Anda di halaman 1dari 387

Berbagi untuk Negeri

SHARI NG WI TH THE NATI ON


L AP ORAN
TAHUNAN
2007
Visi & Misi
Sejarah BNI
Ikhtisar Keuangan
Ikhtisar Saham
Informasi Pemegang Saham
Penghargaan
SekilasTahun 2007
Struktur Berkembang,
Seiring Waktu
Laporan Komisaris
Laporan Direksi
Tata Kelola Perusahaan
Daftar Publikasi Informasi
Laporan Komite Audit
Sektor Perbankan Sasaran
Perbankan Konsumer
Perbankan Komersial
Perbankan Korporasi
Perbankan Internasional & Tresuri
Perbankan Syariah
Anak Perusahaan
Indeks Operasional
Manajemen Risiko
Sumber Daya Manusia
Teknologi Informasi
Tanggung Jawab Sosial
Analisis Manajemen
Tanggung Jawab Pelaporan Keuangan
Laporan Keuangan Konsolidasi
Data Perusahaan
Vision & Mission
A Brief History of BNI
Financial Highlights
Stock Highlights
Shareholder Information
Awards
2007 Key Events
A Structure Evolving
with the Times
Report from the Board of Commissioners
Report from the Board of Directors
Good Corporate Governance
Press Releases
Report from the Audit Committee
Targeted Banking Areas
Consumer Banking
Commercial Banking
Corporate Banking
International Banking & Treasury
Sharia Banking
Subsidiary Business
Operational Indices
Modern Risk Management Practices
Human Resources Development
Advances in Information Technology
Corporate Social Responsibility
Management Analysis
Responsibility for Financial Reporting
Consolidated Financial Report
Corporate data
03
04
06
07
08
17
20
30
34
44
102
106
114
124
132
138
148
158
166
178
184
190
198
208
211
360
CONTE NT
Dafar Isi
Berbagi untuk Negeri
Dalam Laporan Tahunan 2007, kami mengulas kegiatan,
opera sional dan pencapaian BNI bagi para pemangku
kepen tingan, dengan tema Berbagi Untuk Negeri, yang
menggambarkan hasrat yang terdalam bagi kemajuan dan
kesejahteraan BNI. Selaku institusi keuangan yang mayoritas
dimiliki Peme rintah Republik Indonesia, di benak kami
senantiasa terpatri upaya meningkatkan kesejahteraan dan
kemakmuran lebih dari dua ratus tiga puluh juta penduduk
di seluruh nusantara, menuju era baru stabilitas, perdamaian
dan pembangunan nasional. Dengan semangat kebersamaan
untuk berbagi ke sejahteraan yang lebih baik ke depan,
Laporan Tahunan ini kami persembahkan.
SHARI NG WI TH THE NATI ON
For the Annual Report of 2007, in which we respectfully report the Banks activities,
operations and results to our many valued stakeholders, we have settled upon the theme
of Berbagi untuk Negeri, translated as sharing with the nation, to express directly our
most sincere desire that the advancement and prosperity of BNI, as a state-owned nancial
institution, always bear in mind its duty to uplift the material prosperity and well-being of the
more than two hundred thirty million citizens of our vast archipelago, moving toward a new
era of stability, peace and national development. It is in this spirit of sharing the prosperity
of a bright future we dedicate this annual document.
Jauhnya jarak yang
memisahkan nusantara
dan dunia, kami satukan
dalam layanan
www.bni.co.id
Melalui 978 Kantor Cabang, 195 Outlet Syariah, 20 Sentra Kredit Menengah,
51 Sentra Kredit Kecil, 12 Sentra Kredit Konsumer, 2325 BNI ATM, didukung oleh
belasan ribu ATM Link dan ATM Bersama yang tersebar di seluruh Indonesia,
5 Kantor Perwakilan Luar Negeri serta lebih dari 700 Bank Koresponden di seluruh dunia,
membuat Anda semakin mudah melakukan semua aktivitas perbankan di seluruh
jaringan kami.
Melayani Negeri, Kebanggaan Bangsa
3
Visi
Menjadi bank yang unggul, terkemuka dan terdepan dalam
layanan dan kinerja
Misi
Memberikan layanan prima dan solusi yang bernilai tambah
kepada seluruh nasabah, dan selaku mitra pilihan utama
(the bank of choice)
Meningkatkan nilai investasi yang unggul bagi investor
Menciptakan kondisi terbaik sebagai tempat kebanggaan
untuk berkarya dan berprestasi
Meningkatkan kepedulian dan tanggungjawab terhadap
lingkungan sosial
Menjadi acuan pelaksanaan kepatuhan dan tata kelola
perusahaan yang baik
VI SI ON
To be a leading bank with excellent services and performance
MI SSI ON
Becoming a bank of choice, providing excellent service and
value added solutions to all customers
Delivering investment value to our shareholders
Creating a performance-driven culture, as the best place to
work and deliver results
Increasing involvement and care toward the social environment
Becoming the benchmark for implementation of good
corporate governance
VI SI ON & MI SSI ON
Visi & Misi
4
Kelahiran BNI di tahun 1946 mempelopori sejarah perbankan
Republik Indonesia. Peran awalnya sebagai bank sentral
menjadikannya sebagai anak kandung Republik mengingat
posisinya sebagai penerbit dan pengelola mata uang Rupiah.
Dalam perkembangannya, BNI berkembang menjadi bank
komersial milik pemerintah yang profesional dan tangguh.
the oDyssey of a p I one e rI ng Bank
Perjalanan Sang Pelopor Perbankan
1946
Pada tahun ini BNI didirikan
dengan nama Bank Negara
Indonesia sebagai bank
pertama yang dimiliki
pemerintah Indonesia dan
mendapatkan amanah untuk
mengatur pengeluaran
dan peredaran mata
uang Rupiah.
Under the name Bank
Negara Indonesia, BNI
was established by the
edgling Republic as the rst
wholly-owned state bank
to be entrusted with the
issuance and management of
Rupiah banknotes.
1955
BNI diubah statusnya
menjadi bank umum.
The status of BNI evolved to
that of a commercial bank.
1968
Sebagai bank umum
dengan nama Bank
Negara Indonesia 1946,
BNI mendapatkan tugas
memperbaiki ekonomi
rakyat serta berpartisipasi
dalam pembangunan
ekonomi nasional dengan
memberdayakan berbagai
sektor industri di Indonesia.
In a time of monumental
difculty and national
privation, BNI, now renamed
Bank Negara Indonesia
1946 was charged with the
primary task of improving
the economy of a suffering
people and reviving the stalled
economic development of the
nation, with emphasis on the
industrial sector.
1986
BNI melaksanakan
restrukturisasi operasional
dan pembenahan korporasi,
termasuk menyusun visi
dan misi serta Performance
Improvement Program (PIP).
BNI underwent corporate
restructuring and
repositioning initiatives,
including the foundation of
a Vision and a Mission, and
on a more practical level
implemented a Performance
Improvement Program (PIP).
1989
Peluncuran logo baru BNI
berupa bahtera berlayar di
tengah samudra sebagai
cerminan dan ungkapan
harapan korporat.
BNI launched a new bahtera
berlayar di tengah samudra,
or Sailing the Seas logo,
as an expression reecting a
fresh corporate direction.
1992
Bentuk hukum BNI diubah
menjadi PT (Persero) sejalan
dengan ketentuan Undang-
undang Perbankan.
The legal entity of BNI was
modied, becoming PT
(Persero) in line with prevailing
Banking Laws.
1996
BNI menawarkan saham
perdana kepada masyarakat
dan mencatatkan sahamnya
di Bursa Efek Indonesia
dan Bursa Efek Surabaya.
Hal ini menjadikan BNI
sebagai bank pemerintah
pertama yang menjadi
perusahaan terbuka.
This was the year BNI
conducted its rst initial public
offering of shares, through
listings on the Jakarta and
Surabaya Stock Exchanges.
With this corporate action, BNI
became the rst state-owned
bank to achieve public-listed
company status.
5
1997
Krisis moneter melanda
Asia dan Indonesia.
Sebagaimana bank-bank
lain, BNI juga terkena
dampak negatif krisis
tersebut, sebagaimana
tercermin dari menurunnya
indikator kinerja nansial.
Southeast Asia, and Indonesia
most acutely, was engulfed
in a titanic nancial crisis.
BNI, like all other banks,
was adversely affected by
the crisis, as reected in its
severely reduced nancial
performance.
1999
BNI memperoleh
tambahan modal dari
pemerintah melalui program
rekapitalisasi perbankan.
Pada tahun yang sama,
BNI berhasil memperoleh
sertikat ISO 9002 sebagai
pengakuan standar
kualitas yang meliputi Unit
Pemrosesan Bersama (UPB).
BNI received additional capital
from the government through
its recapitalization program. In
the same year, the BNI Mutual
Processing Unit qualied for
ISO 9002 certication, as an
acknowledgment of its
quality standard.
2003
BNI menetapkan visi dan
misi serta menyusun Peta
Navigasi sebagai kerangka
program transformasi
dalam rencana kerja jangka
panjang 15 tahun hingga
tahun 2018.
BNI emerged with a renewed
Vision and Mission, along
with a Navigation Map as the
transformation program in a
15-year long-term corporate
plan, looking to 2018.
2004
BNI meluncurkan logo
dan identitas korporat
baru sejalan dengan
upaya membangun citra
perusahaan yang kokoh
dalam menghadapi
persaingan.
BNI launched a new logo and
corporate identity, in line with
the effort to build a strong
corporate image.
2007
BNI menerbitkan saham
baru yang dicatatkan di
Bursa Efek Jakarta & Bursa
Efek Surabaya, bersamaan
dengan program divestasi
saham pemerintah. Dengan
selesainya kedua program
tersebut, kepemilikan publik
meningkat menjadi 23,64%.
BNI issued new shares
with preemptive rights
(a rights issue), listed on the
Jakarta and Surabaya Stock
Exchanges. This corporate
action was conducted
together with a government
divestment program.
Following this program, public
ownership of BNI shares
peaked at 23.64%.
The establishment of BNI in 1946 marked the historical birth of
banking in the Republic of Indonesia. Its early role as a central bank
drew reference to it being a child of the Republic especially since it was
entrusted with the issue and tender of the new national currency, in the
form of Rupiah banknotes. Over decades since, BNI has become a fxture
in the Indonesian nancial landscape, as a prominent and reliable state
commercial bank.
(dalam miliar Rupiah kecuali EPS) 2007 2006 2005 2004 2003 (in billion Rupiah except EPS)
LABA RUGI I NCOME STATEMENT
Pendapatan Bunga 14,878 14,938 12,601 11,905 13,219 Interest Income
Beban Bunga (7,410) (7,562) (5,787) (5,020) (8,217) Interest Expenses
Pendapatan Bunga Bersih 7,468 7,376 6,815 6,885 5,002 Net Interest Income
Beban Penyisihan Kerugian
atas Aktiva Produktif (PKAP)
(2,704) (1,319) (1,256) (2,128) (2,966)
Allowance for Possible Losses
on Earning Assets
Pendapatan Bunga Setelah PKAP 4,764 6,057 5,559 4,757 2,036 Interest Income After Allowance
Pendapatan Operasional Lainnya 4,130 2,862 2,331 2,860 2,108 Other Operating Income
Pendapatan Operasional 8,894 8,919 7,890 7,617 4,144 Operating Income
Beban Operasional Lainnya (7,626) (6,264) (5,718) (4,527) (3,402) Other Operating Expenses
Pendapatan Operasional Bersih 1,268 2,655 2,172 3,090 742 Net Operating Income
Pendapatan/(Beban) Bukan Operasional Bersih 213 185 84 (16) 205 Net Non-Operating Income/Expenses
Laba Sebelum Pajak Penghasilan 1,481 2,840 2,256 3,074 947 Income Before Tax
Pendapatan/(Beban) Pajak Tangguhan 94 52 Deferred tax Income/expenses
Taksiran Pajak Penghasilan (579) (1,005) (891) 19 (135) Provision for Income Tax
Laba Bersih Setelah Pajak Penghasilan 902 1,929 1,417 3,093 812 Net Income After Tax
Hak Minoritas atas Laba/Rugi Bersih
Anak Perusahaan
(4) (3) (2) (3) 1
Minority Interest Income/Losses
of Subsidiaries
Laba Bersih 898 1,926 1,415 3,090 813 Net Income
NERACA BALANCE SHEET
Kas, Giro dan Penempatan (Net) 36,812 48,459 34,326 24,534 23,457
Cash, Current Accounts and
placements (gross)
Surat-surat Berharga 3,932 4,985 3,809 11,729 11,262 Marketable securities (gross)
Pinjaman yang Diberikan 83,215 66,460 62,659 57,868 46,408 Loans (gross)
Obligasi Pemerintah 36,701 41,227 37,451 33,733 40,267 government Bonds
Total Aktiva 183,342 169,416 147,812 136,582 131,568 Total Assets
Simpanan Nasabah 146,189 135,996 115,372 105,014 105,258 Customer Deposits
Pinjaman yang Diterima dan Surat
Berharga yang Diterbitkan 7,578 5,544 6,913 6,497 7,254
Borrowing and Marketable
Securities Issued
Pinjaman Subordinasi 934 2,239 2,433 2,285 2,066 subordinated Debt
Total Kewajiban 166,094 154,597 135,891 123,930 121,734 Total Liabilities
Hak Minoritas 28 25 26 28 6 Minority Interest
Ekuitas 17,220 14,794 11,895 12,624 9,828 Equity
RASI O KEUANGAN FI NANCI AL RATI O
ROA 0.85% 1.85% 1.61% 2.41% 0.77% ROA
ROE 8.03% 22.61% 12.64% 29.21% 11.83% ROE
NIM 4.99% 5.19% 5.60% 5.59% 4.33% NIM
Pendapatan Non-Bunga terhadap
Pendapatan Operasional 35.61% 27.95% 25.48% 29.35% 29.64%
Non-Interest Income
to Operating Income
Pinjaman terhadap Jumlah Simpanan (LDR) 60.64% 49.98% 54.24% 55.12% 44.09% Loan to Deposit ratio (LDr)
Rasio Kewajiban Penyedian Modal Minimum (CAR) 15.74% 15.30% 15.99% 17.09% 18.16% Capital Adequacy Ratio (CAR)
Laba (Rugi) Bersih per Saham (EPS)* 58.79 145.20 106.00 231.00 60.00 Earning (Loss) Per Share (EPS)*
RASI O LAI NNYA OTHER RATI OS
NPL Gross 8.18% 10.47% 13.70% 4.60% 5.69% npL gross
NPL Net 4.01% 6.55% 8.36% 1.39% 2.07% NPL Net
LLP/NPL Gross 71.86% 55.13% 50.43% 117.49% 91.76% Loan Loss provision/npL gross
CIR (rasio Biaya terhadap Pendapatan) 64.57% 61.18% 62.52% 46.45% 47.86% Cost to Income Ratio
BOPO (Biaya Operasional/Pendapatan
Operasional) 93.04% 84.79% 84.88% 78.82% 95.01%
Operating Expense to
Operating Income
Pendapatan Operasional Bersih/Pegawai
(dalam jutaan Rupiah) 69.19 144.52 111.86 116.10% 42.46
Net Operating Income/Employee
(in million Rupiah)
Posisi Devisa Netto (PDN) 6.14% 6.76% 8.18% 4.69% 4.33% Net Open Position (NOP)
Batas Maksimum Pemberian Kredit (BMPK) 0% 0% 21.22% 0.00% 0.00% Legal Lending Limit (LLL)
Catatan: Angka-angka pada seluruh tabel dan grak menggunakan notasi Inggris
* Disajikan kembali sehubungan dengan Reverse Stock Split
Notes: Numerical notations in all tables and charts are in English
* As restated to reect Reverse Stock Split
f I nanCI aL hI ghLI ghts
Ikhtisar Keuangan
Saham BNI
BNIs Share
HARGA SAHAM
(dalam Rupiah) 2007 2006
SHARE PRI CE
(in Rupiah)
Pembukaan
Open
Terendah
Lowest
Tertinggi
Highest
Penutupan
Close
Pembukaan
Open
Terendah
Lowest
Tertinggi
Highest
Penutupan
Close
Triwulan I 1,870 1,750 2,030 1,760 1,300 1,220 1,420 1,280 1st Quarter
Triwulan II 1,760 1,760 2,575 2,475 1,280 1,100 1,440 1,130 2nd Quarter
Triwulan III 2,475 1,680 2,850 2,000 1,140 1,070 2,375 2,375 3rd Quarter
Triwulan IV 2,000 1,810 2,225 1,970 2,125 1,870 2,550 1,870 4th Quarter
KI NERJA SAHAM
(dalam Rupiah) 2007 2006
SHARE PERFORMANCE
(in Rupiah)
Harga Tertinggi 2,750 2,550 Highest Price
Harga Terendah 1,680 1,070 Lowest Price
Harga Pada Akhir Tahun 1,970 1,870 year-end price
Laba Bersih per Saham 59 145 Earning per Share
KEBIJAKAN
DI VI DEN*
DI VI DEND POLI CY*
JUMLAH
DI VI DEN
DI VI DEND AMOUNT
(miliar Rupiah/billion Rupiah)
DI VI DEN PER
LEMBAR SAHAM
DI VI DEND PER SHARE
(Rupiah)
RASI O
DI VI DEN
DI VI DEND PAYOUT RATI O
TANGGAL
PEMBAYARAN
DI VI DEND PAYMENT DATE
1996 56.40 195.00 30% of 2nd half year 1996 net income 13-Jun-97
1997 60.80 210.00 20% of 1997 net income 7-Aug-98
2001 878.30 66.15 50% of 2001 net income 28-Oct-02
2002 1,254.30 94.44 50% of 2002 net income 5-Nov-03
2003 314.90 23.71 75.01% of 2003 net income 21-Jul-04
2004 1,568.20 118.07 50% of 2004 net income 7-Jul-05
2005 707.40 53.26 50% of 2005 net income 4-Jul-06
2006 962.92 72.50 50% of 2006 net income 2-Jul-07
* Disajikan kembali sehubungan dengan Reverse Stock Split *) as restated to reect reverse stock split
3,000
2,500
2,000
1,500
1,000
500
450,000
400,000
350,000
300,000
250,000
200,000
150,000
100,000
50,000
3 Jan 07 16 feb 07 3 apr 07 29 May 07 13 Jul 07 3 sep 07 23 oct 07 28 Dec 07
Harga dan Volume Saham BNI vs IHSG selama Tahun 2007
BNIs Share Price and Volume vs JCIs Performance during 2007
Volume Saham BNI
BNIs Share Volume
IHSG
JCI
stoCk hI ghLI ghts
Ikhtisar Saham
8
I nf orMasI p e Me gang sahaM share hoLDe r I nf orMatI on
Informasi Pemegang Saham
AKSI KORPORASI DI TAHUN 2007
RAPAT UMUM PEMEGANG SAHAM TAHUNAN
RUPS Tahunan diselenggarakan pada hari Rabu, 23 Mei 2007 menghasilkan keputusan
sebagai berikut:
Agenda 1
1. Menyetujui dan menerima Laporan Tahunan Perseroan untuk Tahun Buku 2006, serta
menyetujui dan mengesahkan Neraca dan Perhitungan Laba/Rugi Perseroan untuk
tahun buku 2006 beserta penjelasannya yang telah diaudit oleh Kantor Akuntan Publik
Purwantono, Sarwoko & Sandjaja (Ernst & Young) untuk tahun buku yang berakhir pada
tanggal 31 Desember 2006.
2. Mengesahkan Laporan Tahunan Program Kemitraan dan Bina Lingkungan untuk tahun
buku yang berakhir pada tanggal 31 Desember 2006, yang telah diaudit oleh Kantor
Akuntan Publik Purwantono, Sarwoko & Sandjaja (Ernst & Young).
3. Memberikan pelunasan dan pembebasan sepenuhnya dari tanggung jawab (acquit et de
charge) kepada seluruh anggota Direksi atas tindakan pengurusan dan kepada seluruh
anggota Komisaris atas tindakan pengawasan yang mereka lakukan dalam tahun buku
yang berakhir pada tanggal 31 Desember 2006 termasuk pengurusan dan pengawasan
terhadap Program Kemitraan dan Bina Lingkungan, sepanjang:
a. Tindakan tersebut bukan merupakan tindak pidana.
b. Tindakan tersebut tercermin dalam Laporan dan Perhitungan Tahunan Perseroan serta
Laporan Tahunan Program Kemitraan dan Bina Lingkungan.
Agenda 2
1. Menetapkan bahwa sesuai dengan Neraca dan Perhitungan Laba Rugi Perseroan untuk
tahun buku 2006, yang telah diaudit oleh Kantor Akuntan Publik Purwantono, Sarwoko &
CORPORATE ACTI ONS
I N 2007
ANNUAL GENERAL
SHAREHOLDERS MEETI NG
the annual general
Shareholders Meeting
(agsM) for fscal 2006 was
convened on 23 May 2007,
with the following agenda
and resolutions:
Agenda 1
1. The Companys Annual
Report for scal 2006 was
agreed and accepted; the
balance sheets and income
statement for scal year
2006 together with their
explanation were agreed
and legalized, audited
by public accountants
Purwantono, Sarwoko &
sandjaja (ernst & young)
for the scal year ending
31 December 2006.
2. The Banks annual report
for small-business partnering
and community development
programmes for the scal
year ending 31 December
2006 was approved, audited
by Public Accountants
Purwanto, Sarwoko and
sandjaja (ernst & young).
3. Conferring payment
and exoneration from all
responsibility, with acquittal
of charges, for all Director
members (for management
actions) and for all the
Commissioners Committee
(for monitoring actions)
executed by them for the scal
year ending on 31 December
2006, including management
action and control of the
small-business partnering
and community development
program, given that:
a. Such actions do not
constitute criminal acts under
prevailing law, and
b. Such actions are recorded
in the Report and Company
Annual statements, including
the small-business partnering
and community development
programme.
Agenda 2
1. Approved in accordance
with the balance sheets and
income statement for scal
2006, audited by public
accountants Purwanto,
Sarwoko & Sandjaja (Ernst
& young); net income
received by the company
in the scal year ending
on 31 December 2006 is
9
share hoLDe r I nf orMatI on
Sandjaja (Ernst & Young), laba bersih yang diperoleh Perseroan dalam tahun buku yang
berakhir pada tanggal 31 Desember 2006 adalah Rp 1.925.829.550.382 (satu triliun
sembilan ratus dua puluh lima miliar delapan ratus dua puluh sembilan juta lima ratus
lima puluh ribu tiga ratus delapan puluh dua Rupiah) untuk selanjutnya disebut Laba
Bersih Tahun 2006.
2. Menetapkan penggunaan Laba Bersih Tahun 2006 sebagai berikut:
a. Sebesar 50% dari Laba Bersih Tahun 2006 atau Rp 962.922.336.500 (sembilan ratus
enam puluh dua miliar sembilan ratus dua puluh dua juta tiga ratus tiga puluh enam
ribu lima ratus Rupiah) dibagikan sebagai dividen tunai kepada 13.281.687.400 (tiga
belas miliar dua ratus delapan puluh satu juta enam ratus delapan puluh tujuh ribu
empat ratus) saham, sehingga setiap 1 (satu) saham berhak untuk menerima dividen
sebesar Rp 72,50 (tujuh puluh dua koma lima puluh rupiah).
b. Sebesar 1,5% dari Laba Bersih Tahun 2006 atau Rp 28.887.443.256 (dua puluh
delapan miliar delapan ratus delapan puluh tujuh juta empat ratus empat puluh tiga
ribu dua ratus lima puluh enam Rupiah) digunakan untuk dana Program Kemitraan.
c. Sebesar 2% dari Laba Bersih Tahun 2006 atau Rp 38.516.591.008 (tiga puluh delapan
miliar lima ratus enam belas juta lima ratus sembilan puluh satu ribu delapan Rupiah)
digunakan untuk dana Program Bina Lingkungan.
d. Sebesar 20% dari Laba Bersih Tahun 2006 atau Rp 385.165.910.076 (tiga ratus
delapan puluh lima miliar seratus enam puluh lima juta sembilan ratus sepuluh ribu
tujuh puluh enam Rupiah) digunakan untuk cadangan dalam rangka memenuhi
ketentuan Pasal 61 ayat (1) Undang-Undang Nomor 1 tahun 1995 tentang
Perseroan Terbatas.
e. Sebesar 9,5 % dari Laba Bersih Tahun 2006 atau Rp 182.953.807.286 (seratus
delapan puluh dua miliar sembilan ratus lima puluh tiga juta delapan ratus tujuh
ribu dua ratus delapan puluh enam Rupiah) digunakan untuk cadangan yang telah
ditentukan peng gunaannya.
Rp 1,925,829,550,382 (one
trillion nine hundred twenty
ve billion eight hundred
twenty nine million ve
hundred fty thousand three
hundred eighty two Rupiah)
referred to as net prot for
2006.
2. Approval of the use of net
prots for 2006 as follows:
a. 50% of net prot in 2006,
or Rp 962,922,336,500
(nine hundred sixty two
billion nine hundred twenty
two million three hundred
thirty six thousand ve
hundred Rupiah) disbursed
as cash dividends to
13,281,687,400 (thirteen
billion two hundred eighty
one million six hundred
eighty seven thousand four
hundred) shares, signifying
that every one share
receives Rp 72.50 (seventy
two point fty Rupiah).
b. For 1.5% from net
prots in 2006, or
Rp 28,887,443,256
(twenty eight billion eight
hundred eighty seven
million four hundred
forty three thousand two
hundred fty six Rupiah) to
be used for small-business
partnering.
c. For 2% from net
prot in 2006, or
Rp 38,516,591,008 (thirty
eight billion ve hundred
sixteen million ve hundred
ninety one thousand eight)
to be used for community
development programs.
d. For 20% from net
prot in 2006 or
Rp 385,165,910,076
(three hundred eighty ve
billion one hundred sixty
ve million nine hundred
ten thousand seventy
six Rupiah) to be used
in accordance with legal
regulation Article (61/1) law
No. 1/1995 as applied to
limited liability companies.
e. For 9.5% from net
prots in 2006 or
Rp 182,953,807,286 (one
hundred eighty two billion
nine hundred fty three
million eight hundred seven
thousand two hundred
eighty six Rupiah) to be
used as Appropriated
Reserve.
f. For a maximum of 0.95%
from net prots in 2006
or Rp 18,345,000,000
(eighteen billion three
hundred forty ve million
10
I nf orMasI p e Me gang sahaM
f. Sebesar maksimal 0,95% dari Laba Bersih Tahun 2006 atau Rp 18.345.000.000
(delapan belas miliar tiga ratus empat puluh lima juta Rupiah) digunakan untuk
Tantieme Komisaris, Direksi dan Sekretaris Komisaris yang menjabat dalam tahun
buku 2006 sesuai dengan jangka waktu yang bersangkutan menduduki jabatannya
masing-masing.
Memberikan kuasa dan wewenang kepada Komisaris dengan terlebih dahulu berkonsultasi
kepada Pemegang Saham Seri A Dwiwarna, untuk menetapkan pembagian Tantieme
tersebut di antara para anggota Komisaris, Direksi dan Sekretaris Komisaris yang
menjabat dalam tahun buku 2006, termasuk segala sesuatu yang berhubungan
dengan pembayaran Tantieme tersebut.
g. Sebesar 2,84% dari Laba Bersih Tahun 2006 atau Rp 54.630.000.000 (lima puluh
empat miliar enam ratus tiga puluh juta Rupiah) digunakan untuk bonus pegawai.
h. Sisa Laba Bersih Tahun 2006 yang tidak ditentukan penggunaannya ditetapkan
sebagai laba ditahan.
Memberikan kuasa dan wewenang kepada Direksi Perseroan dengan hak substitusi untuk:
a. Melakukan pembayaran dividen tunai dan menetapkan tata cara pembagian serta
jadwal pembayaran dividen tunai termasuk untuk hadir dan menghadap pejabat yang
berwenang di Bursa Efek atau instansi lain terkait, serta mengajukan dan meminta
persetujuan atas jadwal pelaksanaan pembayaran dividen tunai tersebut. Jadwal
pembayaran dividen dimaksud akan diumumkan dalam 2 (dua) Surat Kabar harian
dengan memperhatikan peraturan Bursa Efek.
b. Melakukan pembayaran bonus kepada pegawai termasuk mengenai tata cara
pembayaran bonus pegawai dimaksud.
Agenda 3
Memberikan kuasa dan wewenang kepada Komisaris Perseroan untuk menetapkan Kantor
Rupiah) to be used for
Commissioners, Directors
and Commissioners
secretaries bonuses,
according to the duration of
their tenure during 2006.
Conferring the rights
and authorities to
Commissioners with
consultation, rst to
shareholders holding
Class a Dwiwarna shares,
to share bonuses among
Commissioners, Directors,
and Commissioners'
secretaries holding
positions in scal 2006,
including all matters related
to in its bonus payments.
h. For 2.84% from net
prot in 2006, or
Rp 54,630,000,000 (fty
four billion six hundred
thirty million Rupiah) to
be disbursed in employee
bonuses.
i. The remaining net income
for 2006 will be booked as
Retained Earning.
Conferring the rights and
authorities to Company
Directors with substitution
rights for:
a. Executing cash dividend
payments and determining
mechanisms and schedule
of cash dividend payments
including presenting and
responding to appropriate
authorities in the Jakarta
Stock Exchange (BEJ) or
other related authorities,
asking and submitting
approval for a cash
dividend payment schedule.
The schedule will be
announced in 2 (two) daily
newspapers in accordance
with Stock Exchange
regulations.
b. Conducting bonus
payments to employees,
including the mechanism
11
share hoLDe r I nf orMatI on
Akuntan Publik termasuk melakukan proses pengadaan jasa audit atas Laporan Keuangan
Perseroan Tahun Buku 2007, dan Laporan Tahunan Program Kemitraan dan Bina Lingkungan
Tahun Buku 2007.
Agenda 4
1. Menetapkan kenaikan gaji Direksi dan Komisaris termasuk Sekretaris Komisaris sebesar
20% dari gaji tahun 2006, terhitung sejak 1 Januari 2007.
2. Besarnya jumlah gaji masing-masing anggota Direksi, anggota Komisaris termasuk

Sekretaris Komisaris setelah kenaikan gaji tersebut, ditetapkan oleh Pemegang Saham
Seri A Dwiwarna.
Agenda 5
1. Mengangkat Parikesit Suprapto sebagai Komisaris Perseroan, yang berlaku efektif
terhitung sejak mendapat persetujuan Bank Indonesia dan berakhir bersamaan dengan
berakhirnya masa jabatan anggota Komisaris lainnya yang diangkat berdasarkan Rapat
Umum Pemegang Saham Tahunan tanggal 19 Mei 2005.
2. Memberikan kuasa dengan hak substitusi kepada Direksi Perseroan, untuk menyatakan
keputusan Rapat mengenai penambahan anggota Komisaris Perseroan dengan akta
tersendiri dihadapan Notaris, serta melakukan pemberitahuan dan mendaftarkan kepada
pihak yang berwenang berdasarkan ketentuan yang berlaku.
3. Susunan anggota Komisaris Perseroan selengkapnya setelah semua persyaratan dipenuhi
adalah sebagai berikut:
Zaki Baridwan, sebagai Komisaris Utama
Suwarsono, sebagai Wakil Komisaris Utama merangkap Komisaris Independen
Effendi, sebagai Komisaris
H.M.S. Latif, sebagai Komisaris
of such bonus payments to
employees.
Agenda 3
Conferring the rights and
authorities to Company
Commissioners to appoint
a public accounting rm to
audit the Banks nancial
statements for scal year
2007, and the annual reports
on small-business partnering
and community developments
programs for scal year 2007.
Agenda 4
1. Determining the raise in
remuneration for Directors
and Commissioners, including
Commissioners secretaries,
at 20% above that for 2006,
effective 1 January 2007.

2. The total amount of
remuneration for each Director
and Commissioner, including
Commissioners secretary,
after the raise in remuneration,
approved by Shareholders
Class a Dwiwarna shares.
Agenda 5
1. Elected Parikesit Suprapto
as a Company Commissioner,
effective as of approval
from Bank Indonesia and
ending with the term of
Commissioners elected,
based on the annual general
Shareholders Meeting of 19
May 2005.
2. Conferring authorities
with substitution rights
to Company Directors, to
formalize the decision of
additional Commissioner
members through an
ofcial notarised document,
and in so doing fullling
announcements and
enrolment to authorised
parties , based on prevailing
regulations.
12
I nf orMasI p e Me gang sahaM
Achjar Iljas, sebagai Komisaris merangkap Komisaris Independen
Felia Salim, sebagai Komisaris merangkap Komisaris Independen
Parikesit Suprapto, sebagai Komisaris
RAPAT UMUM PEMEGANG SAHAM LUAR BI ASA
RUPS Luar Biasa diselenggarakan pada hari Kamis, 1 Maret 2007 menghasilkan keputusan
sebagai berikut:
Agenda 1
1. Menerima pengunduran diri J.B Kristiadi sebagai anggota Komisaris Perseroan terhitung
sejak tanggal 21 September 2006.
2. Memberikan kewenangan dengan hak substitusi kepada Direksi Perseroan untuk
melakukan segala tindakan yang diperlukan berkaitan dengan keputusan ini, termasuk
namun tidak terbatas untuk menyatakan keputusan Rapat dengan akta tersendiri dihadapan
Notaris, dan mendaftarkan susunan anggota Komisaris dalam Daftar Perusahaan.
Agenda 2
1. Menyetujui Kebijakan Restrukturisasi dan Penyelesaian Kredit Bermasalah Perseroan.
2. Menyetujui penggunaan jumlah maksimum (limit) hapus tagih atas piutang pokok kredit
macet dan hapus buku sebagaimana telah ditetapkan dalam Rapat Umum Pemegang
Saham Tahunan Perseroan tanggal 24 Mei 2006 dengan jumlah Rp 2 triliun, yang
dipergunakan dalam rangka pelaksanaan Kebijakan Restrukturisasi & Penyelesaian Kredit
Bermasalah Perseroan.
3. Memberikan kewenangan kepada Direksi untuk menandatangani Kontrak Manajemen
dengan Pemerintah Republik Indonesia sebagai pelaksanaan Surat Keputusan Bersama
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Menteri Keuangan, Menteri Negara BUMN,
Gubernur Indonesia tanggal 5 Juli 2006.
3. The member of the Board of
Commissioners are:
Zaki Baridwan, president
Commissioner
suwarsono, Vice president
Commissioner/Independent
Commissioner
effendi, Commissioner
h.M.s. Latif, Commissioner
achjar Iljas, Commissioner/
Independent Commissioner
felia salim, Commissioner/
Independent Commissioner.
parikesit suprapto,
Commissioner
EXTRAORDI NARY
GENERAL SHAREHOLDERS
MEETI NG ( EGSM)
the egsM was convened on
Thursday, 1 March 2007 with
the following resolutions:
Agenda 1
1. Accepted the resignation
of J.B Kristiadi as a Company
Commissioner, effective on 21
September 2006.
2. Accepted the authority with
substitution rights for Directors
to carry out all actions required
as related to the decision,
including and not limited to,
in its ofcial document to
the Notary, and enrolling the
composition of the members
of the Commissioners in the
Company Registrar.
Agenda 2
1. Agreement on the
restructuring policy and
resolving non-performing
loans.
2. Agreement on the use of a
total maximum limit for written
off non-performing loans ,
as approved in the Annual
general shareholders Meeting
on 24 May 2006, for a total
Rp 2 trillion, to be applied to
restructuring policy & resolving
13
share hoLDe r I nf orMatI on
Agenda 3
1. Menyetujui perubahan pasal-pasal yang terkait dengan:
a. Pengunduran Diri Komisaris dan Direksi, yaitu: Pasal 11 ayat (4), ayat (10), ayat (11),
Pasal 14 ayat (5), ayat (12), ayat (13).
b. Kebijakan Restrukturisasi dan Penyelesaian Kredit Bermasalah, yaitu: Pasal 12 ayat (6),
Pasal 12 ayat (17 huruf f) Anggaran Dasar Perseroan.
c. Penghapusan ketentuan Pasal 17 Anggaran Dasar Perseroan mengenai Badan Audit.
2. Menyetujui penyusunan kembali seluruh Anggaran Dasar Perseroan serta memberi kuasa
dengan hak substitusi kepada Direksi Perseroan untuk menyatakan dalam akta tersendiri
dihadapan Notaris, termasuk melakukan pelaporan, pendaftaran, dan pengumuman
kepada instansi yang berwenang dan melakukan segala tindakan yang diperlukan.
RAPAT UMUM PEMEGANG SAHAM LUAR BI ASA
RUPS Luar Biasa dilaksanakan pada tanggal 30 Juli 2007 menghasilkan keputusan
sebagai berikut:
Agenda 1
Menyetujui pelaksanaan Penawaran Umum Terbatas II (PUT II) Dengan Hak Memesan Efek
Terlebih Dahulu (HMETD) dengan syarat-syarat dan ketentuan sebagai berikut:
1. Saham baru yang akan dikeluarkan adalah paling banyak 15% (lima belas persen) dari
seluruh saham yang telah dikeluarkan dan disetor penuh atau sebanyak 1.992.253.110
(satu miliar sembilan ratus sembilan puluh dua juta dua ratus lima puluh tiga ribu seratus
sepuluh) saham.
2. Setiap pemegang 20 (dua puluh) saham lama yang namanya tercatat dalam Daftar
Pemegang Saham Perseroan pada tanggal 9 Agustus 2007 pukul 16.00 WIB mempunyai
3 (tiga) HMETD, dimana setiap 1 (satu) HMETD memberikan hak kepada pemegangnya
untuk membeli sebanyak 1 (satu) saham baru dengan harga pelaksanaan Rp 2.025 (dua
non-performing loans.
3. Delegating authority
to Directors to sign the
Management Contract with
the Republic of Indonesia in
implementation of the decree
from the Minister of Economic
Coordination, Minister of
Finance, Minister of BUMN
(State Owned Enterprises),
and governor of Bank
Indonesia, as of 5 July 2006.
Agenda 3
1. Agreement on the change
of Articles of Association
related to:
a. The resignation of
Commissioners and
Directors, such as: article
11, No. (4), (10), (11). Article
14 No. (5), (12), (13).
b. Restructuring policy and
resolution of non-performing
loans, including: Articles of
Association, Article 12 No.
(6), (17 letter F).
c. Abolishing the
requirements of Article
17, in the Articles of
Association, concerning the
Auditor Board.
2. Agreement on the
formulation of Articles of
Association, thus delegating
authority with substitution
rights to Company Directors to
present ofcial documents to
the Notary, including reports,
enrolment and announcements
to authorised institutions
conrming the execution of all
required actions.
EXTRAORDI NARY
GENERAL SHAREHOLDER
MEETI NG ( EGSM)
the egsM was convened
on 30 July 2007, with the
following resolutions:
Agenda 1
Approval of the
14
I nf orMasI p e Me gang sahaM
ribu dua puluh lima Rupiah) per saham yang harus dibayar penuh pada saat mengajukan
formulir pemesanan pembelian saham.
3. HMETD tersebut dapat diperdagangkan di dalam dan di luar Bursa dengan
memperhatikan ketentuan yang berlaku di pasar modal termasuk tetapi tidak terbatas
pada ketentuan mengenai penitipan kolektif efek bersifat ekuitas yang dikeluarkan oleh
Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI).
4. Apabila setelah alokasi pemesanan saham tambahan masih terdapat Sisa Saham yang
tidak dilaksanakan oleh pemegang HMETD yaitu sebanyak-banyaknya 17.689.485
(tujuh belas juta enam ratus delapan puluh sembilan ribu empat ratus delapan puluh
lima) saham biasa atas nama Seri C, maka PT Bahana Securities selaku Pembeli Siaga
dengan kesanggupan penuh (full commitment) membeli seluruh Sisa Saham yang bukan
merupakan porsi Negara Republik Indonesia, dan dibeli dengan Harga Pelaksanaan.
5. Dana hasil PUT II, setelah dikurangi biaya-biaya emisi PUT II, akan digunakan oleh
Perseroan dalam rangka memperkuat struktur permodalan yang selanjutnya menurut
rencana akan digunakan untuk:
Melunasi surat hutang Perseroan yang akan jatuh tempo pada tahun 2007 sekitar 25%.
Mendanai pemberian kredit jangka panjang untuk pembiayaan infrastruktur sekitar 75%.
6. Sehubungan dengan PUT II Perseroan, maka mengubah Pasal 4 ayat (2) dan (3)
Anggaran Dasar Perseroan, dan memberi kuasa kepada Direksi Perseroan untuk
menyatakan dalam akta Notaris, mengenai peningkatan modal ditempatkan dan
disetor hasil pengeluaran saham PUT II tersebut setelah nama pemegang saham
yang memperoleh saham dari PUT II ini tercatat dalam daftar pemegang saham, serta
melakukan segala tindakan yang diperlukan sehubungan dengan hal tersebut.

Agenda 2
Menyetujui untuk membatalkan keputusan Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa
tanggal 6 September 2004 yang tertuang dalam akta Berita Acara Rapat Umum Pemegang
implementation of Issuance
of New Shares with pre-
emptive rights II (Rights
Issue II) with the following
requirements:
1. New shares issued at a
maximum of 15% (fteen
percent) of all shares already
issued and paid-up, for
1,992,253,110 (one billion nine
hundred ninety two million two
hundred fty three thousand
one hundred ten) shares.
2. Every holder of 20
(twenty) former shares
registered on the list of
Company shareholders as of
9 August 2007, 16.00 hours,
receives 3 (three) pre-emptive
rights, where every 1 (one)
pre-emptive right gives the
right to its holder to buy 1
(one) new share at an exercise
price of Rp 2,025 (two
thousand twenty ve Rupiah)
per share, full payment of
which is on the request form
for share purchase.
3. The pre-emptive rights can
be traded inside or outside the
Stock Exchange, according
to capital market regulations,
including (but not limited to)
requirements for collective
share deposits, as published
by Kustodian Sentral Efek
Indonesia (KSEI) (Indonesian
Central Share Custodian).
4. If after allocation there
are additional share orders
outstanding for the remainder
of shares not implemented
by the holders of preemptive
rights, in the amount of
17,689,485 (seventeen
million six hundred eighty nine
thousand four hundred eighty
ve) common shares, C series,
PT. Bahana Securities as a
buyer with a full commitment
to buy all remaining shares
which do not belong to the
government of the republic
of Indonesia, will buy them at
the exercise price.
5. Proceeds from Rights Issue
II , after deduction of issuance
costs, will be used by the
Company in strengthening the
capital structure, with plans to
be used for:
payment of Company
Bonds, which will be due in
2007 (about 25%);
finance of long-term credit
for infrastructure projects
(about 75%).
15
share hoLDe r I nf orMatI on
Saham Luar Biasa Perseroan No. 22 tanggal 6 September 2004 dan akta Pernyataan
Keputusan Rapat Perseroan No. 23 tanggal 6 September 2004, keduanya dibuat oleh Aulia
Taufani, SH, Notaris Pengganti Sutjipto, SH Notaris di Jakarta dan dengan demikian apa yang
telah diputuskan dalam Rapat tersebut dinyatakan tidak berlaku.
Agenda 3
1. Menyetujui pemberian jatah bonus saham kepada Direksi, Komisaris yang bukan
Komisaris Independen dan Sekretaris Komisaris sebesar 7,5 kali gaji tahun 2007, dengan
catatan pelaksanaan dan tata cara pemberian bonus saham tersebut sesuai dengan
ketentuan yang berlaku dalam program EMSA.
2. Komisaris Independen tidak diperkenankan memperoleh penjatahan bonus saham
tersebut sebagaimana ketentuan yang berlaku yaitu Peraturan Bapepam Nomor IX.I.5
tentang Pembentukan Dan Pedoman Pelaksanaan Kerja Komite Audit.

Agenda 4
Menetapkan Sdr. Effendi sebagai Komisaris Independen Perseroan, yang berlaku efektif
setelah mendapat persetujuan dari Bank Indonesia.
Agenda 5
Agenda ini tidak mengambil keputusan karena hanya bersifat Laporan Pengunduran Diri
Tjahjana Tjakrawinata sebagai Direktur, yang berlaku efektif sejak tanggal 1 Juli 2007.
6. In connection with Rights
Issue II, Articles 4, No. 2 and
3 of the Companys Article
of Association will change,
thus giving authority to
Directors to respond to the
ofcial Notarised document,
concerning the increase in Paid
up Capital after the Rights
Issue II, after the names of
shareholders receiving shares
from Rights Issue II are
recorded in the Shareholders
Registration, thus completing
all necessary actions related to
these matters.
Agenda 2
Approval to cancel decisions
taken at the Extraordinary
general shareholders
Meeting on 6 September
2004, as ofcially announced
in an extraordinary general
Shareholders Meeting
document (No. 22, 6
September 2004) and in
ofcial Company documents
of Company meeting results
(No. 23, 6 September 2004)
both of these made by Aulia
Taufani, SH, Sutjipto, SH
(another notary in Jakarta)
and what was decided in the
meeting was cancelled.
Agenda 3
1. Approval of the award of a
share bonus to Directors and
Commissioners (excluding
Independent Commissioners)
of a maximum of 7.5 times
their monthly salary in 2007,
in an implementation note
and awarding bonuses
according to the requirements
of the EMSA (Employee
and Management Stock
Allocation) Program.
2. Independent
Commissioners are not
allowed to receive share
bonuses, in accordance with
Bapepam regulation No.IX.1.5,
as formed and implemented
by the Audit Committee.

Agenda 4
Approved the appointment
of Effendi as an Independent
Commissioner, effective upon
receiving approval from Bank
Indonesia.
Agenda 5
This agenda does not
involve any decision, as it
only concerns the reports of
the resignation of Tjahjana
tjakrawinata as a Director,
effective from 1July 2007.
16
I nf orMasI p e Me gang sahaM
TANGGAL
DATE
KETERANGAN
DESCRI PTI ON
HARGA
NOMI NAL
NOMI NAL
PRI CE
JUMLAH
LEMBAR SAHAM
NUMBER
OF SHARES
NI LAI
BUKU
BOOK
VALUE
HARGA
SAHAM
SHARE
PRI CE ( RP)
November
1996
IPO (Initial Public
Offering)
Total
Seri-A: @ Rp 500
Seri-B: @ Rp 500
1
4.340.127.999
4.340.128.000
652 1.250
June
1999
Rights Issue (1:35)
Total
Seri-A: @ Rp 500
Seri-B: @ Rp 500
Seri-C: @ Rp 25
1
4.340.127.999
151.904.480.000
156.244.608.000
-7 300
June
2000
Issuance of new shares
without pre-emptive
rights
Total
Seri-A: @ Rp 500
Seri-B: @ Rp 500
Seri-C: @ Rp 25
1
4.340.127.999
196.850.884.500
201.191.012.500
22 95
June
2001
Repayment of excess
amount in Government
Bonds
Total
Seri-A: @ Rp 500
Seri-B: @ Rp 500
Seri-C: @ Rp 25
1
4.340.127.999
194.885.183.000
199.225.311.000
34 90
December
2002
At year-end
Total
Seri-A: @ Rp 500
Seri-B: @ Rp 500
Seri-C: @ Rp 25
1
4.340.127.999
194.885.183.000
199.225.311.000
41 110
December
2003
Reverse Stock Split
Total
Seri-A: @ Rp 7.500
Seri-B: @ Rp 7.500
Seri-C: @ Rp 375
1
289.341.866
12.992.345.533
13.281.687.400
740 1.300
December
2006
At year-end
Total
Seri-A: @ Rp 7.500
Seri-B: @ Rp 7.500
Seri-C: @ Rp 375
1
289.341.866
12.992.345.533
13.281.687.400
1.048 1.870
13 August
2007
Rights Issue (20:3)
Total
Seri-A: @ Rp 7.500
Seri-B: @ Rp 7.500
Seri-C: @ Rp 375
1
289.341.886
14.984.598.643
15.273.940.510
1.107 2.000
December
2007
At year-end
Total
Seri-A: @ Rp 7.500
Seri-B: @ Rp 7.500
Seri-C: @ Rp 375
1
289.341.886
14.984.598.643
15.273.940.510
1.127 1.970
17
awarDs
TOP BRAND AWARD
Award prestisius ini diberikan kepada BNI Card oleh
Majalah Frontier Consulting Group and Marketing,
Pebruari 2007.
This prestigious award was bestowed for the BNI Card in
february 2007, by frontier Consulting group and
Marketing Magazine.
THE STRAI GHT-THROUGH PROCESSI NG ( STP)
AWARD 2006
The Bank of New York memberi penghargaan Outstanding
Payment Formatting dan Straight-Through Rate Processing
(STP) Award 2006, Maret 2007.
the Bank of new york gave this recognition to BnI in March
2007, for Outstanding Payment Formatting and Straight
Through Rate Processing (STP) Award 2006.
I NTERNATI ONAL QUALI TY AWARD
Hasil penilaian terhadap kualitas, kepemimpinan, teknologi
dan inovasi (berdasarkan QC100 TQM), International
Business Initiatives Directions (B.I.D) Quality Convention
menganugerahi penghargaan Century Era Award kategori
Emas di Jenewa, April 2007.
In recognition of its quality, leadership, technology and
innovation (based on a standard from QC100 TQM), the
Century era award in gold Category was awarded in geneva,
in april 2007, by International Business Initiatives Directions
(B.I.D.) Quality Convention.
SERVI CE QUALI TY AWARD 2007
Majalah Marketing (Indonesia) mempersembahkan
Penghargaan untuk Kualitas Layanan, kategori Layanan
Reguler PerbankanPerbankan Domestik, April 2007.
Marketing Magazine (Indonesia) presented this Service Quality
award, in regular Banking servicesDomestic Banking in
April 2007.
ANNUAL REPORT COMPETI TI ON LACP LEAGUE
BNI meraih Vision Award 2006 untuk Laporan Tahunan
2006, dari League of American Communications
Professionals (LACP), Juli 2007 di San Diego.
The 2006 Vision Award for Excellence in the development
of the organizations annual report, presented in san Diego
in July 2007 by the League of American Communications
Professionals.
BANKI NG SERVI CE EXCELLENCE AWARDS 2007
MRI (Marketing Research Indonesia) dan majalah Info
Bank menganugerahi BNI di peringkat kedua dalam Rising
Star Bank in Service Excellence.
MRI (Marketing Research Indonesia) Magazine and Info Bank
Magazine awarded BNI 2nd Place in the Rising Star Bank in
Service Excellence.
awarDs
Penghargaan
18
p e nghargaan
ANNUAL REPORT AWARD
Pemenang kedua kategori lembaga keuangan BUMN
dalam Annual Report Award, Agustus 2007.
2nd Place Winner in the state-owned nancial company
category, for an Annual Report Award presented in
August 2007.
I SO CERTI FI CATE 9001: 2000
Meraih sertikasi ISO 9001:2000 untuk Manajemen
Keamanan Teknologi Informasi, oleh SGS dan UKAS,
Agustus 2007.
The awarding of an ISO 9001:2000 Certicate for Information
technology security Management, by sgs and Ukas, in
August 2007.
MURI I NDONESI A
BNI menjadi pemegang Rekor MURI sebagai Penggagas
dan Penyedia Layanan SMS Banking dengan provider
seluler terbanyak (seluruh 7 provider GSM dan CDMA),
September 2007.
BNI was entered as a record-holder for the Initiator and
Provider of SMS Banking with the highest number of cellular
providers (7 gsM and CDMa providers), by MUrI (Indonesian
Record Museum), September 2007.
BI SNI S I NDONESI A BANKI NG
EFFI CI ENCY AWARD 2007
Peringkat kedua untuk Bank Paling Esien di Bursa Efek
Jakarta, peringkat kedua untuk Bank BUMN Paling
Esien, peringkat ketiga Bank Paling Esien oleh Harian
Bisnis Indonesia, Oktober 2007.
A 2nd Place Award for the Most Efcient Bank on the Jakarta
Stock Exchange, a 2nd Place for the Most Efcient State-
Owned Bank, and a 3rd Place for the Most Efcient Bank,
from Bisnis Indonesia Daily, in october 2007.
CONSUMER BANKI NG EXCELLENCE AWARD 2007
Pemenang kedua kategori Tabungan Haji oleh Perbanas,
SWA dan Synovate.
A 2nd Place Award in the Hajj Savings category, from
Perbanas, SWA Magazine and Synovate.
LOMBA I NG GRI YA
Pemenang pertama dalam kompetisi Poster Print Media
Lomba Ing Griya 2007 oleh Perhumas (Perhimpunan
Hubungan Masyarakat Indonesia).
Winner of Category I in the Poster Print Media competition,
from Perhumas (Indonesian Association of Public Relations).
19
awarDs
MDGS AWARD
Penghargaan untuk komitmen mencapai Millenium
Development Goals di IndonesiaUniversal Primary
Education, dari Duta Khusus PBB dan Metro TV,
Desember 2007.
Recognition for commitment toward achievement of the
Millennium Development goals in IndonesiaUniversal primary
Education, from the UN Special Ambassador and Metro TV, in
December 2007.
E- LEARNI NG AWARD
Pemenang ketiga Best Online Learning dari majalah SWA,
November 2007.
3rd Place Award for Best Online Learning, in November 2007,
from SWA Magazine.
ATM BERSAMA 2007 AWARD
BNI mendapat penghargaan sebagai Best Acquirer dari
ATM Bersama.
Recognition of BNI as a Best Acquirer from ATM Bersama.
DREAM TEAM CHAMPI ONSHI P
Pemenang kedua Dream Team Championship 2006 yang
diselenggarakan majalah SWA, Indonesian Marketing
Association dan MarkPlus.
2nd place winner in the 2006 Dream team Championship
awarded by SWA Magazine, Indonesian Marketing Association
and MarkPlus.
WEBSI TE AWARD
Dewan Koordinasi Hubungan MasyarakatBUMN
memberi penghargaan sebagai pemenang pertama Public
Relations Media Award 2007 untuk website BNI.
The Public Relations Coordinating Board for StateOwned
Company bestowed a 1st Place for Public Relations Media
Award 2007 for the BNI website.
SI X SI GMA AWARD
Partisipasi dalam Competition & Exhibition Award yang
diselenggarakan oleh Global Six Sigma & Business
Improvement.
A Participation in the Competition & Exhibition Award from
global six sigma & Business Improvement organization.
I NDONESI AN BANK LOYALTY AWARD 2007
InfoBank dan Markplusinsight menganugerahi BNI sebagai
Indonesian Bank Loyalty Champion.
InfoBank and Markplusinsight bestowed this award in the
Indonesian Bank Loyalty Champion category.
KI L AS BALI K 2007
20
JANUARI
Jakarta, 24/01/07
BNI memimpin sindikasi pembiayaan kepada PT Marga
Nujyasuma Agung untuk proyek pembangunan jalan tol
SurabayaMojokerto.
BNI leads a syndicate lending to PT Marga Nujyasuma Agung,
for construction of Toll Road Projects from SurabayaMojokerto.
Jakarta, 25/01/07
Sebagai apresiasi terhadap perkembangan musik jazz, untuk
ketiga kalinya BNI mendukung terselenggaranya Jakarta
International Java Jazz Festival 2007.
To appreciate the development of jazz music, for the third time
BNI gave its support to the Jakarta International Java Jazz
Festival 2007.
Batam, 30/01/07
BNI bekerjasama dengan Otorita Batam mengelola sistem
informasi pengelolaan pelabuhan (SIMOPEL) di Pulau Batam
secara online.
BNI cooperated with Otorita Batam in managing the Harbour
Management Information System (SIMOPEL) in Batam Islands
through an online system.
PEBRUARI
Jakarta, 01/02/07
Untuk memberikan layanan perbankan secara khusus
kepada nasabah-nasabah istimewa di segmen private
banking, BNI meluncurkan layanan BNI Emerald.
To provide customised Banking Services to selected customers in
private banking segments, BNI launched BNI Emerald services.
Denpasar, 02/02/07
Untuk terus meningkatkan bisnis kredit perumahan, BNI
melakukan ekspansi dengan meningkatkan kerjasama
dengan pengembang dan agen properti di Bali.
To support the growth in housing loans, BNI sustains and
broadens its cooperation with developers and property agents
in Bali.
Jakarta, 16/02/07
BNI menjalin kerjasama dengan PT Pelabuhan Indonesia
(Pelindo) IV dalam bidang pengelolaan rekening dan
penggunaan jasa perbankan (cash management).
BNI conrms its continued cooperation with PT Pelabuhan
Indonesia (Pelindo) IV in Banking Account Management, and
access to nancial services (cash management).
Bantul, 17/02/07
BNI Serahkan 46 Unit Rumah Tahan Gempa di Yogyakarta
bekerjasama dengan Aksi Cepat Tanggap (ACT) Dompet
Dhuafa Republika, Yayasan Baitul Mal Ummat Islam
(BAMUIS) BNI.
BnI donated 46 anti-earthquake housing units in yogyakarta,
Central Java, in cooperation with Aksi Cepat Tanggap (ACT)
Dompet Dhuafa republika, Baitul Mal Ummat Islamic
Foundation (BAMUIS) BNI.
MARET
Jakarta, 01/03/07
RUPSLB BNI Tetapkan Kebijakan Restrukturisasi Kredit.
extraordinary general shareholder Meeting approved a credit
restructuring policy.
2007 key eVe nts
Kilas Balik 2007
24/01/07 25/01/07 01/02/07 16/02/07
2007 key eVe nts
21
Jakarta, 08/03/07
Untuk meningkatkan benet bagi pemegang kartu debit
dan kartu kredit, BNI menjalin kerjasama dalam bidang
pembayaran dengan PT Taman Impian Jaya Ancol.
to augment benefts to Debit Card and Credit Card holders, BnI
inaugurated payment protocol with PT Taman Impian Jaya Ancol.
Jakarta, 09/03/07
BNI memimpin sindikasi pembiayaan kepada PT Semesta
Marga Raya untuk proyek pembangunan jalan tol ruas Kanci
(Cirebon)Pejagan (Brebes).
BNI led a syndicate loan agreement to PT Semesta Marga Raya
for toll road projects in Kanci (Cirebon)Pejagan (Brebes).
Samarinda, 15/03/07
Dalam rangkaian kegiatan corporate social responsibility,
BNI memberikan bantuan berupa 2 unit mesin pengolahan
air gambut menjadi air bersih senilai Rp 1,2 miliar di Desa
Lempake dan Bengkuring, Samarinda, Kalimantan Timur.
As part of its corporate social responsibility activities, BNI
donated two water purication machines, amounting to
Rp 1.2 billion, for the purication of brackish swamp water, in
Lempake Village and Bengkuring, Samarinda, East Kalimantan.
Jakarta, 21/03/07
Sejak menjadi bank yang menangani penerimaan biaya Visa
on Arrival (VOA) pada tahun 2004, BNI terus meningkatkan
fasilitas layanan dengan sistem otomasi dalam proses dan
pelaporannya.
Since being appointed as a bank handling Visa on Arrival (VOA)
in 2004, BNI continues to expand its automation services and
facilities in processing and reporting.
Jakarta, 24/03/07
Untuk mengenalkan produk-produk consumer banking,
BNI menggelar BNI Gelegar Expo, di Jakarta (24 Maret
1 April 2007).
To introduce its wide range of consumer banking products, BNI
hosted a BnI gelegar expo, in Jakarta (24 March1 april 2007).
Jakarta, 25/03/07
BNI melakukan pengundian Program Hadiah BNI
Taplus Rejeki Durian Runtuh 2006 Periode II
(Oktober 2006Januari 2007) serentak di 12 kota.
BNI hosted a drawing of lots in BNI Taplus Presents Programs
for rejeki Durian runtuh period II 2006 (october 2006
January 2007) coordinated throughout 12 cities.
Jakarta, 28/03/07
Sebagai penyedia layanan perbankan individu dan korporat,
BNI kembali menambah 2 nasabah cash management,
yaitu PT Garuda Indonesia dan PT Pos Indonesia.
As a provider of individual and corporate Banking services,
BNI augments its client base with two new cash management
customers, pt garuda Indonesia and pt pos Indonesia.
APRI L
Jakarta, 02/04/07
Untuk meningkatkan kredit usaha mikro, kecil dan menengah
(UMKM), BNI meluncurkan produk kredit BNI Wirausaha.
To stimulate loans for small and medium enterprises, BNI
launches BNI Enterprise.
24/03/07 21/03/07 25/03/07 28/03/07
KI L AS BALI K 2007
22
Bandung, 27/04/07
Untuk memberikan kemudahan bagi nasabah melakukan
pembayaran tagihan listrik, BNI menjalin kerjasama host to
host dengan PT PLN Distribusi Jawa Barat & Banten untuk
pembayaran tagihan listrik melalui electronic banking BNI,
yaitu melalui ATM BNI, BNI Call dan BNI Internet Banking.
To facilitate electricity utility payments, BNI implements host-to-
host electronic banking (e-banking) with PT PLN West Java &
Banten distribution. Transactions may be carried out through BNI
ATMs, BNI Call and BNI Internet Banking.
Hong Kong, 29/04/07
Untuk membantu tenaga kerja di luar negeri (TKI), BNI
meluncurkan fasilitas pembiayaan kredit pemilikan rumah
(KPR) BNI Griya Sehat dan kredit pemilikan kendaraan
bermotor BNI OTO kepada pekerja Indonesia di Hong Kong.
To increase assistance for Indonesian workers abroad (Indonesian
Migrant Workers), BNI launches a home ownership loan scheme,
BnI griya sehat, along with a motor vehicle ownership loan
scheme for Indonesian workers, through BNI OTO in Hong Kong.
MEI
Jakarta, 01/05/07
BNI bekerjasama dengan MasterCard Worldwide
meluncurkan kartu Kredit dan Debit MasterCard

PayPass.
TM

BNI, in cooperation with MasterCard Worldwide, announces
the launching of the PayPass
TM
credit card and the Debit
MasterCard.


Jakarta, 23/05/07
BNI menyelenggarakan Rapat Umum Pemegang Saham
Tahunan (RUPST)Tahun Buku 2006.
BnI holds its annual shareholder general Meeting (asgM)for
scal year 2006.
JUNI
Jakarta, 19/06/07
Untuk memberikan solusi pembayaran dalam pembelian
produk-produk Pertamina, BNI menerbitkan kartu kredit
khusus bagi para pengusaha SPBU yang memiliki BNI
Pertamina Bizcard.
To introduce a new payment solution for the purchase of
Pertamina products, BNI premieres a special credit card for
gasoline station entrepreneurs who have the BnI Card
Pertamina Bizcard.
Jakarta, 27/06/07
BNI memberikan fasilitas kredit modal kerja sebesar USD
100 juta kepada PT Perusahaan Gas Negara (Persero)
Tbk untuk keperluan dana talangan proyek pembangunan
jaringan pipa gas South Sumatera West Java (SSWJ).
BnI approves a working capital credit facility of up to UsD 100
million to pt perusahaan gas negara (persero) tbk, to fund credit
needs in building gas pipeline networks, together with supporting
facilities, throughout South Sumatra & West Java (SSWJ).
JULI
Jakarta, 03/07/07
BNI menjalin kerjasama pemberian fasilitas kredit konsumen
kepada karyawan PT Tirta Investama (Danone Aqua).
BNI cooperates in accessing a consumer credit facility to
pt tirta Investama (Danone aqua) employees.
Jakarta, 05/07/07
Dalam rangka ulang tahun ke-61, BNI secara serentak
memberikan kredit kemitraan kepada usaha kecil di seluruh
Indonesia melalui Sentra Kredit Kecil (SKC) BNI dengan total
kredit kemitraan mencapai Rp 48 miliar.
27/06/07 03/07/07 05/07/07
2007 key eVe nts
23
To mark its 61st Anniversary, BNI simultaneously released a
partnering credit to Small Enterprises all over Indonesia, through
the BNI Small Loan Centre, with total partnering credit reaching
Rp 48 billion.
Bogor, 07/07/07
Untuk memperkuat posisinya sebagai kartu transaksi
keluarga, BNI menjalin kerjasama dengan PT Taman Safari
Indonesia, untuk penggunaan BNI Card di obyek wisata
nasional tersebut.
To strengthen the position of BNI Card as a family transaction
card, BNI cooperates with PT Taman Safari Indonesia.
Jakarta, 11/07/07
Setelah menjalin kerjasama dalam jaringan outlet, BNI
kembali meningkatkan kerjasama dengan PT Pos Indonesia
(Posindo) dalam bidang jaringan ATM. Melalui kerjasama ini,
nasabah BNI dapat bertransaksi di jaringan ATM POS untuk
menambah keleluasaan bertransaksi.
Following the successful conclusion of its cooperative outlet
networks, BNI once again entered into agreement with PT Pos
Indonesia (Posindo) for ATM network. This will enable BNI
customers to carry out transactions at ATM POS networks and
to broaden the range of transactions.
Jakarta, 13/07/07
Sebagai salah satu bentuk corporate social responsibility
(CSR), BNI kembali menambah penyaluran kredit kemitraan
kepada 58 pedagang kaki lima yang ada di sekitar Kantor
Pusat BNI.
As an aspect of its corporate social responsibility (CSR), BNI
again augmented partnering credit to 58 itinerant merchants
near BNI headquarters.
Bandung, 14/07/07
Untuk memperluas ekspansi kredit pemilikan rumah (KPR),
BNI menjalin kerjasama dengan pengembang PT Marbella
Dago Pakar dan PT Bandung Dago Pakar.
To expand its mortgage loan portfolio, BNI cooperates with the
developers of pt Marbella Dago pakar and pt Bandung Dago pakar.
Jakarta, 16/07/07
Setelah menjadi bank pemerintah yang pertama kali go
public pada tahun 1996, saham BNI kembali ditawarkan
kepada masyarakat umum untuk kedua kalinya.
Following its pioneering effort to become the rst government
bank to go public (in 1996), BNI offers its shares to the public
for the second time.
Jakarta, 27/07/07
BNI kembali meningkatkan kerjasama dengan PT Taman
Impian Jaya Ancol berupa penerbitan kartu debit
co-branding BNI Dufan Card MasterCard International.
BNI further augments its cooperation with PT Taman Impian
Jaya ancol, with a Debit Card co-branded BnI fantasy world of
MasterCard International.
Jakarta, 30/07/07
BNI menyelenggarakan Rapat Umum Pemegang Saham
(RUPS) Luar Biasa dengan agenda antara lain menyetujui
Penambahan Modal Dengan Hak Memesan Efek Terlebih
Dahulu (HMETD).
BnI holds an extraordinary general shareholders Meeting, with
an agenda including the agreement to increase capital through
an issuance of new shares with pre-emptive rights.
13/07/07 16/07/07 30/07/07
KI L AS BALI K 2007
24
AGUSTUS
Jakarta, 07/08/07
Untuk memberikan kemudahan dalam pengelolaan sistem
informasi keuangan nasabah korporat, BNI menjalin
kerjasasama dalam bidang cash management dengan
PT Antam Tbk.
To facilitate the management of nancial Information systems
for corporate customers, cooperation in cash management is
established for PT Antam Tbk.
Jakarta, 09/08/07
BNI memberikan fasilitas kredit sebesar USD 13,5 juta
kepada Semen Padang dalam bentuk fasilitas L/C impor
dan forex line, yang ditandai dengan penandatanganan
perjanjian kredit.
BnI awards a credit facility for up to UsD 13.5 million to semen
Padang, for import L/C and forex lines, concluded through a
signed credit agreement.
Jakarta, 13/08/07
BNI mengawali perdagangan hari pertama Penawaran
Umum Terbatas II dan Penawaran Umum Saham milik
Pemerintah RI di Bursa Efek Jakarta (BEJ) dan Bursa Efek
Surabaya (BES) ditandai dengan seremoni yang dihadiri oleh
Sofyan Djalil, Menteri Negara BUMN RI.
BNI carries out its rst day trading of secondary public offerings,
traded on The Jakarta Stock Exchange and the Surabaya Stock
exchange, marked in a ceremony presided over by sofyan Djalil,
Minister of State-Owned Enterprises.
Jakarta, 14/08/07
Untuk meningkatkan kemampuan antisipasi risiko, BNI
menjalin kerjasama dengan ABN AMRO Bank N.V.
dalam bidang konsultansi dan supervisi operational risk
management (ORM). Dengan kerjasama ini, BNI akan
mendapat konsultansi dan supervisi best practice ORM
perbankan.
To manage risk more effectively, BNI runs, in cooperation
with ABN AMRO Bank N.V, sessions on consultation and
supervision of operational risk management (ORM). Through
this cooperation, BNI will have insights on ORM banking best
practice.
Jakarta, 23/08/07
Di akhir triwulan II-2007, BNI menunjukkan pertumbuhan
positif yang ditunjukkan oleh beberapa indikator kinerja
perusahaan, seperti pertumbuhan aset, kredit, dana pihak
ketiga, laba dan penurunan kredit bermasalah.
By the end of Q22007, BNI noted positive growth as indicated
by company performance indicators, such the growth of assets,
loans, third party funds, prots and a decreasing level of non-
performing loans.
Jakarta, 30/08/07
Nasabah BNI yang memegang BNI Card, Kartu Derivatif
(Kartu Mahasiswa, Kartu Pegawai dan Kartu Anggota terbitan
BNI), BNI Syariah Card dan Kartu Kredit BNI, kembali
memperoleh diskon pembelian buku di seluruh outlet
Gramedia.
BnI Customers holding BnI Cards, Derivatives Cards (student
Cards, Employee Cards and Member Cards issued by BNI),
BNI Syariah Cards and BNI Credit Cards to be given further
discounts on buying books at all gramedia outlets.
13/08/07 14/08/07 23/08/07 30/08/07
2007 key eVe nts
25
SEPTEMBER
Yogyakarta, 12/09/07
BNI kembali meningkatkan kerjasamanya dengan Universitas
Gadjah Mada (UGM) dalam bidang pengelolaan SPP
Program Pascasarjana UGM, dan pengelolaan tabungan dan
Kartu Mahasiswa (KTM) Program Pascasarjana UGM.
BnI once again augments cooperation with gadjah Mada
University (UgM) in managing tuition fee programs for
postgraduate students of UgM, and in managing savings and
student cards for UgM postgraduate programs.
Jakarta, 13/09/07
BNI meningkatkan kerjasama dengan Departemen
Tenaga Kerja dan Transmigrasi di bidang penggunaan
jasa perbankan untuk program penempatan, perlindungan
dan pemberdayaan Tenaga Kerja Indonesia (TKI)
berupa pemberian fasilitas pinjaman, layanan deposito,
penyimpanan dan pengelolaan dana, layanan jasa
pengiriman dan penukaran uang, bantuan kegiatan pelatihan
dan penyuluhan terkait dengan perbankan.
BNI renews cooperation with the Transmigration and Workers
Department in using their fnancial service for placement,
protection and training of Indonesian workers, including issuing
a loan facility, time deposit, savings and funds management,
transfer services and money exchange, along with support for
training activities related to Banking.
Surabaya, 18/09/07
BNI menjalin kerjasama dengan 2 pengembang terbesar
di Surabaya, yaitu Ciputra Group (PT Galaxi Alam Semesta,
PT Galaxi Citra Perdana dan PT Citra Bahagia Elok) dan
Pakuwon Group (PT Pakuwon Jati, PT Pakuwon Darma dan
PT Artisan Surya Kreasi) untuk pemberian fasilitas KPR BNI
Griya kepada pembeli properti dari group tersebut.
Prospective home owners are the target of a credit facility set up
by BnI through BnI griya, in cooperation with two of the most
prominent developers in each region: Ciputra group (pt galaxi
alam semesta, pt galaxi Citra perdana and pt Citra Bahagia
elok) and pakuwon group (pt pakuwon Jati, pt pakuwon Darma
and PT Artisan Surya Kreasi).
Jakarta, 24/09/07
BNI menjalin kerjasama dengan Apartemen Kemang Village
untuk memberikan fasilitas Kredit Pemilikan Apartemen
(KPA) dengan benet bebas biaya administrasi, biaya provisi
yang sangat ringan dan bunga yang sangat kompetitif.
BNI and Kemang Village Apartments jointly set up a mortgage
loan scheme, offering prospective buyers numerous benets,
free administration costs, lower provision costs and a very
competitive interest rate.
Jakarta, 27/09/07
BNI memperpanjang fasilitas kredit sebesar Rp 884,24 miliar
dan memberikan tambahan fasilitas kredit sebesar Rp 765
miliar kepada PT Nusa Surya Ciptadana (NSC), dengan jangka
waktu kredit 5 tahun.
BNI extends a credit facility for 884.24 Billion, along with
a further credit facility of Rp 765 Billion, to PT Nusa Surya
Ciptadana (NSC), with a payment tenure of ve years.
OKTOBER
Jakarta, 04/10/07
Sebagai bagian kegiatan corporate social responsibility
(CSR) sekaligus menyambut bulan Ramadhan, BNI
memberikan bantuan sosial senilai Rp 650 juta berupa
bantuan pembangunan dan sarana penunjang ibadah
ditujukan kepada yayasan yang berada di 11 kota.
13/09/07 18/09/07 04/10/07
KI L AS BALI K 2007
26
As an aspect of its Corporate Social Responsibility (CSR)
activities, as well as welcoming the Holy Fasting Month of
Ramadhan, BNI allots Rp 650 Million in support of building
prayer house infrastructure, to religious foundations in
eleven cities.

Jakarta, 05/10/07
BNI menjalin kerjasama dengan PT Pelabuhan Indonesia
(Pelindo) IMedan dalam bidang pengelolaan rekening dan
penggunaan jasa perbankan (cash management).
BNI collaborates with PT Pelabuhan Indonesia (Pelindo)
I-Medan, the National Shipping Company, to set up accounts
and put in place an efcient cash management system.
Jakarta, 10/10/07
Untuk ketiga kalinya, BNI kembali menyelenggarakan Rejeki
Mudik Gratis, dengan memberangkatkan sekitar 5.500
pemudik dengan 100 bus.
BNI hosts its third Free Homecoming, aimed at its loyal
customer base, provided complimentary transportation, with
100 buses serving a total of some 5,500 passengers.
Jakarta, 22/10/07
BNI menandatangani Perjanjian Kerjasama dengan PT Asuransi
Kredit Indonesia (Askrindo) dan Perum Sarana Pengembangan
Usaha (SPU) dalam penyaluran kredit/pembiayaan syariah
usaha mikro dan kecil dengan skim penjaminan.
BNI signed an agreement to cooperate with PT Asuransi Kredit
Indonesia (Askrindo) and Perum Sarana Pengembangan Usaha
(SPU) in supplying credit and Syariah funding to small and micro
enterprises, with a guarantee scheme.
NOVEMBER
Jakarta, 14/11/07
BNI meraih 3 sertikat ISO 9001:2000.

BNI was awarded three ISO 9001:2000 certicates.
Sidrap, 17/11/07
Melalui Lembaga Amil Zakat Yayasan Baitul Mal Ummat
Islam (BAMUIS) Bank Negara Indonesia, BNI membangun
Rumah Asuh Bening Nurani di Desa Mojong, Kecamatan
Watang Sidenreng, Kabupaten Sidrap, Sulawesi Selatan.
working through Lembaga amil Zakat yayasan Baitul Mal
Ummat Islam (BAMUIS) Bank Negara Indonesia, BNI built the
Bening Nurani orphanage in Mojong Village, Watang Sidenreng
District, sidrap regency, south sulawesi.
Bengkulu, 20/11/07
Sebagai bentuk kepedulian sosial dalam bidang pendidikan,
BNI membantu pembangunan dan renovasi SD Negeri 02
Bengkulu dan SD Negeri 20 Bengkulu.
As a part of its social concern for educational development, BNI
helped to build and renovate elementary school sD negeri 02,
Bengkulu and sD negeri 20, Bengkulu.
Jakarta, 20/11/07
Untuk memberikan perlindungan kepada nasabah tabungan
pendidikan, BNI Syariah menjalin kerjasama dengan
PT Asuransi Takaful Keluarga.
In giving protection to Education savings customers, BNI Syariah
cooperated with PT Asuransi Takaful Keluarga.

