Anda di halaman 1dari 25

IMUNISASI

1. Imunisasi
1.1. Pengertian
Imunisasi adalah suatu cara untuk menimbulkan/meningkatkan kekebalan
seseorang secara aktif terhadap suatu penyakit, sehingga bila kelak ia terpapar dengan
penyakit tersebut tidak akan sakit atau sakit ringan. (Depkes RI, 2005).
Imunisasi adalah suatu tindakan untuk memberikan kekebalan dengan cara
memasukkan vaksin ke dalam tubuh manusia, untuk mencegah penyakit. (Depkes-
Kessos RI, 2000).
1.2. Perkembangan Imunisasi di Indonesia
Kegiatan imunisasi di Indonesia di mulai di Pulau Jawa dengan vaksin varisela
pada tahun 1956. Pada tahun 1972, Indonesia telah berhasil membasmi penyakit
cacar. Pada tahun 1974, Indonesia resmi dinyatakan bebas cacar oleh WHO, yang
selanjutnya dikembangkan vaksinasi lainnya. Pada tahun 1972 juga dilakukan studi
pencegahan terhadap Tetanus Neonatorum dengan memberikan suntikan Tetanus
Toxoid (TT) pada wanita dewasa di Jawa Tengah dan Jawa Timur, sehingga pada
tahun 1975 vaksinasi TT sudah dapat dilaksanakan di seluruh Indonesia. (Depkes RI,
2005).
2. Tujuan imunisasi di Indonesia
2.1 Tujuan Umum
Turunnya angka kesakitan, kecacatan dan kematian bayi akibat PD3I.
2.2 Tujuan Khusus
1) Program Imunisasi
a) Tercapainya target Universal Child Immunization yaitu cakupan imunisasi lengkap
minimal 80% secara merata pada bayi di 100% desa/ kelurahan pada tahun 2010
b) Tercapainya Eliminasi Tetanus Maternal dan Neonatal (insiden di bawah 1 per
1.000 kelahiran hidup dalam satu tahun) pada tahun 2005.
c) Eradikasi polio pada tahun 2008.
d) Tercapainya reduksi campak (RECAM) pada tahun 2005.
2) Program Imunisasi Meningitis Meningokus
Memberikan kekebalan tubuh terhadap penyakit Meningitis Meningokokus tertentu,
sesuai dengan vaksin yang diberikan pada calon jemaah haji.
3) Program Imunisasi Demam Kuning
Memberikan kekebalan efektif bagi semua orang yang melakukan perjalanan berasal
dari atau ke negara endemis demam kuning sehingga dapat mencegah masuknya
penyakit demam kuning di
Indonesia.
4) Program Imunisasi Rabies
Menurunkan angka kematian pada kasus gigitan hewan penular rabies.
3. Dasar hukum penyelenggaraan program imunisasi :
a. Undang-undang No. 23 tahun 1992 tentang Kesehatan.
b. Undang-undang No. 4 tahun 1984 tentang Wabah Penyakit Menular.
c. Undang-undang No. 1 tahun 1962 tentang Karantina Laut.
d. Undang-undang No. 2 tahun 1962 tentang Karantina Udara.
e. Keputusan Menkes No. 1611/Menkes/SK/XI/2005 tentang Pedoman
Penyelenggaraan Imunisasi.
f. Keputusan Menkes No. 1626/ Menkes/SK/XII/2005 tentang Pedoman
Pemantauan dan Penanggulangan Kejadian Ikutan Paska Imunisasi
(KIPI).


