Anda di halaman 1dari 31

ANALISIS KOMUNITAS

TUMBUHAN

Ekologi Hutan
ANALISIS KOMUNITAS TUMBUHAN
A. PENDAHULUAN
Analisis komunitas tumbuhan merupakan suatu
cara mempelajari susunan atau komposisi jenis
dan bentuk atau struktur vegetasi.

B. PARAMETER KUALITATIF DALAM ANALISIS
KOMUNITAS TUMBUHAN
Sifat komunitas tumbuhan :
Kualitatif
Kuantitatif

Parameter kualitatif :
1. Fisiognami
Fisiognami : Penampakan luar dari suatu komunitas tumbuhan
yang dapat dideskripsikan berdasarkan kepada penampilan
spesies yang dominan, penampakan tinggi tumbuhan, dan warna
dari tumbuhan yang tampak oleh mata

2. Fenologi
Fenologi : perwujudan spesies pada setiap fase dalam siklus
hidupnya.
Spesies yang sama dengan tingkat umur yang berbeda akan
membentuk struktur komunitas yang berbeda.
Spesies yang berbeda akan memiliki fenologi yang berbeda.
Keanekaragaman spesies dalam suatu komunitas tumbuhan akan
menentukan struktur komunitas

3. Periodisitas
Perodisitas : kejadian musiman dari berbagai proses dalam kehidupan
tumbuhan. Kejadian musiman pada tumbuhan dapat ditunjukkan
oleh perwujudan bentuk daun dan ukurannya, masa pembungaan,
masa bertunas, dan peluruhan buah dan biji.

4. Stratifikasi
Stratifikasi : distribusi tetumbuhan dalam ruangan vertical. Semua
spesies tetumbuhan dalam komunitas tidak sama ukurannya, serta
secara vertical tidak menempati ruang yang sama. Stratifikasi
tetumbuhan dibagian atas tanah berhubungan dengan sifat spesies
tetumbuhan untuk memanfaatkan radiasi matahari yang diterima,
dan memanfaatkan ruangan menurut keperluan yang berbeda-beda.
Dalam ekosistem hutan, stratifikasi tersebut diciptakan oleh susunan
tajuk pohon-pohon menurut arah vertical dan terjadi karena adanya
pohon-pohon yang menduduki kelas pohon dominan, pohon
kodominan, pohon tertekan dan pohon bawah/mati.

5. Kelimpahan
Kelimpahan : parameter kualitatif yang mencerminkan
distribusi relative spesies organisme dalam komunitas.
Menurut penaksiran kualitatif, kelimpahan dapat
dikelompokkan menjadi lima :
Sangat jarang
Kadang-kadang atau jarang
Sering atai tidak banyak
Banyak atau berlimpah-limpah dan
Sangat banyak atau sangat berlimpah

6. Penyebaran
Penyebaran : parameter kualitatif yang menggambarkan
keberadaan spesies organism pada ruang secara
horizontal. Penyebaran tersebut dapat dikelompokkan
menjadi tiga : random, seragam dan berkelompok

7. Daya Hidup
Daya hidup atau vitalitas : Tingkat keberhasilan tumbuhan untuk hidup
dan tumbuh normal, serta kemampuan untuk bereproduksi. Daya hidup
akan menentukan setiap spesies organism untuk memelihara kedudukan
dalam komunitas dan sangat membantu meningkatkan kemampuan setiap
spesies tumbuhan dalam beradaptasi terhadap kondisi tempat
tumbuhnya.
Ada lima kategori dari daya hidup tetumbuhan antara lain :
a. V1 : tetumbuhan yang berkecambah, tetapi segera mati
b. V2 : tetumbuhan yang tetap hidup setelah berkecambah, tetapi
tidak dapat bereproduksi
c. V3 : tetumbuhan sedang bereproduksi, tetapi hanya secara
vegetatif saja
d. V4 : tetumbuhan sedang bereproduksi secara seksual, tetapi
sangat berkurang
e. V5 : tetumbuhan sedang bereproduksi sangat baik secara
seksual


