Anda di halaman 1dari 19

BAB I

PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Sebagai muslim kita yakin bahwa melalui Al-Quran dan As-Sunnah, telah diatur garis
besar aturan untuk menjalankan kehidupan ekonomi, dan untuk mewujudkan kehidupan
ekonomi, sesungguhnya Allah telah menyediakan sumber daya Nya dan mempersilahkan
manusia untuk memanfaatkannya, sebagaimana firman-Nya dalam:

QS. Al Bagarah (2) ayat 29:


Dia lah Allah, yang menjadikan segala yang ada di bumi untuk kamu dan Dia berkehendak
menciptakan langit, lalu dijadikan Nya tujuh langit, dan dia Maha Mengetahui segala sesuatu.

Namun, pada kenyataannya, kita dihadapkan pada system ekonomi konvensional yang jauh lebih
kuat perkembangannya daripada system ekonomi islam dan kesejahteraan islam. Kita lebih
paham dan terbiasa dengan tata cara ekonomi konvensional dengan segala kebaikan dan
keburukannya..

Sebagai muslim, kita dituntut untuk menerapkan keislamannya dalam seluruh aspek kehidupan,
termasuk dari aspek ekonomi islam dan kesejahteraan islam. Maka mempelajari sistem ekonomi
Islam secara mendalam adalah suatu keharusan, dan untuk selanjutnya disosialisasikan dan
diterapkan.

Makalah ini disusun dari berbagai sumber dengan tujuan untuk mendapatkan gambaran tentang
ekonomi Islam dan kesejahteraan islam. Untuk memudahkan pemahaman, pendekatan yang
digunakan adalah melalui analisis perbandingan dengan system ekonomi konvensional.

BAB II
PEMBAHASAN
A. Pengertian Sistem Ekonomi Islam
Ekonomi Islam merupakan ilmu yang mempelajari perilaku ekonomi manusia yang
perilakunya diatur berdasarkan aturan agama Islam dan didasari dengan tauhid sebagaimana
dirangkum dalamrukun iman dan rukun Islam.
Bekerja merupakan suatu kewajiban karena Allah swt memerintahkannya, sebagaimana
firman-Nya dalam surat At Taubah ayat 105:

Dan katakanlah, bekerjalah kamu, karena Allah dan Rasul-Nya serta orang-orang yang beriman
akan melihat pekerjaan itu.
Karena kerja membawa pada keampunan, sebagaimana sabada Rasulullah Muhammad
saw:Barang siapa diwaktu sorenya kelelahan karena kerja tangannya, maka di waktu sore itu ia
mendapat ampunan.(HR.Thabrani dan Baihaqi)

B. Tujuan Ekonomi Islam
Adapun tujuan Ekonomi Islam berpedoman pada: Segala aturan yang diturunkan Allah
swt dalam sistem Islam mengarah pada tercapainya kebaikan, kesejahteraan, keutamaan, serta
menghapuskan kejahatan, kesengsaraan, dan kerugian pada seluruh ciptaan-Nya. Demikian pula
dalam hal ekonomi, tujuannya adalah membantu manusia mencapai kemenangan di dunia dan di
akhirat.
Seorang fuqaha asal Mesir bernama Prof.Muhammad Abu Zahrah mengatakan ada tiga
sasaran hukum Islam yang menunjukan bahwa Islam diturunkan sebagai rahmat bagi seluruh
umat manusia, yaitu:
1. Penyucian jiwa agar setiap muslim bisa menjadi sumber kebaikan bagi masyarakat dan
lingkungannya.
2. Tegaknya keadilan dalam masyarakat. Keadilan yang dimaksud mencakup aspek kehidupan di
bidang hukum dan muamalah.
3. Tercapainya maslahah (merupakan puncaknya).
Para ulama menyepakati bahwa masalah yang menjad puncak sasaran di atas mencakup lima
jaminan dasar:
keselamatan keyakinan agama ( al din)
kesalamatan jiwa (al nafs)
keselamatan akal (al aql)
keselamatan keluarga dan keturunan (al nasl)
keselamatan harta benda (al mal)

C. Prinsip-Prinsip Ekonomi Islam
Secara garis besar ekonomi Islam memiliki beberapa prinsip dasar:
1. Berbagai sumber daya dipandang sebagai pemberian atau titipan dari Allah swt kepada
manusia.
2. Islam mengakui pemilikan pribadi dalam batas-batas tertentu.
3. Kekuatan penggerak utama ekonomi Islam adalah kerja sama.
4. Ekonomi Islam menolak terjadinya akumulasi kekayaan yang dikuasai oleh segelintir orang
saja.
5. Ekonomi Islam menjamin pemilikan masyarakat dan penggunaannya direncanakan untuk
kepentingan banyak orang.
6. Seorang muslim harus takut kepada Allah swt dan hari penentuan di akhirat nanti.
7. Zakat harus dibayarkan atas kekayaan yang telah memenuhi batas (nisab)
8. Islam melarang riba dalam segala bentuk.

