Anda di halaman 1dari 10

KELOMPOK 6

YURISTYA EKA PUTRI


RAHAYU NIRMALA SARI
DENNY SYARIZALDI
OKTARIANSA
Dalam melakukan praktek keperawatan, perawat
secara langsung berhubungan dan berinteraksi kepada
penerima jasa pelayanan, dan pada saat interaksi inilah
sering timbul beberapa hal yang tidak diinginkan baik
disengaja maupun tidak disengaja, kondisi demikian inilah
sering menimbulkan konflik baik pada diri pelaku dan
penerima praktek keperawatan.

Oleh karena itu profesi keperawatan harus mempunyai
standar profesi dan aturan lainnya yang didasari oleh ilmu
pengetahuan yang dimilikinya, guna memberi perlindungan
kepada masyarakat. Dengan adanya standar praktek profesi
keperawatan inilah dapat dilihat apakah seorang perawat
melakukan malpraktek, kelalaian ataupun bentuk
pelanggaran praktek keperawatan lainnya.


Kelalaian tidak sama dengan malpraktek, tetapi kelalaian
termasuk dalam arti malpraktik, artinya bahwa dalam malpraktek
tidak selalu ada unsur kelalaian. Kelalaian adalah segala tindakan
yang dilakukan dan dapat melanggar standar sehingga
mengakibatkan cidera/kerugian orang lain (Sampurno, 2005).

Negligence, dapat berupa Omission (kelalaian untuk
melakukan sesuatu yang seharusnya dilakukan) atau Commission
(melakukan sesuatu secara tidak hati-hati). (Tonia, 1994).Dapat
disimpulkan bahwa kelalaian adalah melakukan sesuatu yang
harusnya dilakukan pada tingkatan keilmuannya tetapi tidak
dilakukan atau melakukan tindakan dibawah standar yang telah
ditentukan. Kelalaian praktek keperawatan adalah seorang
perawat tidak mempergunakan tingkat keterampilan dan ilmu
pengetahuan keperawatan yang lazim dipergunakan dalam
merawat pasien atau orang yang terluka menurut ukuran
dilingkungan yang sama.

Bentuk-bentuk dari kelalaian menurut sampurno (2005),
sebagai berikut:

a. Malfeasance : yaitu melakukan tindakan yang menlanggar
hukum atau tidak tepat/layak, misal: melakukan tindakan
keperawatan tanpa indikasi yang memadai/tepat
b. Misfeasance : yaitu melakukan pilihan tindakan keperawatan
yang tepat tetapi dilaksanakan dengan tidak tepat, misal:
melakukan tindakan keperawatan dengan menyalahi prosedur
c. Nonfeasance : Adalah tidak melakukan tindakan keperawatan
yang merupakan kewajibannya, misal: pasien seharusnya
dipasang pengaman tempat tidur tapi tidak dilakukan.

Sampurno (2005), menyampaikan bahwa suatu perbuatan
atau sikap tenaga kesehatan dianggap lalai, bila memenuhi 4
unsur, yaitu:
1. Duty atau kewajiban tenaga kesehatan untuk melakukan
tindakan
atau untuk tidak melakukan tindakan tertentu terhadap pasien
tertentu pada situasi dan kondisi tertentu.
2. Dereliction of the duty atau penyimpangan kewajiban
3. Damage atau kerugian, yaitu segala sesuatu yang dirasakan oleh
pasien sebagai kerugian akibat dari layanan kesehatan yang
diberikan oleh pemberi pelayanan.
4. Direct cause relationship atau hubungan sebab akibat yang
nyata,
dalam hal ini harus terdapat hubungan sebab akibat antara
penyimpangan kewajiban dengan kerugian yang setidaknya
menurunkan Proximate cause

Liabilitas adalah tanggungan yang dimiliki oleh seseorang
terhadap setiap tindakan atau kegagalan melakukan tindakan. Perawat
profesional, seperti halnya tenaga kesehatan lain mempunyai tanggung
jawab terhadap setiap bahaya yang ditimbulkan dari kesalahan
tindakannya. Tanggungan yang dibebankan perawat dapat berasal dari
kesalahan yang dilakukan oleh perawat baik berupa tindakan
kriminal kecerobohan dan kelalaian.

