Anda di halaman 1dari 17

LAPORAN PRAKTIKUM

FISIOLOGI VETERINER DAN SATWA AKUATIK II













NAMA : ANITAWATI UMAR
NIM : O111 12 252







PROGRAM STUDI KEDOKTERAN HEWAN
FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS HASANUDDIN
TAHUN 2014
LEMBAR PENGESAHAN

Nama Mahasiswa : ANITAWATI UMAR
NIM : O111 12 252
Nama Asisten : ANDI FUTRI FEBRIANI
Waktu Asistensi






Makassar, ..........................2014
Asisten Praktikan


<ttd>


<ttd>
<Andi Futri Febriani> <Anitawati Umar>
No. Jadwal Asistensi Saran Perbaikan Paraf Asisten



JUDUL PRAKTIKUM



TUJUAN PRAKTIKUM




RUANG LINGKUP PRAKTIKUM












Darah
- Untuk mengetahui sifat fisik darah dengan metode preparat darah natif, waktu
beku darah, waktu pendarahan, hemolisis darah.
- Untuk mengetahui kadar Hb sel darah merah dengan metode Sahli
- Untuk mengetahui sel darah putih dengan metode apus darah dan diferensiasi
BDP
Pada praktikum ini mencakup tentang :
- Sifat fisik darah dengan metode preparat darah natif, waktu beku darah, waktu
pendarahan, dan hemolisis darah
- Menghitung kadar Hb sel darah merah dengan metode Sahli
- Mengetahui sel darah putih dengan metode apus darah dan diferensiasi BDP
TINJAUAN PUSTAKA





















Darah adalah cairan yang terdapat pada hewan tingkat tinggi yang berfungsi
sebagai alat transfortasi zat seperti oksigen, bahan hasil metabolisme tubuh, pertahanan
tubuh dari serangan kuman, dll. Darah dianggap sebagai semacam modifikasi jaringan
ikat, karena unsur selnya dipisahkan oleh banyak substansi intrasel, dan karena
beberapa selnya mempunyai persamaan dengan sel dalam jaringan ikat sejati. Beda
halnya dengan tumbuhan, manusia dan hewan level tinggi punyas sistem transformasi
dengan darah ( Campbell, 2003 ).
Darah adalah suatu jaringan bersifat cair. Darah terdiri dari sel-sel dan fragmen-
fragmen sel) yang terdapat secara bebas dalam medium yang bersifat seperti air, ialah
plasma. Sel-sel dan fragmen-fragmen sel merupakan unsur-unsur darah yang disebut
unsur jadi. Sel-sel ini cukup besar sehingga dapat diamati dengan mikroskop biasa. Ada 3
tipe unsur jadi ialah sel-sel darah merah atau eritrosit, sel-sel darah putih atau leukosit
dan keping-keping darah atau trombosit (Kimball, 1992).
Hemoglobin merupakan protein yang terdapat dalam sel darah merah atau
eritrosit, yang memberi warna merah pada darah. Hemoglobin terdiri atas zat besi yang
merupakan pembawa oksigen. Kadar hemoglobin dapat ditetapkan dengan berbagai cara,
antara lain metode Sahli, oksihemoglobin atau sianmethhemoglobin. Metode Sahli tidak
dianjurkan karena memiliki kesalahan yang besar, alatnya tidak dapat distandardisasi, dan
tidak semua jenis hemoglobin dapat diukur, seperti sulfhemoglobin, methemoglobin dan
karboksihemoglobin. Dua metode yang lain (oksihemoglobin dan sianmethemoglobin)
dapat diterima dalam hemoglobinometri klinik. Namun, dari dua metode tersebut, metode
sianmethemoglobin adalah metode yang dianjurkan oleh International Commitee for
Standardization in Hematology (ICSH) sebab selain mudah dilakukan juga mempunyai
standar yang stabil dan hampir semua hemoglobin dapat terukur, kecuali sulfhenoglobin
(Subowo, 1992).
Eritrosit adalah sel gepeng berbentuk piringan yang di bagian tengah di kedua
sisinya mencekung, seperti sebuah donat dengan bagian tengah menggepeng bukan
berlubang (eritrosit adalah lempeng bikonkaf dengan garis tengah 7m, tepi luar lebarnya
2 m dan bagian tengah tebalnya 1 m). Bentuk khas ini ikut berperan melalui dua cara,
terhadap efisiensi eritrosit melakukan fungsi mereka mengangkut O
2
dalam darah.
Pertama, bentuk bikonkaf menghasilkan luas permukaan yang lebih besar bagi difusi O
2























