Anda di halaman 1dari 24

TINJAUAN PELAKSANAAN PERJANJIAN

PENGADAAN PERBEKALAN FARMASI


ANTARA RUMAH SAKIT UMUM DAERAH INDRASARI RENGAT
DENGAN SUPLIER PEDAGANG BESAR FARMASI

RINGKASAN TESIS

OLEH :
NAMA
NOMOR MAHASISWA
BIDAG KAJIAN UTAMA

: WILENDRA RASYID
: 121020075
: HUKUM BISNIS

PROGRAM MAGISTER (S2) ILMU HUKUM


PROGRAM PASCA SARJANA
UNIVERSITAS ISLAM RIAU
PEKANBARU
2014

Tinjuan Pelaksanaan Perjanjian Pengadaan Perbekalan Farmasi antara


Rumah Sakit Umum Daerah Indrasari Rengat dengan Suplier Pedagang
Besar Farmasi
1

Wilendra Rasyid ,
1

Program M a gi s t e r ( S 2 ) Il m u H u k u m P r o gr a m P a s c a S a r j a n a
U n i v e r s i t a s Is l a m R i a u

ABSTRAK
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui seluk beluk dan Perjanjian Pengadaan Perbekalan Farmasi
antara Rumah Sakit Umum Daerah Indrasari Rengat dengan Pedagang Besar Farmasi yang dikaji
berdasarkan korelasinya dengan hukum perjanjian pengadaan barang /jasa dalam hal syarat sahnya
perjanjian dan bentuk pertanggungan jawab dalam hal terjadi wanprestasi.
Penelitian yang dilakukan ini merupakan penelitian yang bersifat deskriptif analitis. Analisis data pada
penelitian ini dilakukan secara kualitatif,dan data yang diperoleh kemudian disusun secara sistematis.
Sumber data diperoleh dari pihak Pedagang Besar Farmasi yaitu PT. Parit Padang Global Cabang
Pekanbaru serta Rumah Sakit Umum Daerah Indrasari Rengat, dilengkapi dengan studi kepustakaan.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa perjanjian pengadaan perbekalan farmasi antara Rumah Sakit
Umum Daerah Indrasari Rengat dengan Pedagang Besar Farmasi telah memenuhi syarat sahnya
perjanjian pengadaan perbekalan farmasi, terutama dalam hal terpenuhinya syarat obyektif sebab yang
halal dan telah memenuhi ketentuan yang terdapat dalam pasal 1331 KUH Perdata.
Kata kunci : Pengadaan, Farmasi, Wanprestasi
ABSTRACT
This study aims to know the ins and outs of Pharmaceutical Products Supply Agreement between the
District General Hospital Indrasari Rengat with Large pharmacies are studied based on their correlation
with the law of contract procurement of goods / services in terms of validity of the agreement and the
terms of insurance forms responsibility in the event of default.
This research is a descriptive analytical study. Data analysis in qualitative research , and the data obtained
and compiled systematically. Sources of data obtained from the Pharmaceutical Wholesaler is PT. Parit
Padang Global Pekanbaru Branch and District General Hospital Indrasari Rengat, equipped with library
research
The results showed that the pharmaceutical supply agreement between the District General Hospital
Indrasari Rengat with Large Pharmacy has qualified his legitimate pharmaceutical supply agreement,
especially in terms of eligibility because the lawful objective and meets the requirements contained in
section 1331 of the Civil Code.
Keywords : procurement, p h a r m a c y, d e f a u l t .

A. Latar Belakang Masalah


Kepastian hukum dan perlindungan hukum yang berlaku untuk pasien, dokter serta
rumah sakit harus sesuai dengan hak dan kewajiban masing-masing. Hak dan kewajiban itu
dilaksanakan secara seimbang yang artinya berlaku sccara timbal balik. Hak dan kewajiban
tersebut diatur dalam Surat Edaran Direktur Jenderal Pelayanan Medik Nomor: YM. 02.
04. 3. 5. 2504 tentang Pedoman Hak-Hak dan Kewajiban Pasien, Dokter, dan Rumah Sakit.
Hak pasien dalam Surat Edaran ini adalah hak-hak pribadi yang dimiliki oleh manusia
sebagai pasien, di sisi lain pasien juga harus mentaati kewajibannya sebagai pasien.
Sedangkan perjanjian yang dilakukan antara Suplier Pedagang Besar Farmasi dengan
rumah sakit ini diatur dengan Peraturan Presiden No. 70 Tahun 2012. Sumber dana yang
digunakan dalam perjanjian tersebut bersumber dari APBD Kabupaten Indragiri Hulu yang
penggunaanya harus sesuai dengan Permendagri No. 13 Tahun 2006 tentang Pedoman
Pengelolaan Keuangan Daerah.
Pedagang Besar Farmasi menurut Peraturan Menteri Kesehatan nomor : 918/
MENKES/PER/X/1993 Bab 1 Pasal 1 ayat (2) adalah Badan Hukum Perseroan Terbatas
atau Koperasi yang memiliki izin untuk pengdaran, penyimpanan, penyaluran perbekalan
farmasi dalam jumlah besar sesuai dalam jumlah besar sesuai ketentuan Perundangundangan yang berlaku.1

______________
1. Depkes RI, Permenkes Nomor: 918/Menkes/PER/X/1993 tentang Pedagang Besar Farmasi,Depkes, 1993

Pelaksanaan perjanjian tersebut bagi pihak pedagang besar farmasi sebelumnya harus
ikut prakualikasi pengadaan Barang / Jasa, yang selanjutnya dimasukkan dalam Daftar