8. Bentuk Pertumbuhan
Bentuk pertumbuhan : penggolongan tetumbuhan menurut bentuk
pertumbuhannya, habitat atau menurut karakteristik lainnya. Bentuk
pertumbuhan dikelompokkan menjadi lima antara lain :
a. Phanerophytes, golongan tetumbuhan berkayu dan pohon yang
tingginya lebih dari 30 cm
b. Chamaephytes, teumbuhan berkayu dan semak kecil yang tingginya
kurang dari 30
c. Hemicryptophytes, tetumbuhan golongan rerumputan dan herba
d. Cryptophytes, tembuhan yang sebagian besar organ pertumbuhannya
berada di bawah permukaan tanah dan air :
Hydrophytes : memilik tunas di bawah permukaan air
Helophytes : tumbuhanrawa dan paya dengan rhozoma berada di bawah tanah
Geophytes : tumbuhan daratan dengan rhizome, akar dan umbi berada dibawah
tanah
e. Therophytes, tetumbuhan yang tidak mempunyai organ pertumbuhan
khusus, umumnya herba setahun.

C. PARAMETER KUANTITATIF DALAM ANALISIS
KOMUNITAS TUMBUHAN

Kepentingan deskripsi suatu komunitas tumbuhan
diperlukan :
1). Minimal tiga macam parameter (Gopal dan Bhardwaj
(1979): DENSITAS, FREKUENSI DAN DOMINANSI
(kelindungan, biomassa dan produktivitas)
2). Tiga macam parameter penting (Kusmana(1997)) :
DENSITAS, FREKUENSI DAN KELINDUNGAN (bagian dari
dominansi)

Kelindungan : daerah yang ditempati oleh tetumbuhan dan
dasar dinyatakan dengan salah satu atau kedua-duanya dari
penutupan dasar (basar cover) dan penutupan tajuk
(canopy cover)

Beberapa parameter kuantitatif :
1. Densitas = Kerapatan = D=K



Kerapatan relative = KR


2. Frekuensi = F




Frekuensi relative = FR



3. Dominansi = D




Dominansi Relatif = DR


contoh petak seluruh Luas
individu Jumlah
K
contoh petak seluruh Luas
i ke species untuk individu Jumlah
KR

contoh petak seluruh Jumlah


spesies suatu ya ditemukann contoh petak jumlah
F
x100%
spesies seluruh Frekuensi
i ke pesies suatus Frekuensi
FR

contoh Luas
dasar bidang Jumlah
D
% 100
jenis seluruh dasar bidang jumlah
jenis suatu dasar bidang Jumlah
DR
100% x
jenis seluruh dari Dominansi
jenis suatu dari Dominansi
DR
x

Indeks Nilai Penting (importance value index)


INP = KR + FR + DR

5. Summed Dominance ratio = SDR
SDR atau perbandingan nilai enting adalah parameter yang
identik dengan INP
Gunanya : untuk menyatakan tingkat Dominansi (tingkat
penguasaan) spesies-spesies dalam suatu komunitas
tumbuhan

3
INP
SDR
6. Indeks Dominansi (index of dominance) = ID = adalah parameter yang
menyatakan tingkat terpusatnya dominansi dalam suatu komunitas

dimana : ID = Indeks Dominansi
n.i = nilai penting tiap spesies ke-i
N = Total nilai penting
Apabila nilai ID tinggi, maka Dominansi terpusat pada satu spesies, apabila ID
rendah maka Dominansi terpusat pada beberapa spesies.


7. Indeks Keanekaragaman

Gunanya untuk :
Menyatakan struktur komunitas
Mengukur stabilitas komunitas yaitu kemampuan untuk menjaga
dirinya tetap stabil meskipun ada gangguan terhadap komponen-
komponennya.
Keanekaragaman spesies yang tinggi menunjukkan : suatu komunitas
memiliki kompleksitas tinggi karena interaksi spesies yang terjadi dalam
komunitas itu sangat tinggi

Beberapa indeks keanekaragaman yang dapat dipilih dalam
analisis komunitas (odum, 1993)

a. Indeks Shannon atau Shannon index of general diversity (H)


b. Indeks Margalef (d)



c. Indeks Simpson = Simpson of Diversity (D)




Keterangan :
H = Indeks Shannon
n.i = nilai penting dari tiap spesies
N = Total nilai penting
Keterangan :
d =nilai Margalef= indeks keanekaragaman Shannon
s = jumlah spesies; N = jumlah individu

