Anda di halaman 1dari 22

PERSEMAIAN

Yang dimaksudkan dengan persemaian adalah tempat atau areal untuk kegiatan
memproses benih (atau bahan lain dari tanaman) menjadi bibit/semai yang siap ditanam di
lapangan. Kegiatan di persemaian merupakan kegiatan awal di lapangan dari kegiatan
penanaman hutan karena itu sangat penting dan merupakan kunci pertama di dalam upaya
mencapai keberhasilan penanaman hutan. Penanaman benih ke lapangan dapat dilakukan
secara langsung dan secara tidak langsung yang berarti harus disemaikan terlebih dahulu di
tempat persemaian. Penanaman secara langsung ke lapangan biasanya dilakukan apabila biji-
biji (benih) tersebut berukuran besar dan jumlah persediaannya melimpah. Meskipun ukuran
benih besar tetapi kalau jumlahnya terbatas, maka benih tersebut seyogyanya disemaikan
terlebih dulu. Pemindahan/penanaman bibit berupa semai dari persemaian ke lapangan dapat
dilakukan setelah semai-semai dari persemaian tersebut sudah kuat (siap ditanam).Pengadaan
bibit/semai melalui persemaian yang dimulai sejak penaburan benih merupakan cara yang
menjamin keberhasilan penanaman di lapangan. Selain pengawasannya mudah, penggunaan
benih-benih lebih dapat dihemat dan juga kualitas semai yang akan ditanam di lapangan lebih
terjamin bila dibandingkan dengan cara menanam benih langsung di lapangan.
PERENCANAAN PEMBUATAN PERSEMAIAN
Perencanaan merupakan taraf permulaan dari setiap proses penyelenggaraan kegiatan.
Dimana kita menggambarkan di muka hal-hal yang harus dikerjakan dan cara
mengerjakannya dalam rangka mencapai tujuan yang ditentukan. Dalam pekerjaan
persemaian, perencanaan dasar meliputi unsur-unsur kegiatan yang mencakup pemilihan jenis
persemaian, lokasi persemaian, kebutuhan bahan, kebutuhan peralatan dan tenaga kerja yang
diperlukan, serta tata waktu penyelenggaraan persemaian. Umumnya penyediaan semai/tahun
sebanyak 20.000 batang merupakan kebutuhan minimum untuk memulai persemaian
berukuran kecil.
1. Jenis Persemaian.
Sebelum dimulai pembuatan perlu ditentukan terlebih dahalu jenis persemaian apa yang akan
dibuat. Pada umumnya persemaian digolongkan menjadi 2 jenis/tipe yaitu persemaian
sementara dan persemaian tetap.
1.1. Persemaian sementara
Jenis persemaian ini biasanya berukuran kecil dan terletak di dekat daerah yang akan
ditanami. Persemaian sementara ini biasanya berlangsung hanya untuk beberapa periode
panenan (bibit/semai) yaitu paling lambat hanya untuk waktu 5 tahun.
Keuntungan dan keberatan persemaian sementara adalah :
1. Keuntungan :
1. Keadaan ekologi selalu mendekati keadaan yang sebenarnya.
2. Ongkos pengangkutan bibit murah.
3. Kesuburan tanah tidak terlalu menjadi masalah karena persemaian selalu
berpindah tempat setelah tanah menjadi miskin.
4. Tenaga kerja sedikit sehingga mudah pengurusannya.
5. Keberatannya.
1. Ongkos persemaian jatuhnya mahal karena tersebarnya pekerjaan
dengan hasil yang sedikit.
2. Ketrampilan petugas sulit ditingkatkan, karena sering berganti petugas.
3. Seringkali gagal karena kurangnya tenaga kerja yang terlatih.
4. Lokasi persemaian yang terpancar menyulitkan pengawasan.
1.2. Persemaian Tetap.
Jenis persemaian ini biasanya berukuran (luasnya) besar dan lokasinya menetap di suatu
tempat, untuk melayani areal penanaman yang luas.
1. Keuntungan :
1. Kesuburan tanah dapat dipelihara dengan pemupukan
2. Dapat dikerjakan secara mekanis bila dikehendaki
3. Pengawasan dan pemeliharaan lebih efisien, dengan staf yang tetap dan
terpilih
4. Perencanaan pekerjaan akan lebih teratur
5. Produktivitas semai/bibit tinggi, kualitas bibit lebih baik dan pertumbuhannya
lebih seragam
6. Kerugiannya :
1. Keadaan ekologi tidak selalu mendekati keadaan yang sebenarnya.
2. Ongkos pengangkutan lebih mahal dibanding dengan jenis persemaian
sementara.
3. Membutuhkan biaya untuk investasi lebih tinggi dibanding persemaian
sementara. Hal ini karena untuk persemaian tetap biasanya keadaan
sarana (jalan angkutan, bangunan-bangunan di persemaian) dan
prasarana (peralatan kerja/angkutan) lebih baik kualitas dan lebih
mahal harganya dibanding yang diperlukan persemaian sementara.
2. Pemilihan Lokasi Persemaian :
Penentuan lokasi persemaian harus didahului dengan observasi lapangan. Untuk memilih
lokasi persemaian persemaian yang baik, beberapa persyaratan yang perlu dipertimbangkan
adalah :

2.1. Aspek Teknis
2.1.1. Letak lokasi persemaian
Sejauh mungkin lokasi persemaian diusahakan terletak di tengah-tengah daerah
penanaman atau berjarak sedekat mungkin ke setiap areal penanaman. Areal persemaian
terbuka/kena sinar matahari cukup/langsung, mudah dijangkau setiap saat dan terlindung dari
angin kencang.
2.1.2. Jalan angkutan
Adanya dekat jalan angkutan yang memadai sesuai keperluan, baik lewat darat
maupun lewat air/sungai. Tanpa adanya jalan angkutan ini akan mempersulit pengawasan dan
mempertinggi biaya angkutan.
2.1.3. Luas Persemaian
Luas areal persemaian tergantung pada :
1. Jumlah semai yang diproduksi/tahun
2. Cara penanaman apakah sistim akar telanjang atau sistim container dimana lebih
banyak ruang dibutuhkan dan
3. Lamanya semai/bibit dipelihara di pesemaian sampai diperoleh ukuran yang
memenuhi persyaratan ukuran tinggi, diameter kekokohan batang dll.
2.2. Aspek Fisik
1. Air
Adanya sumber air dan persediaan dalam jumlah yang cukup di dekat persemaian sangat
memudahkan keberhasilan persemaian. Pada umumnya sumber air di dalam kawasan hutan
adalah berupa sungai, mata air dan air dalam tanah, juga sumber air berupa air hujan
merupakan sumber air yang banyak diharapkan oleh para pengelola persemaian.
1. Media tumbuh/tanah
Tanah merupakan salah satu komponen habitat (tempat tumbuh) tanaman. Tanaman akan
tumbuh subur bila medium tumbuhnya subur dan merana bila medium tumbuhnya tidak
subur. Sebagai medium tumbuh semai, perlu diusahakan memilih tanah yang steril dan yang
mempunyai sifat-sifat baik seperti porositas dan drainasenya baik, bebas batu dan kerikil. pH
media sebaiknya berkisar antara 5 7 dan diusahakan tidak menggunakan tanah liat. Untuk
pertumbuhan tanaman (sapihan) diperlukan adanya unsur-unsur hara penting (essensial).
