Anda di halaman 1dari 4

Pengertian, Pembagian, Sejarah, dan Manfaat Ilmu

Mantiq

PENDAHULUAN

Keistimewaan manusia dari segala sesuatu adalah manusia karena punya akal fikiran.
Maka manusia dengan fikirannya merupakan isi dari alam ini, yang mana tidak ada yang mulia
di dunia ini, kecuali manusia yang berakalnya. Salah satu fungsi akal dalam kehidupan manusia
tiada lain sebagai petunjuk jalan guna memilih yang bermanfaat dan meninggalkan yang
mudharat.
Berbagai kenyataan di lapangan yang ditemukan penulis seputar berpikir kritis, analitik,
=]dan logic, jauh dari harapan penulis bagi sebuah masyarakat modern yang menjunjung tinggi
ilmu pengetahuan sebagai salah satu kebutuhan dalam kehidupannya.
Islam sebagai agama yang menjunjung tinggi akal pikiran benar-benar menganjurkan
ummatnya untuk melakukan apapun dengan landasan ilmiah yang memiliki akurasi data yang
baik, dan benar.Sehingga ditemukan pemahaman BAL dalam bertindak; Benar-Akurat-
Lengkap. Filsafat melalui salah satu cabangnya, memberikan jalan keluarnya dengan istilah
logika yang juga banyak dikenal di dunia Islam dengan istilah mantiq, yang juga memiliki
cabang alat berfikir runtut yang dikenal dengan silogisme.

PEMBAHASAN

A. Pengertian Ilmu Mantiq
Sebelum kita memahami lebih dalam tentang ilmu mantiq hendaknya kita kupas satu persatu
secara tuntas definisi ilmu dan definisi mantiq.
Ilmu merupakan satu kata yang memiliki banyak arti. Ilmu dapat diartikan sebagai sesuatu
yang diketahui dan yang dipercayai secara pasti dan sesuai dengan kenyataan yang muncul dari
satu alasan argumentasi dalil. Selain itu ilmu juga berarti gambaran yang ada pada akal tentang
sesuatu. Seperti kambing, kuda dan lain-lain. Jika kambing disebut maka muncullah gambaran
pada akal dengan sendirinya. Ilmu seperti ini disebut ilmu tashawwur. Diantara fungsi ilmu ialah
untuk menelusuri segala sesuatu itu sesuai dengan kenyataannya atau tidak.
Pada dasarnya pengertian ilmu mantik telah banyak didefinisikan oleh para Ulama, dan
pakar ilmu mantik dengan pengertian yang beragam, meskipun pada hakikat dan tujuannya
adalah sama yaitu mengungkapkan makna mantik sebagai suatu kata yang dibakukan untuk
sebuah disiplin ilmu. Ilmu mantik meruakan bahasa arab dan meruakan terjemahan dari kata
logika, oleh sebab itu ilmu mantik juga bisa disebut sebagai ilmu logika. Dalam kaitaannya
dengan pengertian ilmu mantik, seperti yang telah penulis kutip dari bukunya Prof. Dr. H.
Baihaqi A.K, yang berjudul Ilmu Mantik: Teknik berfikir logik, dalam bukunya tersebut,
Baihaqi mengungkapkan bahwasannya ilmu mantik adalah merupakan suatu ilmu yang
membahas tentang kaidah-kaidah yang dapat membimbing manusia dalam berfikir, supaya dapat
menghasilkan kesimpulan yang benar, sehingga dia terhindar dari kesalahan berfikir, yang
akhirnya menghasilkan kesimpulan yang salah dan keliru.
Sedangkan mantiq secara etimologis atau bahasa berasal dari dua bahasa, yaitu bahasa arab
nataqa yang berarti berkata atau berucap dan bahasa latin logos yang berartiperkataan atau sabda.
Pengertian mantiq menurut istilah ialah:
Alat atau dasar yang gunanya untuk menjaga dari kesalahan berpikir.
Sebuah ilmu yang membahas tentang alat dan formula berfikir sehingga seseorang yang
menggunakannya akan selamat dari berfikir yang salah.
Ilmu mantiq sering disebut bapak segala ilmu atau dikatakan ilmu dari segala yang benar
karena ilmu mantiq ialah sebagai alat untuk menuju ilmu yang benar, atau karena ilmu yang
benar perlu pengarahan mantiq.

