPA, Program Studi Pendidikan Fisika.
UJI REFERENSI
Nama : Mohammad Hartato
NIM : 104016300478
Judul Skripsi : Pengaruh Pemanfaatan Program Adobe Flash
Terhadap Hasil Belajar Fisika Siswa Pada Konsep
Energi Bernuansa Nilai.
Pembimbing : 1. Drs. Zamris Habib, M. Si.
2. Iwan Permana Suwarna, M. Pd.
No Referensi
Keterangan
Pemb. I Pemb. II
BAB I
1 Fakhri Mubarok, Efektivitas Media Pembelajaran
Fisika Melalui Adobe Flash Pada Pokok Bahasan
Energi untuk SLTP, (Skripsi UNJ, 2004), h. 13.
2 Rudi Susilana & Cepi Riyana., Media
Pembelajaran: Hakikat, Pengembangan,
Pemanfaatan, dan Penilaian, (Bandung: CV
Wacana Prima, 2009), h. 1.
3 Indah lestari, Pengaruh Pemanfaatan Software
Macromedia Flash MX Sebagai Media Chemo-
Edutainment (Cet) Pada Pembelajaran Dengan
Pendekatan Chemo-Entrepenership (Cep)
Terhadap Hasil Belajar Fisika Siswa Smp Pokok
Materi Pengukuran, (Universitas Negeri
Semarang : Fakultas MIPA jurusan Fisika, 2007),
h. 20
http://www.scribd.com/doc/50091904/sKRIPSI-kIMIA
BAB II
1 Azhar Arsyad, Media Pengajaran, (Jakarta: Raja
Grafindo Persada, 1997), h. 3
2 Ronald H. Anderson, Pemilihan Dan
Pengembangan Media Untuk Pembelajaran,
(Jakarta: Raja Grafindo Persada, 1994). h. 59
3 Arief S. Sadiman, et. Al., Media Pendidikan,
(Jakarta : Grafindo Persada, 2007), h. 6
4 Sudirman Siahaan, Media Pembelajaran:
Pemahaman dan Pemanfaatannya dalam Kegiatan
Pembelajaran Jurnal Pendidikan dan
Kebudayaan, No.20 Tahun XI, April 2007. h. 76-
77.
5 Oemar Hamalik, Media Pendidikan, (Bandung:
PT Citra Aditya Bakti, 1994), Cet Ke-7, h.1.
6 Pupuh Faturarohma & Sobri Sutukno, Strategi
Belajar Melalui Penanaman Konsep Umum dan
Konsep Alam (Bandung: PT Rafika Aditama,
2007),h. 68.
7 Arif S. Sadiman, et.al., Media Pendidikan:
Pengembangan dan Pemanfaatannya, (Jakarta:
Raja Grafindo, 2003), h. 82.
8 Pupuh Faturarohma & Sobri Sutukno, loc.cit.
9 Oemar Hamalik, loc.cit.
10 Azhar Arsyad, Media Pembelajaran,(Jakarta: PT.
Grafindo Persada, 2004), Cet. V, h. 24-25.
11 Sudirman Siahaan, loc.cit.
12 Wenly Julita, Perkembangan Teknologi Media
Presentasi,
http://wenlist.multiply.com/journal/item/3
13/04/2009
13 http://blog.ub.ac.id/dejoker/2010/03/21/adobe-
flash/
14 nznz, http://Smp68jkt.org, 13/04/2009, h.4
15 Syarif Hidayat. Adobe Flash, http://www.klik-
m.com/tip-trik/tip-animasi/117-adobe-flash,
15/05/2009
16 Daryanto, Belajar Komputer Animasi
Macromedia Flash, (Bandung : Yrama Widya,
cet. IV, 2008), h. 9
17 Ilham Agung Prasetyo, 2009. Pembuatan Media
Pembelajaran dengan Macromdia Flash MX
2004.http://ilhamprasetyo-
ilhamagungprasetyo.blogspot.com/2009/05/pembu
atan-media-pembelajaran-dengan.html,
23/07/2009
18 Yunita, Triani. Adobe Flash vs Macromedia.
http://my.opera.com/triani/blog/2009/05/15/adobe
-flash-vs-macromedia. 15/05/2009
19 Fikri Alami, loc.cit
20 Daryanto, op.cit., h.10
21 Rohman, Apa Sebenarnya Flash itu?,
http://Sinauflash.blogspot.com, 15/05/2009
22 Rohman, Manfaat Flash dalam Dunia
Pendidikan,
http://sinauflash.blogspot.com/2009/03/manfaat-
flash-dalam-dunia-pendidikan.html15/05/2009
23 Yohanes Surya,
http://www.babaflash.com/interview.asp
(Wikipedia, 2007)
http://tech.dir.groups.yahoo.com/group/babaflash/
message/8041.
24 Abdul Rahman Shaleh & Muhibin Abdul Wahab,
Psikologi Suatu Pengantar dalam Perspektif
Islam, (Jakarta: Prenada Media, 2004), h. 207.