Menurut kebutuhan tanaman unsur-unsur hara penting dapat digolongkan menjadi : unsur-
hara makro dan unsure hara mikro. Unsur hara makro dibutuhkan dalam jumlah relative lebih
banyak yaitu : Karbon(C), Hidrogen(H), Oksigen(O), Nitrogen(N), Phospor(P), Potasium(K),
Sulfat(S), Magnesium(Mg) dan Kalsium(Ca) sedangkan unsur hara mikro ada 7 unsur yaitu :
Iron (Fe), Boron (B), Copper (Cu), Zince (Zn), Molydenum (Mo) dan Chlorine (Cl). Unsur-
unsur penting yang dibutuhkan tanaman tersebut diatas berasal dari sumber yang berbeda-
beda. Unsur-unsur hara C,H dan O berasal dari atmofir atau air, sedang unsur-unsur hara
lainnya berasal dari mineral tanah. Pada umumnya tanah-tanah pertanian di Indonesia
kekurangan unsur-unsur N, P, dan K. Oleh karena itu pemupukan di Indonesia (bahkan di
dunia) umumnya menggunakan unsur-unsur yang mengandung ketiga unsur tersebut. Pada
tanah/media yang kurang subur dapat diberikan tambahan unsur hara dalam bentuk pupuk
organik maupun anorganik.
Pupuk Organik
Pupuk organik (pupuk kandang, kompos dsb) merupakan sumber hara tetapi, kandungan
unsur haranya rendah, dan untuk memperolehnya dalam jumlah banyak agak sulit. Pupuk
organik dapat memperbaiki sifat kimia dan fisik tanah.
Pupuk Anorganik
Pupuk Anorganik biasa pula disebut pupuk buatan. Pupuk buatan yang penting digolongan
penting adalah nitrogen, pupuk fosfat dan pupuk kalium.
1. Kelerengan
Pada umumnya persemaian dibuat pada lahan yang sedatar mungkin. Semakin miring
topografinya akan semakin sulit pengerjaan persiapan lapangan dan juga semakin banyak
tenaga dan biaya yang dibutuhkan. Kelas kelerengan lahan yang dijumpai di lapangan
biasanya digolongkan sebagai berikut :
Datar dengan kelerengan : 0-8 %
Landai dengan kelerengan : 9-15 %
Bergelombang dengan kelerengan : 16-25 %
Berbukit dengan kelerengan : 26-45 %
Bergunung dengan kelerengan lebih dari : 45 %
Untuk persemaian sedapat mungkin dipilih/digunakan lahan kelas kelerengan relative datar
landai. Pada umumnya diusahakan agar kelerengan untuk areal persemaian kurang dari 10
%.
2.3. Aspek tenaga kerja
Kegiatan di persemaian, merupakan kegiatan yang sangat erat dengan masalah ketenaga
kerjaan. Adanya tenaga kerja yang memadai baik kualitas maupun kuantitasnya menjadi
faktor yang sangat menentukan keberhasilan dalam usaha persemaian. Kualitas disini
menyangkut pengertian keadaan tenaga kerja yang berpengetahuan dan trampil di bidang
persemaian. Kebutuhan tenaga kerja ini terutama diharapkan dapat dicukupi dari penduduk
sekitar atau dekat dengan persemaian sehingga lebih efisien dan memenuhi fungsi sosial
penduduk setempat. Jumlah kebutuhan tenaga kerja untuk tiap-tiap persemaian bergantung
pada volume pekerjaan yang ada. Volume kegiatan pekerjaan di persemaian pada umumnya
berbeda pada setiap tahap kegiatan, karena itu kebutuhan tenaga kerja juga berbeda-beda
sesuai dengan tahapan kegiatan.
1. Kebutuhan bahan
Kebutuhan bahan untuk persemaian meliputi benih, pasir, tanah atau jenis medium tumbuh
lainnya (gambut, sekam dsb), kantong plastik kontiner) pupuk fungsida dan pestisida.
a. Benih
Dua faktor penting yang perlu mendapat perhatian di dalam penyediaan benih untuk bahan
penanaman di persemaian yaitu kualitas dan kuantitas benih,. Penyediaan benih yang
berkualitas baik dan dalam jumlah yang cukup dan tepat waktu sangat menentukan
keberhasilan sesuatu persemaian. Seringkali terjadi kekurangan benih bukan disebabkan
kurangnya jumlah/berat benih yang tersedia, tetapi karena kualitas benihnya yang jelek. Hal
ini dapat terjadi bagi suatu daerah yang tidak memiliki stok benih jenis tertentu sehingga
harus didatangkan dari luar. Untuk menyakinkan kualitas benih apakah masih baik perlu
dilakukan uji ulang apakah hasilnya sesuai dengan yang dicantumkan pada label. Banyaknya
benih yang dibutuhkan suatu persemaian ditentukan beberapa faktor sebagai berikut :
Jumlah semai yang harus dihasilkaan
Peren perkecambahan (viabilitas) dari benih yang bersangkutan.
Persen jadi semai sampai siap tanam,dan
Jumlah butir benih tiap kg.
b). Pasir dan tanah (jenis madia tumbuh lainnya)
Pada dasarnya bahan pasir (untuk medium) maupun tanah (atau medium tumbuh yang lain)
untuk medium sapihan dipilih yang baik, bebas batu, kerikil dan benda-benda lain. Yang
dapat mengganggu pertumbuhan benih yang dikecambahkan maupun pertumbuhan semai
hasil sapihan. Benda-benda keras yang dimaksud antara lain : kerikil, batu-batu. Pasir untuk
medium perkecambahan diusahakan sesteril mungkin antara lain dengan cara dijemur pada
tempat kena sinar matahari penuh selama 2-3 hari atau disiram air panas atau digoreng untuk
menghindari kemungkinan adanya jamur. Dalam usaha untuk memacu pertumbuhan semai
hasil sapihan, akhir-akhir ini banyak dilakukan pemberian pupuk yaitu secara dicampur
dengan tanah yang telah dipilih untuk medium sapih. Pekerjaan ini dilakukan dengan cara
mencampur pupuk dan tanah sampai merata (diaduk) baru setelah itu diisikan kekantong
plastik yang telah disiapkan. Perbandingan pupuk kandang dengan tanah yaitu : 1:2, sedang
menggunakan pupuk TSP biasanya dengan dosis 4-5 gram setiap kantong plastik.
c). Kantong plastik
Kantong plastik digunakan untuk medium sapihan setelah diisi hampir penuh dengan tanah.
Tanah untuk medium sapih dipilih tanah yang baik halus, merata dan dicampur dengan
pupuk. Banyaknya kantong plastik yang dipergunakan tergantung beberapa banyak semai
yang akan dihasilkan dan berapa besar prosentase kerusakannya. Ukuran kantong plastik
yang dipergunakan bervariasi,tergantung dari cepat pertumbuhan semai. Semakin cepat
pertumbuhannya semakin besar ukuran kantong plastik Warna plastik ada pengaruhnya
terhadap pertumbuhan semai, warna kantong plastik hitam mempunyai pengaruh
pertumbuhan semai yang baik, bila dibanding dengan warna putih,hijau,kuning, dan merah.
Dan kantong plastik warna hitam biasanya lebih awet/tahan lama dibanding dengan yang
lain.