Banyak pihak beranggapan mewujudkan cita-cita kesejahteraan masyarakat sebagai
manusia yang saling bersaudara dan sama-sama diciptakan oleh satu Tuhan, saat ini, hanyalah
sebuah impian. Hal itu terjadi karena adanya penolakan menggunakan mekanisme filter yang
disediakan oleh penilaian berbasis moral, di samping makin melemahnya perasaan sosial yang
diserukan agama.
Peningkatan moral dan solidaritas sosial tidak mungkin dapat dilakukan tanpa adanya
kesakralan moral yang diberikan oleh agama. Para ahli mengakui, bahwa agama-agama
cenderung memperkuat rasa kewajiban sosial dalam diri pemeluknya daripada menghancurkan.
Sepanjang sejarah umat manusia tidak ditemukan contoh signifikan yang menunjukkan, bahwa
suatu masyarakat yang berhasil memelihara kehidupan moral tanpa bantuanagama.
Ajaran ekonomi yang dilandaskan nilai-nilai agama akan menjadikan tujuan
kesejahteraan kehidupan yang meningkatkan jiwa dan ruhani manusia menuju kepada Tuhannya.
Menurut Yusuf Qardhawi (1994), sesungguhnya manusia jika kebutuhan hidup pribadi dan
keluarganya telah terpenuhi serta merta merasa aman terhadap diri dan rezekinya, maka mereka
akan hidup dengan penuh ketenangan, beribadah dengan khusyu kepada Tuhannya yang telah
memberi mereka makan, sehingga terbebas dari kelaparan dan memberi keamanan kepada
mereka dari rasa takut. Dibutuhkan sebuah kesadaran, bahwa manusia diciptakan bukan untuk
keperluan ekonomi, tetapi sebaliknya masalah ekonomi yang diciptakan untuk kepentingan
manusia.
Islam, sebagai ajaran universal, sesungguhnya ingin mendirikan suatu pasar yang
manusiawi, di mana orang yang besar mengasihi orang kecil, orang yang kuat membimbing yang
lemah, orang yang bodoh belajar dari yang pintar, dan orang-orang bebas menegur orang yang
nakal dan zalim sebagaimana nilai-nilai utama yang diberikan Allah kepada umat manusia
berdasarkan Al Quran Surah al-Anbiyaa ayat 107. Berbeda dengan pasar yang Islami, menurut
Qardhawi (1994), pasar yang berada di bawah naungan peradaban materialisme mencerminkan
sebuah miniatur hutan rimba, di mana orang yang kuat memangsa yang lemah, orang yang besar
menginjak-injak yang kecil. Orang yang bisa bertahan dan menang hanyalah orang yang paling
kuat dan kejam, bukan orang yang paling baik dan ideal. Dengan demikian sulit membayangkan
bahwa kesejahteraan akan dapat diperoleh dari sistem pasar dalam peradaban materialisme.
Untuk mewujudkan kesejahteraan ekonomi yang berkeadilan harus ada suatu sistem
pasar yang sehat. Pasar itu sebenarnya adalah sebuah mekanisme yang canggih, namun gampang
dirusak, untuk menata kehidupan ekonomi, sehingga setiap pribadi memberikan sumbangannya
bagi keseluruhan dan juga memenuhi kebutuhannnya sendiri dengan kebebasan penuh untuk
melakukan pilihan pribadinya. Pasar yang sehat menggalakkan keragaman, prakarsa dan
kreativitas pribadi, dan upaya-upaya yang produktif.