Keterangan :
D = Indeks Simpson
P-i = Proporsi spesies ke-I dalam komunitas
s = jumlah spesies


s
i
i P D
1
2
) ( 1
8. Indeks Kesamaan = index of similarity = IS
IS diperlukan untuk mengetahui tingkat kesamaan
antara beberapa tegakan, antara beberapa unit
sampling, atau antara beberapa komunitas yang
dipelajari dan dibandingkan komposisi dan struktur
komunitasnya (Odum, 1993)

Keterangan :
IS = Indeks kesamaan
C = jumlah spesies yang sama dan terdapat pada kedua
komunitas
A = jumlah spesies di dalam komunitas A
B = jumlah spesies di dalam komunitas B

Soerianegara dan Indrawan (1982) :
Keterangan :
IS = Indeks kesamaan
W = jumlah dari nilai penting yang lebih kecil atau
sama dari dua spesies berpasangan, yang
ditemukan pada dua komunitas
a = Total nilai penting dari komunitas A, atau tegakan
A atau unit sampling A
b = Total nilai penting dari komunitas B, atau tegakan
B atau unit sampling B
9. Homogenitas Suatu Komunitas

Frekuensi menunjukkan homogenitas dan penyebaran dari individu-individu
spesies dalam komunitas. Untuk mengetahui homogenitas suatu komunitas, nilai
frekuensi tiap spesies dikelompokkan ke dalam lima kelas (Raunkiaer, 1934 dalam
Gopal dan Bhardwaj, 1979) :
a). Kelas A, yaitu spesies-spesies yang mempunyai frekuensi 1-20%
b). Kelas B, yaitu spesies-spesies yang mempunyai frekuensi 21-40%
c). Kelas C, yaitu spesies-spesies yang mempunyai frekuensi 41-60%
d). Kelas D, yaitu spesies-spesies yang mempunyai frekuensi 61-80%
e). Kelas E, yaitu spesies-spesies yang mempunyai frekuensi 81-100%

Berdasarkan Hukum Frekuensi Raunkiaer, maka :
a. Jika A > B > C >=< D < E, maka spesies-spesies yang menyusun komunitas
tumbuhan berdistribusi normal
b. Jika E>D, sedangkan A,B dan C rendah, maka kondisi komunitas tumbuhan
homogeny
c. Jika E<D, sedangkan A,B dan C rendah, maka kondisi komunitas tumbuhan
terganggu
d. Jika B,C dan D tinggi, maka kondisi komunitas tumbuhan heterogen

D. Metode Pengambilan Contoh Untuk Analisis
Komunitas Tumbuhan
Pengambilan contoh untuk analisis komunitas
tumbuhan dapat dilakukan dengan :
1. Petak Tunggal (plot)
2. Metode Jalur
3. Metode Garis Berpetak
4. Metode Kombinasi
5. Metode Kuadran
1. Metode Petak
Metode petak umum digunakan dalam
pengambilan contoh berbagai tipe organisme
termasuk komunitas tumbuhan.
Petak yang digunakan berbentuk :
Segi empat
Persegi dan
Lingkaran

a. Petak Tunggal
Mempelajari satu petak sampling yang mewakili suatu
tegakan.
Ukuran minimum tergantung pada :
Kerapatan tegakan
Banyaknya jenis pohon
Luas menimum petak contoh dapat digunakan kurva spesies
area. Dasarnya, penambahan luas petak tidak menyebabkan
kenaikan jumlah spesies lebih dari 5% (Soegianto, 1995;
Kusmana, 1997).
Metode ini tidak perlu dihitung frekuensi (F) dan Frekuensi
relatif (FR).
INP = KR + DR

Cara penentuan jumlah petak contoh dengan menggunakan
Kurva Spesies Area
1. Daftarkan jenis-jenis pohon yang terdapat dalam suatu petak
kecil
2. Ukuran petak diperbesar dua kali dan jenis-jenis pohon yang
terdapat didaftarkan pula.
3. Pekerjaan dilanjutkan sampai saat dimana penambahan luas
petak tidak menyebabkan penambahan yang berarti pada
banyaknya jenis.
4. Dari daftar banyaknya jenis dan ukurab petak dibuat kurva
spesies area, yaitu jumlah jenis (sumbu Y), luas atau ukuran
petak (Sumbu X).
Lanjutan


