Anda di halaman 1dari 16

Dinamika serta Hubungan antar Kelompok dalam Masyarakat

Nama : ARIF PUTRANANDA


Kelas : XI IPS 3


KATA PENGANTAR

Assalamualaikum Wr.Wb

Syukur alhamdulillah, merupakan satu kata yang sangat pantas penulis ucapkan
kepada Allah STW, yang karena bimbingannyalah maka penulis bisa menyelesaikan sebuah
Makalah tulis sosiologi berjudul "Dinamika serta Hubungan antar kelompok dalam
masyarakat"
Makalah ini dibuat dengan berbagai observasi dalam jangka waktu tertentu sehingga
menghasilkan karya yang bisa dipertanggungjawabkan hasilnya. Saya mengucapkan
terimakasih kepada pihak terkait yang telah membantu saya dalam menghadapi berbagai
tantangan dalam penyusunan makalah ini.
Saya menyadari bahwa masih sangat banyak kekurangan yang mendasar pada makalah ini.
Oleh karna itu saya mengundang pembaca untuk memberikan kritik dan saran yang bersifat
membangun untuk kemajuan ilmu pengetahuan ini.
Terima kasih, dan semoga makalah ini bisa memberikan sumbangsih positif bagi kita semua.

Wassalamualaikum Wr.Wb











A. Pengertian Dinamika Kelompok
Dinamika kelompok berasal dari kata dinamika dan kelompok. Dinamika berati interaksi
atau interdependensi antara kelompok satu dengan yang lain, sedangkan Kelompok adalah
kumpulan individu yang saling berinteraksi dan mempunyai tujuan bersama.
Maka Dinamika Kelompok merupakan suatu kelompok yang terdiri dari dua atau lebih
individu yang memiliki hubungan psikologis secara jelas antara anggota satu dengan yang
lain dan berlangsung dalam situasi yang dialami.

B. Fungsi Dinamika Kelompok
Dinamika kelompok merupakan kebutuhan bagi setiap individu yang hidup dalam sebuah
kelompok. Fungsi dari dinamika kelompok itu antara lain:
1. Membentuk kerjasama saling menguntungkan dalam mengatasi persoalan hidup.
(Bagaimanapun manusia tidak bisa hidup sendiri tanpa bantuan orang lain.)
2. Memudahkan segala pekerjaan.
(Banyak pekerjaan yang tidak dapat dilaksanakan tanpa bantuan orang lain)
3. Mengatasi pekerjaan yang membutuhkan pemecahan masalah dan mengurangi
beban pekerjaan yang terlalu besar sehingga seleseai lebih cepat, efektif dan efesian.
(pekerjaan besar dibagi-bagi sesuai bagian kelompoknya masing-masing / sesuai keahlian)
4. Menciptakan iklim demokratis dalam kehidupan masyarakat
(setiap individu bisa memberikan masukan dan berinteraksi dan memiliki peran yang sama
dalam masyarakat)

C. Jenis Kelompok Sosial
Kelompok sosial adalah kesatuan sosial yang terdiri dari dua atau lebih individu yang
mengadakan interaksi sosial agara ada pembagian tugas, struktur dan norma yang ada.
Berdasarkan pengertian tersebut kelompok sosial dapat dibagi menjadi beberapa, antara
lain:

1. Kelompok Primer
Merupakan kelompok yang didalamnya terjadi interaksi sosial yang anggotanya saling
mengenal dekat dan berhubungan erat dalam kehidupan.
Sedangkan menurut Goerge Homan kelompok primer merupakan sejumlah orang yang
terdiri dari beberapa orang yang acapkali berkomunikasi dengan lainnya sehingga setiap
orang mampu berkomunikasi secara langsung (bertatap muka) tanpa melalui perantara.
Misalnya: keluarga, RT, kawan sepermainan, kelompok agama, dan lain-lain.

2. Kelompok Sekunder
Jika interaksi sosial terjadi secara tidak langsung, berjauhan, dan sifatnya kurang
kekeluargaan. Hubungan yang terjadi biasanya bersifat lebih objektiv.
Misalnya: partai politik, perhimpunan serikat kerja dan lain-lain.

3. Kelompok Formal
Pada kelompok ini ditandai dengan adanya peraturan atau Anggaran Dasar (AD), Anggaran
Rumah Tangga (ART) yang ada. Anggotanya diangkat oleh organisasi.
Contoh dari kelompok ini adalah semua perkumpulan yang memiliki AD/ART.