4.1. Respon Imunisasi
Kekebalan tubuh dapat kita kelompokkan menjadi dua golongan :
1. Kekebalan pasif
2. Kekebalan aktif
Kekebalan pasif terjadi bila seseorang mendapatkan daya imunitas dari luar
dirinya. Jadi, tubuhnya sendiri tidak membentuk sistim kekebalan tersebut. Kekebalan
jenis ini bisa didapat langsung dari luar, atau secara alamiah (bawaan). Keunggulan
dari kekebalan pasif adalah langsung dapat dipergunakan tanpa menunggu tubuh
penderita membentuknya. Kelemahannya adalah tidak berlangsung lama. Kekebalan
jenis ini memang biasanya hanya bertahan beberapa minggu sampai bulan saja.
Kekebalan aktif terjadi bila seseorang membentuk sistem imunitas dalam
tubuhnya. Kekebalan bisa terbentuk saat seseorang terinfeksi secara alamiah oleh bibit
penyakit, atau terinfeksi secara buatan saat diberi vaksinasi. Kelemahan dari
kekebalan aktif ini adalah memerlukan waktu sebelum si penderita mampu
membentuk antibodi yang tangguh untuk melawan agen yang menyerang.
Keuntungannya, daya imunitas biasanya bertahan lama, bahkan bisa seumur hidup.
4.2. Imunitas Tubuh
Imunitas pasif alamiah
Pada saat seorang bayi lahir ke dunia, ia dibekali dengan sistem kekebalan
tubuh bawaan dari ibunya. Inilah yang kita sebut sebagai kekebalan pasif alamiah.
Kekebalan jenis ini sangat tergantung pada kekebalan yang dipunyai oleh si ibu.
Misalnya, bila ibu mendapat imunisasi tetanus pada saat yang tepat di masa
kehamilan, maka anak mempunyai kemungkinan sangat besar untuk terlindung dari
infeksi tetanus di saat kelahirannya.
Imunitas pasif didapat
Pada keadaan ini, daya imunitas diperoleh dari luar, misalnya pemberian
serum anti tetanus. Kelebihannya dapat langsung dipergunakan tubuh untuk melawan
bibit penyakit, tapi sayangnya kekebalan jenis ini biasanya mempunyai waktu efektif
yang pendek.
Imunitas aktif alamiah
Pada saat tubuh kita dimasuki oleh bibit penyakit, terjadi suatu mekanisme
pembentukan sistem pertahanan tubuh yang spesifik terhadap bibit penyakit
yangmenyerang. Dengan demikian, bila bibit penyakit tersebut mencoba kembali
masuk ketubuh kita, tubuh sudah siap dengan pertahanannya.
Imunitas aktif didapat
Prinsip dari imunitas aktif didapat ini diambil dari imunitas aktif alamiah.
Bedanya, kita memberikan bibit penyakit atau bagiannya, agar tubuh dapat
membentuk sistem imunitas spesifik sebelum bibit penyakit tersebut benar-benar
datang. Inilah yang dikenal sebagai vaksinasi. Keuntungan dari pemberian vaksinasi
adalah kita dapat mengontrol agar masuknya bibit penyakit (agen) tidak sampai
menimbulkan penyakit yang parah padadiri si penerima. Walau mungkin tidak
bergejala, dalam keadaan normal kekebalan tetap terbentuk.
Vaksin akan merangsang sistem kekebalan tubuh untuk bereaksi terhadap
antigen yang kita masukkan. Mungkin akan timbul sedikit keluhan pada penerima
(resipien) akibat reaksi yang terjadi antara sistim imunitas spesifik yang terbentuk dan
antigen (dalam vaksin) yang kita masukkan. Tapi setelah itu, akan terbentuk antibodi
yang selalu siap untuk mengingat lawannya. Jadi bila nanti antigen yang sama
berusaha masuk, tubuh dengan cepat dapat melipat gandakan antibodi spesifiknya
untuk membunuh antigen tersebut. Vaksin mengandung substansi atau antigen yang
relatif tidak berbahaya bagi tubuh penerima (resipien). Substansi atau antigen yang
dipergunakan biasanya didapat dari mikroorganisme penyebab penyakit itu sendiri.
Komponen yang diberikan bisa berupa :
Virus yang dilemahkan
Bakteri yang sudah dimatikan
Toksin kuman
Toksoid
5.1. Tempat Suntikan yang Dianjurkan
Paha anterolateral adalah bagian tubuh yang dianjurkan untuk vaksinasi pada
bayi dan anak umur di bawah 12 bulan. . Vaksin harus disuntikkan ke dalam batas
antara sepertiga otot bagian tengah yang merupakan bagian yang paling tebal dan
padat. Regio deltoid adalah alternatif untuk vaksinasi pada anak yang lebih besar (
mereka yang telah dapat berjalan ) dan orang dewasa.
5.2. Alasan memilih otot vastus lateralis pada bayi dan anak umur dibawah 12
bulan adalah :
Menghindari risiko kerusakan saraf iskiadika pada suntikan daerah gluteal.
Daerah deltoid pada bayi dianggap tidak cukup tebal untuk menyerap suntikan secara
adekuat.
Imunogenitas vaksin hepatitis B dan rabies akan berkurang apabila disuntikkan di
daerah gluteal
Menghindari risiko reaksi lokal dan terbentuknya nodulus di tempat suntikan yang
menahun.
Menghindari lapisan lemak subkutan yang tebal pada paha bagian anterior.



Gambar 2. Lokasi Penyuntikan intramuscular Pada Bayi (a) dan Anak Besar (b)

5.3. Cara Penyuntikan Vaksin
Subkutan
Perhatian:
Penyuntikan subkutan diperuntukan imunisasi MMR, varisela, meningitis
Perhatikan rekomendasi untuk umur anak

Umur Tempat Ukuran
jarum
Insersi jarum
Bayi (lahir
s/d12 bulan)
Paha
anterolateral
Jarum
5/8-3/4
Spuit no
Arah jarum
45
o
Terhadap
kulit
23-25
1-3 tahun paha
anterolateral/
Lateral
lengan atas
Jarum
5/8-3/4
Spuit no
23-25
Cubit tebal
untuk
suntikan
subkutan
Anak > 3
tahun
Lateral
lengan atas
Jarum
5/8-3/4
Spuit no
23-25
Aspirasi
spuit
sebelum
disuntikan
Untuk
suntikan
multipel
diberikan
pada
ekstremitas
berbeda




Intramuskular
Perhatian:
Diperuntukan Imunisasi DPT, DT,TT, Hib, Hepatitis A & B, Influenza.
Perhatikan rekomendasi untuk umur anak
Umur Tempat Ukuran
jarum
Insersi jarum
Bayi
(lahir s/d
12 bulan
Otot vastus
lateralis
pada paha
daerah
anterolateral
Jarum
7/8-1
Spuit n0
22-25
1. Pakai jarum yang
cukup panjang untuk
mencpai otot
1-3 tahun Otot vastus
lateralis
Jarum
5/8-1
2. Suntik dengan
arah jarum 80-90
o.
pada paha
daerah
anterolateral
sampai
masa otot
deltoid
cukup besar
(pada
umumnya
umur 3
tahun
(5/8
untuk
suntikan
di deltoid
umur 12-
15 bulan
Spuit no
22-25
lakukan dengan
cepat
1. Tekan kulit
sekitar tepat suntikan
dengan ibu jari dan
telunjuk saat jarum
ditusukan
Anak > 3
tahun
Otot
deltoid, di
bawah
akromion
Jarum
1-1
Spuit no
22-25
2. Aspirasi
spuit sblm vaksin
disuntikan, untuk
meyakinkan tidak
masuk ke dalam
vena.Apabilaterdapat
darah, buang dang
ulangi dengan suntik
yang baru.
3. Untuk
suntikan multipel
diberikan pada
bagian sekstremitas
berbeda

