Anda di halaman 1dari 21

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA
A. Tinjauan Teoritis
1. Pengertian Bank
Perbankan secara umum merupakan lembaga keuangan yang melakukan
kegiatan berupa pengumpulan dana masyarakat dan menyalurkannya kembali
kepada masyarakat dalam berbagai bentuk. Menurut Undang-Undang RI
Nomor 10 Tahun 1998 tanggal 10 November tentang perbankan, yang
dimaksud dengan Bank adalah badan usaha yang menghimpun dana dari
masyarakat dalam bentuk simpanan dan menyalurkannya kepada masyarakat
dalam bentuk kredit dan atau bentuk-bentuk lainnya dalam rangka
meningkatkan taraf hidup rakyat banyak.
Dari definisi di atas dapat dijelaskan lebih luas lagi bahwa bank
merupakan perusahaan yang bergerak dalam bidang keuangan. Artinya,
aktivitas perbankan selalu berkaitan dalam bidang keuangan. Sehingga
berbicara mengenai bank tidak terlepas dari masalah keuangan.
Bank secara sederhana menurut Kasmir (2004:11) didefinisikan sebagai
lembaga keuangan yang kegiatan utamanya adalah menghimpun dana dari
masyarakat dan menyalurkannya kembali kepada masyarakat serta
memberikan jasa bank lainnya.
Universitas Sumatera Utara
2. Jenis-Jenis Bank
Bank dapat dikelompokkan berdasarkan jenis, fungsi, kepemilikan,
transaksi, dan target pasarnya.
a. Pengelompokan bank berdasarkan jenis
Pengelompokan bank berdasarkan jenis terbagi atas dua, yaitu :
1) Bank Umum
Bank Umum adalah bank yang melaksanakan kegiatan usaha
secara konvensional dan atau berdasarkan prinsip syariah yang dalam
kegiatannya dapat memberikan jasa dalam lalu lintas pembayaran.
2) Bank Perkreditan Rakyat (BPR)
BPR adalah bank yang melaksanakan kegiatan usaha secara
konvensional dan atau berdasarkan prinsip syariah yang dengan
kegiatannya tidak memberikan jasa dalam lalu lintas pembayaran.
b. Pengelompokan berdasarkan fungsi
Pengelompokan bank berdasarkan fungsinya terbagi atas empat
bagian, yaitu:
1) Bank Sentral
Sebagaimana dimaksud dalam UUD 1945 dan diatur dengan UU
Nomor 13 Tahun 1968, Bank Indonesia memiliki tugas pokok
Universitas Sumatera Utara
membantu pemerintah dalam hal mengatur, menjaga dan memelihara
stabilitas nilai rupiah, serta menjaga kelancaran produksi dan
pembangunan, memperluas kesempatan kerja guna meningkatkan taraf
kehidupan rakyat.
2) Bank Umum
Bank Umum yaitu bank yang menghimpun dananya dengan
menerima simpanan dalam bentuk giro dan deposito, serta dalam
usahanya memberikan kredit jangka panjang.
3) Bank Tabungan
Bank Tabungan yaitu bank yang menghimpun dananya terutama
menerima simpanan dalam bentuk tabungan, dalam usaha utamanya
membungakan dananya dalam surat berharga. Contohnya Bank
Tabungan Pensiunan Nasional.
4) Bank Pembangunan
Bank Pembangunan yaitu bank yang menghimpun dananya dari
menerima simpanan dalam bentuk deposito dan atau mengeluarkan
surat berharga jangka panjang dan menengah dalam usahanya terutama
memberikan kredit jangka menengah dan jangka panjang dibidang
pembangunan. Contohnya Bank Pembangunan Daerah.

Universitas Sumatera Utara
c. Pengelompokan berdasarkan kepemilikan
Pengelompokan bedasarkan kepemilikan terbagi atas empat bagian,
yaitu :
1) Bank Pemerintah
Bank Pemerintah yaitu bank yang bagian terbesar usahanya
dimiliki oleh pemerintah atau negara. Contohnya BNI, BRI, Bank
Mandiri, BTN, dan Bank Ekspor Indonesia.
2) Bank Swasta Nasional
Bank Swasta Nasional yaitu bank yang seluruh sahamnya dimiliki
oleh pihak swasta.
3) Bank Asing
Bank Asing yaitu bank yang sahamnya dimiliki oleh pihak asing.
Pihak asing hanya membuka kantor cabang di Indonesia dan kantor
pusatnya berada di luar negeri. Contohnya Citibank, Bank of Tokyo,
HSBC.
4) Bank Campuran
Bank campuran yaitu bank yang sebagian sahamnya dimiliki oleh
pihak asing dan sebagian lagi dimiliki oleh pihak swasta nasional.
Contohnya Niaga Bank, Mitsubishi Bank.