1. Peralatan dan tenaga kerja
4.1. Peralatan
Macam-macam peralatan yang perlu diadakan di persemaian adalah :
4.1.1. Kantor
Kantor persemaian harus memenuhi persyaratan dan harus ada pelengkapan kantor perlu
dilengkapi ruang kerja, ruang data, ruang istirahat, ruang P3K dan ruang khusus untuk
gudang. Ruang gudang harus memenuhi syarat: tidak lembab dan ventilasinya harus cukup
baik
4.1.2. Barak Kerja
Barak kerja diperlukan terutama untuk tempat pengisian tanah dan wadah/kantong plastik
medium sapih dan sebagai tempat istirahat para pekerja.
4.1.3. Rumah Jaga
Rumah jaga disediakan untuk tempat tinggal dan gudang petugas (mandor persemaian). Hal
ini sangat penting agar persemaian selalu terjaga dan dapat mengambil tindakan secara
apabila terdapat masalah-masalah di persemaian, antara lain masalah adanya gangguan
persemaian oleh hama dan penyakit tanaman yang mungkin mendadak, pengaturan, dan
sebagainya.
4.1.4. Sarana pengairan
Sarana pengairan dipersemaian antara lain berupa parit/saluran dan bak penampung air yang
cukup memadahi dengan keperluan. Disamping itu, umumnya persemaian tidak terlalu
menggantungkan air penyiraman dari hujan. Oleh karena itu perlu adanya pompa air yang
lengkap dengan peralatannya/pipa penyalur air. Untuk penyiraman persemaian dengan
kurang dari 50.000 semai biasanya dilakukan dengan tangan, yaitu menggunakan gembor.
Sedang untuk persemaian dengan produksi bibit/semai dari 50.000 semai akan lebih
menguntungkan dengan menggunakan pompa motor dengan penyiraman otomatis. Pada
persemaian modern penyiraman dilakukan dengan cara sprinkle irrgation dengan cara ini
air disemprotkan lewat spayer yang dapat diputar seperti air mancur
4.1.5. Jalan angkutan dan jalan inspeksi
Jalan angkutan perlu dibuat untuk mengangkut bahan-bahan dan peralatan yang diperlukan
dipersemaian termasuk untuk mengangkut semai-semai pada saat akan ditanam di lapangan.
Lebar jalan angkutan biasanya tidak kurang dari 2,5 meter sedang lebar jalan inspeksi antara
0,75-1,00 meter.
4.1.6. Pemagaran Persemaian
Seringkali diabaikan karena fungsi pagar dirasakan tidak terlalu penting. Tetapi bagi berbagai
kondisi persemaian adanya pagar dirasakan tidak terlalu penting. Persemaian yang
membutuhan pagar biasanya dalam kondisi :
seringkali terjadi hembusan angin yang kencang
adanya gangguan ternak
adanya gangguan babi hutan/rusa.
4.1.7. Pengadaan naungan
Naungan dibuat dengan maksud untuk menghindarkan kerusakan semai dari cahaya dan suhu
udara yang berlebihan serta kerusakan yang disebabkan oleh tempat air hujan. Tujuannya
ialah untuk mendapatkan semai dengan pertumbuhan yang baik dengan jalan memberikan
cahaya serta suhu sesuai yang dibutuhkannya. Untuk memberikan naungan pada semai; hal
yang harus diketahui terlebih dahulu adalah sifat jenis semai inti mengenai kebutuhannya
akan cahaya. Untuk perkecambahan benih dan pertumbuhannya apakah semai itu
memerlukan cahaya penuh ataukah perlu naungan. Dalam prakteknya naungan diperlukan
baik untuk jenis yang perlu naungan maupun yang tidak perlu naungan. Hanya saja untuk
jenis-jenis yang tidak perlu naungan atau memerlukan cahaya penuh, diberikan naungan yang
ringan.
4.1.8. Sarana-sarana lain
Sarana lain yang biasanya perlu disediakan antara lain adalah alat-alat kerja seperti :
1. sabit,cetok,cangkul dan peralatan pemberantas hama dan penjakit/sprayer,
2. Tenaga Kerja
3. Tata Waktu Penyelenggaraan Persemaian
Tata waktu kegiatan dipersemaian perlu direncanakan masak-masak mengingat bahwa
kegiatan pembuatan tanaman di Indonesia khususnya sangat dipengaruhi oleh keadaan iklim
setempat. Penanaman dilapangan biasanya dilakukan pada permulaan musim penghujan,
sehingga sebelum saat itu tata bibit (semai) harus sudah siap. Mengingat musim penghujan
untuk masing-masing daerah kemungkinan berbeda-beda, maka permulaan dari pembuatan
persemaian juga mengukuti keadaan setempat. Lamanya waktu penyelenggaraan setiap
periode persemaian, selain dipengaruhi oleh iklim (musim tanam) setempat, juga dipengaruhi
oleh jenisnya tanaman yang akan disemaikan, karena masing-masing banih dari suatu jenis
tanaman yang akan sampai siap tanam di lapangan membutuhkan waktu yang berbeda-beda.
Berdasarkan berbagai pustaka dan pengalaman di dalam pembuatan persemaian akhir-akhir
ini, dalam usaha memperpendek semai-semai di persemaian hingga siap ditanam adalah
dengan cara pemberian pupuk TSP. Dan pada pemeliharaannya selanjutnya selama di
bedengan sapih diberi pupuk NPK. Dan sampai dengan tiga kali, dimulai sejak sapihan
berumur 1 bulan. Dosis pupuk TSP 3-5 gram setiap kantong plastik (berukuran lebar 10 cm
dan panjang 20 cm) tanah media sapih. Sedang pupuk NPK dengan dosis 0,25 gram setiap
semai sebulan sekali. Dengan cara ini semai siap tanam biasanya dapat diperpendek
waktunya sampai 1,5-2 bulan.

PEMBIBITAN
I. PENDAHULUAN
Persemaian atau pembibitan merupakan salah satu tahapan dalam sistem silvikultur.
Sistem silvikultur apa saja yang diterapkan pasti akan melaksanakan kegiatan persemaian
atau pengadaan bibit. Dalam konteks pengelolaan hutan produksi lestari, persemaian atau
pengadaan bibit merupakan salah satu tahapan kegiatan untuk memenuhi kebutuhan bibit
bagi kegiatan penanaman, baik rehabilitasi maupun pengayaan guna mengembalikan kondisi
hutan agar mendekati kondisi sebelum dilakukannya pemanenan. Hal ini merupakan salah
satu upaya untuk menjamin keberlanjutannya fungsi produksi pada rotasi berikutnya. Selain
itu, kegiatan persemaian juga dipersiapkan untuk menghasilkan bibit yang akan digunakan
untuk merehabilitasi tempat-tempat terbuka, sehingga dapat mempercepat proses penutupan
tanah, yang pada akhirnya akan menurunkan laju erosi. Dari sisi ini, kegiatan persemaian
juga berfungsi menjamin keberlanjutan fungsi lingkungan. Dari aspek penggunaan
tenagakerja atau kesempatan berusaha, kegiatan persemaian juga merupakan salah satu
indikator yang menunjukkan upaya guna mendukung tercapainya kelestarian fungsi sosial.
