Anda di halaman 1dari 291

ABIDAH EL KHALIEQY lahir di Jombang, Jawa Timur.

Setamat Madrasah Ibtidaiyah, melanjutkan


sekolah di Pesantren Putri Modern PERSIS, Bangil, Pasuruan. Di Pesantren ini ia menulis puisi dan
cerpen dengan nama Idasmara Prameswari, Ida Arek Ronopati, atau Ida Bani Kadir. Memperoleh
ijazah persamaan dari Madrasah Aliyah Muhammadiyah Klaten, dan menjadi juara penulis puisi
Remaja Se-Jawa Tengah (1984). Alumni Fakultas Syariah IAIN Sunan Kalijaga ini menulis tesis
Komuditas Nilai Fisik Perempuan dalam Persfektif Hukum Islam (1989). Pernah aktif dalam Forum
Pengadilan Puisi Yogyakarta (1987-1988), Kelompok Diskusi Perempuan Internasional (KDPI)
Yogyakarta, 1988-1989. Menjadi peserta dalam pertemuan APWLD (Asia Pasific Forum on Women,
Law And Development, 1988).
Karya-karya penyair dan novelis yang bertinggal di kota budaya ini, telah dipublikasikan di berbagai
media masa lokal maupun nasional, diantaranya The Jakarta Post, Jurnal Ulumul Quran, Majalah
Horizon, Republika, Media Indonesia, Suara Merdeka, Kedaulatan Rakyat, Jawa Post, dan lain-lain.
Serta dimaktubkan dalam berbagai buku antologi sastra, seperti: Kitab Sastra Indonesia, Angkatan
Sastra 2000, Wanita Pengarang Indonesia, ASEANO: An Antologi of Poems Shoustheast Asia, Album
Cyber Indonesia (Australia), Selendang Pelangi (antologi perempuan penyair Indonesia), Para
Pembisik, Dokumen Jibril, Nyanyian Cinta dan lain-lain, juga dalam beberapa antologi sastra Festival
Kesenian Yogyakarta; Sembilu Pagelaran, Embun Tajjali dan Ambang. Membacakan karya-karyanya
di Taman Ismail Marzuki (1994 dan 2000). Mewakili Indonesia dalam ASEAN Writers
Conferenc/Workshop Poetry di Manila, Philipina (1995). Menjadi pendamping dalam Bengkel Kerja
Penulisan Kreatif MASTERA (Majlis Sastra Asia Tenggara, 1997). Membacakan puisi-puisinya di
sekretariat ASEAN (1998), Konferensi Perempuan Islam Se Asia-Fasifik dan Timur Tengah (1999).
Mendapat Penghargaan Seni dari Pemerintah DIY (1998). Mengikuti Program SBSB (Sastrawan
Bicara Siswa Bertanya) di berbagai SMU di kota besar Indonesia (2000-2005). Menjadi pemenang
dalam Lomba Penulisan Novel Dewan Kesenian Jakarta (2003). Dinobatkan sebagai salah satu tokoh
muda Anak Zaman Menerobos Batas versi Majalah Syirah (2004). Menjadi pemakalah dalam
Pertemuan Sastrawan Melayu-Nusantara (2005). Dialog tentang Sastra, Agama dan Perempuan,
bersama Camillia Gibs, di Kedutaan Kanada (2007). Membacakan karyanya dalam Internasional
Literary Biennale (2007). Bukunya yang sudah terbit; Ibuku Laut Berkobar (1987), Menari di Atas
Gunting (2001), Atas Singgasana (2002) Genijora (2004), Mahabbah Rindu (2007), dan Nirzona
(2008). Serta antologi cerpen dalam bentuk draft; Jalan Ke Sorga (2007) dan The Heavens Gulf
(2008).

KERAJAAN SUNYI

Syair malamku
ke Sinai aku menuju
Tak terbayang kerinduan melaut
tak terpermai kesunyian memagut

Seperti bumi padang sahara
haus dan lapar mengecap di bibir
merengkuh mimpi saat madu terkepung lebah
kekosongan dalam tetirah
Padang padang membentang
melahap tubuhku tanpa tulang
dan kesana alamat kucari

Kerajaan Sunyi

2000

AKU HADIR

Aku perempuan yang menyeberangi zaman
membara tanganku menggenggam pusaka
suara diam
menyaksikan pertempuran memperanakkan tahta
raja raja memecahkan wajah
silsilah kekuasaan

Aku perempuan yang merakit titian
menabur lahar berapi di bukit sunyi
membentangkan impian di ladang ladang mati
musik gelisah dari kerak bumi

Aku perempuan yang hadir dan mengalir
membawa kemudi
panji matahari

Aku perempuan yang kembali
dan berkemas pergi

1991

PEREMPUAN YANG IBU

Perempuan yang ibu tak kan lahir
dari rahim bumi belepotan lumpur dan nanah
nurani berselubung cadar kegelapan
dan pekat bersama harapan
terkapar

Perempuan yang ibu lahir
dari buaian cakrawala
dari ukiran udara warna daun semesta
yang menyapa alam dengan bahasa mawar
atau kebeningan telaga
Tak ada matahari
luput dari jendela

1990

IBUKU LAUT BERKOBAR

Ibuku laut berkobar
gemuruhnya memanggil manggil namaku
di bukir purnama pepujian
berjalinan rindu memadat
menyala gelegak kasmaran
yang terus meruah
berkibar lembar gairah
mengiring bulanku singgsana
fitrahku kembali menghirup udara
dari persekutuan
embun baqa

Setetes cindramatamu
mengungguli istana seribu dewa
kuimani sudah

1989

SEKALI MATAHARIKU
DI TITIK ZENIT

Sekali matahariku di titik zenith
kabut memburai di pelupuk mata
tiupkan sang kala mengatom dunia
di atas inti materi
dan dzat ruh
kulangkahi serbuan yang lenyap
serentak melesat dalam gemuruh
tuntas dzikir
kembali kosong

Nol berhamburan
tetirah dari Kekasih

1988

HAWA (1)

Disepimu aku datang
Sebagai ratu
Memberi puisi pada jiwa tawarmu
Kau ingin anggur atau badam
Tinggal bagaimana caramu bertanam

Sebagai ratu
Aku adalah Tribhuana Tunggadewi
Atau Shima di kalingga
Yang memegang tongkat kuasa
Atau wilayah negeriku

Tiap Hawa adalah ratu
Yang paham mahkota baru
Dan menyimpan asesori lama
Sebagai benda klasik di rak pajangan belaka

KIDUNG SIMALAKAMA

Aku berdiri di bawah khuldi
saat senja menyamar
seperti iblis tanpa diundang
berbilah racun bersarung pedang
menusuk lambungku
di langit terang

Aku berdiri menangkar sunyi bumi
sendiri
menerbangi titik niskala
menyusupkan jiwa
ke puncak tahta
cahaya Cinta

Tak ada waktu membayang
merekah dan mengaku kalah
jengkal tanah selalu begitu
menghisap semua bunga
sekaligus putiknya

Hawa menembang lagu merdu
serupa kidung simalakama

2003

INTA WAHDAH
(Dikau Saja)

Hausku bukan Iqlima memeluk Qabil
bukan pula Cleopatra
Aphrodite atau Zulaikha

Cukup sudah cinta!
Tak usai Hawa ngembara
menyelami airmata
pohon apa bakal tumbuh
jika Layla abadi koma
di barak kumuh dan luka

Wahai Majnun di puncak resah!

Sudah kuhafal kata kata bijak
huruf batu dari kaum botak
namun kosa kata cinta
baru ketemu kamusnya
saat matamu purnama
dan subuh menderu
memanggil ruh di tubuh

Dikaulah cuma, kidung dadali kuping tuliku
juga ombak yang timbul tenggelam
bagai iman samudra jiwaku

Dan malam menggelombang
karna bintang berjumpaan
di pangkuan kasih dan cinta
mendesirkan sukma
semilir jiwaku
bukan perempuan bukan lelaki
bukan budak atau tuan
jika ingin menakarku
kecuali mummi sedang menimbang
diri sendiri

Burung burung terbang tinggi
menguntai tasbih
langit abadi
rindu rumah di syurga Rabiah
asing dan sunyi

2005

PUISI-PUISI ABRAR YUSRA
Selasa, 11/02/2014 - 13:58 Sastra Seratus ...
Lain-lain |
Koleksi |
Puisi |
Abrar Yusra
1970-AN
Lapar aku, aku lapar. Kumakan buah segala buah
Segala padi segala ubi
Kumakan sayur segala sayur. Segala daun segala rumput
Kumakan ikan., Ketam. Udang. Kerang
Kumakan kuda
Ayam. Sapi. Kambing. Babi. Tikus. Bekicot
Aku lapar. Lapar lagi !
Kumakan angin
Kumakan mimpi
Kumakan pil
Kumakan kuman
Kumakan tanah
Kumakan laut
Kumakan mesiu
Kumakan bom
Kumakan bulan
Dan bintang dan matahari !
kumakan mimpimu
Rencanamu
Tangamnu. Kakimu
Kepalamu
Astaga. Kumakan tanganku
Dan kakiku. Dan kepalaku
Dan hah, kumakan kamu!


HANYA SECERCAH CIUMAN
Pandanglah kota dan matahari, simpang dan tiang-tiang ini
Di mana pernah melintas bayanganmu
Pernah sekejap kita di sini
Mengiringkan waktu
Tiada sesuatu yang pasti. Berbahagialah menyusur jalan
Resah dari tempat demi tempat
Dan aku hanya bisa memberimu secercah ciuman
Yang hanya kita bisa nikmat
Semoga sesudah kota dan matahari, simpang dan tiang-tiang ini
Engkau pun bisa bertetap hati
pada segala yang akan datang
Selamat jalan, anak sayang !

SENANDUNG TAK BERNAMA
Apatah Dunia bagiku?
Mungkin sebuah rumah untuk sebentar waktu.
Atau mungkin suatu daerah pengembaraan asing
Tak ada rumahku, rumah kita.
Kita baru bakal masuk ke sana
Dan kebahagianku tiada lain selain mencintai rumah ini, mencintai kau penghuninya.
Moga-moga aku betah terus di sini, sesampai waktu
Sedangkan penderitaanku adalah kecemasan seorang anak tersesat.
Atau kecemasan pengembara yang menyandang kutuk
Berjalan dalam kabut
entah ke Kampung Halaman, entah ke Tempat Buangan

PUISI-PUISI KH. MUSTOFA BISRI (GUS
MUS)
Rabu, 12/02/2014 - 23:55 Sastra Seratus ...
Lain-lain |
Koleksi |
Puisi |
KH. Mustofa Bisri |
Gus Mus
SURABAYA
Jangan anggap mereka kalap
jika mereka terjang senjata sekutu lengkap
jangan dikira mereka nekat
karena mereka cuma berbekal semangat
melawan seteru yang hebat
Jangan sepelekan senjata di tangan mereka
atau lengan yang mirip kerangka
Tengoklah baja di dada mereka
Jangan remehkan sesobek kain di kepala
tengoklah merah putih yang berkibar
di hati mereka
dan dengar pekik mereka
Allahu Akbar !

Dengarlah pekik mereka
Allahu Akbar !
Gaungnya menggelegar
mengoyak langit
Surabaya yang murka
Allahu Akbar
menggetarkan setiap yang mendengar
Semua pun jadi kecil
Semua pun tinggal seupil
Semua menggigil.
Surabaya,
O, kota keberanian
O, kota kebanggaan
Mana sorak-sorai takbirmu
yang membakar nyali kezaliman ?
mana pekik merdekamu
Yang menggeletarkan ketidakadilan ?
mana arek-arekmu yang siap
menjadi tumbal kemerdekaan
dan harga diri
menjaga ibu pertiwi
dan anak-anak negeri.
Ataukah kini semuanya ikut terbuai
lagu-lagu satu nada
demi menjaga
keselamatan dan kepuasan
diri sendiri
Allahu Akbar !
Dulu Arek-arek Surabaya
tak ingin menyetrika Amerika
melinggis Inggris
Menggada Belanda
murka pada Gurka
mereka hanya tak suka
kezaliman yang angkuh merejalela
mengotori persada
mereka harus melawan
meski nyawa yang menjadi taruhan
karena mereka memang pahlawan
Surabaya
Dimanakah kau sembunyikan
Pahlawanku ?

PUTRA-PUTRA IBU PERTIWI
Bagai wanita yang tak ber-ka-be saja
Ibu pertiwi terus melahirkan putra-putranya
Pahlawan-pahlawan bangsa
Dan patriot-patriot negara
(Bunga-bunga
kalian mengenalnya
Atau hanya mencium semerbaknya)
Ada yang gugur gagah dalam gigih perlawanan
Merebut dan mempertahankan kemerdekaan
(Beberapa kuntum
dipetik bidadari sambil senyum
Membawanya ke sorga tinggalkan harum)
Ada yang mujur menyaksikan hasil perjuangan
Tapi malang tak tahan godaan jadi bajingan
(Beberapa kelopak bunga
di tenung angin kala
Berubah jadi duri-duri mala)
bagai wanita yang tak ber-ka-be saja
Ibu pertiwi terus melahirkan putra-putranya
Pahlawan-pahlawan dan bajingan-bajingan bangsa
(di tamansari
bunga-bunga dan duri-duri
Sama-sama diasuh mentari)
Anehnya yang mati tak takut mati justru abadi
Yang hidup senang hidup kehilangan jiwa
(mentari tertawa sedih memandang pedih
Duri-duri yang membuat bunga-bunga tersisih)

S O A L
Rakyat - (Penguasa + Pengusaha) : (Umara + Ulama) +
(Legislatif - Eksekutif) + (Cendekiawan x Kiai) = ?
(Mustofa Bisri 1993)

NEGERIKU
mana ada negeri sesubur negeriku?
sawahnya tak hanya menumbuhkan padi, tebu, dan jagung
tapi juga pabrik, tempat rekreasi, dan gedung
perabot-perabot orang kaya didunia
dan burung-burung indah piaraan mereka
berasal dari hutanku
ikan-ikan pilihan yang mereka santap
bermula dari lautku
emas dan perak perhiasan mereka
digali dari tambangku
air bersih yang mereka minum
bersumber dari keringatku
mana ada negeri sekaya negeriku?
majikan-majikan bangsaku
memiliki buruh-buruh mancanegara
brankas-brankas ternama di mana-mana
menyimpan harta-hartaku
negeriku menumbuhkan konglomerat
dan mengikis habis kaum melarat
rata-rata pemimpin negeriku
dan handai taulannya
terkaya di dunia
mana ada negeri semakmur negeriku
penganggur-penganggur diberi perumahan
gaji dan pensiun setiap bulan
rakyat-rakyat kecil menyumbang
negara tanpa imbalan
rampok-rampok dibri rekomendasi
dengan kop sakti instansi
maling-maling diberi konsesi
tikus dan kucing
dengan asyik berkolusi
(Mustofa Bisri 1414)

DI TAMAN PAHLAWAN
Di taman pahlawan beberapa pahlawan sedang berbincang-
bincang tentang keberanian dan perjuangan.
Mereka bertanya-tanya apakah ada yang mewariskan semangat
perjuangan dan pembelaan kepada yang
ditinggalkan
Ataukah patriotisme dan keberanian di zaman pembangunan ini
sudah tinggal menjadi dongeng dan slogan ?
banyak sekali tokoh di situ yang diam-diam ikut mendengarkan
dengan perasan malu dan sungkan
Tokoh-tokoh ini menyesali pihak-pihak yang membawa mereka
kemari karena menyangka mereka juga pejuang-
pejuang pemberani. Lalu menyesali diri mereka sendiri yang dulu
terlalu baik memerankan tokoh-tokoh gagah
berani tanpa mengindahkan nurani.
(Bunga-bunga yang setiap kali ditaburkan justru membuat mereka
lebih tertekan)
Apakah ini yan namanya siksa kubur ?
tanya seseorang di antara mereka yang dulu terkenal takabur
Tapi kalau kita tak disemayamkan di sini, makam pahlawan ini
akan sepi penghuni, kata yang lain menghibur.
Tiba-tiba mereka mendengar Marsinah.
Tiba-tiba mereka semua yang di Taman Pahlawan,
yang betul-betul pahlawan atau yang keliru dianggap pahlawan,
begitu girang menunggu salvo ditembakkan dan genderang
penghormatan ditabuh lirih mengiringi kedatangan
wanita muda yang gagah perkasa itu
Di atas, Marsinah yang berkerudung awan putih
berselendang pelangi tersenyum manis sekali :
maaf kawan-kawan, jasadku masih dibutuhkan
untuk menyingkapkan kebusukan dan membantu mereka
yang mencari muka.
kalau sudah tak diperlukan lagi
biarlah mereka menanamkannya di mana saja di persada ini
sebagai tumbal keadilan atau sekedar bangkai tak berarti
(1441)

KELUHAN
Tuhan, kami sangat sibuk.
1410

KITA SEMUA ASMUNI ATAWA ASMUNI CUMA SATU
Kita semua Asmuni
Kita satu sama lain
Tidak lain
Asmuni semua

Anak-anak Asmuni
Orang-orang Asmuni
Tuan Asmuni
Raden Asmuni
Bapak Asmuni
Kiai Asmuni
Politikus Asmuni
Pemikir Asmuni
Pembaru Asmuni

Kita semua Asmuni
Kita satu sama lain
Tidak lain
Asmuni

Sayang
Asmuni yang jujur cuma satu
Asmuni yang menghibur
Cuma satu
1988
Dengan permohonan maaf dari Asmuni Andiweky dari Group Lawak Srimulat

KALAU KAU SIBUK KAPAN KAU SEMPAT
Kalau kau sibuk berteori saja
Kapan kau sempat menikmati mempraktekkan teori?

Kalau kau sibuk menikmati praktek teori saja
Kapan kau memanfaatkannya?

Kalau kau sibuk mencari penghidupan saja
Kapan kau sempat menikmati hidup?
Kalau kau sibuk menikmati hidup saja
Kapan kau hidup?

Kalau kau sibuk dengan kursimu saja
Kapan kau sempat memikirkan pantatmu?
Kalau kau sibuk memikirkan pantatmu saja
Kapan kau menyadari joroknya?

Kalau kau sibuk membodohi orang saja
Kapan kau sempat memanfaatkan kepandaianmu?
Kalau kau sibuk memanfaatkan kepandaianmu saja
Kapan orang lain memanfaatkannya?

Kalau kau sibuk pamer kepintaran saja
Kapan kau sempat membuktikan kepintaranmu?
Kalau kau sibuk membuktikan kepintaranmu saja
Kapan kau pintar?

Kalau kau sibuk mencela orang lain saja
Kapan kau sempat membuktikan cela-celanya?
Kalau kau sibuk membuktikan cela orang saja
Kapan kau menyadari celamu sendiri?

Kalau kau sibuk bertikai saja
Kapan kau sempat merenungi sebab pertikaian?
Kalau kau sibuk merenungi sebab pertikaian saja
Kapan kau akan menyadari sia-sianya?

Kalau kau sibuk bermain cinta saja
Kapan kau sempat merenungi arti cinta?
Kalau kau sibuk merenungi arti cinta saja
Kapan kau bercinta?

Kalau kau sibuk berkhutbah saja
Kapan kau sempat menyadari kebijakan khutbah?
Kalau kau sibuk dengan kebijakan khutbah saja
Kapan kau akan mengamalkannya?

Kalau kau sibuk berdzikir saja
Kapan kau sempat menyadari keagungan yang kau dzikiri?
Kalau kau sibuk dengan keagungan yang kau dzikiri saja
Kapan kau kan mengenalnya?

Kalau kau sibuk berbicara saja
Kapan kau sempat memikirkan bicaramu?
Kalau kau sibuk memikirkan bicaramu saja
Kapan kau mengerti arti bicara?

Kalau kau sibuk mendendangkan puisi saja
Kapan kau sempat berpuisi?
Kalau kau sibuk berpuisi saja
Kapan kau memuisi?

(Kalau kau sibuk dengan kulit saja
Kapan kau sempat menyentuh isinya?
Kalau kau sibuk menyentuh isinya saja
Kapan kau sampai intinya?
Kalau kau sibuk dengan intinya saja
Kapan kau memakrifati nya-nya?
Kalau kau sibuk memakrifati nya-nya saja
Kapan kau bersatu denganNya?)

Kalau kau sibuk bertanya saja
Kapan kau mendengar jawaban!
1987

MULA-MULA
Mula-mula mereka beri aku nama
Lalu dengan nama itu
Mereka belenggu tangan dan kakiku
1987

IDENTITAS ATAWA AKU DALAM ANGKA
namaku mustofa bin bisri mustofa
lahir sebelum masa anak cukup 2
sebagai anak ke 2 dari 9 bersaudara
rumah kami nomer 3 jalan mulia
termasuk 1 dari 17 erte di desa
leteh namanya 1 dari 34 desa di kecamatan kota
1 dari 14 kecamatan di kabubaten
rembang namanya 1 dari 5 kabupaten
di karesidenan pati
1 dari 6 karesidenan di propinsi jawa tengah
1 dari 27 propinsi di indonesia
1 dari 6 negara-negara asean di asia
1 dari 5 benua di dunia
1 dari sekian kacang hijau di semesta.
cukup jelaskah aku?
1987

ISTRIKU
Kalau istriku tidak kawin denganku
Dia bukan istriku tentu
Aku kebetulan mencintainya
Diapun mencintaiku
Seandainya pun aku tidak mencintainya
Dan dia tidak mencintaiku pula
Dia tetap istriku
Karena ia kawin denganku
1987

GURUKU
Ketika aku kecil dan menjadi muridnya
Dialah di mataku orang terbesar dan terpintar
Ketika aku besar dan menjadi pintar
Kulihat dia begitu kecil dan lugu
Aku menghargainya dulu
Karena tak tahu harga guru
Ataukah kini aku tak tahu
Menghargai guru?
1987

ORANG PENTING
Orang penting lain dengan orang lain
Dia beda karena pentingnya
Bicaranya penting diamnya penting
Kebijaksanaannya penting
Ngawurnya pun penting
Semua yang ada padanya penting
Sampai pun yang paling tidak penting
Jika tak penting lagi
Dia sama dengan yang lain saja
1987

PUISI BALSEM DARI TUNISIA
Di festival puisi di negeri Abu Nuwas
Kepalaku pening setiap hari
Dicekoki puisi-puisi mabok puji
Padahal aku tidak membawa
Puisi-puisi balsemku yang manjur istimewa

Untung seorang penyair Tunisia
Munsif Al-Muzghany namanya
Di samping beberapa kumpulan puisinya
Dia membawa puisi-puisi balsem juga rupanya
(Puisi balsem cukup universal juga ternyata!)
Satu di antaranya begini bunyinya:

Ada seekor kambing
Nyelonong masuk gedung parlemen
Dan mengembik
Maka tiba-tiba saja
Menggema di ruang terhormat itu
Paduan suara : setujuuu!

Peningku sejenak hilang
Ternyata puisi balsem Tunisia
Lumayan manjur juga
Baghdad (memang ditulis di Baghdad, tapi disebutkan di sini sambil bergaya), 27 November
1989

NYANYIAN KEBEBASAN ATAWA BOLEH APA SAJA
Merdeka!
Ohoi, ucapkanlah lagi pelan-pelan
Merdeka
Kau kan tahu nikmatnya
Nyanyian kebebasan
Ohoi,

Lelaki boleh genit bermanja-manja
Wanita boleh sengit bermain bola
Anak muda boleh berkhutbah dimana-mana
Orang tua boleh berpacaran dimana saja

Ohoi,
Politikus boleh berlagak kiai
Kiai boleh main film semau hati
Ilmuwan boleh menggugat ayat
Gelandangan boleh mewakili rakyat

Ohoi,
Dokter medis boleh membakar kemenyan
Dukun klenik boleh mengatur kesejahteraan
Saudara sendiri boleh dimaki
Tuyul peri boleh dibaiki

Ohoi,
Pengusaha boleh melacur
Pelacur boleh berusaha
Pembangunan boleh berjudi
Penjudi boleh membangun

Ohoi,
Yang kaya boleh mengabaikan saudaranya
Yang miskin boleh menggadaikan segalanya
Yang di atas boleh dijilat hingga mabuk
Yang di bawah boleh diinjak hingga remuk

Ohoi,
Seniman boleh bersufi-sufi
Sufi boleh berseni-seni
Penyair boleh berdzikir samawi
Muballigh boleh berpuisi duniawi

Ohoi,
Si anu boleh anu
Siapa boleh apa
Merdeka?
1987

PILIHAN
Antara kaya dan miskin tentu kau memilih miskin
Lihatlah kau seumur hidup tak pernah merasa kaya

Antara hidup dan mati tentu kau memilih mati
Lihatlah kau seumur hidup mati-matian mempertahankan kematian

Antara perang dan damai tentu kau memilih damai
Lihatlah kau habiskan umurmu berperang demi perdamaian

Antara beradab dan biadab tentu kau memilih beradab
Lihatlah kau habiskan umurmu menyembunyikan kebiadaban dalam peradaban

Antara nafsu dan nurani tentu kau memilih nurani
Lihatlah kau sampai menyimpannya rapi jauh dari kegalauan dunia ini

Antara dunia dan akhirat tentu kau memilih akhirat
Lihatlah kau sampai menamakan amal-dunia sebagai amal akhirat

Antara ini dan itu
Benarkah kau memilih itu?
1410/1989

SUWUK KULHU SUNGSANG
Sato sampai sato mati
Jalma sampai jalma mati
Maling sampai maling mati
Rampok sampai rampok mati
Tamak sampai tamak mati
Lalim sampai lalim mati
Tiran sampai tiran mati
Buta sampai buta mati
Hantu sampai hantu mati
Setan sampai setan mati
Niatbusuk sampai niatbusuk mati
Atas pertolongan Pasti.
1411

SUWUK SOLIBIN
Solibin solimat
Bimat busipat

Langitmu tanpa mendung
Lautku tanpa garam
Mendung bagianku
Garam bagianmu

Solibin solimat
Bimat busipat

Pundakmu tanpa beban
Bebanku tanpa pundak
Hakmu tanpa kewajiban
Kewajibanku tanpa hak

Solibin solimat
Bimat busipat

Kaukemas keserakahan dalam amal kesalehan
Kukemas kecemasan dalam senyum kekalahan
Kaubungkus kebusukan dalam kafan sutera
Kubungkus kepedihan dalam dada membara

Solibin solimat
Bimat busipat

Kau keparat!
1410

SUWUK MANIKCEMAR
sang manikcemar
telah tergenggam tangan
nyawamu

runduk tunduk
merunduk
tunduk runduk
menunduk

merunduk
menunduk
tunduk
runduk
terbentuk!

tengkukmu pakubengkok
lututmu sikusiku
gagukaku
kakugagu

tak tidak
tak tak

tak tidak tak tak
tak tak tak tidak
tak tidak tak tak

gagukaku
kakugagu
kaku semua
gagu semua

semua ya ya ya ya saja
yayaya yayaya yayaya saja

yayaya

yayaya saja

laa ilaha illallah muhammadur rasuulullah
1410

KEPADA PENYAIR
Brentilah menyanyi sendu
tak menentu
tentang gunung-gunung dan batu
mega-mega dan awan kelabu
tentang bulan yang gagu
dan wanita yang bernafsu

Brentilah bersembunyi
dalam simbol-simbol banci

Brentilah menganyam-anyam maya
mengindah-indahkan cinta
membesar-besarkan rindu
Brentilah menyia-nyiakan daya
memburu orgasme dengan tangan kelu

Brentilah menjelajah lembah-lembah
dengan angan-angan tanpa arah

Tengoklah kanan-kirimu
Lihatlah kelemahan di mana-mana
membuat lelap dan kalap siapa saja
Lihatlah kekalapan dan kelelapan merajalela
membabat segalanya
Lihatlah segalanya semena-mena
mengkroyok dan membiarkan nurani tak berdaya

Bangunlah
Asahlah huruf-hurufmu
Celupkan baris-baris sajakmu
dalam cahya dzikir dan doa
Lalu tembakkan kebenaran
Dan biarlah Maha Benar
yang menghajar kepongahan gelap
dengan mahacahyaNya
1414

MAJU TAK GENTAR
Maju tak gentar
Membela yang mungkar
Maju tak gentar
Hak orang diserang
Maju tak gentar
Pasti kita menang!
1993

INPUT DAN OUTPUT
Di mesjid-mesjid dan majlis-majlis taklim
berton-ton huruf dan kata-kata mulia
tanpa kemasan dituang-suapkan
dari mulut-mulut mesin yang dingin
ke kuping-kuping logam yang terbakar
untuk ditumpahkan ketika keluar.
Di kamar-kamar dan ruang-ruang rumah
berhektar-hektar layar kehidupan mati
dengan kemas luhur ditayang-sumpalkan
melalui mata-mata yang letih
ke benak-benak seng berkarat
untuk dibawa-bawa sampai sekarat.
Di kantor-kantor dan markas-markas
bertimbun-timbun arsip kebijaksanaan aneh
dengan map-map agung dikirim-salurkan
melalui kepala-kepala plastik
ke segala pejuru urat nadi
untuk diserap sampai mati.
Di majalah-majalah dan koran-koran
berkilo-kilo berita dan opini Tuhan
dengan disain nafsu dimuntah-jejalkan
melalui kolom-kolom rapi
ke ruang-ruang kosong tengkorak
orang-orang tua dan anak-anak.
Di hotel-hotel dan tempat hiburan
beronggok-onggok daging dan virus
dengan bungkus sutera disodor-suguhkan
melalui saluran-saluran resmi
ke berbagai pribadi dan instansi
untuk dinikmati dengan penuh gengsi
Di jalan-jalan dan di kendaraan-kendaraan
berbarel-barel bensin dan darah
dengan pipa-pipa kemajuan ditumpah-ruahkan
melalui pori-pori kejantanan
ke tangki-tangki penampung nyawa
untuk menghidupkan sesal dan kecewa
1415

PAHLAWAN
Lahir. Hilang. Gugur. Hidup. Mengalir. Sudah.

TIKUS
memanen tanpa menanam
merompak tanpa jejak

kabur tanpa buntut
bau tanpa kentut
1414

ORANG KECIL ORANG BESAR
Suatu hari yang cerah
Di dalam rumah yang gerah
Seorang anak yang lugu
Sedang diwejang ayah-ibunya yang lugu

Ayahnya berkata:
Anakku,
Kau sudah pernah menjadi anak kecil
Janganlah kau nanti menjadi orang kecil!

Orang kecil kecil peranannya
Kecil perolehannya, tambah si ibu

Ya, lanjut ayahnya
Orang kecil sangat kecil bagiannya
Anak kecil masih mendingan
Rengeknya didengarkan
Suaranya diperhitungkan
Orang kecil tak boleh memperdengarkan rengekan
Suaranya tak suara.

Sang ibu ikut wanti-wanti:
Betul, jangan sekali-kali jadi orang kecil
Orang kecil jika jujur ditipu
Jika menipu dijur
Jika bekerja digangguin
Jika mengganggu dikerjain.

Ayah dan ibu berganti-ganti menasehati:
Ingat, jangan sampai jadi orang kecil
Orang kecil jika ikhlas diperas
Jika diam ditikam
Jika protes dikentes
Jika usil dibedil.

Orang kecil jika hidup dipersoalkan
Jika mati tak dipersoalkan.

Lebih baik jadilah orang besar
Bagiannya selalu besar.

Orang besar jujur-tak jujur makmur
Benar-tak benar dibenarkan
Lalim-tak lalim dibiarkan.

Orang besar boleh bicara semaunya
Orang kecil paling jauh dibicarakan saja.

Orang kecil jujur dibilang tolol
Orang besar tolol dibilang jujur
Orang kecil berani dikata kurangajar
Orang besar kurangajar dikata berani.

Orang kecil mempertahankan hak
disebut pembikin onar
Orang besar merampas hak
disebut pendekar.

Si anak terus diam tak berkata-kata
Namun dalam dirinya bertanya-tanya:
Anak kecil bisa menjadi besar
Tapi mungkinkah orang kecil
Menjadi orang besar?
Besoknya entah sampai kapan
si anak terus mencoret-coret
dinding kalbunya sendiri:
O r a n g k e c i l ? ? ?
O r a n g b e s a r ! ! !
1993


ANDAIKATA
andaikata kupunya
tak hanya
lengan lunglai
tempat kita meletakkan kalah
andaikata kupunya
tak hanya
pangkuan landai
tempat kita merebahkan resah

andaikata kupunya
tak hanya
dada luka
tempat kita menyandarkan duka
andaikata kupunya
tak hanya
tangan kelu
tempat kita menggenggam pilu

andaikata kupunya
tak hanya
kata-kata dusta
penyeka airmata
andaikata kupunya
tak hanya
telinga renta
penampung derita

andaikata
kupunya
tak hanya
andaikata
1414

IBU
Ibu
Kaulah gua teduh
tempatku bertapa bersamamu
sekian lama
Kaulah kawah
dari mana aku meluncur dengan perkasa
Kaulah bumi
yang tergelar lembut bagiku
melepas lelah dan nestapa
Gunung yang menjaga mimpiku
siang dan malam
Mata air yang tak brenti mengalir
membasahi dahagaku
Telaga tempatku bermain
berenang dan menyelam

Kaulah, ibu, langit dan laut
yang menjaga lurus horisonku
Kaulah, ibu, mentari dan rembulan
yang mengawal perjalananku
mencari jejak sorga
di telapak kakimu

(Tuhan
Aku bersaksi
Ibuku telah melaksanakan amanatMu
menyampaikan kasihsayangMu
maka kasihilah ibuku
seperti Kau mengasihi
kekasih-kekasihMu
Amin).
1414

NASIHAT RAMADLAN BUAT A. MUSTOFA BISRI
Mustofa,
Jujurlah pada dirimu sendiri mengapa kau selalu mengatakan
Ramadlan bulan ampunan apakah hanya menirukan Nabi
atau dosa-dosamu dan harapanmu yang berlebihanlah yang
menggerakkan lidahmu begitu.

Mustofa,
Ramadlah adalah bulan antara dirimu dan Tuhanmu. Darimu hanya
untukNya dan Ia sendiri tak ada yang tahu apa yang akan dianugerahkanNya
kepadamu. Semua yang khusus untukNya khusus untukmu.

Mustofa,
Ramadlan adalah bulanNya yang Ia serahkan padamu dan bulanmu
serahkanlah semata-mata padaNya. Bersucilah untukNya. Bersalatlah
untukNya. Berpuasalah untukNya. Berjuanglah melawan dirimu sendiri
untukNya.

Sucikan kelaminmu. Berpuasalah.
Sucikan tanganmu. Berpuasalah.
Sucikan mulutmu. Berpuasalah.
Sucikan hidungmu. Berpuasalah.
Sucikan wajahmu. Berpuasalah.

Sucikan matamu. Berpuasalah.
Sucikan telingamu. Berpuasalah.
Sucikan rambutmu. Berpuasalah.
Sucikan kepalamu. Berpuasalah.

