Anda di halaman 1dari 29

BAB I

PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Pada era globalisasi sekarang ini pendidikan mempunyai peranan yang
sangat penting karena pendidikan merupakan suatu pilar pembangunan
terutama dalam mencapai keberhasilan suatu pembangunan bangsa.
Berhasilnya suatu pembangunan bangsa ditentukan dari kualitas sumber daya
manusia bangsa itu sendiri. Salah satu upaya meningkatkan sumberdaya
manusia yang berkualitas adalah melalui pendidikan. Melalui pendidikan
maka sumber daya manusia dalam suatu bangsa diberikan kesempatan dapat
menggali, mengembangkan, dan meningkatkan potensi yang dimilikinya.
Suatu negara dikatakan maju atau tidak apabila sistem pendidikan di
dalamnya berlangsung dengan baik dan berkembang pesat mengikuti
perkembangan zaman. Pendidikan merupakan modal utama untuk
melaksanakan pembangunan dan menghadapi persaingan di era globalisasi
ini. Persaingan yang semakin ketat serta kemajuan IPTEK menuntut
pendidikan untuk mampu menciptakan sumber daya manusia yang
berkualitas.
Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan
suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif
mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual
keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta
keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara (UU
Sistem Pendidikan Nasional No.20 Th.2003).
Pendidikan mempunyai lembaga formal yaitu sekolah. Sekolah
diharapkan mampu menerapkan strategi dan metode belajar yang baik. Di
sekolah peran guru sangatlah penting, guru dituntut untuk mampu mengelola
kelas dengan baik, selain dengan cara pemilihan strategi dan metode belajar
guru dituntut untuk mengetahui kondisi dari masing-masing siswan saat
berada di dalam kelas seperti gaya belajar mereka saat pelajaran berlangsung.
Pengelolaan kelas yang baik diharapkan mampu meningkatkan prestasi
belajar siswa dan tujuan proses pembelajaran dapat tercapai dengan
maksimal. Tujuan dari pembelajaran yang diharapkan adalah pencapaian
prestasi yang maksimal. Keberhasilan siswa dalam belajar dapat dilihat dari
prestasi belajar siswa tersebut. Prestasi belajar yang dicapai seorang individu
merupakan hasil interaksi antara berbagai faktor yang mempengaruhinya baik
dari dalam diri maupun dari luar diri individu (Ahmadi 1991:130).
SMK Negeri 3 Jombang adalah Sekolah Menengah Kejuruan yang
berada di Kota Jombang. Secara akademik terdapat perbedaan prestasi belajar
yang dicapai oleh siswa kelas X Elektronika Audio Video di SMK Negeri 3
Jombang. Prestasi belajar yang dicapai oleh siswa tidak lepas dari faktor-
faktor yang mempengaruhinya. Banyak faktor yang mempengaruhi proses
belajar siswa, sehingga faktor tersebut juga berpengaruh terhadap prestasi
yang diraih siswa. Faktor yang mempengaruhi belajar siswa ada faktor
eksternal dan faktor internal.
Menurut Djamarah (2008:18) tingkat prestasi siswa secara umum
dapat dilihat dari pencapaian (penguasaan) siswa terhadap materi
pembelajaran. Apabila bahan pelajaran yang diajarkan kurang dari 65% yang
dikuasai oleh peserta didik, maka presentase keberhasilan siswa pada mata
pelajaran tersebut tergolong rendah.
Adanya program remedial yang diselenggarakan menjadi tolak ukur
masih kurang baiknya prestasi belajar siswa tersebut. Namun kita tidak dapat
hanya menyalahkan siswa karena prestasi belajarnya yang kurang baik. Ada
banyak faktor yang mempengaruhi mengapa prestasi belajar siswa tersebut
kurang baik. Faktor penyebab itu dapat berasal dari dalam diri siswa itu
sendiri dan juga dapat berasal dari luar siswa.
Setiap kegiatan pembelajaran tentunya selalu mengharapkan akan
menghasilkan pembelajaran yang maksimal. Namun setiap individu peserta
didik tidak hanya belajar dengan kecepatan yang berbeda tetapi juga
memproses informasi dengan cara yang berbeda. Ada siswa yang lebih
senang menulis hal-hal yang telah disampaikan oleh guru ketika proses
pembelajaran berlangsung. Adapula siswa yang lebih senang mendengarkan
materi yang disampaikan oleh guru, serta adapula siswa yang lebih senang
praktek secara langsung. Dalam pembelajaran listrik otomotif, guru lebih
dominan untuk mengajar dengan mengandalkan kemampuan visual dengan
mewajibkan siswa untuk menyimak hand out/modul, job sheet, atau buku
manual yang sudah ditentukan. Siswa diberi waktu membaca dulu sebelum
guru mulai menjelaskan materi pelajaran. Dalam praktik siswa juga dituntut
untuk mau membaca dan memahami job sheet, buku manual, dan wiring
diagram sebelum mereka menanyakan kepada guru.
Cara belajar yang dimiliki siswa sering disebut dengan gaya belajar
atau modalitas belajar siswa. Gaya belajar merupakan suatu kombinasi dari
bagaimana ia menyerap, dan kemudian mengatur serta mengolah informasi.
Terdapat tiga gaya belajar seseorang yaitu visual (cenderung belajar melalui
apa yang mereka lihat), auditorial (belajar melalui apa yang mereka dengar)
dan kinestetik (belajar melalui gerak dan sentuhan), (DePorter & Hernacki,
2002: 110-112). Meskipun gaya belajar yang dimiliki berbeda-beda, namun
tujuan yang hendak dicapai tetap sama yaitu guna mencapai tujuan
pembelajaran dan mencapai prestasi belajar yang diharapkan. Ada siswa yang
mampu memaksimalkan gaya belajarnya, ada juga siswa yang belum mampu
memaksimalkan gaya belajarnya karena mereka belum menyadari gaya
belajar yang mereka miliki. Hal tersebut terbukti dari masih adanya siswa
yang menyibukkan diri sewaktu guru menerangkan pelajaran.
Ada siswa yang bisa belajar dengan efektif jika dia belajar dengan
mengandalkan penglihatannya, ada juga siswa yang belajarnya akan efektif
jika dia belajar dengan mendengarkan, selain itu ada siswa yang belajarnya
efektif jika dilakukan dengan kegiatan praktik.
Setelah melakukan studi pendahuluan dengan teknik wawancara
kepada 5 responden yang tujuannya adalah untuk mengetahui gaya belajar
siswa kelas X Elektronika Audio Video SMKN 3 Jombang. Hasilnya bisa
disimpulkan bahwa gaya belajar siswa kelas X Elektronika Audio Video
SMKN 3 Jombang berbeda-beda. Gaya belajar adalah salah satu faktor yang
dapat mempengaruhi prestasi belajar siswa.
Cara mengajar guru cenderung menggunakan aktivitas visual,
sementara siswa mempunyai gaya belajar yang berbeda-beda. Belum semua
siswa menyadari gaya belajar yang mereka miliki sehingga mereka belum
bisa memaksimalkan gaya belajarnya, terbukti dari masih adanya siswa yang
menyibukkan diri sewaktu guru menerangkan pelajaran.
Dari hasil pengamatan di dalam kelas kepada 35 siswa X Elektronika
Audio Video SMKN 3 Jombang dapat dilihat beberapa perbedaan gaya
belajar siswa ketika guru sedang menyampaikan materi pelajaran Elektronika.
Terdapat berbagai macam gaya belajar siswa dalam mengikuti pelajaran,
diantaranya siswa belajar dengan cara memperhatikan guru saat guru
menerangkan di depan kelas dan mencatat apa yang disampaikan oleh guru,
kemudian ada pula siswa yang hanya mendengarkan pada saat guru
menjelaskan dan ada pula siswa yang sibuk dengan kegiatannya sendiri saat
kegiatan belajar berlangsung. Selanjutnya dari pengamatan terhadap prestasi
yang diraih nilai elektronika siswa rata-rata masih mendekati KKM yaitu 75,
dan dapat dikatakan prestasi atau nilai belajar elektronika mereka yang
dicapai ternyata belum maksimal terlihat sebanyak 81% nilai siswa adalah
75-80.
Dari latar belakang di atas mka dalam penelitian ini diambil judul
Pengaruh gaya belajar Visual, Auditorial, dan Kinestatik terhadap prestasi
belajar pada mata pelajaran teknik elektronika siswa kelas X Audio Video di
SMKN 3 Jombang tahun ajaran 2013/2014.