Penyedia Layanan Pengadaan Secara Elektronik (LPSE) sesuai dengan pasal 19 ayat (1)
Perpres No. 70 tahun 2012. Setelah pemborong/rekanan mampu lalu dikualifikasi untuk
ikut dalam pelelangan baik pelelangan sederhana atau umum.
Pada waktu pekerjaan akan dilakukan, maka pemborong / rekanan yang telah tercatat
dalam Daftar Penyedia Layanan Pengadaan Secara Elektronik (LPSE) berhak mengikuti
pelelangan sesuai dengan kualifikasi perusahaanya. Seperti dalam Pasal 3 Perpres No. 54
Tahun 2010 jo Perpres No. 70 Tahun 2012, Tentang Prinsip Penetapan Pengadaan,yang
isinya : Pelaksanaan pengadaan barang/jasa dilakukan melalui : Swakelola dan atau
Pemilihan Penyedia Barang/Jasa2
Berdasarkan pada metode pengadaan
barang /jasa maka pmborong dan pemberi kerja (bouwheer) masing-masing akan
mengikatkan diri dalam suatu surat perjanjian pemborongan (kontrak). Perjanjian
pemborongan dilakukan berdasarkan Perpres No. 70 Tahun 2012 dilakukan dalam bentuk
standar/baku yang berarti:
a. Perjanjian dibuat oleh satu pihak saja yaitu pemberi kerja / bouwheer (RSUD Indrasari
Rengat), sedangkan pemborong/rekanan hanya bisa mengajukan usul-usul juga
keberatan-keberatan atas kontrak yang disajikan.

______________
2. Bapenas RI, Perpres No. 70 Tahun 2012 tentang Pengadaan Barang/Jasa pada Instansi Pemerintah,
Bapenas RI, Jakarta, 2012

b. Masalah ganti kerugian pemberi kerja / bouwheer, seperti disebutkan dalam Perpres No.
54 Tahun 2010 jo Perpres No. 70 Tahun 2012 Pasal 93 ayat (1) yang berbunyi : sanksi

dalam hal rekanan tidak memenuhi kewajibannya


c. Dalam suatu kontrak tidak hanya dicantumkan denda keterlarnbatan dan denda kelalaian,
tetapi juga dicantumkan adanya fasilitas bagi pemborong yang dapat menyelesaikan
pekerjaan sebelum waktu yang ditentukan. 3
Adanya hubungan mutualisme yang saling bergantungan dan saling menguntungkan
dalam perjanjian antara RSUD Indrasari Rengat dengan Suplier Pedagang Besar Farmasi
harus seimbang dalam pemenuhan hak dan kewajiban dan harus tegas diatur kedudukannya
sehingga, tidak ada pihak yang dirugikan.
Menurut Murphys Law dalam Munir Fuadi, bahwa anything that can go wrong will
go wrong, yang artinya jika kemungkinan salah dari suatu persoalan, maka besar
kemungkinan hal tersebut akan salah. Jadi jika ada kontrak yang tidak benar atau berat
sebelah, maka besar kemungkinan akan menimbulkan sengketa di kemudian hari, oleh
karena itu dijaga agar isi kontrak tersebut benar dan adil.4
Wanprestasi dalam pelaksanaan perjanjian pengadaan barang dan jasa perbekalan
farmasi di RSUD Indrasari Rengat yang sering terjadi adalah keterlambatan distribusi
(stok) obat-obatan karena pada kurun waktu tertentu, jenis obat tertentu paling banyak
digunakan seperti obat pencegahan. Sehingga stok obat tersebut hanya dipesan dan dibeli
tidak mencukupi kebutuhan di wilayah distribusi Rengat.5
______________
3. Bapenas, Ibid, 2012
4. Bapenas, Ibid, 2012
5. Bapenas, Op.Cit, 2012

Sehubungan dengan hal-hal tersebut di atas maka penyusun tertarik untuk mengetahui
lebih lanjut pelaksanaan perjanjian beserta masalah yang timbul antara Suplier Pedagang

Besar Farmasi dan rumah sakit, maka penyusun menuangkan penelitian berbentuk proposal
tesis berjudul: Tinjuan Pelaksanaan Perjanjian Pengadaan Perbekalan Farmasi
antara Rumah Sakit Umum Daerah Indrasari Rengat dengan Suplier Pedagang
Besar Farmasi
B. Metode Penelitian
Penelitian ini menggunakan metode deskriptif analitis. Analisis yang dimaksudkan
adalah sebagai suatu penjelasan dan penginterpretasikan sccara logis dan sistematis. Logis
sistematis menunjukkan cara berpikir induktif dan mengikuti tata tertib dalam penulisan
laporan penelitian ilmiah.
Setelah analisis data selesai maka hasilnya akan disajikan secara deskriptif, yaitu
dengan mengemukakan dan menggambarkan apa adanya sesuai dengan permasalahan yang
diteliti. Dari hasil tersebut kemudian ditarik suatu kesimpulan yang merupakan jawaban
atas permasalahan yang diangkat dalam penelitian ini.6
Penelitian ini dilakukan di RSUD Indrasari Rengat Kabupaten Indragiri Hulu.
Penelitian ini dilakukan pada Bulan Januari sampai dengan Maret 2014.
Kedudukan manusia sebagai instrumen dalam penelitian kualitatif cukup rumit sebab
ia sekaligus merupakan perencana, pelaksana pengumpulan data, analis, penafsir data, dan
pada akhirnya sebagai pclapor hasil penelitiannya.7
______________________
6