Pasar yang sehat sangat tergantung pada kesadaran para pesertanya, sehingga harus ada
persyaratan agar masyarakat umum menjatuhkan sanksi terhadap orang yang tidak menghormati
hak dan kebutuhan orang lain, serta mengekang secara sukarela dorongan pribadi mereka untuk
melampaui batas. Apabila tidak ada suatu budaya etika dan aturan-aturan publik yang memadai,
maka pasar gampang sekali dirusak. Pasar yang sehat, tidak berfungsi dengan paham
individualisme ekstrem dan kerakusan kapitalisme yang semena-mena, dan juga tidak berfungsi
lewat penindasan oleh hierarki dan yang tidak mementingkan diri sama sekali, seperti dalam
komunisme. Kedua faham tersebut merupakan penyakit yang amat parah.
Kesejahteraan dalam pembangunan sosial ekonomi, tidak dapat didefinisikan hanya
berdasarkan konsep materialis dan hedonis, tetapi juga memasukkan tujuan-tujuan kemanusiaan
dan keruhanian. Tujuan-tujuan tersebut tidak hanya mencakup masalah kesejahteraan ekonomi,
melainkan juga mencakup permasalahan persaudaraan manusia dan keadilan sosial-ekonomi,
kesucian kehidupan, kehormatan individu, kehormatan harta, kedamaian jiwa dan kebahagiaan,
serta keharmonisan kehidupan keluarga dan masyarakat.
Ajaran Islam, sama sekali, tidak pernah melupakan unsur materi dalam kehidupan dunia.
Materi penting bagi kemakmuran, kemajuan umat manusia, realisasi kehidupan yang baik bagi
setiap manuisa, dan membantu manusia melaksanakan kewajibannya kepada Tuhan.
Namun demikian, walaupun kehidupan ekonomi yang baik merupakan tujuan Islam yang
dicita-citakan, bukan merupakan tujuan akhir. Kehidupan ekonomi yang baik, pada hakikatnya
merupakan sarana untuk mencapai tujuan yang lebih besar dan lebih jauh. Hal ini merupakan
perbedaan yang sangat esensial antara ajaran Islam dengan faham materialisme yang dianut oleh
kaum Komunis ataupun para Sekuleristik.
Menurut Qardhawi, ideologi-ideologi materialisme bertumbuh kepada pemenuhan nafsu
yang tidak terlepas dari ruang lingkup kepentingan ekonomi yang rendah. Kesenangan materi
menjadi tujuan akhir dan merupakan surga yang dicita-citakan. Berbeda dengan ekonomi yang
dilandasi moral agama, kesejahteraan kehidupan menjadikan tujuan untuk meningkatkan jiwa
dan ruhani manusia menuju Tuhannya. Materi digunakan untuk mempersiapkan diri untuk
menghadapi kehidupan yang lebih baik dan lebih kekal.
Ajaran Islam mengakui kebebasan pemilikan. Hak milik pribadi menjadi landasan
pembangunanekonomi, namun harus diperoleh dengan jalan yang telah ditentukan oleh Allah.
Pemilikan harus melalui jalan halal yang telah disyariahkan. Demikian pula mengembangkan
kepemilikan harus dengan cara-cara yang dihalalkan dan tidak dilarang oleh syariah. Islam
melarang pemilik harta menggunakan kepemilikannya untuk membuat kerusakan di muka bumi
atau melakukan sesuatu yang membahayakan manusia. Di samping itu dilarang pula
mengembangkan kepemilikan dengan cara merusak nilai dan moral (akhlak), misalnya dengan
menjual-belikan benda-benda yang diharamkan dan segala yang merusak kesehatan manusia
baik akal, agama maupun akhlaknya. Dengan demikian, sebuah pasar yang sehat berlandaskan
nilai-nilai moralitas keagamaan sangat diperlukan dalam sebuah sistem distribusi kepemilikan.
Sistem ekonomi Islam sesuai dengan namanya adalah suatu sistem ekonomi yang
berdasarkan nilai-nilai Islam, dalam hal ini Al-Quran dan Al-Hadis sebagai sumber utamanya.
Sistem ekonomi Islam bukanlah suatu sistem yang setengah-setengah. Artinya sistem ekonomi
Islam tidak hanya menunjukkan bagaimana cara untuk melakukan kegiatan perekonomian agar
menguntungkan pelaku ekonomi tersebut, tetapi juga prinsip-prinsip Islami yang melandasi
setiap kegiatan ekonomi yang dilakukan para pelaku ekonomi. Prinsip-prinsip relijius itu menjadi
faktor yang amat penting karena berlandaskan ajaran dan prinsip Islam-lah sistem ekonomi Islam
dibangun. Jadi Islam sebagai agama tidak hanya mengatur masalah tauhid, ibadah, dan akhlaq,
tetapi juga muamalah atau implementasi ajaran Islam dalam setiap sendi-sendi kehidupan. Hal
ini sesuai dengan ajaran Islam, yang dibawa Nabi Muhammad SAW, sebagai rahmat kepada
alam semesta ini dan tujuan umat muslim agar selamat dunia akhirat.
Oleh karena itu, dalam mencari kemakmuran dan nafkah di dunia ini, melalui kegiatan
ekonomi, umat Islam harus memperhatikan syariah yang telah digariskan Al-Quran dan Al-
Hadis. Islam tidak mencegah orang untuk menjadi kaya berkat usahanya, namun perlu diingat
dalam mencapai kekayaan tersebut haruslah sesuai dengan syariah Islam dan menimbun
kekayaan serta menghambur-hamburkan uang bukanlah perbuatan yang Islami. Islam juga
mengajarkan bahwa dalam setiap kekayaan umat Islam ada sebagian yang dimiliki umat Islam.
Hal ini menjamin kepemilikan pribadi namun di sis lain juga menjamin terjadinya distribusi
pendapatan yang merata. Hal ini yang tidak ditemukan dalam sistem ekonomi lain, baik kapitalis
atau sosialis.
Secara umum dan ringkas, sistem ekonomi Islam dibangun atas prinsip-prinsip berikut:
1. Alam ini mutlak milik Allah SWT

Artinya : Kepunyaan-Nya-lah semua yang ada di langit, semua yang ada di bumi, semua yang
di antara keduanya dan semua yang di bawah tanah. (QS. Taha: 6)


2. Alam merupakan nikmat karunia Allah yang diperuntukkan bagi manusia untuk dimanfaatkan

Tidakkah kamu perhatikan sesungguhnya Allah telah menundukkan untuk (kepentingan)mu apa
yang di langit dan di bumi dan menyempurnakan untukmu nikmat-Nya lahir dan batin (QS
Luqman: 20)
3. Alam karunia Allah ini untuk dinikmati dan dimanfaatkan dengan tidak melampaui batas-
batas ketentuan

pakailah pakaianmu yang indah di setiap majid, makan dan minumlah dan jangan berlebih-
lebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan. (QS. Al-
Araf: 31)

4. Hak milik perseorangan diakui sebagai hasil jerih payah usaha yang halal dan hanya boleh
dipergunakan untuk hal-hal yang halal pula.


