Anda di halaman 1dari 8

MENTERI PERTAMBANGAN

REPUBLIK INDONESIA

PERATURAN MENTERI PERTAMBANGAN
No. 05/P/M/PERTAMB/1977

TENTANG
KEWAJIBAN MEMILIKI SERTIFIKAT KELAYAKAN KONSTRUKSI UNTUK
PLATFORM MINYAK DAN GAS BUMI DI DAERAH LEPAS PANTAI


MENTERI PERTAMBANGAN,

Menimbang : a. bahwa untuk menjamin keamanan dan keselamatan kerja pada
platform minyak dan gas bumi di daerah lepas pantai, dianggap
perlu setiap platform memiliki Sertifikat Kelayakan Konstruksi;

b. bahwa untuk keperluan tersebut, dianggap perlu untuk mengatur
tata cara pemeriksaan teknis platform ter-sebut dengan suatu
Peraturan Menteri;

Mengingat : 1. Pasal 16 Undang-undang No.44 prp tahun 1960
(L.N. tahun 1960 No. 133.T.L.N. No. 2070);
2. Pasal 1 ayat (3) Undang2 No. 8 tahun 1971
(L.N. tahun 1971 No. 76 T.L.N. No. 2971);
3. Pasal 6 Undang2 No. 1 tahun 1973
(L.N. tahun 1973 No. 1, T.L.N. No. 2994);
4. Pasal 183 Mijnordounantie 1930 (Sb. 1930 No. 38);
5. Mijnpolitie Reglement 1930 (Sb. 1930 No. 341);
6. Peraturan Pemerintah No. 17 tahun 1974
(L.N. tahun 1974 No. 20, T.L.N. No. 3031);
7. Keputusan Presiden No. 9 tahun 1973 tanggal 28 Maret 1973;
8. Keputusan Menteri Pertambangan No. 204 tahun 1975 tanggal 30
April 1975;


M E M U T U S K A N :

Menetapkan : PERATURAN MENTERI PERTAMBANGAN TENTANG KEWAJIBAN MEMILIKI
SERTIFIKAT KELAYAKAN KONSTRUKSI UNTUK PLATFORM MINYAK DAN GAS
BUMI DI DAERAH LEPAS PANTAI.
- 2



Pasal 1

Yang dimaksudkan dengan platform minyak dan gas bumi di daerah lepas
pantai dalam Peraturan Menteri ini, selanjutnya disebut platform, adalah
setiap bangunan di atas dan atau di bawah air, yang dipasang secara tetap
dan digunakan untuk operasi minyak dan gas bumi di daerah lepas pantai.

Pasal 2

(1) Setiap platform termasuk yang sedang didirikan dan yang sudah berdiri
sebelum berlakunya Peraturan Menteri ini, harus memiliki Sertifikat
Kelayakan Konstruksi yang di keluarkan oleh Departemen Pertambangan cq
Direktorat Jenderal Minyak dan Gas Bumi setelah diadakan pemeriksaan
teknis atas platform tersebut.

(2) Pemeriksaan teknis atas platform dilakukan oleh Direkto-rat Jenderal
Minyak dan Gas Bumi cq Direktorat Minyak dan Gas Bumi atau dengan
bantuan pihak atau pihak-pihak ke-tiga yang ditunjuk Direktorat Minyak
dan Gas Bumi.

Pasal 3

Jenis pemeriksaan teknis atas platform antara lain meli-puti segi-segi
sebagai berikut :
A. Penilaian perencanaan (design appraisal).
1. Untuk keperluan penilaian diperlukan keterangan-keterangan antara
lain :
a. Batas umur yang direncanakan (designed life expectan-cy) ;
b. Data lingkungan termasuk dasar laut ;
c. Gambar perencanaan ;
d. Spesifikasi perencanaan ;
e. Perhitungan perencanaan ;
f. Data mengenai tiang perancang ;
g. Toleransi untuk pertumbuhan binatang dan tumbuh-tumbuhan laut
(fouling) ;
h. Cara pencegahan terhadap korosi ;
i. Material yang digunakan dalam konstruksi ;
j. Spesifikasi pengelasan sambungan-sambungan las ;
k. Petunjuk operasi (operations manual).