Lexy J .Moleong,M.A, Metodologi Penelitian Kualitatif, Edisi Revisi, Penerbit PT. Remaja Rosdakarya,
Bandung, 2005, hal.151
7
Ibid, Hal 168

Adapun yang dimaksud obyek penelitian ini adalah bentuk perjanjian yang
dilaksanakan oleh RSUD Indrasari Rengat dengan Pedagang Besar Farmasi. Sedangkan

subyek penelitian, peneliti menghimpun data dari pengguna anggaran, pejabat pembuat
komitmen, panitia pengadaan, kepala instalasi farmasi serta direktur perusahaan perbekalan
farmasi.
Oleh karena penelitian ini adalah penelitian hukum empiris, data yang diperlukan
adalah data primer selain itu juga diperlukan data sekunder sebagai pendukung penelitian.
a. Metode Pengumpulan Data Primer atau data yang diperoleh secara langsung lapangan ini
dilakukan sebagai upaya untuk memperoleh data-data dalam penelitian ini. Teknik
pengumpulan data primer yang di pakai dalam penelitian ini adalah: Teknik Interview
atau Wawancara, yaitu merupakan teknik pengumpulan data dengan cara melakukan
percakapan atau tatap muka guna memperoleh baik lisan atau lisan atas sejumlah
keterangan dan data yang dibutuhkan. Dalam hal ini wawancara dilakukan terhadap para
informan terpilih yaitu pimpinan dan staf RSUD Indrasari Rengat serta dari pihak
Pedagang Besar Farmasi yaitu Kepala Cabang PT. Parit Padang Global Cabang
Pekanbaru. Hal ini bertujuan agar dapat memperoleh keterangan yang selengkaplengkapnya mengenai materi penulisan, sekaligus untuk dapat mengetahui kemungkinan
dipakainya bermacam-macam istilah hukum atau klausula-klausula dalam perjanjian
pemborongan baik yang ditentukan undang-undang maupun yang digunakan dalam
praktik.
b. Metode Pengumpulan Data Sekunder yang dilakukan dengan cara penelitian
kepustakaan yang merupakan pendukung data primer, data sekunder adalah data yang
diperoleh melalui studi pustaka ini dengan identifikasi literatur berupa Bahan Hukum
Primer yang merupakan bahan-bahan hukum yang mempunyai kekuatan mengikat dan

terdiri dari norma dasar dan Bahan Hukum Sekunder, yaitu bahan-bahan hukum yang
erat kaitannya dengan bahan hukum primer dan dapat membantu menganalisa serta
memahami pokok permasalahan yang sesungguhnya.
Analisis data pada penelitian ini dilakukan secara kualitatif, dari data yang diperoleh
kmudian disusun secara sistematis kemudian dianalisis secara kualitatif untuk mencapai
kejelasan masalah yang dibahas. Analisis data kualitatif adalah suatu cara penelitian yang
menghasilkan data deskriptif analitis, yaitu apa yang dinyatakan oleh responden secara
tertulis atau lisan dan juga perilakunya adalah nyata, diteliti dan dipelajari sebagai suatu
yang utuh.8
Analitis yang dimaksudkan adalah sebagai suatu penjelasan dan penginterpretasian
secara logis dan sistematis. Logis sistematis rnenunjukkan cara berpikir induktif dan
mengikuti tata tertib dalam penulisan laporan penelitian ilmiah. Setelah analisis data selesai
maka hasilnya akan disajikan secara deskriptif, yaitu dengan mengemukakan dan
menggambarkan apa adanya sesuai dengan permasalahan yang diteliti. Dari hasil tersebut
kemudian ditarik suatu kesimpulan yang merupakan jawaban atas permasalahan yang
diangkat dalam penelitian ini.
Analitis yang dimaksudkan adalah sebagai suatu penjelasan dan penginterpretasian
secara logis dan sistematis. Logis sistematis menunjukkan cara berpikir induktif dan
_____________________________
8
Sunggono Bambang, Metodologi Penelitian Hulrum, PT. RajaGrando Persada, Jakarta,2003.

maka hasilnya akan disajikan secara deskriptif, yaitu dengan mengemukakan dan
menggambarkan apa adanya sesuai dengan permasalahan yang diteliti. Dari hasil tersebut

kemudian ditarik suatu kesimpulan yang merupakan jawaban atas permasalahan yang
diangkat dalam penelitian ini.

C. Pembahasan
Perjanjian Pengadaan Perbekalan Farmasi adalah suatu perjanjian yang diadakan
antara pihak Rumah Sakit Umum Daerah Indrasari Rengat sebagai pengguna barang/jasa
instansi pemerintah dengan Pedagang Besar Farmasi sebagai penyedia barang/jasa, pihak
pengguna barang/jasa memberi tugas kepada penyedia barang/jasa untuk melakukan
pekerjaan tertentu dengan pembayaran tertentu (harga yang dapat dipertanggungjawabkan),
kualitas tertentu, waktu dan tempat yang tertentu secara efektif dan efisien.
Perbekalan farmasi banyak macamnya, yaitu alat kesehatan, obat-obatan, juga bahan
obat yang merupakan sarana pelengkap bagi RSUD Indrasari Rengat. Oleh karenanya
sangat diperlukan adanya suatu pengadaan perbekalan farmasi yang teratur dan tertata demi
kelancaran pelayanan medis di RSUD Indrasari Rengat. Dengan adanya keteraturan ini
diharapkan terciptanya kejelasan antara pengguna barang/jasa termasuk di dalamnya
perencana, pelaksana serta pengawas dengan penyedia barang/jasa dalam hal ini Pedagang
Besar Farmasi dimana kedua belah pihak dapat menjalankan tugas, fungsi, hak, kewajiban
serta peranan masing-masing demi kelangsungan proses pengadaan barang/jasa.
Khususnya dalam hal ini di instansi pemerintah.
Prosedur Tetap Usulan Pengadaan Perbekalan Farmasi disusun sebagai acuan
penerapan langkah-langkah kebijakan untuk mengatur kebutuhan perbekalan farmasi di
RSUD Indrasari Rengat, baik secara lelang umum, lelang sederhana, pengadaan langsung