Hai orang-orang yang beriman, nafkahkanlah sebagian dari hasil usahamu yang baik-baik dan
sebagian dari apa yang Kami keluarkan dari bumi untuk kamu. Dan janganlah kamu memilih
yang buruk-buruk lalu kamu nafkahkan darinya, padahal kamu sendiri tidak mau mengambilnya
melainkan dengan memicingkan mata terhadapnya (QS Al-Baqarah: 267)
5. Allah melarang menimbun kekayaan tanpa ada manfaat bagi sesama manusia

Dan orang-orang yang menyimpan emas dan perak dan tidak menafkahkannya di jalan Allah,
maka beritahukanlah kepada mereka, (bahwa mereka akan mendapat) siksa yang pedih. (QS At-
Taubah: 34)
6. Di dalam hata orang kaya itu terdapat hak orang miskin, fakir, dan lain sebagainya

Dan pada harta-harat mereka ada hak untuk orang miskin yang meminta dan orang miskin yang
tidak mendapat bagian. (QS Adz-Dzariyat: 19)
Berangkat dari prinsip-prinsip Islam tersebut sistem ekonomi Islam di-rancang bangun.
Bandingkanlah dengan sistem ekonomi kapitalis yang berprinsip berkorban sekecil-kecilnya
untuk mendapatkan keuntungan sebesar-besarnya. Prinsip ekonomi demikian, dipergunakan oleh
pedagang dan pengusaha yang mencari keuntungan, serta konsumen untuk mendapatkan sisa
guna sebesar-besarnya melebihi biaya yang dikeluarkan dan kemampuannya. Prinsip ekonomi
kapitalis pada akhirnya cenderung menyebabkan seseorang untuk berlaku rakus dan tamak
terhdap pencarian keuntungan dan pemenuhan kebutuhan. Pada tataran seperti inilah sistem
ekonomi kapitalis dibangun. Termasuk analisis keseimbangan pareto optimum.
Dalam analisis kesimbangan alokasi efisien individu atau perusahaaan akan efisien jika
sudah memaksimalisasi utilitas (atau faktor produksi)-nya. Padahal menurut sistem ekonomi
Islam manusia dituntut untuk tidak mengkonsumsi dan mengeksploitasi nikmat Allah dengan
berlebihan. Jadi, penerapan analisis alokasi efisiensi pareto, yang dibangun dari funsi utilitas
(indifference curve) dan production possibility curve function, akan menyebabkan kerusakan di
muka bumi ini.

D. Landasan Islam dalam Ekonomi
Landasan Akidah
Hubungan ekonomi Islam dengan aqidah Islam tampak jelas dalam banyak hal, seperti
pandangan Islam terhadap alam semesta yang ditundukkan (disediakan) untuk kepentingaan manusia.
Hubungan ekonomi Islam dengan aqidah dan syariah tersebut memungkinkan aktifitas ekonomi dalam
islam menjadi ibadah.
Dalam sistem ekonomi Islam kedudukan manusia sebagai makhluk Allah yang berfungsi
mengemban amanat Allah untuk memakmurkan kehidupan di bumi dan kelak di kemudian hari akan
dimintai pertanggungjawaban atas amanat Allah tersebut. Sementara itu, sebagai pengemban amanat
manusia dibekali kemampuan untuk menguasai.
Landasan Moral
Al-Quran dan hadist Nabi memberikan landasan yang terkait dengan akhlak atau moral dalam ekonomi
sebagai berikut:
Islam mewajibkan kaum muslimin untuk berusaha mencari kecukupan nafkah hidup untuk
dirinya, keluarga, dan mereka yang menjadi tanggungjawabnya dengan kekuatan sendiri dan tidak
menggantungkan kepada pertolongan orang lain. Islam mengajarkan pada manusia bahwa makanan
seseorang yang terbaik adalah dari jeri payahnya sendiri. Islam juga mengajarkan bahwa orang yang
memberi lebih baik dari orang yang meminta atau menerima.
Islam mendorong manusia untuk memberikan jasa kepada masyarakat. Hadist riwayat Ahmad,
Bukhori, Muslim dan Turmudzi mengatakan bahwa muslim yang menanam tanaman, kemudian
sebagian dimakan manusia, binatang merayap atau burung, semuanya itu dipandang sebagai sedekah.
Hasil dari rizki yang kita peroleh harus disyukuri, hal ini dinyatakan
Landasan Yuridis
Landasan yuridis Islam dalam bidang ekonomi meliputi al-Quran, Hadist dan Ijtihad (rayu). Al-
Quran dalam bidang ekonomi memberikan pedoman yang bersifat garis besar seperti pedoman untuk
memperoleh rizki dengan jalan berniaga, melarang melakukan riba, menghambur hamburkan harta,
memakan harta milik orang lain, perintah bekerja untuk memenuhi kebutuhan hidup, dan sebagainya.
Sunnah Rasul memberikan penjelasan rincianya seperti bagaimana cara berniaga yang halal dan yang
haram, menerangkan bentuk bentuk riba yang dilarang, bentuk bentuk pemborosan dan sebagainya.
Ijtihad mengembangkan penerapan pedoman pedoman al-Quran dan sunnah Rasul dalam
berbagai aspek perekonomian yang belum pernah disinggung secara jelas oleh al-Quran dan hadist
sesuai dengan perkembangan zaman, misalnya masalah bunga bank, asuransi, koperasi, dan sebagainya.
Ketika Nabi akan mengutus Muadz ke Yaman, Beliau bertanya sebelum Muadz berangkat: Bagaimana
kamu akan memutuskan, jika kepadamu dihadapkan suatu masalah? Muadz menjawab saya akan
memutuskan dengan ketentuan al-Quran. Nabi bertanya lagi, Jika kamu tidak mendapatkanya dalam
al-Quran? Muadz menjawab saya akan memutuskan dengan sunnah Rasulnya. Nabi bertanya lebih
lanjut, Jika dalam sunnah Rasulnya juga tidak kamu jumpai? Muadz menjawab saya akan berijtihad
dengan pikiranku, saya tidak akan membiarkan suatu masalah tidak berkeputusan. Mendengar jawaban
Muadz, Nabi mengatakan: Alhamdulillah yang telah memberikan taufik kepada utusan rasulnya
dengan sesuatu yang melegakan utusan Allah. ( H. R. Muadz).
E. Zakat, Wakaf, Infaq dan Sedekah
Zakat
Zakat terbagi atas 2 bagian yaitu :
ZAKAT DARI SEGI BAHASA
Zakat dari segi bahasa membawa maksud bersih, suci, subur, berkat, dan berkembang.
Pengertian "bersih" dan "suci" dalam istilah zakat membersihkan harta dan membersihkan diri orang
kaya daripada bersifat kedekut dan bakhil. Dalam erti kata yang lain ialah membersihkan diri daripada
sifat dendam dan dengki terhadap orang kaya.