4. Kelompok Informal
Merupakan suatu kelompok yang tumbuh dari proses interaksi, daya tarik, dan kebutuhan-
kebutuhan seseorang. Keanggotan kelompok biasanya tidak teratur dan keanggotaan
ditentukan oleh daya tarik bersama dari individu dan kelompok Kelompok ini terjadi
pembagian tugas yang jelas tapi bersifat informal dan hanya berdasarkan kekeluargaan dan
simpati
Misalnya: kelompok arisan

D. Ciri Kelompok Sosial
Suatu kelompok bisa dinamakan kelompok sosial bila memiliki ciri-ciri sebagai berikut:

1. Memiliki motive yang sama antara individu satu dengan yang lain.
(menyebabkan interkasi/kerjasama untuk mencapai tujuan yang sama)

2. Terdapat akibat-akibat interaksi yang berlainan antara individu satu dengan yang lain
(Akibat yang ditimbulkan tergantung rasa dan kecakapan individu yang terlibat)

3. Adanya penugasan dan pembentukan struktur atau organisasi kelompok yang jelas dan
terdiri dari peranan serta kedudukan masing-masing

4. Adanya peneguhan norma pedoman tingkah laku anggota kelompok yang mengatur
interaksi dalam kegiatan anggota kelompok untuk mencapai tujuan bersama.

E. Pembentukan Kelompok
Pembentukan kelompok dapat diawali dengan adanya persepsi, perasaan atau
motivasi, dan tujuan yang sama dalam memanuhi kebutuhannya. Seperti yang terlihat
dalam bagan berikut ini:
Pembentukan kelompok diawali dengan adanya perasaan atau persepsi yang sama dalam
memenuhi kebutuhan. Setelah itu akan timbul motivasi untuk memenuhinya, sehingga
ditentukanlah tujuan yang sama dan akhirnya interaksi yang terjadi akan membentuk
sebuah kelompok.
Pembentukan kelompok dilakukan dengan menentukan kedudukan masing-masing anggota
(siapa yang menjadi ketua atau anggota). Interaksi yang terjadi suatu saat akan
memunculkan perbedaan antara individu satu dengan lainnya sehingga timbul perpecahan
(konflik). Perpecahan yang terjadi bisanya bersifat sementara karena kesadaran arti
pentingnya kelompok tersebut, sehingga anggota kelompok berusaha menyesuaikan diri
demi kepentingan bersama. Akhirnya setelah terjadi penyesuaian, perubahan dalam
kelompok mudah terjadi.

Langkah proses pembentukan Tim diawali dengan pembentukan kelompok, dalam proses
selanjutnya didasarkan adanya hal-hal berikut:

1. Persepsi
Pembagian kelompok didasarkan pada tingkat kemampuan intelegensi yang dilihat dari
pencapaian akademis. Misalnya terdapat satu atau lebih punya kemampuan intelektual,
atau yang lain memiliki kemampuan bahasa yang lebih baik. Dengan demikian diharapkan
anggota yang memiliki kelebihan tertentu bisa menginduksi anggota lainnya.

2. Motivasi
Pembagian kekuatan yang berimbang akan memotivasi anggota kelompok untuk
berkompetisi secara sehat dalam mencapai tujuan kelompok. Perbedaan kemampuan yang
ada pada setiap kelompok juga akan memicu kompetisi internal secara sehat. Dengan
demikian dapat memicu anggota lain melalui transfer ilmu pengetahuan agar bisa
memotivasi diri unuk maju.

3. Tujuan
Terbentuknya kelompok karena memiliki tujuan untuk dapat menyelesaikan tugas-tugas
kelompok atau individu.

4. Organisasi
Pengorganisasian dilakukan untuk mempermudah koordinasi dan proses kegiatan
kelompok. Dengan demikian masalah kelompok dapat diselesaikan secara lebih efesien dan
efektif.

5. Independensi
Kebebasan merupakan hal penting dalam dinamika kelompok. Kebebasan disini merupakan
kebebasan setiap anggota untuk menyampaikan ide, pendapat, serta ekspresi selama
kegiatan. Namun demikian kebebasan tetap berada dalam tata aturan yang disepakati
kelompok.

6. Interaksi
Interaksi merupakan syarat utama dalam dinamika kelompok, karena dengan interaksi akan
ada proses transfer ilmu dapat berjalan secara horizontal yang didasarkan atas kebutuhan
akan informasi tentang pengetahuan tersebut.