B. Rumusan Masalah
Dari latar belakang di atas maka rumusan masalah yang akan di bahas
adalah sebagai berikut:
1. Bagaimana pengaruh gaya belajar visual terhadap prestasi belajar mata
pelajaran teknik Elektronika siswa kelas X Elektronika Audio Video
SMKN 3 Jombang?
2. Bagaimana pengaruh gaya belajar auditorial terhadap prestasi belajar
mata pelajaran teknik elektronika siswa kelas X Elektronika Audio Video
SMKN 3 Jombang?
3. Bagaimana pengaruh gaya belajar auditorial terhadap prestasi belajar
mata pelajaran teknik elektronika siswa kelas X Elektronika Audio Video
SMKN 3 Jombang?
4. Bagaimana pengaruh gaya belajar secara bersama-sama terhadap prestasi
belajar mata pelajaran teknik elektronika siswa kelas X Elektronika
Audio Video SMKN 3 Jombang?
C. Tujuan Penelitian
Sesuai dengan permasalahan yang dijabarkan di atas, maka tujuan
penelitian yang hendak dicapai adalah:
1. Mengetahui pengaruh gaya belajar visual terhadap prestasi belajar mata
pelajaran teknik elektronika siswa kelas X Elektronika Audio Video
SMKN 3 Jombang.
2. Mengetahui pengaruh gaya belajar auditorial terhadap prestasi belajar
mata pelajaran teknik elektronika siswa kelas X Elektronika Audio Video
SMKN 3 Jombang.
3. Mengetahui pengaruh gaya belajar kinestatik terhadap prestasi belajar
mata pelajaran teknik elektronika siswa kelas X Elektronika Audio Video
SMKN 3 Jombang.
4. Mengetahui pengaruh gaya belajar secara bersama-sama terhadap
prestasi belajar mata pelajaran teknik elektronika siswa kelas X
Elektronika Audio Video SMKN 3 Jombang.
D. Manfaat Hasil Penelitian
Hasil penelitian ini diharapkan memiliki manfaat sebagai berikut:
1. Secara teoritis
a. Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan kontribusi bagi
perkembangan dalam bidang ilmu pengetahuan dan dalam dunia
pendidikan.
b. Dapat digunakan sebagai acuan dan bahan pertimbangan bagi
penelitian selanjutnya.
2. Secara praktis
a. Bagi siswa, sebagai masukan agar siswa dapat mengoptimalkan gaya
belajar yang dimiliki sehingga dapat belajar dengan baik agar prestasi
belajar meningkat.
b. Bagi guru, sebagai saran dan masukan agar dapat menyesuaikan gaya
mengajarnya sesuai dengan kebutuhan siswa agar dapat meningkatkan
prestasi belajar siswa.
c. Bagi dunia penelitian, sebagai acuan penelitian mengenai faktor-
faktor yang mempengaruhi prestasi belajar siswa.
d. Bagi peneliti, sebagai bekal menjadi pendidik di masa mendatang,
menambah pengetahuan, dan pengalaman.
E. Asumsi Penelitian
Dalam penelitian ini dapat diasumsikan sebagai berikut:
1. Gaya belajar setiap siswa berbeda yaitu: gaya belajar visual, gaya belajar
auditorial, dan gaya belajar kinestetik.
2. Prestasi belajar setiap siswa berbeda.
F. Batasan Masalah
Untuk menghindari kesalah pahaman dan memperjelas masalah yang
akan diteliti, maka penulis memberikan batasan-batasan sebagai berikut:
1. Penelitian ini dilakukan di SMKN 3 Jombang tahun ajaran 2013/2014.
2. Subyek yang menjadi responden adalah siswa kelas X Elektronika Audio
Video SMKN 3 Jombang tahun ajaran 2013/2014.
3. Variabel yang di teliti adalah gaya belajar visual sebagai variabel bebas
(X
1
), gaya belajar auditorial siswa sebagai variabel bebas (X
2
), dan gaya
belajar kinestetik siswa sebagai variabel bebas (X
3
) dengan
menggunakan metode angket. Sedangkan prestasi belajar siswa mata
pelajaran teknik elektronika kelas X Elektronika Audio Video SMKN 3
Jombang tahun ajaran 2013/2014 sebagai variabel terikat (Y).





