Sucikan kakimu. Berpuasalah.
Sucikan tubuhmu.
Berpuasalah.
Sucikan hatimu.
Sucikan pikiranmu.
Berpuasalah.
Suci
kan
dirimu.

Mustofa,
Bukan perut yang lapar bukan tenggorokan yang kering yang
mengingatkan kedlaifan dan melembutkan rasa.
Perut yang kosong dan tenggorokan yang kering ternyata hanya penunggu
atau perebut kesempatan yang tak sabar atau terpaksa.
Barangkali lebih sabar sedikit dari mata tangan kaki dan kelamin, lebih tahan
sedikit berpuasa tapi hanya kau yang tahu
hasrat dikekang untuk apa dan siapa.

Puasakan kelaminmu
untuk memuasi Ridla
Puasakan tanganmu
untuk menerima Kurnia
Puasakan mulutmu
untuk merasai Firman
Puasakan hidungmu
untuk menghirup Wangi
Puasakan wajahmu
untuk menghadap Keelokan
Puasakan matamu
untuk menatap Cahaya
Puasakan telingamu
untuk menangkap Merdu
Puasakan rambutmu
untuk menyerap Belai
Puasakan kepalamu
untuk menekan Sujud
Puasakan kakkmu
untuk menapak Sirath
Puasakan tubuhmu
untuk meresapi Rahmat
Puasakan hatimu
untuk menikmati Hakikat
Puasakan pikiranmu
untuk menyakini Kebenaran
Puasakan dirimu
untuk menghayati Hidup.

Tidak.
Puasakan
hasratmu
hanya untuk
Hadlirat
Nya
!

Mustofa,
Ramadlan bulan suci katamu, kau menirukan ucapan Nabi atau kau telah
merasakan sendiri kesuciannya melalui kesucianmu.
Tapi bukankah kau masih selalu menunda-nunda menyingkirkan kedengkian
keserakahan ujub riya takabur dan sampah-sampah lainnya yang mampat dari
comberan hatimu?
Mustofa,
inilah bulan baik saat baik untuk kerjabakti membersihkan hati.

Mustofa,
Inilah bulan baik saat baik untuk merobohkan berhala dirimu
yang secara terang-terangan dan sembunyi-sembunyi
kau puja selama ini.
Atau akan kau lewatkan lagi kesempatan ini
seperti Ramadlan-ramadlan yang lalu.
Rembang, Syaban 1413


YA RASULALLAH
aku ingin seperti santri berbaju putih
yang tiba-tiba datang menghadapmu
duduk menyentuhkan kedua telapak tangannya di atas paha-pahamu muliamu
lalu aku akan bertanya ya rasulallah
tentang islamku
ya rasulallah
tentang imanku
ya rasulallah
tentang ihsanku

ya rasulallah
mulut dan hatiku bersaksi
tiada tuhan selain allah
dan engkau ya rasul utusan allah
tapi kusembah juga diriku astaghfirullah
dan risalahmu hanya kubaca bagai sejarah
ya rasulallah
setiap saat jasadku salat
setiap kali tubuhku bersimpuh
diriku jua yang kuingat
setiap saat kubaca salawat
setiap kali tak lupa kubaca salam
assalamualaika ayyuhan nabiyyu warahmatullahi wabarakatuh
salam kepadamu wahai nabi juga rahmat dan berkat allah
tapi tak pernah kusadari apakah di hadapanku
kau menjawab salamku
bahkan apakah aku menyalamimu
ya rasulallah
ragaku berpuasa
dan jiwaku kulepas bagai kuda
ya rasulallah
sekali-kali kubayar zakat dengan niat
dapat balasan kontan dan berlipat
ya rasulallah
aku pernah naik haji
sambil menaikkan gengsi
ya rasulallah, sudah islamkah aku?

ya rasulallah
aku percaya allah dan sifat-sifatnya
aku percaya malaikat
percaya kitab-kitab sucinya
percaya nabi-nabi utusannya
aku percaya akherat
percaya qadla-kadarnya
seperti yang kucatat
dan kuhafal dari ustad
tapi aku tak tahu
seberapa besar itu mempengaruhi lakuku
ya rasulallah, sudah imankah aku?

ya rasulallah
setiap kudengar panggilan
aku menghadap allah
tapi apakah ia menjumpaiku
sedang wajah dan hatiku tak menentu
ya rasulallah, dapatkah aku berihsan?

ya rasulallah
kuingin menatap meski sekejab
wajahmu yang elok mengerlap
setelah sekian lama mataku hanya menangkap gelap

ya rasulallah
kuingin mereguk senyummu yang segar
setelah dahaga di padang kehidupan hambar
hampir membuatku terkapar

ya rasulallah
meski secercah, teteskan padaku
cahyamu
buat bekalku sekali lagi
menghampirinya
1414

SAJAK CINTA
cintaku kepadamu belum pernah ada contohnya
cinta romeo kepada juliet, si majnun qais kepada laila
belum apa-apa
temu-pisah kita lebih bermakna
dibanding temu-pisah yusuf dan zulaikha
rindu-dendam kita melebihi rindu dendam adam hawa

aku adalah ombak samuderamu
yang lari-datang bagimu
hujan yang berkilat dan berguruh mendungmu

aku adalah wangi bungamu
luka berdarah-darah durimu
semilir sampai badai anginmu

aku adalah kicau burungmu
kabut puncak gunungmu
tuah tenungmu

aku adalah titik-titik hurufmu
huruf-huruf katamu
kata-kata maknamu

aku adalah sinar silau panas
dan bayang-bayang hangat mentarimu
bumi pasrah langitmu

aku adalah jasad ruhmu
fayakun kunmu
aku adalah a-k-u
k-a-u
mu
Rembang, 30.9.1995

NEGERIKU
Negeriku telah menguning
1415

DALAM TAHIAT
dalam tahiat
kulihat wajahmu berkelebat
ke mana gerangan kau berangkat?
berhentilah sesaat
beri aku kesempatan munajat
atau sekedar menatap isyarat
sebelum nafsuku menghentikan salat
1415

DOA RASULULLAH SAW
Ya Allah ya Tuhanku
AmpunanMu lebih kuharapkan
daripada amalku
rahmatMu lebih luas
daripada dosaku
Ya Allah ya Tuhanku
Bila aku tak pantas
mencapai rahmatMu
RahmatMu pantas mencapaiku
Karena rahmatMu mencapai apa saja
Dan aku termasuk apa saja
Ya Arhamarrahimun!
1415


RASANYA BARU KEMARIN
(Versi V)

Rasanya
Baru kemarin Bung Karno dan Bung Hatta
Atas nama kita menyiarkan dengan seksama
Kemerdekaan kita di hadapan dunia. Rasanya
Gaung pekik merdeka kita
Masih memantul-mantul tidak hanya
Dari mulut-mulut para jurkam PDI saja. Rasanya
Baru kemarin
Padahal sudah setengah abad lamanya

Pelaku-pelaku sejarah yang nista dan yang mulia
Sudah banyak yang tiada. Penerus-penerusnya
Sudah banyak yang berkuasa atau berusaha
Tokoh-tokoh pujaan maupun cercaan bangsa
Sudah banyak yang turun tahta

Taruna-taruna sudah banyak yang jadi
Petinggi negeri
Mahasiswa-mahasiswa yang dulu suka berdemonstrasi
Sudah banyak yang jadi menteri

Rasanya
Baru kemarin
Padahal sudah setengah abad lamanya

Tokoh-tokoh angkatan 45 sudah banyak yang koma
Tokoh-tokoh angkatan 66 sudah banyak yang terbenam

Rasanya
Baru kemarin

Letkol Suharto sudah menjadi
Sesepuh negara-negara sahabat
Wartawan Harmoko sudah menjadi
Pengatur suara rakyat

Waperdam Subandrio sudah hidup kembali
Menjadi pelajaran bagi setiap penguasa
Engkoh Eddy Tanzil sudah tak berkolusi lagi
Menjadi renungan bagi setiap pengusaha

Ibu Dewi sudah kembali
Menjadi penglipur
Buldozer Amir Mahmud kini
Sudah tergusur

Oom Liem dan kawan-kawan
Sudah menjadi dewa-dewa kemakmuran
Bang Zainuddin dan rekan-rekan
Sudah menjadi hiburan

Pak Domo yang mengerikan
Sudah berubah menggelikan
Bang Ali yang menentukan
Sudah berubah mengasihankan

Genduk Megawati yang gemulai
Sudah menjadi pemimpin partai
Ismail Hasan Metarium yang santai
Sudah menjadi politisi piawai

Gusti Mangkubumi di Yogya
Sudah menjadi raja dan ketua golongan karya
Gus Shohib yang sepuluh anaknya
Sudah menjadi pahlawan keluarga berencana

(Hari ini ingin rasanya
Aku bertanya kepada mereka semua
Bagaimana rasanya
Merdeka?)

Rasanya
Baru kemarin
Padahal sudah setengah abad kita
Merdeka

Jenderal Nasution dan Jenderal Yusuf yang pernah jaya
Sudah menjadi tuna karya

Ali Murtopo dan Sudjono Humardani yang sakti
Sudah lama mati
Pak Umar dan pak Darmono yang berdaulat
Sudah kembali menjadi rakyat

Pak Mitro dan pak Beni yang perkasa
Sudah tak lagi punya kuasa

Rasanya
Baru kemarin
Padahal sudah setengah abad kita
Merdeka

Kiai Ali dan Gus Yusuf yang agamawan
Sudah menjadi priyayi
Danarto dan Umar Kayam yang seniman
Sudah menjadi kiai

Gus Dur dan Cak Nur yang pintar
Sudah berkali-kali mengganti kacamata
Rendra dan Emha yang nakal
Sudah berkali-kali mengganti cerita

Goenawan sudah terpojok kesepian
Arief Budiman sudah berdemonstrasi sendirian
Romo Mangun sudah terbakar habis rambutnya
Tardji sudah menjalar-jalar janggutnya

(Hari ini ingin rasanya
Aku bertanya kepada mereka semua
Sudahkah kalian
Benar-benar merdeka?)

Rasanya
Baru kemarin
Padahal sudah setengah abad lamanya

Negara sudah semakin kuat
Rakyat sudah semakin terdaulat

Rasanya
Baru kemarin

Pejuang Marsinah sudah berkali-kali
Kuburnya digali tanpa perkaranya terbongkar
Preman-preman sejati sudah berkali-kali
Diselidiki dan berkas-berkasnya selalu terbakar

Rasanya
Baru kemarin

Banyak orang pandai sudah semakin linglung
Banyak orang bodoh sudah semakin bingung
Banyak orang kaya sudah semakin kekurangan
Banyak orang miskin sudah semakin kecurangan

Rasanya
Baru kemarin

Banyak ulama sudah semakin dekat kepada pejabat
Banyak pejabat sudah semakin erat dengan
konglomerat
Banyak wakil rakyat sudah semakin jauh dari umat
Banyak nurani dan akal budi sudah semakin sekarat

(Hari ini ingin rasanya
Aku bertanya kepada mereka semua
Sudahkah kalian benar-benar merdeka?)

Rasanya
Baru kemarin

Pembangunan ekonomi kita sudah sedemikian laju
Semakin jauh meninggalkan pembangunan akhlak
yang tak kunjung maju
Anak-anak kita sudah semakin mekar tubuhnya
Bapak-bapak kita sudah semakin besar perutnya

Rasanya
Baru kemarin
Padahal sudah setengah abad kita merdeka

Kemajuan sudah menyeret dan mengurai
Pelukan kasih banyak ibu-bapa
Dari anak-anak kandung mereka
Kemakmuran duniawi sudah menutup mata
Banyak saudara terhadap saudaranya

Daging sudah lebih tinggi harganya
Dibanding ruh dan jiwa
Tanda gambar sudah lebih besar pengaruhnya
Dari bendera merah putih dan lambang garuda

Rasanya
Baru kemarin
Padahal sudah setengah abad kita merdeka

Pahlawan-pahlawan idola bangsa
Seperti Pangeran Diponegoro
Imam Bonjol, dan Sisingamangaraja
Sudah dikalahkan oleh Kesatria Baja
Hitam dan Kura-kura Ninja

Rasanya
Baru kemarin

Orangtuaku sudah pergi bertapa
Anak-anakku sudah pergi berkelana
Kakakku sudah menjadi politikus
Aku sendiri sudah menjadi tikus

(Hari ini setelah setengah abad merdeka
Ingin rasanya aku mengajak kembali
Mereka semua yang kucinta
Mensyukuri lebih dalam lagi
Rahmat kemerdekaan ini
Dengan meretas belenggu tirani
Diri sendiri
Bagi merahmati sesama)

Rasanya
Baru kemarin
Ternyata
Sudah setengah abad kita
Merdeka

(Ingin rasanya
Aku sekali lagi menguak angkasa
Dengan pekik yang lebih perkasa:
Merdeka!)
11 Agustus 1995

TENTANG K.H. A. MUSTOFA BISRI
K.H. A. Mustofa Bisri atau biasa dipanggil Gus Mus, lahir 10 Agustus 1944, putra dari KH.
Bisri Mustofa, ulama dari Rembang. Masa kecil dan remaja dihabiskan di lingkungan
pesantren. Tercatat pernah nyantri di Pesantren Lirboyo Kediri, Pesantren Krapyak
Yogyakarta dan Pesantren Raudlatut Thalibien Rembang, kemudian melanjutkan studi di
Universitas Al-Azhar Kairo. Saat ini, beliau menjadi pengasuh di Pesantren Raudlatut
Thalibien Rembang. Karya tulisnya banyak tersebar di media massa dan dibukukan,
mengupas masalah keislaman, politik, sosial, budaya. Gus Mus telah menerbitkan beberapa
buku kumpulan puisi, antara lain: (1). Ohoi, Kumpulan Puisi Balsem, (2). Tadarus, Antologi
Puisi, (3). Mutiara-mutiara Benjol, (4). Pahlawan dan Tikus, (5). Syair Asmaul Husna
(bahasa Jawa), (6). Rubaiyat Angin dan Rumput, (7). Wekwekwek.


PUISI-PUISI ABDUL HADI W.M.
Selasa, 11/02/2014 - 13:52 Sastra Seratus ...
Lain-lain |
Koleksi |
Puisi |
Abdul Hadi WM
LAGU DALAM HUJAN

Merdunya dan merdunya
Suara hujan
Gempita pohon-pohonan
Menerima serakan
Sayap-sayap burung

Merdunya dan merdunya
Seakan busukan akar pohonan
Menggema dan segar kembali
Seakan busukan daungladiola
Menyanyi dalam langsai-langsai pelangi biru
Memintas-mintas cuaca

Merdunya dan merdunya
Nasib yang bergerak
Jiwa yang bertempur
Gempita bumi
Menerima hembusan
Sayap-sayap kata

Ya, seakan merdunya suara hujan
Yang telah menjadi kebiasaan alam
Bergerak atau bergolak dan bangkit
Berubah dan berpindah dalam pendaran warna-warni
Melintas dan melewat dalam dingin dan panas

Merdunya dan merdunya
Merdu yang tiada bosan-bosannya
Melulung dan tiada kembali
Seakan-akan memijar api

1970

AMSAL SEEKOR KUCING

Selalu tak dapat kulihat kau dengan jelas
Padahal aku tidak rabun dan kau tidak pula bercadar
Hanya setiap hal memang harus diwajarkan bagai semula:
Selera makan, gerak tangan, gaya percakapan, bayang-bayang kursi
Bahkan langkah-langkah kehidupan menuju mati

Biarlah kata-kataku ini dan apa yang dipercakapkan
bertemu bagai dua mulut yang lagi berciuman
Dan seperti seekor kucing yang mengintai mangsanya di dahan pohon
Menginginkan burung intaiannya bukan melulu kiasan

1975

LA CONDITION HUMAINE

Di dalam hutan nenek moyangku
Aku hanya sebatang pohon mangga
-- tidak berbuah tidak berdaun
Ayahku berkata, Tanah tempat kau tumbuh
Memang tak subur, nak! sambil makan
buah-buahan dari pohon kakekku dengan lahapnya

Dan kadang malam-malam
tanpa sepengetahuan istriku
aku pun mencuri dan makan buah-buahan
dari pohon anakku yang belum masak

1975

LARUT MALAM, HAMBURG MUSIM PANAS
Laut tidur. Langit basah
Seakan dalam kolam awan berenang
Pada siapakah menyanyi gerimis malam ini
Dan angin masih saja berembus, walau sendiri

Dan kita hampir jauh berjalan:
Kita tak tahu ke mana pulang malam ini
Atau barangkali hanya dua pasang sepatu kita
Bergegas dalam kabut, topiku mengeluh
Lalu jatuh

Atau kata-kata yang tak pernah
sebebas tubuh

Ketika terbujur cakrawala itu kembali
dan kita serasa sampai, kita lupa
Gerimis terhenti antara sauh-sauh yang gemuruh
Di kamar kita berpelukan bagai dua rumah yang mau rubuh

1974

WINTER, IOWA 1974

langit sisik yang serbuk, matahari yang rabun
menarilah dari rambutnya yang putih beribu kupu-kupu
menarilah dan angin yang bising di hutan dan gurun-gurun
menarilah, riak sungai susut malam-malam ke dasar lubukku

1974

RAMA-RAMA

rama-rama, aku ingin rasamu yang hangat
meraba cahaya
terbanglah jangan ke bunga, tapi ke laut
menjelmalah kembang di karang

rama-rama, aku ingin rasamu yang hangat
di rambutmu jari-jari matahari yang dingin
kadang mengembuni mata, kadang pikiran
melimpahinya dengan salju dan hutan yang lebat

1974

DINI HARI MUSIM SEMI

Aku ingin bangun dini hari, melihat fajar putih
memecahkan kulit-kulit kerang yang tertutup
Menjelang tidur kupahat sinar bulan yang letih itu
yang menyelinap dalam semak-semak salju terakhir
ninabobo yang menentramkan, kupahatkan padanya
sebelum matahari memasang kaca berkilauan

Tapi antara gelap dan terang, ada dan tiada
Waktu selalu melimpahi langit sepi dengan kabut dulu
lalu angin perlahan-lahan dan ribut memancarkan pagi
-- burung-burung hai ini, sedang musim dingin yang hanyut
masih abadi seperti hari kemarin yang mengiba
harus memakan beratus-ratus masa lampauku

BAYANG-BAYANG

Mungkin kau tak harus kabur, sela
bayang-bayangmu
yang menjauh dan menghindar
dari terang lampu

Ia selalu menjauh dan menghindar
dari terang lampu
Ia selalu mondar mandir
mencari-cari bentuk dan namanya
yang tak pernah ada

1974

DALAM GELAP

Dalam gelap bayang-bayang bertemu dengan jasadnya yang telah menunggu
di sebuah tempat
Mereka berbincang-bincang untuk mengalahkan tertang dan sepakat
mengha-dapi terang yang kurang baik perangainya
Karena itu dalam terang bayang-bayang selalu berobah-robah menggeser-geserkan dirinya
dan ruang untuk menipu terang
Dan jasad selalu siap melindungi bayang-bayangnya dari terang sambil menciptakan gelap
dengan bayang-bayangnya dari sinar terang

1974

MAUT DAN WAKTU

Kata maut: Sesungguhnya akulah yang memperdayamu pergi mengembara sampai tak ingat
rumah
menyusuri gurun-gurun dan lembah ke luarmasuk ruang-ruang kosong jagad raya mencari
suara
merdu Nabi Daud yang kusembunyikan sejak berabad-abad lamanya

Tidak, jawab waktu, akulah yang justru memperdayamu sejak hari pertama Qabi kusuruh
membujukmu
memberi umpan lezat yang tak pernah menge-nyangkan hingga kau pun tergiur ingin lagi dan
ingin lagi sampai gelisah dari zaman ke zaman mencari-cari nyawa Habil yang kau kira fana
mengembara ke pelosok-pelosok dunia bagaikan Don Kisot yang malang

1974

AKU BERIKAN

Aku berikan seutas rambut padamu untuk kenangan
tapi kau ingin merampas seluruh rambutku dari kepala
Ini musim panas atau bahkan tengah musim panas
langkahmu datang dan pergi antara ketokan jam yang berat

Mengapa jejak selalu nyaring menjelang sampai
daun-daun kering risik di pohon ingin berdentuman
ke air selokan yang deras
langkahmu datang dan pergi antara ketokan jam yang berat

Aku berikan sepotong jariku padamu untuk kaubakar
tapi kau ingin merampas seluruh tanganku dari lengan
Ini musim atau akhir musim panas aku tak tahu
Burung-burung kejang di udara terik seakan penatku padamu

Maka kujadikan hari esokku rumah
Tapi tak sampai rasanya hari iniku untuk berjumpa

1974

MALAM TELUK

Malam di teluk
menyuruk ke kelam
Bulan yang tinggal rusuk
padam keabuan

Ratusan gagak
Berteriak
Terbang menuju kota

Akankah nelayan kembali dari pelayaran panjang
Yang sia-sia? Dan kembali
Dengan wajah masai
Sebelum akhirnya badai
mengatup pantai?

Muara sempit
Dan kapal-kapal menyingkir pergi
Dan gonggong anjing
Mencari sisa sepi

Aku berjalan pada tepi
Pada batas
Mencari

Tak ada pelaut bisa datang
Dan nelayan bisa kembali
Aku terhempas di batu karang
Dan luka diri

1971

KADANG

Kadang begitu seringnya
ciuman letih pada bibirmu
menghabiskan tetes demi tetes airmatanya sendiri
dan kenangan lain yang lebih sedih mekar karenanya

Daging bagai retasan-retasan arang oleh api
tapi toh seakan abadi
Dan mereka yang menganggapnya tak abadi
karena cemas akan cintanya sendiri

Begitu diambilnya langkah: Ia seperti setangkai api
Pada sehelai kertas yang baru dituliskan

Seseorang atau entah rangkulan yang menggetarkan
mengambil getaran itu lagi
dan aku adalah getaran itu sendiri

1971

SEHABIS HUJAN KECIL

Retakan hujan yang tadi jatuh, berkilau
Pada kelopak kembang yang memerah
Antara batu-batu hening merenungi air kolam
Angin bercakap-cakap, sehelai daun terperanjat dan lepas

1972

GERIMIS

I
Seribu gerimis menuliskan kemarau di jendela
Basah langit yang sampai melepaskan senja
Bersama gemuruh yang dilemparkan jarum jam, kata-kata
bermimpilah bunga-bunga menyusun kenangannya
dari percakapan terik dan hama

Kau toreh bibirnya yang merkah, kata hama
Dan kuhisap isi jantungnya yang masih merah

II
Kenapa ia tak terkulai
Dan masih bertahan juga
Dan bersenyum pada surya
yang mengunyah-ngunyah airmatanya

III
Untukku ingar itu pun senantiasa menyurat
Atau mimpi
Tapi angin masih saja menggigil
Mendesakkan pago

IV
Tuhan, kau hanya kabar dari keluh

V
Burung-burung pun
asing di sana
karena jarak dan bahasa

1971

NYANYIAN KABUT

Kabut biru semata. Biru. Ada cahaya berisik
helaan angin, lalu percakapan
Kunamakan senandungmu lengang, udara
Berangkat cuaca malam dan ke mana kata-kata

Dan dalam kabut bisik-bisikmu jelaga

Kadang kudengarkan itu sengau yang lepas
dari laringnya, kadang kudengarkan itu
lembar-lembar jatuh dari kenangannya
Kadang kudengarkan itu
doa shalat sebelum sujud diselesaikan

Dan seseorang bangun bagiku
menyalakan lampu sebelum malam

1971

EPISODE

Ombak-ombak ini tidak perih, tidak enggan
merendam ketam-ketam, sinar keong
Pun tidak percuma menungging awam
yang kadang kala murung dekat pencakar

Lentera-lentera kapal yang merah keabuan
kadang seperti mata kanak-kanak
yang melahirkan dongengan (malam
menyebrangi selat dan) melemparkan
biji-biji anggrek di sana

Dan kadang: antara kelam, tidur aku!
Perahu-perahu yang dulu membawamu itu
dalam pelayaran panjang dan telah balik lagi
dengan layar-layar dari dukaku yang pulang
enggan

1973

LAUT

Dan aku pun memandang ke laut yang bangkit ke arahku
selalu kudengar selamat paginya dengan ombak berbuncah-buncah
dan selamat pagi laut kataku pula, siapa bersamamu menyanyi setiap malam
menyanyikan yang tak ada atau pagi atau senja? atau kata-kata
laut menyanyi lagi, laut mendengar semua yang kubisikkan padanya perlahan-lahan
selamat pagi laut kataku dan laut pun tersenyum, selamat pagi katanya
suaranya kedengaran seperti angin yang berembus di rambutku, igauan waktu di ubun-ubun
dan di atas sana hanya bayang-bayang dari sinar matahari yang kuning keperak-perakan
dan alun yang berbincang-bincang dengan pasir, tiram, lokan dan rumput-rumput di atas
karang
dan burung-burung bebas itu di udara bagai pandang asing kami yang lupa
selamat pagi laut kataku dan selamat pagi katanya tertawa-tawa
kemudian bagai sepasang kakek dan nenek yang sudah lama bercinta kami pun terdiam
kami pun diam oleh tulang belulang kami dan suara sedih kami yang saling geser dan terkam
menerkam
kalau maut suatu kali mau mengeringkan tubuh kami biarlah kering juga air mata kami
atau bisikan ini yang senantiasa merisaukan engkau: siapakah di antara kami
yang paling luas dan dalam, air kebalaunya atau hati kami tempat kabut dan sinar selam
menyelam?
Tapi laut selalu setia tak pernah bertanya, ia selalu tersenyum dan bangkit ke arahku
laut melemparkan aku ke pantai dan aku melemparkan laut ke batu-batu karang
andai di sana ada perempuan telanjang atau kanak-kanak atau saatmu dipulangkan petang
laut tertawa padaku, selamat malam katanya dan aku pun ketawa pada laut, selamat malam
kataku
dan atas selamat malam kami langit tergunang-guncang dan jatuh ke cakrawala senja
begitulah tak ada sebenarnya kami tawakan dan percakapkan kecuali sebuah sajak lama:
aku cinta pada laut, laut cinta padaku dan cinta kami seperti kata-kata dan hati yang
mengucapkannya

1973

KUSEBUT

Kusebut kata-kata engganmu detik jam
Gemersik berat dihela jarumnya
Senandungmu mengalun bagai desau angin ribut
jatuh ke pelimbahan air perlahan-lahan
Kabut yang senantiasa berjkalan dari dinding ke dinding
membalik-balik beribu percakapan
dan didapatkannya nama-nama asing yang tak ada orangnya
Kabut yang mengatakan sebuah luka
Yang meluas dan mengendap jadi palung di dada
dan palung itu mengisap jantung kita

Dan malam yang senantiasa berdiri di luar
berdiri berjaga mendengarkan yang bakal tak sampai
Dan bayang-bayang terangnya di bawah lampu
bernyanyi gelisah melalui gang yang satu ke gang yang lainnya

1973

CINTA

Cinta serupa laut
selalu ia terikat pada arus
Setiap kali ombak bertarung
Seperti tutur kata dalam hatimu
Sebelum mendapat bibir yang mengucapkanya

Angin kencang datang dari jiwa
Air berpusar dan gelombang naik
Memukul hati kita yang telanjang
Dan menyelimutinya dengan kegelapan

Sebab keinginan begitu kuat
Untuk menangkap cahaya
Maka kesunyianpun pecah
Dan yang tersembunyi menjelma

Kau disampingku
Aku disampingmu
Kata -kata adalah jembatan
Tapi yang mempertemukan
Adalah kalbu yang saling memandang

MIMPI

Aneh, tiap mimpi membuka kelopak mimpi yang lain,
berlapis-lapis mimpi,
tiada dinding dan tirai akhir,
hingga kau semakin jauh dan semakin dalam
tersembunyi dalam ratusan tirai rahasia
membiarkan aku asing pada wujud
hampa dan wajah sendiri.

Kudatangi kemudian pintu-pintu awan, nadi-nadi
cahaya dan kegelapan, rimba sepi dan kejadian
-- di jalan-jalannya,
di gedung-gedungnya kucari sosok bayangku
yang hilang dalam kegaduhan.
Tetap, yang fana mengulangi kesombongan dan keangkuhannya
dan berkemas pergi entah ke mana gelisah,
asing memasuki rumah sendiri menjejakkan kaki,
bergumul benda-benda ganjil yang tak pernah dikenal,
menulis sajak, menemukan mimpi yang lain lagi berlapis-lapis mimpi,
tiada dinding akhir sebelum menjumpai-Mu.

(1981-1992)

KETIKA MASIH BOCAH

Ketika masih bocah, rumahku di tepi laut
Bila pagi pulang dari perjalanan jauhnya
Menghalau malam dan bayang-bayangnya, setiap kali
Kulihat matahari menghamburkan sinarnya
Seraya menertawakan gelombang
Yang hilir mudik di antara kekosongan
Sebab itu aku selalu riang
Bermendung atau berawan, udara tetap terang
Setiap butir pasir buku pelajaran bagiku
Kusaksikan semesta di dalam
Dan keluasan mendekapku seperti seorang ibu
Batang kayu untuk perahu masih lembut tapi kuat
Kuhadapkan senantiasa jendelaku ke wajah kebebasan
Aku tak tahu mengapa aku tak takut pada bahaya
Duri dan kepedihan kukenal
Melalui kakiku sendiri yang telanjang

Arus begitu akrab denganku
Selalu ada tempat bernaung jika udara panas
Dan angin bertiup kencang
Tak banyak yang mesti dicemaskan
Oleh hati yang selalu terjaga
Pulau begitu luas dan jalan lebar
Seperti kepercayaan
Dan kukenal tangan pengasih Tuhan
Seperti kukenal getaran yang bangkit
Di hatiku sendiri

KEMBALI TAK ADA SAHUTAN DI SANA

Kembali tak ada sahutan di sana
Ruang itu bisu sejak lama dan kami gedor terus pintu-pintunya
Hingga runtuh dan berderak menimpa tahun-tahun
penuh kebohongan dan teror yang tak henti-hentinya

Hingga kami tak bisa tinggal lagi di sana memerah keputusasaan dan cuaca
Demikian kami tinggalkan janji-janji gemerlap itu dan mulai bercerai-berai
Lari dari kehancuran yang satu ke kehancuran lainnya
Bertikai memperebutkan yang tak pernah pasti dan ada
Dari generasi ke generasi

Menenggelamkan rumah sendiri ribut tak henti-henti
Hingga kautanyakan lagi padaku
Penduduk negeri damai macam apa kami ini
raja-raja datang dan pergi seperti sambaran kilat dan api
Dan kami bangun kota kami dari beribu mati.
Tinggi gedung-gedungnya di atas jurang dan tumpukan belulang
Dan yang takut mendirikan menara sendiri membusuk bersama sepi
Demikian kami tinggalkan janji-janji gemerlap itu
dan matahari 'kan lama terbit lagi

DOA UNTUK INDONESIA

Tidakkah sakal, negeriku? Muram dan liar
Negeri ombak
Laut yang diacuhkan musafir
karena tak tahu kapan badai keluar dari eraman
Negeri batu karang yang permai, kapal-kapal menjauhkan diri
Negeri burung-burung gagak\
Yang bertelur dan bersarang di muara sungai
Unggas-unggas sebagai datang dan pergi
Tapi entah untuk apa
Nelayan-nelayan tak tahu
Aku impikan sebuah tambang laogam
Langit di atasnya menyemburkan asap
Dan menciptakan awan yang jenaka
Bagai di badut dalam sandiwara
Dengan cangklong besar dan ocehan
Batuk-batuk keras
Seorang wartawan bisa berkata : Indonesia
Adalahberita-berita yang ditulis
Dalam bahasa yang kacau
Dalam huruf-huruf yang coklat muda
Dan undur dari bacaan mata
Di manakah ia kausimpan dalam dokumntasi dunia ?
Kincir-kincir angin itu
Seperti sayap-sayap merpati yang penyap
Dan menyebarkan lelap ke mana-mana
Sebagai pupuk bagi udaranya
Lihat sungai-sungainya, hutan-hutannya dan sawah-sawahnya
Ratusan gerobag melintasi jembatan yang belum selesai kaubikin
Kota-kotanya bertempat di sudut belakang peta dunia
Negeri ular sawah
Negeri ilalang-ilalang liar yang memang dibiarkan tumbuh subur
Tumpukan jerami basah
Minyak tanahnya disimpan dalamkayu-kakyu api bertumpuk
Dan bisa kau jadikan itu sebagai api unggun
Untuk persta-pesta barbar
Indonesia adalah buku yang sedang dikarang
Untuk tidak dibaca dan untuk tidak diterbitkan
Di kantor penerimaan tenaga kerja
Orang-orang sebagai deretan gerbong kereta
Yang mengepulakan asap dan debu dari kaki dan keningnya
Dan mulutnya ternganga
Tatkala bencana mendamprat perutnya
Berapa hutangmu di bank ? Di kantor penenaman modal asing ?
Di dekat jembatantua
malaikat-malaikat yang celaka
Melagu panjang
Dan lagunya tidak berarti apa-apa
Dan akan pergi ke mana hewan-hewan malam yangterbang jauh
Akan menjenguk gua mana, akan berteduh di rimba raya mana ?
Ratusan gagak berisik menuju kota
Menjalin keribuan di alun-alun, di tiap tikungan jalan
Puluhan orang bergembira
Di atas bayangan mayat yang berjalan
Memasuki toko dan pasar
Di mana dipamerkan barang-barang kerajinan perak
Dan emas tiruan
Indonesia adalah kantor penampungan para penganggur
yang atapnya bocor dan administrasinya kacau
Dijaga oleh anjing-anjing yang malas dan mengantuk
Indonesia adalah sebuah kamus
Yang perbendaharaan kata-katanya ruwet
Dibolak-balik, digeletakkan, diambil lagi, dibaca, dibolak-balik
Sampai mata menjadi bengkak
Kata kerja, kata seru, kata bilangan, kata benda, kata ulang,
kata sifat
Kata sambung dan kata mejemuk masuk ke dalam mimpimu
Di mana kamus itu kau pergunakan di sekolah-sekolah dunia ?
Di manakah kamus itu kaujual di pasaran dunia ?
Berisik lagi, berisiklagi :
Gerbong-gerbong kereta
membawa penumpang yang penuh sesak
dan orang-orang itu pada memandang ke sorga
Dengan matanya yang putus asa dan berkilat :
Tuhanku, mengapa kaubiarkan ular-ular yang lapar ini
Melata di bumi merusaki hutan-hutan
Dan kebun-kebunmu yang indah permai
Mengapa kaubiarkan mereka .