5.4. Kipi (Kejadian Ikutan Pasca-Imunisasi)

Setiap tindakan medis apa pun bisa menimbulkan risiko bagi pasien si
penerima layanan baik dalam skala ringan maupun berat. Demikian halnya dengan
pemberian vaksinasi, reaksi yang timbul setelah pemberian vaksinasi disebut kejadian
ikutan pasca imunisasi (KIPI) atau adverse following immunization (AEFI). Dengan
semakin canggihnya teknologi pembuatan vaksin dan semakin meningkatnya teknik
pemberian vaksinasi, maka reaksi KIPI dapat diminimalisasi. Meskipun risikonya
sangat kecil, reaksi KIPI berat dapat saja terjadi.
Secara khusus KIPI dapat didefinisikan sebagai kejadian medik yang
berhubungan dengan imunisasi, baik oleh karena efek vaksin maupun efek samping,
toksisitas, reaksi sensitivitas, efek farmakologis, kesalahan program, reaksi suntikan,
atau penyebab lain yang tidak dapat ditentukan.
Reaksi simpang vaksin antara lain dapat berupa efek farmakologis, efek
samping (side effects), interaksi obat, intoleransi, reaksi idiosinkrasi, dan reaksi alergi
yang umumnya secara klinis sulit dibedakan. Reaksi alergi dapat terjadi terhadap
protein telur (vaksin campak, gondong, influenza, dan demam kuning), antibiotik,
bahan preservatif (neomisin, merkuri), atau unsur lain yang terkandung dalam vaksin.
Faktor penyebab
Pokja KIPI Depkes RI membagi penyebab kejadian ikutan pasca imunisasi menjadi 4
kelompok, yaitu karena kesalahan program/teknik pelaksanaan imunisasi, induksi
vaksin, faktor kebetulan, dan penyebab tidak atau belum diketahui.
Klasifikasi Lapangan
Sesuai dengan manfaatnya di lapangan maka KN PP KIPI memakai kriteria WHO
Western Pasific untuk memilah KIPI dalam lima kelompok penyebab, yaitu :
1. Kesalahan program
2. Reaksi suntikan
3. Reaksi vaksin
4. Koinsiden
5. Sebab tidak diketahui
Kesalahan program/teknik pelaksanaan imunisasi (programmatic errors)
Sebagian besar kasus KIPI berhubungan dengan masalah program dan teknik
pelaksanaan imunisasi yang meliputi kesalahan program penyimpanan, pengelolaan,
dan tata laksana pemberian vaksin. Kesalahan tersebut misalnya dapat terjadi pada:
Dosis antigen (terlalu banyak)
Lokasi dan cara menyuntik
Sterilisasi semprit dan jarum suntik
Jarum bekas pakai
Tindakan dan antiseptik
Kontaminasi vaksin dan peralatan suntik
Penyimpanan vaksin
Pemakaian sisa vaksin
Jenis dan jumlah pelarut vaksin
Tidak memperhatikan petunjuk prosedur (petunjuk pemakaian, indikasi
kontra).
Induksi Vaksin (vaccine induced)
Gejala KIPI yang disebabkan induksi vaksin umumnya sudah dapat diprediksi terlebih
dahulu karena merupakan reaksi simpang vaksin, dan secara klinis biasanya
ringan.Walaupun demikian dapat saja terjadi gejala klinis hebat seperti reaksi
anafilaksis sistemik dengan risiko kematian. Reaksi simpang ini sudah teridentifikasi
dengan baik dan tercantum dalam petunjuk pemakaian tertulis oleh produsen sebagai
indikasi kontra, indikasi khusus, perhatian khusus, atau berbagai tindakan dan
perhatian lainya termasuk kemungkinan interaksi dengan obat atau vaksin lain.
Petunjuk ini harus diperhatikan dan ditanggapi dengan baik oleh pelaksana imunisasi.
Faktor kebetulan (coincidental)
Seperti telah disebutkan di atas, maka kejadian yang timbul ini terjadi secara
kebetulan saja setelah imunisasi. Indikator kebetulan ini ditandai dengan
ditemukannya kejadian yang sama pada kelompok populasi setempat dengan
karakteristik serupa yang tidak mendapat imunisasi pada saat bersamaan.
Penyebab tidak diketahui
Bila kejadian atau masalah yang dilaporkan belum dapat dikelompokan ke dalam
salah satu penyebab lain maka untuk sementara dimasukkan ke dalam kelompok ini.
Tetapi biasannya dengan kelengkapan informasi lebih lanjut maka akan dapat
ditentukan masih dalam kelompok mana yang sesuai.
Reaksi KIPI
Orangtua atau pengantar perlu diberitahu bahwa setelah imunisasi dapat timbul reaksi
lokal di tempat penyuntikan atau reaksi umum berupa keluhan dan gejala tertentu,
tergantung pada jenis vaksinnya.