Seperti telah didefinisikan diatas bahwa kelalaian merupakan
kegagalan melakukan sesuatu yang oleh orang lain dengan klasifikasi
yang sama, seharusnya dapat dilakukan dalam situasi yang sama, hal ini
merupakan masalah hukum yang paling lazim terjadi dalam keperawatan.
Terjadi akibat kegagalan menerapkan pengetahuan dalam praktek antara
lain disebabkan kurang pengetahuan. Dan dampak kelalaian ini dapat
merugikan pasien.
Sedangkan akuntabilitas adalah konsep yang sangat penting dalam
praktik keperawatan. Akuntabilitas mengandung arti dapat
mempertanggung jawabkan suatu tindakan yang dilakukan dan dapat
menerima konsekuensi dari tindakan tersebut (Kozier, 1991).

Beberapa perundang-undangan yang melindungi bagi pelaku dan penerima praktek
keperawatan yang ada di Indonesia, adalah sebagai berikut:
1. Undang undang No.23 tahun 1992 tentang kesehatan, bagian kesembilan pasal 32
(penyembuhan penyakit dan pemulihan)
2. Undang undang No.8 tahun 1999 tentang perlindungan konsumen
3. Peraturan menteri kesehatan No.159b/Men.Kes/II/1998 tentang Rumah Sakit
4. Peraturan Menkes No.660/MenKes/SK/IX/1987 yang dilengkapi surat ederan Direktur
Jendral
Pelayanan Medik No.105/Yan.Med/RS.Umdik/Raw/I/88 tentang penerapan standard
praktek
keperawatan bagi perawat kesehatan di Rumah Sakit.
5. Kepmenkes No.647/SK/IV/2000 tentang registrasi dan praktik perawat dan direvisi dengan
SK
Kepmenkes No.1239/Menkes/SK/XI/2001 tentang registrasi dan praktik perawat.
Perlindungan hukum baik bagi pelaku dan penerima praktek keperawatan memiliki
akuntabilitas
terhadap keputusan dan tindakannya. Dalam menjalankan tugas sehari-hari tidak menutup
kemungkinan perawat berbuat kesalahan baik sengaja maupun tidak sengaja. Oleh karena
itu
dalam menjalankan prakteknya secara hukum perawat harus memperhatikan baik aspek
moral
atau etik keperawatan dan juga aspek hukum yang berlaku di Indonesia. Fry (1990)
menyatakan
bahwa akuntabilitas mengandung dua komponen utama, yakni tanggung jawab dan
tanggung
gugat. Hal ini berarti tindakan yang dilakukan perawat dilihat dari praktik keperawatan,
kode etik
dan undang-undang dapat dibenarkan atau absah (Priharjo, 1995).

Kesalahan pemberian obat,
Mengabaikan keluhan pasien,
Kesalahan mengidentifikasi masalah klien,
Kelalaian di ruang operasi,
Timbulnya kasus decubitus selama dalam perawatan,
Kelalaian terhadap keamanan dan keselamatan pasien:
contoh yang sering ditemukan adalah kejadian pasien
jatuh yang sesungguhnya dapat dicegah jika perawat
memperhatikan keamanan tempat tidur pasien.
Beberapa rumah sakit memiliki aturan tertentu
mengenai penggunaan alat-alat untuk mencegah hal
ini.

Kelalaian yang dilakukan oleh perawat akan
memberikan dampak yang luas, tidak saja kepada pasien
dan keluarganya, juga kepada pihak Rumah Sakit, individu
perawat pelaku kelalaian dan terhadap profesi. Selain
gugatan pidana, juga dapat berupa gugatan perdata dalam
bentuk ganti rugi. (Sampurna, 2005).
Bila dilihat dari segi etika praktek keperawatan, bahwa
kelalaian merupakan bentuk dari pelanggaran dasar moral
praktek keperawatan baik bersifat pelanggaran autonomy,
justice, nonmalefence, dan lainnya (Kozier, 1991) dan
penyelesainnya dengan menggunakan dilema etik.
Sedangkan dari segi hukum pelanggaran ini dapat ditujukan
bagi pelaku baik secara individu dan profesi dan juga
institusi penyelenggara pelayanan praktek
keperawatan, dan bila ini terjadi kelalaian dapat
digolongan perbuatan pidana dan perdata (pasal 339, 360
dan 361 KUHP).

Anda mungkin juga menyukai