Anda di halaman 1dari 2

PEMBAHASAN PARAMETER KARAKTERISTIK EKSTRAK KENTAL

Organoleptik
Untuk pengenalan awal yang sederhana dan seobyektif mungkin dilakukan
pengujian organoleptik melalui deskrisi pancaindera yaitu memiliki bentuk semisolid,
warna coklat muda, berbau khas, dan memiliki rasa yang pahit saat dicicipi. Faktor-
faktor ini dapat dipengaruhi oleh keberadaan zat aktif atau senyawa yang terkandung
dalam sediaan.

Kadar Sari Larut Air atau Kadar Sari Larut Etanol

Parameter selanjutnya adalah penentuan kadar sari larut air ekstrak dan kadar sari
larut etanol ekstrak dengan cara ekstraksi cair-cair ekstrak kental selama 24 jam.
Ekstrak kental ditimbang sebanyak 2 gram duplo, dan masing-masing dimasukkan ke
dalam botol yang telah disediakan. Untuk penentuan kadar sari larut air ditambahkan
pelarut kloroform-air sebanyak 40 mL dan untuk penentuan kadar sari larut etanol
ditambahkan 40 mL etanol 95% dan selama 6 jam pertama kedua botol dikocok dan
didiamkan selama 18 jam untuk penyempurnaan pemisahan lalu disaring. Filtrat air dan
filtrat etanol masing-masing sebanyak 20mL diambil dan diuapkan di atas waterbath
serta residu dipanaskan pada suhu 105C. Residu ditimbang dan diperoleh kadar sari
larut air sebesar 77,5 % dan kadar sari larut etanol 72,5 %. Dari parameter ini dapat
disimpulkan sari ekstrak kental cukup terdispersi dengan baik dalam kedua pelarut
terutama air.

Rendemen

Rendaman ekstrak ditimbang berdasarkan berat akhir setelah ekstraksi selesai
dilakukan dibandingkan terhadap jumlah simplisia yang digunakan pada saat ekstraksi.
Perbandingan dalam persen menyatakan nilai rendemen dari ekstrak tersebut. Berat
simplisia yaitu 600 gram setelah diekstrak dengan menggunakan etanol 95% didapat
berat ekstrak 30,09 gram, sehingga diperoleh rendemen 5,515 %b/v. Berat kecilnya nilai
rendemen menunjukkan keefektifan proses ekstraksi. Efektivitas proses ekstraksi
dipengaruhi oleh jenis jenis pelarut yang digunakan sebagai penyari, ukuran partikel
simplisia, metode dan lamanya ekstraksi.

Kadar air

Penetapan kadar air ekstrak ini dapat dilakukan dengan beberapa cara misalnya
dengan titrasi langsung atau tidak langsung (pereaksi Karl-Fischer), gravimetri, maupun
destilasi. Metode yang terakhir yaitu metode destilasi dengan bantuan toluene
merupakan metode yang dilakukan dalam percobaan. Ekstrak sebanyak 2 gram bersama
alumunium foil dimasukkan ke dalam labu dasar bulat atau Round Bottom Flask (RBF)
kemudian ditambahkan 200 mL toluena. Pasang alat dengan benar dan lakukan
destilasi. Proses destilasi ini dilakukan selama 3 jam. Dalam proses destilasi, saat
mencapai titik didihnya, air yang berasal dari ekstrak akan ikut menguap bersama-sama
toluena naik ke atas labu hingga mencapai kondensor. Dengan bantuan kondensor, uap
air bersama toluena ini akan terkondensasi menjadi tetesan karena aliran air pada
kondensor bertugas mendinginkan uapnya menjadi tetesan embun kembali. Tetesan air
dan toluena ini bersama-sama akan jatuh pada alat pengukur volume air. Karena air dan
toluen memiliki sifat kepolaran yang berbeda maka keduanya akan berpisah membentuk
2 fasa berbeda yang tidak saling bercampur. Air dengan massa jenis yang lebih besar
daripada toluena akan berada di bagian dasar alat sehingga volume tetesan air akan
dapat terukur dengan mudah. Dari hasil tersebut didapatkan kadar air ekstrak tidak
memenuhi persyaratan karena tidak boleh melebihi 10%, sedangkan kadar ekstrak 25
%. Kadar air dalam ekstrak yang melebihi 10 % akan memudahkan tumbuhnya jamur
dan kemungkinan akan membahayakan kesehatan. Karena itu untuk selanjutnya perlu
dilakukan standar kekentalan ekstrak, sehingga kadar airpun dapat diharapkan men-
capai kurang dari 10 %.