maupun penunjukkan langsung. Pengadaan perbekalan farmasi dilaksanakan berdasarkan


Protap Pengadaan Barang dan Jasa. Tujuannya agar pelaksanaan kegiatan tertib, efisien dan
berdaya guna.9
Dalam perjanjian pengadaan perbekalan farmasi ini bisa di lihat terdapat beberapa
unsur, diantaranya :
a. Terdapat suatu perjanjian yang telah disepakati
Unsur mutlak untuk sahnya perjanjian adalah unsur kesepakatan yang telah ditegaskan
dalam Pasal 1320 KUH Perdata, artinya bahwa perjanjian pengadaan perbekalan
farmasi tersebut sudah sah apabila ada kesepakatan antara pengguna barang/jasa
dengan penyedia barang/jasa mengenai pokok pekerjaan yang diperjanjikan termasuk
jenis dan jumlah barang/jasa beserta harga kontrak pekerjaan.
Saat lahirnya perjanjian pengadaan perbekalan farmasi sesuai dalam hukum perjanjian
yang dianut Negara kita yaitu menganut asas konsensualisme. Maksudnya perjanjian
lahir sejak tercapainya kata sepakat di antara para pihak, yaitu pihak RSUD Indrasari
Rengat

(pengguna

barang/jasa)

dengan

Pedagang

Besar

Farmasi

(penyedia

barang/jasa). Kedua pihak harus memenuhi kualifikasi tertentu untuk melaksanakan


perjanjian pengadaan perbekalan farmasi ini.

_____________________________
9
Wawancara, Riswidiantoro, Ketua Penitia Pengadaan BLUD RSUD Indrasari Rengat, tanggal 25 Februari
2014

Hal-hal yang disepakati kedua belah pihak ini KUH Perdata tidak mengatur lebih lanjut
tetapi di atur dalam Peraturan Presiden Nomor 54 Tahun 2010 jo Peraturan Presiden

Nomor 70 Tahun 2012 yang merupakan peraturan yang mengatur mengenai perjanjian
pengadaan barang/jasa di instansi pemerintah.
b. Adanya pemberian tugas dan pengguna barang/jasa kepada penyedia barang/jasa
Penyedia barang/jasa harus melaksanakan pekerjaan yang telah dibebankan kepadanya
sesuai dengan perjanjian yang disepakati. Penyedia barang/jasa kemudian mengajukan
permintaan secara tertulis kepada kepala kantor /pimpinan proyek/pihak yang ditunjuk
untuk penyerahan barang.
c. Pelaksanaan pekerjaan dalam jangka waktu dan tempat yang telah ditentukan
Pekerjaan yang dibebankan kepada penyedia barang/jasa ml harus terpenuhi sesual
dengan batasan jangka waktu yang telah ditetapkan dan disepakati bersama. Apabila
pihak penyedia barang/jasa tidak melakukan tugas /kewajiban yang telah menjadi
kewajibannya sesuai dengan kesepakatan, maka kepadanya akan dikenakan sanksi
hukum. Sanksi hukum ini biasanya dalam bentuk denda.
d. Adanya pembayaran sejumlah uang tertentu dari pengguna barang/jasa kepada
penyedia barang/jasa
Pembayaran harga pemborongan pekerjaan ini diberikan kepada penyedia barang/jasa
menurut jumlah dan nilai barang/pekerjaan yang telah diterima dengan balk oleh pihak
pengguna barang/jasa tersebut. Hal ini dinyatakan dalam bentuk Berita Acara
Pemeriksaan dan Penerimaan Barang/Jasa. Ini berarti pembayaran dilaksanakan setelah
pekerjaan selesai. Unsur-unsur lain dapat timbul dalam pelaksanaan perjanjian ini
disesuaikan dengan kompleksitas pekerjaan yang disepakati. Perlu diketahui terlebih

