Anda di halaman 1dari 68

MODUL MATA KULIAH ALJABAR LINEAR

Disusun Oleh:

Candra Mecca Sufyana

Daftar Isi

Daftar isi

….……………………………….…………

3

Daftar Gambar

5

Daftar Tabel

6

Deskripsi Mata Kuliah………….……………………………….…………

7

Tujuan Mata Kuliah Umum

Tujuan Mata Kuliah Khusus.….……………………………….…………

7

7

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Diagram alur pokok bahasan

9

1.2 Materi pokok aljabar linear

9

BAB II

SISTEM PERSAMAAN LINEAR

2.1 Sistem Persamaan Linear Dua Variabel ………………

13

2.1.1 Metode grafik…………………………………………

13

2.1.2 Metode eliminasi………………………………………. 15

16

2.1.4 Metode Campuran………………………………………17

2.1.3 Metode subsitusi………………………………………

2.2 Metode Eliminasi Gauss

 

.20

2.3 Sistem Persamaan Linear Homogen……….………

23

BAB III

MATRIKS

3.1 Definisi matriks… ……………………….………………

27

3.2 Jenis-jenis matriks………………………………

…………

28

3.3 Operasi Matriks…

…………………………….……….……

29

3.4 Matriks Elementer

…………………………….……….……

30

3.5 Invers Matriks…

…………………………….……….……

31

BAB IV

DETERMINAN MATRIKS

 

4.1

Definisi determinan matriks……………….………………

34

4.2

Sifat-sifat determinan matriks……………………

…………

35

4.3

Minor dan Kofaktor…………………………….……….…… 35

4.4

Reduksi Baris

…………………………….……….…………

37

4.5

Aturan Cramer…

…………………………….……….……

38

BAB V

VEKTOR

5.1

Persamaan dua buah vektor

 

5.1.1 Penjumlahan vektor

…………………………………

41

5.1.2 Pengurangan vektor……………………………………. 43

5.1.3 Perkalian vektor dengan scalar

………………………

43

5.1.4 Perkalian vektor dengan vektor………………………

44

5.1.5 Vektor Satuan…………………………………………

44

5.2 Hasil kali titik dan Hasil kali silang

5.1.1 Hasil kali titik……

………………………………… 46

5.1.2 Hasil kali silang…………………………………………. 47

5.3 Persamaan Bidang…………………

…….………

48

5.4 Jarak titik terhadap bidang

……… …….………

48

BAB VI

RUANG VEKTOR

6.1 Ruang vektor umum…

……………………………………

51

6.2 Ruang Lingkup Vektor

6.1.1 Vektor di ruang 2D

6.1.2 Vektor di ruang 3D …………

………………………………… 52

………………………….

53

6.3 Sub Ruang………………………… …………………………54

6.4 Vektor Bebas Linear dan Tak Linear.…………………………54

6.5 Kombinasi Linear ………………… …………………………55

6.6 Dimensi dan Basis………………… …………………………56

6.7 Row Space, Coloumn Space , Null Space ……………………57

6.8 Rank dan Nullity ………………… …………………………58

6.9 Ruang Hasil Kali Dalam ………… …………………………60

6.10Basis Ortonormal.………………… …………………………61

BAB VII

TRANSFORMASI LINEAR

7.1 Transformasi Linear…

……………………………………

64

7.2 Jenis-jenis transformasi linear bidang

65

7.3 Kernel dan Jangkauan …………… …………………………67

7.4 Nilai dan Vektor Eigen

…………………………68

Daftar Gambar

Gambar

 

Halaman

1.1

Diagram alur pokok bahasan

9

2.1

Koordinat kartesius SPL 2 variabel

13

2.2

Kemungkinan Solusi Sistem Persamaan Linear

19

2.3

Bagan SPL Homogen

24

5.1

Empat buah vector yang dikatakan sama

41

5.2

Perpindahan A dan B

42

5.3

Penjumlahan 2 buah vektor

42

5.4

Penjumlahan 4 buah vector

42

5.5

Sifat Asosiatif Penjumlahan Vektor

43

5.6

Pengurangan Vektor

43

5.7

Komponen-komponen vector

44

5.8

Vektor bergantung kuadran

44

5.9

Vektor Satuan

45

5.10

Metode komponen vector

45

5.11

Perkalian dua vector

46

6.1

Ruang vector 2D

52

6.2

Vektor a=OA=5i+3j

53

6.3

Ruang vector 3D

54

Daftar Tabel

Tabel

Keterangan

Halaman

3.1

Contoh tabel sebagai kumpulan array

27

4.1

Permutasi

35

A. Deskripsi Mata Kuliah

Secara garis besar, mata kuliah ini akan membicarakan tentang pengertian matriks, operasi dasar matriks, dan jenis-jenis matriks, determinan, operasi baris elementer (OBE) dan operasi kolom elementer (OKE), matriks ekivalen, matriks invers dan sifat-sifatnya, sistem persamaan linear, beberapa aplikasi matriks, ruang vektor, basis dan dimensi, transformasi linear, ruang inner product, eigen vektor dan eigenvalues.

B. Tujuan Kompetensi Umum

Mata kuliah ini mempersiapkan mahasiswa untuk dapat menyelesaikan masalah yang terkait dengan aljabar matriks dan konsep ruang vektor. Disamping itu, mata kuliah ini membekali mahasiswa dengan logical reasoning dan abstraksi matematika. Oleh karena itu, keterlibatan aktif dari siswa memegang peranan penting.

C. Tujuan Kompetensi Khusus

Sesuai dengan tujuan pemelajaran Matematika, perkulaihan Aljabar Linier mempunyai dua tujuan utama yang saling terkait yaitu mengasah kemampuan bernalar dan problem solving. Secara rinci, tujuan tersebut dijabarkan dalam sasaran pemelajaran berikut ini:

Sasaran pembelajaran terminal

1. Apabila diberi suatu sistem persamaan linier, mahasiswa mampu memilih strategi yang paling efektif untuk menentukan penyelesaiannya atau menetukan penyelesaian kuadrat terkecil (LSS).

2. Mahasiswa mampu mengidentifikasi matriks-matriks persegi yang dapat didiagonalkan secara orthogonal, dan dapat membuat prosedur untuk mendiagonalkannya.

3. Mahasiswa mampu melakukan operasi-operasi vektor pada bidang dan ruang (ruang vektor Euclid R 2 dan R 3 ) baik secara aljabar maupun geometris.

4. Mahasiswa mampu mengidentifikasi apakah suatu fungsi merupakan transformasi linier, mampu menentukan matriks transformasi linier, dan dapat menginterpretasikan sifat-sifat transformasi linier pada bidang dan ruang.