10/10/07 14/11/07 17/11/07 20/11/07
2007 key eVe nts
27
Jakarta, 24/11/07
Untuk meningkatkan ekspansi bisnisnya, BNI menggelar
BNI Gelegar Expo, secara serentak di 5 kota, yaitu Jakarta,
Bekasi, Bandung, Yogyakarta dan Surabaya, pada tanggal
24 November2 Desember 2007.
To stimulate business and expand interest, BNI presented
BnI gelegar expo, held simultaneously in fve cities, from
24 november2 December 2007.
Jakarta, 26/11/07
BNI untuk kedua kalinya memberangkatkan 26 orang
dari berbagai kalangan untuk menjalankan ibadah haji di
tanah suci.
For the second time around, BNI sponsored a total of 26 people,
coming from various regions across the archipelago, to take part
in the Free Islamic hajj pilgrimage to Mecca.
Jakarta, 27/11/07
Atas kegiatannya di bidang corporate social responsibilty
(CSR), BNI meraih Millenium Development Goals (MDGs)
Award untuk kategori Pendidikan Dasar untuk Semua dari
Duta khusus PBB.
In recognition of its Corporate Social Responsibility (CSR)
program, BnI earned a Millennium Development goal (MDg)
Award from the UN Special Ambassador.
Jakarta, 27/11/07
BNI menjalin kerjasama dengan PT Pupuk Kaltim dalam
pemberian fasilitas kredit konsumen kepada karyawannya.
BNI set up a Consumer Loan facility for the employees of PT
Pupuk Kaltim, in East Kalimantan.
DESEMBER
Jember, 04/12/07
BNI Syariah membuka Kantor Cabang di Kabupaten Jember,
Jawa Timur yang merupakan kantor cabang BNI Syariah
ke-24 serta meluncurkan produk BNI Wirausaha Syariah.
BNI Syariah opened branch ofces in Jember Regency, East
Java, thus becoming the 24
th
BNI Syariah Branch Ofce, while
launching the new BNI Wirausaha Syariah.
Tasikmalaya, 04/12/07
Melanjutkan program di Yogyakarta, BNI, menggelar
program Ayo Membaca, Ayo Menabung, di Tasikmalaya,
Jawa Barat.
Continuing programs frst launched in yogyakarta, BnI featured
Lets Read, Lets Save events in Tasikmalaya, West Java.
Jakarta, 08/12/07
BNI meluncurkan kartu BNI Visa Olimpiade dalam
menyambut event Olimpiade Beijing 2008.
In welcoming one of the most prestigious sports events in the
world, the 2008 Beijing olympic games, BnI offcially launches
the BNI Olympic Visa card.
24/11/07 04/12/07 04/12/07 08/12/07
Peran penting BNI adalah Berbagi dengan
Masyarakat. Untuk mencapai tujuan tersebut,
BNI menetapkan kebijakan yang dirancang untuk
meningkatkan layanan, esiensi, kehandalan
dan kenyamanan.
A STRUCTURE EVOLVI NG WI TH THE TI ME S
Struktur Berkembang,
Seiring Waktu
BNIs essential role is to Share with
the People, and toward this objective
the Bank pursues policies and protocol
designed to emphasize service,
efciency, reliability, and convenience.
30
Kualitas kredit menunjukkan perbaikan pada akhir
tahun 2007 dibandingkan tahun sebelumnya dan pada
bulan Januari 2008, BNI telah keluar dari pengawasan
intensif Bank Indonesia.
BNIs loan quality improved in 2007 compared to the
previous year; and in January 2008, BNI was released from
Bank Indonesia special supervision.
31
Laju inasi yang terkendali selama 2007 dan nilai tukar Rupiah yang stabil terhadap dollar
Amerika Serikat memberikan pengaruh positif terhadap pertumbuhan sektor riil dibandingkan
tahun sebelumnya. Tumbuhnya sektor riil antara lain ditopang oleh kredit perbankan yang
tercermin pada naiknya Loan to Deposit Ratio (LDR), yaitu dari 61% pada posisi akhir
2006 menjadi 67% pada akhir 2007, yang sekaligus merupakan angka tertinggi LDR sejak
Indonesia mengalami krisis ekonomi tahun 1997. Lebih kondusifnya perekonomian Indonesia
tahun 2007 juga tidak terlepas dari keberhasilan Bank Indonesia menerapkan kebijakan suku
bunga dengan menurunkan secara bertahap BI Rate, hingga menjadi 8,00% pada akhir
tahun dari posisi awal tahun sebesar 9,50%.
Bulan Agustus 2007, Perseroan melakukan Secondary Public Offering dalam rangka
memperkuat modal. Dengan hasil yang diperoleh, Capital Adequacy Ratio (CAR) Perseroan
pada akhir 2007 mencapai 17,65%, dari posisi tahun sebelumnya sebesar 15,95%. Total aset
konsolidasi Perseroan tumbuh menjadi Rp 183,34 triliun pada akhir 2007, atau naik 8,22%
dari tahun sebelumnya. Kenaikan aset tersebut didorong oleh ekspansi kredit, sehingga
posisi kredit per akhir 2007 menjadi sebesar Rp 88,57 triliun atau naik 32,91% dari posisi
akhir tahun sebelumnya, dengan LDR menjadi 60,56% dari sebelumnya 49,02%.
Kualitas kredit menunjukkan perbaikan pada akhir tahun 2007 dibandingkan tahun
sebelumnya dan pada bulan Januari 2008 BNI telah keluar dari pengawasan intensif Bank
Indonesia. Di tahun 2007, kondisi ekonomi mulai kondusif bagi dunia usaha, namun kondisi
di tahun 2008 diprediksikan agak berbeda. Di tahun anggaran 2008, tampak terdapat
tekanan-tekanan yang berdampak kurang menguntungkan secara global, diantaranya
bersumber dari kenaikan harga minyak bumi dan harga pangan dunia. Tekanan ini
dikhawatirkan akan berpengaruh negatif, tidak hanya pada perkembangan perekonomian
nasional secara umum, tapi juga pada sektor riil yang kemudian pada gilirannya akan
berpengaruh pada meningkatnya Non Performing Loan (NPL) perbankan.
The stable Rupiah exchange
rate against several dominant
foreign currencies and a
managed ination rate
throughout 2007 had a
positive impact towards
growth in the real sector
compared to that of the
previous year. The growth of
the real sector is reected
(among others) in the rise
of the Loan to Deposit
Ratio (LDR) of the banking
industry, i.e., from 61% at
the end of 2006 to 67% at
the end of 2007, which is
also the highest LDR rate
since Indonesia suffered
an economic crisis in 1997.
More conducive economy
conditions during 2007
are also related to the
success of Bank Indonesia
in implementing its interest
policy movement gradually,
where the BI Rate stood at
8.00% at the end of the year,
from its 9.50% position at the
commencement of the year.
In August 2007, BNI
completed the Secondary
Public Offering to strengthen
its capital. With the obtained
proceeds, BNI Capital
Adequacy Ratio at the end of
2007 reached 17.65%, from
the previous years end at
15.95%. BNI consolidated
assets grew with the position
at the end of 2007 reaching
Rp 183.34 trillion, or an
increase of 8.22% from its
position at the previous year.
Asset increase was driven by
the expansion of loans, which
at the end of 2007 amounted
to Rp 86.88 trillion, increased
by 32.62% from their position
in December last year, with
the LDR increasing to 60.56%
RE P ORT OF THE BOARD OF COMMI SSI ONE RS
Laporan Komisaris
L AP ORAN KOMI SARI S
32
Dalam rangka penerapan prinsip kehati-hatian dan mengantisipasi terhadap kemungkinan
yang kurang menggembirakan, Direksi telah mengambil kebijakan memperkuat cadangan
atas kemungkinan kerugian, antara lain dengan menambah dan memperbesar Penyisihan
Penghapusan Aktiva Produktif dan menutup secara sekaligus kekurangan cadangan imbalan
pasca-kerja pegawai.
Tambahan Penyisihan Penghapusan Aktiva Produktif yang dibentuk di tahun 2007 mengalami
kenaikan 84,57% dari jumlah yang dibentuk di tahun sebelumnya. Kebijakan tersebut
dimaksudkan agar kondisi dan struktur Perseroan menjadi lebih solid dan sustainable ke
depan. Dengan diambilnya langkah-langkah tersebut, laba bersih Perseroan turun 53,37%
dibandingkan laba tahun buku sebelumnya menjadi sebesar Rp 897,93 miliar.
Laporan keuangan tahun 2007 telah diaudit oleh Akuntan Publik. Penunjukan dan penugasan
Kantor Akuntan Publik telah dilakukan sesuai prosedur yang berlaku. Komite Audit memantau
proses pemeriksaan, melakukan evaluasi sesuai kompetensinya dan memberikan pendapat
secara profesional sebagaimana laporan yang dimuat pula dalam buku Laporan Tahunan ini.
Dengan penguatan pada struktur keuangannya, diharapkan Perseroan ke depan akan
menjadi lebih tangguh dan lebih mampu menghadapi kemungkinan-kemungkinan yang
kurang menguntungkan. Ke depan, Perseroan akan menitikberatkan kebijakan yang berbasis
customer centric, pemanfaatan teknologi informasi yang lebih handal dan lebih menekankan
profesionalisme dalam kebijakan sumber daya manusia. Harapan tersebut antara lain
dilatarbelakangi dengan mulai dilakukan dan akan terus dilanjutkannya penyempurnaan
proses bisnis yang didukung oleh teknologi yang handal, serta diimplementasikannya prinsip-
prinsip good corporate governance termasuk penerapan manajemen risiko yang terukur
pada seluruh lini organisasi.
from its previous level of
49.02%.
BNI loan quality improved
in 2007 compared to the
previous year; and in January
2008, BNI was released
from Bank Indonesia special
supervision. While the
beginning of year 2007 was
perceived to be conducive
for business, the economic
climate in 2008 is projected
to be different. The 2008
scal year seems to be facing
pressures which may have
detrimental global effects,
among others rooting in
the oil price and food price
increases. This pressure is
feared to have a negative
inuence not only on the
general development of our
national economy, but also in
the real sector, which in turn
will deteriorate the NPL (Non
Performing Loans) level in the
banking industry.
To anticipate this inauspicious
possibility, management
has taken a conservative
provisioning policy, among
others by increasing the Loan
Loss Reserve and a one-time
expense on past-service
liabilities for the employee
pension fund.
Additional Loan Loss
Reserves to be formed in
2007 increased by 105.00%
from the previous year. This
step is taken in order to
solidify the future structure
of the Companys nancial
soundness and to make it
more sustainable. By adopting
this policy, BNI net income in
2007 decreased by 53.37%
compared to the previous
RE P ORT OF THE BOARD OF COMMI SSI ONE RS
33
Pada tanggal 6 Pebruari 2008, RUPS Luar Biasa telah memutuskan penggantian Direktur
Utama dan beberapa Anggota Direksi lainnya, juga penggantian Komisaris Utama serta
beberapa Anggota Komisaris. Jabatan masing-masing berlaku secara efektif setelah
diterimanya persetujuan Bank Indonesia, yang bagi Anggota Komisaris berlaku sebagai
berikut:
Erry Riyana Hardjapamekas, Komisaris Utama/Komisaris Independen, terhitung tanggal
11 Maret 2008
Fero Poerbonegoro, Komisaris, terhitung tanggal 11 Maret 2008
Achil Ridwan Djayadiningrat, Komisaris Independen terhitung tanggal 24 Maret 2008
scal year, and stood at
Rp 897.93 billion.
The nancial report of the
year 2007 has been audited
by Public Accountants. The
appointment and assignment
of the Public Accountant
has been conducted in
accordance with prevailing
procedures. The Audit
Committee has monitored
the audit processes, executed
evaluations in accordance
with its competence and given
its professional opinions, as
included in this Annual Report.
It is also necessary to
mention that on 6 February
2008 the Annual General
Meeting of Shareholders
appointed a new President
Director and several Board of
Director members, and also
appointed a new President
Commissioner and several
Board of Commissioner
members. Roles and
responsibilities of each newly
appointed member of Board
of Commissioners and Board
of Directors became effective
upon receiving the approval of
Bank Indonesia, as follows:
Erry Riyana Hardjapamekas,
President Commissioner/
Independent Commissioner,
as of 11 March 2008
Fero Poerbonegoro,
Commissioner, as of 11
March 2008
Achil Ridwan Djayadiningrat,
Independent Commissioner,
as of 24 March 2008
Suwarsono
Wakil Komisaris Utama/
Komisaris Independen
Vice President Commissioner/
Independent Commissioner
Achjar Iljas
Komisaris Independen
Independent Commissioner
34
Di tahun 2007, portofolio pinjaman tumbuh
signikan 33,39% dari Rp 66,46 triliun menjadi
Rp 88,65 triliun di akhir tahun.
During 2007, the BNI loan book grew by 33.39%, from
Rp 66.46 trillion in 2006 to Rp 88.65 trillion at year-end.
35
Pertama-tama, perkenankan kami menyampaikan susunan direksi baru yang ditunjuk
pada Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) pada bulan Pebruari 2008, menggantikan
manajemen yang telah mengabdi sejak Desember 2003. Tim manajemen baru berasal dari
berbagai latar belakang dengan beragam pengalaman, yang akan menjalankan segenap
program baru dengan sebaik-baiknya.
Laporan Tahunan ini kami awali dengan menyampaikan salam bagi segenap pemangku
kepentingan baik di Indonesia maupun mancanegara. Tahun ini, BNI telah memasuki
dasawarsa ke enam dalam melayani negeri sebagai pilar keuangan yang menjadi
kebanggaan bangsa.
Dengan semangat berbagi, dan agar lebih banyak pihak yang dapat memiliki BNI, maka
pada bulan Agustus 2007 lalu, BNI melaksanakan program privatisasi lanjutan. Program ini
terdiri dari penerbitan saham baru dengan hak memesan efek terlebih dahulu (HMETD) dan
divestasi saham pemerintah di BNI. Kedua program tersebut berjalan secara paralel dan
berhasil menghimpun total dana sebesar Rp 8 triliun serta tercatat sebagai transaksi terbesar
dalam sejarah di Bursa Efek Indonesia. Namun mengingat waktu pelaksanaan privatisasi
tersebut dinilai kurang kondusif, karena secara tidak terduga terjadi krisis sub-prime
mortgage di Amerika Serikat yang menyebabkan melemahnya pasar saham global yang juga
berimbas ke pasar saham Indonesia.
Setelah privatisasi, kepemilikan publik meningkat dari 0,89% menjadi 23,64%. Saat ini,
saham BNI lebih likuid dan aktif diperdagangkan di Bursa Efek Indonesia, dan termasuk
dalam perhitungan indeks LQ-45. Salah satu hal positif dari meningkatnya kepemilikan publik
adalah kami harus terus menerus memperbaiki kinerja; karena saat ini tekanan eksternal
semakin besar dan mendorong para karyawan bekerja lebih produktif dengan penuh
dedikasi, komitmen dan integritas.
Dapat kami sampaikan kepada para pemegang saham, walaupun terjadi berbagai
First of all, allow us to present
the new members of the BNI
Board of Directors, appointed
at the General Shareholders
Meeting in February 2008.
The new management team
succeeded Board members
who had served since
December 2003. This new
management team represents
an ideal mix of professionals
from different backgrounds
and areas of expertise, a
group who will ensure smooth
execution of new programs
to be implemented within the
organization.
With the spirit of sharing, BNI
completed its privatization
program in August 2007.
The program consists of the
issuance of new shares with
pre-emptive rights (a rights
issue) and the divestment
of Government shares in
BNI (a secondary public
offering). The two programs
were conducted in parallel,
raising the total funds to
Rp 8 trillion and recorded as
the largest equity transaction
ever conducted on the
Indonesia Stock Exchange.
Unfortunately, the timing of
the privatization program was
not favourable, as it coincided
with the beginning of the
sub-prime crisis in the United
States of America, which led
to volatile and negative stock
market movement, not only in
Indonesia but also globally.
Following this privatization
program, public ownership
increased, moving from
0.89% to 23.64%. Currently,
BNI shares are more liquid,
actively traded on the
Indonesia Stock Exchange
and included in the calculation
of their LQ-45 index. One
of the advantages of having
a broader public ownership
is that external pressure to
improve our performance
became greater. The pressure
will undoubtedly impel every
employee to work more
productively, with dedication,
commitment and integrity.
We can report to our
shareholders in all honesty
that despite several
unpleasant shocks during
2007, the Indonesian
economy, and the structural
integrity of BNI and the entire
banking system, steadily
improved over the previous
year. Working arm in arm
with government institutions
to restore macro-economic
RE P ORT OF THE BOARD OF DI RE CTOR
Laporan Direksi
36
L AP ORAN DI RE KSI
guncangan selama tahun 2007, perekonomian Indonesia dan dunia perbankan pada
umumnya telah mampu memperbaiki diri. Seiring dengan upaya pemerintah memulihkan
kondisi makro ekonomi, BNI dapat memanfaatkan peluang dari pertumbuhan ekonomi
nasional yang stabil, ditandai dengan suku bunga yang lebih rendah, stabilnya nilai tukar
Rupiah dan membaiknya kinerja ekspor.
Selama tahun 2007, SBI satu bulan serta tingkat inasi cenderung menurun. Membaiknya
kondisi makro ekonomi selama semester pertama 2007 telah mendorong tumbuhnya sektor
riil dan BNI telah siap untuk menangkap peluang terbesar, sebagaimana tercermin dari
tingginya pertumbuhan pinjaman BNI.
Di tahun 2007, portofolio pinjaman tumbuh signikan sebesar 33,39% dari Rp 66,46 triliun
menjadi Rp 88,65 triliun di akhir tahun. Seluruh segmen menunjukkan pertumbuhan yang
cukup tinggi, dari 24% pada segmen konsumer hingga 63% pada pembiayaan syariah.
Hampir separuh dari pinjaman baru berasal dari segmen UMKM yang tumbuh sebesar
35,80%, diikuti dengan pinjaman korporasi yang naik 31,44%.
Pada tahun 2007, 40% portofolio pinjaman berasal dari segmen korporasi, 43% dari segmen
UMKM, 15% merupakan pinjaman konsumer dan 2% merupakan pembiayaan syariah.
Hal ini sejalan dengan kebijakan BNI untuk membatasi 40% portofolionya pada segmen
korporasi, dengan pertimbangan BNI tidak ingin terlalu tergantung pada segmen korporasi
yang relatif lebih rentan terhadap kondisi ekonomi yang memburuk. Ini terbukti pada saat
krisis Asia tahun 1997 yang lalu, dimana pinjaman korporasi cenderung menanggung akibat
lebih buruk dibandingkan dengan segmen yang lain.
Sejak tahun 2005, BNI telah membangun pondasi untuk percepatan petumbuhan kredit
UMKM dan konsumer dengan membangun Sentra-sentra Kredit yang melayani segmen
kredit menengah, kredit kecil maupun kredit konsumer. Di akhir 2007, BNI telah memiliki
20 Sentra Kredit Menengah, 51 Sentra Kredit Kecil dan 12 Sentra Kredit Konsumer. Untuk
stability, we took advantage of
the steady if modest growth
of the national economy,
spurred on by a lower interest
rate climate, strong controls
on inationary tendencies, a
relatively stable and healthy
exchange rate for the
Indonesian Rupiah, continuing
good export performance,
cautiously reviving investment
along with economic recovery
and stability.
It is noteworthy to report
that during 2007 both the
SBI one-month rate and the
rate of ination declined,
and came under control by
appropriate authorities. A
favourable macro economy
during the rst semester
of 2007 has driven the real
sector to grow, and BNI has
been prepared to reap the
greatest benet, as evident in
its signicant loan growth.
During 2007, the BNI loan
book grew by 33.39%, from
Rp 66.46 trillion in 2006 to
Rp 88.65 trillion at the end
of 2007. All segments show
an impressive growth rate,
ranging from 24% (consumer
segment) to 63% (Sharia
nancing). Almost half the
new loans came from the
SME segment with 35.80%
growth, followed by corporate
loans with 31.44% increase.
Note that in 2007, 40% of our
loans were in the corporate
segments, 43% in the SME,
15% consumer and 2%
Sharia, which conforms to
BNI policy to sustain a 40%
loan level for corporate loans
in its portfolio. This loan
composition policy aims to
spread risk, since BNI does
not want to lean too heavily
on corporate loans, as the
corporate segment is quite
sensitive to negative trends in
macro economic conditions.
This became evident during
the Southeast Asian crisis
in 1997, when corporate
loans deteriorated more
dramatically than those of any
other segment.
One of the key successes in
our growing SME segment
occurred in 2005, when we
decided to establish Loan
Centres as the touch points
and processing centres of
medium-size, small-size
and consumer loans. At the
end of 2007, there are 20
Medium Loan Centres, in 51
Small Loan Centres and 12
Consumer Loan Centres. To
37
RE P ORT OF THE BOARD OF DI RE CTOR
meningkatkan penetrasi pasar di segmen usaha kecil, BNI juga telah membuka 100 Unit
Kredit Kecil (UKC) di wilayah-wilayah potensial, khususnya di pulau Jawa.
Di triwulan pertama 2007, BNI meluncurkan produk BNI Wirausaha, yang menawarkan
pinjaman senilai Rp 50 juta hingga Rp 1 miliar, dengan suku bunga yang kompetitif, proses
yang cepat dan mudah serta layanan yang prima. Produk ini mendapat sambutan yang
menggembirakan di pasar, terbukti dari tercapainya nilai pinjaman sebesar lebih dari Rp 1
triliun, dari sekitar 8.500 debitur kecil di akhir tahun 2007.
Pada segmen korporasi, BNI berupaya mengembangkan pembiayaan infrastruktur seperti
proyek jalan tol dan pembangkit listrik, serta sektor energi dan pertanian. Di tahun 2007, BNI
telah berpartisipasi dalam pembiayaan sindikasi untuk 9 proyek jalan tol senilai Rp 20 triliun,
dimana porsi BNI mencapai Rp 6,65 triliun. Pembiayaan proyek tersebut diharapkan dapat
dicairkan dalam tiga tahun ke depan.
Di segmen konsumer, sekitar 40% dari pinjaman konsumer adalah kredit perumahan, yakni
BNI Griya. BNI Griya merupalan produk unggulan dan mesin utama pertumbuhan pinjaman
konsumer. Jika di tahun 2006 terdapat 40.649 nasabah dengan total pinjaman Rp 2,62
triliun, maka dengan tambahan 17.347 nasabah baru di akhir tahun 2007, nilai pinjaman
dapat mencapai Rp 4,74 triliun.
Untuk mendukung pertumbuhan pinjaman konsumer, BNI bekerja sama dengan 579
perusahaan pengembang properti yang mengelola 793 kompleks perumahan, 26 badan usaha
milik negara (BUMN) dan badan usaha milik daerah (BUMD), 39 Perusahaan penilai,
16 perusahaan asuransi dan 5 agen properti yang menjual dan memasarkan produk BNI Griya.
Kebijakan pertumbuhan yang agresif tetap mengacu pada prinsip kehati-hatian dalam proses
persetujuan kredit. Tingginya pertumbuhan pinjaman juga diiringi dengan perbaikan tingkat
pinjaman bermasalah, yang berada di bawah pengelolaan Divisi Kredit Khusus. Pada akhir
increase penetration of the
small-loan market, BNI also
opened some 100 Small Loan
Units in potential business
areas, mainly on Java Island.
In the rst quarter of
2007, BNI launched the
BNI Wirausaha or BNI
Entrepreneur Loan, offering
loans from Rp 50 million
to Rp 1 billion, with more
competitive pricing, more
expedient, convenient loan
processing and better
services. This product was
well received by the targeted
market, as reected in its
outstanding balance of over
Rp 1 trillion, from around
8,500 small debtors, at the
end of 2007.
In the corporate segment,
BNI is more focused to grow
in infrastructure nancing
projects, such as power plants
and toll roads, along with
other prospective sectors such
as energy and agribusiness.
During 2007, BNI has
engaged in syndication to
nance 9 toll-road projects
worth Rp 20 trillion, where
the Banks portion amounted
to Rp 6.65 trillion and is
expected to be disbursed
within three years.
In the consumer segment,
around 40% of BNI consumer
loans were in mortgages, with
our product champion, BNI
Griya. BNI Griya is the main
engine of growth in consumer
loans, from the 2006 gure of
40,649 customers borrowing
Rp 2.62 trillion, increased by
a new 17,347 customers and
total outstanding amount of
Rp 4.74 trillion at the end
of 2007.
To support consumer loan
growth, BNI has alliances
with 579 property developers
who manage 793 housing
estates, 26 state-owned and
regionally-owned companies,
39 independent appraisers, 16
insurance rms and 5 major
property agents, to cooperate
in sales and marketing of
BNI Griya.
The aggressive policy on
new loan origination was
also accompanied by a strict
and more prudent policy in
the loan approval process.
Despite high loan growth,
BNI also could improve the
level of Non Performing Loans
due to its persistent concerns
and efforts in managing and
resolving NPL issues under
the supervision of the Divisi
38
L AP ORAN DI RE KSI
Kredit Khusus, or Loan
Recovery Division. At the end
of 2007, BNI successfully
brought down NPL from
10.50 to 8.18% (Gross)
and from 6.55% to 4.01%
(Net). This improvement
also been endorsed by Bank
Indonesia, which released
BNI from the status of bank
under special monitoring on
17 January 2008.
Related to NPL issues,
BNI held an Extraordinary
Shareholders Meeting in
March 2007, which approved
the implementation of new
policy PP No. 33/2006 and
PMK No. 87/2006, permitting
state-owned banks to impose
haircuts on the principal
amount of an NPL. This
policy was subsequently
incorporated into the Articles
of Association of BNI.
Through 2007 these new
regulations were yet to be
imposed, with a maximum
limit of Rp 2 trillion being
set at the above-mentioned
meeting. In the initial phase of
its implementation, small-loan
NPLs amounting to less than
Rp 5 billion beneted from
this policy. During the year,
a lot of policy adjustments
took place. After publishing
the rst quarters nancial
performance, management
realized that Net Interest
Margins have been squeezed
and interest expenses
rose quite signicantly. An
immediate measure was taken
so that higher-cost sources of
funds (time deposits) could
decrease and lower-cost
sources of funds (savings
and current accounts) could
increase. Management decided
to bring time deposit interest
rates down, and at the same
time, conducted aggressive
promotional efforts to build
savings and current accounts.
This policy has successfully
shifted the composition of
time deposits from 50% in the
rst quarter of 2007 to 38% at
the end of 2007, with. savings
and current accounts climbing
signicantly by 23%, from
Rp 74.38 trillion to Rp 91.14
trillion. As a result, customer
deposits rose to Rp 146.19
trillion, or 7.66% higher than
the Rp 135.80 trillion gure
for the previous year. This
increase has driven the banks
total assets to stand at Rp
183.34 trillion, also 8.4%
higher than the 2006 gure of
Rp 169.42 trillion.
tahun 2007, BNI berhasil menurunkan kredit bermasalah dari 10,47% menjadi 8,18% (Gross)
dan dari 6,55% menjadi 4,01% (Net). Perbaikan ini membawa BNI keluar dari status Bank
Dibawah Pengawasan Khusus oleh Bank Indonesia pada 17 Januari 2008.
Terkait dengan pinjaman bermasalah, BNI menyelenggarakan Rapat Umum Pemegang
Saham Luar Biasa (RUPSLB) pada bulan Maret 2007, yang menyetujui pelaksanaan
kebijakan baru PP No. 33/2006 dan PMK 87/2006. Aturan ini memperbolehkan bank milik
Negara untuk memberikan potongan atas hutang pokok. Kebijakan ini juga telah didudukkan
dalam Anggaran Dasar BNI. Selama tahun 2007, ketentuan baru tersebut belum dapat
diberlakukan. Sebagai tahap awal, di tahun 2008, ketentuan ini akan diberlakukan terhadap
kredit bermasalah dari debitur usaha kecil dengan nilai pinjaman kurang dari Rp 5 miliar
dengan limit maksimal Rp 2 triliun sebagaimana ditetapkan pada RUPSLB tersebut.
Sepanjang tahun 2007, beberapa kebijakan telah diambil oleh manajemen. Setelah
mencermati laporan keuangan triwulan 1/2007, manajemen menyadari bahwa Net Interest
Margin cenderung tertekan dan Biaya Bunga naik signikan. Langkah yang cepat segera
diambil untuk mengurangi sumber dana yang berbiaya mahal (deposito berjangka) dan
meningkatkan sumber dana yang berbiaya rendah (tabungan dan giro). Manajemen
memutuskan untuk menurunkan suku bunga deposito, diiringi dengan upaya promosi yang
gencar untuk meningkatkan tabungan dan giro. Kebijakan ini berhasil memperbaiki komposisi
deposito berjangka, dari 50% pada triwulan I/2007 menjadi 38% pada akhir tahun 2007.
Tabungan dan giro naik cukup signikan sebesar 23% dari Rp 74,38 triliun menjadi Rp 91,14
triliun sehingga total dana pihak ketiga mencapai Rp 146,19 triliun atau 7,66% lebih tinggi
dibandingkan Rp 135,80 triliun di tahun sebelumnya. Hal ini juga mendorong meningkatnya
Total Aset sebesar 8,4% dari Rp 169,42 triliun menjadi Rp 183,34 triliun.
Melihat kondisi ekonomi yang penuh ketidakpastian di tahun 2008, manajemen mengambil
pendekatan konservatif untuk memperbaiki kualitas pinjaman. Kami menyisihkan Penyisihan
Penghapusan Aktiva Produktif (PPAP) dalam jumlah diatas minimum ketentuan dari Bank
Indonesia, dan juga menyisihkan PPAP tambahan untuk mengantisipasi potensi kerugian di
39
RE P ORT OF THE BOARD OF DI RE CTOR
Looking at economic
uncertainty in 2008,
management took a
conservative approach
toward loan quality. We put
aside more provisions, above
the minimum required by
Bank Indonesia, and also
implemented additional
provisions to anticipate
potential losses at our
subsidiaries. This has increased
our provisional expenses by
105.00%, to Rp 2.70 trillion,
and signicantly improved our
coverage ratio, which went
from 59.60% to 71.90%.
With all the dynamics that
we have experienced during
the year, and anticipating an
unfavourable business climate
in 2008, we decided to adopt
conservative approach to
our earning asset portfolio.
With this policy, BNI net
income declined by 53.47%
over the previous year, from
Rp 1.93 trillion to Rp 898
billion. The bottom line gure
already included necessary
provisioning put aside to the
increase coverage ratio, non-
recurring expenses on past-
service liabilites and additional
provisioning to anticipate
losses in our subsidiaries.
WIth such declining prots,
Return on Equity only stood
at 8.03%, slightly lower than
the 22.61% gure for 2006,
which was also affected by
the issuance of new shares
in August 2007 rights issue,
where BNI Tier-1 capital was
strengthened as a result.
We also would like to report
that while our Net Interest
Income rose by 1.22%, from
Rp 7.38 trillion to Rp 7.47
trillion, a much stronger
increase was recorded for Fee-
Based Income, which soared
by 44.36%, from Rp 2.86
trillion to Rp 4.13 trillion. The
increase mainly came from
Gains on Marketable Securities
from our Treasury activities,
which almost doubled
compared to the previous year.
Other Treasury activities took
place in October 2007, when
BNI exercised its call option
on its 10-year USD 150
million Subordinated Debt,
as this paper bears a step-
up coupon which matures
upon the conclusion of its
fth year of issuance (being
2002). In order to avoid
the considerable expense
incurred, BNI determined to
call the debt, repayment being
anak perusahaan. Hal ini meningkatkan biaya PPAP hingga 105,00% menjadi Rp 2,70 triliun,
dan secara signikan memperbaiki coverage ratio dari 59,60% menjadi 71,90%.
Mencermati dinamika yang terjadi, BNI menerapkan pendekatan konservatif terhadap
kualitas aset dalam portofolionya. Hal ini berdampak pada terpangkasnya laba bersih
hingga 53,47% dari Rp 1,93 triliun menjadi Rp 898 miliar di akhir tahun 2007. Turunnya
laba disebabkan adanya tambahan biaya PPAP terkait kebijakan pencadangan untuk
meningkatkan coverage ratio, dibukukannya pembebanan biaya manfaat pensiun sesuai
PSAK 24, serta tambahan pencadangan yang dilakukan untuk mengantisipasi kerugian di
anak perusahaan.
Seiring turunnya laba, Return on Equity tercatat sebesar 8,03%, lebih rendah dibandingkan
22,61% di tahun 2006. Angka ini juga dipengaruhi oleh penerbitan saham baru pada bulan
Agustus 2007 yang telah memperkuat posisi permodalan Tier-1 BNI.

Dapat kami laporkan bahwa pendapatan bunga bersih tetap meningkat sebesar 1,22% dari
Rp 7,38 triliun menjadi Rp 7,47 triliun. Hal ini juga diperkuat dengan meningkatnya fee based
income sebesar 44,36% dari Rp 2,86 triliun menjadi Rp 4,13 triliun, terutama berasal dari
transaksi surat berharga dan aktivitas tresuri lainnya yang meningkat hampir dua kali lipat
dibandingkan tahun sebelumnya.
Aktivitas tresuri lainnya terjadi pada bulan Oktober 2007, dimana BNI menarik kembali
Obligasi Subordinasi tahun 2002 senilai USD150 juta yang memiliki step up coupon di tahun
kelima. Hal ini dilakukan untuk menghindari naiknya biaya bunga, Pada bulan Desember
2007, BNI berhasil mendapatkan fasilitas pinjaman dari ABN-AMRO Bank senilai USD
100 juta berjangka waktu tiga tahun. Di akhir tahun 2007, BNI mempersiapkan kegiatan
penghimpunan dana USD melalui perjanjian bilateral dengan bank counterparts, yang akan
direalisasikan pada awal tahun 2008. Jika berhasil, hal ini kembali membuktikan adanya
kepercayaan pasar terhadap BNI di dalam peta industri perbankan Indonesia.
40
L AP ORAN DI RE KSI
made from proceeds of the
years rights issue.
In December 2007, BNI also
received a USD 100 million
loan-facility from ABN AMRO
with a three-year tenor.
Towards year-end of 2007,
BNI was also preparing for
another USD fund raising,
through a bilateral agreement
with a counterpart bank, to be
materialized in early 2008. If
successful, this fund raising
program will once again
prove market condence in
BNIs sound position in the
Indonesian banking industry.
In spite of more intense
competition, management
perceives that BNI continues
to enjoy a competitive
advantage. A customer base
of over nine million serves
as a broad platform for
cross-selling. Further, BNI
has a presence and brand
recognition in cities across
Indonesia where multinational
banking players have yet to
enter; for this purpose BNI
is focusing on appropriate
businesses or industries in
each of these regions, as
potential business partners.
Technology continues to play
its powerful and dramatic role
in banking around the world,
and this is particularly relevant
to the emerging economies.
As an integral aspect of
globalisation, technology
ties together a network of
branches with Head Ofce,
which in turn is in constant
communication with nancial
centres across the globe:
while there are powerful
advantages in productivity
and prot, new challenges are
faced on a daily basis.
BNI consumer banking is
one of the segments that
beneted the most from
the investment made in
technology. It already made
steady progress as the
popular BNI SMS banking
service gained users and
media exposure. BNI
was in fact the very rst
Indonesian bank to conclude
arrangements with all cellular
providers. During the year, the
BNI ATM Network was also
upgraded, with special care
to avoid security breaches,
and expanded with a planned
new 500 ATMs installed and
expected to be up and running
in the rst half of 2008.
Di tengah ketatnya persaingan, manajemen meyakini posisi BNI masih kompetitif, dengan
basis nasabah lebih dari 9 juta, yang merupakan dasar kuat untuk terjadinya cross-selling.
Selain itu, keberadaan BNI dengan brand recognition yang tinggi di seluruh kota besar di
Tanah Air hingga kini belum sepenuhnya dapat dimasuki oleh perbankan asing. Untuk itu,
BNI fokus untuk menggarap potensi bisnis dan industri yang ada di masing-masing wilayah
dengan mitra bisnis yang potensial.
Teknologi terus berperan penting dalam dunia perbankan, khususnya di negara berkembang.
Sebagai aspek yang integral dari globalisasi, teknologi menghubungkan jaringan kantor-
kantor cabang dengan kantor pusat; dan selanjutnya berkomunikasi dengan pusat keuangan
di seluruh dunia. Hal ini selain meningkatkan produktivitas dan pendapatan, juga menjadi
tantangan baru yang dihadapi dalam aktivitas sehari-hari.
Investasi di bidang teknologi sangat mendukung bisnis perbankan konsumer BNI. Kemajuan
yang nyata tercermin dari makin populernya penggunaan SMS Banking. BNI merupakan bank
pertama di Indonesia yang telah bekerjasama dengan seluruh operator jaringan seluler. Selain
itu, jaringan ATM BNI telah disempurnakan dan ditingkatkan keamanannya, dan direncanakan
BNI akan menambah jaringan 500 ATM di tahun 2008.
Layanan BNI internet banking, yang diluncurkan awal tahun 2007 telah memungkinkan
BNI memperluas bisnis remote access melalui jaringan elektronik, untuk menarik nasabah
potensial maupun nasabah yang sudah ada. Saat ini pengguna internet hanya 7% dari total
populasi di Indonesia, dan umumnya berasal dari segmen kelas menengah yang merupakan
target market bagi BNI.
Selain bisnis perbankan konvensional, BNI juga cukup agresif dalam mengembangkan
perbankan syariah. Di tahun 2007, BNI membuka kantor cabang syariah baru sehingga total
cabang syariah menjadi 54 kantor cabang dan 136 outlet ofce channelling (kantor cabang
BNI konvensional yang memberikan layanan syariah). Memasuki tahun 2008, manajemen
41
RE P ORT OF THE BOARD OF DI RE CTOR
The pioneering BNI Internet
banking service, launched in
early 2007, allowed the Bank
to further expand its remote-
access business, through
an electronic network which
steadily attracts existing
and potential customers to
exploit it. In this regard it is
worth noting that while the
number of Internet users only
represents some 7% of the
total Indonesian population,
they tend to come from the
middle class segment which
is precisely the target market
which BNI aims to attract.
Aside from conventional
banking business, our
valued stakeholders may
have noted that BNI is also
aggressively pursuing Sharia
banking. In 2007, we opened
additional BNI Sharia ofces,
which brought the Bank to
a total of 54 branches and
136 channelling outlets
(conventional BNI branches
offering Sharia services).
Entering 2008, management is
looking toward the opportunity
to spin-off BNI Syariah, and to
do so, if possible, partnering
with strategic investors from
Middle East countries, who
could bring their expertise into
this business. The decision will
rely on the result of an in-depth
cost-benet analysis which will
be completed in 2008.
Since its inception, BNI
has evolved, conrming its
position as a leading national
anchor bank, and the one
bank meeting international
best-practice standards in
all aspects of its operations.
In a time of open media
surveillance, tight government
control and a move toward
globalisation, this must remain
our number one priority in
moving forward. In connection
with this, BNI remains fully
committed to the principles
of good corporate governance
(GCG) as well as the
implementation of Know Your
Customer (KYC) and Anti
Money-Laundering (AML)
practices, as taught in bank-
wide internal educational and
communications programmes.
As you may see in this Annual
Report, the GCG chapter is
very thoroughly prepared, not
only to full Bank Indonesia
requirements, but also to
show our intention to disclose
as much information as
possible to our stakeholders,
especially since public
melihat peluang untuk mengembangkan perbankan syariah, melalui spin-off BNI Syariah,
bekerjasama dengan investor strategis dari Timur Tengah, yang dapat memberikan nilai-
tambah dan keahlian di bisnis Syariah. Keputusan mengenai hal ini akan tergantung dari
analisis yang mendalam yang akan diselesaikan di tahun 2008.
Sejak berdirinya, BNI telah berkembang menjadi salah satu bank terkemuka di pasar, yang
memenuhi standar internasional di segenap aspek operasionalnya. Di era keterbukaan dan
adanya pengawasan yang ketat dari pihak eksternal menuju globalisasi, hal ini merupakan
prioritas utama kami dalam melangkah ke depan. Oleh karena itu, BNI tetap memegang
komitmen terhadap prinsip tata kelola perusahaan yang baik (good corporate governance atau
GCG) serta menerapkan prinsip Know Your Customer (KYC) dan Anti Money-Laundering
(AML), yang dilakukan melalui edukasi dan sosialisasi internal kepada segenap karyawan.
Seperti dapat dilihat pada Laporan Tahunan ini, Bab GCG disiapkan dengan sangat rinci,
tidak hanya untuk memenuhi peraturan Bank Indonesia tapi juga menunjukkan semangat
keterbukaan dengan memberikan informasi seakurat mungkin kepada para pemangku
kepentingan, terutama mengingat kepemilikan publik atas saham BNI yang telah meningkat.
Hal ini juga sejalan dengan tema Laporan Tahunan ini, yakni Berbagi Untuk Negeri. Kami
tidak hanya berbagi keuntungan perusahaan melalui setoran dividen dan pajak untuk
memenuhi anggaran belanja pemerintah, namun juga berbagi dalam menyampaikan proses
bisnis yang dilakukan dengan mengacu pada prinsip tata kelola yang baik.
Memperhatikan realitas makin tingginya persaingan global di industri perbankan, baik dari
bank-bank domestik maupun bank-bank asing, jelas terlihat bahwa BNI harus melaksanakan
transformasi sebagaimana telah disampaikan pada Laporan Tahunan yang lalu. Manajemen
akan memastikan bahwa perubahan tersebut akan terjadi di segenap tingkatan organisasi.
Secara khusus, BNI berkeinginan menjadi bank pilihan, yang unggul dalam layanan dan
memberikan solusi nilai tambah bagi para nasabah. Kami ingin memberikan nilai investasi
42
L AP ORAN DI RE KSI
ownership of BNI share
steadily increases. It is also
in line with the theme of this
years annual report, Sharing
with the Nation as we not
only share our net prot
through dividend payments
and taxes to meet the
Governments Annual Budget,
but also share the process
of doing our business within
governance principles.
The looming reality of
sharpened global competition
within the national banking
sector, from both domestic
and ambitious multinational
institutions, clearly signies
that we must pursue the
transformation detailed in
previous Annual Reports.
Management is determined to
conrm that such changes are
in motion at every level within
our organisation.
Specically, BNI plans to
become a bank of choice,
providing excellence in service
and value-added solutions
to all customers. We want
to deliver investment value
to shareholders, create
a performance-driven
environment as the best
place to work, deliver the
best results and demonstrate
improved responsibility,
with more emphasis on
community development,
while still demonstrating
best practice for good
corporate governance.
Part of the banks new
approach is to shift from a
product-driven process to
a customer centric model.
Each area will have separate,
clearly dened priorities. The
corporate banking business,
for example, will focus on the
largest private and state-
owned companies, aiming
to provide total nancial
solutions to these groups,
from corporate nance to loan
syndication, trade nance
and cash management.
Commercial business will
focus on industry with
sustainable growth and a
strong backward linkage with
its key strategy to leverage
on BNIs large distribution
network by adding more
sales ofcers. The consumer
business will target the
afuent and mass afuent,
combining local character
with international exposure,
and a product set including
a high yield loan mortgage.
Treasury and international
business will focus on
tertinggi kepada para pemegang saham, dengan menciptakan lingkungan tempat kerja yang
terbaik, menghasilkan yang terbaik dan menunjukkan tanggung jawab yang menekankan
pada peningkatan kualitas hidup masyarakat, serta tetap menerapkan praktik tata kelola
perusahaan yang baik.
BNI juga mengambil pendekatan baru, yaitu dari product driven process menjadi customer
centric model, pada setiap segmen bisnis yang dimasuki dengan prioritas yang jelas.
Contohnya, bisnis perbankan korporasi, akan fokus menggarap perusahaan-perusahaan
BUMN dan swasta yang memiliki nilai strategis, dengan menyediakan solusi keuangan total,
dari corporate nance hingga ke pinjaman sindikasi, trade nance, dan cash management.
Bisnis perbankan komersial fokus pada industri yang memiliki pertumbuhan yang
berkelanjutan dan perusahaan yang memiliki jaringan distribusi luas. Hal ini dilakukan untuk
memanfaatkan jaringan BNI yang luas, yang dapat diperkuat dengan menambahkan tenaga
pemasar. Bisnis perbankan konsumer akan menargetkan nasabah afuent dan mass-afuent,
dengan menyelaraskan produk lokal dengan eksposur internasional, serta menawarkan
serangkaian produk, termasuk kredit perumahan. Bisnis perbankan internasional dan tresuri
akan fokus pada nasabah korporasi dan perusahan berskala menengah, menawarkan jasa
trade nance dan remittance, penempatan dana antar-bank dan terdepan dalam transaksi
pasar uang dan pasar modal.
Begitu banyak hal yang masih harus kami benahi. Kapasitas infrastruktur yang telah
tersedia, serta sumber daya dan kompetensi yang ada harus dapat dimanfaatkan dengan
lebih optimal di masa datang, dengan upaya koordinasi yang lebih terarah antar unit kerja,
termasuk menggiatkan upaya cross-selling. Produktivitas harus ditingkatkan dan prosedur
yang bersifat birokratis harus disederhanakan.
Di tahun 2008, upaya kami terutama adalah membangun platform yang kuat untuk
pertumbuhan yang berkesinambungan, dengan menerapkan struktur yang berbasis kinerja,
mengembangkan infrastruktur pendukung dan memperbaiki perencanaan. Di tahun 2009,
43
RE P ORT OF THE BOARD OF DI RE CTOR
corporate clients and the mid-
companies segment, offering
trade nance and remittance,
inter-bank placement and
leading money market and
capital market services.
There is so much more to
do. The installed capacity
of the banks infrastructure,
resources and competencies
should be better capitalized
in the future, with greater
execution and coordination
among units, including cross-
selling. Productivity should be
improved and bureaucratic
procedures simplied.
In 2008, our efforts will shift
to build a strong platform
for sustainable growth,
with the implementation
of a performance-based
structure, the development of
supporting infrastructure, and
improved capacity planning.
By 2009, the priority will be
to sharpen the business focus,
with aggressive growth; by
then BNI should be a leader
in key segments and products,
including in transactional
banking. And from 2010, BNI
will focus on maintaining
its aggressive growth
momentum and market
share, leading in protability,
and offering excellence
in services, especially
transaction settlements.
It is an objective-realistic
program, in which BNI is
committed to achieve. In line
with the theme of sharing
with the nation, we hope to
enhance public trust, and
a successful repositioning
of our brand. Since we
adopted a new corporate
identity alongside the BNI
transformation, we have
projected a better-dened
and higher prole of BNI
appealing to stakeholders.
Before concluding this report,
allow us to extend our sincere
appreciation to the previous
management team who ended
their tenure in February 2008,
a strong, highly dedicated
team who built a platform
of sustainable performance
in the future. And on top of
that, our highest gratitude
goes to all stakeholders for
the sustained trust, vowing to
continue to serve and advance
with their best interests at
heart. We assure you that we
will strive and dedicate our
utmost effort in bringing BNI
to reach its fullest capacity
and best performance in years
to come.
prioritas kami adalah mempertajam fokus usaha, dengan pertumbuhan yang agresif
sehingga BNI mampu menjadi pemimpin pada setiap segmen dan produk unggulannya,
termasuk dalam transactional banking. Selanjutnya di tahun 2010, BNI akan fokus untuk
memelihara momentum pertumbuhan dan pangsa pasar yang agresif, terdepan dalam
penghimpunan laba dan unggul dalam layanan.
Kesemua hal yang disampaikan tadi merupakan rencana yang obyektif-realistis, sehingga
kami berkomitmen untuk mencapainya. Sejalan dengan tema Berbagi Untuk Negeri kami
berharap dapat terus meningkatkan kepercayaan publik, dan mampu melakukan repositioning
terhadap nama BNI. Sejak diperkenalkannya identitas baru perusahaan sejalan dengan fase
transformasi BNI, kami telah menampilkan citra BNI yang lebih baik dan lebih menarik bagi
para pemangku-kepentingan.
Sebelum mengakhiri laporan ini, ijinkan kami menyampaikan apresiasi yang setinggi-tingginya
kepada tim manajemen BNI yang telah mengakhiri masa baktinya di bulan Pebruari 2008
lalu dengan penuh dedikasi, serta telah membangun dasar yang kuat bagi pertumbuhan
yang berkelanjutan di masa depan. Di atas semua itu, rasa terima kasih yang sebesar-
besarnya kami sampaikan kepada seluruh pemegang saham dan pemangku kepentingan atas
kepercayaan yang telah diberikan, sehingga kami dapat terus melayani dengan sepenuh hati.
Dengan dukungan seluruh pemangku-kepentingan, kami akan terus berusaha keras untuk
membawa BNI mencapai kinerja yang terbaik di tahun-tahun mendatang.
Gatot M. Suwondo
Direktur Utama
President Director
44
TATA KE LOL A P E RUSAHAAN GOOD CORP ORATE GOVE RNANCE
Tata Kelola Perusahaan
BNI dihadapkan pada realitas bahwa upaya untuk
menarik mitra baru, mengembangkan dan mengelola
reputasi di pasar global, tidak terlepas dari dukungan
yang kuat melalui penerapan prinsip keterbukaan,
kesetaraan dan tata kelola yang baik.
BNI confronts the reality of attracting interest from new
business partners and building its capital base, while
crafting and maintaining a prole and reputation of probity
in global markets, through strict adherence to accepted
principles of Transparency, Fair Play and Good Governance.
45
GOOD CORP ORATE GOVE RNANCE
Segenap Direksi, Komisaris dan pegawai BNI mempunyai komitmen yang tinggi untuk
melaksanakan praktek Tata Kelola Perusahaan atau Good Corporate Governance (GCG).
Komitmen yang tinggi tersebut diawali dengan ditandatanganinya Pernyataan Komitmen
Untuk Menerapkan Good Corporate Governance oleh segenap Direksi, Komisaris dan
Pemimpin Divisi pada Rapat Kerja Perusahaan tahun 2006, yang selanjutnya diikuti oleh
segenap pegawai di seluruh jenjang organisasi, dan diperbaharui setiap tahun.
Tindak lanjut dari penandatanganan komitmen tersebut adalah disusunnya program GCG
pada tahun 2007 antara lain program GCG e-Learning. Program GCG e-Learning merupakan
salah satu alat sosialisasi GCG untuk menjangkau seluruh pegawai dengan lebih efektif dan
esien. Selain itu telah disusun pula buku Pedoman dan Tata Tertib Kerja Komisaris dan
Direksi BNI serta buku Tuntunan Perilaku Insan BNI yang terdiri dari Nilai-Nilai Budaya Kerja
dan Perilaku Utama Insan BNI yang disebut dengan PRINSIP 46.
BNI senantiasa berupaya membangun budaya perusahaan menjadi lebih baik yang
mencakup nilai-nilai yang terkandung dalam prinsip-prinsip GCG yaitu budaya perusahaan
yang menerapkan prinsip Keterbukaan (transparency), Akuntabilitas (accountability),
Tanggungjawab (responsibility), Independensi (independency) dan Kesetaraan (fairness)
sebagaimana dituangkan dalam PRINSIP 46 yang terdiri dari 4 nilai budaya kerja dan 6
perilaku utama insan BNI. Diharapkan pelaksanaan prinsip-prinsip GCG tersebut tidak hanya
dipandang sebagai kewajiban perusahaan untuk memenuhi peraturan, tetapi juga menjadi
budaya perusahaan, sehingga dapat membangun BNI menjadi organisasi yang kompetitif
dengan sumber daya manusia yang unggul berdasarkan nilai profesionalisme, integritas,
orientasi pelanggan dan perbaikan tiada henti.
Pada tahun 2007, BNI memperoleh predikat sebagai perusahaan Terpercaya dalam
pemeringkatan Corporate Governance Perception Index yang diselenggarakan The
Indonesian Institute for Corporate Governance (IICG) dan majalah SWA.
BNIs Directors,
Commissioners and staff are
highly committed to implement
Good Corporate Governance
(GCG) practices throughout the
Bank. This high commitment
initially began with the
signing of the Commitment
to Implement Good Corporate
Governance by all of the
Directors, Commissioners
and Division Heads within the
2006 Corporate Meeting that
was subsequently followed
with the ofcial signing by
BNIs entire organizational
levels or structure, which is
updated annually.
This was subsequently
followed by the formulation
of a GCG program in 2007
that, among others, included
the GCG e-learning program.
The GCG e-learning program
represents one of the effective
and efcient methods to
disseminate information on
GCG to all employees. In
addition to this, a number
of corporate guidelines
were formulated which
included Standard Operating
Procedures for BNIs
Commissioners and Directors
and Guidelines on BNIs
Corporate Behaviour that
comprised BNIs Corporate
Values and Main Corporate
Behaviour, commonly referred
to as the Principles of 46
(PRINSIP 46).
BNI constantly strives to
enhance its corporate culture
by instilling values based
upon those specied within
the GCG principles, such as
transparency, accountability,
responsibility, independency,
and fairness as duly specied
within PRINSIP 46, specifying
BNIs 4 corporate values and
6 main corporate behaviors
standards. The Bank hopes
that the implementation of
these GCG principles is not
merely viewed as efforts
towards fullling corporate
regulatory requirements, but
also as part of its corporate
culture that BNI needs to
develop into a competitive
organization with superior
human resource qualities,
based on the values of
professionalism, integrity,
customer orientation and
efforts to continuously
improve.
In 2007, BNI secured the
title of a Trusted Company
46
TATA KE LOL A P E RUSAHAAN
Sebagai institusi yang bergerak di bidang perbankan, dalam melakukan implementasi GCG,
BNI berpedoman pada Peraturan Bank Indonesia Nomor 8/4/PBI/2006 tentang Pelaksanaan
Good Corporate Governance Bagi Bank Umum yang telah diubah dengan Peraturan Bank
Indonesia No. 8/14/PBI/2006 tentang Perubahan Atas Peraturan Bank Indonesia No. 8/4/
PBI/2006 tentang Pelaksanaan Good Corporate Governance Bagi Bank Umum.
Berdasarkan pedoman pelaksanaan GCG, sebagaimana ditetapkan oleh Bank Indonesia
tersebut, berikut ini kami sampaikan Laporan Pelaksanaan Good Corporate Governance di
PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk di tahun 2007:
A. PELAKSANAAN TUGAS DAN TANGGUNG JAWAB KOMI SARI S DAN DI REKSI
1. Komisaris
a. Jumlah, Komposisi, Kriteria dan Independensi Komisaris (termasuk
Komisaris Independen)
Anggota Komisaris BNI berjumlah 7 (tujuh) orang, dimana jumlah tersebut tidak
melebihi jumlah anggota Direksi sebanyak 9 (sembilan) orang
Dari 7 (tujuh) orang Komisaris tersebut, 3 (tiga) orang merupakan Komisaris
Independen yaitu Suwarsono, Felia Salim dan Achjar Iljas. Jumlah Komisaris
Independen tersebut belum memenuhi ketentuan Pasal 5 ayat (2) Peraturan Bank
Indonesia diatas yaitu sekurang-kurangnya 50% dari jumlah anggota Dewan
Komisaris adalah Komisaris Independen. Oleh karena itu, pada Rapat Umum
Pemegang Saham Luar Biasa yang dilaksanakan pada tanggal 30 Juli 2007,
Pemegang Saham telah menetapkan penambahan 1 (satu) orang Komisaris
Independen. Penambahan Komisaris Independen tersebut telah dimintakan
persetujuan dari Bank Indonesia, namun hingga akhir tahun 2007 belum mendapat
jawaban dari Bank Indonesia
Seluruh anggota Komisaris BNI berdomisili di Indonesia
within the framework of
the Corporate Governance
Perception Index Ratings as
conducted by the Indonesian
Institute for Corporate
Governance (IICG) and SWA
magazine.
In the course of implementing
GCG, as a bank, BNI
adheres to Bank Indonesia
Regulations Number 8/4/
PBI/2006 concerning the
Implementation of Good
Corporate Governance for
Commercial Banks, which
was amended through
Bank Indonesia Regulation
Number 8/14/PBI/2006
concerning Amendments to
Bank Indonesia Regulation
Number 8/4/PBI/2006, on
the Implementation of Good
Corporate Governance for
Commercial Banks.
On the basis of the GCG
Guidelines as prescribed by
Bank Indonesia, we hereby
submit PT Bank Negara
Indonesia (Persero) Tbks
Good Corporate Governance
Status Report:
A. I MPLEMENTATI ON
OF TASKS AND
RESPONSI BI LI TI ES OF THE
COMMI SSI ONERS AND
DI RECTORS
1. Commissioners
a. The Number,
Composition, Criteria
and Independency of
the Commissioners
(including Independent
Commissioners) are:
BNIs Board of
Commissioners comprise
7 (seven) members which
does not exceed the
total number of Board
of Directors of 9 (nine)
members.
Of the 7 (seven)
Commissioners, 3 (three)
comprise Independent
Commissioners, who are:
Suwarsono, Felia Salim
and Achjar Iljas. The
number of Independent
Commissioners within the
Board has not fullled the
requirements set within
Article 5, Section (2) of the
Bank Indonesia Regulations
mentioned above, which
prescribed that at least
50% of the members of the
Board of Commissioners
must be Independent
Commissioners. As a
47
GOOD CORP ORATE GOVE RNANCE
Komisaris BNI per 31 Desember 2007 terdiri dari:
Seluruh anggota Komisaris memiliki integritas, kompetensi dan keahlian di bidang
keuangan yang memadai serta telah memenuhi persyaratan lulus Penilaian
Kemampuan dan Kepatutan (Fit and Proper Test) sesuai ketentuan Bank Indonesia.
Seluruh anggota Komisaris telah memenuhi ketentuan mengenai rangkap jabatan
sebagaimana diatur dalam Peraturan Bank Indonesia mengenai GCG, kecuali 1 (satu)
orang Komisaris yang masih merangkap jabatan sebagai Komisaris PT Jasa Rahardja.
Untuk menyelesaikan permasalahan rangkap jabatan tersebut, BNI secara aktif
telah melakukan komunikasi tertulis dengan pihak Kementerian Negara BUMN dan
Bank Indonesia
Seluruh anggota Komisaris tidak memiliki hubungan keluarga sampai dengan derajat
kedua dengan sesama anggota Komisaris dan/atau anggota Direksi
result, the Extraordinary
Shareholders General
Meeting held on the 30th
of July 2007 approved
the inclusion of 1 (one)
additional Independent
Commissioner. The
Bank has sought Bank
Indonesias approval for the
inclusion of an additional
Independent Commissioner.
However, up to the end
of 2007, BNI has yet to
receive Bank Indonesias
approval.
The entire membership
of BNIs Board of
Commissioners reside in
Indonesia.
BNIs Commissioners as of
the 31st of December 2007
are comprised of:
(see table above)
All members of the Board
of Commisioners possess
good integrity, competency
and expertise in nance
and have undergone the
required Fit and Proper
Test in accordance with the
requirements set by Bank
Indonesia.
All of the Commissioners
have fullled the
requirements regarding
holding concurrent
positions with other
companies as stipulated
within the Bank Indonesia
Regulation concerning GCG
with the exception of 1
(one) Commissioner, who
still holds a position as a
Commissioner with PT Jasa
Rahardja. To resolve this
issue regarding concurrent
positions, BNI has actively
corresponded in writing
with the Ministry of State-
Owned Enterprises (SOE)
and Bank Indonesia.
None of the Commissioners
possess family relations
(down to the second line)
with other Commissioners
and/or Directors.
All of BNIs Independent
Commissioners have
fullled the requirements
prescribed by the Securities
and Exchange Commission
(Bapepam) Regulation No.
IX.1.5 and as stipulated
within the Bapepam
Chairmans Decree Letter
No. Kep-29/PM/2004
dated 24/09/2004
which stressed that the
Independent Commissioner
be a member of the Board
of Commissioners who:
Nama
Name
Jabatan
Position
Tanggal Efektif
Effective Date
Zaki Baridwan
Komisaris Utama
President Commissioner
Pebruari/February
2000
Suwarsono
Komisaris/Komisaris Independen
Commissioner/ Independent Commissioner
Juli/July 2005
Achjar Iljas
Komisaris/Komisaris Independen
Commissioner/ Independent Commissioner
Januari/January
2004
Felia Salim
Komisaris/Komisaris Independen
Commissioner/Independent Commissioner
Juli/July 2004
Effendi Komisaris/Commissioner Juli/July 2005
H.M.S Latif Komisaris/Commissioner Mei/May 2005
Parikesit Suprapto Komisaris/Commissioner Mei/May 2007
48
TATA KE LOL A P E RUSAHAAN
i. did not originate from
the Company.
ii. did not possess
shares, either directly
or indirectly, in the
Company.
iii. is not afliated
with the Company,
Commissioners,
Directors or controlling
shareholders or any
publicly-listed Company.
iv. did not have any
business afliation,
either directly or
indirectly, with the
Companys business
activities.
All of the Independent
Commissioners have
fullled the requirements
set within Bank Indonesias
Regulations in regard to
nancial, management,
ownership, and family
relations with other
members of the Board of
Commissioners, Directors
and/or Controlling
Shareholders, or with the
Bank, that may hamper
their ability to serve
independently.
b. Tasks and
Responsibilities of the
Commissioner
The overall task of the
Commissioner is to supervise
the Directors management of
the Company. BNIs Articles
of Association has specied
in detail the task, authority,
and responsibility of the
Commissioners.
The task and responsibility
of the Commissioners,
in accordance with the
implementation of Good
Corporate Governance, is
specied within the Standard
Operating Procedures
and Guidelines of the
Commissioners and Directors
whereby:
The Commissioners are
required to carry out their
tasks and responsibilities
independently and in
accordance with the
principles of GCG.
The Commissioners
must ensure that GCG
is implemented in every
business activity that BNI
is engaged in as well as
in all levels or structure of
the organization, or at the
very least in respect to the
following:
i. Implementation of the
Seluruh Komisaris Independen BNI telah memenuhi persyaratan sebagaimana
ditetapkan dalam peraturan Bapepam No. IX.1.5 tentang Pembentukan dan Pedoman
Pelaksanaan Kerja Komite Audit sebagaimana tercantum dalam Keputusan Ketua
Bapepam No. Kep-29/PM/2004 tanggal 24 September 2004 yang menegaskan
bahwa Komisaris Independen adalah anggota Dewan Komisaris yang:
i. Berasal dari luar emiten atau perusahaan publik.
ii. Tidak mempunyai saham baik langsung maupun langsung pada emiten atau
perusahaan publik.
iii. Tidak mempunyai aliasi dengan emiten atau perusahaan publik, Komisaris,
Direksi atau pemegang saham utama emiten atau perusahaan publik.
iv. Tidak memiliki hubungan usaha, baik langsung maupun tidak langsung yang
berkaitan dengan kegiatan usaha emiten atau perusahaan publik.
Seluruh Komisaris Independen telah memenuhi ketentuan Peraturan Bank Indonesia
yaitu tidak ada yang memiliki hubungan keuangan, kepengurusan, kepemilikan
dan hubungan keluarga dengan anggota Dewan Komisaris lainnya, Direksi dan/
atau Pemegang Saham Pengendali atau hubungan dengan Bank, yang dapat
mempengaruhi kemampuannya untuk bertindak independen.
b. Tugas dan Tanggung Jawab Komisaris
Secara umum tugas Komisaris adalah mengawasi pengurusan Perseroan oleh Direksi.
Anggaran Dasar BNI telah mengatur tugas, wewenang dan kewajiban Komisaris
secara terperinci.
Tugas dan tanggung jawab Komisaris terkait dengan pelaksanaan Good Corporate
Governance tertuang dalam Tata Tertib dan Pedoman Kerja Komisaris dan Direksi
yang meliputi:
Komisaris wajib melaksanakan tugas dan tanggung jawab secara independen dan
sesuai prinsip-prinsip GCG.
49
GOOD CORP ORATE GOVE RNANCE
Commissioners and
Directors tasks and
responsibilities.
ii. Completeness and
implementation of the
tasks of the committees
and teams entrusted
with BNIs internal
control.
iii. Implementation of
compliance, internal
and external auditor
functions.
iv. Implementation of risk
management, including
an internal control
system.
v. Allocation of funds
towards related parties
and large scale funds.
vi. BNIs strategic plan.
vii. Transparency in terms
of BNIs nancial
and non-nancial
conditions.
The Commissioners are
required to supervise
the Directors tasks and
responsibilities as well
as providing its advice/
recommendations to the
Directors.
In implementing its
supervisory tasks as
prescribed in point c
above, the Commissioners
are required to direct,
monitor, and evaluate the
implementation of BNIs
strategic policy.
In relation to its supervisory
role, the Commissioners are
restricted from involvement
in decisions relating to
the Banks operational
activities, with the
exception of the following:
i. Provision of funds
to related parties, as
prescribed within Bank
Indonesias regulations
concerning the Legal
Lending Limit Provided
By Commercial Banks.
ii. Other aspects, as
specied within the
Articles of Association
or prevailing rules and
regulations.
The decisions taken by
the Commissioners for the
above-mentioned tasks are
considered to be part of the
Commissioners supervisory
tasks which therefore
does not run counter to
the Directors tasks of
corporate management.
The Commissioners
must ensure that the
Directors have followed
up on the ndings and
Komisaris wajib memastikan terselenggaranya pelaksanaan GCG dalam setiap
kegiatan usaha BNI pada seluruh tingkatan atau jenjang organisasi, yaitu sekurang-
kurangnya harus diwujudkan dalam:
i. Pelaksanaan tugas dan tanggung jawab Komisaris dan Direksi.
ii. Kelengkapan dan pelaksanaan tugas komite-komite dan satuan kerja yang
menjalankan fungsi pengendalian intern BNI.
iii. Penerapan fungsi kepatuhan, auditor internal dan auditor eksternal.
iv. Penerapan manajemen risiko, termasuk sistem pengendalian intern.
v. Penyediaan dana kepada pihak terkait dan penyediaan dana dalam jumlah besar
vi. Rencana strategis BNI.
vii. Transparansi kondisi keuangan dan non-keuangan BNI.
Komisaris wajib melaksanakan pengawasan terhadap pelaksanaan tugas dan
tanggung jawab Direksi, serta memberikan nasihat kepada Direksi.
Dalam melakukan pengawasan sebagaimana dimaksud butir c di atas, Komisaris
wajib mengarahkan, memantau, dan mengevaluasi pelaksanaan kebijakan strategis
di BNI.
Dalam melakukan pengawasan tersebut Komisaris dilarang terlibat dalam
pengambilan keputusan kegiatan operasional bank, kecuali:
i. Penyediaan dana kepada pihak terkait sebagaimana diatur dalam ketentuan Bank
Indonesia tentang Batas Maksimum Pemberian Kredit Bank Umum.
ii. Hal-hal lain yang ditetapkan dalam Anggaran Dasar atau peraturan perundangan
yang berlaku.
Pengambilan keputusan oleh Komisaris tersebut diatas merupakan bagian dari tugas
pengawasan Komisaris sehingga tidak meniadakan tanggung jawab Direksi atas
pelaksanaan pengurusan perusahaan.
Komisaris wajib memastikan bahwa Direksi telah menindaklanjuti temuan audit dan
rekomendasi dari Satuan Kerja Audit Intern, auditor eksternal, hasil pengawasan Bank
Indonesia dan/atau hasil pengawasan otoritas lain.
50
TATA KE LOL A P E RUSAHAAN
recommendations of the
Internal Audit Team, the
external auditors, Bank
Indonesias supervisory
audit and/or the ndings of
other authorities.
h. The Commissioners are
required to notify Bank
Indonesia, no later than
7 (seven) working days,
upon discovery of ndings
related to:
i. Violation of laws related
to banking and nance.
ii. Conditions or indicative
conditions that hamper
BNIs business activities.
i. The Commissioners are
required to divulge:
i. Their shareholdings,
either within BNI or other
banks and companies
that are based either
within or outside of
Indonesia.
ii. Their nancial or family
relationships with other
Commissioners, Directors
and/or shareholders of
BNI, within the GCG
Report as prescribed
by Bank Indonesias
Regulations.
j. The Commissioners are
restricted from utilizing the
bank for personal, family,
and/or the benet of other
parties in any way that
might jeopardize or reduce
the banks protability.
k. The Commissioners are
restricted from taking and/
or receiving personal benet
from the bank, apart from
remuneration and other
facilities as determined by
the General Shareholders
Meeting (GSM).
l. The Commissioners are
required to reveal the
remuneration and facilities
within the GCG Report
as specied within Bank
Indonesias Regulations.
Komisaris wajib memberitahukan kepada Bank Indonesia paling lambat 7 (tujuh) hari
kerja sejak ditemukannya:
i. Pelanggaran peraturan perundang-undangan di bidang keuangan dan perbankan
ii. Keadaan atau perkiraan keadaan yang dapat membahayakan kelangsungan
usaha BNI.
Anggota Komisaris wajib mengungkapkan:
i. Kepemilikan sahamnya, baik pada BNI maupun pada bank dan perusahaan lain,
yang berkedudukan di dalam dan di luar negeri.
ii. Hubungan keuangan dan hubungan keluarga dengan anggota Komisaris lain,
anggota Direksi dan/atau pemegang saham BNI, dalam laporan pelaksanaan
GCG sebagaimana diatur dalam Peraturan Bank Indonesia.
Anggota Komisaris dilarang memanfaatkan bank untuk kepentingan pribadi, keluarga,
dan/atau pihak lain yang dapat merugikan atau mengurangi keuntungan bank.
Anggota Komisaris dilarang mengambil dan/atau menerima keuntungan pribadi
dari bank selain remunerasi dan fasilitas lainnya yang ditetapkan oleh Rapat Umum
Pemegang Saham (RUPS).
Anggota Komisaris wajib mengungkapkan remunerasi dan fasilitas pada laporan
pelaksanaan GCG sebagaimana diatur dalam Peraturan Bank Indonesia.
c. Rekomendasi Komisaris
Dewan Komisaris aktif memberikan rekomendasi atas beberapa hal yang disampaikan
oleh Direksi misalnya mengenai permohonan pemberian kredit. Namun pemberian
rekomendasi tersebut tidak menunjukkan adanya keterlibatan Dewan Komisaris dalam
pengambilan keputusan kegiatan operasional Bank.
2. Direksi
a. Jumlah, Komposisi, Kriteria dan Independensi anggota Direksi
51
GOOD CORP ORATE GOVE RNANCE
c. Commissioners
Recommendations
The Board of Commissioners
actively provide
recommendations on a
number of aspects that are
submitted to the Directors
such as those related to
loan proposals. However,
there are no indications that
these recommendations
provided by the Board of
Commissioners are in any
way perceived as involvement
by the Commissioners in
decisions related to the Banks
operational activities.
2. Directors
a. The Number,
Composition, Criteria
and Independency of the
Board of Directors are as
follows:
The number and
composition of BNIs Board
of Directors is presented in
the table above.
All of BNIs Directors reside
in Indonesia.
BNIs President Director
originate from parties that
are deemed independent of
the controlling shareholder,
which in this case is the
Republic of Indonesia, as
duly represented by the
State Minister of State
Owned Enterprises of the
Republic of Indonesia.
In accordance with
the request of the
Extraordinary Shareholders
Meeting (ESM) that
was proposed by the
majority shareholders
on the basis of its letter
No. S-851/MBU/2007
dated 17 December 2007
in which the agenda
for this ESM included
changes to the Directors
and Commissioners of
the Company, therefore,
Jumlah dan komposisi anggota Direksi BNI adalah sebagai berikut:
Seluruh anggota Direksi BNI berdomisili di Indonesia.
Direktur Utama BNI berasal dari pihak yang independen terhadap pemegang saham
pengendali yaitu Negara Republik Indonesia yang dalam hal ini diwakili oleh Menteri
Negara BUMN R.I.
Sehubungan dengan adanya permintaan Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa
(RUPSLB) yang diajukan oleh Pemegang Saham mayoritas BNI berdasarkan suratnya
No. S-851/MBU/2007 tanggal 17 Desember 2007 dimana agenda RUPSLB tersebut
adalah perubahan Direksi dan Komisaris Perseroan, maka Komite Remunerasi dan
Nama
Name
Jabatan
Position
Efektif
Effective Date
Sigit Pramono
Direktur Utama
President Director
17 Desember/December 2003
Gatot M. Suwondo
Wakil Direktur Utama
Vice President Director
19 Mei/May 2005
I. Supomo Direktur/Director 4 Agustus/August 2003
Achil R. Djajadiningrat Direktur/Director 15 Desember/December 2003
Tjahjana Tjakrawinata*) Direktur/Director 15 Desember/December 2003
Kemal Ranadireksa Direktur/Director 15 Desember/December 2003
Bien Subiantoro Direktur/Director 15 Desember/December 2003
Achmad Baiquni Direktur/Director 15 Desember/December 2003
Fero Poerbonegoro Direktur/Director 17 Desember/December 2003
Suroto Moehadji Direktur/Director 15 Desember/December 2003
* efektif mengundurkan diri efektif pada tanggal 1 Agustus 2007/resign since 1 August 2007
52
TATA KE LOL A P E RUSAHAAN
the Remuneration and
Nomination Committee
submitted the criteria and
the proposed members
of the Board of Directors
to the Commissioners
for submission to the
Shareholders.
The majority of the members
of the Board of Directors
have minimum experience of
5 (ve) years in the eld of
operations as an Executive
Ofcial of a Bank.
In accordance with
the requirements set
within Bank Indonesias
Regulations concerning
Good Corporate
Governance, BNIs
Directors do not hold
positions as Commissioner,
Director, or in an Executive
capacity with another
bank, company and/
or institution, including
as a Commissioner in a
subsidiary of BNI.
None of the Directors,
either individually or
collectively, have shares
amounting to over 25%
(twenty ve percent)
of paid up capital in a
company, as duly veried
through the signing of the
Acknowledgement Letter
that indicated that they do
not possess shares of over
25% of paid up capital in
any company.
In accordance with the
requirements set within
the Articles of Association,
none of the members of
the Board of Directors
have family links of up to
the second tier with other
Directors, and/or with other
members of the Board of
Commissioners.
All of the members of the
Board of Directors have
passed the Fit and Proper
Test, in accordance with the
requirements set by Bank
Indonesia concerning the
Fit and Proper Test.
Throughout 2007, the
Directors did not provide
any overall delegation
of authority to other
parties that resulted in the
delegation of tasks and
functions of the Directors.
b. Tasks and
Responsibilities of the
Directors
In the course of
performing their tasks and
responsibilities, the Directors
Nominasi mengajukan kriteria dan usulan nama-nama calon anggota Direksi kepada
Komisaris untuk kemudian disampaikan kepada Pemegang Saham.
Mayoritas anggota Direksi telah memiliki pengalaman paling sedikit 5 (lima) tahun di
bidang operasional sebagai Pejabat Eksekutif Bank.
Sesuai dengan ketentuan Peraturan Bank Indonesia tentang Good Corporate
Governance, Direksi BNI tidak memiliki rangkap jabatan sebagai Komisaris, Direksi
atau Pejabat Eksekutif pada bank, perusahaan dan atau lembaga lain termasuk
menjadi Komisaris pada perusahaan anak BNI.
Seluruh anggota Direksi baik secara sendiri-sendiri atau bersama-sama tidak
memiliki saham melebihi 25% (dua puluh lima perseratus) dari modal disetor pada
suatu perusahaan lain yang dibuktikan dengan penandatanganan Surat Pernyataan
tidak memiliki saham melebihi 25% dari modal disetor pada suatu perusahaan.
Sesuai dengan ketentuan Anggaran Dasar, seluruh anggota Direksi tidak saling
memiliki hubungan keluarga sampai dengan derajat kedua dengan sesama anggota
Direksi, dan/atau dengan anggota Dewan Komisaris.
Seluruh anggota Direksi telah lulus Penilaian Kemampuan dan Kepatutan (Fit and
Proper Test) sesuai dengan ketentuan Bank Indonesia tentang Penilaian Kemampuan
dan Kepatutan (Fit and Proper Test).
Selama tahun 2007, Direksi tidak memberikan kuasa umum kepada pihak lain yang
mengakibatkan pengalihan tugas dan fungsi Direksi.
b. Tugas dan Tanggung Jawab Direksi
Dalam melaksanakan tugas dan tanggung jawabnya, Direksi senantiasa berpegang dan
berpedoman pada Anggaran Dasar. Tugas-tugas pokok Direksi yang tercantum dalam
Anggaran Dasar terdiri dari:
Memimpin dan mengelola Perseroan sesuai dengan maksud dan tujuan Perseroan
dan senantiasa berusaha meningkatkan esiensi dan efektitas.
Menguasai dan memelihara dan mengurus kekayaan Perseroan.
53
GOOD CORP ORATE GOVE RNANCE
constantly adhere to and
are guided by the Articles
of Association. The main
tasks of the Directors as
specied within the Articles
of Association:
Lead and manage the
Company in accordance
with the intent and
purposes of the Company
and constantly strive to
improve the Companys
efciency and effectiveness.
Control, maintain,
and manage the
Companys assets.
In addition to this, the
Directors are fully responsible
for implementing their task
in the interest of achieving
the Companys intent
and purposes.
The Directors also have
the right to represent the
Company within and outside
a Court of Law and have
the right to implement all
necessary action with both
good intentions and to be fully
responsible for management
and ownership, and in respect
to binding the Company with
other parties and other parties
with the Company with a
certain degree of limitations.
The Directors are required to
implement the principles of
Good Corporate Governance
in every business activity and
at all organization levels and
structure of the Company.
The Directors responsibilities
which are related to the
implementation of Good
Corporate Governance are
specied within the Standard
Operating Procedures of the
Commissioners and Directors
and include:
The Directors are restricted
from using BNI for
personal, family and/or
any other partys benet or
gain that might potentially
hamper or reduce BNIs
protability.
The Directors are restricted
from taking and/or gaining
personal prot from BNI,
other than the remuneration
and other facilities
determined by the GSM.
The Directors constantly
strive to act and follow up
on the audit ndings and
recommendations from:
the Internal Audit Team and
the Public Accounting Firm
Selain itu Direksi bertanggung jawab penuh dalam melaksanakan tugasnya untuk
kepentingan Perseroan dalam mencapai maksud dan tujuannya.
Direksi juga berhak mewakili Perseroan di dalam dan di luar Pengadilan dan berhak
melakukan segala tindakan dengan itikad baik dan penuh tanggung jawab mengenai
pengurusan maupun mengenai pemilikan serta mengikat Perseroan dengan pihak lain
dan pihak lain dengan Perseroan dengan pembatasan-pembatasan tertentu.
Direksi wajib melaksanakan prinsip-prinsip Good Corporate Governance dalam setiap
usaha perusahaan di seluruh tingkatan dan jenjang organisasi. Tanggung jawab Direksi
terkait dengan pelaksanaan Good Corporate Governance tersebut tertuang dalam Tata
Tertib dan Pedoman Kerja Komisaris dan Direksi yang meliputi:
Direksi dilarang memanfaatkan BNI untuk keuntungan pribadi, keluarga dan/atau
pihak lain yang dapat merugikan atau mengurangi keuntungan BNI.
Direksi dilarang mengambil dan/atau menerima keuntungan pribadi dari BNI, selain
renumerasi dan fasilitas lainnya yang ditetapkan berdasarkan keputusan RUPS.
Direksi senantiasa menindaklanjuti temuan audit dan rekomendasi dari Satuan
Pengendalian Intern dan Kantor Akuntan Publik E&Y, hasil pengawasan Bank Indonesia
dan/atau hasil pengawasan otoritas lainnya seperti Bapepam, dan lain-lain.
B. KELENGKAPAN DAN PELAKSANAAN TUGAS KOMI TE- KOMI TE
Dalam rangka mendukung efektivitas pelaksanaan tugas dan tanggung jawabnya, Komisaris
BNI membentuk:
1. Komite Audit.
2. Komite Pemantau Risiko.
3. Komite Remunerasi dan Nominasi.
54
TATA KE LOL A P E RUSAHAAN
of E&Y, Bank Indonesias
supervisory audit and/or other
ndings of other authorities
such as Bapepam, etc.
B. THE COMPLETENESS
AND I MPLEMENTATI ON OF
THE COMMI TTEE S TASKS
To support the
effectiveness of its tasks
and responsibilities, BNIs
Commissioners formed:
1. The Audit Committee.
2. The Risk Monitoring
Committee.
3. The Remuneration and
Nomination Committee.
1. The Audit Committee
a. Structure, composition,
expertise, and independency
of the Audit Committee
The Audit Committees
Structure is comprised of:
1. Chairman: Suwarsono
(Independent Commissioner)
2. Members:
Effendi (Commissioner)
Teuku Radja Sjahnan
(Independent Member)
Alexander Zulkarnain
(Independent Member)
Henrajaya (Independent
Member)
3. Secretary: Hasan Masud
(Independent)
The Audit Committee is
headed by an Independent
Commissioner and comprises
of independent members that
possess expertise in nance or
accounting as well as audit. In
fulllment of Bank Indonesias
requirements that stress that
one of the members of the
Audit Committee must be
one deemed independent,
possessing adequate
expertise in the eld of law or
banking, the Commissioners
are currently processing
candidates for the Audit
Committee, including ones
who possess legal expertise.
In addition to this, the
members of the Audit
Committee are also deemed
to possess required integrity,
good character and morals.
None of the independent
members of the Audit
Committee possess
relations in terms of
nancial, management,
shareholding and/or family
connections with the
Board of Commissioners,
Directors, and/or Controlling
Shareholders or with the
Bank, that may affect their
ability to act independently.
1. Komite Audit
a. Struktur, keanggotaan, keahlian dan independensi Komite Audit
Struktur Komite Audit terdiri dari:
1. Ketua : Suwarsono (Komisaris Independen)
2. Anggota : Effendi (Komisaris)
Teuku Radja Sjahnan (pihak independen)
Alexander Zulkarnain (pihak independen)
Henrajaya (pihak independen)
3. Sekretaris : Hasan Masud (pihak independen)
Komite Audit diketuai oleh Komisaris Independen dan anggotanya terdiri dari pihak
independen yang memiliki keahlian di bidang keuangan atau akuntansi serta audit.
Untuk memenuhi ketentuan Bank Indonesia yang menegaskan bahwa salah satu
anggota Komite Audit harus berasal pada pihak independen yang memiliki keahlian di
bidang hukum atau perbankan, saat ini Komisaris sedang memproses calon anggota
Komite Audit dari pihak independen yang mempunyai keahlian di bidang hukum.
Selain itu, anggota Komite Audit juga dinilai memenuhi persyaratan integritas, akhlak
dan moral yang baik.
Seluruh anggota Komite Audit yang berasal dari pihak independen tidak memiliki
hubungan keuangan, kepengurusan, kepemilikan saham dan/atau hubungan keluarga
dengan Dewan Komisaris, Direksi dan/atau Pemegang Saham Pengendali atau hubungan
dengan Bank, yang dapat mempengaruhi kemampuan bertindak independen.
Anggota Komite Audit tidak ada yang merangkap sebagai Direksi BNI maupun Direksi
pada bank lain serta tidak ada pihak independen yang merupakan mantan Direksi BNI
maupun pejabat eksekutif BNI.
55
GOOD CORP ORATE GOVE RNANCE
None of the members of the
Audit Committee concurrently
serve positions as Directors
within BNI or other banks, or
formerly served as Directors
or Executives within BNI.
b. Tasks and
Responsibilities of the
Audit Committe
In accordance with
prevailing regulations,
the Audit Committee is
tasked with providing its
recommendations to the
Board of Directors towards
reports or matters submitted
by the Directors to the Board
of Commissioners, identifying
matters that require the
Commissioners attention
and implement other
tasks related to the Board
of Commissioners tasks
which include:
assessing fnancial
information issued by
the Company, such as
the nancial statement,
projection and other
nancial information.
assess the Companys
adherence or compliance
towards Capital Market and
other regulations related to
the Companys activities.
assess the audit carried
out by the internal auditor.
report to the
Commissioners regarding
the various risks that
the Company faces and
the implementation of
risk management by
the Directors.
assess and report to
the Commissioners any
complaints related to the
share issuer or public
company.
protect the confdentiality
of documents, data and
corporate infomation
In addition to this, the Audit
Committee is also duly
authorized to access notes
or information regarding
employees, funds, assets as
other corporate resources
related to its tasks.