No.petak
Contoh
Ukuran Petak
Contoh (m
2
)
Jumlah Spesies
(kumulatif
Spesies)
Penambahan
Penambahan Persentase (%)
1 1 7
2 2 12 5 71,4
3 4 16 4 33,3
4 8 20 4 25,0
5 16 24 4 25,0
6 32 27 3 12,5
7 64 30 3 11,1
8 128 32 2 6,7
9 256 33 1 3,1
10 512 34 1 3,1
11 1024 35 1 2,9
12 2048 36 1 2,9
Data Jumlah Spesies Tumbuhan yang terdapat pada Setiap Petak
Kurva Spesies Area :

J
u
m
l
a
h

S
p
e
s
i
e
s

1 2 4 8 16 25 2048 (m
2
)

35

30

25

20

10

5
Luas petak minimum untuk hujan tropika lebih
kurang 3 ha (Soerianegara dan Indrawan,
1982)
Petak contoh berbentuk persegi panjang lebih
efektif untuk sampling daripada petak contoh
bujur sangkar.
Petak contoh seluas 3 ha dibuat ukuran 20 m x
1500 m. Petak tersebut dibagi menjadi petak-
petak kontinu berukuran 20 m x 50 m atau
masing-masing seluas 0,1 ha.
b. Petak Ganda
Pengambilan contoh vegetasi dilakukan dengan
menggunakan banyak petak contoh yang letaknya
tersebar merata sebaiknya sistematis.
Ukuran petak contoh disesuaikan dengan tingkat
pertumbuhan dan bentuk tumbuhannya :
20 m x 20 m pohon
10 m x 10 m tiang
5 m x 5 m pancang
1 m x 1 m atau 2 m x 2 m semai
Desain Petak-petak Contoh di Lapangan dengan Metode Petak
Ganda
Secara Acak Secara Sistematis
2. Metode Jalur
Metode paling efektif untuk mempelajari
perubahan keadaan vegetasi menurut kondisi
tanah, topografi dan elevasi.
Jalur-jalur dibuat memotomg garis kontur dan
sejajar satu sama lainnya.
Jumlah jalur disesuikan dengan IS.
Jalur contoh 20 m dibuat dengan IS =2%-10%



A
C
B
Arah rintis
10 m
20 m
Jalur A (lebar 20 m) dengan petak-petak 20 m x 20 m pohon
Jalur B (lebar 10 m) dengan petak-petak 10 m x 10 m tiang dan pancang
Jalur C (lebar 2 m) dengan petak-petak 2 m x 2 m atau 2 m x 5 m semai
3. Metode garis Berpetak
Modifikasi metode petak ganda atau petak jalur yaitu dengan
cara melompati satu atau lebih petak-petak dalam jalur.
Petak-petanya dapat berbentuk : persegi panjang, bujur
sangkar atau lingkaran.


C
B
D
A
Petak A = petak berukuran 20 m x 20 m pohon
Petak B = petak berukuran 10 m x 10 m tiang
Petak C = petak berukuran 5 m x 5 m pancang
Petak D = petak berukuran 2 m x 2 m semai
4. Metode Kombinasi
Merupakan kombinasi antara metode jalur dan garis
berpetak.

Desain petak contoh di lapangan dengan metode kombinasi

Arah rintis
D
C
B
A
5. Metode Kuadran
umumnya dipergunakan untuk pengambilan contoh
vegetasi tumbuhan jika hanya vegetasi fase pohon yang
menjadi objek kajiannya.
mudah dikerjakan, dan lebih cepat jika akan dipergunakan
untuk mengelahui komposisi jenis, tingkat dominansi, dan
menaksir volume pohon.
Syarat penerapan metode kuadran adalah distribusi pohon
yang akan diteliti harus acak.
Di dalam metode kuadran, pada setiap titik pengukuran
dibuat garis absis dan ordinat khayalan, sehingga pada
setiap titik pengukuran terdapat empat buah kuadran.
Pilih satu pohon di setiap kuadran yang letaknya paling
dekat dengan titik pengukuran dan ukur jarak dari masing-
masing pohon ke titik pengukuran
Desain titik pengukuran dan letak pohon yang diukur dengan metode kuadran
(Kusmana, 1997)
Rumus-rumus yang berkaitan dengan metode kuadran
1. Jarak rata-rata individu poho ke titik pengukuran (d)


2. Kerapan seluruh jenis (K)

n
dn ... d4 d3 d2 d1
d

2
pohon) rata - rata (jarak
area Luas
K