Negeri ombak
Badai mengeram di teluk
Unggas-unggas bagai datang dan pergi
Tapi entah untuk apa
Nelayan-nelayan tak tahu

1971

DALAM PASANG

Dan pasang apalagikah yang akan mengenyahkan kita, kegaduhan apa lagi?
Sekarat dan terbakar sudah kita oleh tahun-tahun penuh pertikaian,
ketakutan dan perang saudara
Terpelanting dari kebuntuan yang satu ke kebuntuan lainnya
Tapi tetap saja kita membisu atau berserakan
Menunggu ketakpastian
Telah mereka hancurkan rumah harapan kita
Telah mereka campakkan jendela keluh dan ratap kita
Hingga tak ada yang mesti kuceritakan padamu lagi
tentang laut itu di sana, yang naik dan menarik ketenteraman ke tepi
Kecuali serpih matahari dalam genggam kesia-siaan ini
yang bisa menghanguskan kota ini lagi
- Raja-raja dan kediaman mereka yang bertangan besi
Kecuali segala bual dan pidato kumal yang berapi-api
Antara kepedihan bila kesengsaraan dan lapar tak tertahankan lagi

Kita adalah penduduk negeri yang penuh kesempatan dan mimpi
Tapi tak pernah lagi punya kesempatan dan mimpi

Kita adalah penduduk negeri yang penuh pemimpin
Tapi tak seorang pun kita temukan dapat memimpin
Kita....

BARAT DAN TIMUR

Barat dan Timur adalah guruku Muslim, Hindu, Kristen, Buddha,
Pengikut Zen dan Tao
Semua adalah guruku
Kupelajari dari semua orang saleh dan pemberani
Rahasia cinta, rahasia bara menjadi api menyala
Dan tikar sembahyang sebagai pelana menuju arasy-Nya
Ya, semua adalah guruku
Ibrahim, Musa, Daud, Lao Tze Buddha, Zarathustra,
Socrates, Isa Almasih Serta Muhammad Rasulullah
Tapi hanya di masjid aku berkhidmat
Walau jejak-Nya
Kujumpai di mana-mana.

SAJAK SAMAR

Ada yang memisah kita, jam dinding ini
ada yang mengisah kita, bumi bisik-bisik ini
ada. Tapi tak ada kucium wangi kainmu sebelum pergi
tak ada. Tapi langkah gerimis bukan sendiri

1967

MADURA

Angin pelan-pelan bertiup di pelabuhan kecil itu
ketika tiba, dengan langit, pohon, terik, kapal
dan sampan yang tenggelam di pintu cakrawala
Selamat pagi tanah kelahiran
Sebab aku tak menghitung untuk ke berapa kali
Kapan saat menebal pada waktu
Sebab aku tahu yang paling berat adalah rindu
Sangsi selalu melagukan hasrat dan impian-impian
Dan adakah yang lebih nikmat daripada bersahabat
dengan alam, dengan tanah kelahiran, dan
dengan kerja serta dengan kehidupan?
Aku akan mengatakan, tapi tidak untuk yang penghabisan:

Ketenangan Selat Kamal
adalah ketenangan hatiku
membuang pikiran dangkal
yang mengganggu sajakku

kurangkul tubuh alam
seperti mula kelahiran Adam
sedang sesudah mengembara
baiklah kita rahasiakan

dari perjalanan ini
aku membawa timbun puisi
bahwa aku selalu asyik mencari
keteduhan mimpi

kebiruan Selat Kamal
adalah kebiruan sajakku
dan terasa hidup makin kekal
sesudah memusnah rindu

bertemu segala milik dan hak
dalam cinta dan sajak
noktah-noktah berdebu di bersihkan
di kedua tangan


kuberi pula salam sayup
kepada pantai yang berbatas pasir
dan langit yang mulai redup
pada waktu sajak lahir

Kedangkalan Sungai Sampang
adalah kedangkalan hatiku
menimbang hidup terlalu gamang
dan di situ ketergesaan mengganggu

dan terlalu tamak
dengan kesempurnaan
dengan sesuatu yang bukan hak
dengan kejemuan

tetapi sekali saat tiba juga
pada suatu tempat
tanpa petunjuk siapa-siapa
asal kita bersempat

mengerti juga kenapa kiambang
bertaut sepanjang sungai
dengan belukar dan kembang-kembang
sebelum kita sampai ke dasar dan muaranya

Diamnya Sungai Sampang
adalah diamnya sajakku
sekali waktu banjir datang
sekali waktu airnya biru

dan bertetap tujuan
ke suatu muara
yang berasal dari suatu daerah pegunungan
untuk sumber pertama

Kerendahan Bukit Payudan
adalah kerendahan hatiku
menerima nasib dalam kehidupan
di atas kedua bahu

sesekali pernah kita
tidak tahu tentang kelahiran
dan bertakut menjadi tua
karena ancaman kematian

Keramahan Bukit Payudan
adalah keramahan sajakku
untuk mengerti kepastian
yang lebih keras dari batu

sesekali pernah kita
tidak tahu ke mana mengembara
kemudian muncul kembali di tanah kesayangan
dengan kehampaan di tangan

tak seorang menyambut datang
tak seorang menanti pulang
tak seorang menerima lapang
atau membacakan tembang-tembang

dan kesia-siaan begini
akan selalu kualami
namun tak selalu kusesali
sebab kubenam sebelum jadi

Keterpencilan desa Pasongsongan
adalah keterpencilan hatiku
sebelum memulai perjalanan
ke jauh kota dan pulau

tapi keabadian lautnya kini
telah mengembalikan cintaku
tanah yang pernah tersia sebelum dimengerti
dan ditinggalkan rasa kebanggaanku

dan sebagai anak manusia
sekali aku minta istirah mengembara
berhenti membuat puisi yang mendera
dan berhenti memikat dara-dara



sebab di sinilah tumpahnya
darah kita pertama
dan terakhir berhentinya
mengaliri nadinya

1967

FRAGMEN

Belumkah ada lindap sebelum
kau kembali ke kamar
yang suram dan kutandai musik beku?
Bayangan itu jadi gerimis
dan meleleh di kebon rumah yang gelap

Aku jadi garang pada malam seperti itu
dan ingin kukecup bibirmu semutlak mungkin
seperti juga hujan di padang-padang
dengan ringkik kuda yang memburu mega terbit

Rampungkan sepimu dan matangkan dagingmu
sampai jadi lengkap perjalanan kita nanti
pelancongan menuju dunia tanpa penyesalan
hingga pada suatu hari nanti
aku tak lagi bermimpi
tentang gua di rimba perburuan itu

1971

TUHAN, KITA BEGITU DEKAT

Tuhan,
Kita begitu dekat
Sebagai api dengan panas
Aku panas dalam apimu

Tuhan,
Kita begitu dekat
Seperti kain dengan kapas
Aku kapas dalam kainmu

Tuhan,
Kita begitu dekat
Seperti angin dan arahnya

Kita begitu dekat

Dalam gelap
kini aku nyala
dalam lampu padammu

1976

SAJAK PUTIH

Kita telah menjadi sekedar kenangan
lembaran asing pada buku harian
seperti tak pernah kautuliskan
peristiwa itu

Bunga-bunga sudah berguguran
tangkai dan kelopaknya
Pohon-pohon kering
Dan jendela jadi kusam
Seperti senja bakal tenggelam

Dan Titi telah semakin tua
meninggalkan masa kanak-kanaknya
Seakan cairan lilin
yang mengental
jadi malam

Dan masa-masa cintamu
hanyalah onggokan
puntung rokok
di lantai
yang dingin

Dan dengan pot-pot bunga
betapa asingnya
Kita

1971

EXODUS

Menyandang beban sunyi ini di sini
Menyandang beban salib ini di sini
Menyandang kehilangan
Yang seakan
Genderang mainan dipukul ombak

Di antara teluk dan pasir pantai
Serta senja yang menutup dinding laut ini
Kau mencari
Jejak nelayan
Nyiur tidak mendesir dan pelabuhan
Sudah jarang dikunjungi kapal-kapal

Menyandang sepi ini di sini
Menyandang kesal pikiran dan kekacauan ini
Menyandang mainan
Yang diberai ombak, senja, teluk dan pasir hitam
Seakan pecahan batu karang pada pantai yang legam

Kau mencari
Jejak nelayan
Nyiur tidak mendesir dan pelabuhan
Sudah jarang dikunjungi pelaut

Burung-burung pantai pergi, senja pergi
Tinggal genderang mainan ini
Berbunyi dan berbunyi juga
Dan betapa dekatnya sekarang
Hari haus dan lapar kita
Betapa dekatnya

1970

MEDITASI

Itulah bidadari Cina itu, dengan seekor kilin
dan menyeret kainnya basah: menggigil dalam kuil
(daun-daun salam berguguran dan di beranda
masih terdengar suara hujan, hujan pasir) Ia
menunjukkan yin-yang yang kabur di atas pintu
dan di mataku terasa hembusan angin yang merabunkan
(lihatlah, ujarmu, ia mengajak kita ke tempat sepi
di mana berdiri sebuah makam kaisar yang mati
dalam pertempuran merebut kota dari desa) Angin
berlarian menghamburkan bau-bauan dari tangan
perempuan-perempuan yang wangi dan kedinginan
di atas gapura yin-yang yang mulai memuat lumut
dengan tulisan-tulisan tua yang tak terbaca sudah
(langit adalah bayang-bayang, kau menyesal
telah memimpikannya; dan di sebelahnya
berdiri gedung, beribu sungai dan tebing gunung
yang terbuat dari batu, anggur dan lempung
yang kini menampakkan bintang kemukus yang panjang)

Itulah bidadari Cina itu dan mendekat ke arahmu
memandang dinding dan bertelanjang di sofa, tapi tak mengerti
(ia membeku jadi arca, waktu tentara kaisar mulai
membangun kota di langit) dan beribu mantra
memenuhi telinganya yang tuli

1972

ANGIN: MENDESIR LAGI

Angin; mendesir lagi
Hampir mengantuk
Ada sepi
Berbisik di dahan-dahan pohon
Lagi tahu, gerimis turun

Di luar kamar yang tembaga
Di luar rongga kata
Engkau gemetar karena musim
Cemas dalam kata
Dan tahu: ada yang tiada
Bangkit di jendela

Dan mungkin: senja

1968


BAHKAN

Bahkan jarum jam pun hanya mengulang
andai detiknya bukan kejemuan, kau tangkap
keluh bumi seperti anak yang tak habis berharap
dan mata kecilnya yang gelisah
memandang laut hanya dunia garam dan ikan-ikan

Bayang-bayangmu juga
yang susut karena lampu di pelupukmu padam
Lebih menjemukan dari rembang petang
Tapi berangkatlah!
Di seberang gelombang mungkin udara terang

1976

ANAK

Anak ingin menangkap gelombang
rambutnya memutih seketika

Ia mengerti laut dalam
tapi tak tahu di mana suaranya terpendam

Ketika angin berhembus
bahkan dahan-dahan pun diam

Ketika air surut
bahkan pasang pun tak karam

Ketika tidur merenggut
di langit tak sebutir bintang

1975

GNOTI SEAUTON

Manusia bebas, ruhnya bagai
firman Tuhan, embun dalam cuaca putih
mencucinya
Manusia bebas, ruhnya berjalan
ke tempat-tempat jauh dan menemui para nabi dan orang suci

Di muka laut, ditemuinya batu karang
dan awan buruk

Manusia bebas, ruhnya bagai
rantai emas yang dibelenggu matahari dan waktu

Di tengah alam yang sempit: Nasib
menyesak jantung dan tenggorokan
dan menimbulkan batuk dan dahak kotor
di tengah alam yang sempit: Kita
mencari puncak kenikmatan

Manusia bebas, ruhnya mencari
bayang-bayang Tuhan

gambar binatang
perwujudan dewa-dewa
yang putus asa

Di gerbang kuil besar:
Ruh terbang dan tidak kembali

1969

IN MEMORIAM AMIR HAMZAH

Keranjang itu masih menatap. Tahun mau berbunga
Tapi langit berangkat kemarau di jendela

Tanganmu: Mulut yang mengucapkan kebenaran ombak
Tapi pendayung-pendayung datang terlambat

Kita jenguk ke air. Obor itu menyalakan malam
Angin itu angin kita. Tapi tak menghembus sampai senja
lain tiba.

1976




BATIMURUNG I

Tubuhmu membuat air di jeram ini berterjunan
lagi
lebih gemuruh kini melemparkan rusukku
ke tebing-tebing gunung

Aku terbangun
seperti kupu dari pompongnya
Perih
karena kelahiran

Tapi sumber-sumber yang kutemukan
dari sanalah kata memancurkan sajak dan mantra
Ladang-ladang yang kau gemburkan
kutanam di sana segala jenis padi dan buah-buahan

Penat kini kupikul hasil panennya
berupa rindu dan cinta
berupa gelisah dan luka
Seperti lama dulu
kupapar lagi jiwaku dalam madu di atas bara

1977

KAU BUKAN PERAWAN SUCI YANG TERSEDU
: saras

Aku tak sedang menyulam
kenangan
Atau menyeberangkanmu
ke musim yang semi

Tanamlah jarum sulamku
Menjadi semak berdaun duri
Sebelum bandul pendulum itu
Menjemputmu,
bayanganmu
Menjemput semua yang luput
dari matamu

Aku tak sedang memintal tangismu
jadi nasib baik
Roda pemintal telah kuistirahatkan

Kau bukan Saraswati
Yang menggugurkan helai-helai teratai
di tangan kirinya
Bukan juga perawan suci
yang tersedu

Tuhan tak akan berkata di telingamu
Karena angsa-angsa pergi
Meninggalkan rebab, genitri, dan
keropak meragu, juga
tangkai teratai yang layu
Jogja, 2005


KERIKIL BERJATUHAN DARI LANGIT
: tsabit kalam banua

Tiba-tiba
Kerikil berjatuhan dari langit
Menjelma hujan yang
membangunkan tidurmu

Lalu kau memanjat jendela
Mengintip halaman perlahan
Mengintip hujan, pohon-pohon kedinginan
dan ayunan basah

Bunda, jangan ribut.
Hujannya sedang berubah jadi kerikil.
Bisikmu dengan mata yang kau sipitkan
Sambil menarik ibumu ke kamar tidur

Di luar,
Hujan menghapus malam
Menyesatkan malaikat dalam gelap
Dan bocah kecilku lelap
Dengan kerikil-kerikil berjatuhan
dalam mimpinya
Jogja, 2004-2005


GANDUM-GANDUM RANUM
Apa jadinya
Bila gandum-gandum yang hampir ranum
di ladang
Menangis kesepian
Kaena nyaring bunyi senapan mesin
Karena mayat serdadu tua itu
dilihatnya menganga

Sekotak coklat, belum dibagikan
Sebungkus rokok, masih tersegel rapi
Dan setumpuk kartu pos
yang belum sempat dibalas
Aku belum mau mati.

Kuambil kotak coklat itu
dan kugenggam
Dan segera leleh
Seperti sayap bidadari
yang hilang
jadi sebaris cahaya

Anganku terbang
Menggantung,
melayang
Saat anak-anak kecil murung
Menyamar jadi peri kesedihan
jadi peri masa lalu
yang kehilangan bayangan

Peri kecil berwajah sedih
Bidadari mungil tak bersayap
Dan cahaya bintang yang murung
Hangus terbakar cuaca,
remuk jadi arang hitam
Seperti lelehan coklat
di tanganku

Mayat serdadu tua itu
masih menganga
Aku letih.
Tapi istirahku belum usai
di pangkal penghabisan.

Apa jadinya
Bila gandum-gandum yang hampir ranum
di ladang
Menangis kesepian

Tapi waktu mengingatkanku pada
sebuah tugu batu tanpa nama
Di sisi ladang gandum
kian menguning
Denpasar, 2002


PUISI
Menyeberangi sebaris puisi
Seperti melewati sebuah taman
Aku jadi bangku, dan
cahaya matahari
serupa waktu

Seseorang akan datang
membaca ulang
Sesat ke ujung malam
Atau menemui terang
fajar terakhir

Seseorang akan datang
dan duduk di bangku
Menulis sebuah pesan
Atau membisikkannya perlahan
Bukan kepada angin
tapi pada semesta

Puisi mungkin mirip
keluh anjingku
Samar, sekaligus nyata
Denpasar, 2001


IMPERMANENCE
Puisi beterbangan jauh ke langit
Kian tak terjangkau lenganku
Meski warna-warna melambungkan nyawaku
Tanda-tanda kembali menjatuhkan hujan
juga aku

Kita selalu menyepi dalam diri
Di kota yang selalu gegas dengan bunyi
Jerat apakah yang tuhan nyatakan untukku
Sesat apakah yang tuhan nyanyikan padaku

Ini kotak pandora yang dititipkan Minerva
Peti berukiran cahaya kata-kata
Mantra-mantra luruh menyentuh cahaya

Dan puisi
Puisi-puisi pergi menjauh dengan gaduh
Bersama nujuman yang ranum oleh waktu

Siapa yang berani menitah kuasa waktu
Bermain-main dengan kesementaraan waktu

Tukang tenun yang ditenung itu
Melilitku dengan benang-benang hitam
Menghimpitku tanpa celah arah
Aku tak melihat anak panah
menuju pintu-pintu cahaya

Aku menyerah
Sejenak menapaki jalan menuju rumah
Burung-burung menderukan angin
Menderukanmu yang sekarat dan hampir mati

Aku membaca perangai riangmu
Mengiangkan igau-igau kesakitan
Di senyum alis matamu

Dan aku
Aku tak mampu berlari
Aku tak dapat lagi menjangkau puisi
Jogja, 2012


ULUWATU
Embun-embun di tepi daun
menetes pelan
menangis bagai gerimis
akhir senja

liar kupu-kupu putih
yang mulai
menyeberangi musim
mengubah senja
jadi malam curam
kupu-kupu putih
sayap-sayap letih
yang kecil
kaki para dedari yang mungil
tercermin pada kaca pecah
seperti langkahmu
mendaki tangga batu
langkah kakimu ringan
seringan kaki kupu-kupu putih
yang menggantung layang
pada bulan

tunggulah hingga kupu-kupu
beranak pinak
ranting lalang kering yang murung
jatuh ditelan angin
yang perlahan hilang
hanya bintang remang

saat sayup kudengar
rancak tari kecak
dari tebing pantai Uluwatu
dalam damai
yang tak pernah usai
Denpasar, 2001


RUMAH LEBAH
Sebab tanda selamat
Selalu bernaung di bawah puisi
Aku ziarah ke rumah lebah
Tempat setiap kata keramat
Redam dan terendam dalam-dalam

Bekukan tinta
Karena kata muncul di bibir juga
Mendendang lengang pokok dan cabang

Dinding-dinding rebah
Angin telah menerobos rumah
Melewati seribu lubang dan celah-celah
Mengepung lalu menggiring kita
Kepada puisi dan makam kata
Bantul, 2008


MAKAM KECIL
Terbaring di sisi
makam kecil, adikku.

Aku terbayang pohon natal
Cemara penuh cahaya
dan boneka para serdadu
tergantung
terayun bisu
Kertas-kertas emas
Buah-buah kayu
Berdesakan di ranting

Terbaring di sisi
dipan mungil, adikku.

Aku ingat, mata biru
Rambut putih, wajah peri
Senyum bidadari yang sunyi

Kamar tidur kecil, diayun angan
Terbaring di sisi, makam kecil, adikku
Denpasar, 2000


SARI GADING, YAJNA SEPASANG NELAYAN
I
Cemasku terbit sudah
Ketika kugiring waktu terakhir
sebelum pasir menjeritkan
tangismu yang pertama
(Kecemasan ibu
Yang tak dapat kau lihat
di wajah perempuan mana pun)

Aku terdiam
Memandang hampa semesta
dan jagat raya
Karena keheningan
aku percaya
adalah teman paling kekal
Ombak yang tenang
adalah pertemuan dingin
di batas nasib
Perjumpaan akrab pesisir
yang dibelai lembut buih
dan tiupan angin
Pergulatan yang menyimpan guruh
Antara pusaran air di dasar laut
dengan pijakan bumi
Saling tahan, saling gerus
Saling beradu kesunyian

II
Aku bumi
tak pernah miskin gelisah
Kau langit
tak juga padamkan gundah
Kita sama-sama ringsut
mengadu hidup
dengan patahan kata

Segalanya tak bersuara
(kecuali alam yang terus bekerja)

Napas sendiri terdengar
serupa sengal anjing yang meronta
dalam ikatan
Degup yang hidup di dada
seolah karang
retak dilebur gelombang
sepanjang malam

Lalu lewat udara kita menanya makna
Lewat udara kita susun dongeng
tentang putri kecil
Yang akan dimimpikan anak-anak kecil
di setiap dengkurnya
Dan ranggasan daun-daun kering
di musim hujan
Dengan sendirinya
Menggenapi kisah panjang
yang sesat di lautan

Sepanjang umur
Laut tak pernah sempurna, sayangku
Laut yang jernih
tempat kita akan berpulang

III
Om, sembah ing anatha tinghalana de tri loka sarana
wahyadhyatmika sembahinghulun i jong tan hana waneh
sang lwir agni sakeng tahen kadi minak sakeng dadi kita
sang saksat metu yan hana wwang amuter tutur pinahayu

Takdir tergurat, anakku
Dengan saudara tuamu, sang ari-ari
Kubeli bubur merah putih,
empuk-empuk, pisang saba
sunggar dan sebuah tabung bambu
yang berisi air,
juga sebilah sisir

Lalu karena kasih
Kuserahkan ikhlas
Sekecup hidupku,
hidupmu
pada Hyang Agung
dan Dewa Dewi

Ini yajna yang tak terganti sepanjang umur
di sisa hari yang murung
Meski tanganku tak bisa mengusap kulitmu
Air susu tak akan tumpah
memerahkan wajah
atau ngalir memasuki jantungmu
Dan mulut tak sempat melantun tembang pucung
juga pesan hidup yang tersirat di kidung suci
untuk pengantar tidurmu

IV
Pantai yang keruh
pasir yang lusuh
Kaukah pilu yang menjelma suratan buruk
Aku datang dengan beribu kelu

Sari Gading namaku
Perempuan yang lahir sebagai kurban
dan menjelma pohon gebang
yang setia mencumbu bumi
Persembahan bagi kau nelayan, sepertimu

Lalu sempurnalah hidupmu
Lanjutkan kembaramu
lewat sepenggal kisah bagi ritus laut
Dengan peninggalanku
(Wasiat tanda sujud pada ayah ibu
yang membuatku mencium aroma pantai)

Angkat sauh, layarkan perahu
Haturkan sesaji, dan lafalkan mantra
Biar jiwaku menyambangi kalian
Lewat sebilah harap meski pengap
Yogya, 2007
Puisi ini terinspirasi cerita dari Bali berjudul Sari Gading
Catatan:
1. Yajna (baca: yadnya, bhs sanskerta): persembahan, kurban
2. Adalah sebuah kidung yang termuat dalam Kekawin Arjunawiwaha, artinya
Om, sembah hamba yang hina semoga dilihat oleh Beliau yang menguasai tiga dunia
Lahir bathin sembah hamba ke hadapan kakiMu tiada lain
Bagaikan api di dalam kayu, bagaikan minyak di dalam santan
Yang akan nyata tampak bila ada orang yang membawa pikiran/pengetahun ke jalan yang
benar
3. Pucung: adalah salah satu jenis tembang di Bali dengan gu laghu 4u 8u 6a 8i 4u
- 8a


EMPAT BURUNG DALAM DONGENG TIDURMU
(1)
Malaikat tersedu
Tiga pendeta sangsi
Berulang menimbang
mawas diri
:adakah kematian
jadi jalan paling suci
meski dosa tak pernah luput
menghampiri diri?

Ini harus dilalui
Bukankah tiap kematian
memikul satu kelahiran baru

(2)
Kota makin bising
Bukan karena ringkik kuda
Atau rintih sapi
penarik pedati

Aku terbangun dalam keramaian
Yang enggan memaknai hari
Dengan menghirup dalam-dalam napas
Kota pun menangisi kematiannya
Tentang musim yang tak pernah jelas
nampak

Tulisan-tulisan tak terbaca
Banyak cerita tak diceritakan
Raib di tangan para rahib
Seolah disucikan
Dipenggal arus
waktu ke waktu
Menghanyutkan kata
hingga kuburnya

Ladang adalah tempat istirah
Menjelma makam
Penghabisan nama-nama
di hari yang murung
: akankah peri-peri
memberi sihir
yang membuat tanah
jadi hijau?

Lalu kembalilah padaku
dari hidup yang teraniaya
Saat bulan gemetar di kejauhan
Setiap cerita
menjelma pulau-pulau kecil
dan laut yang mengitarinya

(3)
Langit jernih
Bidadari pagi sibuk
Membunuh satu demi satu bintang
dan kilau murungnya

Detik-detik bertalu
diburu biru waktu
Orang-orang menabuh sunyi

Lalu pergilah mereka
Empat burung dengan
empat benih padi berwarna

(4)
Aturan-aturan tak mesti dipatuhi
Badai mengubahnya lebih indah
dari segala arah angin
Memukul-mukul bebatuan
Dengan tangannya
yang bernama ketiadaan

Retaklah batu,
Seperti bulat mata mereka yang pucat

Terbanglah kalian
Dara, Kuteh dan Titiran
Terbang jauh dalam mimpi
Sebelum mimpi buruk mengejar

Kita yang berpulang
Menjelang malam
Membawa keluh yang selalu sama
tentang puisi

Gelegak rindu ingatan
pada lahir kata
Hijau rahim kata-kata

(5)
Inilah kami, Dewi
Tiga burung, dan
tiga benih padi berwarna

Matahari langsat dengan ronanya
Mungkin tubuh jadi gumpal getir
Dan amis kental darah
meruah
Menggembur tanah

Sembunyikan kami
Lewat benih-benih ini, Dewi
Dengan sihir di keempat tanganmu
Biar tualang usai tanpa rupa

(6)
Aku gelisah
Dengan tinta yang makin beku
Menuliskan sekian perjalanan
Entah untuk kali yang keberapa

Hidup cuma hitam-putih
Kita, bidak-bidak catur
Tercenung
Memikirkan jalan nasib
sendiri-sendiri

Lalu padamkan doa
dan ayat-ayat suci
(meski tak selalu sia-sia)

Tuhan yang kosong
: adakah Ia
semesta yang selalu hampa?
Jogja, 2007
Puisi ini terinspirasi kisah dari Bali berjudul Empat Burung Pembawa Empat Bijih Padi
Berwarna.


MALAM NATAL
Tiap tiba advent
Aku tanya bintang
: adakah perabuan terakhir
untuk jasadku?

Misa dan puasa
tak juga selesai
Lalu orang-orang melantunkan
eleginya sendiri

Bayangkan
Perang-perang, yang
lewat sekejap
Peluru-peluru menyayat kulit
tak sengaja

Musim mengering, cuaca luka
Bunga-bunga menutup kelopaknya
Meneteskan wangi yang tersisa
dan menguap di udara
Sebelum sampai di tanah yang merah
pasrah karena anyir darah
: adakah perabuan terakhir
untukku?

Sedang mayat-mayat
masih pulas tidur
Dengkur tertiup angin yang layu
Dan bisikan bisu
: tak ada lagi tempat
untukmu
Jogja, 2004


ZIARAH SUNYI
apa kau percaya
malaikat yang melindungiku
adalah arwah kakek nenek
yang lama kurindukan

apa kau percaya
peri yang menemaniku
adalah ruh anjing hitam
yang menjaga masa kecil

kini aku terdiam
ketika orang-orang tak lagi percaya
pada malaikat, peri-peri
dan kilau sayapnya

: aku terbuang
Jogja, 2006


TENTANG KOMANG IRA PUSPITANINGSIH
Komang Ira Puspitaningsih lahir di Denpasar, 31 Mei 1986. Puisi dan cerpennya pernah
dimuat di beberapa media massa, al: Bali Post, Kompas, Koran Tempo, Jurnal Puisi, Pikiran
Rakyat, Padang Ekspres. Beberapa kali memenangkan atau menjadi nominasi dalam lomba
penulisan puisi. Puisinya juga terhimpun dalam beberapa antologi bersama, al. 100 puisi
terbaik Indonesia versi Pena Kencana 2008 dan 60 puisi terbaik Indonesia versi Pena
Kencana 2009. Sepertinya, Kau Bukan Perawan Suci yang Tersedu adalah antologi puisi
tunggalnya yang pertama.


PUISI-PUISI DIAN HARTATI
Selasa, 11/02/2014 - 23:43 Sastra Seratus ...
Lain-lain |
Koleksi |
Puisi |
Dian Hartati
KALENDER LUNAR
mencermati bulan
gerak putar yang tak pernah diduga
tibatiba purnama

kau selalu bercerita
tentang malam dan serigala
manusia dan petaka
sesuatu yang bernama kala

di setiap bentukan bulan
kau memandang langit mahabintang
tibatiba gerhana
SudutBumi, 7 Agustus 2009

MATA ORANG PESISIR
aku bertemu mereka, serombongan anak muda
datang dari tempat tak terduga
ramai
memainkan musik jiwa

par amparan paser pote
rampak naong camara odang
adu asre mabunga ate
e setthina neng senengan*

tibatiba tubuhku ingin bergerak
irama apa ini
tanganku terbawa arus, terbawa cerita
terpasung katakata yang tak kumengerti

alunan perkusi

aku bertemu orangorang pesisir
matamata itu bercerita
tentang nelayan
patroli kampung
rangkuman nyanyian alam

mata itu membara
mengenlkan padaku akan sebuah irama
patroli
musik orangorang pesisir

par amparan paser pote
rampak naong camara odang
adu asre mabunga ate
e setthina neng senengan*

aku bertemu mereka di sebuah kota, berjabat tangan
mata itu memercikkan sahaja
keramahan para pendatang
SudutBumi, 7 Agustus 2009

* Lirik lagu Pantai Lombang yang dibawakan ole le Gung Mozaik Perkusi, kelompok musi
dari Legung Timur, Kecamatan Batang-batang, Sumenep, Madura.