BAB II
LANDASAN TEORI
A. Pengertian Belajar
Menurut KBBI (Kamus Besar Bahasa Indonesia) belajar adalah
berusaha memperoleh kepandaian atau ilmu, berlatih, berubah tingkah laku
atau tanggapan yang disebabkan oleh pengalaman. Dan menurut Hilgard and
Bower dalam Purwanto (2011:84):
belajar berhubungan dengan perubahan tingkah laku seseorang terhadap
sesuatu situasi tertentu yang disebabkan oleh pengalamannya yang
berulang-ulang dalam situasi itu, dimana perubahan tingkah laku itu
tidak dapat dijelaskan atau dasar kecenderungan respon pembawaan,
kematangan, atau keadaan-keadaan sesaat seseorang (misalnya
kelelahan, pengaruh obat, dan sebagainya).

Menurut Witherington dalam Purwanto (2011:84) belajar adalah suatu
perubahan di dalam kepribadian yang menyatakan diri sebagai suatu pola
baru daripada reaksi yang berupa kecakapan, sikap, kebiasaan, kepandaian,
atau suatu pengertian. Dari beberapa definisi yang dikemukakan di atas,
terdapat beberapa elemen penting yang mencirikan pengertian tentang belajar
yaitu:
a. Belajar merupakan suatu perubahan dalam tingkah laku, di mana
perubahan itu dapat mengarah kepada tingkah laku yang lebih baik, tetapi
juga ada kemungkinan mengarah kepada tingkah laku yang lebih buruk.
b. Belajar merupaka suatu perubahan yang terjadi melalui latihan atau
pengalaman, dalam arti perubahan-perubahan yang disebabkan oleh
pertumbuhan atau kematangan tidak dianggap sebagai hasil belajar,
seperti perubahan-perubahan yang terjadi pada diri seorang bayi.
c. Untuk dapat disebut belajar, maka perubahan itu harus relatif mantap,
harus merupakan akhir daripada suatu periode waktu yang cukup
panjang.
d. Tingkah laku yang mengalami perubahan karena belajar menyangkut
berbagai aspek kepribadian, baik fisik maupun psikis seperti: perubahan
dalam pengertian, pemecahan suatu masalah/berpikir, keterampilan,
kecakapan. Kebiasaan, ataupun sikap.
B. Pengertian Prestasi Belajar
Belajar merupakan hal terpenting yang harus dilakukan manusia untuk
menghadapi perubahan lingkungan yang senantiasa berubah setiap waktu.
Oleh karena itu hendaknya seseorang mempersiapkan dirinya untuk
menghadapi kehidupan yang dinamis dan penuh persaingan dengan belajar,
dimana didalamnya termasuk belajar memahami diri sendiri, memahami
perubahan, dan perkembangan globalisasi.
Dalam keseluruhan proses pendidikan di sekolah, kegiatan belajar
merupakan kegiatan yang paling pokok. Ini berarti berhasil tidaknya
pencapaian tujuan pendidikan banyak bergantung kepada bagaimana proses
belajar yang dialami oleh murid sebagai peserta didik. Belajar ialah tahapan
perubahan seluruh tingkah laku individu yang relative menetap sebagai hasil
pengalaman dan interaksi dengan lingkungan yang melibatkan proses kognitif
(Muhibbin Syah, 2010:90). Belajar merupakan suatu proses memperoleh
pengetahuan dan pengalaman dalam wujud perubahan tingkah laku dan
kemampuan bereaksi yang relatif permanen atau menetap karena adanya
interaksi individu dengan lingkungannya (Sugihartono, 2007:74).
Bukti bahwa seorang telah belajar ialah terjadinya perubahan tingkah
laku orang tersebut, misalnya dari tidak tahu menjadi tahu dan dari tidak
mengerti menjadi mengerti. Tingkah laku manusia terdiri dari beberapa
aspek. Hasil belajar akan tampak pada setiap perubahan pada aspek-aspek
tersebut. Adapun aspek itu adalah pengetahuan, pengertian, kebiasaan,
apresiasi, emosional, hubungan social, jasmani, etis atau budi pekerti dan
sikap (Oemar Hamalik, 2001:30)
Menurut Ahmadi (1991:130) prestasi belajar yang dicapai seorang
individu merupakan hasil interaksi antara berbagai faktor yang
mempengaruhinya baik dari dalam diri maupun dari luar diri individu.
Dari beberapa definisi tentang belajar di atas maka dapat disimpulkan
bahwa prestasi belajar adalah hasil yang diperoleh seseorang melalui usaha
belajar, berupa kemampuan seseorang dalam mencapai pengetahuan, sikap
dan keterampilan baik mempelajari, memahami maupun mengerjakan tugas
yang telah diberikan dan dinyatakan dalam bentuk nilai dan angka.
C. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Prestasi Belajar
Prestasi dalam belajar merupakan dambaan bagi setiap orangtua
terhadap anaknya. Prestasi yang baik tentu akan didapat dengan proses belajar
yang baik juga. Belajar merupakan proses dari sesuatu yang belum bisa
menjadi bisa, dari perilaku lama ke perilaku yang baru, dari pemahaman lama
ke pemahaman baru. Dalam proses belajar, hal yang harus diutamakan adalah
bagaimana siswa dapat menyesuaikan diri terhadap lingkungan dan
rangsangan yang ada, sehingga terdapat reaksi yang muncul dari siswa.
Reaksi yang dilakukan merupakan usaha untuk menciptakan kegiatan belajar
sekaligus menyelesaikannya. Sehingga nantinya akan mendapatkan hasil
yang mengakibatkan perubahan pada siswa sebagai hal baru serta menambah
pengetahuan.
Prestasi belajar yang dicapai seorang individu merupakan hasil interaksi
antara berbagai faktor yang mempengaruhinya baik dari dalam diri (faktor
internal) maupun dari luar diri (faktir eksternal). Pengenalan terhadap faktor-
faktor yang mempengaruhi prestasi belajar penting sekali artinya dalam
rangka membantu siswa dalam mencapai prestasi belajar yang sebaik-
baiknya.
Menurut Abu Ahmadi & Widodo Supriyono (1991: 130-131), yang
tergolong faktor internal adalah: (1) Faktor jasmaniah (fisiologis) baik yang
bersifat bawaan maupun yang diperoleh. Yang termasuk faktor ini misalnya
penglihatan, pendengaran, struktur tubuh, dan sebagainya. (2) faktor
psikologis baik yang bersifat bawaan maupun yang diperoleh yang terdiri
atas: (a) faktor intelektif yang meliputi potensial yaitu kecerdasan dan bakat,
kecakapan nyata yaitu prestasi yang telah dimiliki. (b) Faktor non intelektif,
yaitu unsur-unsur kepribadian tertentu seperti sikap, kebiasaan, minat,
kebutuhan, motivasi, emosi, penyesuaian diri. (3) Faktor kematangan fisik
maupun psikis. Yang tergolong faktor eksternal, ialah: (i) Faktor social yang
terdiri atas: lingkungan keluarga, lingkungan sekolah, lingkungan
masyarakat, lingkungan kelompok. (ii) Faktor budaya seperti adat istiadat,
ilmu pengetahuan, teknologi, kesenian. (iii) Faktor lingkungan fisik seperti
fasilitas rumah, fasilitas belajar, iklim. (4) Faktor lingkungan spiritual atau
keamanan.
Dari sekian banyak faktor yang mempengaruhi prestasi belajar, Abu
Ahmadi & Widodo Supriyono (1991: 131-139) menggolongkannya menjadi
tiga macam, yaitu:
1) Faktor-Faktor Stimuli Belajar
Stimuli belajar yaitu segala hal di luar individu untuk
mengadakan reaksi atau perbuatan belajar yang mencakup material,
penugasan, serta suasana lingkungan eksternal yang harus diterima oleh
pelajar. Beberapa hal yang berhubungan dengan stimuli belajar:
a) Panjangnya bahan pelajaran
Bahan pelajaran yang terlalu panjang atau banyak
membutuhkan waktu yang panjang pula untuk mempelajarinya.
Panjangnya waktu belajar juga dapat menimbulkan beberapa
interferensi atau gangguan kesan ingatan akibat terjadinya
pertukaran antara kesan lama dengan kesan baru. Kedua kesan itu
muncul bertukaran sehingga terjadi kesalahan maksud yang tidak
disadari.
b) Kesulitan bahan pelajaran
Tiap-tiap bahan pelajaran mempunyai tingkat kesulitan dan
mempengaruhi kecepatan belajar siswa. Bahan pelajaran yang sulit
memerlukan aktivitas belajar yang lebih intensif, sedangkan bahan
yang sederhana mengurangi intensitas belajar seseorang.