dahulu bahwa induk dan metode pelaksanaan pengadaan barang/jasa adalah metode
pelelangan baik pelelangan umum, sederhana maupun pengadaan langsung.
Pelelangan ini dilakukan secara terbuka untuk umum, yang bisa dilihat dan adanya
pengumuman secara luas melalui website LPSE maupun papan pengumuman resmi.
Pelaksanaan pengadaan barang/jasa dengan metode pelelangan ini jarang dilakukan
sebab dalam prakteknya tidak efisien waktu, biaya dan tenaga.
Dalam pelaksanaan pengadaan perbekalan farmasi di RSUD Indrasari Rengat
memungkinkan kontrak dengan distributor farmasi dalam waktu sebulan dilakukan dengan
2 (dua) kontrak. Contohnya: Dengan virus Avian Influenza yang timbul di masyarakat,
penyakit ini membutuhkan suntikan serta obat-obatan yang menunjang pengobatan ataupun
mencegah terjangkitnya virus ini dalam jumlah yang ckup banyak. Sedang stok obat harus
selalu ada. Utuk itu pengadaan obat ini harus diusulkan untuk dibeli dan distributor yang
sama guna memudahkan pihak RSUD Indrasari Rengat dalam pengadaannya.
Sebagaimana diketahui, untuk setiap kontrak bahwa kontrak dapat saja tidak
terlaksana / tidak dilaksanakan dengan semestinya seringkali terjadi. Ketidakterlaksanakan
kontrak tersebut mempunyai graduasi yang berbeda-beda yaitu sebagai berikut :
1) Tidak terlaksana pada tingkat yang sangat ringan, sehingga tidak perlu diperbaiki sama
sekali oleh pihak kontraktor.
2) Tidak terlaksana ringan, sehingga perlu diperbaiki pada saat serah terima atau pada
masa perawatan oleh pihak kontraktor.
3) Tidak terlaksana yang agak berat, sehingga perlu diperbaiki pada saat sedang
berlangsungnya pembangunan tanpa harus mengubah kontrak.

4) Tidak terlaksana yang agak berat, sehingga perlu perbaikan pada saat sedang
berlangsungnya

pembangunan dengan dilakukannya

penyesuaian / perubahan

pembangunan dengan dilakukannya penyesuaian/perubahan kontrak.


5) Tidak terlaksana yang berat, sehingga pelaksanaan kontrak harus ditunda. Tidak
terlaksana yang sangat berat, sehingga kontrak boleh diputus (terminasi) oleh salah satu
pihak.10
Merupakan tindakan yang sangat baik, jika ketidakterlaksanaan kontrak dapat
dideteksi sejak dini, sehingga masih mudah untuk diperbaiki atau dapat dengan segera
diperbaiki. Untuk itu, perlu secepatnya dianalisis gejala-gejala ketidakberesan dalam
pelaksanaan proses pembangunan proyek tersebut, sehingga perlu segera dibicarakan
dengan pihak kontraktornya.
Early warning system dari ketidakberesan pelaksanaan pekerjaan pengadaan
barang/jasa dapat dideteksi dengan dua cara sebagai berikut : 11
1)

Dengan mengamati pekerjaan di lapangan secara fisiknya, sehingga jika ada


penyimpangan atau ketidakberesan dapat segera diobservasi.

2) Dengan mengamati dokumen yang ada, sebab banyak dokumen yang dibuat dalam
proses pelaksanaan suatu pekerjaan proyek tersebut.

_________________
10
Soedewi Masjchun Sofwan, Op.Cit., hal 58
11
Ibid, Hal. 58

Menurut Soedewi, macam-macam Ketidakterlaksanaan Kontrak Konstruksi terdiri dari : 12.


1) Sebagai suatu rencana manusia, tentunya tidak semua dari rencana tersebut kesampaian
apa adanya seperti yang direncanakan. Demikian juga dengan Rencana pengadaan
barang suatu kegiatan yang dituangkan dalam kontrak tertentu tidak semuanya tercapai.
Banyak hal yang dipengaruhi oleh kehendak manusia atau di luar kehendak yang
mempengaruhi jalannya suatu kontrak yang dapat menyebabkan rencana tersebut
diubah di tengah jalan atau kemudian rencana tersebut harus batal sama sekali.
Demikianlah

akhirnya,

berkembang

teori

dan

praktek

hukum

mengenai

ketidakterlaksanaan kontrak konstruksi dengan berbagai konsekuensinya.


2) Salah satu bentuk ketidaklaksanaan suatu kontrak konstruksi, adalah dilakukannya
pemutusan kontrak konstruksi, adalah dilakukannya pemutusan kontrak (terminasi) oleh
salah satu kedua belah pihak dalam kontrak tersebut.
Tindakan pemutusan kontrak ini, merupakan salah satu akibat hukum dari adanya
suatu perjanjian yang tidak memenuhi prestasi. Untuk memperkecil resiko dari adanya
kejadian pemutusan kontrak ini, maka para pihak harus melakukan dua hal sebagai
berikut:13

_________________
12
Soedewi Masjchun Sofwan, Op.Cit., hal 58
13
Ibid., hal 58

a. Tindakan Preventif
Prinsip mencegah lebih baik dari mengobati, berlaku juga dalam suatu pemutusan
kontrak. Karena itu, berbagai tindakan pencegahan agar tidak terjadinya pemutusan

kontrak mesti selalu diperhatikan. Untuk tindakan Preventif agar tidak terjadinya
pemutusan kontrak, hal sebagai berikut :
(i)

Mengenai sejauh mungkin reputasi pihak lain dalam kontrak tersebut.

(ii) Melihat sejauh mana kemampuan pihak lain tersebut.