Dalam sistem silvikultur Tebang Pilih Tanam Indonesia (TTPI), kegiatan
persemaian/pembibitan merupakan tindak lanjut dari hasil inventarisasi tegakan tinggal (ITT)
yang dilaksanakan dua tahun setelah pemanenan. Hasil kegiatan ITT akan memberikan
gambaran berapa luas areal yang harus di rehabiitasi dan berapa luas yang harus dilakukan
pengayaan. Dari luasan tersebut, kemudian dengan pertimbangan jarak tanam yang akan
digunakan, maka dapat dihitung kebutuhan bibit yang harus dipersiapkan.
II. PENGERTIAN
Untuk memberikan pemahaman yang sama menyangkut dalam kaitannya dengan kegiatan
persemaian/pembibitan, maka di bawah ini diberikan beberapa pengertian atau definisi
menyangkut beberapa istilah yang digunakan dalam persemaian :
1. Pengadaan bibit adalah kegiatan yang meliputi penyiapan sarana, prasarana,
pengumpulan bibit berkualitas baik berupa biji maupun anakan alam (wilding)
ataupun teknik lainnya yang diperuntukkan sebagai penyedia materi (bibit) khususnya
dalam kegiatan penanaman, pengayaan (enrichment planting), rehabilitasi hutan
maupun peruntukan lainnya.
2. Persemaian adalah suatu areal pemeliharaan bibit yang lokasinya tetap dan dibangun
dengan peralatan yang rapi dan teratur yang berkaitan dengan kegiatan penghutanan
kembali areal tanah kosong dan rusak ataupun peruntukan lainnya.
3. Bibit adalah tanaman anakan yang akan dibudidayakan.
4. Bedeng tabur adalah suatu bedengan yang berisi media tanah, guna membiakkan biji.
5. Bedeng sapih adalah bedengan tempat diletakannya polybag yang berisi bibit yang
berasal dari bedeng tabur maupun anakan yang berasal dari kebun bibit guna
mempersiapkan ukuran dan mutu bibit yang memadai untuk pengayaan, rehabilitasi
ataupun peruntukan lainnya.
6. Media semai adalah media yang berupa tanah, gambut, sekam yang dipersiapkan
sedemikian rupa sehingga memungkinkan untuk bibit, biji dapat tumbuh dengan baik.
7. Biji adalah suatu bakal benih yang berasal dari tegakan benih atau pohon induk yang
belum dikenai perlakuan khusus atau belum disortir.
8. Pembiakkan vegetatif adalah pembibitan yang menggunakan bahan tanaman stek
yang diproduksi dari kebun pangkas.
III. FUNGSI PERSEMAIAN
Persemaian atau pembibitan berfungsi untuk menyediakan bibit yang berkualitas dalam
jumlah yang memadai, sesuai dengan kebutuhan yang direncanakan, tata waktunya tepat dan
bibitnya dapat beradaptasi dengan tapak atau kondisi setampat.
IV. PERENCANAAN PERSEMAIAN
Perencanaan merupakan tahap awal dari setiap proses penyelenggaraan kegiatan. Pada
kegiatan persemaian, beberapa pertimbangan yang digunakan dalam merencanakan kegiatan
persemaian antara lain penetapan jenis persemaian, lokasi persemaian, kebutuhan bahan,
kebutuhan peralatan dan tenaga kerja serta tata waktu yang diperlukan.
1. Jenis Persemaian
Pada umumnya persemaian dikelompokkan menjadi 2, yaitu persemaian sementara dan
persemaian tetap.
a. Persemaian Sementara (Flying Nursery)
Persemaian sementara biasanya merupakan persemaian kecil, dan diletakkan di dekat dengan
lokasi yang akan ditanami. Persemaian jenis ini biasanya digunaka tidak melebihi jangka
waktu 5 tahun.
Keuntungan dari persemaian sementara antara lain :
Kondisi lingkngan mendekati keadaan yang sebenarnya.
Ongkos pengangkutan bibit murah.
Kesuburan tanah tidak terlalu menjadi masalah karena persemaian selalu berpindah
tempat setelah tanah menjadi miskin.
Tenaga kerja sedikit sehingga mudah pengurusannya.
Sedangkan kekurangan dari persemaian sementara yaitu :
Ongkos persemaian jatuhnya mahal karena tersebarnya pekerjaan dengan hasil yang
sedikit.
Keterampilan petugas sulit ditingkatkan, karena sering berganti petugas.
Seringkali gagal karena kurangnya tenaga kerja yang terlatih.
Lokasi persemaian yang terpancar menyulitkan pengawasan..
b. Persemaian Tetap
Persemaian ini biasanya berukuran besar (luas) dan lokasinya menetap di suatu tempat,
dengan tujuan untuk melayani areal penanaman yang luas. Keuntungan dari persemaian
tetap adalah :
Kesuburan tanah dapat dipelihara dengan pemupukan
Dapat dikerjakan secara mekanis bila dikehendaki 3 Pengawasan dan pemeliharaan
lebih efisien, dengan staf yang tetap dan terpilih
Perencanaan pekerjaan akan lebih teratur
Produktivitas semai/bibit tinggi, kualitas bibit lebih baik dan pertumbuhannya lebih
seragam
Adapun kekurangan dari persemaian tetap adalah :
Kondisi lingkungan tidak selalu mendekati keadaan yang sebenarnya.
Ongkos pengangkutan lebih mahal dibanding dengan jenis persemaian sementara.
Membutuhkan biaya dan investasi lebih besar dibanding persemaian sementara.
2. Lokasi Persemaian
Penentuan lokasi persemaian harus didahului dengan observasi lapangan. Untuk memilih
lokasi persemaian persemaian yang baik, beberapa persyaratan yang perlu dipertimbangkan
adalah :
a. Aspek Teknis
a.1. Letak Persemaian
Lokasi persemaian sedapat mungkin diusahakan berada di tengah areal penanaman atau
berada pada jarak yang dekat denga areal penanaman. Lokai atau areal persemaian harus
berada pada lahan yang terbuka dan
mendapat sinar matahari yang cukup/langsung, mudah dijangkau setiap saat dan terlindung
dari tiupan angin yang kencang.
a.2. Jalan Angkutan
Lokasi persemaian harus dilalui jalan angkutan atau sarana transportasi, sehingga
memudahkan dalam kegiatan pengangkutan dan pengawasan.
a.3. Luas Persemaian
Luas areal persemaian tergantung pada :
Rencana jumlah semai yang akan diproduksi/tahun
cara penanaman apakah sistem akar telanjang (bare root) atau sistem container yang
membutuhkan ruang/tempat lebih luas.
Lamanya semai/bibit dipelihara di pesemaian sampai diperoleh ukuran yang
dinginkan .
b. Aspek Fisik
b.1. Air
Keberadaan sumber air dalam jumlah yang cukup amat menentukan berhasil/tidaknya
persemaian yang akan dibangun. Pada umumnya sumber air di dalam kawasan hutan berupa
sungai, mata air, dalam tanah dan air hujan.
b. 2. Media Tumbuh
Tanah merupakan salah satu komponen tempat tumbuh tanaman. Tanaman akan
tumbuh subur bila medium tumbuhnya subur dan merana bila medium tumbuhnya tidak
subur.