Universitas Sumatera Utara
d. Pengelompokan berdasarkan transaksi
Pengelompokan berdasarkan transaksi terbagi atas dua, yaitu :
1) Bank Devisa
Bank Devisa adalah bank yang mengadakan transaksi internasional
atau berhubungan dengan mata uang asing secara keseluruhan, seperti
transfer ke luar negeri, pemasukan dan pembayaran dengan letter of
credit (L/C), ekspor dan impor, jual beli valuta asing.
2) Bank Nondevisa
Bank Nondevisa adalah bank yang tidak dapat melakukan transaksi
internasional.
e. Pengelompokan berdasarkan target pasar
Pengelompokan bank berdasarkan target pasar ada tiga bagian, yaitu:
1) Retail Bank
Retail bank adalah bank yang memfokuskan pelayanan dan
transaksi kepada nasabah individual, perusahaan, dan lembaga lain
yang skalanya kecil.
2) Corporate Bank
Corporate Bank adalah bank yang memfokuskan pelayanan dan
transaksi kepada nasabah yang berskala besar.
Universitas Sumatera Utara
3) Retail Corporate bank
Retail Corporate Bank adalah bank yang tidak memfokuskan pada
kedua pilihan jenis nasabah di atas. Bank ini memfokuskan pelayanan
transaksi kepada nasabah retail dan nasabah korporasi.
3. Laporan Keuangan Bank
Laporan keuangan yang dikeluarkan oleh bank akan memberikan berbagai
manfaat kepada berbagai pihak. Adapun pihak-pihak yang memiliki
kepentingan terhadap laporan keuangan bank adalah: Pemegang Saham,
kepentingan terhadap laporan keuangan bank adalah untuk melihat kemajuan
bank yang dipimpin oleh manajemen dalam suatu periode. Kemajuan yang
dilihat adalah kemampuan dalam menciptakan laba dan pengembangan asset
yang dimiliki.
Bagi pemerintah, laporan keuangan bank-bank pemerintah ataupun bank
swasta bermanfaat untuk mengetahui kemajuan bank yang bersangkutan.
Kemudian pemerintah juga berkepentingan terhadap kepatuhan bank dalam
melaksanakan kebijakan moneter yang telah ditetapkan. Laporan keuangan
bagi pihak manajemen adalah untuk menilai kinerja manajemen bank dalam
mencapai target-target yang telah ditetapkan. Dengan mengetahui kondisi
keuangan bank yang sebenarnya, karyawan menjadi paham dengan
kinerjanya, sehingga mereka juga merasa perlu mengharapkan peningkatan
kesejahteraan apabila bank mengalami keuntungan dan sebaiknya perlu
melakukan perbaikan jika bank mengalami kerugian. Dan bagi masyarakat
Universitas Sumatera Utara
luas, laporan keuangan merupakan suatu jaminan terhadap uang yang
disimpan di bank. Dengan adanya laporan keuangan pemilik dana dapat
mengetahui kondisi bank yang bersangkutan, sehingga masih tetap
mempercayakan dananya disimpan di bank tersebut atau tidak.
4. Tingkat Kesehatan Bank
a. Pengertian Tingkat Kesehatan Bank
Menurut Santoso (2005:51) bahwa kesehatan bank mencakup
kemampuan suatu bank untuk melaksanakan seluruh kegiatan usaha
perbankannya, kegiatan tersebut meliputi:
a. kemampuan menghimpun dana dari masyarakat, dari lembaga lain,
dan dari modal sendiri,
b. kemampuan mengolah dana,
c. kemampuan untuk menyalurkan dana ke masyarakat,
d. kemampuan memenuhi kewajiban kepada masyarakat, karyawan,
pemilik modal, dan pihak lain,
e. pemenuhan peraturan perbankan yang berlaku.