(iii) Menganalisis sejauh mana pihak lain tersebut.
(iv) Di Pihak bouwheer, berusaha mencari alternative terbaik di antara beberapa
kandidat kontraktor.
(v)

Terlebih dahulu membuat Memorandum of Understanding sambil saling menjajaki


dan mengenal lebih jauh terhadap pihak mitranya dalam kontrak tersebut.

b. Tindakan Kuratif
Apabila setelah dilakukannya tindakan preventif ternyata tidak juga membuahkan
hasil, dalam arti bahwa kontrak tetap diputuskan oleh salah satu pihak, maka perlu
diatur di dalam kontrak agar lawan dari yang memutuskan kontrak tersebut ataupun
mungkin pihak yang memutuskan kontrak itu sendiri tidak sampai dirugikan karenanya.
Dengan adanya kemungkinan - kemungkinan dilakukannya wanprestasi, maka di
dalam salah satu pasal perjanjian/kontrak RSUD Indrasari Rengat dengan Pedagang Besar
Farmasi telah diatur mengenai kemungkinan tersebut beserta dengan sanksi - sanksinya.
Sanksi tersebut adalah :

1. Dalam bentuk denda yang tertentu jumlahnya.


Biasanya sebesar 1 / (satu permil) dari nilai barang / pekerjaan yang belum diserahkan.
Penghitungan denda dikenakan mulai masa berakhirnya pekerjaan sampai setiap hari

ketenlambatan. Denda yang dikenakan ini tidak diperbolehkan melebihi 5% dan jumlah
harga borongan. Pengenaan sanksi ini hanya bagi pihak kedua yaitu penyedia barang
/jasa saja.
2. Keharusan untuk mengganti barang / pekerjaan yang diserahkan karena penolakan dan
pengguna barang / jasa atas dasar pemeriksaan yang dilakukan oleh pengguna barang
/jasa. Barang / pekerjaan tersebut tidak sesuai dengan yang diminta dalam penjanjian.
Sanksi akan secara tegas diterapkan seperti denda pada kasus pengadaan obat non
generik oleh PT. Parit Padang Global. Dalam kasus pengadaan tersebut, Panitia
Penerimaan / Pemeriksaan Barang RSUD Indrasari Rengat menyatakan bahwa obat
dengan merk dagang Pladogrel Tab 30s harus dikembalikan atau diretur karena masa
kadaluarsanya sudah hampir habis. Oleh pihak kedua disepakati penggantian barang
yang baru dalam waktu 30 (tigapuluh) hari dan apabila hingga tenggat barang belum
diterima maka denda yang telah diatur dalam perjanjian diberlakukan. Ternyata pada
tenggat waktu yang diberikan, pihak perusahaan mampu mengganti barang tersebut,
maka otomatis tidak dilakukan pemutusan kontrak, hanya dilakukan pengenaan denda
sebagai bentuk sanksi atas wanprestasi yang terjadi sebesar 1/000 (1 per mil) dari nilai
barang yang di retur tersebut mulai dari batas akhir pekerjaan sesuai kontrak sampai
dengan barang pengganti diterima.
Pengguna barang / jasa (Pihak Pertama) sering juga melakukan wanprestasi, yaitu
keterlambatan dalam melakukan pembayaran. Dalam masalah ini pihak kedua (penyedia
barang /jasa) dapat melakukan :

1.

Konfirmasi dengan pihak pertama apakah dasar dan terjadinya keterlambatan


pembayaran itu

2.

Mempertanyakan sebab dari lama atau kurang lancarnya proses administrasi


pembayaran. 14
Selanjutnya kedua pihak akan menyelesaikan masalah tersebut berdasarkan

kesepakatan bersama dengan musyawarah untuk mencapai mufakat. Mungkin juga


dilakukan tawar menawar terlebih dahulu yang merupakan kebijaksanaan dari pihak RSUD
Indrasari Rengat kepada Pedagang Besar Farmasi. Yang pasti pelaksanaan hal ini akan
menguntungkan bagi kedua belah pihak, bagi Pedagang Besar Farmasi akan tetap dapat
menjual barang sedangkan bagi RSUD Indrasari tetap bisa memperoleh kebutuhannya.

Diskusi
Dalam suatu perjanjian, dikenal adanya asas kebebasan berkontrak atau freedom of
contract. Maksud asas tersebut adalah, bahwa setiap orang pada dasarnya boleh membuat
perjanjian yang berisi dan macam apa pun. Asal tidak bertentangan dengan undangundang, kesusilaan dan ketertiban umum. Asas kebebasan berkontrak memberikan

kebebasan yang seluas-luasnya kepada apa saja, untuk mengadakan perjanjian yang
berisi apa saja dan dalam bentuk apa saja, sepanjang tidak melanggar undang-undang,
ketertiban umum dan kesusilaan. 14
_________________
14

Soedewi Masjchun Sofwan, Op.Cit., hal 58

Dalam pembuatan suatu perjanjian, isi merupakan bagian yang penting. Sebab
dan isi perjanjian tersebut orang yang membaca ataupun mempelajarinya akan
mengetahui apakah tujuan yang hendak dicapai oleh para pihak yang mengadakan

perjanjian beserta akibat - akibat yang mungkin timbul dan perjanjian ini, oleh karena
itu supaya tidak terjadi kemungkinan penafsiran yang keliru atau berbeda dari
perjanjian bagi yang membaca atau mempelajarinya, maka isi perjanjian harus di buat
dengan jelas dan tegas.
KUH Perdata pada dasarnya tidak mengatur lebih lanjut mengenal isi dari suatu
perjanjian pemborongan. Maka seperti asas yang dianut oleh negara kita yaitu asas
kebcbasan berkontrak, para pihak bisa menentukan sendiri apa yang menjadi isi dari
suatu perjanjian. Akan tetapi kebebasan para pihak untuk menentukan isi perjanjian ini
dibatasi oleh ketentuan yang terdapat dalam Perpres nomor 70 Tahun 2012 yang
khusus menyempurnakan Perpres nomor 54 Tahun 2010 mengenai pengadaan barang /
jasa di Instansi Pemenintah. Pada Pasal 29 ayat (1), bahwa dokumen kontrak harus
memuat sekurang - kurangnya ketentuan yang jelas mengenai:
a. para pihak yang menandatangani kontrak yang meliputi nama, jabatan, dan alamat;
b. pokok pekerjaan yang diperjanjikan dengan uraian yang jelas mengenai jenis dan
jumlah barang / jasa yang diperjanjikan;
c. hak dan kewajiban para pihak yang terikat di dalam perjanjian;
d. nilai atau harga kontrak pekerjaan, serta syarat-syarat pembayaran;
e. persyaratan dan spesifikasi teknis yang jelas dan terinci;
f. tempat dan jangka waktu penyelesainan dan penyerahan dengan disertai jadwal
waktu penyelesaian/penyerahan yang pasti serta syarat-syarat penyerahannya;
g. jaminan teknis/hasil pekerjaan yang dilaksanakan dan/atau ketentuan mengenai
kelaikan;
h. ketentuan mengenai cidera janji dan sanksi dalam hal para pihak tidak memenuhi
kewajibannya;