Media tumbuh semai memerlukan persyarata sebagai berikut:
Porositas dan drainase baik
Bebas dari batu dan kerikil
pH 5 7
Tidak merupakan tanah liat
Banyak mengandung unsur hara (dalam hal media yang digunaka tida subur, dapat
dberi pupuk sebagi pengganti)
b.3. Topografi/ Kelerengan
Lokasi persemaian diusahakan pada areal yang relatif datar. Semakin berat
topografinya, maka akan semakin sulit pengerjaan persiapan lapangan dan juga semakin
banyak tenaga dan biaya yang dibutuhkan. Kelerengan yang dapat dipertimbangkan sebagai
areal persemaian tidak lebih dari 10 %.
c. Aspek Tenaga Kerja
Ketersediaan tenaga kerja dalam jumlah yag cukup dan kualitas yang memadai
menjadi faktor yang menentukan bagi keberhasilan kegiatan persemaian. Kebutuhan tenaga
kerja pada persemaian diusahakan dapat dipenuhi dari masyarakat sekitar atau yang berada
dekat dengan persemaian. Kebutuhan tenaga kerja untuk tiap persemaian bergantung pada
volume pekerjaan yang ada. Volume kegiatan pekerjaan di persemaian pada umumnya
berbeda pada setiap tahap kegiatan, karena itu kebutuhan tenaga kerja juga berbeda.
d. Material/Bahan
Bahan yang dibututhkan untuk kegiatan persemaian terdiri dari benih, pasir, tanah
atau bentuk-bentuk media tumuh yang lain (gambut, sekam dsb), kantong plastik (kontiner)
pupuk, fungsida dan pestisida.
d.1. Benih
Dua faktor penting yang perlu mendapat perhatian di dalam penyediaan benih adalah
kualitas dan kuantitas benih. Penyediaan benih yang berkualitas baik dan dalam jumlah yang
cukup dan tepat waktu sangat menentukan keberhasilan persemaian. Sering terjadi
kekurangan benih bukan disebabkan kurangnya jumlah/berat benih yang tersedia, tetapi
karena kualitas benihnya yang jelek. Hal ini dapat terjadi bagi suatu daerah yang tidak
memiliki stok benih jenis tertentu sehingga harus didatangkan dari luar. Untuk menyakinkan
kualitas benih sesuai dengan yag tercantum dalam label, maka perlu dilakukan pengujian.
d.2. Tanah dan Media Pasir dan tanah (jenis medium tumbuh lainnya)
Pada dasarnya tanahatau medium tumbuh yang lain untuk medium sapihan dipilih
yang baik, bebas batu, kerikil dan benda-benda lain, sehingga tidak mengganggu
pertumbuhan benih yang dikecambahkan maupun pertumbuhan semai hasil sapihan. Benda-
benda keras yang dimaksud antara lain kerikil, atau batu. Pasir untuk medium
perkecambahan diusahakan sesteril mungkin antara lain dengan cara dijemur pada tempat
kena sinar matahari penuh selama 2-3 hari atau disiram air panas atau digoreng untuk
menghindari kemungkinan adanya jamur. Dalam usaha untuk memacu pertumbuhan semai
hasil sapihan, akhir-akhir ini banyak dilakukan pemberian pupuk yaitu dengan dicampur
tanah yang telah dipilih untuk medium sapih. Pekerjaan ini dilakukan dengan cara
mencampur pupuk dan tanah sampai merata (diaduk) baru setelah itu diisikan kekantong
plastik yang telah disiapkan. Perbandingan pupuk kandang dengan tanah yaitu 1 : 2, sedang
bila menggunakan pupuk TSP biasanya digunakan dosis 4 5 gram setiap kantong plastik.
Untuk jenis-jenis tanaman tertentu seperti meranti dan pinus media sapih berupa tanah dan
pupuk juga dicampur dengan mikoriza.
3. Peralatan dan Tenaga Kerja
a. Kantor Persemaian , terdiri dari :
Ruang kerja
Ruang data
Ruang istirahat
Ruang P3K
Gudang.
b. Barak Kerja
c. Rumah Jaga
Rumah jaga disediakan untuk tempat tinggal dan gudang petugas (mandor
persemaian). Hal ini sangat penting agar persemaian selalu terjaga dan dapat mengambil
tindakan secara apabila terdapat masalah-masalah di persemaian, antara lain masalah adanya
gangguan persemaian oleh hama dan penyakit yangbersifat mendadak.
d. Sarana Pengairan
Sarana pengairan dipersemaian antara lain berupa parit/saluran dan bak penampung
air yang cukup memada. Agar tidak tergantung dari air hujan, persemaian perlu dillengkapi
dengan peralatan berupa pipa penyalur air. Untuk penyiraman persemaian dengan kurang dari
50.000 semai biasanya dilakukan dengan tangan, yaitu menggunakan gembor. Sedang untuk
persemaian dengan produksi bibit/semai dari 50.000 semai akan lebih menguntungkan
dengan menggunakan pompa motor dengan penyiraman otomatis. Pada persemaian modern
penyiraman dilakukan dengan cara sprinkle irrgation dengan cara ini air disemprotkan
lewat spayer yang dapat diputar seperti air mancur
e. Jalan Angkutan dan Jalan Inspeksi
Jalan angkutan perlu dibuat untuk mengangkut bahan-bahan dan peralatan yang
diperlukan dipersemaian termasuk untuk mengangkut semai pada saat akan ditanam di
lapangan. Lebar jalan angkutan biasanya tidak kurang dari 2,5 meter sedang lebar jalan
inspeksi antara 0,75-1,00 meter.
f. Pemagaran Persemaian
Persemaian yang membutuhan pagar biasanya dalam kondisi :
seringkali terjadi hembusan angin yang kencang
adanya gangguan ternak
adanya gangguan babi hutan/rusa.
g. Naungan
Naungan dibuat dengan maksud untuk menghindari kerusakan semai dari cahaya dan
suhu udara yang berlebihan serta kerusakan yang disebabkan oleh tempaaan air hujan.
Tujuannya ialah untuk mendapatkan semai dengan pertumbuhan yang baik dengan jalan
memberikan cahaya serta suhu sesuai yang dibutuhkannya. Untuk memberikan naungan pada
semai hal yang harus diketahui terlebih dahulu adalah sifat jenis semai inti mengenai
kebutuhannya akan cahaya. Untuk perkecambahan benih dan pertumbuhannya apakah semai
itu memerlukan cahaya penuh ataukah perlu naungan. Dalam praktiknya, naungan diperlukan
baik untuk jenis yang perlu naungan maupun yang tidak perlu naungan. Hanya saja untuk
jenis-jenis yang tidak perlu naungan atau memerlukan cahaya penuh, diberikan naungan yang
ringan, misalnya naungan yang dibuat dari bahan kasa plastik atau alang-alang/daun kelapa
sebagai atap yang diatur tidak terlalu rapat sehingga cahaya matahari masih bisa masuk ke
bedengan /bak , naungan sering dibuka, kecuali jika ada hujan deras dan matahari begitu
terik. Intensitas naungan dikurangi secara berangsur-angsur. Pada umumnya 8 10 minggu
sebelum semai dipindahkan ke lapangan, naungan sama sekali ditiadakan. Hal ini
dimaksudkan agar menjelang penanaman di lapangan semai dapat menyesuaikan diri dari
keadaan di lapangan yang biasanya terbuka
h. Sarana-sarana lain (cangkul, sabit, sprayer dll).