c) Berartinya bahan pelajaran
Bahan yang berarti adalah bahan yang dapat dikenali. Bahan
yang berarti memungkinkan individu untuk belajar, karena individu
dapat mengenalnya.
d) Berat ringannya tugas
Tugas-tugas yang terlalu ringan atau mudah akan mengurangi
tantangan belajar siswa, sedangkan tugas yang terlalu berat atau
sukar membuat siswa menjadi kapok (jera) untuk belajar.
e) Suasana lingkungan eksternal
Suasana lingkungan eksternal menyangkut banyak hal antara
lain: cuaca, waktu, kondisi tempat, penerangan, dan sebagainya.
Faktor ini mempengaruhi individu dalam aktivitas belajarnya, sebab
individu yang belajar adalah interaksi dengan lingkungannya.
2) Faktor-Faktor Metode Belajar
Metode mengajar yang dilakukan oleh guru sangat mempengaruhi
metode belajar yang dipakai oleh siswa. Faktor-faktor metode belajar
menyangkut hal-hal sebagai berikut:
a) Kegiatan berlatih atau praktek
Berlatih dapat diberikan secara marathon (non stop) atau secara
terdistribusi (dengan selingan waktu-waktu istirahat)
b) Overlearning dan drill
Overlearning dilakukan untuk mengurangi kelupaan dalam
mengingat ketrampilan yang pernah dipelajari tetapi dalam
sementara waktu tidak dipraktekkan. Overlearning berlaku untuk
latihan ketrampilan motorik, sedangkan drill berlaku untuk kegiatan
berlatih abstraksi seperti berhitung.
c) Resitasi selama belajar
Setelah diadakan kegiatan membaca atau penyajian materi,
kemudian siswa berusaha untuk menghafalnya tanpa melihat
bacaannya. Resitasi lebih cocok untuk diterapkan pada belajar
membaca atau belajar menghafal.
d) Pengenalan tentang hasil-hasil belajar
Dengan mengetahui hasil-hasil yang sudah dicapai, seseorang
akan lebih berusaha meningkatkan hasil belajar selanjutnya.
e) Belajar dengan keseluruhan dan dengan bagian-bagian
Belajar mulai dari keseluruhan ke bagian-bagian lebih
menguntungkan daripada belajar mulai dari bagian-bagian, karena
dengan mulai dari keseluruhan individu menemukan set yang tepat
untuk belajar.
f) Penggunaan modalitet indera
Modalitet indera yang dipakai oleh masing-masing individu
dalam belajar tidak sama. Ada tiga impresi yang penting dalam
belajar, yaitu: visual, auditorial, dan kinestetik.