B. Pembagian Ilmu
Telah kita bahas di awal bahwa yang dimaksud tashwur ialah gambaran yang ada pada akal
manusia secara langsung dengan sendirinya tanpa membebani dengan sifat atau hukum lain.
Tashwur ada dua macam:
Tashwur yang tampak penisbahan hukum yang berdiri sendiri atau tunggal/mufrad. Tasawwur ini
disebut ashawur asli (sadz).
Tashawur ashli meliputi tiga bentuk:
a. Bentuk makna mufrad. Seperti manusia, kayu, batu, besi, dan lain-lain.
b. Bentuk murakkab, idhafah, seperti kebun binatang, sepatu gajah dan lain-lain.
c. Bentuk sifat-sifat murakkab, seperti manusia yang berfikir, hewan yang berakal dan lain-lain.
Tashwur yang mempunyai nisbah hukum yang demikian, disebut tashdiq. Contohnya seperti
manusia itu penulis, baunga itu bagus. Yang dimaksud hukum disini ialah tersandarnya sesuatu
pada yang lain. bisa berbentuk ijab atau mujabah atau berbentuk salibah.
Al-nisbah al-Hukumiyah, yakni, hubungan antara Mahkum alaih dengan mahkum bih.
Mahkum Alaih:
Al-Hukmu, yakni adanya penisbahan atau tercabutnya )tidak adanya).[1]



C. Sejarah Singkat Ilmu Mantiq
Logika (mantiq) sebagai ilmu di Yunani pada abad ke 5 SM oleh para ahli filsafat kuno.
Dalam sejarah, telah tercataat bahwa pencetus logika ialah Socrates yang kemudian dilanjutkan
oleh Plato dan sdisusun dengan rapisebagai dasar falsafat oleh Aristoteles. Oleh sebab itu beliau
dinyatakan sebagai guru pertama dari ilmu pengetahuan.
Pada masa selanjutnya, terdapat perubahan-perubahan seperti yang dilakukan oleh Al-
Farabi, salah satu filsuf mislim yang sering dinyatakan sebagai maha guru keua dalam ilmu
pengetahuan. Pada masa Al-Farabi ilmu mantik dipelajari lebih rinci dan dipraktekkan, termasuk
dalam pentasdiqan qadhiyah.
Tokoh-tokoh lagika/ilmu mantiq kaum muslim yang tercatat oleh para pakar-pakar
diantaranya: Abdullah Ibn Al-Muqaffa, Yakub Ibnu Ishak Al-Kindi, Ibnu Sina, Abu Hamid Al-
Ghazali, Ibnu Rusyd Al-Qurtubi, Abu Ali Al-Haitsam, Abu Abdillah Al-Khawarizmi, Al-Tibrisi,
Ibnu Bajah, Al-Asmawi, As-Samarqandi, dan lain sebagainya.
Ilmu mantiq banyak membantu dalam perkembangan ilmu pengetahuan selanjutnya. Seperti
yang dilakukan Immanuel kant, Descartes, dan yang lainnya.

D. Manfaat Ilmu Mantiq
Setelah kita membahas panjang lebar mengenai pengertian dan sejrah ilmu mantiq, harusnya
kita juga mengetahui manfaat mempelaari Ilmu Mantiq. Kegunaan yang sangat Nampak pada
ilmu mantiq ini ialah untuk dapat berfikir dengan benar hingga sampainya seseorang pada
kesimpulan yang benar tanpa mempertimbangkan kondisi dan situasi yang kemungkinan dapat
mempengaruhi seseorang.[2]
Jika demikian, kesimpulannya ialah setiap orang harus mempelajari ilmu mantiq agar dalam
mengambil kesimpulan seseorang tak lagi salah. Ilmu mantiq yang menuntun mereka untuk
sampai pada kesimpulan yang benar. Karena bisa saja seseorang melakukan kesimpulan yang
benar tanpa melalui ilmu mantiq. Itu mungkin saja kebetulan, karena yang dapat menghasilkan
kesimpulan atau hasil akhir yang benar adalah ilmu mantiq. Oleh sebab itulah ilu mantiq disebut
sebagai jembatan dari segala ilmu.