F. Pertumbuhan dan Perkembangan Kelompok
Indikator yang dijadikan pedoman untuk mengukur tingkat perkembangan kelompok adalah
sebagai berikut:

1. Adaptasi
Proses adaptasi berjalan dengan baik bila:
a) Setiap individu terbuka untuk memberi dan menerima informasi yang baru
b) Setiap kelompok selalu terbuka untuk menerima peran baru sesuai dengan dinamika
kelompok tersebut.
c) Setiap anggota memiliki kelenturan untuk menerima ide, pandangan, norma dan
kepercayaan anggota lain tanpa merasa integritasnya terganggu.

2. Pencapaian tujuan
Dalam hal ini setiap anggota mampu untuk:
a) menunda kepuasan dan melepaskan ikatan dalam rangka mencapai tujuan bersama
b) membina dan memperluas pola
c) terlibat secara emosional untuk mengungkapkan pengalaman, pengetahuan dan
kemampuannya.

Selain hal diatas, perkembangan kelompok dapat ditunjang oleh bagaimana komunikasi
yang terjadi dalam kelompok. Dengan demikian perkembangan kelompok dapat dibagi
menjadi tiga tahap, antara lain

1. Tahap pra afiliasi
Merupakan tahap permulaan, diawali dengan adanya perkenalan semua individu akan saling
mengenal satu sama lain. Kemudian hubungan berkembang menjadi kelompok yang sangat
akrab dengan saling mengenal sifat dan nilai masing-masing anggota.

2. Tahap fungsional
Ditandai dengan adanya perasaan senang antara satu dengan yang lain, tercipta
homogenitas, kecocokan, dan kekompakan dalam kelompok. Pada akhirnya akan terjadi
pembagian dalam menjalankan fungsi kelompok.

3. Tahap disolusi
Tahap ini terjadi apabila keanggotaan kelopok sudah mempunyai rasa tidak membutuhkan
lagi dalam kelompok. Tidak ada kekompakan maupun keharmonisan yang akhirnya diikuti
dengan pembubaran kelompok.


G. Keunggulan dan Kelemahan dalam Kelompok

Dalam proses dinamika kelompok terdapat faktor yang menghambat maupun
memperlancar proses tersebut yang dapat berupa kelebihan maupun kekurangan dalam
kelompok tersebut.

1. Kelebihan Kelompok
Keterbukaan antar anggota kelompok untuk memberi dan menerima informasi &
pendapat anggota yang lain.
Kemauan anggota kelompok untuk mendahulukan kepentingan kelompoknya dengan
menekan kepentingan pribadi demi tercapainya tujuan kelompok
Kemampuan secara emosional dalam mengungkapkan kaidah dan norma yang telah
disepakati kelompok.

2. Kekurangan Kelompok
Kelemahan pada kelompok bisa disebabkan karena waktu penugasan, tempat atau jarak
anggota kelompok yang berjauhan yang dapat mempengaruhi kualitas dan kuantitas
pertemuan.
H. Pentingnya Dinamika Kelompok dalam Perawatan
Profesi Keperawatan merupakan bagian dari profesi kesehatan yang anggotanya terdiri
atas perawat dalam satu ikatan profesi yang memiliki tujuan dan kepentingan yang sama
dalam bidang keperawatan
Profesi keperawatan terbentuk dari adanya suatu kelompok-kelompok perawat yang
memiliki tradisi, norma, prosedur dan aktivitas yang sama.
Setiap anggota saling tergantung satu dengan yang lain karena saling membutuhkan
bantuan.

Setiap anggota profesi memiliki ciri-ciri yang berbeda dan dapat dibagi dalam beberapa
kelompok, yaitu:
a) Anggota Psikologis
Secara psikologis memiliki minat untuk berpartisifasi dalam kelompok norma
b) Anggota Marginal
Kelompok menerima baik keanggotaannya tetapi bersikap menjauh atau tidak ingin terlalu
terlibat dalam kelompoknya.
c) Anggota Pemberontak
Anggota kelompok yang bersikap menentang dan tidak bersedia menerima norma yang ada.