ZAKAT DARI SEGI SYARAK
Zakat dari segi syarak pula ialah mengeluarkan sebahagian harta tertentu diberikan kepada
asnaf-asnaf yang berhak menerimanya setelah memenuhi syarat-syarat yang telah ditetapkan oleh
syarak.
HIKMAH PENSYARIATAN ZAKAT
Tujuan dan pensyariatan ibadah zakat adalah bertujuan untuk :
Mengagihkan sebahagian kekayaan daripada golongan yang berada kepada golongan
yang kurang berkemampuan.
Membersihkan diri pembayar zakat.
Menyuburkan dan memberkati harta pembayar zakat.
Mewujudkan rasa bersyukur terhadap nikmat kekayaan yang dianugerahkan oleh ALLAH
SWT kepada hamba-hamba-NYA.
Memberi peluang kepada golongan hartawan untuk beribadat dalam bentuk
mengeluarkan sebahagian harta mereka.
Menyatukan umat Islam dalam urusan ekonomi dan kewangan.
Memberi masyarakat satu cara mengurus ekonomi dan kewangan yang diredhai oleh
ALLAH SWT
Melahirkan jiwa yang tenang dan tenteram kepada pembayar zakat.
DALIL PENSYARIATAN ZAKAT
"Ambillah (sebahagian) dari harta mereka menjadi sedekah, supaya dengannya engkau membersihkan
mereka (dari dosa) dan mensucikan mereka (dari ahklak yang buruk), dan doakanlah untuk mereka,
kerana sesungguhnya doamu itu menjadi ketenteraman bagi mereka, dan ( ingatlah ) ALLAH Maha
Mendengar lagi Maha Mengetahui."
(QS At-Taubah 09:103)

"Dan dirikanlah kamu akan sembahyang serta keluarkanlah zakat dan taatlah kamu kepada Rasul supaya
kamu beroleh rahmat."

(QS An-Nur 24:56)

"Dan (ingatlah wahai Muhammad),ketika Kami mengikat perjanjian taat setia dengan Bani Israil (dengan
berfirman) : Janganlah kamu menyembah melainkan ALLAH, dan berbuat baiklah kepada kedua ibu-
bapa, dan kaum kerabat, dan anak-anak yatim serta orang miskin, dan katakanlah kepada sesama
manusia perkataan-perkataan yang baik dan dirikanlah sembahyang serta berilah zakat. Kemudian kamu
berpaling membelakangkan (perjanjian setia kamu itu) kecuali sebahagian kecil daripada kamu dan
sememangnya kamu orang yang tidak menghiraukan perjanjian setianya."
Bagaimana mengelola zakat supaya mencegah kemiskinan ?
Berdasarkan Undang-undang RI No. 38 Tahun 1999 (selanjutnya Disebut undang-undang) jo.
Keputusan Menteri Agama RI (selanjutnya disebut KMA) No. 581 Tahun 1999, pengertian, asas, tujuan
dan organisasi pengelolaan zakat, disebutkan sebagai berikut:
1. Pengertian Pengelolaan
Pengeloaan zakat adalah kegiatan perencanaan, pengorganisasian, pelaksanaan dan
pengawasan terhadap pengumpulan dan pendistribusian serta pendayagunaan zakat (pasal 1 angka 1
undang-undang).
Sedangkan pengertian zakat menurut undang-undang diatas adalah harta harta yang wajib
disisihkan oleh seorang muslim atau badan hukum yang dimiliki oleh seorang muslim sesuai dengan
ketentuan agama diberikan kepada yang berhak menerimanya.[1]
Jadi, dalam pengelolaan zakat dapat dipikirkan cara-cara pelaksanaannya dengan ilmu
pengetahuan yang sesuai dengan tujuan zakat ialah meningkatkan taraf hidup anggota masyarakat yang
lemah ekonomi dan mempercepat kemajuan agama Islam menuju tercapainya masyarakat yang adil,
maju dan makmur diridhoi oleh Allah SWT.
Apabila tidak mencukupi dana yang dikumpulkan melalui zakat (2,5 kg) maka Islam memberikan
pemungutan tambahan terhadap harta kekayaan masyarakat. Seperti yang ditegaskan oleh hadits Nabi
Muhammad
.