TARU MENYAN
1/
embun masih mengental di truyan
sayupsayup terdengar kulkul
teratur
membawa isyarat

tung tung tung
sebuah berita disampaikan angin
siapakah adik kecil yang mati
hingga alam begini suram
tak ada yang tahu jejak usia

2/
orangorang berkumpul
membawa perkakas
menyiapkan upacara
banjar ramai dan truyan menjadi putih
digiring ruparupa sesaji

3/
langkahlangkah begitu layu
taru menyan yang dituju
mencapai sema muda
kuburan bagi jasad yang selalu utuh
diawetkan waktu

SudutBumi, 20 Februari 2009

PATENGAN
buat: Acep Zamzam Noor

kedatanganku disambut gigil batu
di antara perahu
pekat halimun
juga sepi

aku mencari titik beradamu
duapuluhenam tahun yang lalu

gerak rumputan menceritakan kisah
rengganis dan ki santang
membawa kidung gugur daun
mencipta riak di sehampar kebun teh

masih samar kurasakan tempatmu
udara mencipta beku di separuh tubuh
di sinikah kau berdiri menghitung lagu jiwa,
di sinikah kau anyam benangbenang kecintaan?
langkahlangkah itu terpatri

betapa luas jangkauanmu
menuju pulau sasaka
tempat bertemunya dua hati
peraduan di suatu kisah

sepi melingkup saat ini di patengan
gemuruh angin memecah wajahmu
pohonan melindapkan kuasa

akh
aku dipeluk hangat kabut
: sendiri
SudutBumi, 5 Juni 2006

MANIK DARI PUGUNG RAHARJO
merinduimu ketika malam jadi sempurna
menjejak jalan menuju bukitbukit dan pohonan
lereng dan kemilau carnalim
adalah sebuah pertemuan di juring harapan
undakan punden
akarakar kenangan saling membelit
mengisahkan jambat hangkirat
si pahit lidah
juga kisah tentang anak dalam

kemilau sampai di kemiling
ekskavasi tiada akhir
ketika itu tahun saka
bekal kubur
dari zaman ke zaman

rambutmu manik,
tergerai di semilir angin
melepaskan kuccit
meremangkan setiap pandangan
tawamu begitu lirih
meraba kupukupu di leher
jenjang
lelah berlatih tari melinting
bergurau
saling berbalas sagata bukahaya
gadis dan bujang
malammalam jadi kenangan

sementara kakak
hening dalam sesat
tatapnya nanar
sunyi dalam ritual mantok
diingatnya muanyak
jauh di krui
menjelmakan sengkarut peristiwa

mamak berdiang di depan kancah
menunggu kopi menghitam
kagrih
panas bara
sedang musim berganti selalu
dan
selalu berubah

moyangku dari zaman tumi
saling berebut masuk hutan menjumpai muli putri
di pangkalan sumur jernih
menyimak rayuh
suara kulintang sebagai tolak bala tumbul dewani
titisan dewa
agar diberkati
disyarati

manik kekasihku,
diorama kampung halaman menyadarkan aku
seorang pejalan lelah
merapal sarambai juga cerawan
dimensi waktu telah meluruhkan
keras hati

kisah rakata diletup dasyatnya
goncang bumi ganggu tidur

ingatlah rumahmu di desa wana
bubungan seolah trapesium
sebuah tradisi di rumah panggung

senja ini akan kuceritakan tentang laut
gadinggading mengambang karena keangkuhan manusia

dengarlah kahindang ini, sayang
raga yang masai karena jumpa
perahuperahu tinggalkan pesisir pantai
pendatang huni sang bumi ruwa jurai

manik, kubawa serta kemilau tubuhmu
di biru lautan
harihari yang kutinggalkan
hanya sekedar siasat
matahari itu pasti kembali
menyinari punggung sebuah bukit
SudutBumi, 8 Agustus 2006

Catatan:
carnalim: jenis manic-manik kaca
kuccit: kucir rambut
sagata bukahaya: bentuk pantun percintaan
sesat: rumah adat
mantok: menenen kain tapis
muanyak: seni vocal
kancah: kuali besah
kagrih: aduk
muli putri: bidadari
rayuh: hajatan
sarambai: jenis prosa panjang
cerawan: keluhan jiwa
kahindang: puisi lisan berisi kisah sedih


GELIAT MUSIM ANGIN TEDUH
menuju utara menuju timur
tanahtanah dijelajahi
memburu jati diri karena jiwa terkekang

berbondong menatap nyiur di garis pantai
mendirikan bangsal beranakpinak
menghitung hari dalam satu musim

begitulah daik lingga mengawali kisah
bersama cuaca dan gerak gemawan membangun ritual
dabo singkep ramaikan bandar desa malang rapat

geliatkan musim angin teduh
bersama anak, istri, juga handai tolan

1
mak long, segera siapkan berteh. pilih padipadi unggul
untuk digoreng. beras kuning dan beras basuh yang utama,
juga bakek sebanyak tiga kapur. aku ingat mereka suka
merokok, siapkan tiga batang saja. tembakau dan pembara
jangan sampai tertinggal. jauh-jauh hari telah kusiapkan
kemenyan.

sebab april mengundang musim angin teduh
gelombang laut dapat berdamai
kupilih pagi tenang mendatangi hujan
siap meramu bersama datuk, sang pawing

duapuluh hari mendatang kayukayu pilihan direndam
kini waktu bertandang ke hutan
menjumpai para makhluk gaib

wahai hantuhantu
para jembalang
mambang
jin

dengarlah kami datang membawa sesaji
mohon izin
agar kesampuk menjauh dari kami

kapak dan parang telah terasah
kayu pilihan tercatat dalam ingatan
jauhi jika terlilit ular
jauhi jika terdapat ular
tinggalkan saja jika berbuah
apalagi terdapat cacat
pilih yang lain jika milik kerabat
dengarlah mantra kayu kami ucapkan
salam pada nabi ilyas
salam pada nabi ilyas
salam pada nabi ilyas
kami minta kayu ini
untuk rezeki kami di laut
setelah hajat terucap
alam seolah memberi izin
daunan itu luruh mengangguk setuju
ayuan kapak jadi pertanda
jalan baru menuju penghidupan

2
mak long, percayakah kau puan? kita akan mengacak
kelong. mengundang ikan bilis agar terperangkap. nantikan
hari panen itu. tanggultanggul akan memenuhi
dadamu dengan manikam. siapkan sesaji yang sama, oh
ya tambahkan juga sebutir telur yang masak, serabai, lepat,
dan ketupat, agar lengkap semua itu.

tiga hari lalu aku telah bertandang ke laut
menandai dengan tongkat pancang yang kukuh
kau tahu laut begitu bersahabat
bertakzim pada semesta

kini akan kularungkan semah serta kayu pilihan
karena semua siap dicacak
siap dibentangkan

datuk menggiring salam
memetakan setiap lankah agar tak sia
menjelmakan ratusan bahkan ribuan keinginan
salam pada nabi khaidir
salam pada nabi sulaiman
salam pada nabi allahitut
sang penguasa air
sang penguasa ikan
sang penguasa bumi
kami minta tempat ini
untuk rezeki kami di laut

tunggu saja isyarat raja laut
jika mimpi buruk tak datang
segera kami kembali
jika mimpi buruk datang
apa yang bisa kami kehendaki
semua milikmu semata

ternyata laut begitu pemurah
berkah kami dapatkan
segera tanggung jawab diselesaikan
salam bagi raja laut
kami datang untuk sebuah kehendak
menyacak kelong bagi pemilik
jangan ganggu kami umat muhammad
mencari rezeki di laut
kami tak berniat jahat
hanya bermaksud baik

mantra selesai diucap
segala sesaji ditabur
kecuali rokok, tembakau
juga penganan
semua ditenggelamkan
dalam hening yang kaku

pekan kedua di bulan mei
arus laut memantau setiap gerak
tenang
tangantangan itu bersikeras
menyacak
membentuk sebuah ruang di atas permukaan
nanar
sebab sesaji diterima alam

3
mak long, buang semua lelah di ragamu istriku. segera
rebus beriburibu butir kacang hijau, tanak sampai ia manis
untuk dicecap. siapkan juga bedak beras yang kau tumbuk
kemarin. segeralah, jangan biarkan hari matang tanpa siasat.
ajak azizah buah hatiku, ajarkan padanya bagaimana
menyiapkan alat penepuk. mengumpulkan daun ganda
rusa, setawar, dan sedinginan. tak baik remaja dibiarkan
melamun sendiri.

senja itu doadoa ditetaskan
semua menunduk syukur
kalimatkalimat mengawang di lautan
terbawa arus, angin, juga bisikanbisikan para nabi

setelah asar yang syahdu
serombongan menuju kelong
seorang memimpin, bukan datuk tentunya

ucap syukur menghunjam ke dasar laut
ucap syukur terbang ke semesta
inilah kesempatan itu
ketika berkah diterima
semangkuk bubur terasa gurih
kelat di lidah

kini saatnya pancang tua diberkati
tanggultanggul diberkati
pawang menaburkan tepung tawar
al fatihah terlantun
tiga surat lain menyusul
al ikhlas, al falaq, an naas

gemuruh angin datang
lidahlidah ombak menajam
salam bagimu roh bani,
penguasa kayukayu
kami hormat padamu
kami memohon pada engkau
kami akan memasang lampu kelong
untuk rezeki kami di laut

semua hening
menanti kelam bersama dengung shalawat
luruh ditingkah haru
siap memanen di hari menjelang

menuju utara menuju timur
tanahtanah dijelajahi
berbondong menatap nyiur di garis pantai
mendirikan bangsal beranakpinak
begitulah daik lingga mengawali kisah
bersama cuaca dan gerak gemawan membangun ritual
dabo singkep ramaikan bandar desa malang rapat
geliatkan musim angin teduh
SudutBumi, 19 September 2006

LELAKI HUJAN
tibatiba kau menjemputku dalam perjalanan pulang
ketika sore berubah mendung
dan jalanan hanya menyisakan
bayangan pohonpohon cemara

langkahku masih saja tersaruk
mendapati mimpi yang jadi nyata
kau dan rupamu menjelma sore itu
jadi hujan yang dikirim tuhan
mendatangi aku yang selalu berjalan sendiri di setiap sore

kau membawa angin imaji
yang luruhkan semua rinduku
bagi lelaki yang selalu datang dan pergi
kau hadir dengan ribuan cerita
tentang anakanak hujan yang membasahi tubuhku
gigil sore yang menghangatkan

lalu kita berjalan bersama
bercerita tentang perjalanan air
muaramuara tempat singgah
dan ceruk rahasia yang telah kita buat

kau lelaki hujan
datang memberikan warna di hatiku
setelah abadabad muram
tanpa gemuruh
dan menyisakan kenangan biru yang ranum

datang menjelma hujan di soreku yang sibuk
SudutBumi, 23 November 2007

GYNOID
#1#
tubuhku hanya sumbu
yang tiap detik dibakar usia waktu
dapatkah kau berlari
menyelamatkan aku di ujung waktu?

#2#
berkas cahaya putih
terus menyelubungi
mengambil sebagian napas
sebagian ruh

hingga aku akan benarbenar padam
di hadapanmu

#3#
tubuh luka
Sudut Bumi, Juni 2009

TENTANG HUJAN DAN KEMARAU
diamdiam aku mendoa
tentang hujan yang tak reda di matamu
malaikat itu beterbangan
mencari sisi lain hidup
mencerna kelam di retina matamu

untukmu diamdiam aku amati cuaca
luruh juga akhirnya kemarau
datang lalu menjaga jejarak
agar kita tak sempat kecewa
SudutBumi, 10 April 2006


SAHIBULHIKAYAT DI NEGERI MANTANG ARANG
perkenalkanlah tuan puan, sahibulhikayat
sedang bertandang ke negeri mantang arang
di negeri itu ia terperangah
mendapati pesisir yang ramai
lalu bersadai, menjelingkan mata

sahibulhikayat menegaskan pendengaran
menajamkan mata di remang malam
sebidang tikar dihampar
di hadapannya, seorang bomoh menyulut mantra
ritual buka tanah dimulai
meminta izin para leluhur
salam pembuka,
secawan air menemani ruparupa sesaji nan sahih

lorong masa lalu terkuak
bersama rampak para panjak
madah melayu menggelora bersambut gedombak,
serta serunai menyayat hati

alam ditingkah musik makyong
yang setakat di antara ketertegunan
perhatikan tuan puan
sahibulhikayat beralih peran

memakai topeng menaiki pentas
menyanyikan lagu menghadap rebab
betabik sebagai tanda pembuka

alkisah, putri nak kandang, permaisuri raja peran
situn sedang mengidam
permaisuri negeri seraja kerajaan dang balai
inginkan daging rusa putih
rusa putih bunting sulung, sulung ayah, sulung
bunda
sulung segenap hutan carang rimba*

sahibulhikayat berperan ganda
sebagai awang pengasuh, putri, dan wak perambun
kadang menjadi panjak ataupun canggai
tersebab gerusan waktu telah melupa opera zaman
anak muda menjauh dari akarnya

wak perambun menerima titah raja
mencari daging rusa putih
ditemani anak panah mercu dewa, susuri hutan
selama hati bertujuh
wak perambun tak menemu rusa, hanya pandang
seorang putri dalam hutan
putri bernama nang nora, putri sindang bulang
yang ketujuh
kata sepakat terucap, berdua menghadap raja
bercerita bahwa tak ada daging rusa putih di dunia*

sahibulhikayat mendengar lengking serunai
terlepas dari kantuk merapikan segala ingatan
tentang roh melayu di bumi sagantang lada

perhatikan tuan puan,
mata sahibulhikayat menjerang kalam
bersempalan dengan tarian
mencecah bibir bomoh yang melecutkan jampijampi
tutup panggung

tuan puan, lihatlah gelagat sahibulhikayat
ia bangkit menjauhi kerumunan
meninggalkan bunyibunyi pesisir
melanjutkan perjalanan hingga ke daek dan lingga
bermuhibah ke negeri serumpun
membawa kelampauan melayu
SudutBumi, Oktober 2007
* Kutipan cerita dari salah satu kisah Makyong


TENTANG DIAN HARTATI
Lahir di Bandung, 13 Desember 1983. Lulusan jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia,
Universitas Pendidikan Indonesia. Karyanya tersebar di berbagai media massa dan antologi
puisi bersama. Diundang dalam event Ubud Writer dan Reader Festival tahun 2009.
PUISI-PUISI SONI FARID MAULANA
Sabtu, 15/02/2014 - 10:40 Sastra Seratus ...
Lain-lain |
Koleksi |
Puisi |
Soni Farid Maulana
SEMACAM SURAT
untuk Sutardji Calzoum Bachri

jika itu yang kau maksud: memang
aku punya hubungan baik dengan ikan
di kolam; -- juga dengan warna ungu
teratai dalam lukisan Monet.

tapi kucing yang mengeong
dalam aortamu: -- rindu daging paling mawar
rindu susu paling zaitun,
yang harum lezatnya semerbak sudah

dari arah al-kautsar. Tapi, seberapa sungguh
kegelapan bisa dihalau: -- jika gerhana
membayang di hati? Seberapa alif mekar

di alir darah; -- jika setiap tasbih diucap,
yang berdebur di otak hanya ombak syahwat?
dji, tangki airmata selalu bedah di situ
2002

CIWULAN
aku mendengar suara ricik air sungai yang ngalir
di antara batu-batu dan batang pohonan
yang rubuh ke ciwulan

aku mendengar suara itu mengusik jiwaku
bagai alun tembang cianjuran
yang disuarakan nenekku di gelap malam
1979

DAUN
siapa yang tak hanyut
oleh guguran daun: ketika angin
mempermainkannya di udara terbuka
ketika lembar demi lembar cahaya matahari

menyentuh miring dengan amat lembutnya
siapa yang tak hanyut oleh guguran daun
ketika maut begitu perkasa
mencabut usia hingga akarnya, ketika matahari

menarik tirai senja, ketika keheningan
menyungkup batu-batu di dada. Siapa
yang tak hanyut oleh guguran daun: ketika

lobang kuburan ditutup perlahan, ketika
doa-doa dipanjatkan dengan suara tersekat
ketika kutahu pasti kau tak di sampingku
1980

SUARA TEROMPET AKHIR TAHUN
di ujung malam sedingin
es dalam kulkas;

apa yang kau harap
dari suara
terompet akhir tahun?

fajar yang menyingsing
tanpa bunyi kayu dilahap api,

tanpa tubuh yang hangus
seperti sisa bakaran kardus?

kita berharap
semisal tak ada kurap
di daging waktu
yang esok hari kita kunyah
dalam pesta kehidupan yang renyah?

tapi apa artinya berharap
dan tidak berharap,
bila langit muram terus membayang
seperti pengalaman yang kelam:

o, bunyi kayu yang hangus
dan tulang kepala yang meletus
dalam kobaran api di bulan Mei
yang ngeri di ini negeri?

di ujung malam sedingin
es dalam kulkas;

apa yang kau harap
dari ujung bunyi terompet
akhir tahun?
1998

SELEPAS KATA
untuk Kautsar M. Attar

perempuan itu terbaring di ruang bersalin
bayang-bayang sang ajal berkelebat dalam
biji matanya; memperkenalkan diriku
pada warna darah dan tanah. Dan kau yang

dilahirkan sore itu, tangismu keras,
air matamu adalah arus sungai yang deras
menyeret kesadaranku ke palung derita
seorang ibu, yang sisa amis darah

persalinannya; masih melekat di tubuhku,
yang kini rapuh dikikis waktu, digali detik
jam yang terus melaju ke dunia tak dikenal,

di luar hiruk-pikuk kehidupan kota besar;
ada yang menjauh dari surau dari kilau
telaga kautsar yang Dia berikan
2003

LANSKAP
aku mendengar
nyanyian angin pagi
di tangkai pohonan

aku melihat cahaya sunyi matahari
berkilau lembut dalam bening embun pagi
yang bergayutan di punggung rumputan

aku mendengar salam itu,
salamNya, dilantunkan
kokok ayam jantan

negeri langit
1976

TEMBANG
Kau yang hidup dalam ingatanku
adalah tembang yang tak pernah selesai
dilantunkan angin sepanjang waktu

Kau yang memberi arah dalam hidupku
adalah petikan kecapi, alun suling,
lagu yang tak pernah sirna di kalbuku.
1977

TENTANG ULAR
di kamar ini, di antara bayang-bayang kelambu
aku cari wangi tubuhmu. Desis ular dari bayang-bayang
masa silam kembali menggema dalam ingatanku,
lalu firmanNya yang menggetarkan itu.
1994

NARASI DI BAWAH HUJAN
hujan, curahkan berkahmu yang hijau
pada lembah hatiku.

puaskan dahaga tumbuhan,
hingga jiwaku terasa segar membajak kehidupan.

di pinggir jendela aku ingat benar tahun lalu
aku masih kanak, bersenda gurau, bernyanyi riang,

memutar-mutar payung hitam di bawah curahmu;
yang berkilauan bagai perak disentuh matahari.

o, hujan. Puaskan dahaga jiwaku
agar hidupku menyeruak bagai tumbuhan

menjemput Cahaya Maha Cahaya
1984-1989

ANGGUR DAN DAGING BAKAR
untuk Ian Campbell

sampai di pinggir jalan
di bawah rintik hujan, dalam derai angin
sore hari; sekar kenangan ligar lagi
dalam dirinya yang sunyi;

di Rotterdam
dalam hujan salju
yang kali pertama ia lihat
dengan penuh rasa takjub

anggur dan daging bakar
bisa menghangatkan badan,
katanya. Tapi ia tak menjamin

bisa meloloskan nyawamu,
dari sergapan maut musim dingin
yang melata bagai ular mencari korban
2003

DEMIKIAN CAMUS BERKATA
pemberontakan itu, demikian
Albert Camus berkata, memberi nilai
pada hidup1

yang kau punya
kubelai-belai mesra,
nyatanya hidup juga.

hihihi, mari kita masuki
wilayah malam
dengan seluruh api pemberontakan
yang menyala di dada.

o, airmata yang bergulir di cekung rasa
katakan padaku masihkah kita bermukim
di negeri mimpi? Siang tadi kabar duka

sampai padaku, Tasik yang rusuh
dihanguskan api. Batu mengucap
batu. Darah melayah di gigir hari,

di gigir waktu apa yang rubuh
sehabis api pemberontakan
kita kobarkan hingga ke langit jauh?

hanya sunyi bertilam sunyi
di luar jendela. Lalu daun gugur
dan risik hujan kembali
bicara
1996
1 Sepatah kata bersayap Albert Camus dalam buku Mythe de Sisyphe

CATATAN DALAM HUJAN
aku serahkan seluruh jiwaku padaMu
karena menolak adaMu berdasarkan pikiran
adalah kesia-siaan belaka.

keimanan adalah kerinduan yang bengal
yang berulang jatuh memanjat langit rohani
hingga malam berlalu dalam tahmid dan takbir
hingga kokok ayam mengerek cahaya fajar

di kalbuku. Hujan yang turun menghapus
jejak kemarau di dahan-dahan pohonan
sungguh indah warnanya. Irama suaranya
yang menggetarkan ini sukma; adalah

salawat bagi segala jiwa yang berlayar
ke muara Cahaya Maha Cahaya
semata Cahaya Maha Cahaya
1991

PERAHU
kau buka kancing bajuku
seperti cahaya menguliti kegelapan
di sebuah kamar yang kekal

ada perahu dalam tubuhmu
bawa aku berlayar menuju tanah asal!

(detik arloji menafsir sepi, rumah karib
dalam diri. Perjalanan panjang,
desis ular hitam di rumpun malam)

lalu kita bicara dalam bahasa di luar kata
yang menampung gaung angin, dan gema ombak
di tepi pantai yang dulu ditinggalkan, berabad lalu.

bawa aku ke tanah asal yang dulu kau sebut surga:
sebelum gelap kembali bersarang dalam kalbuku!

(malam menarik diri sebelum maut menafsir
ruhku: dalam huruf-huruf kaku di batu
nisan. Di batu nisan) Bawa aku ...
2004

HALTE, 1
di halte dusun itu, di bangku peron
yang dingin bertilam angin; aku mendengar
siit incuing ngear dalam kelam.

seseorang akan pergi jauh. Serupa kerlip bintang
di langit lengang! begitu kau bilang. Dan waktu
adalah debur ombak lautan yang tiada henti
menggerus batu karang dalam tubuhku.

cahaya remang menyentuh miring rambutmu
hangat tanganmu menggenggam erat tanganku
apa makna hari ini bagi hari esok yang lain?
2003

HALTE, 2
tubuh adalah halte yang kelak roboh,
seperti rumah kayu
yang dihancurkan rayap
dan cuaca gelap

lalu apa makna persinggahan
bagi yang mengangkut dan menurunkan
penumpang? Kau tahu, sinyal itu

kembali mengirim isyarat ke arah yang lain
seperti kedip lampu morse
dalam kabut Waktu.

lalu setelah itu tajam mandau perpisahan
kembali menyayat sang kalbu
di ruang dalam yang kelam
lezat yang tinggal karat
2003

KAU
angsana dan gandasoli
yang kau tanam di pekarangan hatiku
tumbuh sudah dengan daun-daunnya yang lebat
kau bilang,
jika kedua tanaman itu tumbuh subur
itu artinya: cinta kita memuncak,
mendaki puting gairah seindah bulan merah

kini kau di mana? Hanya desir angin
dan guguran dedaunan di pekarangan hatiku
diiring bebunyian serangga,
sebelum tiba
musim penghujan

langit kosong dan sepi
seperti sumur tua yang ditinggalkan
dengan sisa air yang nyaris kering
diteguk garang kemarau
yang menghanguskan
akar rumputan

lalu api sunyi berkobar
dari gerbang langit tak dikenal
menjilat dan membakar angsana
dan gandasoli
yang dulu kau tanam
di pekarangan hatiku, pada sebuah pagi
yang diberkahi cahaya matahari
dan kicau burung dari syair attar,
hafiz dan sanai. Cintaku,

kau di mana ketika rindu
menyemak di dada
ketika ajal melepas kata
dalam dadaku
2002

PASTORAL
di tengah perjalanan antara rumahku dan tanah kubur
Ia menyapaku. Semoga api dan gigitan tujuh ular
berbisa: tak bersarang di tubuhmu, kata-Nya. Ruhku
pucat-pasi, kalbuku gusar sungguh: miskin alif-lam-ra,
ya Rabbi!
2006

BERITA SATU KOLOM
apakah dadamu dihuni ashabul kahfi?
demikian kau bertanya di sebuah malam yang lengang
sehabis hujan. Tidak. Ia justru dihuni sekompi
binatang buas. Raungnya kau dengar, mengguncang
tebing alif-lam-mim-mu, merindu cahaya al-Tawwab
2000

DALAM HUJAN
ada yang jatuh ke dalam sumur waktu
suaranya sanggup menggetarkan hatiku,
sepanjang nadi jam
berdenyut dalam jantungku

lalu keriangan itu apa? Hatiku yang murung
kehilangan kaca kata. Sungguh di situ,
aku tak bisa lagi melihat wajahku serupa
apa?

cahaya perlahan susut diserap kabut
dering daun jatuh di lauhul mahfudz
bikin hutan kelabu dalam deras hujan
di tubuhku
2006


CAHAYA KECIL
di ujung dermaga seseorang menanti
ia jatuh cinta pada cahaya kecil
di bola matamu. Dicatatnya harum rambutmu
dalam tujuh larik puisi yang ringkas

jika salju turun seluas kalbumu
kau pasti memburunya tanpa ragu. Sebab api
yang menyala di rongga dadanya:
adalah kehangatan hidup yang kau cari

ya, memang sepanjang jarum jam berputar
di dinding jantungmu: ia hanya buih
yang menanti kawih. Tapi, jika waktunya tiba
ia metafora dalam merdu kawihmu.
2005

LINGSIR
jejak atas pasir
diusir deras arus air
maut bergulir
matahari pun lingsir

dan kau berkata:
apa yang tersisa di rongga dada
selain kata, selain cahaya, atau kelam?
langit redup seperti warna hutan
dalam kabut

barangkali dulu
seseorang pernah datang
ke ranjangmu. Datang
dengan berkuntum
bunga teratai

dan mungkin setelah itu:
ia berkemah di balik dastermu
berselancar di ombak tubuhmu
dan kau tak kuasa menolaknya?

ya, memang: maut menggilir
dan hari bergulir. Lalu detik jam
dalam tubuhmu kian lemah suaranya
aku dengar. Adakah ia serupa tanda

bahwa matahari yang lingsir
tak lagi menggelar fajar
sebab ia meledak sudah
di langit yang lain, di luar kata
yang diburu para penyair.

aku tahu ada yang ingin
kau katakan, sebelum subuh
sehening batu: ditebing
kalbumu yang curam
2005

DI SISIMU
aku tahu, hari itu akan tiba di luar kata dan cuaca
detik ini. Dan kau mendesah saat telapak tanganku
mengusap pundakmu.
rambutmu hitam
bagai ribuan garis tinta cina
dalam sebuah drawing Picasso
di sebuah galeri

dekaplah aku meski bukan
untuk yang terakhir kali. Angin terasa dingin
di batin. Pekik camar laut
mengguncang dinding kota. Mata arloji
menaksir detak jantungku,
di sisimu. Cahaya bulan menyentuh
miring tubuhku.
2005

KISTA ENDOMETRIOSIS
1
pohon-pohon berasap
tiga ekor burung menggigil
dalam kabut

lalu gaung timba
di sumur tua mengoyak
ketenangan air di kedalaman

selamatkan aku sebelum bencana
bermukim dalam rahim pikiranku!
kau bilang

tapi mengapa kau biarkan
kista endometriosis tumbuh di situ
yang akarnya menyubur di gelap
bawah-sadarmu?

2
medikamentosa, itukah
yang kau harap: mampu membebaskan diri
dari kelam kabut pikiran:

sebelum bunga bangkai
ligar di ranjangmu: pada sebuah malam
yang kau sebut malam pertama?

aku diam ditafsir air mata

desember runtuh dalam tubuhku
kegelapan menghapus cahaya
gemuruh laut malam
dikhianat garam
2004

LORONG
aku bercakap dengan bayang-bayang wayang
serupa amba. Tabuhan gamelan serupa risik angin
di tangkai pohonan. Suara-suara serangga malam
terdengar juga dari arah samping halaman rumahmu

yang kelam oleh kabut dukacita. Lalu kata-kata
menyusun dirinya dalam larik-larik puisi orang sufi
yang dari lembah ke lembah kehidupan tiada lelah
mencari kekasih idaman. Di cermin, rambutku

putih sudah. Malam kelam di buritan, dan kau
serupa amis gula, cintaku, terpisah dari sepah tebu
di lidahku. Dan kini segala yang aku teguk tawar

sudah. "Mengapa semua ini harus terjadi, selagi
segalanya belum genap melunas rindu?" tanya
tanpa jawab. Menggema di lorong jiwaku
2008

TAMASYA
- untuk Rendra

di pantai laut merah di tepi kota Jeddah
tak kutemukan jejak musa selain deretan cafe
dan wajah para pelancong yang lelah
yang datang dari negeri jauh, yang menyandarkan
tubuhnya di kursi kayu, melepas pandang matanya
ke luas biru laut bertilam lembut angin panas
dengan ombak yang tenang

pemandangan seperti ini pernah aku lihat
dalam sebuah lukisan di sebuah galeri kota paris
ketika musim dingin menggigilkan daging dan tulang
dan kau tak ada di sampingku. Hanya pekik burung
yang aku dengar sore itu, sebagaimana aku dengar
siang ini di tepi pantai laut merah di tepi kota Jeddah
dan kau tak ada di sampingku

kini aku terperangah mendapatkan kaligrafi usiaku
memutih di tujuh helai rambutku, yang disingkap
lembut angin laut musim panas. Yang Maha Hakim
jangan sampai hamba karam ke dasar palung hitam
bagai fir'aun, yang lalai mengingatMu, suara itu
aku dengar di tempat ini, bikin ruhku gemetar,
o menggelepar, layak seekor ikan di paruh
burung itu. Di paruh burung itu
2008

RENUNGAN JANTE ARKIDAM DI USIA 70 TAHUN
- untukAjip Rosidi

malam belum begitu gelap
ketika anjing melolong panjang
di bawah remang cahaya bulan

"ternyata hidup butuh agama!"
ujar Jante Arkidam seperti gumam
ketika maut menaksir detik jam
dalam detak jantungnya

kini kesepian
menampakkan dirinya
di hadapan Jante
yang dilanda batuk
dan sakit kepala

"ke mana nyi ronggeng
yang dulu hadir dalam hidupku,
yang dari meja ke meja perjudian
aku rajai dunia malam," tanya
Jante.

sesekali didengarnya
bunyi tiang listrik dipukul orang
juga lolong anjing tengah malam
sehabis mupukembang
lalu angin dingin kembali meraja
menghajar raga Jante dekat jendela
di sebuah rumah pinggir kota
yang dulu dijadikan tempat sembunyi
dari kejaran lelaki satu kampung
dan kini di mana lebat kebun tebu
setelah dengus zaman
menyulapnya jadi perumahan
yang dibuat asal jadi?

betapa tanganku berlumur darah,
Betapa hidupku salah arah. Mengapa
cahayaMu terlambat aku kenal?
batin Jante. Detik jam
bergeser lagi

sesaat, Jante menarik napas
dalam-dalam. Lalu dihembuskannya
pelan-pelan. Dari hari ke hari
ia buron sudah diburu bayang-bayang hidup
yang kelam, yang ingin dihapusnya
seperti menghapus sebuah tulisan
di papan tulisMu yang kekal

masihkah terbuka celah ke Baitullah?
tanya Jante saat ia berkaca
melihat wajahnya sendiri dalam cermin
seperti batu retak di dasar sumur tua
yang absen disapa timba
tanpa ikan dan lumutan

siit incuing ngear di batin Jante
beri aku kesempatan meneguk
anggur cintaMu! tangis Jante
di atas sajadah yang basah
oleh airmata
2007

LANSKAP
aku berkaca di alir sungai Seine
ada wajahmu di situ
yang dulu berkata, sayangku!

pekik burung gagak dan merpati laut
mengguncang dinding hatiku sehijau
lumut waktu. Kau? Entah di mana
2007

BINTANG PAGI
tiga jam ke arah utara,
kota tua, kabut mengendap
di bukit dan lembah raja
cahaya lembut bintang pagi
di atas pucuk cemara.
itu bintangku! katamu,
yang tiada bosan menarik tubuhku
ke dalam pelukanmu, sehabis bencana
dan kerusuhan melanda kalbuku
dan kau bertanya, kembali bertanya:
adakah esok hari, kebahagiaan hidup
tersaji senikmat hari ini?
jam digital berdenyut lagi
maut bergeser dari tempat duduknya
di ruang tunggu yang lengang,
yang gaib dari pandangan matamu
dan mataku, seperti pisau sepi
yang selalu menikam kalbu kau dan aku
yang tak pernah terlihat wujudnya
serupa apa. Itu bintangku,
dan aku milikmu. Reguklah sedap
madu dari puting kalbuku, bisikmu.
Langitmu dan langitku bersatu lagi
di kota tua, tiga jam ke arah utara.
aku milikmu, paku aku cintaku
di kayu nasibmu, jangan ragu.
2006

TAHARAH
sebelum sampai ke Raudhah, ingin kupotong
kegelapan di kalbuku: seperti memotong hewan
kurban. Hati yang karam ke dasar malam
betapa sulit dijangkau. Tinggal kilau mata pisau
ditanganku yang gemetar menujuMu
2008

TENTANG SONI FARID MAULANA
Soni Farid Maulana, lahir di Tasikmalaya, Jawa Barat, 19 Februari 1962. SD, SMP, SMA di
tempuh di kota kelahiran. Tahun 1985 menyelesaikan kuliah di Bandung di jurusan Teater,
Akademi Seni Tari Indonesia (ASTI), sekarang Sekolah Tinggi Seni Indonesia (STSI)
Bandung. Bekerja sebagai jurnalis di HU Pikiran Rakyat Bandung. Aktif menulis sejak tahun
1976. Antologi puisinya Variasi Parijs van Java (Kiblat Buku Utama, 2004), Secangkir Teh
(Grasindo, 2005), Sehampar Kabut (Ultimus, 2006), Angsana (Ultimus, 2007), Opera Malam
(Kiblat Buku Utama, 2008), Pemetik Bintang (kiblat Buku Utama, 2008). Juga menulis puisi
berbahasa sunda, terkumpul dalam Kalakay Mega (Geger Sunten, 2007) dan telah memasuki
cetakan ke 3. kumpulan cerpennya Orang Malam (Q-Press, 2005). Kumpulan esai Menulis
Puisi Satu Sisi (Pustaka Latifah, 2004), Selintas Pintas Puisi Indonesia (Grafindo, Jilid 1
2004, Jilid 2 2007).