25 Moh. Uzer Usman, Menjadi Guru Profesional,
Bandung : PT Remaja Rosda Karya edisi ke dua.
2005. h. 5.
26 Muhibin Syah, Psikologi Belajar, (Jakarta: PT.
Logos Wacana Ilmu, 1999), cet.3, h. 61.
27 Oemar Hamalik, Proses Belajar Mengajar,
(Jakarta : Bumi Aksara, 2001) h. 27.
28 S. Nasution, Didaktik Asas-Asas Mengajar,
(Jakarta: Bumi Aksara Cet 1, 1995), h. 99.
29 Wasty Soemanto, Psikologi Pendidikan Landasan
Kerja Pemimpin Pendidikan, (Jakarta: PT. Rineka
Cipta, 2006), h. 104.
30 Ahmad Sofyan, et.al., Evaluasi Pembelajaran IPA
Berbasis Kompetensi, (Jakarta: UIN Jakarta
Press,2006), h.15-18
31 Arif S. Sadiman, et.al., loc.cit., h.11.
32 Nana Sudjana, Penilaian Hasil Belajar Mengajar,
(Bandung: Remaja Rosda Karya,2001), h.22
33 Oemar Hamalik, Kurikulum dan Pembelajaran
(Jakarta: PT.Bumi Aksara, 1999), h. 159
34 Muhibin Syah, loc.cit, h. 130
35 Rahmat Mulyana, Mengartikulasikan Pendidikan
Nilai, Bandung: ALFABETA. 2004. h. 7&9.
36 Suroso Adi Yudianto, Manajemen Alam Sumber
Pendidikan Nilai, (Bandung: Mugni Sejahtera,
2005), h. 13.
37 Budi Prasodjo dkk, Teori dan Aplikasi Fisika
Untuk SMP Kelas 1, (Jakarta: Yudistira, 2003), h.
27
38 Indah Lestari, Pengaruh Pemanfaatan Software
Macromedia Flash MX sebagai media Chemo-
edutainment (CET) pada pembelajaran dengan
pendekatan Chemo-entrepenership (CEP)
terhadap hasil belajar fisika siswa SMP pokok
materi Pengukuran, tahun 2007, Universitas
Negeri Semarang Fakultas MIPA Jurusan Fisika
39 Asnik Yanatun Pembelajaran Fisika Dengan
Media Komputer Progam Flash MX Pokok
Bahasan Tatasurya di SMS As-salam semester 1
tahun ajaran 2005/2006, FKIP, Universitas
Negeri Surakarta
40 M. Zakiudin Al-Fauri Pengaruh Media
Audiovisual Dalam Bentuk VCD Terhadap
Motivasi Dan Prestasi Belajar Sains Biologi
Pokok Bahasan Fotosintesis, tahun 2008, UIN
Sunan Kalijaga Yogyakarta
41 Numan Yasir Pengaruh Pemanfaatan
Multimedia Terhadap Hasil Belajar Kimia Siswa
Pada Pokok Bahasan Senyawa Hidrokarbon,
tahun 2008, Pend. Kimia, Jurusan Pendidikan
IPA, UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
BAB III
1 Nana Syaodih Sukmadinata, Metode Penelitian
Pendidikan, (Bandung: PT. Remaja Rosdakarya,
2005), h. 207
2 Suharsimi Arikunto., Dasar-dasar evaluasi
pendidikan,(Jakarta: Bumi aksara, 2008), h. 76.
3 Ahmad Sofyan, et. Al, Evaluasi Pembelajaran
IPA Berbasis Kompetensi, (Jakarta: UIN Jakarta
Press, 2006), h. 109
4 Prof. Dr. Sugiyono, Metode Penelitian Pendidikan
pendekatan kuantitatif, kualitatif, dan R&D,
(Bandung : ALFABETA, 2008), h. 185-186
5 Ahmad Sofyan, at. Al, op.cit., h. 104
6 Prof. Dr. H. Agus Irianto, Statistik Konsep Dasar
Dan Aplikasinya, (Jakarta: Kencana, 2007) h. 275-
276
7 Prof. Dr. H. Agus Irianto, op.cit., h. 279
BAB IV
1 I Made Wirtha dan Ni Ketut Rapi, Pengaruh
Pembelajaran dan Penalaran Formal terhadap
Penguasaan Konsep Fisika dan Sikap Ilmiah
Siswa SMA Negeri 4 Singaraja, (Jurnal Penelitian
dan Pengembangan Pendidikan Lembaga
Penelitian Undiksha, April 2008), h.27
2 Amelia Solihat, Pengaruh pembelajaran kimia
dengan menggunakan media presentasi program
Adobe Flash Terhadap Hasil Belajar Kimia Siswa
Pada Konsep sistem koloid, (Skripsi FITK UIN
Jakarta, 2009), h. 73.
Jakarta, 6 Mei 2011
Yang Mengesahkan,
Pembimbing I Pembimbing II
Drs. Zamris Habib, M. Si.
NIP. 130 695 192
Iwan Permana Suwarna, M. Pd.
NIP. 197805042009011013