6.1. Vaksinasi Yang Dianjurkan

1. BCG
Jadwal imunisasi dan dosis
Bacille Calmete-Guerin adalah vaksin hidup yang dibuat dari Mycobacterium
Bovis yang dibiak berulang selama 1-3 tahun sehingga didapatkan basil yang tidak
virulen tetapi masih mempunyai imunogenitas. Imunisasi BCG diberikan pada umur
sebelum 3 bulan. Namun untuk mencapai cakupan yang lebih luas. Dosis 0,05 ml
untuk bayi kurang dari 1 tahun dan 0,1 ml untuk anak (>1tahun). Vaksin BCG
diberikan secara intrakutan di daerah lengan kanan atas pada insersio M.Deltoideus
sesuai anjuran WHO, tidak ditempat lain.Vaksin BCG tidak dapat mencegah infeksi
tuberculosis, namun dapat mencegah komplikasinya. Apabila BCG diberikan pada
umur lebih dari 3 bulan,sebaiknya dilakukan uji tuberculin terlebih dahulu. Vaksin
BCG diberikan apabila uji tuberculin negatif. Efek proteksi biasanya timbul 8-12
minggu setelah penyuntikkan.
Kejadian ikutan pasca imunisasi BCG
Penyuntikan BCG intradermal akan menimbulkan ulkus local yang superficial
3 minggu setelah penyuntikkan. Ulkus tertutup krusta, akan sembuh dalam 2-3 bulan,
dan meninggalkan parut bulat dengan diameter 4-8 mm. Apabila dosis terlalu tinggi,
maka ulkus yang timbul lebih besar, namun apabila penyuntikkan terlalu dalam maka
parut yang terjadi tertarik ke dalam.
Limfadenitis
Limfadenitis supuratif di aksila atau di leher kadang-kadang dijumpai setelah
penyuntikan BCG. Limfadenitis akan sembuh sendiri, jadi tidak perlu diobati.
BCG-itis diseminasi
Jarang terjadi, seringkali berhubungan dengan imunodefisiensi berat.
Komplikasi lainnya adalah eritema nodosum, iritis, lupus vulgaris dan osteomielitis.
Komplikasi ini harus diobati dengan kombinasi obat anti tuberculosis.
Kontra indikasi
Reaksi uji tuberculin >5 mm.
Menderita infeksi HIV atau dengan resiko tinggi infeksi HIV, imundefisiensi,
penyakit keganasan yang mengenai sumsum tulang atau system limfe.
Menderita gizi buruk.
Menderita demam tinggi.
Menderita infeksi kulit yang luas.
Pernah sakit tuberculosis.
Kehamilan.
2.Hepatitis B
Vaksin hepatitis B (hep B) harus segera diberikan setelah lahir, mengingat
vaksinasi hepatitis B merupakan upaya pencegahan yang sangat efektif untuk
memutuskan rantai penularan melalui transmisi maternal dari ibu kepada bayinya.
Vaksin diberikan secara intramuscular dalam. Pada neonatus dan bayi diberikan di
anterolateral paha, sedangkan pada anak besar dan dewasa, diberikan diregion deltoid.

Imunisasi aktif :
Imunisasi hepB-1 diberikan sedini mungkin (dalam waktu 12 jam) setelah lahir.
Imunisasi hepB-2 diberikan setelah 1 bulan (4 minggu) dari imunisasi hepB-1, yaitu
saat bayi berumur 1 bulan. Untuk mendapat respon imun optimal, interval imunisasi
hepB-2 dengan hepB-3 minimal 2 bulan, terbaik 5 bulan. Maka imunisasi hepB-3
diberikan pada umur 3-6 bulan.
Bila sesudah dosis pertama, imunisasi terputus, segera berikan imunisasi kedua.
Sedangkan imunisasi ketiga diberikan dengan jarak terpendek 2 bulan dari imunisasi
kedua.
Bila dosis ketiga terlambat, diberikan segera setelah memungkinkan.
Bayi lahir dari ibu dengan Hbs-Ag yang tidak diketahui, hepB-1 harus diberikan
dalam waktu 12 jam setelah lahir dan dilanjutkan pada umur 1 bulan dan 3-6 bulan.
Apabila semula status Hbs-Ag ibu tidak diketahui dan ternyata dalam perjalanan
selanjutnya diketahui ibu dengan Hbs-Ag positif, maka ditambahkan hepatitis B
immunoglobulin (HBIg) 0,5 ml sebelum bayi berumur 7 hari.
Bayi lahir dari ibu dengan Hbs-Ag positif, diberikan vaksin hepB-1 dan HBIg 0,5 ml
secara bersamaan dalam waktu 12 jam setelah lahir.
Anak dari ibu pengidap hepatitis B, yang telah memperoleh imunisasi dasar 3x pada
masa bayi, maka pada saat usia 5 tahun tidak perlu imunisasi ulang (booster). Hanya
dilakukan pemeriksaan kadar anti HBs.
Apabila sampai dengan usia 5 tahun anak belum pernah memperoleh imunisasi
hepatitis B, maka secepatnya diberikan imunisasi Hep B dengan jadwal 3x pemberian
(catch up vaccination).
Catch up vaccination merupakan upaya imunisasi pada anak atau remaja yang belum
pernah di imunisasi atau terlambat >1 bulan dari jadwal yang seharusnya. Khusus
pada imunisasi hepatitis B, imunisasi catch up ini diberikan dengan interval minimal 4
minggu antara dosis pertama dan kedua, sedangkan interval antara dosis kedua dan
ketiga minimal 8 minggu atau 16 minggu sesudah dosis pertama.
Ulangan imunisasi (hepB-4) dapat dipertimbangkan pada umur 10-12 tahun, apabila
kadar pencegahan belum tercapai (anti Hbs< 10g/ml).
Imunisasi pasif :
Hepatitis B immune globulin (HBIg) dalam waktu singkat akan memberikan
proteksi meskipun hanya untuk jangka pendek (3-6 bulan). HBIg hanya diberikan
pada kondisi pasca paparan. Sebaiknya HBIg diberikan bersama vaksin VHB
sehingga proteksinya berlangsung lama. Pada needle stick injury maka diberikan
HBIg 0,06 ml/kgBB maksimum 5 ml dalam 48 jam pertama setelah kontak. Pada
penularan dengan cara kontak seksual HBIg diberikan 0,06ml/kgBB maksimum 5 ml
dalam waktu <14 hari sesudah kontak terakhir.
Kejadian ikutan pasca imunisasi Hepatitis B
Umumnya berupa reaksi local yang ringan dan bersifat sementara. Kadang-
kadang dapat menimbulkan demam ringan untuk 1-2 hari.
Kontra indikasi
Tidak ada kontra indikasi yang absolut.
3. Imunisasi Polio
Terdapat 2 macam vaksin polio:
IPV (Inactivated Polio Vaccine, Vaksin Salk), mengandung virus polio yang telah
dimatikan dan diberikan melalui suntikan.
OPV (Oral Polio Vaccine, Vaksin Sabin), mengandung vaksin hidup yang telah
dilemahkan dan diberikan dalam bentuk pil atau cairan.
Bentuk trivalen (TOPV) efektif melawan semua bentuk polio, bentuk monovalen
(MOPV) efektif melawan 1 jenis polio.
Jadwal imunisasi dan dosis
Vaksin polio oral diberikan kepada semua bayi baru lahir sebagai dosis awal
sebanyak 2 tetes (0,1 ml). Dilanjutkan dengan imunisasi dasar polio, 3 dosis berturut-
turut dengan interval 6-8 minggu. Imunisasi polio ulangan diberikan pada usia 18
bulan dan 5 tahun. Kecuali saat lahir, pemberian vaksin polio selalu dibarengi dengan
vaksin DTP. Pemberian vaksin bisa lewat suntikan (Inactivated Poliomyelitis
Vaccine/IPV), atau lewat mulut(Oral Poliomyelitis Vaccine/OPV).