PUISI-PUISI THOMAS BUDI SANTOSO
Sabtu, 15/02/2014 - 10:44 Sastra Seratus ...
Lain-lain |
Koleksi |
Puisi |
Thomas Budi Santoso
DI GLENEAGLES HOSPITAL
di gleneagles hospital
di operation theatre suite
aku datang padaMu
sejak dahulu sudah
aku serahkan telinga ini
dan sekarang aku serahkan pula
telingaku, dan hidupku
sebab Engkaulah yang
empunya diriku

sesaat duniaku terlena
selama tiga jam, entah ke mana
dan ketika aku siuman
pertanyaan pertama
apakah aku sudah selesai?

di gleneagles hospital
di ruang empat tujuh belas
aku temukan diriku
berkeping seribu
kulihat fatamorgana, panjang
terbentang di depan
dan kuputar kembali
cakrawala kehidupan
yang kutempuh, sepanjang
separoh hidupku
yang sempat meluruhkan
air mataku

di gleneagles hospital
aku temukan kembali, cintaku
yang terkikis waktu, yang panjang
sejak cinta dipersatukan
waktu yang sempit
yang menyekat kasih, dan
waktu yang sisa
yang menyimpan derita
(dan membuat segalanya sia-sia?)

di sana
aku temukan kembali, cintaku
isteriku
aku temukan, sahabat-sahabatku
dan surat-surat dari jauh
dan percakapan-percakapan dari jauh
yang menopangku
dengan semangat, dan
penghiburan, dan doa
dan firmanNya
yang membuat aku
tegak berdiri
kembali
spore, 15.12.86

MINGGU BAHAGIA
dua pasang mata bening
saling bertemu sayang
dua hati sejernih telaga
berpadu dalam cinta suci
yang tak akan pernah mati

nopember dua puluh
cerah dan cerah
tak ada selembar mendung
tak ada angin desah
burung gereja bernyanyi sampaikan salam
pada gemulai daun palma

ayah bunda terkasih
ayah bunda terkasih
bertemu dalam satu titik yang cerlang
anak dan anak
terjalin dalam keresmian adat
menjadi milikku dan milikmu
begitu indah
begitu cinta
begitu bahagia
penuh gairah hidup
di atas hikmah tuhan

nopember dua puluh
tak akan pernah terulang
seperti minggu ini
1966

NYANYIAN SEPASANG DAUN WARU
dua manusia
berpelukan di alam semesta
dalam kubangan air mata

hatinya pecah bersulang darah
putih tak seperti darah
karena derita habiskan warnanya
merah semerbak bau mawar
karena durinya terpasang sepanjang perjalanan

manusia kenal dua ribu warna
jagad raya punya berapa
baginya cuma ada warna buta
dan cinta mendulang misterinya
sacinko, begitu bisiknya
kocinsa, itulah sandinya

jarum jam tak bergoyang lagi
tertindih asa yang jatuh
dari pusat jantungnya
konyasa, rintihnya
sanyako, hiburnya

jarum waktu yang congkak
tak mau mengalah
ikut menikam dari depan
sanyako, desahnya
konyasa, ratapnya

aku ingin punya kuasa
dan kutuntut waktu
berjalan bersama bayanganku
menuju timur sebelum tengah hari

aku ingin punya kuasa
mengembalikan hari-hariku yang hilang

sacinko, sacinko
kocinsa, kocinsa
gaungnya tembus dua belas kisaran
membawa sisa bau bunga rumput

hari senja, matahari menjadi bulan
sanyako, sanyako
konyasa, konyasa
gemanya sahdu kandas ditelan ceruk bumi

aku menangis melihatnya
aku mendengar tenggelam di dalamnya
9 september 2000

PATIAYAM
lembahmu yang datar
rumputmu yang hijau
sawahmu yang kuning
cukup air

petani penggarap sawahmu
penebang-penebang kayu
kuli jalan raya dan rel kereta
semuanya dihidupi air bumimu
menapis butir-butir keringat
bersama mentari yang meleleh

kelebihanmu patiayam
bukanlah milikmu sendiri
kotamu patiayam
sekedar hanya menerima warisan tanahmu

sedihnya patiayam
kala bulan menghilang dari malam
padi yang kuning
lari bersama deru prahoto
dan berputarnya roda pedati
tinggalkan mimpi

petani-petanimu yang setia
penebang-penebang kayu
gembira masih dengan bulir jagung di lumbung
kuli-kuli jalan raya
kuli-kuli rel kereta
dan seribu mata cekung
sempat mendengar deru prahoto
dan kletak-kletik roda pedati
di akhir mimpi
1969

RINDUKU KEHIDUPAN
siapa engkau yang menetapkan pembenaran tentang logika
karena logika hanya ditemukan dalam persamaan cinta

siapa engkau yang mendulang kebenaran dalam logika
karena benang merahnya berjalan bersama bayang-bayang kita

siapa pula engkau yang memasang logika jadi mahkota
karena laju deritanya menjadi niscaya
kudus, 8 juni 2004

LAHIR SAJAK
dikandung perut bumi
sejak eva dan adam tak lagi bertelanjang
lahirlah sebuah sajak
setelah itu lahir dan lahir lagi
dan lahir kembali, berlaksa sajak
sebab sajak adalah sedih dan sepi
7 juni 1970

SEMALAM SEBELUM PENGANTIN TIBA
mama
mama
kuketuk pintu kubur mamaku
kubayang rona cinta mamaku
memukul detak jantung
dalam gelisah kerinduan

satu saat paling bahagia
mengapa ditandai air mata?
mengapa tiada mama kecap?

semalam sebelum pengantin tiba
mamaku datang bersama wangi sedap malam
mamaku tersenyum
mamaku menangis
dan hatiku menelungkup

malam ini
kubelai wajah mamaku
kutembangkan lagu pengantin buat mamaku
hingga fajar gemercik
dan bunyi lonceng gereja menyongsong pengantin
kusembahkan anggur pengantin buat mamaku
2 juli 1968

AKU MENCARIMU
aku mencarimu di deretan kata-kata surat yang kubaca
di ujung guratan penaku dan di celah-celah tumpukan
informasi dan data

kubolak-balik dirimu di halaman agendaku dan
kucari jejak suaramu di ruang rapatku
di kilatan cahaya kalkulator kulihat pandanganmu
memudar dan hilang berbaur warna hijau

dalam dering tilpon yang tak henti-henti, aku mencarimu

aku mencarimu di jok depan mobil peugeotku
di tikungan dan perempatan jalan yang kulewati
di lekukan-lekukan bonsaiku yang indah dan
di balik kaca akuariumku

aku mencarimu ketika kudapati permen di saku kiri celanaku
di kopiku yang hitam yang kuminum saat mentari
miring ke barat, kutemukan sepintas hanya bayanganmu

dan di antara tamu-tamuku, aku mencarimu

aku mencarimu di kamar mandiku dan di dalam tube odolku
kupijat dirimu dan meletakkanmu di atas sikat gigiku
kudengar protesmu menembus cermin yang kutatap

aku mencarimu di antara lauk-pauk makan malamku
dan di seputar gelas minumku yang mengembun
yang berisi air jeruk kesukaanmu

dalam kepulan asap rokokku, aku mencarimu

aku mencarimu di gedung bioskop yang penuh penonton
rasanya engkaulah yang duduk di sebelah kananku
tapi tak berani aku meraba tanganmu

dalam mimpiku yang terpatah-patah, aku mencarimu

di ujung fajar tak kujumpai dirimu di sela-sela ketiakku
ah, ingin kubelah kepalaku dan mengeluarkanmu dari sana
membaringkanmu di antara dada dan lengan kananku
tertawa kecil membaca puisi ini
14 juli 1989

DOA
tuhanku
apabila kutundukkan hatiku
mengaca diri setelah gigiku retak
dan mataku buta semu
kutemukan diriku
seperti kuda lari berperang

hakekat kasihmu
yang ada dan selalu ada padaku
dan selalu kuadakan
mendamba buah yang ranum
yang belum kuasa kudapat
memaksa aku gelisah

hidupku yang sempat tergoda
bising dan nyala
membuat aku senyap
dalam kesementaraan yang gila

tuhanku
meski dunia berguling
seribu kali sehari
aku pun akan mati
dan kumohon:
akan tiba satu saat
hatiku menjadi lumpuh
dan mata kakiku pecah
tinggal uluran tanganku
penuh kepadamu
tak akan lagi berpaling
1 maret 1970

DOA
kekasihku
betapa hati ini jadi biru menyebut namamu
yang dambakan kepergian puisng using dari hati kembara
sebab padamu kekasih
kudapatkan hakekat hidup ini
yang membawa awan kecemasan pada mega ria
hingga tinggal hidup untuk kau
bersama dara yang paling kucinta

kekasihku
kala aku kenang pekik kengerian yang menyayat
melengking lewat jiwa-jiwa tualang papa
aku jadi ingat satu tragedi kuno
dari sodom dan gomorah
pada tiang garam di laut mati
dan sahdunya malam ini, sahdunya
iku tangisi domba yang sesat

kekasihku
cahyamu telusuri liku-liku kesenduan mayapada
melebihi kristal bintang yang paling cemerlang
panas menembus jiwa-jiwa nanar di riba dosa
sirami indahnya bunga bakung yang terpahat di hati
hingga semuanya tengadah
di bawah kakimu yang suci agung
tiada bisa berpaling
1966

HIDUP
hidup adalah gerak
gerak adalah arah
arah adalah alam semesta
dan alam semesta adalah
senyawa liang rahim dan
liang lahat
kudus, 28.11.90

DI 61 TAHUN
hari ini ingin aku kembali memasuki rahim ibuku
tetapi tak tertulis kodratNya demikian
hari ini aku bersyukur karena andaikan bisa
tak terbayang betapa besar dukaku melihat
perbedaan kelembutan rahim ibuku dan kerasnya tanah yang
kupijak
hari ini aku bahagia karena ungkapan bahagia darimu, sahabatku
hari ini aku bersyukur sebab Tuhan menopangku
sehingga kakiku tak terluka dan tetap melangkah di bumi
kehidupan
(thomas budi santoso)
tapi kita kadung tanah
yang ditiup roh hingga nyawa berumah
menjentera hidup yang gelegak
saling mamah; kecuali puisi
sedang kau tahu; malaikat dan nabi enggan mampir di ranahnya
sesekali cuma
dijamu penyair sufi
tapi kita tak!
kita cuma serpih gelombang jaman yang kalah
kembali ke tanah sebelum nemu rumah
(sosiawan leak)

TENTANG THOMAS BUDI SANTOSO
Thomas Budi Santoso lahir di Pati, 19 November 1944. Menulis puisi sejak tahun 1960-an
dan tersebar di berbagai media massa dan antologi puisi bersama. Ia adalah Penasehat Dewan
Kesenian Kudus. Kini tinggal di Kudus dan bekerja di PT Djarum sebagai direktur produksi.

PUISI-PUISI KORRIE LAYUN RAMPAN
Sabtu, 15/02/2014 - 09:32 Sastra Seratus ...
Lain-lain |
Koleksi |
Puisi |
Korrie Layun Rampan
KUTEMPUH JALAN-JALAN LENGANG
Kutempuh jalan-jalan lengang, derita-Mu
menghadang
Demikian tertib nasib menyalib
Dari pusat hari-hari-Mu yang rumit

Kutempuh jalan-jalan sepi, cinta mekar dalam
bunga-bunga sunyi
Hidup berbeban juang, sepanjang tubir hari-hari
yang garang
Tak berdalih, antara derita dan ketawa
Makna hidup latah cinta, gelepar-Mu yang
menggemuruh di dada
1974

MAHAKAM
Senja pun membenam dalam tragedi
Abad ini
jalan ini semakin sunyi
Tapi kita tak sampai-sampai juga

Angin dari relung itu
Semakin runcing
Dan menciptakan garis ungu

Haruskah ke arah lain jalan pantai
kita kawinkan sepi
Antara dua badai?!

Tualang panjang ini
Semakin jauh semakin lengang
Langkah pun lelah menapak juang

Lalu kelepak yang menjauh
Longsong itu
Tanggalan pun jatuh

Tinggallah gerimis renyai
Dan bait-bait sunyi
Ketika jam pun sampai
Menunjuk-nunjuk tempat sepi
1974

Z
Siapakah yang pulang dengan langkah masai
menyandang duka Adam yang pertama
mengempang arus sungai, membadung nasibnya?

Iakah itu pelancong tak bernama.
Menyusur semenanjung tenggara
istirah ke sini. Menawarkan senja dalam desau prahara
setelah lelah mengedangkan jaring nasib melawan bencana

Siapakah masih mengaliri aku, o, sungai derita
rakit-rakit sarat biduk-biduk dan tongkang, detak jantung luka
memeram musim memberat mengimpikan birahi pada pulungnya
lakah itu yang menggedor pintu dan jendela
malam-malam begini. Dukakah itu duka dunia
menyusur sungaiku yang terus mengaliri dasar jiwa

Siapakah yang pulang dengan langkah masai
menyandang duka Adam yang pertama
mengempang arus sungai, membadung nasibnya?
1974

GERIMIS PAGI INI
Gerimis pagi ini
Adalah gerimis tangis zaman
Ketika sekawanan burung luka
Mencakar tangkai jantung derita

Gerimis pagi ini
Adalah gerimis tangis insani
Karena rahang-rahang kemerdekaan
Disekap moncong-moncong pertikaian
Dan tersumpal luka yang tak kunjung tersembuhkan

Gerimis pagi ini
Adalah gerimis tangis kita
Karena di tengah kelu dan borok dunia
Tuhan tetap mengulurkan berjuta sauh cinta
1974

DI TENGAH GALAU RIUH RENDAH ABAD INI
Aku terbanting atas lantai kehidupan
Karena beban seribu jalan
Sukmaku yang gelisah resah
Merangkai sajak tak tersua
Sementara tangan tegang kaku menyandang sunyi
Membusur panah ke jantung waktu
Cintaku yang perih dalam pusat pusaran segala rindu

Memang laut-Mu teramat dalam terduga segala cinta
Dataran lekang kemarau menunggu waktu demi waktu
Adakah kita mampu menyimak segala rahasia
Yang bermain antara gelap dan denyar cahaya?

Adalah semuanya berpulang kepada janji, kepada sunyi
Cinta yang memahat-mahat setiap bait abadi
Bagai hujan yang setia mencuci lantai bumi
Menyelesaikan sebait puisi

Aku terbanting di atas lantai kehidupan
Rebah di tengah galau riuh rendah abad ini
Dan luka-luka
1974

PERJALANAN INI
Perjalanan ini
menyusuri langsai-langsai kehidupan
menyusuri luka demi luka
menyusuri gigiran abad padang-padang lengang
menyusuri matahari
dan lautan abadi dahsyat sunyi

Perjalanan ini
menyusuri pantai sukma demi sukma
menyusuri geliat urat-urat hari
menyusuri dasar telaga lembah jiwa
dan tanah hitam coklat merah
sepanjang rentangan tali benang-benang nurani

Perjalanan ini
menyusuri perigi dunia terik kering
adalah jiwa kita yang lelah

Perjalanan ini
menyusuri bumi pahit manis dan langit asing
adalah kita yang sempoyongan menyandang berjuta beban

Perjalanan ini
menyusuri hutan bentangan sepi bentangan api
adalah kita yang menyandang luka dan seribu jalan
adalah kitayang mendukung senja dan sejuta salib
hitam
1974

BUNGA-BUNGA DAUN LURUH
Bunga-bunga daun luruh
Halaman ditinggal adzan
jalanan senyap lubuk terpendam
Ke ujung tangisan

Suara menyapa dalam luruhan
Beranda sunyi menatap halaman
Apakah engkau apakah bosan
Yang setia berdiri di sisi kesepian

Bunga-bunga daun luruh
Halaman itu sunyi ditinggal diam
Pelangi mencium lubuk dan kolam
Kita pun di sini ngungun dalam gerimis duka jatuh
Menghitung-hitung sukma hari-had dekat dan jauh
1974

KETIKA SOLI DEO GLORIA HAMPIR PENGHABISAN
Kampar waktu pun menghanyutkan kita
Dalam arus zaman
Selalu tiran berceloteh dengan makna ganda
Seakan pelog-pelog burung malang atas ranting yang rapuh
Terus memasang sarang dalam bringas angin puyuh

Di jingga transisi ini
Dewa-dewa mabuk matahari
Mentalkinkan riwayat
Menggiring gamelan yang tiba-tiba
mengatmosfirkan sunyi
Mencuci kemarau pekat

Di aula ini di depan audensia
Terdampar kampar waktu
Dan di tengah padang celoteh aneh ini
Kita saling tuding-menuding
Dalam lilitan benang mursal
Sementara di arah lain angin bangkit membagal
Pantai niskala. Terkesiap kita tiba-tiba

Tiba-tiba hingar. Ruang: Mahsyarl

(Selalu tertawa waktu membujuk-bujuk senja
Sambil membetulkan jam yang buru-buru
menunjuk-nunjuk jadwal)
1973

KOTA
Kotaku di sini
Gemuruh yang sunyi
Belantara kembara
ke dasar sukma
ke dalam

Kotaku di sini
Bermatahari berbulan
Di bendulnya aku berdiri
Mengaca diri kehidupan
ke lubuk-Mu dalam

Kotaku di gemuruh dada
Di ujung sukma
Megah
Api nur di sana
BaQa
Kotaku, kota kita
Kota umat
Ke mana suatu kali nanti kita berangkat
1973

SENJA DI PARANGTRITIS
Sayap-sayap camar, gaung-Mu berkabar
Serpotong awan luka
menyingkap wajah-Mu bercadar

Bias larut. Legam laut dan senja tertawa
Ada yang luruh di dada. Busuran ujung langit terbakar
Suratan-Mu mistery beribu khabar

Riap sunyi bayang-bayang. Menyusup bendul luka
Di pantai Nyai Roro Kidul. Menanti kekasih pawang
Dengan sekepal jampi mantera
1973

SANG WAKTU PUN TERBANGUN
Sang waktu pun terbangun dengan 100 matahari
Dan kucuran darah dari nganga liang-liang luka
Ketika ludah-ludah dunia yang amis
Jatuh rimis pada wajah-wajah kita yang terbakar

Sang waktu pun terbangun dalam angin runcing
Dalam suara gaib lorong-lorong hampa dan bahana cahaya
Ketika kapal-kapal kita pun merapat di dermaga luka
Dari suatu petang entah di mana

Sang waktu pun terbangun dengan 1000 bianglala
Dan nanah-nanah darah Semesta
Karena 29 anak panah
Merobek rahim jantung lukanya

Sang waktu pun terbangun dalam erangan ombak-ombak dunia
Dalam bayang bulan hitam ketika mega jatuh senja
Sang waktu pun terbangun dalam rabu dan nyali kita
Ketika bahana terakhir menikam dinding-dinding sukma semesta
Ketika di meja sebuah kitab terbuka siap dengan daftar nama-nama
1973

KITA
Manusia
Tanah
Bungkah-bungkah kata
Adam dan Hawa

Manusia
Tulang-tulang kapur tanah kubur
Rumput bunga layu
Tetes waktu berlalu

Manusia
Domba-domba di padang tanpa gembala
Tersesat sendiri
Ke ujung yang sunyi

Manusia
Tanah
Bungkah-bungkah kata
Adam dan Hawa
1973

DARI A KE Z
Lengan-lengan yang capai
Suara gaib itu
Pohon-pohon kadasai
Berjajar membisiki waktu

Ujung cakrawala
Daun violet sayap rama-rama
Sepotong bulan sabit
Mengintip celah-celah luka berdarah

Riap lalang dan kaki-kaki kerbau
Lumpur rawa dan suara serangga
Gigir bukit yang sunyi
Menanti teka-teki
1973

ENGKAU DAN AKU
Dahulu kita bertikai
Antara jalanmu jalanku
Sekarang kita sampai
Antara dua siku

Dahulu engkau ke sana
Aku pun melangkah ke anu
Sang Kala memutar kompas di belakang kita
Sekarang engkau dan aku

Engkau memetik melati
Aku menyiapkan api
Engkau menangis di sini
Aku tak tahu akan pergi

Pintu belantara itu terbuka
Burung-burung rimba berkeliaran
Kita telah sampai di ujung jalan
Memandang tamasya di sana

Siapakah engkau siapakah aku
Siapakah kita yang tersedu di ujung jalan itu
1973

CERMIN
Ada sejuta serigala
Memburu di cermin wajah kita
Lapar dan ganas
Gagak-gagak menyanyi ke arah rimba
Seperti menyayat-nyayat daging kita

Matahari meratap
Dalam remukan-remukan cermin dingin
Telaga mengaca darah hitam
Ada luka yang mengucur darah

Kita ditinggal ngungun bayang cermin ini
Serigala-serigala melulung
Gagak-gagak berteriak
Darah tetap mengucur dari luka demi luka
Kita tiba-tiba pecah dan terserak dalam cermin
wajah-wajah kita
(0, Yang Ada
Kita hanya berteriak, "aduh!" dan meraba-raba)
1973

PUISI
Jalan ini berdebu, kekasih
Terbentang di padang rasa
Enam belas matahari memanah dari enam belas ufuk
Siang pun garang sepanjang kulminasi

Bahak malam mengikut pelan langkah tertatih
Ketipak bulan putih
Di taman kekasih

Pengantinku
Antara kerikil dan pasir merah
Tersembunyi jejak-jejak yang singgah
1973

KOTA KITA DI SINI
Kota kita di sini
Dijilat ruh-ruh hidup dan mati

Kota kita di sini
Petak-petak pahir manis dan asam
Menderu diketermanguan
Berpeluh manik-manik logam

Kota kita di sini
Diri kehidupan yang gelisah
Memanjat rumah demi rumah
1973

RAHASIA
Seperti sejumlah kata
Yang menggelepar ke luar
Meniti buih demi buih
Dunia yang terlantar

Seperti sejumlah musim
Yang kering, basah, dan mandi cahaya
Merangkak pada sumbu
jantung kita

Seperti sejumlah risau, benci dan cinta
Yang berpendar pada waktu
Menggaram akar-akar nafsu
Antara Adam lagu impian ziarahmu

Seperti sejumlah kata
Yang menyalin nama-nama
Meniti buih demi buih
jiwa kita
1973

PINTU
Pintu biru diketuk dari luar
Siapakah yang berdiri di situ
Dengan suara yang lirih samar

Kujenguk dari jendela bersama angin gemetar
Hanya sebuah kenangan yang luka
Bernyanyi, bernyanyi ke ujung apar
1973

TARAKAN
Pulau kecil mendongak langit
Dan mengaca taut yang tertawa
Angin di bandar dan pawang
Membaca mantera buaya

Tambur perang di dadanya
Mengetuk-ketuk jantung lukal
1973

1973
Antara baunan jejak-jejak waktu
Dan 1.000.000 luka bayang
Kitalah musafir hilang
Mencari gelepar sisa pagi

Adalah perih luka
Garaman cuka peristiwa-peristiwa hari
Adalah 1001 tangan topan
Memukul jantung pelabuhan penghabisan

Tinggal torehan-torehan impian
Pada wajah dan seluruh tubuh
Bersimbah darah dan peluh
1973

DOA SEORANG BOCAH TUNA
Berikan padaku pagi
Cahaya dan kebun bunga
Sungai membelah cakrawala
Lubuk-Mu kaca

Berikan padaku siang
Terik didih warna kehidupan
Benua jauh dan tanjung pulau
Tugu-Mu yang kukuh di tengah desau

Berikan padaku senja
Cangkir kopi, perapian dan buku tua
Kacara rabun dan pantai sejarah
Bukit-Mu megah
1973

DALAM KIRAI SAYAP WAKTU
Dalam kirai sayap waktu
Engkaukah di situ
Suara samar lirih
Seakan-akan merangkai tasbih

Gugusan kebun apel
Suara serangga
Meramu kehidupan

Seekor serangga
Meramu daun hijau
Seekor serangga
Membangunkan rumahnya
1973

KUTULIS
Kutulis dalam senyum
Hari-hari yang ranum
Sekepal puisi cinta
Membantun sukma kehidupan

Kutulis dalam tangis
Hari-hari yang manis
Sekepal puisi cinta
Gairah dada remaja

Kutulis dalam tawa
Hari-hari berlumur duka
Sekepal puisi cinta
Melayah bicara
1973

DARI RIMBA KEHIDUPAN
Hutan daun-daun pohon
Menjangan di sisi telaga
Ada jerit dari rahim bumi tertahan
Geliat menjangan diterkam lawan

Bundakah itu atau langit pemberi kehidupan
Atau Kau atau siapa bersisi api sunyi
Kegelisahan ini adalah pertempuran
Bila reda bila gapai penghabisan

Jauh ada senyap dekat sukma dedaunan
Desah bisik-bisik musim ke ujung kehidupan
Gelepar sayap rantai dari lubuk jauhari
Ke rongga telaga itu jerit yang sunyi

Menjangan, telaga, dedaunan hijau
Sejuta senja terbantun
Kau dan aku dalam ngungun waktu
Kau dan akul
1973

SURAT
Surat ini
Kembang merah dalam hijau
Di bibir danau

Surat ini
Bunga putih dalam biru
Mekar di dasar benua
Dada penyair yang gelisah

Surat ini
Lukisan hari demi hari
Bisik riuh sukma kehidupan
Ke gigir telaga pualam

Surat ini
Untaian kalung khatulistiwa
Yang terserak di antara kita
1973

SERENADE HAMPIR PENGHABISAN
Dari pantai itu masih terdengar ujung siul
Dan lagu burung menyambut matahari dan mega timbul

Adalah taman dan bulan mengeras pada padas
Dan sepotong sajak dari bait terlepas

Selebihnya tapak kaki pada pasir tertimbun
Ketika angin mati gemetar menyinggahi rumpun
1973

SEPASANG BURUNG
(Sepasang burung menyerbu pucuk-pucuk bakau
Sepasang burung berlagu menghalau kemarau)

Tinggal gemuruh. Gemuruh hari
Tinggal terik yang keluh kesah
Sepasang dua sejoli
Memandang awan singgah

(Sepasang burung melayah cemara-cemara kota
Sepasang burung berkisah tentang senja)
1972

ADAKAH ENGKAU TETAP DI SANA
Adakah engkau tetap di sana
Memandang awan raib dan pasir penuh bulan
Adakah engkau tetap di sana
Memandang teka-teki nasib ini
Memandang gelepar sayap kata-kata
Yang disusun menurut abjad dengan raji dan setia

Adakah engkau tetap di sana
Memandang kelabu kota dan bumi yang gempita
Memandang burung dan dentur ombak dari rahim telaga
Yang menderu tak kenal waktu mendepak bingkai pematang kita

Adakah engkau tetap di sana
Memandang dan memandang lagi
Memandang bayang-bayang yang dihalau kemarau

Memandang senjakala
Dan iringan sayap-sayap kelelawar
Yang memintas-mintas senja samar
1972

MENUNGGU MALAM DI SINI
Menunggu malam di sini
Menunggu laut dan pantai legam
menunggu matahari
Dan seluruh gambar perwujudan

Menunggu malam di sini
menunggu genderang pembebasan
Yang ditabuh ruh-ruh
Dari puncak seribu menara

Menunggu malam di sini
Menunggu kapal-kapal dan sampan nelayan
Menunggu gelepar camar dan harum sayap rama-rama
Serta angin yang membersihkan pelabuhan di malam sisa

Menunggu malam di sini
Menunggu warna-warna mimpi
Yang dipukuli ombak
Menunggu malam di sini
Menunggu bisik-bisik harap
Menunggu langit pijaran api
Dan suara-suara gaib
Melayah ombak yang dahaga sendiri
1972

CERMIN
Ada sejuta serigala
Memburu di cermin wajah kita
Lapar dan ganas
gagak-gagak menyanyi ke arah rimba
Seperti menyayat-nyayat daging kita
Matahari meratap
Dalam remukan-remukan cermin dingin
Telaga mengaca darah hitam
Ada luka yang mengucur darah
Kita ditinggal ngungun bayang cermin ini
Serigala-serigala melulung
Gagak-gagak berteriak
darah tetap mengucur dari luka demi luka
Kita tiba-tiba pecah dan tersentak dalam cermin wajah kita
(O, yang ada
Kita hanya berteriak aduh dan meraba-raba)

PERJALANAN
Bayangan kekasih yang tulus
Pergi bersama matahari
Bumipun pupus segala tuntas dan aus
Juga sunyi nyanyian kudus
Siapa yang menyeru dari balik hari
Mengetuk lukuk likukan nurani
Segala hanyut : jiwa dan hati
Tuhanku yang di pintu menanti ?
Irama yang salih menyeru malam putih
Gadiskukah yang di sana melambai sayup
Aku terhenyak aku masih merangkai tasbih
Menyisir peluru menyisih dosa hujan yang kuyub
Pada meja aku menghabiskan gelas
Tuak dan Tuhan dan kekasih yang tak ternoda
Menyanyikan keras-keras firman dari kitab pada nabi
Seru-Mu dari sunyi : Fajar ! Fajar ! Matahari !

ELEGI
Gerimis pun memahat-mahat kaca
jendela. Dan di luar pintu
kita masih setia menunggu
musim tak lalu !
Bunga-bunga. Aromanya mengeras
di atas lanyai bumi
Dan kematian selalu memanggil-manggil
usia ! dari balik jendela
nestapa. Mengelupas kita dalam dingin menggigil
Betapa pahit dosa dan cinta
di mulut kita
yang dikunyah : darah
Di jendela tinggal matahari.
Berahi dan bunga sepi.

AKU MEMILIH
Aku memilih tanah
Tapi ayahku berang
Ia memberiku sungai,
Datangi sumbernya di udik sana,
Yang mancur di antara akar dan batu-batu.

Aku memilih arus
Tapi abang memberiku air
Ikuti arusnya sampai muara,
Suaranya menghentak jiwa.

Aku ragu saat kudengar suara ibu
Yang mana harus kupilih
Muara atau sumbernya.
Kau harus pilih kehidupan,
ibuku tersenyum sambil meraba cahaya harapan

Aku gagu melangkah di antara tasik dan pegunungan
Di manakah kehidupan?
Adikku berseru, Kau harus pilih hati dan cinta
Sumber segala cahaya.

Di antara enggan dan keinginan
Aku bertanya rumah cinta
Di mana?

Yang bersih hanya kasih,
Kakekku berkata menunjukkan benih
Aku tengadahkan dada
Di sini? aku menunjukkan kepala

Bahagia selalu ada di dalam sepi dan ramai,
Nenekku menimpali sambil membersihkan kuali
Adakah kehidupan berbiak di antara tungku
Di dasar nyala api?

Aku menyusuri segala mula jadi
Fajar di kaki: di mataku jalan panjang sekali!

SERULINGMUKAH MENGHANYUTKAN TONGKANG
Serulingmukah menghanyutkan tongkang
Menggapai sungai
Menambur di arus deras
Menghamburkan lagu ke cakrawala bebas

Segala perih dini hari
Membersihkan beranda
Tanpa restu
Bayang wajahmu yang menunggu

Kelap-kelip mimpi yang diburu
Seperti penantian
Seperti perkawinan
Rahasia kado kehidupan

Waktu pun memuja
Sunyi yang tua
Segalanya padang rawa
Kematian tanpa kata-kata

Perpisahan tiada
Perih nadi, arus, dan air
Lidah yang dahaga
Duka anyir

Serulingmukah mengalun dalam tongkang
Mendarah luka
Segala fana menderai sungai
Menunjuk-nunjuk pelayaran muara

UPACARA BULAN
Upacara bulan di ranting-ranting jiwa
Memelihara serangga
Lalu matahari esok hari
Mendirikan kemah-kemah semut api

Para bidadari menarikan birahi
Di gerbang-gerbang kehidupan
Kaudengar ketukan demi ketukan
Di pintu-pintu hati kita?

Yang diserukan sauh pada lautan
Kapal dermaga kita
Yang diserukan mercusuar
Nyawa cinta yang gemetar!

Adakah kaudengar telepon hati
Yang berbicara tentang kejujuran budi
Dunia kita
Tentang sakit dan derita?

Upacara matahari di pusaran waktu
Memelihara padi
Di ladang-ladang berdarah
Di kota-kota kesangsian

Kecemasan purba melekat di dahi dan ubun kita
Tanda di pundak-pundak sejarah
Kaulihat langit merendah
Menyerbumu dengan kesangsian derita!

ROH ANGIN
Roh angin mencari akar pohon
Yang tertanam di pusat bumi
Sementara pohon-pohon hilang dari rimba
Meninggalkan luka zaman

Musik tanah menangisi kuburan
Menangisi gurun padang kesuburan
Kesetiaan diuji dunia yang tuli dan buta
Lewat derita dan kematian

Roh malam memburu sayap rindu
Mengejar kereta pulang
Sayup lagu gugur bunga
Tak alang kepalang

Tangkai-tangkai rahasia
Menulisi kegelapan tebing
Di nisan-nisan di batu-batu
Mengurai kecewa

Di halaman yang beku oleh derita
Roh pagi bangkit bersama cinta
Memanggilmu dalam doa
Mengubur luka

Roh segala roh bersatu dalam jiwa
Berenang bersama anak-anak bulan
Melepas lambaian keranda ke wilayah gulita
Mengusap tolakan gerimis keabadian!

KUALA LUMPUR
Suara seperti kehilangan suara
Antara lidah melayu dan logat eropa
Lift dan tandas
Banjir ilusi: hujan kota menderas!

Antara gedung dan oto menderu
Antara rumah dan sungai itu
Suara pesawat dan kereta api lalu
: Kita bertemu

Panjangnya garis sejarah
Memintas masa silam
Musim demi musim yang runcing
: Patah di tengah

Kini banjir kenangan
Negeri kuyub waktu
Seribu tamu para antrean
: Mengetuk pintu!

MANILA
Batu tengah kota
Air melimpah

Merembes tanah
Luka di dada

Gunung api
Pelabuhan sepi

Franky*
Rayap di tengah buku
-------
* Sastrawan F. Sionil Jose

EPITAF
kepada (alm) soesilo murti

Serasa masih ada yang berkata-kata
Menyeru seperti lagu
Seperti sosok wajah tertawa
Bayang-bayang yang berlalu di pintu

Datang pada hidup dan pergi
Meninggalkan meja ruang hampa
Luruh bunga tak kembali
Pada rumah dan kawan sekerja

Lugas dalam tugas pekerjaan
Perihnya membenih dan menanam
Sumringah dalam laku kehidupan
Biru langit dan matahari terbenam

Ada kata-kata ada suara tersimpan
Ada kenangan ada gairah kerja menanti
Ada sepi ada duka tak terucapkan
Yang luruh diam-diam pada dataran hati

Yang berdiri depan pintu mengucapkan salam
Yang duduk di kursi melukiskan kata diam
Yang melangkah sendiri di jalan pulang
Yang menanam bunga kuntum-kuntum kasih sayang

Segala silam dalam cinta
: Indahnya kehidupan
Di atas jalan tak bertabur bunga

KATEKISASI
Hatiku yang hitam telah memetik bedil
Dengan tangan kekasih
Di ujung pelarian aku masih coba memandang: nihil
Terlihat dalam diriku pertempuran kaum salih

Dengan hati merah aku membakar matahari
Menggulir bola-bola nestapa
Tuhan terus memetik kecapi di hutan-hutan sunyi
Membungkas jiwa yang diam, o, sang pertapa

Kekasih terus bertanya tentang harga kesetiaan
Tentang kejauhan arasy-Mu
Aku menunjuk ke puncak terus ke bawah ke dataran
Kepada hidup dan jawaban yang tersimpan dalam kalbu

Kita berhenti pada luka
Tepi hari-hari mati
Kupersembahkan hati, jiwa semesta
Ayat-ayat fana, jantung tertidur pagi hari


LETUPAN BAMBU, TAMBUR UPACARA
Letupan bambu, tambur upacara
Menyala di air
Kaki-kaki telanjang
Giring-giring
Malam menari
Bulan

Bulan di langit-langit
Lou
Seribu ancak
Lilin
Pisang dan ubi
Balai-balai permandian
Daun lenjuang
Getang
Tarian malam
Mengupas malam

Yang sakit bawa ke sini
Yang muntah dan mandul
Yang pekung dan lepra
Bawa ke sini
Yang kehilangan
Seribu satu penyakit badan dan jiwa!

Tambur mengeras
Dalam malam keras,
Segala penyakit pergi
Encok, koreng gatal
Lumpuh dan penyakit mata
Jantung demam kura
Pergi semua
Ke hutan-hutan tak bertuan!

Sepuluh penari
Sepuluh mangkuk lilin
Menari dalam gelap

Beras kuning
Terbang ke udara
Beras putih-hitam
Terbang ke udara
Sukma pulang ke sukma

Ancak piring upacara
Tambur leluhur
Lemang ketupat tumpi
Dibagi baki
Panggang ayam panggang babi
Salawat api
Yang merecik di dapur dupa
Akar wangi
Yang menutup serapah upacara
Balian mulut waktu,
Pulang semua pulang
Yang tinggal punggawa
Penjaga badan jiwa!

Malam mengucapkan tanah
Hari! Hari!

ADA
Ada belantara dalam diri kita
Durinya amat lebat
Ada laut dalam diri kita
Derunya tak kenal waktu
Ada api dalam diri kita
Nyalanya membakar segala
Ada dengki dan cemburu dalam diri kita
Perihnya mengiris dinding hati
Ada cinta dalam diri kita
Tumbuh dalam taman bunga-bunga terlarang
Ada yang tak terkatakan dalam diri kita
Ada: !


KUBIARKAN
Kubiarkan tulang-belulangku
Mengadu kepada langit
Kubiarkan kuku dan rambutku
Mengadu kepada bulan
Kubiarkan mataku
Mengadu kepada matahari
Kubiarkan darahku
Mengadu kepada bumi

Kubiarkan! (adikku terus menari!)

Segala mengadu kepada tiada
Celaka!
Gerak batin dan jiwa
Mengadu kepada cuaca
Segala mengadu kepada keabadian

Kubiarkan! (hanya secercah isyarat dian!)

Segala gerhana di mulut
Segala gempa di telinga
Segala kerongkongan dahaga

Kubiarkan segala!

Kota-kota tak henti berjudi
Perawan kehilangan angin
Lalu matahari membela hawa

Terbakar jurang kehidupan!

Siapa namamu?
Kesunyian?
Siapa namamu?
Kematian?

Serempak segala mengadu pada darah
Siapkah?
Ibu atau wanita pujaan dunia?

Siapkah?
Kubiarkan!
Kau atau aku?

SISI MALAM
Sisi malam seperti belati
Seperti rampok
Mabuk kelaparan
Gadis yang ngidam tanpa suami

Perempuan yang memahat-mahat bahagia
Mengasah rahasia bunga
Menertawakan kesedihan
Di pintu marabencana

Sisi kehidupan yang tajam
Setajam pasar dan rupiah
Roh layang-layang kehidupan
Kecambah puisi para bedebah!

Lagu kabut derita yang padat
Mempermalam kota
Rahasia hitam di lorong-lorong
Menanak kengerian di ruang-ruang jiwa

Lalu cakrawala dan bintang kejora
Lalu lautan dan gelombang dunia
Tumpah di ladang-ladang minyak terbakar
Tahun-tahun tanpa akar

Sisi hari yang tajam
Lumpur gerak cahaya
Perjalanan di atas duri
Gadis yang ngidam tanpa suami

MANTRA PERKAWINAN ANYEQ HALING UBUNG DO DENGAN WAU NUKING
UNG*
Inilah adat aveq, upacara perkawinan
Anyeq Haling Ubung Do dengan Wau Nuking Ung
Putra yang diturunkan Tamai Tingai Buring Aring
Dengan putri kayangan
Yang menjelja jadi manusia
Seperti kita.