H. POLA HUBUNGAN ANTAR KELOMPOK
Hubungan antar kelompok merupakan inti yang menjadi sebab perubahan/perkembangan
kelompok sosial dalam masyarakat. Pola hubungan antar kelompok sosial meliputi :
1. Eksploitasi
Keunggulan dalam ciri-ciri fisik pernah mengakibatkan ekploitasi kelompok orang kulit putih
terhadap orang kelompok hitam. Bentuk eksploitasi ini berupa perbudakan.
2. Diskriminasi
Yaitu perlakuan yang berbeda-beda yang dialami seseorang atau sekelompok orang
mengenai hal-hal tertentu.
3. Segregasi
Segregasi merupakan pemisahan kelompok sosial berdasarkan tradisi atau hukum kelompok
yang mengalami perlakuan ini biasanya berbeda dalam hal asal usul ethnik, agam atau
kebudayaan.
4. Paternalisme
Paternalisme biasanya dijadikan pola kerja sama antara pengusaha besar dengan pengusaha
kecil.
5. Difusi
Difusi adalah proses penyebaran unsur-unsur kebudayaan. Difusi berlangsung dua arah,
yaitu saling memberi dan saling menerima.
6. Asimilasi
Yaitu suatu proses sosial dimana dua masyarakat yang berbeda kebudayaan hidup
berdampingan dalam waktu yang lama.
7. Akulturasi
Yaitu suatu proses sosial dimana dua masyarakat yang berbeda kebudayaan hidup
berdampingan dalam waktu yang lama.
8. Integrasi
Yaitu pola hubungan yang mengakui adanya perbedaan dalam masyarakat, namun tidak
memberi perhatian khusus pada perbedaan tersebut.
ASAL USUL SUKU TENGGER
Menurut mitos atau legenda yang berkembang di masyarakat suku Tengger, mereka berasal
dari keturunan Roro Anteng yang merupakan putri dari Raja Brawijaya dengan Joko Seger
putra seorang Brahmana. Nama suku Tengger diambil dari akhiran nama kedua pasang
suami istri itu yaitu, Teng dari Roro Anteng dan Ger dari Joko Seger. Legenda tentang
Roro Anteng dan Joko Seger yang berjanji pada Dewa untuk menyerahkan putra bungsu
mereka, Raden Kusuma merupakan awal mula terjadinya upacara Kasodo di Tengger.
Menurut beberapa ahli sejarah, suku Tengger merupakan penduduk asli orang Jawa yang
pada saat itu hidup pada masa kejayaan Majapahit. Saat masuknya Islam di Indonesia (pulau
Jawa) saat itu terjadi persinggungan antara Islam dengan kerajaan-kerajaan yang ada di
Jawa, salah satunya adalah Majapahit yang merasa terdesak dengan kedatangan pengaruh
Islam, kemudian melarikan diri ke wilayah Bali dan pedalaman di sekitar Gunung Bromo dan
Semeru. Mereka yang berdiam di sekitar pedalaman Gunung Bromo ini kemudian
mendirikan kampung yang namanya diambil dari akhiran nama pemimpin mereka yaitu
Roro Anteng dan Joko Seger.

DESKRIPSI LOKASI
Suku bangsa Tengger berdiam disekitar kawasan di pedalaman gunung Bromo yang terletak
di kabupaten Probolinggo, Jawa Timur. Berdasarkan persebaran bahasa dan pola kehidupan
sosial masyarakat, daerah persebaran suku Tengger adalah disekitar Probolinggo, Lumajang,
(Ranupane kecamatan Senduro), Malang (desa Ngadas kecamatan Poncokusumo), dan
Pasuruan. Sementara pusat kebudayaan aslinya adalah di sekitar pedalaman kaki gunung
Bromo.

UNSUR-UNSUR KEBUDAYAAN

1. BAHASA
Bahasa yang berkembang di masyarakat suku Tengger adalah bahasa Jawa Tengger yaitu
bahasa Jawi kuno yang diyakini sebagai dialek asli orang-orang Majapahit. Bahasa yang
digunakan dalam kitab-kitab mantra pun menggunakan tulisan Jawa Kawi. Suku Tengger
merupakan salah satu sub kelompok orang Jawa yang mengembangkan variasai budaya
yang khas. Kekhasan ini bisa dilihat dari bahasanya, dimana mereka menggunakan bahasa
Jawa dialek tengger, tanpa tingkatan bahasa sebagaimana yang ada pada tingkatan bahasa
dalam bahasa Jawa pada umumnya.

2. PENGETAHUAN
Pendidikan pada masyarakat Tengger sudah mulai terlihat dan maju dengan dibangunnya
sekolah-sekolah, baik tingkat dasar maupun menengah disekitar kawasan Tengger. Sumber
pengetahuan lain adalah mengenai penggunaan mantra-mantra tertentu oleh masyarakat
Tengger.