menembus membran daripada yang dihasilkan oleh sel bulat dengan volume yang sama.
Kedua, tipisnya sel memungkinkan O
2
berdifusi secara lebih cepat antara bagian paling
dalam sel dengan eksteriornya ( Sloane, 2003 ).
Leukosit adalah sel darah yang mengandung inti, disebut juga sel darah putih.
Leukosit mempunyai peranan dalam pertahanan seluler dan humoral organisme terhadap
zat-zat asingan. Didalam darah manusia, normal didapati jumlah leukosit rata-rata 6000-
10000 sel/mm
3
, bila jumlahnya lebih dari 12000, keadaan ini disebut leukositosis,
bilakurang dari 5000 disebut leukopenia ( Guyton, 1995 ).
Leukosit merupakan kelompok sel dari beberapa jenis. Untuk klasifikasinya
didasarkan pada morfologi inti adanya struktur khusus dalam sitoplasmanya. Dilihat
dalam mikroskop cahaya maka sel darah putih dapat dibedakan yaitu :
1. 1. Granulosit, yaitu leukosit yang mempunyai granula spesifik, yang dalam keadaan hidup
berupa tetesan setengah cair, dalam sitoplasmanya dan mempunyai bentuk inti yang
bervariasi. Terdapat tiga jenis leukosit granuler yaitu neutrofil, basofil,dan asidofil (atau
eosinofil) yang dapat dibedakan dengan afinitas granula terhadap zat warna netral, basa
dan asam.
2. 2. Agranulosit yang tidak mempunyai granula spesifik, sitoplasmanya homogen dengan
inti bentuk bulat atau bentuk ginjal. Terdapat dua jenis leukosit agranuler yaitu limfosit
(sel kecil, sitoplasma sedikit) dan monosit (sel agak besar mengandung sitoplasma lebih
banyak) ( Syaifuddin, 1992 ).
Plasma adalah bagian cair darah dan sebagian besar tersusun oleh air. Sekitar 91%
plasma darah terdiri atas air. Selebihnya adalah zat terlarut yang terdiri dari protein plasma
(albumin, protrombin, fibrinogen, dan antibodi), garam mineral, dan zat-zat yang diangkut
darah (zat makanan, sisa metabolisme, gas-gas, dan hormon) ( Waluyo, 2013 ).
Plasma darah adalah komponen darah berbentuk cairan berwarna kuning yang
menjadi medium sel-sel darah, dimana sel darah ditutup. 55% dari jumlah/volume darah
merupakan plasma darah. Volume plasma darah terdiri dari 90% berupa air dan 10%
berupa larutan protein, glukosa, faktor koagulasi, ion mineral, hormon dan karbon
dioksida. Plasma darah juga merupakan medium pada proses ekskresi ( Yatim, 1987 ).
Senyawa atau zat-zat kimia yang larut dalam cairan darah antara lain sebagai
berikut :
1) 1. Sari makanan dan mineral yang terlarut dalam darah, misalnya monosakarida, asam
lemak, gliserin, kolesterol, asam amino, dan garam-garam mineral.


























2. Enzim, hormon, dan antibodi, sebagai zat-zat hasil produksi sel-sel.
3. 3. Protein yang terlarut dalam darah, molekul-molekul ini berukuran cukup besar sehingga
tidak dapat menembus dinding kapiler.
4. 4. Urea dan asam urat, sebagai zat-zat sisa dari hasil metabolisme.
5. 5. O
2
, CO
2
, dan N
2
sebagai gas-gas utama yang terlarut dalam plasma ( Benyamin, 1978 ).

Fungsi plasma darah adalah mengangkut sari makanan ke sel-sel serta membawa
sisa pembakaran dari sel ke tempat pembuangan serta menghasilkan zat kekebalan tubuh
terhadap penyakit atau zat antibodi ( Isnaeni, 2006 ).
Bagian plasma darah yang mempunyai fungsi penting adalah serum. Serum
merupakan plasma darah yang dikeluarkan atau dipisahkan fibrinogennya dengan cara
memutar darah dalam sentrifuge. Serum tampak sangat jernih dan mengandung zat
antibodi. Antibodi ini berfungsi untuk membinasakan protein asing yang masuk ke dalam
tubuh. Protein asing yang masuk ke dalam tubuh disebut antigen ( Isnaeni, 2006 ).