Apart from acting on the basis
of what is stipulated within
the Audit Committee Charter,
passed on the basis of the
Commissioners decision, in
the course of perfoming its
task, the Audit Committee
also actively interacts with
the Directors and the Internal
Audit Team (SPI).
b. Tugas dan Tanggung Jawab Komite Audit
Sesuai ketentuan yang berlaku, Komite Audit bertugas untuk memberikan pendapat
kepada Dewan Komisaris terhadap laporan atau hal-hal yang disampaikan oleh
Direksi kepada Dewan Komisaris, mengidentikasi hal-hal yang memerlukan perhatian
Komisaris dan melaksanakan tugas-tugas lain yang berkaitan dengan tugas Dewan
Komisaris, antara lain meliputi:
Menelaah informasi keuangan yang akan dikeluarkan perusahaan seperti laporan
keuangan, proyeksi dan informasi keuangan lainnya.
Menelaah ketaatan perusahaan terhadap peraturan perundang-undangan di
bidang Pasar Modal dan peraturan-peraturan lainnya yang berhubungan dengan
kegiatan perusahaan.
Menelaah pelaksanaan pemeriksaan oleh auditor internal.
Melaporkan kepada Komisaris berbagai risiko yang dihadapi perusahaan dan
pelaksanaan manajemen risiko oleh Direksi.
Menelaah dan melaporkan kepada Komisaris atas pengaduan yang berkaitan dengan
Emiten atau perusahaan publik.
Menjaga kerahasiaan dokumen, data dan informasi perusahaan.
Selain itu Komite Audit juga berwenang mengakses catatan atau informasi tentang
karyawan, dana, aset serta sumber daya perusahaan lainnya yang berkaitan dengan
pelaksanaan tugasnya.
Selain berpedoman pada Piagam Komite Audit yang ditetapkan atas dasar keputusan
Komisaris, dalam menjalankan tugasnya, Komite Audit juga melakukan interaksi aktif
dengan Direksi dan Satuan Pengawasan Intern (SPI).
Pada periode tahun 2007, Komite Audit telah memberikan rekomendasi kepada Dewan
Komisaris sebagai berikut:
Melakukan pemantauan dan mengevaluasi perencanaan dan pelaksanaan audit serta
56
TATA KE LOL A P E RUSAHAAN
In 2007, the Audit Committee
submitted the following
recommendations to the
Board of Commissioners:
Monitor and evaluate
audit planning and
implementation as well as
monitor action or follow up
audit ndings in respect
to evaluating the level of
internal control, including
the state of nancial
reporting processing.
Review the following:
i. Implementation of tasks
related to the Internal Audit
Team (SPI).
ii. Verify that the audit
process performed by
the extenal auditors is in
accordance with prevailing
audit standards.
iii. The implementation of
action or follow up by the
Directors on the results
and ndings submitted
by the Internal Auditors,
External Auditors, and Bank
Indonesia.
Provide recommendation in
relation to the appointment
of a Public Accountant
or Public Accounting
Firm in accordance with
requirements set by the
GSM through the Board of
Commissioners.
c. Audit Committee
Meetings convened in
2007
(see table above)
d. The Audit Committees
accomplishments up to 31
December 2007
Monitor and evaluate
audit plan and action as
well as monitor response
to audit ndings, in
relation to assessing the
appropriateness of internal
control including assessing
the nancial reporting
process:
i. Evaluation of the Internal
Audit Teams audit plan
and report to the Board of
Commissioners.
ii. Monitor the implementation
of the Annual Business Plan
and report its results on a
quarterly basis to the Board
of Commissioners.
iii. Monitor the preparation
of the Directors and
Commissioners Report
concerning main aspects
of the audit ndings Sm
II/2006 and Sm I/2007.
iv. - Ensure that the results of
memantau tindak lanjut hasil audit dalam rangka menilai kecukupan pengendalian
intern termasuk kecukupan proses pelaporan keuangan.
Melakukan review:
i. Pelaksanaan tugas Satuan Pengawasan Intern (SPI).
ii. Kesesuaian pelaksanaan audit oleh Kantor Akuntan Publik (KAP) dengan standar
audit yang berlaku.
iii. Pelaksanaan tidak lanjut oleh Direksi atas hasil temuan SPI, Akuntan Publik dan
hasil pengawasan Bank Indonesia.
Memberikan rekomendasi penunjukan Akuntan Publik dan Kantor Akuntan Publik
(KAP) sesuai ketentuan yang berlaku kepada RUPS melalui Komisaris.
c. Rapat Komite Audit selama tahun 2007
d. Realisasi Program Kerja Komite Audit tahun 2007
Melakukan pemantauan dan evaluasi atas perencanaan dan pelaksanaan audit
serta pemantauan atas tindak lanjut hasil audit dalam rangka menilai kecukupan
pengendalian intern termasuk kecukupan proses pelaporan keuangan:
i. Melakukan evaluasi atas perencanaan audit oleh SPI dan melaporkan kepada
Komisaris.
Jumlah Kehadiran
Number of Attendances
Jumlah Rapat
Number of Meetings
Suwarsono 32 36
Effendi 30 36
Teuku Radja Sjahnan 28 36
Alexander Zulkarnain 29 36
Henrajaya 28 36
57
GOOD CORP ORATE GOVE RNANCE
ii. Memantau pelaksanaan Rencana Kerja Tahunan dan melaporkan hasilnya setiap
triwulan kepada Komisaris.
iii. Memantau penyiapan laporan Direksi dan Komisaris tentang pokok-pokok hasil
audit Semester II/2006 dan Semester I/2007.
iv. - Memastikan bahwa hasil pemeriksaan SPI ditindaklanjuti.
- Memberikan laporan triwulan kepada Komisaris mengenai hal-hal yang belum
diselesaikan sesuai exit meeting.
v. Memastikan bahwa hasil pemeriksaan BI ditindaklanjuti sebagaimana mestinya.
vi. Memastikan bahwa hasil pemeriksaan BPK ditindaklanjuti sebagaimana mestinya.
Mengkaji Laporan Hasil Audit KAP tahun buku 2006.
Mengevaluasi efektivitas pelaksanaan audit dari auditor ekstern termasuk menelaah
independensi dan obyektivitas auditor ekstern serta menelaah kecukupan
pemeriksaan yang dilakukannya untuk memastikan bahwa semua risiko yang penting
telah dipertimbangkan.
Melakukan penelaahan atas informasi keuangan yang akan dikeluarkan perusahaan
seperti laporan keuangan proyeksi dan informasi keuangan lainnya.
Menyiapkan laporan kepada Menteri Negara BUMN tentang pelaksanaan
pengendalian intern semester I tahun 2007.
Membuat laporan tahunan kepada Komisaris mengenai pelaksanaan tugas Komite
Audit selama 2006.
Kegiatan terkait peningkatan kualitas SDM:
i. Mengikuti program pendidikan dan pelatihan.
ii. Melakukan identikasi kebutuhan pendidikan dan pelatihan bagi Komite Audit.
iii. Menyampaikan usulan kepada Komisaris mengenai pendidikan dan pelatihan.
Review atas pelaksanaan paket kompensasi Komisaris dan Direksi.
the Internal Audit Teams
ndings are followed up
- Provide quarterly reports
to the BOC, particularly
in regard to matters that
have not been resolved in
accordance with the exit
meeting.
v. Ensure that the ndings of
Bank Indonesias audit are
appropriately followed up.
vi. Ensure that the BPK
(Government Financial
Audit Agency) ndings are
appropriately followed up.
Assess the External
Auditors 2006 Audit
Report.
Evaluate the effectiveness
of the audit carried out
by the external auditor,
including asssessing
the independency and
objectivity of the external
auditor and the adequacy
of the inspection process,
to ensure that all major
risks have already been
considered.
Assess the fnancial
information to be revealed
by the Company, such
as the projected nancial
statement and other
nancial information.
Prepare the report to the
Minister of State-Owned
Enterprises concerning
internal control in the rst
half of 2007.
Prepare the annual report
for the BoC regarding the
Audit Committees work
throughout 2006
Related activities to improve
HR quality:
i. Participate in training and
education programs
ii. Identify the Audit
Committees training and
education needs.
iii. Submit to the BoC the
proposed education and
training that it seeks to
participate in.
Review the implementation
of the BoCs and Directors
compensation package
2. Risk Monitoring Committee
a. Structure, composition,
expertise and independency
of the Risk Monitoring
Committee
The Structure of the Risk
Monitoring Committee as
of 31 December 2007 is
comprised of:
Chairperson: Felia
Salim (Independent
Commissioner)
Members:
58
TATA KE LOL A P E RUSAHAAN
- H.M.S Latif
(Commissioner)
- Emma S. Tjakradinata
(Independent Member)
- Ibrahim Husein
(Independent Member)
- Setiawan Boedihardjo
(Independent Member,
effective since
30 October 2007)
Secretary: Hasan Masud
(not a concurrent member)
The Risk Monitoring
Committee Members:
Are appointed and
terminated by the Directors
on the basis of a Board of
Commissioners decision.
May not concurrently
serve as members of
the Remuneration and
Nomination Committee
Consist of 1 (one)
member from the Board
of Commissioners and
3 (three) members from
independent parties and
is not a member of BNIs
Board of Directors.
At least one independent
member possesses
nancial expertise, fullled
by Emma S. Tjakradinata,
Ibrahim Husein and
Setiawan Boedihardjo.
At least one independent
member possesses risk
management expertise,
fullled by Emma S.
Tjakradinata.
Have adequate knowledge
and general understanding
in risk management
principles and process,
banking and capital market
regulations and laws, state-
owned enterprise and other
regulation related to BNIs
operational activities.
Possess good integrity,
character and morals.
None of the Independent
Members of the Committee
have nancial, managerial,
shareholding and/or family
links with the Board of
Commissioners, Board of
Directors and/or Controlling
Shareholders or relationships
with the Bank that may
affect their ability to behave
independently.
The competency and
independency of the members
of the Risk Monitoring
Committee is in accordance
with the requirements set
within the Risk Monitoring
2. Komite Pemantau Risiko
a. Struktur, keanggotaan, keahlian dan independensi Komite Pemantau Risiko
Struktur Komite Pemantau Risiko per 31 Desember 2007:
Ketua : Felia Salim (Komisaris Independen)
Anggota : H.M.S. Latif (Komisaris)
Emma S. Tjakradinata (Anggota Independen)
Ibrahim Husein (Anggota Independen)
Setiawan Boedihardjo (Anggota Independen, efektif sejak 30 Oktober 2007)
Sekretaris : Hasan Masud (tidak merangkap sebagai anggota)
Anggota Komite Pemantau Risiko:
Diangkat dan diberhentikan oleh Direksi berdasarkan keputusan rapat Dewan Komisaris.
Tidak merangkap sebagai anggota Komite Audit maupun Komite Remunerasi
dan Nominasi.
Terdiri atas 1 (satu) orang yang merupakan komisaris dan 3 (tiga) orang dari pihak
independen, dan tidak ada yang berasal dari anggota Direksi BNI.
Memiliki keahlian di bidang keuangan khususnya bagi sekurang-kurangnya seorang
anggota yang berasal dari pihak independen, yaitu Emma S. Tjakradinata, Ibrahim
Husein dan Setiawan Boedihardjo.
Memiliki keahlian dibidang manajemen risiko khususnya bagi sekurang-kurangnya
seorang anggota yang berasal dari pihak independen, yaitu Emma S. Tjakradinata.
Memiliki pengetahuan dan pemahaman mengenai prinsip dan proses manajemen risiko
secara umum, peraturan perundangan di bidang perbankan, pasar modal, BUMN dan
peraturan perundangan lainnya yang berkaitan dengan aktivitas operasional BNI.
Memiliki integritas, akhlak dan moral yang baik.
Seluruh anggota komite yang merupakan pihak independen tidak memiliki hubungan
keuangan, kepengurusan, kepemilikan saham dan/atau hubungan keluarga dengan
59
GOOD CORP ORATE GOVE RNANCE
Dewan Komisaris, Direksi, dan/atau pemegang saham pengendali atau hubungan
dengan BNI yang dapat mempengaruhi kemampuannya untuk bertindak independen.
Kompetensi dan independensi anggota Komite Pemantau Risiko telah sesuai Piagam
Komite Pemantau Risiko sebagaimana Surat Keputusan Komisaris No. Kep/07/DK/2006
tanggal 20 Desember 2006.
b. Tugas dan Tanggung Jawab Komite Pemantau Risiko
Dalam Piagam Komite Pemantau Risiko dijelaskan bahwa tanggungjawab Komite
Pemantau Risiko mencakup:
Melakukan evaluasi tentang kesesuaian antara kebijakan manajemen risiko dengan
pelaksanaan kebijakan tersebut dan memberikan rekomendasi kepada Dewan
Komisaris mengenai kebijakan manajemen risiko dan implementasinya untuk
memastikan bahwa BNI telah mengelola risiko-risiko secara memadai.
Melakukan pemantauan dan evaluasi pelaksanaan tugas Komite Manajemen Risiko dan
Satuan Kerja Manajemen Risiko, untuk selanjutnya memberikan rekomendasi kepada
Dewan Komisaris guna peningkatan efektivitas pelaksanaan manajemen risiko BNI.
Tugas Komite Pemantau Risiko sesuai dengan lingkup tanggungjawabnya adalah:
Melakukan evaluasi atas kebijakan dan strategi manajemen risiko yang disusun oleh
manajemen secara tahunan .
Melakukan evaluasi terhadap laporan pertanggungjawaban Direksi atas pelaksanaan
kebijakan manajemen risiko.
Melakukan evaluasi atas Laporan Profl Risiko Triwulanan BNI dan pelaksanaan
proses manajemen risiko, untuk selanjutnya memberi masukan kepada Dewan
Komisaris atas kondisi risiko yang dihadapi oleh Bank serta usulan langkah-langkah
mitigasi atas risiko-risiko tersebut sehingga Dewan Komisaris dapat memberi
masukan untuk langkah perbaikan kepada Direksi, apabila diperlukan.
Committees Charter through
the Commissioners Decree
No. Kep/07/DK/2006, dated
20 December 2006.
b. Task and Responsibility
of the Risk Monitoring
Committee
The Risk Monitoring
Committees Charter also
emphasizes the responsibility
of the Risk Monitoring
Committee which includes:
Evaluate the level of
sufciency between
risk management policy
and with the policys
implementation and provide
recommendations to the
Commissioners in regard
to risk management policy
and its implementation,
to ensure that BNI has
managed the risks
accordingly.
Monitor and evaluate the
implementation of the Risk
Management Committees
and the Risk Management
Working Teams tasks and
subsequently provide its
recommendation to the
Commissioners, so as to
enhance the effectiveness
of implementing risk
management within BNI.
The tasks of Risk
Monitoring Committee:
Evaluate risk management
strategy and policies.
formulated by management
Evaluate Directors Report
on Risk Management policy
implementation.
Evaluate Quarterly
Risk Prole Report and
implementation of risk
management process,
and subsequently provide
input to the Board of
Commissioners on risk
environment so that Board
of Commissioners could
submit a recommendation
to the Board of Directors.
Evaluate the Board of
Directors action in fullling
Bank Indonesia regulations
and other prevailing
regulations with regard
to prudential principles of
risk management.
Evaluate Directors
monitoring result on the
banks business activities.
Evaluate monitoring results
on the banks compliance
toward risk management
implementation in
all agreements and
commitments made with
Bank Indonesia.
60
TATA KE LOL A P E RUSAHAAN
Provide recommendations
to the Board of
Commissioner in risk
management aspects,
with regard to transactions
or business activities
exceeding the Directors
authority limit.
Monitor and evaluate
implementation of Risk
Monitoring Committee and
Risk Management Working
Team duties, which include:
- Reviewing the
implementation of each
component of Enterprise
Risk Management.
- Reviewing risk
management aspects of
the Companys published
report.
- Provide input in the
selection process and
propose a candidate
for independent risk
management consultant,
as well as monitor the
work of the independent
risk management
consultant, including
suggesting termination
of services if their work
is considered below the
required standard.
Perform other duties
as required by Board of
Commissioners.
Conduct self-evaluation in
implementation of duties
and periodically improve
the Working Guidance
of the Risk Monitoring
Committee.

c. Accomplishment of
the Risk Monitoring
Committees
During 2007, the Risk
Monitoring Committee
performed the following
activities:
Provided a report on the Risk
Monitoring Committees
activities in 2006.
Mengevaluasi langkah-langkah yang diambil oleh Direksi dalam rangka memenuhi
peraturan Bank Indonesia dan peraturan perundang-undangan lain yang berlaku
dalam rangka pelaksanaan prinsip kehati-hatian, khususnya yang berkaitan dengan
manajemen risiko.
Mengevaluasi hasil pemantauan Direksi terhadap kegiatan usaha Bank agar tidak
menyimpang dari ketentuan yang berlaku.
Mengevaluasi hasil pemantauan atas kepatuhan Bank terkait pelaksanaan
manajemen risiko terhadap seluruh perjanjian dan komitmen yang dibuat oleh Direksi
kepada Bank Indonesia.
Melakukan evaluasi dan memberikan masukan dari segi manajemen risiko kepada
Dewan Komisaris terhadap permohonan atau usulan Direksi yang berkaitan dengan
transaksi atau kegiatan usaha yang melampaui kewenangan Direksi untuk dapat
digunakan oleh Dewan Komisaris sebagai dasar untuk pengambilan keputusan.
Melakukan pemantauan dan evaluasi pelaksanaan tugas Komite Manajemen Risiko
dan Satuan Kerja Manajemen Risiko, yang mencakup hal-hal sebagai berikut:
- melakukan penelaahan atas pelaksanaan masing-masing komponen dari Enterprise
Risk Management di dalam perusahaan.
- melakukan penelahaan atas informasi yang berkaitan dengan manajemen risiko
dalam laporan-laporan yang akan dipublikasikan perusahaan.
- memberikan masukan dalam proses pelaksanaan seleksi dan mengusulkan calon
konsultan manajemen risiko independen, serta mengawasi pekerjaan konsultan
manajemen risiko independen, termasuk mengusulkan pemberhentiannya apabila
dalam pelaksanaan tugasnya dianggap tidak memenuhi standar atau ketentuan
yang berlaku.
Melaksanakan tugas lain yang diberikan oleh Komisaris berdasarkan ketentuan
peraturan perundangan yang berlaku.
Melakukan self-evaluation terhadap efektivitas pelaksanaan tugas dan
memutakhirkan Pedoman Kerja Komite Pemantau Risiko secara periodik.
61
GOOD CORP ORATE GOVE RNANCE
c. Hal-hal yang dilakukan Komite Pemantau Risiko
Hal-hal yang telah dilakukan Komite Pemantau Risiko selama tahun 2007 sebagai berikut:
Membuat Laporan Tahunan Pelaksanaan Program Kerja Komite Pemantau Risiko
Tahun 2006.
Menyusun Program Kerja Komite Pemantau Risiko Tahun 2007.
Mengevaluasi atas kebijakan dan strategi manajemen risiko tahun 2006 dengan
penekanan pada sektor Korporasi.
Melakukan evaluasi atas kebijakan dan strategi manajemen risiko tahun 2006
dengan penekanan pada sektor Usaha Kecil (USK).
Menghadiri business meeting semesteran di Sentra Kredit Menengah (SKM) dan
Sentra Kredit Kecil (SKC) dan membuat laporan hasil pelaksanaannya.
Melakukan evaluasi atas Laporan Profl Risiko Triwulanan yang disampaikan oleh
Direksi ke Bank Indonesia dan memberikan masukan kepada Direksi melalui Dewan
Komisaris mengenai upaya peningkatan pengukuran risiko komposit sehingga benar-
benar mencerminkan tingkat risiko yang harus dikelola oleh BNI.
Memantau dan mengevaluasi pelaksanaan tugas Komite Manajemen Risiko dan
Satuan Kerja Manajemen Risiko (Divisi Manajemen Risiko dan Divisi Risiko Kredit).
Melakukan evaluasi terhadap laporan pertanggungjawaban Direksi atas pelaksanaan
Kebijakan Manajemen Risiko.
Memantau program perbaikan NPL.
Memantau perkembangan penerapan Central Liability System.
Memberi masukan kepada Dewan Komisaris atas konsultasi kredit yang diajukan
oleh Direksi.
Menganalisa pemberian dan persetujuan kredit kepada pihak terkait.
Melakukan evaluasi atas pelaksanaan Arsitektur Manajemen Risiko BNI.
Mengevaluasi tingkat kesehatan bank (CAMEL) semesteran.
Memberi masukan kepada Dewan Komisaris terkait restrukturisasi kredit dengan
pemberian keringanan berupa alternatif pemberian potongan bunga dan pokok pinjaman
Formulated an Action
Program of the Risk
Monitoring Committee in
2007.
Evaluated the 2006 risk
management policy and
strategy with specic focus
on the Corporate Sector.
Evaluated the 2006 risk
management policy and
strategy focusing on the
small-size loan business.
Participated in half-year
Business Meetings in
Medium Loan Centers and
Small Loan Centers and put
together a result report.
Evaluated the Quarterly
Risk Prole Report
submitted by the Board
of Directors to Bank
Indonesia, and provided
input to improve composite
risk measurement, so that it
reects the risk level to be
managed by BNI.
Monitor and evaluate the
implementation of the Risk
Management Committee
and Risk Management
Working Team.
Evaluate the Directors
accountability report
in respect to the
implementation of risk
management policy.
Monitor the program to
improve NPL levels
Monitor the application of
the Central Liability System.
Provide input to the
Board of Commissioners
in respect to loan
consultation.
Analyze the loan approval
process to related parties
Evaluate the Risk
Management Architecture
Perform an evaluation of
the Banks state of health
(CAMEL) every semester.
Provide input to the Board
of Commissioners with
regard to loan restructuring
62
TATA KE LOL A P E RUSAHAAN
through alternative scenario
of haircut on interest
payments and principal
loans.
Provide recommendations
for the Companys 2008
Business Plan and Budget;
Evaluate the achievement
of action plan and
performance result of Risk
Monitoring Committee
The Risk Monitoring
Committee evaluates and
provides independent
recommendations to the
Board of Commissioners with
regard to BNI performance
and activities based on
its analysis of internal
and external reports,
along with discussion
with BNI management
throughout 2007.
d. Risk Monitoring
Committee Meetings
in 2007
Based on the Risk Monitoring
Committee Charter, the
Committee should convene a
meeting at least once every
month. However, considering
the numbers of issues related
to risk management which
need to be monitored and
evaluated, the Committee
Meeting is conducted once
every week.
During 2007, the Risk
Monitoring Committee held
33 meetings with details of
attendance presented in the
above table.
3. Remuneration and
Nomination Committee
a. Structure,
membership, expertise,
and independency of
the Committee
The establishment of the
Remuneration and Nomination
Committee was a culmination
of the the Minister of State-
Owned Enterprises Decree No.
Kep-117/M-MBU/2002, dated
31 July 2002, concerning
the Implementation of Good
Corporate Governance
Practices for State-Owned
Enterprises (SOE). The
Remuneration and Nomination
Committee was formed on the
basis of the Commissioners
Decree No. Kep/01/DK/2002,
dated 2 December 2002.
In line with Bank Indonesias
Regulation No. 8/4
PBI/2006, dated 30 January
Memberi masukan atas draft Rencana Kerja dan Anggaran Perusahaan (RKAP) BNI
tahun 2008.
Mengevaluasi pencapaian rencana kerja dan kinerja Komite Pemantau Risiko di
tahun 2007.
Komite Pemantau Risiko telah memberikan penilaian dan rekomendasi yang
independen kepada Dewan Komisaris mengenai aktivitas dan kinerja BNI dari hasil
analisa laporan internal dan eksternal serta pembahasan dalam rapat-rapat internal dan
dengan manajemen BNI selama tahun 2007.
d. Rapat Komite Pemantau Risiko selama tahun 2007
Berdasarkan Piagam Komite Pemantau Risiko dinyatakan bahwa komite wajib
mengadakan rapat sekurang-kurangnya satu kali dalam satu bulan. Namun mengingat
banyaknya permasalahan yang terkait dengan aspek risiko yang perlu dipantau dan
dievaluasi, maka disepakati rapat komite dilakukan satu kali setiap minggu.

Rapat Komite Pemantau Risiko selama tahun 2007 dilaksanakan sebanyak 33 kali
dengan rincian kehadiran masing-masing anggota komite sebagai berikut:
Jumlah Kehadiran
Number of Attendances
Jumlah Rapat
Number of Meetings
Felia Salim 33 33
H.M.S Latif 14 33
Emma Tjakradinata 30 33
Ibrahim Husein 31 33
Setiawan Boedihardjo* 8 33
* Mulai aktif 30 Oktober 2007 menggantikan Sutirta Budiman yang berhenti sebagai anggota komite sejak Juni
2007/Effective as of 30 October 2007 replacing Sutirta Budiman who resumed his duty since June 2007.
63
GOOD CORP ORATE GOVE RNANCE
3. Komite Remunerasi dan Nominasi
a. Struktur, keanggotaan, keahlian dan independensi Komite Audit
Pembentukan Komite Remunerasi dan Nominasi merupakan tindak lanjut dari
diterbitkannya Keputusan Menteri BUMN No. Kep-117/M-MBU/2002 tanggal 31 Juli
2002 tentang Penerapan Praktek Good Corporate Governance pada Badan Usaha Milik
Negara (BUMN). Komite Remunerasi dan Nominasi dibentuk dengan Surat Keputusan
Komisaris No. Kep/01/DK/2002 tanggal 2 Desember 2002.

Sejalan dengan Peraturan Bank Indonesia No. 8/4/PBI/2006 tanggal 30 Januari 2006
tentang Pelaksanaan Good Corporate Governance Bagi Bank Umum, yang harus
direalisasikan paling lambat akhir Juni 2007, keberadaan Komite Remunerasi dan
Nominasi lebih dioptimalkan dengan:
Surat Keputusan Komisaris No. Kep/08/DK/2006 tanggal 20 Desember 2006
tentang Penetapan Piagam Komite Remunerasi dan Nominasi PT Bank Negara
Indonesia (Persero) Tbk.
Surat Keputusan Komisaris No. Kep/005/DK/2007 tanggal 29 Agustus 2007 tentang
Perubahan Susunan dan Penetapan Anggota Komite Komisaris dan Sekretaris Komite.
Susunan keanggotaan Komite Remunerasi dan Nominasi adalah sebagai berikut:
Ketua : Achjar Iljas (Komisaris Independen)
Anggota : Zaki Baridwan (Komisaris Utama)
Suwarsono (Komisaris Independen)
Parikesit Soeprapto (Komisaris)
Darwin Suzandi (Pemimpin Divisi Sumber Daya Manusia)
Idayu Nilawati (Independen)
Komite Remunerasi dan Nominasi diketuai oleh Komisaris Independen dan anggotanya
terdiri dari Komisaris Utama, Komisaris Independen serta pejabat eksekutif yang
2006, concerning the
Implementation of Good
Corporate Governance for
Commercial Banks which
must be applied no later than
the end of June 2007, the
Remuneration and Nomination
Committees existence is
further enhanced through:
The Commissioners Decree
No. Kep/08/DK/2006
dated 20 December
2006 concerning The
Establishment of the
Remuneration and
Nomination Committees
Guidelines for PT Bank
Negara Indonesia
(Persero) Tbk.
The Commissioners Decree
No. Kep/005/DK/2007
dated 29 August 2007
concerning Changes to
the Composition and
Determination of Members
of the Commissioners
Committee and
Committees Secretary.
The composition of members
of the Remuneration and
Nomination Committee is
as follows:
Chairman:
Achjar Iljas (Independent
Commissioner)
Members:
- Zaki Baridwan (President
Commissioner)
- Suwarsono (Independent
Commissioner)
- Parikesit Soeprapto
(Commissioner)
- Darwin Suzandi (HRD
Division Head)
- Idayu Nilawati
(Independent Member)
The Remuneration and
Nomination Committee is
headed by an Independent
Commissioner and its
members comprise the
President Commissioner,
Independent Commissioner,
as well as an Executive that
is in charge of the Human
Resources Division. As the
Head of the HRD Division, this
Executive has the knowledge
and insight in regard to rules
related to the remuneration
and nomination system and/
or succession plan within
the Bank. Members of the
Remuneration and Nomination
Committee possess
good integrity, character,
and morals.
64
TATA KE LOL A P E RUSAHAAN
b. Concurrent Positions
of Members within
the Committee
There are no Directors of
BNI or Directors of other
banks who are members
of the Remuneration and
Nomination Committee.
The Chairman of the
Remuneration and
Nomination Committee does
not serve any concurrent
position as Chairman of
other Committees.
c. Independency of the
Committee Members
None of the Independent
members of the
Committee have nancial,
managerial, sharesholder,
and/or family links
with the Board of
Commissioners, Directors
and/or the Controlling
Shareholders, or links
with the Bank that may
affect their ability to act
independently.
The Independent members
of the Committee are
not former members of
the Board of Directors or
Executives from the same
Bank.
d. Tasks and
Responsisbilities of
the Remuneration and
Nomination Committe
The Committees scope
of work is based on the
Remuneration and Nomination
Committees Charter,
in accordance with the
Commissioners Decree Letter,
No. Kep/08/DK/2006 dated
20 December 2006 directing
it to:
Evaluate the remuneration
and nomination
system/policy for the
Commissioners, Directors
and Executives as well as
all employees.
Formulate and provide
recommendations to the
Commissioners regarding
the remuneration policy
system for Commissioners
and Directors for
submission to the General
Shareholders Meeting
(GSM).
Formulate and provide
recommendations to the
Commissioners regarding
the selection and/or
replacement system
for the Commissioners
and Directors.
Provide its recommendation
merupakan pemimpin Divisi Sumber Daya Manusia. Sebagai pemimpin Divisi SDM,
Pejabat Eksekutif tersebut memiliki pengetahuan dan mengetahui ketentuan sistem
remunerasi dan/atau nominasi serta succession plan. Anggota Komite Remunerasi dan
Nominasi memiliki integritas, akhlak dan moral yang baik.
b. Rangkap Jabatan Anggota Komite
Tidak ada Direksi BNI maupun Direksi bank lain yang menjadi anggota Komite
Renumerasi dan Nominasi.
Ketua Komite Remunerasi dan Nominasi tidak merangkap sebagai ketua pada
Komite Lain.
c. Independensi Anggota Komite
Seluruh Pihak Independen anggota Komite tidak memiliki hubungan keuangan,
kepengurusan, kepemilikan saham dan/atau hubungan keluarga dengan Dewan
Komisaris, Direksi dan/atau Pemegang Saham Pengendali atau hubungan dengan
Bank, yang dapat mempengaruhi kemampuannya untuk bertindak independen.
Pihak Independen yang menjadi anggota Komite tidak ada yang berasal dari mantan
Anggota Direksi atau Pejabat Eksekutif yang berasal dari Bank yang sama.
d. Tugas dan Tanggung Jawab Komite Remunerasi dan Nominasi
Lingkup tugas Komite ditetapkan dalam Piagam Komite Remunerasi dan Nominasi
sesuai Surat Keputusan Komisaris No. Kep/08/DK/2006 tanggal 20 Desember
2006 adalah:
Melakukan evaluasi terhadap sistem/kebijakan remunerasi dan nominasi bagi
Komisaris, Direksi dan Pejabat Eksekutif serta Pegawai secara keseluruhan.
Menyusun dan memberikan rekomendasi kepada Komisaris mengenai sistem
kebijakan remunerasi bagi Komisaris dan Direksi.
Menyusun dan memberikan rekomendasi kepada Komisaris mengenai sistem dan
65
GOOD CORP ORATE GOVE RNANCE
prosedur pemilihan dan/atau penggantian anggota Komisaris dan Direksi
Memberikan rekomendasi kepada Komisaris mengenai calon anggota Komisaris dan/
atau Direksi.
Memberikan rekomendasi kepada Komisaris mengenai remunerasi bagi Pejabat
Eksekutif dan pegawai secara keseluruhan.
Memberikan rekomendasi kepada Komisaris mengenai pihak independen yang
akan menjadi anggota Komite Audit dan anggota Komite Pemantau Risiko serta
remunerasi bagi Pejabat Eksekutif dan pegawai secara keseluruhan.
Melaksanakan tugas lainnya yang diberikan oleh Komisaris.
Misi Komite Remunerasi dan Nominasi adalah membantu Komisaris dalam
menjalankan tugas pengawasan terhadap Perseroan, khususnya untuk memastikan
bahwa sistem/kebijakan remunerasi dan nominasi Perseroan telah disusun dan
dilaksanakan berdasarkan asas keadilan dan transparansi serta patuh kepada peraturan
perundang-undangan yang berlaku. Pada tahun 2007, Komite Remunerasi dan
Nominasi telah melaksanakan hal-hal sebagai berikut:
i. Bidang Remunerasi
melakukan kajian terhadap sistem Remunerasi Direksi dan Komisaris, serta
merekomendasikan perubahan remunerasi Direksi dan Komisaris kepada Komisaris.
melakukan kajian terhadap sistem Remunerasi Pegawai BNI, serta
merekomendasikan usulan-usulan penyempurnaannya kepada Komisaris.
Menyusun dan merekomendasikan Sistem Evaluasi Kinerja Direksi kepada
Komisaris.
ii. Bidang Nominasi
melakukan kajian terhadap Sistem Nominasi Direksi, serta merekomendasikan
perbaikannya kepada Komisaris.
menyusun database kandidat anggota Direksi dari sumber internal termasuk
to the Commissioners
regarding potential
candidates for
Commissioners and
Directors of the Bank.
Provide its recommendation
to the Commissioners
regarding remuneration
for Executives and
all employees.
Provide its recommendation
to the Commissioners in
regard to independent
members who become
members of the Audit
Committee and members
of the Risk Management
Committee as well as
the remuneration of the
Executives and all of the
employees.
Perform other tasks
provided to them by
the Commissioners.
The Remuneration and
Nomination Committees
Mission is to support the
Commissioners in their
supervisory tasks within the
Company, particularly in
regard to ensuring that the
Companys remuneration and
nomination system/policy has
been fairly and transparently
formulated and implemented
and in accordance prevailing
rules and regulations. In
2007, the Remuneration
and Nomination Committee
carried out the following:
i. Remuneration Areas
Assessed the Directors
and Commissioners
Remuneration,
and provided its
recommendation to the
Commissioners in respect
to changes to the Directors
and Commissioners
Remuneration.
Assessed the Remuneration
system for all employees
of BNI as well as providing
recommended changes to
the Commissioners.
Formulate and recommend
a Performance Evaluation
System for the Directors to
the Commissioners.
ii. Nomination Areas
Assessed the Directors
Nomination System, as well
as recommending changes
to the Commissioners.
Formulated a database of
candidates for members
of the Board of Directors,
including the selection
criteria parameters as well
as its recommendations to
66
TATA KE LOL A P E RUSAHAAN
the Commissioners.
Reviewed the Nomination
System for BNIs
Employees (BNIs
Succession Plan) in its
entirety, as well as provided
its recommendations to the
Commissioners.
Reviewed the Professional-
Hire Recruitment System
within BNI and provided its
recommendations to the
Commissioners.
Provided recommendations
in regard to independent
members that are not
Commissioners and are
appointed as members
of the Risk Monitoring
Committee.
iii. Perform other tasks
mandated to them by
the Commissioners.
The Remuneration and
Nomination Committee
Meetings held
throughout 2007
(see table above)
C. I MPLEMENTATI ON OF
COMPLI ANCE FUNCTI ON
The Compliance Division
was formed as part of BNIs
good corporate governance
strategy while, at the same
time, fullling Bank Indonesias
regulations on implementing
principles of prudent banking.
The main function of the
Compliance Division is to
ensure that every unit within
the Bank comply with Bank
Indonesias regulations
and other prevailing rules
and regulations, as well
as the Companys policies
and procedures; ensure
that business activities are
conducted well (in respect to
loans, funds, and procurement
of goods and services); ensure
operational activities in every
unit (Branches, Regional
Ofces, Loan Centers and
Head Ofce) are in compliance
through Quality Assurance
(QA), implementation of
the Know Your Customer
(KYC) program as part of the
Banks efforts to deter money
laundering, as well as fostering
a compliant culture in every
business and non-business unit
within the Bank.
In implementing these
functions, the Compliance
Division assesses the level
of compliance of every policy
and procedure as well as
parameter-parameter untuk kriteria seleksinya serta merekomendasikannya
kepada Komisaris.
melakukan kajian terhadap Sistem Nominasi Pegawai BNI (Succession
Plan) secara keseluruhan, serta merekomendasikan usulan-usulan untuk
penyempurnaannya kepada Komisaris.
melakukan kajian terhadap Sistem Rekrutmen Tenaga Prohire (PKWT) di BNI dan
merekomendasikannya kepada Komisaris.
memberikan rekomendasi terhadap pihak independen non-Komisaris yang akan
diangkat sebagai anggota Komite Pemantau Risiko.
iii. Melaksanakan tugas-tugas lain yang diamanahkan Komisaris.
Rapat Komite Remunerasi dan Nominasi selama tahun 2007
The Remuneration and Nomination Committee Meetings held in 2007
Posisi/Position Keterangan/Description
Kehadiran/Number
of Attendances
Achjar Iljas Ketua/Chairman
Komisaris Independen/
Independent Commissioner
12
Zaki Baridwan Anggota/Member
Komisaris Utama/
President Commissioner
6
Suwarsono* Anggota/Member
Komisaris Independen/
Independent Commissioner
2
Parikesit Suprapto* Anggota/Member Komisaris/Commissioner -
Darwin Suzandi Anggota/Member Divisi SDM/HRD Division 12
Idayu Nilawati** Anggota/Member
Pihak Independen/
Independent Member
12
Jumlah Rapat/Number of Meetings 12
* Anggota sejak akhir Agustus 2007/Member since the end of August 2007
** Pensiunan BNI sejak Oktober 2005 (masa kerja 27 tahun) Advisor Proyek SDM ( 2 tahun)/Retired from BNI since
October 2005 (served 27 years) Advisor for the HRD Project (2 years)
67
GOOD CORP ORATE GOVE RNANCE
C. PENERAPAN FUNGSI KEPATUHAN
Divisi Kepatuhan dibentuk sebagai bagian dari strategi untuk tata kelola perusahaan BNI
sekaligus untuk memenuhi ketentuan perbankan yang dikeluarkan oleh Bank Indonesia
dalam rangka pelaksanaan prinsip kehati-hatian. Fungsi pokok Divisi Kepatuhan adalah
untuk memastikan kepatuhan di setiap unit usaha terhadap peraturan Bank Indonesia dan
peraturan perundang-undangan yang berlaku, serta kebijakan dan prosedur perusahaan;
memastikan pelaksanaan aktivitas usaha yang sehat (kredit, dana, serta pengadaan barang
dan jasa); memastikan kepatuhan kegiatan operasional di setiap unit (Kantor Cabang,
Kantor Wilayah, Sentra Kredit, dan Kantor Besar) melalui Quality Assurance (QA), penerapan
program Prinsip Mengenal Nasabah (PMN) serta mendorong budaya patuh di setiap unit,
baik bisnis maupun non bisnis.
Dalam melaksanakan fungsinya tersebut, Divisi Kepatuhan melakukan uji kepatuhan atas
setiap rancangan kebijakan dan prosedur serta melakukan uji kepatuhan atas setiap proses
persetujuan kredit serta pengadaan barang dan jasa di atas nominal tertentu. Terhadap
persetujuan kredit serta pengadaan barang dan jasa di atas nominal tertentu, uji kepatuhan
dilaksanakan oleh unit yang bersangkutan (self assesment) dengan menggunakan checklist
yang dikembangkan oleh Divisi Kepatuhan. Pemeriksaan selanjutnya akan dilaksanakan oleh
QA untuk memastikan bahwa uji kepatuhan tersebut telah dilakukan dengan benar. Saat ini
Divisi Kepatuhan terus mengembangkan sistem uji kepatuhan khususnya bidang trade nance.
Divisi Kepatuhan juga bertanggung jawab atas penerapan PMN sebagai bagian dari aktivitas
Anti Pencucian Uang. Hal ini merupakan tantangan yang cukup besar mengingat jaringan
distribusi BNI yang sangat luas. Untuk mengatasinya, Divisi Kepatuhan telah mengambil
berbagai inisiatif, antara lain mengembangkan sistem yang terintegrasi dengan sistem
iCONS untuk mengindentikasi transaksi keuangan yang mencurigakan, mendeteksi
transaksi keuangan tunai dalam jumlah tertentu, serta alert system untuk mengidentikasi
calon nasabah yang dianggap mempunyai risiko tinggi, calon nasabah yang berasal dari
negara yang tergolong sebagai negara berisiko tinggi, serta mengidentikasi bisnis berisiko
the level of compliance for
every process, within a credit
approval and procurement of
goods and services that are
above a certain value, through
a self assessment process by
the corresponding unit that
uses a checklist developed by
the Compliance Division. The
subsequent assessment will
be carried out by QA to ensure
that the compliance test has
been appropriately carried out.
The Compliance Division is
currently seeking to develop a
compliance evaluation system
specically for trade nance.
The Compliance Division
is also responsible for the
implementation of KYC
which serves as part of the
activities to deter money
laundering. This is indeed a
daunting challenge as BNI
has a sizeable distribution
network. To overcome this,
the Compliance Division
has taken various initiatives,
including the development
of a system that is integrated
with the iCONS system, used
to identify suspect nancial
transactions, detect nancial
transactions of a certain scale
or amount, as well as an alert
system to identify high risk
potential customers, potential
customers that originate from
countries categorized as being
of high risk, as well as identify
high risk businesses that may
be used to launder money or
fund terrorist activities. The
Compliance Division also
constantly analyzes, monitors,
and disseminates information
on implementing Know Your
Customer and implementing
Anti Money Laundering Laws
that are carried out either
through direct contact or
through an e-learning program
jointly developed by the
Compliance Division and the
Training and Human Resources
Development Division.
In addition to this, the
Compliance Division also
assesses the level of
compliance of the draft
policy incorporated within
the Companys Corporate
Guidelines (Buku Pedoman
Perusahaan or BPP) formulated
by the entrusted unit.
The Compliance Division
actively disseminates
information regarding Bank
Indonesia regulations and
68
TATA KE LOL A P E RUSAHAAN
tinggi yang kemungkinan digunakan dalam aktivitas pencucian uang maupun pembiayaan
teroris. Divisi Kepatuhan juga secara terus menerus melakukan penelitian, pemantauan dan
sosialisasi atas pelaksanaan Prinsip Mengenal Nasabah dan pelaksanaan Undang-undang
Tindak Pidana Pencucian Uang. Sosialisasi dilakukan melalui metode tatap muka maupun
melalui program e-Learning PMN yang dipersiapkan oleh Divisi Kepatuhan bekerja sama
dengan Divisi Pelatihan dan Pengembangan Sumber Daya Manusia.
Selain itu Divisi Kepatuhan juga melakukan pengujian kepatuhan atas rancangan kebijakan
yang akan dibakukan dalam Buku Pedoman Perusahaan (BPP) yang dibuat oleh unit
pembuat kebijakan.
Divisi Kepatuhan secara aktif menginformasikan peraturan Bank Indonesia dan peraturan
lainnya yang terkait dengan aktivitas perbankan kepada segenap unit organisasi terkait untuk
dilaksanakan sesuai dengan ketentuan yang berlaku.
Direktur Kepatuhan telah menyampaikan Laporan Pelaksanaan Tugas dan Tanggung Jawab
setiap bulan kepada Direktur Utama dengan tembusan kepada Dewan Komisaris secara
tepat waktu.
Direktur Kepatuhan dan Direktur Utama telah menyampaikan Laporan Pelaksanaan Tugas
dan Tanggung Jawab Direktur Kepatuhan per semester kepada BI secara tepat waktu.
Untuk periode semester II 2006 dan semester I 2007, laporan telah disampaikan masing-
masing melalui surat No. DIR/009/R tanggal 31 Januari 2007, dan No. DIR/156/R tanggal
31 Juli 2007. Dalam menjalankan fungsinya, Divisi Kepatuhan:
Melakukan uji kepatuhan terhadap rancangan kebijakan yang akan dibakukan dalam BPP.
Uji kepatuhan dan sertikasi telah dilakukan terhadap 151 permohonan sertikasi BPP.
Memberikan masukan kepada unit organisasi terkait dalam pembuatan rancangan
pedoman, sistem dan prosedur, apabila diperlukan.
Menyusun Competency Proling untuk seluruh jenjang jabatan;
other pertinent regulations
that correspond with banking,
to the related units within the
organization, to ensure that
their actions are in accordance
with prevailing rules and
requirements.
The Compliance Director
has routinely submitted
his Accountability and
Performance Report on a
monthly basis to the President
Director, and forwarded this
document to the Board of
Commissioners.
The Compliance Director
and the President Director
have routinely submitted
the Compliance Directors
Accountability and
Performance Report twice
a year to BI. The report was
submitted to those concerned
through letter No. DIR/009/R
dated 31 January 2007,
and No. DIR/156/R dated
31 July 2007, respectively,
for the second half of 2006
and the rst half of 2007. In
performing its functions and
tasks, the Compliance Division
performs the following:
Assesses the compliance
of policies that are to
be included within the
SOP. Compliance and
certication assessments
were carried out on 151
proposed certications for
the SOP.
Provide input to the
concerned unit in
formulating draft guidelines,
systems and procedures as
required.
Formulate Competency
Proling for all positions.
Enhance the quality of HR
through, among others,
the following:
- Provide training and
courses on banking (on a
continuous basis) either
through a classical format,
workshop and on-the-job
training for BNI employees
in accordance with their
competencies.
- Send BNI employees to risk
management certication
exams.
- Provide e-learning facilities
that are accessible to all
BNI employees.
The results of these activities
and programs carried out by
the Compliance Division are
as follows:
69
GOOD CORP ORATE GOVE RNANCE
Meningkatkan kualitas SDM antara lain dengan:
- memberikan pelatihan terkait aktivitas perbankan secara berkesinambungan baik dalam
bentuk klasikal, workshop maupun on-the-job training kepada pegawai BNI sesuai
dengan kompetensinya
- mengikutsertakan pegawai BNI dalam ujian sertikasi manajemen risiko
- menyediakan sarana e-learning yang dapat diakses oleh segenap pegawai BNI
Dari aktivitas dan program-program yang telah dilaksanakan oleh Divisi Kepatuhan maka
diperoleh hasil-hasil antara lain:
Meningkatnya budaya patuh dan pelaksanaan prinsip kehati-hatian yang terlihat dari
meningkatnya kesadaran untuk memahami dan memperhatikan ketentuan yang berlaku
sebelum mengeluarkan suatu kebijakan, keputusan, dan aktivitas operasional.
Percepatan waktu penyelesaian proses sertifkasi atas rancangan kebijakan dan prosedur.
Analisa dampak peraturan ekternal terhadap kebijakan internal Bank dengan sistem dan
frekuensi yang lebih baik.
Berkurangnya non-compliance issues dalam rancangan keputusan bisnis di tahun 2007
dibandingkan tahun 2006.
Penggunaan sistem pengkinian data nasabah yang meningkatkan rasio pengkinian
data nasabah.
Secara umum pelaksanaan kepatuhan telah berjalan baik, namun masih terdapat beberapa
pelanggaran tidak materiil terhadap ketentuan perundang-undangan yang berlaku, seperti
kekurangan Giro Wajib Minimum (3 hari), keterlambatan meng-update kolektibilitas debitur
serta beberapa kesalahan/keterlambatan laporan dan/atau koreksi laporan bank (LBU/LBBU).
Pelaksanaan tugas dan independensi Direktur Kepatuhan dan Divisi Kepatuhan sebagai
satuan kerja kepatuhan telah berjalan efektif, yang terbukti antara lain dari pengujian
kepatuhan yang telah berjalan dan pemantauan kepatuhan melalui review kepatuhan yang
dilakukan di segenap unit organisasi secara harian, berkala, dan mendadak.
Foster a culture that is
compliant, and implement
prudent principles as
shown by the increased
level of awareness
towards the importance
of understanding and
adherence of prevailing
rules and regulations
prior to issuing a policy, a
decision, and/or executing
an operational activity.
Faster times needed for
processing a certication
for a draft policy and
procedure.
Analyze the impact of
external regulations within
the Bank, through an
enhanced system and
frequency.
Reduction in non-
compliance issues within
the 2007 business plan, as
compared to 2006.
Utilize a system that
updates customer data
and enhance the level of
updating required for the
Banks customer data.
The application of compliance
within the Bank was deemed
generally good. However,
there were still a number
of immaterial violations
of prevailing rules and
regulations such as the lack
of Statutory Reserve (3 days),
lateness in updating debtor
collectibility along with a
number of errors/lateness in
reporting and/or corrections
to the banks report (LBU/
LBBU).
The implementation of the
Compliance Directors and the
Compliance Divisions tasks
and its independency seemed
to be effective as reected
by, among others, the results
of compliance assessment
performed and the monitoring
through the compliance
review applied throughout the
organization on either a daily,
routine, or spontaneous basis.
Going forward, the
Compliance Division is
committed to constantly
monitor compliance of
prevailing rules while instilling
realization within all units
of the organization of the
importance of compliance
towards all prevailing rules
and regulations.
70
TATA KE LOL A P E RUSAHAAN
Ke depan, Divisi Kepatuhan berkomitmen untuk terus menerus melakukan pemantauan
kepatuhan terhadap ketentuan yang berlaku serta menanamkan pemahaman kepada
segenap unit organisasi untuk menjaga kepatuhan terhadap ketentuan yang berlaku.
D. PENERAPAN FUNGSI AUDI T I NTERN
Pelaksanaan pengendalian intern di setiap unit di BNI disesuaikan dengan Pedoman
Sistem Pengendalian Intern Bagi Bank Umum sebagaimana diatur dalam SE BI no. 5/22/
DPNP tanggal 29 September 2003 dan pelaksanaan aktivitas setiap operasional dengan
mempedomani ketentuan eksternal dan SOP/BPP yang ada. Pelaksanaan fungsi audit intern
oleh SPI dilakukan terhadap seluruh kegiatan di BNI dan semua tingkatan manajemen BNI,
sesuai dengan ruang lingkup kegiatan SPI pada Internal Audit Charter.
Direksi telah berusaha mendorong penyelesaian temuan hasil audit oleh unit-unit yang
berkompeten yang dimonitor oleh manajemen lini, Divisi Kepatuhan dan SPI. Progress
penyelesaian temuan audit intern disampaikan kepada Direktur Utama dan Komisaris
setiap triwulan.
Satuan Kerja Audit Iinternal (SKAI) bertanggung jawab melakukan pemeriksaaan secara
independen terhadap segenap audit yang dilakukan di BNI. SKAI bekerja berdasarkan suatu
rencana audit tahunan yang sebelumnya telah disetujui Direktur Utama dan dikaji oleh Dewan
Komisaris. Hasil temuan SKAI dilaporkan langsung kepada Direktur Utama dan Dewan
Komisaris dengan tembusan kepada Direktur Kepatuhan. Selanjutnya Dewan Komisaris
melalui Komite Audit dan Direksi memantau dan mengkonrmasi apakah pihak yang diaudit
(auditee) telah mengambil langkah-langkah yang memadai atas hasil temuan audit tersebut.
Laporan hasil audit dan realisasi kegiatan audit SPI dilaporkan melalui Laporan kaji ulang
Business Plan yang disampaikan kepada Dewan Komisaris sebagai wakil pemegang saham.
Pelaksanaan audit oleh SPI dilakukan berdasarkan risk based audit, dimana alokasi sumber
daya (SDM, waktu & hari audit) dilakukan berdasarkan tingkat risiko dari auditee, dimana
D. I MPLEMENTATI ON OF
THE I NTERNAL AUDI T
FUNCTI ON
The implementation of the
internal control function
throughout every unit of BNI
is in line with the Guidelines
of the Internal Control System
for Commercial Banks, as
stipulated within BIs Circular
Letter No. 5/22/DPNP
dated 29 September 2003,
and implementation of all
operational activities on the
basis of external requirements
and existing SOP. The
implementation of the internal
audit function by the Internal
Audit Team covers all of BNIs
activities and all levels of
BNIs management and are in
accordance with the Internal
Audit Teams scope of work as
specied within BNIs internal
audit charter.
The Directors strived to
accelerate the resolution
of audit ndings by the
competent units, monitored
by line management, the
Compliance Division and
Internal Control Team. The
status of resolving the internal
audit ndings is submitted
to the President Director
and Commissioners on a
quarterly basis.
The Internal Audit Team
(Satuan Kerja Audit Internal
or SKAI) is responsible for
independent inspections within
BNI in accordance with its
audit functions. SKAI operates
on the basis of an annual
audit plan that is approved
by the President Director
and reviewed by the Board
of Commissioners. SKAIs
audit ndings are directly
reported to the President
Director and the Board of
Commissioners and forwarded
to the Compliance Director.
The Board of Commissioners
(through the Audit
Committee and the Directors)
subsequently monitors and
conrms as to whether the
auditee has taken appropriate
and sufcient actions towards
the audit ndings.
The audit and status report of
SPIs audit activities are duly
reported within the Business
Plan Assessment Report that
is submitted to the Board of
Commissioners on behalf of
the shareholders.
71
GOOD CORP ORATE GOVE RNANCE
sumber daya SPI akan lebih difokuskan pada auditee yang memiliki risiko tinggi.
Penerapan Standar Pelaksanaan Fungsi Audit Intern Bank didasarkan pada:
Piagam Audit Intern yang ditanda-tangani oleh Direktur Utama dan Komisaris Utama.
Dibentuknya Satuan Pengawasan Intern (SPI) sebagai unit yang berganggung jawab
melaksanakan fungsi audit internal.
Buku Pedoman Audit Intern, terdiri dari Buku I s.d IV.
Struktur organisasi SPI langsung di bawah Direktur Utama dan memiliki jalur komunikasi
(dot-line) ke Dewan Komisaris. Sesuai dengan Internal Audit Charter, auditor SPI tidak
diperkenankan terlibat atau menjalankan tugas operasional bank.
SPI selalu direview secara berkala setiap 3 tahun sekali. Review terakhir dilaksanakan oleh
KAP Tasnim Ali Widjanarko & Rekan pada Tahun 2006 dengan hasil pelaksanaan fungsi SPI
telah sesuai dengan SPFAIB.
Pelaksanaan fungsi pengawasan internal yang berjalan dengan baik tidak terlepas dari
kualitas sumber daya yang bertugas melakukan pengawasan tersebut. Oleh karena
itu, kualitas pegawai yang melaksanakan pengawasan (auditor) ditetapkan dalam BP
Kepegawaian. SPI secara rutin memberikan pelatihan kepada seluruh pegawai SPI mengenai
pengetahuan audit dan bisnis perbankan, sesuai dengan rencana pelatihan SPI yang disusun
pada setiap awal tahun.
Pelaksanaan Fungsi Pengawasan pada tahun 2007
Selama tahun 2007, SPI telah melakukan audit umum terhadap 229 auditee atau 112,25
% dari rencana 204 auditee, mencakup kantor cabang, kantor wilayah, sentra kredit dan
divisi/biro/unit. Jumlah temuan audit selama tahun 2007 yang perlu ditindaklanjuti sebanyak
708 temuan.
The audit performed by SPI
is made on the basis of a
risk-based audit whereby the
allocation of resources (HR,
time & date of audit) is made
on the basis of the auditees
level of risk, in which SPIs
resources will largely focus on
the high risk auditee.
Application of Standards
for the Banks Internal Audit
Function is based on the
following:
Internal Audit Charter that
is signed by the President
Director and the President
Commissioner.
Establishment of an Internal
Control Team (SPI) as a
unit that is responsible for
implementing the internal
supervisory functions.
Internal Audit Guidelines
that comprise Books I to IV.
In terms of its organizational
structure, the SPI reports
directly to the President
Director and has an
informal reporting line
(dotted-line) to the Board of
Commissioners. In accordance
with the Internal Audit
Charter, SPIs auditors are
restricted from involvement
or implementation in the
operational activities of
the bank.
SPI is also reviewed routinely
once every three years. The
last review was conducted by
the Public Accounting Firm
of Tasnim Ali Widjanarko &
Partners in 2006 with the
predicate that the conduct
of SPIs functions are in
accordance with the SPFAIB.
The positive conduct of the
internal control functions
is also due to the quality
of human resources it has
at its disposal. As a result,
the expected quality for its
auditors is stipulated within
the Personnel Guidelines
(BP Kepegawaian). SPI
routinely provides training
on supervision and banking
to all its staff, in accodance
with its training plan which it
formulates at the beginning of
each year.
Implementation of Supervisory
functions in 2007
Throughout 2007, SPI has
carried out an overall audit on
229 auditees, or 112.25 %
of the planned 204 auditees,
72
TATA KE LOL A P E RUSAHAAN
Sesuai dengan BPP Audit Intern yang berlaku, pelaksanaan audit oleh SPI dilaksanakan
dengan tujuan:
Menilai efektivitas dan efsiensi kinerja, baik bisnis maupun layanan.
Menilai efektivitas risk management.
Menilai kecukupan dan efektivitas pengendalian internal.
Laporan hasil audit disampaikan kepada Direktur Utama dan Dewan Komisaris serta
tembusan kepada Direktur Kepatuhan, sesuai dengan ketentuan dalam SPFAIB.
Secara berkala, masing-masing auditor melakukan pemantauan terhadap perkembangan
tindaklanjut perbaikan/hasil audit yang dilakukan oleh auditee dan setiap triwulan dilaporkan
kepada Dirut dan Dewan Komisaris. Secara rutin SPI juga melakukan pengkinian dan
penyempurnaan sistem, metodologi dan prosedur kerja SPI sesuai dengan perkembangan
proses bisnis dan struktur organisasi BNI serta perkembangan profesi Internal Audit.
E. PENERAPAN FUNGSI AUDI T EKSTERN
1. Hubungan antara Bank, Kantor Akuntan Publik dan Bank Indonesia
Berdasarkan ketentuan Bank Indonesia tentang transparansi kondisi keuangan Bank,
pelaksanaan audit atas Laporan Keuangan Bank untuk tahun buku 2007 telah sesuai
dengan Standar Profesional Akuntan Publik, serta perjanjian kerja dan ruang lingkup audit
yang telah ditetapkan.
Agar proses audit sesuai dengan Standar Profesional Akuntan serta perjanjian kerja dan
ruang lingkup audit yang telah ditetapkan dan selesai sesuai dengan target waktu yang
telah ditetapkan, secara rutin dilakukan pertemuan-pertemuan yang membahas beberapa
issue penting yang signikan.
BNI selalu berupaya meningkatkan komunikasi antara Kantor Akuntan Publik, Komite Audit
which includes branches,
regional ofces, loan centers
and division/bureau/units.
The number of audit ndings
throughout 2007 that required
to be followed up amounted
to 708.
In accordance with the
existing Internal Audit BPP,
the audit carried out by SPI
was aimed at achieving the
following:
To assess performance
effectiveness and efciency,
either in terms of business
performance as well as
service.
To assess risk management
effectiveness.
To assess the level
and effectiveness of
internal control.
The Audit Report was
submitted to the President
Director and Board of
Commissioners and forwarded
to the Director of Compliance,
in accordance with the
requirements set by the
SPFAIB.
The respective auditors
routinely monitor the follow
up action carried out by the
auditee in response to the
audit recommendations/
ndings, and reports to
the President Director and
Board of Commissioners
on a quarterly basis. SPI
also routinely updates
and improves its system,
methodology, and work
procedures in accordance
with the development of
BNIs business process and
organization structure as well
as the development of the
Internal Audit profession.
E. I MPLEMENTATI ON OF
THE EXTERNAL AUDI T
FUNCTI ON
1. The relationship between
the Bank, Public Accounting
Firm and Bank Indonesia
On the basis of Bank
Indonesias regulations
concerning transparency in
terms of the Banks nancial
conditions, the audit of the
Banks Financial Statement for
2007 was made in accordance
with the Public Accountants
Professional Standards as well
as the audits agreed upon
scope of work.
73
GOOD CORP ORATE GOVE RNANCE
dan manajemen untuk dapat meminimalisir kendala-kendala yang terjadi selama proses
audit berlangsung.
Dalam memenuhi kewajibannya, Kantor Akuntan Publik telah menyampaikan laporan hasil
audit dan Management Letter kepada Bank Indonesia. Selain itu juga wajib memenuhi
ketentuan rahasia Bank sebagaimana diatur dalam Undang-Undang No. 7 Tahun 1992
tentang Perbankan sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang No. 10 Tahun 1998.
2. Hubungan antara Bank yang melakukan kegiatan usaha berdasarkan prinsip syariah,
Kantor Akuntan Publik, Dewan Pengawas Syariah dan Bank Indonesia.
Dalam menjalankan bisnisnya, Bank memiliki unit yang melakukan usaha berdasarkan
prinsip syariah yang dilaksanakan oleh Divisi Usaha Syariah. Sesuai ketentuan
transparansi kondisi keuangan Bank, struktur organisasi Divisi Usaha Syariah telah
memiliki Dewan Pengawas Bisnis Syariah dan Dewan Pengawas Syariah.
Dalam menjalankan fungsinya Dewan Pengawas Syariah telah melakukan hal-hal
sebagai berikut:
Memberikan nasehat dan saran kepada Dewan Pengawas Bisnis Syariah, Pimpinan
BNI Syariah dan Pimpinan Kantor Cabang Syariah agar praktek-praktek perbankan
syariah yang dijalankan sesuai dengan prinsip-prinsip perbankan syariah.
Menjadi mediator dalam upaya pengembangan produk dan jasa syariah yang
memerlukan kajian dan fatwa dari Dewan Syariah Nasional.
Memberikan laporan kepatuhan aspek syariah kepada Dewan Syariah Nasional, Bank
Indonesia dan Dewan Pengawas Bisnis Syariah.
Pelaksanaan audit atas Laporan Keuangan Konsolidasian Bank untuk tahun 2007 telah
mencakup audit atas laporan keuangan kegiatan usaha berdasarkan prinsip syariah yang
ada di Divisi Usaha Syariah.
A number of meetings were
routinely held to discuss
a number of signicant
issues so as to ensure that
the audit process is carried
out in accordance with the
Accountants Professional
Standards, the audit
agreement, as well as the
scope of work, and to ensure
that the audit is completed
within the given timeframe.
The Bank constantly strives
to enhance communications
between the Public Accounting
Firm, the Audit Committee
and management so as to
minimize obstacles that arise
during the course of the
audit process.
In fulllment of its obligations,
the Public Accounting Firm
has submitted its audit report
and Management Letter to
Bank Indonesia. In addition to
this, the Firm is also required
to fulll the requirements
related to Bank Secrecy as
stipulated within Law Number
7 of 1992 concerning Banking
that was amended through
Law Number 10 of 1998.
2. Relationship between the
Bank that operates based on
syariah principles, the Public
Accounting Firm, the Syariah
Supervisory Council and
Bank Indonesia.
In the course of implementing
its business, the Bank also
contains a unit that operates
on the basis of the principles
of syariah which is known
as the Syariah Business
Division. In accordance with
the regulations governing
transparency of the nancial
conditions of the Bank, the
organization structure of the
Syariah Business Division
contains the Syariah Business
Supervisory Council and the
Syariah Supervisory Council.
To fulll its functions, the
Syariah Supervisory Council
has implemented the
following:
Provide advice and
recommendations to
the Syariah Business
Supervisory Council,
the Management of
BNI Syariah, and the
Management of the Syariah
Branch, so as to ensure
that syariah banking
practices are implemented
74
TATA KE LOL A P E RUSAHAAN
F. PENERAPAN MANAJEMEN RI SI KO DAN SI STEM PENGENDALI AN I NTERN
Komisaris dan Direksi berkomitmen untuk memastikan bahwa manajemen risiko dan
pengendalian intern telah dijalankan dengan baik sehingga visi dan misi Perseroan dapat
tercapai. Untuk itu, Perseroan telah membentuk Divisi Manajemen Risiko serta menempatkan
dan mengembangkan SDM yang berdedikasi untuk mengelola risiko bank.
Secara berkala Dewan Komisaris melakukan rapat yang membahas mengenai:
Kinerja keuangan.
Evaluasi kebijakan manajemen risiko, penetapan limit risiko pasar, Operational Risk Self
Assessment serta implementasinya (antara lain terkait Loan Exposure Limit, Internal Rating
System, dan lain-lain).
Pemantauan Profl Risiko Bank.
Konsultasi Kredit.
Isu-isu terkini antara lain produk/jasa dan usulan organisasi.
Selain itu, Direksi juga secara berkala melakukan rapat yang membahas berbagai hal mengenai:
Kebijakan yang terkait dengan manajemen risiko dan profl risiko.
Kajian atas Loan Exposure Limit, Internal Rating System.
Kajian atas limit-limit Risiko Pasar, Kredit dan Operasional.
Evaluasi dan review Operational Risk Self Assessment (ORSA).
Implementasi Risiko Pasar Cabang Luar Negeri.
Penerapan PERISKOP tahap 1.
Untuk memaksimalkan penerapan manajemen risiko dan pengendalian internal, BNI juga
melakukan pengembangan SDM dengan aktif berpartisipasi dalam pelatihan dan seminar
baik di dalam maupun di luar negeri serta melakukan studi banding ke lembaga perbankan
yang lebih maju dalam penerapan manajemen risiko.
in accordance with the
principles of syariah
banking.
To become the mediator in
efforts to develop syariah
products and services
requiring the assessment
and directive (fatwa) of the
National Syariah Council.
Submit a syariah
compliance report to the
National Syariah Council,
Bank Indonesia and the
Syariah Business Council.
Implement an audit so as
to ensure that the Banks
2007 Consolidated Financial
Statement that comprise
of the audit of the nancial
report of the business activity
are based on the principles
of syariah within the Syariah
Business Division.
F. I MPLEMENTATI ON OF
RI SK MANAGEMENT
AND I NTERNAL CONTROL
SYSTEM
The Commissioners and
Directors are committed to
ensure that risk management
and internal supervision/
control is implemented
well in accordance with
the Companys vision and
mission. For that purpose, the
Company has formed a Risk
Management Division as well
as placing and developing
HR that is dedicated to risk
management for banks.
The Board of Commissioners
routinely convenes meetings
to discuss the following:
Financial performance.
Evaluation of policies
on risk management,
establishment of market
risks, Operational Risk
Assessment as well as its
implementation (which
among others involve Loan
Exposure Limits, Internal
Rating Systems and
others).
Monitoring of Bank
Risk Prole.
Loan Consultation.
Current issues that include
products/services and the
organizations proposals.
In addition to this, the
Directors also routinely
convene meetings to discuss
the following:
Policies related to risk
management and risk
prole.
75
GOOD CORP ORATE GOVE RNANCE
G. PENERAPAN MANAJEMEN RI SI KO DAN SI STEM PENGENDALI AN I NTERNAL
Dalam rangka penerapan manajemen risiko dan sistem pengendalian internal, BNI telah
melakukan berbagai hal yang terkait, diantaranya:
Manual/SOP/BPP harus terlebih dahulu melalui proses validasi dan sertifkasi oleh Divisi
Divisi terkait sebelum diberlakukan ke seluruh unit-unit di BNI.
Limit-limit risiko kredit, risiko pasar dan risiko operasional dievaluasi secara periodik (VaR
Money Market, VaR Forex, VaR Capital Market, SR Rupiah, SR Valas, Loan Exposure Limit,
Financial Covenant).
Untuk melakukan identikasi, pengukuran, pemantauan dan pengendalian risiko secara efektif,
BNI telah memiliki sistem informasi manajemen risiko yang memadai, yang mencakup:
Membangun Operational Risk Self Assessment (ORSA) untuk memetakan peristiwa risiko
operasional BNI di segenap unit.
Mengembangkan Perangkat Risiko Operasional PERISKOP.
Implementasi risiko pasar Cabang Luar Negeri antara lain pelaporan eksposur/aktivitas
Cabang Luar Negeri dibanding limit yang ditetapkan.
Melakukan review seluruh Standard Operating Procedure baik yang terkait dengan proses
bisnis maupun penunjang.
Mengembangkan metodologi dan perangkat Manajemen Risiko antara lain LGD, PD,
Aplikasi VaR Cabang Luar Negeri, LED, KRI dan sebagainya.
Mengembangkan infrastruktur Risk Management Information System yang mencakup
credit risk, market risk, operational risk dan integrasi risiko.
Menyusun Time Frame Risk Management Information System.
Selain itu, untuk menerapkan sistem pengendalian intern yang menyeluruh dan handal, BNI
telah menerapkan:
Satuan Kerja Audit Intern yang independen terhadap Divisi/Satuan Kerja yang mengelola
Risiko dan terhadap Unit Bisnis (sesuai dengan PBI No.5/8/2003, tanggal 19 Mei 2003).
Quality Assurance yang independen terhadap unit dimana staff Quality Assurance ditempatkan.
Review on Loan Exposure
Limits, Internal Rating
System.
Review on Market Risk,
Credit Risk and Operational
Risk limits.
Evaluation and review
of Operating Risk Self
Assessment (ORSA).
Implementation of Market
Risks for Overseas
Branches
Application of phase 1 of
PERISKOP.
To maximize the
implementation of risk
management and internal
control, BNI also actively
develops its human resources
through training and seminars
both within and outside
Indonesia, in addition to
comparative study trips made
to other banking institutions
that are more advanced in
the implementation of risk
management.
G. I MPLEMENTATI ON
OF RI SK MANAGEMENT
AND I NTERNAL CONTROL
SYSTEM
In the course of implementing
risk management and internal
control system, BNI has
carried out a number of
related aspects that include:
Manual/SOP/BPP which
needs to initially undergo
a process of validation
and certication by the
related Divisions prior to
its application by all units
within BNI
Credit risk, market risk,
and operational risk limits
are reviewed periodically
(VaR Money Market, VaR
Forex, VaR Capital Market,
SR Rupiah, SR Forex, Loan
Exposure Limit, Financial
Covenant)
The Bank has an adequate
risk management information
system to identify, measure,
monitor and effectively control
risks that encompass:
Create Operational Risk
Self Assessment (ORSA) to
map out BNIs operational
risk events in a number of
units.
Develop PERISKOP
Operational Risk tools.
Implement market risk for
overseas branches which
include exposure/activities
reporting for foreign
branches in relation to
established limits.
76
TATA KE LOL A P E RUSAHAAN
Pelatihan dan pengembangan untuk meningkatkan kemampuan Quality Assurance dan
Audit Intern.
Sosialisasi hal-hal yang terkait dengan pengendalian intern.
Penyediaan Dana kepada Pihak Terkait dan Penyediaan Dana Besar
(large exposure)/Allocation of funds towards Related Parties and Large Exposures
H. RENCANA STRATEGI S BANK
Sistem perencanaan strategis BNI bersifat komprehensif dan terintegrasi yang dilaksanakan
oleh segenap tingkatan organisasi dan memiliki jangka waktu yang berbeda-beda. Bank
menyusun rencana strategis jangka menengah untuk periode 5 tahun dalam bentuk Rencana
Korporasi (Corporate Plan) serta Rencana Strategis jangka pendek 1 tahun (Rencana Bisnis
Bank) dengan proyeksi keuangan untuk 3 tahun ke depan. Rencana tersebut mengacu dan
mempedomani Rencana Jangka Panjang (Peta Navigasi) yang memuat Visi dan Misi BNI.
1. Corporate Plan 20042008 menjelaskan secara detail mengenai sasaran jangka
pendek dan jangka panjang dengan perincian sebagai berikut:
Penyediaan Dana
Funds Allocated To
Jumlah/Amount
Debitur/Debtor
Nominal (Jutaan Rupiah)
Nominal (Millions Rupiah)
1. Kepada Pihak Terkait*/Related Parties* 76 1,021,863.00
2. Kepada Debitur Inti/Core Debtors:
a. Individu/Individual 25 21,421,794.24
b. Group/Group 25 14,461,033.05
* pinjaman kepada afliasi, Pejabat Eksekutif, Direksi, Komisaris dan keluarga/loans extended to afliates, Executives,
Directors, Commissioners and family.
Review of all Standard
Operating Procedures
related to the business or
supporting processes.
Develop Risk Management
methodology and tools
that includes LGD, PD,
Application of VaR in
overseas branches, LED,
KRI etc.
Develop the infrastructure
for a Risk Management
Information System that
encompasses credit risk,
market risk, operational risk
and risk integration.
Formulate the Timeframe
for a Risk Management
Information System.
In addition to this, to
implement a dependable
and comprehensive internal
control system, BNI has
implemented the following:
The Internal Audit Team
is independent of the risk
management Divisions/
Teams and Business Units
(in accordance with BI
Regulations No. 5/8/2003,
dated 19 May 2003).
Quality Assurance is
independent of units
in which the Quality
Assurance staff is placed.
Training and development
to enhance Quality
Assurance and Internal
Audit capabilities.
Disseminate information
on matters pertaining to
internal control.
Allocation of funds towards
Related Parties and Large
Exposures
(see table above)
H. BANKS STRATEGI C PLAN
BNIs strategic plan system
is both comprehensive and
integrated that is carried out
77
GOOD CORP ORATE GOVE RNANCE
a. Sasaran Jangka Pendek
Permodalan
Menetapkan target CAR yang relatif lebih stabil dan realistis.
Kualitas Aset
Mempercepat pencapaian target NPL yang lebih realistis sesuai dengan ketentuan
regulator dengan tetap mempertimbangkan perubahan lingkungan yang terjadi.
Rentabilitas
Target ROE diupayakan terus meningkat sesuai dengan target pertumbuhan laba
yang makin tinggi. Demikian juga penetapan target laba, yang disesuaikan dengan
kondisi lingkungan terakhir.
Likuiditas
Mengupayakan peningkatan Loan Deposit Ratio (LDR) diatas 50% dengan
mempercepat pertumbuhan kredit dan dana minimal setara dengan pasar
bahkan diharapkan melebihi pasar. Hal ini sejalan dengan ketentuan regulator
untuk meningkatkan fungsi intermediasi perbankan dalam penyaluran dana tanpa
mengurangi prinsip kehati-hatian.
Sasaran lainnya
Target pertumbuhan aktiva relatif lebih tinggi dibandingkan dengan Corporate Plan
20012005, sejalan dengan pertumbuhan pasar.
b. Sasaran Jangka Panjang
Sasaran jangka panjang dapat diartikan sebagai visi perusahaan. Perusahaan
melakukan perencanaan yang baik untuk dapat mencapai visi tersebut, sebagaimana
termuat dalam dokumen perencanaan baik jangka pendek, menengah ataupun
panjang. Perubahan visi dan misi dilakukan didorong oleh perubahan lingkungan yang
sangat signikan. Dalam Corporate Plan 20042008, sasaran jangka panjang atau visi
perusahaan adalah menjadi Menjadi bank kebanggaan nasional yang unggul dalam
layanan dan kinerja.

by the entire organization
through varying timeframes.
The Bank formulates the
medium term strategic plan
for a 5 year period in the
form of a Corporate Plan as
well as a short term strategic
plan lasting within a 1 year
period (Banks Business
Plan) with 3-year nancial
projections. This plan adheres
to and is based on the Long
Term Strategic Plan that
incorporates the Banks vision
and mission.
1. The 20042008 Corporate
Plan explains in detail the short
term and long term targets
with the following points:
a. Short Term Target
Capital
Establishing CAR targets
that are more stable
and realistic.
Asset Quality
Accelerate the achievement
of a more realistic NPL
target in accordance with
the requirements set by the
regulators and consistently
taking into consideration
the changes occuring in the
environment.
Rentability
The Bank strives to
increase the ROE target
in accordance with the
increasing prot growth
target. The same goes for
establishing prot growth
which is adjusted to suit
prevailing conditions.
Liquidity
Strive to increase the Loan
Deposit Ratio (LDR) to
above 50% by accelerating
loan and fund growth
to, at the very least, in
line or exceeding that
of the market. This is in
line with the regulators
requirements of increasing
the banking industrys
78
TATA KE LOL A P E RUSAHAAN
2. Strategi baru yang signikan
Perubahan visi sebagai sasaran jangka panjang perusahaan mendorong ditetapkan
strategi baru yang signikan, diantaranya:
a. Strategi penyaluran dan penanganan kredit
Perusahaan melakukan perubahan strategi dalam penyaluran dan penanganan kredit
akibat adanya perubahan fokus terhadap target segmen pasar (refocusing target
market). Sedangkan dalam Corporate Plan 2004-2008, perusahaan menerapkan
strategi baru dengan menangani secara langsung segmen pasar tertentu sedangkan
untuk segmen lainnya, tidak ditangani secara langsung melainkan melalui kerjasama
dengan pihak lain yang lebih perpengalaman, diantaranya dengan mengoptimalkan
upaya sindikasi, channeling maupun linkage program.
b. Strategi percepatan pertumbuhan melalui pembentukan sentra-sentra bisnis
dan operasi.
Perusahaan melakukan percepatan pembentukan sentra-sentra bisnis maupun operasi,
yang diharapkan akan dapat meningkatkan esiensi dan efektivitas perusahaan dalam
menjalankan aktivitasnya.
c. Strategi penanganan dan pengendalian fraud
Untuk mengendalikan dan mengurangi terjadinya fraud, perusahaan menerapkan Zero
Fraud Operation dan Four-eye Principles.
Dalam Rencana Bisnis Bank yang telah disampaikan kepada Bank Indonesia, BNI telah
menetapkan target Jangka Pendek dan Jangka Menengah sebagai berikut:
3. Target Jangka Pendek
a. Kegiatan Bisnis
Meningkatkan CAR menjadi 19,60%.
Menurunkan tingkat NPL-Gross menjadi 7,50% dan NPL-Net menjadi dibawah 5%.
intermediary functions in
channeling funds without
ignoring the principles of
prudency.
Other targets
In line with market growth,
asset growth target is
relatively higher compared
to its 20012005
Corporate Plan.
b. Long term targets
The long term targets
are synonymous with the
Companys vision. As shown
by its short term as well
as its long term business
plans, BNI compreshensively
plans in order to achieve
these objectives. Changes
to its vision and mission are
carried out in response to
signicant changes within
the environment.
BNI corporate vision
as specied within the
20042008 Corporate Plan
is, To be a bank that is the
pride of the nation, leading in
service and performance.
2. Signicant new strategy
Changes to its vision in
correlation with its long term
target has resulted in the
formulation of a signicant new
strategy, which comprise of:
a. Strategy of channeling
and handling loans
The Company changed its
strategy in respect to channel-
ing and handling of loans as
it refocused its target market.
In its 2004-2008 Corporate
Plan, the Company applied
a new strategy that directly
handles a specic market seg-
ment while other segments
were not directly handled but
were, instead, implemented in
cooperation with other more
experienced parties that is
meant to, among others, opti-
79
GOOD CORP ORATE GOVE RNANCE
Mencapai Rasio Penyisihan Kerugian Aktiva Produktif terhadap NPL sebesar 80,80%
Mencapai pertumbuhan pinjaman secara keseluruhan sebesar 20%.
Mengupayakan pencapaian Net Interest Margin (NIM) sebesar 5,34%.
Mengupayakan efsiensi dengan rasio BOPO sebesar 81,76% dan CIR sebesar 58,6%.
Mencapai Loan to Deposit Ratio sebesar 53,3%.
Meningkatkan penghimpunan dana sebesar 10%.
Mencapai penambahan nasabah baru Dana Pensiun Lembaga Keuangan sebanyak
30.000 peserta.