Artinya : Sesungguhnya didalam harta kekayaan itu ada selain zakat
Pada intinya Islam membukakan pintu kesejahteraan pemerataan ekonomi menuju ke
masyarakat yang adil dan makmur. Disini selain harta kekayaan disalurkan untuk zakat, harta itu bisa
disalurkan misalnya lewat shadaqah dan infaq.

Wakaf
Wakaf adalah salah satu konsep pemberian harta yang terdapat di dalam Islam. Konsep ini juga
adalah berlandaskan konsep sedekah.
Kita boleh merujuk kepada hadis yang diriwayatkan oleh Ibn Umar; iaitu apabila Umar Ibn al-
Khattab mahu mensedekahkan sebidang tanahnya, Rasulullah s.a.w telah bersabda Kalau engkau setuju,
tahanlah harta berkenaan dan sedekahkan manfaat (hasil) kepada tujuan-tujuan kebajikan. Umar
kemudiannya mensedekahkan hasil tanah tersebut kepada fakir miskin, sanak saudaranya, pembebasan
hamba dan tujuan ke jalan Allah dengan syarat harta tersebut tidak boleh dijual, diwarisi dan diberikan
kepada orang lain.
Apabila seseorang telah mewakafkan hartanya maka dia tidak mempunyai apa-apa hak atau
hubungan ke atas harta tersebut. Sebagai contoh jika harta yang diwakafkan adalah sebidang tanah
maka tuanpunya tanah tidak boleh menjual, mencagar atau memindah milik tanah tersebut.
Harta tersebut dianggap sebagai hak Allah. Penerima wakaf tersebut adalah perlu
memanfaatkan harta tersebut menurut syarat-syarat wakaf.
Dengan demikian wakaf itu bisa berbentuk 2 macam, yaitu:
1. Wakaf Ahli/Wakaf Dzurri, kadang-kadang juga disebut wakaf alal aulad. Yaitu wakaf yang
ditujukan kepada orang-orang tertentu saja, seorang ataupun lebih, baik keluarga si wakif atau bukan.
Jadi yang dapat menikmati manfaat benda wakaf ini sangat terbatas hanya kepada golongan
kerabat sesuai dengan ikrar yang dikehndaki oleh si wakif. Wakaf ini secara hukum dibenarkan, namun
pada perkembangan berikutnya wakaf tersebut dianggap kurang memberikan manfaat bagi
kesejahteraan umum, karena sering menimbulkan kekaburan dalam pengolaan dan pemanfaatan oleh
keluarga yang diserahi harta wakaf tersebut, apalagi kalau keturunan keluarga si wakif sudah
berlangsung kepada anak cucunya.
2. Wakaf Khairi, yaitu wakaf yang diperuntukkan bagi kepentingan umum.
Jadi yang dapat menikmati wakaf ini adalah seluruh masyarakat dengan tidak terbatas
penggunaannya, yang mencakup semua aspek untuk kepentingan dan kesejahteraan umat manusi pada
umumnya dan kepentingan umum tersebut bisa untuk jaminan sosial, pendidikan, kesehatan, keamanan
dan lain-lain.
Wakaf inilah yang merupakan salah satu segi dari cara memanfaatkan harta di jalan Allah SWT
dan tentunya kalau dilihat dari segi manfaatnya, ia merupakan salah satu upaya sebagai sarana
pembangunan baik dibidang keagamaan, pendidikan dan lain sebagainya. Dengan demikian, benda
wakaf tersebut benar-benar terasa manfaatnya untuk kepentingan kemanusiaan tidak hanya untuk
keluarga saja.
Terdapat dua kategori wakaf, iaitu wakaf am dan wakaf khas.
- Wakaf am adalah wakaf yang dilakukan untuk tujuan kebajikan tanpa menentukan mana-mana
penerima dengan cara khusus. Sebagai contohnya, seseorang itu mewakafkan tanahnya di atas tujuan
kebajikan dan tidak menentukan kepada siapa hasil tanah itu patut diberi. Maka terpulang kepada
penerima wakaf untuk menentukan siapa dan bagaimana kegunaan/hasil tanah tersebut diberi, di atas
tujuan kebajikan.