g) Bimbingan dalam belajar
Bimbingan yang terlalu banyak diberikan cenderung membuat
pelajar menjadi tergantung. Bimbingan dapat diberikan dalam batas-
batas yang diperlukan oleh individu.
h) Kondisi-kondisi insentif
Insentif adalah objek atau situasi eksternal yang dapat
memenuhi motif individu, bukan tujuan melainkan alat untuk
mencapai tujuan.
1. Insentif intrinsik yaitu situasi yang mempunyai hubungan
fungsional dengan tugas dan tujuan.
2. Insentif ekstrinsik yaitu objek atau situasi yang tidak
mempunyai hubungan fungsional dengan tugas dan tujuan.
3) Faktor-Faktor Individual
a) Kematangan
Kematangan memeberikan kondisi dimana fungsi-fungsi
fisiologis termasuk sistem syaraf dan otak menjadi berkembang, hal
ini akan menumbuhkan kapasitas mental seseorang.
b) Faktor usia kronologis
Pertambahan usia selalu dibarengi dengan proses pertumbuhan
dan perkembangan. Semakin tua usia individu, semakin meningkat
pula kematangan berbagai fungsi fisiologisnya.
c) Faktor perbedaan jenis kelamin
Tidak ada perbedaan yang berarti antara pria dan wanita dalam
hal intelegensi. Yang dapat membedakan antara pria dan wanita
adalah dalam hal peranan dan perhatiannya terhadap sesuatu
pekerjaan, dan inipun merupakan akibat dari pengaruh kultural.
d) Pengalaman sebelumnya
Pengalaman yang diperoleh oleh individu ikut mempengaruhi
hal belajar yang bersangkutan, terutama pada transfer belajarnya.
e) Kapasitas mental
Kapasitas adalah potensi untuk mempelajari serta
mengembangkan berbagai ketrampilan/kecakapan. Akibat daripada
hereditas dan lingkungan, berkembanglah kapasitas mental individu
yang berupa intelegensi.
f) Kondisi kesehatan jasmani
Orang yang belajar membutuhkan kondisi badan yang sehat.
Orang yang badannya sakit tidak akan dapat belajar dengan efektif.
g) Kondisi kesehatan rohani
Gangguan serta cacat mental pada seseorang mengganggu hal
belajar orang yang bersangkutan.
h) Motivasi
Motivasi sangat penting bagi proses belajar, karena motivasi
menggerakkan organisme, mengarahkan tindakan, serta memilih
tujuan belajar yang dirasa paling berguna bagi kehidupan individu.
D. Gaya Belajar
Menurut De Porter (2001: 110) gaya belajar seseorang adalah
kombinasi dari bagaimana ia menyerap, dan kemudian mengatur serta
mengolah informasi. Sedangkan menurut Drummond (1998: 186)
mendefinisikan gaya belajar sebagai, an individuals preferred mode and
desired condition of learning. Maksudnya, gaya belajar dianggap sebagai
cara belajar atau kondisi belajar yang disukai oleh pembelajar.
Selanjutnya De Porter (2011: 112) menyatakan jika anda akrab dengan
gaya belajar anda sendiri, anda dapat mengambil langkah-langkah penting
untuk membangun diri anda belajar lebih cepat dan lebih mudah. Dari
beberapa definisi di atas maka dapat disimpulkan bahwa gaya belajar adalah
suatu sikap atau cara yang dilakukan seseorang agar dapat mencari dan
menerima pelajaran serta dapat menyerap dan memproses informasi yang
dirasakan paling nyaman, berdasarkan dari pengalaman yang pernah dialami
sendiri dengan menggunakan alat indra mereka.
E. Tipe Gaya Belajar
Setiap siswa pasti mempunyai gaya belajar yang berbeda-beda sesuai
dari kebiasaan mereka dalam mengikuti pelajaran. Seorang pendidik dalam
melaksanakan pengelolaan di dalam kelas harus mengetahui gaya belajar
yang biasanya ada pada diri siswa sehingga pendidik mampu menerapkan
strategi dan metode pembelajaran sesuai dengan kondisi situasi kelas,
sehingga tujuan pembelajaran dapat tercapai dengan maksimal. Tipe dari
gaya belajar tersebut ada tiga macam yaitu Visual, Auditorial, dan Kinestetik.
Untuk lebih jelasnya maka akan diuraikan mengenai tiga tipe gaya belajar
tersebut:
1. Gaya belajar Visual merupakan gaya belajar melalui melihat sesuatu,
misalkan suka melihat gambar atau diagram, serta menulis. De Porter
(2013:112) berpendapat bahwa, orang-orang visual belajar melalui apa
yang mereka lihat.
2. Gaya belajar Auditorial merupakan gaya belajar melalui mendengar
sesuatu. Tipe ini lebih suka mendengarkan kaset, ceramah pada saat