Tingkat kesehatan bank merupakan hasil penilaian kualitas atas
berbagai aspek yang berpengaruh terhadap kondisi atau kinerja suatu bank
melalui penilaian faktor permodalan, kualitas asset, manajemen,
rentabilitas, likuiditas, dan sensitivitas terhadap resiko pasar.
Penilaian terhadap faktor tersebut dilakukan melalui penilaian
kuantitatif dan atau kualitatif setelah mempertimbangkan unsur judgement
yang didasarkan atas materialitas dan signifikansi dari faktor penilaian
serta pengaruh dari faktor lainnya seperti kondisi industri perbankan dan
perekonomian nasional. Penilaian kuantitatif adalah penilaian terhadap
Universitas Sumatera Utara
posisi, perkembangan, dan proyeksi rasio-rasio keuangan perbankan.
Penilaian kualitatif adalah penilaian terhadap faktor-faktor yang
mendukung hasil penilaian kuantitatif, penerapan manajemen resiko, dan
kepatuhan bank.
b. Faktor-Faktor Penilaian Tingkat Kesehatan Bank
Pentingnya arti tingkat kesehatan bank bagi pembentukan kepercayaan
dalam dunia perbankan serta untuk melaksanakan prinsip kehatia-hatian
(prudential banking) dalam dunia perbankan, maka Bank Indonesia perlu
menerapkan aturan tentang kesehatan bank. Di Indonesia, kinerja
perbankan diukur sesuai dengan tata cara penilaian kesehatan bank yang
mengacu pada Bank for International Settelment (BIS) yang dikeluarkan
oleh Komisi Basic Swiss. Ada enam aspek yang dinilai yaitu capital,
asset, management, earning, liquidity, dan sensitivity (CAMELS).
Peraturan Bank Indonesia Nomor 6/10/PBI/2004 tanggal 12 April
2004 kepada semua bank umum yang melaksanakan kegiatan usaha secara
konvensioanl perihal sistem penilaian tingkat kesehatan bank umum
mencakup penilaian terhadap faktor-faktor CAMELS yang terdiri dari:
1) Permodalan (Capital), untuk rasio kecukupan modal
a) kecukupan penmenuhan Kewajiban Penyediaan Modal
Minimum (KPMM) terhadap ketentuan yang berlaku,
b) komposisi permodalan,
c) trend ke depan/proyeksi KPMM,
d) aktiva produktif yang diklasifikasikan dibandingkan dengan
modal bank,
e) kemampuan bank memelihara kebutuhan penambahan modal
yang berasal dari keuntungan (laba ditahan),
f) rencana permodalan bank untuk mendukung pertumbunhan
usaha,
Universitas Sumatera Utara
g) akses kepada sumber permodalan, dan
h) kinerja keuangan pemegang saham untuk meningkatkan
permodalan bank.
2) Asset (Asset), untuk rasio kualitas aktiva
a) aktiva produktif yang diklasifikasikan dibandingkan dengan
total aktiva produktif,
b) debitur inti kredit di luar pihak terkait dibandingkan dengan
total kredit,
c) perkembangan aktiva produktif bermasalah/non performing
assets dibandingkan dengan aktiva produktif,
d) tingkat kecukupan pembentukan Penyisihan Penghapusan
Aktiva Produktif (PPAP),
e) kecukupan kebijakan dan prosedur aktiva produktif,
f) sistem kaji ulang (review) internal terhadap aktiva produktif,
g) dokumentasi aktiva produktif, dan
h) kinerja penanganan aktiva produktif bermasalah.
3) Manajemen (Management), umtuk menilai kualitas manajemen
a) manajemn umum,
b) penerapan sistem manajemen risiko,
c) kepatuhan bank terhadap ketentuan yang berlaku serta
komitmen kepada Bank Indonesia dan atau pihak lainnya.
4) Rentabilitas (Earning), untuk rasio rentabilitas bank
a) return on asssets (ROA),
b) return on equity (ROE),
c) net interest margin (NIM),
d) biaya operasional dibandingkan dengan pendapatan operasional
(BOPO),
e) perkembangan laba operasional,
f) komposisi portofolio aktiva produktif dan diversifikasi
pendapatan,
g) penerapan prinsip akuntansi dalam pengakuan pendapatan dan
biaya,
h) prospek laba operasional.
5) Likuiditas (Liquidity), untuk rasio likuiditas bank
a) aktiva likuid kurang dari 1 bulan dibandingkan dengan passiva
likuid kurang dari 1 bulan,
b) 1 month naturity mismatch ratio,
c) loan to deposit ratio (LDR),
d) proyeksi cash flow 3 bulan mendatang,
e) ketergantungan pada dana antar bank dan deposan inti,
f) kebijakan dan pengelolahan likuiditas (Assets and liabilities
management/ALMA),
g) kemampuan bank untuk memperoleh akses kepada pasar uang,
pasar modal, atau sumber-sumber pendanaan lainnya,
h) stabilitas dana pihak ketiga (DPK).