- Wakaf khas adalah di mana terdapat tujuan khusus dan penerima-penerima yang tertentu bagi hasil
wakaf tersebut. Pemberi wakaf akan menetapkan siapa penerima wakaf dan bagaimana kegunaan
wakaf tersebut perlu diagihkan.
Wakaf khas termasuklah wakaf yang boleh diberikan kepada keluarga. Biasanya bagi wakaf keluarga,
pemberi wakaf akan mensyaratkan peratusan tertentu bagi ahli keluarga yang tertentu.
Pemberi wakaf juga boleh membahagikan harta secara kombinasi iaitu wakaf am dan wakaf
khas. Sebagai contoh pemberi wakaf boleh memberi peratusan yang tetap dari hasil tanah kepada ahli
keluarganya (wakaf khas) dan selebihnya di beri kepada kebajikan.
Majlis Agama Islam adalah badan yang bertanggungjawab keatas pentadbiran dan pengurusan
harta wakaf. Ini adalah di atas rujukan terhadap Seksyen 61 Akta Pentadbiran Undang-Undang Islam
(Wilayah Persekutuan) 1993. Oleh itu pemberi wakaf haruslah membuat permohonan ke Majlis Agama
Islam. Permohonan tersebut haruslah menjelaskan tujuan, takat pemberian dan penerima wakaf
(sekiranya khusus). Dokumen hakmilik harta juga harus disertakan.
Pihak Majlis akan menjalankan siasatan dan memastikan bahwa harta tersebut adalah bersih
dari apa-apa tuntutan. Setelah pasti bahawa tiada apa-apa halangan ke atas wakaf tersebut maka
barulah permohonan tersebut diluluskan.
Pemberi wakaf akan menyempurnakan suratcara (dokumen) bagi penyempurnaan wakaf. Beliau
juga harus membawa dua orang saksi.
Suratcara ini akan disediakan oleh pihak Majlis. Suratcara ini akan menyatakan butir-butir
pemberi wakaf, saksi-saksi, jenis harta yang mahu diwakafkan, peratusan pembahagian dan tujuan
wakaf tersebut. Ini adalah bagi memastikan tiada kesangsian terhadap bagaimana wakaf tersebut akan
diuruskan.
Pemberi wakaf juga harus menyediakan surat akuan sumpah bagi menyatakan dan
membuktikan bahawa wakaf tersebut dilakukan dengan kehendaknya sendiri dan tiada unsur paksaan.
Ini adalah bagi mengelakkan timbulnya tuntutan dari pihak pewaris.
Semasa proses memberi wakaf ini, pemberi wakaf akan melafazkan ijab (penawaran) dan pihak
Majlis akan menyatakan qabul (penerimaan) atau kesediaannya menjalankan wakaf tersebut. Pemberi
wakaf sekiranya harta yang diwakafkan adalah tanah maka perlu kemudiannya menyempurnakan proses
pindahmilik harta. Majlis akan menjadi pemegang amanah tunggal hartanah tersebut dan bertanggung
jawab untuk melaksanakan hasrat pemberi wakaf.
Dalil Tentang Wakaf
Menurut Al-Quran
Secara umum tidak terdapat ayat al-Quran yang menerangkan konsep wakaf secara jelas. Oleh
karena wakaf termasuk infaq fi sabilillah, maka dasar yang digunakan para ulama dalam menerangkan
konsep wakaf ini didasarkan pada keumuman ayat-ayat al-Quran yang menjelaskan tentang infaq fi
sabilillah. Di antara ayat-ayat tersebut antara lain:

Hai orang-orang yang beriman! Nafkahkanlah (di jalan Allah) sebagian dari hasil usaha kamu
yang baik-baik, dan sebagian dari apa yang Kami keluarkan dari bumi untuk kamu. (Q.S. al-Baqarah (2):
267)

Kamu sekali-kali tidak sampai kepada kebajikan (yang sempurna) sebelum kamu menafkahkan
sebagian dari apa yang kamu cintai. (Q.S. Ali Imran (3): 92)