Kejadian ikutan pasca imunisasi Polio
Pada OPV hampir tak ada. Hanya sebagian kecil saja yang mengalami pusing, diare
ringan, dan sakit otot. Kasusnya pun sangat jarang.
IPV bisa menyebabkan nyeri dan kemerahan pada tempat penyuntikan, yang biasanya
berlangsung hanya selama beberapa hari.
Kontra indikasi
Kepada orang yang pernah mengalami reaksi alergi hebat (anafilaktik) setelah
pemberian streptomisin, polimiksin B atau neomisin, tidak boleh diberikan IPV.
Sebaiknya diberikan OPV.
Kepada penderita gangguan sistem kekebalan dianjurkan untuk diberikan IPV. IPV
bisa diberikan kepada anak yang menderita diare.
4. Imunisasi Campak
Deskripsi
Vaksin campak merupakan vaksin virus hidup yang dilemahkan. Setiap
dosis(0,5ml) mengandung tidak kurang dari 1000 infective unit virus strain CAM 70,
dan tidak lebih dari 100 mcg residu kanamycin dan 30 mcg residu erythromycin.
Dosis dan Cara Pemberian
Imunisasi campak terdiri dari dosis 0,5 ml yang disuntikkan secara subkutan.
Pada setiap penyuntikan harus menggunakan jarum dan syringe yang steril. Satu dosis
vaksin campak cukup untuk membentuk kekebalan terhadap infeksi. Dianjurkan
imunisasi terhadap campak dilakukan sedini mungkin saat usia 9 bulan. Vaksin
campak tetap aman dan efektif jika diberikan bersamaan dengan vaksin-vaksin DT,
Td, TT, BCG, Polio, (OPV dan IPV), Hepatitis B, dan YellowFever
Jadwal imunisasi
Sebanyak 2 kali, yaitu 1 kali di usia 9 bulan, 1 kali di usia 6 tahun. Dianjurkan,
pemberian campak ke-1 sesuai jadwal. Selain karena antibodi dari ibu sudah
menurundi usia 9 bulan, penyakit campak umumnya menyerang anak usia balita. Jika
sampai12 bulan belum mendapatkan imunisasi campak, maka pada usia 12 bulan
harus diimunisasi MMR (Measles Mumps Rubella).
Kejadian ikutan pasca imunisasi Campak
Pada beberapa anak, bisa menyebabkan demam dan diare, namun kasusnya
sangat kecil. Biasanya demam berlangsung selama 5 hari, dijumpai pada hari ke 5-6
sesudah imunisasi. Kadang juga terdapat efek kemerahan mirip campak selama 2-4
hari. Reaksi KIPI berat jika ditemukan gangguan sistem saraf pusat seperti
ensefalopati dan ensefalitis pasca imunisasi.
Kontraindikasi
Terdapat beberapa kontraindikasi yang berkaitan dengan pemberian vaksin
campak, antara lain :
Individu yang diketahui alergi berat terhadap kanamycin dan erithromycin.
Karena efek vaksin virus campak hidup terhadap janin belum diketahui, maka wanita
hamil termasuk kontraindikasi.
Individu pengidap virus HIV (Human Immunodficiency Virus).
Individu yang mengidap penyakit immune deficiency atau individu yang diduga
menderita gangguan respon imun karena leukimia, lymphoma atau generalized
malignancy.
5.DTP
Jadwal imunisasi dan dosis
Imunisasi DTP primer diberikan 3 kali sejak umur 2 bulan (DTP tidak boleh
diberikan sebelum umur 6 minggu) dengan interval 4-8 minggu. Interval terbaik
diberikan 8 minggu, jadi DTP-1 diberikan pada umur 2 bulan, DTP-2 pada umur 4
bulan dan DTP-3 pada umur 6 bulan. Ulangan booster DTP selanjutnya diberikan satu
tahun setelah DTP-3 yaitu pada umur 18-24 bulan dan DTP-5 pada saat masuk
sekolah umur 5 tahun.
Pada booster umur 5 tahun harus tetap diberikan vaksin dengan komponen
pertusis (sebaiknya diberikan DTaP untuk mengurangi demam pasca imunisasi)
mengingat kejadian pertusis pada dewasa muda meningkat akibat ambang proteksi
telah sangat rendah sehingga dapat menjadi sumber penularan pada bayi dan anak.
DT-6 diberikan pada umur 10-12 tahun. Ulangan DT-6diberikan pada 18 tahun,
mengingat masih dijumpai kasus difteria pada umur lebihdari 10 tahun.
Dosis DTwP atau DTaP atau DT adalah 0,5 ml, intramuscular, baik untuk
imunisasi dasar maupun ulangan. Kombinasi toksoid difteria dan tetanus (DT) yang
mengandung 10-12 Lf dapat diberikan pada anak yang memiliki kontra indikasi
terhadap pemberian yang pertusis.
Kejadian ikutan pasca imunisasi DTP
Reaksi local kemerahan, bengkak dan nyeri pada lokasi injeksi terjadi pada separuh
penerima DTP.
Proporsi Demam ringan dengan reaksi local sama dan diantaranya dapat mengalami
hiperpireksia.
Anak gelisah dan menangis terus menerus selama beberapa jam paska suntikan
(inconsolable crying).
Dari suatu penelitian ditemukan adanya kejang demam sesudah vaksinasi yang
dihubungkan dengan demam yang terjadi.
Kejadian ikutan yang paling serius adalah terjadinya ensefalopati akut atau reaksi
anafilaksis dan terbukti disebabkan oleh pemberian vaksin pertusis.
Kontra indikasi
Saat ini didapatkan tiga hal yang diyakini sebagai kontra indikasi mutlak
terhadap pemberian vaksin pertusis baik whole cell maupun acelular., yaitu :
Anafilaksis pada pemberian vaksin sebelumnya.
Ensefalopati sesudah pemberian vaksin pertusis sebelumnya.
Keadaan lain dapat dinyatakan sebagai perhatian khusus (precaution). Misalnya
pemberian vaksin pertusis berikutnya bila pada pemberian pertamadijumpai riwayat
hiperpireksia, keadaan hipotonik-hiporesponsif dalam 48 jam, anak menangis terus
menerus selama 3 jam dan riwayat kejang dalam 3 hari sesudah imunisasi DTP.
Vaksin pertusis a-seluler
Vaksin pertusis aseluler adalah vaksin pertusis yang berisi komponen spesifik
toksin dari Bordetellapertusis yang dipilih sebagai dasar yang berguna dalam
patogenesis pertusis dan perannya dalam memicu antibody yang berguna untuk
pencegahan terhadap pertusis secara klinis.
6. Imunisasi HIB
Sesuai namanya, imunisasi ini bermanfaat untuk mencekal kuman HiB
(Haemophyllus influenzae type B).
Jenis vaksin
Terdapat dua jenis vaksin Hib konjungat yang beredar di Indonesia yaitu
vaksin Hib yang berisi PRP-T (capsular polysaccharide polyriibosyl ribitol
phosphate-konjugasi dengan protein tetanus) dan PRP-OMP (PRP berkonjugasi outer
membrane protein complex).
Jadwal imunisasi
Vaksin Hib yang berisi PRT-P diberikan umur 2,4, dan 6 bulan.
Vaksin Hib yang berisi PRP-OMP diberikan pada umur 2 dan 4 bulan, dosis ketiga (6
bulan) tidak diperlukan.
Vaksin Hib baik PRT-P ataupun PRP-OMP perlu diulang pada umur 18 bulan (sekitar
1 tahun setelah suntikan terakhir).
Apabila anak datang pada umur 1-5 tahun, Hib hanya diberikan satu kali.
Vaksin Hib dapat diberikan dalam bentuk vaksin kombinasi
(DTwP/Hib,DTaP/Hib/IPV)
Dosis
Satu dosis Hib berisi 0,5 ml diberikan secara intramuscular.
Tersedia vaksin kombinasi (DTwP/Hib, DTaP/Hib, DTaP/Hib/IPV) vaksin kombinasi
yang beredar berisi vaksin Hib PRT-P dalam kemasan prefilled syringe 0,5 ml.
Kejadian ikutan pasca imunisasi Hib
Belum ada laporan komplikasi yang terjadi pasca suntikan vaksin Hib.
Kontra indikasi
Vaksin Hib tidak boleh diberikan pada bayi dibawah umur 2 bulan karena bayi
tersebut belum dapat membentuk antibodi.