Tamai Tingai Buring Aring
Dan semua arwah leluhur seperti kakek dan nenek
Datuk dan buyut kita
Sampai ke atas ke silsilah ketujuh belas
Yang memandang dari kejauhan
Ini kami menyapa dengan beras
Nyawa yang menjelma dari alam raya
Sumber kekuatan di dalam kehidupan
Beras yang berasal darimu
Kami hitung sampai delapan

Dengan daun savang akan menghilangkan
Dengan daun ureu akan melenyapkan
Noda dan beban yang melekat
Daki yang mengotori
Badan dan pernikahan agung
Anyeq Haling Ubung Do dengan Wau Nuking Ung

Segala kesialan dan derita,
Segala sakit penyakit dan malapetaka
Lepas dan lenyaplah bersama mendung hilang,
Seiring terbenamnya matahari
Yang pergi ke balik bumi
Kami dipulihkan menjadi putih bersih
Murni kembali seperti sediakala

Ini saya mengait dengan kawit aveng
Saya kait dengan kawit deset
Harap kami pada Tamai Tingai Buring Aring
Nasib dan kehidupan baik
Kelayakan sempurna dalam kehidupan
Anyeq Haling Ubung Do dan Wau Nuking Ung
Kekal selama-lamanya
******
Minumlah dari tuwung bambu
Air yang diciptakan Tamai Tingai Buring Aring
Air yang menyejukkan badan
Air yang memberi kehidupan
Air yang sejuk dan dingin
Yang mendinginkan sendi-sendi kehidupan
Agar Anyeq Haling Ubung Do dan Wau Nuking Ung
Damai bahagia selama-lamanya
Bersama damai bumi yang setia
Menerima segala tiba
******
Kini saatnya mengikat gelang manic
Pada pergelangan tangan pengantin
Ini ikatan nasib mujur kebaikan
Mengikat suasana kekeluargaan
Semuanya menyatu dalam kehidupan
Kukuh kuat tegar
Seperti manik yang indah
Melingkar di pergelangan tangan
Pengantin kehidupan

Tiba masa pengantin untuk menyantap
Nasi dan garam
Nasi yang memberi napas
Garam yang mengawetkan
Sehingga hidup jadi kekal kebajikan
Karena terlepas dari ketidakpastian
Semua keturunan lebih berarti
Laksana cahaya suar di gelap malam
Tak akan pudar
Seperti cahaya lentera damar api
Abadi
Selama-lamanya
*****
Inilah waktu kehadiran yang ditunggu
Bagi keluarga Anyeq Haling Ubung Do
Dengan Wau Nuking Ung
Menginjakkan telur
Menginjakkan dupa wangi
Menginjakkan kaki di tanah leluhur
Yang penuh rezeki
Gembur subur
Manusia dan tanah menyatu
Dalam kehidupan
Seperti tapak kaki
Menandai kehadiran
Di muka bumi pemberian para dewa
Bersatu untuk menerima berkat
Yang ditarik dari darat
Yang dihela dari sungai kita
Dari huma leluhur semua
Untuk kebaikan kehidupan

Seperti doa yang manjur
Kami sampaikan nasar
Demi umur
Bersama kehadiran Tamai Tingai Buring Aring
Pengantin menerima kemaslahatan
Yang abadi
Tanah ini adalah tanah janjian
Yang mengalirkan harapan
Kebajikan
Pengantin telah menyatu
Dalam kehidupan
Seperti awan menyatu dengan lautan
Seperti asap menyatu dengan api
Semuanya senasib sepenanggungan
Bersama berkat yang berlimpah
Tumpah ruah
Di dalam kehidupan
Anyeq Haling Ubung Do dan Wau Nuking Ung
Hadir kesejukan abadi
Seperti aliran sungai kekal
Dalam kerukunan dan kedamaian
Yang terikat di bumi
Dan di langit keabadian
Tuhan.

*Anyeq Haling Ubung Do dan Wau Nuking Ung diyakini merupakan cikal bakal suku Dayak
Bahau yang kini mendiami pehuluan Sungai Mahakam, Kutai Barat, Kaltim.

MATA
isyarat yang menikam jantung hari
pisau, panah, pedang api firdausi
laut: kolam yang dasar tiada
cahaya yang diam-diam mengintip kita

ZIARAH
telah kutempuh ziarahku setiap waktu
antara pulau kenangan dan jiwa yang bisu
telah kubangun rumah di bibir gelombang dan dada kota
kubangun jembatan antara kebeliaan tua jauhari

hari-hari menepi melawat bersama sauh
siapakah lagi yang mati di sekitar kampung jauh
memanggil bunyian alam dan gong penghabisan
memanggil tangis dan duka yang redam

sebuah legenda mimpi laut
tualang padang akal
kanak-kanak tertawa mengusap mainan mimpi pertama
babak lakon yang bengal

ziarah panjang kekasih sajak
di sini telaga matahari: duniaku terserak!

MAZMUR PAGI
wangi pengantin
napas hayat
: pelaminan

harum kehidupan
mengemaskan fajar
: lembah

merdunya nyanyian tanah air
lagu leluhur kita
: lapar! lapar yang baka!

PINTU
bunyian termanis dari kata
ialah kecantikan
sebagai keindahan yang dapat menaklukkan
segala kekuatan

siapa yang lebih bijak dari alam
Tuhan?
Tuhan adalah keabadian
cinta yang menciptakan kedamaian

siapa yang lebih dari aku
ialah mau
syahwat yang memikul beban zaman
yang tak sampai jalan

apakah yang bernama nilai dan harga
emas? jiwa? atau yang bernama kejayaan
perasaan yang berjalan
likuan maya?

bunyian terpahit dari kata
ialah kecantikan
karena nasib ia menggorok leher sendiri
ketika diri kehilangan diri

diri yang berjalan menyongsong kehidupan
bernyanyi dari ufuk-ufuk hidup
kasih, ini alam murni lagu tak sampai
menyeru dari balik pintu-pintu tertutup!

SAJAK 2
segala memberat dalam warna transparan
lambang, tema, kerinduan-mu menyapa
jalan berujung cakrawala, titian keabadian
gerak kehidupan, napas, kecintaan penyair tanpa batas

SKETSA
di luar gerbang hingar, lagu-lagu liar, bendera kain rombeng
hari-hari mengandung lapar, musim berdenyar, lonceng
berkeloneng
bapa! bapa! petaka apakah ini, atau gethsemani
duka firdausi?

RUMAH SAKIT CIKINI 29 APRIL 1978
yang bangkit dalam waktu
dalam sabda
riang suara-suara gembira

kami berpaling kami menatap ke depan
dinding dan pilar-pilar pualam
jajaran firman dahulu kala

yang terjadi dari kata
cinta yang dulu juga
lubuk kasih setia
temali jiwa

kami melangkah kami memasang arah
jalanan dalam arus
damai yang kudus

yang mekar dari tanah janjian
bunga pohon-pohon hidup
khuldi keabadian

ROH YANG PERGI KE SWARGA
roh yang pergi ke swarga
dari lepasan derita
kerbau ditombak di belontakng
ayam disabung di halaman
babi disembelih
tuak-tuak mengalir
keringat mengalir!

irama titi dan tangis
menciptakan tangga
desahan napas kerbau
menciptakan pintu
yang menuju ke dunia atas

dalam kelahiran
hidup dimulai
upacara bayi merah
dalam perkawinan

hidup dimulai dalam hidup
pelahiran generasi
dalam kematian
hidup dimulai di dunia baru
dalam hidup baru

roh berjalan ke swarga
meniti benang-benang upacara
napas warisan leluhur

****
Belontankng: patung ulin untuk mengikat kerbau dalam suatu upacara tradeisional dayak
Titi: suara gong ditabuh sebagi tanda kematian
Swarga: surga, menurut kepercayaan dayak benuaq, orang yang meninggal harus dibuat suatu
upacara agar roh atau jiwanya bisa masuk ke swarga.

AMUNTAI 16 DESEMBER 2007
Untuk Syarifuddin R dan Y.S. Agus Suseno

berdiri di tepi sungai ini
berdiri di tepi waktu
tepi tahun-tahun pergi
jembatan masa lalu

riak-riak sastra di kota pangeran
riak kisah-kisah dilupa
kapal atau perawan atau adzan
bersaing dengan jiwa bangsawan raja-raja

lalu pagi lalu siang
bersaing dengan hujan dan terik matahari
lalu sajak lalu kisah rancangan lama
menyelam di kedalaman sanubari

siapa membangkitkan batang terendam
cemas anggaraini antemas
perih nyeri burhanuddin soebely
zaman tanpa peduli?

air dan arus dan kapal angkutan
berlaju menembus waktu
masihkah kau di situ
memerih sedu tertahan-tahan?

yang berkhalwat dalam musim
berzikir melepas jisim
adakah masih rumah puisi
tumbuh kata-katamu baiduri?


PUISI-PUISI KUNTOWIJOYO
Sabtu, 15/02/2014 - 09:34 Sastra Seratus ...
Lain-lain |
Koleksi |
Puisi |
Kuntowijoyo
ALAM SEDANG BERDANDAN
Tangan yang tak nampak
Menjentikkan kasih ke pohonan
Semi di cabang-cabang
Adapun di rumputan
Seribu warna jambon
Memberikan madunya
Pada lebah dan kupu-kupu

Wahai yang menghias diri di air sungai
Simpanlah senja di bawah batu-batu
Angsa putih ingin mencelupkan bulu
Menuai ikan-ikanmu

Perawan mencuci mukanya
Masih tertinggal wangi kulitnya di permukaan
Ketika burung mandi dan menyanyi

Terdengar bagai engkau bangkit kembali
Tangan yang tak nampak
Mendandani.

PERJALANAN KE LANGIT
Bagi yang merindukan
Tuhan menyediakan
Kereta cahaya ke langit
Kata sudah membujuk
Bumi untuk menanti

Sudah disiapkan
Awan putih di bukit
Berikan tanda
Angin membawamu pergi
Dari pusat samudera

Tidak cepat atau lambat
Karena menit dan jam
Menggeletak di meja
Tangan gaib mengubah jarum-jarumnya
Berputar kembali ke-0

Waktu bagi salju
Membeku di rumputan
Selagi kaulakukan perjalanan.

MALAM
Bayang-bayang bumi
Memalingkan tubuh
Memejam lelah
Meletakkan beban ke tanah

Maka malam pun turun
Memaksa kucing putih
Mengeong di pojok rumah
Memanggil pungguk
Yang sanggup mengundang bulan

Karena hari sedang istirahat
Di ladang angin mengendap
Tidur bersama ibu bumi
Dari kasih mereka
Ilalang berisik
Ditingkah suara jangkrik
Di sungai, air
Pelan-pelan
Melanda pasir

Justru pada tengah malam
Rahasia diungkapkan.

KELAHIRAN
Setelah benih disemaikan
Di pagi pupus menggeliat
Bayi meninggalkan rahim
Memaklumkan kehadiran

Cempaka di jambangan
Menyambut bidadari
Turun memandikan
Bahkan hari menanti
Sampai selesai ia mengeluskan jari
Merestu kelahiran
Membungkus dengan sari
Mendendangkan kehidupan

Para perempuan
Berdandan serba kuning
Pucuk mawar di tangan
Duduk bersila
Menggumam doa-doa

Hari yang semalam dikuburkan
sudah tiba kembali

Selalu kelahiran baru.

LELAKI
Ketika kentong dipukul
bintang-bintang berebut
menenun pagi
jadi samudra

Di laut
naga memukul ombak
perahu tergoyang
bagai mainan
Dua ribu tangan menjinakkan air
menahan gelombang
Halilintar di kepala
bagai isyarat
memaksa laut
menyerahkan diri
untuk dijamah
Pelaut sudah turun
jaring-jaring perkasa
menangkap duyung
yang menggoda cinta
Para lelaki
berdiri di pinggir kapal
mengagumi wajahnya
menarik napas
Lelaki:
yang hanya bercinta di malam hari

YANG TERASING
Ada dinding-dinding di gedung
membagi ruang jadi dua:
engkau dan semesta
Kamar-kamar raksasa
menyimpan hidup
dalam kotak-kotak
Engkau terkapar di sana
terpaku di kursi
tangan ke lantai
dilingkar tembok baja
yang membungkus napasmu

Sedang di luar
hari berjalan sebagai biasa
lewat lorong luas
yang indah hiasannya
mengirim berkas matahari ke kamarmu
memancing duka.

SUASANA (1)
Yang serba kaca
sudah ditanam di kamar
cangkir dengan kopi di dalam
mengawasi pagi
membiarkan uap menyedap kamar

Bapa sedang memandikan bocah
terdengar air berkecibak
Ibu menyiapkan rahmat pagi
memerintah burung di luar
untuk menyanyi
dan angin pagi
melompat jendela
mendandani pipinya

Ingatlah, Ibu menyediakan
kopi dan pipi - untuk dicium
ketika bapa pergi
lunak kulitnya terasa
bagai tangan halus
menghapus sisa duka

Pagi semerbak oleh
wangi tubuhnya
mengantar bapa pergi bekerja.

SUASANA (2)
Seekor mainan kijang
duduk di atas kursi
hari itu
sudah dijanjikan
sebuah tamasa

Sedang bocah lelaki
diajar ibunya
mengucap selamat datang
ketika Bapa pulang

Diam-diam
mawar kembang di halaman
rumput
mencat mukanya
hijau dan cantik

Sebentar, waktu
Bapa kembali
pintu terbuka
vas di meja
mekar merah warna
selapis taplak sulam sutera
melambai tepinya:
Senyum di mana-mana.

MENARA
angin selatan
mendaki pucuk menara
meliukkan puncaknya
dua meter dari tanah

orang berkerumun
dengan mata silau
mengagumi kubah
alangkah indahnya
sungguhkah ini terjadi

dua puluh jari meraba
dua puluh ribu jari meraba
sebenarnya,sebenarnya

beginilah
kalau sudah tiba waktunya
menara pun
merendahkan diri
mencium tanganmu.

SANG UTUSAN
Dikabarkan
pada tanggal satu bulan Muharam
akan tiba Sang Utusan
dalam perjalanan kembali
menjenguk warganya

Mereka keluar dari rumah-rumah
berdiri di taman
menantikan
Bunga-bunga mawar di tangan
nyanyi kudus
dan detak-detak
harapan

Tidak.
la tidak mengikuti angin utara
ia lewat menurut ilhamnya.
Pulang, ia akan mengetuk pintumu.

Mereka saling memandang
barangkali itu benar
lalu kembali ke rumah
menaburkan mawar di ambang
menyimpan nyanyian

Malam tidak tidur
untuk di pagi hari
mereka temukan
jejak Sang Utusan
di halaman.

HARI KE-N
Hari ke n dari Adam dilahirkan
mega putih menyingkir ke tepi
langit terbuka
sederet burung undan
terbang di garis cakrawala

Tidak habisnya engkau memuji
hari itu di hutan
serigala mencumbu kijang
yang berubah jadi kencana
engkau duduk di tepi telaga
mengaca
bahkan engkau heran, mengapa
bibirmu tersenyum.

PEMANDANGAN SENJA
Dua ekor ikan
Menutup mata
Mereka lihat tanda
Air berhenti mengalir
Maka gugurlah kepercayaan
Perempuan menangis di jendela
Menghentikan pejalan
Lelaki tidak juga datang
Merpati di pucuk atap
Kesal menunggu senja
Menahan dingin
Mengharapkan bintang turun menyapa
Jauh di langit
Kelompok pipit mencari pohonan
Adakah masih tersedia daunan?
Mereka hanya berputar-putar.

Terasa juga malam ini
Lelaki tidak akan pulang
Barangkali sore harus dibatalkan
Tidak ada lagi:
Merpati harus tidur di awan
Pohonan sudah ditebang
Tidakkah kaudengar tidak ada lagi peradaban?

PINA
Di atas pohon pina
surya
mempersembahkan sinarnya
pada semesta

Seseorang tertidur
sangat lelap
di bawahnya
tidak tahu
bahwa Waktu sudah berjalan
sampai di tikungan
dan berhenti:
Sebagai ada yang tertinggal

Seseorang yang dikasih
sedang menikmati istirahat
sangat sayang membangunkan.

PEPOHONAN
Sebagai layaknya pepohonan
menampung kenangan
dunia yang tergantung di awan
sudah sampai di simpang

Ada kubu terbungkus daunan
mengeluh pelan
memanjakan impian
Ayolah kubur dukamu di rumputan
senja sudah mendekat
malam berjalan merayap
engkau tentu mengharap bulan

Dalam pepohonan
yang berbuah rindu
aku mendengar
sesuatu yang tak kutahu
Namun aku suka padamu.

PADA HARI YANG LAIN
Pada hari yang lain
di angkasa
seribu gagak raksasa
menyerbu matahari
menggugurkan batu-batu
terbang menutup ruang

Malaikat langit ketujuh
turun menghalau perusuh
menghunus pedang guntur
berkilat-kilat
darah mengucur hujan
langit amis kemerahan

Engkau di sini
di kebun semangka pinggir desa
bersama lima bidadari
mengajarmu menyanyi
dan merangkai puisi.

ENGKAU, SUKMA
Sukmamu bangkit
Bagai bianglala
Berdiri
Di cakrawala
Merenda siang dalam impian
Gemerlap warna-warni benang sutra.

Badai tidak datang
Angin pulang ke pangkalan
Istirahat panjang.

Langit menyerah padamu
Menggagalkan lingkaran
Surya kabur kembali ke timur.

Sepi.
Hanya napasmu yang tenang
Terdengar bagai nyanyian.

PABRIK
Di sini dilahirkan raksasa
bertulang besi bersaraf baja
tidak perlu nyanyi
dan ninabobo bidadari
Berjalan sedetik sesudah turun dari kandungan
melambaikan tangan
Aduh, jari-jarinya gemerlap bagai halilintar
Laki-laki dan perempuan
datang menghormat
ia pun mengulurkan tangan
untuk dicium.

Sesungguhnya ia dilahirkan dari rahim bumi
oleh tangan lelaki
Sesungguhnya ia dicipta dari tanah
untuk membantu ayah
menggembala kambing dan menyabit rumputan.
Sayang, mereka sangat memanjakannya
hingga raksasa itu jadi anak nakal
mengganggu ketenteraman tidur.

Awaslah, jangan lagi engkau melahirkan
anak-anak yang bakal jadi pembunuhmu.

MOBIL
Mobil-mobil sudah berangkat
pergi ke tengah kota
meninggalkan gas dan debu
terdengar mereka tertawa
karavan yang sempurna
Di pusat kota
di muara yang deras airnya
mereka labuh waktu

Aku menutup mata
tidak karena debu-debu
aku ingin melihat rumahku
dalam sunyi di tengah rimba kunang-kunang
Alangkah jelasnya, Tuhan, alangkah jelasnya.

MUSIM PANEN
Setelah semusim
tangan-tangan sibuk
memotong pohonan
di kampung halaman
pak tani
mengundang anak-anaknya
memanen kolam
sudah waktu ikan dinaikkan

Segunduk matahari
menyingkirkan sepi
dari danau
mendorong sampan
berlayar dua-dua

Di bukit
batu sudah dipecah
sekejap saja, bagai hanya main-main
rumah-rumah berdiri
melindungi perempuan
melahirkan bayi

Hari itu derita dihapuskan
Keluarlah lelaki-perempuan
memainkan udara dengan selendang
menyulap siang dalam impian
warna-warni dan wewangi

Anak lelaki-perempuan
menabuh genderang
menyebar kenanga
memaksa matahari
berhenti di balik daunan

Malaikat dan bidadari
menonton tarian
senyum mereka
menyentuh pohonan

Semesta berpesta
di tengah hari
pada musim panen abadi.

PEJALAN
Pejalan sudah kembali
mukanya pucat pasi
terbungkuk
di bawah kain lusuh
tak ada lagi cahya matanya
bergegas pulang
ke rumah yang tak jelas di mana
berhasrat keras melepas beban
yang lama mendera punggungnya

(rumahmu tidak di sini
tetapi jauh di dasar mimpi)

ia tercengang
tidak ada jalan balik lagi
musnah dihamburkan angin
hanya debu-debu

ia merintih pelan
takut membangunkan derita
menahan lelah yang sangat
sempoyongan, dan
terbatuk-batuk
ah, alangkah penat
(ternyata ia hanya harus berjalan
atas putusan sendiri
di pagi hari)

KOTA
Kotaku yang jauh
padam lampu-lampunya
angin menerpa
lorong-lorong jelaga

Kotaku yang jauh
menyerah pada malam
seperti di siang hari
ia menyerah pada kekosongan

Tuhan
nyalakanlah neon-neon itu.

IN MEMORIAM: YANG TERBUNUH
Sekali, hutan tidak menumbuhkan pohon
Burung melayap-layap, terbakar bulu-bulunya
Bumi mengaduh, menggapai bebannya
Pemburu tidak pulang sesudah petang tiba
Lampu malam dipetik dari gunung api.

Malaikat di angkasa menyilang tangan di dada
Menyesali dendam yang tumpah
Memalingkan muka tiap kali darah menetes di tanah.

"Mengapa kaubunuh saudara kandungmu?"

SUARA
Ada suara menderu dan warna ungu. Terserap
jasadku. Kukira akan padan juga. Tetapi tidak.
Adakah engkau juga menangkap makna itu? Di luar,
sebagai sediakala. Langit bersatu dengan birunya
menyelimuti bumi yang diam. Pelan udara merayap,
menggosok-gosok di pohonan. Engkau pasti tak
mendengar suara itu. Ada gemuruh di tubuhmu.
Barangkali ruhmu sedang mempersoalkan gelombang
yang tak mau berhenti itu. Gelombang-gelombang
suara. Gelombang-gelombang warna. Bercahaya-
cahaya! Membuatku lupa bahwa hari sudah malam,
sudah waktunya pergi tidur. Tidak, ia bergerak-
gerak. Menuntunku ke mimpi yang lena sebelum
bahkan mata berhasrat memejam. Hai! la mengucapkan
sesuatu yang sempurna. KATA. Aku tak paham
apa. Terasa bagai buaian. Mengayun-
ayun. Sebagai di benua asing aku keheranan.
Tenggelam di garis batas, yang sayup-sayup.
Jauh, jauh. Ada jalan dari berkas cahaya, sangat
licinnya. Bagai meniti benang sutra, aku berjalan
di atasnya. Berjalan, tidak ada ujungnya.
Kekosongan dari tepi ke tepi. Aku kehilangan
jejak sudah. Namun, aku berjalan juga. Alangkah
nikmat jadinya! Suara itu masih menderu. Warna
masih ungu. Tiba-tiba aku kenal benar.
Tiba-tiba saja aku tahu. Sudah lama aku merindukannya.

MUSIUM PERJUANGAN
Susunan batu yang bulat bentuknya
berdiri kukuh menjaga senapan tua
peluru menggeletak di atas meja
menanti putusan pengunjungnya.

Aku tahu sudah, di dalamnya
tersimpan darah dan air mata kekasih
Aku tahu sudah, di bawahnya
terkubur kenangan dan impian
Aku tahu sudah, suatu kali
ibu-ibu direnggut cintanya
dan tak pernah kembali

Bukalah tutupnya
senapan akan kembali berbunyi
meneriakkan semboyan
Merdeka atau Mati.

Ingatlah, sesudah sebuah perang
selalu pertempuran yang baru
melawan dirimu.

WAKTU
Engkau dibunuh waktu
Sekali lupa mengucap selamat pagi
tiba-tiba engkau sudah bukan engkau lagi
Waktu membantai bajingan dan para nabi
kerajaan-kerajaan kitab suci
peradaban di buku sejarah
Semua harus menyerah.

Engkau sibuk memuji namanya
selagi ia berusaha menghinakanmu
memendammu di bawah batu-batu
(Engkau tak bisa berteriak
ia juga melahirkan koor yang berisik dan keras)

Seperti singa lapar
ia duduk di meja
sudah mencakarmu
selagi engkau bersantap

Ssst, pikirkanlah
bagaimana engkau bisa membunuhnya
sebelum sempat ia menerkammu.

SESUDAH PERJALANAN
Sesampai di ujung
engkau menengadah ke langit
kekosongan yang lembayung

Ayolah, Ruh
tiba saatnya
engkau menyerahkan diri

Sunyi mengantarmu ke kemah
di balik awang-uwung
di mana engkau istirahat
sesudah perjalanan yang jauh

KABUT
Ada kabut di atas bukit
Pergi kesana
daerah samar tak bertepi
di lindung hutan kenangan
bayang-bayang purba
(Kaujamah puncaknya
tiba-tiba terlepas rindumu)
Bidadari kuning rupanya
menguntai permata
melempar mawar
membagi rahasia

Ada kabut di atas bukit
Bersumpahlah
Demi impian terpendam
mendaki punggungnya
berdiri di tengah-tengah
dan berseru:
Kutemukan daerah baru.
(Sebenarnya daerah yang dulu
tetapi engkau melupakannya
ingatanmu terkubur waktu)

Ada kabut di atas bukit
Remang-remang saja
selangkah maju
Surya menyala di ubunmu.

SEPI
Jangan ditinggalkan sepi
karena ia adik kandungmu
ketika di rahim ibu

Jangan dibunuh sepi
karena ia kawan jalanmu
ketika di selubung mimpi

Di subuh pagi itu
ia menunggu
mengalungkan bunga ke lehermu
mengucap doa-doa
menyanyikan mantra.

Aduh
engkau sungguh berbahagia
karena hari ini
ia meluangkan waktu bersamamu
sendiri.

BATU PUALAM
Di batu pualam
jejak para nabi
aku berjalan berjingkatan
menyongsong nyanyian

Cahya redup bianglala
menghampiri pucuk menara
wahai
angin utara menghembus
burung ke angkasa

Pelan bagai belaian
malaikat
bersujud
pada Adam

Tuhan mengangkatmu
sedepa di atas ujung karang
guntur terdengar
bagai nyanyian

Di batu pualam
jejak para nabi
aku bangkit
menuju
pada
Mu.

BANGUN, BANGUN
Barangkali Engkau ingin berkata
kali ini pada gugus awan:
Bangun.
Hujan akan datang juga
hutan pina itu menggeliat
menengadah pada-Mu.

barangkali sudah selesai kitab-Mu dibacakan
pendengar berkemas pulang
gelap menyapu ujung padang
mereka kembali ke rumah
menutup pintu-pintu. Tiba-tiba
Engkau campakkan isyarat:
Bangun

Apakah maksud-Mu
(Pohon randu menggugurkan daun
berlayangan di udara
kudengar risiknya)
Apalagi.
Engkau masih memanggilku juga
serasa begitu. Serasa begitu
Engkau selalu menggodaku.

Aku cinta kepada-Mu.

VAGINA
Lewat
celah ini
engkau mengintip
kehidupan.
Samar-samar
dari balik sepi
bisik malam
menembangkan bumi.
Engkau tidak paham
mengapa laut tidak bertepi
padahal engkau berlayar setiap hari.
Tutup kelopak matamu
bulan mengambang
di balik semak-semak.
Menantimu.
Misteri itu
gugur
satu-satu
setiba engkau di sana
merebahkan diri.

LAUT
Siapa menghuni pulau ini kalau bukan pemberani?
Rimba menyembunyikan harimau dan ular berbisa.
Malam membunuhmu bila sekejap kau pejam mata.
Tidak. Di pagi hari kautemukan bahwa engkau
di sini. Segar bugar. Kita punya tangan
dari batu sungai. Karang laut menyulapmu jadi
pemenang. Dan engkau berjalan ke sana.
Menerjang ombak yang memukul dadamu.
Engkau bunuh naga raksasa. Jangan takut.
Sang kerdil yang berdiri di atas buih itu
adalah Dewa Ruci. Engkau menatapnya: menatap dirimu.
Matanya adalah matamu. Tubuhnya adalah tubuhmu.
Sukmanya adalah sukmamu. Laut adalah ruh kita
yang baru! Tenggelamkan rahasia ke rahimnya:
Bagai kristal kaca, nyaring bunyinya.
Sebentar kemudian, sebuah debur
gelombang yang jauh menghiburmu.
Saksikanlah.
Tidak ada batasnya bukan?

ANGIN LAUT
Perahu yang membawamu
telah kembali
entah ke mana
angin laut mendorongnya ke ujung dunia
Engkau tidak mengerti juga
Duduklah
Ombak yang selalu
pulang dan pergi.
Seperti engkau
mereka berdiri di pantai
menantikan
barangkali
seseorang akan datang dan menebak teka-teki itu.

DANAU
Kutemukan danau baru
pada musim kering
jerih dan mengaca
menjamu burung
masih terdengar
tetes air
yang jatuh kembali.

Impian lama pun
berdesakan
aduh
tidak kuasa aku menahannya
sudikah Engkah menolongku.

ISYARAT
Angin gemuruh di hutan
Memukul ranting
Yang lama juga.
Tak terhitung jumlahnya
Mobil di jalan
Dari ujung ke ujung.
Aku ingin menekan tombol
Hingga lampu merah itu Abadi.
Angin, mobil dan para pejalan
Pikirkanlah, ke mana engkau pergi.

KUPU-KUPU
Keahlian kupu-kupu
Menggugurkan kuning sayapnya
Menenun jaring-jaring halus
Tinggal di dalamnya
Mendengarkan pohon bersemi.
Yang berubah warna
Hanya sayap kupu-kupu. Kemanakah warna-warna?
Karena kuning adalah bulan, ia tinggal di sana
Menanti hari terang. Kadang-kadang hinggap
Di wajah perempuan. Lalu para tetangga
Berbisik: gadis kecil sudah perawan
Ya Tuhan.
Karena kupu-kupu tinggal di sarang
Bunga-bunga berkembang!

GELAS
Itulah yang kukerjakan. Mengumpulkan gelas
Kembali. Sambil mengenangkan bahwa bibir
Lembut telah menyentuh tepinya. Kuhapus dengan
Pelan-pelan sebagai meraba yang halus,
Takut ia terkejut. Ah, jari-jariku terlalu
Kasar rasanya. Pelan-pelan kudekatkan ke
Bibirku. Aneh! Gelas itu selalu menghilang.
Kacanya melunak dan mengabur bersama bayang-
Bayang. Ia selalu menolakku.
Kapankah kauperkenankan aku duduk di meja.
Meninggalkan gelas, lalu gadis penjaga mencium
Bekas gelasku? Aku malu dengan pikiran ini
Sesungguhnya, tetapi biarlah. Sebenarnya,
Hatiku tak sejelek ini. Engkau tahu, pasti

HARI
Rangkaian bunga dari lampu neon
Di sekitar meja berenda impian pagi
Memantulkan bening
Sepatu yang mengetuk lantai
Musik memainkan buah apel
Yang belum habis dibagi
Senja menyongsong terompet
Bagai bibir lembut membisik
Mengabaikan lilin sudah dipasang.
Di jendela yang lain
Seseorang sedang mengharap napasnya berhenti
Pada detik yang sama. Mencekik leher sendiri
Tangan hari yang ajaib
Menampung banyak warna

ISYARAT
Angin gemuruh di hutan
Memukul ranting
Yang lama juga.
Tak terhitung jumlahnya
Mobil di jalan
Dari ujung ke ujung
Aku ingin menekan tombol
Hingga lampu merah itu
Abadi.
Angin, mobil dan para pejalan
Pikirkanlah, ke mana engkau pergi.


KOTA
Kotaku yang jauh
padam lampu-lampunya
angin menerpa
lorong-lorong jelaga

Kotaku yang jauh
menyerah pada malam
seperti di siang hari
ia menyerah
pada kekosongan

Tuhan
nyalakanlah neon-neon itu


LAUT
Siapa menghuni pulau ini kalau bukan pemberani?
Rimba menyembunyikan harimau dan ular berbisa.
Malam membunuhmu bila sekejap kau pejam mata.
Tidak. Di pagi hari kau temukan bahwa engkau
di sini. Segar bugar. Kita punya tangan
dari batu sungai. Karang laut menyulapmu jadi
pemenang. Dan engkau berjalan ke sana.
Menerjang ombak yang memukul dadamu.
Engkau bunuh naga raksasa. Jangan takut.
Sang kerdil yang berdiri di atas buih itu
adalah Dewa Ruci. Engkau nmenatapnya: menatap dirimu.
Matanya adalah matamu. Tubuhnya adalah tubuhmu.
Sukmanya adalah sukmamu. Laut adalah ruh kita
yang baru! Tenggelamkan rahasia ke rahimnya:
Bagai kristal kaca, nyaring bunyinya.
Sebentar kemudian, sebuah debur
gelombang yang jauh menghiburmu.
saksikanlah
Tidak ada batasnya bukan?


DESA
Yang berjalan di lorong
hanya suara-suara
barangkali kaki orang
atau malaikat atau bidadari atau hantu
mereka sama-sama menghuni desa di malam hari

Kadang-kadang kentong berjalan
dipukul tangan hitam
dari pojok ke pojok
menyalakan kunang-kunang
di sela bayang-bayang

Kalau ingin melihat hidup
pandanglah bintang-bintang
yang turun rendah
menyentuh ujung kelapa
atau berhenti di bawah rumpun bambu
mendengarkan tanah menyanyi

Tunggulah, engkau tak akan percaya
Siapakah mengerang dari balik dinding bambu
Barangkali ibu yang kehabisan air susu
Ya Tuhan!


PENYUCIAN
Sebelum dihinakan
kalungkan daun bodi
dalam benang emas di pagi hari
tuliskan huruf-huruf Abadi
menandakan engkau lahir kembali

Di tengah yang serba empat
tersembunyi pusat
di mana hidup mengendap
ambil air dari dasarnya
satu teguk untuk ragamu
satu teguk untuk ruhmu.

Sempurnalah wujudmu
Pergi ke utara
mereka siapkan puji-pujian
untukmu.

Ada pun Kalimat
ialah hakikatmu yang pertama.
Ada pun Laku
ialah hakikatmu yang kedua.


PETUAH
Langkah tidak untuk dihitung
ia musnah disapu hujan
Ketika engkau sampai pangkalan
ingatlah, itu bukan tujuan
Cakrawala selalu menjauh
tak pernah meninggalkan pesan
di mana ia tinggal
Hanya matamu yang tajam
menangkap berkas-berkasnya
di pasir, sebelum engkau melangkah
Tanpa tanda-tanda
engkau sesat di jalan
kabut menutupmu
menggoda untuk diam
Karena kabut lebih pekat dari udara
engkau bisa terlupa.

KENANGAN
Yang tergantung di udara:
jari menunjuk ke bulan
mengingatkan kenangan
Kapas-kapas ladang
dipanen angin malam
melayang-layang putih
bersaing dengan bintang
pergi ke utara
menyongsong rumpun bambu kuning
yang berubah jadi seruling
Dengan sukarela, waktu
mengikut bujukan anjing
menyalak ringan dari temaram.

Lima pasang sejoli
berjalan-jalan di taman
membiarkan rambut terayun
mandi cahaya.

Bulan adalah guna-guna
penyubur cinta.