3. TEKNOLOGI
Dalam kehidupan suku Tengger, sudah mengalami teknologi komunikasi yang dibawa oleh
wisatawan-wisatawan domestik maupun mancanegara sehingga cenderung menimbulkan
perubahan kebudayaan. Suku Tengger tidak seperti suku-suku lain karena masyarakat
Tengger tidak memiliki istana, pustaka, maupun kekayaan seni budaya tradisional. Tetapi
suku Tengger sendiri juga memiliki beberapa obyek penting yaitu lonceng perungggu dan
sebuah padasan di lereng bagian utara Tengger yang telah menjadi puing.

4. RELIGI
Mayoritas masyarakat Tengger memeluk agama Hindu, namun agama Hindu yang dianut
berbeda dengan agama Hindu di Bali, yaitu Hindu Dharma. Hindu yang berkembang di
masyarakat Tengger adalah Hindu Mahayana. Selain agama Hindu, agama laiin yang dipeluk
adalah agama Islam, Protestan, Kristen, dll. Berdasarkan ajaran agama Hindu yang dianut,
setiap tahun mereka melakukan upacara Kasono. Selain Kasodo, upacara lain yaitu upacara
Karo, Kapat, Kapitu, Kawulo, Kasanga. Sesaji dan mantra amat kental pengaruhnya dalam
masyarakat suku Tengger. Masyarakat Tengger percaya bahwa mantra-mantra yang mereka
pergunakan adalah mantra-mantra putih bukan mantra hitam yang sifatnya merugikan.

5. ORGANISASI SOSIAL
PERKAWINAN. Sebelum ada Undang-Undang perkawinan banyak anak-anak suku Tengger
yang kawin dalam usia belia, misalnya pada usia 10-14 tahun. Namun, pada masa sekarang
hal tersebut sudah banyak berkurang dan pola perkawinannya endogami. Adat perkawinan
yang diterapkan oleh siuku Tengger tidak berbeda jauh dengan adat perkawinan orang Jawa
hanya saja yang bertindak sebagai penghulu dan wali keluarga adalah dukun Pandita. Adat
menetap setelah menikah adalah neolokal, yaitu pasangan suami-istri bertempat tinggal di
lingkungan yang baru. Untuk sementara pasangan pengantin berdiam terlebih dahulu
dilingkungan kerabat istri.
SISTEM KEKERABATAN.
Seperti orang Jawa lainnya, orang Tengger menarik garis keturunan berdasarkan prinsip
bilateral yaitu garis keturunan pihak ayah dan ibu. Kelompok kekerabatan yang terkecil
adalah keluarga inti yang terdiri dari suami, istri, dan anak-anak.
SISTEM KEMASYARAKATAN.
Masyarakat suku Tengger terdiri atas kelompok-kelompok desa yang masing-masing
kelompok tersebut dipimpin oleh tetua. Dan seluruh perkampungan ini dipimpin oleh
seorang kepala adat. Masyarakat suku Tengger amat percaya dan menghormati dukun di
wilayah mereka dibandingkan pejabat administratif karena dukun sangat berpengaruh
dalam kehidupan masyarakat Tengger. Masyarakat Tengger mengangkat masyarakat lain
dari luar masyarakat Tengger sebagai warga kehormatan dan tidak semuanya bisa menjadi
warga kehormatan di masyarakat Tengger. Masyarakat muslim Tengger biasanya tinggal di
desa-desa yang agak bawah sedangkan Hindu Tengger tinggal didesa-desa yang ada di
atasnya.

6. MATA PENCAHARIAN
Pada masa kini masyarakat Tengger umumnya hidup sebagai petani di ladang. Prinsip
mereka adalah tidak mau menjual tanah (ladang) mereka pada orang lain. Macam hasil
pertaniannya adalah kentang, kubis, wortel, tembakau, dan jagung. Jagung adalah makanan
pokok suku Tengger. Selain bertani, ada sebagian masyarakat Tengger yang berprofesi
menjadi pemandu wisatawan di Bromo. Salah satu cara yang digunakan adalah dengan
menawarkan kuda yang mereka miliki untuk disewakan kepada wisatawan.

7. KESENIAN
Tarian khas suku Tengger adalah tari sodoran yang ditampilkan pada perayaan Karo dan
Kasodo. Dari segi kebudayaan, masyarakat Tengger banyak terpengaruh dengan budaya
pertanian dan pegunungan yang kental meskipun sebagian besar budaya mereka serupa
dengan masyarakat Jawa umumnya, namun ada pantangan untuk memainkan wayang kulit.