pelajaran berlangsung, diskusi dan debat.
De Porter (2011:112) berpendapat bahwa pelajar auditorial
melakukan proses belajar melalui apa yang mereka dengar, sehingga
kadang-kadang kehilangan urutan jika mereka mencoba mencatat materi
selama proses belajar berlangsung.
3. Gaya belajar Kinestetik merupakan gaya belajar melalui aktivitas fisik
dan keterlibatan langsung. Siswa lebih suka bergerak, menyentuh dan
mengalami sendiri. Jadi dapat disimpulkan siswa belajar lewat gerakan
dan sentuhan.
F. Ciri-ciri Gaya Belajar Visual, Auditorial, dan Kinestetik
De Porter (2013:115) mengemukakan setiap orang yang memiliki tipe
gaya belajar mempunyai ciri-ciri masing-masing yaitu:
a. Ciri-ciri orang dengan gaya belajar Visual
1. Rapi dan teratur
2. Berbicara dengan cepat
3. Perencanaan dan pengaturan jangka panjang yang baik
4. Teliti terhadap detail
5. Mementingkan penampilan, dalam pakaian maupun prestasi
6. Mengingat apa yang dilihat, daripada yang di dengar
7. Biasanya tidak terganggu oleh keributan
8. Pembaca cepat dan tekun
9. Lebih suka membaca daripada dibacakan
10. Lebih suka melakukan demonstrasi daripada berpidato
11. Lebih suka seni daripada music
12. Sering menjawab pertanyaan dengan jawaban yang singkat
13. Mencorat-coret tanpa arti saat menelpon
b. Ciri-ciri orang dengan gaya belajar Auditorial
1. Berbicara kepada diri sendiri saat bekerja
2. Mudah terganggu oleh keributan
3. Menggerakkan bibir mereka dan mengucapkan tulisan di buku ketika
membaca
4. Senang membaca dengan kertas dan mendengarkan
5. Merasa kesulitan saat menulis tapi hebat dalam bercerita
6. Berbicara dengan irama yang berpola
7. Biasanya pembicara yang fasih
8. Lebih suka music daripada seni
9. Belajar dengan mendengarkan dan mengingat daripada yang dilihat
10. Suka berbicara, diskusi, dan bercerita panjang lebar
11. Memiliki masalah apabila pekerjaannya berhubungan dengan
visualitas
12. Lebih pandai mengeja dengan kertas daripada menuliskannya
13. Lebih suka gurauan lisan daripada melukiskannya
c. Ciri-ciri orang dengan gaya belajar Kinestetik
1. Berbicara dengan perlahan
2. Menanggapi perhatian fisik
3. Menyentuh orang untuk mendapatkan perhatian mereka
4. Berdiri dekat ketika berbicara dengan orang
5. Selalu berorientasi pada fisik dan banyak bergerak
6. Mempunyai perkembangan awal otot-otot yang besar
7. Belajar melalui manipulasi dan praktik
8. Menghafal dengan cara berjalan dan melihat
9. Menggunakkan jari sebagai petunjuk ketika membaca
10. Banyak menggunakan isyarat tubuh
11. Tidak dapat duduk diam untuk waktu yang lama
G. Strategi Gaya Belajar Visual, Auditorial, dan Kinestetik
1. Strategi yang dilakukan untuk mempermudah proses belajar siswa dengan
tipe gaya belajar visual:
a. Gunakan materi visual seperti gambar-gambar, diagram dan peta.
b. Gunakan warna yang terang untuk menandai hal-hal yang penting.
c. Ajak siswa untuk membaca buku yang berilustrasi.
d. Gunakan multimedia seperti computer dan LCD.
e. Ajak siswa untuk mengilustrasikan pemikirannya kedalam tulisan.
2. Strategi yang dilakukan untuk mempermudah proses belajar siswa dengan
tipe gaya belajar auditorial:
a. Ajak siswa untuk berpartisipasi dalam diskusi baik di dalam kelas
maupun di dalam keluarga.
b. Dorong siswa untuk membaca materi pelajar dengan keras.
c. Gunakan music untuk mengerjakan sesuatu kepada anak.
d. Diskusikan ide dengan anak secara verbal.
3. Strategi yang dilakukan untuk mempermudah proses belajar siswa dengan
tipe gaya belajar kinestetik:
a. Jangan paksakan anak untuk belajar sampai berjam-jam.
b. Ajak anak untuk berilustrasi tentang materi yang diajarkan.
c. Ijinkan anak untuk melakukan sesuatu sebagai selingan saat belajar
seperti makan permen karet.
d. Gunakan warna yang terang dalam menandai hal-hal yang penting.
e. Ijinkan anak untuk belajar sambil mendengarkan music.
Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa gaya belajar siswa adalah
cara yang dipilih oleh seseorang untuk dapat dengan mudah menerima
informasi dan mengolahnya menjadi sesuatu yang dimengerti.