- 3




2. Pemeriksaan atas perencanaan (design) antara lain untuk mengetahui
:
a. Faktor keamanan (safety factor) dari konstruksi dan pondasi
termasuk faktor keamanan dalam keadaan laut yang terburuk yang
mungkin terjadi dalam setiap jangka waktu 100 (seratus) tahun
(on hundred year return period) ;
b. Daya tahan terhadap kelelahan bahwa (fatigue life estimation) ;
c. Daya tahan terhadap gempa bumi dan pergusuran oleh pengaruh-
pengaruh lain ;
d. Daya tahan terhadap getaran (vibration).

B. Pemeriksaan fisik terdiri atas antara lain :
a. Penelitian umum untuk menilai keadaan umum platform dan dalam hal
platform baru, untuk menentukan sesuai tidak-nya platform dengan
perencanaan dan baik tidaknya cara pembuatan (workmanship) dan
pendirian platform ;
b. Pemeriksaan di dasar laut antara lain untuk menentukan pengausan
setempat ;
c. Pemeriksaan atas bagian-bagian platform di daerah se-kitar
permukaan air (splash zone) ;
d. Pemeriksaan sambungan-sambungan las untuk mengetahui kemungkinan
retak ;
e. Pemeriksaan ketebalan material pada bagian-bagian platform untuk
mengetahui kemungkinan korosi ;
f. Pemeriksaan sambungan pada bagian-bagian platform untuk mengetahui
kemungkinan deteriosasi, rusak dan retak ;
g. Pemeriksaan atas sistem pencegahan korosi ;
h. Penelitian atas laporan-laporan kecelakaan ;
i. Penelitian atas laporan pemeriksaan berkala yang di laksanakan oleh
perusahaan yang menggunakannya ;
j. Pemeriksaan khusus atas kerusakan pada platform yang pernah terjadi
dan perbaikan-perbaikan yang pernah di-laksanakan.

Pasal 4
(1) Pelaksanaan pemeriksaan teknis atas platform diperinci sebagai berikut
:
a. Pemeriksaan Permulaan ;
b. Pemeriksaan Berkala ;
c. Pemeriksaan Khusus.

(2) A. Pemeriksaan Permulaan untuk platform baru terdiri dari:
- 4



a. Penilaian perencanaan ;
b. Pemeriksaan pada waktu platform didirikan untuk me-nilai sesuai
tidaknya perakitan platform dengan perencanaan ;
c. Pemeriksaan pada waktu platform didirikan untuk menilai apakah
pendirian platform serta pondasinya tidak mengalami kelainan
yang dapat mempengaruhi ke kuatan, umur dan kegunaannya.

B. Pemeriksaan Permulaan untuk platform yang sedang didi-rikan dan
yang sudah berdiri sebelum berlakunya Peraturan Menteri ini terdiri
dari :
a. Penilaian perencanaan ;
b. Pemeriksaan fisik termaksud dalam Pasal 3 huruf B.

C. Untuk menjamin kelancaran pembangunan platform baru, penilaian
perencanaan dapat diatur secara bertahap dengan cara pengajuan
bagian demi bagian dari perencanaan disesuaikan dengan perkembangan
perencanaan platform termaksud.
Pemeriksaan secara bertahap dapat pula diterapkan untuk
pemeriksaan-pemeriksaan pada saat platfrom dirakit dan didirikan.

(3) Pemeriksaan Berkala diatur sebagai berikut :
a. Pemeriksaan Kecil dilaksanakan selambat-lambatnya 1 (satu) tahun
dan 3 (tiga) tahun setelah tanggal pe-meriksaan Permulaan atau
tanggal Pemeriksaan Lengkap terakhir, yang meliputi sekurang-
kurangnya pemeriksaan atas bagian-bagian platform di daerah sekitar
permukaan air (splash zone) dan semua riser.

b. Pemeriksaan Besar dilaksanakan selambat-lambatnya 2 (dua) tahun
setelah tanggal Pemeriksaan Permulaan atau tanggal Pemeriksaan
Lengkap terakhir, yang terdiri dari sekurang-kurangnya pemeriksaan
tersebut pada huruf a di atas, pemeriksaan atas bagian-bagian
tertentu dari platform di bawah air untuk mengetahui kerusakan,
pertumbuhan binatang dan tumbuh-tumbuhan laut, korosi, pengausan
dan debris lainnya yang melekat pada konstruksi serta pemeriksaan
atas kemampuan sistim pencegahan korosi;

c. Pemeriksaan Lengkap dilaksanakan selambat-lambatnya 4 (empat) tahun
setelah tanggal Pemeriksaan Permulaan atau tanggal Pemeriksaan
Lengkap terakhir, yang meliputi sekurang-kurangnya pemeriksaan
termaksud dalam Pasal 3 huruf B.