7. Imunisasi PCV
Jenis imunisasi ini tergolong baru di Indonesia. PCV atau Pneumococcal
Conjugate Vaccine alias imunisasi pneumokokus memberikan kekebalan terhadap
serangan penyakit IPD (Invasive Peumococcal Diseases), yakni meningitis (radang
selaputotak), bakteremia (infeksi darah), dan pneumonia (radang paru). Ketiga
penyakit ini disebabkan kuman Streptococcus Pneumoniae atau Pneumokokus yang
penularannyalewat udara.
Jenis vaksin
Terdapat 2 jenis vaksin pneumokokus yang beredar di Indonesia, yaitu vaksin
pneumokokus polisakarida berisi polisakarida murni, 23 serotipe disebut
pneumococus polysaccharide vaccine (PPV23). Vaksin pneumokokus generasi kedua
berisi vaksin polisakarida konjungasi, 7 serotipe disebut pneumococcal
conjungatevaccine (PCV7).Vaksin PCV7 dikemas dalam prefilled syringe 0,5 ml
diberikan intramuskular.
Jadwal imunisasi
Dosis pertama tidak berikan sebelum umur 6 minggu.
Diberikan pada bayi umur 2, 4, 6 bulan dan diulang pada umur 12-15 bulan.
Interval antara dua dosis adalah 4-8 minggu.
Dapat diberikan bersama vaksin lain. Untuk setiap vaksin pada sisi badan yang
berbeda.
Kejadian ikutan pasca imunisasi PCV
Lokal berupa eritema, bengkak, indurasi dan nyeri di bekas tempat suntikan.
Sistemik berupa demam, gelisah, pusing, tidur tidak tenang, napsu makan menurun,
muntah, diare, urtikaria.
Reaksi berat seperti reaksi anafilaksis jarang ditemukan.
Reaksi KIPI akan menghilang dalam 3 hari.