J. Kerangka Berpikir
1. Pengaruh Gaya Belajar Visual terhadap prestasi belajar mata
pelajaran Teknik Elektronika
Siswa yang bergaya belajar visual, yang memegang peranan
penting adalah mata/penglihatan (visual), mereka cenderung belajar
melalui apa yang mereka lihat. Mereka belajar lebih cepat dengan
menggunakan tampilan-tampilan visual, seperti diagram, buku pelajaran
bergambar, dan video. Dalam pembelajaran siswa yang mempunyai gaya
belajar visual akan lebih mudah mengerti dengan melihat bahasa tubuh
dan ekspresi muka gurunya. Di dalam kelas, anak visual lebih suka
mencatat sampai detil-detilnya untuk mendapatkan informasi. Siswa
visual cenderung rapi dan teratur dan tidak terganggu dengan keributan,
tetapi mereka sulit menerima instruksi verbal.
Mata pelajaran Teknik Elektronika terdiri dari teori dan praktik.
Dalam pembelajaran, guru lebih dominan untuk melakukan aktivitas
visual dengan mewajibkan siswa untuk menyimak hand out/modul, job
sheet, atau buku manual yang sudah ditentukan. Siswa diberi waktu
membaca dulu sebelum guru mulai menjelaskan materi secara lisan.
Materi dalam pembelajaran Teknik Elektronika juga selalu menampilkan
gambar-gambar dan diagram yang disertakan di dalam materi tersebut.
Maka dari itu siswa yang mempunyai gaya belajar visual akan
mempunyai prestasi belajar yang baik dalam mata pelajaran Teknik
Elektronika.
2. Pengaruh Gaya Belajar Auditorial terhadap prestasi belajar mata
pelajaran Teknik Elektronika
Siswa yang bertipe auditorial mengandalkan kesuksesan belajarnya
melalui telinga (alat pendengarannya). Siswa yang mempunyai gaya
belajar auditori dapat belajar lebih cepat dengan menggunakan diskusi
verbal dan mendengarkan apa yang guru katakana. Siswa auditorial baik
dalam aktivitas lisan, mereka berbicara dengan irama yang berpola,
biasanya pembicara yang fasih. Siswa dengan tipe gaya belajar ini mudah
terganggu dengan keributan dan lemah dalam aktivitas visual.
Dalam pembelajaran Teknik Elektronika, salah satu metode
mengajar yang digunakan oleh guru dalam memberi penjelasan materi
yaitu dengan metode ceramah, baik saat dalam ruang kelas maupun saat
penjelasan dalam pelaksanaan praktik. Kesulitan dialami siswa dengan
gaya belajar auditorial yaitu dalam mengerjakan praktik yang
membutuhkan kemampuan untuk mengolah informasi dalam bentuk
tertulis, mereka membutuhkan pendampingan oleh guru untuk informasi
secara lisan. Sementara guru selalu menganjurkan untuk bisa
menggunakan job sheet, buku manual, modul praktik.
3. Pengaruh Gaya Belajar Kinestetik terhadap prestasi belajar mata
pelajaran Teknik Elektronika
Siswa yang mempunyai gaya belajar kinestetik belajar melalui
bergerak, menyentuh, dan melakukan. Siswa seperti ini tidak tahan untuk
duduk berlama-lama mendengarkan pelajaran dan merasa bisa belajar
lebih baik jika prosesnya disertai kegiatan fisik. Mereka peka terhadap
ekspresi dan bahasa tubuh pengajarnya. Siswa dengan tipe ini suka coba-
coba dan umumnya kurang rapi serta lemah dalam aktivitas verbal.
Dalam pembelajaran mata pelajaran Teknik Elektronika banyak
dilakukan dengan praktik di bengkel, tetapi guru menekankan pada
aktivitas visual seperti pemahaman job sheet, buku manual, modul
praktik. Guru mengharapkan siswa untuk mau membaca buku manual
saat praktik sebelum bertanya kepada guru.
4. Pengaruh Gaya Belajar Visual, Auditorial dan Kinestetik terhadap
prestasi belajar mata pelajaran Teknik Elektronika
Setiap individu peserta didik tidak hanya belajar dengan kecepatan
yang berbeda tetapi juga memproses informasi dengan cara yang
berbeda. Ada siswa yang lebih senang menulis hal-hal yang telah
disampaikan oleh guru ketika proses pembelajaran berlangsung. Adapula
siswa yang lebih senang mendengarkan materi yang disampaikan oleh
guru, serta adapula siswa yang lebih senang praktik secara langsung.
Pembelajaran mata pelajaran Teknik Elektronika terdiri dari teori
dan praktik, maka kegiatan yang bersifat visual, auditorial, dan kinestetik
terakomodir semua di dalam pembelajaran Teknik Elektronika. Dengan
demikian siswa yang mampu memanfaatkan gaya belajarnya dengan baik
maka prestasi belajarnya akan baik.