Universitas Sumatera Utara
6) Sensitivitas terhadap resiko pasar
a) modal atau cadangan yang dibentuk untuk mengcover fluktuasi
suku bunga dibandingkan dengan potential loss sebagai akibat
fluktuasi (adverse movement) suku bunga,
b) modal atau cadangan yang dibentuk untuk mengcover fluktuasi
nilai tukar dibandingkan dengan potensial loss sebagai akibat
fluktuasi (adverse movement) nilai tukar,
c) kecukupan penerapan sistem manajemen resiko pasar.
c. Aturan Kesehatan Bank
Berdasarkan Undang-undang No. 10 Tahun 1998 tentang Perbankan,
Pembinaan dan Pengawasan Bank dilakukan oleh Bank Indonesia,
menciptakan bahwa:
1) bank wajib memelihara tingkat kesehatan bank sesuai dengan
ketentuan kecukupan modal, kualitas asset, kualitas manajemen,
likuiditas, solvabilitas, dan aspek-aspek lain yang berhubungan
dengan usaha bank, dan wajib melakukan kegiatan usaha sesuai
dengan prinsip kehatia-hatian,
2) dalam menerbitkan kredit atau pembiayaan berdasarkan prinsip
syariah dan melakukan kegiatan usaha lainnya, bank wajib
menempuh cara-cara yang tidak merugikan bank dan kepentingan
nasabah yang mempercayakan dananya kepada bank,
3) bank wajib menyampaikan kepada Bank Indonesia segala
keterangan dan penjelasan mengenai usahanya menurut tata cara
yang ditetapkan oleh Bank Indonesia,
4) bank atas permintaan Bank Indonesia, wajib memberikan
kesempatan bagi pemeriksaan buku-buku, berkas-berkas milik
bank tersebut, serta wajib memberikan bantuan dalam rangka
memeperoleh kebenaran dari segala keterangan, dokumen dan
penjelasan yang dilaporkan oleh bank tersebut,
5) bank Indonesia melakukan pemeriksaan terhadap bank, baik secara
berkala maupun setiap waktu apabila diperlukan Bank Indonesia
dapat menugaskan akuntan publik untuk dan atas nama Bank
Indonesia melaksanakan pemeriksaaan terhadap bank,
6) bank wajib menyampaikan kepada Bank Indonesia neraca,
perhitungan laba rugi tahunan dan penjelasannya, serta laporan
berkala lainnya, dalam waktu dan bentuk yang ditetapkan oleh
Bank Indonesia. Neraca dan laporan laba rugi tahunan tersebut
wajib terlebih dahulu diaudit oleh akuntan publik,
7) bank wajib mengumumkan neraca dan perhitungan laba rugi dalam
waktu dan bentuk yang ditetapkan oleh Bank Indonesia.
Universitas Sumatera Utara
5. Metode CAMELS
Sesuai dengan Surat Edaran Bank Indonesia nomor 6/23/DPNP tanggal 31
Mei 2004, tingkat kesehatan bank merupakan hasil penilaian kuantitatif dan
atau kualitatif terhadap faktor-faktor CAMELS, berarti selain melakukan
penilaian secara kuantitatif, Bank Indonesia juga menetapkan penialaian
secara kualitatif. Dalam penilaian kuntitatif tersebut, Bank Indonesia
menetapkan rasio-rasio yang berkaitan dengan faktor-faktor CAMELS
tersebut yang telah ditetapkan sebagai berikut :
a. Permodalan (Capital)
Kecukupan modal merupakan faktor yang penting bagi bank dalam
mengembangkan usaha dan menampung risiko kerugian yang mungkin
dihadapi. Dalam faktor permodalan, yang dinilai adalah permodalan
yang dimiliki oleh bank yang didasarkan kepada kewajiban penyediaan
modal minimum bank. Bank Indonesia menetapkan Capital Adequacy
Ratio (CAR), yaitu kewajiban penyediaan modal minimum yang harus
selalu dipertahankan oleh setiap bank sebagai suatu proporsi tertentu dari
total Aktiva Tertimbang Menurut Risiko (ATMR). Perbandingan rasio
CAR adalah rasio modal terhadap ATMR (Kasmir, 2008) yang dapat
dirumuskan dengan :