MATERI DAN METODE





















Alat dan bahan yang digunakan :
Alat : Jarum Franckle, hemositomete set, mikroskop, hemometer Sahli, jarum pentul,
hematokrit, gelas objek dan cover, stopwatch.
Bahan : Darah, larutan hayem, larutan turk, aquades, alkohol, kertas saring, cat giemsa,
larutan Rees Ecker, NaCl 0,3 M, HCl 0,1 M, Reagen wintrob.

Metode Kerja :
Preparat darah natif
- Disediakan satu preparat kaca yang bersih dari lemak dan diteteskan NaCl
fisiologis tetes di atasnya, kemudian diteteskan darah 1/5 tetes ( atau dengan
batang korek api diambil darah ) diaduk dengan ujung pipet atau batang korek,
setelah rata ditutup dengan kaca penutup.
- Meletakkan di bawah mikroskop ( posisi mikroskop tidak boleh miring ) dan
mengamati dengan pembesaran 10x, 250x dan 400x. Diperhatikan apa yang
terlihat ( menggambar sel darah merah dan putih 1-3 sel dan mikroorganisme
bila ada ).

Waktu beku darah
- Tusuklah dengan jarum Frankle keujung jari probandus yang telah disterilkan
dengan alkohol dan bersamaan dengan itu tekanlah stopwatch.
- Letakkan 2-3 tetes darah diatas gelas objek.
- Tusuklah darah tersebut dan kemudian angkatlah dengan jarum pentul.
- Lakukanlah hal tersebut setiap 30 detik sekali sampai tampak adanya benang
fibrin.
- Catatlah waktunya.

Hemolisis darah
- Mengambil darah dari jari dengan lanset atau jarum Frankle, sediakan kaca
objek yang dieri label A dan B. Teteskan pada 2 buah kaca benda, masing-
masing 1 tetes.






















- Menambahkan 2 tetes larutan NaCl 0,3 M pada kaca A ( Krenasi ).
- Menambahkan 2 tetes larutan HCl 0,1 M pada kaca B ( Hemolisis ).
- Menutup masing-masing kaca benda dengan kaca penutup, kemudian
mengamati dibawah mikroskop.
- Catat dan gambar hasilnya.
Kadar Hb dengan metode Sahli
- Dalam metode ini digunakan hemometer Sahli. Hemometer ini mengukur kadar Hb
dalam 100 cc darah.
- Isilah ke dalam tabung pengukur 0,1 N HCl sampai tanda 2 gram % (garis pada
tabung paling bawah).
- Bersikan ujung jari yang akan ditusuk dengan alkohol untuk kemudan ditusuk
dengan jarum Franckle.
- Hisaplah darah sebanyak 20 mm
3
darah ke dalam pipet kapiler sampai tepat pada
garis.
- Usaplah darah yang tercecer di ujung pipet dengan kertas saring dan tiuplah darah
kedalam tabung pengukur sampai seluruh darah tercampur dengan HCl. Campuran
sempurna akan diperoleh dengan menghisap dan meniup campuran larutan darah
HCl berulang kali dengan menggunakan pipet kapiler tersebut.
- Biarkan selama 3 menit agar terbentuk asam hematin yang berwarna coklat.
Larutan yang berwarna coklat tua akan segera menjadi bening dalam waktu
beberapa menit.
- Teteskan aquades dengan pipet air dan aduk pelan-pelan dengan warna standart di
sebelah kanan-kiri tabung pengukur.
- Bacalah tinggi permukaan cairan dalam tabung pengukur yaitu dalam gr ( yakni gr
Hb dalam 100 cc darah) dan dalam % (presentase hb dihitung dibandingkan
dengan Hb normal digunakan ukuran 15,6 gr Hb dalam 100 cc darah).
Sediaan apus darah dan diferensiasi BDP
1. Sedian apus darah
- Teteskan darah dalam gelas objek.
- Ambil gelas objek yang lain dan tempelkan ujungnya pada tetesan tersebut dengan
sudut 45
o
. Keringkan.



- Preparat apus darah yang sudah kering ditetesi dengan larutan metylalkohol selam
3-5 detik. Keringkan..
- Teteskan larutan giemsa selama 30-40 detik.
- Cuci dengan air sampai bersih , lalu keringkan.
- Amati di bawah mikroskop.

2. Differensiasi BDP
- Dari preparat apus yang sudah dicat, periksa di bawah mikroskop dengan cara
zigzag.
- Hitung tiap macam sel yang terlihat sampai mencapai 100.
- Dicari presentase relatif dari setiap macam sel leukosit.