b. Kegiatan Penunjang Bisnis
Meningkatkan layanan dengan target menjadi 5 bank terbaik dalam layanan
perbankan menurut penilaian Market Research Indonesia (MRI).
Menyempurnakan sistem teknologi informasi.
Menambah kantor cabang dan payment point, meningkatkan dan menurunkan
status kantor cabang, kantor cabang pembantu, dan kantor kas, serta relokasi Kantor
Cabang Pembantu.
Membuka outlet non-permanen, mobile e-galery dan e-galery serta penambahan
dan relokasi ATM.
Menambah Kantor Cabang, Kantor Perwakilan, Ofce Channeling dan outlet non
permanen Syariah.
4. Target Jangka Menengah
Melanjutkan program transformasi yang difokuskan pada pengembangan dan
peningkatan bisnis serta perbaikan layanan.
Mengoptimalkan unit-unit bisnis yang telah ada serta melanjutkan implementasi
jaringan distribusi dalam rangka mendukung pengembangan bisnis.
Meningkatkan faktor-faktor layanan utama yaitu kualitas produksi, delivery dan sumber
daya manusia.
Menurunkan Rasio Pinjaman Tidak Lancar terhadap Total Pinjaman (Gross) secara
mize syndications, channeling
as well as linkage programs.
b. The Strategy to
accelerate growth through
the formation of business
and operation centers.
The Company sought to
accelerate the formation of
business as well as operation
centers that are expected
to enhance efciency and
effectiveness that it needs to
carry out its activities.
c. Fraud handling and
control strategy
To control and reduce the
incidences of fraud, the
Company implemented the
Zero Fraud Operation and
Four-eye Principles.
BNI has determined, as
specied within its Business
Plan submitted to Bank
Indonesia, its short term and
long term targets as follows:
3. Short Term Target
a. Business Activity
Increase CAR to 19.60%
Reduce the Gross NPL
levels to 7.50% and Net
NPL to below 5%.
Achieve Loan Loss Reserve
Ratio to NPL of as much as
80.80%
Achieve overall loan growth
of 20%.
Strive to achieve Net
Interest Margin (NIM) of
5.34%.
Strive to enhance effciency
through a BOPO ratio of
81.76% and CIR of 58.6%.
Achieve Loan to Deposit
Ratio of as much as 53.3%
Increase third party fund
by 10%.
Increase the number of new
Pension Fund customers by
30,000 customers.
80
TATA KE LOL A P E RUSAHAAN
signikan seiring dengan membaiknya kondisi ekonomi dan peningkatan kualitas asset
Mengoptimalkan penerapan Good Corporate Governance dan manajemen risiko
melalui optimalisasi Forum Risk & Capital Committee dan tools manajemen risiko.
Menyempurnakan sistem pelaksanaan dan pengawasan atas penerapan Prinsip
Mengenal Nasabah (PMN) serta kepatuhan terhadap peraturan eksternal (Bank
Indonesia) maupun peraturan internal.
Meningkatkan Return On Assests (ROA) maupun Return On Equity (ROE) seiring
dengan pertumbuhan target laba perusahaan.
Memperbaiki tingkat efsiensi Bank yang tercermin dalam Rasio Biaya Operasional
terhadap Pendapatan Operasional (BOPO).
Meningkatkan tingkat likuiditas seiring dengan pertumbuhan pinjaman yang melampaui
pertumbuhan dana.
I . TRANSPARANSI KONDI SI KEUANGAN DAN NON KEUANGAN BANK
1. Kondisi keuangan secara komprehensif telah disampaikan dalam Laporan Keuangan.
Untuk menginformasikan produk-produknya kepada masyarakat, BNI telah melakukan
promosi melalui berbagai sarana/media promosi, antara lain TV, Radio, Media Nasional
dan Daerah, papan pengumuman di Kantor Cabang, layar ATM, leaet dan sebagainya.
Selain itu, BNI juga telah mempunyai ketentuan mengenai prosedur penerimaan,
penanganan dan penyelesaian pengaduan nasabah sebagaimana diatur dalam Buku
Pedoman Tata Kerja Penyelesaian Pengaduan Nasabah cfm. Instruksi No. IN/0074/LYN
tanggal 20 Juli 2005 dan menyampaikan prosedur tersebut ke beberapa Unit, Kantor
Wilayah, Cabang maupun Sentra untuk dipedomani.
BNI juga telah menyampaikan Laporan Penanganan dan Penyelesaian Pengaduan
Nasabah secara triwulanan ke Bank Indonesia.
b. Business Support
Activities
Improve services by
targetting to become one of
the ve best banks in terms
of banking services on the
basis of an assessment
carried out by Market
Research Indonesia (MRI)
Improve information
technology system.
Increase branches and
payment point, upgrade
and downgrade the status
of branches, sub branches,
and cash ofces, as well
as relocating sub branch
ofces.
Open non-permanent
outlets, mobile e-gallery
and e-gallery and relocating
ATMs.
Increase the number
of branch ofces,
representative ofces,
channeling ofces and non-
permanent Syariah outlets.
4. Medium Term Targets
Continue the transformation
program that is focused on
developing and improving
business as well as banking
services.
Optimize existing
business units as well as
continue implementing
distribution networks in
order to support business
development.
Enhance factors dealing
with primary services such
as the quality of products,
delivery and human
resources.
Signifcantly reduce the
Ratio of Non-Performing
Loans to Gross Loans
with improved economic
conditions and asset
quality.
Optimize the application
of Good Corporate
Governance and risk
management by optimizing
the Risk Forum & Capital
Committee and risk
management tools.
Improve the system
of implementing and
monitoring of Know Your
Customer (KYC) as well
as compliance towards
external regulations (Bank
Indonesia) as well as
internal ones.
Enhance Return On Assets
(ROA) as well as Return On
Equity (ROE) in line with
the Company prot growth
targets.
Improve the Banks level of
81
GOOD CORP ORATE GOVE RNANCE
Komplain yang diterima oleh kantor cabang dilaporkan secara online ke Complaint Center yang
berada di Kantor Pusat. Rekapitulasi dari komplain tersebut dilaporkan ke Bank Indonesia.
2. Kepemilikan saham anggota Komisaris dan Direksi yang mencapai 5%
Kepemilikan Saham/Shareholding
efciency as reected in its
Ratio of Operating Expenses
to Operating Income
(BOPO);
Enhance liquidity level in
line with loan growth that
exceeds funding growth.
I . TRANSPARENCY OF
THE BANK S FI NANCI AL
AND NON- FI NANCI AL
CONDI TI ONS
1. The nancial conditions
are comprehensively
covered within the Financial
Statement.
To disseminate information
regarding the Banks products
to the public, the Bank hs
carried out promotional efforts
through promotional media
programs/channels which
includes: TV, Radio, National
and Regional Media, billboard
announcements placed within
Branch Ofces, ATM monitors,
leaets, etc.
In addition to this, BNI also
hs requirements regarding
procedures for accepting,
handling, and resolving
customer complaints that are
specied within the Standard
Operating Procedures for
Handling of Customer
Complaints according to cfm.
Instruction No. IN/0074/
LYN dated 20 July 2005 and
submitted this procedure
to various units, regional
ofces, branches as well
as centers that serve as
operational guidelines.
BNI also has submitted on
a quarterly basis, the Report
for Handling and Resolving
of Customer Complaints to
Bank Indonesia.
Complaints received by the
branch ofces are reported
online to the Complaint Center
located within the headofce.
A tabulated summary of the
complaints are reported to BI.
2. Shareholdings of members
of the Board of Commissioners
and Board of Directors that are
more than 5%
(see table above)
3. Family Links or Relations
In accordance with the
requirements specied within
the Articles of Association,
therefore, none of the
Directors and Commissioners
have any family links or
relations, either in terms of
Kepemilikan Saham Mencapai 5% atau Lebih dari Modal Disetor
Shareholdings that are of 5% or More of Paid Up Capital
Nama/Name BNI
Perusahaan
Lainnya
Other Company
Bank Lain
Other Banks
Lembaga Keuangan
Bukan Bank
Non Bank Financial Institutions
Keterangan
Notes
Komisaris
Commissioners
Zaki Baridwan - - - - Tidak Ada/None
Suwarsono - - - - Tidak Ada/None
Achjar Iljas - - - - Tidak Ada/None
Felia Salim - - - - Tidak Ada/None
Effendi - - - - Tidak Ada/None
H.M.S Latif - - - - Tidak Ada/None
Parikesit Suprapto - - - - Tidak Ada/None
Direksi
Director
Sigit Pramono - - - - Tidak Ada/None
Gatot M. Suwondo - - - - Tidak Ada/None
I. Supomo - - - - Tidak Ada/None
Achil R. Djajadiningrat - - - - Tidak Ada/None
Kemal Ranadireksa - - - - Tidak Ada/None
Suroto Moehadji - - - - Tidak Ada/None
Bien Subiantoro - - - - Tidak Ada/None
Achmad Baiquni - - - - Tidak Ada/None
Fero Poerbonegoro - - - - Tidak Ada/None
82
TATA KE LOL A P E RUSAHAAN
3. Hubungan Keluarga
Sesuai dengan ketentuan Anggaran Dasar, antara para anggota Direksi serta Komisaris
dan antara anggota Direksi dengan anggota Komisaris tidak ada hubungan keluarga
sedarah sampai dengan derajat kedua, baik menurut garis lurus maupun garis ke
samping atau hubungan semenda (menantu atau ipar) kecuali salah satu Komisaris
mempunyai hubungan keuangan dengan pemegang saham pengendali karena komisaris
tersebut merupakan wakil pemegang saham pengendali.
Rincian Hubungan Keluarga Dan Hubungan Keuangan
Details of Family and Financial Links
Hubungan Keuangan Dengan
Financial Relations With
Hubungan Keuangan Dengan
Financial Relations With
Keterangan
(Bila ada
hubungan
keluarga dan/
atau hubungan
keuangan)
Notes (If there
are any family
and /or nancial
links)
Nama/Name
Komisaris
Commissioner
Direksi
Director
Pemegang
Saham
Pengendali
(Pejabat
BUMN)
Controlling
Shareholder
(Ofcial of
SOE)
Komisaris
Commissioner
Direksi
Director
Pemegang
Saham
Pengendali
(Pejabat
BUMN)
Controlling
Shareholder
(Ofcial of
SOE)
Ya
Yes
Tidak
No
Ya
Yes
Tidak
No
Ya
Yes
Tidak
No
Ya
Yes
Tidak
No
Ya
Yes
Tidak
No
Ya
Yes
Tidak
No
Komisaris
Commissioners
Zaki Baridwan x x x x x x
Suwarsono x x x x x x
Achjar Iljas x x x x x x
Felia Salim x x x x x x
Effendi x x x x x x
H.M.S Latif x x x x x x
Parikesit Suprapto x x x x x x
Merupakan
wakil pemegang
saham pengendali
A representative
of the controlling
shareholder
Direksi
Director
Sigit Pramono x x x x x x
Gatot M. Suwondo x x x x x x
I. Supomo x x x x x x
Achil R. Djajadiningrat x x x x x x
Kemal Ranadireksa x x x x x x
Suroto Moehadji x x x x x x
Bien Subiantoro x x x x x x
Achmad Baiquni x x x x x x
Fero Poerbonegoro x x x x x x
83
GOOD CORP ORATE GOVE RNANCE
4. Paket kebijakan renumerasi dan fasilitas lain bagi Komisaris dan Direksi
Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan dan Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa
yang diselenggarakan pada tanggal 4 Mei 2004 telah memutuskan untuk melimpahkan
kewenangan kepada Komisaris untuk menetapkan fasilitas dan santunan purna jabatan bagi
Komisaris dengan terlebih dahulu berkonsultasi dengan Pemegang Saham Seri A Dwiwarna.
Pembagian tantiem telah diputus pada Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan Tahun
buku 2006 yang dilaksanakan pada tanggal 23 Mei 2007 dimana ditetapkan bahwa
maksimal 0,95% dari laba bersih tahun 2006 dipergunakan untuk tantiem Komisaris,
Direksi dan Sekretaris Komisaris yang menjabat pada tahun buku 2006 sesuai dengan
jangka waktu yang bersangkutan menduduki jabatannya masing-masing.
Adapun jenis remunerasi dan fasilitas bagi seluruh anggota Dewan Komisaris dan Direksi
Direksi juga memperoleh kendaraan yang dapat dijadikan hak milik namun nilainya
untuk periode 2007 tidak dapat dihitung secara jelas karena kendaraan tersebut telah
dipergunakan sejak tahun 2003.
Jenis Remunerasi &
fasilitas lain
Type of Remuneration &
Other facilities
Jumlah diterima dalam 1 tahun
Amount recieved in 1 year
Komisaris
Board of Commissioners
Direksi
Board of Directors
Orang
Number of
People
Dalam
Rp Juta
In
Rp Million
Orang
Number of
People
Dalam
Rp Juta
In
Rp Million
1. Remunerasi (gaji, uang cuti,
tunjangan rutin, tantiem, fasilitas
kesehatan dan komunikasi)
Remuneration (salary, leave
benets, routine benets,
bonuses, Health and
Communication facilities)
7 6,982 10 24,054.4
2. Fasilitas lain dalam bentuk natura
(perumahan, transportasi, alat
komunikasi asuransi kesehatan dan
sebagainya) yang*:
Other facilities in the form of a
specic nature (housing, trans-
portation, communications
equipment, health insurance and
others) are*:
c. dapat dimiliki/could be owned 1 12.5 10 20.6
d. tidak dapat dimiliki/could not be
owned
7 381.6 10 7,367.8
Total 7,376.1 31,442.8
* dinilai dalam equivalen Rupiah/valued in Rupiah equivalent
84
TATA KE LOL A P E RUSAHAAN
5. Paket remunerasi anggota Dewan Komisaris dan Direksi
6. Shares Option
BNI tidak mempunyai program opsi saham.
7. Rasio gaji tertinggi dan terendah
Gaji adalah hak pegawai yang diterima dan dinyatakan dalam bentuk uang sebagai
imbalan dari perusahaan atau pemberi kerja kepada pegawai yang ditetapkan dan
dibayarkan menurut suatu perjanjian kerja, kesepakatan atau peraturan perundang-
undangan, termasuk tunjangan bagi pegawai dan keluarganya atas suatu pekerjaan dan/
atau jasa yang telah dilakukannya.
Rasio gaji tertinggi dan terendah
a. rasio gaji pegawai yang tertinggi dan terendah = 45x
b. rasio gaji Direksi yang tertinggi dan terendah = 1,1x
c. rasio gaji Komisaris yang tertinggi dan terendah = 1,1x
d. rasio gaji Direksi tertinggi dan pegawai tertinggi = 2,5x
Jumlah remunerasi per orang dalam 1 tahun
Amount of Remuneration per person in 1 year
Jumlah Direksi
Number of
Directors
Jumlah Komisaris
Number of
Commissioners
Di atas Rp 2 miliar/Above Rp 2 billion 9
Di atas Rp 1 miliar s/d Rp 2 miliar
Above Rp 1 billion up to Rp 2 billion
1 4
Di atas Rp 500 juta s/d Rp 1 miliar
Above Rp 500 million up to Rp 1 billion
2
Rp 500 juta ke bawah/Rp 500 million and below 1
lineage of up to the second
generation, either through a
horizontal or vertical lineage
or in law relations (of either
son/daughter in law or parents
in law) with the exception of
one of the Commissioners
that have nancial links with
the controlling shareholder
since this Commissioner
is a representative of the
controlling shareholder.
Details of Family and
Financial Links
(see table on page 82)
4. Policies concerning
remuneration and other
facilities provided to the
Commissioners and Directors
The Annual General Meeting
of Shareholder & the
Extraordinary Shareholders
Meeting that was held on the
4th of May 2004 decided
to delegate its authority
to the Commissioners in
regards to determining the
facility and packages for
the Commissioners through
prior consultations with
the Dwiwarna Series A
shareholders.
The distribution of tantiem
or bonuses was made on
the basis of the decison of
the 2006 Annual General
Shareholders Meeting
that was conducted on
23 May 2007 whereby it
was determined that the
maximum amount of 0.95%
of net prot in 2006 shall be
allocated as tantiem for the
Commissioners, Directors,
and Commissioners Secretary
that served within the 2006
nancial year in accordance
with their respective length of
service and positions.
85
GOOD CORP ORATE GOVE RNANCE
8. Frekuensi Rapat Komisaris dan Direksi
a. Rapat Komisaris
Rapat Komisaris diselenggarakan 1 kali dalam seminggu yaitu setiap hari Rabu. Rapat
Komisaris tersebut dapat berupa Rapat Komisaris maupun Rapat Komisaris bersama
Direksi. Rapat antara Komisaris dan Direksi dilaksanakan untuk membahas kinerja dan
pencapaian BNI serta pelaksanaan konsultasi kredit.
Daftar kehadiran Rapat/Attendance within the Meetings
Data kehadiran dalam Rapat tersebut didasarkan pada kehadiran Komisaris secara sik
karena hingga saat ini, Rapat Komisaris belum memanfaatkan teknologi telekonferensi.
b. Rapat Direksi
Sesuai dengan ketentuan Buku Pedoman dan Tata Tertib Kerja Komisaris dan Direksi,
The types of remuneration
and facilities accorded to the
Board of Commissioners and
Directors are as follows:
(see table on page 83).
The Directors also received
ofcial cars that they may
choose to acquire. However,
its value as of the 2007 period
cannot be clearly ascertained
as the vehicles have been in
use since 2003.
5. Remuneration packages
for members of the Board of
Commisioners and Directors
(see table on the left page).
6. Shares Option
BNI does not have a shares
option program.
7. Ratio of the highest to the
lowest salary
The salary is the employees
right that he/she receives
and is in the form of cash as
payment from the Company to
the employee whose payment
is made on the basis of work
contract, agreement or in line
with regulations, including
that pertaining to benets
accorded to employees and
their dependents for work
and/or services rendered.
The ratio of the highest to the
lowest salary is as follows:
a. ratio of the highest and
lowest employee salary =
45x
b. ratio of the highest and
lowest Directors salary =
1.1x
c. ratio of the highest and
lowest Commissioners
salary = 1.1x
d. ratio of the highest
Directors salary and the
highest employee = 2.5x
8. Frequency of
Commissioners and Directors
Meetings
Nama/Name
Rapat Komisaris
Board of Commissioners
Meeting
Rapat Komisaris & Direksi
Joint Board of Commissioners
and Board of Directors
Meeting
Zaki Baridwan 32 45
Suwarsono 37 54
Achjar Iljas 37 57
Felia Salim 28 42
Effendi 49 49
H.M.S Latif 30 50
Parikesit Suprapto* 8 9
Jumlah Rapat/ Number of
Meetings
40 62
* efektif menjabat sejak Mei 2007/tenure effective since May 2007
86
TATA KE LOL A P E RUSAHAAN
Rapat Direksi diselenggarakan 2 (dua) kali dalam seminggu yaitu setiap hari Senin dan
Rabu, namun tidak tertutup kemungkinan Direksi mengadakan Rapat Direksi diluar
jadwal yang ditentukan tersebut.
Daftar kehadiran Rapat/Attendances of the Meetings
c. Penyimpangan internal
Penyimpangan Internal adalah penyimpangan/kecurangan yang dilakukan oleh
pengurus, pegawai tetap dan tidak tetap (honorer dan outsourcing) terkait dengan
proses kerja dan kegiatan operasional Perusahaan yang mempengaruhi kondisi
keuangan Bank secara signikan yaitu apabila apabila dampak penyimpangannya lebih
dari Rp 100.000.000 (seratus juta rupiah).
a. Commissioners
Meetings
The Commissioners
Meetings are held once a
week every Wednesday. The
Commissioners Meetings
can either be in the form
of Board of Commissioners
Meeting or a Joint Board of
Commissioners and Board of
Directors Meeting. The Joint
Board of Commissioners and
Board of Directors Meetings
are convened to discuss
matters pertaining to BNIs
performance and progress as
well as the implementation of
loan consultations.
Attendance of the Meetings
(see table on page 85)
The meetings attendance
data is based on the
Commissioners physical
appearance within the
meetings since, as of
this time, the Board of
Commissioners Meetings have
not utilized teleconferencing
technology to conduct the
meetings.
b. Directors Meetings
In accordance with the
requirements set within
the Commissioners and
Directors Standard Operating
Procedures, the Board of
Directors Meetings are
conducted 2 (two) times
per week, specically on
Monday and Wednesday.
However, the Directors may
chooose to convene a meeting
beyond outside of these
specied days.
Attendances within the
Meetings
(see table above)
c. Internal Fraud
Internal fraud is the violation/
fraud carried out by a member
Nama/Name
Rapat Direksi
Board of Directors Meetings
Sigit Pramono 86
Gatot M. Suwondo 71
I. Supomo 78
Achil Ridwan Djajadiningrat 72
Kemal Ranadireksa 31
Suroto Moehadji 82
Tjahjana Tjakrawinata* 65
Bien Subiantoro 80
Achmad Baiquni 64
Fero Poerbonegoro 70
Jumlah Rapat/Total 93
* efektif mengundurkan diri sejak 31 Juli 2007/effectively resigned as of
31 July 2007
87
GOOD CORP ORATE GOVE RNANCE
Pada periode Januari Desember 2007, dari penyimpangan yang terjadi, jumlah
kerugian terendah adalah Rp 130.869.000 sedangkan jumlah kerugian terbesar senilai
Rp 43.750.000.000. Jumlah penyimpangan internal tercantum pada tabel berikut:
Internal Fraud
dalam 1 tahun
Internal Fraud
Occuring within
1 year
Jumlah kasus yang dilakukan
Number of Cases Involving
Pengurus
Management
Pegawai Tetap
Permanent Employee
Pegawai Tidak Tetap
Non-Permanent
Employee
Tahun
sebelumnya
Previous year
Tahun
berjalan
Current
Year
Tahun
sebelumnya
Previous year
Tahun
berjalan
Current
Year
Tahun
sebelumnya
Previous year
Tahun
berjalan
Current
Year
Total Fraud - - 5 9 - -
Telah
diselesaikan
Resolved
9
Dalam proses
penyelesaian di
intern Bank
In the process
of resolution
internally within
the Bank
- - - - - -
Belum
diupayakan
penyelesaiannya
Have not begun
process of
resolution
- - - - - -
Telah
ditindaklanjuti
melalui proses
hukum
Taken legal
process to
resolve issue
5
88
TATA KE LOL A P E RUSAHAAN
d. Permasalahan Hukum
Permasalahan hukum adalah masalah hukum perdata dan pidana yang dihadapi BNI
selama periode tahun laporan dan telah diajukan melalui proses hukum. Permasalahan
hukum yang terjadi di BNI untuk periode JanuariDesember 2007 dapat dilihat pada tabel.
e. Transaksi yang mengandung benturan kepentingan
Sesuai Peraturan Bapepam Nomor IX.E.1 tentang Benturan Kepentingan Transaksi
Tertentu, benturan kepentingan adalah perbedaan antara kepentingan ekonomis Bank
dengan kepentingan ekonomis pribadi pemilik, anggota Komisaris, anggota Direksi,
Pejabat Eksekutif, dan/atau pihak terkait dengan Bank.
Terkait dengan persetujuan atas permohonan kredit oleh Debitur, BNI telah memiliki
kebijakan internal mengenai pengaturan benturan kepentingan yang mengikat setiap
pengurus dan pegawai Bank sebagaimana dimuat dalam CPC-04/2007 tanggal
5 Juni 2007 mengenai Pemberian Kredit kepada calon Debitur yang memiliki
Permasalahan Hukum
Legal Issues
Jumlah Kasus/Number of Cases
Perdata Pidana/Criminal
Telah selesai (telah mempunyai
kekuatan hukum yang tetap)
Resolved (possess strong legal
basis)
11 9
Dalam proses penyelesaian
In the process of resolution
341 101
Total 352 110
of management, permanent
and contractual (honorary and
outsourcing) employee in line
with the Banks work process
and operational activity that
signicantly affects the Banks
nancial conditions whereby
the impact of the violation
exceeds Rp 100,000,000
(One hundred million rupiah).
Of the number of fraud
violations that occurred within
JanuaryDecember 2007,
the lowest amount of loss
amounted to Rp 130,869,000
while the highest loss
that resulted amounted to
Rp. 43,750,000,000. The
number of internal fraud
recorded is shown in the table
on the previous page.

d. Legal Issues
Legal issues pertains to the
criminal or civil cases that
BNI faced within the specied
period of the annual report
and are within the process
of legal proceedings. The
legal cases that BNI faced
throughout the period of
JanuaryDecember 2007 is
detailed in the table above.
e. Transactions that are
deemed to be of conict
of interest
In accordance with Bapepam
regulations Number IX.E.1
concerning Specic Conict
of Interest Transactions,
conict of interest refers to
the difference between the
economic interest of the Bank
with the economic interest
of the personnel of the Bank,
the member of the Board of
Commissioners, the member
of the Board of Directors,
Executive, and/or related party
of the Bank.
89
GOOD CORP ORATE GOVE RNANCE
hubungan keluarga maupun yang mengandung benturan kepentingan dengan
pemroses dan/atau pemutus kredit.
Selain itu, BNI sudah mempunyai ketentuan mengenai benturan kepentingan
sebagaimana tercantum dalam Code of Conduct sebagai berikut:
Menghindari terjadinya konfik kepentingan pribadi.
Menghindarkan diri dari penyuapan.
Tidak memanfaatkan posisi untuk kepentingan pribadi (insider trading)
Tidak menerima imbalan atau cindera mata.
Pada tahun 2008 akan disusun kebijakan mengenai benturan kepentingan yang terkait
dengan pengadaan barang dan jasa.
Bank telah mengungkapkan adanya benturan kepentingan dalam setiap keputusan
khususnya yang terkait dengan persetujuan kredit serta terdokumentasi dengan baik.
Komisaris, Direksi dan pegawai Bank berusaha semaksimal mungkin untuk mengurangi
atau menghindari adanya benturan kepentingan dalam menjalankan operasional
perbankan sehingga untuk periode JanuariDesember 2007, BNI tidak melakukan
transaksi yang mengandung benturan kepentingan.
f. Buy back saham dan buy back obligasi
Buy back saham atau buy back obligasi adalah upaya mengurangi jumlah saham
atau obligasi yang telah diterbitkan Bank dengan cara membeli kembali saham atau
obligasi tersebut, yang tatacara pembayarannya dilaksanakan sesuai dengan ketentuan
yang berlaku.
In relation to loan approvals
for loan proposals submitted
by the Debtor, BNI already has
an internal policy concerning
conicts of interest that is
binding upon every member
of the Banks management
and staff as specied within
CPC04/2007 dated 5 June
2007 regarding Granting
Loans to Debtors that possess
family links or conicts of
interest with the processing
and/or approval of loans.
In addition to this, BNI already
has regulations concerning
conicts of interest as
specied within the Code of
Conduct which stresses the
following points:
Avoid conficts of interest.
Avoid involvement with
acceptance of bribes.
Do not misuse ones
position for personal gain
(ie. insider trading).
Do not accept gifts or any
forms of gratuity.
A policy will be formulated
in 2008 regarding conicts
of interest in relation to
procurement of goods
and services.
The Bank has revealed the
presence of conicts of
interest in every decision
specically pertaining to loan
approvals as well as its proper
documentation.
The Commissioners, Directors,
and the Banks employees
have strived wholeheartedly
to minimize or avoid
instances that potentially
lead to conicts of interest
in the course of the Banks
operations throughout the
period of JanuaryDecember
2007 whereby BNI did not
undertake transactions that are
90
TATA KE LOL A P E RUSAHAAN
deemed conict of interest.
f. Share Buy back and
bonds buy back
Share buy back or bond buy
backs are aimed at reducing
the number of shares or bonds
that have been issued by the
Bank by acquiring back these
shares and bonds whereby
payment is carried out in
accordance with prevailing
rules and regulations.
For the period of January
December 2007, BNI did not
carry out a shares buy back.
However, it did implement a
bonds buy back that comprise
of the following:
i. Policies involving Bonds
Buy Back
In 2002, Subordinated
Bonds were issued valued
at USD 150 million with
a call option which takes
effect in November 2007.
BNI exercised the call
option on this Subordinated
Bonds on the basis of the
following:
The Bonds issued have a
xed coupon rate of 7.50%.
However, within the fth
year, which falls on 15
November 2007, if BNI
did not exercise its rights
on the options therefore,
the bonds automatically
applied a new coupon rate
(step-up coupon) with the
formula of US Treasury 5
year + 11.10% which is
currently equivalent to
16.20%. As a result, based
on these calculations, the
Bonds are best paid prior
to its maturity date so that
BNI itself would not have to
resort to paying such high
levels of interest.
In relation to its decision to
buy back the bonds, BNI
had already initialy carried
Untuk periode JanuariDesember 2007, BNI tidak melakukan transaksi buy back saham
namun melakukan buy back obligasi. Adapun buy back obligasi yang dilakukan adalah:
i. Kebijakan dalam melakukan buy back Obligasi
Pada tahun 2002 melakukan penerbitan Obligasi Subordinasi senilai USD 150 juta
dengan call option pada November 2007. BNI melakukan pelunasan (call option)
atas Obligasi subordinasi tersebut dengan pertimbangan:
Obligasi yang diterbitkan tersebut memiliki tingkat suku bunga (coupon) tetap
sebesar 7,50%. Namun jika pada ulang tahun ke 5 (lima) yang jatuh pada
tanggal 15 November 2007, BNI tidak menggunakan hak/exercise terhadap opsi
yang ada maka secara otomatis Obligasi tersebut memiliki kupon baru (step-up
coupon) dengan formula US Treasury 5 Tahun + 11,10% atau setara dengan
16.20%. Dengan demikian berdasarkan perhitungan, Obligasi tersebut lebih baik
dilunasi sebelum jatuh tempo agar BNI terhindar dari pembayaran bunga yang
sangat tinggi.
Dalam melaksanakan pelunasan tersebut, BNI telah melakukan pengkajian dari
aspek risiko yaitu risiko permodalan, risiko pasar, risiko likuiditas serta risiko hukum
ii. Nilai obligasi yang dibeli kembali: 100%.
iii. Harga pembelian kembali per lembar obligasi: 100 (at par).
iv. Peningkatan laba obligasi: tidak ada.
g. Pemberian dana untuk kegiatan sosial dan kegiatan politik
Selama JanuariDesember 2007, BNI telah melakukan pemberian dana untuk kegiatan
sosial terkait dengan program Corporate Social Responsibility. Sesuai ketentuan
Pasal 19 ayat (3) Undang-undang Nomor 31 tahun 2002 tentang Partai Politik yang
menegaskan bahwa partai politik dilarang meminta atau menerima dana dari BUMN,
maka sepanjang tahun 2007, BNI tidak pernah memberikan dana kepada partai politik.
Pemberian dana untuk kegiatan sosial dapat dilihat pada tabel sebagai berikut:
91
GOOD CORP ORATE GOVE RNANCE

J. SEKRETARI S PERUSAHAAN
Seketaris Perusahaan di BNI dijabat oleh Pemimpin Divisi Komunikasi Perusahaan yang
mengemban misi untuk mendukung terciptanya citra perusahaan yang baik secara konsisten
dan berkesinambungan melalui pengelolaan program komunikasi yang efektif kepada
segenap pemangkukepentingan.

Sekretaris Perusahaan berfungsi sebagai penghubung antara BNI dengan otoritas pasar
modal, komunitas pemodal, dan masyarakat umum serta bertanggung jawab untuk
Jenis Kegiatan/Type of Activity
Jumlah (Rp juta)
Amount (in million Rp)
1. Program BUMN Peduli
BUMN Peduli (SOE Cares) Program
1,216.43
2. Bantuan Korban Bencana Alam
Disaster Relief
943.17
3. Bantuan Pendidikan dan Pelatihan
Assistance for Education and Training
8,872.34
4. Bantuan peningkatan kesehatan
Assistance for health improvement
6,319.01
5. Bantuan pengembangan prasarana & sarana umum
Support for infrastructure development and public
facilities
14,437.13
6. Bantuan Sarana Ibadah
Support towards the Development of Religious
Facilities
2,789.74
7. Bantuan Pelestarian Alam
Support towards Environmental Conservation
193.29
Total Dana/Total Fund 34,771.13
out extensive research and
analysis on the matter from
a funding risk, market risk,
liquidity risk as well as legal
risk perspective.
ii. The value of the Bonds Buy
Back: 100%.
iii. The price of Bonds Buy
Bank per Bond issued: 100
(at par).
iv. Increase in income derived
from the Bonds: none.
g. Allocation of funds
for social and political
activities
BNI had, throughout the
period of JanuaryDecember
2007, provided funds for
social activities in line
with its Corporate Social
Responsibility program. In
accordance with Article 19
section (3) of Law Number
31 of 2002 concerning
Political Parties that stressed
that political parties are
restricted from soliciting or
receiving funds from State-
Owned Enterprises (SOE),
therefore, throughout 2007,
BNI did not provide funds to
political parties.
The allocation of funds for
social activities can be seen in
the table above.

J. CORPORATE SECRETARY
The Corporate Secretary (CS)
serves as the chief liaison
ofcer between the Bank and
the capital market authorities,
the investment community,
and the general public.
CS is responsible for the
preparation and dissemination
of information of materiality
on the progress of the Bank
for public consumption as
well as for investor relations.
92
TATA KE LOL A P E RUSAHAAN
menyediakan dan menyampaikan informasi yang penting mengenai BNI kepada masyarakat
umum maupun untuk kepentingan pemegang saham/investor.
Dalam menjalankan fungsi dan perannya, Sekretaris Perusahaan dibantu oleh Kelompok
Komunikasi Investor, Kelompok Hukum dan Pemantauan GCG, Kelompok Komunikasi
Eksternal, Kelompok Komunikasi Internal dan unit Komunikasi Pemasaran dalam
berhubungan dengan pihak eksternal dan internal (pegawai).
Hubungan dengan pihak eksternal dipelihara dengan baik, khususnya dalam rangka
pemenuhan kewajiban yang harus dilakukan oleh BNI sebagai perusahaan publik termasuk
untuk memberikan keterangan mengenai kinerja, kegiatan operasional serta hal-hal lainnya
seputar BNI.
Selain itu, mengingat pegawai merupakan salah satu elemen penting dalam penciptaan citra
perusahaan, Sekretaris Perusahaan juga memiliki tugas menyebarluaskan informasi mengenai
BNI kepada segenap pegawai, termasuk menyampaikan program dan kebijakan manajemen.
Informasi tersebut disampaikan melalui media internal antara lain: Sinergi 46, newsletter,
intranet, temu karyawan, serta sosialisasi ke kantor wilayah dan cabang.
Fungsi dan peran Sekretaris Perusahaan serta segenap unit pendukung telah diatur
dalam SOP Organisasi dan Uraian Jabatan Divisi Komunikasi Perusahaan tanggal
16 Juni 2006. Sebagai acuan dalam mengoptimalkan fungsi dan peran tersebut, telah
disusun Buku Pedoman Perusahaan yang mengatur berbagai aktivitas antara lain:
pengelolaan reputasi, pengelolaan Corporate Social Responsibility, pengelolaan komunikasi
dalam krisis, pengelolaan hubungan media, pengelolaan hubungan Kelembagaan, serta
pengelolaan hubungan investor dan otoritas pasar modal.
Hubungan dengan pemegang saham dilakukan melalui kegiatan temu analis, paparan publik,
penerbitan buletin kinerja keuangan triwulanan, penerbitan laporan keuangan triwulanan,
In discharging its function
and rule, CS is assited
by the Investor Relations
Group, Legal and GCG
Monitoring Group, External
Communication Group,
Internal Communication
Group, and Marketing
Communication Unit in the
relation of both internal and
external parties.
Relation with external is
managed properly, especially
in the fulllment of BNIs
obligation as public company
including providing the
description of company
performance, operational
activities and other
related matters.
The dissemination of
information regarding
Managements programmes
to the entire organisation is
carried out by the Internal
Communications Unit by
means of the internal media,
which include: Sinergi 46,
Newsletter, socialisation to
regional and branch ofces,
seminars, employee gathering,
and the electronic media.
The function and roles of
Corporate Secretary and
entire supporting unit is in
accordance with SOP of
Corporate Communication
Division date 16 June 2006.
The banks policy and SOP
have been established for
various activities: reputation
management, crisis
management, media relation,
institutional relation, investor
relation and capital market
authorities relation.

Relations with shareholders
has been enhanced through
regular analyst meetings,
public exposes, publication
of quarterly bulletins on
nancial results, in addition
to quarterly, half-yearly
and annual nancial
statements. Investors and
other stakeholders also have
access to information about
BNI and its activities through
its ofcial website at
www.bni.co.id.
K. GENERAL SUMMARY OF
THE RESULTS OF THE SELF
ASSESSMENT ON GCG
I MPLEMENTATI ON WI THI N
THE BANK
93
GOOD CORP ORATE GOVE RNANCE
tengah-tahunan dan tahunan. Pemegang saham dan pemangkukepentingan lainnya juga
dapat mengakses informasi mengenai BNI dan kegiatannya di situs www.bni.co.id.
K. KESI MPULAN UMUM HASI L SELF ASSESMENT ATAS PELAKSANAAN
GOOD CORPORATE GOVERNANCE PADA BANK
Berdasarkan Self Assesment, Nilai Komposit BNI ada pada posisi 1,85 sehingga diperoleh
predikat komposit: Baik, dengan peringkat masing-masing faktor sebagai berikut:
1. Pelaksanaan Tugas dan Tanggung Jawab Dewan Komisaris: Peringkat 2
Anggota Dewan Komisaris sebanyak 7 (tujuh) orang, tidak melebihi jumlah anggota
Direksi sebanyak 9 (sembilan) orang. Sebanyak 4 (empat) orang diantaranya atau
lebih dari 50% (lima puluh persen) anggota Dewan Komisaris tersebut merupakan
Komisaris Independen, meskipun 1 (satu) orang diantaranya masih dalam proses
persetujuan Bank Indonesia. Komisaris diangkat berdasarkan keputusan Rapat
Umum Pemegang Saham dan seluruh anggota Dewan Komisaris telah lulus Penilaian
Kemampuan dan Kepatutan (t and proper test) sesuai ketentuan Bank Indonesia.
Seluruh anggota Dewan Komisaris tidak memiliki hubungan keluarga dengan sesama
anggota Dewan Komisaris dan dengan anggota Direksi.
Prinsip-prinsip Good Corporate Governance menjadi landasan bagi pelaksanaan
operasional BNI, dan sejalan dengan itu dalam melaksanakan tugas dan tanggung
jawab pengawasannya, Dewan Komisaris mengarahkan, memantau, dan
mengevaluasi pelaksanaan kebijakan strategi BNI.
Sesuai dengan Pedoman dan Tata Tertib Kerja Komisaris, rapat Dewan Komisaris
diselenggarakan secara berkala minimal 1 (satu) kali dalam 1 (satu) bulan atau setiap
saat apabila diperlukan. Selama tahun 2007, Dewan Komisaris telah melakukan
rapat sebanyak 102 (seratus dua) kali, dimana 62 (enam puluh dua) kali diantaranya
dilakukan bersama dengan Direksi. Pengambilan keputusan dilakukan atas dasar
asas independensi dan keterbukaan. Komunikasi dengan Direksi bersifat terbuka dan
dilakukan setiap saat bilamana diperlukan, dimana Dewan Komisaris dapat minta kepada
The results of this Self
Assessment concludes that
BNIs Composite Rating is
within the position of 1.85
and therefore is within the
range or rating of: Good. The
levels achieved that eventually
tallied to the above-mentioned
composite rating are as follows.
1. Implementation of tasks
and responsibilities of the
Board of Commissioners:
rating of 2
The number of members
within the Board of
Commissioners (BOC)
amounts to 7 (seven)
members which does
not exceed the total
number of 9 (nine) Board
of Directors member. 4
(four) members of BOC or
more than 50% of BOC
member are Independent
Commissioner, although 1
(one) member is still in the
process for approval from
Bank Indonesia. Board of
Commisioners is appointed
based of the approval
of General Shareholders
Meeting and all BOC
members have already
passed the t and proper
test by Bank Indonesia.
All BOC members do not
have family relations with
other BOC members and
with BOD members.
The BOC tasks and
responsibilities were carried
out in accordance with
the principles of GCG. In
performing the duties and
supervision function, BOC
direct, monitor and evaluate
the implementation of BNI
strategic policy.
BOC meeting are held
periodically once in a
month or every time when
considered necessary.
In 2007, BOC held 102
meetings, where 62 meeting
were conducted together
with BOD. Decision is made
based on independent and
transparency principles.
Communication with BOD
could take place anytime,
whreby BOC could ask BOD
to convene a meeting, and
vice versa.
BOC have appointed Audit
Committee, Remuneration
and Nomination Committee
and Risk Monitoring
Committee. All Committee
have performed each
function effectively.
94
TATA KE LOL A P E RUSAHAAN
2. Implementation of tasks
and responsibilities of the
Directors: rating of 2
The number of Board of
Directors (BOD) amounts
to 9 (nine) Directors all
of which possess the
integrity, experience of
at least 5 (ve) years in
the operational eld as a
Bank Executive and does
not hold a concurrent
position. The composition
of the Board of Directors is
already in already deemed
appropriate for BNIs size
and complexity and is in
line with prevailing rules
and regulations.
Board of Directors is
appointed based of the
approval of General
Shareholders Meeting
and all BOD members
have already passed the
t and proper test by
Bank Indonesia.
The entire member of
the Board of Directors is
able to act and decide
independently, since:
Do not hold concurrent
position as Commisisoners,
Directors or Executive
Ofcers in BNI or
other companies
Do not have shares
amounting to over 25% of
paid up capital in BNI or
other company
Do not have family relations
with other BOD members
and/or with BOC members.
Do not give power of
attorney to other party
that caused transfer of
Directors function and
duties
The Directors tasks and
responsibilities were carried
out in accordance with the
principles of GCG:
- BOD has established
internal audit working unit,
risk management working
unit, and compliance
working unit. Although
GCG principles have been
applied entirely throughout
all the operational levels,
there are still minor
infringements or violations
such as internal fraud.
Therefore, BNI strives to
resolve these violations and
improve its internal audit
system.
- BOD follow up
audit ndings and
recommendations from
internal audit, external
audit, Bank Indonesia
Direksi untuk bertemu dan sebaliknya Direksi untuk minta bertemu Dewan Komisaris.
Untuk mendukung pelaksanaan tugasnya, Dewan Komisaris telah membentuk Komite
Audit, Komite Remunerasi & Nominasi dan Komite Pemantau Risiko, yang telah bekerja
secara efektif.

2. Pelaksanaan Tugas dan Tanggung Jawab Direksi: Peringkat 2
Direksi beranggotakan 9 (sembilan) Direktur dimana seluruh anggota Direksi
mempunyai integritas, berpengalaman paling kurang 5 (lima) tahun di bidang
operasional sebagai Pejabat Eksekutif Bank serta tidak mempunyai rangkap jabatan.
Komposisi Direksi sudah sesuai dengan ukuran dan kompleksitas usaha BNI serta
telah memenuhi ketentuan yang berlaku.
Direksi diangkat berdasarkan keputusan RUPS dan seluruh anggota Direksi telah lulus
Penilaian Kemampuan dan Kepatutan (t and proper test) sesuai ketentuan Bank
Indonesia.
Seluruh anggota Direksi mampu bertindak dan mengambil keputusan secara
independen, karena:
- tidak merangkap jabatan sebagai anggota Dewan Komisaris, Direksi atau Pejabat
Eksekutif pada BNI, perusahaan dan/atau lembaga lain.
- tidak memiliki saham melebihi 25% dari modal disetor pada BNI dan/atau pada
perusahaan lain.
- tidak memiliki hubungan keluarga dengan sesama anggota Direksi dan/atau
anggota Dewan Komisaris, dan
- tidak memberikan kuasa umum kepada pihak lain yang mengakibatkan pengalihan
tugas dan fungsi Direksi.
Pelaksanaan tugas dan tanggung jawab Direksi telah memenuhi prinsip-prinsip Good
Corporate Governance, antara lain:
- Direksi telah membentuk Satuan Pengawasan Intern/SPI (Satuan Kerja Audit
Intern), Satuan Kerja Manajemen Risiko dan Satuan Kerja Kepatuhan. Meskipun
sudah dibentuk unit-unit yang melakukan pengawasan terhadap semua kegiatan
95
GOOD CORP ORATE GOVE RNANCE
operasional BNI, namun masih saja terjadi internal fraud, oleh karena itu BNI
berupaya untuk terus memperbaiki sistem audit internalnya.
- Direksi menindaklanjuti temuan audit dan rekomendasi dari SPI, auditor eksternal,
hasil pengawasan BI dan/atau hasil pengawasan otoritas lainnya.
- Direksi senantiasa mengungkapkan kepada pegawai kebijakan BNI yang bersifat
strategis di bidang kepegawaian melalui sosialisasi tatap muka, surat (newsletter),
website BNI dll.
Rapat Direksi diselenggarakan secara berkala sebanyak 2 kali seminggu. Proses
pengambilan keputusan dalam Rapat Direksi dilakukan secara musyawarah mufakat
dan apabila tidak tercapai dilakukan berdasarkan suara terbanyak.
Transparansi anggota Direksi dilaksanakan dengan baik dan tidak pernah melanggar
ketentuan/perundangan yang berlaku, antara lain:
- Telah mengungkapkan kepemilikan sahamnya, hubungan keuangan dan hubungan
keluarga dengan anggota Dewan Komisaris, anggota Direksi lain dan/atau
pemegang saham BNI dalam Laporan Tahunan BNI Tahun Buku 2007.
- Tidak memanfaatkan BNI untuk kepentingan pribadi, keluarga dan/atau pihak lain
yang dapat merugikan BNI.
- Tidak mengambil dan/atau menerima keuntungan pribadi dari BNI, selain remunerasi
dan fasilitas lainnya berdasarkan keputusan RUPS dan mengungkapkan remunerasi
dan fasilitas pada Laporan Tahunan BNI dalam Laporan Tahunan Tahun Buku 2007.
3. Kelengkapan dan Pelaksanaan Tugas Komite: Peringkat 1
Komite-Komite yang telah dibentuk Komisaris, yaitu Komite Audit, Komite Pemantau
Risiko dan Komite Remunerasi dan Nominasi, mempunyai kompetensi yang memadai
sesuai dengan ukuran dan kompleksitas usaha BNI, dengan anggota-anggota yang
memiliki integritas tinggi.
Pelaksanaan tugas Komite-Komite telah berjalan sebagaimana mestinya,
penyelenggaraan rapatnya berjalan sesuai dengan pedoman intern dan yang telah
digariskan, yaitu antara lain:
supervisory report and
other supervisory report
from related authority.
- BOD communicate with
employees the strategic
policies related to Human
Resources through
meeting, newsletter,
website, etc.
BOD meeting is held
periodically twice a week.
Decisions within the
meetings are made based
on mutual consensus or by
majority in cases whereby
mutual consensus is
not achieved.
The transparency aspect
of the members of the
Board of Commissioners is
considered relatively good
and never seem to violate
prevailing rules/regulations:
- Disclose share ownerships,
nancial relations and
family links with other BOC
member, BOD member
and/or BNI shareholders in
BNI Annual Report of 2007.
- Do not take advantage or
use BNI for the interest of
personal matter, family or
other party, which could
cause negative impact
to BNI.
- Do not take and/or receive
personal benet from BNI,
other than remuneration
package stipulated in
General Shareholders
Meeting approval, and
disclose the remuneration
and other falicities received
in BNI Annual Report of
2007.
3. Comprehensiveness and
implementation of the tasks of
the Committees: rating of 1
Committes that were
establish by Commissioners,
that is Audit Committee,
Risk Monitoring Committee,
Remuneration & Nomination
Committee possess
sufcient competence
that already deemed
appropriate for BNIs size
and complexity.
The Committee tasks
and responsibilities were
carried out accordingly.
Meetings are already
held in accordance with
internal guidance:
- Committee meeting is held
periodically, almost every
week, which was more than
minimal requirement of one
meeting in a month.
- Decisions within the
meetings are made based
96
TATA KE LOL A P E RUSAHAAN
on mutual consensus or by
majority in cases whereby
mutual consensus is
not achieved.
- Result of a meeting are
recorded and documented
within minutes of meeting,
clearly and appropriately
stating any dissenting
opinion.
- Result of a meeting is a
recommendation to be used
by Commissioner.
- The results of
the Committee
Meetings represents
recommendations that is
very valuable and could be
used by the Commissioner
in making a decision.
4. Handling of conicts of
interest: rating of 2
The Bank has a a fairly
comprehensive and
effective policy, system
and procedure on conicts
of interest in respect to
loan approvals.
Prevailing policies
concerning conicts of
interest that is generally
applicable to all employees
are specied within the
Code of Conduct as follows:
- Avoid incidences of personal
conict of interest.
- Avoid involvement
in bribery.
- Do not utilize ones
personal position for
personal gain or interest (ie.
insider trading)
- Do not receive gifts
or gratuities.
- In BOD and BOC Manual,
conict of interest have
already been addressed.
In the event that a conict
of interest could not be
avoided, therefore, that
conict of interest should
not substantially impact
or reduced the Banks
protability. BOD and BOC
should disclose the conict
of interest in every decision.
- The existence of conicts
of interest are appropriately
revealed through a decision
specied within a minutes
of meeting, appropriately
administered and
documented.
The Bank will formulate
policies in regards to
conict of interest for the
procurement of goods and
services no later than the
rst half of 2008.
- Rapat diselenggarakan secara berkala, hampir setiap minggu, sehingga melampaui
ketetapan minimal 1 (satu) kali dalam sebulan.
- Keputusan rapat diambil berdasarkan musyawarah mufakat atau suara terbanyak
dalam hal tidak terjadi musyawarah mufakat.
- Hasil rapat dituangkan dalam notulen, termasuk pengungkapan perbedaaan
pendapat (dissenting opinions) secara jelas dan didokumentasikan dengan baik.
- Hasil rapat Komite merupakan rekomendasi yang dapat dimanfaatkan oleh Dewan
Komisaris.
- Rekomendasi Komite-Komite dirasakan sangat bermanfaat sehingga dapat
dipergunakan sebagai acuan Dewan Komisaris dalam mengambil keputusan atas
permasalahannya.
4. Penanganan Benturan Kepentingan: Peringkat 2
Bank mempunyai kebijakan, sistem dan prosedur mengenai permasalahan benturan
kepentingan yang cukup lengkap dan efektif, antara lain dalam hal yang berkaitan
dengan pemberian persetujuan kredit.
Kebijakan mengenai benturan kepentingan yang berlaku secara umum termasuk untuk
seluruh pegawai dimuat dalam Code of Conduct mencakup hal-hal antara lain:
- Menghindari terjadinya konik kepentingan pribadi.
- Menghindarkan diri dari penyuapan.
- Tidak memanfaatkan posisi untuk kepentingan pribadi (insider trading)
- Tidak menerima imbalan atau cindera mata.
- Dalam Buku Pedoman dan Tata Tertib Kerja Komisaris dan Direksi, telah diatur etika
benturan kepentingan anggota Dewan Komisaris dan anggota Direksi dimana
dalam hal terjadi benturan kepentingan yang bersangkutan dilarang mengambil
tindakan yang dapat merugikan BNI atau mengurangi keuntungan BNI dan wajib
mengungkapkan benturan kepentingan dimaksud dalam setiap keputusan.
- Dalam hal terjadi adanya benturan kepentingan, telah dengan cukup diungkap
97
GOOD CORP ORATE GOVE RNANCE
dalam keputusan, telah dilengkapi dengan risalah rapat, telah diadministrasikan dan
terdokumentasi dengan baik.
BNI secara bertahap akan menyempurnakan kebijakan benturan kepentingan dalam
setiap transaksi/kegiatan perbankan antara lain merumuskan kebijakan mengenai
benturan kepentingan terkait dengan pengadaan barang dan jasa dengan dijadualkan
akan selesai selambat-lambatnya pada semester I tahun 2008.
5. Penerapan Fungsi Kepatuhan: Peringkat 2
Secara umum pelaksanaan kepatuhan Bank terhadap peraturan perundang-undangan
telah berjalan baik, adanya beberapa penyimpangan bersifat tidak materiil, bukan suatu
pelanggaran, dan telah diselesaikan selain menjadi catatan bagi BNI untuk dilakukan
perbaikan. Upaya untuk meningkatkan kepatuhan terhadap peraturan dilakukan
antara lain dengan secara terus menerus menanamkan pengertian dan mengingatkan
kepada pegawai pada segenap unit organisasi untuk selalu menjaga kepatuhan
Bank terhadap ketentuan yang berlaku. Meskipun demikian masih terdapat berbagai
hambatan dalam sistem informasi, sehingga dapat mengakibatkan masih terjadinya
beberapa pelanggaran meskipun tidak materiil, seperti kekurangan GWM selama 3 hari
dalam tahun 2007, keterlambatan mengupdate kolektibilitas debitur, serta beberapa
kesalahan/keterlambatan laporan dan/atau koreksi laporan (LBU/LBBU).
Pelaksanaan tugas dan independensi Direktur Kepatuhan dan Divisi Kepatuhan sebagai
satuan kerja kepatuhan telah berjalan efektif, yang terbukti antara lain dari pengujian
kepatuhan yang telah berjalan dan pemantauan kepatuhan melalui review kepatuhan
yang dilakukan di segenap unit organisasi secara harian, berkala, dan sewaktu-waktu.
Sistem dan prosedur kerja tersedia cukup lengkap dan komprehensif di setiap unit
organisasi, sebagaimana tertuang dalam Buku Pedoman Perusahaan.
6. Penerapan Fungsi Audit Intern: Peringkat 2
Pelaksanaan fungsi audit intern BNI pada umumnya telah berjalan efektif dan telah
sesuai dengan Standar Pelaksanaan Fungsi Audit Intern Bank.
5. Implementation of
compliance functions:
rating of 2
The implementation
of compliance within
the Bank was generally
conducted well. Monitoring
of compliance towards
prevailing rules and
regulations should be
conducted continuously
so as to avoid instances
of lateness in fullling a
regulatory requirement
or submission of reports
as well as instill a rm
understanding within every
unit of the organization to
ensure bank compliance
towards prevailing rules
and regulations. However,
there are still a number
of immaterial violations
of the prevailing rules
and regulations, such
as Statutory Reserve (3
days), lateness in updating
the debtors collectibility
as well as a number of
reporting errors/lateness
and/or corrections.
The implementation of
the Compliance Directors
and Compliance Divisions
tasks was conducted
effectively which is shown
by, among others, from the
compliance assessment
that was conducted and
compliance monitoring
through the compliance
review carried out within the
entire organization on a daily,
routine, and spontaneous
basis.
The work system and
procedure within every
unit of the organization is
deemed both adequate and
comprehensive, as stated in
Company Manual.
6. Implementation of internal
audit functions: rating of 2
The implementation of the
internal audit function by
the SPI is generally deemed
effective and in accordance
with the Standards for
Implementing Bank Internal
Audit Functions.
Monitoring to the follow up
on internal audit ndings
have been conducted by
Board of Directors, who in
turn encourage and monitor
the progress of settlement.
The progress report were
forwarded by related units
to President Director and
Commissioners quarterly,
and will be monitored by
98
TATA KE LOL A P E RUSAHAAN
Commissioners through
Audit Committee.
Audit report and
realization of internal audit
activities is presented
in Business Plan Annual
Review and forwarded
to Commissioners as
the representative of
shareholders.
BNI implements the
Standards for Implementing
Bank Internal Audit
Functions, through:
- Internal Audit Charter
signed by President
Director and President
Commissioners.
- Internal Audit Team (SPI) as
unit responsible to perform
internal audit function.
- Internal Audit
Guidance Manual.
Updating the audit program
is gradually carried out
within branches and loan
centers while this has not
been conducted entirely in
head ofces. Updating the
audit program in a number
of division in head ofce will
take place in 2008.
The apparent weakness is
deemed minor and does not
have a signicant impact on
audits effectiveness.
7. Implementation of the
external audit functions:
rating of 1
* The audit was carried out
by an independent auditor
and conducted effectively
in accordance with the
standards for audit as
determined by the IAI
with the aim of providing
an opinion of its validity
in regards to all material
aspects of the consolidated
nancial statement in
accordance with the
prevailing principles
of accounting. Going
forward, the disclosure of
the nancial statements
audit will be intensied
in accordance with any
existing recommendations.
The quality and extent of
the Public Accountants
audit ndings currently
used is deemed good.
The conduct of the audit by
the Public Accounting Firm
is deemed independent
and in accordance with the
prescribed criteria.
8. Implementation of risk
management including an
internal control system:
rating of 2
Pemantauan terhadap tindak lanjut temuan audit intern telah dilakukan oleh Direksi
yang senantiasa berusaha mendorong penyelesaian temuan hasil audit oleh unit-unit
yang berkompeten yang dimonitor oleh manajemen lini, Divisi Kepatuhan dan SPI.
Progress penyelesaian tindaklanjut temuan audit intern disampaikan oleh unit-unit
yang berkompeten kepada Dirut dan Komisaris setiap triwulan, yang oleh Komisaris
dilakukan pemantauan melalui Komite Audit.
Laporan hasil audit dan realisasi kegiatan audit SPI dilaporkan melalui Laporan kaji
ulang Business Plan yang disampaikan kepada Dewan Komisaris sebagai wakil
pemegang saham.
BNI telah menerapkan Standar Pelaksanaan Fungsi Audit Intern Bank, antara lain dengan:
- Piagam Audit Intern yang ditandatangani oleh Direktur Utama dan Komisaris Utama.
- Dibentuknya Satuan Pengawasan Intern (SPI) sebagai unit yang berganggung
jawab melaksanakan fungsi audit intern.
- Buku Pedoman Audit Intern.
BNI telah melaksanakan updating audit program yang dilakukan secara bertahap
meliputi kantor cabang dan sentra kredit sedangkan untuk sebagian kantor besar
belum dilakukan. Pelaksanaan updating audit program untuk sebagian divisi di kantor
besar akan dilakukan tahun 2008.
Meskipun masih ada kelemahan minor, namun telah dapat diatasi dengan tindakan rutin.
7. Penerapan Fungsi Audit Ekstern: Peringkat 1
Pelaksanaan audit dilakukan oleh auditor independen telah berjalan secara efektif
sesuai dengan standar pemeriksaan yang ditetapkan IAI dengan tujuan untuk
menyatakan pendapat atas kewajaran dalam segala hal yang material atas laporan
keuangan konsolidasian sesuai dengan prinsip akuntansi yang berlaku, dan dilakukan
penilaian oleh Komite Audit. Untuk selanjutnya pengungkapan (disclosure) atas audit
laporan keuangan akan ditingkatkan sesuai saran/rekomendasi yang ada.
Kualitas dan cakupan hasil audit Akuntan Publik yang dipergunakan saat ini dapat
dinilai baik.
99
GOOD CORP ORATE GOVE RNANCE
Pelaksanaan audit oleh Akuntan Publik dilakukan secara independen dan telah
memenuhi kriteria yang ditetapkan.
8. Penerapan Manajemen Risiko Termasuk Sistem Pengendalian Intern: Peringkat 2
Manajemen cukup efektif dalam mengidentifkasi dan mengendalikan seluruh risiko
Bank serta aktif melakukan pemantauan kebijakan dan prosedur untuk memelihara
kondisi keuangan internal BNI yang sehat, yaitu antara lain Komisaris telah melakukan
pembahasan secara berkala mengenai Kinerja keuangan, Evaluasi kebijakan manajemen
risiko, pemantauan Prol Risiko Bank, konsultasi kredit dan isu-isu terkini antara lain
produk/jasa dan usulan organisasi. Disamping itu Direksi juga melakukan pembahasan
secara berkala mengenai kebijakan yang terkait dengan manajemen risiko dan prol
risiko, review Loan Exposure Limit, Internal Rating System, review limit-limit Risiko Pasar,
Kredit dan Operasional, evaluasi dan review Operating Risk Self Assessment (ORSA),
implementasi Risiko Pasar Cabang Luar Negeri dan Implementasi PERISKOP tahap 1.
Prosedur dan penerapan pengendalian intern Bank komprehensif dan sesuai dengan
tujuan, ukuran dan kompleksitas usaha dan risiko yang dihadapi Bank.
Manajemen efektif dalam memantau kesesuaian kondisi Bank dengan prinsip
pengelolaan Bank yang sehat, ketentuan yang berlaku serta sesuai dengan kebijakan
dan prosedur intern Bank.
Namun demikian untuk langkah kedepan masih perlu dilakukan perbaikan dengan
melakukan pengembangan manajemen risiko sesuai dengan Arsitektur Manajemen
Risiko yang telah disusun, penciptaan dan pengembangan perangkat (tools) yang
lebih sensitif untuk memantau potensi risiko operasional serta enhancing internal
control sesuai rekomendasi Kantor Akuntan Publik dan melakukan pemantauan
implementasi risiko pasar Cabang Luar Negeri untuk dikonsolidasikan dengan laporan
dalam negeri.
The management is
deemed effective in
identifying and handling
all of the Banks risks.
The management
actively monitors
policies and procedures,
comprehensively to ensure
that the Banks internal
nancial conditions is
positive. Among others,
Commissioners have
periodically assess
and review nancial
performance, evaluate
risk management policies,
monitor risk prole,
loan consultation and
organization proposal.
While Board of Directors
also periodically review
risk prole and riks
management policies,
review the Loan Exposure
Limit and Internal Rating
System, review the limits
of market risk, credit
risk and operational
risks, evaluate and
review Operational
Risk Self Assessment,
implementation of
overseas branches market
risks and implementation
of phase IPERISKOP.
Procedures and
the comprehensive
implementation of internal
control within the Bank
are in accordance with
the objectives, size and
complexity of the Banks
business and risks.
The management is
effective in monitoring
the Banks conditions
by means of adherence
towards prudent banking
principles, prevailing rules
and regulations and the
Banks internal policies
and procedures.
In the future, some areas
still needs to be improved,
such as developing risk
management in accordance
with the Risk Management
Architecture that has been
formulated, developing
the tools that are more
sensitive to monitor
operational risks potential
and enhancing internal
control based on the
recommendations made
by Public Accountant, as
well as monitoring the
implementation of market
risks of Overseas Branches
for consolidation with the
domestic report.
100
TATA KE LOL A P E RUSAHAAN
9. Allocation of funds to
related parties and large
exposures: rating of 2
Allocation of funds
to related parties and
allocation of funds
to large debtors was
generally stated within
the Companys Manual.
Decisions for loan
proposals were done
independently through,
among others, the
implementation of the Four-
eye Principles.
BNI periodically evaluate,
improve and review the
internal rating system, Loan
Exposure Limit, and Loan
Portfolio Management.
There were no occurences
of exceeding or violating
the prescribed Legal
Lending Limits in 2007.
10. Transparency in terms
of the Banks nancial and
non-nancial conditions, Good
Corporate Governance report
and internal reporting:
rating of 2
The Bank was deemed
transparent in submitting
nancial and non-nancial
information to the public
either through BNIs
website or through other
forms of media such as
the procedures for ling
a complaint which was
announced through boards
posted within the branch
ofces as well as through
the website.
The fnancial and non-
nancial information was
submitted both punctually,
comprehensively,
accurately, deemed current
and in its entirety.
The Bank is deemed
transparent in submitting
information relating to
products and services
to its customers within
the branches as well
as providing product
information through
leaets disseminated
through its branch ofces,
advertisements and other
means. The Bank also has
a unit that particularly
handles customer
complaints.
The Bank effectively
and appropriately
maintains personal data
and information of its
customers which it uses for
business purposes.
The extent of its GCG
9. Penyediaan Dana Kepada Pihak Terkait (Related Party) dan Penyediaan Dana Besar
(Large Exposure): Peringkat 2
Secara umum penyediaan dana kepada pihak terkait dan penyediaan dana kepada
debitur besar telah diatur dalam Buku Pedoman Perusahaan dimana pengambilan
keputusan kredit telah dilakukan secara independen antara lain dengan penerapan
Four-eye Principles.
BNI juga melakukan evaluasi, penyempurnaan dan review secara periodik Internal
Rating System, Loan Exposure Limit, Loan Portfolio Management. Selama periode
tahun 2007, tidak terjadi pelampauan dan pelanggaran BMPK.
10. Transparansi Kondisi Keuangan dan Non Keuangan Bank, Laporan Pelaksanaan
Good Corporate Governance dan Pelaporan Internal: Peringkat 2
Bank transparan dalam menyampaikan informasi keuangan dan non-keuangan
kepada publik baik melalui website BNI maupun melalui media lain misalnya untuk
tata cara komplain diumumkan pada papan pengumuman di kantor cabang maupun
melalui website.
Informasi keuangan dan non-keuangan yang disampaikan tersedia secara tepat waktu,
lengkap, akurat, kini dan utuh.
Bank cukup transparan menyampaikan informasi produk dan jasa kepada nasabah
yang datang ke cabang serta menyampaikan informasi produk melalui leaet yang
tersedia di kantor cabang, iklan dan cara lainnya. Bank juga mempunyai unit yang
khusus menangani pengaduan nasabah.
Bank dengan efektif serta memelihara data dan informasi pribadi nasabah secara
memadai dan mempergunakannya hanya untuk kepentingan bisnis.
Cakupan laporan pelaksanaan GCG lengkap, akurat, kini dan utuh, telah disampaikan
secara tepat waktu kepada shareholder sesuai ketentuan yang berlaku.
Sistem informasi manajemen Bank dan pelaporan internal telah dikelola oleh unit
khusus dengan personil yang kompeten dengan kinerja yang terukur dalam bentuk
SLA, sehingga keakuratan dan pemenuhan target waktu dapat terpenuhi dengan baik.
101
GOOD CORP ORATE GOVE RNANCE
11. Rencana Strategis Bank: Peringkat 2
Penyusunan dan penyampaian Rencana Bisnis Bank telah berpedoman pada
Peraturan Bank Indonesia No. 6/25/PBI/2004 tanggal 22 Oktober 2004 dengan
mempertimbangkan faktor internal dan eksternal yang mempengaruhi kelangsungan
usaha serta memperhatikan prinsip kehati-hatian dan prinsip perbankan yang sehat
serta memperhatikan tingkat risiko komposit Inherent Risk & Risk Control System &
Strategic Risk.
Rencana Korporasi dan Bisnis telah disusun secara periodik dengan jadwal
pelaksanaan serta mekanisme penyusunan yang telah dibakukan dalam Buku
Pedoman Perusahaan. Untuk selanjutnya Rencana Korporasi dan Bisnis tersebut
diajukan kepada Komisaris yang mewakili Pemegang Saham untuk mendapatkan
persetujuan dan pengesahan.
Realisasi rencana bisnis sesuai dengan Rencana Bisnis Bank (Business Plan).
Penilaian risiko komposit atas risiko strategis berada pada tingkat Low Strategic Risk Rating.
Komisaris menjalankan fungsi pemantauan dengan melaksanakan pengawasan secara
berkala terhadap pelaksanaan Rencana Bisnis Bank (Corporate Plan) dalam bentuk
laporan realisasi rencana kerja dan rencana bisnis. Disamping itu pula, setiap bulan
Manajemen melaporkan/mempresentasikan kinerja perusahaan kepada Komisaris.

Menyetujui
report is deemed to be
detailed, accurate, up
to date and complete
as well as submitted on
time to its shareholders
in accordance with the
prevailing regulations.
The Banks management
information system and
internal reporting was
maintained by a special
unit that was staffed by
competent personnel
whose performance is
measured in the form of
a SLA, therefore ensuring
that accuracy and the
fulllment of the target
dates are met.
11. Banks strategic plan:
rating of 2
The Banks Bank Business
Plan is prepared and
forwarded in accordance
with Bank Indonesia
Regulation No. 6/25/
PBI/2004 dated 22
October 2004 and have
taken into consideration
all external as well as
internal factors, the
principles of prudency and
healthy banking standards,
and also the composit risk
level of Inherent Risks,
Risk Control System and
Strategic Risks.
The Corporate Plan
and Business Plan was
formulated periodically and
implementation schedule
and mechanism have been
incorporated in Company
Manual. Corporate Plan and
Business Plan is presented
to Commissioners who
represent shareholder for
their approval.
The achievement of
the business plan is in
accordance with the Banks
Business Plan.
The composite risks over
strategic risks rating is
determined to be within
the level of Low Strategic
Risk Rating.
Board of Commissioner
perform its monitoring
function through
periodic monitoring to
implementation of Business
Plan and Corporate Plan,
in the form of Progress
Report of Busisness
Plan. Moreover, Board
of Directors also report
and present nancial
performance to Board
of Commissioners.
Erry Riyana Hardjapamekas
Komisaris Utama/Komisaris Independen
President Commissioner/Independent Commissioner
Gatot Mudiantoro Suwondo
Direktur Utama/President Director
102
DAF TAR P UBLI K ASI I NF ORMASI
Materi/Subject
BNI Peroleh Fasilitas Loan USD 100 Juta dari ABN Amro.
BNI receives USD 100 million loan facility from ABN Amro.
BNI Syariah Luncurkan BNI Tapenas Syariah.
BNI Syariah launches BNI Tapenas Syariah.
Pengguna BNI SMS Banking Naik 92%.
Number of BNI SMS Banking users grows by 92%.
BNI Sosialisasikan Program Gemar Membaca dan Menabung di Yogyakarta.
BNI socializes saving and reading hobby programs in Yogyakarta.
BNI Berikan Fasilitas KPA untuk Apartemen Maple & Apartemen Sahid Sudirman, Jakarta.
BNI extends mortgageloans facility to Maple Apartments & Sahid Sudirman Apartments, Jakarta
BNI Tambah Jaringan ATM bekerjasama dengan Posindo.
BNI expands ATM networks, in cooperation with Posindo.
BNIABN AMRO Bank N.V kerjasama dalam bidang konsultansi dan supervisi operational
risk management (ORM).
BNI and ABN AMRO Bank N.V cooperate in consultation and supervision of operational risk
management (ORM).
BNIPT Taman Impian Jaya Ancol kerjasama dalam bidang pembayaran untuk meningkatkan
benet bagi pemegang kartu debit dan kartu kredit BNI.
BNIPT Taman Impian Jaya Ancol cooperate in expanding payment benets to BNI Debit Card
and Credit Card holders.
BNIPT Angkasa Pura II kerjasama dalam bidang cash management untuk memberikan
kemudahan dalam pengelolaan sistem informasi keuangan.
BNIPT Angkasa Pura II implement cash management protocol, to facilitate management of
nancial information systems.
BNIPT Antam Tbk kerjasasama dalam bidang cash management.
Cash management service put in place for PT Antam Tbk., thus facilitating administration of
nancial information systems.
BNIDepartemen Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Depnakertrans) bekerjasama dalam
bidang penggunaan jasa perbankan untuk program penempatan, perlindungan dan
pemberdayaan Tenaga Kerja Indonesia (TKI).
BNI-Department of Labour and Transmigration cooperate on crafting specialised banking services
for placement, protection and training of Indonesian workers.
BNIPT Pelabuhan Indonesia (Pelindo) IV bekerjasama dalam bidang pengelolaan rekening
dan penggunaan jasa perbankan (cash management).
BNI - PT Pelabuhan Indonesia (Pelindo) IV work together in account and cash management in
banking services.
BNI Berikan Fasilitas Kredit USD 13,5 juta kepada PT Semen Padang.
A USD 13.5 million credit facility extended for PT Semen Padang.
BNIPT Taman Safari Indonesia bekerjasama dalam penggunaan BNI Card.
BNIPT Taman Safari Indonesia cooperate in using the BNI Card.
BNI Bantu Sarana Air Bersih di Lempake dan Bengkuring, Samarinda.
Support for Clean Water Sanitation Infrastructure in Lempake and Bengkuring, Samarinda, East
Kalimantan.
102
P RE SS RE LE ASE S
Dafar Publikasi Informasi
103
P RE SS RE LE ASE S
Materi/Subject
BNI Bantu Rehabilitasi SD di Bengkulu, Bengkulu.
Contribution to Elementary School Rehabilitation in Bengkulu.
BNI Luncurkan Layanan Private Banking BNI Emerald.
Launch of BNI Emerald Private Banking service.
KPR BNI Griya Lampaui Target, BNI Gelegar Expo di 5 Kota.
Home Ownership of BNI Griya Credit exceeds targeted objectives at BNI Gelegar Expo, held in
ve cities.
BNI Berikan Kredit kepada Pekerja Indonesia di Hong Kong.
BNI provides credit for Indonesian Migrant Workers in Hong Kong.
BNI Kembali Berangkatkan Haji Gratis.
Launch of the Free Hajj Pilgrimage.
BNI melakukan pengundian Program Hadiah BNI Taplus Rejeki Durian Runtuh 2006
Periode II (Oktober 2006 s/d Januari 2007) serentak di 12 kota (12 wilayah)
Rafe programme for Rejeki Durian RuntuhBNI Taplus Period II (October 2006 to January
2007), coordinated through 12 regional cities.
BNI Syariah Gandeng PT Asuransi Takaful Keluarga untuk Tabungan Pendidikan.
BNI Syariah cooperates with PT Asuransi Takaful Keluarga on Education Rescue.
BNI Syariah Luncurkan BNI Wirausaha Syariah bersamaan dengan pembukaan cabang
di Jember.
Launch of BNI Syariah Enterprise, coordinated with the opening of a new BNI Branch in Jember,
East Java.
BNI Syariah Buka Cabang di Kediri.
BNI Syariah opens a new branch in Kediri, East Java.
BNI Berbagi dirikan Posko Banjir di Jakarta.
Booths to gather support for ood victims through BNI Berbagi program in Jakarta.
BNI Luncurkan Kartu Kredit BNI VISA Olympiade Card.
Launch of BNI VISA Olympiade Card.
Tingkatkan Kredit UMKM, BNI Luncurkan BNI Wirausaha.
To expand SME loans, BNI launches BNI Entrepreneurs.
BNIPT Pelabuhan Indonesia (Pelindo) I-Medan bekerjasama dalam bidang pengelolaan
rekening dan penggunaan jasa perbankan (cash management).
BNIPT Pelabuhan Indonesia (Pelindo) I-Medan cooperate on account management and the use
of Banking Services (cash management).
Bantu Penanganan DBD, BNI Selengarakan Donor Darah di Seluruh Jawa.
Blood Donor Programme hosted, to support treatment for Dengue (Haemorrhagic) Fever Therapy,
throughout Java.
BNI Raih Century ERA Award di Bidang Total Quality Management.
Presentation of a Century ERA Award in the Total Quality Management to BNI.
BNI dan Universitas Indonesia (UI) bekerjasama dalam bidang Early Recruitment Program
(ERP).
BNIUniversity of Indonesia (UI) cooperates in an Early Recruitment Programme (ERP).
104
DAF TAR P UBLI K ASI I NF ORMASI
Materi/Subject
BNI mengawali perdagangan hari pertama Penawaran Umum Terbatas II dan Penawaran
Umum Saham milik Pemerintah RI di Bursa Efek Jakarta (BEJ) dan Bursa Efek Surabaya
(BES).
First day trading of secondary Public Offering, on both the Jakarta and Surabaya Stock Exchanges.
BNI Terbitkan Kartu Kredit untuk Pengusaha SPBU.
BNI issues Credit Cards for Gasoline Station entrepreneurs.
Pembayaran Zakat dan Infaq Melalui BNI Internet Banking.
Islamic Religious Donations through BNI Internet Banking access.
BNI Raih 3 Sertikat ISO di Bidang Teknologi.
BNI awarded 3 ISO Certicates in Technology Sector.
BNI Dukung Java Jazz Festival 2007.
Support for the Java Jazz Festival.
BNI Pimpin Pembiayaan Jalan Tol SurabayaMojokerto.
BNI lead the syndicated loan for the SurabayaMojokerto Toll Road.
BNI Luncurkan Kartu Debit dan Kartu Kredit PAYPASS Contacless.
Launch of PAYPASS no-contact Debit and Credit Cards.
BNI Tangani Sistem Pembayaran Jasa Pelabuhan di Pulau Batam.
BNI manage Payment System for Harbour Services in Batam Island.
BNIPLN Jabar & Banten Kerjasama dalam Pembayaran Tagihan Listrik Melalui E-Banking.
BNIPLN West Java & Banten Province cooperate in electricity payments through E-Banking.
Kinerja BNI Tahun 2006. BNI Restrukturisasi Kredit Macet Rp 4,95 Triliun.
Loan Restructuring of Rp 4.95 Trillion in 2006.
Kinerja BNI Triwulan I2007. Laba Bersih BNI Naik 74%.
BNI Performance, 1st Quarter74% net prot rise.
Kinerja BNI Triwulan II2007. Kredit BNI Tumbuh 29%, Pendapatan Non Bunga Melonjak
101%, dan Laba Naik 26%.
BNI Performance, 2nd Quarter29% credit growth, 101% non-interest income rise and 26%
increase in prots.
Kinerja BNI Triwulan III2007. Laba Bersih Naik 11%, Kredit Tumbuh 30%, dan NPL Turun
Menjadi 4,7%.
BNI Performances 3rd Quarternet prots rise by 11%, credit growth by 30%, and reduction of
NPL to 4.7%, Jakarta.
Kompas Gramedia BNI Tapenas Fair Hadir di Kota Makasar.
Kompas Gramedia BNI Tapenas Fair held in Makassar.
Ekspansi KPR di Surabaya, BNI Bekerjasama dengan Ciputra Group & Pakuwon Group.
Expansion of mortgage loan in Surabaya, in cooperation with Ciputra & Pakuwon Groups.
BNI Griya Biayai Apartemen PT Marbella Dago Pakar & PT Bandung Dago Pakar.
BNI Griya extend loans for PT Marbella Dago Pakar & PT Bandung Dago Pakar Apartments.
BNI Berikan Fasilitas Kredit Rp 1,43 triliun kepada PT Krakatau Steel.
BNI approved a Rp 1.43 trillion credit facility to PT Krakatau Steel.
BNI Berikan Fasilitas Kredit PT NSC untuk Pembiayaan Motor.
Credit Facility approved for PT NSC for Motorcycle nancing.
105
P RE SS RE LE ASE S
Materi/Subject
BNI Pimpin Sindikasi Pembiayaan PLTU Tanjung Kasam.
BNI leads syndicated facilities for PLTU Tanjung Kasam.
BNI Pimpin Sindikasi Pembiayaan Tol KanciPejagan.
BNI leads syndicated lenders for KanciPejagan Toll Road.
BNI Salurkan Kredit Kemitraan kepada 1.900 Usaha Kecil.
Approval of partnership loan for 1,900 Small Enterprises.
BNI Raih MDGs Award di Bidang Pendidikan.
BNI received MDGs Award in the Education Sector.
Ketiga Kalinya, BNI Selenggarakan Mudik Gratis.
BNI held the 3
rd
Free home coming programmes.
BNI serahkan 46 Unit Rumah Tahan Gempa di Yogyakarta, Bantul.
BNI donate 46 earthquake-resistant homes in Bantul, Yogyakarta.
BNI Berikan Fasilitas Kredit USD 100 Juta kepada PGN.
USD 100 Million credit facility awarded to PGN.
Pojok BNI Dibuka di Kampus UNDIP Semarang.
BNI Corner opened at the University of Diponegoro, Semarang.
BNI Bangun Rumah Asuh di Sidrap, Sulawesi Selatan.
Construction of orphanage in Sidrap, South Sulawesi.
RUPS BNI Bagi Dividen 50% dari Laba Bersih.
50% Dividend from net prots announced at General Shareholders Meeting.
RUPSLB BNI Tetapkan Kebijakan Restrukturisasi Kredit.
BNI Extraordinary Shareholders Meeting concludes a Credit Restructuring Policy.
RUPSLB BNI Menyetujui Program Rights Issue.
Rights Issue Programme decided at Extraordinary Shareholders Meeting.
Bulan Ramadhan, BNI Berikan Bantuan Sosial di Berbagai Wilayah.
BNI awarded support to every region during Ramadhan (Islamic Fasting Month).
BNI Tambah Kredit Linkage Program Rp 26,5 Miliar.
Rp 26.5 billion Linkage Program credit issued by BNI.
BNI Salurkan Pembiayaan Syariah dengan Skim Penjaminan.
BNI extend Sharia nancing with Guarantee Scheme.
BNI Kembali Raih STP Award dari The Bank of New York.
The Bank of New York presented BNI, an STP Award.
BNI Pimpin Sindikasi Kredit Pembiayaan Tol Ruas KertosonoMojokerto.
BNI syndicated loan facility for KertosonoMojokerto Toll Road.
BNI Tingkatkan Fasilitas Pembayaran Visa on Arrival.
BNI expand payment facility to Visa on Arrival.
BNI Terima Bilateral Loan USD 75 Juta dari SMBC.
BNI receives a USD 75 Million Bilateral Loan from SMBC.
Teknologi BNI Raih 3 Sertikat ISO 9001:2000.
BNI IT received 3 ISO 9001:2000 certicates.
106
L AP ORAN KOMI TE AUDI T
Dalam rangka menyelenggarakan pengelolaan perusahaan yang baik (good corporate
governance), Komisaris telah membentuk Komite Audit, Komite Risiko & Kepatuhan, dan
Komite Remunerasi & Nominasi. Pembentukan Komite Audit dilakukan berpedoman pada:
a. Keputusan Menteri Negara Pendayagunaan Badan Usaha Milik Negara No. KEP-117/M-
PBUMN/2002 tanggal 1 Agustus 2002 tentang Penerapan Praktek Good Corporate
Governance pada Badan Usaha Milik Negara.
b. Surat Keputusan Ketua Bapepam Kep-41/PM/2003 tanggal 22 Desember 2003 tentang
Pembentukan dan Pedoman Pelaksanaan Kerja Komite Audit.
c. Peraturan Bank Indonesia Nomor 8/14/2006 tanggal 5 Oktober 2006 tentang Perubahan
atas Peraturan Bank Indonesia Nomor 8/4/2006 tentang Pelaksanaan Good Corporate
Governance bagi Bank Umum.
Komite Audit secara kolektif mempunyai kompetensi dan pengalaman di bidang akuntansi,
keuangan, dan perbankan. Semua anggota komite independen terhadap Direksi dan auditor
ekstern. Komite melaporkan kegiatannya kepada Dewan Komisaris.
Susunan Komite Audit per 31 Desember 2007 sebagai berikut:
Ketua : Suwarsono (Wakil Komisaris Utama, Komisaris Independen)
Anggota : Effendi (Komisaris), Alexander Zulkarnain, Teuku Radja Sjahnan, Henrajaya
Sekretaris : Hasan Masud
Komite Audit bertugas mengevaluasi, mengidentikasi hal-hal yang memerlukan perhatian
khusus serta memberikan pendapat profesional yang independen kepada Komisaris di
bidang laporan keuangan dari Direksi, laporan dari auditor internal, auditor eksternal, serta
laporan ketaatan pada peraturan perundang-undangan dan pelaksanaan manajemen risiko.

Dewan Komisaris telah menetapkan Piagam Komite Audit (Audit Committee Charter) sebagai
panduan bagi Komite Audit dan anggotanya dalam melaksanakan tugas. Piagam Komite
Audit terbaru telah dituangkan dalam Keputusan Dewan Komisaris No. Kep/06/DK/2006
tanggal 18 Oktober 2006.
In line with the principles of
good corporate governance,
the Commissioners have
created an Audit Committee,
a Risk & Compliance
Committee, and a
Remuneration & Nominations
Committee. The Audit
Committee was set up under
the guidance of:
a. State Owned Enterprise
Board, State Utilization,
Minister;s Decree
No. KEP-117/M-
PBUMN/2002 Dated 1
August 2002, referring to
Implementation of Good
Corporate Governance
Practices to the State
Owned Enterprise.
b. The Decision Document
of the Bapepam Chairman
Kep-41/PM/2003 Dated
22 December 2003,
concerning forming the
Audit Committee Works
Implementation Guidance
c. PBI Number 8/14/2006,
dated 5 October 2006,
covering changes in Bank
Indonesia Rules Number
8/4/2006 on Good
Corporate Governance
implementation for
Commercial Banks.
Audit Committee has
collective competency and
experience in Accounting,
as well as in nance and
banking. All committee
members are independent
to the Director and External
Auditors. The Committee
reports their activities to the
Board of Commissioners.
Audit Committee member as
of 31 December 2007, are as
follows:
Chairman: Suwarsono
(Vice President
Commissioner, Independent
Commissioner).
Member: Effendi
(Commissioner), Alexander
Zulkarnain, Teuku Radja
Sjahnan, Henrajaya.
Secretary: Hasan Masud.
The Audit Committee is
responsible for evaluating
and identifying things that
require special attention, as
well as sharing professional
ideas independently to
the Commissioners, in
the nancial reports from
Directors, Reports from
internal and external auditors
as well as compliance
to Laws, Rules and Risk
Management Implementation.
106
RE P ORT F ROM THE AUDI T COMMI T TE E
Laporan Komite Audit
107
RE P ORT F ROM THE AUDI T COMMI T TE
Komite Audit mengadakan rapat secara berkala. Menurut Piagam Komite Audit, rapat
dilakukan sedikitnya 1 bulan sekali. Selama 2007, telah dilakukan 36 kali rapat. Jumlah
kehadiran masing-masing anggota Komite adalah sebagai berikut:
Jika dipandang perlu rapat juga dihadiri oleh Komisaris, Direktur, Kepala Divisi, Kepala Satuan
Pengawasan Intern, dan wakil dari auditor ekstern BNI.

Komite Audit selama tahun 2007 telah melaksanakan tugas sesuai Piagam Komite Audit
sebagai berikut:
Penelaahan atas informasi keuangan yang akan dikeluarkan perusahaan seperti laporan
keuangan, proyeksi dan informasi keuangan lainnya.
Melakukan peninjauan ulang atas draft nal laporan keuangan publikasian triwulanan yaitu
31 Maret, 30 Juni dan 30 September 2007 sesuai jadwal dengan memberikan beberapa
saran perbaikan. Untuk meningkatkan efektivitas pelaksanaan tugas ini, Komite Audit telah
mendorong dilakukannya sertikasi berjenjang atas laporan keuangan publikasian sejak
30 September 2006 Sampai dengan 31 Desember 2007 sebagian besar sertikasi
berjenjang telah dilaksanakan.
Berkenaan laporan keuangan auditan untuk tahun buku 2007, Komite Audit telah secara aktif
melakukan diskusi dengan akuntan publik dan manajemen mengenai masalah-masalah yang
perlu didiskusikan sesuai Standar Audit Seksi 380 (PSA No. 48) perihal komunikasi dengan
Komite Audit.
The Board of Commissioners
has approved the Audit
Committee Charter as
guidance for the Audit
Committee and its members
in implementing the latest
Audit Committee Chapter
Tasks, already in Board of
Commissioners Decision No.
Kep/06/DK/2006 Dated 18
October 2006.
The Audit Committee holds
regular meetings. According
to the Audit Committee
Chapter, meetings must be
held a minimum of once a
month. During 2007, 36
meetings were held. Recorded
attendance for each committee
member is presented in the
above table.
These meetings were attended
by Commissioners, Directors,
Division Heads, Head of
Internal Control Unit and
representatives from BNI
external auditor.
The Committee Audit in
2007 implemented their
duties according to the Audit
Committee Chapter as follows:
Review of Financial
Information published by the
Company, such as nancial
reports, projections and other
nancial information
A review for a nal draft of
quarterly published nancial
report (31 March, 30 June
and 30 September 2007)
took place on schedule.
In order to augment task
implementation effectiveness,
Audit Committee has
supported level certication
from 30 September 2006 to
31 December 2007.
For the Audited Financial
Report for scal year 2007,
the Audit Committee has
actively held discussions
with the public accountants
and management concerning
problems which need to
be discussed according to
Section Audit Standard 380
(PSA No. 48) with regard
to communications with the
Audit Committee.
Evaluation on Effectiveness
of Audit Implementation from
External Auditors including
review on independency and
objectiveness of external
auditor as well as review
sufcient checking to ensure
all important risks receive
proper attention
Based on evaluation results,
the Audit Committee
Nama/Name Jumlah Kehadiran/Total Attendance
1. Soewarsono 32
2. Effendi 30
3. Alexander Zulkarnain 29
4. Teuku Radja Sjahnan 28
5. Henrajaya 28
108
L AP ORAN KOMI TE AUDI T
Evaluasi atas efektivitas pelaksanaan audit dari auditor ekstern termasuk menelaah
independensi dan objektivitas auditor ekstern serta menelaah kecukupan pemeriksaan
yang dilakukannya untuk memastikan semua risiko yang penting dipertimbangkan
Berdasarkan hasil evaluasi yang telah dilakukan, Komite Audit berkesimpulan bahwa
independensi akuntan publik dalam mengaudit laporan keuangan tahun buku 2007 sesuai
dengan Standar Auditing yang ditetapkan Ikatan Akuntan Indonesia.
Sesuai dengan catatan atas laporan keuangan No. 52 halaman 133, diungkapkan Setelah
pengangkatan manajemen baru diatas, manajemen baru melakukan pengkajian kembali
penyisihan kerugian portofolio pinjaman yang diberikan, sebelum laporan keuangan disetujui
oleh manajemen dengan mempertimbangkan adanya ketidakpastian yang signikan atas
kondisi ekonomi global.
Dalam proses pemeriksaan akuntan publik, telah dilakukan penambahan (penyesuaian)
beban sebesar Rp 1,57 triliun diantaranya untuk penambahan PPAP atas penyertaan
pada BNI Multinance dan pada BNI Securities, penambahan beban imbalan kerja dan
penambahan PPAP kredit.
Akuntan publik telah menyelesaikan review terhadap 647 debitur korporasi dan menengah
atau 52% dari populasi dengan mengusulkan tambahan PPAP sebesar Rp 400 miliar.
Pada tanggal 25 Maret 2008, manajemen melalui surat No. DIR/039/R mengajukan
tambahan PPAP sebesar Rp 1,47 triliun untuk 42 debitur kelolaan Divisi Kredit Khusus dan 2
AYDA yang merupakan bagian dari 647 debitur tersebut. Dari 42 debitur dan 2 AYDA yang
diajukan, KAP menerima penambahan PPAP atas 27 debitur dan 2 AYDA dengan tambahan
PPAP senilai Rp 771 miliar. Meskipun penambahan PPAP tersebut sangat material, KAP tidak
mempertimbangkan untuk melakukan perubahan desain sampel atas informasi tersebut.
concluded that public
accountant independence
and objectivity in auditing
the nancial report for
scal year 2007 was
conducted according to
accepted auditing standards
approved by the Indonesian
Accountants Association.
Notes to Financial Statement
No. 52 pages 133 stated
After appointment of new
management, management
conduct a review on
provisioning for loan loss
provided, before the approval
of the Financial Statement,
considering signicant
uncertainty in global economic
condition.
From the review of the
public accountant, additional
provision expenses has been
provided amounted to Rp 1.57
trillion to increase provision
for BNI Multinance and
BNI Securities, provision
for personnel expenses and
provision for loan losses.
Public Accountant reviewed
647 corporate and medium-
size borrower or 52% of the
total population with proposed
additional provision amounted
to Rp 400 billion.
In 25 March 2008,
management letter No.
DIR/039/R proposed
additional provisioning
of Rp 1.47 trillion for 42
borrower managed by Loan
Recovery Division and 2
take-over asset (AYDA).
Of the 42 borrower and
2 take-over asset, Public
Account approved additional
provisioning for 27 borrower
and 2 take-over asset
amounted to Rp 771 billion.
Despite of its materiality,
Public Accountant did not
consider to change the
sample design of this new
information.
109
RE P ORT F ROM THE AUDI T COMMI T TE
Terhadap kejadian tersebut, Komite Audit berpendapat bahwa penambahan PPAP atas
beberapa debitur yang telah selesai di-review tanpa melakukan perubahan desain sampel,
dapat mengurangi aspek komparabilitas. Dengan demikian, penjelasan lebih khusus dari
manajemen atas kebijakan dan langkah yang dilakukan mengenai tambahan PPAP tersebut
menjadi penting untuk diperhatikan.
Evaluasi atas pelaksanaan paket kompensasi Direksi dan Komisaris
Kompensasi yang diberikan kepada Direksi berupa gaji dan tunjangan, fasilitas perumahan,
kendaraan, kesehatan, dan komunikasi. Sedangkan bagi Komisaris adalah gaji dan tunjangan,
kendaraan, kesehatan, dan komunikasi.
Dari hasil evaluasi tersebut Komite Audit memperoleh gambaran bahwa keseluruhan
pengeluaran total paket kompensasi yang dibayarkan sampai dengan Desember 2007
sebesar Rp 25.229.961.000 dengan rincian sebagai berikut:
Dari hasil penelitian tersebut, tidak terdapat pelanggaran yang signikan dalam pelaksanaan
pemberian kompensasi kepada Direksi dan Komisaris.
Penelaahan atas ketaatan perseroan terhadap perundang-udangan lainnya yang
berhubungan dengan kegiatan perseroan.
Dari hasil penelaahan Komite Audit atas Laporan Kepatuhan, yang disampaikan dalam bentuk
Laporan Pelaksanaan Tugas Direktur Kepatuhan, selama tahun 2007, Perseroan telah secara
Thus, Audit Committee
viewed that with regard to
additional provisioning of the
borrowers which have been
reviewed without adjustment
in design sample, could
reduce comparability aspect.
Therefore, management need
to elaborate in more details
the policies and actions with
regard to the provisioning.
Evaluation for Implementation
of the Commissioners and
Directors Compensation
Packages
Compensation is awarded
to the Directors, such
as salary and incentives,
housing accommodation, a
vehicle, health coverage, and
communications. That for
the Commissioners includes
salary and incentives, a
vehicle, health coverage and
communications.
From the evaluation results,
the Audit Committee
received the report that
all disbursement of a total
compensation package paid
out up to December 2007
totalled Rp. 25,229,961,000,
with detail in the above table.