Universitas Sumatera Utara
Aktiva Tertimbang Menurut Risiko adalah nilai total masing-masing
aktiva bank setelah dikalikan dengan masing-masing bobot risiko aktiva
tersebut. Aktiva yang paling tidak berisiko diberi bobot 0% dan aktiva
yang paling berisiko diberi bobot 100%. Dengan demikian ATMR
menunjukkan nilai aktiva berisiko yang memerlukan antisipasi modal
dalam jumlah yang cukup (Susilo, 2000:28). Menurut standar
internasional, yaitu Banking for International Settlement (BIS) yang
berpusat di Jenewa minimum bobot Capital Adequacy Ratio adalah
sebesar 8% dan dari waktu ke waktu akan disesuaikan dengan kondisi dan
perkembangan perbankan yang terjadi. Semantara itu, Bank Indonesia
telah menetapkan kewajiban penyediaan modal inti minimum bank umum
sebesar Rp 80 Milyar pada akhir tahun 2007 dan meningkat menjadi Rp
100 Milyar pada akhir tahun 2010.
b. Kualitas aktiva (Assets)
Aset bertujuan untuk memastikan kualitas aset yang dimiliki bank dan
nilai riil dari aset tersebut. Kemerosotan kualitas dan nilai aset merupakan
sumber erosi terbesar bagi bank. Menurut Rivai (2008:713),
Aktiva produktif adalah penanaman dana pada pihak-pihak terkait dan
pihak tidak terkait, dengan rincian :
1) penempatan pada bank lain,
2) surat-surat berharga kepada pihak ketiga dan Bank Indonesia,
3) efek yang dibeli dengan janji dijual kembali (reverse repo),
4) kredit kepada pihak ketiga,
5) penyertaaan kepada pihak ketiga,
6) tagihan lain kepada pihak ketiga,
7) komitmen dan kontijensi kepada pihak ketiga.

Universitas Sumatera Utara
Penilaian kualitas aktiva produktif didasarkan pada tingkat
kolektibilitasnya dilakukan dengan menghitung rasio NPL dan Aktiva
Produktif yang Diklasifikasikan (APYD) terhadap Aktiva Produktif (AP).
Rasio NPL menunjukkan kemampuan manajemen bank dalam mengelola
kredit bermasalah yang diberikan oleh bank, sehingga semakin tinggi rasio
ini maka semakin buruk kualitas kredit bank yang menyebabkan jumlah
kredit bermasalah semakin besar maka kemungkinan suatu bank dalam
kondisi bermasalah semakin besar. Rasio NPL dapat dirumuskan sebagai
berikut :

Menurut Rivai (2008:714), Aktiva produktif yang diklasifikasikan
adalah semua aktiva yan dimiliki oleh bank karena suatu sebab terjadi
gangguan sehingga usaha debitur mengalami kesulitan dalam cash flow
yang dapat mengakibatkan kesulitan membayar bunga dan bahkan
angsuran utang pokoknya. Rasio APYD terhadap AP dapat dirumuskan
sebagai berikut :