NILAI-NILAI BUDAYA

Orang Tengger sangat dihormati oleh masyarakat Tengger karena mereka selalu hidup
rukun, sederahana, dan jujur serta cinta damai. Orang Tenggr suka bekerja keras, ramah,
dan takut berbuat jahat seperti mencuri karena mereka dibayangi adanya hukum karma
apabila mencuri barang orang lain maka akan datang balasan yaitu hartanya akan hilang
lebih banyak lagi. Orang Tengger dangat menghormati Dukun dan Tetua adat mereka.

ASPEK PEMBANGUNAN
Aspek pembangunan yang terlihat adalah pada sektor pariwisata misalnya dengan
pembangunan-pembanguna akses-akses menuju gunung Bromo agar lebih mudah dijangkau
oleh wisatawan. Desa Tosari merupakan salah satu pintu gerbang daerah Tengger, desa ini
memanjang dari utara sampai selatan. Di tengah desa itu terdapat pasar dan tempat-tempat
ibadah seperti masjid bagi umat Islam dan pura bagi umat Hindu. Selain itu terdapat pula
kantor kelurahan, kantor kecamatan, dan koramil, kantor PKK, sekolah dasar, madrasah,
taman-kanak-kanak, pos kesehatan, dan taman gizi serta puskesmas. Jadi desa-desa yang
ada di wilayah Tengger sudah cukup maju.
Gotong royong merupakan salah satu ciri kehidupan sosial masyarakat di negeri
tercinta ini. Pola hidup kemasyarakatan ini memang telah tertanam sejak jaman dulu.
Sebagai contoh hasil gotong royong adalah berdirinya Borobudur yang berdiri jaman
Wangsa Syailendra abad ke 8.
Pada masa kini, gotong royong masih banyak dilakukan di daerah perkampungan dan
pedesaan sebagai bentuk kerukunan dan kekeluargaan. Bagi masyarakat di wilayah kota,
boleh dikatakan telah terkikis oleh kemajuan teknologi dan nilai-nilai kebersamaan yang
mulai surut. Bukan karena egoisme semata tetapi karena tuntutan profesionalisme dalam
pekerjaan sehingga waktu amat sedikit terluangkan untuk kegiatan ini.
Bagi masyarakat pedesaan yang kehidupan masyarakatnya masih terasa
kekerabatannya, kegiatan gotong royong masih sering dilaksanakan. Baik dalam kegiatan
keluarga seperti dalam pesta perkawinan atau khitanan maupun membangun rumah. Juga
dalam kegiatan kemasyarakatan seperti bersih desa, membangun pos kamling, dan
membersihkan jalan serta selokan.
Masyarakat Suku Tengger melakukan gotong royong ini biasa disebut dengan istilah
gugur gunung. Bedanya, pada masyarakat Suku Tengger gotong royong bukan hanya di
lakukan hanya di wilayah desanya tetapi keluar jauh dari tempat tinggal mereka. Bahkan
bisa sampai sekitar 5 10 km dari desa. Sesuatu yang jarang dilaksanakan di tempat lain.
Bisa saja mereka memberi upah untuk para pekerja mengingat pendapatan perkapita
mereka di atas rata-rata karena wilayahnya yang subur. Namun bagi mereka semangat
kekeluargaan, kekerabatan, dan kebersamaan lebih berharga daripada nilai uang yang harus
dikeluarkan untuk membangun sesuatu.