From the review results, there
is no aspect signicantly
contravening the rules
in implementing the
compensation awarded to
Directors and Commissioners.
Review of Company
Compliance with Other Laws
related to Company Activities.
From Audit Committee review
results for the Compliance
Report, delivered in the form
of a Compliance Directors
Duty Implementation Report,
during 2007 the Company
routinely delivered the report
to Bank Indonesia, in line with
Bank Indonesia Rule Number
1/6/PBI/1999 dated 20
September 2007, examining
Jabatan
Gaji dan Tunjangan
Salaries and Incentives
Fasilitas Lainnya
Other Benets
Direksi/Directors Rp 13.058.250.000 Rp 8.217.884.000
Komisaris/Commissioners Rp 3.408.600.000 Rp 545.227.000
110
L AP ORAN KOMI TE AUDI T
rutin menyampaikan laporan tersebut kepada Bank Indonesia sesuai dengan Peraturan Bank
Indonesia Nomor 1/6/PBI/1999 tanggal 20 September 2007. Pengujian dan pemantauan
kepatuhan yang dilakukan oleh perseroan telah diupayakan secara optimal. Namun demikian,
masih perlu dilakukan peningkatan pengawasan secara efektif dan esien oleh Satuan
Pengawasan Intern dan Divisi Kepatuhan (Quality Assurance) baik secara sendiri-sendiri
maupun bersinergi, khususnya dalam memenuhi target program Zero Fraud.
Pemantauan dan evaluasi atas perencanaan dan pelaksanaan audit serta pemantauan
atas tindak lanjut hasil audit dalam rangka menilai kecukupan proses pelaporan
keuangan, paling kurang dengan melakukan pemantauan dan evaluasi terhadap:
a. Pelaksanaan tugas Satuan Pengawasan Intern
Dari hasil evaluasi dapat disimpulkan bahwa perencanaan SPI telah dilaksanakan sesuai
dengan perencanaan audit berbasis risiko, pelaksanaan audit dan pelaporan telah
dilakukan sesuai dengan Standar Pelaksanaan Fungsi Audit Intern Bank (SPFAIB).
b. Kesesuaian pelaksanaan audit oleh kantor akuntan publik dengan standar yang
berlaku
Dari hasil pemantauan dan evaluasi Komite Audit, terlepas dari hal-hal yang diungkapkan
pada poin 2 diatas, kantor akuntan publik telah melaksanakan audit sesuai dengan
Standar Auditing yang ditetapkan Ikatan Akuntan Indonesia.
c. Kesesuaian laporan keuangan dengan standar yang berlaku
Sesuai dengan laporan audit kantor akuntan publik, laporan keuangan telah disusun
sesuai dengan standar yang berlaku.
d. Pelaksanaan tindak lanjut oleh Direksi atas hasil temuan SPI, akuntan publik
dan hasil pengawasan Bank Indonesia
Dari hasil penelaahan dan evaluasi atas laporan pending tindak lanjut temuan audit SPI,
terdapat 1.154 temuan yang terdiri 850 temuan tahun 2007, 188 temuan tahun 2006,
99 temuan tahun 2005, 13 temuan tahun 2004, dan 4 temuan tahun 2003 yang sampai
dengan Desember 2007 belum selesai ditindaklanjuti. Komite Audit berpendapat bahwa
proses tindak lanjut yang dilakukan manajemen perlu diupayakan agar dapat dipercepat.
and compliance monitoring
optimally carried out by the
company. There is, however,
still a need to increase
monitoring effectively and
efciently through the Internal
Monitoring Division and
Compliance Division (Quality
Assurance) as well as through
its own synergy, especially in
fullling program targets of
Zero Fraud.
Monitori and Evaluate
the Planning and Audit
Implementation as well as
monitore the audit result with
regard to perform sufcient
audit process, conducted
through evaluation of:
a. Implementation of
Internal Control Team
Tasks
Evaluation report concluded
that SPI planning has been
implemented according
to audit implementation
based risks, while the
audit implementation and
report has been carried out
according to the Standard
Implementation Function of
Bank Internal Audit.
b. Accorded Audit
Implementation by Public
Accountancy to Prevailing
Standards
From the monitoring
and evaluation of Audit
Committee, aside from the
matters described in poin 2,
Public Accountant conducted
the audit according to
Auditing Standards approved
by the Indonesia Accountants
Association.
c. Accorded Financial
Report to Prevailing
Standards
According to the public
accountant ofces audit
report, the nancial report has
been delivered according to
prevailing standards .
d. Follow-up
Implementation by
the Director for SPI-
discovered Results, Public
Accountancy and Bank
Indonesia Monitoring
Results
From the review results and
evaluation for the follow-up
report through an SPI audit,
1,154 were pointed out,
broken down as which 850
in 2007, 188 in 2006, 99 in
2005, 13 in 2004, and 4 in
2003; by December 2007
these were not yet followed
up. The Audit Committee
believes that the follow-up
process carried out by the
111
RE P ORT F ROM THE AUDI T COMMI T TE
Pelaporan kepada Komisaris berbagai risiko yang dihadapi perseroan dan pelaksanaan
manajemen risiko oleh Direksi.
Komisaris telah membentuk Komite Pemantau Risiko yang bertanggung jawab dalam
mengevaluasi dan memantau pelaksanaan manajemen risiko oleh Direksi.

Pemberian rekomendasi mengenai penunjukkan akuntan publik dan kantor akuntan
publik kepada Dewan Komisaris untuk disampaikan pada Rapat Umum Pemegang
Saham
Untuk tahun buku 2007, Tim Pemilihan Akuntan Publik yang terdiri dari Komite Audit dan
unsur manajemen telah melakukan proses pemilihan akuntan publik untuk melakukan
audit atas Laporan Keuangan Konsolidasian BNI, Laporan Keungan Program Kemitraan
BUMN dengan Usaha Kecil dan Program Bina Lingkungan, Laporan Keuangan dan Laporan
Portofolio Investasi DPLK, Operasi Departemen Kustodian dan Evaluasi Kinerja untuk tahun
yang berakhir 31 Desember 2007.
Tim telah mengusulkan dan Dewan Komisaris telah menetapkan Kantor Akuntan Publik
Purwantono, Sarwoko dan Sandjaja dengan Imam Sarwoko sebagai akuntan publik.
Penelaahan dan melaporkan kepada Komisaris atas pengaduan yang berkaitan dengan
perseroan.
Dari hasil penelaahan terhadap 7 surat pengaduan yang masuk dapat diperoleh gambaran
bahwa secara keseluruhan, pengaduan telah ditindaklanjuti manajemen.

Pelaksanaan tugas lain yang diberikan oleh Komisaris
Di tahun 2007, Komite Audit memperoleh beberapa penugasan khusus oleh Komisaris,
antara lain:
Memberikan masukan pada pembahasan Rencana Kerja & Anggaran Perusahaan (RKAP).
Memberikan masukan mengenai deposit agreement kepada BNI London.
Memberikan masukan pada audit Program Kemitraan & Bina Lingkungan (PKBL).
Management still needs more
effort to function speedily.
Report to Commissioners
on Various Issues Faced
by the Company and Risk
Management Implementation
by Directors.
Commissioner has formed the
Risk Monitoring Committee
which is responsible for
evaluating and monitoring risk
management implementation
by Directors.

Giving Recommendations
about appointments of public
accountants and public
accountant companies to
the Board of Commissioners
for Presentation to the
Shareholders General Meeting
For scal year 2007, a Public
Accountant Election Team
from the Audit Committee
and a Management Deputy
selected a public accountant
for performing an audit for
BNI consolidated nancial
statement, nancial report
of BUMN (State Owned
Enterprise) Partnering Program
with the Small Enterprise
and community development
program, a Financial Report
and Pension Fund investment
Portfolio Report, a Custodian
Department Operations and
Performance Evaluation for
the year ending 31 December
2007.
The team has made its
recommendations, and the
Board of Commissioners
has approved the Public
Accountancy Ofces of
Purwantono, Sarwoko, and
Sandjaja, with Imam Sarwoko
as the Public Accountant.
Review and Report to
Commissioners on Complaints
From its review results
they report that the seven
complaint letters which came
in have all been followed up.
Other Duties Given by the
Commissioners
In 2007, the Audit Committee
conducted special duties from
the Commissioner, such as:
Providing input for
Company Business Plan.
Providing input on deposit
agreement for BNI London.
Providing input on PKBL
Audit.

Dalam peta persaingan dewasa ini, baik
dari bank domestik maupun multinasional,
BNI terpacu untuk memfokuskan upayanya
memberikan layanan unggul dan kompetitif
bagi nasabah, serta menampilkan inovasi
layanan baru di segenap segmen, baik
individual maupun korporat.
TARGETE D BANKI NG ARE AS
Target Sasaran
In an environment of sharpening
competition, from revitalized domestic
banks and ambitious multinationals,
BNI looks to focus better service and
more attractive terms on its existing
market share, while appealing to a
broader segment of the banking public,
both individual and corporate, with
new offerings.
CONSUME R BANKI NG
Perbankan Konsumer
Dalam menjalankan peran sebagai bank bagi
rakyat di republik ini, BNI bersama masyarakat
bertekad mewujudkan kehidupan yang lebih baik
dengan penyediaan pengelolaan keuangan yang
dapat terpenuhi melalui kredit konsumer.
Fullling its classical role as a peoples bank for our young
Republic, BNI shares with a growing class of ambitious
consumers whose dream is to create a better life for their
families through the enhanced nancial position enabled by
consumer credit.
114
Pengusaha, Pedagang, Petani, Pelajar
Entrepreneurs, Traders, Farmers, and Students
Ibu Rumah Tangga
Housewives
Pegawai Negeri, Swasta, BUMN, TNI/Polri
Government Employee, Private Employee, SOE
Employee, Armed Service
Lainnya
Others
5.89%
40.50% 12.99%
40.62%
Profesi Pemilik Rekening 2007
Professions of Account Holders 2007
Komposisi Kredit Konsumer 2007
Consumer Loan Composition 2007
13.47%
1.86%
15.84%
35.99%
3.09%
21.48%
8.27%
BNI Griya
Mortgage/Housing Loans
BNI Multiguna
Multi-purpose Loans
BNI Oto Organik
Auto Loans
BNI Fleksi
Unsecured Loans
BNI Instan
Cash Collateral Loans
Kartu Kredit
Credit Cards
Lainnya
Others
P E RBANK AN KONSUME R
116
Sejak tahun 1980an, di Indonesia mulai tumbuh segmen kelas menengah didominasi oleh
kaum berpendidikan tinggi, yang bergerak di berbagai bidang industri, perdagangan, militer,
pemerintahan, serta sektor telekomunikasi dan teknologi informasi.
Terbukanya masyarakat terhadap media massa, tingginya intensitas perjalanan bisnis serta
masuknya barang impor telah mendorong tumbuhnya bisnis konsumer, diawali oleh kartu
kredit, yang penggunaannya sangat populer, didukung oleh gencarnya promosi di media
cetak dan elektronik.
Meskipun tingkat pendapatan masyarakat kalangan menengah kebawah relatif masih rendah,
gaya hidup kelas menengah mulai diadopsi oleh masyarakat kalangan menengah-bawah
dan hal ini direspon oleh pasar dengan tumbuh pesatnya bisnis makanan, fashion, elektronik
dan lainnya.
Supermarket dan mal yang berkiblat ke negara modern semakin banyak tersebar, dimulai di
kota-kota besar dan secara cepat diikuti kota-kota kecil lainnya di seluruh Indonesia. Seiring
pertumbuhan bisnis ini, terdapat satu produk lain yang ikut berkembang secara pesat, yaitu
asuransi. Industri asuransi mulai agresif membuka bisnis, berkompetisi dengan perusahaan
asuransi asing yang mulai masuk ke daerah, mengingat penduduk Indonesia relatif sangat
sedikit yang memiliki produk asuransi.
Melihat kondisi pasar, industri perbankan dan BNI pada khususnya, berupaya menangkap
peluang yang ada dengan mempelajari dan menganalisa bisnis secara cermat. Di lain pihak,
permintaan konsumen tidak pernah menyurut, meskipun dilanda krisis di tahun 1998, dan
kebutuhan tersebut dipenuhi oleh perusahaan multinance.
Memasuki abad ke 21, kredit konsumer merupakan pendorong utama pertumbuhan kredit.
Dengan membaiknya bisnis kelapa sawit dan produk perkebunan serta naiknya harga minyak
dunia, perkembangan kredit konsumer tampak nyata di kota kecil di seluruh nusantara.
From the 1980s, in Indonesia
there was the emergence of
a denitive new middle class
of educated working people,
in industry, commerce, the
military and government
service and new elds, such
as telecommunications and
information technology.
There was a gradual opening
of the nation to mass media,
increased travel and new
imported products, and the
formation of consumer credit
servicesmost notably credit
cardswhich very quickly
became popular, and for
which print and electronic
media stimulated demand.
As this broadening middle
class began to enjoy a new
standard of comfortable and
stylish living, the lower-middle
class began to follow, and
food products, businesses,
clothing, white goods
and consumer electronics
industries prospered, in spite
of a relatively low base of
disposable income.
Supermarkets sprang up, and
western-style malls began
to open, rst in Jakarta
and the other major urban
centres, followed by modern
shopping centres in smaller
cities. The insurance industry
saw vigorous and aggressive
competition for new business,
with numerous multinationals
moving in to set up local units
Indonesians were notoriously
under-insured at that time.
It was thus a timely and
natural move for BNI
and other major banking
institutions to set up divisions
to study, segment, analyze
and pursue this new area
of opportunity. Interestingly
enough, consumer demand
has virtually never stopped
surging forward, in spite of
the 1998 nancial crisis and
the years of subdued business
expansion afterwards,
expanding downward to the
working classes through the
multinance business.
Through the early years of the
new Millennium, consumer
credit was a strong driver
of business all across the
archipelago, and with the
boom in palm oil and other
plantation products and the
steep rise in world prices
CONSUME R BANKI NG
117
Bisnis konsumer BNI dikelola oleh beberapa unit bisnis, yaitu Divisi Kredit Konsumen, Divisi
Dana dan Jasa Keuangan, Divisi Bisnis Kartu, Divisi Private Banking, dan Unit Dana Pensiun
dan Lembaga Keuangan.
PRODUK PI NJAMAN
BNI Griya, yaitu penyediaan fasilitas kredit untuk pembelian, pembangunan dan perbaikan
rumah tinggal, termasuk rumah susun, ruko, rukan, apartemen dan rumah peristirahatan
serta pembelian kavling tanah siap bangun
BNI Oto, menyediakan fasilitas kredit untuk pembelian kendaraan bermotor (motor dan mobil)
BNI Multiguna, menawarkan fasilitas kredit untuk berbagai keperluan konsumtif dengan
jaminan rumah tinggal nasabah
BNI Fleksi, yaitu penyediaan fasilitas kredit tanpa agunan untuk pembiayaan berbagai
keperluan
BNI Instan, fasilitas kredit dengan agunan simpanan yang ada di BNI, baik berupa
Deposito, Tabungan atau Giro
BNI Credit Card, terdiri dari BNI MasterCard Biru dan Emas serta BNI Visa Biru, Emas
dan Platinum
PRODUK DANA
BNI Taplus, produk tabungan yang menciptakan kemudahan dan memberikan berbagai
keuntungan serta kenyamanan dalam melakukan berbagai aktivitas transaksi perbankan
BNI Tapenas, merupakan tabungan untuk perencanaan biaya pendidikan anak yang
dilengkapi dengan tur asuransi
BNI Giro, produk simpanan yang ditawarkan kepada nasabah individu dan korporat
BNI Deposito, memberikan tingkat suku bunga yang lebih tinggi kepada nasabah dengan
jangka waktu 1 bulan hingga 24 bulan
Untuk meningkatkan layanan nasabah korporat serta nasabah yang membutuhkan layanan
berkualitas, BNI mengembangkan BNI Emerald. Nasabah yang termasuk dalam kategori ini
for oil & gas, this trend has
become increasingly evident
in smaller cities and rural
areas throughout the nation.
BNI has worked to evolve
an intelligent approach to
consumer credit; today,
an array of specialised
products is offered, handled
by several business units,
including the consumer credit
division, consumer funding
and nancial services, card
business, private banking
division and pension fund unit,
among others.
LOaN PrODuCTs
BNI Griya, specialising
in the property sector and
providing credit facilities for
purchasing, construction
or renovation of buildings
like shop-houses (ruko),
ofce-houses (rukan),
apartments and villas,
as well as nancing the
purchase of parcels of land
for construction
BNI Oto offers credit for the
purchase of motor vehicles
(motorcycles and passenger
cars). This is one of the most
rapidly-growing areas of
nance today, thus attracting
considerable attention from
the competition
BNI Multiguna provides
funding for multi-purpose
household needs, using
the borrowers home as
collateral
BNI Fleksi offers a credit
facility without collateral
BNI Instan provides loan
against pledged deposit in
BNI (time deposits, savings
and current accounts)
BNI Card is issued in
cooperation with international
networks, such as BNI
MasterCard Blue & Gold, BNI
Visa Blue, Gold & Platinum
LIaBILITy PrODuCTs
BNI Taplus and BNI
Taplus Utama, an anchor
product for savings accounts
BNI Tapenas is a saving
account for childrens
educational tuition plans,
embedded with insurance
BNI Giro is a current
account offered to individual
customers as well as to
corporate customer
BNI Deposito, a xed-term
deposit which gives higher
yields to customer, ranging
from 1 to 24-month tenor
P E RBANK AN KONSUME R
118
adalah nasabah dengan dana minimal sebesar Rp 1 miliar.
Jenis produk yang tersedia di BNI Emerald:
Produk terstruktur, yaitu produk yang hasilnya tergantung dari underlying transaksi
yang digunakan. Produk ini sangat eksibel dan dapat dirancang berdasarkan kebutuhan
nasabah, sesuai tujuan investasi dan tingkat toleransi terhadap resiko dan time horizon.
Produk investasi, yaitu produk-produk yang tersedia di pasar uang maupun pasar modal,
seperti reksadana, discretionary fund, saham, repo saham dan obligasi.
Produk standar perbankan, seperti giro, tabungan, deposito, deposit on call, money
market account, kartu kredit, transfer, perbankan syariah, pinjaman, Sertikat Bank
Indonesia dan lainnya
Produk bancassurance, yaitu produk asuransi yang mengandung unsur proteksi dan
investasi
Layanan yang diberikan oleh BNI Emerald antara lain:
Private Client services
BNI Emerald mendedikasikan seorang Customer Relationship Manager (CRM) atau Customer
Relationship Ofcer (CRO) yang handal dan berpengalaman untuk membantu nasabah dalam
melakukan beragam aktivitas perbankan maupun non-perbankan secara personal
Personal advisory services
BNI Emerald bekerjasama dengan institusi terkemuka membantu nasabah dalam
memenuhi kebutuhan konsultasi serta menawarkan alternatif solusi yang tepat di bidang
hukum, pendidikan dan kesehatan
Financial Planning
Layanan ini diberikan kepada nasabah BNI Emerald untuk membantu perencanaan
keuangan dengan efektif dalam memenuhi setiap fase kebutuhan nansial di masa
mendatang, hingga ke generasi selanjutnya yang meliputi perencanaan investasi, asuransi,
warisan, perpajakan, pensiun dan pendidikan
To expand services to
premium customers, BNI has
also developed BNI Emerald,
which was launched in early
2007. Customers depositing
more than Rp 1 billion are
eligible to access BNI Emerald
services.
Products available in BNI
Emerald are:
Structured products,
the type of which depends
on underlying transactions.
Characterised by high
exibility and the ability to
custom-t with individual
investment needs, these
products are also more
tolerant to risk and timing
Investment products, in
money markets or capital
markets, such as mutual
funds, discretionary funds,
stock, stock repurchase
and bonds
General banking
products, such as current
accounts, savings, time
deposits, deposits on-call,
money market, credit cards,
money transfer, syariah
banking, Bank Indonesia
certicates and others
Bancassurance products
are a blended product of
investment and insurance
BNI Emerald also provide the
following services:
Private Client Services
BNI Emerald will dedicate
a trained professional
Customer Relationship
Manager (CRM) or Customer
Relationship Ofcer (CRO)
to share their personalised
experience with customers
carrying out various banking
and non-banking activities
Personal Advisory
Services
BNI Emerald cooperates
with prominent institutions
and offers professional
experts to consult with
customers in seeking
effective solutions for legal,
educational and health-
related concerns
Financial Planning
Every BNI Emerald customer
may receive advice in
nancial planning effectively,
with attention to every phase
and aspect of investment
planning, insurance,
inheritance taxes, pensions
and educational fees for
succeeding generations
Personal Investment
Services
CONSUME R BANKI NG
119
Personal Investment services
Membantu nasabah dalam melakukan investasi pada instrumen pasar uang, pasar modal,
bancassurance, instrumen derivatif dan produk investasi lainnya. BNI Emerald juga
menyediakan fasilitas laporan portfolio dan daily market report mengenai kondisi investasi
Personal Debt dan asset Management
Merupakan layanan yang dapat digunakan mengelola portfolio kekayaan, baik yang bersifat
jangka pendek maupun jangka panjang
Personal Custody services
Merupakan layanan penyimpanan dokumen maupun administrasi yang terkait dengan aktivitas
transaksi Fixed Income, Saham, Safe Deposit Box, surat berharga dan dokumen lainnya
PeNGeMBaNGaN PrODuk kONsuMer DI TahuN 2007
Menghadapi kompetisi di bisnis konsumer, BNI menerapkan berbagai langkah dalam
pengembangan tur produk konsumer antara lain:
BNI Credit Card
Pembayaran tagihan tiket pesawat (Garuda, Mandala, Lion Air dan Adam Air), pembayaran
tagihan operator selular, pembayaran kartu kredit melalui bank lain, SmartBill Speedy-
Online, TV Kabel Astro
Memiliki berbagai jenis kartu, seperti BNI MasterCard Biru, BNI MasterCard Emas, BNI
Visa Biru, BNI Visa Emas, BNI Visa Platinum, ITB Card, IPB Card, Kadin Jakarta Card, UI
Card, UNAND Card, Brawijaya Card, Pancasila Card, UGM Card, UNDIP Card, IDI Card,
Corporate Card, Matrix BNI, BNI MasterCard Fifa World Cup dan BNI Visa Olimpiade yang
diluncurkan tahun 2007
BNI Taplus
BNI Card (kartu Debit), kartu debit untuk memenuhi kebutuhan uang tunai, pembayaran
serta pembelanjaan di toko berlogo MasterCard serta memperluas penerimaan BNI Card
These services are provided
to customers in investing in
various nancial instruments,
money markets, capital
markets, bancassurance,
derivatives and other type
of investment products.
BNI also generate portfolio
reports and daily market
reports on the investment
environment
Personal Debt and Asset
Management
BNI customers benet from
guidance and advice on
managing their portfolio,
both for the short-term and
long-term horizon
Personal Custody
Services
Secure document storage
and related administrative
services for xed income
transaction activities,
shares, safety deposit boxes,
and other valuables and
documents
PrODuCT DeveLOPMeNT
IN 2007
In view of the competitive
nature of consumer nance,
BNI has adopted a number
of novel strategic directions
in consumer products in
2007, including:
BNI Credit Card
Access the ability to pay
monthly bills like those
of Astro TV cable, airline
ticket purchases from major
airlines (Garuda, Mandala,
and Lion Air), conclude
payment transactions for
cellular operator bills, credit
card payments through
correspondent banks, and
working with Smart Bill
SpeedyOnline
Launched various new
co-branding cards, such as
BNI MasterCard Biru, BNI
MasterCard Emas, BNI Visa
Biru, BNI Visa Emas, BNI
Visa Platinum, ITB Card, IPB
Card, Kadin Jakarta Card,
UI Card, UNAND Card,
Brawijaya Card, Pancasila
Card, UGM Card, UNDIP
Card, IDI Card, Corporate
Card, Matrix BNI, BNI
MasterCard FIFA World Cup
and BNI Visa Olympiade
launched in 2007
BNI Taplus
BNI Card (Debit Card),
a debit card used for
payments to merchants with
MasterCard logo as well as
to broaden the acceptance
of the BNI Card
P E RBANK AN KONSUME R
120
BNI aTM, melakukan relokasi ATM ke lokasi yang strategis dan potensials serta
menambah ftur-ftur transaksi ATM untuk meningkatkan kepuasan dan kemudahan
transaksi bagi nasabah
BNI PhonePlus, dengan mengembangkan IVR (Incoming Voice Response) yang dapat
melayani transaksi nasabah selama 24 jam serta melakukan penambahan tur
BNI sMs Banking, dengan mengembangkan berbagai tur dan fasilitas antara lain
fasilitas isi pulsa semua kartu selular, pembayaran tagihan rutin seperti listrik, air, telepon,
HP, Kartu Kredit maupun transfer dengan satu single access number 3346
BNI Internet Banking, dengan pengembangan tur serta keamanan bertransaksi dengan
fasilitas internet mulai dari cek saldo hingga transaksi pembayaran dan pembelian.
BNI Mobile Banking, dengan mengembangkan transaksi melalui HP tanpa ganti
Kartu dengan basis Menu Transaksi dari cek saldo, isi pulsa, pembayaran tagihan rutin,
pembelian hingga transfer
BNI Griya
Pengembangan dilakukan melalui diversikasi produk-produk utama dengan tujuan
mempertajam fokus pengelolaan pada segmen sasaran. Beberapa diversikasi produk yang
dilakukan meliputi :
BNI Griya sehat, BNI Griya Idaman dan BNI Griya Impian, merupakan diversikasi
dari BNI Griya disesuaikan dengan segmen sasaran
BNI Griya Menpera, ditawarkan untuk pengadaan perumahan melalui program subsidi
pemerintah
BNI Griya Bapertarum, merupakan diversikasi dari BNI Griya untuk pengadaan
perumahan bagi Pegawai Negeri Sipil (PNS) melalui program Subsidi Uang Muka (SUM)
ataupun Pinjaman Uang Muka (PUM) dari Bapertarum
BNI Griya Jamsostek, ditawarkan untuk pengadaan perumahan bagi anggota Jamsostek
melalui program Pinjaman Uang Muka (PUM) dari Jamsostek
BNI Griya Multiguna
BNI ATM, relocate existing
ATMs to more strategic
locations and explore
potential ones, while adding
transaction features to
the ATM as required by
customers and to expedite
transactions
BNI PhonePlus, by
broadening access potential
of IVR (Incoming Voice
Response) which expands
customer transaction
services through real-time
24/7 access and adding on-
line transaction features in
response to market demand
BNI SMS Banking,
develop a transaction
protocol for BNI SMS
Banking, such as cellular
phone rell vouchers,
monthly bills for electricity,
water, telephone, cellular
phones, credit cards as well
as transfer transactionsall
using one single access
number 3346
BNI Internet Banking,
improve transaction features
and service security of
internet facilities, from
balancing checks to
payments and purchasing
transactions
BNI Mobile Banking,
Facilitating transactions
using cellular phones
without replacing card and
transaction menu ranging
from balance inquiry,
top up prepaid cellular phone
vouchers, monthly payment
bills, purchase and transfer
BNI Griya
Pursued diversication of
key products, to sharpen
management focus on
particular market segments.
Product diversication was a
main theme for the year:
BNI Griya Sehat, BNI
Griya Idaman and BNI
Griya Impian were spun
off BNI Griya, to t market
segment proles
BNI Griya Menpera was
added alongside BNI Griya,
to nance homes through
a government subsidy
program
BNI Griya Bapertarum
was also a modication of
BNI Griya, to nance houses
for civil servants through
down payment subsidies
from Bapertarum
BNI Griya Jamsostek
was set up in parallel to BNI
Griya to nance homes for
Jamsostek (the Government
CONSUME R BANKI NG
121
BNI Emerald
Salah satu tur yang dikembangkan oleh BNI Emerald adalah layanan kesehatan,
bekerjasama dengan Rafes Hospital di Singapore.
PeNCaPaI aN DI TahuN 2007
Pada akhir Desember 2007, kredit konsumer naik 26,75% menjadi Rp 13,17 triliun dan dana
pihak ketiga meningkat Rp 10,39 triliun menjadi Rp 146,19 triliun
Kredit Konsumen yang tumbuh paling pesat adalah BNI Griya, yaitu naik 81.07%
dibandingkan tahun sebelumnya. Untuk mendukung penetrasi pasar BNI Griya, BNI telah
bekerjasama dengan 30 perusahaan Multinance, 579 perusahaan Pengembang (developer)
yang mengelola 793 proyek perumahan, 262 Notaris, 26 perusahaan BUMN dan BUMD, 35
perusahaan nasional dan swasta, 39 perusahaan penilai (Appraisal), 5 agen properti terbesar
di Indonesia, 16 perusahaan Asuransi dan sekitar 20 perusahaan lainnya terkait dengan jasa
penyediaan alat-alat promosi, outsourcing tenaga kerja dan lain-lain.
BNI Griya selama tahun 2007 berhasil melakukan ekspansi sebesar Rp 2.12 triliun sehingga posisi
per 31 Desember 2007 tercatat Rp 4.74 triliun disusul oleh BNI Oto sebesar Rp 3.26 triliun.
Produk andalan BNI lainnya di bisnis konsumer adalah BNI Credit Card. Pada tahun 2007, BNI
menempatkan diri sebagai penerbit kartu kredit terbesar kedua dengan jumlah kartu kredit
sebanyak 1,20 juta kartu, atau naik 12% dibandingkan dengan jumlah kartu tahun sebelumnya
sebanyak 1,08 juta kartu. Selama tahun 2007, BNI berhasil menambah 128 ribu pemegang
kartu baru. Total portofolio kartu kredit pada akhir tahun 2007 mencapai 2,09 triliun, tumbuh
14% dibandingkan dengan tahun sebelumnya yang tercatat sebesar Rp 1.83 triliun.
Keberhasilan BNI memperluas bisnis kartu kredit terbukti melalui beberapa penghargaan
yang diterima, seperti Indonesian Bank Loyalty Award 2007 dari majalah InfoBank, serta
Top Brand Award 2007 dari majalah Marketing.
Worker Insurance
programme) members, with
down payments lent directly
from Jamsostek
BNI Griya Multiguna
BNI emerald
Among the new features of
Emerald offered in 2007 was
nancial access to overseas
health services, in cooperation
with Rafes Hospital,
Singapore.
aChIeveMeNTs IN 2007
At the end of 2007, BNIs
consumer loan portfolio rose
26.75%, marking a level of
Rp 13.17 trillion. Third-party
funds also increased by
Rp 10.39 trillion, for a total of
Rp 146.19 trillion.
The fastest-growing segment
of consumer credit was
BNI Griya, a mortgage loan
which saw 81.07% growth
last year. Supporting the
development of this product,
BNI cooperated with 30
multinance companies, 579
developers who manage
793 property projects,
262 Notaries, 26 state and
regionally-owned enterprises,
35 national and private
companies, 39 appraisal
rms, top 5 largest property
agents in Indonesia, 16
insurance companies and
approximately 20 other
related rms, supplying
promotional tools, human
resources outsourcing
services and others.
Net expansion of BNI Griya
during 2007 was at Rp 2.12
trillion or totaled Rp 4.74
trillion at the end of the
year, followed by BNI Oto
(vehicle loans) recorded at
Rp 3.26 trillion.
Another product champion is
BNI Credit Card, which ranked
second in terms of number
of cards issued, totalling 1.20
million cards, signalling a 12%
rise over the previous years
total of 1.08 million cards
in force. In 2007 alone BNI
succeeded in issuing around
128 thousand new cards. Total
outstanding for credit cards as
of end-2007 stood at Rp 2.09
trillion, a growth of as much
as 14% over the year before,
which marked outstanding
receivables at Rp 1.83 trillion.
P E RBANK AN KONSUME R
122
Sedangkan BNI Emerald hingga akhir bulan Desember 2007 berhasil menghimpun dana
kelolaan sebesar Rp 7.94 triliun dengan jumlah nasabah Emerald sebanyak 2.913 yang
tersebar di 10 outlet di 5 kota, yaitu Jakarta, Tangerang, Bandung, Surabaya, dan Makassar.
MeMaNDaNG ke DePaN
Untuk meningkatkan penetrasi pasar, pengembangan Taplus dilakukan secara aktif melalui
program komunikasi pemasaran terpadu, yang bertujuan meningkatkan awareness serta
mengkomunikasikan keunggulan tur produk BNI secara konsisten dan berkesinambungan.
Selain itu, BNI menyempurnakan tur produk dana dan jasa sesuai dengan perkembangan
pasar dan perubahan teknologi antara lain dengan melakukan integrasi antara produk-produk
e-channel dengan BNI Internet Banking.
Upaya pengembangan Taplus juga diiringi dengan upaya relokasi ATM ke lokasi yang lebih
strategis serta menambah ftur-ftur transaksi ATM untuk meningkatkan kepuasan dan
kemudahan bertransaksi bagi nasabah.
Untuk memasarkan, meningkatkan dan mempertahankan produk dana dan jasa, dilakukan
program penjualan secara proaktif baik melalui cabang, loyalty program, dan indirect sales.
Kegiatan yang terkait dengan akuisisi nasabah baru juga dilakukan, bekerjasama dengan
pihak ketiga melalui promosi bersama merchant potensial.

Untuk meraih pertumbuhan BNI Griya yang tinggi, BNI mempertajam fokusnya pada
kebutuhan konsumen dan melihat kondisi persaingan dengan bank lain, antara lain dengan:
Bekerjasama dengan developer di wilayah Jabodetabek dan di daerah lainnya, untuk
pembiayaan rumah, baik ready stock maupun indent
Melakukan penyempurnaan kebijakan, prosedur dan ftur serta harga, yang disesuaikan
dengan kebutuhan dan kemampuan konsumen, sehingga produk BNI mempunyai
keunggulan bersaing namun tetap memperhatikan prinsip kehati-hatian
BNI success in sustaining
and expanding its credit card
business scored such awards
as Indonesian Bank Loyalty
Award 2007 for the credit
card category, from InfoBank
Magazine and Top Brand
Award 2007 from Marketing
Magazine.
Through BNI Emerald, up until
end-2007, BNI succeeded
in collecting a total of Rp
7.94 trillion in funding from
2,913 BNI Emerald customers
at 10 outlets in 5 cities:
Jakarta, Tangerang, Bandung,
Surabaya, and Makassar.
LOOkING FOrwarD
To increase market
penetration, product
development of BNI
Taplus will be enhanced
with a communications
marketing program for both
above & below the line, to
sharpen awareness while
communicating advantages on
product features and services,
stressing their consistency
and security. Following market
development and technology
advances, innovative
e-channel products and
features (both nancial and
non-nancial) were integrated
into BNI Internet Banking.
Taplus product development
also included adding and
relocating ATMs in strategic
potential locations, and
expanding the range of
transaction features on ATMs
following market demand,
thus increasing customer
satisfaction while facilitating
transactions.
BNI endeavoured to market,
increase and maintain
customer deposit products
and services carried out with
indirect and direct sales
program within all branches,
building loyalty, and working
on indirect sales. Related
activities included the
acquisition of new customers,
and dedicated cooperation
with third parties, such as
joint promotional efforts with
potential merchants.
To meet growth targets of
BNI Griya, the Bank pursued a
strategy focusing on consumer
needs and response to market
competition, such as:
Cooperation with more
housing developers in
Jabodetabek regions and
other areas to nance
houses
Upgrading the policy,
procedures and features as
CONSUME R BANKI NG
123
Membuat terobosan program pemasaran yang menarik dan mengacu kepada kebutuhan
konsumen seperti program subsidi bunga, angsuran Suka-suka dan Gelegar BNI Griya
Menjalin hubungan dengan asosiasi, dan perusahaan yang terkait dengan penjualan kredit
konsumen melalui penyelenggaraan acara, seperti business gathering (dengan developer,
property agent, perusahaan swasta, instansi pemerintah) yang dilakukan di beberapa
kota besar
Menyempurnakan ftur serta kebijakan pricing dan prosedur BNI Oto agar lebih eksibel
dan pro-pasar, tanpa meninggalkan prinsip kehati-hatian
Menjalin kerjasama dengan 30 perusahaan multinance untuk mengembangkan BNI Oto
Tren perkembangan pasar otomotif di dalam negeri diperkirakan masih cukup positif, hal ini
ditandai dengan gencarnya perusahaan otomotif yang selalu mengeluarkan produk-produk
barunya. Tren pasar otomotif yang positif akan sangat mempengaruhi permintaan terhadap
kredit kendaraan. Namun permintaan kredit kendaraan ini juga sangat bergantung pada
kondisi perekenomian dalam negeri terutama terkait dengan harga BBM yang menunjukkan
kenaikan yang signikan. Menghadapi kondisi tersebut, BNI Oto melakukan penyempurnaan
kebijakan tur maupun pricing sehingga lebih eksibel dan pro pasar dengan tetap
memperhatikan tingkat kehati-hatian Bank.
Pengembangan BNI Emerald lebih ditekankan pada peningkatan kompetensi SDM,
khususnya dengan program edukasi sehingga petugas BNI Emerald memiliki pengetahuan
yang mendalam terhadap produk dan jasa BNI Private Banking, mengikutsertakan pada
pelatihan Associate Wealth Management (AWM) maupun Certied Wealth Management
(CWM), pelatihan Personal Banking Ofcer (PBO) serta peningkatan kompetensi dan
Sertifkasi Agen Penjual Asuransi (AAJI) dan Wakil Agen Penjual Reksadana (WAPERD).
well as competitive pricing
of BNI Griya, in response
to consumer needs, to gain
a competitive advantage
over competing products
while maintaining prudential
banking principles
Improve attractive marketing
program with reference to
consumer needs, such as
the interest rate subsidy
program, with individualised
payment plans like Angsuran
Suka-Suka (Flexible payment
term) or Gelegar BNI Griya
Sponsoring events and
carrying out programmes
linked with various
associations, institutions
and rms related to
consumer credit salessuch
as business gatherings
(with developers, property
agents, private companies,
government institutions) in
major urban centres
Improving features and
pricing policies of BNI Oto,
to become more exible and
market-oriented, without
neglecting prudential
principles
Cooperation with 30
automotive multinance
companies to grow BNI
Oto business through
channelling
The domestic automotive
market still grew toward
positive trends, as evidenced
by the introduction of new
models of passenger cars
by global manufacturers.
The trend will also have a
positive impact to increase
market demand. However,
this is a variable and sensitive
market, as demand is
quickly dampened by a rise
in the cost of fuel. BNI has
responded to the challenge
with a exible pricing policy.
With regards to BNI Emerald,
the plan was to build
competence of BNI Emerald
ofcers through training
programs, so that they
become more knowledgeable
and skilled with BNI
Private Banking products
and services. Sessions
included Associate Wealth
Management (AWM) and
Certied Wealth Management
(CWM) training, Personal
Banking Ofcer Training (PBO)
and upgrading certication for
insurance sales agents and
mutual fund sales agents.
124
P E RBANK AN KOME RSI AL
Mendukung pertumbuhan dunia usaha yang
berkelanjutan, sejalan dengan terbukanya pasar yang
baru, merupakan salah satu tujuan utama BNI sebagai
penggerak roda pembangunan ekonomi nasional.
Berbekal optimisme dalam mencari peluang usaha yang
berkembang dinamis, BNI berkolaborasi dalam kemitraan
baru dengan semangat untuk tumbuh bersama.
Supporting the sustained growth and prosperity of Indonesian
business, as new markets emerge and existing ones mature,
is one of the key objectives of BNI as a driver of national
economic development. Steadily seeking stable, well-run
businesses with optimism and a dynamic potential, the Bank
enters into a new and mutually protable partnership.
COMME RCI AL BANKI NG
Perbankan Komersial
124
15.11% 10.18%
0.14%
4.57%
56.05%
kredit usaha kecil
Small-scale Loan
Pertanian, Perkebunan & Sarana Pertanian
Agriculture
Pertambangan
Mining
Perindustrian
Manufacturing
Listrik, Gas, Air
Electricity, Gas, Water
Konstruksi
Construction
Perdagangan, Restoran, dan Hotel
Trading, Restaurant, and Hotel
Pengangkutan, Pergudangan, dan Komunikasi
Transportation, Warehousing, and Communication
Jasa Dunia Usaha
Business Services
Jasa Sosial Masyarakat
Social Services
7.84% 23.23%
1.05%
5.13%
kredit usaha Menengah
Medium-scale Loan
Pertanian, Perkebunan & Sarana Pertanian
Agriculture
Pertambangan
Mining
Perindustrian
Manufacturing
Listrik, Gas, Air
Electricity, Gas, Water
Konstruksi
Construction
Perdagangan, Restoran, dan Hotel
Trading, Restaurant, and Hotel
Pengangkutan, Pergudangan, dan Komunikasi
Transportation, Warehousing, and Communication
Jasa Dunia Usaha
Business Services
Jasa Sosial Masyarakat
Social Services
2.24%
0.44%
4.18%
7.09%
4.49%
1.82%
44.69%
10.76%
0.98%
COMME RCI AL BANKI NG
125
126
P E RBANK AN KOME RSI AL
Perbankan Komersial menangani segmen UKM (Usaha Kecil dan Menengah). Di BNI,
segmen UKM ditangani oleh Divisi Usaha Menengah (kredit senilai Rp10Rp 100 miliar) dan
Divisi Usaha Kecil (kredit kurang dari Rp10 miliar).
Selama tahun 2007 pertumbuhan kredit usaha kecil dan menengah BNI tumbuh Rp 10,15
triliun, dan menjadi segmen dengan pertumbuhan tertinggi yaitu sebesar 36,32%, dari
tahun sebelumnya sebesar Rp 27,96 triliun menjadi Rp 38,11 triliun dengan 51 ribu nasabah
dengan kontribusi 43,3% dari total nilai portofolio kredit di tahun 2007.
Pertumbuhan yang luar biasa ini merupakan hasil dari strategi yang dilakukan sepanjang
tahun 2007, diantaranya:
Menggarap bisnis hulu dari nasabah korporasi dan ukM
Memperluas basis nasabah UKM dari yang berasal dari perusahaan pemasok dan
rantai distribusi nasabah korporasi, seperti pemilik pom bensin, pemasok supermarket
dan sebagainya.
Mendayausahakan community lending dan referensi nasabah
Berkerjasama dengan pihak ketiga (asosiasi, yayasan, koperasi dan Bank Perkreditan
Rakyat) untuk mendapatkan basis nasabah baru.
Mengembangkan jalur distribusi di daerah-daerah usaha yang potensial
Sejalan dengan strategi penetrasi pasar, BNI membuka Sentra Kredit Kecil (SKC) dan
Sentra Kredit Menengah (SKM) untuk menangkap peluang di wilayah yang potensial (calon
nasabah dalam radius maksimal 10 km dari outlet BNI). Sepanjang tahun 2007 telah dibuka
3 SKM dan 4 SKC sehingga jumlah Sentra Kredit menjadi 20 SKM dan 51 SKC.
Fokus kepada target nasabah sasaran
Untuk kredit usaha kecil, BNI membidik perusahaan yang baru berkembang di daerah
perkotaan yang memiliki keterbatasan modal. Di tahun 2007 BNI memperkenalkan skema
kredit BNI Wirausaha (kredit senilai Rp 50 juta hingga Rp 1 miliar) dan BNI Tunas Usaha
(maksimum kredit Rp 500 juta).
Commercial banking deals
with the Small & Medium
Enterprise (SME) business
sector. At BNI, SME
segments are handled by the
Medium Enterprise Division
(responsible for credit
between Rp 10100 billion)
and the Small Enterprise
Division (with a credit limit of
under Rp 10 billion).
Through 2007, SME credit
grew by Rp 10.15 trillion,
becoming the segment with
the highest recorded growth
(36.32%). The 2006 gure
of Rp 27.96 trillion soared
to Rp 38.11 trillion, the 51
thousand SME customers
accounting for 43.3% of all
credit outstanding at the end
of year 2007.
The signicant growth is
atributed to the strategies that
were followed during
the year:
Capturing business
from the supply chain of
corporate & SME clients
Acquiring new SME clients
from suppliers & customers
of corporate borrowers,
e.g. gas station owners
(Pertamina customers),
suppliers of chain
supermarkets.
Utilizing community
lending and customer
referrals
Partnerships with third
parties (associations,
foundations, cooperatives,
rural banks) to create a new
customer base.
Augmenting distribution
channels in areas of high
potential business
In line with market
strategy, through opening
new Medium & Small
Loan Centers, to capture
opportunities in potential
areas (customers within a
10km radius of the nearest
BNI outlet). In 2007, three
new Medium Loan Centers
and four new Small Loan
Centers were established
bringing the number of
Medium Loan Centers to
20 outlets and Small Loan
Centers to 51 outlets.
More focus on targeted
customer profles
For small loans: targeting
growing companies with
limited cash ows in rural &
urban areas. In 2007, BNI
launched BNI Wirausaha
(loans from Rp 50 million
COMME RCI AL BANKI NG
127
Untuk segmen kredit Usaha Menengah, BNI berupaya untuk meraih nasabah baru dari bank
lain dengan menawarkan suku bunga yang kompetitif, kemudahan persyaratan serta layanan
yang responsif.
kreDI T usaha MeNeNGah
Total portofolio kredit Usaha Menengah naik 41,45% dari Rp 14,28 triliun menjadi Rp 20,20
triliun. Sektor perindustrian, perdagangan dan konstruksi adalah sektor yang mencatat
peningkatan pesat.
Selain menambah jalur distribusi dengan 3 Sentra Kredit Menengah (Bekasi, Tangerang
dan Solo), beberapa inisiatif juga dilakukan untuk meningkatkan standar ketrampilan
SDM, sejalan dengan upaya lebih mendekatkan diri ke pasar potensial. Untuk itu, BNI
mengikutsertakan Relationship Manager serta Credit Analyst pada pelatihan dan seminar
baik di dalam maupun di luar negeri.
Demi percepatan layanan pemberian kredit, manajemen memberikan otoritas pengambilan
keputusan di semua Sentra Kredit. Executive Information System (EIS) telah ditempatkan di
semua Sentra Kredit Menengah untuk memantau kinerja harian, sebagai bagian dari Report
System Improvement. Sentralisasi TI dimanfaatkan untuk membantu pemantauan intensif
terhadap kinerja, baik dalam hal ekspansi kredit maupun untuk meningkatkan kualitas kredit.
Untuk mengelola kualitas kredit, setiap Sentra Kredit Menengah melakukan pengamatan
intensif terhadap debitur dengan kategori Dalam Perhatian Khusus (Special Mention) dan
melakukan restrukturisasi debitur NPL. Kinerja Relationship Manager juga dinilai secara
berkala sebagai upaya membangun budaya perusahaan berbasis-kinerja yang prima. Hasil
dari penilaian kinerja ini secara langsung mempengaruhi reward yang diterima karyawan,
antara lain dalam bentuk promosi jabatan, pelatihan serta seminar di luar negeri.
to Rp 1 billion) and BNI
Tunas Usaha (maximum loan
of Rp 500 million).
For medium-size loans:
acquiring new customers
from other banks by offering
competitive pricing, faster
response time & simpler
documentation
MeDI uM- sI ze BusI Ness
Total Outstanding of Medium-
size Loans grew by 41.45%,
from Rp 14.28 trillion
rose to Rp 20.20 trillion.
Fastest-growing sectors are
manufacturing, trading and
construction.
Other than adding a
distribution network with
as many as three medium
loan centres (Bekasi,
Tangerang and Solo) to keep
closer to potential markets,
several initiatives were
also implemented, such as
expanding HR competences,
particularly Relationship
Managers and Credit Analysts,
while building employee
competence through training
and seminars, domestically
and abroad.
To expedite the credit
decision-making process,
management decided to
allocate authority in credit
centres. An Executive
Information System (EIS) also
installed in every medium loan
center so that performance
could be monitored daily,
was a part of Report System
Improvement. Management
used the benet of centralised
IT for intensive monitoring
of centre performance, in
extending loans as well as
improving credit quality.
To manage loan quality,
each medium loan center
also performed intensive
monitoring on Special
Mention debtors, as well as
restructuring Non-Performing
Loans (NPL). To instill a
performance culture, every
Relationship Managers
performance was reviewed
periodically. The result will
directly impact on their
rewards, for instance in the
form of job level promotions
and attendance to seminars or
training abroad.
Meanwhile, BNI also strives to
maintain a good relationship
with borrowers through
business-gathering events as
128
P E RBANK AN KOME RSI AL
well as meetings to socialize
BNI products which may
be of use to debtors (cross-
selling), such as trade nance
products, remittances and
cash management.
To face a rising challenge in
2008, the following steps will
be implemented:
Offer of a package deal, with
special rates (lower interest
rate loans) for borrowers
using all BNI credit facilities.
We also impose interest rate
tiering system, to facilitate
disbursement of a credit
facility which has not been
entirely used by debtors
Pursuit of effciency, in an
effort to minimize costs
across the range (cutting
down on intermediary fees)
Expedite credit approval
without neglecting
prudential principles
Expand the distribution
network, thereby increasing
penetration, by assigning
three Remote Relationship
Managers in three branch
ofces (in Lampung,
Pontianak and Palu)
sMaLL- sI ze BusI Ness
Total outstanding of small-size
loans grew by 29.95%, from
Rp 13.78 trillion to Rp 17.91
trillion. Sector composition
was comprised of 56% to the
trading sector, restaurants &
hotels, 15% to manufacturers,
10% to business services,
5% to social services, 5% to
the agriculture sector, and
the remainder distributed
to other sectors. The peak
of small credit growth took
place in the trading sector,
where restaurants and hotels
boosted it by 30.25%,
with the 2006 gure of
Rp 7.65 trillion rising to
Rp 9.96 trillion.
BNI juga berusaha mempertahankan serta membina hubungan erat dengan debitur, antara
lain melalui penyelenggaraan business-gathering, sekaligus untuk mensosialisasikan produk
BNI, sehingga acara tersebut dapat dimanfaatkan sebagai ajang cross-selling produk dan
jasa BNI seperti trade nance, remittances, cash management dan sebagainya.
Dalam menghadapi tantangan di tahun 2008, beberapa langkah strategis akan dilakukan:
Menawarkan package deal dengan suku bunga menarik (suku bunga yang lebih rendah)
bagi debitur yang menggunakan semua fasilitas kredit BNI. Kami juga memberlakukan
sistem suku bunga berjenjang (tiering interest rate) agar debitur tertarik untuk
memanfaatkan fasilitas kredit yang belum digunakannya
Upaya efsiensi dan pengendalian biaya
Percepatan proses pemberian kredit dengan tetap mempertahankan prinsip kehati-hatian.
Pengembangan jaringan distribusi untuk penetrasi pasar, dengan menambah 3 Remote
Relationship Manager di tiga kantor cabang (Lampung, Pontianak dan Palu)
kreDI T usaha keCI L
Total portofolio kredit Usaha Kecil meningkat 29,95% dari Rp 13,78 triliun menjadi Rp 17,91
triliun dengan komposisi: 56% di sektor perdagangan, restoran dan hotel; 15% pada industri
manufaktur; 10% pada bisnis jasa; 5% pada bisnis sosial; 5% di sektor pertanian dan sisanya
terbagi di sektor-sektor lainnya.
Pertumbuhan tertinggi kredit usaha kecil terjadi di sektor perdagangan, hotel dan restoran
yang naik hingga 30,25% dari Rp 7,65 triliun menjadi Rp 9,96 triliun.
Inisiatif bisnis dalam mendukung pertumbuhan kredit usaha kecil di tahun 2007:
Produk
Meluncurkan produk BNI Wirausaha (BWU) di awal tahun 2007 dengan target pengusaha-
pengusaha yang berdomisili di pusat kota (berlokasi maksimal 10 km dari Kantor Cabang
COMME RCI AL BANKI NG
129
BNI). BWU merupakan kredit senilai Rp 50 jutaRp1 miliar dengan proses persetujuan
kredit yang cepat (3 hari kerja) melalui sistem checklist (scoring system). Keunggulan lain
BWU adalah kemudahan persyaratan agunan, pilihan suku bunga (suku bunga tetap atau
mengambang) serta bonus premi asuransi jiwa
Meluncurkan BNI Tunas Usaha di akhir tahun 2007, dengan nilai kredit berkisar
Rp 50 jutaRp 500 juta yang disertai dengan jaminan dari Askrindo (Asuransi
Kredit Indonesia)
Pembiayaan bersama (joint nancing) dengan BNI Multinance
Saluran Distribusi
Membuka 4 Sentra Kredit Kecil (SKC) baru sehingga menjadi 51 outlet di akhir 2007 dan
menambah 26 Unit Kredit Kecil (UKC) sehingga total menjadi 100 outlet di akhir 2007.
Proses
Electronic Loan Origination System (E-LO) akan diterapkan di segenap Sentra Kredit Kecil,
untuk mempercepat proses persetujuan kredit. Saat ini sistem tersebut masih dalam tahap
awal analisa dan evaluasi proses bagi BNI Wirausaha. Implementasi sistem ini diharapkan
selesai sepenuhnya di tahun 2008
Penetapan perangkat analisa kredit sederhana permohonan kredit hingga Rp 3 miliar
Pendelegasian kewenangan yang lebih besar kepada Pemimpin SKC (hingga Rp10 miliar)
Sumber Daya Manusia
Untuk mempercepat penetrasi pasar dari BNI Wirausaha, BNI menggunakan jasa
outsourcing untuk tenaga pemasaran dan penagihan
Untuk mendorong kinerja yang lebih tinggi, diterapkan sistem penilaian (scoring system) di
semua Sentra Kredit Kecil, sebagai indikator dalam pemberian reward dan sanksi
Mengadakan sesi pelatihan untuk meningkatkan kompetensi dan kualitas RO (Regional
Ofcer) serta menyempurnakan Career Path Management
Initiatives to support small
enterprise credit segment
growth in 2007:
Products
Launch of BNI Wirausaha
(BWU) at the beginning of
2007, with a target market
of all businesspeople whose
enterprises are located in
the city centre (a maximum
of 10km from the nearest
BNI Sub-Branch Ofce or
Branch Ofce Unit). BWU
covers small credit (credit
volume of Rp 50 million to
1 billion) with fast approval
process (three working days),
by using a checklist (scoring
system). Other advantages
are a guaranteed convenience
of collateral, interest rate
options (xed or variable
rates) as well premium bonus
of life insurance
Launched BNI Tunas Usaha
in late 2007, with loan
ranging from Rp. 50-500
million, embedded with
guarantees from Askrindo
(Asuransi Kredit Indonesia or
Indonesia Credit Insurance)
Joint Financing with BNI
Multinance
Distribution Channels
Established 4 new Small
Loan Centers, thus raising the
total to 51 by late 2007 and
another additional 26 Small
Loan Units, to raise the total
to 100 by late 2007.
Processes
To expedite the credit
approval process in small
loan centres, Electronic
Loan Origination System
(E-LO) were implementated
This system is still in a
preliminary stage of analysis
and process evaluation
within BNI Wirausaha. We
expect the implementation
will be completed in 2008
130
P E RBANK AN KOME RSI AL
Promosi
Melakukan kegiatan promosi di media cetak dan elektronik untuk membidik segmen pasar
sasaran.
Partisipasi di berbagai kegiatan pengembangan UKM, termasuk mendukung perusahaan
kecil untuk lebih mendayagunakan potensi yang ada.
Tingkat NPL di segmen usaha kecil terbukti lebih rendah dibandingkan segmen usaha
menengah. Hal ini tercermin pada produk BNI Wirausaha dimana NPL dapat ditekan hingga
dibawah 1%. Sejalan dengan upaya penerapan PP No. 33/2005 untuk penyelesaian NPL
(terutama di segmen Usaha Kecil), BNI akan menerapkan kebijakan pemberian pengurangan
(diskon) hutang pokok bagi debitur berskala kecil dengan kredit dibawah Rp 5 miliar. Upaya
ini diharapkan dapat menurunkan tingkat NPL di tahun 2008.
TaNTaNGaN DI BI sNI s PerBaNkaN kOMersI aL
Kompetisi antar-bank yang semakin ketat merupakan tantangan terbesar yang dihadapi
BNI dalam bisnis UKM, baik persaingan dengan bank lokal maupun bank asing. Persaingan
terutama terlihat dari tingkat suku bunga yang ditawarkan serta kecepatan proses kredit.
Untuk mengatasinya, riset dan pengembangan, khususnya dalam hal pemasaran dan
pengembangan produk perlu lebih ditekankan untuk meningkatkan daya saing kredit BNI.
Faktor penting lain yang tidak terhindarkan adalah kenaikan harga bahan bakar minyak
yang akan berdampak negatif pada biaya produksi dan permintaan pasar. Hal ini berpotensi
melemahkan kondisi keuangan debitur serta akan berdampak pada kualitas kredit. Oleh
karena itu, ekspansi kredit di sektor industri yang tergantung pada harga BBM harus
dilakukan dengan lebih hati-hati.
Di tahun 2008, kredit UKM ini akan lebih memfokuskan diri pada perusahaan yang
berorientasi ekspor, sejalan dengan strategi dari Bisnis Perbankan Internasional untuk meraih
Instituted simple credit
analysis, for maximum
loan applications up to
Rp 3 billion
Delegation of more authority
to Head of Small Loan
Centers (up to Rp 10 billion)
human resources
To expedite market
penetration of BNI
Wirausaha, BNI outsources
sales functions and
collections
Implementation of a scoring
system at all Small Loan
Centers as an indicator to
give rewards and sanctions,
with the objective of raising
performance levels
Hosting training sessions
to upgrade competence
and quality of RO (Regional
Ofcers) as well Career Path
Management improvement
Promotion
Carried out promotions in
printed and electronic media
as well, directly targeting
market segments
Participation in related SME
development activities,
including support for
small enterprises to
make better use of their
potential strengths
The non-performing loan level
in small-size loans was in fact
lower than that ofmedium-size
loans. This was particularly
true of BNI Wirausaha,
which boasted the smallest
non-performing credit level,
of under 1%. In line with
efforts to enforce PP 33, thus
resolving non-performing
credit at BNI (especially in the
small enterprise segment),
BNI initiate the haircut policy
program to eligible small-size
debtors with outstanding
amounts below Rp 5 billion.
This action is expected to
achieve a targeted lower NPL
level in 2008.
ChaLLeNGes FaCI NG
COMMerCI aL BaNkI NG
BusI Ness
Tight inter-bank competition
is the greatest challenge
faced by BNIs SME business
campaign, from both local and
foreign banks. Competition
is particularly strong in
offers for SME credit with
COMME RCI AL BANKI NG
131
kembali transaksi perdagangan internasional (trade nance) dari perusahaan berskala
menengah. Untuk itu, BNI akan menempatkan petugasnya di Sentra Kredit Menengah untuk
melakukan cross-selling produk dan layanan produk BNI ke debitur berskala menengah.
Dalam hal sektor yang akan dibiayai, BNI akan merambah ke sektor agribisnis, perikanan,
perdagangan dan industri manufaktur.
BNI berkeinginan menjadi bank yang terdepan dengan jaringan terluas dan memiliki value
chain linkage dengan debitur korporat. Dengan inisiatif bisnis di segmen UKM yang akan
diterapkan di tahun 2008, segmen ini akan menjadi kunci pendorong dalam pertumbuhan
kredit, dengan pertumbuhan usaha kecil ditargetkan sekitar 25% dan usaha menengah
ditargetkan sekitar 22%. Target tersebut merupakan target yang sangat menantang, terutama
jika mempertimbangkan kondisi ekonomi tahun 2008 yang diperkirakan akan bergejolak.
Namun, kami akan berusaha semaksimal mungkin untuk memenangkan kompetisi dan
menjadi yang terbaik di segmen ini.
various interest rate levels
and a faster credit process.
To meet this challenge,
research & development
into sales functions and
product development need
to be emphasised, to boost
the competitiveness of BNI
SME credit.
Another critical factor is the
inevitable rise in fuel prices,
which will have an adverse
affect on production costs
and market demand. This will
potentially affect weak debtor
company nancial conditions,
thus damaging their
creditworthiness. For that
reason, credit extended to the
industrial sector with a critical
dependence on gasoline and
diesel fuel prices must be
approached more cautiously.
In 2008, SME business will
focus on expanding to export-
oriented companies. This is
also in line with the strategy
of the international banking
business to recapture trade
nance transactions from
medium-size enterprises. To
pursue this, BNI will assign
dedicated ofcers in Medium
Loan Centers to conduct cross
selling of other BNI products
and services to Medium-
size debtors, while in term
of sector to nance, BNI will
go after the agribusiness
sector, sheries, trading and
manufacturing.
BNI SME banking business
aims to have a brand position
as a leading bank with an
extensive network and value
chain linkage with corporate
clients. With the initiatives that
will be implemented in 2008,
SME business will be the key
driver of high loan growth,
with small-size loan targeted
growth around 25% and
medium-size loan targeted
growth around 22%. With a
predicted economic downturn
in 2008, these targets are
very challenging, but we will
perform our utmost efforts to
win though competition within
this segment.
Seiring dengan pulihnya ekonomi Indonesia
dari krisis yang terjadi satu dasawarsa lalu,
pasar modal mendapat dorongan kuat untuk
berkembang. BNI berupaya keras meningkatkan
kerjasama yang erat dengan investor korporat
maupun individu atas dasar saling percaya,
dengan menyediakan berbagai pilihan instrumen
keuangan yang menguntungkan.
As Indonesia continues its steady recovery from the
difculties and turmoil of the last decade, there is
steadily growing interest in its capital markets. BNI works
to create sound, trustworthy alliances with individual
and corporate investors, arrayiing a broad selection of
nancial instruments through which to pursue prot.
CORP ORATE BANKI NG
Perbankan Korporasi
132
8.49% 6.74%
11.91%
11.43%
43.33%
kredit korporasi Berdasarkan sektor ekonomi
Corporate Loan by Economic Sector
Pertanian, Perkebunan, & Sarana Pertanian
Agriculture
Pertambangan
Mining
Industri
Manufacturing
Listrik, Gas, Air
Electricity, Gas, Water
Konstruksi
Construction
Perdagangan, Restoran, & Hotel
Trading, Restaurant, & Hotel
Pengangkutan, Pergudangan & Komunikasi
Transportation, Warehousing & Communication
Jasa Dunia Usaha
Business Services
3.25%
1.65%
13.20%
P E RBANK AN KORP ORASI
134
PeNGGerak rODa PerekONOMI aN
Corporate Banking BNI terdiri dari Divisi Korporasi (menangani kredit korporasi), Divisi Kredit
Khusus (menangani kredit bermasalah) dan Divisi Jasa dan Dana Institusi (menangani dana
institusi, kredit sindikasi dan jasa keuangan bagi nasabah korporasi).
Secara historis, BNI awalnya dikenal sebagai bank yang fokus pada segmen korporat.
Berbekal sejarahnya yang panjang, BNI memiliki keunggulan pengalaman, pengetahuan dan
kemampuan untuk memproses serta menangani segmen korporasi.
Saat ini, BNI memiliki 240 nasabah kredit korporasi. Kredit korporasi merupakan salah satu
segmen yang tumbuh pesat di tahun 2007, antara lain didorong oleh pertumbuhan kredit
infrastruktur, terutama jalan tol, pembangkit listrik, dan telekomunikasi. Kredit korporasi juga
diberikan ke sektor agribisnis, perdagangan, pertambangan dan makanan serta minuman.
Sepanjang tahun 2007, BNI terlibat dalam pembiayaan sindikasi 9 proyek jalan tol senilai Rp
20 triliun, dengan porsi pembiayaan BNI sebesar Rp 6.65 triliun, yang akan disalurkan dalam
jangka waktu tiga tahun. Pembiayaan infrastruktur (sektor pertambangan, listrik, air dan gas)
dilakukan dengan pola sindikasi bersama bank lain, dimana BNI berperan sebagai lead
arranger maupun sebagai anggota. Proyek infrastruktur lainnya adalah pembiayaan ke sektor
agribisnis dan telekomunikasi.
Pertumbuhan pembiayaan sektor korporasi pada tahun 2007 didorong oleh penerapan
beberapa strategi, antara lain:
Meningkatkan dan mempercepat ekspansi kredit secara selektif dengan target menjadi
perusahaan yang unggul dalam bisnis korporasi
Meningkatkan pemasaran dan cross-selling produk BNI lain kepada nasabah yang
ada, khususnya yang termasuk dalam kategori kredit lancar. Memperluas basis debitur
korporasi, dengan menangkap bisnis dari perusahaan pemasok (supply chain companies)
TurNI NG The wheeL OF
The sTaTe eCONOMy
BNI Corporate Banking
business is managed by
the Corporate Division (for
corporate loans), the Loan
Recovery Division (dealing
with problem loans) and the
Institutional Funds & Service
Division (handling institutional
funds, loan syndication and
nancial services for all
corporate customers).
BNI is recognized as a historic
institution with a strong
track record in corporate
business. Over six decades,
BNI has amassed experience,
knowledge and the agility
to deal with changing and
complex requirements in
creating corporate nancial
instruments.
BNI currently counts a total
of some 240 corporate
customers, with this
performing as one of the
fastest growth areas in 2007.
The growth is in infrastructure
loans, mainly in toll
roads, power plant, and
telecommunications projects.
Moreover, 2007 saw healthy
expansion of corporate credit
in agribusiness, trading,
mining, food and beverage
sectors as well.
Over the year, BNI entered into
nine toll road syndications,
with total project worth around
Rp 20 trillion. Of this amount,
BNIs funding portion was
up to Rp 6.65 trillion, which
was expected to be disbursed
within a three-year period. All
infrastructure lending (mining,
electricity, water and gas)is
coordinated in a syndicate with
other banks, and BNI serves
as both a lead arranger and
syndicate member. BNI also
witnessed vigorous growth
trends in agribusiness and
telecommunication sectors.
The 2007 growth in the
corporate segment was driven
by several strategies, among
others being to:
Increase and accelerate
credit expansion, expanding
selectively as a key player in
the most attractive sectors
Increase marketing and
CORP ORATE BANKI NG
135
untuk mendukung pertumbuhan kredit segmen UKM
Bekerjasama dengan perusahaan strategis seperti Pertamina, Telkom, Jasa Marga serta
menambah perguruan tinggi yang bekerjasama untuk meningkatkan cross-selling baik
kepada pemasok maupun karyawan mereka
Meskipun segmen korporasi tumbuh signikan, terdapat beberapa faktor yang
mempengaruhi perkembangan bisnis dan kinerjanya, seperti peraturan dan perundang-
undangan, antara lain:
Permasalahan dalam mengalihkan kepemilikan tanah yang terkena pembangunan jalan tol
Berkurangnya pasokan bahan bakar gas yang menyulitkan proses produksi
Penerapan Peraturan Pemerintah No. 33/2005 sejauh ini belum menunjukkan hasil yang
berdampak penting pada upaya restrukturisasi yang dilakukan BNI. Peraturan ini akan
mempengaruhi upaya pengelolaan NPL di bank pemerintah
Hasil restrukturisasi NPL pada tahun 2008 diperkirakan akan mencapai hasil optimal jika
PP No. 33/2005 dapat diterapkan pada NPL segmen korporasi. Namun saat ini, BNI baru
akan memprioritaskan penerapannya pada NPL segmen kredit kecil
Di sisi penghimpunan dana institusi, BNI memprioritaskan pertumbuhan dana murah
dibandingkan dana mahal seperti deposito. Kebijakan ini ditujukan untuk menurunkan
biaya dana, mengingat tingkat suku bunga deposito institusi lebih tinggi dibandingkan
sumber dana lain. Untuk itu kebijakan bunga khusus (special rate) bagi dana institusi tidak
diberlakukan lagi di tahun 2007 dan kebijakan yang dijalankan lebih fokus untuk menggenjot
pertumbuhan dana tabungan dan giro.
PeNaNGaNaN kreDI T BerMasaLah
Menjelang akhir tahun 2007, BNI berhasil menekan tingkat NPL hingga turun dari 6.55%
menjadi 4,01%, yang berarti lebih rendah dari maksimum NPL sebesar 5% yang ditetapkan
oleh Bank Indonesia, sehingga BNI dapat keluar dari kategori Bank dalam Pengawasan Khusus.
cross-selling efforts of
other nancial products to
existing debtors, particularly
to those in the performing
loans category. Broaden the
base of corporate debtors
and companies, expanding
to include their supply
chains, in support of SME
segment growth
Cooperate and collaborate
with partner institutions, such
as Pertamina, Telkom, Jasa
Marga and an expanding
number of Universities in
2007, exploiting a cross-
selling technique to supply
chain companies and
their employees
Despite its increasing growth,
there are factors inuencing
corporate segment business
and performance, such as
the imposition of external
laws and regulations, as well
as the inuence of external
conditions beyond the control
of the market. Among these
factors are:
Problems in land acquisition
for toll road construction
Gas supply shortfalls,
causing difculty in the
production process
Implementation of
Government Decree No.
33/2005 which has not
yet had time to yield
results in 2007, a matter of
signicant concern in BNI
restructuring efforts
It is estimated that NPL
restructuring efforts in 2008
will yield maximum results if
PP No. 33/2005 is applied
to corporate NPL. However,
under current circumstances,
BNI will prioritize its
implementation on the small
NPL debtor
For institutional funds in
particular, BNI endeavoured
to accelerate the growth of
current accounts prioritising
them over time deposits.
The reason for this policy
was to bring down interest
expenses, since time deposits
from institutions bear higher
interest rates compared to
other sources of funds. To
achieve this, the special rate
policy for institutional funds
was abolished in 2007, and
more efforts were focused
on stimulating the growth of
current accounts and savings.
P E RBANK AN KORP ORASI
136
DeaLI NG wI Th NON-
PerFOrMI NG LOaNs
Toward the end of 2007,
BNI was able to suppress
net NPL, decreasing it from
6.55% to 4.01%, indicating
it already falls under the
maximum 5% limit imposed
by Bank Indonesia, thus
freeing BNI from special
monitoring by the Central
Bank. This was achieved
by diligent efforts to deal
with non-performing loans
throughout the year while
simultaneously pursuing
healthy credit expansion.
The result is truly evidence
of a successful program
conducted by the Loan
Recovery Division, which is
responsible for restructuring
and resolving NPL effectively
and efciently.
During 2007, a total of 822
NPL debtors were managed
by the Loan Recovery Division,
representing an amount of Rp
3.23 trillion of NPL, consisting
of 24 corporate, 20 medium
enterprise customers and 778
small enterprise customers.
As a result, Rp 1.55 trillion
was completely restructured
and moved to performing
loans, Rp 1.51 trillion
remained in NPL and Rp 176
billion was paid off by some
310 customers
Having devoted careful study
to the dynamics of its NPL,
BNI has decided to implement
the following strategy in 2008:
Crash program for NPL
restructuring
Intensive monitoring over
restructured NPL debtors
More aggressive loan
expansion
Monitoring pre-NPL debtors,
to anticipate and avoid any
downgrade
Resolving non-performing
loans through litigation and
asset disposal
Implementation of
Government Decree No.
33/2005, in particular for
small-size NPL debtors
LOOkI NG aheaD
As macro economic indicators
have trended toward a more
volatile climate in 2008,
BNI is still optimistic it can
achieve targeted growth in its
Hal ini merupakan pencapaian utama dalam penanganan NPL sepanjang tahun 2007 yang
berdampak pada perbaikan kualitas kredit.
Hasil yang dicapai merupakan bukti keberhasilan program yang dilakukan Divisi Kredit
Khusus yang bertanggung jawab dalam melakukan restrukturisasi dan perbaikan NPL
dengan efektif.
Sepanjang tahun 2007, Divisi Kredit Khusus menangani 822 debitur NPL dengan kredit
senilai Rp 3.23 triliun, terdiri dari 24 debitur korporasi, 20 debitur segmen menengah dan
778 debitur usaha kecil. Hasilnya, sejumlah Rp 1.55 triliun berhasil direstrukturisasi dan
masuk ke Golongan Lancar, sejumlah Rp 1.51 triliun tetap berada di golongan NPL dan
Rp 176 miliar dilunasi oleh 310 nasabah.
Mencermati dinamika NPL, BNI menerapkan beberapa strategi penanganan NPL di tahun
2008, antara lain :
Program percepatan restrukturisasi NPL
Pemantauan intensif debitur pasca-restrukturisasi
Ekspansi kredit dengan memperhatikan prinsip kehati-hatian
Memantau debitur pra-NPL untuk mengantisipasi dan mencegah penurunan status
menjadi NPL
Penyelesaian kredit NPL melalui proses pengadilan dan penjualan jaminan
Penerapan Peraturan Pemerintah No. 33/2005 khususnya terhadap debitur NPL segmen kecil
MeMaNDaNG ke DePaN
Di tengah kondisi ekonomi makro yang diprediksi uktuatif di tahun 2008, BNI tetap optimis
mampu mencapai pertumbuhan yang menjadi target bisnis koporasi. Namun, BNI akan lebih
berhati-hati dalam melakukan ekspansi kredit, dan hanya menyalurkan kredit korporasi pada
debitur yang telah melalui proses pengkajian dan memiliki tingkat resiko yang terukur.
CORP ORATE BANKI NG
137
Selain strategi penanganan NPL kredit korporasi, strategi berikut merupakan fokus utama
perbankan korporasi BNI dalam menghadapi tahun 2008:
Memprioritaskan pendekatan pada perusahaan terkemuka, yaitu perusahaan swasta yang
telah go publik dan BUMN yang memiliki nilai strategis.
Agresif membiayai debitur yang mengelola proyek infrastruktur (jalan tol, pembangkit
tenaga listrik, telekomunikasi dan transportasi) melalui pola pembiayaan sindikasi.
Mengembangkan pembiayaan agribisnis yang menghasilkan komoditas ekspor seperti
karet, coklat, gula dan produk agribisnis lainnya.
Mendorong pengembangan produk kunci seperti corporate nance, trade nance dan
cash management.
Segenap upaya yang dilakukan dalam mengembangkan bisnis korporasi bertujuan untuk
menempatkan posisi BNI sebagai bank yang menyediakan solusi keuangan menyeluruh bagi
perusahaan berskala besar di Indonesia.
corporate business.
However, we will be more
prudent in expanding loans,
approving only selected
corporate loans, with an
acceptable risk level.