8. Imunisasi MMR
Memberikan kekebalan terhadap serangan penyakit Mumps
(gondongan/parotitis), Measles (campak), dan Rubella (campak Jerman). Terutama
buat anak perempuan, vaksinasi MMR sangat penting untuk mengantisipasi
terjadinyarubela pada saat hamil. Sementara pada anak lelaki, nantinya vaksin MMR
mencegahagar tak terserang rubella dan menulari sang istri yang mungkin sedang
hamil.
Jadwal imunisasi
Toksin MMR diberikan pada umur 15 -18 bulan minimal interval 6
bulanantara imunisasi campak (9 bulan) dan MMR. Apabila seorang anak telah
mendapat imunisasi MMR pada umur 12 -18 bulan dan 5tahun, imunisasi campak
tambahan pada umur 6 tahun tidak perlu diberikan. Ulangan imunisasi MMR
diberikan pada umur 5-6 tahun.
Dosis
Dosis satu kali 0,5 ml secara intramuskular. MMR diberikan minimal satu
bulan sebelum atau setelah penyuntikan imunisasi lain.
Kejadian ikutan pasca imunisasi MMR
Malaise, demam, dan ruam terjadi setelah 1 minggu imunisasi dan berlangsung
selama 2-3 hari.
Trombositopenia biasanya kembali normal dengan sendirinya.
Pembengkakan kelenjar parotis pada 1% anak berusia sampai 4 tahun.
Kontra indikasi
Anak dengan penyakit keganasan atau gangguan imunitas.
Anak dengan alergi berat terhadap gelatin atau neomisin.
Anak demam akut, harus ditunda sampai penyakit ini sembuh.
Anak yang mendapat vaksin hidup lainnya dalam jangka waktu 4 minggu.
Setelah suntikan imunoglobulin atau transfusi darah, maka harus ditunda pemberian
vaksin MMR selama 3 bulan.
Wanita hamil.

9. Imunisasi Influenza
Jadwal dan Dosis
Vaksin influenza diberikan secara intramuskular pada anak umur 6 sampai 23 bulan,
baik anak sehat maupun dengan risiko (asma, penyakit jantung, penyakit sel sickle,
HIV,dan Diabetes).
Dosis tergantung umur anak,
Umur <3 tahun 0,25 ml.
Umur 3 tahun 0,5 ml.
Umur 8 tahun: untuk pemberian pertama kali diperlukan 2 dosis dengan interval
minimal 4 -6 minggu, pada tahun-tahun beriktunya hanya diberikan satu dosis.
Kejadian ikutan pasca imunisasi influenza
Nyeri, bengkak, sakit, dan kemerahan di tempat suntikan.
Demam, nyeri otot dan sendi, sakit kepala jarang terjadi.
Kontra indikasi
Pasien dengan riwayat Sindroma Guillain Barre.
Pasien dengan demam akut yang berat.
Individu yang alergi terhadap telur.
10. Imunisasi Tifoid
Jenis vaksin
Vaksin kapsuler Vi polisakarida
Tifoid oral Ty21a30
Dosis
Polisakarida 0,5 mL/dosis.
Oral: 1 kapsul lapis enterik atau 1 sachet.

Cara pemberian
Polisakarida : subkutan atau intramuskular satu kali.
Oral 3 kali selang sehari.
Jadwal imunisasi
Imunisasi dasar: Polisakasrida direkomendasikan diberikan pada umur >2 tahun.Oral
direkomendasikan diberikan pada umur > 6 tahundalam 3 dosis dengan interval dosis
selang sehari (hari 1, 3, 5) 1 jam sebelum makan.
Ulangan : Polisakarida diberikan setiap 3 tahun dan oral setiap 5 tahun.
Kejadian ikutan pasca imunisasi tifoid
Reaksi lokal ditempat suntikan : indurasi, nyeri 1-5 hari.
Reaksi sistemik : demam, malaise, sakit kepala, nyeri otot.
Kontra indikasi
Anak dengan demam.
Penyakit akut maupun kronik yang progresif.
Alergi terhadap bahan-bahan vaksin (polisakarida, fenol, natrium klorida, disodium
fosfat, monosodium fosfat).
11. Imunisasi Hepatitis A
Vaksin HepA diberikan pada umur lebih dari 2 tahun. Vaksin kombinasi HepB
atau HepA diberikan pada bayi kurang dari 12 bulan. Maka vaksin kombinasi
diindikasikan pada anak umur lebih dari 12 bulan terutama catch-up immunization,
yaitu mengejar imunisasi pada anak yang belum pernah mendapatkan imunisasi HepB
sebelumnya atau imunisasi HepB yang tidak lengkap.
Imunisasi Pasif
Normal human immune globulin (NHIg) diberikan sebagai upaya pencegahan setelah
kontak atau profilaksis pasca paparan. Diberikan tidak lebih dari 2 minggu setelah
paparan.
Imunoglobulin (Ig) diberikan secara intramuskular dalam dosis 0,002ml/kgBB. Pada
anak dan dewasa 5ml dan pada bayi <3ml.
Imunisasi Aktif
Kemasan liquid satu dosis/vial prefilled syringe 0,5 ml. Dosis pediatrik 720ELISA
units diberikan 2 kali dengan interval 6-18 bulan, intramuskular di daerahdeltoid.
Kombinasi HepB/HepA (berisi Hep B 10g dan Hep A 720 ELISA units) dalam
kemasan prefilled syringe 0,5 ml intramuskular. Dosis HDosis HepA untuk dewasa
(19 tahun) 1440 ELISA units dosis 1 ml, 2 dosis, interval 6-12 bulan.
Kejadian ikutan pasca imunisasi HVA
Reaksi lokal di tempat suntikan
Demam
12. Imunisasi Varicella
Memberikan kekebalan terhadap cacar air atau chicken pox, penyakit yang
disebabkan virus varicella zooster. Termasuk penyakit akut dan menular, yang
ditandai dengan vesikel (lesi/bintik berisi air) pada kulit maupun selaput lendir.
Jadwal imunisasi dan dosis
Pemberian imunisasi varicella pada remaja (13 tahun) yang belum pernah mendapat
imunisasi diberikan imunisasi 2 kali dengan jarak pemberian selama 1 bulan sebanyak
0,5 ml.
Diberikan mulai umur 1 tahun, dosis 0,5 ml secara subkutan, dosis tunggal.