Sesuai lampiran dari Surat Edaran bank Indonesia Nomor
6/10/PBI/2004 tanggal 12 April 2004,
Aktiva produktif yang diklasifikasikan adalah aktiva produktif baik
yang sudah maupun yang mengandung potensi tidak memberikan
Universitas Sumatera Utara
penghasilan atau menimbulkan kerugian, yang besarnya ditetapkan
sebagai berikut :
1) 25% dari aktiva produktif yang digolongkan dalam perhatian
khusus (DPK),
2) 50% dari aktiva produktif yang digolongkan kurang lancar,
3) 75% dari aktiva produktif yang digolongkan diragukan, dan
4) 100% dari aktiva produktif yang digolongkan macet.
c. Manajemen (Management)
Secara kuantitatif faktor ini sebenarnya tidak dapat dijabarkan, namun
secara teknis pengukuran keberhasilan manajemen dapat dilihat dari
pencapaian operasional (realisasi) dibandingkan terhadap target atau
sasaran yang ditetapkan di awal tahun buku. Kebijakan-kebijakan yang
dibuat oleh manajemen harus dapat dipertanggungjawabkan baik terhadap
ketentuan yang berlaku maupun terhadap kelangsungan hidup bank itu
sendiri. Penilaian terhadap keberhasilan manajemen dapat dilihat dari
aplikasi manajemen umum dan manajemen risiko yang diterapkan oleh
para manajer suatu bank. Dimana bank yang memiliki komposisi dan
jumlah serta kualifikasi anggota komisaris yang sesuai dsengan ukuran,
kompleksitas (karakteristik), kemampuan keuangan, dan sasaran strategi
bank. Bank memiliki komposisi dan jumlah serta kualifikasi anggota
direksi yang sesuai dengan ukuran, kompleksitas (karakteristik),
kemampuan keuangan, dan sasaran bank.
d. Rentabilitas (Earning)
Bank yang sehat adalah bank yang diukur secara rentabilitas yang terus
meningkat di atas standar yang telah ditetapkan (Kasmir, 2008:41). Faktor
rentabilitas digunakan untuk mengukur tingkat efisiensi usaha dan
Universitas Sumatera Utara
profitabilitas yang dicapai bank. Dalam penelitian ini, perhitungan
rentabilitas dilakukan dengan menghitung tiga rasio yaitu Return On
Assets (ROA), Return On Equity (ROE), dan beban ooperasional terhadap
pendapatan operasional (BOPO). Semakin tinggi ROA, semakin baik
produktivitas modal sendiri dalam meraih laba dan semakin besar ROE,
semakin besar pula tingkat keuntungan yang dicapai bank sehingga
kemungkinan suatu bank dalam kondisi bermasalah semakin kecil.
Kenaikan dalam ROE berarti terjadi keanikan laba bersih dari bank yang
bersangkutan dan kenaikan nilai ROE akan menyebabkan kenaikan harga
saham. Perhitungan atas ROA dan ROE dapat dirumuskan sebagai berikut:


Bank Indonesia biasanya tidak memberlakukan ketentuan yang ketat
terhadap rasio ini. Sepanjang suatu bank tidak mengalami kerugian atau
tidak ada tanda-tanda atau kecendrungan untuk mengalami kerugian di
masa yang akan datang.
Rasio BOPO adalah perbandingsn antara biaya operasional dan
pendapatan operasional dalam mengukur tingkat efisiensi dan kemampuan
bank dalam melakukan kegiatan operasinya. Artinya, semakin rendah
BOPO berarti semakin efisiensi kinerja bank tersebut dalam
mengendalikan biaya operasionalnya, dengan adanya efisiensi biaya maka
Universitas Sumatera Utara
keuntungan yang diperoleh bank akan semakin besar. Perhitungan atas
rasio BOPO dapat dirumuskan sebagai berikut :

e. Likuiditas (Liquidity)
Suatu bank dapat dikatakan likuid apabila bank dapat memenuhi
semua kewajibannya, khususnya kewajiban jangka pendek yang berkaitan
dengan simpanan masyarakat (simpanan, tabungan, giro) dan bank mampu
memenuhi semua permohonan kredit yang layak dibiayai. Untuk
mengukur tingkat likuiditas bank digunakan rasio keuangan Loan to
Deposit Ratio (LDR).
Perhitungan atas rasio LDR dapat dirumuskan sebagai berikut :