Sikap dan Pandangan Hidup
Pandangan tentang Perilaku
Sikap dan pandangan hidup orang Tengger tercermin pada harapannya, yaitu waras (sehat),
wareg (kenyang), wastra (memiliki pakaian, sandang), wisma (memiliki rumah, tempat
tinggal), dan widya (menguasai ilmu dan teknologi, berpengetahuan dan terampil).
Mereka mengembangkan pandangan hidup yang disebut pengetahuan tentang watak yaitu:
i. prasaja berarti jujur, tidak dibuat-buat apa adanya;
ii. prayoga berarti senantiasa bersikap bijaksana;
iii. pranata berarti senantiasa patuh pada raja, berarti pimpinan atau pemerintah;
iv. prasetya berarti setya;
v. prayitna berarti waspada.
Atas dasar kelima pandangan hidup tersebut, masyarakat Tengger mengembangkan sikap
kepribadian tertentu sesuai dengan kondisi dan perkembangan yang ada. Antara lain
mengembangkan sikap seperti kelima pandangan hidup tersebut, di samping dikembangkan
pula sikap lain sebagai perwujudannya.
Mereka mengembangkan sikap rasa malu dalam arti positif, yaitu rasa malu apabila tidak
ikut serta dalam kegiatan sosial. Begitu mendalamnya rasa malu itu, sehingga pernah ada
kasus (di Tosari) seorang warga masyarakat yang bunuh diri hanya karena tidak ikut serta
dalam kegiatan gotong-royong.
Sikap toleransi mereka tercermin pada kenyataan bahwa mereka dapat bergaul dengan
orang beragama lain, ataupun kedatangan orang beragama lain. Dalam keagamaan mereka
tetap setia kepada agama yang telah dimiliki namun toleransi tetap tinggi, sebab mereka
lebih berorientasi pada tujuan, bukan pada cara mencapai tujuan. Pada dasarnya manusia
itu bertujuan satu, yaitu mencapai Tuhan, meskipun jalannya beraneka warna. Sikap
toleransi itu tampak pula dalam hal perkawinan, yaitu sikap orang tua yang memberikan
kebebasan bagi para putra-putrinya untuk memilih calon istri atau suaminya. Pada dasarnya
perkawinan bersifat bebas. Mereka tetap dapat menerima apabila anak-anaknya ada yang
berumah tangga dengan wanita atau pria yang berlainan agama sekalipun. Namun dalam
hal melaksanakan adat, pada umumnya para generasi muda masih tetap melakukannya
sesuai dengan adat kebiasaan orang tuanya.
Sikap hidup masyarakat Tengger yang penting adalah tata tentrem (tidak banyak risiko), aja
jowal-jawil (jangan suka mengganggu orang lain), kerja keras, dan tetap mempertahankan
tanah milik secara turun-temurun. Sikap terhadap kerja adalah positif dengan titi luri-nya,
yaitu meneruskan sikap nenek moyangnya sebagai penghormatan kepada leluhur.
Sikap terhadap hasil kerja bukanlah semata-mata hidup untuk mengumpulkan harta demi
kepentingan pribadi, akan tetapi untuk menolong sesamanya. Dengan demikian, dalam
masyarakat Tengger tidak pernah terjadi kelaparan. Untuk mencapai keberhasilan dalam
hidup semata-marta diutamakan pada hasil kerja sendiri, dan mereka menjauhkan diri dari
sikap nyadhang (menengadahkan telapak tangan ke atas).
Masyarakat Tengger mengharapkan generasi mudanya mampu mandiri seperti ksatria
Tengger. Orang tua tidak ingin mempunyai anak yang memalukan, dengan harapan agar
anak mampu untuk mikul dhuwur mendhem jero, yaitu memuliakan orangtuanya.
Sikap mereka terhadap perubahan cukup baik, terbukti mereka dapat menerima pengaruh
model pakaian, dan teknologi, serta perubahan lain yang berkaitan dengan cara mereka
mengharapkan masa depan yang lebih baik dan berkeyakinan akan datangnya kejayaan dan
kesejahteraan masyarakatnya.
Seperti kebanyakan daerah vulkanik, wilayah Desa Ngadisari yang berdekatan
dengan Gunung Bromo memiliki tatanan air yang radikal, sehingga pada musim kemarau,
persediaan air hampir tidak tersedia atau bahkan benar-benar kering. Hal ini dikarenakan air
telah menggenangi semua permukaan tanah selama musim hujan menghilang dengan cepat
dengan menembus lapisan bawah tanah. Persediaan air dalam tanah hanya di dapat dari air
hujan, yang juga mengalir di antara gunung-gunung batu. Meskipun pada musim hujan,
sungai di daerah batu vulkanik penuh, tapi begitu musim kemarau tiba, semuanya akan
mengering.



2. Hubungan dengan Kelompok dimasyarakat dalam kehidupan
sehari hari

Dengan adanya diferensiasi dan stratifikasi sosial,maka terjadi perbedaan-perbedaan yang
membentuk tingkat-tingkat sosial dalam masyarakat.Perbedaan ini mencerminkan adanya
ketidaksamaan dalam masyarakat.Bentuk diferensiasi dan stratifikasi ini sangat penting bagi
individu-individu dalam kelompok sosial karena memiliki pengaruh terhadap kesempatan
hidup mereka.Hubungan antar kelompok sosial dengan masyarakat muktikultural adalah
saling berkaitan(erat sekali), keduanya berhubungan erat dan saling mempengaruhi satu
sama lainnya. Dalam suatu masyarakat kita pasti menemukan dua atau lebih kelompok
sosial yang berbeda-beda berkenaan dengan tingkat diferensiasi dan stratifikasi sosialnya.