4. Tata Waktu Penyelenggaraan Persemaian
Tata waktu kegiatan dipersemaian perlu direncanakan masak-masak mengingat bahwa
kegiatan pembuatan tanaman di Indonesia khususnya sangat dipengaruhi oleh keadaan iklim
setempat. Penanaman di lapangan biasanya dilakukan pada permulaan musim penghujan,
sehingga sebelum saat itu tata bibit (semai) harus sudah siap. Mengingat musim penghujan
untuk masing-masing daerah kemungkinan berbeda-beda, maka permulaan dari pembuatan
persemaian juga mengukuti keadaan setempat. Lamanya waktu penyelenggaraan setiap
periode persemaian, selain dipengaruhi oleh iklim (musim tanam) setempat, juga dipengaruhi
oleh jenis tanaman yang akan disemaikan, karena masing-masing jenis tanaman sampai siap
tanam membutuhkan waktu yang berbeda-beda.
V. TEKNIK PERSEMAIAN
Teknik pengadaan bibit yang dapat dilakukan antara lain :
1. Biji
Biji sebaiknya dikumpulkan dari pohon induk yang berbatang lurus, percabangan
tinggi, bertajuk lebat, sehat dan sudah cukup umur. Kalau benih dibeli dari produsen
benih yang mempunyai sertifikat yang jelas.
Biji yang telah terkumpul/dibeli segera diangkut ke persemaian dan diseleksi untuk
memilih biji yang baik.
Benih yang bermutu baik mempunyai daya kecambah tinggi 80% dengan kemurnian
tinggi yang diwujudkan dalam bentuk biji tidak berlubang, tengelam bila dimasukkan
air, besar dan bijinya seragam.
Untuk memperoleh benih yang unggul lewat program pemuliaan, secara umum dapat
diklasifikasikan menjadi 2, yaitu:
a. Keperluan benih jangka pendek:
Benih-benih yang diperoleh melalui pemilihan dan penunjukan pohon plus, tegakan-tegakan
yang baik, tegakan benih dan sumber provenans.
b. Keperluan benih jangka panjang:
Usaha-usaha memperoleh benih yang benar-benar unggul, lewat serangkaian kegiatan
pemuliaan pohon hingga pembuatan kebun-kebun benih.
2. Puteran
Pengadaan bibit dengan sistem puteran dilaksanakan jika ada keperluan bibit tertentu
untuk kegiatan penanaman khusus atau pencapaian target bibit.
Sasaran pengadaan bibit adalah penyiapan bahan tanaman bagi kegiatan penanaman,
pengayaan dan rehabilitasi.
Jenis bibit yang disemaikan adalah dari jenis pohon yang ditebang atau jenis-jenis
yang memiliki keunggulan komersil.
Bahan bibit puteran dapat berasal dari biji, cabutan, atau stek.
Bibit yang sudah diputer dibawa ke persemaian untuk dilakukan penyesuaian
lingkungan.
Setelah bibit dirawat di persemaian dan sudah siap tanam, maka bibit puteran tersebut
dapat dibawa kelokasi penanaman.
3. Cabutan
Pengumpulan dilakukan terhadap anakan alam disekitar pohon induk dengan radius
maksimum 10 meter dari proyeksi tajuk pohon induk.
Anakan alam biasanya memiliki tinggi 1530 cm dengan jumlah daun 25 lembar.
Sebaiknya dilakukan pada saat musim penghujan atau tanah masih basah/lembab.
Anakan dicabut dengan hatihati yang dilakukan dengan pencabutan lurus sejajar
batangnya dan diusahakan agar akarnya tidak putus.
Anakan alam yang telah dipungut hendaknya segera diangkut ke lokasi bedeng sapih.
Anakan yang telah dipungut, diatur, disusun searah dimana akar dengan akar dan
daun dengan daun.
4. Stek
Pembuatan bedeng kebun pangkas
1. Ukuran bedeng (1.52 meter)x6 meter dengan arah utaraselatan dan jarak antar
bedeng 0.6 meter dan disekeliling bedeng agar diberi penahan yang terbuat dari papan
dengan tinggi dari permukaan tanah 15 cm.
2. Setiap bedeng agar diberi atap sebagai pelindung bibit dari matahari dan air hujan
secara langsung. Terbuat dari bahan yang tahan lama seperti sarlon, diisi campuran
media setinggi 20 cm.
3. Media yang digunakan untuk kebun pangkas adalah campuran top soil, sekam ,
gambut dengan perbandingan 6 : 3 : 1.
4. Perbandingan antara luas lahan untuk keperluan jalan inspeksi dengan luas bedengan
adalah 1 : 3
5. Bahan tanaman kebun pangkas sebaiknya bibit bibit vegetatif atau bibit dari biji
yang berasal dari pohon induk yang fenotipnya bagus.
Pembuatan stek
1. Bahan stek diambil dari anakan yang berasal dari kebun pangkas harus bersifat
juvenille atau muda dan tunas autotrop bukan cabang. Untuk tahap pertama tiap bibit
dapat menghasilkan 14 stek .
2. Untuk meningkatkan mutu bibit stek yang dihasilkan dari kebun pangkas dianjurkan
lagi untuk digunakan sebagai bahan pembuatan kebun pangkas. Dipilih bibit yang
pertumbuhannya seragam baik fungsi maupun jumlah daunnya.
3. Ukuran bak stek dengan media padat dan media air (water rooting system) adalah 1 x
2 meter dengan tinggi 0.6 m . Dalam rangka menstabilkan suhu media konstruksi bak
stek agar dibuat dengan dinding beton selebar 10 Cm
4. Naungan perlu diberikan supaya intensitas cahaya yang masuk kedalam stek tidak
terlalu tinggi (optimum 50%). Untuk penaungan ini dapat digunakan plastik
transparan berwarna putih.
5. Jarak tanam bak stek 5 x 5 Cm.
Bahan vegetatif tanaman (tunas pucuk) untuk pembuatan stek pucuk dapat diperoleh
dari beberapa sumber :
1. Kebun Pangkas
2. Persemaian (pemangkasan bergulir)
3. Semai alami
5. Kultur Jaringan
Memilih dan menyiapkan tanaman induk sebagai sumber eksplan.
Menyiapkan media kultur
Sterilisasi eksplan.
Inisiasi kultur atau culture establishment.
Multiplikasi atau perbanyakan propagasi (bahan tanaman yang diperbanyak seperti
tunas atau embrio).
Pemanjangan tunas induksi dan perkembangan akar.
Aklimatisasi ke lingkungan eksternal (green house).
VI. PELAKSANAAN KEGIATAN PERSEMAIAN
1. Persiapan Pembuatan Persemaian
a. Persiapan Kegiatan

o Pembersihan lapangan dari rumput, gulma dan semak belukar yang
mengganggu.
o Pengumpulan top soil guna pengisian bedeng tabur, bedeng semai dan polibag.
o Pemagaran calon lokasi persemaian, gudang, gubuk kerja, dan sebagainya.
o Pembuatan papan/plang nama persemaian, bedeng tabur, bedeng sapih.
o pemasangan jaringan pengairan seperti : penentuan sumber air, penyiapan
pompa air dan saluran salurannya.
o
b. Pembuatan bedengan
Untuk beberapa jenis biji halus/sangat kecil harus ditabur dalam bak bak penaburan
dengan ukuran 0,5 m x 0,5 m atau sesuai dengan kebutuhan dan ditempatkan di atas rak
berukuran 5 m x 1 m atau sesuai dengan kebutuhan.