SESUDAH PERJALANAN
Sesampai di ujung
engkau menengadah ke langit
kekosongan yang lembayung

Ayolah, ruh
tiba saatnya
engkau menyerahkan diri

Sunyi mengantarmu ke kemah
di balik awang-uwung
di mana engkau istirahat
sesudah perjalanan yang jauh.

SEPI
Jangan sepi ditinggalkan
karena ia adik kandungmu
ketika di rahim ibu

Jangan dibunuh sepi
karena ia kawan jalanmu
ketika diselubung mimpi

Di subuh pagi itu
ia menunggu
mengalungkan bunga ke lehermu
mengucap doa-doa
menyanyikan mantra.

Aduh
engkau sungguh berbahagia
karena hari ini
ia meluangkan waktu
bersamamu
sendiri.

BENCANA
Toko-toko di kota
sudah ditutup. Anjing menjajakan gonggongnya
pada yang bergegas lewat. Tak seorang tahu
sekarang jam berapa. Hari sudah jadi kemarin.
Nyanyian sudah berhenti di night-club.
Polisi kembali ke pos, menyerahkan pestol
dan tanda pangkat pada bajingan. Yang serba
hitam mengambil alih pasar-pasar. Menawan
wali kota. Mendudukkan kucing di pos-pos
penjagaan. Mereka tahu, semua sudah jadi tikus.
Sia-sia! Rumah-rumah tertutup rapat.
Tidak peduli hari menggelap, lampu jalan
memecah bola-bolanya karena sedikit gerimis,
terdengar retaknya. Kertas-kertas koran,
coklat dan lusuh menggulung kotoran kuda.
Besi-besi berkarat memainkan sebabak silat
di jalanan, lalu diam mengancam. Terdengar
gemuruh tapak kuda di setiap muka rumah,
merebut darah dari jantung. Detak darah tidak
karena urutan, tapi diperintah ringkikan kuda.
Nyanyian sudah berhenti, dihapus dari ingatan.

DIAM
Diam itu udara
mengendap di pohon
menidurkan derkuku
menjentik ranting patah
menyulam rumah laba-laba

Yang petapa menutup mata
Ketika angin membisik duka
mengusap halus ruang
dengan isyarat jantungnya
Serangga berjalan biasa
seolah ia tak di sana

Yang petapa menutup mata
ketika udara menggoda dendam
hanya napas yang lembut
menghembus cinta
Daun pun mengerti
menghapus debu di dahinya

Yang diam.
Yang petapa.
Yang sahabat.
Yang cinta.

NAMA-NAMA
Nenek moyang mencipta nama-nama
Mereka tinggalkan begitu saja tanpa catatan kaki
Seolah sempurna isi kamus
Ketika hari mendung dan engkau perlu mantel
Tidak lagi kautemukan di halamannya
Berceceran. Hujan bahkan melepas sampul
Sesudah leluhur dikuburkan
Alangkah mudahnya mereka larut
Sebagai campuran kimia yang belum jadi
Terserap habis ke tanah.

Karena hari selalu punya matahari
Nama-nama terpanggil kembali
Dengan malu mereka datang
Telanjang sampai ke tulang
Tiba di meja mencatatkan nomor-nomor kartu
Menandatangani perjanjian baru

PEPOHONAN
Sebagai layaknya pepohonan
menampung kenangan
dunia yang tergantung di awan
sudah sampai di simpang

Ada kubu terbungkus daunan
mengeluh pelan
memanjakan impian
Ayolah kubur dukamu di rumputan
senja sudah mendekat
malam berjalan merayap
engkau tentu mengharap bulan

Dalam pepohonan
yang berbuah rindu
aku mendengar
sesuatu yang tak kutahu
Namun aku suka padamu.


TENTANG KUNTOWIJOYO
Kuntowijoyo lahir di Yogyakarta, 18 September 1943. Gelar strata 1 di Fakultas Sastra dan
Kebudayaan Univ. Gadjah Mada (1969). Gelar MA di Univ. Connectitut (1975), Gelar Ph.D
di Univ. Colombia dalam ilmu sejarah. Bukunya antara lain: Dilarang mencintai bunga-
bunga (kumcer), Impian Amerika, Mengusir Matahari (kumpulan fabel politik, 1999) .
Novelnya: Kreta Api yang Berangkat Pagi Hari, Khotbah di atas Bukit (1976), Pasar (1972).
Kumpulan puisinya yang pertama adalah Suluk Awang-Uwung (1975).






PUISI-PUISI AGUS R. SARDJONO
Selasa, 11/02/2014 - 14:49 Sastra Seratus ...
Lain-lain |
Agus R. Sardjono |
Koleksi |
Puisi
Agus R. Sarjono lahir di Bandung, 27 Juli 1962. Menulis sajak, cerpen, esai, kritik, dan
drama. Buku puisinya: Kenduri Airmata (1994), Suatu Cerita dari Negeri Angin (2001),
Diterbangkan Kata-kata (2006). Buku esainya Bahasa dan Bonafiditas Hantu (2001) dan
Sastra dalam Empat Orba (2001). Dramanya: Atas Nama Cinta (2006). Pernah menjadi
sastrawan dan peneliti tamu di International Institute for Asian Studies, Universitas Leiden
(2001), sastrawan tamu Heinrich-Boll_Haus, Langen-broich (2002-2003) dan ilmuwan tamu
Universitas Bonn (2010-2011). Juga sebagai Dosen jurusan teater STSI Bandung dan
redaktur majalah Horison.


RANGGAWARSITA

Zaman edan yang bahagia, di manakah
gerangan Ranggawarsita?

Sunya ruri seisi negeri. Siapa bertahta
di ujung harta? Tanduk-tanduk partai,
mengusung dua ratus juta telur sangsai
ke rumah gadai. Alangkah eling dan waspada
bagi setiap peluang yang ada.

Sunya ruri segala mimpi. Harapan lama
bagai bendera di malam badai: berkibaran
dan kusut masai. Pengadilan dan gunung api
melontarkan magma dan debu ke udara
lantas mengendap di paru-paru negara
: pengap dan menyesakkan dada.

Zaman edan yang bahagia, di manakah
gerangan Ranggawarsita?


SAINT-EXUPERY

Seorang penulis buku anak
dengan indah telah meminta maaf
pada anak-anak, karena cerita untuk mereka
dengan terpaksa, pada orang dewasa
dipersembahkan. Ada sekian alasan
dan sebab: yang utama, tentunya
karena orang dewasa paling banyak
kehilangan. Misalnya saja warna-warna
di alam semesta. Makin dewasa
makin sedikit warna tersisa bagi manusia
yakni warna-warna dasar yang sederhana
karena warna pelangi, warna berseri
warna terang, cerah, dan norak
hanya milik dunia anak-anak.

Belum lagi kehilangan yang lebih mencekam
: otot, gairah, mimpi, usia muda,
rasa ingin tahu, khayalan, rasa heran,
kekaguman paripurna pada dunia
yang masih segar dicipta
belum diterjemahkan jadi angka-angka
kering dan kejam di pasar saham.

Setiap anak dilahirkan sebagai pangeran kecil
gemilang dalam cahaya gemintang mungil
Mereka segera jadi kaum papa jelata
begitu ia menjelma jadi dewasa,
tak peduli berapa istana ia punya,
berapa timbunan harta dalam simpanan.
Karena hanya pada kanak, bintang
di angkasa merasa punya hubungan
rubah di hutan merasa berteman.

Orang dewasa berdiam di jauhan
dengan bedil di tangan: lelah, cemas,
dan siaga. Tak melihat hubungan lain
dengan kehidupan selain jadi pemburu
atau diburu. Tak putus-putus mabuk
untuk menghapus rasa malu
karena telah menjadi pemabuk.

Maka kepada anak-anak tolong maafkan
bila bahkan buku untuk kalian
kepada orang dewasa dipersembahkan.
Kasihanilah kami orang dewasa
yang begitu banyak kehilangan.
Yang terbesar dan tak tergantikan
adalah hilangnya masa kanak
anugerah terindah dari kehidupan
yang begitu lekas musnah
dan menyilam.


SINGER

Seorang lelaki
berkutat bebaskan budak
dalam diri,
menulis musuh
dalam kisah cinta sejati.
Tapi trauma dan masa lalu
bagai mantan istri
yang selalu memaksa
untuk rujuk kembali.

Dalih adalah Sang Tuan
dari rembang ingatan.
Bahkan di detik jingga
di nadi hidup
yang berdegup mesra,
selalu ada dalih bagi kita
untuk tetap tak bahagia.


SARTRE

Neraka keberadaan tak lain
adalah orang lain, ucapmu
dalam sebuah pintu tertutup
pada sebuah drama canggung
dari sebuah zaman yang murung.

Di tanah airku, ada dan ketiadaan
karcis menjadi tema utama
setiap hari raya. Stasiun dan terminal
tersengal oleh antrian: panjang
dan rapat seperti kalimat filsafat.
Kerumunan yang berdebar
tak sabar ingin memudikkan jiwa
dan badan ke surga kebersamaan
kerabat dan keluarga
karena neraka tak lain
adalah tanpa orang lain.


CERVANTES

Dengan pena terhunus kau pacu keledai sastra
menerjang kincir keramat hikayat bangsawan
dan raja-raja hingga porak-poranda
dan menjelma jadi gelak tawa

Di negeri-negeri yang jidatnya sempit
dan muram, tank, panser, dan penjara
tersedia bagi Don Quixote dan keledai sastra
yang menggoyang kebajikan mapan
bungkus mulia bagi jiwa-jiwa deksura.

Adakah ksatria gelak tawa berbahaya
bagi negara, serupa ular berbisa di belukar
mendesis merayap menyusun makar?
Dia yang bijaksana tahu tak ada
mahkota dimakzulkan oleh cerita
jika ke dalamnya penguasa sedia berkaca.

Keledai sastra yang dungu bestari
senantiasa menggergaji satu kaki singgasana
agar sang raja belajar bijaksana di atasnya.
Atau mengecat tembok istana
dengan warna ganjil tak biasa
biar angker kekuasaan sedikit belajar
menertawakan diri dan agak jenaka.

Dengan pena terhunus kau pacu keledai sastra
menerjang kincir keramat hikayat bangsawan
dan raja-raja hingga porak-poranda
dan menjelma jadi gelak tawa

Kisah sehari-hari dan orang biasa
sejak itu berhak juga menjelma cerita.


GORKY

Di sebuah negeri gamang dan pilu
Gorky yang piatu melahirkan seorang ibu
untuk membuka hati dan mengasuh
hari-hari jelata yang rusuh. Bagai Musa
Ia menuntun jelata pekerja
untuk berhijrah dari kubangan vodka.
Di kerontang akar rumputan, kesadaran
konon tumbuh merimbun bagai palawija
berbuah mesra penuh janji
untuk dipanen kelak selepas fajar pagi.
Tapi sejarah selalu milik ayah.
Mereka memanennya malam-malam
hingga tak banyak yang tersisa
di ladang selain warna merah
dari jejak-jejak amarah.

Di lorong gelap jelata, di kedalaman
terbawah, ada pelacur dan pencuri
merayapi mimpi mengharap cerlang matahari.
Dan bangsawan afkiran, buruh harian,
pedagang asongan, sibuk menanam diri
dalam cerita warna-warni
karena sesekali, orang-orang merasa perlu
menyentuh jiwa papa kelabu
dengan sedikit warna ungu.

Dalam gairah, Gorky menyusun
masyarakat dari lembar-lembar kertas
dan penguasa melemparnya ke tungku
biar revolusi berkobar selalu.

Waktu berganti rezim berlalu
di tanah yang merah dan tak merah
semua berubah, kecuali pelaminan
tempat penguasa penuh gairah
menjamin jelata dan kemiskinan
agar senantiasa bisa menikah.

Tinggal Gorky: masai dan terlunta
dijahit penguasa menjadi bendera
berkibar-kibar seperti sejarah
tempat jelata terbungkam pasrah.


PAMUK

Adalah salju
yang mempertemukan
orang sunyi dengan puisi
ketika perempuan yang tertindas
menghidupkan emansipasi
dengan bunuh diri

Bisakah manusia bahagia
sebagai pasangan cinta
menghuni rumah mungil berdua
tanpa direcoki perabot-perabot berat
dan sulit diangkat seperti negara
atau perkakas keras
tajam dan bergerigi
seperti ideologi?

Di Kars atau Tanjung Priok
di Kabul atau Istambul, sandiwara
bisa saja mengkudeta fakta
ketika remaja-remaja yang rindu
dan mereka yang mengusir pilu
dalam sebuah pertunjukan
terburai diserbu serdadu
hanya karena seorang komandan
yang bosan dan putus asa
mendadak ingin jadi sutradara.

Namaku merah, seperti darah
warna termegah dalam sejarah.
layar terpintal di sunyi Pamuk
membungkus puing-puing Attaturk

Negeri-negeri salju kastil-kastil kertas
sejarah mengeras di tapal batas
hari-hari timur hari-hari barat
hamba dan tuan bertukar tempat.

Musim mengeras di tapal batas.
Ada yang diam-diam bergegas
melaju di atas seribu bus seperti Pamuk
atau Osman atau Mehmet atau kau
memburu cinta, kematian, atau malaikat
dan tak mendapat apa-apa kecuali
identitas yang meranggas dan sekarat
antara masa kanak yang terkoyak
dan masa depan yang lembam.
Antara timur yang mendengkur
dan barat yang berkarat.

Dari Herat menuju ke Barat
merana tersungkur di Indonesia
ingatan adalah rakyat berkarat
menetas sia-sia dari telur amnesia.

Sambil menyusuri kota kelahiran
dalam ingatan silam, ditentengnya hidup baru
seperti menenteng kopor ayah
tempat istana salju dan buku hitam catatan harian
menyembul diam-diam bagai kenangan:
bacaan-bacaan masa muda
yang menggendong sukma ke Eropa,
dan hikayat-hikayat keramat
yang menuntun gelisah
kembali pulang ke rumah.

Di luar masih terhampar
dunia-dunia yang membenci
sebesar mencinta, yang bercumbu
sekerap bertengkar, bagai hujan salju
yang indah dan memisah hingga selalu susah
untuk bertegur sapa. Tapi akan selalu ada
yang sabar seperti Orhan, menyalakan lilin
untuk mencairkan salju yang membeku
di jembatan perjumpaan
biar segala yang lindap dan tak terucap
dapat bersijingkat temukan jalan.


CHAIRIL

Pada kereta senja
Chairil menebal jendela
cinta dan bahagia
makin jauh saja
mendengking Chairil
mendengking kereta
sayatan terus ke dada.

Pada senja di pelabuhan kecil
kau datang padaku: Chairil
cinta insani di tangan kiri,
Amir Hamzah cinta Ilahi
di tangan kanan
dengan pandang memastikan
: untukku. Aku membisu
dicakar gairah dan cemas
bertukar tangkap dengan lepas.
Aku hilang bentuk
remuk. Seharian itu
kita tak bersapaan. Oh puisi
yang enggan memberi
mampus kau
dikoyak-koyak sepi.

Kekasih, dengan apakah
kita perbandingkan pertemuan kita
: dengan Amir sepoi sepi
atau Chairil menderai sampai jauh?
Kini habis kikis segala cintaku
hilang terbang, kembali sangsai
seperti dahulu di nyanyi sunyi
di buah rindu.

Amirlah kandil kemerlap
pelita Chairil di malam gelap
ketika dada rasa hampa
dan jam dinding yang berdetak.

Aku sendiri, menyusur kata-kata
masih pengap harap. Apatah kekal
kekasihku, airmata yang kenduri
di riuh nadi di gamang jiwa
sedang cerlang matamu
tinggal kerlip puisi
di malam sunyi.

Chairil dan Amir
di pintumu puisi negeriku mengetuk.
Mereka tak bisa berpaling.

PENYAIR ANWAR

Aku mengaji, anwar anwar
Hidup dari pasar terbuka dalam tubuh
Orang tanah yang ditutup senja, anwar anwar
Berlari seperti kura tak henti membawa jagat
Irama abad, anwar anwar
Berdentang-dentang dalam dagingku
Minta perawan dalam sesaji langit yang jauh
Anwar membelah tubuh jadi kota mengalir
Menyimpan tanah dari hujan dan padi-padi
Anwar mengirim tubuh kaku ke daging-daging
Dihembus pasar ke pohon-pohon sunyi
Jadi penyair seribu tahun. O
Makani Tuhan dalam kuburmu anwar anwar
Aku orang sunyi berlalu dalam cerita

EKSTASE WAKTU

Dunia membuka dunia menutup tak jadi manusia
Aku kejar ujung jalan menyebelah maut ke mana aku kejar
Dunia sendiri tanpa manusia
Berlari
Seperti perahu tak berkemudi
Terlepas dari jarak:
Beri aku orang!
Aku mau bangun di atas kemakhlukan ini
O matahari membuka matahari menutup tak jadi manusia
Berdiri di kesunyian tubuh aku kejar ke mana aku kejar
Sampai mabuk ketinggian makhluk
Direguk sampai habis tenggorok
Jiwa membuka
Seperti api menghabiskan nyala

BERI AKU KEKUASAAN

Mereka pernah berjalan dalam taman itu, membuat wortel, semangka, juga pepaya. tetapi aku
buat juga ikan-ikan plastik, angsa-angsa kayu dari Bali, juga seorang presiden dari boneka di
Afrika. Kemana saja kau bawa kolonialisme itu, dan kau beri nama : Jakarta 1945 yang
terancam. Beri aku waktu, beri aku waktu, untuk berkuasa.
Kau lihat juga tema-tema berlepasan, dari Pulo gadung ke Sukarno Hatta, atau di Gambir :
Jakarta 1957 yang risau. Sepatuku goyah di situ. Orang bicara tentang revolusi, konfrontasi
Malaysia, Amerika dan Inggris dibenci pula. Sejarahku seperti anak-anak lahir, dari kapal
kolonial yang terbakar. Mereka mencari tema-tema pembebasan, tetapi bukan ayam goreng
dari Amerika, atau sampah dari Jerman.
Begitu saja aku pahami, seperti mendorong malam ke sebuah stasiun, membuka toko, bank
dan hotel di situ pula. Kini aku huni kota-kota dengan televisi, penuh obat dan sikat gigi.
Siapakah yang bisa membunuh ilmu pengetahuan siang ini, dari orang-orang yang tak
tergantikan dengan apapun. Beri aku waktu, beri aku waktu, untuk kekuasaan. tetapi sepatuku
goyah, menyimpan dirimu.
Mereka pernah masuki tema-tema itu, bendera terbakar, letusan di balik pintu, jerit tangis
anak-anak, dan dansa-dansi di malam hari. Lalu : Siapakah yang mengusung tubuhmu , pada
setiap kata............

1991

DAFTAR INDEKS

dan berjalan. Dan tidur. Dan melupakan. Dan menyapu. Dan makan.
Dan mengambil jemuran. Dan memotret pernikahan orang lain di
sebuah kafe di Shanghai. Dan membaca. Dan memotong kuku. Dan
memotret kucing kawin di rumah Lely. Dan menengok kuburan
temanku di surabaya. Dan anaknya sudah kuliah. Dan anaknya men-
girim sms, siapa bapakku? Dan anaknya tidak tidur dalam kamar
ibunya. Dan namanya Dya Ginting. Dan membakar sampah. Dan
memotong rumput. Dan mengambil kantong plastik yang dibuang
orang di pinggir jalan. Dan mencium anak anjing. Dan menengok
teman yang menangis di depan laptopnya. Dan ingin hidup dalam
suara Maria Callas. Dan tak punya uang. Dan menunggu honor dari
puisi. Dan bertemu mayat Caligula dalam bahasa. Dan mandi. Dan
ingin mengatakan padamu bahwa aku sudah mengatakannya.



ANTRI UANG DI BANK

Seseorang datang menemui punggungku
Membicarakan sesuatu, menghitung sesuatu,
seperti kasur yang terbakar dan hanyut di sungai.
Lalu ia meletakkan batu es dalam botol mineralku


SEMINAR PUISI DI SELAT SUNDA
Untuk Goenawan Mohamad

Sebuah meja malam dari kayu, bekas puntung rokok
yang hangus di permukaannya. Kita makan bersama.
Malam yang samar-samar di tengah kota. Sebuah
revolusi yang berganti kaki, di atas sebuah kapal
perang yang diparkir di Selat Sunda. Sebuah
perundingan untuk menjemput diri sendiri: Kaki-kaki
kanan buntung kaki-kaki kiri buntung. Tidak tahu,
atau berjalan atau tidak berjalan. Tidak tahu, atau
duduk atau berdiri. Bau belerang dari punggung
krakatau, melukis kembali peta-peta di atas kata-kata
yang menggerutu.

Sebuah kemerdekaan tidak dirancang dengan
berteriak: musuh sudah ada di luar pagar, tetapi juga
sudah ada di dalam pagar. Sebuah republik yang
terbayang di pintu belakang. Seorang lelaki di pintu
kaca: tidak tahu, apakah ia berjalan keluar atau
berjalan masuk. Hilir-mudik para peneliti Indonesia
yang kurang tidur, dalam bahasa Indonesia yang
lelah. Sebuah bank di antara tentara-tentara
perdamaian. Aku bersamamu, dalam satu mobil
tua, lelaki seperti pohon nangka itu, saling menatap
tetapi tidak saling melihat. Sebuah buku puisi,
di pangkuan seorang perempuan.

Di manakah kita, melihat kata, sebagai kematian
seorang ibu.

Sebuah pintu, entah di belakang rumah entah di
depan rumah. Sebuah pintu kaca untuk melihat
ke luar untuk melihat ke dalam. Sebuah kata untuk
membungkam selogan. Seorang Sukarnois yang me-
nyimpan kartu pos patung liberty di saku
mantelnya. Sebuah nyanyian cinta dari Leonard
Cohen yang parau: Dance me to the end of love.
Asap rokok tentang pendidikan para pemimpin, di
antara korek api dan badai sebuah pesta. Seorang
lelaki yang menggenggam tangisnya di sudut sebuah
restoran. Aku melangkah dari sebuah koran lokal,
sejak masa remajaku, di sebuah desa, antara revolusi
3 kota. Dan sebuah novel tentang kejahatan tentara
gerilya, di halaman-halaman yang dipasangi alarem.

Sebuah poster pertunjukan. Di luar atau di dalamkah
pertunjukan itu berlangsung? Bagaimanakah Kunti
menghanyutkan anaknya? Karna, bagaimanakah,
Karna? Bagaimanakah matahari menciptakanmu
dari anak-anak panah, dan menjemputmu kembali
di sebuah pagi yang merah. Bagaimanakah Caligula
membenamkan akal sehat ke dalam keuangan
negara? Ceritakanlah sekali lagi, Caesonia, bagaimanakah
aku menitipkan cinta dalam pelukanmu, ketika semua
telah menjadi gila di tangan suamimu. Kekuasaan
telah mengambil cahaya bulan dari ladang pikiran
kita. Bagaimanakah puisi membuat kita bisa berjalan
bersama bayangan sendiri, melewati diri kita sendiri
yang masih tertidur di sebuah kereta.

Seorang penjaga tiket pertunjukan, juga seorang
penjual air bersih di sebuah kantor majalah. Seorang
wartawan yang membidik dengan kata. Sebuah
kamera di dasar bahasa. Dan seorang lelaki di jen-
dela kaca. Sebuah kantor majalah yang
kontruksinya tertanam di abad 19, sebelum perang
dunia, sebelum menukar rempah-rempah dengan
sebuah bangsa. Jalan gula yang membuat jalur kereta
dari Klaten ke Amsterdam. Lelaki itu, bayangannya
di luar dan bayangannya di dalam. Bau tembakau
mengubah kenangan tentang mantel yang dikena-
kannya, antara warna tanah dan lebih kelam lagi dari
warna pasir. Warna yang mengecat sejarah kembali
ke warna yang sama. Bau tembakau yang menggeng-
gam kesedihan dalam sebuah lubang pentilasi.

Apakah aku telah berdurhaka padamu, ibu, agar
kau tidak lagi melahirkan seorang pembunuh.

Udara AC jam 2 malam mengingatkannya tentang
sebuah hutan kata-kata. Sebuah republik di lantai
dua, bukan? Dan pertengkaran tentang di mana letak
tangga itu untuk naik ke lantai dua, antara musim
hujan dan perkebunan tebu yang sudah kita bakar.
Sebuah revolusi di antara kaki-kaki yang berganti.
Sebuah malam yang aku sisipkan dalam buku sejarah
puisi Indonesia modern. Dingin yang tak tercatat di
halaman itu. Dan sisa-sisa cahaya bulan sebelum
gerhana. Cukup dengan 1000 slogan untuk
menggenggam kesedihan yang menggenang di lantai
dua. Cahaya matahari pagi bertahan di atasnya.
Untuk harapan, untuk ibu-ibu penjual nasi bungkus
di pasar rakyat. Apakah. Apakah materialisme sejarah
telah mati, dalam sebuah mata kuliah psikologi
tentang kelas sosial? Apakah. Apakah revolusi telah
dihapus, dalam sebuah kapal dagang yang berlayar
di jalur api? Menciptakan milisi jadi-jadian untuk
meruntuhkan daya hidup bersama. Apakah. Tentang.
Tetapi.

Lelaki itu berdiri di atas tangga dan turun ke lantai
bawah. Dia seperti terus berjalan di tangga itu. Setiap
dia melangkah, anak-anak tangga itu seperti terus
bertambah, hampir lebih cepat dari langkahnya sendiri.
Langkah yang menciptakan anak-anak tangga
daripada melalui anak-anak tangga itu sendiri.
Apakah dia sedang turun apakah dia sedang naik.
Menambahkan waktu dalam sebuah kereta pada
setiap langkahnya. Berikan aku sebuah kata, untuk
tidak mengatakan apapun tentang luka yang
tumbuh di halaman pertama sejarah kebangsaan.
Dan tentang diriku sendiri yang masih mencium bau
pikiran dari topi yang pernah kau kenakan. Pikiran
yang berusaha mengubah sebuah tangisan menjadi
gerimis, sore yang samar-samar di antara daun-daun
yang tumbuh merambat. Kebebasan yang dirawat
dalam sebuah perjudian antara Duryudana dan
Yudhistira.

Aku mengenal lelaki itu. Seseorang yang berjalan
seperti dengan suara kertas koran yang diremas.
Suara antara puisi dan puing-puing kata. Dia seperti
sebuah pagi, di antara kerumunan malam yang
samar-samar. Dia ingin menjemput kembali revolusi
itu, dengan sebauh opera tentang kesunyian.

Kita telah melihat, seorang ibu membuat sebuah
luka di mulut seekor harimau. Untuk para sahabat,
dan sebuah kata yang tidak bisa mengatakan: angin
yang mengirim garam, menjaga musim hujan di
Utara. Di sini.


MENGGODA TUJUH KUPU-KUPU

Aku tidak berjalan dengan mata melek. Kau pergi dengan mata
tidur. Orang di sini membawa beban berat. Bukan soal melihat.
Dalam beban itu isinya sampah. Bukan pergi dan tidak tidur. Kita
sibuk mencari tempat membuang sampah itu untuk mengisinya
kembali dengan sampah. Kau pergi dengan mata tidur. Aku tidak
berjalan dengan mata melek dan tidak mengukur yang terlihat.
Kau latihan yoga dan menjadi tujuh kupu-kupu. Aku melihat kau
terbang dan tidak bisa ikut masuk ke dalam kupu-kupumu. Ke-
adaan seperti gas padat dalam lemari es. Tetapi tidak ada ledakan.
Aku tidak mendengar suara ledakan dalam puisi ini. Di sini hidup
menjadi mudah, karena memang hidup sudah tidak ada. Menjadi
benar oleh kebohongan-kebohongannya. Menjadi indah oleh
kerusakan-kerusakannya. Aku di dalam pelukanmu dan di luar
terbangmu. Membayangkan tujuh kupu-kupu mulai menanamkan
sayapnya dan menanamkan terbangnya. Mengganti bumi pertama
dengan rute sungai Marne yang membelah mimpi-mimpimu.


DI SEBERANG SELEMBAR DAUN

Aku bukan seluruh daun di pohon ini. Aku hanya
selembar daun di pohon ini. Hanya pohon ini dan
hanya selembar daun. Aku hanya selembar daun
yang tumbuh di leherku. Hanya berwarna hijau sep-
erti selembar daun. Aku hanya selembar daun yang
berbicara menggunakan mulutku. Maksudku,
mulutku adalah selembar daun yang berbicara
menggunakan mulutku. Maksudku, aku hanya
selembar daun yang selembar daun. Jangan rayu aku
untuk menjadi pohon walau kau berikan tuhan kepa-
daku. Jangan rayu aku untuk menjadi seluruh daun
pada pohon ini walau kau berikan janji kematian pa-
daku. Aku bukan soal kematian dan soal tuhan. Aku
mirip, maksudku mirip dengan pertanyaan aku hidup
bukan untuk seluruh yang kau katakan setelah
kematian. Setelah kematian aku bukan hidup dan ke-
matian bukan selembar daun yang mewakili seluruh
daun di pohon ini.

Aku hanya selembar warna hijau dari pohon yang
aku tak tahu namanya. Pohon yang membuat aku
tahu aku berada di sini dan hidup di sini. Maksudku,
jangan kau takuti aku seperti kanak-kanak yang
berlari di seberang kematian. Aku mengingatnya,
waktu-waktu, dan, lihatlah di luar sana, lihatlah
orang-orang berjalan dengan kakinya, pohon-pohon
tumbuh, anak-anak bermain merasakan kebahagiaan
memiliki tawa, langit yang dibuat dari rambut
perempuan. Aku adalah selembar daun yang dijahit
pada sebatang pohon.


PROPOSAL POLITIK UNTUK POLISI

Toean-toean, saja mendjamin bahwa pemerintahan kita
tidak lagi popoeler, baik di antara rakjat ketjil maoepoen
pedjabat boemiputra rendahan ataoe pedjabat tinggi
rasa tidak puas jang merebak, baik di kalangan para bang-
sawan maoepoen rakjat djelata, terhadap bagaimana tjara
pemerintah dikelola dan keadilan ditegakkan. Sedjak akhir
1900, muntjul sematjam gerakan terorisme ataoepoen
gerakan perlawanan terhadap pemerintah. Tampaknja di
pusat birokrasi pemerintahan tidak memahami makna ini
semua. (P.J.F. van Heutsz, 1904-06)

Aku dilanda kedatangan diriku sendiri, di sana dan di sini. Melihat
kegagalan yang terus-terang di setiap yang kuciptakan. Antara
mesin-mesin dan sistem dalam lubang kesunyian, pembelian dan
penjualan yang saling membuang. Hiburan dan barang-barang
yang dibeli di sana dan di sini. Kenangan dalam puing-puing
perubahan. Sisa-sisa hutang dalam peti mati tak terkunci. Pidato
musim hujan di semua saluran keadilan yang tenggelam. Tanah
dan suara api di atas meja makan. Kau dan aku berdiri di sini.
Tetapi tidak pernah berdiri bersama.

Aku memotret telapak tanganku sendiri, seperti memotret sebuah
kepulauan terbuat dari bubur kertas. Pengeluaran terus-menerus
di sana dan di sini, lebih panjang dari jalan yang kulalui ke depan
dan ke belakang. Suara gesekan butir-butir beras dalam panci,
seperti data-data ekonomi yang kehilangan mesin hitung. Hatiku
tenggelam dalam permainan sejarah dan baju untuk masuk surga.
Laporan keuangan yang berjalan-jalan di akhir tahun. Daya hidup
yang menjadi puing-puing dalam perdagangan ilmu pengetahuan,
data-data di sana dan di sini. Kesehatan yang diramalkan vitamin C
dan sikat gigi. Aku dilanda kedatangan diriku sendiri,
untuk membeli kesunyian, udara bersih dan lapangan
kerja.

Tuan-tuan, bisakah kegagalan dipotret, untuk melihat
bagaimana caranya kita tertawa dan tersenyum.
Bisakah kita memotret sikat gigi di tengah puing-
puing daya hidup yang terus digempur dari sana dan
dari sini. Daya hidup yang menjadi mainan pendaya-
gunaan kekerasan. Laporan pertumbuhan penduduk
yang menjadi api pada jam makan malam kita.

Tuan-tuan, bisakah kita membaca sekali lagi, dari
huruf-huruf tak bermakna. Dan mereka menciptakan
bahasa, dari setiap kegagalan, dari setiap sejarah luka
di sana dan di sini, dari dansa perpisahan di malam
minggu. Berdirilah kita di sini, seperti tanaman yang
menunggu tukang kebun. Tidak membiarkan sebuah
kepulauan menjadi saluran got bersama.

Tuan-tuan. Di sana dan di sini. Musim hujan yang
telah berwarna biru di kotamu.


MESIN PENGHANCUR DOKUMEN

Ayo, minumlah. Tidak. Saya tidak sedang es kelapa
muda. Makanlah kalau begitu, tolonglah. Tidak. Saya
tidak sedang nasi rames. Masuklah ke kamar mandi
saya, tolonglah kalau tidak haus, kalau tidak lapar,
kalau bosan makan. Perkenankan aku memberikan
keramahan padamu, untuk seluruh kerinduan yang
menghancurkan dinding-dinding egoku. Bagaimana
aku bisa keluar kalau kamu tidak masuk.

Kamu bisa mendengar kamar mandiku memandikan
tata bahasa, di tangan penggoda seorang penyiar TV.
Perkenankan aku membimbing tanganmu. Masuk-
lah di sini yang di sana. Masakini yang di masalalu.
Masuklah kalau kamu tak suka tata bahasa. Tolonglah
kalau begitu, ganti bajumu dengan bajuku. Mesin
cuci telah mencucinya setelah aku mabuk, setelah
aku menangis, setelah aku bunuh diri 12 menit yang
lalu. Bayangkan tubuhku dalam baju kekosongan itu.
Tolonglah bacakan kesedihan-kesedihanmu:

Kemarin aku bosan, hari ini aku bosan, besok akan
kembali lagi bosan yang kemarin. Apa tata bahasa
harus diubah menjadi museum es krim supaya kamu
tidak bosan. Tolonglah. Semua yang dilakukan atas
nama bahasa, adalah topeng api. Pasar yang
mengganti tubuhmu menjadi mesin penghancur
dokumen. Tolonglah, aku hanya seseorang dalam
prosa-prosa seperti ini, seorang pelancong yang
meledak dalam sebuah kamus. Sebuah puisi murung
dalam mulut mayat seorang penyair.
Tolonglah, tidurkan aku dalam kesunyianmu yang
tak terjemahkan. Mesin penghancur dokumen yang
sendirian dalam kisah-kisahmu.