BAB I PENDAHULUAN

A. Tujuan Kompetensi Khusus

Mahasiswa

pembelajaran materi aljabar linear. Mahasiswa mengetahui diagram alur pokok bahasan aljabar linear Mahasiswa mengetahui kaitan keilmuan aljabar linear dengan mata kuliah lain dan manfaatnya dalam kasus informatika

dari

mengetahui

dan

memahami

definisi,

tujuan,

dan

maksud

B. Uraian Materi Ketika mahasiswa mengambil mata kuliah aljabar linear, yang paling seru adalah tidak menanyakan materi apa saja yang akan dipelajari di mata kuliah aljabar linear tersebut, karena secara otomastis menyangka ga akan jauh berbeda dengan matematika. Sudah menjadi rahasia umum bahwa matematika merupakan momok menakutkan bagi sebagaian besar pelajar. Diantaranya karena matematika atau aljabar secara umum menggunakan dummy variabel berbentuk huruf (misalnya x, y, z, p, q, m, n) yang umumnya sulit untuk dapat dipahami. Pola pikir “menyatakan sulit sebelum berperang” tersebut juga yang justru menjadi masalah utamanya, tanpa melihat terlebih dahulu manfaat, tantangan, dan keilmuanya. Aljabar Linear Elementer yang termasuk salah satu cabang ilmu Matematika, memiliki karakteristik tersendiri dalam isi maupun proses pembelajarannya. Aljabar Linear Elementer (ALE) ini identik dengan penggunaan logika dalam pemecahan masalah dan pencarian solusi. Pembelajaran ALE yang harus melalui pra syarat penguasaan Logika Matematika & Himpunan tentunya tidak lepas dari aplikasi penggunaannya dalam kehidupan sehari-hari, baik secara konkret maupun abstrak. Aljabar linear ini mempelajari tentang matriks, vektor, ruang vektor, transformasi linear dan sistem persamaan linear. Aljabar linear mempunyai penerapan pada berbagai bidang ilmu alam dan ilmu sosial serta teknologi khususnya teknologi informasi dan komunikasi (infokom) yang saat ini sedang berkembang pesat. Pada dasarnya aljabar linier adalah metode yang sangat kuat ketika berhadapan dengan beberapa variabel, dan ada manfaat yang luar biasa untuk menggunakan ini sebagai landasan teoritis ketika merancang algoritma. Bagan hubungan dengan mata kuliah lain:

untuk menggunakan ini sebagai landasan teoritis ketika merancang algoritma. Bagan hubungan dengan mata kuliah lain: 7

1.1 Diagram alur pokok bahasan

1.1 Diagram alur pokok bahasan Gambar 1.1 Diagram alur pokok bahasan 1.2 Materi pokok aljabar linear

Gambar 1.1 Diagram alur pokok bahasan

1.2 Materi pokok aljabar linear

Materi yang akan dibahas dalam aljabar linear adalah:

1. Matrik, meliputi Definisi, Jenis Matrik, Operasi Matrik, dan Sifat-sifatnya.

2. Vektor di R2 dan R3, meliputi Operasi Vektor dan Sifat-sifatnya, Hasil Kali Titik,

Hasil Kali Silang di R3, dan Persamaan Garis dan Bidang di R3.

3. Eliminasi Gauss yang digunakan untuk menyelesaikan Sistem Persamaan Linier umum, Sistem Persamaan Linier homogeny

4. Invers matrik dengan menggunakan matrik elementer, Pencarian solusi Sistem Persamaan Linier dengan matrik invers, Hasil lebih lanjut matrik invers terhadap Sistem Persamaan Linier

5.

Determinan, meliputi determinan dengan ekspansi kofaktor, Sifat-sifat determinan terhadap Operasi Baris Elementer, Matrik Adjoin, Matrik Invers dengan Matrik Adjoin, Aturan Cramer

6.

Ruang Vektor, meliputi Ruang n Euclides, Definisi Ruang Vektor, Sub Ruang, Bebas Linier, Membangun, Basis, dan Dimensi

7.

Ruang Hasil Kali Dalam, meliputi Definisi, Panjang dan Sudut di Ruang Hasil Kali Dalam, Ortonormalisasi Basis

8.

Nilai dan Vektor Eigen, meliputi Persamaan Karakteristik, Diagonalisasi, dan Diagonalisasi secara Ortogonal

9.

Transformasi Linier, meliputi Definisi, Kernel, Rank, Koordinat sebagai bentuk Transformasi dari Ruang vektor sebarang ke Rn, Matrik Transformasi

C.

Rangkuman Aljabar linear adalah bidang studi matematika yang mempelajari sistem persamaan linear dan solusinya, vektor, serta transformasi linear. Matriks dan operasinya juga merupakan hal yang berkaitan erat dengan bidang aljabar linear.

D.

Tugas Dibawah ini adalah berbagai komentar tentang bagaimana aljabar linear digunakan dalam algoritma. Berikan komentar dan analisis anda terhadap komentar-komentar dan pertanyaan tersebut

linear digunakan dalam algoritma. Berikan komentar dan analisis anda terhadap komentar-komentar dan pertanyaan tersebut 9
linear digunakan dalam algoritma. Berikan komentar dan analisis anda terhadap komentar-komentar dan pertanyaan tersebut 9
linear digunakan dalam algoritma. Berikan komentar dan analisis anda terhadap komentar-komentar dan pertanyaan tersebut 9
E. Evaluasi 1. Tuliskan bagaimana sejarah keilmuan aljabar? 2. Sebutkan apa saja manfaat dan keuntungan

E. Evaluasi

1. Tuliskan bagaimana sejarah keilmuan aljabar?

2. Sebutkan apa saja manfaat dan keuntungan mempelajari aljabar linear?

3. Sebutkan materi apa saja yang dipelajari di aljabar linear dan relevansinya terhadap manfaat?

F. Pustaka

Anton, Howard. Dasar-dasar Aljabar Linear Jilid 2 Edisi 7. 2000. Penerbit Interaksara. Jakarta Kasiyah M Junus, Heru Suhartanto. Aljabar Linier. 2008. Fakultas Ilmu Komputer Universitas Indonesia

http://id.w3support.net/index.php?db=so&id=1085425

http://wikipedia.org

BAB II SISTEM PERSAMAAN LINEAR

A. Tujuan Kompetensi Khusus

Apabila diberikan sistem persamaan linier (SPL) konsisten berukuran kecil, mahasiswa mampu menetukan konsistensinya; dan menyelesaikan dengan metode eliminasi-substitusi, geometris, dan metode Gauss-Jordan dengan tepat.

B. Uraian Materi

Sistem persamaan linear adalah dua persamaan linear atau lebih yang disajikan bersamaan dan mempunyai satu jawaban persekutuan. Pasangan sistem persamaan yang dibentuk dapat berupa linear dan linear, linear dan kuadrat, atau kuadrat-kuadrat. Dalam kehidupan sehari-hari sering kita temui persoalan-persoalan yang dapat diselesaikan dengan memakai model matematika yang berbentuk sistem persamaan linear. Model matematika adalah cara mengubah bentuk penulisan dari bahasa sehari-hari menjadi bahasa matematika. Misalnya:

Anto membeli alat tulis untuk keperluan sekolah yaitu 3 buah pulpen dan 2 buah pensil dengan harga Rp. 10.500,00. Pada toko yang sama Budi membeli 2 buah pulpen dan 3 buah pensil dengan harga Rp. 9.500,00.