Kejadian ikutan pasca imunisasi varicella
Bersifat lokal.
Sistemik seperti demam.
Muncul ruam papula-vesikel ringan.
Kontra indikasi
Pasien dengan demam tinggi.
Pasien dengan alergi neomisin.
Pasien dengan imunodefisiensi.
13. Vaksin Rotavirus (RV)
Beberapa merk yang umum untuk vaksin ini adalah RotaTeq (mengandung 5
strain rotavirus, G1,G2,G3,G4,G9, P1A) dan Rotarix (mengandung 1 jenis rotavirus,
tipe G1P). Pemberian vaksin ini adalah secara oral karena berbentuk cairan. Beberapa
anak biasanyamengalami muntah serta diare ringan setelah proses vaksinasi.
Jadwal imunisasi
Rotateq diberikan sebanyak 3 kali sejak bayi berumur 2 bulan, 4 bulan dan 6
bulan, sedangkan rotarix diberikan sebanyak 2 kali. Pemberiannya dengan cara
diteteskan per oral.
Untuk vaksin Rotarix dosis pertama diberikan saat umur 6-14 minggu, dosis
kedua diberikan dengan interval minimal 4 minggu. Sebaiknya vaksinasi Rotarix
selesai diberikan sebelum umur 16 minggu dan tidak melampaui umur 24 minggu.
Kejadian ikutan pasca imunisasi varicella
Demam, Feses berdarah
Gastroenteritis
Nyeri perut
Intususepsi
Kontra indikasi
Bayi dengan penyakit imunodefisiensi.
Bayi yang mendapat terapi aspirin atau obat yang mengandung aspirin.
Bayi yang mendapat obat antiretroviral.
14. Vaksin Human Papillomavirus (HPV)
Vaksin HPV yang telah beredar dibuat dengan teknologi rekombinan. Vaksin
HPV berpotensi untuk mengurangi angka morbiditas dan mortalitas yang
berhubungan dengan infeksi HPV genitalia.
Jenis vaksin
Terdapat 2 jenis vaksin HPV yaitu vaksin bivalen (tipe 16 dan 18, Cervarix)
dan vaksin quadrivalen (tipe 6, 11, 16 dan 18, Gardasil). Vaksin ini mempunyai
efikasi 96-100% untuk mencegah kanker leher rahim yang disebabkan oleh HPV tipe
16/18. Vaksin HPV telah disahkan oleh Food and Drug Administration (FDA) dan
Advisory Committee on Immunization Practices (ACIP) dan di Indonesia sudah
diizinkan badan POM RI.
Jadwal imunisasi dan dosis
Imunisasi vaksin HPV diperuntukkan pada anak perempuan dengan usia >10
tahun. Imunisasi diberikan dengan dosis 0,5 ml secara intramuskular pada
M.deltoideus.
Untuk vaksin HPV bivalen, imunisasi diberikan dengan jadwal 0, 1 dan 6 bulan.
Untuk vaksin HPV kuadrivalen, dengan jadwal 0, 2 dan 6.

Gambar 3: Jadwal imunisasi 2011-2012
7




Daftar Pustaka
Depkes R.I. 2004. Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor
1059/Menkes/SK/IX/2004 tentang Pedoman Penyelenggaraan Imunisasi. Jakarta:
Depkes RI.

Depkes R.I. 2005. Modul 1 Pelatihan Safe Injection, Pengenalan Penyakit dan Vaksin
Program Imunisasi. Diperbanyak oleh Dinkes Jateng.

Depkes R.I. 2005. Modul 2 Pelatihan Safe Injection, Penanganan Peralatan Rantai Vaksin
dan Vaksin. Diperbanyak oleh Dinkes Jateng.

Depkes R.I. 2005. Modul 3 Pelatihan Safe Injection, Perencanaan Program Imunisasi.
Diperbanyak oleh Dinkes Jateng.

Depkes R.I. 2005. Modul 4 Pelatihan Safe Injection, Penyuntikan yang Aman (Safe
Injection). Diperbanyak oleh Dinkes Jateng.

Depkes R.I. 2006. Modul Pelatihan Tenaga Pelaksana Imunisasi Puskesmas. Jakarta: Depkes
RI.

Ranuh IGN, dkk. Pedoman Imunisasi di Indonesia. Jakarta: Satgas Imunisasi
Ikatan Dokter Anak Indonesia; 2008.

Wahab, A.S., Julia, M. 2002. Sistem Imun, Imunisasi, dan Penyakit Imun,
Jakarta: Widya Medika
World Health Organization. Immunization 2011. World Health Organization; 2011[Diakses
pada tanggal 20 September 2014]. Available from URL: HIPERLINK
.http://www.who.int/immunization_monitoring/data/en/.