Other than dealing with
corporate NPL as stated above,
the following strategy in
corporate business will become
our main focus in 2008:
Focus on leading companies,
both in private publicly-
listed companies and
state-owned companies with
strategic values
Aggressively pursue
potential borrowers,
especially those in
infrastructure projects
(toll roads, power plants,
telecommunications and
transportation) through
syndication schemes
Develop agribusiness
nancing schemes for
commodities such as rubber,
cocoa, sugar cane and other
areas of agribusiness
Set up new Corporate
Desk in regional ofces
(particularly in Surabaya)
as well as assigning a
dedicated Relationship
Manager in potential areas
in regions with a potential
agribusiness sector (Medan,
Palembang, Pekanbaru and
Banjarmasin)
Boost the utilization of key
products, such as corporate
nance, trade nance and
cash management
All efforts in expanding
corporate business will be
directed toward a brand
positioning of BNI as a
premier corporate bank,
providing total nancial
solutions to top-tier
companies in Indonesia.
P E RBANK AN I NTE RNASI ONAL & TRE ASURI
138
Dengan peningkatan kemampuan Teknologi
Informasi dan telekomunikasi di tengah
persaingan dengan perusahaan asing
yang beroperasi di Indonesia, BNI mampu
mencapai standar kualitas transaksi dan
layanan yang unggul.
By exploiting strong IT and telecommunications
capabilities and the sustained interest of foreign rms
in growing Indonesian markets, BNI adheres to high
standards of dealing and quality service.
I NTE RNATI ONAL BANKI NG & TRE ASURY
Perbankan Internasional & Tresuri
138
kiriman uang Masuk
(dalam jutaan usD)
Incoming Remittances
(in USD million)
04 05 06 07
1
1
,
8
9
9
1
2
,
4
0
8
1
0
,
8
9
0
1
1
,
0
0
0
kiriman uang keluar
(dalam jutaan usD)
Outgoing Remittances
(in USD million)
04 05 06 07
1
5
,
6
2
4
1
2
,
2
6
1
1
1
,1
8
1
9
,
4
0
9
Laporan Impor per Tahun
(dalam jutaan usD)
Volume of Imports per Year
(in USD million)
04 05 06 07
2
,
2
6
4
2
,
2
5
4
2
,1
4
8
2
,1
9
5
Laporan ekspor per Tahun
(dalam jutaan usD)
Volume of Exports per Year
(in USD million)
04 05 06 07
1
,
4
4
4
1
,
3
8
4
1
,
5
6
5
1
,
9
4
6
I NTE RNATI ONAL BANKI NG & TRE ASURY
139
P E RBANK AN I NTE RNASI ONAL & TRE ASURI
140
Pada tahun 2007, BNI International Banking memfokuskan diri pada peningkatan kualitas
layanan dan produk-produk perbankan internasional, dalam upaya memenuhi kebutuhan
nasabah dan perusahaan Indonesia atau perusahaan terkait lainnya di luar negeri. Untuk
itu BNI memanfaatkan kantor-kantor cabang di kota-kota besar seperti London, Singapura,
Tokyo, dan Hong Kong, serta kantor keagenan BNI di New York. Kantor-kantor cabang BNI
di luar negeri tersebut merupakan perpanjangan dari layanan domestik kepada nasabah.
Keberadaannya memungkinkan BNI untuk menyediakan layanan yang terpadu dan
komprehensif bagi para nasabah.
kerJasaMa DeNGaN MI Tra PerBaNkaN I NTerNasI ONaL
BNI telah melakukan beberapa kerjasama sepanjang tahun lalu dengan mitra-mitra
perbankan internasional, sebagai berikut:
BNI melakukan penandatanganan perjanjian dengan bank koresponden untuk memenuhi
kebutuhan pendanaan nasabah korporat, antara lain dengan pinjaman bilateral, sindikasi
dan bankers acceptance
Kerjasama pembayaran/transfer dana dengan beberapa agen pembayaran di Brunei
Darussalam dan Timur Tengah untuk mendukung pengiriman uang ke Indonesia oleh
Tenaga Kerja Indonesia (TKI) di wilayah itu. Per akhir 2007, BNI telah bekerjasama dengan
25 agen pengiriman uang, dan diharapkan kerjasama tersebut dapat meningkatkan
arus kiriman uang dari negara-negara tersebut. BNI memiliki 3 Kantor Perwakilan di
Timur Tengah
Penyediaan sarana transfer uang dari Malaysia, bekerjasama dengan bank koresponden di
negara tersebut
Untuk meningkatkan transaksi kiriman uang antara BNI dan bank-bank koresponden,
dilakukan kerjasama seperti multilateral direct settlement untuk memudahkan dan
mempercepat transaksi bagi nasabah. Melalui sistem tersebut, pembayaran dalam mata
uang yang berbeda dapat diselesaikan pada hari yang sama
BNI International Banking
dedicated itself in 2007 to
strengthening the quality
of services and upgrading
international banking
products, to more accurately
match customer needs
and those of Indonesian
businesses or other relevant
enterprises abroad. This took
the form of utilizing branch
ofces in urban centres
including London, Singapore,
Tokyo, and Hong Kong, as well
as a BNI agency ofce in New
York. BNI overseas branches
provide a reliable extension
of the domestic services
accessible to our customers.
The arrangement allows BNI
to provide integrated and
comprehensive service to its
customers.
COOPeraTI ve
aGreeMeNTs wI Th
I NTerNaTI ONaL BaNkI NG
ParTNers
BNI has concluded several
types of agreement during
the year, with its international
banking partners:
The Bank has pioneered
agreements with
correspondent banks
to fulll funding needs
in support of corporate
customers, with bilateral
loans, syndicated loans as
well as bankers acceptance
Remittance tie-ups with
several remittance agencies
in Brunei and the Middle
East, to facilitate the
movement of funds to
Indonesia from Indonesian
Migrant Workers (known
as TKI) in each specic
region. By end-2007, BNI
had concluded remittance
arrangements with 25
remittance agencies. The
Bank expects to benet
directly from the increased
ow of remittances from
these countries. BNI has 3
Representative Ofces in
Middle East
Setting up a system of
money transfer services from
Malaysia, in cooperation
with a correspondent bank
in that country
In order to stimulate BNI
payment transactions with
selected correspondent
banks, arrangements such as
multilateral direct settlement
make it easier and quicker
for customers to carry out
transactions. Through this
arrangement, payment in
I NTE RNATI ONAL BANKI NG & TRE ASURY
141
Perjanjian ISDA (International Swap and Derivative Agreement) tambahan telah dilakukan
dengan mitra-mitra seperti BNP Paribas, Citibank NA, DBS Singapore, dan DBS Indonesia.
Strategi lain untuk meningkatkan layanan bagi nasabah adalah memperluas jaringan dan
cakupan bank-bank koresponden, meningkatkan fokus terhadap nasabah, dan memperbaiki
proses yang telah berlangsung.
MeMPerLuas JarI NGaN
Salah satu faktor kunci dalam strategi pertumbuhan dan layanan adalah memperluas jaringan
cabang dan bank koresponden. Saat ini jaringan perbankan internasional BNI didukung
oleh 841 bank koresponden di sekitar 83 negara. Dengan demikian, BNI memegang posisi
strategis dalam menyediakan produk dan layanan perbankan internasional yang dibutuhkan
secara efektifbagi nasabah yang berbisnis di luar negeri, baik korporat maupun perorangan.
Selain lima kantor cabangnya di luar negeri, BNI menempatkan tiga petugas pemasaran
untuk meningkatkan pertumbuhan layanan kiriman uang di Arab Saudi, Uni Emirat Arab,
dan Bahrain. BNI juga kini mempermudah nasabah untuk melakukan transaksi kiriman uang,
yaitu dengan menyediakan sarana untuk membuka rekening baru di Singapura, Hong Kong,
dan sarana pra-pembukaan rekening di Timur Tengah. Dengan demikian nasabah kini dapat
membuka rekening dari luar negeri.
Strategi bisnis kiriman uang dititikberatkan pada peningkatan volume transaksi dan fee-based
income. Bersamaan dengan itu, telah dilakukan perluasan jaringan dan pengembangan
tur produk secara berkesinambungan. Hasilnya, volume transaksi kiriman uang ke luar
meningkat sebesar 9,5% dibandingkan dengan 2006dari 136.221 slip ke 149.168 slip.
Sementara volume kiriman uang masuk (TT) pada 2007 menurun sebesar 6,1%, dari
2.164.288 slip pada 2006 menjadi 2.031.704 slip.
different currencies may be
settled within the same day
Additional ISDA
(International Swap and
Derivative Agreement)
agreements were concluded
with counterparts including:
BNP Paribas, Citibank NA,
DBS Singapore and
DBS Indonesia
Other steps aimed at building
service to customers include
broadening networks and
correspondent bank scope,
sharpening customer focus
and rening sustainable
processes.
BrOaDeNI NG NeTwOrks
One key aspect in our
strategy of growth and
services is broadening
networks and correspondent
bank networks. BNI currently
has an international banking
network supported by
841 correspondent banks
in some 83 countries.
Thus BNI has assumed a
strategic position in
providing relevant and
effective product and
international banking
services to both corporate
and individual customers
doing business abroad.
In addition to our ve overseas
branches, BNI currently
assigns three remittance
representative ofcers to
boost money remittance and
transfer services in Saudi
Arabia, the United Arab
Emirates and Bahrain. BNI
has also made it easier for
customers to carry out their
remittance transactions, by
opening a new account facility
in Singapore, another in Hong
Kong and as well a Pre-Open
Account facility in the Middle
East, enabling customers to
open a bank account from
abroad.
The remittance business
strategy has become more
focused on increasing the
volume of transactions and
raising fee-based income.
There are also efforts to
broaden networks and
enhance sustainable product
feature developments. As
a result, the volume of
transactions of outgoing
transfers, at 149,168 slips,
marked an 9.5% increase
over the 2006 gure of
136,221slips.
The volume of incoming
transfer transactions (TT) in
P E RBANK AN I NTE RNASI ONAL & TRE ASURI
142
2007 declined by 6.1%, from
2,164,288 slips in 2006 to
2,031,704 slips.
Our broad network also
supported the growth of
trade nance. The volume of
exports reached USD 1.44
billion, thereby showing an
increase of some 4.4% over
the corresponding period for
the previous year. Meanwhile,
import volume reached USD
2.26 billion, increasing some
0.4% from the previous years
gure of USD 2.25 billion.
I NCreasI NG CusTOMer
FOCus
In 2007, BNI continued its
quest to increase customer
focus, as well as securing
more corporate, trade and
remittance customers. This
took the form of ways such
as knowledge sharing with
importers and exporters,
giving them a deeper
understanding of trade nance
transactions.
susTaI NaBLe PrOCess
I MPrOveMeNTs
In support of sustainable
processes at BNI, step by
step the Bank upgrades its
trade process centre, to build
customer trade services.
Working through its trade
processing center, the
Bank carried out accurate
quality monitoring of trade
service, the objective being
to integrate the varied trade
service needs of customers.
In the Banks Trade Processing
Centres (TPC), initiatives to
implement a faster cycle time
in trade document examination
are already in line with targets.
The duration for document
examining, from the moment
a document is received to its
approval, has decreased from
2.5 hours in 2006 to 2.2 hours
in 2007.
Process improvements in BNI
have also been recognized by
our counterparts. In 2007, BNI
received a Quality Recognition
Award for USD Clearing from
JP Morgan and an Honorary
Service Improvement mention
from Citigroup.
Jaringan yang luas juga mendukung pertumbuhan bisnis pembiayaan perdagangan
(trade nance). Volume ekspor mencapai USD 1,44 milyar, atau meningkat sebesar 4,4%
dibandingkan dengan periode yang sama di tahun sebelumnya. Sedangkan volume impor
mencapai USD 2,26 milyar, atau tumbuh sebesar 0,4% dibandingkan dengan tahun
sebelumnya sebesar USD 2,25 milyar.
MeNI NGkaTkaN FOkus NasaBah
Pada 2007, BNI kembali memperkuat fokusnya kepada nasabah dan terus berupaya
menarik nasabah baru untuk layanan korporat, perdagangan, dan pembayaran. Sehubungan
dengan itu, telah diterapkan metode-metode seperti berbagi ilmu (knowledge sharing)
dengan para importir dan eksportir untuk meningkatkan pengetahuan mengenai transaksi
pembiayaan perdagangan.
PeNI NGkaTaN PrOses yaNG BerkesI NaMBuNGaN
Dalam upaya mendukung proses yang berkesinambungan, secara bertahap BNI meningkatkan
Trade Processing Center untuk mengembangkan layanan bagi nasabah. Melalui Trade
Processing Center tersebut BNI dapat memantau kualitas layanan secara akurat, untuk dapat
mengintegrasikan berbagai layanan perdagangan yang dibutuhkan nasabah.
Di Trade Processing Center, upaya-upaya untuk mempercepat waktu pemeriksaan dokumen
perdagangan telah memenuhi target. Durasi pengkajian dokumen, mulai sejak dokumen
diterima hingga disetujui, dapat dipercepat dari 2,5 jam pada 2006 menjadi 2,2 jam di
tahun 2007.
Peningkatan proses di BNI juga telah diakui oleh para mitra kerja. Pada 2007 BNI menerima
Quality Recognition Award untuk USD Clearing dari JP Morgan dan Honorary Service
Improvement dari Citigroup.
I NTE RNATI ONAL BANKI NG & TRE ASURY
143
Beberapa program yang telah diimplementasikan selama 2007 antara lain adalah:
Kunjungan kerja rutin ke agen-agen pengiriman uang di Timur Tengah untuk mendorong
transaksi kiriman uang dari TKI melalui BNI, dengan menggunakan sarana Remittance Plus
Program pra-pembukaan rekening di Timur Tengah, untuk mendorong transaksi kiriman
uang dengan mempercepat dan melindungi proses transaksi nasabah
Peluncuran BNI KU (Kiriman Uang) di Timur Tengah, didukung oleh kampanye pemasaran
below-the-line
Program edukasi di bidang transaksi layanan perdagangan untuk para nasabah importir
dan eksportir, melalui pelatihan di berbagai wilayah di Indonesia
hasI L usaha
Kantor-kantor cabang di luar negeri menghimpun laba bagi BNI, yaitu sekitar USD 12 juta
atau meningkat sebesar 20% dibandingkan pencapaian di tahun sebelumnya. Pertumbuhan
tersebut dipicu oleh kenaikan sebesar 37% di aset produktif, termasuk pinjaman, tagihan
ekspor, piutang, dan lain sebagainya. Eksistensi BNI di pusat-pusat keuangan global
membawa berbagai keuntungan, antara lain:
Akses ke pasar global, yang mendorong kerjasama dan perjanjian bisnis dengan bank-
bank koresponden dan mitra bisnis lainnya, sehingga memungkinkan BNI untuk terlibat
langsung di setiap jenis aktitas perbankan internasional
Memperkokoh citra BNI sebagai institusi keuangan yang disegani di Asia Tenggara, serta
memungkinkan BNI untuk mengembangkan usahanya dan melakukan berbagai transaksi
dengan bank-bank serta nasabah internasional
LayaNaN TresurI
Komitmen BNI untuk memperkuat layanannya kepada nasabah tercermin dari produk dan
layanan tresuri. Peningkatan volume bisnis dicapai dengan cara menjemput bola dimanapun
nasabah berada, melalui layanan Treasury Remote Area di beberapa kota di luar Jakarta
Among other initiative
programs carried out in 2007:
Frequent marketing visits
to company exchanges
in the Middle East, to
stimulate money transfer
transactions from overseas
workers through BNI, using
Remittance Plus applications
Pre-open account programs in
the Middle East, the purpose
of which has been to build
the volume of remittance
transactions, through changes
to accelerate and safeguard
the transaction process for
customers
Launching of BNI KU
(Kiriman Uang or money
transfers) in the Middle
East, a move which also
supports our marketing
campaign through below-
the-line promotional
materials
Education programs in
trade nance transactions
for import and export
customers, through
workshops held in various
regions of Indonesia
BusI Ness resuLTs
Overseas branches
continued to contribute to
the protability to BNI, with
total income of approximately
USD 12 million, an increase
of 20% over the gure for
the previous year: this net
increase may be attributed
to a 37% rise in productive
assets, including loans,
export bills, receivables &
others. Such a prominent
BNI presence in every major
global nancial centre yields
benets, such as:
Access to global markets,
thus facilitating cooperation
and closing deals with
correspondent banks and
other partners; this enables
BNI to be directly involved
in every type of international
banking activity
Raising the profle of BNI
as a respected key nancial
institution in the Southeast
Asian region, while enabling
BNI to develop its enterprises
and carrying out transactions
with other international
banks and customers
Treasury servI Ces
BNIs commitment to
strengthen service to
P E RBANK AN I NTE RNASI ONAL & TRE ASURI
144
customers is also evident
in its treasury products and
services. Greater business
volume is achieved by going
out to customers, no matter
where they might be, with
the Treasury Remote Area in
several cities outside Jakarta
including Surabaya, Medan
and Makassar, accessing
exchange rates through SMS
as well as Direct Dealing
facilities for customers.
In the Custodial Services
Section of Trustee and Agency
services, BNI implemented a
system supporting facilities
for custodial customers:
Euroclear System helps
customers who want to carry
out transactions in foreign
currencies, while the web-
based Client Information
Portfolio System and Client
Information Module enables
customers to gain convenient
yet secure access to
monitor portfolios.
BNI also handles banknote
transactions, both interbank
and corporate, dealing in major
currencies at competitive
prices. Buying and selling of
banknotes enables BNI to
benet through augmented
transaction volumes as well as
building income.
To gain a more accurate
understanding of customer
needs in Treasury Services,
BNI conducts an annual
Customer Survey, running on
a continuous basis, to improve
and expand the range of
available services.
In carrying out its mission,
such as returning a maximal
net contribution to BNI, the
Treasury Division always
strives to increase asset
yields through efcient
portfolio allocation and
yield enhancement
programs, both manifested
through cooperation with
counterpart institutions.
Some of the initiatives
of BNI treasury business
implemented in 2007:
From March, a Medan
based Treasury Remote Area
activated transactions, while
by end-2007 a comparable
seperti Surabaya, Medan, dan Makassar; penyampaian informasi nilai tukar melalui SMS,
dan melalui fasilitas Direct Dealing bagi nasabah.
Layanan Kustodian BNI telah mengimplementasikan sarana pendukung sistem bagi nasabah
kustodianyaitu Euroclear System yang membantu nasabah dalam transaksi mata uang
asing; serta Client Information Portfolio System dan Client Information Module yang berbasis
web yang memungkinkan nasabah untuk memantau portofolionya secara mudah dan aman.
BNI juga melayani jual-beli uang kertas baik dengan bank lain maupun nasabah korporat,
untuk berbagai mata uang utama dan dengan harga yang kompetitif. Melalui layanan
tersebut BNI dapat meningkatkan volume transaksi dan pendapatan.
Agar dapat memahami kebutuhan nasabah atas layanan tresuri secara tepat, BNI
melakukan survei nasabah setiap tahun secara berkesinambungan, untuk meningkatkan dan
memperluas cakupan layanan.
Dalam upaya mewujudkan misinya memberikan kontribusi yang maksimal bagi BNI, Divisi
Tresuri berfokus pada peningkatan return on asset melalui alokasi portofolio yang esien dan
program-program peningkatan hasilkeduanya diwujudkan melalui kerjasama dengan mitra-
mitra bisnis.
Beberapa usaha yang telah dilakukan oleh BNI Treasury pada tahun 2007 diantaranya:
Pengoperasian Treasury Remote Area di Medan sejak Maret. Di akhir 2007, pendirian
Treasury Remote Area di Makassar yang direncanakan akan mulai beroperasi pada
Januari 2008
Sejalan dengan budaya BNI yaitu perbaikan berkesinambungan, Divisi Tresuri telah
menyelesaikan implementasi proyek Six SigmaNet Open Position dan Six Sigma
Banknotes untuk mendukung kegiatan usahanya. Proyek Six SigmaNOP mendukung
I NTE RNATI ONAL BANKI NG & TRE ASURY
145
BNI dalam mengelola net open position (NOP) secara lebih efektif, sedangkan Six Sigma
Banknotes menekan biaya melalui esiensi saldo uang kertas, sehingga menguntungkan
transaksi antar bank dan dengan nasabah
Implementasi 15 Buku Pedoman Perusahaan di Divisi Tresuri, melalui BNI Online-SOP
Implementasi pemantauan uang kertas tunai melalui forum Executive Information System,
serta penentuan kurs harian Visa On Arrival di seluruh BNI, melalui BNI Forum
Peningkatan sistem front ofce di dealing room yang mendukung pengembangan
sistem middle ofce pada tahun 2008 sehingga staf dapat memonitor perbandingan
harga transaksi dengan harga pasar, posisi setiap saat, implementasi Straight Through
Processing (STP) transaksi e-trading, serta penyempurnaan Disaster Recovery Plan (DRP)
untuk sistem tresuri
Melaksanakan opsi penarikan (call option) terhadap obligasi Subordinasi pada November
2007, senilai USD 150 juta untuk menekan biaya bunga yang tinggi
MaNaJeMeN LI kuI DI Tas
Selain mengelola likuiditas BNI, Divisi Tresuri juga berkewajiban untuk mematuhi peraturan
Bank Indonesia dalam hal giro wajib minimum dan menjaga agar rasio Posisi Devisa Netto
tidak melewati batas yang ditetapkan.
Selama tahun 2007, Divisi Tresuri dapat memenuhi Giro Wajib Minimum devisa, sebesar
3,03%, dan menjaga Cadangan Wajib Minimum rupiah berada di kisaran 14,74% hingga
11,04%. Selama paruh kedua 2007, Cadangan Wajib Minimum rupiah menurun hingga
11,04% sebagai dampak positif dari peningkatan rasio pinjaman terhadap dana pihak ketiga
BNI (LDR).
BNI senantiasa berhati-hati dalam manajemen risiko untuk meminimalkan kerugian dan efek
risiko nilai tukar, dengan mengurangi (dan sedapat mungkin menghindari) mismatch mata
uang antara kewajiban Bank dan kemampuan untuk memenuhi kewajiban tersebut. Sesuai
Treasury Remote Area in
Makassar was set up, the plan
being to activate transactions
in January 2008
In line with BNI value
culture stressing continuous
improvement, Treasury
completed implementation
of its Six SigmaNet Open
Position project, as well as
its Six SigmaBanknotes
in support of its treasury
business. Six Sigma-NOP
projects supported BNI
in managing net open
positions (NOP) more
effectively, while through Six
Sigma-Banknotes, higher
repatriation efciency costs
of idle banknote balances
will benet interbank and
customer transactions
Implementations of 15
Standard Operating
Procedures (SOP) in the
Banks Treasury business,
through BNI Online-SOP
Implementation of
monitoring cash banknotes
through an Executive
Information System forum;
determining Visa On Arrival
daily rates throughout BNI,
through a BNI Forum
Upgrading front-offce
systems in the Dealing
Room which supports the
development of a middle-
ofce system in 2008 so
that staff will be able to
monitor transaction rates
vs market rates, real-time
positions, implementation of
Straight Through Processing
(STP) e-trading transactions,
and as well completing
the Disaster Recovery Plan
(DRP) for treasury systems
The Bank exercised its call
option for BNI Subordinate
Bonds in November 2007,
amounted to USD 150
million. The objective was to
avoid high interest rate costs
LI quI DI Ty MaNaGeMeNT
In addition to being
responsible for managing
BNI liquidity, Treasury SBU is
also obliged to comply with
Bank Indonesia regulations in
managing minimum reserve
requirements and holding an
acceptable Net Open Position
ratio (NOP).
Throughout 2007, Treasury
succeeded in meeting an
P E RBANK AN I NTE RNASI ONAL & TRE ASURI
146
average Minimum Reserve
Requirement (MRR) of foreign
exchange, peaking at 3.03%,
and an average Rupiah MRR
of between 14.74% and
11.04%. During the second
half of 2007, the Banks
Rupiah MRR volume declined
to 11.04%, as a positive
impact of raising the ratio of
BNIs Loan Deposit Ratio.
BNI has always adhered to
caution in risk management,
minimizing losses, and we
have also managed the
Banks exposure to foreign
exchange risks by reducing
(and as much as possible
avoiding) any currency
mismatch between the Banks
obligations and its ability to
fund those obligations. In
aligning itself to this policy,
the average NOP ratio is as
high as 6.33%, still below the
maximal NOP ratio of 20%, as
stipulated by Bank Indonesia.
Money market transactions
in 2007 recorded a trade
volume of Rp 3,941 trillion,
a total 57% higher than the
previous years level. Further,
interbank foreign exchange
trading for 2007 reached
USD 25.47 billion, 16% over
the previous years volume.
Marketable securities trading
was recorded at Rp 64.46
trillion and USD 569 million,
compared to the previous
years gures of Rp 32.28
trillion and USD 490 million.
Increasing trade volume was
accompanied by an increase
in income from marketable
securities, which reached
Rp 1.18 trillion, a signicant
increase over the 2006 gure
of Rp 506 billion.
dengan kebijakan tersebut, rasio rata-rata NOP riil adalah sebesar 6,33% masih di bawah
ketentuan NOP maksimal sebesar 20%, seperti yang ditetapkan oleh Bank Indonesia.
Transaksi pasar uang pada tahun 2007 mencatat volume perdagangan sebesar Rp 3.941
triliun, atau 57% di atas tahun sebelumnya. Perdagangan valuta asing antar bank di tahun
2007 mencapai USD 25.47 miliar16% di atas volume tahun sebelumnya. Transaksi surat
berharga yang dapat diperdagangkan tercatat sebesar Rp 64,46 triliun dan USD 569 juta,
sedangkan pencapaian di tahun sebelumnya adalah sebesar Rp 32,28 triliun dan USD 490
juta. Kenaikan volume perdagangan disertai dengan kenaikan pendapatan dari surat berharga
06 07
volume Perdagangan valas dan Transaksi surat Berharga
Volume of Foreign Exchange Trading and Marketable Securities Transactions
64.459
32.280
06 07
569
490
06 07
25.465
21.860
Volume Perdagangan
Valas (eqv. jutaan USD)
Volume of Foreign Exchange
Trading (eqv. USD million)
Surat Berharga Valas
(eqv. jutaan USD)
Marketable Securities Forex
(eqv. USD million)
Surat Berharga Rupiah
(dalam jutaan Rp)
Marketable Securities Rupiah
(in Rp million)
99.69% 16.08% 16.49%
I NTE RNATI ONAL BANKI NG & TRE ASURY
147
yang dapat diperdagangkan sebesar Rp 1,18 triliun, yang merupakan kenaikan yang signikan
dari tahun 2006 sebesar Rp 506 miliar.
reNCaNa ke DePaN
Tujuan strategis utama tahun 2008 di sektor perbankan internasional dan tresuri adalah
peningkatan kualitas layanan yang selama ini telah berjalan dengan sangat baik, untuk
meningkatkan kepuasan nasabah dan bank koresponden serta mencapai perolehan laba
yang optimal. Beberapa hal yang akan dilakukan antara lain:
Mengoperasikan program sentralisasi kiriman uang
Meningkatkan proses transaksi kiriman uang masuk (incoming transfer) dengan
mendorong volume transaksi yang diproses melalui Straight Through Processing (STP)
Membuka tambahan gerai kiriman uang di Timur Tengah
Mengimplementasikan MIS Trade Finance, sehingga memungkinkan sistem manajemen
informasi yang tepat waktu, esien, efektif
Mengimplementasikan pengembangan Trade Application Support System
Merevitalisasi usaha kustodian dan wali amanat
Mengimplementasikan Condor Trade Processing System untuk meningkatkan transaksi tresuri
(pasar uang, valuta asing, dan pasar modal) melalui Straight Through Processing (STP)
Meningkatkan pendanaan jangka pendek, menengah dan panjang baik dalam Rupiah
maupun mata uang asing lainnya
LOOkI NG FOrwarD
The prime strategic target
for the coming year in
international banking and
treasury services will be
to augment an existing
excellent quality of service,
thus building satisfaction
among customers and
correspondents while
returning optimal prot
contributions to BNI. BNI
plans to implement the
following in the coming year:
Centralized payment
programs
Upgrading the incoming
transfer transaction process
through increasing the
volume of transactions
processed by Straight
Through Processing (STP)
Opening two more money
transfer outlets in Middle
East countries
Trade Finance MIS
implementation
Implement a new Trade
Application Supporting
System (TASS)
Revitalization of custodial
and trustee business
Implementation of Condor
Trade Processing System,
upgrading treasury
transactions (money
markets, forex and capital
markets) as carried out
through Straight Through
Processing (STP)
Raising short-term as well
as medium-term and long-
term funding in Rupiah and
other foreign currency
P E RBANK AN SYARI AH
148
BNI membangun bisnis perbankan syariah
sejak bulan April 2000, menawarkan produk
pembiayaan dan pendanaan yang sejalan
dengan prinsip syariah. Dewasa ini, sosok BNI
Syariah tampil di tengah persaingan industri
perbankan syariah, yang terdiri dari tiga bank
syariah dan dua puluh lima bank konvensional
yang memiliki layanan syariah.
BNI established its sharia banking business in April 2000,
offering nancing and funding product that is in line with
Islamic Sharia principles. Today, there are three exclusively-
sharia Banks and sharia business units within twenty-ve
conventional banks; BNI is one of these, with its unique BNI
Syariah products.
SHARI A BANKI NG
Perbankan Syariah
148
Total Pembiayaan syariah
(rp triliun)
Total Sharia Financing
(Rp trillion)
05 06 07
1,80
1.13
0.84
Total Penghimpunan Dana
syariah (rp triliun)
Total Sharia Funding
(Rp trillion)
05 06 07
1,80
1.12
0.86
SHARI A BANKI NG
149
P E RBANK AN SYARI AH
150
Financing at BNI Syariah
focuses on agriculture, trade,
manufacturing and housing
sectors. Most transactions
occur through Murabahah
nancing, the way generally
chosen for the purchase
of an asset. BNI Syariah
nances an asset to the client
for an agreed schedule of
repayments and the asset will
belong to the client.
Musyarakah and
Mudharabah nancing are
customarily used for nancing
projects or other productive
uses. In a Musyarakah
deal, BNI Syariah and the
customer jointly contribute
funds required, and share
the revenues or prots from
the venture.
In Mudharabah nancing, BNI
Syariah provides 100% of the
funds required for the venture,
and generally receives a
higher proportion of revenue
or prots in return.
BNI syarI ah Grew
sI GNI FI CaNTLy I N 2007.
Over the year, BNI Syariah
Assets grew 56.3%, from
Rp 1.6 trillion in 2006 to
Rp 2.5 trillion in 2007; BNIs
Sharia market share was thus
able to grow from 5.8% in
2006 to 7.0% in 2007. This
rise in market share has a
positively effect, in that BNI is
able to maintain its position as
a bank with the fourth-largest
sharia banking market share
in Indonesia. The rise of BNI
Syariah assets, noted with
the rise of nancing, leapt by
59.3%, from Rp 1.13 trillion
in 2006 to 1.8 trillion Rupiah
in 2007, and with the rise
of third-party fund soaring
60.7%, from Rp 1.12 trillion in
2006 to Rp 1.8 trillion in 2007.
Fokus pembiayaan BNI Syariah adalah pertanian, perdagangan, industri manufaktur dan
perumahan. Pembiayaan dilakukan melalui produk Murabahah yang tercatat sebagai
transaksi yang terbanyak dipilih nasabah untuk pembelian aset. Atas aset yang telah
disepakati nasabah, maka BNI Syariah memberikan pembiayaan dengan skema pembayaran
yang telah disetujui bersama dan aset menjadi milik nasabah.
Pembiayaan Musyarakah dan Mudharabah umumnya digunakan untuk membiayai suatu
proyek atau usaha produktif lain. Dalam transaksi Musyarakah, BNI Syariah dan nasabah
bersama-sama mengkontribusikan dana yang diperlukan kemudian berbagi keuntungan dari
hasil yang peroleh. Sedangkan dalam pembiayaan Mudharabah, BNI Syariah menyediakan
100% dana yang diperlukan dan porsi keuntungan yang lebih besar dari hasil usaha
yang diperoleh.
BNI syarI ah TuMBuh PesaT DI TahuN 2007
Aset BNI Syariah tumbuh 56,3% dari Rp 1,6 triliun pada tahun 2006 menjadi Rp 2,5 triliun
pada tahun 2007 sehingga pangsa pasar BNI Syariah naik dari 5,8% di tahun 2006 menjadi
7,0% di tahun 2007. Kenaikan pangsa pasar tersebut berdampak positif bagi BNI,
yang mampu mempertahankan posisinya sebagai bank dengan pangsa pasar terbesar
keempat dalam industri perbankan Syariah di Indonesia. Kenaikan aset BNI Syariah ditandai
dengan naiknya Pembiayaan sebesar 59,3% dari Rp 1,13 triliun di tahun 2006 menjadi
Rp 1,8 triliun di tahun 2007 serta kenaikan Dana Pihak Ketiga sebesar 60,7% dari
Rp 1,12 triliun di akhir 2006 menjadi Rp 1,8 trilun di tahun 2007.
Sampai dengan Desember 2007, pertumbuhan aset, ekspansi pembiayaan maupun
penghimpunan DPK BNI Syariah berhasil melampaui pertumbuhan rata-rata industri
perbankan syariah di Indonesia. Di sisi aset, BNI Syariah mampu meraih pertumbuhan 56%.
12%
42% 46%
komposisi Dana syariah
Sharia Fund Composition
Tabungan Syariah
Sharia savings
Deposito Syariah
Sharia time deposit
Giro Wadiah
Wadiah current account
SHARI A BANKI NG
151
Through December 2007,
asset growth, nancing
expansion and third-party
funds within BNI Syariah were
able to exceed the average
growth of the sharia banking
industry in Indonesia. In terms
of total assets, BNI Syariah
was able to mark a gure
of 56% in growth, and BNI
Syariah nancing was thus
able to reach a growth gure
59% higher than that of the
sharia industry in general
(37%). From third party funds,
BNI Syariah was able to reach
61% higher growth than that
of sharia competitors, who
recorded an average of 35%.

As an aspect of the fullment
of sharia banking principles,
all sharia nancing must utilize
funds received with Islamic
principles, including the
source of BNI Syariah funds
from customers as well as
from sharia placement by third
parties. Total assets of BNI
Syariah to BNI total assets
increased from 0.9% in 2006
to become 1.4% in 2007.
Financing ratios to third
party funding (analogous to
the Loan-to-Deposit Ratio
in conventional banking
terminology) reached 100%.
The nancing portfolio
enacted by BNI Syariah is
dominated by Murabahah
nancing, with Rp 1.47
trillion or 81.5%, followed by
Mudharabah and Musyarakah
nancing with Rp 270.5 billion
(15%) and Qard nancing with
Rp 62.7 billion (3.5%).
Among nancing products,
Murabahah recorded their
highest growth with 70.4%,
followed by Mudharabah and
Musyarakah with 24%. The
high increase of Murabahah
Pembiayaan BNI Syariah juga mampu mencapai pertumbuhan 59% yang berarti lebih tinggi
dibandingkan rata-rata pertumbuhan perbankan syariah sebesar 37%. Demikian pula dari sisi
penghimpunan Dana Pihak Ketiga (DPK), BNI Syariah mampu mencapai pertumbuhan 61%,
lebih tinggi dari rata-rata pertumbuhan pesaingnya sebesar 35%.
Sebagai bagian dari pemenuhan prinsip perbankan syariah, seluruh pembiayaan syariah
harus berasal dari pendanaan syariah, termasuk sumber dana syariah BNI dan penempatan
dana syariah oleh pihak ketiga di BNI. Total aset BNI Syariah terhadap total aset BNI
meningkat dari 0,9% tahun 2006 menjadi 1,4% di tahun 2007.
Rasio pembiayaan terhadap dana pihak ketigaserupa dengan Loan-to-Deposit Ratio
dalam istilah perbankan konvensionalmencapai 100%. Portofolio pembiayaan BNI Syariah
didominasi oleh pembiayaan Murabahah, yang tercatat senilai Rp 1,47 triliun atau 81,5%,
diikuti oleh pembiayaan Mudharabah dan Musyarakah sebesar Rp 270,5 miliar (15%), serta
pembiayaan Qard senilai Rp 62,7 miliar (3,5%).
Sedangkan dari sisi pembiayaan, produk Murabahah mencatat pertumbuhan tertinggi
sebesar 70,4% disusul dengan pembiayaan Mudharabah dan Musyarakah sebesar 24%.
Tingginya pertumbuhan Murabahah disebabkan produk ini memiliki skema transaksi yang
relatif lebih mudah dimengerti dan diaplikasikan dalam skema pembiayaan syariah, karena
cenderung serupa dengan kredit konvensional. Di sisi lain, produk Murabahah didominasi
oleh pembiayaan konsumtif yang tumbuh lebih tinggi dibandingkan pembiayaan produktif.
Pertumbuhan pembiayaan BNI Syariah sepanjang periode 20062007 tumbuh lebih pesat
dibandingkan rata-rata perbankan syariah, sehingga berdampak positif terhadap peningkatan
pangsa pasar pembiayaan dari 5,5% menjadi 6,5%.
15%
3%
82%
komposisi Pembiayaan
syariah
Sharia Financing Composition
Pembiayaan Murabahah
Murabahah Financing
Pembiayaan Mudharabah
& Musyarakah
Mudharabah & Musyarakah
Financing
Piutang Lainnya (Qard)
Other (Qard)
P E RBANK AN SYARI AH
152
is probably because the
transaction scheme is
relatively easier to understand,
as this product is similar to
conventional loans. Moreover,
the Murabahah is dominated
by consumer nancing, which
has a higher growth rate than
productive nancing.
The growth of BNI Syariah
nancing for 20062007
was above sharia banking
averages, which expanded its
market share, moving from
5.5% to 6.5%.
The signicant nancing
growth was also supported by
a declining Non Performing
Financing (NPF) Sharia:
by December 2007 this
marked 6.07% (Rp 109.29
billion), below the December
2006 level of 12.43%
(Rp 140.78 billion), signalling
an improvement in quality
of nancing.
During 2007, total funding
accounts in BNI Syariah grew
38%, to 185.500 accounts.
The highest growth was noted
for Mudharabah Deposits,
which grew 31.6% to 7,900
accounts, followed by Sharia
Savings, which grew 27.4%
to 175,300 accounts, while
current accounts grew 24.3%,
to 2,300 accounts. Funding
composition was dominated
by Mudharabah Savings and
Wadiah Current Accounts, for
58.1%, compared to Sharia
time deposits, which reached
Rp 755.2 billion, or 41.9%.

BNI offers sharia service
through 24 Sharia main
branch ofces, and 30 Sharia
sub-branch ofces (which are
part of BNI domestic branch
ofces), as well as through
136 Sharia channeling outlets
at conventional branch ofces.
Bank Indonesia Regulations
No. 8/3/PBI/2006, dated
30 January 2006, renewed by
Bank Indonesia Regulations
No. 9/7/PBI/2007, dated
04-05-2007, regarding
Channeling ofces is in line
with BNI Syariah strategy;
that BNI expand BNI Syariah
outlet networks by using
the network of conventional
branch ofces. The BNI
branch ofce network,
which is widely distributed,
has an advantage for BNI
Kinerja pertumbuhan pembiayaan yang cukup signikan juga ditunjang oleh turunnya
tingkat Non Performing Financing (NPF) Syariah per Desember 2007 sebesar 6,07%
(Rp 109,29 miliar) dibanding posisi Desember 2006 sebesar 12,43% (Rp 140,78 miliar) yang
menunjukkan membaiknya kualitas pembiayaan.
Selama tahun 2007, jumlah rekening produk simpanan BNI Syariah tumbuh 38% menjadi
185.500 rekening. Pertumbuhan tertinggi diraih oleh deposito Mudharabah yang tumbuh
31,6% menjadi 7.900 rekening, diikuti oleh tabungan Mudharabah yang tumbuh 27,4%
menjadi 175.300 rekening dan giro yang tumbuh 24,3% menjadi 2.300 rekening. Komposisi
pendanaan tetap didominasi dana murah yaitu tabungan Mudharabah dan Giro Wadiah
sebesar 58,1% dibandingkan deposito Syariah yang mencapai Rp 755,2 miliar atau 41,9%.
BNI menawarkan layanan Syariah melalui 24 kantor cabang Syariah dan 30 kantor cabang
pembantu Syariahyang merupakan bagian dari kantor cabang dalam negeri BNIserta 136
channelling outlet Syariah pada kantor-kantor cabang konvensional.
Keberadaan Peraturan BI No. 8/3/PBI/2006 tanggal 30 Januari 2006 yang kemudian
diperbaharui dengan Peraturan BI No. 9/7/PBI/2007 tanggal 4 Mei 2007 tentang Ofce
Channeling mendukung strategi BNI Syariah. BNI memperluas jaringan outlet BNI Syariah
dengan memanfaatkan jaringan kantor cabang BNI yang ada. Jaringan cabang BNI yang
luas sangat menguntungkan posisi BNI Syariah, yang memanfaatkan peluang dengan
membuka layanan syariah di kantor cabang konvensional, untuk menjalankan kegiatan
penghimpunan dana maupun penyaluran pinjaman.
Dalam menjalankan kegiatan operasional, BNI Syariah menganut prinsip-prinsip syariah.
Keigatan operasional ini didukung oleh produk-produk unggulan, seperti kartu Syariah BNI,
SHARI A BANKI NG
153
Syariah, especially in utilizing
conventional branch ofces
to handle sharia business as
well as for third party fund
collection activities.
BNI Syariah operates on
Sharia principles, supported
by excellent products such as
the BNI Syariah Card, which
has been enhanced with SMS
banking, internet banking,
phone banking and its new
function as a debit card.
Improved nancing, funding
and nancing quality have a
positive effect on our prot,
which during 2007 reached
Rp. 19.24 billion, representing
an increase of 26.41%
over last years prot of
Rp 15.20 billion.
The seventh year of operation
of BNI Syariah in Indonesia
has yielded satisfactory
results, compared to previous
years, as recognised by
awards received, such as
Indonesia Sharia Bank Loyalty
Index (ISBLI 20062007)
category, 1st Rank for
Customer Satisfaction Index
and 1st Rank for Customer
Loyalty Programme from
MarkPlus Insight & InfoBank
Magazine. Also, BNI Syariah
received awards from Bank
Indonesia for its Sharia
Banking Acceleration
Programme as The Best
Market Share Expansion
in 2007.
LOOkI NG aheaD
BNI Syariah is aware that
the Indonesian Sharia
banking sector will face
major challenges, which
demand that BNI Syariah be
able to increase its growth
consistently, by considering
market trends and facing
head to head competition
with conventional banks.
The presence of sharia
banking is relatively new in
the conventional banking
landscape, which posed
BNI Syariah a formidable
challenge, because of
limited networks and human
resources competency. Not
only was this true on the
management side but also
there was only a limited
public knowledge and
awareness of sharia banking.
To overcome obstacles,
vigorous promotional activities
yang dapat digunakan sebagai kartu debit, serta dilengkapi dengan tur SMS banking,
internet banking, dan phonebanking.
Kinerja pembiayaan dan dana serta kualitas pembiayaan yang membaik berdampak positif
terhadap peningkatan laba selama tahun 2007. BNI Syariah berhasil membukukan laba bersih
Rp 19,24 miliar, meningkat 26,41% dari laba tahun sebelumnya sebesar Rp 15,20 miliar.
Kehadiran BNI Syariah yang telah menginjak tahun ke tujuh di Indonesia telah menorehkan
hasil yang cukup memuaskan dalam beberapa tahun terakhir. Sepanjang tahun 2007,
eksistensi BNI Syariah semakin diakui, terbukti dari beberapa penghargaan yang diterima,
yaitu Indonesia Sharia Bank Loyalty Index (ISBLI 20062007) dengan kategori 1st Rank for
Customer Satisfaction Index dan 1st Rank for Customer Loyalty Programme dari MarkPlus
Insight & Majalah InfoBank. Selain itu, BNI Syariah juga menerima penghargaan dari Bank
Indonesia pada Program Akselerasi Pengembangan Perbankan Syariah (PAPBS) sebagai The
Best Market Share Expansion 2007.
MeMaNDaNG ke DePaN
BNI Syariah menyadari bahwa dalam beberapa tahun mendatang, industri perbankan syariah
Indonesia akan menghadapi sejumlah tantangan besar yang menuntut BNI Syariah untuk
lebih mampu meningkatkan pertumbuhan secara konsisten dengan mempertimbangkan
kencenderungan pasar, dimana bank syariah berkompetisi langsung (head to head) dengan
bank konvensional.
Kehadiran perbankan Syariah yang relatif baru di tengah eksistensi perbankan konvensional
yang telah terlebih dahulu hadir menyebabkan BNI Syariah menghadapi tantangan yang
tidak mudah karena terbatasnya jaringan serta jumlah dan kompetensi SDM. Tidak hanya
P E RBANK AN SYARI AH
154
should be undertaken as one
strategy to increase public
awareness. However, the
awareness program was
not implemented optimally
because of limited budgets.
From another angle, sharia
banking has competitive
features in term of margin
payments in Murabahah
nancing. During 2007, the
movement in BI rates signied
changes in interest rate in
conventional banks, which are
able to adjust their interest
rates according to macro
development, while sharia
banking has a xed margin
especially for Murabahah over
the medium or long period;
thus, it is more convenient for
customers since they have
a certain repayment amount
until maturity date.
To accomodate BI rate
changes, BNI Syariah will
implement some steps such as:
a. Approving tiering
pricing, especially on the
Murabahah scheme such
that the customer is able to
appreciate the advantage
of sharia banking over the
long term
b. Optimize ofce channeling
c. Optimal use of a budget
for selected media and/or
events
d. Conducting employee
training, as well as in in-
house training facilities and
external institutions
e. Continue educating people
about Sharia banking
internally within BNI, as
well as with ASBISINDO
(Sharia Association), Bank
Indonesia, tax ofcials, etc.
The monetary sector pointed
to signicant improvements
in 2007, marked by economic
dari sisi pengelolaan, tetapi perbankan syariah juga menghadapi keterbatasan pengetahuan
dan pemahaman masyarakat. Mengatasi kendala itu, BNI dituntut untuk mampu melakukan
promosi yang agresif sebagai salah satu strategi meningkatkan pengetahuan masyarakat
terhadap produk perbankan Syariah. Namun seringkali implementasi strategi ini tidak berjalan
dengan optimal karena keterbatasan anggaran.
Di sisi lain, perbankan syariah memiliki keunggulan dan kepastian atas beban margin dalam
pembiayaan Murabahah. Sepanjang tahun 2007, bergeraknya penurunan tingkat suku bunga
BI mendorong bank-bank (konvensional) mengubah-ubah suku bunga kreditnya. Berbeda
dengan bank konvensional yang dapat melakukan penyesuaian tingkat suku bunga sesuai
perkembangan makro ekonomi, bank syariah telah menetapkan xed-margin khususnya
untuk pembiayaan Murabahah jangka menengah dan jangka panjang sehingga nasabah
lebih tenang dan nyaman karena telah ada kepastian besarnya kewajiban hingga jatuh
tempo pembiayaan.

Untuk mengakomodir kebutuhan suku bunga BI, BNI Syariah telah menetapkan untuk
melaksakan beberapa langkah antara lain:
a. Menetapkan tiering pricing khususnya pada produk pemilikan aset (Murabahah),
sehingga nasabah dapat melihat keunggulan bank syariah dalam jangka panjang
b. Optimalisasi ofce channeling
c. Optimalisasi pemanfaatan anggaran pada media/event yang dipilih
d. Optimalisasi pelatihan
e. Menggiatkan edukasi masyarakat mengenai bank syariah baik secara internal BNI,
maupun bersama ASBISINDO, Bank Indonesia, pejabat Pajak, dan sebagainya
SHARI A BANKI NG
155
indicators like GDP Growth,
the BI Rate consistently stood
at 8% and high Government
USD reserves. However, by
end-2007, global economic
conditions faced rising
ination, following high global
oil prices. A slowdown of
growth in America, which
could trigger a recession, was
also affected by high oil prices
and turmoil in the nancial
markets. Markets are cautious
as to how this might affect
Indonesias economy. While in
2007 the non-performing loan
ratio showed improvements,
along with the growth of
the Loan to Deposit Ratio,
storm clouds threatening a
global economic slowdown
threatened to damage the
fragile growth of Indonesias
economy toward targets.
Acute increases in the oil
price put the Government in
a difcult position, as any rise
in subsidies in its budget will
indirectly affect other budget
allocations. Rising prices
for basic necessities could
dampen public purchasing
power, signalling weakness in
the real sector, on which sharia
banking is heavily dependant
(as sharia business principles
have no exposure to interest-
based nancial sectors.
To deal with such conditions,
BNI Syariah will apply
strategic steps in the future,
such as:
1. Expansion in nancing will
focus on the consumer
segment, with excellent
products like BNI Griya
Syariah, BNI Oto Syariah,
and SME Financing
through 24 BNI Syariah
branch ofces and 30
BNI Syariah sub-branch
ofces, while implementing
Meski sektor moneter menunjukkan perbaikan yang siginikan yang ditunjukkan oleh
beberapa indikator ekonomi seperti pertumbuhan GDP, suku bunga BI yang konsisten di
posisi 8% serta meningkatnya cadangan devisa pemerintah, namun di penghujung akhir
tahun 2007 kondisi ekonomi global dihadapkan pada tekanan inasi sebagai dampak
kenaikan harga minyak dunia. Melambatnya pertumbuhan ekonomi Amerikayang dapat
memicu resesijuga dipengaruhi oleh kenaikan harga minyak dunia dan gejolak di pasar
nansial, yang dikhawatirkan akan berdampak langsung terhadap perekonomian Indonesia.
Meskipun pada tahun 2007 posisi NPL dan LDR menunjukkan perbaikan, namun badai
resesi ekonomi global dikhawatirkan akan menurunkan tingkat pertumbuhan ekonomi
Indonesia dari target yang ditetapkan.
Tingginya harga minyak menyebabkan pemerintah Indonesia menghadapi kondisi sulit
akibat peningkatan anggaran subsidi yang secara tidak langsung akan mengurangi alokasi
anggaran pembangunan. Meningkatnya harga beberapa kebutuhan pokok dikhawatirkan
akan mengurangi daya beli masyarakat yang berarti melemahkan sektor riil dimana
perbankan syariah sangat bergantung pada kinerja sektor inimengingat prinsip usahanya
yang tidak diperkenankan memiliki eksposur dalam sektor nansial berbasis bunga.
Menghadapi kondisi tersebut BNI Syariah akan menerapkan beberapa strategi di masa
depan, yaitu:
1. Meningkatkan ekspansi pembiayaan yang fokus pada segmen konsumer dengan produk
unggulan BNI Griya Syariah dan BNI Oto Syariah dan pembiayaan usaha rakyat untuk
UMKM melalui 24 kantor cabang Syariah dan 30 kantor cabang pembantu syariah dan
menerapkan aliansi strategis baik dengan universitas, koperasi, developer, asosiasi dll.
P E RBANK AN SYARI AH
156
strategic alliances as
well with universities,
cooperatives, developers,
associations, etc.
2. Maintaining nancing
portfolio quality at a
moderate level, with
priority on the R3
program (Restructuring,
Rescheduling and
Reconditioning) of non-
performing nancing and
written-off nancing
3. Managing risks related to
business and BNI Syariah
bank operations at a
tolerable level, through
various procedures and
arranging policy monitoring.
4. Increase third-party fund
focusing to CASA (current
account and saving
account). BNI Syariah
optimally uses conventional
branch networks as
well, both domestic and
overseas, to support BNI
Syariah acceleration, in
line with PBI No 8/3/2006
dated 30 January 2006,
and PBI No.9/7/2007,
dated 4 May 2007
Important aspects calling
for special attention and focus:
Increasing Capital
The sharia banking
industry faces a demand
to strengthen capital to
support growth. With the
steady growth of third-
party funds, sharia banking
will need a considerable
capital injection to enable
it to operate according to
prudential principles.
Increased Quality of
Human Resources
Sharia banking is currently
supported by staff with
limited sharia knowledge
and other generally-needed
skills, such as the ability to
assess and manage risk, to
perform at a level of service
excellence, the ability to
2. Mengendalikan kualitas portfolio pembiayaan pada tingkat yang moderat,
memprioritaskan program R3 (Restructuring, Reschedulling & Reconditioning) terhadap
pembiayaan bermasalah & Hapus Buku
3. Mengelola risiko yang terkait dengan bisnis dan operasional bank syariah pada tingkat
yang dapat ditoleransi melalui penyusunan prosedur dan pemantauan kebijakan
4. Meningkatkan penghimpunan Dana Pihak Ketiga yang fokus pada tabungan dan
giro, serta produk unggulan yaitu tabungan syariah plus, termasuk mengoptimalkan
pemanfaatan jaringan cabang konvensional baik di dalam negeri maupun luar negeri
dalam rangka mendukung akselerasi BNI Syariah (sejalan dengan PBI No 8/3/2006
tanggal 30 Januari 2006 dan PBI No.9/7/2007 tanggal 4 Mei 2007)
Hal-hal penting yang menjadi perhatian adalah:
Meningkatkan Permodalan
Industri perbankan syariah menghadapi tuntutan untuk memperkuat modal dalam
menghadapi pertumbuhan. Dengan pertumbuhan DPK yang stabil, perbankan syariah akan
membutuhkan suntikan modal yang cukup besar agar dapat beroperasi sesuai dengan
prinsip kehati-hatian dalam aspek permodalan.
Meningkatkan kualitas sumber Daya Manusia
Perbankan syariah saat ini didukung oleh sumber daya manusia yang memiliki keterbatasan
pengetahuan baik terhadap produk syariah maupun bidang keahlian lain yang dibutuhkan,
seperti kemampuan dalam penilaian risiko pembiayaan, service excellence, kemampuan
penilaian proyek dari berbagai aspek, kemampuan teknis yang bersumber dari pendidikan
formal maupun kemampuan teknis yang didapat dari pengalaman lapangan
SHARI A BANKI NG
157
value a project from various
aspects, technical ability
from formal education as
well as from eld experience.
At the moment BNI Syariah
is managed by a roster of
580 employees, of whom
86% are in charge of
Syariah branch ofces, while
the remaining 14% serve at
BNI Syariah Headquarters.
Training is provided for
all employees, starting
from sharia banking basic
education, through sharia
service standards and sharia
nancing, this education
implemented in cooperation
with partner training
and human resources
institutions. Management-
level personnel are provided
with training from expert
outside institutions.
Product and Service
Development
Sharia banking products
and services are still limited,
compared to conventional
banking; thus, in fullling
sharia banking needs BNI
will need to further expand
its range of services through
innovative approaches.
Improve Public
Awareness of Sharia
Banking
Public awareness of sharia
banking operations is still
very basic, which also limits
the interest of potential
customers; an introductory
program explaining sharia
banking and its positioning
to the public should be
carried out effectively for all
segments of society.
Saat ini BNI Syariah dikelola oleh 580 pegawai dan 86% diantaranya bertugas di kantor
cabang BNI Syariah, dan 14% sisanya bertugas di Kantor Besar BNI Syariah.
Upaya peningkatan kualitas SDM dilakukan oleh BNI Syariah melalui pemberian pelatihan
kepada segenap pegawai mulai dari pendidikan dasar perbankan syariah, standar
layanan syariah serta pembiayaan syariah bekerjasama dengan Lembaga Pelatihan dan
SDM. Untuk tingkat manajemen juga diberikan pelatihan khusus, bekerjasama dengan
institusi eksternal.
Pengembangan Produk dan Jasa
Ragam produk dan pelayanan perbankan syariah masih terbatas, dibandingkan dengan
perbankan konvensional. Oleh karena itu, dalam memenuhi kebutuhan masyarakat,
perbankan syariah akan lebih meningkatkan layanan melalui inovasi produk dan layanan baru.
Mengedukasi Masyarakat mengenai Perbankan syariah
Pengetahuan masyarakat terhadap operasional perbankan syariah sangat terbatas sehingga
keinginan nasabah potensial yang tertarik terhadap produk perbankan syariah masih sangat
rendah. Oleh karena itu dibutuhkan pengenalan program produk perbankan syariah secara
lebih intensif sehingga positioning di masyakat dapat dilakukan dengan efektif di segenap
golongan masyarakat.
158
P E RUSAHAAN ANAK SUBSI DI ARY BUSI NE SS
Perusahaan Anak
158
Sebagai bank pemerintah yang kelahiran
dan kiprahnya berjalan seiring dengan
perjalanan sejarah bangsa, BNI dituntut untuk
turut membangun dan mengembangkan
perusahaan pendukung, yang menjalankan
fungsinya secara otonom, namun dalam tetap
berada dalam koridor visi dan misi BNI.
For a pioneering state bank whose birth and expansion
tracks the history of a rising young nation, it is to be
expected that a number of support enterprises would be
put in place, to function semi-autonomously but within
the stated range of corporate mission and vision of BNI.
raPaT uMuM
PeMeGaNG sahaM
General Shareholders Meeting
BNI
PT BNI MuLTI
FINaNCe
99,98%
PT BNI MuLTI
seCurITIes
99,85%
PT BaNk
FINCONesIa*
48,51%
PT BNI LIFe
INsuraNCe
69,11%
BNI
NakerTraNs
LTD
99,99%
PT
kusTODIaN
seNTraL
eFek
INDONesIa
1,00%
PT
PeMBIayaaN
arTha
NeGara*
3,90%
PT BaNk
MIzuhO
INDONesIa
1,00%
PT BaNk
suMITOMO
MITsuI
INDONesIa
1,00%
PT saraNa
BersaMa
PeMBIayaaN
INDONesIa *
8,00%
PT
PeMerINGkaT
eFek
INDONesIa
1,43%
* akan didivestasi
* Subsidiaries to be divested
159
SUBSI DI ARY BUSI NE SS
Perusahaan Anak BNI mendukung tujuan perusahan dalam penyediaan layanan jasa
keuangan yang lengkap; produk perbankan, asuransi, sekuritas dan pendanaan. Aliansi
strategis dan aliansi sinergis antar perusahaan anak memberikan kontribusi optimal bagi
kepentingan seluruh pemangku kepentingan BNI.
Pada akhir Desember 2007, BNI memiliki 11 perusahaan anak yang bergerak di bidang
perbankan, asuransi, pembiayaan, pasar modal dan sekuritas. BNI menjadi pemegang
saham mayoritas pada 3 (tiga) perusahaan yaitu PT BNI Multinance (99,98%), PT BNI
Securities (99,85%), BNI Nakertrans Ltd (99,99%) dan PT BNI Life Insurance (69,11%).
Nilai penyertaan terbesar BNI di perusahaan anak adalah pada PT Bank Finconesia
(48,51%)walau BNI bukan sebagai pemegang saham mayoritas. Sedangkan pada BNI
Nakertrans Ltdmeskipun BNI merupakan pemegang saham pengendalinamun laporan
keuangannya tidak dikonsolidasikan dengan laporan keuangan BNI karena jumlahnya tidak
materiil dan dicatat dengan metode perolehan (cost method). Di perusahaan anak lainnya,
BNI hanya merupakan pemegang saham minoritas dengan kepemilikan rata-rata 1%.
Penyertaan di enam perusahaan anak tersebut dilakukan dalam rangka mematuhi kebijakan
peraturan yang berlaku seperti dari Bapepam, serta untuk menjalin kerjasama bisnis dengan
mitra usaha BNI.
Untuk memenuhi kebutuhan nasabah yang semakin berkembangdan tidak terbatas pada
produk-produk perbankan, tetapi juga produk-produk keuangan non perbankanpada tahun
2007 diluncurkan wacana konsep pembentukan BNI Financial, dimana masing-masing
perusahaan anak menyiapkan produk-produknya untuk bersinergi dengan produk BNI guna
memenuhi kebutuhan nasabah secara tepat. Dalam mengembangkan konsep BNI Financial,
telah dilakukan berbagai upaya penyelarasan bisnis perusahaan anak dengan BNI sebagai
induk perusahaan.
BNI Subsidiary Companies
support corporate objectives
in providing a complete
range of nancial services:
banking products, insurance,
funding and securities.
Strategic alliances and
synergetic alliances among
subsidiaries enable BNI, as
the holding company, to
offer their contribution for all
BNI stakeholders.
As of end-2007, BNI
has 11 subsidiaries, in
banking services, insurance,
funding, capital markets
and securities. BNI is the
majority shareholder in four
of these: PT BNI Multinance
(99.98%), PT BNI Securities
(99.85%), BNI Nakertrans
Ltd (99.99%) and PT BNI
Life Insurance (69.11%). The
largest holding of BNI in
other subsidiaries in terms
of nominal amounts is in PT
Bank Finconesia (48.51%),
although BNI is not in fact
the majority shareholder.
As for BNI Nakertrans Ltd,
while BNI is the controlling
shareholder, its nancial
reports are not consolidated
with BNI, as the invested
value is not materiel.
BNI is a minority shareholder
in six other subsidiary
companies, with an
ownership between 1%
to 8%. Its participation in
these subsidiary companies
is carried out in accordance
with pervailing rules and
regulations, such as those
issued by Bapepam, as well as
in conducting business with
BNIs partners.
In fullling customer
needs which by 2007 have
rapidly evolved and broadly
developed, for both banking
and non-banking products,
BNI launched the BNI
Financial concept, where
each subsidiary company
offers its products to be
integrated into the BNI
product array, to meet
the customers needs. In
developing the BNI Financial
concepts, care was taken
through various efforts to
harmonise the subsidiary
company business with that
of BNI as the parent company.
To build customer service
while developing business,
the Bank exploits integrated
marketing through its
160
P E RUSAHAAN ANAK
Financial Centre, providing
integrated nancial services
for various non-banking
nancial products provided by
our subsidiary company.
In 2007, strategic business
refocusing was instituted, to
optimise the role of subsidiary
companies within BNI. In
developing subsidiaries, BNI
focused on those 11 judged
capable of generating prots
and support for the overall
BNI enterprises (especially
for those operating in non-
banking areas) as well as those
featuring banking products for
different customer needs and
market segments.
The performance of three
subsidiary companies in which
BNI holds a majority, like PT
BNI Multinance, PT BNI
Securities, and PT BNI Life
Insurance, may be described
as follows:
1. PT BNI Life Insurance
The performance of PT BNI
Life Insurance was quite
satisfactory, with 80.6%
growth of net prots after
taxes, climbing from Rp 6.7
billion in 2006 to Rp 12.1
billion in 2007. To better
support growth and to
full business expansion,
management strives to
amass additional capital
deposited to secure a larger
market share. To support
such plans, BNI is prepared
to to add up to Rp 100
billion in capital to BNI Life
in 2008.
2. PT BNI Securities
While 2007 results
signalled a 11.8% decline
over those of the previous
year, with a net prot after
taxes of some Rp 26.55
billion (from Rp 30.1 billion
in 2006), BNI Securities
management continues on
Untuk meningkatkan pelayanan kepada nasabah sekaligus untuk mengembangkan bisnisnya,
BNI mengupayakan suatu wadah pemasaran terpadu melalui Financial Center yang
menyediakan layanan jasa keuangan berupa berbagai produk keuangan non-perbankan
secara terpadu melalui perusahaan anak.
Selama tahun 2007, sejalan dengan upaya optimalisasi peran perusahaan anak bagi BNI,
telah dilakukan beberapa strategi refocusing bisnis. Pengembangan perusahaan anak
lebih difokuskan pada perusahaan anak yang mampu menghasilkan laba dan mendukung
keseluruhan usaha BNIkhususnya yang bergerak dalam bidang perbankan maupun non-
perbankandengan latar belakang produk dan segmen pasar yang berbeda.
Kinerja bisnis tiga perusahaan anak BNI di tahun 2007, khususnya perusahaan anak dengan
penyertaan saham mayoritas (PT BNI Multinance, PT BNI Securities, PT BNI Life Insurance)
dapat kami paparkan sebagai berikut.
1. PT BNI Life Insurance
Kinerja BNI Life cukup menggembirakan, dengan kenaikan laba bersih setelah pajak
sebesar 80,6%, dari Rp 6,7 miliar menjadi Rp 12,1 miliar pada akhir 2007. Untuk
mendorong pertumbuhan dan ekspansi bisnis, manajemen berusaha mendapatkan
tambahan modal disetor untuk menggarap pangsa pasar yang ada. Untuk mendukung
rencana tersebut, BNI merencanakan menambah modal BNI Life sebesar Rp 100 miliar
pada tahun 2008.
2. PT BNI securities
Di tahun 2007, BNI Securities berhasil mengumpulkan laba bersih setelah pajak sebesar
Rp 26,55 miliar, yang berarti turun 11,8% dari Rp 30,1 miliar tahun 2006. Manajemen BNI
161
SUBSI DI ARY BUSI NE SS
sharpening its effectiveness
in all business activities,
while pursuing program
implementation and
polishing its corporate
image. In April 2007, BNI
Securities successfully
issued Rp 300 billion in
Rupiah Bonds to improve
its working capital. It was
also appointed as one of
the Domestic Underwriters
in BNIs secondary public
offering program in
August 2007.
3. PT BNI Multifnance
The loss at 2007 in BNI
Multinance indicates that
operational activities at
some branches are still
less than optimal, while
there has in fact been
a cumulative loss since
the era of the economic
crisis. To overcome these
challenges, nancial
restructuring in 2007 was
taken through converting
shareholder loans into
equity in the amount of
USD 20 million. To clean
up its problems completely,
BNI plans to conduct a
Quasi Reorganization to
eliminate the cumulative
losses recorded since
the crisis. This initiative
will cost BNI as the
parent, an estimated Rp
254 billion. This amount
was provisioned in
December 2007.
For subsidiary companies
which are not yet protable
but are still strategic in
supporting BNIs businesses,
efforts were undertaken to
save and strengthen them
through upgrading company
management as well as
strengthening the capital.
Those which continue to fail
to contribute meaningful
income or synergy to BNI
Securities akan tetap mempertajam efektitas dalam setiap aktivitas bisnis, implementasi
program dan mempertahankan citra perusahaan. Di bulan April 2007, BNI Securities
berhasil menerbitkan Obligasi senilai Rp 300 miliar untuk memperkuat modal usaha, dan
pada bulan Agustus 2007 ditunjuk sebagai Penjamin Pelaksana Emisi Domestik pada
program privatisasi BNI.
3. PT BNI Multifnance
BNI Multinance masih mencatat kerugian di tahun 2007, antara lain disebabkan belum
optimalnya kegiatan operasional cabang-cabangnya dan adanya kerugian kumulatif
sejak krisis ekonomi. Untuk membantu mengatasi kesulitan tersebut, pada tahun 2007
telah dilakukan restrukturisasi keuangan melalui konversi pinjaman menjadi penyertaan
langsung senilai USD 20 juta. Sementara itu, untuk menyelesaikan permasalahan yang
ada, BNI berencana melakukan Kuasi Reorganisasi. Inisiatif ini akan dilakukan BNI
sebagai perusahaan induk dengan perkiraan biaya sebesar Rp 254 miliar. Biaya ini telah
dibebankan sebagai biaya provisi dalam laporan keuangan BNI per Desember 2007.
Bagi perusahaan anak yang belum menguntungkan namun cukup strategis untuk
mendukung bisnis BNI, akan diupayakan langkah-langkah penyelamatan dan penyehatan
diantaranya dengan memperbaiki manajemen perusahaan maupun dengan menambah
modal disetor.
Sedangkan terhadap perusahaan anak yang tidak menguntungkan dan tidak memberikan
sinergi bagi bisnis BNI, akan dilakukan divestasi, seperti penyertaan pada PT Bank Finconesia
(48,51%) yang akan dijual kepada PT Dian Intan Perkasa. Penjualan PT Bank Finconesia
tersebut akan selesai dilaksanakan di awal tahun 2008. Perusahaan anak lain yang termasuk
kategori ini adalah PT Sarana Bersama Pembiayaan Indonesia (8%), dimana BNI saat
162
P E RUSAHAAN ANAK
ini sedang menjajaki divestasi bersama pemegang saham lainnya. Hal serupa juga akan
dilakukan terhadap penyertaan pada PT Pembiayaan Artha Negara (3,91%).
Di tahun 2007, BNI melakukan penambahan modal kepada 3 perusahaan anak melalui
konversi pinjaman, yaitu kepada PT BNI Multi Finance sebesar USD 20 juta, PT BNI Life
Insurance senilai Rp 20 miliar dan PT Bank Mizuho Indonesia sebesar Rp 10 miliar.
Upaya-upaya untuk peningkatan kinerja dan protabilitas seluruh perusahaan anak yang
bernaung dibawah BNI terus dilakukan sepanjang tahun 2007 meliputi :
Peningkatan efsiensi kegiatan operasional dan produktivitas.
Perbaikan sistem pemasaran bersama.
Perbaikan dalam penanganan keluhan nasabah.
Pengembangan produk-produk baru yang berorientasi pada nasabah.
Penerapan sistem manajemen risiko.
Untuk memperkuat pengelolaan perusahaan anak, BNI merekrut tenagatenaga profesional
yang berpengalaman baik dari dalam BNI maupun dari pasar, untuk memimpin dan
mengelola kegiatan operasional perusahaan anak. Rekrutmen tenaga profesional tersebut
diharapkan akan meningkatkan kapabilitas dan kapasitas SDM yang bertanggung jawab
mengelola perusahaan anak BNI.
reNCaNa ke DePaN
Industri jasa keuangan di masa mendatang akan terus berkembang dinamis, sejalan
dengan meningkatnya tuntutan pasar terhadap produk layanan keuangan yang terpadu,
komprehensif, serta saling melengkapi. Persaingan menjadi semakin ketat, karena
setiap lembaga keuangan berupaya sekuat tenaga untuk memenuhi seluruh kebutuhan
will be considered for the exit
strategy. In that category was
PT Bank Finconesia (48.51%),
which will be sold to PT Dian
Intan Perkasa in early 2008.
Another candidate subsidiary
in this category is PT Sarana
Bersama Pembiayaan Indonesia
(8%), where BNI is currently
discussing ways to divest
itself, together with other
shareholders. This will also be
implemented at PT Pembiayaan
Artha Negara (3.91%).
In 2007, BNI added capital to
three subsidiary companies
through loan conversion,
namely PT BNI Multi Finance
(USD 20 million), PT BNI Life
Insurance (Rp 20 billion) and
PT Bank Mizuho Indonesia
(Rp 10 billion).
Efforts in improving
performance and protability at
all subsidiary companies under
BNI were carried out in 2007:
Increasing effciency in
operational activities and
productivity.
Improving marketing system.
Improving customer
complaint handling.
Developing new customer-
oriented products.
Applying a risk
management system.
To strengthen subsidiary
company management, BNI
has recruited professionals,
both internally and from
outside, to lead and manage
subsidiary company
operational activities. This
should improve the necessary
skills of human resources in
managing the BNI subsidiary
companies.
LOOkI NG FOrwarD
BNI expects to witness
sustained deep and rapid
163
SUBSI DI ARY BUSI NE SS
changes in the nancial
services industry in coming
years, in line with increasing
market demand for
comprehensive, complete and
integrated nancial services
products. Competition is
tight because every nancial
institution is striving to full
customer needs through
innovations: new products
and services will be attractive
to both individual and
corporate customers.
To anticipate these industry
developments, BNI has
approved strategic steps
to increase competitive
capabilities of subsidiary
companies, as follows:
Developing BNI Financial
concepts and forming
a pioneering Financial
Center, which will maximize
synergy and strategic
alliances among linked
subsidiary companies,
as well as between BNI
and subsidiaries.
Increase risk management
effectiveness in every
subsidiary company,
in line with the effort
to improve corporate
nancial performance.
Increase the ability to
manage capital invested in
subsidiary companies more
effectively and protably, the
objective being to:
- Maintain investment value
and augment potential
prots at subsidiary
companies.
- Divestment of those
subsidiary companies
which continuously fail
to add prots and do not
contribute synergy, either
to other subsidiaries or to
overall BNI businesses.
nasabahnya, baik nasabah perorangan maupun nasabah korporasi melalui berbagai inovasi
dengan memperkenalkan berbagai produk dan jasa baru.
Mengantisipasi perkembangan industri, BNI telah menerapkan langkah-langkah strategis
untuk meningkatkan daya saing dan kapabilitas perusahaan anak antara lain sebagai berikut.
Pengembangan konsep BNI Financial dan pembentukan cikal-bakal Financial Center,
dengan memaksimalkan sinergi dan aliansi strategis antar perusahaan anak, serta antar
perusahaan anak dengan BNI.
Meningkatkan efektivitas pengelolaan manajemen risiko di setiap perusahaan anak, sejalan
dengan perbaikan kinerja keuangan perusahaan.
Meningkatkan kemampuan pengelolaan portofolio penyertaan modal pada perusahaan
anak secara lebih efektif dan menguntungkan dengan:
- Mempertahankan dan melakukan investasi penyertaan pada perusahaan anak yang
potensial dan menguntungkan.
- Melakukan divestasi terhadap perusahaan anak yang tidak menguntungkan dan tidak
memberikan sinergi terhadap perusahaan anak maupun terhadap bisnis BNI secara
keseluruhan.
Melalui semangat keterbukaan
dan responsif terhadap tuntutan
pemangku kepentingan, BNI
memilah data-data secara teliti,
menekankan pada fakta dan
angka relevan dengan tujuan
untuk membangun citra positif
keterbukaan, kepercayaan
dan kemampuan.
In a spirit of transparency and rapid
response to stakeholder inquiries,
BNI diligently amasses relevant data,
highlighting relevant facts and gures
while aiming to build a positive
image of openness, trustworthiness
and intelligence.
OP E RATI ONAL I NDI CE S
Indeks Operasional
MANAJ E ME N RI SI KO
166
MODE RN RI SK MANAGE ME NT P RACTI CE S
Manajemen Risiko
Perkembangan dunia perbankan yang disertai dengan meningkatnya kompleksitas aktivitas
perbankan semakin mempertegas pentingnya tata kelola perusahaan yang sehat (good
corporate governance) dan manajemen risiko yang dapat diandalkan. Kedua hal tersebut
merupakan faktor penting yang menjadi perhatian para investor dalam penilaian pilihan
target investasinya. Penerapan manajemen risiko di BNI pada dasarnya sudah dilakukan sejak
perusahaan ini berdiri, meskipun dengan cara yang masih konvensional dan berkembang
sesuai dengan perkembangan kondisi internal dan eksternal.
Pengembangan manajemen risiko di BNI selalu berpedoman pada peraturan Bank Indonesia
tentang Penerapan Manajemen Risiko bagi Bank Umum serta dokumen-dokumen dari
Basel Committee on Banking Supervision, terutama konsep Basel Accord II. Pengelolaan
risiko di BNI mencakup keseluruhan lingkup aktivitas usaha di BNI, berdasarkan kebutuhan
akan keseimbangan antara fungsi operasional bisnis dengan pengelolaan risikonya. Dengan
kebijakan dan manajemen risiko yang berfungsi baik, maka manajemen risiko akan menjadi
strategic partner bagi unit bisnis dalam mendapatkan hasil optimal dari operasi perusahaan.
Dalam rangka pengembangan manajemen risiko yang sesuai dengan standar perbankan
internasional, BNI secara kontinu dan berkelanjutan, terus mengembangkan dan
meningkatkan kerangka sistem pengelolaan risiko dan struktur pengendalian internal
yang terpadu dan komprehensif, sehingga dapat memberikan informasi adanya potensi
risiko secara lebih dini dan selanjutnya mengambil langkah-langkah yang memadai untuk
meminimalkan dampak risiko. Kerangka manajemen risiko ini dituangkan dalam kebijakan,
prosedur, limit-limit transaksi, kewenangan dan ketentuan lain serta berbagai perangkat
manajemen risiko, yang berlaku di seluruh lingkup aktivitas usaha. Untuk memastikan bahwa
kebijakan dan prosedur tersebut sesuai dengan perkembangan bisnis yang ada, maka
evaluasi selalu dilakukan secara berkala sesuai dengan perubahan parameter risikonya.
166
The continuing evolution of
banking around the world, with
its attendant complexity of
activities, demands standards
of good corporate governance
and risk management,
which all stakeholders and
business partners will be
able to rely on. Both of
these are critical factors
which draw the attention
of all investors in grading
selection of their potential
investment targets. Applying
risk management in BNI is
actually a tradition, and has
been implemented since this
company was rst established,
though in a conventional
style; it has evolved in line
with internal and external
development conditions.
In formulating and
implementing its risk
management policies, BNI
faithfully adheres to Bank
Indonesia rules for general
banks, as well as working in
conformity with standards
from the Basel Committee on
Banking Supervision (notably,
the Basel Accord ll concept).
Managing risk in BNI covers
a scope of all BNI enterprise
activities, based on needs
balanced between business
operational functions and their
risk management. When such
policies and risk management
are in balance, risk
management will be a strategic
partner for business units in
achieving optimal results from
Company operations.
In a range of risk management
developments following
international banking
standards, BNI sustains
development and expansion
of management risk system
frameworks and integrated
internal control, making them
comprehensive and able to
access relevant information
where potential risks exist
in an early warning system,
followed by implementation
of appropriate steps to
minimize risk effects. The
risk management framework
manifests in policies,
procedures, transaction
limits and authority, as
well as through expert risk
management procedures
governing the scope and
MODE RN RI SK MANAGE ME NT P RACTI CE S
167
I NFRASTRUKTUR MANAJEMEN RI SI KO
Berbagai inisiatif serta langkah-langkah telah diciptakan untuk meletakkan landasan yang
kuat dalam manajemen risiko di BNI, yang mencakup aspek-aspek berikut.
Organisasi
BNI telah menunjuk seorang Direktur yang bertanggungjawab dalam pengelolaan risiko
di BNI. Untuk membantu Direktur Manajemen Risiko, BNI juga telah membentuk Satuan
Kerja Manajemen Risiko yang bertanggungjawab terhadap manajemen risiko, yaitu Divisi
Manajemen Risiko (MAR). Divisi ini independen terhadap Divisi/satuan yang melakukan
fungsi operasional/bisnis maupun yang melakukan fungsi audit.
Dalam rangka membantu pelaksanaan proses dan sistem Manajemen Risiko yang efektif,
BNI juga telah membentuk Komite Risiko & Kapital (KRK), yang beranggotakan Direksi dan
Pemimpin Divisi dan diketuai langsung oleh Direktur Utama. Komite Risiko & Kapital ini
terdiri dari 3 sub Komite, yaitu Sub Komite Manajemen Risiko (RMC), Sub Komite Kebijakan
Kredit (CPC), dan Sub Komite Asset & Liability (ALCO).
Strategi
BNI telah meletakkan kerangka pengembangan manajemen bank berbasis risiko dalam
format Arsitektur Manajemen Risiko BNI. Konsep tersebut berisi tahapan-tahapan yang
harus dilakukan sesuai dengan ketentuan-ketentuan Bank Indonesia (diantaranya adalah
Road Map Bank Indonesia dalam rencana implementasi Basel II) maupun prinsip-prinsip
dan pedoman dari Basel Committee on Banking Supervision. Pengembangan dan
implementasi manajemen bank berbasis risiko telah dimulai sejak tahun 2000 dengan
menggunakan pendekatan metode internal sebagai bagian dari pengelolaan risiko serta
diharapkan selesai seluruhnya pada tahun 2010. Di sisi lain, dalam hal perhitungan
kecukupan modal, BNI juga mempersiapkan diri sesuai dengan arahan Bank Indonesia.
Di tahap awal, perhitungan kecukupan modal dilakukan dengan metode yang paling
sederhana yang merupakan model yang dapat diaplikasikan di seluruh bank.
activities within BNI. To
ensure that its procedures
and policy are carried out
according to these standards,
continuous impartial
evaluation is applied, in a
timely manner, based on
perceived risk parameter
changes.
RI SK MANAGEMENT
I NFRASTRUCTURE
Among the initiatives and
steps put in place to ensure
strong risk management at
BNI, covering all aspects of its
operations, are the following:
Organization
BNI has appointed one
Director to serve as the
executive in charge of
managing bank-wide risk
in BNI. To help with this,
BNI also formed a work
unit responsible for risk
management. The Risk
Management Division is an
independent unit monitoring
operational/business
functions, as well as audit
functions.
Also in line with
implementation efforts
toward effective risk
management, BNI
formed the Risk & Capital
Committee, whose
members are all Directors
and General Managers,
directly reporting to the
President Director. The Risk
& Capital Committee heads
three sub-committees: the
Risk Management Sub-
committee (RMC), the Credit
Policy Sub-committee (CPC)
and the Asset & Liability
Sub-committee (ALCO).
Strategy
BNI has put in place
a framework of risk-
based management in an
architecture format of BNI
risk management, wherein
its concept is based on
procedural stages which
must be accomplished
according to Bank
Indonesia terms (along the
lines of the Bank Indonesia
Road Map planned in
implementation of Basel ll)
as well as principles and
orientation from the Basel
Committee on Banking
Supervision. Development
and implementation of
MANAJ E ME N RI SI KO
168
Agar tercipta suatu kondisi yang sehat, BNI juga melakukan sertifkasi terhadap seluruh Buku
Pedoman Perusahaan (SOP) yang ada dengan melihat kecukupan terhadap aspek Manajemen
Risiko dan Kepatuhan terhadap ketentuan yang ada, baik internal maupun eksternal.
Sistem Informasi & Operasi
Untuk menjamin ketersediaan data risiko yang terkini dan komprehensif, BNI telah meng-
up grade sistem operasi perusahaan yang ada menjadi centralized system yang dikenal
dengan iCONS. Dengan dukungan sistem ini, data risiko secara bankwide dapat secara
cepat diketahui, sebagai contoh kualitas pinjaman dapat dilihat secara harian.
Sebagai sarana pendukung dalam pengelolaan risiko, secara bertahap juga sudah
dikembangkan database per masing-masing jenis risiko, yang bermanfaat dalam
pengukuran, pemantauan, pengendalian, dan modeling terhadap risiko tersebut.
Budaya Sadar Risiko
Menanamkan budaya sadar risiko di kalangan karyawan BNI dengan memberikan
pemahaman yang memadai mengenai faktor-faktor risiko yang terkait dengan pekerjaan
atau fungsinya sehari-hari. Komunikasi dengan karyawan dilakukan baik secara langsung
maupun tidak langsung, seperti sosialisasi ke unit-unit, penyampaian buku glosari
manajemen risiko dan booklet pemberdayaan & aktualisasi manajemen risiko ke seluruh
unit, sisipan mengenai perkembangan manajemen risiko pada pertemuan rutin pegawai,
menyisipkan materi risk management ke dalam seluruh pelatihan pegawai, serta
pembahasan dan informasi manajemen risiko di website internal BNI.
BNI juga telah menyertakan pegawainya dalam Program Sertifkasi Manajemen Risiko baik
Level 1, Level 2 maupun Level 3. Dengan mengikuti Program Sertifkasi tersebut diharapkan
pemahaman dan kesadaran risiko di kalangan pegawai akan meningkat.
PROSES DAN PENI LAI AN RI SI KO
Pada dasarnya proses manajemen risiko dilakukan oleh masing-masing unit mengingat risiko
yang dihadapi merupakan risiko individual yang melekat pada produk, transaksi, maupun
risk-based management
began in 2000, using
an internal approach
method as part of risk
management procedure;
projected completion is
for 2010. In calculating
capital requirement,
BNI made preparations
along lines instructed
by Bank Indonesia: in a
rst stage, calculation of
sufcient capital is through
the simplest method
(standardized approach), a
model customarily applied
by all banks.
In order to generate a
healthy condition, BNI also
carried out certication
of all available System
Operating Procedures
(SOP), to ascertain their
conformity to sufcient risk
management standards and
compliance with standing
rules, both internally and
externally.
Information Systems &
Operational
To guarantee a
comprehensive and
updated risk data base,
BNI has modied company
operational systems to
form a centralized system
known as iCONS. With
this support, bank-wide
risk data may easily be
accessed; for instance, loan
quality may be checked on
a daily basis.
For support infrastructure
in managing risk, a data
base for each type of risk
has gradually emerged; this
offers benets in measuring,
controlling, monitoring and
modelling risks.
Risk Awareness Culture
Nurturing a risk culture in
every employee through
imparting awareness of
risk factors related to work
or their daily functions.
Both direct and indirect
employee communication
is socialised in units,
referenced through a risk
management glossary, a
resources booklet & risk
management actualization
for all units. The BNI
internal website is another
medium for sharing risk
management information.
MODE RN RI SK MANAGE ME NT P RACTI CE S
169
proses pada unit bersangkutan. Hal ini sesuai dengan kebijakan yang telah ditetapkan
oleh Divisi Manajemen Risiko. Tugas utama Divisi Manajemen Risiko adalah menetapkan
kebijakan dan prosedur manajemen risiko serta melakukan serangkaian proses untuk
mengumpulkan dan menguji pengukuran dan pelaporan risiko yang dilaporkan oleh para
pemilik risiko tersebut. Penetapan kebijakan manajemen risiko dilakukan melalui proses
persetujuan Direksi.
Divisi Manajemen Risiko menyampaikan Laporan Evaluasi Risiko kepada Direksi secara
periodik, yaitu harian, mingguan dan bulanan serta menyampaikan beberapa jenis laporan
lainnya kepada Dewan Komisaris serta kepada pihak eksternal terkait, seperti Bank Indonesia.
Sejalan dengan peraturan Bank Indonesia, BNI juga melakukan assessment risiko yang
berasal dari unit-unit terkait termasuk unit operasional atas seluruh produk dan aktivitas baru,
antara lain peluncuran produk Internet Banking, Tapenas Syariah, Pertamina BizCard, dan
agen penjualan Obligasi Negara Ritel (ORI).
PENGELOLAAN SETI AP JENI S RI SI KO
Ulasan berikut menggambarkan pencapaian dan kemajuan di bidang pengelolaan risiko,
untuk setiap kategori risiko sesuai dengan defnisi Bank Indonesia yaitu risiko kredit, pasar,
operasional, likuiditas, kepatuhan, hukum, strategi dan reputasi.
Risiko Kredit
Implementasi Four-eye Principless dalam manajemen risiko kredit, dimana persetujuan
kredit dilakukan oleh minimal 2 (dua) orang pemegang kewenangan pemutus kredit yaitu
1(satu) orang dari unit bisnis dan 1(satu) orang dari unit risiko.
Melakukan penyempurnaan Perangkat Aplikasi Kredit (PAK) seluruh segmen dan
penyempurnaan kewenangan memutus kredit.
Mengembangkan Industry Risk Rating (IRR), yaitu penilaian tingkat risiko industri
berdasarkan kondisi makro ekonomi, struktur industri, karakteristik industri, prospek industri,
BNI also has enrolled all
senior ofcials in a risk
management certication
program, at Levels 1, 2
and 3. Following such
certication, comprehension
and risk awareness
within the bank will be
strengthened.
PROCESS AND
GRADI NG RI SK
The basic risk management
process carried out by each
unit is enacted according to
concepts set forth by the Risk
Management Division. The
Risk Management Division
coordinates this activity with
its principal duty of approving
policy and risk management
procedures, as well as
coordinating the collection and
examination of data, measuring
and issuing a risk report on
specic reported situations.
In approving such a risk
management policy, a number
of points need to be agreed
by qualied Management,
according to designated
authority and limits.
A Risk Evaluation Report
is delivered by the Risk
Management Division to
management on a periodic
basis, with daily, weekly and
monthly updates. Some
reports are also forwarded to
the Board of Commissioners,
as well as to such related
external parties as Bank
Indonesia.
In line to Bank Indonesia rules,
BNI has also carried out risk
assessment on related units,
including operational units for
all products and new activities,
such as launching internet
banking products, Tapenas
Syariah, Pertamina BizCard,
and as a selling agent of
Government Retail Bonds.
MANAGI NG, PER TYPE
OF RI SK
The following describes the
achievements in the risk
management sector, for every
risk category according to
Bank Indonesia denitions.
Credit Risk
Implementation of the
Four-eye Principles in
MANAJ E ME N RI SI KO
170
riwayat pinjaman, kinerja keuangan industri dan penyesuaian kondisi regional.
Menetapkan standar keuangan industri (termasuk referensi rasio keuangan) untuk segmen
Korporasi, Menengah dan Kecil secara berkala.
Penetapan Loan Exposure Limit (LEL), yaitu batas maksimum pinjaman di akhir tahun
untuk setiap sektor ekonomi di masing-masing segmen. LEL ditetapkan sebagai pedoman
ekspansi pinjaman dan sebagai salah satu upaya mengurangi risiko konsentrasi pinjaman.
Pengembangan dan pengkajian sistem pemeringkatan debitur di seluruh segmen.
Mengembangkan dan menyempurnakan aplikasi Internal Rating System debitur segmen
Korporasi, Menengah dan Kecil.
Mengevaluasi portofolio pinjaman secara berkala berdasarkan volume, kualitas, komposisi
dan tingkat proftability termasuk rekomendasi perbaikannya.
Melakukan pemantauan dan simulasi (scenario analysis) NPL guna meningkatkan kualitas
pinjaman.
Membangun database risiko kredit antara lain mencakup peringkat debitur, default history,
default probability, recovery rate dan expected loss.
Melakukan uji coba perhitungan risiko kredit dalam Quantitative Impact Study (suatu
survey untuk melihat kesiapan dan dampak implementasi Basel II bagi perbankan).
Risiko Pasar dan Risiko Likuiditas
Melakukan perhitungan Kewajiban Pemenuhan Modal Minimum (KPMM) dengan
menggunakan metode standar sesuai ketentuan Bank Indonesia yang berlaku. Selain
itu, mengkaji dan mengembangkan kemungkinan penerapan Metode Internal dalam
menghitung KPMM dengan memperhitungkan risiko pasar.
Mengembangkan sistem pengelolaan risiko yang terintegrasi dan diaplikasikan ke segenap
unit bisnis termasuk risiko pasar di cabang-cabang luar negeri.
Menyusun dan menerbitkan laporan dan analisis risiko pasar secara berkala (harian,
mingguan, bulanan dan triwulanan).
Mengembangkan sistem pengelolaan risiko yang terintegrasi ke dalam Treasury
Management Information System untuk pengendalian risiko nilai tukar, risiko tingkat bunga
credit risk management,
where credit approval is
carried out by a minimum
of two persons with credit
granting authority; one is
from the Business Unit and
one from the Risk Unit.
Upgrading the credit
application infrastructure for
all segments, and upgrading
credit approval limits.
Developing an Industry
Risk Rating (IRR), based
on macroeconomics,
industry structure and
characteristics, industry
prospects, loan history
and industry nancial
performance, based on
regional conditions.
Approval of industry
nancial standards
(including nancial ratio
reference) for corporate
segments and SME.
Approval of Loan Exposure
Limits (LEL), for domestic
loans with a maximum
limit at the end of each
year and for every
economic sector
in each segment. LEL
approval functions as a
guide to loan expansion,
and as an effort to reduce
loan concentration risks.
Development and system
review of debtor ratings in
all segments.
Development and
upgrading of the Internal
Rating System application
for corporate debtor
segments, including
medium and small
enterprises.
Periodically perform a
loan portfolio evaluation,
based on volume,
quality, composition and
protability, including
recommendations for its
improvement.
Monitoring and scenario
analysis simulation of NPL,
to achieve the target.
Build a credit risk database
covering debtor ratings,
default history, default
probability, recovery rate
and expected losses.
Develop a credit risk
calculation, through
a Quantitative Impact
Study (a survey for
viewing preparation and
implementation of Basel II
impact for banking).
MODE RN RI SK MANAGE ME NT P RACTI CE S
171
dan risiko likuiditas.
Melakukan evaluasi secara berkala terhadap limit risiko pasar yang terdiri dari limit VaR
dan budget loss limit untuk trading book serta banking book bagi unit bisnis Tresuri dan
dealing room cabang luar negeri. Sementara limit yang terkait dengan likuiditas antara lain
SR (secondary reserve) Ideal, limit Asset Liability Gap dan limit on-shore loan. Limit-limit
tersebut dipantau secara harian, mingguan dan bulanan.
Menyempurnakan sistem pengendalian risiko pasar untuk transaksi treasury (dealing room)
dan melengkapinya dengan sistem pemantauan limit (Market Limit System) serta penetapan
harga pasar (Market Conformity Modul) yang terintegrasi dengan front ofce system.
Risiko Operasional
Revitalisasi perangkat assessment risiko operasional yang dikenal dengan nama ORSA
(Operational Risk Self Assessment) di seluruh Divisi, wilayah, Sentra-sentra Kredit dan
seluruh cabang termasuk syariah.
Membangun perangkat risiko operasional yang dikenal dengan nama PERISKOP, yang
menjadi alat monitoring potensi risiko operasional, kerugian operasional dan pelaporan.
Penambahan akun pencatatan untuk menampung dan mencatat kerugian risiko
operasional (beban risiko operasional) sebagai upaya membangun Loss Event database.
Menyusun kerangka Key Risk Indicator BNI sebagai salah satu parameter pendukung dalam
persiapan implementasi Basel II dengan pendekatan Advance Measurement Approach (AMA).
Penetapan limit kewenangan transaksi berdasarkan tingkat otoritas dan pengalaman
pejabat yang bersangkutan.
Pembentukan Trade Processing Center yang secara signifkan mengurangi risiko yang
melekat pada proses yang bersifat desentralisasi.
Melakukan benchmark operational risk management dengan bank berskala international
(ABN Amro) serta melakukan gap analisis antara pelaksanaan operational risk
management di BNI dan intenational best practices.
Penyusunan dan Piloting Business Continuity Plan (BCP) BNI, baik di Kantor Pusat,
Wilayah, Sentra-sentra Kredit, dan Cabang.
Market Risk and
Liquidity Risk
Setting minimum capital
requirement calculations
based on standard methods
according to Bank Indonesia
Rules. Also, examining
and developing internal
methods potentially applied
in calculating Minimum
Capital Requirement with
consideration of market risk.
Development of an
integrated risk management
system applied to all
business units including
market risks in overseas
branches.
Arranging and publishing
periodic reports and market
risk analyses (daily, weekly,
monthly and quarterly).
Development of an
integrated risk management
system into the Treasury
Management Information
System for managing
exchange risks, interest rate
risks and liquidity risks.
Perform periodic evaluation
on market risk limits, from
VaR limits and budget loss
limits for the trading book,
as well as banking books,
treasury business units and
overseas branches dealing
rooms, while limits related
to liquidity, such as Ideal
Secondary Reserve, Asset
Liability Gap limits and
on shore loan limits, are
all monitored on a daily,
weekly and monthly basis.
Improving the market risk
control system for treasury
transactions through
market limit systems and
approve pricing policies
(the Market Conformity
Module), integrated into
the front ofce system.
Operational Risks
Revitalization of ORSA
(Operational Risk Self
Assessment) to be
implemented in all
Divisions, regions, loan
centres and branches,
including BNI Syariah.
Building an operational
risk system, PERISKOP, to
monitor potential risk.
Adding notations to chart
of accounts (operating risk
expense), recording risk
cases in the effort to build
a Loss Event Database.
Assessment for Key Risk
MANAJ E ME N RI SI KO
172
Melakukan uji coba perhitungan risiko operasional dalam Quantitative Impact Study
dengan pendekatan yang paling sederhana (Basic Indicator Approach).