i. ketentuan mengenai pemutusan kontrak secara sepihak,


j. ketentuan mengenai keadaan memaksa;
k. ketentuan mengenai kewajiban para pihak dalam hal terjadinya kegagalan dalam
pelaksanaan pekerjaan;
1. ketentuan mengenai perlindungan tenaga kerja;
m. ketentuan mengenai bentuk dan tanggung jawab gangguan lingkungan;
n. ketentuan mengenai penyelesaian perselisihan.
Kedua belah pihak dalam setiap pelaksanaan perjanjian selalu mengharapkan agar
berjalan lancar tanpa bambatan - hambatan yang berarti. Tetapi walaupun telah diusahakan
agar bisa berlangsung lancar, masih saja terdapat kemungkinan terjadinya hambatan. Salah
satunya adalah bila salah satu pihak tidak memenuhi apa yang telah diperjanjikan, yang
berarti pihak tersebut sudah melakukan wanprestasi.
Dalam hal kemungkinan tirnbulnya wanprestasi ini maka penyusun mencoba untuk
membahas lebih lanjut mengenai penyelesaian masalah tersebut. Tapi sebelumnya perlu
diingat bahwa bisa tidaknya dikatakan melakukan wanprestasi adalah apabila:

a. Sama sekali tidak melakukan prestasi


Salah satu pihak dalam hal ini khususnya pihak penyedia barang / jasa sama sekali tidak
melaksanakan pekerjaan yang telah dibebankan kepadanya. Tidak dilakukannya
pekerjaan dikarenakan oleh ketidakmampuan penyedia barang / jasa itu sendiri.

b. Terlambat dalam melakukan prestasi


Penyedia barang / jasa sebenarnya akan melaksanakan pekerjaan yang telah menjadi
kewajibannya, akan tetapi karena adanya hal - hal tertentu penyerahan barang /
pekerjaan itu mengalami keterlambatan.
c. Salah dalam melakukan prestasi
Penyedia barang / jasa melaksanakan pekerjaan yang dibebankan kepadanya akan tetapi
dalam penyerahan pekerjaan / barang tersebut mengalami kesalahan setelah dilakukan
pemeriksaan oleh pengguna barang / jasa. Akibat dari kesalahan ini pihak pengguna
barang / jasa merugi. Selanjutnya pihak pengguna bisa langsung meminta penggantian
atas penyerahan pekerjaan / barang yang keliru atau boleh saja pihak pertama memutus
perjanjian itu secara sepihak
d. Melakukan sesuatu yang menurut perjanjian tidak boleh dilakukan
Pasal 1242 KUH Perdata menyatakan bahwa bagi pihak kedua yang melakukan
pekerjaan bertentangan dengan perjanjian yang telah disepakati, maka pihak pertama
dapat melakukan penuntutan terhadap pihak kedua di muka Pengadilan dan dikenakan
kewajiban untuk mengganti kerugian yang diderita pihak pertama.
Ketentuan wanprestasi yang terdapat dalam perjanjian pekerjaan pemborongan
antara PT. Parit Padang Global Pekanbaru dengan RSUD Indasari Rengat yang diatur di
dalam Pasal 9 perjanjian tersebut, tentang keadaan memaksa dan Pasal 19 ayat (2) tentang
sanksi dan denda.
Berdasarkan Pasal 9 Perjanjian Kontrak tersebut di atas, bahwa :
1. PIHAK KEDUA dibebaskan dari tanguung jawab atas kerugian dan keterlambatan

penyelesaian pekerjaan yang telah ditetapkan, apabila terjadi keadaan memaksa (Force
Majeure).
2. Yang dimaksud dengan Keadaan Memaksa dalam Perjanjian ini adalah peristiwaperistiwa seperti berikut ini :
a. Bencana Alam (Gempa bumi, tanah longsor dan banjir).
b. Kebakaran.
c. Perang, huru-hara, pemogokan, pemberontakan dan epidemi atau keadaan-keadaan
diluar kekuasaan PIHAK KEDUA. Yang masing-masing ada hubungan langsung
dengan penyelesaian pekerjaan pemborongan ini.
3. Apabila terjadi Keadaan Memaksa PIHAK KEDUA harus memberitahukan secara
tertulis kepada PIHAK KESATU selambat-lambatnya dalam waktu 14 (empat belas)
hari kelender sejak terjadinya Keadaan Memaksa berakhir.
4. Atas pemberitahuan PIHAK KEDUA, maka PIHAK PERTAMA dapat menyetujui atau
menolak secara tertulis Keadaan Memaksa, itu dalam jangka waktu 3 24 jam sejak
diterimanya pemberitahuan Keadaan Memaksa tersebut dari PIHAK KEDUA.
5. Jika dalam waktu 3 24 jam sejak diterimanya pemberitahuan PIHAK KEDUA kepada
PIHAK PERTAMA tentang Keadaan Memaksa tersebut, PIHAK PERTAMA
dianggap menyetujui adanya Keadaan Memaksa tersebut.
6. Apabila Keadaan Memaksa itu ditolak oleh PIHAK PERTAMA, maka berlaku
ketentuan-ketentuan Pasal 19 perjanjian ini.
Sedangkan Pasal 19 mengenai sanksi dan denda berbunyi :
1. Jika PIHAK KEDUA melakukan kelalaian dan telah mendapat peringatan tertulis dari