Perumpamaan (nafkah yang dikeluarkan oleh) orang-orang yang menafkahkan hartanya di
jalan Allah adalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir. Pada tiap-tiap bulir
seratus biji. Allah melipat gandakan (ganjaran) bagi sesiapa yang Dia kehendaki, dan Allah Maha Luas
(karunia-Nya) lagi Maha Mengetahui. (Q.S. al-Baqarah (2): 261)
Ayat-ayat tersebut di atas menjelaskan tentang anjuran untuk menginfakkan harta yang
diperoleh untuk mendapatkan pahala dan kebaikan. Di samping itu, ayat 261 surat al-Baqarah telah
menyebutkan pahala yang berlipat ganda yang akan diperoleh orang yang menginfakkan hartanya di
jalan Allah.
Menurut Hadis
Di antara hadis yang menjadi dasar dan dalil wakaf adalah hadis yang menceritakan tentang
kisah Umar bin al-Khaththab ketika memperoleh tanah di Khaibar. Setelah ia meminta petunjuk Nabi
tentang tanah tersebut, Nabi menganjurkan untuk menahan asal tanah dan menyedekahkan hasilnya.
Hadis tentang hal ini secara lengkap adalah; Umar memperoleh tanah di Khaibar, lalu dia
bertanya kepada Nabi dengan berkata; Wahai Rasulullah, saya telah memperoleh tanah di Khaibar yang
nilainya tinggi dan tidak pernah saya peroleh yang lebih tinggi nilainya dari padanya. Apa yang baginda
perintahkan kepada saya untuk melakukannya? Sabda Rasulullah: Kalau kamu mau, tahan sumbernya
dan sedekahkan manfaat atau faedahnya. Lalu Umar menyedekahkannya, ia tidak boleh dijual,
diberikan, atau dijadikan wariskan. Umar menyedekahkan kepada fakir miskin, untuk keluarga, untuk
memerdekakan budak, untuk orang yang berperang di jalan Allah, orang musafir dan para tamu.
Bagaimanapun ia boleh digunakan dengan cara yang sesuai oleh pihak yang mengurusnya, seperti
memakan atau memberi makan kawan tanpa menjadikannya sebagai sumber pendapatan.
Hadis lain yang menjelaskan wakaf adalah hadis yang diceritakan oleh imam Muslim dari Abu
Hurairah. Nas hadis tersebut adalah; Apabila seorang manusia itu meninggal dunia, maka terputuslah
amal perbuatannya kecuali dari tiga sumber, yaitu sedekah jariah (wakaf), ilmu pengetahuan yang bisa
diambil manfaatnya, dan anak soleh yang mendoakannya.
Selain dasar dari al-Quran dan Hadis di atas, para ulama sepakat (ijma) menerima wakaf sebagai
satu amal jariah yang disyariatkan dalam Islam. Tidak ada orang yang dapat menafikan dan menolak
amalan wakaf dalam Islam karena wakaf telah menjadi amalan yang senantiasa dijalankan dan
diamalkan oleh para sahabat Nabi dan kaum Muslimim sejak masa awal Islam hingga sekarang.
Dalam konteks negara Indonesia, amalan wakaf sudah dilaksanakan oleh masyarakat Muslim
Indonesia sejak sebelum merdeka. Oleh karena itu pihak pemerintah telah menetapkan Undang-undang
khusus yang mengatur tentang perwakafan di Indonesia, yaitu Undang-undang nomor 41 tahun 2004
tentang Wakaf. Untuk melengkapi Undang-undang tersebut, pemerintah juga telah menetapkan
Peraturan Pemerintah nomor 42 tahun 2006 tentang Pelaksanaan Undang-undang nomor 41 tahun
2004.
Pengertian Infaq
Infaq adalah pengeluaran sukarela yang di lakukan seseorang, setiap kali ia memperoleh rizki,
sebanyak yang ia kehendakinya. Allah memberi kebebasan kepada pemiliknya untuk menentukan jenis
harta, berapa jumlah yang yang sebaiknya diserahkan.
Terkait dengan infak ini Rasulullah SAW bersabda : "ada malaikat yang senantiasa berdo'a setiap
pagi dan sore : "Ya Allah SWT berilah orang yang berinfak, gantinya. Dan berkata yang lain : "Ya Allah
jadikanlah orang yang menahan infak, kehancuran". (HR. Bukhori)
Jika zakat harus diberikan pada mustahik tertentu (8 asnaf), maka infaq boleh diberikan kepada
siapapun. Misalnya, untuk kedua orang tua, anak-yatim, dan sebagainya diterangkan dalam QS. 2:215.
Pengertian sedekah
Hampir sama dengan pengertian infaq, termasuk juga hukum dan ketentuan-ketentuannya.
Hanya saja shadaqoh mempunyai makna yang lebih luas lagi dibanding infaq. Jika infaq berkaitan
dengan materi, sedekah memiliki arti lebih luas, menyangkut juga hal yang bersifat nonmateriil.
Hadits riwayat Imam Muslim dari Abu Dzar, Rasulullah menyatakan : "jika tidak mampu
bersedekah dengan harta, maka membaca tasbih, takbir, tahmid, tahlil, berhubungan suami-istri, atau
melakukan kegiatan amar maruf nahi munkar adakah sedekah".
Dalam hadist Rasulullah memberi jawaban kepada orang-orang miskin yang cemburu terhadap
orang kaya yang banyak bershadaqah dengan hartanya, beliau bersabda : "Setiap tasbih adalah
shadaqah, setiap takbir shadaqah, setiap tahmid shadaqah, setiap amar ma'ruf adalah shadaqah, nahi
munkar shadaqah dan menyalurkan syahwatnya kepada istri shadaqah". (HR. Muslim)

BAB III
PENUTUP
Kesimpulan
Sistem ekonomi Islam tidak sama dengan sistem-sistem ekonomi yang lain. Ia berbeda dengan
sistem ekonomi yang lain. Ia bukan dari hasil ciptaan akal manusia seperti sistem kapitalis dan komunis.
Ia adalah berpandukan wahyu dari Allah SWT untuk kesejahteraan islam.
Dimana sistem ciptaan akal manusia ini hanya mengambil kira perkara-perkara lahiriah semata-
mata tanpa menitikberatkan soal hati, roh dan jiwa manusia. Hasilnya, matlamat lahiriah itu sendiri tidak
tercapai dan manusia menderita dan tersiksa kerananya. Berlaku penindasan, tekanan dan ketidakadilan.
Yang kaya bertambah kaya dan yang miskin bertambah miskin sehingga tidak mensejahterakan islam.
Ekonomi Islam pula.sangat berbeda karena di dalamnya sdh mengandung unsure-unsur tentang saling
berbagi yang dalam hal ini sesuai dengan syariat islam yaitu zakat, wakaf, infaq dan sedekah untuk
mensejahterakan umat islam.

DAFTAR PUSTAKA

http://amalanwakaf.blogspot.com/2008/07/pengertian-wakaf.html
http://mancinginfo.blogspot.com/2013/04/pengertian-dan-perbedaan-zakat-infaq.html
http://hilmanemira.blogspot.com/2013/05/sistem-ekonomi-islam-dan-kesejahteraan.html
https://yogoatmosaputra.wordpress.com/2013/10/06/landasan-landasan-ekonomi-dalam-islam
http://syafiielsikha.blogspot.com/2013/11/prinsip-ekonomi-islam.html