Waktu pendarahan
- Tusuklah dengan jarum Frankle ujung jari probandus yang telah disterilkan
dengan alcohol dan bersamaan dengan itu tekanlah stopwatch.
- Tempelkan kertas saring pada luka tersebut tiap 30 detik dengan tempat
penempelan darah yang pertama pada kertas saring jangan terlalu berjauhan.
- Hentikan penempelan pada saat menghasilkan bintik darah yang sangat kecil.
- Catat waktu yang diperlukan untuk itu.



HASIL DAN PEMBAHASAN
Dari percobaan yang dilakukan didapatkan hasil :
Preparat darah natif










Waktu beku darah
o Nama : Khaidir Umar
o Umur : 19 tahun
o Jenis kelamin : Laki-laki
o Waktu beku darah : 2 menit 50 detik (30 detik ke-5)
Waktu pendarahan
o Nama : Khaidir Umar
o Umur : 19 tahun
o Jenis kelamin : Laki-laki
o Waktu perdarahan : 1 menit
Hemolisis darah
Pada kaca A NaCl 0,3 M (Krenasi) : terlihat eritrosit mengkerut
Pada kaca B HCl 0,1 M (Hemolisis) : terlihat eritrosit membengkak dan pecah









Kadar Hb dengan metode Sahli
Darah yang telah dicampur dengan HCl 0,1 M dan ditetesi aquades memiliki warna
coklat. Namun, perubahan warna darah tersebut tidak sesuai dengan warna standar
yang ada pada sisi kanan dan kiri tabung pengukur hemometer Sahli.

Apus darah dan diferensiasi BDP










PEMBAHASAN
- Preparat darah natif
Menurut hasil praktikum mengenai preparat darah natif, didapatkan hasil
sebagai berikut: diperoleh atau terlihat jelas terdapat banyak sel darah merah
atau eritrosit, sel darah putih atau leukosit yang warnanya lebih terlihat ke
unguan dan jumlahnya yang tidak terlalu banyak dan trombosit atau keping-
keping darah yang jika diperbesar terlihat tidak teratur, ketiga jenis tersebut
merupakan komponen sel darah.























- Waktu pendarahan
Waktu pendarahan adalah waktu yang dibutuhkan kulit berdarah untuk berhenti
setelah penusukan kulit. Darah dihapus setiap 30 detik atau luka direndam dalam
larutan fisiologis. Dari hasil percobaan diatas menunjukkan hasil bahwa perdarahan
berhenti pada 1 menit pertama. Peningkatan waktu pendarahan setelah pemberian
bahan uji menunjukkan adanya efek antiagregasi platelet. Faktor-faktor yang
mempengaruhi proses pendarahan yaitu besar kecilnya luka atau umur, temperature
atau suhu, dalam menggunakan kertas saring yang terlalu ditekan atau dapat pula
oleh kadar kalsium dalam darah.
- Waktu beku darah
Proses koagulasi atau pembekuan darah terjadi ketika luka pada tubuh mulai
mengeluarkan darah hingga darah membentuk fibrin. Dari hasil percobaan diatas
waktu beku darah diperoleh 2 menit 50 detik. Sebuah enzim yang disebut
tromboplastin yang dihasilkan sel-sel jaringan yang terluka bereaksi dengan
kalsium dan protrombin di dalam darah. Akibat reaksi kimia, jalinan benang-
benang yang dihasilkan membentuk lapisan pelindung, yang kemudian mengeras.


- Hemolisis darah
Praktikum ini membahas tentang sifat fisik darah, sel darah merah, dan sel
darah putih. Saat dilakukan pengujian hemolisis darah langkah pertama yang
dilakukan yaitu darah diambil dari jari menggunakan jarum Franckle, kemudian
disediakan kaca objek yang diberi label A dan B. Selanjutnya darah diteteskan pada
2 buah kaca objek tersebut, masing-masing 1 tetes. Kaca objek berlabel A diteteskan
NaCl 0,3 M sebanyak 2 tetes. Kaca objek berlabel B diteteskan HCl 0,1 M, juga
sebanyak 2 tetes. Masing-masing kaca objek ditutup dengan cover glass, kemudian
diamati di bawah mikroskop.






