Gambar 2.1 Kerangka Berpikir
Keterangan:
X
1
: Gaya Belajar Visual

X
1



X
2

X
3


Y
rx
1
y
Ry
123

rx
2
y
rx
3
y
X
2
: Gaya Belajar Auditorial
X
3
: Gaya Belajar Kinestetik
Y : Prestasi Belajar Mata Diklat Listrik Otomotif Siswa Kelas XI
TPBO SMKN 3 Jombang
rx
1
y : Pengaruh Gaya Belajar Visual Terhadap Prestasi Belajar
rx
2
y : Pengaruh Gaya Belajar Auditorial Terhadap Prestasi Belajar
rx
3
y : Pengaruh Gaya Belajar Kinestetik Terhadap Prestasi Belajar
Ry
123
: Pengaruh Gaya Belajar Visual, Gaya Belajar Auditorial, dan
Gaya
Belajar Kinestetik secara bersama-sama Terhadap Prestasi Belajar




K. Hipotesis
Menurut Sukandarrumidi (2008:69) hipotesis merupakan jawaban
sementara terhadap rumusan masalah penelitian yang diajukan. Berdasarkan
pembahasan teori di atas maka untuk menjawab pertanyaan yang telah
dirumuskan, dapat ditarik jawaban sementara:
1. Gaya belajar Visual berpengaruh positif terhadap prestasi belajar mata
pelajaran Teknik Elektronika siswa kelas X Elektronika Audio Video
SMKN 3 Jombang.
2. Gaya belajar Auditorial berpengaruh positif terhadap prestasi belajar mata
pelajaran Teknik Elektronika siswa kelas X Elektronika Audio Video
SMKN 3 Jombang.
3. Gaya belajar Kinestetik berpengaruh positif terhadap prestasi belajar mata
pelajaran Teknik Elektronika siswa kelas X Elektronika Audio Video
SMKN 3 Jombang.
4. Gaya belajar Visual, Auditorial, Kinestetik secara bersama-sama
berpengaruh positif terhadap prestasi belajar mata pelajaran Teknik
Elektronika siswa kelas X Elektronika Audio Video SMKN 3 Jombang.