Harga masing-masing 1 buah pulpen dan 1 buah pensil dapat anda ketahui dengan memakai model matematika yang berbentuk sistem persamaan Linear. Dari contoh diatas terdapat Dua Variabel yaitu pulpen dan pensil yang akan diperoleh penyelesaian tunggal dari nilai x dan y. Jadi penyelesian Sistem Persamaan linear adalah nilai x dan y yang memenuhi kedua persamaan linear yang dimaksud. Penulisannya ditulis dalam bentuk Himpunan Penyelesaian (HP) : {(x,y)} Ada tiga kemungkinan untuk menentukan himpunan penyelesaian, yaitu :

• Sistem persamaan linear akan memiliki penyelesaian jika dipenuhi syarat : (a/p) (b/q).

• Sistem persamaan linear tidak akan memiliki penyelesaian jika dipenuhi syarat : (a/p) = (b/q) (c/r).

• Sistem persamaan linear akan memiliki penyelesaian yang terhingga banyaknya jika dipenuhi syarat : (a/p) = (b/q) = (c/r)

Bentuk umum Sistem Persamaan linear Dua Variabel dalam x dan y adalah :

Sistem Persamaan linear Dua Variabel dalam x dan y adalah : Keterangan : x, y =

Keterangan :

x, y = variabel ;

a,

bersamaan = konstanta

c, r

b,

p,

q

= koefisien

variable a,

b,

p,

dan

q

0

2.1.

Sistem Persam aan Linear Dua Variabel

2.1.1 Metode Grafik Penyelesaian de ngan metode grafik secara umum adalah

menggambar kedua

persamaan garis

lengkap adalah s ebagai berikut:

Buatlah tabe l pasangan terurut (x,y) dengan mencari titik potong dengan masing-mas ing sumbu X dan Sumbu Y dari setiap persa maan garis.

Perpotongan sumbu X diperoleh pada saat nilai y = 0 dan perpotongan dengan sumbu Y dip eroleh pada saat nilai x = 0.

Jadi perpotongan dengan sumbu koordinat adalah :

Perpotongan den gan Sumbu X : (a,0) dan Perpotongan denga n Sumbu Y : ( 0,b)

Karena ada dua

diperoleh empat titik (a,0), (0,b) dan (c,0), (0,d). Lukislah masing -masing persamaan pada satu koordinat Cart esius !

pada satu koordinat Cartesius. Adapun la ngkah-langkah secara

persamaan garis maka anda harus membu at dua tabel dan akan

persamaan garis maka anda harus membu at dua tabel dan akan Gambar 2.1 Koordinat kartesius SPL

Gambar 2.1 Koordinat kartesius SPL 2 var iabel

Dari pasangan ti tik masing-masing persaman garis maka ak an diperoleh dua garis

pada satu sumbu

maka koordinat t itik potong itu sebagai penyelesaian sistem p ersamaan Linear.

Contoh Bu Andi membe li 3 kg apel dan 2 kg anggur dengan harga

Rp. 60.000,00. Pada

saat yang bersam aan dan pada toko yang sama Bu Ana mem beli 5 kg apel dan 1 kg

anggur dengan

apel dan anggur ? Coba anda diskusikan !

Model matemat ika dari kasus di atas adalah :

Misalkan x = harga 1 kg apel y = harga 1 kg a nggur

Bu Andi :

3x + 2y = 60000

Bu Ana : 5 kg apel + 1 kg anggur = Rp 65.000,00

5x + y = 65000

Sistem persamaa n linear yang diperoleh adalah :

koordinat Cartesius. Jika hasil lukisan ber potongan di satu titik

membayar Rp. 65.000,00. Bagaimana men ghitung harga tiap kg

3 kg apel + 2 kg anggur = Rp. 60.000,00

………………

………………

(1)

(2)

3x + 2y = 60000 ……………

(1)

5x + y = 65000

……………

(2)

Jawab :

Persamaan (1) :

3x + 2y = 60000

Perpotongan den gan Sumbu X (y = 0) 3x + 2y = 60 000 3x = 60 000

x = 2 0000, Diperoleh titik (20000,0)

Perpotongan den gan Sumbu Y (x = 0) 3x + 2y = 60 000 2y = 30 000, Diperoleh titik ( 0,30000) Jadi perpotongan dengan sumbu koordinat adalah : (20000,0) , ( 0,30000),

dengan sumbu koordinat adalah : (20000,0) , ( 0,30000),   3x + 2 y = 60000
 

3x +

2 y = 60000

X

0

 

20000

Y

30000

 

0

(0,30000 )

 

(20000,0)

 

5x +

y = 65000

X

0

 

13000

Y

65000

 

0

 

(0,65000)

 

(13000,0)

Persamaan (2) :

Perpotongan den gan Sumbu X (y = 0) 5x + y = 650 00 5x + y = 650 00 5x = 650 00

5x + y = 65000

x

= 130 00 , Diperoleh titik (13000,0) dan

Perpotongan den gan Sumbu Y (x = 0) 5x + y = 65 000 5.0 + y = 650 00

y

= 650 00, Diperoleh titik ( 0,65000)

Jadi perpotongan dengan sumbu koordinat adalah : (13000,0) , ( 0,65000)

= 650 00 y = 650 00, Diperoleh titik ( 0,65000) Jadi perpotongan dengan sumbu koordinat

Dari pasangan titik (20000,0), ( 0,30000), dan (13000,0), ( 0,65000) maka akan diperoleh dua garis pada satu sumbu koordinat. Dari kedua garis tersebut nampak bahwa ada perpotongan antara keduanya sehingga terdapat satu penyelesaian sistem persamaan linear yaitu titik (10000,15000) harga tiap kg apel Rp. 10000 dan anggur

Rp.15000

2.1.2 Metode Eliminasi Metode Eliminasi adalah cara penyelesaian sistem persaman linear dengan

menghilangkan salah satu variabel untuk mencari nilai variabel yang lain. Adapun langkah-langkah secara lengkap adalah sebagai berikut :

Untuk mengeliminasi suatu variabel samakan nilai kedua koefisien variabel yang akan dihilangkan. Pada langkah ini anda mengalikan kedua koefisien dengan bilangan tertentu sedemikian sehingga nilai koefisiennya menjadi sama Misalkan pada bentuk umum, anda akan menghilangkan variabel x, maka anda harus mengalikan koefisien variabel x pada kedua persamaan dengan p untuk persaman pertama dan mengalikan dengan a untuk persamaan kedua

ax +by

px + qy = r

= c

X p X a

apx + bpy = cp apx + aqy = ar –

(bp-aq) y = cp – ar

y = (cp-ar)/(bp-aq)

Pada langkah di atas anda akan mendapatkan sebuah persamaan Linear, dan anda akan dapat menghitung nilai variabel pertama yaitu y dengan mudah. Setelah anda menemukan nilai variabel y sekarang akan menghitung nilai variabel x, maka anda

harus menghilangkan variabel y, dengan mengalikan koefisien variabel y pada kedua persamaan dengan q untuk persaman pertama dan mengalikan dengan b untuk persamaan kedua

ax +by

px + qy = r

= c

X q X b

aqx + bqy = cq bpx + bqy = br –

(aq-bp) x = cq – br

x = (cq-br)/(aq-bp)

Pada langkah di atas anda akan mendapatkan sebuah persamaan Linear, dan anda

akan dapat menghitung nilai variabel kedua yaitu x dengan mudah. Jadi hasil akhir perhitungan nilai variabel adalah :

x = (cq-br)/(aq-bp) ; y = (cp-ar)/(bp-aq) Nilai x dan y yang anda temukan adalah merupakan penyelesaian dari SPL:

ax +by = c ; px + qy = r Contoh:

Suatu latihan perang melibatkan 1000 personil tentara dan 100 ton perlengkapan perang. Untuk menuju lokasi latihan disediakan : Pesawat Hercules dengan kapasitas 50 orang dan 10 ton perlengkapan perang, Pesawat Helikopter dengan kapasitas 40 orang dan 3 ton perlengkapan. Berapa banyak masing-masing pesawat yang dibutuhkan untuk mengangkut semua tentara dan semua perlengkapan dalam satu kali pemberangkatan pasukan ! Model matematika dari kasus di atas adalah :

Misalkan x = Hercules ; y = Helikopter Kemampuan angkut personil tentara :

50 orang dengan Hercules + 40 orang dengan Helikopter = 1000 orang

50x + 40y = 1000 ………………

Kemampuan angkut perlengkapan perang :

(1)

10 ton dengan Hercules + 3 ton Helikopter = 100 ton

10x + 3y = 100

………………

(2)

Untuk mengeliminasi variable x samakan nilai kedua koefisien variable x. Pada langkah ini anda mengalikan kedua koefisien dengan bilangan tertentu sedemikian

sehingga nilai koefisiennya menjadi sama. 50x + 40y = 1000 | X 1 | 50x + 40y = 1000

10x + 3y

= 100

| X 5 | 50x + 15y =

500 -

25y = 500

y

= 500/25

y

= 20

Karena variabel yang akan dieliminasi mempunyai koefisien tanda sama maka untuk menghilangkan variabel x, kedua persamaan harus dikurangkan. Untuk mengeliminasi variabel y samakan nilai kedua koefisien variable y. Pada langkah ini anda mengalikan kedua koefisien dengan bilangan tertentu sedemikian

sehingga nilai koefisiennya menjadi sama. 50x + 40y = 1000 X 3 >> 150x + 120y = 3000 10x + 3y = 100 X 40 >> 400x + 120y = 20000 - -250x + 0y = -17000

x

= -17000/-250

x

= 38

Karena variabel yang akan dieliminasi mempunyai koefisien tanda sama maka untuk menghilangkan variabel y, kedua persamaan harus dikurangkan. Dari perhitungan di atas anda memperoleh nilai variabel x = 38 dan nilai variabel y = 20. Jadi Himpunan Penyelesaian : {(38,20)} Hal ini berarti bahwa banyaknya pesawat yang dibutuhkan untuk mengangkut semua tentara dan semua perlengkapan dalam satu kali pemberangkatan pasukan adalah 38 pesawat Hercules dan 20 pesawat Helikopter.

2.1.3 Metode Subsitusi Metode substitusi adalah cara untuk menentukan penyelesaian sistem persamaan linear dengan menggantikan suatu variabel dengan variabel yang lainnya. Metode substitusi sering dikenal dengan metode penggantian. Dalam metode substitusi suatu variabel dinyatakan dalam variabel yang lain dari suatu persamaan, selanjutnya variabel ini digunakan untuk mengganti variabel yang sama dalam persamaan lainnya sehingga menjadi persamaan satu variabel dan anda dapat dengan mudah mencari nilai variabel yang tersisa. Carilah persamaan yang paling sederhana dari kedua persamaan itu Kemudian nyatakan persamaan y dalam x atau sebaliknya. Misalkan dari bentuk umum :

ax +by = c ………… (1) px + qy = r ………… (2) Pada persamaan (1) :

ax +by = c ax = c – by

x = (c-by)/a

………… (3)

Dari persamaan (2), gantikan variabel x dengan persamaan (3), sehingga :

px + qy = r p{(c-by)/a} + qy = r Pada langkah di atas anda akan mendapatkan sebuah persamaan Linear, dan anda akan dapat menghitung nilai variabel y dengan mudah. Setelah anda menemukan nilai variabel y, maka untuk menentukan nilai variabel x anda tinggal menggantikan

nilai variabel y tersebut pada persamaan (3). Dari keterangan di atas maka anda dapat menemukan pasangan (x,y) yang merupakan penyelesaian dari sistem persamaan linear tersebut. Contoh:

Anda membeli alat tulis untuk keperluan sekolah yaitu 3 buah pulpen dan 2 buah pensil dengan harga Rp. 10.500,00. Pada toko yang sama teman anda membeli 2 buah pulpen dan 3 buah pensil dengan harga Rp. 9.500,00. Bagaimana menghitung harga tiap 1 buah pulpen dan pensil ? Coba anda diskusikan ! Misalkan x = 1 y = 1 Anda membeli 3 buah pulpen dan 2 buah pensil dengan harga Rp. 10.500,00

3 buah pulpen + 2 buah pensil = Rp. 10.500,00 3x + 2y = 10500 ………………. (1)

Teman anda membeli 2 buah pulpen dan 3 buah pensil dengan harga Rp. 9.500,00

2 buah pulpen + 3 buah pensil = Rp. 9.500,00

2x + 3y = 9500 …………………. (2) Untuk mengganti (subsitusi) variabel x dengan variabel y, ubahlah salah satu

persamaan menjadi persamaan x dalam y. Kemudian gantikan hasil tersebut pada persamaan yang lain. Pada langkah ini anda mengubah persamaan pertama (1) menjadi persamaan x dalam y, 3x + 2y = 10500 3x = -2y + 10500

x

= -(2/3)y + 10500/3

x

= -(2/3)y + 3500

……………… (3)

Dari persamaan (2) dan (3) 2x + 3y = 9500

2{-(2/3)y + 3500} + 3y = 9500 -(4/3)y + 7000 + 3y = 9500 -(4/3)y + 3y = 9500 – 7000 5/3y = 250

y

= 2500 : (5/3)

y

= 1500

Untuk mencari nilai variabel x dengan y = 1500, gunakan persamaan ketiga (3), dengan cara menggantikan variabel y dengan 1500 :

x

= -(2/3)y + 3500

x

= -(2/3).1500 + 3500

x

= -1000 + 3500

x

= 2500

Dari perhitungan di atas maka diperoleh hasil nilai variabel x adalah 2500 dan

variabel y adalah 1500. Jadi Himpunan Penyelesaiannya adalah : {(2500,1500)} Hasil ini juga menggambarkan bahwa harga setiap satu buah pulpen adalah Rp. 2500,00 dan harga setiap satu buah pencil adalah Rp. 1500,00.

2.1.4 Metode Campuran Penyelesaian dengan metode campuran adalah cara menentukan himpunan penyelesaian dengan menggabungkan antara metode eliminasi dan metode substitusi. Pertama kali anda kerjakan dengan metode eliminasi :

= c

px + qy = r

ax +by

X p X a

apx + bpy = cp apx + aqy = ar –

(bp-aq) y = cp – ar

y = (cp-ar)/(bp-aq)

Kemudian nilai variabel y ini disubsitusikan ke dalam salah satu persamaan sehingga diperoleh nilai variabel yang lain. px + qy = r px + q{(cp-ar)/(bp-aq)} = r Disini anda akan memperoleh nilai variabel x. Jadi anda akan mendapatkan pasangan (x,y) dengan dua metode yaitu eliminasi dan substitusi. Metode yang digunakan terlebih dahulu sangat tergantung pada soal yang disajikan, akan tetapi biasanya digunakan terlebih dahulu metode eliminasi baru kemudian metode substitusi. Contoh: Tentukan penyelesaian dari :

2/x + 3/y = 5 dan 3/x – 4/y = 16 Jawab :

2/x + 3/y = 5 ……….