3. Faktor - Faktor untuk mencapai Integrasi Sosial dalam
Masyarakat
Integrasi sosial dalam masyarakat dapat dicapai apabila unsur-unsur sosial saling
berinteraksi.Selain itu norma-norma sosial dan adat istiadat yang baik turut menjadi
penunjang untuk mencapai integrasi sosial tersebut. Hal ini dikarenakan norma-norma sosial
dan adat istiadat merupakan unsur yang mengatur perilaku dengan mengadakan tuntutan
mengenai bagaimana orang harus bertingkah laku.

Namun demikian tercapainya integrasi sosial dalam masyarakat memerlukan
pengorbananm, baik pengorbanan perasaan, maupun pengrobanan materil. Dasar dari
pengorbanan adalah langkah penyesuaian antara perbedaan perasaan, keinginan, ukuran
dan penilaian di dalam masyarakat tersebut. Maka dari itu norma sosial sebagai acuan
bertindak dan berprilaku dalam masyarakat akan memberikan pedoman untuk seorang
bagaimana bersosialisasi dalam masyarakat.

Adapun faktor - faktor internal dan eksternal yang dapat mempengaruhi integrasi sosial
dalam masyarakat, antara lain sebagai berikut:

- Faktor internal : kesadaran diri sebagai makhluk sosial, tuntutan kebutuhan, dan semangat
gotong royong.

- Faktor eksternal : tuntutan perkembangan zaman, persamaan kebudayaan, terbukanya
kesempatan berpartisipasi dalam kehidupan bersama, persaman visi, misi, dan tujuan, sikap
toleransi, adanya kosensus nilai, dan adanya tantangan dari luar

*Syarat berhasilnya integrasi Sosial
Yaitu: 1. Untuk meningkatkan integrasi sosial, maka pada diri masing-masing harus
mengendalikan perbedaan/konflik yang ada pada suatu kekuatan bangsa dan bukan
sebaliknya.

2. Tiap warga masyarakat merasa saling dapat mengisi kebutuhan antara satu dengan yang
lainnya. Sehingga dalam masyarakat tercipta keharmonisan dan saling memahami antara
satu sama lain, maka konflik pun dapat dihindarkan

Paguyuban (gemeinschaft)
Paguyuban atau gemeinschaft adalah kelompok sosial yang anggota-anggotanya memiliki
ikatan batin yang murni, bersifat alamiah, dan kekal. Ciri-ciri kelompok paguyuban :
-Terdapat ikatan batin yang kuat antaranggota
-Hubungan antar anggota bersifat informal
Tipe paguyuban
Paguyuban karena ikatan darah (gemeinschaft by blood)
Kelompok genealogis adalah kelompok yang terbentuk berdasarkan hubungan sedarah.
Kelompok genealogis memiliki tingkat solidaritas yang tinggi karena adanya keyakinan
tentang kesamaan nenek moyang.
Contoh: keluarga, kelompok kekerabatan.
Paguyuban karena tempat (gemeinschaft of place)
Komunitas adalah kelompok sosial yang terbentuk berdasarkan lokalitas. Contoh: Beberapa
keluarga yang berdekatan membentuk RT(Rukun Tetangga), dan selanjutnya sejumlah
Rukun Tetangga membentuk RW (Rukun Warga).
Contoh: Rukun Tetangga, Rukun Warga.
Paguyuban karena ideologi (gemeinschaft of mind)
Contoh: partai politik berdasarkan agama

Patembayan (gesellschaft)
Patembayan atau gesellschaft adalah kelompok sosial yang anggota-anggotanya memiliki
ikatan lahir yang pokok untuk jangka waktu yang pendek.
Contoh: ikatan antara pedagang, organiasi dalam suatu pabrik atau industri.


Perbedaan Gemeinschaft dan Gesellschaft
Gemeinschaft Gesellschaft
Adanya hubungan perasaan kasih
sayang
Hubungan antaranggota bersifat formal
Adanya keinginan untuk meningkatkan
kebersamaan
Memiliki orientasi ekonomi dan tidak kekal
Tidak suka menonjolkan diri Memperhitungkan nilai guna (utilitarian)
Selalu memegang teguh adat lama yang
konservatif
Lebih didasarkan pada kenyataan sosial
Terdapat ikatan batin yang kuat
antaranggota

Hubungan antaranggota bersifat
informal

Anda mungkin juga menyukai