Hasil yang diperoleh yaitu pada preparat pertama yang telah di tetesi dengan
larutan NaCl 0,9% memperlihatkan warna merah terang dengan penampakan
eritrositnya yang mengkerut (krenasi). Hal ini menunjukkan bahwa eritrosit dalam
perlakuan kali ini mengalami proses krenasi yang disebabkan oleh larutan di luar
eritrosit bersifat hipertonik, yang memaksa sitoplasma di dalam sel tertarik keluar
karena perbedaan tekanan osmosis di dalam dan di luar eritrosit. Konsentrasi air di
luar sel darah merah lebih rendah (larutan lebih pekat) dibandingkan konsentrasi air
di dalam sel darah, akibatnya air di dalam sel akan mengalir ke luar sel sehingga sel
mengalami krenasi (mengkerut).
Pada preparat kedua yang telah ditetesi oleh larutan HCl 0,1 N dan
ditambahkan berapa tetes darah memperlihatkan warna merah kecoklatan dengan
penampakan eritrositnya yang bengkak. Hal ini menunjukkan bahwa eritrosit dalam
perlakuan kali ini mengalami proses hemolisis yang disebabkan oleh larutan di luar
eritrosit bersifat hipotonis sehingga larutan di luar sel menembus membran plasma
eritosit yang berada dalam kondisi yang hipertonis menyebabkan eritrosit
membengkak kemudian nantinya akan pecah(lisis). Kejadian ini berlangsung di
sebabkan eritrosit dalam suatu mahluk hidup selalu berusaha berada dalam kondisi
yang homeostasis (seimbang), sehingga mendorong sel untuk melakukan transport
antar membran. Konsentrasi air di luar sel darah merah lebih tinggi dibandingkan
konsentrasi air di dalam sel darah, akibatnya air akan mengalir terus menerus ke
dalam sel sehingga sel mengalami hemolisis (pecah). Sel darah yang mengalami
hemolisis sudah tidak memiliki bentuk yang tetap.
Kadar Hb dengan metode Sahli
Penghitungan kadar Hb dengan metode Sahli menggunakan alat hemometer
Sahli untuk pengukuran kadar Hb. Hemometer ini mengukur kadar Hb dalam 100
cc darah. Sampel darah yang digunakan pada metode ini adalah sampel darah ayam.
Langkah yang dilakukan yaitu tabung pengukur diisi dengan HCl 0,1 M sampai
tanda 2 gram % (garis pada tabung paling bawah). Sampel darah ayam dihisap
sebanyak 20 mm
3
darah menggunakan pipet kapiler sampai tepat pada garis. Darah
yang tercecer di ujung pipet diusap menggunakan tissue kering, kemudian darah
ditiup ke dalam tabung pengukur yang berisi HCl 0,1 M selanjutnya diaduk sampai
seluruh darah tercampur dengan HCl.
































Campuran dibiarkan selama 3 menit agar terbentuk asam hematin yang
berwarna coklat. Setelah 3 menit campuran ditetesi aquades sebanyak 3 tetes
menggunakan pipet air dan diaduk pelan-pelan. Warna yang tampak pada
campuran dibandingkan dengan warna standart di sebelah kanan dan kiri tabung
pengukur. Tinggi permukaan cairan dalam tabung pengukur dibaca yaitu dalam
gr (yakni gr Hb dalam 100 cc darah) dan dalam % (presentase Hb dihitung
dibandingkan dengan Hb normal digunakan ukuran 15,6 gr Hb dalam 100 cc
darah).
Hasil yang diperoleh yaitu campuran berwarna coklat, namun warna yang
terbentuk pada campuran tidak sesuai dengan warna standar yang ada di sebelah
kanan dan kiri tabung pengukur. Hal ini dapat disebabkan sampel darah yang
diambil terlalu sedikit sehingga warna yang terbentuk pada campuran lebih muda
dibandingkan dengan warna standar. Sedangkan tinggi permukaan cairan dalam
tabung pengukur yaitu 6 gram %.
Untuk menghitung MCV (Mean Corpuscular Volume) digunakan rumus :
Hasil yang diperoleh yaitu
= 900 %
Untuk menghitung MCHC (Mean Corpuscular Haemoglobin Concentration)
digunakan rumus :
Hasil yang diperoleh yaitu :
= 6,6 %
