(1)

3/x – 4/y = 16 ……….

(2)

Gunakan Metode Campuran !! Metode Eliminasi kemudian Substitusi !! Dengan metode campuran :

Langkah pertama dengan metode eliminasi :

2/x + 3/y = 5 X 3 3/x – 4/y = 16 X 2

>>

6/x +

9/y

= 15 = 32 -

>>

6/x –

8/y

17/y = -17 y = -1 Untuk mencari nilai variabel x, dengan y = -1 :

Dengan metode Substitusi y = -1 ke persamaan (1) :

2/x + 3/y

2/x + 3/(-1) = 5 2/x – 3 = 5 2/x = 8 x = ¼ Jadi himpunan penyelesaiannya : {(1/4,-1)}

= 5

Dari keempat metode di atas anda harus cermat memilih metode mana yang cocok untuk soal tertentu, karena setiap soal tidak mempunyai tipe yang sama. Anda menggunakan metode grafik khusus untuk soal yang sederhana

2. Sistem Persamaan Linear Lebih Dari Dua Variabel Seperti hal yang telah dijelaskan di bab sebelumnya bahwa sistem persamaan linear adalah mencari solusi dari persamaan linear yang berderajat dua atau lebih. Solusi Persamaan Linier yang dimaksud adalah sehimpunan bilangan terurut yang jika disubtitusikan kedalam Persamaan Linier tersebut, menjadi valid. Untuk persamaan linear berderajat dua telah kita bahas, sekarang akan kita bahas bagaimana mencari solusi persamaan linear lebih dari derajat dua. Bentuk umum dari sistem persamaan linear adalah :

a

a

a

a

11

21

31

n

1

x

x

x

x

1

1

1

1

+

+

+

+

a

a

a

12

22

32

a

n

2

x

x

x

x

2

2

2

2

+

+

+

+

a

a

a

13

23

33

a

n

3

x

x

x

x

3

3

3

3

+

+

+

+

+

+

+

+

a

a

a

a

1

2

3

n

n

n

nn

x

x

x

x

n

n

n

n

=

=

=

=

b

b

b

1

2

3

b

n

dimana:

aij untuk i=1 s/d m dan j=1 s/d n adalah koefisien atau persamaan simultan xi untuk i=1 s/d n adalah variabel bebas pada persamaan simultan Solusi Sistem Persamaan Linier adalah solusi setiap persamaan linier yang terdapat dalam Sistem Persamaan Linier tersebut. Penyelesaian persamaan linier adalah penentuan nilai xi untuk semua i=1 s/d n yang memenuhi semua persamaan yang diberikan. Permasalahan persamaan linier simultan merupakan permasalahan yang banyak muncul ketika berhubungan dengan permasalahan multi-variabel dimana setiap persamaan merupakan bentuk persamaan linier atau dengan kata lain setiap variabel berpangkat paling besar satu. Persamaan linier simultan di atas dapat dinyatakan sebagai bentuk matrik yaitu :

di atas dapat dinyatakan sebagai bentuk matrik yaitu : Matrik A dinamakan dengan Matrik Koefisien dari

Matrik A dinamakan dengan Matrik Koefisien dari persamaan linier simultan, atau ada yang menamakan dengan matrik Jacobian. Vektor x dinamakan dengan vektor variabel (atau vektor keadaan) dan vektor B dinamakan dengan vektor konstanta. Augmented Matrix ( matrik perluasan ) dari persamaan linier simultan adalah matriks yang merupakan perluasan matrik A dengan menambahkan vector B pada kolom terakhirnya, dan dituliskan:

Augmented (A) = [A B] Sehingga secara detail, augmented matrik dari persamaan linier simultan dapat dituliskan:

matrik dari persamaan linier simultan dapat dituliskan: Persamaan Linier Simultan atau Sistem Persamaan Linier

Persamaan Linier Simultan atau Sistem Persamaan Linier mempunyai kemungkinan solusi:

Tidak mempunyai solusi

Tepat satu solusi

Banyak solusi

mempunyai solusi Tepat satu solusi Banyak solusi T i d a k a d a s

Tidak ada solusi

Banyak solusi T i d a k a d a s o l u s i

Satu Solusi

T i d a k a d a s o l u s i Satu Solusi

Solusi Banyak

Gambar 2.2 Kemungkinan Solusi Sistem Persamaan Linear

2.1 Metode Elimin asi Gauss Metode Elimina si Gauss merupakan metode yang dikem eliminasi, yaitu

2.1 Metode Elimin asi Gauss

Metode Elimina si Gauss merupakan metode yang dikem

eliminasi, yaitu

diperoleh nilai d ari suatu variable bebas. Untuk mengguna Gauss ini, terleb ih dahulu bentuk matrik diubah menjadi aug berikut :

menghilangkan atau mengurangi jumlah va

bangkan dari metode riabel sehingga dapat kan metode eliminasi mented matrik sebagai

a

a

11

a

21

n1

a

a

1 n

a

2 n

nn

b

b

b

n

1

2

a

a

12

22

a

n

2

Metode eliminas i gauss, adalah suatu metode dimana bentu

bilangan kiri di ubah menjadi matrik segitiga atas atau se menggunakan O BE (Operasi Baris Elementer).

k matrik di atas, pada gitiga bawah dengan

a

a

  a


 

11

21

31

a n

a

a

a

1 a

12

22

32

n

2

a

a

a

13

23

33

a

n

3

a 1 b


a

a


 

n

2

n

3

n

a nn

1

b

b

b

2

3

n

  a a     n 2 n 3 n a nn 1

c


11

0

0

0

c

c

12

22

0

0

c

c

c

13

23

c

c

1

2

33 c

3

n

n

n

0

c nn

d

 

d

3

2

1

d


d

n

Atau

a

a

 

a

11

21

31

a n

1

a

a

a

12

22

32

a

n

2

a

a

a

a

13

23

33

n

3

a b   1 1 n 1   a b 0 2 n
a
b 
 1
1
n
1
a
b
0
2
n
2
a
b
 0
3
n
3
a
b
0
nn
n

0

1

0

0

0

0

1

0

0

0

0

1

d

d

d

3

 

n

2

1

d

Penyelesaian dar i persamaan linier simultan diatas adalah nila

x

1

= d , x

1

2

= d

2

, x

3

= d ,

3

,

x

n

= d

n

i d1,d2,d3,…,dn dan

Metode dasar u ntuk menyelesaikan Sistem Persamaan Lin

sistem yang ada dengan sistem yang baru yang mempunyai

sama dan lebih

serangkaian step yang menerapkan 3 tipe operasi. Operasi ini Elementer

1. Mengalika n persamaan dengan konstanta kecuali n ol

2. Mempertu karkan dua baris

3. Menamba hkan perkalian suatu baris pada baris lain ya.

ier adalah mengganti himpunan solusi yang aru diperoleh dengan disebut Operasi Baris

mudah untuk diselesaikan. Sistem yang b

Sebagai contoh reduksi baris, kita selesaikan kumpulan persamaan berikut, 2x z = 2 6x + 5y + 3z = 7 2x y = 4