LDR paling sering digunakan oleh analisis keuangan dalam menilai
suatu kinerja bank terutama dari seluruh jumlah kredit yang diberikan oleh
bank dengan dana yang diterima oleh bank. Alasan memilih variabel ini
adalah dengan pertimbangan bahwa semakin besar jumlah kredit yang
diberikan oleh bank maka akan semakin rendah tingkat likuiditas bank
yang bersangkutan, namun dilain pihak semakin besar jumalh kredit yang
diberikan diharapkan bank akan mendapatkan return yang tinggi pula. Hal
tersebut akan mempengaruhi penilaian investor dalam mengambil
Universitas Sumatera Utara
keputusan investasinya secara bersamaan akan mempengaruhi permintaan
dan penawaran saham di pasar modal yang pada akhirnya memepengaruhi
haraga saham yang akhirnya berdampak pada pertumbuhan tingkat return
saham bank. Tidak ada angka pasti untuk menentukan besarnya rasio
yang menggambarkan tingkat likuiditas bank. Tetapi dari besarnya rasio
yang diperoleh dapat diketahui seberapa besar pinjaman yang dibiayai oleh
dana masyarakat oleh bank yang bersangkutan (Santoso, 1995:104).
f. Sensitivias (Sensitivity)
Aspek ini mulai diberlakukan oleh Bank Indonesia sejak bulan Mei
2004. Seperti kita ketahui dalam melepaskan kreditnya, perbankan harus
memerhatikan dua unsur, yaitu: tingkat perolehan laba yang harus dicapai
dan risiko yang akan dihadapi. Pertimbangan risiko yang harus
diperhitungkan berkaitan erat dengan sensitivitas perbankan. Sensitivitas
terhadap risiko ini penting agar tujuan memperoleh laba dapat tercapai dan
pada akhirnya kesehatan bank juga terjamin. Risiko yang dihadapi terdiri
dari risiko lingkungan, risiko manajemen, risiko penyerahan, dan risiko
keuangan.
6. Peringkat Komposit
Berdasarkan hasil penilaian peringkat masing-masing faktor ditetapkan
lima peringkat komposit (composite rating) sebagai berikut :
Universitas Sumatera Utara
a. Peringkat komposit 1 (PK-1), mencerminkan bahwa bank tergolong
sangat baik dam mampu mengatasi pengaruh negatif kondisi
perekonomian dan industri keuangan.
b. Peringkat komposit 2 (PK-2), mencerminkan bahwa bank tergolong
baik dan mampu mengatasi pengaruh negatif kondisi perekonomian
dan industri keuangan namun bank masih memiliki kelemahan-
kelemahan minor yang dapat segera diatasi oleh tindakan rutin.
c. Peringkat komposit 3 (PK-3), mencerminkan bahwa bank tergolong
cukup baik namun terdapat beberapa kelemahan yang dapat
menyebabkan peringkat kompositnya memburuk apabila bank tidak
segera melakukan tindakan korektif.
d. Peringkat komposit 4 (PK-4), mencerminkan bahwa bank tergolong
kurang baik dan sensitif terhadap pengaruh negatif kondisi
perekonomian dan industri keuangan atau bank memiliki kelemahan
keuangan yang serius atau kombinasi dari kondisi beberapa faktor
yang tidak memuaskan, yang apabila tidak dilakukan tindakan korektif
yang efektif berpotensi mengalami kesulitan yang menyebabkan
kelangsungan usahanya.
e. Peringkat komposit 5 (PK-5), mencerminkan bahwa bank tergolong
tidak baik dan sangat sensitif terhadap pengaruh negatif kondisi
perekonomian dan industri keuangan serta mengalami kesulitan yang
membahayakan kelangsungan usahanya.
Universitas Sumatera Utara
Tabel 2.1 Kriteria penetapan peringkat komposit Camels
No. Faktor Komponen