MANTEL HUJAN DUA KOTA

Kota itu telah jadi Semarang sejak air laut ingin
mendaki bukit, dan pesta tahun baru di ruang dalam
bangunan-bangunan kolonial. Minum persahabatan
dan melukis fotomu pada dinding musim hujan.
Sepanjang malam ia mengenakan mantel dari listrik:
kota yang mengapung 45 derajat di atas sejarah.
Dalam mantelnya, rokok kretek dan kartu atm.
Mahasiswa bergerombol di warung kopi, mengambil
ilmu sastra, ilmu komunikasi, antropologi dan
jam-jam belajar dari pecahan kaca. Akulah anak
muda yang bisa memainkan bas elektrik, blues
dengan sisa-sisa kerusuhan dan sisir yang patah. Aku
telah banjir di lapangan kerja dan kenaikan gaji
pegawai negeri. Para arsitek yang membuat desain
kota bersama air laut dan hujan.

Biarlah aku sampai ke batas tepi ini, untuk jejak yang
membuat lubangnya sendiri.

Kereta keluar dari mulut stasiun Yogyakarta, bau
tembakau dari pesta seni rupa dan sapi goreng. Aku
kembali bernapas setelah ribuan billboard kota
adalah mataku yang terus berputar, waktu yang
terasa perih. Rel kereta api masih menyimpan saham-
saham VOC sampai Semarang. Tanah keraton yang
menyimpan telur ayam, mantel biru masih
menyanyikan keroncong Portugis. Bau tebu, bau padi,
bata merah yang dibakar. Aku telah Yogyakarta
setelah berhasil menjadi orang sibuk tidak mandi 2
hari, menggunakan excel untuk agenda-agenda
padat. Dan bir dingin di antara janji-janji.
Aku telah dua kota dalam perjalanan dua jam
bersambung sepeda 6 jam pagi. Biarlah aku sampai
ke batas tepi ini. Sebuah kota yang terbuat dari jam
6 pagi, dan aku mempercayainya seperti genta yang
berbunyi tanpa berbunyi, bayangan gunung sebelum
biru dan sebelum kelabu dan sebelum di sini.


TEKNIK MENGHIBUR PENONTON

Kebahagiaan peti mati mengucapkan selamat tahun baru.
Maksudku, peti mati dan tahun baru.
Kata-kata melintasinya dan jatuh seperti burung yang
ditembaki dalam mata pelajaran biologi.
Intelektualitas yang merasa bisa menjadi mediator
antara tubuh dan realitas, terjungkal dari rak buku.
Maksudku terjungkal dan rak buku.
Titik dan koma tersesat dalam perangkap titik dan koma.
Kata-kata telah ditundukkan oleh badai kamus.
Dipisahkan lagi antara badai dan kamus.
Sebuah bossanoba di tengah api perpustakaan.
Dipisahkan lagi antara musik dan api dalam perpustakaan.
Tuan penghibur, kataku, untuk melihat rohku
di antara kumpulan harga apartemen dan tiket
pertandingan sepak bola.
Baskom dalam timbunan penduduk kota.
Tepuk tangan para pembuat parfum
dan mesin pencetak dari rumah sakit.

Thank you.
Tuan penghibur.
Thank you.


TUBUH LUBLINSKIE DI LORONG ES HITAM
Untuk gas

Musim panas berjalan-jalan di luar bajumu.
Dari seluruh warna merah yang dipadatkan.
Baju dengan jahitan tentang ketakutan
dan kesedihan. Lorong es hitam pelarian Yahudi
di Grodzka, jadi jalan turis.
Musim panas yang masih menjahit gerimis,
setiap jendela cuaca dibukan dan ditutup.
Tidak tentang yang terkunci di luar atau di dalam.
Tentang bibirmu
meninggalkan biji cengkeh di lidahku.
Membisikkan puisi-puisi Wislawa Szymborska,
dengan tas koper terus memunguti bayangan kita
di belakang. Tidak memisahkan kalimat dengan koma,
setelah masa lalu dan masa kini.
Kita meminjam sayap burung untuk tidak
berbahasa lagi seperti manusia.
Terbang.
Seperti dalam ruang di luar suhu kematian.
Seperti matahari menawarkan ilusi tentang bayangan,
dan sebuah bis yang membawa malam ke Warsawa.

Malam yang terus direnovasi dalam lampu-lampu
kota yang sedih.
Menggeser musim panas ke tangga menuju
kastil-kastil kesunyian,
kafe-kafe yang menyembunyikan teriakan
dari tenggorokan terluka.
Mata lelaki dalam kantong plastik
mulai berkerumun di taman kota.
Pelayan kafe membawa menu sejarah,
secangkir kopi dan ice cream tentang kita.
Lukisan sejarah perang dan kunci besi
di Museum Lublinskie.
Kita berjalan di sebuah kota yang telah menjadi
selembar menu makanan.

Deru pesawat dan kereta masih merenovasi pelukan
kita, antara passport, peta perjalanan dan gereja-
gereja tua. Aku tidak tahu lagi bedanya antara
memeluk dan bersujud memuja kesedihanmu.
Di tas koperku masih peti mati yang meminta visa
untuk kebebasan bernapas.

Sayangku, tidur tidak bisa mengecat mimpi kita.
Lublin telah menjadi piano kesunyian di luar malam.


WORKSHOP 5: TAWANAN AKU

gema suaranya kembali lagi membuat dinding bunyi
dari suaranya
berdiri melingkar
di depan bulatan penuh perangkap waktu
jari-jari yang menggenggam tikus
dan perangkapnya di belakang membuat makan malam
seperti bayangan yang meninggalkan bentuknya
memecah, tertawa, kisah-kisah perang yang
dimuntahkan kembali dari ketakutannya
cermin yang menjadi buta ketika melihat
dinding di dalamnya
dan selembar rambut di atas koran pagi
air yang menyeberang di atas jembatan
melintasi sungai
melintasi tetesannya
tanpa prasangka di hadapan daun kering yang
menyimpan gema dari

hutannya


JEMBATAN REMPAH-REMPAH

Adas manis Akar wangi Andaliman Asam jawa
Asam kandis Bangle Bawang bombay Bunga la-
wang Bawang merah Bawang putih Cabe Ceng-
keh Cendana Damar Daun bawang Daun pandan
Daun salam Jembatan dari bumbu dapur ke darah
Colombus Gaharu Gambir Jahe Jeruk limo Jeruk
nipis Jeruk purut Jintan Kapulaga Kayu manis
Kayu putih Kayu mesoyi Kecombrang Kemenyan
Kemiri Kenanga Kencur Kesumba Ketumbar Ko-
pal Kunyit Lada Jembatan dari parfum ke darah
Vasco da Gama Tabasco Laurel Lempuyang Leng-
kuas Mawar Merica Mustar Pala Pandan wangi
Secang Selasih Serai Suji Tarum Temu giring
Temu hitam Temu kunci Temu lawak Temu mang-
ga Temu putih Temu putri Temu rapet Jembatan
dari obat-obatan ke benteng perempuan berkalung
mawar merah Adas manis Akar wangi Andaliman
Asam jawa Asam kandis Bangle Bunga lawang
Bawang putih Cabe Cengkeh Cendana Damar
Temu tis Vanila Wijen Jembatan dari Diogo Lopes
de Mesquita ke darah Ternate Gaharu Gambir
Jahe Jeruk nipis Jintan Kapulaga Kayu manis
Kayu putih Kemenyan Kemiri Kenanga Kencur
Kesumba Ketumbar Kunyit Lada Jembatan api
yang terus mengirim kapal ke arsip-arsipmu.

CHANEL OO

Permisi,
saya sedang bunuh diri sebentar,
Bunga dan bensin di halaman

Teruslah mengaji,
dalam televisi berwarna itu,
dada.

1983


KEBIASAAN KECIL MAKAN COKLAT

Aku tak suka kakimu berbunyi.
Ini coklat, seperti cintaku padamu.

James Saunders membuat drama dari kereta dan permen coklat di situ, menyusun
persahabatan dari orang-orang yang tak bisa saling menemani: Kita adalah kegugupan
bersama, sejak berusaha mencari arti lewat permen coklat, dan kutu pada lipatan baju. Jangan
menyusun flu di situ, seperti menyusun jendela kereta dari dialog-dialog Romeo. Tetapi
Suyatna ingin menemani sebuah dunia, sebuah pentas, dengan dekor dan baju-baju, pita- pita
pada jalinan rambut sebahu.

Tak ada stasiun kereta pada kerut keningmu, seperti kegelisahan membuat pesta di malam
hari. Lihat di luar sana, orang masih percaya pada semacam kebahagiaan, seperti
memasukkan seni peran dalam tas koper. Tetapi kenapa kau tinggalkan dirimu dalam toilet.
Jangan ledakkan sapu tanganmu, dari kebiasaan kecil seperti itu.

Aih, biarlah kaki itu terus berbunyi, makan coklat terus berlalu, kutu-kutu di baju, cinta yang
penuh kegugupan ditonton orang. Tetapi jangan simpan terus ia di situ, seperti dewa-dewa
berdebu dalam koper, berusaha memberi arti dengan mengisap permen gula.

Ini coklat untukmu.

Jangan mengenang diri seperti itu.

1994



WARISAN KITA

Bicara lagi kambingku, pisauku, ladangku, komporku, rumahku, payungku, gergajiku,
empang ikanku, genting kacaku, emberku, geretan gasku. Bicara lagi cerminku, kampakku,
meja makanku, alat-alat tulisku, gelas minumku, album foto keluargaku, ayam-ayamku,
lumbung berasku, ani-aniku.

Bicara lagi suara nenek-moyangku, linggisku, kambingku, kitab-kitabku, piring makanku,
pompa airku, paluku, paculku, gudangku, sangkar burungku, sepedaku, bunga-bungaku,
talang airku, ranjang tidurku. Bicara lagi kerbauku, lampu senterku, para kerabat-tetanggaku,
guntingku, pahatku, lemariku, gerobakku, sandal jepitku, penyerut kayuku, ani-aniku.

Bicara lagi kursi tamuku, penggorenganku, tembakauku, pe-numbuk padiku, selimutku, baju
dinginku, panci masakku, to- piku. Bicara lagi kucing-kucingku... pisau

1989


MASYARAKAT ROSA

Dari manakah aku belajar jadi seseorang yang tidak aku kenal, seperti belajar menyimpan diri
sendiri. Dan seperti usiamu kini, mereka mulai mengira dan meyakini orang banyak, bahwa
aku bernama Rosa.

Tetapi Rosa hanyalah penyanyi dangdut, yang menghisap keyakinan baru setelah memiliki
kartu nama. Di situ Rosa menjelma, dimiliki setiap orang. Mahluk baru itu kian membesar
jadi se- jumlah pabrik, hotel, dan lintasan kabel-kabel telpon. Rosa membuat aku menggigil
saat mendendangkan sebuah lagu, menghisap siapa pun yang mendengarnya. Rosa membesar
jadi sebuah dunia, seperti Rosa mengecil jadi dirimu.

Ayahku bernama Rosa pula, ibuku bernama Rosa pula, seperti para kekasihku pula bernama
Rosa. Mereka memanggilku pula sebagai Rosa, seperti memanggil diri dan anak-anak
mereka. Dan aku beli diriku setiap saat, agar aku jadi seseorang yang selalu baru.

Rosa berhembus dari gaun biru dan rambut basah, dari bibir yang memahami setiap kata, lalu
menyebarkan berlembar-lembar cermin jadi Rosa. Tetapi jari-jemarinya kemudian basah dan
membiru, ketika menggenggam mikropon yang menghisap dirinya. Di depan layar televisi, ia
menggenang: Itu adalah Rosa, seperti menyerupai diriku. Gelombang Rosa berhembus,
turun seperti pecahan-pecahan kaca. Rosa menjelma jadi lelaki di situ, seperti perempuan
yang menjelma jadi Rosa.

Rosa, tontonlah aku. Rosa tidak akan pernah ada tanpa kamera dan fotocopy. Tetapi
kemudian Rosa berbicara mengenai kemanusiaan, nasionalisme, keadilan dan kemakmuran,
seperti me- nyebut nama-nama jalan dari sebuah kota yang telah melahirkannya. Semua
nama-nama jalan itu, kini telah bernama Rosa pula.

Hujan kemudian turun bersama Rosa, mengucuri tubuh sendiri. Orang-orang bernama Rosa,
menepi saling memperbanyak diri. Mereka bertatapan: Rosa ... dunia wanita dan lelaki itu,
mengenakan kacamata hitam. Mereka mengunyah permen karet, turun dari layar-layar film,
dan bernyanyi: seperti lagu, yang menyimpan suaramu dalam mikropon pecah itu.

1989


LEMBU YANG BERJALAN

Aku bersalaman. Burung berita telah terbang memeluk sayapnya sendiri. Kota telah pergi
jauh sampai ke senja. Aku bersalaman. Matahari yang bukan lagi pusat, waktu yang bukan
lagi hitungan. Angin telah pergi, tidak lagi ucapkan kotamu, tak lagi ucapkan namamu. Aku
bersalaman. Mengecup pesawat TV sendiri... tak ada lagi, berita manusia.

1984


MITOS-MITOS KECEMASAN

Kota kami dijaga mitos-mitos kecemasan. Senjata jadi kenangan tersendiri di hati kami, yang
akan kembali membuat cerita, saat- saat kami kesepian. Kami telah belajar membaca dan
menulis di situ. Tetapi kami sering mengalami kebutaan, saat merambahi hari-hari gelap
gulita. Lalu kami berdoa, seluruh kerbau bergoyang menggetarkan tanah ini. burung-burung
beterbangan memburu langit, mengarak gunung-gunung keliling kota.

Negeri kami menunggu hotel-hotel bergerak membelah waktu, mengucap diri dengan bahasa
asing. O, impian yang sedang membagi diri dengan daerah-daerah tak dikenal, siapakah
pengusaha besar yang memborong tanah ini. Kami ingin tahu di mana anak-anak kami
dilebur jadi bensin. Jalan-jalan bergetar, membuat kota-kota baru sepanjang hari.

Radio menyampaikan suara-suara ganjil di situ, dari kecemasan menggenang, seperti tak ada,
yang bisa disapa lagi esok pagi.

1985


MIGRASI DARI KAMAR MANDI

Kita lihat Sartre malam itu, lewat Pintu Tertutup: menawarkan manusia mati dalam sejarah
orang lain. Tetapi wajah-wajah Dunia Ketiga yang memerankannya, masih merasa heran
dengan ke- matian dalam pikiran: Neraka adalah orang-orang lain. Tak ada yang memberi
tahu di situ, bagaimana masa lalu berjalan, memposisikan mereka di sudut sana. Lalu aku
kutip butir-butir kacang dari atas pangkuanmu: Mereka telah melebihi diriku sendiri.

Wajahmu penuh cerita malam itu, menyempatkan aku mengingat juga: sebuah revolusi
setelah hari-hari kemerdekaan, di Peka- longan, Tegal, Brebes; yang mengubah tatanan lama
dari tebu, udang dan batik. Kita minum orange juice tanpa masa lalu di situ, di bawah tatapan
Sartre yang menurunkan kapak, rantai penyiksa, alat-alat pembakar bahasa. Tetapi mikropon
meraihku, mengumumkan migrasi berbahaya, dari kamar mandi ke jalan-jalan tak terduga.

Di Ciledug, Sidoarjo, Denpasar, orang-orang berbenah meninggallkan dirinya sendiri.
Migrasi telah kehilangan waktu, kekasihku. Dan aku sibuk mencari lenganmu di situ, dari
rotasi-rotasi yang hilang, dari sebuah puisi, yang mengirim kamar mandi ke dalam sejarah
orang lain.

1993


GADIS KITA

O gadisku ke mana gadisku. Kau telah pergi ke kota lipstik gadisku. Kau pergi ke kota
parfum gadisku. Aku silau tubuhmu kemilau neon gadisku. Tubuhmu keramaian pasar
gadisku. Ja- ngan buat pantai sepanjang bibirmu merah gadisku. Nanti engkau dibawa laut,
nanti engkau dibawa sabun. Jangan tempel tanda-tanda jalan pada lalulintas dadamu gadisku.
Nanti polisi marah. Nanti polisi marah. Nanti kucing menggigit kuning pita rambutmu.
Jangan mau tubuhmu adalah plastik warna-warni gadisku. Tubuhmu madu, tubuhmu candu.
Nanti kita semua tidak punya tuhan, nanti kita semua dibawa hantu gadisku. Kita semua cinta
padamu. Kita semua cinta padamu. Jangan terbang terlalu jauh ke pita-pita rambutmu
gadisku, ke renda-renda bajumu, ke nyaring bunyi sepatumu. Nanti ibu kita mati. Nanti ibu
kita mati. Nanti ibu kita mati.

1985


BUKU HARIAN DARI GURINDAM DUABELAS

Kau telah ambil lenganku dari sungai Siak, sebelum Raja Ali Haji berkata: Bismillah
permulaan kalam. Dan kapal-kapal bergerak membawa Islam, membawa para nabi, sutra,
barang-barang elektronik juga. Tetapi seseorang mencarimu hingga Piz Gloria, kubah-kubah
putih yang mengirimku hingga Senggigi. 150 tahun kematian Friedrich Holderlin, jadi
penyair lagi di situ, hanya untuk menjaga cinta. Gerimis membawa kota-kota lain lagi,
tanaman palma dan kenangan di jendela: Siti berlari-lari, menyapu halaman jadi buah
mangga, apel, dan kecapi juga.

Kini dia bukan lagi kisah batu-batu, pelarian tempo dulu, atau seorang biu mengajar
menyapu. Kini setiap tubhnya membaca Gurindam Duabelas, mengirim buku harian, untuk
masa silam seluruh unggas. Kita saling mencari, di antara pikiran yang dicurigai, lebih dari
letusan, menumbangkan sebuah bahasa di malam hari. Puan-puan dan Tuan-tuan, kata
Siti,aku melayu dari Pejanggi. ... Dan sungai Siak jadi sepi, jadi lebih dalam lagi dari
Gurindam Duabelas.

Lenganmu, membuat bahasa lain lagi di situ; untuk orang-orang di pelabuhan, menjual beras,
sayuran, radio, ikan-ikan juga. Dan aku berlari-lari. Ada rumah di situ, setelah jalan
berkelok.Ini untukmu, bahasa dari letusan itu, penuh suaramu melulu.

1993


ASIA MEMBACA

Matahari telah berlepasan dari dekor-dekornya. Tapi kami masih hadapi langit yang sama,
tanah yang sama. Asia. Setelah dewa-dewa pergi, jadi batu dalam pesawat-pesawat TV;
setelah waktu-waktu yang menghancurkan, dan cerita lama memanggili lagi dari negeri lain,
setiap kata jadi berbau bensin di situ. Dan kami terurai lagi lewat baju-baju lain. Asia. Kapal-
kapal membuka pasar, mengganti naga dan lembu dengan minyak bumi. Membawa kami ke
depan telpon berdering.

Di situ kami meranggas, dalam taruhan berbagai kekuatan.Mengantar pembisuan jadi jalan-
jalan di malam hari. Asia. Lalu kami masuki dekor-dekor baru, bendera-bendera baru, cinta
yang lain lagi, mendapatkan hari yang melebihi waktu: Membaca yang tak boleh dibaca,
menulis yang tak boleh ditulis.

Tanah berkaca-kaca di situ, mencium bau manusia, menyimpan kami dari segala jaman. Asia.
Kami pahami lagi debur laut, tempat para leluhur mengirim burung-burung, mencipta kata.
Asia hanya ditemui, seperti malam-malam mencari segumpal tanah yang hilang: Tempat
bahasa dilahirkan.

Asia.

1985


TENTANG AFRIZAL MALNA

Afrizal Malna lahir di Jakarta, 7 Juni 1957. Sejak menamatkan SLA pada tahun 1976,
Afrizal Malna tidak melanjutkan sekolah. Pada tahun 1981, ia belajar di Sekolah Tinggi
Filsafat Driyarkara, Jakarta, sebagai mahasiswa khusus hingga pertengahan dikeluarkan pada
tahun 1983. Pada usia 27 tahun, Afrizal Malna menikah. Selama kurang lebih sepuluh tahun
ia pernah bekerja di perusahaan kontraktor bangunan, ekspedisi muatan kapal laut, dan
asuransi jiwa. Sekarang lebih banyak berkiprah di bidang seni, sebagai sutradara pertunjukan
seni, kurator seni instalasi, penyair dan penulis. Bukunya antara lain: Abad Yang Berlari
(1984), Perdebatan Sastra kontekstual (1986), Yang Berdiam Dalam Mikropon (1990),
Arsitektur Hujan (1995), Biography of Reading (1995), Kalung Dari Teman (1998), Sesuatu
Indonesia, Esei-esei dari pembaca yang tak bersih (2000), Seperti Sebuah Novel yang Malas
Mengisahkan Manusia, kumpulan prosa (2003), Dalam Rahim Ibuku Tak Ada Anjing (2003),
Novel Yang Malas Menceritakan Manusia (2004), Lubang dari Separuh Langit (2005).
Penghargaan yang pernah diterima: Kincir Perunggu untuk naskah monolog dari Radio
Nederland Wereldomroep (1981), Republika Award untuk esei dalam Senimania Republika,
harian Republika (1994), Esei majalah Sastra Horison (1997), Dewan Kesenian Jakarta
PUISI-PUISI AHDA IMRAN
Selasa, 11/02/2014 - 14:53 Sastra Seratus ...
Lain-lain |
Puisi |
Koleksi |
Ahda Imran
ANJING HITAM MATA SATU

Ini leherku
tapi, katakan,

siapa yang mengutusmu?

2007


SEPANJANG JALANAN

Kutulis sajak ini di atas seekor kuda
ketika lorong-lorong angin menghembuskan
suaramu jauh ke ruang-ruang bawah tanah
di kejauhan mereka membuat senja
dari tanah air penuh bendera. Malam
seperti mulut para penghasut

Ketahuilah, sayang, kafe-kafe yang tenang
bukan lagi rumahku. Akulah penunggang
kuda dari negeri malam itu. Negeri
di mana dendam mesti dinyatakan,
menjadi hasrat untuk menemukan kata-kata
dari setiap butir debu di rambut anakku

Kuserahkan tubuhku pada semesta
kesedihan, seperti kegembiraan yang juga
datang padaku. Kuhadiri makan malam
para pejabat, anggota parlemen
dan panglima militer, rapat-rapat partai,
dan pertunjukan teater. Kau tahu,
mereka menganiayaku, hanya karena
aku masih punya telinga


Juga ketahuilah, sayang, ketika sampai aku
pada bait ini, kudaku sedang berlari kencang
melebihi kata-kata yang menjemput para penyair
dan paderi di ruang-ruang bawah tanah itu
kumasuki kota dan perkampungan dari sudut
yang paling tak terduga, ketika orang-orang
berkomplot membuat tanah air yang lain
dari sejarah

yang tak pernah punya telinga

2004


SUNGAI BARITO

Sungai ini seolah tak bergerak
tak mengingatkanku pada negeri di mana pun
di Muara Kuin aku menemukan tubuh perempuan
adalah perahu. Membawa limau, pisang, kelapa,
semangka, dan labu. Mereka berkerumun,
bergumam, mendayung

Keringatnya jatuh di air

Alun sungai, perahu beradu
dan bergesekan, terapung. Di kejauhan deretan
gudang-gudang kayu, ibu yang menyabuni
anaknya, lelaki yang menggosok gigi,
dan seorang gadis yang keluar
dari dalam air

Sungai ini tak membawaku ke mana pun
Oyos dan Ari berdiri di atap perahu
dengan tustelnya. Di perahu yang lain Joni
melambai. Saut berdiri dengan rambut gimbal,
mirip hantu sungai. Seiko, gadis Jepang itu,
sibuk mencatat hikayat Suriansyah, leluhur
negeri Banjar. Katrin menelepon
Oma-nya di Jerman

"Kata Oma, di Meksiko ada juga pasar
seperti ini."

Aku memesan kopi dan mengunyah
pundut dari warung perahu yang mencuci
gelas dan piringnya ke dalam sungai
kubayangkan keringat perempuan-perempuan
atas perahu itu masuk ke dalam tubuhku,

mendayung rohku ke lubuk air

Oyos dan Ari masih memotret. Seiko
masih mencatat Suriansyah. Katrin masih
bercerita tentang Oma-nya, tentang sungai
di Meksiko. Tapi sungai ini tak mengingatkanku
pada siapa dan pada tempat di mana pun
perempuan-perempuan atas perahu itu telah
membawaku ke dalam tubuhnya

Di Muara Kuin,
keringat kami jatuh di air ...

2007


AKU MENULIS

Ketika malam menarik senja
dengan kasar
ketika hujan tak sampai
ke sungai
ketika ikan-ikan yang menggelepar
ditinggalkan

Aku menulis dengan tangan
yang sakit. Orang-orang terus bicara,
seperti ada tikus dalam mulutnya
setiap malam, mereka mencuri
sebatang pohon dari tubuh anakku
setiap pagi, mereka membuat
komplotan-komplotan baru

Aku menulis dengan tangan
yang sakit. Langit kering dan kaki-kaki
jembatan mengelupak. Kota penuh bendera,
suara telepon genggam, dan anak-anak muda
yang menginjak-injak potret presiden

Aku menulis dalam tahun-tahun
yang genting. Hari dan angin menderu,
menghembuskan abu dan patahan-patahan
gigi mayat. Kota perlahan tenggelam
ke dalam malam, seperti peti mati
yang mulai diturunkan, ketika
mereka membakar

seluruh pohon di tubuh anakku

2003


SEMANGGI

Meminjam tubuhmu dari jalanan
penuh tentara dan mahasiswa: Aku penari
dengan kening yang retak. Ranting angin tumbuh
dan menjulur dari gelap yang bergesekan,
mengirimkan ribuan tubuhmu yang lain, menjadi
daun, kolam, dan mayat-mayat. Seorang anak
menemuiku pada siang yang membosankan,
membawa air susu ibunya yang telah berubah
menjadi mesiu

Meminjam perasaanmu ketika orang-orang
membawa besi, belati, dan batu. Aku menari memunguti
jemari tangan dan ali matamu yang hancur. Bukit-bukit
jauh mengepung senja, menariknya dengan kasar
gelap bergesekan di daun telinga dan kulit kepalamu
angin menjulur dari ranting dan pepohonan yang murung,
mengirimkan seorang ibu padaku, dengan helai-helai
rambutnya yang berubah

menjadi ribuan ular

1998


PAPUA

Lalu seluruh lembah mengeluarkan pekiknya
sakit yang sampai ke lubuk sungai. Pulau-pulau
karang berwarna toska, padang-padang rumput,
danau, dan pegunungan yang menjulang

Rumbewas mengunyah pinang, meludahkan
airnya pada batu, seperti percik darah
tubuhnya penuh hutan-hutan sagu
yang terbakar

Kapal mereka terus datang membawa beras,
perempuan dan minuman keras, lalu mengangkut
kami punya gaharu dan emas

Tapi ia terus memukul tifa
irama derap kaki dan bumi

Ratna, Jamal dan Alwy ramai-ramai
berfoto bersamamu untuk kenang-kenangan,
lalu kami mencari patung antik, tombak, tifa,
panah, dan membeli koteka sambil tertawa
di toko-toko milik orang Bugis

Di langit yang kosong
seekor burung melayang, menukik,
dan membenturkan tubuhnya ke batu karang
tapi Rumbewas terus menari, membuat
putaran dan jeritan. Bulu-bulu burung
kaswari di tubuhnya meneteskan darah,
dan hari yang selalu malam

Ketika purnama naik,
ketika orang-orang terus membakar
pohon-pohon di tubuh anaknya,
dengar pekiknya di lubuk sungai!

Lembah-lembah yang dingin,
pegunungan yang menjulang,

dan sebuah tarian perang

2005


PIDIE
buat Cut Fatmah Hassan

Daun-daun menulis di kerudungmu, Inong
syair-syair ratusan tahun ketika kata-kata
menjelma ribuan rencong, mengubah hujan
menjadi hidup yang sesungguhnya, menjadi angin
yang mengelus punggungmu, lenyap ke dalam rimba-rimba
jauh. Ada banyak malam pepohonan menyimpan nafasmu,
menyerahkannya pada sungai nan gaduh
berkata dingin dan parau

Tuan-tuan dari Jawa ...

Ada banyak malam tubuhmu meliuk
bersama seluruh kesedihan, melayang ke dalam
rentak hujan, garis-garis yang bergelombang, melepas
kain bajumu, menjadi syair ratusan tahun ketika hidup
yang sesungguhnya adalah menyihir air mata menjadi
ribuan rencong

Sungai-sungai menangis di kerudungmu, Inong
membawa sejarah itu kembali, tiang-tiang meunasah
yang terbakar, juga percakapan yang penuh penipuan,
seperti Pang Laot. Lenyap ke dalam rimba-rimba jauh,
kau sembahyang bersama para leluhur. Dan lubang
peluru di tengkorak kepala itu mengeluarkan gema
yang dibawa sungai-sungai

Tuan-tuan dari Jawa ...

1999


PERNYATAAN

Ini wajahku. Bawa ke laut,
lalu kenanglah!

Sepanjang abad perut ikan-ikan
menyimpannya. Menyerahkannya
pada nafas para nelayan.

Jangan menjemputku di pulau
dengan rindu
karena rindu telah kuserahkan
pada suara laut paling jauh

Ini tubuhku
bawa ke dalam kabut
lalu catatlah!

Burung-burung
menjeritkannya, angin mengurainya
para pemberontak menyebutnya
cahaya!

Jangan memanggilku dari keheningan
karena rumahku adalah percik api
dari ribuan kaki-kaki kuda!

Ini seluruhnya untukmu
tapi pulanglah padaku, seperti juga
aku datang padamu

Atau kita sama-sama membakar saja rumah ini!

2003


KUTULIS LAGI SEBUAH PUISI

Kutulis lagi sebuah puisi
mungkin untukmu, mungkin juga bukan
kata-kata selalu punya banyak kemungkinan,
seperti waktu, seperti tubuhmu. Banyak hari
yang tak bisa lagi kuingat padahal aku mesti
segera berangkat. Kupastikan aku akan sampai
di pulau berikutnya, tepat ketika kau
sampai di seberang sungai

Kupastikan juga ada sebuah kesedihan
yang aneh menempel di setiap helai rambutku
tapi entah apa. Mungkin ingatan pada mereka
yang meninggalkanku karena
kebencian atau kematian

Kutulis lagi sebuah puisi
mungkin untukmu, mungkin juga bukan
dalam tubuhmu kata-kata adalah waktu, irama
yang cemas dan bimbang, janji yang tak beranjak
pergi. Tidak bersama siapa pun, aku telah berada
di lubuk malam. Ingatan padamu menjadi air
yang menetes dari jemari tangan. Banyak hari
yang tak bisa lagi kuingat sebagai apa pun
tapi telah lama kupastikan, aku akan sampai
di sebuah pulau berikutnya, kampung halaman
dari seluruh ingatan. Tepat setelah
kau membaca puisi ini

dari seberang sungai

2007


DI PINTU ANGIN

Di pintu angin
orang-orang menari di permukaan air
gemerincing gelang kaki mereka menahan
perpindahan burung-burung. Ikan dan ular-ular
air melepas seluruh sisiknya, sebelum sampai
sungai ke pusat muara. Sebelum tanganku

menyentuh rambutmu

Di seberang air
di atas padang-padang lengang,
aku melihat tubuhmu terurai. Garis
pembatas surut, pulau-pulau menetes,
lalu dentang lonceng mengirim kembali
hujan ke seluruh lembah
dan ngarai

Di pintu angin
orang-orang masuk ke dalam air
gemerincing gelang kaki mereka tertinggal
di tubuhku. Di padang-padang lengang, dalam
kabut yang ganas, aku menari bersama arwah
ibu dan bapakku. Tapi perpindahan burung-burung
tak pernah sampai ke seberang air. Sedang
tanganku masih terulur

ke arah rambutmu

2008


SESUATU SEDANG TERJADI

Sesuatu sedang terjadi. Orang-orang
berkumpul di dermaga, bersiap berangkat
tapi entah hendak ke mana dan entah
untuk apa. Seperti hujan yang terus turun
berhari-hari, pertanyaan-pertanyaan
membuat mereka menjadi bosan,
cepat merasa lelah dan selalu
menggerutu

Malam menyimpan tubuhnya
di punggungku, bersama pepohonan
yang rebah. Di permukaan danau
seekor ular melintas, membelah
bayang bulan

Sesuatu sedang terjadi. Bayi-bayi lahir
dengan lidah bersisik, dan ibu mereka adalah
burung-burung gagak. Tengah hari,
di sebuah kota, pertanyaan-pertanyaan
memandangku dengan gelisah. Lalu
seperti biasanya seorang terbunuh,
dan seperti biasanya juga: Kami
membakarnya. Entah mengapa
dan entah untuk apa

Sesuatu sedang terjadi. Orang-orang
meninggalkan bayi mereka di tengah hutan
dalam sepatuku bayi-bayi itu terus menangis
dan kedua tangannya lumpuh

Hari selalu menjadi malam. Orang-orang
masih berkumpul di dermaga. Entah hendak
ke mana dan entah untuk apa. Mata mereka
berlubang

seperti kuburan

1999-2006


HUJAN SEGERA DATANG

Hujan segera datang
dengan bunga di sepatunya
bukit-bukit memberi jalan,

burung-burung menjemputnya

Dengan tenang,
aku menulis puisi
menemui nama-nama

Hujan segera datang
dengan bunga di sepatunya
padang rumput terbelah
tubuhkku penuh gemerincing

Dengan tenang,
aku menulis puisi
menyembahyangkan

nama-nama

1999-2006


DI LUAR PERCAKAPAN

Bayangkan sebuah hari
ketika kita berpisah, ketika angin
tertumbuk di kamar lengang,
ketika sebuah pintu

dihempaskan

Jika masih kau di sini, pergilah ke balik
suara-suara malam. Di situ, di bawah tanah,
kusimpan sebuah kamar dan seorang perempuan
yang muncul dari cermin. Di situ, akan
kau temukan separuh tubuhku yang lain, menjadi
penduduk sebuah negeri yang selalu ramai
dengan kata-kata, para budak, dan majikan
yang menyebalkan

Ketahuilah, banyak hari yang tak bisa
kaukisahkan padamu. Kusimpan dalam gelap
perut ikan-ikan. Banyak hari di mana aku
telah pergi diam-diam, mengeluh di sebuah
kamar, menyalakan lampu, dan kutemukan
sejarah yang lain dalam tubuhmu,
di luar percakapan kita

Bayangkan sebuah hari
ketika kita terpisah, ketika kau temukan
separuh tubuhku yang lain, menjadi budak
yang malang di negeri kata-kata

yang selalu kehilangan manusia

2006


TENTANG AHDA IMRAN

AHDA IMRAN lahir di Payakumbuh, Sumatera Barat, namun tumbuh dan besar di Cimahi.
Kumpulan puisinya Dunia Perkawinan (1999). Sejumlah puisinya juga diterbitkan dalam
antologi puisi bersama. Setiap pekan menulis repotase budaya, ulasan, kritik, esai, dan kolom,
di Harian Umum Pikiran Rakyat, Bandung