Persamaannya 2x z = 2 6x + 5y + 3z = 7 2x y = 4 (a) Bersamaan pertama tetap; persamaan dua dikurangi 3 kali persamaan pertama diperoleh persamaan kedua baru; persamaan ketiga di – kurangi persamaan pertama di dapatkan per – samaan ketiga yang baru 2x - z = 2 5y + 6z = 1 - y + z = 2

(b).

ditukar 2x - z = 2 -y + z = 2 5y + 6z = 1

Persamaan

dua

dan

tiga

(c). Persamaan tiga ditambah 5 kali persa – maan dua didapatkan persamaan tiga baru 2x - z = 2 -y + z = 2 11z = 11

(d). Bagi persamaan tiga dengan

11

2x - z = 2 -y + z = 2 z = 1

dalam

persamaan dua diperoleh y = 1; kemudian sisipkan nilai z dan(dalam semuanya) y dalam persamaan pertama, diperoleh 2x = 3, x = 3/2. Solusinya adalah (x, y, z) = (3/2, 1, 1)

(e). Sisipkan z

=

1

hubungannya dengan matriks

1, 1) ( e ). Sisipkan z = 1 hubungannya dengan matriks ( a ) Baris

(a) Baris kedua dikurangi 3 kali ba - ris pertama dan baris ketga dikura- baris pertama

kali ba - ris pertama dan baris ketga dikura- baris pertama ( b ). ditukar Persamaan

(b).

ditukar

Persamaan

dua

dan

tiga

dikura- baris pertama ( b ). ditukar Persamaan dua dan tiga ( c ). Tambahkan 5

(c). Tambahkan 5 kali persamaan dua ke baris tiga

dan tiga ( c ). Tambahkan 5 kali persamaan dua ke baris tiga ( d ).

(d). Bagi persamaan tiga dengan

11

dua ke baris tiga ( d ). Bagi persamaan tiga dengan 11 dalam persamaan dua diperoleh

dalam

persamaan dua diperoleh y = 1; kemudian sisipkan nilai z dan(dalam semuanya) y dalam persamaan pertama, diperoleh 2x = 3, x = 3/2. Solusinya adalah (x, y, z) = (3/2, 1, 1)

(e). Sisipkan z

=

1

Contoh. Kasus empat variabel. Selesaikan susunan persamaan berikut:

Kasus empat variabel. Selesaikan susunan persamaan berikut: R 1 – R 4 maksudnya baris 1 dikurangi
Kasus empat variabel. Selesaikan susunan persamaan berikut: R 1 – R 4 maksudnya baris 1 dikurangi

R1 – R4 maksudnya baris 1 dikurangi baris 4 R2:( –1) maksudnya baris 2 dibagi dengan (–1) R1R3 maksudnya baris 1 ditukar baris 3 Matriks dihubungkan dengan persamaan: x + w = 1 2y + 4z + 2w = 5

z = –1 w = 4

Dengan sisipan kembali diperoleh

2y = 5 – 4z – 2w = 5 + 4 – 8 = ½

x = 1 – w = –3

Maka solusinya adalah (x, y, z, w) = (–3, ½, –1, 4)

2.2

Sistem Persamaan Linear Homogen Sistem Persamaan Linier Homogen adalah Sistem Persamaan Linier yang semua suku konstannya nol, sehingga bentuk umum SPL homogen, sebagai berikut:

a

a

a

a

11

21

31

n

1

x

x

x

x

1

1

1

1

+

+

+

+

a

a

a

a

12

22

32

n

2

x

x

x

x

2

2

2

2

+

+

+

+

a

a

a

a

13

23

33

n

3

x

x

x

x

3

3

3

3

+

+

+

+

+

+

+

+

a

a

a

a

1 n

2 n

3 n

nn

x

n

=

0

x

n

=

0

x

n

=

0

x

n

=

0

karena semua suku konstan nol, maka jika dilakukan OBE tetap saja suku konstannya nol, karena itu matrik lengkap SPL homogen sering disingkat tanpa memasukkan kolom suku konstan. SPL homogen selalu konsisten, minimal mempunyai solusi nol yang disebut solusi trivial. Jika terdapat solusi yang lain, disebut solusi tak trivial. Contoh: Tentukan solusi SPL homogen berikut:

tak trivial . Contoh: Tentukan solusi SPL homogen berikut: diubah ke SPL menjadi: karena x 2
tak trivial . Contoh: Tentukan solusi SPL homogen berikut: diubah ke SPL menjadi: karena x 2

diubah ke SPL menjadi:

Tentukan solusi SPL homogen berikut: diubah ke SPL menjadi: karena x 2 dan x 4 bernilai
Tentukan solusi SPL homogen berikut: diubah ke SPL menjadi: karena x 2 dan x 4 bernilai

karena x2 dan x4 bernilai sebarang bilangan riil, maka dapat diganti dengan parameter, misalkan, x2=t dan x4=s, sehingga solusi SPL homogen tersebut:

x 2= t dan x 4= s , sehingga solusi SPL homogen tersebut: Kita tutup bagian

Kita tutup bagian ini dengan satu teorema yang penting, yaitu:

Sistem Persamaan Linier Homogen selalu mempunyai solusi tak trivial, jika banyaknya anu lebih besar dibandingkan banyaknya persamaan.

C. Rangkuman

1. Sistem persamaan linear adalah dua persamaan linear atau lebih yang disajikan bersamaan dan mempunyai satu jawaban atau solusi persekutuan.

2. Solusi Persamaan Linier yang dimaksud adalah sehimpunan bilangan terurut yang jika disubtitusikan kedalam Persamaan Linier tersebut, menjadi valid.

3. Model matematika adalah cara mengubah bentuk penulisan dari bahasa sehari-hari menjadi bahasa matematika.

4. Metode Penyelesaian untuk kasus dua variabel

Metode Grafik adalah menggambar kedua persamaan garis pada satu koordinat Cartesius.

Metode Eliminasi adalah cara penyelesaian sistem persaman linear dengan menghilangkan/menghapus salah satu variabel untuk mencari nilai variabel yang lain.

Metode substitusi adalah cara untuk menentukan penyelesaian sistem persamaan linear dengan menggantikan suatu variabel dengan variabel yang lainnya.

Metode campuran adalah cara menentukan himpunan penyelesaian dengan menggabungkan antara metode eliminasi dan metode substitusi.

5. Persamaan Linier Simultan atau Sistem Persamaan Linier mempunyai kemungkinan solusi:

Tidak mempunyai solusi

Tepat satu solusi

Banyak solusi

6. Metode Eliminasi Gauss merupakan metode yang dikembangkan dari metode eliminasi, yaitu menghilangkan atau mengurangi jumlah variabel sehingga dapat diperoleh nilai dari suatu variable bebas, pada bagian kiri diubah menjadi matrik segitiga atas atau segitiga bawah dengan menggunaka Operasi Baris Elementer.