Risiko Kepatuhan
Mengefektifkan peran pengendalian intern yang independen, melalui quality assurance
yang ada di setiap Unit (BQA, RQA, DQA). Staff Quality Assurance bertanggung jawab
kepada Divisi Kepatuhan, bukan kepada Unit dimana mereka ditugaskan.
Melakukan penilaian atas tingkat kepatuhan BNI terhadap peraturan Bank Indonesia dan
perundang-undangan yang berlaku.
Menetapkan kebijakan dan prosedur risiko kepatuhan, sebagai pedoman kerja dalam
manajemen risiko kepatuhan.

Risiko Hukum
Melakukan kajian berkala terhadap dokumen hukum, perjanjian dan kontrak dengan pihak ketiga
serta mengevaluasi kelemahan perjanjian yang dapat menimbulkan risiko hukum bagi BNI.
Melakukan penilaian atas risiko hukum yang tercermin dari besarnya gugatan, perkara yang
disampaikan ke BNI.
Menetapkan kebijakan dan prosedur pengelolaan risiko hukum.
Risiko Strategis
Melakukan pengukuran risiko strategis, yang didefnisikan sebagai kegagalan bank dalam
mencapai target akibat keputusan bisnis yang diambil.
Pembentukan Komite Pengadaan yang bertanggung jawab atas penunjukan pihak ketiga
seperti perusahaan asuransi, appraisal, akuntan publik dan konsultan manajemen.
Menetapkan kebijakan dan prosedur pengelolaan risiko strategis.
Risiko Reputasi
Menetapkan parameter risiko reputasi dan mitigasi dalam pengelolaan risiko reputasi.
Menetapkan kebijakan dan prosedur komunikasi untuk memastikan penyampaian pesan
Indicators at BNI, as one
parameter in preparing
implementation of the Basel
II Advance Measurement
Approach (AMA).
Approval of authority limit
based on authority levels
and experience.
Formation of a Trade
Processing Center to
signicantly decrease
risk impediments in a
decentralised process.
Benchmark operational
risk management to the
Bank on an international
scale, with gap analysis
between implementation
of operational risk
management in BNI and
international best practices.
Prepare a Business
Continuity Plan (BCP)
at BNI, in headquarters
ofces, regional centres,
loan centres and branches.
Conduct operational
risk calculations with
Quantitative Impact
Study, employing the
simplest approach (Basic
Indicator Approach).
Compliance Risks
To effect internal control
through independent
quality assurance in every
unit (BQA, RQA, DQA).
Quality Assurance Staff is
responsible and reports to
the Compliance Division,
not to the units where they
are assigned.
Assess BNI compliance
level in conformity with
Bank Indonesia rules and
prevailing laws.
Formulate policy and
procedures for compliance
risk, as guidance for
MODE RN RI SK MANAGE ME NT P RACTI CE S
173
yang konsisten dan liputan media serta komunikasi massa yang positif.
Mengklasifkasikan media massa yang ada ke dalam beberapa kelompok sesuai dengan
sirkulasi dan cakupan geografs. Masing-masing kelompok media ini ditangani secara
berbeda sesuai dengan tingkat risiko reputasi yang bersangkutan.
Melaksanakan evaluasi secara harian atas risiko reputasi yang dihadapi BNI dan
dituangkan dalam suatu Laporan Media Monitoring. Pengelolaan risiko reputasi ini secara
komprehensif dilakukan oleh Divisi Komunikasi Perusahaan.
Memantau penyelesaian komplain nasabah.

BUSI NESS CONTI NUI TY PLAN
Sehubungan dengan penerapan Peraturan Bank Indonesia No. 5/8/PBI/2003 tentang
pelaksanaan proses pengendalian risiko untuk mengelola risiko tertentu yang dapat
membahayakan kelangsungan usaha bank, sejak tahun 2006 BNI telah memulai
pembangunan dan penyusunan kebijakan untuk menghadapi kondisi darurat atau bencana.
Basel II juga mewajibkan Bank untuk memiliki rencana keberlangsungan usaha dan
rencana darurat (business continuity plans dan contingency plans) untuk memastikan
kemampuannya, agar dapat tetap beroperasi dan membatasi kerugian jika terjadi gangguan
terhadap aktivitas bisnis. Dilain pihak hal tersebut tidak terlepas dari data statistik bencana
tiga tahun terakhir yang menempatkan Indonesia pada posisi pertama sebagai negara di Asia
Tenggara yang paling banyak mengalami kerugian material dan korban jiwa manusia akibat
terjadinya bencana alam.
Untuk mempercepat penyempurnaan perangkat dimaksud, BNI telah membentuk Tim
Business Continuity Plan (BCP) untuk menyusun suatu mekanisme formal yang merupakan
kombinasi antara strategi, kebijakan, prosedur dan organisasi yang dikembangkan untuk
memastikan kelangsungan operasional dari fungsi-fungsi usaha yang kritikal pada tingkat
layanan tertentu pada saat terjadinya gangguan atau bencana baik yang diakibatkan oleh
faktor alam maupun akibat perbuatan manusia yang dapat berupa tindak kekerasan, konik
horizontal dan ancaman teroris seperti ancaman bom.
managing compliance risk.
Legal Risks
Periodically examine legal
documents, agreements
and contracts with
third parties, as well as
evaluating weaknesses in
agreements which could
potentially create a legal
liability risk.
Calculate legal risks, based
on lawsuits which have
been or might be levelled
against BNI.
Setting up policy and
procedures for managing
legal risks.
Strategic Risks
Measure strategic risks,
dened as a failure by the
Bank in recovering from
bad business decisions.
Setting up a Procurement
Committee responsible for
appointing third parties,
such as an insurance
company, appraisal, public
accountant or management
consultant.
Setting up policy and
procedures for managing
strategic risk.
Reputation Risks
Approve the parameters
of reputation risks and
mitigation in managing
reputation risks.
Approve the policy and
communication procedures
to make sure delivery of
messages is consistent
and media coverage is
positive in BNIs mass
communications.
Clasify mass media into
groups, according to
relative circulation and
geographical reach.
Each media group would
MANAJ E ME N RI SI KO
174
Business Continuity Plan (BCP) yang dibangun oleh BNI telah berhasil diselesaikan pada
tahun 2007 yang menghasilkan Buku Pedoman Kebijakan, Rencana Penanggulangan
Bencana, Panduan Penyusunan, Panduan Pengujian dan Pemeliharaan BCP serta penyusunan
standarisasi petunjuk (signage) keselamatan gedung/keselamatan kerja. Dengan selesainya
Business Continuity Plan diharapkan BNI dapat mengantipasi kemungkinan terjadinya
kondisi darurat atau bencana sehingga potensi timbulnya risiko operasional dapat diperkecil.
ANTI SI PASI PENERAPAN BASEL I I
Dengan tetap mematuhi ketentuan yang telah ditetapkan Bank Indonesia, pengembangan
manajemen risiko BNI juga mengacu pada best practice penerapan manajemen risiko di
perbankan internasional. Penyempurnaan dilakukan secara terus menerus sesuai dengan kerangka
kerja yang diterbitkan Basel Committee on Banking Supervision, yaitu konsep Basel Accord II.
Milestone terpenting dalam tahun 2007 adalah dilakukannya review atas penerapan
pengelolaan risiko yang berorientasi pada Basel II yang merupakan kelanjutan dari inisiatif-
inisiatif pelaksanaan manajemen risiko di BNI pada tahun-tahun sebelumnya. Hal ini antara
lain dituangkan dalam bentuk organisasi Divisi Manajemen Risiko yang semakin fokus,
khususnya dalam pengelolaan risiko kredit, risiko pasar dan risiko operasional. Dalam hal
penerapan atas inisiatif-inisiatif tersebut, BNI dituntut untuk menjalankan fungsi intermediary-
nya dengan menerapkan prinsip kehati-hatian melalui pengelolaan risiko secara lebih
menyeluruh, terpadu, terukur dan terkendali.
Dalam mengantisipasi penerapan Basel II ini, BNI selalu aktif terlibat dalam persiapan
implementasi Basel II diantaranya adalah terlibat dalam Quantitative Impact Study (QIS
4 dan 5) yang diadakan oleh Basel Committee on Banking Supervision melalui Bank
Indonesia. Dari hasil assessement Quantitatif Impact Study (QIS), rasio Kecukupan
Pemenuhan Modal Minimum (KPMM atau CAR) BNI masih di atas rasio yang ditetapkan
oleh Bank Indonesia. Pada tahun 2007 BNI telah melakukan secondary public offering
yang salah satu tujuannya adalah untuk memperkuat permodalan khususnya dalam
be handled differently,
according to its reputational
risk level.
Implement daily evaluation
of reputational risk faced
by BNI and published
a media monitoring
report. The reputational
risk management study
to be comprehensively
prepared by the Corporate
Communication Division.
Monitor the follow up on
customer complaints.
BUSI NESS CONTI NUI TY
PLAN
The implementation of Bank
Indonesia Regulation No.
5/8/PBI/2003, concerning
the necessity of process
implementation risk
management which could
threaten the existence of
the Bank itself. In 2006,
BNI began building and
arranging this policy,
including procedures to face
such an emergency condition
or disaster. Basel ll also
stipulates that a Bank have
in place a business continuity
plan and contingency plan, to
conrm its ability to operate
and limit losses if there is
such a threat to their business
activities. This is in view of
the statistic which states
that Indonesia is three years
behind with critical data
protection and subsequent
customers losses, in the
event of any natural disaster.
To quickly upgrade this
infrastructure, BNI has built
a Business Continuity Plan
(BCP) team to arrange a
formal mechanism and plans
MODE RN RI SK MANAGE ME NT P RACTI CE S
175
mengantisipasi penerapan Basel II di Indonesia. Selain itu BNI juga terlibat dalam Working
Group Implementasi Basel II di Bank Indonesia serta secara internal membentuk Working
Group Penerapan Basel II di BNI.
Mengingat penerapan Basel II bukanlah tugas yang ringan, maka dalam persiapannya, BNI
selalu aktif bekerjasama dengan beberapa bank lain, baik di dalam maupun di luar negeri,
khususnya terkait dengan metodologi, sistem pengukuran maupun sharing knowledge.
Untuk meningkatkan kompetensi, secara periodik pegawai diikutkan dalam berbagai forum
seminar, workshop, maupun training baik di dalam maupun luar negeri.
Adapun rencana implementasi Basel II dari Bank Indonesia dan kesiapan BNI untuk
melaksanakan tahapan tersebut dapat dilihat pada Tabel berikut:
combining strategy, policy,
procedures and organisation
developed to make sure that
operational continuity still
exists in a critical condition.
BNI BCP is to be completed
in 2007 with the release of a
policy guidance book, disaster
recovery plans, practical
guidance, examinations and
BCP as well as putting into
action a standardization
guide (signage) for work
and building safety. Once
the Business Continuity Plan
is completed, it is hoped
that BNI will be able to
anticipate and compensate
for any emergency conditions
or disasters, to minimize
potential operational risks.
ANTI CI PATI ON OF BASEL I I
I MPLEMENTATI ON
In conforming to Bank
Indonesia requirements, BNI
risk management development
also relies on best practice
risk management, as applied
in international banking
institutions. Improvement
is carried on continuously,
in accordance with the
framework published by the
Basel Committee on Banking
Supervision, also known as
the Basel Accord II.
The most important
Milestone for 2007 is a
review and conrmation of
risk management practices,
as applied in conformity
with Basel ll, following
initiatives in risk management
implementation at BNI
some years before. The Risk
Management Division is
more precisely focused on
managing credit risk, market
Pendekatan
Perhitungan
Rasio
Ratio
Calculation
Approach
PI LAR 1 PI LAR 2 PI LAR 3
Kesiapan BNI
BNI Readiness
Parallel Run
(Standardized
& Validation of
Internal Model
to Bank
Indonesia)
Persyaratan BI
BI Requirement
Risiko Lainnya
Other Risks
Transparansi
Transparency
Kesiapan BNI
BNI Readiness
Persyaratan BI
BI Requirement
Kesiapan BNI
BNI Readiness
Market Risk
Standardized 2008 Q1 2008 Q1 2009 2009
Internal Model 2008 Q3 2007 Q2 2008 2009
Credit Risk
Standardized 2008 Q1 2008 Q1 2009 2009
IRBA 2010 Q1 2010 Q4 2010 2011
Operational Risk
Basic Indicator 2007 Q1 2008 Q1 2009 2009
Standardized 2008 Q1 2010 Q4 2010 2011
AMA 2010 Q2 2010 Q2 2011 2011
2
0
0
8
Q
1

2
0
0
9
MANAJ E ME N RI SI KO
176
PROFI L RI SI KO BNI
Sesuai dengan pedoman dari Bank Indonesia, setiap tiga bulan BNI melakukan assessment
terhadap profl risiko secara keseluruhan. Penilaian profl risiko ditentukan dengan
menggabungkan hasil penilaian eksposur risiko yang melekat (inherent) pada aktivitas
fungsional (inherent risk) dan kecukupan sistem pengendalian risiko (risk control system),
yang meliputi:
pengawasan aktif Komisaris dan Direksi Bank
kecukupan kebijakan, prosedur dan penetapan limit
kecukupan identifkasi, pengukuran, pemantauan dan sistem informasi manajemen risiko dan
Sistem pengendalian intern yang komprehensif
Peringkat Risiko inheren tersebut mencerminkan potensi timbulnya risiko pada Bank, yang
terdiri dari rendah (low), moderat (moderate), dan tinggi (high), sedangkan peringkat atas
penilaian kecukupan sistem pengendalian risiko (risk control system) terdiri dari lemah (weak),
dapat diandalkan (acceptable), sangat memadai (strong), sehingga menghasilkan tiga predikat
risiko komposit, yaitu rendah (low), moderat (moderate), dan tinggi (high).
Adapun profl risiko BNI pada akhir Desember 2007 adalah sebagai berikut:

risk and operational risk. In the
application of its initiatives,
BNI concluded it should run
an intermediary function in
carefully applying principles
through risk management
in covering all efforts in an
integrated, measurable and
controllable fashion.
In anticipation of Basel ll,
BNI takes an active stance,
preparing with such efforts as
a Quantitative Impact Study
(QIS 4 and 5), held by the
Basel Committee on Banking
Supervision through Bank
Indonesia. QIS assessment
determined the ratio of
sufcient minimum capital
(CAR) held by BNI is still
within the limits approved by
Bank Indonesia.
In 2007, BNI performed a
secondary public offering,
one purpose of which
was to strengthen capital,
especially in anticipating
the full implementation of
Basel II, bearing in mind that
the actual implementation
of Basel ll is never a simple
matter. In preparation, BNI
is working closely with other
banks, both domestic and
international, particularly
in acquiring methodology,
measuring systems and
knowledge. Building employee
competence is a core concern,
so periodically employees are
enrolled in seminar forums,
workshops and other training
sessions, both domestic
and abroad.
For a detailed map of Basel
ll implementation plans from
Bank Indonesia and BNI
preparation to implement
Risiko Inheren
Inherent Risk
Sistem
Pengendalian Risiko
Risk Control
Rendah/Low Kuat/Strong
Sedang/Moderate
Dapat Diandalkan/
Acceptable
Tinggi/High Lemah/Weak
Kredit
Loan
6
7
.
4
2
6
7
.
3
2
Pasar
Market
5
4
.
7
87
4
.
4
7
Likuiditas
Liquidity
5
1
.
3
3
7
7
.
3
8
Operasional
Operational
5
7
.
6
9
6
7
.
0
3
Hukum
Legal
9
1
.
3
9
6
4
.
4
2
Reputasi
Reputation
7
4
.
8
4
7
7
.
7
5
Strategis
Strategic
6
9
.
7
2
6
7
.
2
4
Kepatuhan
Compliance
7
0
.
2
4
7
7
.
7
3
MODE RN RI SK MANAGE ME NT P RACTI CE S
177
Dari hasil penilaian profl risiko per Desember 2007, inherent risk BNI memperoleh predikat
RENDAH dengan tingkat pengendalian risiko KUAT, sehingga risiko komposit BNI berada
pada posisi RENDAH.
each stage, refer to the table.
BNI RI SK PROFI LE
In conformity with guidance
from Bank Indonesia, every
quarter BNI performs an
assessment on the risk prole.
Assesment of the risk prole
is carried out by combining
the result of risk exposure
inherent to functional activity
(inherent risk) and a sufcient
system of controlling risk (risk
control system), covering:
Active monitoring from
commissioners and
management
Suffcient policy, procedures
and approval limits
Suffcient identifcation,
measuring, monitoring
and risk management
information systems
Comprehensive internal
control system
Inherent risk level reects
potential risk faced by the
Bank, stands from low,
moderate, and high. While
another grading scale for risk
control systems are weak,
acceptable, strong; thus,
a resulting composite risk
quotient would be one of
three: low, moderate, or high.
BNI risk prole as of
December 2007 is presented
in the table above.

Result of BNI risk prole
assesment as of December
2007: inherent risk fall under
LOW category while the risk
control level is STRONG.
Therefore, BNI composite risk
is in LOW category.
Keterangan/Asessment Skor/Score Predikat/Predicate
Risiko Inheren
Inherent Risk
66,8100,0 Rendah/Low
33,466,7 Sedang/Moderate
0,033,3 Tinggi/High
Sistem Pengendalian Risiko
Risk Control
66,8100,0 Kuat/Strong
33,466,7 Dapat Diandalkan/Acceptable
0,033,3 Lemah/Weak
Hasil Penilaian
Predikat Risiko Komposit
Predicate Scoring of Composite Risk
Risiko Inheren/Inherent Risk
RENDAH/LOW SEDANG/MODERATE TINGGI/HIGH
Sistem
Pengendalian Risiko
Risk Control
LEMAH/WEAK
Rendah ke Sedang
Low to Moderate
Sedang ke Tinggi
Moderate to High
Tinggi/High
DAPAT DIANDALKAN/
ACCEPTABLE
Rendah/Low Sedang/Moderate Tinggi/High
KUAT/STRONG Rendah/Low
Sedang ke Rendah
Moderate to Low
Tinggi ke Sedang
High to Moderate
Konversi Skor VS Predikat
Score Conversion VS Predicate
Risiko Komposit
Composite Risk
SUMBE R DAYA MANUSI A
178
BNI berupaya mempertajam layanan kepada nasabah
dan menumbuhkan produktivitas dengan menciptakan
tenaga kerja berkualitas, mengemban nilai-nilai
perusahaan, bekerja dengan penuh keyakinan dan
inisiatif mandiri di tengah pesatnya perubahan ekonomi.
BNI strives to sharpen customer service and grow
productivity through creating a better-quality work force,
inculcated with stated company values and able to operate
with condence and independent initiative in a time of rapid
economic change.
HUMAN RE SOURCE S
Sumber Daya Manusia
HUMAN RE SOURCE S
179
Perbankan merupakan industri jasa. Saat ini hampir seluruh bank menawarkan produk dan jasa
yang relatif serupa. Nasabah akan memilih sebuah bank yang dapat memenuhi kebutuhan
keuangannya, dengan pertimbangan bank tersebut memberikan kenyamanan dan keamanan.
Nasabah akan dengan mudah berpindah bank apabila layanan sebuah bank dinilai tidak
memuaskan. Hal ini merupakan alasan, mengapa layanan nasabah menjadi faktor yang
sangat penting bagi kinerja bank.
Sebagai sebuah perusahaan besar, BNI senantiasa memberi perhatian pada kualitas sumber
daya manusia. Manajemen meyakini, perusahaan harus menciptakan budaya kerja yang
harmonis, efsien dan dinamis. Untuk itu, pada tahun 2007 BNI meluncurkan budaya kerja
baru yang dinamakan PRINSIP 46. PRINSIP 46 merupakan akronim dari empat nilai, yaitu
profesionalisme, integritas, orientasi pelanggan dan perbaikan tiada henti.
Program-pogram di bidang SDM yang telah dilakukan pada tahun 2007 guna mendukung
pencapaian sasaran-sasaran bisnis BNI adalah sebagai berikut:
1. Rekrutmen. Telah dilakukan upaya untuk memperoleh calon pegawai yang berkualitas
melalui program kerjasama dengan beberapa perguruan tinggi terkemuka di Indonesia
atau program talent scouting (early recruitment). Program rekrutmen lainnya adalah
rekrutmen frontliner yang dijalankan sesuai dengan standar kompetensi yang telah
disempurnakan agar kualitas layanan frontliner BNI meningkat.
2. Pengelolaan Kinerja. Pengelolaan kinerja pegawai dilakukan dengan metode
performance management system yang terdiri dari unsur penilaian kinerja dan
pengembangan pegawai. Agar hasil penilaian kinerja pegawai lebih akurat dan obyektif,
telah dilakukan penyempurnaan sistem melalui implementasi key performance indicator
(KPI) untuk setiap posisi dan implementasi penilaian oleh komite penilai di setiap unit. Hal
lain yang terkait dengan pengelolaan kinerja adalah menyelaraskan hasil kinerja pegawai
Banking is a service industry,
and most banking institutions
provide approximately the
same range of services. A
customer will do business
with the bank where he or
she feels most comfortable,
trusted, accorded accurate,
friendly service, and where the
staff themselves act happy
and secure in their positions.
Put bluntly, a customer who
feels uneasy, bewildered
or offended in the slightest
can very easily close his or
her account and move to a
friendlier, more comfortable
banking environment. This is
the reason why all banks stress
positive front-line attitudes
and customer service above all
else, at least in theory.
BNI is a high-prole
organization, a nancial
arm of the Government of
Indonesia, and a historical
monument to national
growth and development.
For these reasons, serious
and continuing attention are
paid to human resources
recruitment, monitoring and
upgradingcritical factors
in BNIs reputation and
protability in todays world.
BNI management rmly
believes a bank must cultivate
a harmonious, efcient and
dynamic work culture, one
supported by all its working
members. BNI dedicates vast
resources to HRD selection,
appraisal and upgrading, and
in 2007 emerged with a new
cultural pattern to be known
as Principle 46, an acronym
standing for four BNI work
values: Professionalism,
Integrity, Customer Oriented
and Continuous Improvement,
complemented by six main
behavioural patterns.
HR programme pursued
in 2007, to support the
achievement of targeted BNI
goals, as follows:
1. Recruitment. Great
efforts are expended to
locate and hire quality
candidates, through
cooperation with
recognised universities
in Indonesiaor through
talent scouting (early
recruitment). Yet another
recruitment program is
Frontliner Recruitment,
indexed to competency
standards upgraded to
strengthen frontline quality
service.
2. Performance
Management. Monitoring
SUMBE R DAYA MANUSI A
180
dengan kinerja unit serta kinerja perusahaan. Upaya tersebut dapat dilakukan melalui
penjabaran KPI unit dalam scorecard unit menjadi KPI Individu. Hasil penilaian akan
berdampak pada remunerasi, rencana pengembangan dan karir pegawai.
3. Remunerasi. Pada tahun 2007 telah dilakukan kaji ulang terhadap strategi remunerasi
yang lebih berorientasi pada kinerja, lebih kompetitif terhadap pasar dan sesuai dengan
kemampuan perusahaan. Sebagai bagian dari implementasi strategi tersebut, juga telah
dikaji ulang bobot kerja seluruh posisi di BNI, xed pay, variable pay, diikuti dengan
implementasi sistem gaji baru yang lebih berorientasi pada kinerja, termasuk merancang
kembali sistem reward yang memacu inovasi dan sistem insentif yang memacu kinerja.
4. Pengelolan Karir. Program kaderisasi pimpinan dilakukan melalui seleksi dan
pelatihan Akademi Pimpinan Perusahaan (APP) yang telah diikuti oleh 45 orang. Untuk
mempersiapkan calon-calon pemimpin dan mengisi kebutuhan posisi strategis di BNI,
juga diimplementasikan talent pool system, serta penerapan competency based pada
sistem karir pegawai.
Saat ini program yang telah dilakukan adalah menyelesaikan competency prolling untuk
seluruh posisi jabatan dan melakukan assessment terhadap 106 pegawai VP dan 445
orang pegawai AVP. Program assessment ini akan dilanjutkan untuk jenjang MGR dan
AMGR di tahun 2008.

Setelah profl kompetensi pegawai dapat dipetakan, pengembangan pegawai akan lebih
difokuskan untuk menutup kesenjangan kompetensi sesuai dengan profl masing-masing.
Sementara itu, untuk menyiapkan kader International Banking Ofcer (IBO), telah
dilakukan rekrutmen internal dan diikuti dengan on the job training di cabang-cabang luar
negeri dan bank koresponden. Program rekrutmen internal lainnya adalah seleksi ofcer
yang pelatihannya telah diikuti oleh 86 orang dan akan siap untuk memenuhi kebutuhan
posisi tingkat ofcer/analis.
and guiding employee
performance through a
Performance Management
System, characterized by
performance grading and
employee development,
enables accurate and
objective evaluation to
be achieved through Key
Performance Indicator (KPI)
implementation for each
position. Implementation
is appraised by a Grading
Committee in each unit.
Employee performance
results are compared in
terms of unit performance
vs overall company
performance, the KPI
Scorecard Unit tracking
individual KPI. Adjudged
performance results
will naturally inuence
BNIs policy toward an
individuals remuneration,
employee development and
career path management.
3. Remuneration.
A review of remuneration
strategy more closely
indexed to performance
was carried out in 2007,
with factors of market
competitiveness affecting
remuneration, based on
BNIs capability. An aspect
of its implementation is the
appraisal and marking of a
performance score for all
positions at BNI, followed
by the implementation of
a new performance-based
remuneration system, not
only are there indices of
xed pay, variable pay but
there is also a redesigned
rewards system, aimed to
stimulate innovation, and
an incentive fee system
to encourage superior
performance.
4. Career Development.
Leader Cadre Programs
are carried out through
candidate selection and
subsequent training at
the Akademi Pimpinan
Perusahaan or Company
Leader Academy
(CLA) where some
45 participants are
put through programs
preparing leadership
candidates and fullling
strategic positioning at
BNI, with their Talent
Pool System. To ensure
an accurate candidate
selection for open positions
at BNI, the approach is
based on the employee
career competence
system, involving proling
competency for all
positions and assessment
of 106 VP employees and
3.79% 7.35%
38.60%
0.73%
39.66%
9.87%
Vice President
Assistant Vice President
Manager
Assistant Manager
Assistant
Pegawai Dasar
Komposisi Karyawan
Berdasarkan Jabatan
Employees Composition
Based on Grade
HUMAN RE SOURCE S
181
5. Pengembangan Pegawai. BNI sangat memperhatikan sistem pembelajaran dan
pengembangan bagi pegawainya. Setiap tahun disediakan anggaran pelatihan dan
pengembangan pegawai sebesar 5% dari biaya personalia. Berbagai program pelatihan
telah dilaksanakan pada tahun 2007 dengan dukungan instruktur-instruktur yang berasal
dari luar dan dalam BNI yang kompeten di bidangnya. Jenis-jenis pelatihan terbagi dalam
beberapa kategori dan porsi terbesar adalah untuk pelatihan kompetensi. Hal ini untuk
mendukung manajemen sumber daya manusia BNIberbasis kompetensi (MSDM-BK).
Selama tahun 2007 BNI telah melatih 137 peserta pelatihan pengembangan karir, 33.398
peserta pelatihan kompetensi dan 4.463 peserta pelatihan wawasan dan lain-lain.
Dalam rangka meningkatkan ragam pembelajaran bagi setiap individu sesuai dengan
kebutuhan dan menghemat biaya pelatihan, BNI menerapkan program e-Learning.
Program e-Learning BNI pada tahun 2007 mendapat penghargaan Best Online
Learning peringkat III kategori perusahaan pada ajang e-Learning Award 2007 yang
diselenggarakan oleh Pustekkom Depdiknas dan Majalah SWA. Sampai akhir tahun 2007,
BNI telah memiliki konten e-Learning (courseware) sebanyak 20 grup kursus, 69 kursus,
267 modul dan 171 jam e-Learning, dengan jumlah peserta sebanyak 142.662 orang
(rata-rata 1 orang pegawai mengakses 8 group kursus).
Agar dapat menunjang pengelolaan SDM tersebut dan membantu penerapan kebijakan
serta operasional sehari-hari, diperlukan dukungan penyediaan informasi yang cepat dan
akurat. Untuk itu sejak tahun 2007 sistem informasi SDM telah berperan penting sebagai
solusi sistem aplikasi terpadu berbasis oracle. Modul di dalam sistem informasi SDM
tersebut meliputi:
Modul personalia yang telah dapat digunakan untuk mencatat seluruh perubahan data
kepegawaian.
modul penggajian (payroll) yang telah digunakan untuk melakukan pembayaran gaji
langsung ke rekening pegawai, termasuk melakukan perhitungan pajak penghasilannya.
modul rekrutmen yang dapat digunakan untuk mencatat data aplikasi lamaran yang masuk
445 AVP employees. This
assessment program will
be followed up to Manager
level and afterwards to
Assistant Manager level.
Once an employee
competency prole is built,
employee development
will focus more closely on
closing gap competence,
according to each prole.
To prepare International
Banking Ofcer (IBO)
cadres, candidates are
recruited internally, ready to
follow on-the-job training
in overseas branches and
correspondent banks.
5. Employee Development.
BNI is known for paying
close attention to learning
systems as a means of
upgrading employees.
Training budgets and
employee developments
prepared for various
upgrading program
amounted to some 5%
of personnel costs every
year. A sizeable number
of training programs
were implemented in
2007, supported by a
staff of qualied internal
and outside instructors.
Training is conducted for
specialised topics, the
biggest portion of which
is for competency training,
in support of BNI human
resources management-
based competency. During
2007 BNI trained some
137 participants for career
development, 33,398
participants for competency
training and 4,463
participants for insight
training and associated
topics.
In addition to conventional
training sessions, and to
increase the variety of
training types for every
individual, according to
their needs and in a cost-
effective manner, BNI
implemented e-Learning
Programs, which were so
successful they received
a Third-Place award for
the Best Online Learning
company category, in
the e-Learning Award
2007, held by Pustekkom
(National Education
Department) and SWA
Magazine. By 2007,
e-Learning (courseware)
content at BNI expanded
to 20 course groups, 69
courses, 267 modules and
171 hours of e-Learning,
registering an enrolment of
SMA
High School
Akademi
Diploma
S1
Bachelor Degree
S2
Master Degree
S3
Doctoral Degree
8.88% 10.37%
13.17%
0.03%
67.55%
Komposisi Karyawan
Berdasarkan Jenjang
Pendidikan
Employees Composition by
Educational Level
SUMBE R DAYA MANUSI A
182
serta mengolahnya sesuai dengan tahapan seleksi yang dilakukan,
modul lainnya adalah modul employee self-service yang terdiri dari sub modul online
performance appraisal, pay slip, absence, employee loan, dan apply for job. Modul
dimaksud dapat mendukung program ofce automation yang akan meningkatkan efsiensi.
Di samping itu, dalam rangka meningkatkan kinerja bisnis BNI di berbagai bidang dan
juga kinerja pegawai, telah dilakukan perbaikan serta pengembangan yang tepat dan
berkesinambungan.
Pada tahun 2007 telah dilakukan Employee Engagement Survey. Hal-hal yang diukur
adalah tiga jenis indeks yaitu engagement, leadership, dan belief. Secara umum responden
mempercayai nilai-nilai (values), tujuan dan sasaran bisnis BNI, dan menunjukkan
kepercayaan kepada jajaran pimpinan serta manajemen untuk mencapai tujuan dan sasaran
bisnis BNI. Sementara itu, untuk aspek pengelolaan SDM, aspek pengembangan karir dan
penilaian kinerja juga menunjukkan peningkatan.
Dalam rangka menciptakan sumber daya manusia yang profesional, BNI menciptakan dan
menyelenggarakan pelatihan-pelatihan yang berkualitas, sesuai dengan perkembangan dan
tuntutan pasar. Upaya-upaya yang ditempuh antara lain:
1. Merancang modul-modul pelatihan di bidang perkreditan pada BNI Akademi Kredit
2. Merancang modul-modul pelatihan di bidang operasional perbankan pada Akademi
Pimpinan Perbankan
3. Menyusun program pelatihan dan pengembangan dengan pendekatan competency
based dan usulan pelatihan berdasarkan masukan/kebutuhan dari segenap unit organisasi
guna menunjang pencapaian target bisnis unit di tahun 2007 sesuai dengan Katalog
Pelatihan dan Pengembangan 2007
Pendekatan competency based menjadi falsafah yang mendasari penyusunan program
pelatihan dan pengembangan melalui sistem pelatihan yang didasarkan pada kesenjangan
142,662 (on the average,
each employee accessed
eight course groups).
To support Human Resources
Management, and to apply
relevant policies and daily
operation, a rapid and
accurate information ow is a
prerequisite; thus, an Oracle-
based Human Resources
Information System was put
into motion in 2007, as an
integrated application system
solution. Modules include:
A Personnel Module, within
which all employee data
changes are recorded.
A Payroll Module which,
in addition to making
direct salary payments to
employees, also calculates
their income tax deduction.
A Recruitment Module,
used to note application job
data, as well as managing
it, according to stages of
selection.
Self-service employee
modules, with such sub-
modules monitoring and
accessing data on Online
Performance Appraisal,
payment slips, attendance,
employee loans, and
job applications in the
development process, all
in support of an ofce
automation program to
increase efciency.
Above and beyond this,
increased BNI business
performance within various
sectors, as well as improved
employee performance, is
calculated in 2007, by an
Employee Engagement Survey.
Three indices are measured:
Engagement, Leadership,
and Belief. Respondents
are evaluated and graded
rationally, for their adherence
to values, purpose and BNI
business targets, leadership,
potential belief as well as
management skill in achieving
stated BNI objectives and
business targets.
In the quest to create
professional human resources,
BNI sets up and hosts
quality training, according
to developmental level and
market demand:
1. Planning training modules
in the credit sector at BNI
Credit Academy
2. Planning of training
modules in banking
operations at the Company
Leader Academy
3. Arrangement of training
programs and their
development through
HUMAN RE SOURCE S
183
kompetensi (competency gap) setiap posisi dibandingkan dengan kompetensi pemegang
posisi saat ini maupun yang akan datang.
Disamping model pembelajaran klasikal (konvensional) yang dijalankan selama ini, di tahun
2007 BNI menggunakan media e-Learning yang dapat diakses oleh seluruh pegawai
melalui Learning Management System (LMS) dalam sistem Human Capital Management
Information System (HCMS). Manfaat yang diperoleh dari media e-Learning ini antara
lain dapat menjangkau lebih banyak peserta, menghemat biaya pelatihan per individu,
meningkatkan ragam pembelajaran bagi setiap pegawai sesuai dengan kebutuhan dan pada
akhirnya dapat mempercepat pencapaian visi dan misi BNI.
Model pembelajaran melalui e-Learning juga akan meningkatkan eksibilitas bagi setiap
pegawai untuk mengikuti pelatihan sesuai dengan kebutuhan tanpa harus meninggalkan
tugas dan pekerjaannya sehari-hari (learning while working).
BNI memandang pegawai sebagai aset perusahaan dan senantiasa berupaya menciptakan
lingkungan kerja yang menarik dan kondusif. Berbagai inisiatif dilakukan untuk menjaga
kualitas SDM BNI agar sesuai dengan kebutuhan bisnis, dengan cara yang efektif, sekaligus
menciptakan skema remunerasi yang menarik bagi pegawai.
Investasi di bidang SDM akan menghasilkan SDM yang berkualitas dan mampu mengelola
dan mengarahkan bank untuk melakukan transformasi dalam mencapai misinya di masa
yang akan datang.
a competency-based
approach, with training
proposals based on input
from all organizational
units, to support the
achievement of unit
business targets, as
specied in the Banks
2007 Training and
Development Manual
A Competency-Based
approach became a
cornerstone philosophy, based
on arranging appropriate
training programs and
development, and helps
to narrow any competency
gap for every position in the
organization, at the present
and for the future.
Every BNI employee enjoys
access in 2007 to e-learning
media, through the Banks
Learning Management System
in HCMS (Human Capital
Management Information
System). Cost-effective
e-Learning media are able
to reach many participants,
reside in any location, have
extremely low per-individual
training costs, can deliver
highly-specic and specialised
types of training for each
employee, and in the end
will help to expedite the
achievement of the BNI vision
and mission.
Exploiting training models
through e-Learning will enable
an increase in the variety of
training topics and facilitate
ways for all employees to
attend training, according to
their needs, with no absences
from work or daily duties
(learning while working).
At BNI, we always consider
our staff to be our greatest
asset, and we are committed
to ensuring an attractive and
conducive work environment
for our people. Various
initiatives have been and
will be implemented to align
manpower requirements
with business objectives, in a
cost-efcient manner, while
developing a competency-
based remuneration scheme
to attract and retain the
best people. We believe our
investment in enriching our
HR quality will yield highly
competent employees,
who will lead and manage
the banks transformation
to achieve its mission in
the future.
TE KNOLOgI I NF ORMASI
184
BNI menyadari pentingnya sistem yang handal dan berfungsi
selama 24 jam penuh untuk menyimpan, menarik-kembali,
menganalisa dan menyebarluaskan data-data penting.
Investasi besar telah ditanamkan untuk menyempurnakan
perangkat keras (hardware) agar lebih mudah diakses dan
memiliki tingkat pengamanan yang memadai.
BNI recognizes the particular urgency of storing, retrieving,
sharing, analyzing and distributing time-critical data, on
a 24/7 basis. Up-to-date hardware, representing a major
investment, is installed and upgraded, with an eye to
security threats and ease of access.
ADvANCE S I N I NF ORMATI ON TE ChNOLOgy
Teknologi Informasi
ADvANCE S I N I NF ORMATI ON TE ChNOLOgy
185
TEKNOLOGI I NFORMASI MENDUKUNG BI SNI S
Industri perbankan saat ini berbeda dengan kondisi 25 tahun yang lalu. Penemuan besar
di bidang Teknologi Informasi (TI) berdampak penting pada bisnis dan industri, dan banyak
diterapkan dalam akitivitas rutin di perbankan. Mainframe komputer berfungsi sebagai
perangkat pendukung utama aktivitas perbankan. Saat ini, hampir tidak ada sistem jaringan
karyawan yang hanya terhubungkan ke satu komputer, namun hampir seluruhnya telah
terkoneksi ke sistem jaringan yang lebih luas.
Keberhasilan, kemajuan dan tingkat produktivitas di industri perbankan disadari sangat
bergantung pada dukungan dan kemampuan sistem TI, serta didukung oleh sistem pelatihan
yang baik, SDM yang berkualitas dan ketersediaan modal yang memadai untuk melakukan
investasi penting dalam menghadapi kecenderungan perubahan. Pola kerja dan dukungan
TI saat ini telah meluas hingga ke pengembangan produk dan jasa, serta manfaat yang
diperoleh manajemen melalui kemampuan mengakses data penting setiap saat. Efektivitas
operasional, sistem pelaporan dan proses pengambilan keputusan terus meningkat,
didukung oleh kemudahan memperoleh referensi. Hal ini mencerminkan aplikasi sistem TI
merupakan aset utama untuk meraih sukses, dan diyakini bahwa hal ini akan terus berlanjut
di masa depan.
Negara berkembang seperti Indonesia sangat membutuhkan teknologi, dan BNI juga
menyadari kebutuhannya terhadap teknologi yang canggih, di samping kebutuhan investasi
yang cukup besar dalam memenuhi perangkat dan sumber daya manusia.
Menyadari pentingnya peran TI, sejak Desember 2005 BNI telah menyelesaikan
implementasi sistem core banking baru yang diberi nama iCONS (Integrated Centralized
Online System) di seluruh cabang BNI serta BNI Syariah di seluruh Indonesia. Selanjutnya
BNI juga telah melakukan upgrade infrastruktur dengan perangkat keras (hardware) yang
INFORMATION TECHNOLOGY
AS A BUSINESS ENABLER
Banking today is profoundly
different from what it was
some twenty-ve years
agoa business which had
in fact changed relatively
little over the previous
century. Dramatic advances
in information technology,
important for numerous elds
of business and industry,
were particularly applicable
to the mostly-manual daily
activity in banking. Unwieldy
mainframe computers
handled mechanical aspects
of banking but were controlled
by a select priesthood of
specialists. No line employee
had access to a computer,
much less to the vast
networks, increasingly linked
together, which characterise
practically all banking
worldwide today.
Success, progress and
productivity in contemporary
banking clearly depend on
powerful and reliable IT
system support, backed up by
well-trained, intelligent human
resources and sufcient
capital for the steady
investment necessary to stay
up with changing trends. The
core role and support of IT
today extends to product and
service development as well,
and management benets
through the intelligence
gained from instant access
to critical data, at any time.
Effective operations, reporting
protocol and decision-
making is accelerated, stored
and available for reference,
meaning that wise application
of IT systems represents
a major capital asset of
monumental importance
for business successand
this trend will undoubtedly
continue into the future.
A developing nation like
Indonesia has particular need
of this technology, and BNI
acknowledges its reliance
on IT, in spite of the heavy
investment in equipment
and human resources, and
the inevitable disruptions in
operations, it entails. From
December 2005, BNI marked
the completion and full-scale
implementation of a new
core banking system known
as iCONS (for Integrated
Centralized Online System) in
all BNI branches, along with
TE KNOLOgI I NF ORMASI
186
baru dan peningkatan kapasitas jaringan yang menghubungkan seluruh kantor cabang BNI
dengan kantor pusat. Bersamaan dengan itu, BNI juga telah menyelesaikan pembangunan
fasilitas Command Center dan Disaster Recovery Site (DRS), dimana kedua fasilitas tersebut
berperan penting untuk memastikan kelangsungan operasional bank apabila terjadi kendala
pada sistem utama.
Kerentanan yang timbul akibat ketergantungan yang sangat besar pada TI disadari
cukup berisiko dan membutuhkan penanganan segera. Hal ini terbukti dari banyaknya
kasus yang terjadi, baik yang disebabkan tidak berfungsinya perangkat atau jaringan
maupun kerugian akibat hacker yang mengganggu sistem, seperti sering diberitakan di
media beberapa tahun terakhir. Sistem yang rentan dan kompleks, seringkali menjadi
subyek yang ditiru oleh pesaing, sehingga membutuhkan investasi besar untuk
pengamanan maupun pemantauannya.
Dengan sistem teknologi informasi yang telah maju dan terintegrasi yang dimiliki BNI saat ini,
serta dibangun di atas pondasi yang kokoh maka pengembangan produk dan layanan baru
dapat dikembangkan dengan lebih cepat, mudah untuk diintegrasikan dengan sistem lain dan
transaksi dapat dilakukan secara real time online di seluruh outlet. Dapat disimpulkan, bahwa
anggaran dan langkah kerja yang tepat akan meningkatkan produktivitas dan operasional bank
menjadi lebih efsien. Melalui implementasi arsitektur teknologi yang tersentralisasi, kebutuhan
akan data dan informasi bagi nasabah, manajemen maupun pemangku-kepentingan dapat
dipenuhi secara cepat dan akurat. Hal ini tentunya juga harus didukung oleh sumber daya
manusia yang kompeten melalui pelatihan dan panduan yang jelas.
DUKUNGAN SI STEM TEKNOLOGI I NFORMASI UNTUK BI SNI S
Selama tahun 2007 telah dikembangkan dan diimplementasikan beragam ftur, fasilitas
maupun produk baru guna memberikan kemudahan bagi nasabah. Salah satu inisiatif penting
BNI Syariah, now available
all over Indonesia. Further,
BNI also has completed its
infrastructure upgrade, with
new hardware and extended
network capacity, connecting
all BNI branch ofces to the
head ofce. Parallel to this,
BNI has also put in place
its Command Centre Facility
and Disaster Recovery
Site (DRS), both critical
support facilities that go far
toward ensuring sustainable
Bank operations through
failures, interruptions or
other obstacles along the
system or at our main facility.
The vulnerability which
inevitably accompanies heavy
reliance on IT is always a
looming peril, as evidenced
by documented cases of
equipment or network
malfunction or by the huge
losses entailed through
hacking or unauthorised
trades, as have surfaced in
the media in recent years.
Systems are fragile and often
complex beyond recognition,
and subject to penetration by
malefactors or competitors
all this requiring further
major investments in security
and monitoring.
With these up-to-date IT
systems in place at BNI,
correctly integrated into a
strong and cost-effective
foundation, product
development and new
services needing technology
support may emerge more
quickly and are more
easily merged with other
systems and real-time online
transactions at all outlets.
The conclusion is that it is
money and effort well-spent,
as productivity is magnied
and Bank operations have
become notably more
efcient.
Through implementation
of centralized technology
architecture, data and
information requirements for
customers, management and
other stakeholders may be
accessed more quickly and
accurately, fully supported by
competent human resources
thoroughly trained by BNI.
INFORMATION TECHNOLOGY
FOR BUSINESS SUPPORT
During 2007, a variety of
new features have been
developed and applied to
everyday operations, along
with new products to better
05 06 07
Jumlah ATM Card
Number of ATM Cards
(x 1000)
7,716
6,796
4,908
ADvANCE S I N I NF ORMATI ON TE ChNOLOgy
187
yang dihasilkan adalah jaringan distribusi baru seperti BNI internet banking yang memudahkan
nasabah melakukan transaksi dan di sisi lain mendorong dan meningkatkan daya tarik bisnis.
Melalui pengembangan elektronik channel, BNI terus melakukan pengembangan untuk
memenuhi kebutuhan nasabah. Salah satu keberhasilan yang diraih adalah jaringan ATM,
dimana BNI menjadi pioner dalam menawarkan jasa layanan kepada para nasabahnya,
seperti kemudahan melakukan pembayaran tagihan kartu kredit, pembayaran tagihan PLN,
telepon dan Iuran Pendidikan (student payment), pembelian pulsa telepon, pembayaran
Zakat, dan sebagainya. Di akhir tahun 2007, ATM BNI telah memiliki lebih dari 105 ftur
transaksi, dimana ftur dan fasilitas baru tersebut dapat dikembangkan dengan lebih mudah
dan dengan tingkat keamanan yang memadai. Beberapa ftur baru yang dikembangkan
antara lain: pengembangan fasilitas registrasi SMS Banking di cabang, implementasi sistem
enkripsi Triple-DES untuk ATM, penggunaan BNI e-Secure (token) untuk transaksi melalui
BNI Internet Banking, serta implementasi PINPad Swipe untuk transaksi diatas nilai tertentu
di cabang-cabang.
Sistem baru iCONS juga mendukung dilakukannya interkoneksi dengan institusi lain, antara
lain dengan pembuat kebijakan seperti sistem pembayaran nasional dari Bank Indonesia
kepada Departemen Keuangan, Sistem Kliring Nasional (SKN), Sistem Daftar Hitam Nasional
(DHN), Sistem Intercity Clearing dan Modul Penerimaan Negara (MPN), Sistem pembelian
bahan bakar host-to-host OPBS dengan Pertamina, dan sebagainya.
Untuk mempercepat proses settlement dan meningkatkan akurasi pembukuan, BNI juga
telah mengimplementasikan sistem STP (Straight Through Processing) RTGS (Real Time
Gross Settlement), otomasi proses kliring kredit serta Signature Verication System baru
yang tersentralisasi.
serve our valued customers.
One key initiative has been
the premiere of new delivery
channels, such as BNI internet
banking, which facilitate
customer transactions while
generating interest and
attracting new business.
Exploiting electronic channels
for payments and purchases,
BNI strives expand its ability
to fulll customer needs.
Famously successful are
the ATM networksBNI
being the pioneer in offering
this service to its account
holders. Contemporary
offerings include credit
card instalment payment,
and transfers to accounts
in correspondent banks,
telephone and electricity
utility payments, and student
allowance payments, top-
up of SIM cards for mobile
telephones, religious tithes
and others. By end-2007, BNI
ATMs contained more than
105 transaction applications;
new transaction features and
facilities may be added easily
and safely: development of
an SMS Banking registration
facility in branch ofces,
implementation of a triple-
DES encryption system for
ATMs, the use of BNI e-secure
for transactions carried out
through BNI internet banking,
as well as the implementation
of PINPad Swipe for available
balance transactions for
accounts in branch ofces.
iCONS is a recently-
introduced system offering
strong inter-connectivity
support to other institutions
(regulators, among others)
and covers functions such as
the national payment system
from Bank Indonesia to the
Ministry of Finance: already
in place and running are the
National Clearing System
(NCS), National Black List
System (NBLS), Intercity
Clearing System and State
Receipt Module (SRM) and
the Gasoline Purchase System
H2H (host-to-host) OPBS to
Pertamina.
To expedite settlement
processes and increase
book accuracy, BNI has
also implemented Straight
Through Processing (STP),
Real Time Gross Settlements
(RTGS), Credit Clearing
Process as well as a new
05 06 07
Service Level ATM
ATM Service Level
98.93%
98.14%
97.95%
TE KNOLOgI I NF ORMASI
188
Sementara itu, dalam rangka mendukung peningkatan transaksi kiriman uang oleh para
pekerja Indonesia di luar negeri, BNI telah melakukan implementasi aplikasi iCONIC di BNI
Cabang Singapore dan Hongkong. Implementasi aplikasi iCONIC tersebut dimaksudkan agar
transaksi kiriman uang dapat dilakukan lebih cepat (on-line) serta untuk mendukung proses
pembukaan rekening oleh nasabah di luar negeri.
Peningkatan kerjasama dengan pihak ketiga dilakukan BNI melalui implementasi pengelolaan
sistem supply chain management termasuk pembayaran tagihan pajak berbasis-
telekomunikasi. Untuk memenuhi kebutuhan nasabah korporat dan perguruan tinggi, telah
dikembangkan aplikasi cash management yang berbasis internet (Internet Banking Corporate)
dan fasilitas Student Payment Center (SPC). Fasilitas yang telah dikembangkan pada Corporate
Internet Banking mencakup pencarian data, laporan rekening, kiriman uang antar-bank, bulk
transfer dan account sweep. Dengan fasilitas SPC, pembayaran biaya pendidikan dapat
dilakukan melalui ATM maupun internet banking. Hingga akhir tahun 2007, pengguna BNI
Internet Banking Corporate telah mencapai 470 perusahaan/institusi, sedangkan BNI Student
Payment Center (SPC) telah digunakan di lebih dari 25 perguruan tinggi.
Patut dicatat bahwa pengelolaan sistem teknologi informasi BNI dilakukan sesuai dengan
standar internasional yang berlaku dan telah memenuhi prosedur ISO. Hal ini terbukti
dengan diperolehnya sertifkasi ISO 9001:2000 untuk IT Project Management On Aplication
Development, IT Operation Services dan IT Security Management. BNI SMS Banking di
tahun 2007 juga meraih rekor MURI, sebagai SMS Banking pertama yang bekerjasama
dengan seluruh 11 (sebelas) provider telekomunikasi, dengan jumlah pelanggan BNI SMS
Banking mencapai lebih dari 500.000 nasabah.
Untuk mempertahankan tingkat layanan yang prima, BNI telah meningkatkan kapasitas dan
kemampuan processing pada server utama di Data Center. Dengan penyempurnaan ini,
kemampuan memproses batch transaksi menjadi lebih cepat, respon sistem on-line juga
and centralized Signature
Verication System.
In support of the program of
the Government of Indonesia
to augment migrant labour
exports, BNI has implemented
the iCONIC facility for
international money transfers,
thus far, the Hong Kong and
Singapore branches of BNI
have put iCONIC to work,
providing secure and rapid
on-line money transfers, with
support for those customers
needing to open a new
account abroad.
Third-party cooperation is
enhanced at BNI through
implementation of a supply
chain management system,
including telecommunications-
based tax payments; further,
corporate customers and
universities may today benet
from internet-based cash
management applications
(Internet Banking Corporate)
and a Student Payment Center
(SPC) facility. The scope of
BNIs Corporate Internet
Banking covers inquiries,
account statement downloads,
bank transfers, bulk transfers
and account sweeps. Payment
of educational fees may be
carried out through an ATM-
based SPC facility as well
as through internet banking.
By late 2007, BNI Corporate
Internet Banking reached 470
companies and institutions,
while the BNI Student
Payment Center (SPC) serves
more than 25 institutions of
higher learning.
It is relevant to note that
management of BNI IT
systems is based on valid
international standards and
conforms to ISO procedures,
as demonstrated through
the award of an ISO
9001:2000 certicate for its
IT Project Management On
Application Development,
IT Operation Services and
IT Security Management.
BNI SMS Banking was also
the recipient of an award in
2007 from MURI (Indonesian
Record Museum) as the rst
institution to coordinate its
SMS Banking with all eleven
domestic telecommunication
providers, with BNI SMS
Banking reaching more than
500,000 customers.
ADvANCE S I N I NF ORMATI ON TE ChNOLOgy
189
lebih cepat, sehingga mendukung proses dan layanan bersifat massal di tingkat operasional
yang membutuhkan respon secara real-time online antara lain on-line payroll.
RENCANA KE DEPAN
Sistem teknologi informasi BNI senantiasa dikembangkan untuk mendukung kebutuhan
bisnis yang berubah serta mampu beradaptasi terhadap perkembangan teknologi dan
kecenderungan kebutuhan nasabah terhadap layanan perbankan. Pengembangan tersebut
dapat berupa produk atau layanan baru, peningkatan kinerja transaksi, peningkatan
ketersediaan sistem (system availability) maupun penyederhanaan atau efsiensi proses
operasional.
Ke depan, sistem teknologi informasi BNI antara lain akan dikembangkan untuk mendukung
bisnis, antara lain inisiasi dalam pengelolaan risiko dan program efsiensi unit bisnis.
Sistem TI juga mendukung micro payment (contacless transportation payment maupun
retail payment), implementasi Mobile Banking untuk segmen transaksi tertentu dan EDC
Banking sebagai delivery channel baru. BNI juga akan menambah ftur dan fasilitas delivery
e-Channel sejalan dengan penambahan 500 ATM baru, dukungan layanan supply chain
management, pembayaran pajak, pengembangan aplikasi tresuri, pengembangan transaksi
international banking dan implementasi sistem electronic loan origination di Sentra Kredit
Kecil untuk mempercepat proses persetujuan kredit. Inisiasi dan pengembangan TI akan
terfokus untuk meningkatkan bisnis konsumer dan Usaha Kecil dan Menengah (UKM).
To maintain its high level
of operational service, BNI
has increased the capacity
and main server processing
ability in its Data Center,
allowing quicker transaction
batches and online responses,
supporting operational-level
processes and mass services
requiring real-time online
responses (such as online
payroll protocol).
LOOKING FORWARD
BNI IT System is steadily
advancing as novel business
needs evolve, adapting
itself to rapidly-changing
technology while staying
abreast of new nancial
service trends offered to
the public. The objective
of new product and service
development is to augment
transaction performance,
expanding system availability
while streamlining operational
processes for more efciency.
Looking forward, the BNI
IT system will evolve to
support business as well as
risk management initiatives
and efciency programs
within business units. It also
will support micro-payment
business applications
(contactless transportation
payments as well as retail
payments), will implement
mobile banking to transaction
segments and will offer
EDC Banking as a new and
appealing delivery channel.
As IT moves forward at BNI,
it will add more features
and facilities for e-channel
delivery, as well as coming
online with 500 new ATMs,
supporting supply chain
management service, tax
payments, treasury application
development, international
banking upgrades and
implementation of an
electronic loan origination
system in Small Loan Centers
to speed up the loan process.
Initiatives and IT development
will principally concentrate on
boosting consumer and SME
businesses.
TANGGUNG JAWAB SOSI AL
190
Sebagai mitra berbagi, bagi segenap masyarakat
Indonesia, BNI memahami dan berupaya memenuhi
kebutuhan sosial masyarakat, mendukung kegiatan
perbaikan kualitas lingkungan dan pendidikan, serta
bekerjasama dengan masyarakat untuk meningkatkan
standar kehidupan dan kemapanan fnansial.
As a sharing partner in Indonesian society, the Bank recognizes
and responds to social needs, sponsoring worthwhile religious,
community and educational projects, while working with local
people to build their standard of living and nancial security.
CORP ORATE SOCI AL RE SP ONSI BI LI T Y
Tanggung Jawab Sosial
CORP ORATE SOCI AL RE SP ONSI BI LI T Y
191
Among the many
fundamental shifts in the
way businesses in the
nancial sector operate
over recent decades has
been the awakening of their
responsibility to a broader
sector of society than
traditionally perceived. An
enterprise like BNI exists to
turn a prot for shareholders
its ownersand to provide
fair compensation to its
employees. It pays its taxes
to the government and may
make contributions to worthy
causes, on occasion.
This is no longer enough in
todays world, with its intensive
media surveillance and
legions of non-governmental
organizations dedicated to
social causes. In the new
Millennium, it is accepted
doctrine that any business
wishing to enjoy the respect,
good will and support of the
broader community in which it
operates must strictly behave
with fairness, compassion,
concern for others and for
the environment, if it expects
to gain and maintain a
clean reputation.
This is particularly true for
a state Bank like BNI, as
it has always been a high-
prole, very public institution
in Indonesian society. For
this reason it has over the
years strived to become
what is known as a good
corporate citizen, returning
to a reasonable extent to the
community from which its
customers emerge support
and care consistent with
contemporary practice.
The codied set of guidelines
and standards a business
today should adhere to are
known as Corporate Social
Responsibility (CSR) and
a Bank known as faithfully
following its tenets can in
fact enjoy higher prots, as
socially aware customers,
media people and other
stakeholders will respond with
support in kind.
Aware of all these stakeholders,
and the importance of a
continuing good image, BNI
provides all employees a fair
and competitive wage and
benets package, it holds
Selama dasawarsa terakhir, salah satu perubahan mendasar dalam berbisnis di sektor
keuangan adalah tumbuhnya kesadaran terhadap tanggung jawab sosial. Perusahaan seperti
BNI didirikan untuk memberikan laba kepada pemegang saham dan menyediakan lapangan
kerja. Perusahaan wajib membayar pajak kepada pemerintah dan memberikan kontribusi
kepada masyarakat.
Dewasa ini, pendekatan tersebut tidak lagi memadai dalam menjalankan bisnis, terutama
dengan tingginya perhatian dari media massa dan lembaga swadaya masyarakat yang
memiliki kepedulian sosial. Setiap perusahaan yang disegani dan didukung oleh masyarakat
sekitarnya harus bertindak dengan prinsip keadilan, peduli pada sesama dan pada
lingkungan alam, jika ingin mendapatkan dan memelihara reputasi yang bersih dan baik.
Inilah yang harus dimiliki oleh BNI sebagai bank yang mayoritas sahamnya dimiliki
Pemerintah. Oleh karena itu, BNI berupaya menjadi warganegara yang baik (good corporate
citizenship), dengan mengembalikan sebagian keuntungannya kepada masyarakat, sehingga
para nasabah secara konsisten dan tulus akan terus mendukung keberadaan BNI.
Perangkat yang diperlukan sebagai panduan dalam kegiatan operasional perusahaan
dikenal dengan Corporate Social Responsibility (CSR). Perusahaan yang menjalankan CSR
dapat menikmati hal-hal positif, termasuk meningkatnya pendapatan, karena nasabah,
kalangan media massa serta pemangku-kepentingan lainnya akan merespon positif
perusahaan tersebut.

Menyadari pentingnya CSR dan citra perusahaan yang baik, BNI memberikan paket
remunerasi yang wajar dan cukup kompetitif kepada pegawainya. Sedangkan bagi
TANGGUNG JAWAB SOSI AL
192
lingkungan secara umum, BNI berkomitmen menjalankan program CSR sebagai bagian
yang tidak terpisahkan dari kegiatan bisnisnya. Sebagai perusahaan terbuka yang mayoritas
pemegang sahamnya adalah Pemerintah, BNI memahami adanya misi tanggung jawab
sosial untuk meningkatkan pemberdayaan masyarakat.
Di tahun 2007, BNI menetapkan 6 (enam) bidang yang menjadi fokus kegiatan CSR, yaitu
pendidikan, kesehatan, pengembangan Sarana dan Prasarana Umum, kegiatan keagamaan,
bantuan bencana dan pelestarian alam. Di samping itu, BNI juga menyisihkan sebagian dana
CSR untuk mengikuti program BUMN Peduli, bersama dengan perusahaan milik negara
lainnya, dengan dikoordinasikan oleh Kementerian Negara BUMN.
Penyaluran dana untuk kegiatan CSR dilakukan secara proporsional, menyeimbangkan
antara program yang direncanakan dengan permohonan diterima, sesuai dengan kondisi
masyarakat di lingkungan operasional perusahaan. BNI mendanai sejumlah kegiatan CSR
yang ditujukan bagi seluruh masyarakat Indonesia. Jumlah dana yang telah dialokasikan
sepanjang tahun 2007 untuk seluruh bidang tersebut mencapai Rp 34,77 miliar.
Penyaluran dana dapat diberikan dalam bentuk tunai, natura dan pembiayaan kepada
masyarakat di lingkungan operasional perusahaan di seluruh Indonesia, bekerjasama dengan
Pemerintah Daerah, LSM, yayasan sosial dan institusi lainnya serta 12 Kantor Wilayah BNI di
seluruh Indonesia.

BI DANG PENDI DI KAN DAN PELATI HAN
Secara nyata, BNI mewujudkan tanggung jawab sosialnya di bidang pendidikan dan
pelatihan melalui beberapa program seperti Program Beasiswa SD, SMP dan SMU, Renovasi
events and proffers basic
services to their families.
BNI has a rm commitment
to run its CSR programs as
an inseparable part of its
range of business activities.
As a public company where
the majority shareholding
stays with the Government of
Indonesia, BNI feels particular
concern for its Corporate
Social Responsibility, facing its
manifold and diverse publics.
In 2007, BNI has distilled
six key areas in its focus
on Corporate Social
Responsibility: those are
education, public health
care, public facilities and
infrastructure, religious
affairs, disaster relief, and
environmental preservation.
Other than those, BNI also
put aside a portion of CSR
funds to join the State-owned
Enterprise Care program,
together with other state-
owned enterprises under the
coordination of the State-
owned Enterprise Ministry.
Funding of CSR activities
is proportional, a balance
between planned programs
and approved requests and
the Companys operational
environment. BNI funds CSR
activities for the benet of all
Indonesians, amounting in
2007 to a total of Rp 34.77
billion. Contributions were
in part disbursed in cash,
funding to the publics across
Indonesia in cooperation with
Regional Governments, NGOs,
Social Foundations and other
professional institutions,
as well as through 12 BNI
05 06 07
Realisasi dana CSR
(Rp miliar)
CSR fund
(in Rp billion)
34.77
19.50
15.24
Note : CSR dari Program Bina Lingkungan
Note : CSR from Comunity Development
Program
CORP ORATE SOCI AL RE SP ONSI BI LI T Y
193
Sekolahku di seluruh provinsi, program pengecatan sekolah, hingga penyediaan berbagai
sarana pendukung pendidikan, seperti perpustakaan, buku, dan mobil perpustakaan kelilling.
Di tahun 2007, dana bantuan BNI yang dialokasikan untuk pendidikan dan pelatihan
mencapai Rp 8,87 miliar naik dibanding tahun sebelumnya sebesar Rp 7,85 miliar.
Beberapa kegiatan sosial bidang pendidikan dan pelatihan antara lain:
Bantuan Sarana Pendidikan antara lain: di Darunnaim Pontianak Kalimantan Barat, Palu,
Sulawesi Tengah, SMAN 8 DKI Jakarta, YPI Attaqwa Jawa Barat dan Madrasah Muallimin
Muhammadiyah Yogyakarta
Bantuan Renovasi Sarana Pendidikan di Maumere, NTT & Bali, TK Al Quran Margacinta di
Garut (Jawa Barat), TK BKOW Purwaasih (Jawa Barat), TK Muslimat IV Nidhomiyah Jombang
(Jawa Timur), PUSDAI Tasikmalaya (Jawa Barat), dan Kampus Al Azhar DKI Jakarta
Bantuan Beasiswa Pendidikan bagi siswa di Sikka, NTT, Bantuan Beasiswa kepada
mahasiswa Universitas Brawijaya Jawa Timur dan Bantuan Dana Beasiswa Yayasan
Diponegoro Jakarta
Program Pojok BNI di Universitas Lampung, IPB dan Universitas Diponegoro
Penerbitan buku pendidikan anak bersama Yayasan Bestari, Jakarta
Bantuan Taman Bacaan di Sorong, Papua
Pelatihan Kepeloporan YKI La Tansa, Jakarta
Pengadaan 10 Unit Motor Pintar dan 1 Unit Mobil Pintar melalui SIKIB, Jakarta, Pengadaan
Mobil Ayo Membaca Ayo Menabung di Jakarta, dan Pengadaan Mobil Perpustakaan di
Bima, NTB
Program Ayo Membaca Ayo Menabung di Yogyakarta dan Tasikmalaya
Pembangunan Sarana Perpustakaan di YPPMI Arjasa Jawa Timur
Partisipasi pada Bakti Sosial Hari Anak Nasional di Ancol, Jakarta
Regional Ofces.
EDUCATI ON AND
TRAI NI NG
BNI CSR activities in education
and training programs include
scholarships for elementary
school, junior high and
high school in all provinces,
renovation of schools in all
provinces, school painting
programs, infrastructure to
support education, such as a
library, books, and a mobile
library. BNI allocated a total of
Rp 8.87 billion for education
and training in 2007, up from
the previous years gure of
Rp 7.85 billion.
Notable activities supported in
education and training are:
Education infrastructure in:
Darunnaim Pontianak, West
Kalimantan, Palu, Central
Sulawesi, Jakarta (SMAN
8), West Java (YPI Attaqwa)
and Yogyakarta (Madrasah
Muallimin Muhammadiyah)
Support for renovation of
educational infrastructure
in Maumere, East Nusa
Tenggara & Bali, Garut,
West Java (TK Al Quran
Margacinta), West Java
(TK BKOW Purwaasih &
PUSDAI Tasikmalaya),
East Java (TK Muslimat
IV Nidhomiyah Jombang),
Jakarta (Kampus Al Azhar)
Scholarship grants for
students in Sikka East Nusa
Tenggara, for Brawijaya
University, East Java,
and for the Diponegoro
Foundation, Jakarta
BNI Corner Programs
at Lampung University,
Bandar Lampung, at Bogor
Agricultural Institute, West
Java, and at Diponegoro
TANGGUNG JAWAB SOSI AL
194
Pembangunan Sarana Perpustakaan di Poso Pola, Flores, Nusa Tenggara Barat
Renovasi SDN Kedungdoro Surabaya, renovasi SDN Sendangadi Sleman, dan renovasi
Madrasah Ibtidaiyah Darus Sholeh Rembang
BI DANG PENI NGKATAN KESEHATAN
BNI berperan aktif dalam menjalin kerjasama dengan lembaga yang bergerak di bidang
kesehatan dengan tujuan untuk meningkatkan standar hidup masyarakat serta menciptakan
lingkungan yang sehat dan bersih. Bantuan BNI untuk bidang peningkatan kesehatan pada
tahun 2007 mencapai Rp 6,32 miliar, yang berarti naik dibandingkan tahun sebelumnya
sebesar Rp 4,86 miliar. Beberapa kegiatan CSR BNI bidang kesehatan masyarakat antara lain:
Pembangunan Posyandu di Pinrang, Makassar
Program Donor Darah di seluruh Indonesia
Pengoperasian 60 Balai Kesehatan bekerjasama dengan MER-C di seluruh Indonesia.
Kampanye Anti Narkoba di Jakarta
Program Khitanan Massal di seluruh Indonesia
Bantuan Sarana Mammograf kepada YKI, Jakarta
Partisipasi Program Sehat BersamaISEI, Jakarta
BI DANG PERBAI KAN SARANA DAN PRASARANA UMUM
Kesejahteraan masyarakat dapat terwujud jika didukung oleh sarana dan prasarana yang
memadai. BNI mendukung pembangunan fasilitas umum dengan turut merencanakan,
melaksanakan dan membantu mengembangkan prasarana dan sarana umum di daerah yang
memerlukan bantuan. Dana sebesar Rp 14,44 miliar telah dikeluarkan BNI untuk mendukung
pelaksanaan kegiatan sosial di bidang ini, antara lain:
Pembangunan sarana air bersih di Pacitan, Jawa Timur
University, Central Java
Childrens educational book
publication, with the Bestari
Foundation, Jakarta
Reading Corner Park in
Sorong, Papua Province
Pioneer Training of yKI La
Tansa, Jakarta
Supply of 10 Smart Motor
Units and 1 Smart Car Unit
through SIKIB, Jakarta,
supply of one Lets Read,
Lets Save Car Unit,
Jakarta, and supply of one
library car unit in Bima,
West Nusa Tenggara
Lets read, Lets save
programs in Yogyakarta &
Tasikmalaya, West Java
Construction of library
infrastructure for YPPMI
Arjasa, East Java
Social Activity participation
on National Childrens Day,
in Ancol, Jakarta
Construction of library
infrastructure in Poso Pola,
Flores, West Nusa Tenggara
Renovation of Elementary
School, Kedungdoro,
Surabaya, East Java,
along with similar work
at the Elementary School
of Sendangadi Sleman,
Yogyakarta, and at the
Madrasah Ibtidaiyah Darus
Sholeh (Islamic Elementary
School), Rembang,
Central Java
PUBLI C HEALTH CARE
BNI played an active role in
cooperating with institutions
in the health sector aiming
to raise public health and
hygiene standards, while
supporting a healthy and
clean environment.
BNI Support for health
programmes in 2007 totalled
Rp 6.32 billion, considerably
higher than the 2006 gure of
Rp 4.86 billion. Some notable
BNI CSR activities in the
Public Health are:
Construction of a Posyandu
(Integrated Health Services
Post) in Pinrang Makassar,
South Sulawesi
Blood Donor Programs all
over Indonesia
Supporting the operational
of 60 medical facilities
throughout Indonesia, in
cooperation with MER-C
(Medical Emergency
Rescue Committee)
CORP ORATE SOCI AL RE SP ONSI BI LI T Y
195
Rehabilitasi Kawasan Bromo, Jawa Timur
Pembangunan Taman Tenda 46 Sudirman, untuk pedagang makanan di sekitar Gedung
BNI di Jakarta
Bantuan Sarana Taman Kota Padang, Sumatera Barat
Bantuan kendaraan pengangkut Sampah di Luwu Timur, Sulawesi Tenggara
BI DANG SARANA I BADAH/ KEAGAMAAN
BNI mendukung kegiatan keagamaan yang secara langsung maupun tidak langsung
menunjang peningkatan kualitas hidup. Dalam melaksanakan tanggung jawab sosial di
bidang ini secara berkelanjutan, agama dipandang sebagai salah satu faktor yang
menentukan masa depan. Setiap agama mempunyai prinsip dasar yang sama untuk berbagi,
menciptakan perdamaian dan keadilan sosial. Dana yang dikeluarkan BNI untuk CSR bidang
keagamaan mencapai Rp 2,79 miliar yang berarti naik signifkan dibandingkan tahun 2006
sebesar Rp 910 juta.
BANTUAN BENCANA
BNI memprioritaskan bantuan kepada masyarakat yang mengalami musibah bencana
alam di seluruh Indonesia. Bantuan yang diberikan bersifat pertolongan pertama pada
saat bencana terjadi, dalam bentuk bantuan kesehatan, logistik, makanan, dan alat-alat
kebersihan. Bantuan korban bencana alam yang diberikan sepanjang tahun 2007 tercatat
sebesar Rp 943 juta, beberapa diantaranya adalah:
Bantuan bagi korban banjir beberapa daerah, meliputi: Sumatera Utara, Aceh Tamiang
(NAD), Kabupaten Wajo (Sulawesi Selatan), Manado (Sulawesi Utara), DKI Jakarta dan
sekitarnya serta Ponorogo dan Pacitan (Jawa Timur)
Bantuan kepada korban gempa Bumi di Padang (Sumatera Barat) dan Dompu (NTB)
Anti-Drug Abuse
Campaign, Jakarta
Mass Islamic circumcision
programs conducted all
over Indonesia
Support for mammography
infrastructure at YKI, Jakarta
Participation to healthy
Together Programs by
ISEI, Jakarta
PUBLI C FACI LI TI ES AND
I NFRASTRUCTURE
Public prosperity
ourishes on a base of
sound pre-Infrastructure
and Infrastructure. BNI
support included building
general facilities: planning,
implementing and supporting
the development where needed,
with a total of Rp 14.44 billion
disbursed by BNI toward this
sector, including:
Clean water infrastructure in
Pacitan, East Java
The rehabilitation and
conservation of the Mount
Bromo area, East Java
Building the 46 Tent
Park infrastructure for
foodstall entrepreneurs
near BNI Head Ofce
building, Jakarta
Support for Padang
City Park Infrastructure,
West Sumatra
Donate garbage
trucks in East Luwu,
Southeast Sulawesi
RELI GI OUS AFFAI RS
BNI sustained support for
religious events, education
and infrastructure, both
directly and indirectly, as
an aspect of quality of life.
In implementation of Social
Responsibility, religions are
accorded a special place
as determining factors in
the future of humanity,
based on the belief that all
religions share the same basic
principles of giving, bringing
down peace and inspiring
social justice. Funds disbursed
by BNI for religious affair
amounted to Rp 2.79 billion,
up signicantly from the 2006
gure of Rp 910 million.
DI SASTER RELI EF
BNI always put top priority
to helping disaster-
aficted community all
across Indonesia. Help was
proffered in areas of health,
TANGGUNG JAWAB SOSI AL
196
Bantuan korban bencana tanah longsor di Kabupaten Manggarai, Nusa Tenggara Timur
Bantuan korban tsunami daerah Pangandaraan, Jawa Barat
PELESTARI AN ALAM
Isu kerusakan alam telah menjadi topik bahasan sepanjang tahun 2007. Perhatian BNI di
bidang ini telah diwujudkan melalui bantuan program penghijauan dan rehabilitasi taman
sebesar Rp 193 juta antara lain:
Rehabilitasi sarana taman di Sumbawa Besar, Nusa Tenggara Barat
Partisipasi pada program penghijauan di Universitas Diponegoro, Jawa Tengah
Partisipasi pada program penghijauan di Kalimalang, Jakarta
PROGRAM BUMN PEDULI
Program BUMN Peduli merupakan program yang dilakukan melalui koordinasi dengan
Kementrian BUMN, khususnya dalam penetapan jenis dan kegiatan bantuan yang diberikan.
Salah satu contohnya adalah kebijakan konversi penggunaan bahan bakar minyak ke bahan
bakar gas bagi rumah tangga, telah mendorong BNI untuk bekerjasama dengan Kementrian
Negara BUMN dalam menetapkan program bantuan kompor gas mini bagi masyarakat yang
kurang mampu di wilayah DKI Jakarta. Selain itu kegiatan yang tergabung dalam BUMN
Peduli adalah pemberian bantuan kepada korban gempa bumi di Padang, Sumatera Barat.
PROGRAM CSR 2008
BNI memiliki komitman untuk melanjutkan dan meningkatkan bantuan kepada masyarakat
melalui program CSR dengan tujuan:
a. Mendorong upaya peningkatan kualitas hidup masyarakat dan perbaikan lingkungan
logistics, foods and sanitation
hardware. BNI gave a total
of Rp 943 million to disaster
victims, affected by events in
2007 such as:
Support for food victims
in several regions: North
Sumatra, Aceh Tamiang
(NAD), Wajo Regency
(South Sulawesi), Manado
(North Sulawesi), Jakarta
and its surroundings along
with Ponorogo and Pacitan
(East Java)
Support for earthquake
victims in Padang (West
Sumatra), and Dompu
(West Nusa Tenggara)
Support for landslide victims
in Manggarai Regency, East
Nusa Tenggara
Support for tsunami victims
in Pangandaran, West Java
ENVI RONMENTAL
PRESERVATI ON
Environmental damage was
frequently seen in headlines
in 2007, and to express our
sincere concern, BNI already
donates some Rp 193 million
for green programs and park
rehabilitation:
Park Infrastructure
Rehabilitation in Sumbawa
Besar, West Nusa Tenggara.
green Programme
participation at Diponegoro
University, Central Java
green Programme
participation in Kali
Malang, Jakarta
STATE- OWNED
ENTERPRI SE CARE
PROGRAM
SOE Care Programs are
carried out through SOE
Ministry coordination,
particularly in approval of
which types of support and
CORP ORATE SOCI AL RE SP ONSI BI LI T Y
197
b. Memberikan kontribusi positif bagi seluruh masyarakat, khususnya di seputar
lingkungan perusahaan
c. Menumbuhkan dan memelihara citra positif perusahaan di mata masyarakat
Sebagai rencana di tahun 2008, program CSR BNI tetap difokuskan pada enam bidang
yaitu: pendidikan dan pelatihan, sarana dan prasarana umum, kesehatan, pelestarian alam,
kegiatan keagamaan dan bantuan bencana, serta terus mendukung program BUMN Peduli.
BNI meyakini bahwa kegiatan inilah yang berhubungan langsung dengan masyarakat yang
membutuhkan, dimana BNI dapat membantu meningkatkan kesejahteraan dan kualitas
hidup generasi mendatang. Inilah inti dari harapan kami Berbagi Untuk Negeri.
activities are to be helped. An
example is the Government
of Indonesias stated policy
of conversion from kerosene
(parafn) to gas as a daily
fuel for household cooking.
BNI coordinated with SOE
Ministry in distributing small
gas stoves to poor residents
within the DKI Jakarta region.
Other activities include
earthquake damage repair in
Padang, West Sumatra.
CSR PROGRAMS I N 2008
BNI holds its strong
commitment to sustain
and build support from its
stakeholders through CSR
Programs aim to:
a. Motivate efforts to
stimulate the quality of
life and environmental
improvement
b. Make a positive
contribution to the public
at large, especially around
the company locations
c. Maintain and improve a
good corporate image
In its 2008 CSR program,
BNI remain focused on six
key areas: education and
training, public facilities
and infrastructure, public
health, environmental
preservation, religious affairs
and humanitarian aid, while
continue its support to SOE
Care program. BNI believes
that these are the areas that
directly connect with people in
need, where BNI could help to
build prosperity and quality of
life and improve productivity
for future generations. This
is truly the essence of our
ultimate wish: Sharing with
the Nation.
198
ANALI SI S MANAJ E ME N MANAGE ME NT ANALYSI S
Analisis Manajemen
198 Komponen Pendapatan Bunga
tahun 2007
Sources of Interest Income 2007
Pendapatan Bunga Kredit
Interest Income from Loans
Obligasi Pemerintah
Government Bonds
Surat Berharga
Marketable Securities
Penempatan pada Bank Lain & BI
Placement to other banks & BI
Pendapatan Syariah
Income from Sharia operation
Lain-lain
Others
Komposisi Pinjaman
berdasarkan Sektor Ekonomi
Loan Composition
by Economic Sector
0.98% 2.10%
5.39%
91.53%
Komponen Beban Bunga
tahun 2007
Sources of Interest Expense 2007
Bunga Simpanan
Interest Expense for Customer Deposit
Pinjaman yang Diterima
Borrowings
Surat Berharga yang Diterbitkan
Marketable Securities Issued
Lain-lain
Others
Komposisi Aktiva Produktif
Earning Asset Composition
Penempatan pada BI & Bank Lain
Placement to BI & other banks
Surat Berharga
Marketable Securities
Pinjaman
Loans
Obligasi Pemerintah
Government Bonds
Lainnya
Others
Perindustrian
Industry
Perdagangan, restoran dan hotel
Trading, Restaurant & Hotel
Pertanian
Agriculture
Jasa Dunia Usaha
Business Services
Konstruksi
Construction
Pengangkutan, Pergudangan & Komunikasi
Transportation, Warehousing & Communication
Jasa Pelayanan Sosial
Social Services
Pertambangan
Mining
Listrik, Gas dan Air
Electricity, Gas, Water
Lain-lain
Others
0.27%
12.26%
24.58%
1.17%
56.80%
4.92%
18.31%
0.78%
8.40%
4.94%
28.55%
4.82%
4.22%
5.34%
4.54%
19.97%
25.63%
2.52%
1.59%
49.69%
20.57%
MANAGE ME NT ANALYSI S
199
KI NERJA KEUANGAN
Tahun 2007 menjadi tahun konsolidasi bagi BNI yang ditandai dengan berbagai perubahan
internal yang diharapkan dapat memberikan momentum pertumbuhan baru dalam
menyongsong masa depan. Terkait dengan kinerja keuangan 2007, berikut pencapaian
yang diperoleh.
HASI L USAHA
Laba bersih
Laba bersih di akhir tahun 2007 sebesar Rp 898 miliar, turun Rp 1,03 triliun, atau 53,37%,
dibandingkan dengan Rp 1,93 triliun pada tahun 2006. Terpangkasnya laba terutama
disebabkan oleh kebijakan perusahaan meningkatkan coverage ratio dalam rangka
memperkuat fundamental perusahaan.
Jika ditelaah lebih jauh, kinerja operasional sebelum pembentukan beban penyisihan
penghapusan aktiva produktif (PPAP) untuk tahun 2007 sebesar Rp 4,18 triliun,
sesungguhnya relatif stabil dibandingkan dengan Rp 4,16 triliun pada tahun 2006. Bahkan
jika dilihat dari kinerja pendapatan operasional di tahun 2007 yang sebesar Rp 11,60 triliun,
angka tersebut naik sebesar Rp 1,36 triliun, atau 13,28% dibandingkan dengan Rp 10,24
triliun di tahun 2006. Membaiknya kinerja pendapatan operasional tersebut salah satunya
didorong oleh tingginya pertumbuhan kredit. Beberapa faktor lain yang memperbaiki
indikator kinerja keuangan adalah:
1. Meningkatnya kontribusi net interest income khususnya pendapatan bunga kredit dan
surat berharga.
2. Pertumbuhan Pendapatan Operasional Lainnya di semua komponen.
3. Naiknya keuntungan non operasional bersih akibat koreksi laba tahun sebelumnya.
FI NANCI AL PERFORMANCE
The year of 2007 was a
year of consolidation at BNI,
reected by numerous internal
changes designed to boost
company growth in the future.
Financial performance in 2007
is summarized as follows:
FI NANCI AL RESULTS
RESULTS OF OPERATI ON
Net Income
Net income for the year
2007 amounted to Rp 898
million, a decrease of Rp 1.03
trillion, or 53.37%, compare
to Rp 1.93 trillion In 2006.
The signicant decrease was
attributable primarily to
company policy to increase
allowances for possible
losses, which is expected to
strengthen the fundamentals
of the company.
Despite an increase in the
allowance for possible losses
amounting to Rp 4.18 trillion
for the year 2007, which was
a relatively slight increase
compared to Rp 4.16 trillion
last year, Operating Income
showed better performance:
the 2007 gure amounted
to Rp 11.60 trillion, or an
increase of Rp 1.36 trillion
(13,28%), compared to
Rp 10.24 trillion in 2006.
The high rate of loan growth
was a factor contributing
to the improvement of
operating income in 2007.
Other factors contributing
to improvement of nancial
indicators are:
1. Increase in net interest
income contribution,
especially interest income
from loans and marketable
securities.
2. Other operating
income increases in all
components.
200
ANALI SI S MANAJ E ME N
3. Increase in net non
operating income as a
result of last years prot
and loss adjustment.
Net interest income
Net interest income in 2007,
including fees, commisions,
and sharia amounted to
Rp 7.47 trillion, an increase
of 1.23%, compared to that
of 2006. The increase in
net interest income resulted
from a decrease in interest
expenses of Rp 257 billion,
which exceeded the decrease
in interest income of
Rp 166 billion.
The increase in loan expansion
was yet to have a positive
impact on interest income
due to the decrease of
interest income contributions
from marketable securities,
primarily from goverment
bonds and placements, as a
result of the decrease in the
SBI rate.