Hanya apabila Direktorat Jenderal Minyak dan Gas Bumi menganggap
keadaan platform memuaskan berdasarkan hasil pemeriksaan-
pemeriksaan sebelumnya, maka Direktorat Jenderal Minyak dan Gas
- 5



Bumi dapat menentukan keri-nganan atas jenis-jenis pemeriksaan
termaksud dalam pasal 3 huruf B.

(4) Pemeriksaan Khusus dilaksanakan apabila :
a. platform mengalami kerusakan ;
b. diadakan perubahan atas platform ;
c. keadaan platform diragukan ;
d. diadakan pelaksanaan perbaikan dan perubahan prinsipiil atas
platform.
Untuk keperluan Pemeriksaan Khusus perusahaan yang meng-gunakan
platform wajib melaporkan kepada Direktorat Jenderal Minyak dan Gas
Bumi cq Direktorat Minyak dan Gas Bumi segala kerusakan yang timbul
dan perubahan prinsipiil yang akan dilaksanakan.

Pasal 5

(1) Sertifikat Kelayakan Konstruksi termaksud dalam pasal 2 diberikan
pertama kali sesudah dilaksanakan pemeriksaan atas platform dan hasil
memenuhi syarat keamanan dan keselamatan kerja.
Sertifikat tersebut berlaku untuk jangka waktu 4 (empat) tahun.

(2) Pemberian Sertifikat Kelayakan Konstruksi yang baru untuk setiap 4
(empat) tahun berikutnya dapat dipertimbangkan oleh Direktorat
Jenderal Minyak dan Gas Bumi apabila Pemeriksaan Berkala termaksud
dalam Pasal 4 ayat (4) dilaksanakan, sampai tercapainya batas umur
yang direnca-nakan untuk platform tersebut.
(3) Setelah batas umur yang direncanakan untuk platform tersebut
dilampaui, maka Direktorat Jenderal Minyak dan Gas Bumi dapat
mempertimbangkan untuk memberikan Sertifikat Kelayakan Konstruksi
untuk jangka waktu tertentu, apabila platform tersebut masih memenuhi
syarat.

Pasal 6

Permohonan pemeriksaan teknis atas platform harus di-ajukan oleh
perusahaan yang menggunakan platform kepada Direktorat Jenderal Minyak dan
Gas Bumi dengan disertai :
a. Lokasi platform dalam wilayah kerja/wilayah kuasa pertam-bangan
perusahaan yang bersangkutan ;

b. Nama penanggung jawab platform ;
c. Maksud penggunaan platform ;
d. Data termaksud dalam Pasal 3 huruf A angka 1 ;
- 6



e. Data lain yang diperlukan.

Pasal 7

(1) Segala biaya yang diperlukan untuk mengadakan pemeriksa-an teknis atas
platform dibebaskan pada perusahaan yang menggunakan platform yang
bersangkutan.
(2) Direktorat Jenderal Minyak dan Gas Bumi dapat menentukan batas
maksimum dari biaya pemeriksaan teknis termaksud pada ayat (1) Pasal
ini.

Pasal 8

(1) Apabila platform dianggap berbahaya untuk operasi, maka Direktorat
Jenderal Minyak dan Gas Bumi dapat melakukan tindakan-tindakan sebagai
berikut :
a. Teguran untuk meniadakan bahaya termaksud dalam jangka waktu yang
ditetapkan, kepada perusahaan yang mengguna-kan platform 3 (tiga)
kali berturut-turut dalam jangka waktu 1 (satu) bulan ;
b. Apabila teguran tersebut pada huruf a diatas tidak di-indahkan,
maka Direktorat Jenderal Minyak dan Gas Bumi dapat melakukan
penghentian untuk sementara waktu penggunaan platform sampai
platform tersebut diperbaiki sebagai tersebut pada huruf a di atas
;
c. Apabila tindakan tersebut pada huruf b diatas tidak dipatuhi, maka
Direktorat Jenderal Minyak dan Gas bumi dapat melakukan tindakan
penghentian penggunaan platform dan mencabut Sertifikat Kelayakan
konstruksi.