Untuk biji/benih yang berukurean besar yang memerlukan bedeng tabur maka bedeng
tabur dibuat :
Penyiapan tanah untuk bedeng tabur ukuran 5 x 1 meter atau sesuai dengan kebutuhan
dengan arah yang seragam.
Tanah dicangkul dan digemburkan sampai menjadi halus, ringan semua akar, batu
dibuang.
Pada tepi bedengan diperkuat dengan batu, kayu, bambu dengan permukaan bedeng
ditinggikan 10 s/d 15 cm dari permukaan tanah dan sekitarnya.
Jarak antara bedeng bedeng diberi jalur antara selebar 0,5 m dan setiap 5 10 bedeng
dibuat jalur inspeksi selebar 2 meter.
Saluran air dibuat sepanjang kanan kiri jalan inspeksi.
Bagi benih yang membutuhkan naungan bedeng tabur perlu diberi atap yang dibuat
miring.
Apabila tanah kurang gembur bisa dicampur dengan pasir dengan perbandingan pasir
dengan tanah = 1:3.
Sebelum biji ditabur sebaiknya lima hari sebelumnya diadakan sterilisasi media yakni
dengan mencampur tiap 1 m2 tanah dengan 4 liter campuran formalin dan air
(perbandingan campuran satu liter formalin dicampur 14 liter air) kemudian ditutup
dan didiamkan selam 3 hari. Setelah lima hari baru benih dicampur.
c. Pembuatan bedeng sapih
Menyiapkan tanah untuk bedeng sapih dengan ukuran 5 x 1 meter dan arah bedeng
sapih seragam.
Bedeng sapih dibersihkan dari tanaman dan akarakaran serta diratakan sehingga
datar.
Pada tepi bedeng sapih ditandai dengan kayu setinggi 20 cm.
Mengisi polibag dengan tebal 0.4 m meter ukuran 7 cm atau 10 cm tinggi kantong.
Pada pengisian kantong untuk mempercepat pertumbuhan tanaman sapihan dapat
ditambahkan pupuk phospat dengan ukuran 1 gram tiap polibag.
Pada bagian pinggir disekitar dasar kantong plastik tersebut masingmasing diberi
lubang antara 1218 lubang.
Untuk jenis yang tidak memerlukan penyapihan maka bibitnya langsung dicabut dari
bedeng tabur ke lokasi penanaman.
Untuk mempermudah dalam transportasi bibit dianjurkan untuk memakai kontainer
dimaksudkan untuk menghindari kerusakan bibit waktu pengangkutan, sebab
kontainer tersebut dapat lansung diangkat tanpa mengubah potpot bibit . Selain itu
juga berguna memudahkan penyiangan rumput.
Setiap bedeng sapih diberi papan/plang keterangan yang memuat nama, jenis, tanggal
penyapihan dan nomor bedengan.
2. Pengadaan dan Persiapan Media
Kriteria umum media untuk produksi bibit
1. Aerasi baik
2. Dapat menjaga kelembaban
3. Dapat menahan berdirinya bibit
4. Dapat mendukung perkembangan akar
Hal yang perlu diperhatikan dalam pengadaan dan persiapan media :
a. Media Tabur
1. Media yang umum digunakan adalah gambut dan sekam padi yang sebelumnya sudah
disterilisasi.
2. Media diletakkan pada bak tabur dengan ketebalan 3-4 cm.
3. Benih yang sudah mendapat perlakuan ditabur diatas media,kemudian benih ditabur
lagi dengan media.
b. Media Perakaran Stek
1. Media yang bisa digunakan untuk perakaran arang sekam atau vermiculite
2. Media diletakkan pada bak perakaran dengan ketebalan 6-10 cm.
3. Bahan stek diletak dengan baik pada media perakaran.
c. Media Kultur Jaringan
1. Pembuatan media kultur disesuaikan dengan tanaman yang akan diperbanyak.
2. Komponen media kultur antara lain : air, hara makro dan mikro, gula, vitamin, asam
amino,zat pengatur tumbuh, agar-agar, dan lain-lain.
d. Media Sapih
1. Media yang umum digunakan untuk penyapihan bibit adalah gambut, sekam padi dan
topsoil.
2. Gambut, sekam padi dan topsoil dicampur dengan menggunakan molen.
3. Pada saat pencampuran media tersebut ditambahkan fertilizer berupa Kapur dan TSP.
4. Media yang sudah siap dimasukkan kedalam polybag. Masing-masing jenis berbeda
ukuran polybag,contoh:
6,5 x 15 cm untuk Sengon, Akasia dan Nyawai
7,5 x 15 cm untuk Meranti, Kapur, Jati dan Mahoni
10 x 15 cm untuk Aren, Pisang (tananam kehidupan)
5. Polybag yang telah terisi media disusun dalam kantong plastik dan siap untuk
penayapihan.
3. Pemeliharaan Bibit
Adapun tahapan-tahapan pemeliharaan bibit :
1. Penyapihan
Teknik pelaksanaan penyapihan pada prinsipnya sama pada semua teknik/metode pengadaan
bibit, yang berbeda adalah perlakuan setelah penyapihan dilakukan.
- Biji
Penyapihan dilakukan dibawah naungan dengan hati-hati karena pada proses ini
sangat rentan terhadap perubahan lingkungan.
Akar atau tunas yang tumbuh ditanam pada polybag, yang sebelumnya telah disiapkan
lubang tanam.
Setelah disapih tanaman disiram dengan butiran air yang halus.
- Puteran
Telah dijelaskan sebelumnya
- Cabutan
Telah dijelaskan sebelumnya
- Stek Pucuk
Penyapihan dilakukan dibawah naungan atau didalam green House. Sekarang telah
berkembang teknologi KOFFCO, teknologi ini mengkondisikan iklim dalam green
house terjaga terutama kelembaban dan temperature serta cahaya sehingga prosentase
jadi tanaman bias tinggi.
Penyapihan dilakukan setelah panjang akar minimal 2,5 cm.
Buat lubang tanam sesuai panjang akar.
Setelah disapih tanam disiram dan tempatkan dalam sungkup.
- Kultur Jaringan
Penyapihan yang dilakukan sama dengan penyapihan stek pucuk, yang berbeda hanya
perlu dibersihkannya media agar-agar yang digunakan sebelumnya sebagai media
perakaran.
2. Penyulaman
Kegiatan ini dilakukan dengan mengganti semai yang rusak/terserang penyakit/mati agar
diperoleh tanaman yang seragam. Penggantian ini dilakukan 2-4 minggu setelah penyapihan.
3. Penyiraman
Penyiraman dilakukan setiap hari, penyiraman harus hati-hati terutama tanaman yang masih
kecil. Penyiraman dilakukan agar tanaman benar-benar memperoleh air yang cukup.
Penyiraman yang baik parameternya adalah media tanaman harus basah tidak hanya
tanamannya saja yang basah.
4. Pemupukan
Pemupukan dilakukan dengan menambahkan unsur hara atau bahan lainnya agar
pertumbuhan tanaman bisa dipacu. Pemupukan dilakukan setiap 2-4 minggu, pemupukan
juga disesuaikan dengan kondisi tanaman, jika pertumbuhannya dianggap sudah baik maka
frekuensi pemupukan dapat dikurangi, begitu pula sebaliknya. Pupuk dilarutkan dalam air
kemudian disemprotkan kearah media tanaman, beberapa menit kemudian tanaman disiram
dengan air untuk membersihkan daun tanaman yang terkena pupuk.