Apus darah dan diferensiasi BDP
Pada percobaan apus darah dan diferensiasi BDP menggunakan darah anjing
(mamalia) dan ayam ( unggas ) dilakukan pengapusan dengan cara menaruh tetesan
darah dari anjing dan ayam masing-masing diatas object glass, lalu object glass yang
lainnya digunakan untuk mengapus tetesan darah tersebut. Apusan yang baik yaitu
apusan yang setipis mungkin agar tampak jelas ketika dilihat dibawah mikroskop. Hasil
apusan kemudian dikeringkan lalu ditetesi metyl alkohol. Kemudian dikeringkan
kembali dan diberi larutan giemsa untuk pewarnaan. Setelah itu dikeringkan kembali
lalu diamati dibawah mikroskop. Hasil pengamatan ditemukan beberapa perbedaan
antara sel darah pada unggas ( ayam ) dan mamalia ( anjing ). Leukosit unggas memiliki
trombosit dan berinti, eritrositnya berbentuk oval dan berinti. Sedangkan leukosit pada
mamalia trombositnya tidak memiliki inti, eritrosit berbentuk bundar/cekung dan tidak
memiliki inti.
RANGKUMAN





















Dari percobaan mengenai darah dapat disimpulkan bahwa :
Pada metode natif terlihat sel darah merah dalam jumlah yang banyak, sel darah
putih sedikti serta trombosit yang apabila diperbesar bentuknya tidak teratur. Pada
percobaan waktu pendarahan terjadi efek antiagregasi platelet karena peningkatan waktu
pendarahan setelah pemberian bahan uji. Pada percobaan waktu beku darah ada sebuah
enzim yang disebut tromboplastin yang dihasilkan sel-sel jaringan yang terluka bereaksi
dengan kalsium dan protrombin di dalam darah. Akibat reaksi kimia, jalinan benang-
benang yang dihasilkan membentuk lapisan pelindung, yang kemudian mengeras.
Pada percobaan hemolisis darah, pada kaca objek berlabel A yang diteteskan NaCl
0,3 M sel darah mengalami krenasi. Hal ini terjadi karena larutan NaCl menyebabkan
kondisi hipertonik di luar sel darah merah. Konsentrasi air di luar sel darah merah lebih
rendah dibandingkan konsentrasi air di dalam sel darah, akibatnya air di dalam sel akan
mengalir ke luar sel sehingga sel mengalami krenasi. Pada kaca objek berlabel B yang
diteteskan HCl 0,1 M sel darah mengalami hemolisis. Hal ini terjadi karena larutan HCl
menyebabkan kondisi hipotonik di luar sel darah merah. Konsentrasi air di luar sel darah
merah lebih tinggi dibandingkan konsentrasi air di dalam sel darah, akibatnya air akan
mengalir terus menerus ke dalam sel sehingga sel mengalami hemolisis.
Pada percobaan kadar hb dengan metode Sahli, campuran darah dan HCl berwarna
coklat, namun warna yang terbentuk pada campuran tidak sesuai dengan warna standar.
Hal ini dapat disebabkan sampel darah yang diambil terlalu sedikit sehingga warna yang
terbentuk pada campuran lebih muda dibandingkan dengan warna standar. Sedangkan
tinggi permukaan cairan dalam tabung pengukur yaitu 6 gram %.
Pada percobaan apus darah dan diferensiasi BDP ditemukan beberapa perbedaan
antara sel darah unggas dan mamalia. Leukosit unggas memiliki trombosit dan berinti,
eritrositnya berbentuk oval dan berinti. Sedangkan leukosit pada mamalia trombositnya
tidak memiliki inti, eritrosit berbentuk bundar/cekung dan tidak memiliki inti.


DAFTAR PUSTAKA

Benyamin, Ginting N. 1978. Gambaran Darah Sapi Frisian Holland di Bogor dan
Pontianak. Penyakit Hewan. 16 : 224-227.
Campbell et all. 2004. Biologi Edisi Kelima Jilid III. Erlangga: Jakarta
Guyton, Arthur C. 1995. Buku Ajar Fisiologi Kedokteran Edisi 7. Penerbit Buku
Kedokteran EGC.
Isnaeni, W. 2006. Fisiologi Hewan. Yogyakarta : Kanisius
Kimball, John.W. 1990. Biologi Edisi Kelima Jilid 2. Jakarta : Erlangga
Sloane, ethel. 2003, Anatomi dan Fisiologi untuk Pemula. Jakarta : EGC
Subowo. 1992. Histologi umum. Jakarta: PT. Bumi Aksara.
Syaifuddin B. Ac. 1992. Anatomi Fisiologi untuk siswa perawat. Penerbit Buku
Waluyo, Joko dkk. 2013. Petunjuk Praktikum Biologi Dasar. Jember : unej
Yatim,Wildan. 1987. Biologi. Bandung : Tarsito