The same impact also applies
to interest expenses. The
decrease of the SBI rate
and the rate of guarantee
premiums caused the decrease
in the cost of funds for third-
party deposits. However,
interest income was relatively
sustained due to the decrease
in the loan interest rate, less
than the decrease in the third
party deposits rate. Moreover,
in the second semester of
2007, BNI grew loans very
signicantly. Therefore, BNI
switched the lower-yielding
asset, such as marketable
securities and placements to
loans, which resulted in higer
interest income.
Net Sharia Income
Net sharia income in 2007
amounted to Rp 96.29
million, an increase of
Pendapatan Bunga Bersih
Pendapatan bunga bersih tahun 2007, termasuk provisi dan komisi dan syariah, tercatat
sebesar Rp 7,47 triliun, naik 1,23%, dibanding tahun 2006. Kenaikan pendapatan bunga
bersih disebabkan oleh turunnya beban bunga sebesar Rp 257 miliar yang lebih besar
dibanding dengan penurunan pendapatan bunga sebesar Rp 166 miliar.

Naiknya outstanding pinjaman ternyata belum berdampak positif pada pendapatan bunga.
Hal ini karena turunnya kontribusi pendapatan bunga dari surat berharga khususnya obligasi
pemerintah dan penempatan seiring dengan turunnya suku bunga SBI.
Hal serupa juga terjadi di sisi beban bunga, dimana turunnya suku bunga SBI dan suku
bunga penjaminan berdampak pada turunnya biaya Dana Pihak Ketiga (DPK). Namun disisi
lain pendapatan bunga pinjaman yang diberikan dapat dipertahankan karena penurunan suku
bunga bunga pinjaman tidak sebesar penurunan suku bunga DPK. Selain itu, pada semester
II tahun 2007 BNI juga melakukan ekspansi pinjaman yang cukup besar sehingga sebagian
dana yang selama semester I ditempatkan pada asset yang memberikan yield lebih rendah
(surat berharga dan penempatan) dapat dialihkan ke pinjaman sehingga menghasilkan
pendapatan bunga yang lebih tinggi.

Pendapatan Syariah Bersih
Pendapatan syariah bersih tahun 2007 sebesar Rp 96,29 miliar naik 6,10% dibanding tahun
2006. Pendapatan syariah berasal dari produk pembiayaan yang berbasis murabahah,
mudharabah muqayyadah, dan musyarakah. Sementara beban syariah seluruhnya berasal
dari simpanan nasabah.
Pendapatan Operasional Lainnya
Pendapatan operasional lainnya tahun 2007 mencapai Rp 4,13 triliun, meningkat sebesar
MANAGE ME NT ANALYSI S
201
44,33%, dibandingkan dengan Rp 2,86 triliun di tahun 2006. Kenaikan ini terjadi disemua
komponen, dan yang terbesar berasal dari non-recurring fee (fee yang tidak rutin) yaitu
pendapatan dari surat berharga dan obligasi pemerintah.
Beban Operasional Lainnya
Beban operasional lainnya meningkat menjadi Rp 7,63 triliun pada tahun 2007 atau naik
21,85% dibanding posisi 2006 pada Rp 6,26 triliun. Kenaikan ini terutama disebabkan
kenaikan biaya SDM pada 2006 karena adanya pembentukan cadangan employee benet
mengacu pada PSAK 24 (Pedoman Standar Akuntansi Keuangan), dan kenaikan insurance
underwriting expense seiring dengan berkembangnya bisnis salah satu anak perusahaan,
yaitu BNI Life.
POSI SI KEUANGAN
Kebijakan Umum Pengelolaan Aktiva dan Kewajiban
Kebijakan pengelolaan aktiva dan kewajiban pada tahun 2007 lebih ditekankan kepada
kebijakan ekspansi aktiva produktif, kebijakan peningkatan dana murah dan pengurangan
dana mahal, selain juga melanjutkan kebijakan rekomposisi aktiva produktif. Sedangkan di sisi
passiva, upaya BNI masih tetap terfokus pada rekomposisi maturity prole.
Total Aktiva
Total aktiva di akhir tahun 2007 mencapai Rp 183,34 triliun, naik 8,22% dibandingkan
dengan Rp 169,42 triliun pada tahun lalu. Kenaikan tersebut terutama disebabkan oleh
penambahan modal BNI setelah penerbitan saham baru (program rights issue) yang
dilakukan pada bulan Agustus 2007 serta kenaikan Dana Pihak Ketiga di sisi passiva.
Sedangkan di sisi aktiva, kenaikan didorong oleh pertumbuhan pinjaman yang diberikan.
6.10% compared to last
year. Sharia income was
derived from the nancing
facilities of Murabahah,
Mudharabah, Muqayyadah,
and Musyarakah, whereas
sharia expenses entirely came
from customer deposits.
Other Operating Income
Other operating income
in 2007 amounted to
4.13 trillion, an increase
of 44.33%, compared to
Rp 2.86 trillion in 2006.
The increase was from all
components, primarily from
non-recurring fees contributed
from marketable securities
and government bonds.
Operating Expenses
Operating expenses increased
to Rp 7.63 trillion in 2007, an
increase of 21.85% compared
to Rp 6.26 trillion in 2006.
The increase was primarily
attributed to increases in
human resource expenses
as a result of the addition to
employee benet provisions
complying to PSAK 24
(nancial accounting standard
guidance), and the increase
of insurance underwriting
expenses in line with
business growth of subsidiary
company, BNI Life.

FI NANCI AL CONDI TI ON
General Policies on Assets and
Liabilities Management
The banks policy on assets
and liabilities management
in 2007 placed emphasis on
the expansion of productive
assets, the increase of low-cost
funds against high-cost funds,
in addition to the continued
recomposition of the banks
earning assets. However,
on the liabilities side, the
bank remained focused on
rearranging its maturity prole.
202
ANALI SI S MANAJ E ME N
Total Assets
Total assets at year end 2007
amounted to Rp 183.34
trillion, an increase of 8.22%,
compared to Rp 169.42 trillion
a year ago. The increase was
mainly due to the increase in
BNI capital after new shares
were issued under a rights
issue program in August
2007, and also the increase
of third party deposits on
liabilities side. On the assets
side, however, the increase
was primarily attributed to the
growth of loans.
Earning Assets
Earning assets at year-end
2007 amounted to Rp 165.77
trillion, an increase of 12.02%,
compared to Rp 147.99 trillion
a year ago. Changes in the
earning assets composition
reected the general policies
of the Bank with respect to
the expansion of loans and
nancing, in conjunction
with assets recomposition by
reducing goverment bonds
and fund placement.
Loans
Total outstanding loans
(including sharia nancing) as
of year-end 2007 amounted to
Rp 88.65 trillion, an increase
of 33.39%, compared to Rp
66.46 a year ago.
The quality of outstanding
loan in 2007 was rising,
with Net NPL improved
from 6.55% to 4.01% and
Gross NPL decreased from
10.47% to 8.18%. While the
amount of Non Performing
Loan (NPL) had increased
as a result of the credit
quality downgrade of some
debtors, the signicant
increase in outstanding loans
improved loan quality. The
Aktiva Produktif
Aktiva produktif di akhir tahun 2007 mencapai Rp 165,77 triliun, naik sebesar 12,02%,
dibandingkan dengan Rp 147,99 triliun setahun yang lalu. Perubahan komposisi aktiva
produktif telah searah dengan kebijakan Bank, yaitu ekspansi kredit dan pembiayaan disertai
rekomposisi aset dengan mengurangi Obligasi Pemerintah dan Penempatan Dana.
Pinjaman yang Diberikan
Jumlah pinjaman yang diberikan (termasuk pembiayaan syariah) hingga akhir tahun 2007
mencapai Rp 88,65 triliun, naik 33,39%, dari Rp 66,46 triliun setahun yang lalu.
Kualitas pinjaman yang diberikan tahun 2007 mengalami perbaikan, dengan posisi Non
Performing Loan (NPL) Net turun dari 6,55% menjadi 4,01% dan NPL gross turun dari
10,47% menjadi 8,18%. Meskipun jumlah absolut Non Performing Loan (NPL) naik akibat
memburuknya kualitas pinjaman beberapa debitur, namun karena jumlah pinjaman yang
diberikan pada tahun 2007 mengalami kenaikan signifkan, posisi NPL relatif membaik.
Turunnya NPL tersebut membawa BNI keluar dari kategori bank dalam pengawasan Bank
Indonesia pada awal Januari 2008.
Ke depan, BNI tetap melanjutkan kebijakan ekspansi kredit untuk mendukung pencapaian
target Bank dengan memperhatikan prinsip kehati-hatian dan penerapan strategi-strategi
baru untuk memperbaiki kualitas kredit.
Pembiayaan Syariah
Pembiayaan syariah hingga akhir tahun 2007 mencapai Rp 1,80 triliun, naik 59,29%,
dibandingkan dengan Rp 1,13 triliun setahun yang lalu. Kenaikan yang signifkan ini
menunjukkan perkembangan bisnis syariah yang semakin dikenal masyarakat secara luas,
dan menjadi salah satu alternatif pembiayaan yang prospektif.
MANAGE ME NT ANALYSI S
203
PENGELOLAAN KEWAJI BAN
Kebijakan pengelolaan kewajiban tahun 2007 mengacu pada kebijakan portofolio
pendanaan yang efsien yaitu dengan strategi pertumbuhan dana yang agresif dengan tetap
mempertahankan dominasi komposisi dana murah yaitu giro dan tabungan, selain juga
rekomposisi maturity prole. Langkah tersebut dilakukan antara lain melalui manajemen suku
bunga deposito dan giro, penambahan fasilitas tabungan, perbaikan ftur produk tabungan
serta giro, dan strategi promosi yang terintegrasi melalui Program Rejeki Durian Runtuh
(RDR) yang dilaksanakan serentak di seluruh Indonesia.
Giro
Simpanan giro (termasuk giro wadiah) pada akhir tahun 2007 mencapai Rp 43,0 triliun,
meningkat signifkan dibandingkan dengan Rp 35,77 triliun pada periode yang sama tahun
lalu. Hal tersebut terkait strategi pertumbuhan dana murah melalui program RDR kita-kita
serta kerjasama dengan berbagai institusi, baik pemerintah maupun swasta.
Giro Wadiah
Simpanan giro wadiah pada akhir tahun 2007 mencapai Rp 206,85 miliar, turun 6,72%,
dibandingkan Rp 221,75 miliar setahun yang lalu. Tingginya bagi hasil deposito mudharabah
menjadi faktor yang penyebab turunnya posisi giro.
Tabungan
Tabungan (termasuk tabungan mudharabah) pada akhir tahun 2007 mencapai Rp 48,14
triliun, naik 24,66% dibandingkan dengan posisi 2006 sebesar Rp 38,62 triliun. Hal ini
merupakan dampak dari keberhasilan sejumlah program promosi tabungan dan semakin
bervariasi dan berkembangnya ftur-ftur produk tabungan yang menarik masyarakat untuk
menabung di BNI.
improvement of quality of
loans has released BNI from
the category bank under
special supervision by Bank
Indonesia at the beginning of
January 2008.
Going forward, BNI will
continue to pursue a credit
expansion policy in order to
achieve the Banks target
with due consideration
towards prudential banking
and the implementation of
new strategies for credit
improvements.
Sharia Financing
Total outstanding sharia
nancing for 2007
amounted to Rp 1.80 trillion,
an increase of 59.29%,
from Rp 1.13 trillion a
year ago. The signicant
increase underscores the
development of the sharia
business as it continues to
grow and gain prominence
among the general public,
and has become a viable
and prospective nancing
alternative.
LI ABI LI TY MANAGEMENT
The Banks policy on liabilities
management in 2007 was a
continuation of the efcient
funding policy that sought to
run an aggressive strategy
to increase funding, while
maintaining the dominant
composition of low-cost
funding such as current
and savings accounts, in
addition to recompositioning
their maturity proles.
These measures were
taken among other things
through time deposits and
current account adjustments,
additional features of
saving accounts, feature
improvements on saving and
204
ANALI SI S MANAJ E ME N
current accounts as well as
integrated promotion strategy
through the Rejeki Durian
Runtuh program, which
was implemented all over
Indonesia simultaneously.
Current Accounts
Current accounts (including
Wadiah current accounts) as
of year-end 2007 amounted
to Rp 43.0 trillion, signicantly
increased compared to
Rp 35.77 trillion in the same
period for the previous
year. This was a result of
the strategy to increase
low-cost funding through
the program RDR kita-
kita and coordination with
various institutions such as
governments and corporations.
Wadiah Current Accounts
Wadiah current accounts as of
year-end 2007 amounted to
Rp 206,85 billion, a decrease
of 6.72%, from Rp 221.75
billion a year ago. High prot
sharing of mudharabah
deposits was considered as the
main factor of the decrease in
Wadiah current accounts.
Savings
Savings accounts (including
Mudharabah savings) as of
year-end 2007 amounted
to Rp 48.14 trillion, an
increase of 24.66%, from
the Rp 38.62 trillion gure
in 2006. The increase was
attributed to the growing
number of customers opening
accounts in BNI as a result of
various successful promotion
programs and development of
attractive product features.
Mudharabah Savings
Mudharabah savings
accounts as of year-end 2007
amounted to Rp 833.49
billion, an increase of
Tabungan Mudharabah
Simpanan Mudharabah pada akhir tahun 2007 mencapai Rp 833,49 miliar, naik sebesar
62,40%, dibandingkan dengan Rp 513,22 miliar pada tahun 2006. Kenaikan ini mencerminkan
makin dikenalnya produk-produk tabungan yang berbasis syariah, dan merupakan pencapaian
tersendiri mengingat kondisi makro pada akhir 2007 yang kurang menggembirakan.
Deposito
Simpanan deposito berjangka (termasuk Deposito Mudharabah) pada akhir tahun 2007
mencapai Rp 55,05 triliun, turun sebesar 10,36%, dibandingkan dengan posisi 2006 sebesar
Rp 61,41 triliun.
Deposito Mudharabah
Simpanan Deposito Mudharabah pada akhir tahun 2007 mencapai Rp 748,44 miliar, naik
94,60%, dibandingkan dengan Rp 384,55 miliar setahun sebelumnya. Hal ini menunjukkan
makin dikenalnya jasa perbankan syariah sebagai alternatif investasi yang mampu
memberikan tingkat pengembalian yang bersaing melalui skema bagi hasil.
RASI O KEUANGAN YANG BERKAI TAN DENGAN TRANSPARANSI
Tabel berikut memperlihatkan rasio-rasio keuangan BNI yang berkaitan dengan aspek
transparansi sesuai ketentuan Bank Indonesia.
Rasio Kewajiban Penyediaan Modal Minimum (KPMM)
Rasio KPMM BNI tahun 2007 mencapai 15,74%, membaik dibandingkan dengan 15,30%
di tahun 2006. Hal tersebut terutama disebabkan oleh kenaikan yang lebih tinggi pada sisi
modal dibanding kenaikan yang terjadi pada Aktiva Tertimbang Menurut Resiko (ATMR).
Kenaikan modal terutama berasal dari kenaikan modal inti sebagai dampak dari adanya
tambahan modal disetor dan agio saham, pasca program rights issue yang dilakukan pada
MANAGE ME NT ANALYSI S
205
Uraian 2007 2006 Description
PERMODALAN CAPI TAL
CAR dengan memperhitungkan Risiko Kredit 17.65% 15.95% CAR included Credit Risk
CAR dengan memperhitungkan Risiko Pasar 15.74% 15.30% CAR included Market Risk
Aktiva Tetap terhadap Modal 22.08% 30.18% Fixed Assets to Capital
KUALI TAS AKTI VA EARNI NG ASSESTS
Aktiva Produktif Bermasalah 4.62% 5.59% Non Performing Earning Assets
PPA Produktif terhadap Aktiva Produktif 3.49% 3.58% Provision to Earning Assets
Pemenuhan PPA Produktif 116.48% 108.57% Requirement for Provision of Earning Assets
Pemenuhan PPA Non Produktif 123.26% 100.00% Requirement for Provision of Non Earning Assets
NPL 8.18% 10.47% NPL
NPL Net 4.01% 6.55% Net NPL
RENTABI LI TAS* PROFI TABI LI TY*
ROA 0.85% 1.85% ROA
ROE 8.03% 22.61% ROE
NIM 4.99% 5.19% NIM
BOPO (Beban Operasional terhadap
Pendapatan Operasional)
93.04% 84.88%
Total Operational Expense
to Total Operating Income
LI KUI DI TAS LI QUI DI TY
LDR 60.56% 49.02% LDR
KEPATUHAN COMPLI ANCES
Persentase Pelanggaran BMPK Percentage of Legal Lending Limit Violation
Pihak Terkait - Related Parties
Pihak tidak Terkait - Third Parties
Persentase Pelampauan BMPK Percentage of Legal Lending Limit in Excess
Pihak Terkait - Related Parties
Pihak tidak Terkait - Third Parties
Giro Wajib Minimum (GMW) Rupiah 14.74% 13.03% Reserved Requirements in Rupiah
Posisi Devisa Netto (PDN) 6.14% 6.79% Net Open Position (NOP)
* Rasio-rasio ini dihitung untuk periode 12 bulan * All of this ratios are calculated for 12 months period
62.40%, from Rp 513.22
billion in 2006. The increase
was indicative of the growing
recognition for sharia-based
banking savings products,
and reected an achievement,
considering unfavorable
macro-economic conditions
at year-end 2007.
Deposits
Time deposit accounts
(including Mudharabah
deposits) as of year-end
2007 amounted to Rp
55.05 trillion, a decrease
of 10.36%, from Rp 61.41
trillion in 2006.
Mudharabah Deposits
Mudharabah deposit
accounts as of year-end 2007
amounted to Rp 748.44
billion, an increase of 94.60%,
from Rp 384.55 billion a
year ago. The increase was
indicative of the growing
prominence of sharia-based
banking that provides a
viable investment alternative,
offering competitive return
rates through a prot
sharing scheme.
FI NANCI AL RATI OS
WI TH RESPECT TO
TRANSPARENCY
The table above presents
BNIs nancial ratios, relevant
to transparency issues in
line with Bank Indonesia
regulations.
Capital Adequacy Ratio
The CAR of BNI in 2007
reached 15.74% was improved
compared to 15.30% in 2006.
This resulted more from higher
increases on the capital side
than increase in Banks risk-
weighted assets. The increase
of capital primarily from the
206
ANALI SI S MANAJ E ME N
bulan Agustus 2007. Sementara Aktiva Tertimbang Modal Risiko (ATMR) juga mengalami
peningkatan yang didorong oleh ekspansi kredit sepanjang tahun 2007.

Aktiva Tetap Terhadap Modal
Rasio ini merupakan perbandingan total nilai buku aktiva tetap yang dimiliki BNI dengan
modal yang dimilikinya. Rasio aktiva tetap terhadap modal per tanggal 31 Desember 2007
adalah 22,08%, turun dibanding posisi tahun lalu sebesar 230,18%. Hal ini menunjukkan
jumlah investasi atas aktiva tetap yang dibiayai dengan modal pada tahun 2007 mengalami
penurunan dibandingkan tahun 2006.
Pinjaman Bermasalah
Rasio pinjaman bermasalah terhadap seluruh pinjaman yang diberikan pada tanggal
31 Desember 2007 adalah sebesar 8,18%, turun sebesar 2,29% dibandingkan setahun
yang lalu. Penurunan ini disebabkan oleh kenaikan outstanding pinjaman yang diberikan
secara signifkan selama tahun 2007, sementara pinjaman bermasalah hanya mengalami
sedikit kenaikan.

Rasio Kecukupan Penyisihan Terhadap NPL
Rasio Provisi terhadap NPL (coverage ratio) pada akhir tahun 2007 adalah sebesar 71,86%,
atau naik 16,73% dibandingkan dengan 55,13% pada 2006. Peningkatan ini terkait dengan
kebijakan manajemen untuk meningkatkan pencadangan sebagai antisipasi terhadap kondisi
makro yang kurang menggembirakan di tahun 2008.
Rasio Laba Terhadap Rata-Rata Aktiva
Rasio tersebut pada tahun 2007 sebesar 0,85%, turun 1,00% dibandingkan dengan 1,85%
di tahun 2006. Penurunan rasio ini terutama disebabkan turunnya laba bersih di tahun 2007.
addition in core capital as
a result of the rights issue
program, where share capital
and additional paid-in capital/
agio increased, whereas risk-
weighted assets also increased
due to loan expansion in 2007.
Fixed Assets to Equity
This ratio compares the total
book value of the Banks xed
assets with the total book
value of its equity. The ratio of
xed assets to equity as at
31 December 2007 was
22.08%, a decrease from
previous years ratio of
30.18%. The decrease shows
that total investment to xed
assets by capital nancing in
2007 decreased compared to
a year ago.
Non-Performing Loans
The ratio of non performing
loans to total outstanding
loans as of 31 December
2007 was 8.18%, a decrease
of 2.29% compared to a year
ago. The decline resulted
from the signicant increase
of loans outstanding In 2007,
whereas non performing loans
only slightly increased.
Ratio of Loan-Loss Reserve
to NPL
The coverage ratio as of year
end 2007 was 71.86%, an
increase of 16.73%, from
55.13% in 2006. The rise
was attributable to company
policies to increase loan-loss
provisioning in anticipating
unfavorable macro-economics
in 2008.

Return on Average
Assets (ROA)
Return on average assets for
2007 was 0.85%, a decline of
1.00% from 1.85% in 2006.
MANAGE ME NT ANALYSI S
207
Rasio Laba Terhadap Rata-Rata Modal Inti
Rasio tersebut pada tahun 2007 sebesar 8,03%, turun 14,58% dibandingkan 22,61%
di tahun sebelumnya. Hal ini terutama dipengaruhi oleh turunnya penghimpunan laba
dibandingkan dengan tahun 2006.
Margin Pendapatan Bunga Bersih
Rasio tersebut pada tahun 2007 sebesar 4,99%, turun 0,20% dibandingkan dengan 5,19%
di tahun 2006. Hal ini disebabkan belum optimalnya ekspansi pinjaman pada awal semester
I/2007, sehingga kelebihan dana pihak ketiga yang dimiliki ditempatkan pada surat berharga
dan penempatan yang memberikan imbal hasil yang relatif rendah.
Rasio Beban Operasional terhadap Pendapatan Operasional (BOPO)
Rasio BOPO tahun 2007 sebesar 93,04%, naik 8,16% dibandingkan dengan 84,88% di
tahun 2006. Kenaikan ini disebabkan meningkatnya beban penyisihan penghapusan aktiva
produktif (PPAP) di tahun 2007 yang dilakukan untuk memperkuat coverage ratio, agar lebih
setara dengan bank pesaing.
Rasio Pinjaman Terhadap Simpanan (Loan to Deposit Ratio)
Rasio pinjaman yang diberikan terhadap dana pihak ketiga pada tahun 2007 sebesar
60,56%, meningkat 11,54% dibanding 49,02% tahun 2006. Kenaikan yang signifkan ini
mencerminkan keberhasilan BNI menjalankan fungsi intermediasi melalui penyaluran kredit
kepada masyarakat.
The decline was caused by
lower net income in 2007.
Return on Average
Equity (ROE)
Return on average equity for
2007 was 8.03%, a decline of
14.58% from 22.61% a year
ago. The decline was mainly
attributable to the decrease in
net income in 2007.
Net Interest Margin (NIM)
Net interest margin for the
year 2007 reached 4.99%,
a decrease of 0.20%, from
5.19% in 2006. The decline
was attributable to the low
expansion of loans in the
beginning of rst semester
2007 which caused excess
funding to be placed on lower
yield marketable securities
and placements.
Ratio of Operating Expenses
to Operating Income
The ratio of operating
expenses to operating income
in 2007 was 93.04%, an
increase of 8.16% from
84.88% in 2006. The
increase was attributable
to the increase of loan-loss
provisioning in 2007 which
strengthened coverage ratios
in order to equal peer-
group ratios.
Loan to Deposit Ratio
The Loan to deposit ratio
for 2007 was 60.56%, an
increase of 11.54% from
49.02% in 2006. The increase
underlined the success of
Bank BNI in playing its role as
nancial intermediary.
208
Fero Poerbonegoro
Komisaris
2
Commissioner
Achil Ridwan
Djayadiningrat
Komisaris Independen
3
Independent Commissioner
Laporan Tahunan ini berikut Laporan Keuangan yang sudah diaudit oleh Akuntan Publik
independen dan informasi lain terkait, telah ditelaah oleh anggota Dewan Komisaris yang
membubuhkan tandatangannya dibawah ini, dengan derajat penelaahan dan tanggung
jawab sesuai tanggal efektif pengangkatannya masing-masing dan dengan memperhatikan
pula ketentuan-ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku.
This Annual Report and the accompanying Financial Statements which was audited by
independent Public Accountants and other related nancial information, have been reviewed by the
members of the Board of Commissioners whose signatures appear below, with a degree of review
in line with their respective effective date of appointment and taking into account the prevailing
laws and regulations.
RE SP ONSI BI LI T y F OR F I NANCI AL RE P ORTI Ng
Tanggung Jawab Pelaporan Keuangan
Erry Riyana
Hardjapamekas
Komisaris Utama
1
/
Komisaris Independen
President Commissioner/
Independent Commissioner
Suwarsono
Wakil Komisaris Utama/
Komisaris Independen
Vice President
Commissioner/Independent
Commissioner
Achjar Iljas
Komisaris Independen
Independent Commissioner
H.M.S Latif
Komisaris
Commissioner
Parikesit
Suprapto
Komisaris
Commissioner
Komisaris
Board of Commissioner
1
Efektif sebagai Komisaris Utama
tanggal 11 Maret 2008
Effective date as President
Commissioner 11 March 2008
2
Efektif sebagai Komisaris
tanggal 11 Maret 2008
Effective date as Commissioner
11 March 2008
3
Efektif sebagai Komisaris
Independen tanggal
24 Maret 2008
Effective date as Independent
Commissioner 24 March 2008
209
Dewan Direksi
Board of Director
Gatot M.
Suwondo
Direktur Utama
1
President Director
Felia Salim
Wakil Direktur
Utama
2
Vice President
Director
Achmad Baiquni
Direktur
Director
Bien Subiantoro
Direktur
Director
Yap Tjay Soen
Direktur
Director
Suwoko
Singoastro
Direktur
3
Director
Darwin
Suzandi
Direktur
4
Director
Krishna
Suparto
Direktur
5
Director
Ahdi J.
Luddin
Direktur
Kepatuhan
6
Compliance
Director
Laporan Tahunan ini berikut Laporan Keuangan yang sudah diaudit oleh Akuntan Publik
independen dan informasi lain terkait, telah ditelaah serta disetujui oleh anggota Direksi yang
membubuhkan tandatangannya di bawah ini, dengan derajat penelaahan dan tanggung
jawab sesuai dengan tanggal efektif pengangkatannya masing-masing dan dengan
memperhatikan pula ketentuan-ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku.
This Annual Report, and the accompanying Financial Statements which were audited by
independent Public Accountant and other related nancial information, reviewed and approved by
members of The Board of Directors whose signatures appear below, with a degree of review and
liabilities in line with their respective effective date of appointment and taking into account the
prevailing laws and regulations.
Keterangan/Note:
Sebelum diangkat sebagai Direktur Perseroan dalam Rapat Umum Pemegang Saham Perseroan tanggal 6
Pebruari 2008, Sdr. Yap Tjay Soen menjabat sebagai Komisaris PT Bank Mandiri (Persero) Tbk.
Pada saat penandatanganan Laporan Tahunan ini Sdr. Yap Tjay Soen belum efektif sebagai Direktur karena
pengunduran diri yang bersangkutan belum memperoleh persetujuan efektif dari PT Bank Mandiri (Persero)
Tbk sesuai dengan anggaran dasar bank yang bersangkutan.
Sdr. Doddy Virgianto telah diangkat sebagai Direktur Perseroan berdasarkan Rapat Umum Pemegang Saham
Perseroan pada tanggal 6 Pebruari 2008. Namun berdasarkan Surat Nomor 10/27/GBI/DPIP/Rahasia tanggal
6 Maret 2008, Bank Indonesia belum dapat menyetujui pengangkatan Sdr. Doddy Virgianto sebagai Direktur
Perseroan.
Prior to his engagement as Director at the General Shareholders Meeting on 6 Pebruari 2008, Yap Tjay
Soen was commissioner of PT Bank Mandiri (Persero) Tbk. Up until the sign of approval of this Annual
Report, Yap Tjay Soen is not yet effective as Director, due to PT Bank Mandiri (Persero) Tbk. afrmative
response of his resignation as stated by the banks Articles of Association.
BNIs general Shareholder Meeting on 6 February 2008, appointed Doddy virgianto as Director.
However, this assignment has been withold by Bank Indonesia as stated in the document No. 10/27/GBI/
DPIP/Rahasia dated 6 March 2008.
1
Efektif sebagai Direktur Utama
tanggal 6 Pebruari 2008
Effective date as President
Director 6 February 2008
2
Efektif sebagai Wakil Direktur Utama
tanggal 11 April 2008
Effective date as Vice President
Director 11 April 2008
3
Efektif sebagai Direktur
tanggal 11 Maret 2008
Effective date as Director
11 March 2008
4
Efektif sebagai Direktur
tanggal 11 Maret 2008
Effective date as Director
11 March 2008
5
Efektif sebagai Direktur
tanggal 12 Maret 2008
Effective date as Director
12 March 2008
6
Efektif sebagai Direktur Kepatuhan
tanggal 24 Maret 2008
Effective date as Compliance
Director 24 March 2008
211
CONSOLI DATE D F I NANCI AL RE P ORT
Laporan Keuangan Konsolidasi



Laporan Keuangan Konsolidasian
Beserta Laporan Auditor Independen
Tahun yang Berakhir pada Tanggal-tanggal
31 Desember 2007 dan 2006
Consolidated Financial Statements
With Independent Auditors Report
Years Ended
December 31, 2007 and 2006

PT BANK NEGARA INDONESIA (PERSERO) Tbk
DAN ANAK PERUSAHAAN/AND SUBSIDIARIES











The original consolidated financial statements included herein
are in Indonesian language.


Catatan atas laporan keuangan konsolidasian terlampir
merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari laporan
keuangan konsolidasian secara keseluruhan.

The accompanying consolidated notes form an integral
part of these consolidated financial statements.

1

PT BANK NEGARA INDONESIA (PERSERO) Tbk
DAN ANAK PERUSAHAAN
NERACA KONSOLIDASIAN
31 Desember 2007 dan 2006
(Disajikan dalam jutaan Rupiah,
kecuali data per saham)
PT BANK NEGARA INDONESIA (PERSERO) Tbk
AND SUBSIDIARIES
CONSOLIDATED BALANCE SHEETS
December 31, 2007 and 2006
(Expressed in million Rupiah,
except per share data)



Catatan/
2007 Notes 2006

AKTIVA ASSETS

Kas 3.259.229 3 2.694.635 Cash

Current accounts with
Giro pada Bank Indonesia 17.573.082 2d,4 15.160.405 Bank Indonesia

Giro pada bank lain bersih
setelah dikurangi penyisihan Current accounts with other
kerugian sebesar Rp10.914 banks, net of allowance for
pada tahun 2007 dan Rp4.158 losses of Rp10,914 in 2007
pada tahun 2006 1.170.800 2d,2k,5 422.322 and Rp4,158 in 2006

Penempatan pada bank lain
dan Bank Indonesia Placements with other banks
setelah dikurangi penyisihan and Bank Indonesia
kerugian sebesar Rp79.621 net of allowance for
pada tahun 2007 dan Rp203.789 losses of Rp79,621 in 2007
pada tahun 2006 14.808.515 2e,2k,6 30.326.884 and Rp203,789 in 2006

Surat-surat berharga
setelah dikurangi penyisihan Marketable securities,
kerugian sebesar Rp42.249 net of allowance for
pada tahun 2007 dan Rp28.839 losses of Rp42,249 in 2007
pada tahun 2006 16.200.561 2f,2k,7 4.956.328 and Rp28,839 in 2006

Surat-surat berharga yang dibeli
dengan janji dijual Securities purchased under
kembali setelah dikurangi agreement to resell,
pendapatan bunga yang net of unearned
ditangguhkan sebesar Rp5.206 interest income of
pada tahun 2007 dan Rp Nihil Rp5,206 in 2007 and
pada tahun 2006 195.119 2g,2k,7 - Rp Nil in 2006

The original consolidated financial statements included herein
are in Indonesian language.


Catatan atas laporan keuangan konsolidasian terlampir
merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari laporan
keuangan konsolidasian secara keseluruhan.

The accompanying consolidated notes form an integral
part of these consolidated financial statements.

2

PT BANK NEGARA INDONESIA (PERSERO) Tbk
DAN ANAK PERUSAHAAN
NERACA KONSOLIDASIAN (lanjutan)
31 Desember 2007 dan 2006
(Disajikan dalam jutaan Rupiah,
kecuali data per saham)
PT BANK NEGARA INDONESIA (PERSERO) Tbk
AND SUBSIDIARIES
CONSOLIDATED BALANCE SHEETS (continued)
December 31, 2007 and 2006
(Expressed in million Rupiah,
except per share data)



Catatan/
2007 Notes 2006

AKTIVA (lanjutan) ASSETS (continued)

Wesel ekspor dan tagihan lainnya
setelah dikurangi penyisihan Bills and other receivables,
kerugian sebesar Rp10.574 net of allowance for
pada tahun 2007 dan Rp19.069 losses of Rp10,574 in 2007 and
pada tahun 2006 319.333 2h,2k,8 662.150 Rp19,069 in 2006

Tagihan akseptasi
setelah dikurangi penyisihan Acceptances receivable, net
kerugian sebesar Rp47.353 of allowance for losses of
pada tahun 2007 dan Rp56.610 Rp47,353 in 2007 and
pada tahun 2006 2.380.118 2k,2l,9 3.040.138 Rp56,610 in 2006

Tagihan derivatif
setelah dikurangi penyisihan Derivatives receivable,
kerugian sebesar Rp27 net of allowance for
pada tahun 2007 dan Rp505 losses of Rp27 in 2007 and
pada tahun 2006 2.637 2i,2k,10 49.991 Rp505 in 2006

Pinjaman/pembiayaan/piutang yang
diberikan setelah dikurangi
penyisihan kerugian Loans/financing/receivables,
sebesar Rp5.436.203 pada net of allowance for
tahun 2007 dan Rp3.846.152 losses of Rp5,436,203 in 2007
pada tahun 2006 2j,2k,11 and Rp3,846,152 in 2006
- Pihak-pihak yang
mempunyai
hubungan istimewa 80.912 69.553 - Related parties
- Pihak ketiga 83.134.073 62.544.242 - Third parties

Obligasi Pemerintah,
setelah penyesuaian Government Bonds,
amortisasi diskonto dan adjusted for amortization
premi 36.700.770 2f,12 41.226.659 of discount and premium


The original consolidated financial statements included herein
are in Indonesian language.


Catatan atas laporan keuangan konsolidasian terlampir
merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari laporan
keuangan konsolidasian secara keseluruhan.

The accompanying consolidated notes form an integral
part of these consolidated financial statements.

3

PT BANK NEGARA INDONESIA (PERSERO) Tbk
DAN ANAK PERUSAHAAN
NERACA KONSOLIDASIAN (lanjutan)
31 Desember 2007 dan 2006
(Disajikan dalam jutaan Rupiah,
kecuali data per saham)
PT BANK NEGARA INDONESIA (PERSERO) Tbk
AND SUBSIDIARIES
CONSOLIDATED BALANCE SHEETS (continued)
December 31, 2007 and 2006
(Expressed in million Rupiah,
except per share data)



Catatan/
2007 Notes 2006

AKTIVA (lanjutan) ASSETS (continued)

Penyertaan saham
setelah dikurangi penyisihan Equity investments,
kerugian sebesar Rp11.118 net of allowance for
pada tahun 2007 dan Rp1.027.774 losses of Rp11.118 in 2007
pada tahun 2006 2k,2m,13 and Rp1,027,774 in 2006
- Penyertaan modal - Temporary equity
sementara - 206.913 participation
- Penyertaan modal jangka - Long-term equity
panjang 134.793 130.803 participation

Aktiva tetap
setelah dikurangi Fixed assets,
akumulasi penyusutan net of accumulated
sebesar Rp2.944.609 pada depreciation of Rp2.944.609
tahun 2007 dan Rp2.253.995 in 2007 and Rp2,253,995
pada tahun 2006 3.871.229 2n,14 4.111.593 in 2006

Aktiva pajak tangguhan 710.755 21 21.914 Deferred tax assets

Biaya dibayar di muka dan Prepayments and other
aktiva lain-lain - bersih 2.799.685 2k,2o,2p,15 3.791.043 assets - net

JUMLAH AKTIVA 183.341.611 169.415.573 TOTAL ASSETS


The original consolidated financial statements included herein
are in Indonesian language.


Catatan atas laporan keuangan konsolidasian terlampir
merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari laporan
keuangan konsolidasian secara keseluruhan.

The accompanying consolidated notes form an integral
part of these consolidated financial statements.

4

PT BANK NEGARA INDONESIA (PERSERO) Tbk
DAN ANAK PERUSAHAAN
NERACA KONSOLIDASIAN (lanjutan)
31 Desember 2007 dan 2006
(Disajikan dalam jutaan Rupiah,
kecuali data per saham)
PT BANK NEGARA INDONESIA (PERSERO) Tbk
AND SUBSIDIARIES
CONSOLIDATED BALANCE SHEETS (continued)
December 31, 2007 and 2006
(Expressed in million Rupiah,
except per share data)



Catatan/
2007 Notes 2006

KEWAJIBAN DAN EKUITAS LIABILITIES AND EQUITY

KEWAJIBAN LIABILITIES

Kewajiban segera 1.118.333 2q,16 1.262.916 Obligations due immediately

Simpanan nasabah 2s,17 Deposits from customers
- Pihak-pihak yang
mempunyai
hubungan istimewa 419.417 65.992 - Related parties
- Pihak ketiga 145.769.129 135.730.748 - Third parties

Simpanan dari bank lain 2t,18 Deposits from other banks
- Pihak ketiga 3.803.936 2.344.333 - Third parties

Surat berharga yang dijual Securities sold under
dengan janji dibeli kembali 199.406 2g,7 499.646 agreement to repurchase

Kewajiban derivatif 29.190 2i,10 11.554 Derivatives payable

Kewajiban akseptasi 1.594.270 2l 2.982.733 Acceptances payable

Surat berharga yang diterbitkan 1.269.135 2u,19 1.534.657 Marketable securities issued

Pinjaman yang diterima 6.309.151 20 4.009.424 Borrowings

Hutang pajak 151.379 21 405.269 Taxes payable

Kewajiban pajak tangguhan - 2x,21 313.407 Deferred tax liability

Estimasi kerugian atas Estimated losses from commitments
komitmen dan kontinjensi 178.505 35 132.409 and contingencies

Biaya yang masih harus dibayar
dan kewajiban lain-lain 4.318.861 2r,2y,22 3.064.762 Accruals and other liabilities

Pinjaman subordinasi 933.704 23 2.238.803 Subordinated debts

JUMLAH KEWAJIBAN 166.094.416 154.596.653 TOTAL LIABILITIES

HAK MINORITAS 27.610 37 24.651 MINORITY INTEREST






The original consolidated financial statements included herein
are in Indonesian language.


PT BANK NEGARA INDONESIA (PERSERO) Tbk
DAN ANAK PERUSAHAAN
BESERTA LAPORAN AUDITOR INDEPENDEN
LAPORAN KEUANGAN KONSOLIDASIAN
TAHUN YANG BERAKHIR PADA TANGGAL-TANGGAL
31 DESEMBER 2007 DAN 2006

PT BANK NEGARA INDONESIA (PERSERO) Tbk
AND SUBSIDIARIES
CONSOLIDATED FINANCIAL STATEMENTS
WITH INDEPENDENT AUDITORS REPORT
YEARS ENDED
DECEMBER 31, 2007 AND 2006


Daftar Isi

Table of Contents


Halaman/
Page
Laporan Auditor Independen Independent Auditors Report

Neraca Konsolidasian 1-5 Consolidated Balance Sheets

Laporan Laba Rugi Konsolidasian 6-7 Consolidated Statements of Income

Laporan Perubahan Ekuitas Konsolidasian 8-9 Consolidated Statements of Changes in Equity

Laporan Arus Kas Konsolidasian 10-12 Consolidated Statements of Cash Flows

Catatan Atas Laporan Keuangan Konsolidasian 13-133 Notes to the Consolidated Financial Statements

Daftar Informasi Keuangan Tambahan 134 Index to Supplementary Financial Information



**************************



The original consolidated financial statements included herein
are in Indonesian language.


Catatan atas laporan keuangan konsolidasian terlampir
merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari laporan
keuangan konsolidasian secara keseluruhan.

The accompanying consolidated notes form an integral
part of these consolidated financial statements.

5

PT BANK NEGARA INDONESIA (PERSERO) Tbk
DAN ANAK PERUSAHAAN
NERACA KONSOLIDASIAN (lanjutan)
31 Desember 2007 dan 2006
(Disajikan dalam jutaan Rupiah,
kecuali data per saham)
PT BANK NEGARA INDONESIA (PERSERO) Tbk
AND SUBSIDIARIES
CONSOLIDATED BALANCE SHEETS (continued)
December 31, 2007 and 2006
(Expressed in million Rupiah,
except per share data)


Catatan/
2007 Notes 2006

EKUITAS EQUITY

Modal saham: Share capital:
- Seri A Dwiwarna - nilai - Class A Dwiwarna
nominal - Rp7,500 par value
Rp7.500 per saham per share
- Seri B - nilai nominal - Class B - Rp7,500
Rp7.500 per saham par value per share
- Seri C - nilai nominal - Class C - Rp375
Rp375 per saham par value per share

Modal dasar: Authorized:
- Seri A Dwiwarna - 1 saham - Class A Dwiwarna - 1 share
- Seri B - 289.341.866 saham - Class B - 289,341,866 shares
- Seri C - 34.213.162.660 - Class C - 34,213,162,660
saham shares

Modal ditempatkan dan
disetor penuh: Issued and fully paid:
- Seri A Dwiwarna - 1 saham - Class A Dwiwarna - 1 share
- Seri B - 289.341.866 saham - Class B - 289,341,866 shares
- Seri C - 14.984.598.643 saham - Class C - 14,984,598,643
pada tahun 2007 dan shares in 2007 and
12.992.345.533 saham pada 12,992,345,533 shares
tahun 2006 7.789.288 24 7.042.194 in 2006

Tambahan modal disetor 5.812.879 24 2.525.661 Additional paid-in capital

Laba (rugi) yang belum
direalisasi atas surat-surat Unrealized gains (losses)
berharga dalam kelompok on available-for-sale
tersedia untuk dijual securities, net of
setelah pajak tangguhan (89.680) 7,12,21 1.351.484 deferred tax

Selisih kurs karena penjabaran Cumulative translation
laporan keuangan (5.590) (22.360) adjustments

Cadangan umum dan wajib 1.059.007 26 678.147 General and legal reserves

Cadangan khusus 662.086 27 479.132 Specific reserves

Saldo laba *) 2.039.493 2.740.011 Retained earnings *)

Jumlah ekuitas sebelum dikurangi Total shareholders equity before
saham yang diperoleh kembali deduction of shares
oleh Anak-anak Perusahaan 17.267.483 14.794.269 repurchased by subsidiaries

Dikurangi: saham yang diperoleh Less: Shares repurchased
kembali oleh Anak-anak Perusahaan by subsidiaries amounted to
sejumlah 23.585.000 saham (47.898) 2af - 23,585,000 shares

JUMLAH EKUITAS 17.219.585 14.794.269 TOTAL EQUITY

JUMLAH KEWAJIBAN TOTAL LIABILITIES AND
DAN EKUITAS 183.341.611 169.415.573 EQUITY


*) Saldo rugi sebesar Rp58.905.232 pada tanggal 30 Juni 2003 telah
dieliminasi dengan tambahan modal disetor, laba yang belum
direalisasi atas surat-surat berharga dalam kelompok tersedia untuk
dijual, cadangan penilaian kembali aktiva, cadangan khusus dan
cadangan umum dan wajib pada saat kuasi-reorganisasi BNI pada
tanggal 30 Juni 2003.

*) Accumulated losses of Rp58,905,232 as of June 30, 2003 has been
eliminated against additional paid-in capital, unrealized gains on
available-for-sale securities, assets revaluation reserves, specific
reserves, and general and legal reserves during BNIs quasi-
reorganization as of June 30, 2003.

The original consolidated financial statements included herein
are in Indonesian language.


Catatan atas laporan keuangan konsolidasian terlampir
merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari laporan
keuangan konsolidasian secara keseluruhan.

The accompanying consolidated notes form an integral
part of these consolidated financial statements.

6

PT BANK NEGARA INDONESIA (PERSERO) Tbk
DAN ANAK PERUSAHAAN
LAPORAN LABA RUGI KONSOLIDASIAN
Tahun yang Berakhir pada Tanggal-tanggal
31 Desember 2007 dan 2006
(Disajikan dalam jutaan Rupiah,
kecuali data per saham)
PT BANK NEGARA INDONESIA (PERSERO) Tbk
AND SUBSIDIARIES
CONSOLIDATED STATEMENTS OF INCOME
Years Ended December 31, 2007 and 2006
(Expressed in million Rupiah,
except per share data)



Catatan/
2007 Notes 2006

PENDAPATAN BUNGA INTEREST INCOME
Pendapatan bunga 14.455.271 2v,28 14.704.099 Interest income
Pendapatan provisi dan komisi
atas kredit yang diberikan 422.449 2w 339.462 Fees and commissions on loans

JUMLAH PENDAPATAN BUNGA 14.877.720 15.043.561 TOTAL INTEREST INCOME


BEBAN BUNGA DAN BEBAN INTEREST EXPENSE AND
PEMBIAYAAN LAINNYA OTHER FINANCING CHARGES
Beban bunga (7.370.413) 2v,29 (7.640.497) Interest expense
Beban pembiayaan lainnya (39.876) (26.532) Other financing charges

JUMLAH BEBAN BUNGA DAN TOTAL INTEREST EXPENSE AND
BEBAN PEMBIAYAAN LAINNYA (7.410.289) (7.667.029) OTHER FINANCING CHARGES

PENDAPATAN BUNGA BERSIH 7.467.431 7.376.532 NET INTEREST INCOME


PENDAPATAN OPERASIONAL
LAINNYA OTHER OPERATING INCOME
Provisi dan komisi lainnya 1.596.604 1.367.619 Other fees and commissions
Laba dari surat berharga dan Net gains from marketable
Obligasi Pemerintah - bersih 1.222.737 631.346 securities and Government Bonds
Laba selisih kurs - bersih 265.641 184.172 Net foreign exchange gains
Pendapatan premi asuransi 679.510 2z 278.087 Insurance premium income
Lain-lain 365.224 30 400.050 Miscellaneous

JUMLAH PENDAPATAN TOTAL OTHER OPERATING
OPERASIONAL LAINNYA 4.129.716 2.861.274 INCOME


PENYISIHAN KERUGIAN PROVISION FOR LOSSES
ATAS AKTIVA PRODUKTIF ON EARNING ASSETS
DAN NON PRODUKTIF (2.703.572) (1.318.753) AND NON-EARNING ASSETS

BEBAN OPERASIONAL LAINNYA OTHER OPERATING EXPENSES
Beban gaji dan tunjangan (3.691.747) 31 (2.908.996) Salaries and employees benefits
Beban umum dan administrasi (2.389.407) 32 (2.272.739) General and administrative
Beban underwriting asuransi (693.416) 2z (281.293) Insurance underwriting expense
Beban promosi (296.805) (250.571) Promotional expense
Beban premi penjaminan (287.746) (241.177) Guarantee premium expense
Lain-lain (266.806) (303.432) Miscellaneous

JUMLAH BEBAN OPERASIONAL TOTAL OTHER OPERATING
LAINNYA (7.625.927) (6.258.208) EXPENSES

LABA OPERASIONAL BERSIH 1.267.648 2.660.845 NET OPERATING INCOME

PENDAPATAN BUKAN NON-OPERATING INCOME -
OPERASIONAL - BERSIH 213.492 178.794 NET

LABA SEBELUM PAJAK
PENGHASILAN DAN INCOME BEFORE TAX
HAK MINORITAS 1.481.140 2.839.639 AND MINORITY INTEREST

PAJAK PENGHASILAN (579.396) 2x,21 (911.074) INCOME TAX


The original consolidated financial statements included herein
are in Indonesian language.


Catatan atas laporan keuangan konsolidasian terlampir
merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari laporan
keuangan konsolidasian secara keseluruhan.

The accompanying consolidated notes form an integral
part of these consolidated financial statements.

7

PT BANK NEGARA INDONESIA (PERSERO) Tbk
DAN ANAK PERUSAHAAN
LAPORAN LABA RUGI KONSOLIDASIAN (lanjutan)
Tahun yang Berakhir pada Tanggal-tanggal
31 Desember 2007 dan 2006
(Disajikan dalam jutaan Rupiah,
kecuali data per saham)
PT BANK NEGARA INDONESIA (PERSERO) Tbk
AND SUBSIDIARIES
CONSOLIDATED STATEMENTS OF INCOME
(continued)
Years Ended December 31, 2007 and 2006
(Expressed in million Rupiah,
except per share data)



Catatan/
2007 Notes 2006

LABA SEBELUM HAK INCOME BEFORE MINORITY
MINORITAS 901.744 1.928.565 INTEREST

HAK MINORITAS ATAS LABA MINORITY INTEREST IN NET
BERSIH ANAK PERUSAHAAN (3.816) 37 (2.735) INCOME OF SUBSIDIARIES

LABA BERSIH 897.928 1.925.830 NET INCOME

LABA BERSIH PER SAHAM BASIC EARNINGS
DASAR (NILAI PENUH) 64 2aa,34 145 PER SHARE (full amount)




The original consolidated financial statements included herein are in Indonesian language.

Catatan atas laporan keuangan konsolidasian terlampir merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari laporan
keuangan konsolidasian secara keseluruhan.

The accompanying consolidated notes form an integral part of these consolidated financial statements.

8


PT BANK NEGARA INDONESIA (PERSERO) Tbk DAN ANAK PERUSAHAAN
LAPORAN PERUBAHAN EKUITAS KONSOLIDASIAN
Tahun yang Berakhir pada Tanggal-tanggal 31 Desember 2007 dan 2006
(Disajikan dalam jutaan Rupiah, kecuali data per saham)
PT BANK NEGARA INDONESIA (PERSERO) Tbk AND SUBSIDIARIES
CONSOLIDATED STATEMENTS OF CHANGES IN EQUITY
Years Ended December 31, 2007 and 2006
(Expressed in million Rupiah, except per share data)


Laba/(Rugi) yang
Belum Direalisasi Jumlah ekuitas
Atas Surat-Surat sebelum
Berharga Dalam dikurangi
Kelompok Tersedia saham yang
Untuk Dijual diperoleh kembali Saham yang
Setelah dikurangi oleh Anak-anak Diperoleh
Pajak Tangguhan Selisih Perusahaan untuk kembali oleh
Modal Unrealized Kurs karena Diperdagangkan/ Anak-anak
Ditempatkan gains (losses) Penjabaran Total shareholders Perusahaan
dan Disetor on available- Laporan equity before untuk
Penuh/ Tambahan for-sale Keuangan/ Cadangan Cadangan deduction of Diperdagangkan/
Issued and Modal Disetor/ securities Cumulative Umum dan Wajib/ Khusus/ Saldo Laba *)/ shares Shares
Catatan/ fully paid-up Additional net of deferred translation General and Specific Retained repurchased by repurchased by Jumlah Ekuitas/
Notes capital paid-in capital income tax adjustments legal reserves reserves earnings *) subsidiaries subsidiaries Total equity

Saldo per 31 Desember 2005 7.042.194 2.525.661 (380.637) (7.871) 389.494 434.641 1.891.432 11.894.914 - 11.894.914 Balance as of December 31, 2005

Laba bersih untuk tahun 2006 - - - - - - 1.925.830 1.925.830 - 1.925.830 Net income in 2006

Realisasi keuntungan dan perubahan Realization of gains and changes
nilai pasar surat-surat berharga in market value of available-
dalam kelompok tersedia untuk for-sale securities, net
dijual setelah pajak tangguhan 7,12,21 - - 1.732.121 - - - - 1.732.121 - 1.732.121 of deferred income tax

Selisih kurs karena penjabaran
laporan keuangan - - - (14.489) - - - (14.489) - (14.489) Cumulative translation adjustments

Dividen 25 - - - - - - (707.369) (707.369) - (707.369) Dividends

Pembentukan cadangan umum 26 - - - - 282.948 - (282.948) - - - Appropriation for general reserves

Pembentukan cadangan khusus 27 - - - - - 165.524 (165.524) - - - Appropriation for specific reserves

Pembentukan cadangan wajib Appropriation for legal reserves of
di cabang Tokyo 26 - - - - 5.705 - - 5.705 - 5.705 Tokyo branch

Pemulihan cadangan yang berkaitan Recovery of employees benefits
dengan imbalan kerja 33 - - - - - (121.033) 121.033 - - - reserves

Fund for environmental development
Dana program bina lingkungan 25 - - - - - - (14.148) (14.148) - (14.148) program

Fund for partnership program between
Dana program kemitraan badan usaha state-owned enterprises and small
milik negara dengan usaha kecil 25 - - - - - - (28.295) (28.295) - (28.295) scale business

Saldo per 31 Desember 2006 7.042.194 2.525.661 1.351.484 (22.360) 678.147 479.132 2.740.011 14.794.269 - 14.794.269 Balance as of December 31, 2006



*) Saldo rugi sebesar Rp58.905.232 pada tanggal 30 Juni 2003 telah dieliminasi dengan tambahan modal disetor, laba yang belum
direalisasi atas surat-surat berharga dalam kelompok tersedia untuk dijual, cadangan penilaian kembali aktiva, cadangan khusus,
dan cadangan umum dan wajib pada saat kuasi-reorganisasi BNI pada tanggal 30 Juni 2003.

*) Accumulated losses of Rp58,905,232 as of June 30, 2003 has been eliminated against additional paid-in capital, unrealized gains
on available-for-sale securities, assets revaluation reserves, specific reserves, and general and legal reserves during BNIs quasi-
reorganization as of June 30, 2003.

The original consolidated financial statements included herein are in Indonesian language.

Catatan atas laporan keuangan konsolidasian terlampir merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari laporan
keuangan konsolidasian secara keseluruhan.

The accompanying consolidated notes form an integral part of these consolidated financial statements.

9

PT BANK NEGARA INDONESIA (PERSERO) Tbk DAN ANAK PERUSAHAAN
LAPORAN PERUBAHAN EKUITAS KONSOLIDASIAN (lanjutan)
Tahun yang Berakhir pada Tanggal-tanggal 31 Desember 2007 dan 2006
(Disajikan dalam jutaan Rupiah, kecuali data per saham)
PT BANK NEGARA INDONESIA (PERSERO) Tbk AND SUBSIDIARIES
CONSOLIDATED STATEMENTS OF CHANGES IN EQUITY (continued)
Years Ended December 31, 2007 and 2006
(Expressed in million Rupiah, except per share data)


Laba/(Rugi) yang
Belum Direalisasi Jumlah ekuitas
Atas Surat-Surat sebelum
Berharga Dalam dikurangi
Kelompok Tersedia saham yang
Untuk Dijual diperoleh kembali Saham yang
Setelah dikurangi oleh Anak-anak Diperoleh
Pajak Tangguhan Selisih Perusahaan untuk kembali oleh
Modal Unrealized Kurs karena Diperdagangkan/ Anak-anak
Ditempatkan gains (losses) Penjabaran Total shareholders Perusahaan
dan Disetor on available- Laporan equity before untuk
Penuh/ Tambahan for-sale Keuangan/ Cadangan Cadangan deduction of Diperdagangkan/
Issued and Modal Disetor/ securities Cumulative Umum dan Wajib/ Khusus/ Saldo Laba *)/ shares Shares
Catatan/ fully paid-up Additional net of dedeferred translation General and Specific Retained repurchased by repurchased by Jumlah Ekuitas/
Notes capital paid-in capital income tax adjustments legal reserves reserves earnings *) subsidiaries subsidiaries Total equity

Saldo per 31 Desember 2006 7.042.194 2.525.661 1.351.484 (22.360) 678.147 479.132 2.740.011 14.794.269 - 14.794.269 Balance as of December 31, 2006

Laba bersih untuk tahun 2007 - - - - - - 897.928 897.928 - 897.928 Net income in 2007

Realisasi keuntungan dan perubahan Realization of gains and changes
nilai pasar surat-surat berharga dalam in market value of available-
kelompok tersedia untuk dijual for-sale securities, net
setelah dikurangi pajak tangguhan 7,12,21 - - (1.441.164) - - - - (1.441.164) - (1.441.164) of deferred income tax

Selisih kurs karena penjabaran
laporan keuangan - - - 16.770 - - - 16.770 - 16.770 Cumulative translation adjustments

Dividen 25 - - - - - - (962.922) (962.922) - (962.922) Dividends

Pembentukan cadangan umum 26 - - - - 385.166 - (385.166) - - - Appropriation for general reserves

Pembalikan cadangan bersih Release of net reserve of
cabang Tokyo 26 - - - - (4.306) - - (4.306) - (4.306) Tokyo branch

Pembentukan cadangan khusus 27 - - - - - 182.954 (182.954) - - - Appropriation for specific reserves

Penerbitan saham 747.094 - - - - - - 747.094 - 747.094 Issuance of shares

Tambahan modal disetor - 3.287.218 - - - - - 3.287.218 - 3.287.218 Additional paid up capital
Fund for environmental development
Dana program bina lingkungan 25 - - - - - - (38.517) (38.517) - (38.517) program

Fund for partnership program between
Dana program kemitraan badan usaha state-owned enterprises and small
milik negara dengan usaha kecil 25 - - - - - - (28.887) (28.887) - (28.887) scale business

Saham yang diperoleh kembali oleh
Anak-anak Perusahaan - - - - - - - - (47.898) (47.898) Shares repurchased by subsidiaries

Saldo per 31 Desember 2007 7.789.288 5.812.879 (89.680) (5.590) 1.059.007 662.086 2.039.493 17.267.483 (47.898) 17.219.585 Balance as of December 31, 2007



*) Saldo rugi sebesar Rp58.905.232 pada tanggal 30 Juni 2003 telah dieliminasi dengan tambahan modal disetor, laba yang belum
direalisasi atas surat-surat berharga dalam kelompok tersedia untuk dijual, cadangan penilaian kembali aktiva, cadangan khusus,
dan cadangan umum dan wajib pada saat kuasi-reorganisasi BNI pada tanggal 30 Juni 2003.

*) Accumulated losses of Rp58,905,232 as of June 30, 2003 has been eliminated against additional paid-in capital, unrealized gains on
available-for-sale securities, assets revaluation reserves, specific reserves, and general and legal reserves during BNIs quasi-reorganization
ganization as of June 30, 2003.

The original consolidated financial statements included herein
are in Indonesian language.

Catatan atas laporan keuangan konsolidasian terlampir
merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari laporan
keuangan konsolidasian secara keseluruhan.

The accompanying notes form an integral part of these
consolidated financial statements.

10


PT BANK NEGARA INDONESIA (PERSERO) TBK
DAN ANAK PERUSAHAAN
LAPORAN ARUS KAS KONSOLIDASIAN
Tahun yang Berakhir pada Tanggal-tanggal
31 Desember 2007 dan 2006
(Disajikan dalam jutaan Rupiah,
kecuali data per saham)
PT BANK NEGARA INDONESIA (PERSERO) Tbk
AND SUBSIDIARIES
CONSOLIDATED STATEMENTS OF CASH FLOWS
Years Ended December 31, 2007 and 2006
(Expressed in million Rupiah,
except per share data)


2007 2006

CASH FLOWS FROM OPERATING
ARUS KAS DARI KEGIATAN OPERASI ACTIVITIES
Bunga, provisi dan komisi 15.342.923 14.923.483 Interest, fees and commissions
Payments of interest and other
Bunga dan pembiayaan lainnya yang dibayar (7.259.064) (7.690.424) financing charges
Pendapatan operasional lainnya 3.864.075 2.706.116 Other operating income
Beban operasional lainnya (5.846.973) (5.338.991) Other operating expenses
Pendapatan bukan operasional - bersih 216.055 32.182 Non-operating income - net
Pembayaran pajak penghasilan badan (992.206) (720.753) Payment of corporate income tax

Arus kas sebelum perubahan dalam Cash flows before changes in
aktiva dan kewajiban operasi 5.324.810 3.911.613 operating assets and liabilities

Perubahan dalam aktiva dan kewajiban Changes in operating assets and
operasi: liabilities:
Penurunan (kenaikan) aktiva operasi: Decrease (increase) in operating assets:
Penempatan pada bank lain dan Placements with other banks and
Bank Indonesia 15.642.537 (10.835.116) Bank Indonesia
Surat-surat berharga dengan tujuan
untuk diperdagangkan (207.188) (39.153) Marketable securities - trading
Surat berharga yang dibeli dengan Securities purchased under
janji dijual kembali (195.119) - agreement to resell
Wesel ekspor dan tagihan lainnya 351.312 732.290 Bills and other receivables
Pinjaman yang diberikan (22.819.814) (5.061.664) Loans/financing
Tagihan akseptasi 669.277 468.570 Acceptances receivable
Biaya dibayar di muka dan aktiva lain-lain 526.153 (107.810) Prepayments and other assets
Increase (decrease) in operating
Kenaikan (penurunan) kewajiban operasi: liabilities:
Kewajiban segera (144.583) (173.403) Obligations due immediately
Simpanan nasabah 10.391.806 20.424.334 Deposits from customers
Simpanan dari bank lain 1.459.603 (33.311) Deposits from other banks
Surat berharga yang dijual dengan Securities sold under agreement
janji dibeli kembali (300.240) 449.376 to repurchase
Kewajiban akseptasi (1.388.463) (562.318) Acceptances payable
Hutang pajak (225.686) (138.066) Taxes payable
Biaya yang masih harus dibayar dan
kewajiban lain-lain 1.102.874 (294.639) Accruals and other liabilities

Kas bersih diperoleh dari kegiatan Net cash provided by operating
operasi 10.187.279 8.740.703 activities



The original consolidated financial statements included herein
are in Indonesian language.

Catatan atas laporan keuangan konsolidasian terlampir
merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari laporan
keuangan konsolidasian secara keseluruhan.

The accompanying notes form an integral part of these
consolidated financial statements.

11

PT BANK NEGARA INDONESIA (PERSERO) TBK
DAN ANAK PERUSAHAAN
LAPORAN ARUS KAS KONSOLIDASIAN (lanjutan)
Tahun yang Berakhir pada Tanggal-tanggal
31 Desember 2007 dan 2006
(Disajikan dalam jutaan Rupiah,
kecuali data per saham)
PT BANK NEGARA INDONESIA (PERSERO) Tbk
AND SUBSIDIARIES
CONSOLIDATED STATEMENTS OF CASH FLOWS
(continued)
Years Ended December 31, 2007 and 2006
(Expressed in million Rupiah,
except per share data)


2007 2006

CASH FLOWS FROM INVESTING
ARUS KAS DARI KEGIATAN INVESTASI ACTIVITIES
Penjualan dan pembelian Obligasi Sales and purchases of Government
Pemerintah: bonds:
Penjualan 41.130.696 19.652.533 Sales
Pembelian (39.777.633) (21.530.451) Purchases

Penjualan (pembelian) Obligasi Net sales (purchases) of Government
Pemerintah - bersih 1.353.063 (1.877.918) bonds
Pembelian surat-surat berharga - bersih (11.050.455) (782.262) Purchase of markertable securities - net
Penambahan aktiva tetap (464.133) (542.129) Acquisition of fixed assets
Hasil penjualan aktiva tetap 35.137 229.314 Proceeds from sale of fixed assets
Penambahan saham Anak Perusahaan Acquisition of shares in Subsidiary
dan asosiasi perusahaan (9.274) - and associated companies
Hasil penjualan penyertaan modal Proceeds from sale of temporary equity
sementara, saham Anak Perusahaan participation and shares in subsidiary
dan asosiasi perusahaan - 2.577 and associated companies

Kas bersih digunakan untuk kegiatan Net cash used in investing
investasi (10.135.662) (2.970.418) activities

CASH FLOWS FROM FINANCING
ARUS KAS DARI KEGIATAN PENDANAAN ACTIVITIES
Penurunan surat berharga Decrease in marketable
yang diterbitkan (265.522) (582.350) securities issued
Kenaikan (penurunan) pinjaman yang diterima 2.299.727 (786.246) Increase (decrease) in borrowings
Pembayaran dividen, program kemitraan Payment of dividends, partnership,
dan bina lingkungan (1.030.326) (749.812) and environmental program
Pengeluaran saham 3.982.108 - Issuance of shares
Pelunasan hutang subordinasi (1.305.099) - Repayment of subordinated loan

Kas bersih diperoleh dari (digunakan untuk) Net cash provided by (used in)
kegiatan pendanaan 3.680.888 (2.118.408) financing activities

KENAIKAN BERSIH KAS DAN NET INCREASE IN CASH
SETARA KAS 3.732.505 3.651.877 AND CASH EQUIVALENTS

KAS DAN SETARA KAS PADA CASH AND CASH EQUIVALENTS
AWAL TAHUN 18.281.520 14.629.643 AT BEGINNING OF YEAR

KAS DAN SETARA KAS PADA CASH AND CASH EQUIVALENTS
AKHIR TAHUN 22.014.025 18.281.520 AT END OF YEAR

COMPONENTS OF CASH AND
KAS DAN SETARA KAS TERDIRI DARI: CASH EQUIVALENTS:

Kas 3.259.229 2.694.635 Cash

Giro pada Bank Indonesia 17.573.082 15.160.405 Current accounts with Bank Indonesia

Giro pada bank lain 1.181.714 426.480 Current accounts with other banks

Jumlah kas dan setara kas 22.014.025 18.281.520 Total cash and cash equivalents


The original consolidated financial statements included herein
are in Indonesian language.

Catatan atas laporan keuangan konsolidasian terlampir
merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari laporan
keuangan konsolidasian secara keseluruhan.

The accompanying notes form an integral part of these
consolidated financial statements.

12

PT BANK NEGARA INDONESIA (PERSERO) TBK
DAN ANAK PERUSAHAAN
LAPORAN ARUS KAS KONSOLIDASIAN (lanjutan)
Tahun yang Berakhir pada Tanggal-tanggal
31 Desember 2007 dan 2006
(Disajikan dalam jutaan Rupiah,
kecuali data per saham)
PT BANK NEGARA INDONESIA (PERSERO) Tbk
AND SUBSIDIARIES
CONSOLIDATED STATEMENTS OF CASH FLOWS
(continued)
Years Ended December 31, 2007 and 2006
(Expressed in million Rupiah,
except per share data)


2007 2006

KEGIATAN YANG TIDAK ACTIVITIES NOT AFFECTING
MEMPENGARUHI ARUS KAS CASH FLOWS
Penghapusbukuan pinjaman yang diberikan 1.110.834 1.351.093 Loan write-off
Penghapusbukuan penyertaan saham
sementara 1.225.177 152.152 Temporary equity participation write-off



The original consolidated financial statements included herein
are in Indonesian language.

PT BANK NEGARA INDONESIA (PERSERO) Tbk
DAN ANAK PERUSAHAAN
CATATAN ATAS LAPORAN KEUANGAN
KONSOLIDASIAN
Tahun yang Berakhir pada Tanggal-tanggal
31 Desember 2007 dan 2006
(Disajikan dalam jutaan Rupiah,
kecuali data per saham)
PT BANK NEGARA INDONESIA (PERSERO) Tbk
AND SUBSIDIARIES
NOTES TO THE CONSOLIDATED FINANCIAL
STATEMENTS
Years Ended December 31, 2007 and 2006
(Expressed in million Rupiah,
except per share data)


13
1. UMUM 1. GENERAL

a. Pendirian Bank a. Establishment of the Bank

PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk
(BNI atau Bank) mulanya didirikan di
Indonesia sebagai bank sentral dengan nama
Bank Negara Indonesia berdasarkan
Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-
Undang No. 2 tahun 1946 tanggal 5 Juli 1946.
Selanjutnya, berdasarkan Undang-undang
No. 17 tahun 1968, BNI ditetapkan menjadi
Bank Negara Indonesia 1946, dan statusnya
menjadi bank umum milik negara.
PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk
(BNI" or Bank) was originally established in
Indonesia as a central bank under the name
Bank Negara Indonesia based on
Government Regulation in Lieu of Law No. 2 of
1946 dated July 5, 1946. Subsequently, by
virtue of Law No. 17 of 1968, BNI became
Bank Negara Indonesia 1946, and changed
its status to state-owned commercial bank.


Berdasarkan Peraturan Pemerintah No. 19
tahun 1992, tanggal 29 April 1992, telah
dilakukan penyesuaian bentuk hukum BNI
menjadi perusahaan perseroan terbatas
(Persero). Penyesuaian bentuk hukum menjadi
Persero, dinyatakan dalam Akta No. 131,
tanggal 31 Juli 1992, dibuat di hadapan
Muhani Salim, S.H., yang telah diumumkan
dalam Berita Negara Republik Indonesia
No. 73 tanggal 11 September 1992 Tambahan
No. 1A. Anggaran Dasar BNI telah mengalami
beberapa kali perubahan, perubahan terakhir
dengan Akta No. 27 tanggal 17 Desember
2003, dibuat di hadapan Fathiah Helmi, S.H.
notaris di Jakarta berdasarkan keputusan
Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa
tanggal 15 Desember 2003 antara lain
mengenai perubahan Pasal 4:
Based on Government Regulation No. 19 of
1992, dated April 29, 1992, BNI changed its
status to a limited liability corporation
(Persero). BNIs deed of establishment as a
limited liability corporation is covered by
notarial deed No. 131, dated July 31, 1992 of
Muhani Salim, S.H. and was published in
Supplement No. 1A of the State Gazette
No. 73 dated September 11, 1992. BNIs
Articles of Association have been amended
from time to time, the latest by notarial deed
No. 27 dated December 17, 2003, of Fathiah
Helmi, S.H., a notary in Jakarta, based on the
decision of the Extraordinary General
Shareholders Meeting on December 15, 2003
related to, among others, changes in Article 4:

1. Perubahan 14 saham Seri B dengan nilai
nominal Rp500 (nilai penuh) per saham
yang dimiliki Republik Indonesia menjadi
14 saham Seri A Dwiwarna dengan nilai
nominal sebesar Rp500 (nilai penuh) per
saham.
1. Conversion of 14 Class B shares with par
value of Rp500 (full amount) each owned
by the Republic of Indonesia into 14 Class
A Dwiwarna shares with par value of
Rp500 (full amount) each.

2. Peningkatan nilai nominal saham dengan
cara menggabungkan 15 saham menjadi
1 saham (Reverse Stock Split), dengan
perincian:
2. Increase in par value of shares by
combining 15 shares into 1 share
(Reverse Stock Split), as follows:

a. Saham Seri A Dwiwarna dengan nilai
nominal Rp500 (nilai penuh) per
saham menjadi Rp7.500 (nilai penuh);
a. Class A Dwiwarna share with par
value of Rp500 (full amount) each
into Rp7,500 (full amount);


The original consolidated financial statements included herein
are in Indonesian language.

PT BANK NEGARA INDONESIA (PERSERO) Tbk
DAN ANAK PERUSAHAAN
CATATAN ATAS LAPORAN KEUANGAN
KONSOLIDASIAN
Tahun yang Berakhir pada Tanggal-tanggal
31 Desember 2007 dan 2006
(Disajikan dalam jutaan Rupiah,
kecuali data per saham)
PT BANK NEGARA INDONESIA (PERSERO) Tbk
AND SUBSIDIARIES
NOTES TO THE CONSOLIDATED FINANCIAL
STATEMENTS
Years Ended December 31, 2007 and 2006
(Expressed in million Rupiah,
except per share data)


14

1. UMUM (lanjutan) 1. GENERAL (continued)

a. Pendirian Bank (lanjutan) a. Establishment of the Bank (continued)

b. Saham Seri B dengan nilai nominal
Rp500 (nilai penuh) per saham
menjadi Rp7.500 (nilai penuh);
b. Class B shares with par value of
Rp500 (full amount) each into
Rp7,500 (full amount);

c. Saham Seri C dengan nilai nominal
Rp25 (nilai penuh) per saham
menjadi Rp375 (nilai penuh).
c. Class C shares with par value of
Rp25 (full amount) into Rp375 (full
amount) each.

3. Peningkatan modal dasar BNI dari
sebesar Rp8.500.000.000.000 (nilai
penuh) menjadi Rp15.000.000.000.000
(nilai penuh).
3. Increase of BNIs authorized capital from
Rp8,500,000,000,000 (full amount) into
Rp15,000,000,000,000 (full amount).

Perubahan ini telah disetujui oleh Menteri
Kehakiman dan Hak Asasi Manusia melalui
suratnya No. C-29647H.01.04.TH.2003
tertanggal 19 Desember 2003 dan telah
diumumkan dalam Berita Negara Republik
Indonesia No. 9 tanggal 30 Januari 2004
Tambahan No. 1152.
These amendments were approved by the
Minister of Justice and Human Rights through
his letter No. C-29647H.01.04.TH.2003 dated
December 19, 2003, published in Supplement
No. 1152 of the State Gazette No. 9 dated
January 30, 2004.

Berdasarkan pasal 3 Anggaran Dasar BNI,
ruang lingkup kegiatan BNI adalah melakukan
usaha di bidang perbankan, termasuk
melakukan kegiatan berdasarkan prinsip
syariah.
According to Article 3 of the Articles of
Association, BNIs objective is to conduct
commercial banking activities, including
banking activities based on sharia principles.

b. Penawaran Umum Perdana Saham b. Initial Public Offering (IPO)

Pada tanggal 28 Oktober 1996, BNI
melakukan penawaran umum perdana atas
1.085.032.000 saham Seri B dengan nilai
nominal sebesar Rp500 (nilai penuh) setiap
saham dan harga penawaran sebesar Rp850
(nilai penuh) setiap saham kepada masyarakat
di Indonesia. Saham yang ditawarkan tersebut
mulai diperdagangkan di Bursa Efek Jakarta
dan Surabaya (sekarang Bursa Efek
Indonesia) pada tanggal 25 November 1996.
On October 28, 1996, BNI undertook an initial
public offering of 1,085,032,000 Class B
shares with a par value per share of Rp500
(full amount) and offering price of Rp850 (full
amount) per share to the public in Indonesia.
The shares began trading on the Jakarta and
Surabaya Stock Exchanges (currently
Indonesian Stock Exchange) on November 25,
1996.

The original consolidated financial statements included herein
are in Indonesian language.

PT BANK NEGARA INDONESIA (PERSERO) Tbk
DAN ANAK PERUSAHAAN
CATATAN ATAS LAPORAN KEUANGAN
KONSOLIDASIAN
Tahun yang Berakhir pada Tanggal-tanggal
31 Desember 2007 dan 2006
(Disajikan dalam jutaan Rupiah,
kecuali data per saham)
PT BANK NEGARA INDONESIA (PERSERO) Tbk
AND SUBSIDIARIES
NOTES TO THE CONSOLIDATED FINANCIAL
STATEMENTS
Years Ended December 31, 2007 and 2006
(Expressed in million Rupiah,
except per share data)


15

1. UMUM (lanjutan) 1. GENERAL (continued)

c. Penawaran Umum Saham Terbatas I c. Rights Issue I

Pada tanggal 30 Juni 1999, BNI melakukan
Penawaran Umum Terbatas I dalam rangka
penerbitan Hak Memesan Efek Terlebih
Dahulu sebanyak 151.904.480.000 saham Seri
C dengan nilai nominal sebesar Rp25 (nilai
penuh) setiap saham. Setiap pemegang 1
saham lama berhak membeli 35 saham baru
dengan harga Rp347,58 (nilai penuh) per
saham. Dari penawaran umum ini, BNI
meningkatkan modal sahamnya sebanyak
683.916.500 lembar saham Seri C yang
diterbitkan kepada masyarakat umum pada
tanggal 21 Juli 1999 dan terdaftar di Bursa
Efek Jakarta dan Surabaya dan sebanyak
151.220.563.500 lembar saham Seri C yang
diterbitkan kepada Pemerintah Indonesia pada
tanggal 7 April 2000 dan 30 Juni 2000 melalui
program rekapitalisasi berdasarkan Peraturan
Pemerintah No. 52 tahun 1999.
On June 30, 1999, BNI undertook a Rights
Issue I of 151,904,480,000 Class C shares
with a par value per share of Rp25 (full
amount). Each holder of one share was
entitled to buy 35 new shares for Rp347.58
(full amount) per share. As a result of this
rights issue, BNI increased its capital by
683,916,500 Class C shares issued to the
public on July 21, 1999 and listed in the
Jakarta and Surabaya Stock Exchanges and
by 151,220,563,500 Class C shares issued to
the Government of Indonesia on April 7, 2000
and June 30, 2000 through the recapitalization
program under the Government Regulation
No. 52 year 1999.

d. Penawaran Umum Saham Terbatas II d. Rights Issue II

Pada tanggal 30 Juli 2007, pada Rapat Umum
Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB),
Pemegang Saham telah memutuskan untuk
melakukan Penawaran Umum Terbatas II
kepada para pemegang saham perseroan
dalam rangka penerbitan sampai dengan
sejumlah 1.992.253.110 saham Seri C baru
dengan nilai nominal Rp375 setiap lembar
saham.
On July 30, 2007, at the Extraordinary
General Shareholders Meeting, the
shareholder approved the conduct of Rights
Issue II to shareholders for the issuance of up
to 1,992,253,110 new Class C shares with a
par value per share of Rp375.

Setiap pemegang 20 (dua puluh) saham lama
yang namanya tercatat dalam Daftar
Pemegang Saham BNI pada tanggal
9 Agustus 2007 pukul 16.00 WIB mempunyai
3 (tiga) HMETD, dimana setiap 1 (satu)
HMETD memberikan hak kepada
pemegangnya untuk membeli sebanyak
1 (satu) saham baru dengan harga
pelaksanaan Rp2.025 (dua ribu dua puluh
lima) setiap saham. Dari Penawaran Umum
Terbatas II BNI mendapatkan tambahan
modal disetor sebesar Rp747.904 juta dan
tambahan agio saham sebesar Rp3.287.218
juta (Catatan 24).
Each owner of 20 (twenty) old shares whose
name is registered in The List of Shareholders
of BNI as of August 9, 2007 at 16.00 WIB are
entitled to 3 (three) rights where each right
entitles the owner to buy a new share at the
price of Rp2,025 (two thousand and twenty
five Rupiah) per share. The Rights Issue II
raised Rp747,904 million additional capital
and Rp3,287,218 million additional paid-in
capital (Note 24).

Perdagangan perdana dilaksanakan pada
tanggal 13 Agustus 2007 melalui Bursa Efek
Jakarta (BEJ) dan Bursa Efek Surabaya
(BES) (Sekarang BEI).
The Initial trading took place on August 13,
2007 through The Jakarta Stock Exchange
and Surabaya Stock Exchange (currently BEI)

The original consolidated financial statements included herein
are in Indonesian language.

PT BANK NEGARA INDONESIA (PERSERO) Tbk
DAN ANAK PERUSAHAAN
CATATAN ATAS LAPORAN KEUANGAN
KONSOLIDASIAN
Tahun yang Berakhir pada Tanggal-tanggal
31 Desember 2007 dan 2006
(Disajikan dalam jutaan Rupiah,
kecuali data per saham)
PT BANK NEGARA INDONESIA (PERSERO) Tbk
AND SUBSIDIARIES
NOTES TO THE CONSOLIDATED FINANCIAL
STATEMENTS
Years Ended December 31, 2007 and 2006
(Expressed in million Rupiah,
except per share data)


16

1. UMUM (lanjutan) 1. GENERAL (continued)

e. Rekapitalisasi e. Recapitalization

Pada tanggal 30 Maret 2000, Menteri
Keuangan menyetujui rekapitalisasi BNI
sebesar Rp61,8 triliun, yang meningkat
sebesar Rp9 triliun dibandingkan dengan
jumlah yang ditetapkan dalam Peraturan
Pemerintah No. 52 tahun 1999. Sehubungan
dengan peningkatan rekapitalisasi tersebut,
yang telah disetujui melalui Peraturan
Pemerintah No. 32 tahun 2000, BNI
menerbitkan tambahan saham Seri C
sebanyak 44.946.404.500 saham tanpa Hak
Memesan Efek Terlebih Dahulu.
On March 30, 2000, the Minister of Finance
approved BNIs recapitalization amounting to
Rp61.8 trillion, which was Rp9 trillion higher
than the amount stated in the Government
Regulation No. 52 year 1999. As a result of the
increase in the recapitalization amount, which
was approved by Government Regulation
No. 32 year 2000, BNI issued 44,946,404,500
additional Class C shares without pre-emptive
rights.

Pada tanggal 20 Juli 2001, modal saham BNI
berkurang sebanyak 1.965.701.500 saham
Seri C sehubungan dengan pengembalian
kelebihan dana rekapitalisasi kepada
Pemerintah Indonesia. Pengembalian obligasi
tersebut telah disetujui oleh pemegang saham
dalam Rapat Umum Pemegang Saham Luar
Biasa pada tanggal 25 Juni 2001.
On July 20, 2001, BNIs capital was reduced
by 1,965,701,500 Class C shares as a result of
the refund of excess recapitalization funds to
the Government of Indonesia. The refund was
approved by the shareholders at the
Extraordinary General Shareholders Meeting
on June 25, 2001.

f. Penawaran Umum Obligasi f. Public Debt Offering

Pada tanggal 15 November 2002, BNI melalui
cabang Hong Kong, menerbitkan surat
berharga subordinasi sebesar USD150 juta
dan dicatat di Singapore Exchange. Surat
berharga ini adalah kewajiban subordinasi BNI
dan bersifat unsecured. Surat berharga ini
akan jatuh tempo pada tanggal 15 November
2012. BNI memiliki opsi untuk melunasi surat
berharga ini pada tanggal 15 November 2007.
On November 15, 2002, BNI, through its Hong
Kong branch, issued USD150 million
subordinated notes listed in the Singapore
Exchange. These notes are unsecured and
subordinated to all other obligations of BNI.
The notes will mature on November 15, 2012,
with an optional redemption date for BNI on
November 15, 2007.

Surat berharga ini memiliki tingkat bunga tetap
sebesar 10% per tahun, dibayarkan setiap
enam bulan di akhir setiap tanggal 15 Mei dan
15 November tiap tahunnya. Kecuali dilunasi
lebih awal, tingkat bunga akan ditentukan
kembali berdasarkan tingkat bunga Treasuri
Amerika Serikat dengan jangka waktu 5 tahun
ditambah 11,10% (1.110 basis points) per
tahun mulai 15 November 2007. Wali amanat
untuk penerbitan obligasi ini adalah JP Morgan
Corporate Trustee Services Limited.
The Notes bear interest at a fixed rate of 10%
per annum, payable semi-annually in arrears
on May 15, and November 15 each year.
Unless previously redeemed, the interest rate
will be reset at the 5 year US Treasury rate
plus 11.10% (1,110 basis points) per annum
commencing November 15, 2007. The trustee
of the notes issuance is JP Morgan Corporate
Trustee Services Limited.

The original consolidated financial statements included herein
are in Indonesian language.

PT BANK NEGARA INDONESIA (PERSERO) Tbk
DAN ANAK PERUSAHAAN
CATATAN ATAS LAPORAN KEUANGAN
KONSOLIDASIAN
Tahun yang Berakhir pada Tanggal-tanggal
31 Desember 2007 dan 2006
(Disajikan dalam jutaan Rupiah,