PENUTUP
Kesimpulan
Ilmu mantik adalah merupakan suatu ilmu yang membahas tentang kaidah-kaidah yang
dapat membimbing manusia dalam berfikir, supaya dapat menghasilkan kesimpulan yang benar,
sehingga dia terhindar dari kesalahan berfikir, yang akhirnya menghasilkan kesimpulan yang
salah dan keliru Urgensi mempelajari ilmu mantik, tidak lepas dari pengertian ilmu mantik itu
sendiri, dimana ilmu mantik bertujuan melatih kerja otak supaya dapat berfikir logis, artinya
melatih, mendidik, serta mengembangkan potensi akal dalam mengkaji objek pikir dalam
menggunakan metodologi berfikir, serta menempatkan persoalan dan menunaikan sesuatu tugas
pada suatu kondisi dan waktu yang tepat. dan agar dapat membedakan antara proses berfikir
yang benar (hak), dari yang salah(batil). Faidah yang didapat dari belajar ilmu mantik salah
satunya adalah membuat daya pikir tidak saja menjadi lebih tajam, akan tetapi juga menjadikan
pikiran kita jadi lebih berkembang, melalui latihan-latihan berfikir dan mengenalisis serta
mengugkap suatu permasalahan secara runtun/ilmiyah.

DAFTAR PUSTAKA

H. Basiq Djalil. A, Drs. 2010. Logika (Ilmu Mantiq). Jakarta: Kencana Prenada Media Grup
H. Baihaqi A. K . 2002. Ilmu Mantik Teknik Dasar Berpikir Logika. Jakarta: Darul Ulum Press.

Epistemologi, (dari bahasa Yunani episteme (pengetahuan) dan logos (kata/pembicaraan/ilmu) adalah
cabang filsafat yang berkaitan dengan asal, sifat, karakter dan jenis pengetahuan. Topik ini termasuk salah satu yang
paling sering diperdebatkan dan dibahas dalam bidang filsafat, misalnya tentang apa itu pengetahuan, bagaimana
karakteristiknya, macamnya, serta hubungannya dengan kebenaran dan keyakinan.
Epistemologi atau Teori Pengetahuan yang berhubungan dengan hakikat dari ilmu pengetahuan, pengandaian-
pengandaian, dasar-dasarnya serta pertanggung jawaban atas pernyataan mengenai pengetahuan yang dimiliki oleh
setiap manusia. Pengetahuan tersebut diperoleh manusia melalui akal dan panca indera dengan berbagai metode,
diantaranya; metode induktif, metode deduktif, metode positivisme, metode kontemplatis dan metode dialektis.
Metode-metode untuk memperoleh pengetahuan
a. Empirisme
Empirisme adalah suatu cara/metode dalam filsafat yang mendasarkan cara memperoleh pengetahuan dengan
melalui pengalaman. John Locke, bapak empirisme Britania, mengatakan bahwa pada waktu manusia di lahirkan
akalnya merupakan jenis catatan yang kosong (tabula rasa),dan di dalam buku catatan itulah dicatat pengalaman-
pengalaman inderawi. Menurut Locke, seluruh sisa pengetahuan kita diperoleh dengan jalan menggunakan serta
memperbandingkan ide-ide yang diperoleh dari penginderaan serta refleksi yang pertama-pertama dan sederhana
tersebut.
Ia memandang akal sebagai sejenis tempat penampungan,yang secara pasif menerima hasil-hasil penginderaan
tersebut. Ini berarti semua pengetahuan kita betapapun rumitnya dapat dilacak kembali sampai kepada pengalaman-
pengalaman inderawi yang pertama-tama, yang dapat diibaratkan sebagai atom-atom yang menyusun objek-objek
material. Apa yang tidak dapat atau tidak perlu di lacak kembali secara demikian itu bukanlah pengetahuan, atau
setidak-tidaknya bukanlah pengetahuan mengenai hal-hal yang factual.