Peringkat Komposit (PK)
1 (sangat sehat) 2 (sehat) 3 (cukup sehat) 4 (kurang sehat) 5 (tidak
sehat)
1. Capital CAR KPMM >10% 9% <KPMM 10%
8% KPMM 9%
7% KPMM 8% KPMM <7%
2. Asset NPL 0% <rasio <2% 2% rasio < 5% 5% rasio 8% 8% <rasio 11% Rasio >11%
APYD
terhadap
Aktiva
Produktif
Rasio sangat
rendah atau sangat
tidak signifikan
Rasio rendah atau
tidak signifikan
3% rasio 6%
Rasio relatif tinggi
atau di atas rasio
peringkat 3
Rasio sangat
tinggi
3. Earning ROA 2% <ROA 1,25% <ROA 2% 0,5% ROA 1,25% 0% ROA < 0,5% ROA <0%
ROE 20% <ROE 12,5% ROE 20% 5% ROE 12,5% 0% ROE < 5% ROE <0%
NIM 2,5% <NIM 2% <NIM 2,5% 1,5% NIM 2% 1% NIM < 1,5% NIM <1%
BOPO BOPO <92% 92% BOPO < 94% 94% BOPO 96% 96% <BOPO 98% BOPO >98%
4. Liquidity LDR 50% <rasio 75% 75% <rasio 85% 85% <rasio 100% 100% <rasio 120% rasio >120%
Sumber: Surat Edaran Peraturan Bank Indonesia Nomor 6/10/PBI/2004 tanggal 12 April 2004
Universitas Sumatera Utara
B. Tinjauan Penelitian Terdahulu
Tinjauan penelitian terdahulu disajikan pada tabel 2.2 sebagai berikut :
Tabel 2.2
Tinjauan Penelitian Terdahulu
No Peneliti
Judul
Penelitian
Variabel
Penelitian
Hasil Penelitian
1. Ade
Syahputra
Pane (2010)
Penilaian
Tingkat
Kesehatan
Bank
Melalui
Analisis
Rasio pada
Perusahaan
Perbankan
yang
Terdaftar
di BEI
Rasio
Likuiditas
(LDR), Rasio
Solvabilitas
(CAR), dan
Rasio
Profitabilitas
(ROA dan
BOPO)
Tidak ada perbedaan
tingkat kesehatan bank,
baik bank pemerintah
maupun bank swasta
nasional, apabila dilihat
dari rasio likuiditas dan
rasio solvabilitas, tetapi
dari rasio profitabilitas
terdapat perbedaan.
2. Chatrin
C.M.Siregar
(2008)
Penilaian
Tingkat
Kesehatan
Bank
dengan
Analisa
CAMELS
Studi
Kasus PT.
Bank
Sumut
Faktor
Permodalan,
Faktor
Kualitas
Aset, Faktor
Rentabilitas,
dan Faktor
Likuiditas.
Kesimpulan bahwa PT.
Bank Sumut termasuk
salah satu bank yang sehat
3. Luciana
Spica
Almilia dan
Winny
Herdiningty
as (2005)
Analisis
Rasio
CAMELS
Terhadap
Prediksi
Kondisi
Bermasalah
Pada
Lembaga
Perbankan
Periode
2000-2002
CAR,
ATTM,
APB, NPL,
PPAP
terhadap AP,
Pemenuhan
PPAP, ROA,
ROE, NIM,
BOPO, LDR.
Rasio yang memiliki
perbedaan yang signifikan
antara bank-bank kategori
bermasalah dan tidak
bermasalah periode 2000-
2002 adalah CAR, APB,
NPL, PPAP, ROA, NIM,
BOPO, dimana CAR
mempunyai pengaruh yang
negatif dan signifikan,
APB, ROA, dan NIM
mempunyai pengaruh yang
negatif dan tidak
Universitas Sumatera Utara
signifikan, NPL dan PPAP
berpengaruh positif dan
tidak signifikan, sedangkan
BOPO berpengaruh
signifikan dan positif.

C. Kerangka Konseptual
Berdasarkan latar belakang dan tujuan penelitian yang telah dikemukakan
sebelumnya maka analisis tingkat kesehatan Bank Pemerintah yang terdaftar di
Bursa Efek Indonesia (BEI) periode 2006-2009 dapat digambarkan dalam
kerangka sebagai berikut :



Gambar 2.1
Kerangka Konseptual
Dalam penelitian ini akan dibahas masalah penilaian tingkat kesehatan
perbankan menggunakan metode CAMELS. Rasio yang digunakan dalam
penelitian ini meliputi rasio capital (CAR), assets (NPL dan APYD), earning
(ROA, ROE, dan BOPO), dan liquidity (LDR).

Laporan
Keuangan
Rasio Capital (CAR),
Assets (NPL dan
APYD), Earning
(ROA, ROE, dan
BOPO), dan Liquidity
(LDR)
Kesehatan
Perbankan
Universitas Sumatera Utara