7. Operasi ini disebut Operasi Baris Elementer

Mengalikan persamaan dengan konstanta kecuali nol

Mempertukarkan dua baris

Menambahkan perkalian suatu baris pada baris lainya

8. Sistem Persamaan Linier Homogen adalah Sistem Persamaan Linier yang semua

suku konstannya nol

Persamaan Linier Homogen adalah Sistem Persamaan Linier yang semua suku konstannya nol Gambar 2.3 Bagan SPL

Gambar 2.3 Bagan SPL Homogen

D. Tugas Coba Jelaskan dalam sebuah tulisan untuk melukiskan ketiga dia gram di bawah ini!

D. Tugas Coba Jelaskan dalam sebuah tulisan untuk melukiskan ketiga dia gram di bawah ini! 24
D. Tugas Coba Jelaskan dalam sebuah tulisan untuk melukiskan ketiga dia gram di bawah ini! 24
D. Tugas Coba Jelaskan dalam sebuah tulisan untuk melukiskan ketiga dia gram di bawah ini! 24

E.

Evaluasi

 

1.

Tentukan Himpunan penyelesaian dari sistem persamaan berikut :

a. 2x +

 

y = 8 dan x - y = 1

b. 2x - 5y = 15 dan 3x + 4y = 11

c. x + 3y = 1 dan 2x - y = 9

2.

Sebuah bilangan terdiri dari dua angka, penjumlahan tiga angka puluhan dan angka satuannya adalah 27, dan selisihnya angka puluhan dann satuannya adalah 5. Bilangan itu adalah

3.

Suatu perusahaan garmen memproduksi dua jenis pakaian A dan B. Jumlah yang diproduksi sebanyak 2004 potong. Jika jenis A memerlukan bahan 1,5 m per potong dan jenis B memerlukan bahan 2 m per potong dan bahan yang tersedia sebanyak 3.508 m. Banyaknya produksi dari masing-masing jenis adalah

4.

Keliling sebuah segitiga sama kaki adalah 20 cm. Jika panjang kedua kakinya masing- masing ditambah 3 cm dan panjang alasnya dilipatduakan, kelilingnya menjadi 34 cm. Ukuran panjang ketiga sisi sama kaki adalah

5.

Carilah Solusi x,y, dan z dari persamaan di bawah ini:

 

x

+ y

 

+

2

z

=

9

 

2

x

+ 4

y

3

z

=

1

3

x

+ 6

y

5

z

=

0

6.

Cari penyelesaian dari sistem :

x 1 – 2x 2 + x 3 = -5 3x 1 + x 2 – 2x 3 = 11 -2x 1 + x 2 + x 3 = -2

 

7.

Cari penyelesaian dari sistem :

x 3 = -2   7. Cari penyelesaian dari sistem : 8. Jika mungkin, carilah jawab

8.

Jika mungkin, carilah jawab yang non trivial dari sistem persamaan :

x 1 – 2x 2 + x 3 = 0 -x 1 + 3x 2 – 2x 3 = 0 2x 1 + x 2 – 4x 3 = 0

 

F.

Pustaka

 

Anton, Howard. Dasar-dasar Aljabar Linear Jilid 2 Edisi 7. 2000. Penerbit Interaksara. Jakarta

Mahmud ’Imrona .Aljabar Linier Elementer

Gilbert Strang, Linear Algebra and its Applications, second edition. 1980.

. Leon , S.J. Aljabar Linear Dan Aplikasinya edisi 5

Budi Murtiyasa. Sistem Persamaan Linear

2002.STT Telkom.Bandung

.2008.Universitas Muhammadiyah Surakarta

.

.( 2001 ).Penerbit Erlangga. Bandung

BAB III

MATRIKS

A. Tujuan Kompeten si Khusus

Apabila diberikan m aritmetika dengan tepat,

atriks-matriks,

mahasiswa

mampu

mela kukan

operasioperasi

dan mampu menentukan inverse matriks per segi secara efektif.

B.

Uraian Materi

3.1

Definisi Matriks

Beberapa pengertian ten

Matriks adalah hi dijajarkan secara em

Matriks adalah jajar

Matriks adalah sua

dalam bentuk perse Secara umum matriks dalam notasi persegi pan

tang matriks :

mpunan skalar (bilangan riil atau komplek s) yang disusun atau pat persegi panjang menurut baris-baris dan kolom-kolom.

an elemen (berupa bilangan) berbentuk emp at persegi panjang.

tu himpunan kuantitas-kuantitas (yang dis ebut elemen), disusun

gi panjang yang memuat baris-baris dan kolo m-kolom. dapat dilihat sebagai tabel atau kumpulan a rray yang dituangkan jang.

Ta

bel 3.1. Contoh tabel sebagai kumpulan arra y

jang. Ta bel 3.1. Contoh tabel sebagai kumpulan arra y Notasi yang digunakan , , Sehingga

Notasi yang digunakan

,

,

Sehingga contoh pada ta

bel tersebut dituangkan dalam notasi matriks adalah:

2

0

4

3

3

1

2

1

3

4

4

1

1

3

0

4

2

0

2

2

2

Ukuran matriks ditent ukan oleh banyak baris dan banyak kolo mnya. Matriks yang mempunyai m baris dan n kolom dikatakan berukuran m x n.

Notasi matriks secara umum:

A =

 a a a  11 12 1 n    a a a
 a
a a
11
12
1
n
a
a
a n
21
22
2
:
:
:
:
a
a
a
m
1
m 2
mn

Kolom ke -2

Baris ke -1

Unsur / entri /elemen ke-mn

(baris m kolom n)

Matrix A berukuran (ordo) m x n m, n adalah bilangan bulat 1. a ij = elemen-elemen dari matriks

m banyak baris

n banyaknya kolom

Misalkan A dan B adalah matriks berukuran sama, A dan B dikatakan sama (notasi A = B)

Jika

(i = 1, 2

m)

(j = 1, 2

n)

}orde matriks mxn

a

ij

= b

ij

untuk setiap i dan j

3.2

(i)

0

0

0

Jenis-jenis Matriks MATRIKS NOL, adalah matriks yang semua elemennya nol. Sifat-sifat :

0

0

0

0

0

0

0

0

0

A+0=A, jika ukuran matriks A = ukuran matriks 0

A*0=0, begitu juga 0*A=0.

(ii) MATRIKS BUJURSANGKAR, adalah matriks yang jumlah baris dan jumlah

kolomnya sama, m = n. Barisan elemen a 11 , a 22 , a 33 , ….a nn disebut diagonal utama dari matriks bujursangkar A tersebut. Contoh : Matriks berukuran 2x2

A =

1

2

4

3

(iii) MATRIKS DIAGONAL, adalah matriks bujursangkar yang semua elemen diluar

diagonal utamanya nol. Contoh:

2

0

0

0

5

0

0

0

3

(iv) MATRIKS SATUAN/IDENTITY, adalah matriks diagonal yang semua elemen

diagonalnya adalah 1. Contoh:

1

0

0

0

1

0

0

1

0

(v) MATRIKS SKALAR, adalah matriks diagonal yang semua elemennya sama tetapi

bukan nol atau satu.

(vi) MATRIKS SEGITIGA ATAS (UPPER TRIANGULAR), adalah matriks

bujursangkar yang semua elemen dibawah diagonal elemennya = 0.

(vii) MATRIKS SEGITIGA BAWAH (LOWER TRIANGULAR), adalah matriks

bujursangkar yang semua elemen diatas diagonal elemennya = 0.