b. Rasionalisme
Rasionalisme berpendirian bahwa sumber pengetahuan terletak pada akal. Bukan karena rasionalisme mengingkari
nilai pengalaman, melainkan pengalaman paling-paling dipandang sebagai sejenis perangsang bagi pikiran. Para
penganut rasionalisme yakin bahwa kebenaran dan kesesatan terletak di dalam ide kita, dan bukannya di dalam diri
barang sesuatu. Jika kebenaran mengandung makna mempunyai ide yang sesuai dengan atau menunjuk kepada
kenyataan, maka kebenaran hanya dapat ada di dalam pikiran kita dan hanya dapat diperoleh dengan akal budi saja.

c. Fenomenalisme
Bapak Fenomenalisme adalah Immanuel Kant. Kant membuat uraian tentang pengalaman. Barang sesuatu
sebagaimana terdapat dalam dirinya sendiri merangsang alat inderawi kita dan diterima oleh akal kita dalam bentuk-
bentuk pengalaman dan disusun secara sistematis dengan jalan penalaran. Karena itu kita tidak pernah mempunyai
pengetahuan tentang barang sesuatu seperti keadaannya sendiri, melainkan hanya tentang sesuatu seperti yang
menampak kepada kita, artinya, pengetahuan tentang gejala (Phenomenon).
Bagi Kant para penganut empirisme benar bila berpendapat bahwa semua pengetahuan didasarkan pada
pengalaman-meskipun benar hanya untuk sebagian. Tetapi para penganut rasionalisme juga benar, karena akal
memaksakan bentuk-bentuknya sendiri terhadap barang sesuatu serta pengalaman.

d. Intusionisme
Menurut Bergson, intuisi adalah suatu sarana untuk mengetahui secara langsung dan seketika. Analisa, atau pengetahuan yang
diperoleh dengan jalan pelukisan, tidak akan dapat menggantikan hasil pengenalan secara langsung dari pengetahuan intuitif.
Salah satu di antara unsur-unsur yang berharga dalam intuisionisme Bergson ialah, paham ini memungkinkan adanya suatu bentuk
pengalaman di samping pengalaman yang dihayati oleh indera. Dengan demikian data yang dihasilkannya dapat merupakan bahan
tambahan bagi pengetahuan di samping pengetahuan yang dihasilkan oleh penginderaan. Kant masih tetap benar dengan
mengatakan bahwa pengetahuan didasarkan pada pengalaman, tetapi dengan demikian pengalaman harus meliputi baik
pengalaman inderawi maupun pengalaman intuitif.
Hendaknya diingat, intusionisme tidak mengingkati nilai pengalaman inderawi yang biasa dan pengetahuan yang disimpulkan
darinya. Intusionisme setidak-tidaknya dalam beberapa bentuk-hanya mengatakan bahwa pengetahuan yang lengkap di peroleh
melalui intuisi, sebagai lawan dari pengetahuan yang nisbi-yang meliputi sebagian saja-yang diberikan oleh analisis. Ada yang
berpendirian bahwa apa yang diberikan oleh indera hanyalah apa yang menampak belaka, sebagai lawan dari apa yang diberikan
oleh intuisi, yaitu kenyataan. Mereka mengatakan, barang sesuatu tidak pernah merupakan sesuatu seperti yang menampak
kepada kita, dan hanya intuisilah yang dapat menyingkapkan kepada kita keadaanya yang senyatanya.
e. Dialektis
Yaitu tahap logika yang mengajarkan kaidah-kaidah dan metode penuturan serta analisis sistematik tentang ide-ide untuk mencapai
apa yang terkandung dalam pandangan. Dalam kehidupan sehari-hari dialektika berarti kecakapan untuk melekukan perdebatan.
Dalam teori pengetahuan ini merupakan bentuk pemikiran yang tidak tersusun dari satu pikiran tetapi pemikiran itu seperti dalam
percakapan, bertolak paling kurang dua kutub.