(2) Apabila platform menurut penilaian Direktorat Jenderal Minyak dan Gas
Bumi dianggap berbahaya sedemikian rupa, maka Direktorat Jenderal
Minyak dan Gas Bumi dapat segera menghentikan penggunaan platform
tersebut dan mencabut Sertifikat Kelayakan Konstruksi.

Pasal 9

(1) Direktorat Jenderal Minyak dan Gas Bumi dapat mencabut atau
menangguhkan pemberian Sertifikat Kelayakan Konstruksi apabila
ternyata :


a. Data yang diberikan pada waktu permohonan Sertifikat Kelayakan
Konstruksi tidak benar ;
- 7



b. Platform tidak sesuai lagi penggunaannya di daerah lepas pantai ;
c. Telah diadakan perubahan-perubahan prinsipiil pada platform tanpa
pemberitahuan terlebih dahulu kepada Direktorat Jenderal Minyak dan
Gas Bumi cq. Direktorat Minyak dan Gas Bumi.

(2) Sebelum Sertifikat Kelayakan Konstruksi dicabut sesuai dengan
ketentuan termaksud pada ayat (1) Pasal ini, maka Direktorat Jenderal
Minyak dan Gas Bumi memberitahukan terlebih dahulu secara tertulis
kepada perusahaan yang menggunakan platform dengan disertai alasan-
alasannya.
Pencabutan Sertifikat Kelayakan Konstruksi mulai berlaku 30 (tiga
puluh) hari setelah tanggal pemberitahuan tersebut di atas.

Pasal 10

(1) Perusahaan yang sedang mendirikan atau telah menggunakan platform
sebelum berlakunya Peraturan Menteri ini diwajibkan mengajukan
permohonan pemeriksaan teknis atas platform kepada Direktorat Jenderal
Minyak dan Gas Bumi sesuai dengan ketentuan Pasal 6 selambat-lambatnya
dalam jangka waktu 3 (tiga) bulan sesudah berlakunya Peraturan Menteri
ini.
(2) Apabila terdapat kekurangan-kekurangan pada platform, maka dalam
jangka waktu yang ditetapkan oleh Direktorat Jenderal Minyak dan Gas
Bumi perusahaan yang menggunakan platform wajib mengadakan perbaikan
atau perubahan, sehingga platform tersebut memenuhi hal-hal yang
disyaratkan oleh Direktorat Jenderal Minyak dan Gas Bumi.
(3) Perusahaan yang telah menggunakan platform sebelum berlakunya
Peraturan Menteri ini, apabila tetap akan menggunakan platform
tersebut sebelum dikeluarkannya Sertifikat Kelayakan Konstruksi untuk
pertama kalinya termaksud dalam Pasal 5 ayat (1) wajib mengajukan
permohonan izin penggunaan platform kepada Direktorat Jenderal Minyak
dan Gas Bumi cq Direktorat Minyak dan Gas Bumi.







Pasal 11

(1) Apabila perusahaan yang menggunakan platform tidak dapat menerima
keputusan Direktur Jenderal Minyak dan Gas Bumi mengenai hasil
- 8



pemeriksaan teknis atas platform termaksud dalam Pasal 3, maka
perusahaan tersebut dapat mengajukan keberatan kepada Menteri
Pertambangan.
(2) Keputusan Menteri Pertambangan dalam banding adalah mengikat.

Pasal 12

Disamping ketentuan-ketentuan dalam Peraturan Menteri ini juga berlaku
peraturan dan persyaratan mengenai dan atau yang bersangkutan dengan
platform di daerah lepas pantai yang dikeluarkan oleh instansi Pemerintah
yang lain.

Pasal 13

Hal-hal yang belum atau belum cukup diatur dalam Peraturan Menteri ini
akan ditetapkan oleh Direktur Jenderal Minyak dan Gas Bumi cq Direktur
Minyak dan Gas Bumi.

Pasal 14
Peraturan Menteri ini berlaku pada tanggal ditetapkannya.


Ditetapkan di : Jakarta
Pada Tanggal :








SALINAN PERATURAN MENTERI ini disampaikan
Kepada :
1. Direktur Jenderal Minyak dan Gas Bumi ;
2. Direktur Direktorat Migas ;
3. Direksi Pertamina ;
4. Para Kontraktor Pertamina.