pengawas Pekerjaan / PIHAK PERTAMA 3 (tiga) kali berturut-turut tidak


mengindahkan kewajiban-kewajiban sebagaimana tercantum dalam RKS atau pasalpasal Surat Perjanjian ini, maka untuk setiap kali melakukan kelalaian PIHAK KEDUA
wajib membayar Denda. Kelalaian sebesar 1 (Satu Perseribu) dari jumlah harga
borongan, dengan ketentuan bahwa PIHAK KEDUA tetap berkewajiban memperbaiki
kesalahan/kelalaian yang diperingatkan tersebut.
2. Jika PIHAK KEDUA tidak dapat menyelesaikan pekerjaan pemborongan sesuai dengan
jangka waktu pelaksanaan yang tercantum dalam perjanjian ini, maka untuk setiap
denda keterlambatan PIHAK KEDUA wajib membayar denda keterlambatan sebesar
1 (Satu Perseribu) dari harga borongan. Apabila denda keterlambatan sudah
melampaui nilai jaminan pelaksanaan PIHAK PERTAMA dapat memutuskan kontrak.
3. Denda-denda tersebut dalam pasal ini, dibebankan kepada PIHAK KEDUA dan akan
diperhitungkan dengan pembayaran PIHAK PERTAMA kepada PIHAK KEDUA.
Jadi yang menjadi faktor penyebab terjadinya wanprestasi dalam perjanjian antara
PT. Parit Padang Global Pekanbaru dengan RSUD Indrasari Rengat, adalah karena adanya
keterlambatan dalam penyelesaian pekerjaan, karena adanya barang habis pakai yang
ditolak oleh panitia Pengadaan BLUD RSUD Indrasari Rengat yang kadaluarsa yaitu obat
dengan merk dagang Pladogrel Tab 30s harus dikembalikan atau diretur karena masa
kadaluarsanya sudah hampir habis. Oleh pihak kedua disepakati penggantian barang yang
baru dalam waktu 30 (tigapuluh) hari dan apabila hingga tenggat barang belum diterima
maka denda yang telah diatur dalam perjanjian diberlakukan.
Ternyata pada tenggat waktu yang diberikan, pihak perusahaan mampu mengganti

barang tersebut, maka otomatis tidak dilakukan pemutusan kontrak, hanya dilakukan
pengenaan denda sebagai bentuk sanksi atas wanprestasi yang terjadi sebesar 1/000 (1 per
mil) dari nilai barang yang di retur tersebut mulai dari batas akhir pekerjaan sesuai kontrak
sampai dengan barang pengganti diterima.
Setelah diadakan pertemuan antara para pihak dalam perjanjian tersebut, maka
dilakukan perpanjangan pekerjaan selama 30 (tiga puluh) hari kalender pekerjaan.
Dimana pihak kontraktor diwajibkan untuk membayar denda sebagai akibat dari
wanprestasi tersebut.15

________________
15
Soedewi Masjchun Sofwan, Op.Cit., hal 58

Daftar Pustaka
1. Abdul Kadir Muhammad, Hukum Perdata Indonesia, Penerbit PT. Citra Aditya Bakti,
Bandung, 1990.
2. Fuadi, Munir, Kontrak Pemborongan Mega Proyek, PT. Citra Aditya Bakti, Bandung,
2002.
3. Gatot Supramono, Perbankan dan Masalah Kredit, Suatu Tinjauan Yuridis, Penerbit
Djambatan, Ujung Pandang, 1994.
4. Gautama, Sudargo, Indonesian Business Law, Citra Aditya Bhakti, Bandung, 1995.

5. Kansil, C_.S.T., Pengantar Ilmu Hukum dan Tata Hukum Indonesia, Penerbit PN. Balai
Pustaka, Jakrta, 1998.
6. Koentjoroningrat, Metodologi Penelitian Masyarakat, Penerbit Gramedia, Jakarta,
1977.
7. Prodjodikoro, R. Wirjono, Asas-Asas Hukum Perdata, Sumur Bandung, Jakarta,1976.
8. Subekti, R., Aneka Perjanjian, Penerbit PT. Citra Aditya Bakti, Bandung, 1992.
9. Kitab Undang-Undang Hukum Perdata Indonesia.
10.Keputusan Presiden No. 61 Tahun 2004 Tentang Anggaran Dan Pendapatan Belanja
Negara.
11. Peraturan Presiden No. 54 Tahun 2010 jo Perpres No. 70 Tahun 2012 Tentang Pedoman
Pelaksanaan Pengadaan Barang/Jasa Instansi Pemerintah.
12. Permendagri Nomor 13 Tahun 2006 tentang Pedoman pengelolaan keuangan Daerah
13. Wawancara dengan Pengguna anggaran, pejabat pembuat komitmen dan seluruh pihak
terkait dalam penelitian ini.