(viii) MATRIKS SIMETRIS, adalah matriks bujursangkar yang elemennya simetris secara diagonal. Dapat juga dikatakan bahwa matriks simetris adalah matriks yang transposenya sama dengan dirinya sendiri. (ix) MATRIKS ANTISIMETRIS, adalah matriks yang trnsposenya adalah negatif dari matriks tersebut. Maka AT=-A dan aij=-aij, elemen diagonal utamanya = 0

Matriks

Skalar

4

0

0

0

4

0

0

0

4

Upper

Triangular

3

0

0

2

4

0

1

5

4

Lower

Triangular

3

1

6

0

4

9

0

0

4

Simetris

1

2

0

2

3

1

0

1

1

Antisimetris

0

1

3

0

1

0

4

2

3

4

0

1

0

1

2

0

TRANSPOSE MATRIKS Jika diketahui suatu matriks A=a ij berukuran mxn maka transpose dari A adalah matriks A T =n xm yang didapat dari A dengan menuliskan baris ke-i dari A sebagai kolom ke-i dari

A T .

Contoh:

Beberapa Sifat Matriks Transpose :

4

0

6

1

3  

2

,

maka A T =

4

6

3

0

1

2

(A+B) T = A T + B T

(A T ) T = A

k(A T ) = (kA) T

(AB) T = B T A T

3.3

Operasi Matriks

Penjumlahan Matriks

yaitu:

yaitu:

Syarat : Dua matriks berordo sama dapat dijumlahkan

Pengurangan Matriks

Syarat : Dua matriks berordo sama dapat dkurangkan.

Perkalian Matriks

b

d

b

d

+

  

 

 

e

g

e

g

f

h

f

h

+

a e

e

g

+

c g

a

c

b

d

b

d

+

+

f

h

f

h

, contoh:

a

c

1

3

1

3

6  

 

5

+

3

4

6 5        

3

4

=

, contoh:

a

c

=

Perkalian Skalar dengan Matriks

Contoh :

[ A ] =

1

4

k

2

5

p

r

q

s

3

6

=

kp

kr

kq

ks

;

k = -2 , maka: k [ A ] =

 2 4 6    8 10 12  
2
4
6 
8
10
12

Perkalian Matriks dengan Matriks Misalkan A berordo pxq dan B berordo mxn, Syarat : A X B

perkalian AB , berordo pxn

a

e

A =

b

f

d

g

(2

x

3)

, B =

p

r

t

q

s

u

(3

x

2)

1

1

4

7

=

1

1

=

7

6

2

1

5

4

haruslah q = m , hasil

b

f

e

a

A . B =

d

g

(2

x

3)

Contoh: [A] =

Maka AB =

3

2

1

x

x

3

2

1

.

 

p

r

t

1

3

+

+

q

s

u

5

2

1(

3(

(3

x

2)

2

x

3

1)

1)

ap

ep

=

+

+

+

+

;

5

2

x

x

2

2

2 x 3 1) 1)  ap   ep =  + + + +

Hukum Perkalian Matriks :

br

fr

+

+

dt

gt

aq

eq

+

+

bs

fs

+

+

du

gu

(2

x x

+

x x

+

4

4

3

1

2

4

2

1

1

3

[B] =

2

1

3

x

2

2

2

+

+

x 2)

5 1

1

2

x

x

=

15

4

Hukum Distributif, A*(B+C) = AB + AC

Hukum Assosiatif, A*(B*C) = (A*B)*C

Tidak Komutatif, A*B π B*A

Jika A*B = 0, maka beberapa kemungkinan

(i)

A=0 dan B=0

(ii) A=0 atau B=0

(iii) Aπ0 dan Bπ0

Bila A*B = A*C, belum tentu B = C

15

12

2

x

2

ATURAN – ATURAN DALAM ILMU HITUNG MATRIKS Dalam perkalian matriks belum tentu berlaku hukum komutatif, yaitu AB = BA walaupun AB dan BA yang didefinisikan memiliki ukuran yang comformable. Dengan menganggap bahwa ukuran-ukuran matriks comformable maka aturan-aturan ilmu hitung matriks

berikut adalah valid. Notasi dengan huruf besar adalah matriks dan huruf kecil adalah skalar.

1. A + B = B + A

2. A + (B+C) = (A+B) + C

3. A(BC) = (AB)C

4. A (B±C) = (AB ±AC)

5. (B ± C)A = (BA ± CA)

6. a (B±C) = aB ± a C

7. (a±b) C = aC ± bC

8. a(BC) = (aB)C = B(aC)

9. A+ 0 = 0 + A = A 10. A- A = 0 11. 0 – A = - A 12. AO = 0 ; 0A = 0

3.4 Matriks Elementer

Sebuah matriks n x n dinamakan matriks elementer jika matriks tersebut dapat diperoleh dari matriks satuan (identitas) n x n yakni I n dengan melakukan sebuah operasi baris elementer tunggal. Berikut ini contoh-contoh matriks elementer:

(i)

1

0

0

3

 

Kalikan baris kedua dengan -3

(ii)

1

0

0

0

0

0

0

1

0

0

1

0

Pertukarkan

kedua

keempat

dan

0

1

0

0

baris

baris

(iii)

1

0

0

0

1

0

3

0

1

Tambahkan tiga kali baris ketiga pada baris pertama

(iv)

1

0

0

0

1

0

0

0

1

Kalikan baris pertama dengan 1

Jika matriks elementer E dihasilkan dengan melakukan sebuah operasi baris tertentu pada I m dan jika hasil kali EA adalah matriks yang dihasilkan bila operasi baris yang sama ini dilakukan pada A. Contoh berikut mengilustrasikan teorema tersebut:

Tinjaulah Matriks: A =

1

2

1

0

1

4

2

3

4

3

6

0

, dan matriks elementer, E=

1

0

3

0

1

0

0

0

1

yang dihasilkan oleh penambahan 3 kali baris pertama ke baris ketiga. Maka hasil kali EA

adalah: EA =

1

2

4

0

1

4

2

3

10

3

6

9

,

yang persis sama seperti matriks yang dihasilkan bila kita menambahkan 3 kali baris pertama dari A ke baris ketiga. Setiap matriks elementer dapat dibalik, dan inversnya adalah juga matriks elementer.

3.5 Invers Matriks

Matriks tidak bisa dibagi dengan matriks lainnya. Sebagai analogi, digunakan INVERSE dari matriks tersebut. Apabila [A] dan [B] adalah matriks bujur sangkar, dan [A] [B] = [I] = [B] [A], maka matriks [B] disebut inverse dari matrix [A], dan matriks [A] adalah inverse dari matriks [B]. Selanjutnya [A] disebut matriks NON SINGULAR. Bila [A] tidak punya inverse disebut matriks SINGULAR. Inverse dari matriks [A] biasa ditulis [A] -1 Jika baik B maupun C adalah invers matriks A, maka B = C.

Invers matriks 2 x 2

Tinjaulah matriks 2 x 2

a

c

b

d

A =

, jika ad-bc 0, maka:

A

1

=

1

ad

bc

d

c

d

ad

bc

c

ad

bc

b

a

=

b

bc

ad

a

bc

ad

Contoh:

A

=   3

5