5. Penyiangan
Penyiangan dilakukan dengan cara membersihkan tanaman pengganggu (rumput atau gulma
lainnya) sehingga tanaman dapat tumbuh optimal.
6. Pemberantasan Hama dan Penyakit
Pengendalian serangan hama dan penyakit dilakukan dengan cara pengaturan kondisi
lingkungan atau penggunaan pestisida. Jenis pestisida dibedakan atas penyebab hama dan
penyakit yang menjadi sasaran, yaitu: fungisida (jamur), insektisida (serangga), herbisida
(gulma).
7. Hardening off
Tanaman yang telah berumur 4-8 minggu dikeluarkan dari naungan agar dapat beradaptasi
dengan lingkungan.
8. Seleksi
Kegiatan ini adalah mengelompokkan tanaman yang seragam dalam satu kantong plastik.
Tanaman yang memiliki ukuran dan kualitas yang baik siap untuk di kirim ke lapangan.
Sedangkan tanaman yang belum memenuhi standar bibit siap tanaman akan mendapat
perlakuan tambahan seperti pemupukan sampai bibit tersebut siap untuk ditanam.
9. Mutasi
Batas akhir tanggungjawab pihak persemaian adalah saat pengangkutan bibit dari lokasi
persemaian ke lokasi penanaman. Pengangkutan bibit ke lokasi penanaman harus hati-hati
agar resiko kerusakan tanaman dapat dikurangi. Setiap kali pengangkutan harus disertai
dengan trip ticket.
10. Pelaporan
Laporan Harian
Petugas nursery membuat laporan harian yang terdiri dari :
- Penggunaan material dan bahan produksi.
- Produksi, mutasi, kematian dan pengiriman bibit.
- Penggunaan HOK tenaga kerja harian
Laporan Mingguan
Petugas Nursery membuat laporan mingguan berdasarkan laporan harian dan dilaporkan
kepada Pengawas dan Kasi Nursery.
Laporan Bulanan
Pengawas dan Kasie Nursery membuat laporan bulanan kepada Manager Nursery
berdasarkan laporan mingguan.
Standar pembibitan
a.Pengertian Bibit dan Pembibitan
Anda tentu memahami bahwa untuk kegiatan penanaman diperlukan bibit yang
bermutu. Apa itu bibit yang bermutu ? Untuk menjawab pertanyaan ini Anda perlu
memahami bahwa mutu bibit terdiri dari 2 (dua) aspek, yaitu mutu genetik dan mutu fisik-
fisiologis. Mutu genetik sangat ditentukan oleh asal-usul benih yang dipergunakan untuk
pembuatan bibit tersebut. Oleh sebab itu untuk mendapatkan bibit yang bermutu dari aspek
genetik, di dalam kegiatan pembibitan diperlukan benih yang unggul yaitu benih yang
memenuhi kriteria dan standar mutu benih sesuai dengan peraturan perundangan yang
berlaku. Mutu bibit dari aspek fisik-fisiologis yang meliputi : tinggi, diameter, kekompakan
akar, jumlah daun dan umur bibit sangat dipengaruhi oleh kegiatan pembibitan. Oleh sebab
itu kegiatan pembibitan perlu ditangani dengan baik dan benar untuk mendapatkan bibit yang
bermutu dari aspek fisik-fisiologis. Jadi bibit bermutu adalah bibit yang berasal dari benih
yang unggul dan memenuhi standar mutu fisik-fisiologis. Bibit yang bermutu akan dihasilkan
dari benih unggul dan proses pembibitannya ditangani dengan tepat dan benar.
Lantas apa bedanya bibit dan pembibitan ? Dalam Peraturan Menteri Kehutaan Nomor :
P.1/MENHUT-II/2009 tentang Penyelenggaraan Perbenihan Tanaman Hutan dijelaskan
bahwa yang disebut bibit adalah tumbuhan muda hasil pengembangbiakan secara generatif
atau secara vegetatif. Pengembangbiakan secara generatif adalah pengembangbiakan dengan
menggunakan biji, sedangkan pengembangbiakan secara vegetatif adalah pengembangbiakan
dengan menggunakan bagian-bagian vegetatif dari tanaman. Bagian vegetatif dari tanaman
dapat berupa akar, batang dan daun. Agar Anda lebih memahami pengertian bibit, Anda perlu
mengingat kembali pengertian benih generatif dan benih vegetatif yang telah diuraikan pada
modul-modul yang terkait dengan standar kompetensi melakukan kegiatan produksi benih.
Setelah Anda memahami pengertian bibit, berikutnya Anda akan mempelajari pengertian
pembibitan. Dapatkah Anda menjelaskan apa yang dimasud pembibitan ?. Pembibitan adalah
suatu kegiatan untuk menghasilkan atau memproduksi bibit. Kegiatan yang dilakukan dalam
pembibitan terdiri dari perencanaan pembibitan, pembangunan persemaian, penyiapan media
bibit, perlakuan pendahuluan terhadap benih sebelum disemaikan, penyemaian benih,
penyapihan bibit, pemeliharaan bibit, pengepakan dan pengangkutan bibit serta administrasi
pembibitan. Untuk memudahkan Anda dalam memahami kegiatan-kegiatan dalam
pembibitan, coba Anda datang ke lokasi persemaian yang dekat dengan tempat Anda,
kemudian perhatikan kegiatan-kegiatan apa yang ada di persemaian tersebut.

b.Tujuan Pembibitan
Setelah Anda mempelajari pengertan bibit dan pembibitan, apakah Anda dapat
menjelaskan apa tujuan kegiatan pembibitan ? Kegiatan pembibitan bertujuan untuk
mengadakan atau memproduksi bibit unggul dalam jumlah yang cukup dan tepat waktu.
Anda tentu memahami, bahwa untuk membangun tegakan hutan yang bermutu diperlukan
bibit yang bermutu. Masih ingatkah Anda, apa yang harus dilakukan untuk mendapatkan bibit
yang bermutu ? Bibit yang bermutu akan dihasilkan apabila benih yang digunakan untuk
membuat bibit berasal dari benih unggul, serta penanganan bibit di persemaian dilakukan
dengan tepat dan benar. Untuk mendapatkan bibit dalam jumlah yang cukup, dalam
pembibitan dikenal ada kegiatan perencanaan pembibitan. Dalam kegiatan perencanaan
pembibitan, akan dihitung berapa jumlah bibit yang diperlukan untuk menanami areal dengan
luasan tertentu. Dengan perencanaan pembibitan yang matang, diharapan tidak akan terjadi
kekurangan bibit pada saat kegiatan penanaman. Bibit bermutu yang akan digunakan dalam
kegiatan penanaman selain jumlahnya cukup, juga harus tersedia tepat waktu. Perlu Anda
ketahui, bahwa penanaman tanaman hutan pada umumnya tergantung pada musim hujan.
Oleh sebab itu agar bibit tersedia tepat waktu, dalam kegiatan perencanaan pembibitan akan
dipelajari penyusunan tata waktu pembuatan bibit. Dalam bahasan penyusunan tata waktu
pembuatan bibit akan diuraikan hal-hal yang perlu diperhatian dalam penyusunan tata waktu
pembuatan bibit, sehingga dapat tersedia bibit bermutu tepat pada waktunya